DISKUSI TOPIK BELL’S PALSY

Oleh: Achmad Ali Machfud (109103000038)

Pembimbing: dr. Maysam Irawati, Sp. S

NEUROLOGI RSUP FATMAWATI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2013

DAFTAR ISI Daftar Isi ...................................................................................................................... ii BAB I STATUS PASIEN ......................................................................................... 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................10 BAB III KESIMPULAN.......................................................................................... 21 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 22

ii

Riwayat Penyakit Sekarang Sejak 5 hari yang lalu. Jaksel : Tamat SLTA : Menikah : Wiraswasta II. Pasien juga merasa kesulitan bila mengunyah menggunakan mulut bagian kanan. mulut pasien mencong ke kiri. makanan sering tersangkut diantara pipi dan gusi. Mata kanan pasien juga tidak bisa menutup rapat. hal tersebut baru disadari saat bercermin. Pasien merasa khawatir karena wajahnya tampak tidak simetris baik pada saat tersenyum maupun saat pasien dalam keadaan diam. Keluhan Utama Mulut mencong ke kiri sejak 5 hari yang lalu B. Terkadang juga merasa ngeces dari sudut mulut sebelah kanan.BAB I STATUS PASIEN I. Pasien mengeluh bicara menjadi pelo. Pasien juga 1 . ANAMNESIS A. 13/2/1973 : 40 tahun : Islam : Cilandak. RB : Laki-laki : Jakarta. air terkadang keluar dari sudut mulut sebelah kanan. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Tempat / Tanggal Lahir Umur Agama Alamat Pendidikan Status Pekerjaan : Tn. Ketika pasien berkumur-kumur.

promiskuitas disangkal. sering tersedak ketika makan atau minum disangkal. alergi. kencing manis disangkal. PEMERIKSAAN FISIK : Tampak sakit ringan : Compos Mentis Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Tekanan darah Nadi Pernapasan Suhu : 120/80 mmHg : 72x/mnt : 18x/mnt : Afebris 2 . E. cedera kepala sebelumnya disangkal. kencing manis. darah tinggi disangkal. Riwayat Penyakit Lingkungan Tidak ada yang menderita penyakit serupa di sekitar lingkungan tempat tinggal pasien. dan stroke disangkal. Riwayat penyakit dahulu Pasien belum pernah menderita penyakit cacar. Keluhan pasien tidak didahului oleh demam atau nyeri pada daerah belakang telinga. terdapat air mata yang berlebihan pada mata kanan yang keluar terus menerus. Tidak terdapat kelemahan sisi tubuh pada pasien. gangguan pengecapan disangkal. Riwayat penyakit keluarga Tidak ada yang menderita penyakit serupa di keluarga. asma.mengatakan. stroke sebelumnya disangkal. Gangguan penglihatan disangkal. gangguan pendengaran disangkal. tidak pernah merokok. Riwayat Penyakit Sosial dan Kebiasaan Pasien mengaku jarang berolahraga. Pasien mengaku selalu menggunakan helm terbuka saat berkendara motor setiap hari. infeksi telinga sebelumnya. C. D. III. asma dan alergi disangkal. Pasien tidak pernah mengonsusmsi alkohol. IVDU disangkal. F. darah tinggi. Pasien merasa perih pada mata kanannya bila terkena angin. rasa baal atau kesemutan pada wajah dan sekitar mulut disangkal.

Ballotement (-) A : BU (+) Normal Ekstremitas : Akral hangat. Batas pinggang jantung ICS 3 line parasternal sinistra A : bunyi jantung I dan II reguler.Keadaan Lokal Trauma Stigmata Pembuluh Darah Perifer Columna Vertebralis Kulit Mata Hidung Mulut Tenggorokan Telinga Leher : (-) : Capillary refill time < 2 detik : Lurus ditengah : Tidak pucat. massa (-). spider nevi tidak ada. rhonki -/-. pelebaran sela-sela iga tidak ada.P: vocal fremitus kanan = kiri P: Sonor +/+ A: suara napas vesikuler. Batas jantung kiri setinggi ICS 5. murmur (-). palmar eritem -/-. JVP 5-2 cm H2O. gynecomastia tidak ada. caput medusa (-) P : lemas. tidak teraba pulsasi abnormal P : Batas jantung kanan setinggi ICS 4 linea sternalis kanan. lemas. vesikel (-) : Tonsil T1/T1 tenang. vesikel (-). ikterik (-) : Konjungtiva pucat -/-. CRT < 2” 3 . liang telinga lapang. regular. nyeri tekan epigastrium (-). Hepar tidak teraba. venektasi (-). 1 jari medial dari linea midclavikularis kiri. tidak hiperemis : Normotia. secret tidak ada : Oral hygien baik. equal Paru : I: bentuk simetris. spleen tidak teraba P : Shifting Dullness (-). edema pitting tungkai -/-. 1 jari medial linea midclavicularis kiri. ikterik -/-. wheezing -/Jantung : I : Ictus cordis tidak tampak P : Ictus cordis teraba setinggi ICS 5. serumen (+) : KGB tidak teraba membesar. gallop (-) Abdomen : I : datar. : Deviasi septum tidak ada. pulsasi A. Carotis teraba kanan = kiri. penggunaan otot-otot bantu pernapasan tidak ada.

Tanda Rangsang Meningeal :: > 700/ > 700 : > 1350/ > 1350 ::- Kaku kuduk Lesegue Kernig Brudzinski I Brudzinski II 2. IV. Troklear. Peningkatan Tekanan Intrakranial : tidak ada : tidak ada :: tidak diperiksa Penurunan kesadaran Muntah proyektil Pupil anisokor Edema papil 3.Alat Kelamin Status Neurologis GCS 15: E4 M6 V5 : Tidak diperiksa Mata: Pupil bulat isokor. RCTL +/+ 1. VI (Okulomotor. Nervus Kranialis : tidak dilakukan N I (Olfaktorius) N II (Opticus) Acies visus : >1/60 / >1/60 Visus campus : baik/ baik Lihat Warna : baik/ baik Funduskopi : tidak dilakukan N III.  3 mm/ 3mm RCL +/+. Abducen) Kedudukan bola mata: ortoposisi/ ortoposisi Pergerakan bola mata Nasal Temporal : baik/ baik : baik/ baik 4 .

VIII (Vestibulokoklear) Vestibular 5 . bibir tertarik ke arah kiri. menggembungkan pipi bocor ke kanan. mengernyitkan dahi tidak simetris Motorik Orbicularis oculi sempurna/ baik Motorik Orbicularis oris : saat tersenyum.Nasal atas Temporal atas Temporal bawah Eksoftalmus Nistagmus Pupil Bentuk : baik/ baik : baik/ baik : baik/ baik : -/ : -/ : isokor/ isokor : bulat/ bulat : +/ + Refleks Cahaya Langsung Releks Cahaya Tak Langsung : +/ + Akomodasi : baik/ baik Konvergensi : baik/ baik N. V (Trigeminus) Cabang motoric: baik/ baik Cabang sensorik Ophtalmik Maxilla : baik/ baik : baik/ baik Mandibularis : baik/ baik N. VII (Facialis) Motorik Orbitofrontal : tidak dapat mengangkat alis dan dahi kanan dengan sempurna/ baik. tidak dapat mencucukan bibirnya Pengecap lidah : tidak dilakukan : kelopak mata kanan tidak dapat menutup dengan N.

arcus faring simetris : refleks muntah (+) N. Vagus) Motorik Sensorik : uvula di tengah. XI (Accesorius) Mengangkat bahu Menoleh : baik : baik/ baik N.Nistagmus Cochlear Rhinne : +/+ : -/ - Weber : tidak ada lateralisasi Swabach: sama dengan pemeriksa N. VII dextra perifer Sistem Motorik Ekstremitas atas proksimal-distal Ekstremitas bawah proksimal-distal 5555 5555 5555 5555 Gerakan Involunter Tremor Chorea Atetose Miokloni : -/ : -/ : -/ : -/ 6 . XII (Hypoglossus) Pergerakan Lidah Saat dijulurkan Saat istirahat Atrofi Fasikulasi Tremor : (-) : (-) : (-) : tidak ada deviasi : tidak ada deviasi Kesan : Parese N. X (Glossofaringeal. IX.

Tics Trofik Tonus : -/ : Eutrofik : Normotonus Sistem Sensorik Proprioseptif : baik/ baik Eksteroseptif : baik/ baik Fungsi Otonom Miksi Defekasi Sekresi Keringat Ereksi : baik : baik : baik : tidak dilakukan Refleks Fisiologis Kornea Bisep Trisep Radius Patella Achilles : +/ + : +2/ +2 : +2/ +2 : +2/ +2 : +2/ +2 : +2/ +2 Refleks Patologis Hoffman Trommer Babinsky Chaddock Gordon Gonda Scaeffer Klonus Lutut Klonus Tumit : -/ : -/ : -/ : -/ : -/ : -/ : -/ : -/ 7 .

kelopak mata kanan tidak dapat menutup sempurna. saat tersenyum bibir tertarik ke arah kiri. keluar air mata berlebihan pada mata kanan (+).VII dextra perifer/ Bell‟s Palsy Diagnosis Topis: kanalis nervi facialis 8 . menggembungkan pipi bocor ke kanan. Pada PF N. VII dextra perifer. tidak dapat mencucukan bibirnya: parese N. mengernyitkan dahi tidak simetris. sulit mengunyah menggunakan mulut bagian kanan (+). RB. DIAGNOSIS Diagnosis Klinis: Parese N. mata kanan pasien tidak bisa menutup rapat. VII (Facialis): tidak dapat mengangkat alis dan dahi kanan sempurna. mengences dari pipi kanan (+). Sering berkendara motor dengan helm terbuka. bicara pelo (+). 40 tahun mengeluh mulut mencong ke kiri.Fungsi Serebelar Ataxia Tes Romberg Disdiadokokinesia Jari-jari Jari-hidung Tumit-lutut Fungsi Luhur Astereognosia Apraxia Afasia ::: -/: baik/baik : baik/baik : baik/baik :::- Keadaan Psikis Intelegensia : baik Tanda regresi : Demensia :- RESUME Tn.

berkumur o Latihan makan dengan mengunyah di sisi yang lemah o Gunakan kacamata untuk melindungi mata Farmakologis : o Prednisone 60 mg PO selama 3 hari PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : bonam : bonam : dubia ad bonam 9 . dan excersise o Latihan penguatan otot pipi dan wajah kiri dengan kerut dahi. short wave diathermy (SWD). tutup mata. terapi Ultrasound. micro wave diathermy (MWD). massage.Diagnosis Etiologis: idiopatik PENATALAKSANAAN Non-Farmakologis : o Fisioterapi: Infra Merah. tersenyum. meringis. Electrical stimulation. meniup bola pingpong/lilin.

Salah satu gejala Bell‟s palsy adalah kelopak mata sulit menutup dan saat penderita berusaha menutup kelopak matanya.000 populasi. ditemukan oleh Sir Charles Bell.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bell‟s palsy atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis tipe lower motor neuron akibat paralisis nervus fasial perifer yang terjadi secara akut dan penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) di luar sistem saraf pusat tanpa disertai adanya penyakit neurologis lainnya. lebih sering terjadi pada wanita hamil dan penderita diabetes serta penderita hipertensi.1 Epidemiologi Bell‟s palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut. Insiden Bell‟s palsy rata-rata 15-30 kasus per 100. Bukti-bukti dewasa ini menunjukkan bahwa Herpes simplex tipe 1 berperan pada kebanyakan kasus. Paralisis fasial idiopatik atau Bell‟s palsy. namun lebih sering terjadi pada umur 15-50 tahun. wanita muda yang berumur 10-19 tahun lebih rentan terkena daripada laki-laki pada kelompok umur yang sama. Penyakit ini dapat mengenai semua umur. insiden Bell‟s palsy setiap tahun sekitar 23 kasus per 100. paralisis fasial idiopatik sebagai nama lain dari Bell‟s palsy tidak tepat lagi dan mungkin lebih baik menggantinya dengan istilah paralisis fasial herpes simpleks atau paralisis fasial herpetik. Pada kehamilan trisemester 10 . Jepang tahun 1986 dan insiden terendah ditemikan di Swedia tahun 1997. Di dunia.000 orang. Pada observasi dapat dilihat juga bahwa gerakan kelopak mata yang tidak sehat lebih lambat jika dibandingkan dengan gerakan bola mata yang sehat (lagoftalmos). matanya terputar ke atas dan matanya tetap kelihatan. Cedera tersebut terjadi di dekat ganglion genikulatum. Penderita diabetes mempunyai resiko 29% lebih tinggi. insiden tertinggi ditemukan di Seckori. Bell‟s palsy mengenai laki-laki dan wanita dengan perbandingan yang sama. dokter dari Skotlandia. Lokasi cedera nervus fasialis pada Bell‟s palsy adalah di bagian perifer nukleus nervus VII. Di Amerika Serikat. Bell‟s palsy sering terjadi setelah infeksi virus atau setelah imunisasi. Gejala ini disebut juga fenomena Bell. 63% mengenai wajah sisi kanan. 2. Akan tetapi. Berdasarkan temuan ini. dibanding non-diabetes.

masuk angin (misalnya hawa dingin. palatum. maka akan ditemukan antigen virus dalam nervus fasialis dan ganglion genikulatum. Telah diidentifikasi gen Herpes Simpleks Virus (HSV) dalam ganglion genikulatum penderita Bell‟s palsy. Varicella Zooster Virus (VZV) tidak ditemukan pada penderita Bell‟s palsy tetapi ditemukan pada penderita Ramsay Hunt syndrome. Serabut somato motorik. penyebab Bell‟s palsy adalah virus. yang mensarafi otot-otot wajah kecuali m. Serabut visero-sensorik. Tahun 1972. McCormick pertama kali mengusulkan HSV sebagai penyebab paralisis fasial idiopatik. levator palpebrae (n. sekarang mulai diyakini HSV sebagai penyebab Bell‟s palsy. bahkan bisa mencapai 10 kali lipat. Murakami at. Dulu. Akan tetapi. penelitian biopsi memperlihatkan adanya HSV dalam ganglion genikulatum pasien Bell‟s palsy.ketiga dan 2 minggu pasca persalinan kemungkinan timbulnya Bell‟s palsy lebih tinggi daripada wanita tidak hamil. AC. Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring. stilohioid. 2. dan glandula submaksilaris serta sublingual dan lakrimalis. 3. 2. rongga hidung. atau menyetir mobil dengan jendela terbuka) dianggap sebagai satu-satunya pemicu Bell‟s palsy. yaitu : 1. 11 .2 Etiologi Diperkirakan. dan beliau memberikan hipotesis bahwa HSV bisa tetap laten dalam ganglion genikulatum.all melakukan tes PCR (Polymerase Chain Reaction) pada cairan endoneural N.II).VII penderita Bell‟s palsy berat yang menjalani pembedahan dan menemukan HSV dalam cairan endoneural. Dengan analaogi bahwa HSV ditemukan pada keadaan masuk angin (panas dalam/cold sore). sinus paranasal. Akan tetapi. (parasimpatis) yang datang dari nukleus salivatorius superior. baru beberapa tahun terakhir ini dapat dibuktikan etiologi ini secara logis karena pada umumnya kasus Bell‟s palsy sekian lama dianggap idiopatik. otot platisma. yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga bagian depan lidah.3 Anatomi Saraf otak ke VII mengandung 4 macam serabut. Apabila HSV diinokulasi pada telinga dan lidah tikus. Serabut visero-motorik. digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga tengah. 2. Sejak saat itu.

Serabut somato-sensorik. dan serabut nervus fasialis dalam pons sebagian melingkari dan melewati bagian ventrolateral nukleus abdusens sebelum keluar dari pons di bagian lateral traktus kortikospinal. rasa nyeri dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi oleh nervus trigeminus. Nervus fasialis masuk ke 12 . Nukleus (inti) motorik nervus VII terletak di ventrolateral nukleus abdusens. maka nervus VI dan VII dapat terkena bersama-sama oleh lesi vaskuler atau lesi infiltratif. yaitu cabang dari nervus mandibularis lalu masuk ke korda timpani dimana ia membawa sensasi kecap melalui nervus fasialis ke nukleus traktus solitarius.4.1 Nervus VII terutama terdiri dari saraf motorik yang mempersarafi seluruh otot mimik wajah. Serabut-serabut sekretomotor menginnervasi kelenjar lakrimal melalui nervus petrosus superfisial major dan kelenjar sublingual serta kelenjar submaksilar melalui korda tympani. Komponen sensorisnya kecil. yaitu nervus intermedius Wrisberg yang mengantarkan rasa kecap dari dua pertiga bagian lidah dan sensasi kulit dari dinding anterior kanalis auditorius eksterna. Serabut-serabut kecap pertama-tama melintasi nervus lingual. Karena posisinya yang berdekatan (jukstaposisi) pada lantai ventrikel IV.

Pada sudut ini (genu) terletak ganglion sensoris yang disebut genikulatum karena sangat dekat dengan genu.meatus akustikus internus bersama dengan nervus akustikus lalu membelok tajam ke depan dan ke bawah di dekat batas anterior vestibulum telinga dalam. 13 . maka paralisis motorik akan disertai gangguan fungsi pengecapan dan gangguan fungsi otonom. yaitu nervus petrosus superfisial major. Lesi yang terletak antara ganglion genikulatum dan pangkal korda timpani akan mengakibatkan hal serupa tetapi tidak mengakibatkan gangguan lakrimasi. fasialis keluar dari kranium melalui foramen stylomastoideus kemudian melintasi kelenjar parotis dan terbagi menjadi lima cabang yang melayani otot-otot wajah. Jika lesinya berlokasi di bagian proksimal ganglion genikulatum. stilomastoideus. stapedius yang dihubungkan oleh korda timpani. dan di sebelah yang lebih distal memberi persarafan ke m. digastrikus venter posterior. m. Jika lesinya berlokasi di foramen stilomastoideus maka yang terjadi hanya paralisis fasial (wajah). Cedera tersebut terjadi di dekat ganglion genikulatum. Lalu n. Lokasi cedera nervus fasialis pada Bell‟s palsy adalah di bagian perifer nukleus nervus VII. platisma dan m. Nervus fasialis terus berjalan melalui kanalis fasialis tepat di bawah ganglion genikulatum untuk memberikan percabangan ke ganglion pterygopalatina.

Karena itu nervus fasialis bisa sembab.4 Patofisiologi Para ahli menyebutkan bahwa pada Bell‟s palsy terjadi proses inflamasi akut pada nervus fasialis di daerah tulang temporal. demyelinisasi atau iskemik dapat menyebabkan gangguan dari konduksi. di os petrosum atau kavum timpani. Berdasarkan beberapa penelitian bahwa penyebab utama Bell‟s palsy adalah reaktivasi virus herpes (HSV tipe 1 dan virus herpes zoster) yang menyerang saraf kranialis. Dengan bentukan kanalis yang unik tersebut. fisura palpebra tidak dapat ditutup dan pada 14 . paralisis nervus fasialis LMN akan timbul bergandengan dengan tuli perseptif ipsilateral dan ageusia (tidak bisa mengecap dengan 2/3 bagian depan lidah). Namun demikian dalam jarak waktu satu minggu atau lebih dapat terjadi paralysis bilateral. Perjalanan nervus fasialis keluar dari tulang temporal melalui kanalis fasialis yang mempunyai bentuk seperti corong yang menyempit pada pintu keluar sebagai foramen mental. Terutama virus herpes zoster karena virus ini menyebar ke saraf melalui sel satelit. atau mengemudi dengan kaca jendela yang terbuka diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya Bell‟s palsy. Lesi supranuklear bisa terletak di daerah wajah korteks motorik primer atau di jaras kortikobulbar ataupun di lintasan asosiasi yang berhubungan dengan daerah somatotropik wajah di korteks motorik primer. nervus fasialis bisa ikut terlibat sehingga menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN. Bell‟s palsy hampir selalu terjadi secara unilateral. Impuls motorik yang dihantarkan oleh nervus fasialis bisa mendapat gangguan di lintasan supranuklear. AC. ia terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN. Pada lesi LMN bias terletak di pons. Paparan udara dingin seperti angin kencang. Patofisiologinya belum jelas. tetapi salah satu teori menyebutkan terjadinya proses inflamasi pada nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan diameter nervus fasialis sehingga terjadi kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal. di foramen stilomastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus fasialis. Penyakit ini dapat berulang atau kambuh. nuklear dan infranuklear. Kelumpuhan pada Bell‟s palsy akan terjadi bagian atas dan bawah dari otot wajah seluruhnya lumpuh. Lesi di pons yang terletak di daerah sekitar inti nervus abdusens dan fasikulus longitudinalis medialis. Selain itu. di sekitar foramen stilomastoideus. Pada radang herpes zoster di ganglion genikulatum. di sudut serebelo-pontin. adanya inflamasi.2. Karena itu paralisis fasialis LMN tersebut akan disertai kelumpuhan muskulus rektus lateralis atau gerakan melirik ke arah lesi. Dahi tidak dapat dikerutkan. Karena adanya suatu proses yang dikenal awam sebagai “masuk angin” atau dalam bahasa inggris “cold”.

(tanda Bell). Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda timpani) Gejala dan tanda klinik seperti pada (a). kelopak mata tidak dapat dipejamkan (lagoftalmos). ditambah dengan adanya hiperakusis. (b). Penderita tidak dapat bersiul atau meniup. Apabila mata yang terkena tidak tertutup atau tidak dilindungi maka aur mata akan keluar terus menerus. Lesi di luar foramen stilomastoideus Mulut tertarik ke arah sisi mulut yang sehat. waktu penderita disuruh menutup kelopak matanya maka bola mata tampak berputar ke atas. Setelah merasakan adanya kelainan di daerah mulut maka penderita biasanya memperhatikannya lebih cermat dengan menggunakan cermin. penderita merasakan ada kelainan di mulut pada saat bangun tidur. c. apabila berkumur atau minum maka air keluar melalui sisi mulut yang lumpuh. Kasus seperti ini dapat terjadi pasca herpes di membran timpani dan 15 . b. Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum) Gejala dan tanda klinik seperti (a).usaha untuk memejam mata terlihatlah bola mata yang berbalik ke atas. Karena lagoftalmos.Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus stapedius) Gejala dan tanda klinik seperti pada (a).5 Gejala Klinik Pada awalnya. Mulut tampak moncong terlebih pada saat meringis. menggosok gigi atau berkumur. minum atau berbicara. d. 2. (b). maka air mata tidak bisa disalurkan secara wajar sehingga tertimbun disitu. (c) disertai dengan nyeri di belakang dan di dalam liang telinga. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya nervus intermedius. Bibir tidak bisa dicucurkan dan platisma tidak bisa digerakkan. dan sensasi dalam (deep sensation) di wajah menghilang. Sudut mulut tidak bisa diangkat. Selanjutnya gejala dan tanda klinik lainnya berhubungan dengan tempat/lokasi lesi: a. sekaligus menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik di mana korda timpani bergabung dengan nervus fasialis di kanalis fasialis. makanan berkumpul di antar pipi dan gusi. ditambah dengan hilangnya ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi yang terkena berkurang. Lipatan kulit dahi menghilang.

Lesi di tempat keluarnya nervus fasialis dari pons. e. dan nervus hipoglosus. Pemeriksaan nervus kranialis yang lain dalam batas normal. C. disertai gejala dan tanda terlibatnya nervus trigeminus.Lesi di daerah meatus akustikus interna Gejala dan tanda klinik seperti (a). dengan manifestasi klinik: air mata bercucuran dari mata yang terkena pada saat penderita makan. Ramsay Hunt adalah paralisis fasialis perifer yang berhubungan dengan herpes zoster di ganglion genikulatum. (c).6 Pemeriksaan A. Pada kelainan tersebut. Nervus fasilais menginervasi glandula lakrimalis dan glandula salivatorius submandibularis. (b). maka lesinya bersifat UMN.konka. nervus aksesorius. ditambah dengan tuli sebagi akibat dari terlibatnya nervus akustikus. sedangkan dua pertiga di bawahnya mengalami paralisis.Pemeriksaan Laboratorium Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk menegakkan diagnosis Bell‟s palsy. 2. Pemeriksaan Radiologi 16 . nervus akustikus. dimana lokasi lesi di atas nukleus fasialis di pons. Pemeriksaan Fisis Kelumpuhan nervus fasialis mudah terlihat hanya dengan pemeriksaan fisik tetapi yang harus diteliti lebih lanjut adalah apakah ada penyebab lain yang menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis. B. Pada lesi supranuklear. dan kadang-kadang juga nervus abdusens. sepertiga atas nervus fasialis normal. f. Lesi herpetik terlibat di membran timpani. beberapa bulan pasca awitan. kanalis auditorius eksterna dan pina. (d). Sindrom air mata buaya (crocodile tears syndrome) merupakan gejala sisa Bell‟s palsy. Gejala dan tanda klinik sama dengan di atas. Diperkirakan terjadi regenerasi saraf salivatorius tetapi dalam perkembangannya terjadi „salah jurusan‟ menuju ke glandula lakrimalis.

Harus dibedakan antara lesi UMN dan LMN. Pemeriksaan CT-Scan dilakukan jika dicurigai adanya fraktur atau metastasis neoplasma ke tulang. bahkan kemungkinan besar dapat membahayakan. 2. tidak dapat memejamkan mata dan rasa nyeri pada telinga. Pemeriksaan MRI pada pasien Bell‟s palsy akan menunjukkan adanya penyangatan (Enhancement) pada nervus fasialis. Pada pemeriksaan nervus kranialis akan didapatkan adanya parese dari nervus fasialis yang menyebabkan bibir mencong. sklerosis multipel dan AIDS pada CNS. Pemberian kortikosteroid (perdnison dengan dosis 40 -60 mg/hari per oral atau 1 mg/kgBB/hari selama 3 hari. Belum ada bukti yang mendukung bahwa tindakan pembedahan efektif terhadap nervus fasialis. atau pada telinga.7 Diagnosis Diagnosis Bell‟s palsy dapat ditegakkan dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis.8 Pengobatan Melindungi mata pada saat tidur dan pemberian tetes mata metilselulosa. Acyclovir (400 mg selama 10 hari) dapat digunakan dalam penatalaksanaan Bell‟s palsy yang dikombinasikan dengan prednison atau dapat juga diberikan sebagai dosis tunggal untuk penderita yang tidak dapat mengkonsumsi prednison. 17 . Dasar dari pengobatan ini adalah untuk menurunkan kemungkinan terjadinya kelumpuhan yang sifatnya permanen yang disebabkan oleh pembengkakan nervus fasialis di dalam kanal fasialis yang sempit. Hiperakusis dan augesia juga dapat ditemukan. ganglion genikulatum. Penggunaan Acyclovir akan berguna jika diberikan pada 3 hari pertama dari onset penyakit untuk mencegah replikasi virus. Penemuan genom virus disekitar nervus fasialis memungkinkan digunakannya agenagen antivirus pada penatalaksanaan Bell‟s palsy.Pemeriksaan radiologi bukan indikasi pada Bell‟s palsy. Pada Bell‟s palsy lesinya bersifat LMN. gunanya untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien. dimana pemberiannya dimulai pada hari kelima setelah onset penyakit. 2. diturunkan perlahan-lahan selama 7 hari kemudian). stroke. memijat otot-otot yang lemah dan mencegah kendornya otot-otot di bagian bawah wajah merupakan kondisi yang dapat dikelola secara umum.

dengan demikian dekompresi pada paralisis total dengan kraniotomi subtemporal pada fosa media adalah paling aman dan efektif. terutama sebagai intervensi yang lebih awal. serta kelemahan saraf parasimpatik. Lokasi lesi di sekitar ganglion genikulatum. Tidak disarankan dilakukan tindakan bedah yang agresif pada pasien dengan paralisis inkomplit karena pasien dengan paralisis inkomplit dapat pulih sempurna.serabut saraf yang mengalami regenerasi bersambung dengan serabut otot yang salah. a. Diabetes Mellitus. selalu timbul gerakan bersama.11 Komplikasi Kira-kira 30% pasien Bell‟s palsy yang sembuh dengan gejala sisa seperti fungsi motorik dan sensorik yang tidak sempurna.2. Misal bila pasien disuruh memejamkan mata maka akan timbul gerakan involunter elevasi sudut mulut. 2. Hemifacial spasm 18 .10 Diagnosis Banding Kondisi lain yang dapat menyebabkan kelumpuhan nervus fasialis diantaranya tumor. AIDS dan sarkoidosis. 2. b. infeksi herpes zoster pada ganglion genikulatum (Ramsay Hunt syndrom). kontraksi platisma atau berkerutnya dahi. Crocodile tears phenomenon Yaitu keluarnya air mata saat penderita makan makanan. penyakit Lyme. Synkinesis Yaitu keadaan dimana otot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu. Penyebabnya adalah inervasi yang salah. yaitu dalam 14 hari setelah onset paralisis total. c.9 Pembedahan Tindakan pembedahan dekompresi saraf fasialis dapat menjadi salah satu pilihan dalam penatalaksanaan. dapat timbul beberapa bulan setelah terjadi parese dan terjadinya akibat terjadi regenerasi yang salah dari serabut otonom yang seharusnya ke kelenjar saliva tetapi menuju ke kelenjar lakrimalis. Guillain Barre syndrom. Daerah patologik primer dari saraf fasialis adalah segmen labirin. Komplikasi yang paling banyak terjadi yaitu disgeusia atau ageusia. spasme nervus fasialis yang kronik dan kelemahan saraf parasimpatik yang menyebabkan kelenjar lakrimalis tidak berfungsi dengan baik sehingga terjadi infeksi pada kornea.

Pada umumnya prognosis Bell‟s palsy baik: sekitar 80-90 % penderita sembuh dalam waktu 6 minggu sampai tiga bulan tanpa ada kecacatan.011 penderita Bell‟s palsy. Kontraktur tidak tampak pada waktu otot wajah istirahat. mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko tinggi meninggalkan gejala sisa.Timbul “kedutan” pada wajah dan juga spasme otot wajah. 85% memperlihatkan tanda-tanda perbaikan pada minggu ketiga setelah onset penyakit. Penderita Bell‟s palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa. Kontraktur Dapat terlihat dari tertariknya otot. Pada penderita kelumpuhan nervus fasialis perifer tidak boleh dilupakan untuk mengadakan pemeriksaan neurologis dengan teliti untuk mencari gejala neurologis lain. Penderita seperti ini tidak memiliki kelainan yang nyata. 2. Dalam sebuah penelitian pada 1. pasien Bell‟s palsy cenderung memiliki prognosis yang baik. Pada stadium awal hanya mengenai satu sisi wajah. Penderita yang berusia 30 tahun atau kurang. 1/3 lainnya dapat sembuh tetapi dengan elastisitas otot yang tidak berfungsi dengan baik. tapi kemudian akan mnegenai sisi yang lainnya d. biasanya ringan. Faktor resiko yang memperburuk prognosis Bell‟s palsy adalah:      Usia di atas 60 tahun Paralisis komplit Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang lumpuh Nyeri pada bagian belakang telinga Berkurangnya air mata. Penderita yang berumur 60 tahun atau lebih. hanya punya perbedaan peluang 10-15 persen antara sembuh total dengan meninggalkan gejala sisa.12 Prognosis Walaupun tanpa diberikan terapi. tetapi menjadi jelas saat otot wajah bergerak. Jika tidak sembuh dalam waktu 4 19 . Sepertiga dari penderita Bell‟s palsy dapat sembuh seperti sedia kala tanpa gejala sisa. Lima belas persen kesembuhan terjadi pada 3-6 bulan kemudian. sehingga lipatan nasolabialis lebih terlihat pada sisi yang lumpuh.

crocodile tears dan kadang spasme hemifasial. penanganan fisioterapi di bagi pada 2 tahap. Dosis dapat ditingkatkan pada sesi berikutnya jika tidak ada peningkatan yang luar biasa dicatat. Itu berarti bahwa 20 . Fisioterapi dapat memilih dari sejumlah modalitas yang tersedia. Terapi Ultrasound Terapi ultrasound diaplikasikan pada batang saraf (nerve trunk) di depan tragus telinga dan di daerah antara prosesus mastoideus dan mandibula. tetapi Anda harus memastikan bahwa mata dilindungi dengan penutup mata. Terapi ultrasound selalu diterapkan pada sisi lesi di depan tragus telinga & di daerah antara prosesus mastoideus dan mandibula dimana kelembutan maksimum saraf wajah ditentukan dengan cara palpasi.13 Fisioterapi Salah satu penanganan atau pengobatan pada Bell Palsy ini adalah Fisioterapi.bulan. Yang pertama pada Periode Paralisis. terapi Stimulasi Elektrik. Hanya 23 % kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah. maka penderita cenderung meninggalkan gejala sisa. Diantara modalitas yang efektif dan sering digunakan antara lain. Waktu penerapan selama 10 sampai 20 menit pada jarak biasanya antara 50 dan 75 cm. terapi Infra Merah. Bell‟s palsy kambuh pada 10-15 % penderita. terapi Ultrasound. Perlu diketahui bahwa gelombang ultrasound tidak dapat melintasi atau menembus tulang. micro wave diathermy. yaitu sesaat setelah terjadi serangan berupa kelumpuhan saraf fasialis : Infra Merah Infra merah dapat diterapkan untuk menghangatkan otot dan meningkatkan fungsi. Pemilihan modalitas yang sesuai tergantung pada pengalaman atau pilihan fisioterapis yang berpengalaman. 2. Sekitar 30 % penderita yang kambuh ipsilateral menderita tumor N. VII atau tumor kelenjar parotis. Hal ini diterapkan dengan gerakan melingkar yang lambat dengan dosis awal 1 watt per sentimeter persegi untuk 10 menit. yaitu sinkinesis. Penderita diabetes 30% lebih sering sembuh secara parsial dibanding penderita nondiabetik dan penderita DM lebih sering kambuh dibanding yang non DM. Tidak ada rasa takut/khawatir dalam menerapkan terapi ultrasound saat diaplikasikan pada pasien Bell Palsy. massage. dan excersise.

Otot-otot wajah yang sangat tipis dan halus dan tidak bisa mentolerir jenis arus ini yang dapat merusak dan menghasilkan kontraktur sekunder. Micro Wave Diathermy (MWD) adalah suatu jenis 21 . Jika kontraktur sekunder terjadi. Selain itu. stroke dan gangguan neurologis lainnya. sebagian besar pasien merasa tidak mampu menahan nyeri pada wajah karena stimulasi sensorik yang tidak nyaman. Penerapan terapi ultrasound pada bell palsy Ini hanya untuk jenis lesi saraf tepi (Lower Motor Neuron). Tidak ada ruang bagi penggunaan arus faradik pada wajah karena bisa menyebabkan kontraktur sekunder pada wajah. Hal ini dikarenakan bahwa arus faradic memiliki frekuensi 50 siklus per detik. semua bentuk stimulasi listrik harus ditinggalkan sementara untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada otot. Stimulasi Elektrik (Electrical Stimulation) Stimulasi listrik adalah teknik yang menggunakan arus listrik untuk mengaktifkan saraf penggerak otot dan ekstremitas yang diakibatkan oleh kelumpuhan akibat cedera tulang belakang (SCI). Wajah harus segera direnggangkan dan dipijat lembut. Bertujuan untuk Micro Wave Diathermy (MWD) adalah suatu jenis terapi dengan menggunakan stressor fisik berupa energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus listrik bolak – balik dengan frekuensi 2450 MHz dan panjang gelombang 12.ultrasound memiliki penetrasi nol pada tulang. Hal ini diminta hanya untuk menjaga sebagian besar otot-otot wajah dan mencegah atrofi sambil menunggu untuk reinnervasi dalam kasus axotomesis atau reconduction setelah neurapraxia jika saraf tidak rusak sepenuhnya. cedera kepala. Meskipun untuk saat ini adalah kontraksi otot arus faradic melonjak untuk menghasilkan kontraksi alternatif dan relaksasi namun berhubung tipe tatanik pada kontraksi yang menghasilkan 50 pulse hanya dalam satu detik.25 cm. sehingga menghasilkan kontraksi tetanik pada otot-otot yang terangsang. Secara nyata bahwa gelombang ultrasound terpantul jauh dari tulang. Satu-satunya bentuk arus listrik yang digunakan pada wajah adalah arus searah yang diputus-putus (Interrupted Direct Current) atau disebut juga Arus Galvanic. apakah itu ada reaksi degenerasi atau tidak ada reaksi. tidak diperlukan pada wajah. Jadi tidak ada rasa takut dan khawatir jika terapi ultrasound diterapkan pada wajah.25 cm. Microwave Diathermy Micro Wave Diathermy (MWD) adalah suatu jenis terapi dengan menggunakan stressor fisik berupa energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus listrik bolak – balik dengan frekuensi 2450 MHz dan panjang gelombang 12.

Pasien diminta untuk berdiri di depan cermin sambil berusaha untuk menggerakkan otot wajah yang mengalami kelumpuhan. selain itu juga berguna untuk mencegah terjadinya kontraktur otot. tersenyum. menekan atau membelai cepat dapat diterapkan sepanjang otot-otot. Dengan penanganan yang cepat. 3.terapi dengan menggunakan stressor fisik berupa energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus listrik bolak – balik dengan frekuensi 2450 MHz dan panjang gelombang 12. akurat dan hebat maka bell‟s palsy dapat disembuhkan Tahap Kedua yaitu Selama Pemulihan: Teknik PNF digunakan untuk edukasi kembali pada otot-otot yamg mengalami parese atau paralisis: · Peregangan cepat (quick stretch) dapat diterapkan untuk dapat membesarkan alis mata dan gerakan sudut bibir. menutup mata erat-erat kemudian dibuka lebar-lebar. relaksasi otot-otot wajah dan mengurangi spasme otot stilomastoideus. Bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah. menyeringai. bersiul. e. dan berkata 'o' mengatakan. dan kemudian mencoba untuk menggerakannya. menyikat. Fisioterapis akan mengajarkan bentuk-bentuk latihan dan menentukan frekuensi atau dosis latihan yang dibutuhkan pasien. o. Pada kondisi Bell‟s palsy massage diberikan dengan tujuan memobilisasi serabut-serabut otot di area yang mengalami paralysis sehingga terjadi pergerakan pasif dari otot wajah dan memberikan stimulasi gerak. u menyedot dan meniup sedotan meniup peluit. ekspresi terkejut kemudian cemberut. i. 2.25 cm. tepat. 4.misalnya otot zygomaticus Latihan mandiri di rumah: 1. · Para fisioterapis dapat memberikan gerakan pasif dan kemudian meminta pasien untuk menahan. goresan dengan es. Exercise Latihan yang diberikan umumnya merupakan latihan aktif berupa Mirror Exercise. dan bisa juga meniup lilin 22 . · Massage Pijat adalah manipulasi lapisan superficial otot dan jaringan ikat untuk meningkatkan fungsi dan relaksasi otot dan kebugaran. 5. 6.

Tn. massage. sulit mengunyah menggunakan mulut bagian kanan (+). kelopak mata kanan tidak dapat menutup. Sering berkendara motor dengan helm yang terbuka. Gunakan kacamata untuk melindungi mata Farmakologis : o Prednisone 60 mg PO selama 3 hari 4. Electrical stimulation. Ad functionam bonam. Latihan makan dengan mengunyah di sisi yang lemah d. 40 tahun mengeluh mulut mencong ke kiri. terapi Ultrasound. Prognosis: Ad vitam bonam. Ad sanationam dubia ad bonam. Fisioterapi: Infra Merah. berkumur c. bicara pelo (+). dan excersise b. Non-Farmakologis : a. micro wave diathermy (MWD). 3. meniup bola pingpong/lilin. tidak dapat mencucukan bibirnya: parese N. mata kanan pasien tidak bisa menutup rapat. meringis. tutup mata. 23 . RB. Pada PF N. saat tersenyum bibir tertarik ke arah kiri. tersenyum. mengences dari pipi kanan (+). menggembungkan pipi bocor ke kanan. 2. short wave diathermy (SWD). keluar air mata berlebihan pada mata kanan (+). VII (Facialis): tidak dapat mengangkat alis dan dahi kanan. Latihan penguatan otot pipi dan wajah kiri dengan kerut dahi.BAB III KESIMPULAN 1. VII dextra perifer.

Jakarta.403. Shmorgun D.com 6. 3th ed. Dalam: Prof.com 7. Saraf Otak. eds. cetakan kelima.2005. [cited 25 jan 2008]. Mononeuropathy Simplex. p 208-211. Neurologi klinis dasar. 2006.[online]. A Lange Medical Book Clinical Neurology. 2. United States. D. Simon. Campbell WW. 8. The Facial Nerve. p 55-57. Neurologi klinik.2003. p 335-336 24 . D. or Facial Nerve. Weiner M. [online]. Ph. A Basjiruddin.dr. Jakarta: FK-UI. [online]. Holland J. [cited 25 jan 2008]. Chan W. [cited 24 jan 2008]. Fenichel. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Jakarta: PT.DAFTAR PUSTAKA 1. Lumbantobing. 1993. Dian Rakyat. M. Clinical Pediatric Neurology. ed. RP. Aminoff MJ. USA: Appleton & Lange. Vol:95:359-362. Bell‟s palsy: A life changing year.oxfordjournals.DR.. Ray J. Paralisis Bell.eMedicine. Jan 2004. DeJong‟s The Neurologic Examination. A sign and symptoms Approach 5th ed. 5. 2005. New York: MacGraw-Hill.BMJ. pemeriksaan Fisik dan Mental. 2003. ed. editor. p 171. Monnell K. Available from: URL:www. Available from: URL:www. 6 maret 2002. Bell‟s Palsy. p 161-162 12. 11. 6th ed. Prof. Elseivers saunders.php 10. p 1180-1182. available from: URL: http://qjmed. Dalam: Prof. Neurologi Klinik Dalam Praktek Umum. 1992. Available from: URL: http://www. 2003. Bell‟s palsy. Brown RH.SM. Adams and Victor‟s Principles of Neurology. PT.2004. Priguna Sidharta. editors. Dian Rakyat. Greenberg DA. In : Gerald M. USA: Lippincott Williams & Wilkins.com/magazine/2004-01sweatervestarticle. Association between bell‟s palsy in pregnancy and preeclampsia. 4. Sweatervest S. DR. [cited 23 jan 2008]. editors. [online].org/cgi/reprint/95/6/359 9. Kapita selekta neurologi. Dalam: Harsono. Sidharta Priguna. eds. p 297-300 3. Recent developments in bell‟s palsy. Djamil Y. 4 sept 2004.eccw. 8th ed. The Seventh. Ropper AH.DR.Mahar Mardjono.Patofisiologi nervus fasialis.

Samuel. [cited 26 jan 2008]. Neuropathological imaging: in vivo detection of glial activation as a measure of disease and adaptive change in the brain.13. [online].oxfordjournals. Available from: URL: http://bmb. Semarang: Akademi Fisioterapi Widya Husada. 2012. Buku Saku Neurologi. Ed 5. Weiner HL. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Levitt LP. 25 . 2003. Vol:65:121-131. Ataksia.org/cgi/content/full/65/1/121 14. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Bell‟s Palsy Kiri Dengan Modalitas Electrical Stimulation dan Massage. 2001. Banati R. Wita JS. editor. p 174 15.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful