PENATALAKSANAAN SISTEMIK LUPUS ERITEMATOSUS (SLE

)

Nama NIM

: Vina listy pramita : 030.06.273

Kepaniteraan Klinik SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUD Koja Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti PENATALAKSANAAN SLE Non Farmakologis [1][2] 1. Edukasi[1] Edukasi penderita memegang peranan penting mengingat SLE merupakan penyakit yang kronis. Penderita perlu dibekali informasi yang cukup tentang berbagai macam manifestasi klinis yang dapat terjadi, tingkat keparahan sesama penderita lupus. Di Indonesia ada 2 penyakit yang berbeda-beda sehingga penderita dapat memahami dan mengurangi rasa cemas yang berlebihan. Pada wanita usia reproduktif sangat penting diberikan pemahaman bahwa bila akan hamil maka sebaiknya kehamilan direncanakan saat penyakit sedang remisi, sehingga dapat mengurangi kejadian flare up dan risiko kelainan pada janin maupun penderita selama hamil. 2. Dukungan sosial dan psikologis.[2] Hal ini bisa berasal dari dokter, keluarga, teman maupun mengikut sertakan peer group atau support group organisasi.Mereka bekerjasama melaksanakan kegiatan edukasi pasien dan masyarakat mengenai lupus. Selain itu merekapun memberikan advokasi dan bantuan finansial untulk pasienyang kurang mampu dalam pengobatan. 3. Istirahat[1] Penderita SLE sering mengalami fatigue sehingga perlu istirahat yang cukup, selain perlu dipikirkan penyebab lain seperti hipotiroid, fibromialgia dan depresi.

1

Pada beberapa pasien yang tidak menunjukan respon yang adekuat dengan analgetik atau obat anti inflamasi non steroid atau obat antimalaria dapat dipertimbangkan pemberian kortikosteroid dosis rendah dengan dosis tidak lebih dari 15 mg setiap pagi. karena obat ini mempunyai efek toksik terhadap retina.arthritis. Risiko kejadian penyakit kejadian kardiovaskuler. dan sakit kepala.5-15mg/minggu) juga dapat dipertimbangkan untuk mengatasi artritis pada pasien SLE. misalnya hidroksiklorokuin 400mg/hari. Bila analgetik dan obat anti inflamasi non steroid tidak memberikan respon yang baik dapat dipertimbangkan pemberian obat antimalaria. Metotreksat dosis rendah (7. sehingga perlu pengendalian faktor risiko seperi merokok. kelelahan. Tabir surya[1] Pada penderita SLE aktifitas penyakit dapat meningkat setelah terpapar sinar matahari. Risiko infeksi juga meningkat sejalan dengan pemberian obat immunosupresi dan kortikosteroid. Monitor ketat[1] Penderita SLE mudah mengalami infeksi sehingga perlu diwaspadai bila terdapat demam yang tidak jelas penyebabnya. Farmakologis [2][3][4][5] Kelompok derajat ringan SLE dengan gejala gejala panas.4. 5. sehingga dianjurkan untuk menghindari paparan sinar matahari yang berlebihan dan menggunakan tabir surya dengan SPF > 30 pada 30-60 menit sebelum terpapar. dislipidemia dan hipertensi. perikarditis ringan. Pada keluhan yang ringan dapat diberikan analgetik sederhana atau obat anti inflamasi non steroid.[2][3] 2 . Bila dalam waktu 6 bulan obat ini tidak memberika efek yang baik harus di stop. efusi pleura/perikard ringan. obesitas. osteoporosis dan keganasan juga meningkat pada penderita SLE. diulang tiap 4-6 jam.

Salah satu 3 . siklofosfamid diberikan selama 6 bulan dengan interval satu bulan.5-1gr/m2 dalam 250ml nacl 0. imunoglobulin dan alfa resis ( plasma faresis leukofaresis dan kriofaresis). kemudian tiap 3 bulan selama 2 tahun. maka penurunan dosis dilakukan 2. Terapi agresif yang dimulai dengan pemberian glukokortikoid dosis tinggi harus segera dimulai bila timbul manifestasi serius les dan mengancam nyawa. Terapi lain yang masih dapat dalam taraf penelitian adalah terapi hormon. maka harus mulai dilakukan penurunan dosis secara bertahap dimulai dengan 5-10% setiap minggu bila tidak timbul eksarsebasi akut. sebaiknya dihindari.mg/minggu. pneumonitis lupus. Setelah pemberian glukokortikoid dosis tinggi selama 6 minggu. Azatioprin merupakan analog purin yang dapat digunakan sebagai alternatif terhadap siklofosfamid dengan dosis 1-3mg /kgbb /hari dan diberikan secara oral. selama pemberian harus diperhatikan tekanan darah pasien dan kadar kreatinin darah meningkat 20% dari kadar kreatinin darah sebelum pemberian siklosporin-A . karena lebih mudah mengatur dosisnya. [2][4] Bolus siklofosfamid intravena 0. dan perdarahan paru. penyakit ginjal. Pemberian glukokortikoid oral. lupus serebral. Obat ini diberikan selama 6-12 bulan pada pasien SLE. serositis. Pemberian prednison lebih banyak disukai . trombositopenia. Setelah dosis prednison mencapai dosis 30mg/hari. Dan setelah dosis prednison mencapai 10-15mg/hari. pemberian glukokortikoid berefek panjang seperti deksametason. dan gejala konstitutional dapat diberikan prednison 0.9% selama 60 menit diikuti dengan pemberian cairan 2-3liter per 24 jam setelah pemberian obat. [2] Imunosupresan lain yang dapat digunakan untuk pengobatan les adalah siklosporin – A dosis rendah (3-6mg/kgbb/hari) dan mofetil micofenolat . seperti artritis.5mg/kgbb/hari/ pemberian bolus metil prednisolon intravena 1gr atau 15mg/kgbb selama 3-5hari dapat dipertimbangkan sebagai pengganti glukokortikoid oral dosis tinggi kemudian dilanjutkan dengan prednisolon oral 1-1. maka dipertimbangkan untuk diberikan imunosupresan lain atau terapi agresif lainnya. anemia hemolitik. miokarditis.5 mg/kgbb/hari. [2][3] Pada manifestasi minor SLE. Bila dalam waktu 4 minggu setelah pemberian glikortikoid dosis tinggi tidak menunjukan perbaikan yang nyata. maka dosisnya harus diturunkan. sebaiknya diberikan dalam dosis tunggal pada pagi hari. penurunan dosis dilakukan 1mg/minggu.- Kelompok derajat berat SLE dengan gejala gejala efusi pleura dan perikard massif.5mg/kgbb/hari sedangkan pada manifestasi mayor dan serius dapat diberikan prednison 1-1. vaskulitis akut.

4 mg/kg BB/hari selama 5 hari berturut turut Vaskulis sistemik akut. Bila efusi masif. Prednison 1-1. Prednison 15-40 mg/hari. Obat antiinflamasi nonsteroid atau antimalaria. Prednison 60-80 mg/hari(1-1.bila berhasil dilanjutkan pemberian oral 5-7 harilalu diturunkan perlahan.5 mg/kg BB/hari).[2] Pengobatan pada Keadaan Khusus [5] Anemia hemolitik autoimum.dilakukan fungsi pleura/drainase Lupus pneumonitis. Dapat diberikan metal prednisolon pulse dosis selama 3 hari berturut turut. Bila tidak efektif . Bila tidak ada respon dalam 4 minggu. Prednison 60-100 mg/hari. pada keadaan akut diberikan parental Perikarditis ringan. Trombositopenia autoimum. Metilprodnisolon 2 mg/kg BB/hari untuk 3-5 hari.terapi hormonal yang banyak digunakan adalah danazol. suatu androgen yang bermanfaat untuk mengatasi trombositopenia pada SLE.5 mg/kg BB/hari) dapat ditingkatkan sampai 100-200 mg/hari bila dalam beberapa hari sampai 1 minggu belum ada perbaikan. Prednison 1 mg/kg BB/hari dan bila tidak efektif dapat dikombinasikan dengan siklofosfamid Efusi pleura. Prednison 60-80 mg/hari(1-1. dengan dosis300-400mg /kgbb/hari diberikan selama 5 hari berturut turut diikuti dosis pemliharaan setiap bulan untuk mencegah kekambuhan. 4 .ditambahkan Imunoglobulin intravena (IVIg) dengan dosis o. dapat diberika prednisone 20-40 mg/hari Miokarditis.5 mg/kg BB/hari selama 4-6 minggu Lupus serebral. Pemberian imunoglobulin intravena juga berguna untuk mengatasi trombositpenia.

Edisi IV. Pramudiyo R. Nasional DR.Jilid I. 2006.W. Komite medis RSCM. A. Kapita selekta kedokteran. Patrick. 3. 5. Sudoyo. 2001. 2007 4. 2. Jakarta: Erlangga Medical Series. Hasan Sadikin Bandung. Diagnosis dan Terapi Lupus. Jakarta: RSUP. 5 .DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid Il. At a Glance medicine.Cipto Mangunkusumo. Jakarta: Media Aesculapius. Arif. Mansjoer. Panduan Pelayanan Medis Departemen Penyakit Dalam. Wachyudi RG. 2006. Davey. 2006. Pusat Informasi Ilmiah Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNPAD / RS Dr.

6 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful