P. 1
Novel.'Jalan Pilihanku

Novel.'Jalan Pilihanku

|Views: 453|Likes:
Published by idrus

More info:

Published by: idrus on Jun 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

THE CHOISE

Kang Idrus
Sahabat yang menyukai novel ini diizinkan untuk mengkopi dan menyimpannya atau memberikan pada sahabat yang lain. Akan tetapi mohon maaf, novel ini tidak dizinkan untuk diperjualbelikan. Terima kasih. Kang Idrus. sekolah yang dikelola oleh Yayasan Perguruan Islam tersebut. Oleh karena itu hampir setiap hari Attar pergi bekerja dengan berjalan kaki. Ditengah kebimbangan jalan hidupnya ,Attar brusaha tetap bersyukur atas segala yang didapatnya. Walau ditengah perjalanan keterpaksaan menodai kinerjanya. Sesekali mulut dan hatinya mulai akrab dengan kata ‘terpaksa’, sebuah frase ungkapan dari ketidakberdayaannya dalam mengalahkan kesemrawutan yang mengangkanginya. Berbeda dengan penyesalan yang selalu datang belakangan, kata terpaksa biasanya menteror didepan batang hidung atau ditengah perjalanan. Terpaksa bekerja ini, terpaksa korupsi, terpaksa merampok, terpaksa melacur, terpaksa ini dan terpaksa itu. Kata ETELAH menatap sebuah foto yang menempel dalam bingkai diatas tempat tidurnya Attar bergegas melangkahkan kaki. Sudah hampir dua tahun ia bekerja disebuah sekolah menengah sebagai staff khusus kepala terpaksa adalah pilihan bagi orang yang tak berdaya dan lemah yang tidak pernah sadar bahwa setiap saat kehidupan menawarkan berbagai macam pilihan. Semua jalan seolah tertutup dimata mereka yang hidup dibawah tekanan keterpaksaan. Mereka tak melihat ada pintu yang lain terbuka yang menawarkan jalan yang lebih baik. Walau hati selalu menolak bahkan memberontak mereka harus tetap memilih dan terpaksa adalah pilihan yang terpaksa harus dipilih.

JALAN PILIHANKU
Karena kita selalu memilih

Bagian Satu
Urat Kemelut

S

sekolah. Tempatnya bekerja tidak terlalu jauh dari tempat ia tinggal. Hanya membutuhkan 5 menit dengan berjalan kaki untuk sampai ke

1 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Benarkah keterpaksaan dijalani karena memang tak ada pilihan lain atau justru hal itu hanyalah sebuah pelarian dari ketidakmampuan, ketidak beranian, kepengecutan, ketakutan atau sebuah kamuflase dari keraguan iman yang terselubung halus didalam hati. “Berangkat mas….” sapa pak Tono penjaga kontrakan. “Iya pak..” jawab Attar sambil tersenyum, “Jaga kamar saya ya Pak” Sampai dikantor ia menyalakan komputer dan membuka buku yang dari subuh tadi sedang dibacanya. Masalah itu satu keadaan dimana solusinya belum ditemukan. Ada juga yang mengatakan sebuah keadaan diluar yang diharapkan. Setiap kebaikan dan keburukan yang menimpa kita keduanya merupakan sebuah keadaan yang memiliki tujuan sama yaitu untuk menaikan tingkat atau kemampuan kita. Bisa juga dikatakan untuk menjadikan kita sebagai manusia super. Attar menutup buku yang sedang dibacanya. Masih pagi belum ada yang datang kesekolah. Koran belum datang jadi Attar meneruskan membaca buku. Ia mencoba membandingkan dan menyintetiskan antara apa yang sedang dibaca dan dipahaminya Rupanya korupsi tidak hanya ada di birokrasi pemerintah atau diperusahaan-perusahaan. Penyakit yang membuat bangsa semakin terpuruk itu sudah menyerang kedunia pendidikan. Kenapa pemimpin-pemimpin bangsa ini menyuburkan budaya korupsi bahkan korupsi berjamaah. Apakah secara tidak sengaja mereka telah diajari sejak mereka dibangku sekolah. Attar bimbang. Lembaga tempat kerja Attar adalah sebuah sekolah yang dikelola oleh yayasan Islam. Didalamnya semua hal dilaksanakan atas nama perjuangan agama Islam. Mungkin-, Attar berpikir walau hatinya menolak,-termasuk korupsi yang sudah meraja lela dan ketidakadilan yang membuat system pendidikan diyayasan ini hancur dan berantakan, juga atas nama Islam. Setiap guru yang mengajar di sekolah ini dituntut untuk ikhlas walau dengan gaji mencekik leher, yang seminggu habis untuk melunasi hutang. Ikhlas, walau tidak makan sekalipun. Bahkan kalau mati sekalipun mereka harus tetap iklas. Kalau dengan apa yang kini tengah ia hadapi. Keadaan ditempatnya bekerja ini membuat ia terusik hingga dari mulutnya terlontar kata terpaksa.

2 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
mereka tidak mau silahkan angkat kaki. Begitu kata pengurus yayasan. Dalam pandangan Attar, ini bukan masalah iklas atau tidak. Ini masalah hak dan kewajiban yang harus ditunaikan. Guru-guru sudah memberikan waktunya untuk mengajar di sekolah ini. Mereka menunaikan kewajiban mereka semampu mereka. Namun disatu sisi hak-hak mereka tidak dipenuhi dengan wajar dan layak. Ini namanya ketidakadilan. Ini namanya kedzaliman yang wajib dihentikan. Tapi kenapa guru-guru itu tidak memberontak. Attar berpikir pada sebuah kemungkinan untuk mencari tempat lain yang bisa membuatnya lebih tenang dan tidak mengusik nuraninya. Namun selama hidup ia tak pernah menjumpai tempat itu. Dimanapun pasti ditemukannya masalah. Sedangkan ia sadar bahwa lari bukanlah jalan terbaik. Lalu Attar memilih bertahan. Demi mimpinya, demi kuliahnya. Walau ia harus memotong-motong hatinya. Masalah adalah bagian dari kehidupan itu sendiri itu, Attar membenarkan tindakannya. Apakah ia termasuk manusia yang melangkah terpaksa. Mungkin, sebab ia ragu dan tak melihat pintu lain yang terbuka. Tapi mana ada manusia yang mengakui keraguan pada Tuhannya. Paling-paling ia mencari pembenaran atas jalan yang dilaluinya melalui logika. Itu sudah jadi kebiasaan banyak orang sebab dimuka bumi ini tidak ada manusia yang mau dianggap salah dan ragu. MASALAH sesulit apakah yang hanya bisa diakhiri dengan kematian. Apakah ada masalah seperti itu. Tergantung. Kalau memang ternyata kematian menyelesaikan masalah mungkin itu sudah sebuah ketetapan atau juga menjadi salah satu pilihan manusia dalam menentukan jalan hidupnya. Ah ini terlalu membingungkan. Setiap suatu problem yang terjadi sebenarnya ada jalan keluarnya bahkan banyak, hanya saja, beranikah kita menempuh jalan tersebut. Tidak mudah memang, tapi itulah inti perjalanan kehidupan. Setiap saat kita harus memilih dan setelah memilih maukah kita menjalaninya. Selalu ada jeda. Selalu ada ruang untuk memilih antara stimulus dan respon. Selalau ada jeda untuk memilih antara aksi dan reaksi. Itulah keutamaan manusia. Ia bisa memilih tindakannya sendiri. Ia bisa memilih takdirnya, menurut Attar. Pemahamannya seiring waktu yang berjalan bersama pengalaman dan lembar-lembar buku yang ia telusuri kadang selalu meloncat, berubah, semakin mantap walau ada juga yang terguncang

3 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
dan akhirnya tersisih. Attar tidak berhenti pada sebuah ketetapan. Ia berusaha untuk selalu objektif memandang setiap hal hingga pada saat ia menemukan sebuah definisi yang paling baik dan ia yakini, disanalah ia akan berhenti dan memperjuangankan nilai tersebut. Tidak seperti dulu. Attar sudah berubah, ia berusaha berubah. “Konflik yang terjadi disini itu hanya bisa diakhiri dengan kematian” pendapat Surahman guru IPA yang bergelar S2 tersebut. disela-sela obrolan tentang kondisi tempat mereka mengajar. Dari sekian guru yang ada disekolah tersebut hanya Surahman yang bergelar S2. Tanpa disadari ia manjadi salah seorang yang paling memiliki pengaruh di sekolahan itu. Bisa jadi karena kemampuannya dan mungkin juga karena integritasnya sebagai guru yang cukup berpengalaman. Disamping usianya yang matang dan lamanya ia mengajar ditempat ini, ia juga memiliki kemampuan memimpin dan manajemen yang baik bahkan lebih baik dari kepala sekolah sekalipun. Harusnya dia yang menjadi kepala sekolah, pikir Attar. “Coba bayangkan, berapa orang yang mengurusi yayasan yang sudah tua, tidak memiliki kemampuan yang cukup dan konservatif tapi tidak dipensiunkan oleh pak Kiai. Kalau mereka meninggal barulah mereka diberhentikan. Kalau sudah mati Attar tertawa “Kalau melihat kerumitan masalahnya sih saya juga setuju pak Rahman. Tapi saya percaya sebenarnya masih ada pilihan lain” kata Attar “Selain apa itu tadi, kematian. Wah itu mah serem banget” “Ah udeh! Saya setuju sama pak Rahman. pokoknye kita doain aje yang ade di yayasan sana pada cepet mati” komentar Zein kepala Tata Usaha disekolah tersebut yang ditimpali gelak tawa semua yang ada disitu. Zeinul adalah kepala Tata usaha disekolah tersebut. Pengabdiannya sudah tidak diragukan lagi. Hampir tiga puluh tahun ia mengabdi disekolah itu. Dan seiring waktu berjalan selama tiga puluh tahun perubahan nasib tak jua berkunjung kerumahnya. Bukannya tidak peduli dengan keadaan disekolah ini yang sudah lama terjadi didepan matanya akan tetapi ia sendiri sadar bahwa ia tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya ia menikmati masalah itu. “Saya tak habis pikir sama pak kiai” Ansyah guru TI yang otaknya super encer mencoba berkomentar, “Kenapa orang-orang semuanya, mungkin pak Kiai akan memasukan orang baru. Itu artinya kita punya harapan perubahan”

4 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
kaya gitu masih aja dipakai diyayasan. Talk only not action. Selama masih ada mereka, orang-orang kolot itu di yayasan itu, saya yakin kita tidak akan maju malah ambruk. Menurut saya disini bukan hanya dibutuhkan perubahan system tapi revolusi. Revolusi ala chavez kalau perlu” ia sedikit emosi. Memang seperti itulah sifat duda keren ini. “Tak usah dipikikan. Itukan maunya kita. Kenyataannya? Pak kiai sendiri kelihatan secara sengaja membiarkan perguruan ini dalam kondisi seperti ini. Status quo ‘lah” kata Pak Surahman. “Jadi kita tunggu saja kematian menjemput mereka satu persatu” “Pak Rahman, kematian itu ‘kan rahasia Allah kita sama sekali tidak tahu kapan mereka mati. Iya kalau mereka mati duluan, kalau kita yang lebih dulu? Gimana?” Udin guru Matematika yang dari tadi membaca koran ikut menimpali. “Sebenarnya mau status quo kek, apa kek, itu tidak terlalu penting buat saya, asalkan pak Kiai mau membangun sekolah ini dengan serius, misalnya kesejahteraan guru diperbaiki, adanya jaminan kesehatan untuk guru-guru dan karyawan, fasilitas dilengkapi dan lain-lain lah, saya yakin dengan begitu bukan hanya guru yang semangat untuk bekerja tapi sekolah ini juga akan memiliki bargaining position yang tinggi. “Nah itu. Saya setuju itu pak” Ansyah menimpali, “Perubahan memang harga mati. Revolusi udah Revolusi tak aja jalan lain. Demo lah setidak-tidaknya” “Iya, kalau pak kiai ngerti, kalau nggak?” Surahman menunggu rekasi “Kenyataannya sampai saat ini hal itu tidak terjadi” balas Surahman sambil membuka kedua lengannya meminta persetujuan pada semua koleganya, “Iya ‘kan?” semuanya diam, “Kita terus berharap akan perubahan tapi kita hanya diberi kapasitas untuk bicara toh yang menentukan bukan kita. Semua keputusan ada dipucuk pimpinan, pak Kiai. Kenyataannya apa yang ditunggu oleh kita seperti yang dikatakan pak Udin tadi tidak terjadi. Pak udin tahu, saya sudah menunggu tiga belas tahun lebih perubahan itu terjadi tapi tidak datang juga” Surahman terlihat lebih tegas. Ia merasa lebih tahu akan kondisi sekolahan karena ia lebih lama mengajar disekolah itu hingga kini ia bisa menjadi PNS. Pembicaraan buntu kembali. Namun demikian pembicaraan semakin hangat. Attar duduk terdiam mendengarkan obrolan yang Pada akhirnya bukan kita yang cari murid tapi murid yang antri mencari kita.” Kata PNS Depag itu dengan santai tapi meyakinkan.

5 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
semakin menghangat itu. “Bagaimana kalau kita usul saja ke yayasan?” Attar melontarkan pertanyaan ketengah forum. Semua orang diam tidak ada yang menjawab usulan Attar tersebut. “Setidaknya kalau kita sudah memberikan usulan mungkin kita akan tahu bagaimana tanggapan mereka bahkan lebih baik lagi kalau kita sampaikan usul ini langsung kepada pak Kiai. Ada kemungkinan, walaupun kecil, pak kiai tidak tahu tentang kondisi perguruan yang sebenarnya” “Ya itu boleh juga tapi siapa yang mau ngomong langsung ke Pak Kiai. Seharusnya ‘kan kepala sekolah yang punya kesempatan saat dirapat para pimpinan, bukan kita. Secara struktural harusnya seperti itu” jawab Surahman. Ia memang tahu semuanya. Attar terus mendengarkan komentar dan alasan-alasan logis yang dikemukankan Surahman dan guru lainnya namun intinya bagi Attar adalah sama, guru-guru tidak berani untuk melakukan usulan yang diajukan olehnya. Sebenarnya, menurut Attar, dalam hal ini ada orang yang memiliki kapabilitas mumpuni, pak Surahman. Pengalamannya banyak, pendidikannya tidak diragukan dan kualitas kepemimpinan dan manajemen cukup baik. Ia cukup pantas menjadi kepala sekolah disini dibanding kepala sekolah sekarang. Sayangnya ia kurang berani atau lebih suka mencari posisi aman. Saat ini ia lebih tenang. Ia sudah PNS. Gaji tiap bulan jalan. Dapur ngebul jadi apalagi yang harus dipikirkan. Begitu katanya. Attar jadi mengeluh sendiri. Mungkin karena aku masih muda. Rindu perubahan dan terlalu meledek-ledak. Banyak yang tidak aku tahu. Banyak yang tidak aku mengerti. Tapi kadangkadang orang tidak harus banyak tahu untuk menjadi pemberani. Semakin banyak tahu malah semakin terlalu sering berpikir dan maju mundur dari pada action. Attar menguatkan dirinya sendiri. “Kalau Pak Zein selaku kepala tata usaha bagaimana? Berani gak menghadap pak kiai?” Attar mencoba menguji sejauh mana keberanian kepala TU yang sedang mendalami tasawuf itu. “Yeah ngapaian. Gue sih gak punya urusan, sebodo teuing” ia tertawa “Biarin aja. Itu dunia. Nanti juga pada nerima azab dari Allah. Kalau mereka udah pade mati. Semuanya itu ada waktunya” jawabnya sambil tertawa. Pembicaraan terus berlanjut bahkan lebih panas lagi. Solusi yang terlontar dari pembicaraan itu cukup berlimpah. Mulai dari mengajukan usulan, petisi, demo, restrukturisasi, pengalihan

6 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
kepengurusan sampai kudeta. Ah yang terakhir ini sepertinya hanya guyonan. Pembicaraan semakin melambung sampai-sampai berpindah topik dari kondisi politik di Indonesia sampai nasionalisasi yang sedang dilakukan Hugo Chavez dan Revolusi Iran dibawah pimpinan Ahmad Dinajed. Attar mencoba terus mendengarkan dengan seksama namun intinya tetap saja sama. Solusi sebenarnya banyak namun semua tergantung dari kemauan. Kemauan untuk menjalankan solusi tersebut. Sayang sekali, komunikasi tersebut selalu ditutup dengan solusi menunggu kematian. Wait and see. Walau semua orang ditempat itu berpikir tentang solusi dengan menunggu kematian, Attar tetap percaya bahwa sebenarnya jalan keluar ada dan bisa kalau mereka mau dan siap menjalani sebab bagi Attar menyerahkan penyelesaian kepada kematian tidak logis. Jawaban yang tepat untuk kondisi ini mungkin seperti yang selalu dikatakan pak Udin, kembali ke selemah-lemahnya iman yaitu cukup hati kita tidak menerima keadaan yang timpang itu. Kalau setiap permasalah harus diakhiri dengan menunggu kematian datang menjemput maka dunia ini tentu tidak seimbang, kata Attar. Dunia akan kacau balau dan hancur. Kebenaran itu harus ditegakkan melalui perjuangan dengan penuh kesungguhan dan tentunya disertai doa dan pengorbanan. Justru karena terlalu banyak orang yang senang berbicara dan mengeluarkan pendapat tanpa keberanian untuk melakukanlah, dunia semakin kacau. Orang-orang muslim bagi Attar memiliki karakter yang baik tapi lemah. Sementara itu banyak orang, termasuk yang mengaku muslim, yang berkarakter buruk tapi memiliki kekuatan. Akhirnya yang kuat dan buruk berada diatas sementara orang baik tetap tertindas karena lemah, pengecut dan tak berdaya. Sekalipun mereka lebih banyak. Dimanakah keberanian itu? Attar terus berpikir tapi lagi-lagi ia tak tahu jawabannya. Pikiran terakhir yang terlintas dalam benak Attar adalah, saat ini terlalu banyak orang baik tapi lemah hingga bisa dikalahkan oleh orang yang buruk tapi kuat sekalipun ia sedikit. Salahkah model pendidikan di Negara kita? Seharusnya manusia-manusia Indonesia menjadi manusia utuh yang baik dan kuat sesuai tujuan pendidikan nasional Indonesia,namun, kenyataannya tidak. Orang kuat berpengaruh namun memperkosa system demi keuntungan pribadi. Seperti diperguruan ini, sekalipun perguruan Islam kata Attar, Jadi

7 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
inilah hasil dari pendidikan negera kita. Negaranya orang timur yang ramah dan ewuh pakewuh. Terdengar Adzan dzuhur. Obrolan terhenti. Semua guru bergegas kemasjid untuk menunaikan sholat berjama’ah. Indah sekali setiap adzan terdengar semua orang bergegas merangkul wudhu dan mencium sejadah dalam sholat, berjamaah pula. Tapi bagaimana kalau sholat berjamaah ini dilakukan karena kepala sekolah membuat aturan tersebut. Sementara itu aturan yang dibuatpun berlaku surut. Seminggu dua minggu berjalan dan seterusnya berhenti. Awalnya kepala sekolah akan uring-uringan, menegor tidak dengan penuh kewibawaan, kemudian iapun menyerah dan orang yang tidak suka semakin kuat posisinya karena banyak celah yang bisa dijadikan senjata untuk menyerang kepemimpinan kepala sekolah yang lemah itu. Ah lagi-lagi itu cuma ada dibenak mereka karena saat rapat tahunan atau evaluasi yang justru sebagai kesempatan mengeluarkan pendapat mulut mereka semua bungkam. Guru-guru dan kepala tata usaha diam saja tak berani bicara kecuali bisik-bisik dibelakang layar. Kata salah satu guru, semua orang yang bekerja dan mengajar disini sudah didukuni kepala sekolah itu. Sebenarnya dulu pernah ada satu rapat yang suasananya panas karena ada guru yang berani mengkritisi kepala sekolah secara terbuka dan langsung, namanya pak Rojak guru akidah ahlak. Akan tetapi pak Rojak terlalu banyak kelemahan. Ia sering datang telat, kerjaan tidak beres dan sering tidak masuk tanpa pemberitahuan. Kepala sekolah merasa dilecehkan dan iapun menyerang balik pak Rojak dengan fakta absensi yang minim dan segudang kelemahan lainnya. Wal hasil SP dua keluar dan posisinya mulai digeser. Selamat pak Rojak. “Al-hakku bila nizam yughlibul bathila binnizam” yang benar tanpa rencana matang akan dikalahkan oleh yang salah namun terencana. Akibat keberanian yang tidak seimbang tersebut atau boleh dikata Rozak yang berperang tanpa membawa senjata, rapat jadi molor hingga sore dan semua guru uring-uringan dibuatnya. Kepala sekolah terus saja bicara keluar jalur rapat yang direncanakan sementara itu masih banyak agenda rapat yang penting dan belum dibahas. Edannya lagi tidak ada satupun guru yang berani mengingatkan kepala sekolah termasuk wakilnya yang selalu dianggap sebelah mata oleh sang kepala itu. Sejak saat itu tidak ada

8 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
yang berani mengkritisi secara terbuka lagi. Lebih baik cari aman saja. dari pada rapat sampai sore. Emang digaji berapa. Tuh ‘kan. Kalau saja setiap orang berusaha untuk bersikap objektif dan mengusung niat yang tulus untuk mencari solusi bersama demi kesejahteraan bersama tentunya indah dunia ini. Lagi-lagi harapan ini diawali dengan kata kalau saja, itu berarti harapan ini masih jauh bahkan hanya bertengger dalam angan. Sampai kapan muslim lebih banyak berangan-angan. Attar mengeluh lagi. lubang kecil shower mengguyur kepala Attar mendinginkan dirinya. Ia merasakan kesejukan mengguyur melalui pori-pori kulitnya. Terdengar handphone berdering. Attar mengambil handuk dan menutupi tubuhnya. Ia keluar dari kamar mandi “Hei Ri ada apa?, iya aku kuliah hari ini, bahan presentasi untuk hari ini sudah siap belum, oh begitu, jangan lupa pesenan aku yang seminggu lalu. Sudah disiapkan, makasih ya. Oke sampai nanti ya. Waalaikum salam”. Attar menutup handphone lalu masuk kamar mandi kembali. Jarak dari tempat tinggal kekampusnya lumayan jauh. Attar harus naik angkutan umum sebanyak 3 kali. Walau sesekali ia malas

Calon-calon Guru

untuk berangkat kuliah karena jaraknya lumayan jauh dan cuaca panas namun ia selalu berusaha menepis rasa malas itu sejauh mungkin. “Malas itu tipu daya setan dan setan mengajak kepada kemiskinan dan kekufuran” pesan dari gurunya tersebut selalu terngiang digendang telingan Attar. Ia tak mau jadi orang kufur apalagi hidup terus-terusan dibawah kemelaratan. Bangsa yang malas adalah bangsa yang terpuruk. Manusia yang malas adalah sampah masyarakat yang selalu menjadi biang segala permasalahan. Jangan salahkan Allah bila hidup miskin menderita sebab Allah dengan cintanya sudah mengatur dengan

S

EPULANG kerja Attar langsung mandi. Hari-harinya semakin berat ia rasakan. Bekerja hanya dengan tenaga tanpa disertai hati menjadi beban tersendiri buatnya. Mungkin juga bagi kebanyakan orang. Tak seperti

biasanya, kali ini Attar berdiam lebih lama dikamar mandi untuk mendinginkan hati dan raganya. Air mengucur melalui lubang-

9 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
gamblang tentang Sunnatullah. Siapa yang ingin cerdas maka harus belajar keras, siapa yang ingin kaya maka harus bekerja keras, siapa yang ingin sukses maka jangan mudah menyerah, siapa yang ingin selamat maka harus hati-hati. Begitu gamblangkan ! dan semua itu bisa diraih hanya dengan satu hal. Mau atau tidak. Maukah bekerja keras, maukah berusaha, maukah belajar lebih rajin. Mau!. Attar selalu ingat pesan gurunya itu. Setelah sholat Ashar Attar berangkat kuliah. Attar duduk didepan samping sopir. Duduk didepan lebih tenang dan disukai olehnya karena tidak ada yang menganggunya membaca buku. Setidaknya ia tidak harus berbagi tempat duduk dengan yang berdiri dan berjubel didalam bus kota. Membaca merupakan bagian dari kebiasaan Attar sejak kecil. Dengan membaca ia menemukan kenikmatan sendiri yang disebutnya sebagai suasana Flow. Karena perjalanan kekampus cukup lama sungguh sayang bagi Attar bila dilewatkan begitu saja tanpa membaca buku. Jam setengah lima Attar sudah sampai dikampus. Ia lebih menyukai kampusnya yang sekarang walaupun Universitas swasta namun memberikan pelayanan yang cukup memuaskan buat Attar. Salah satu contohnya adalah fasilitas kamar mandi. Dulu saat ia kuliah disebuah PTN fasilitas kamar mandi jauh dari layak. Air sering tidak ada dan kotor padahal kampus Islam. Disini sebaliknya, ia mendapati fasilitas kamar mandi yang suplai airnya terjaga dan selalu bersih. “Kebersihan sebagian dari Iman” namun sedikit orang-orang Islam yang sadar akan pentingnya kebersihan. Hitung saja berapa jumlah masjid yang kondisi tempat wudhunya benar-benar terjaga dan bersih, -untuk yang ini masjid agung tempatnya bekerja adalah contoh kongkrit,- atau pesantren yang menyediakan fasilitas kamar mandi yang baik dan membuat betah bahkan kalau bisa memberikan inspirasi bagi santri-santrinya. Ah Attar terlalu jauh berpikir. Ia naik ke lantai tiga. Perkuliahan sore, kebanyakan yang menjadi mahasiswanya adalah orang-orang yang sudah bekerja baik sebagai guru atau karyawan walaupun ada yang memang hanya kuliah tapi mahasiswa seperti itu bisa dihitung dengan jari dikelas Attar. “Hai baru sampai” Riani menyapa Attar saat ia duduk disamping gadis bertubuh mungil tersebut. Attar mengangguk sambil tersenyum.

10 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Makalahnya mana?” Tanya Attar. Riani memberikan makalah tersebut pada Attar. Lalu Attar membacanya. “Ini bisa. Apa kataku, tidak ada yang tidak mungkin. Asal kita berani mencoba pasti kita bisa” Tak lama dosen datang dan kuliahpun dimulai. Apa yang dicari mahasiswa. Legitimasi kesarjanaan atau ilmu untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Mungkin keduanya tapi bukan rahasia lagi kalau mahasiswa jaman reformasi ini hanya mencari legitimasi gelar sarjana. Dori mendapatkan nilai B dengan mengirimkan parsel pada dosennya. Sinta yang montok rela diajak nonton dan dipegangpegang oleh salah satu dosen mata keranjang demi lulus ujian akhir. Mirna selalu membawakan makanan buat dosen. Dan bla-bla-bla yang lainnya. Masih banyak lagi. Padahal semua mahasiswa dikelas tersebut adalah calon-calon guru bahkan banyak yang sudah jadi guru. Kalau dulu bangsa ini mendewakan darah biru kebangsawanan mungkin sekarang beralih kesebutan gelar. Jadi sampai saat ini bangsa kita masih dijajah paradigma yang keliru atau bangsa ini memang bangsa yang tak pernah merdeka hingga saat ini. Penjajah tak hengkah dari tanah ini hanya berganti wajah saja. kita masih dijajah gelar, dijajah nilai, dijajah gaya hidup, dijajah keterpaksaan. Tapi mau dikata apa. Bukan rahasia lagi kalau mereka melanjutkan kuliah ditempat ini hanya demi kenaikan gaji, sertifikasi, tunjangan fungsional dan memenuhi syarat diangkat jadi PNS. Ilmu tidak penting, Ijazah yang penting. Otak kosong tak perduli yang penting bisa lulus sertifikasi, dapat tunjangan dan dapur bisa terus ngebul. “Jujur, kalau bukan sekolah yang membiaya, saya tidak mau kuliah lagi” kata salah satu temannya. Pikiran Attar melayang. Alangkah sayangnya kalau kita banting tulang, mengorbankan waktu dan materi juga perasaan bertahun-tahun hanya untuk sebuah gelar, hanya untuk selembar ijazah. Betapa relanya kita meletakkan kehormatan pada selembar ijazah. Apa kita tak pernah takut kalau nanti musibah menimpa, seperti kebakaran, ijazah kita terbakar. Itu artinya habis sudah kehormatan kita. Sia-sia sudah bukti kegelaran kita karena legalitas kiat telah terbakar.

11 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Sebagai manusia yang hidup dinegeri terjajah Attar tidak merasakan merdeka dalam arti hakiki. Cerita hidupnya tidak seperti mimpi-mimpinya bahkan sangat jauh. Semua yang diraihnya harus melalui perjuangan hebat. Memenggal rasa malu dan berperang dengan diri sendiri sambil menantang penjajah-penjajah yang berubah wujud menjadi dewa. “Mas Attar aku mau tanya, boleh ?” Tanya Eka gadis berkerudung, bibirnya sedikit lebar dan selalu mengulum senyum. “Boleh” kata Attar “Tanya apaan?” “Aku perhatikan mas anti nyontek ya” menyontek hal kecil namun berdampak besar, sebuah budaya yang menjadi lumrah disini. Dosen-dosen pengawas pun tahu tapi pura-pura tak tahu. Kalau ada pengawas yang terang-terangan membolehkan nyontek paling-paling berkata, “Saya paham kalian. Yang penting jangan ribut. Kita sama-sama enaklah” begitulah kira-kira. “Oo yang itu, kirain mau tanya yang lain” “Emangnya mas kira akau mau tanya apaan?” “Aku kira kamu mau ngajak aku kawin” seloroh Attar sambil tertawa. “Ih mas ini…..”Eka tersentak Attar bicara seperti itu. Ia tahu Attar bercanda tapi pipinya memerah mendengar kata-kata seperti itu. Frase kawin untuk wanita memang sensitif. “Maaf, maaf, aku cuma bercanda kok” Attar tertawa “Begiini de Eka, tapi jangan tersinggung ya” Eka mengangguk, “Aku tidak tahu kalau orang lain bagaimana yang pasti semua orang punya pandangan tersendiri. Jadi kalau pandangan kita berbeda ya itu sahsah saja. Iya kan?” Eka setuju “Aku sih simpel saja. Kepuasan itu tidak bisa dibeli apapun kecuali oleh kejujuran usaha kita. Aku merasa puas kalau bisa mengerjakan ujian sendiri sebab itu riel kemampuanku. Aku tidak takut nilaiku berantakan. Itu sebabnya aku tidak pernah nyontek” Jawab Attar “Ada satu hal yang tidak kita sadari yang justru berbahaya buat kita loh” “Apaan tuh mas?” “Kamu takut IPKnya rendah ?” “Ya takut lah mas. Semua orang kan pengen nilainya bagus” “Itu dia intinya. Semua orang berusaha mendapat nilai baik. Itu bagus, aku setuju. Tapi kalau caranya tidak baik jelas itu tidak dibenarkan” Attar membereskan bukunya “Seperti nyontek. Aku tak mau berkompromi dengan nyontek sebab aku juga tak mau nanti

12 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
kalau punya murid mengikuti langkahku” Attar tersenyum, “Seperti aku, kamu juga ‘kan calon guru. Kamu rela kalau saat ulangan murid-muridmu nyontek?” Eka menggelangkan kepala. Attar mengenakan tasnya “Akan lebih mudah kita menasehati mereka kalau kita sendiri sudah melaksanakan apa yang kita ajarkan. Kita tak mungkin bisa mendidik mereka agar jujur kalau kita sendiri tidak pernah jujur pada kemampuan sendiri. Percayalah, yakin pada kemampuan sendiri itu membuat kita puas, bahagia lebih dari apapun” kata Attar sambil pamit dan berlalu. Eka duduk mematung lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. MALAM HARI. Jalan terang benderang dengan lampu-lampu jalan yang bersinar. Klakson mobil bersahutan manakala laju mobil di jalan raya Pasar minggu itu terhenti sementara karena sopir-sopir metromini yang berhenti menurunkan atau menaikan penumpang semaunya. Attar duduk didepan disamping kiri sopir seperti biasanya. Ia menatap tajam kedepan jalan. Sopir menancap gas. Metromini melaju cepat. Ia mengambil jalur kanan lalu membanting setir kekiri. Terdengar klakson bersahutan. Sebuah mikrolet berhenti Setelah terhenti laju lalu lintas kembali normal. Metromini gelisah membelah kota Jakarta. Menderu sambil mengadu. Keadaan tak menjaminan perkembangan angkutan dikota besar ini. Entah berapa tahun lagi ada perubahan. Angkutan umum lebih manusiawi, sopir-sopir diganti oleh orang-orang berdasi dan ramah seperti sopir busway. Attar menatap kedepan. Ia tertawa melihat beberapa perempuan jadi-jadian. Begitu ia menyebutnya. Banci laki-laki yang memaksa menjadi perempuan dengan pakaian sangat minim menggendong sound system kecil untuk mengamen. Mereka bernyanyi sambil bergoyang-goyang. Dari saku celana Attar mengambil handphonenya. Ia mulai menekan keypad menyusun pesan pendek untuk Nindia Sitta Leila atau yang biasa dia panggil ‘Bintang Kejora’. Sebuah pesan ucapan “Sori bos, sori” jawab sopir metromini enteng sambil sedikit tertawa menyeringai. disamping kanan sopir, “Hei monyet! Nyetir yang bener lo, setan!” sopir mikrolet itu memaki.

13 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
selamat tidur. Selalu seperti itu, dijam yang sama dan pada orang yang sama. Leila yang biasa ia panggil Lala adalah perempuan yang dipuja Attar sejak ia duduk dibangku sekolah. Bagi Attar Leila adalah cerminan kesempurnaan penciptaan dari tangan Tuhan yang penuh dengan kelembutan dan cinta. Ia begitu memuja perempuan itu dengan caranya sendiri walau ia sadar perempuan itu telah memiliki kekasih. Namun Attar selalu menghidupkan hatinya akan harapan bahwa suatu hari Leila akan ia persunting dengan akad nikah yang suci. Seperti candaan yang sering muncul diantara teman-temannya, “Selama janur kuning belum melengkung setiap wanita masih bisa dimiliki siapapun” Metromini berjalan penuh gelisah mencerminkan emosi sang sopir, berjalan membelah kegaduhan Jakarta. Attar turun dihalte kemudian berjalan kaki menuju tempat kostnya. Kalau pekerjaan yang dijalaninya sekarang akrab dengan kata terpaksa mungkin cinta berlaku sebaliknya. Cinta membangkitkan semangatnya. Cinta membuatnya optimis meraih masa depan dan kebahagiaan. Dengan cara yang bagaimanapun cinta tak pernah membuatnya terpaksa. Cinta dijalaninya karena ia memilihnya. Walau ia sadar Sitta sudah punya orang lain. Namun harapannya tidak jua mati. Toh Lala belum kawin.

Rekah kelopak itu disebut cinta

H
14

ANDPHONE Attar bergetar. Terbaca pada display handphonenya sebuah nama, “BINTANG KEJORA”. Attar menjawabnya.

“Tar, aku kecopetan ni” kata Leila “Hah ! kamu kecopetan ?” Attar sedikit kaget. Sejak sekolah dulu Attar ingin mengungkapkan cintanya pada bintang kejora itu namun ia tak pernah mendapat kesempatan atau keberanian. Apa ia pengecut. Attar tidak merasa demikian.

msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
membelah kemacetan menjemput sang pujaannya. Pujaan yang “Iya, kamu bisa jemput? aku tak memegang uang sama sekali” kata Leila, “Masa aku pulang jalan kaki ‘kan jauh. Tolong ya jemput aku” pinta Lala. “Sekarang kamu ada dimana?” Leila menyebut sebuah tempat “Ya sudah. Tunggu” bahkan sampai saat mereka berdua sudah duduk diperguruan tinggi. Waktu sekolah Leila pacaran dengan sahabat karib Attar. Sebelum lulus mereka putus. “Jangan lama-lama. Panas banget” “Paling 10 menit” kata Attar. Setelah Kuliah Leila pacaran dengan Jaka Satria hingga sekarang, salah satu kawan Attar juga. Ia kalah cepat oleh kawannya itu. Attar segera meluncur menuju kuningan dengan motor pinjamannya. Lalu lintas lumayan padat. Cuaca panas sekali. Mungkin akan turun hujan, pikir Attar. Ia terus meliuk-liuk dijalanan dimiliki oleh orang lain. Burung kenari dalam sangkar orang lain. Cinta itu kebanyakan tidak pakai logika. Ini ada benarnya juga. Coba bayangkan, ternyata masih banyak orang yang kalau sudah mencintai seseorang tidak sanggup berpaling kelain hati walau orang yang dicintainya sudah dimiliki orang lain. Banyak memang alasan yang dilontarkan demi membenarkan perbuatan seperti ini. Attar contohnya. Bagi dia, selama janur kuning belum melengkung dan ijab qobul belum diucapkan selama itu juga Leila masih berhak untuk dicintai dan dimimpikan. Suatu hari akan datang masa dimana Attar akan mengucapkan akad nikah yang suci dengan mempelai yang selalu manjadi mimpi besarnya, sang bintang kejoranya, Leila. Itulah masa yang hingga kini membelit dalam angan dan mimpinya. Tanpa sadar ia telah terjajah oleh keinginannya. Ia menyalahi prinsipnya secara halus. Attar memiliki alasan kuat kenapa dia bersikap seperti ini. Leila sudah punya Jaka namun Attar yakin kalau untuk seorang suami Leila masih berpikir ulang sebab dulu Leila pernah berkata bahwa hingga kini ia belum mendapat calon suami seperti yang diidamkannya. Ini suatu tanda bagi Attar bahwa dirinya masih punya

15 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
kesempatan untuk meraih mimpinya itu. Dan Attar mengejar apa yang disebutnya “Kepantasan sebagai seorang suami bagi sang Bintang kejora” Leila begitu lain dimatanya. Sangat jauh berbeda dengan Amelia yang pernah dia pacari waktu sekolah dulu. Perempuan ini lebih pengertian, terhormat cara bergaulnya, pandai berkomunikasi dan menjaga diri, menurut Attar. Satu-satunya kekurangan Leila adalah sedikit plin-plan. Dari kejauhan ia melihat Leila berdiri disisi jalan. Perempuan itu setiap saat semakin anggun dimata Attar. Setiap katakatanya penuh makna dan setiap derap langkahnya seolah diiringi lantunan kidung semesta. Alam boleh berduka tapi tidak dengan Leila. Bagi Attar, senyum Leila adalah Matahari. Tanpa matahari bumi ini mati. Tanpa Leila, Attar tak berdaya. Attar sudah menikmati dirinya yang terjajah cinta. Leila tersenyum saat Attar menepikan motornya “Ya sudah, tak apa-apa. Mungkin memang rejekinya pencopet kali” kata Attar sambil terus melajukan motornya. “Iya, rejeki haram! Mana bisa uang haram buat hidup tenang” kata Leila sedikit ketus. Motor mulai melaju berbelok kearah kanan dengan kecepatan sedang membelah udara yang semakin panas setiap waktu. Jakarta mungkin suatu hari akan memiliki suhu paling panas didunia. Global warming menyerang Indonesia sebab hutanhutannya dibotaki setiap waktu “Aku taruh di tas. Eh pas turun aku lihat tasnya sudah kebuka. Lagian tadi penuh banget di bus jadi aku tidak sadar kalau tasku ada yang buka” “Emangnya kamu taro dimana tuh dompet?” Leila naik diboncengi Attar, “Namanya juga kecopetan mana aku taHu. Aku baru sadar tadi waktu turun dari metromini”

“Kecopetannya dimana La?” Tanya Attar.

16 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Itu katamu. Tapi pencopet itu tak peduli haram atau halalnya. Yang penting bisa makan tiap hari. Halam haram mah urusan belakangan” Attar kemudian mencoba menghibur “Sudah iklaskan. Insya Allah nanti ada gantinya. Kalau iklas pasti gantinya lebih besar. Kalau tidak iklas ya tak dapat apa-apa. Sudah uang hilang dongkol pula” “Ya. Setiap orang memang sudah memiliki bagian dari rejekinya. Namun sayang sekali, kenapa harus diubah statusnya menjadi haram padahal kalau mereka mau berusaha dan bersabar rejeki itu pasti akan datang juga……” kata Leila sedikit mengeluh “Dan Halal lagi. Begitukan?” Attar menambahkan. Leila menganguk pelan. Attar tidak melihatnya namun dia tahu bahwa perempuan itu setuju dengannya. Dalam beberapa hal Attar dan Leila memiliki pandangan yang sama. Ada memang perbedaan yang ditemukan namun secara umum visi mereka sama. Itulah salah satu alasan mengepa Attar begitu memuja Leila. Setiap perbedaan bisa Attar hadapi sebab itu merupakan rahmat bagi manusia dan tentunya juga dirinya. Namun untuk tahun. masalah calon istri ada kriteria yang harus dimiliki perempuan itu. Leila memang tak pernah bicara tentang visi hidupnya namun secara tidak langsung dari tingkah laku dan ucapannya Attar tahu dan sadar sepenuhnya bahwa Leila memiliki visi yang sama dengan dirinya. Itulah mengapa Attar begitu yakin kalau Leila adalah calon istri yang terbaik baginya. Dulu memang aku buruk tapi sekarang aku mau berubah.aku pantas buat Lala. Saat ini Leila berumur 22 tahun dan Attar sendiri berusia 24 Memang tidak boleh terlalu mengebu-gebu dalam menentukan masa depan apalagi pasangan hidup. Bisa dianggap mendahului takdir Tuhan. Tapi Attar punya alasan lain yang lagi-lagi tidak mudah untuk dibantah. Suatau hari sahabatnya, Fauzi mahasiswa jurusan tehnik sipil universitas Indonesia bertanya, “Tar, terus terang ni. Baru kali ini aku temui orang seperti kau. Menurutku agak aneh. Semua hal yang berkaitan dengan hidupmu, serba kau susun, direncanakan. Citacita, rumah, karir, jodoh bahkan sampai jumlah anak. Apa kau tak takut kalau dianggap mendahului takdir Tuhan” Attar tersenyum mendengar pertanyaan kawan baiknya itu. “Kau harusnya lebih paham daripada aku Zi”jawab Attar

17 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Lebih paham bagaimana” Fauzi menjadi bingung. “Aku mau tanya, jawab dengan logika ya” “Ah kau ada-ada saja. aku yang bertanya malah kau balik tanya” kata Fauzi sambil membuang asap rokok dari mulutnya. Badannya kurus kerempeng sama seperti Attar, mereka sama-sama perokok juga pecandu kopi. “Sabar. nanti juga kau paham” Attar mengembil sebatang rokok dan menyulutnya dengan zippo. Asap mengepul dari mulutnya. Fauzi melakukan hal yang sama. “Teruskan…..” pinta Fauzi tidak sabar. “Sebagai calon arsitek,” Attar mulai menjelaskan dengan gaya khasnya. Salah satu kemampuan Attar yang boleh dibilang langka adalah kemampuannya menjelaskan hal yang rumit dengan sebuah perumpamaan yang sederhana namun memberi efek yang bisa membuat badak sekalipun mengangguk membenarkan pendapatnya, “Apa yang pertama harus dilakukan sebelum membuat bangunan. Jembatan misalnya?” “Pertanyaan bodoh ini. Tentu saja kita buat blue printnya. Kita buat sketsanya dulu. Kita buat gambarnya dulu” jawab Fauzi dengan meyakinkan. “Kalau seandainya gambar yang dibuat itu asal-asalan” “Maksudnya?” Attar mengepulkan asap untuk kesekian kali, “Misal, umpama kau buat sebuah gambar jembatan tapi sekedarnya, tanpa rumus, tanpa perhitungan matematika. Kira-kira hasil bangunannya nanti bagaimana?” Sedikit kesal Fauzi menjawab “Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama tidak akan jadi sama sekali. Kemungkinan kedua akan jadi tapi pasti disana-sini akan ditemukan kekurangan bahkan bisa membuat celaka” jawab Fauzi dengan analisis ilmiahnya. Attar dengan penuh keyakinan kemudian berkata “Bagaimana kalau jembatan itu kita anggap sebagai masa depan kita dan sketsa atau blue print yang kita buat itu adalah cita-cita kita” Fauzi mulai memahami jalan pikiran sahabatnya itu. “Oh, aku tahu maksudmu. Semakin akurat rencana yang kita buat berarti semakin besar kemungkinan kita mewujudkan masa depan kita. Tak

18 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
lebih seperti merancang sebuah bangunan. Semakin direncanakan dengan matang akan semakin mudah untuk direalisasikan” Fauzi menarik kesimpulan. “Tepat. Kau memang pantas jadi arsitek” puji Attar. Fauzi tersenyum dengan hidung mengembang “Itu sudah sunatullah alias hukum alam. Mau cerdas, belajar. Mau kaya kudu usaha. Mau sukses jangan putus asa. Tapi yang lebih penting dari semuanya adalah sebelum berusaha kita mesti berencana. Kata A’a Gym, gagal berencana berarti berencana untuk gagal. Termasuk didalammnya cita-cita. Seperti perumpamaan yang kita buat tadi. Rencana hidup kita, harus didesign sedemikian rupa dengan seksama dan sebaikbaiknya. Semakin rencana mantap dan teratur semakin besar prosentase dalam mewujudkannya. Selebihnya baru urusan Tuhan” Attar kembali mengepulkan asap rokok dari hidungnya. “Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siainkan. Aku menyesal kenapa dulu tidak serius belajar. Kadang aku ketawa sendiri kalau ingat kelakuanku dulu. Aku berangkat dari orang yang miskin yang tak pernah bisa makan enak waktu kecil. Terus terang aku tak mau mati dalam kemiskinan juga” “Tapi kan masa depan tidak sesederhana itu Tar?” Fauzi sedikit membantah. “Aku tahu. Tapi kau juga kan tahu hidup itu selalu dihadapkan pada berbagai pilihan. Dan aku memilih untuk meyakini apa yang ada dibenak ini” Attar menuding dahinya. “Cuma ini kekayaanku. Kekayaan akan keyakinan. Dan aku cukup berbahagia dengan ini. Men kalau seandainya kita mati ditengah jalan asal jalan itu sudah benar aku tak takut kapanpun El-maut akan menjemput. Baik sebelum atau sesudah cita-cita ini terwujud. Yang penting aku terus berusaha. Hidup mati biar Tuhan dan Malaikatnya saja yang mengurus” Fauzi tersenyum mendengar kata-kata sahabat baiknya itu. Ia telah berubah jauh sekali. Dari sekian sahabatnya Attar memang orang paling mandiri. Besar dirumah orang lain tanpa kasih sayang dan kini sudah mandiri tanpa pernah mendapat bantuan dari siapapun walau dulu hidupnya sempat berantakan. Attar hidup dengan keyakinannya. Attar hidup dengan otaknya. Attar adalah orang paling merdeka bagi Fauzi. Ia tidak pernah mendapat tekanan harus jadi apa dan bagimana. Semua jalan hidupnya ia tentukan

19 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
sendiri. Ia pilih sendiri. Tidak seperti dirinya yang selalu dibayangbayangi keinginan sang ayah dan kakak-kakaknya. Tak terasa motor sudah sampai dikediaman Leila. Rumah yang cukup besar dan asri mencerminkan keasrian Leila sianak bontot dari sepuluh bersaudara. Leila turun dari motor, “Tar makasih ya sudah jemput aku. Maaf banget aku selalu merepotkan kamu” Attar tersenyum, “Ini yang terakhir aku dengar omongan seperti itu. Aku ‘kan sudah bilang kita ini sahabat baik dan apapun yang kamu minta selama aku mampu dan hal itu benar aku siap bantu kamu. oke” jangankan minta direpokan, minta diantar kesurga sekalipun aku pasti mau. Leila tersenyum simpul. Ia tahu Attar memang selalu bisa diandalkan, “Ah kamu bisa aja deh. Ee mau mampir dulu?” “Makasih. Motornya sudah ditunggu yang punya ‘kan tidak enak minjem lama-lama” Attar tertawa, “Lagian kalau Jaka kesini bisa terjadi perang Badar kedua” “Tuh kan mulai” salam. “Wa’alaikum salam” jawab Leila mengiringi deru motor yang mulai bergerak menjauh. Attar tertawa lagi, “Ya sudah aku pamit ya. Salam buat ibu ya,” Leila mengangguk, “As-salamualaikum” Attar mengucapkan

Pengecut

K
20

eputusan adalah citra seseorang. Kualitas setiap yang diputuskan seseorang adalah ukuran kedewasaannya. Jadi lazim sekali kalau kita melihat banyak yang belum dewasa memutuskan segala

sesuatu dengan terburu-buru bahkan terkesan destruktif. Tapi lin halnya dengan plin-plan. Sifat buruk ini bisa menyapa siapapun. Sudah dewasakah atau belum. Plin-plan lebih

msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
kepada kebiasaan yang terbentuk karena kondisi atau pola pikir. Lebih berbahaya lagi, kata ‘sesal’ bin penyesalan selalu akrab dengan mereka yang berjalan plin-plan seperti kura-kura pengecut. “Kalau kita tidak yakin sebaiknya jangan diteruskan” kata kakaknya yang tinggal di Bekasi “Aku kasihan sama dia kak” “Berarti kamu tidak cinta sama Jaka” kata kakaknya “Aku tidak tahu” jawan Leila sambil menggelengkan kepalanya. Kaknya menggelengkan kepala, “Loh, kamu ini bagimana. Tidak tahu kok masih dipertahankan” duduk disamping adiknya, “Masih sering kasar Jaka padamu de?” “Sedikit berkurang kak” “Dari dulu sampai sekarang kakak tidak pernah merasa cocok dengan Jaka. Tapi apa boleh buat. Kamu sekarang sudah besar. Kamu sudah bisa bertanggung jawab dengan pilihanmu” Leila diam. Ia menatap kosong kedepan “Si Attar bagaimana?” “Dia baik kak” jawab Leila sambil tersenyum. aku” “Eit jangan salah. Waktu dia mengantar kamu kesini, kakak bisa baca kalau dimatanya itu ada cinta. Melihat dari bicaranya, cara memendang kamu, ah…apalagi kalau bukan cinta” Leila menekur diri. Secercah asa dalam bathin muncul namun rasa itu terlalu sulit diyakini, “Sudah lama kita saling kenal. Dia hanya menganggap aku sahabatnya kak. Kalau memang dia punya perasaan khusus kenapa dia tidak mengungkapkannya padaku dari dulu…” “Apa pernah kamu memberinya kesempatan. Setelah putus dengan Budi kamu langsung pacaran dengan Jaka kan. Tidak semua hal perlu diungkapkan. Menerjemahkan dalam bentuk perhatian dan penghormatan malah lebih penting. Kalau hal itu kamu dapatkan dari dia, itu tak usah diragukan lagi. Itulah bahasa cintanya Attar” kata kakaknya sambil membereskan piring sehabis makan malam. Leila termenung. Kedua tangannya menopang dagu, “Tapi tetap saja aku membutuhkan kata-kata itu keluar dari mulut Attar “Kalu boleh memilih, kakak lebih setuju kamu pacaran sama Attar. Dia itu sopan, semangat lagi” Leila tertawa renyah, “Ah kakak,….mana mau dia dengan

21 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
kak. Kalau hanya diam ia tidak lebih dari seorang lelaki pengecut yang plin-plan seperti kura-kura. Aku tidak suka laki-laki pengecut” Kakaknya tertawa. “Jadi benarkan perkiraan kakak. Kamu sebenarnya menyimpan rasa juga sama Attar. Kanapa tidak kamu saja yang duluan ngomong” “Ah kakak ini…” “Bukan suatu dosa kan. Apa salahnya…” “Aku tidak yakin kak…” “Jadi sebenarnya siapa yang kura-kura plin-plan itu? kamu apa Attar? Kamu selalu tidak yakin. Ambil jurusan pendidikan tidak yakin, berhubungan dengan Jaka juga tidak yakin…..ini tidak yakin……itu juga tidak yakin….hanya satu yang kamu yakini, Attar itu orang baik. Iya kan? ” Leila senyum kemudian meninggalkan kakaknya yang masih membersihkan meja makan. Sebenarnya ia punya niat menyudahi hubungan dengan Jaka kalau Attar mau jujur padanya. Setidaknya ia akan mendapat perlindungan dan rasa aman itu darinya. Namun Attar tak pernah mengungkapkan perasaannya. Benarkah Attar menyukainya. Ia menerawang setiap seluet yang pernah dia lewati. Perhatian, ia mendapatkannya dari Attar. JAKARTA tak pernah sepi. Malam tak pernah membuat deru mesin-mesin beristirahat sepenuhnya. Jakarta tetap bergeliat tak kenal waktu. Ada yang pernah bilang “Jakarta keras dan untuk hidup kita harus keras”.Attar adalah salah satu dari mereka yang Rasa hormat, Attar selalu memberikannya. Berarti Attar

mencintainya. Ah Leila bimbang. Bagaimana kalau perasaan itu salah. Attar hanya mengaggap dirinya sebagai sahabat. Pasti harga dirinya akan turun, ia pasti malu. Pasti Attar tak menghormatinya lagi Lalu Jaka Satria? Lelaki itu kini sudah sukses. Kalau dilihat dari segi materi jelas Jaka lebih menjanjikan. Ia sudah mapan dan punya rumah. Sementara Attar? Masih kost dan kuliah…tapi……. Leila bimbang. Ia merebahkan diri. Pikirannya menerawang. Jam sebelas malam matanya belum juga terpejam. Malam tidak cerah. Rembulan sembunyi dibalik awan. Tiba-tiba ia ingat Attar. Sedang apa dia? Beranjak dan meraih handphonenya. Tiba-tiba keraguan datang. Kalau Attar sudah tidur nanti ia merasa terganggu. Leila mengurungkan niatnya.

22 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
melawan kekerasan Ibu kota. Attar merambah belantara kota besar demi sebuah mimpi, demi sebuah harapan hidup yang lebih baik. Walau sempat ia terjerumus tipu muslihat Jakarta kini ia mulai bangkit lagi. Pengalaman membuat kaya hidup seseorang. Namun yang disebut pengalaman yang sesungguhnya bukan sejumlah peristiwa yang dialami seseorang melainkan respon apa yang dilakukan seseorang terhadap peristiwa yang menimpanya. Semakin responnya baik dan berkualitas semakin kaya orang itu akan pengalaman berharga. Dengan kata lain, pengalaman menjadi guru terbaik bagi setiap orang. Seiring perjalanannya ia semakin mengerti akan arti hidup dan tugasnya. Pada akhirnya Attar sendiri menyadari bahwa bukan ia yang bertanya pada kehidupan namun ia sendiri yang ditanya oleh kehidupan, apa yang bisa ia berikan pada kehidupan. Takdir yang didalamnya termasuk kematian memang menjadi hak mutlak Tuhan. Namun sebagai mahluk yang dibekali rasa cipta dan karsa bukan berarti harus berpangku duduk menunggu ketetapan takdir. Manusia memiliki kemampuan untuk merubah hidupnya dan menentukan masa depannya. Itu terbukti dengan berbagai pilihan yang selalu hadir dalam sela-sela kehidupan seseorang. Ia bisa memilih untuk bekerja dengan giat dan jujur, ia bisa memilih untuk pergi sekolah dan belajar dengan rajin bahkan ia bisa memilih untuk tidur terus tanpa harus bekerja atau duduk diam memanjakan diri didepan televisi tanpa harus pergi kesekolah dan belajar. Semuanya adalah pilihan yang berarti menentukan masa depan seseorang. Hanya orang yang dewasa dan beranilah yang pada akhirnya akan memilih jalan hidup yang terbaik bagi dirinya. Kenapa harus berani? sebab pilihan terbaik untuk masa depan lebih sering tidak disukai oleh manusia karena jalannya yang tidak selalu mulus dan lurus, penuh tantangan, penuh bara dan penuh godaan. Itu membutuhkan keberanian. Demikian Attar memahami dirinya. Attar Berangkat dari sebuah dusun rimbun yang digelangi rantai kemiskinan yang dikamuflase dengan kenyamanan dan kedamaian. Dalam lubuk hatinya membara cita-cita agung untuk memperbaiki hidupnya. Jikapun dalam pikiran selalu ia dibayangi akan kematiannya nanti, dimana pada saat ajal menjemput jiwanya, ia belum meraih kesuksesannya sebagai anak manusia, ia berharap tetap bisa tersenyum dalam kepuasaan sebab Attar begitu meyakini bahwa Allah tidak pernah melihat hasil dari setiap pekerjaanya.

23 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Allah hanya melihat bagaimana Attar menjalani proses dirinya, menilai orang, membakar semangat, menumpahkan rasa bahkan menciptakan dunianya sendiri. Attar sedang menulis novelnya. Novel ini merupakan mimpi Attar sendiri akan cintanya, Nindia Sitta Leila . Dalam sebuah paragraph ia menulis, “Leila, jika langit ini harus terbalik aku tidak akan peduli. Andai bumi terbelah aku juga tak akan perduli sebab yang aku perdulikan hanya cintamu, sebab yang aku harap adalah memelukmu dengan cinta yang anggun dan suci. Sampai kapankah aku bisa bertahan disisimu dan kuat menahan diri sementara engkau tidak dapat aku raih dan kumiliki. Aku hanya berharap suatu saat engkau dapat menyadari bahwa ada lelaki yang baik dan pantas untuk menjadi pendampingmu yang selama ini menjagamu dengan utuh dan setia akan cintanya, aku Leila, aku. Cukuplah kiranya perhatian dan penghormatanku sebagai bukti otentik dari perasaannku. Namun sampai kapan aku bisa bertahan? Semakin lama, aku semakin gelisah, aku semakin mencintaimu. Aku tahu bahwa engkau sesungguhnya tahu aku menyayangimu melebihi segalanya. Aku mengharap keberanianmu la, keberanian untuk meninggalkan dia yang sering menyulitkan hidupmu dan datang padaku dengan iklas

kehidupannya. Selama dirinya berangkat dari niat yang benar dan melangkah dijalur yang lurus, Attar tak takut bila subuh nanti datang ia harus dijembut maut untuk menemui Allah penguasa jiwanya. JAM sebelas malam. Attar belum memejamkan mata. Malam minggu Jakarta memang selalu lebih ramai. Suara motor, obrolan, tertawaan dan musik yang dimainkan anak-anak yang nongkrong dipinggir jalan. Kadang Attar menyeret bangkunya dan duduk didepan kamar menatap jalan yang sedikit gelap. Malam minggu malah ia bisa sampai larut malam duduk didepan komputernya. Jam tiga, jam empat bahkan sampai terdengar adzan subuh. Banyak yang ia lakukan mulai nonton film, bikin puisi, mengedit film documenter kegiatannya dan tentu saja menulis cerpen atau novel. Salah satu impian Attar adalah menjadi penulis terkenal. Ia ingin terkenal dijagat penulis atau sastrawan bahkan kalau bisa ia ingin sekelas dengan siBurung Merak, Taufik Ismail, Emha, Habiburahman, Dee, Ernes Hamingway, Luigi Pirandillo, Naijb khailani, Dan Brown atau JK Rowling. Penulis bagi Attar adalah seorang yang benar-benar merdeka dan bebas. Bisa mengekpresikan

24 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
untuk mengabdikan cita dan cinta yang lebih baik” Setelah menulis kata-kata itu Attar menatap bulan yang redup dari balik kaca jendela kamarnya yang terletak disamping kanan meja komputernya. Ia bangkit dan membuka jendela kamar. Dari balik jendela kamar ini ia menatap bulan yang mulai tertutup asap. Tidak ada bintang malam ini, juga tak ada hujan turun walau malam terasa kelam dan pekat. Yang terdengar hanya suara deru motor dijalan besar, suara nyanyian anak-anak yang nongkrong dipinggir jalan dengan gurisan gitar yang tak mulus melagukan harapan dan kebencian. “Tuhan sampai kapan aku harus bersabar dan menanti” katanya kemudian, “Seandainya saja ia tidak ada yang memiliki. Ah lagi-lagi seandainya, jikalau, mungkinkah” Attar meletakkan dagunya diatas pangkal kedua telapak tangannya, “sungguh sampai sekarang aku yakin akan memilikinya namun sampai kapan aku harus yakin dengan ini. Ini terlalu menyakitkan. Leila tahu perasaanku padanya dan sejujurnya aku juga merasa bahwa Leila menyukaiku bahkan mungkin mencintaiku tapi kenapa ia masih bertahan dengan pacarnya itu. Benarkan perempuan lebih mengutamakan perasaannya dari pada logikanya. Bukankah untuk sebuah kehidupan atau pernikahan logika juga dibutuhkan. Logika tidak boleh dijadikan pijakan sepenuhnya dalam bertindak, aku tahu itu Tuhan tapi aku juga yakin perasaan tidak boleh dijadikan pijakan tunggal dalam meretas jalan hidup, keduanya harus seimbang agar meraih kebahagiaan yang sebenarnya. Kalau cinta itu menyiksa perasaan kenapa tidak dihentikan saja, bukankah hanya cinta sejati yang bisa menjadi perantara ketenangan. Leila, kamu sering mengatakan kalau kamu tidak merasakan kebahagiaan bersamanya, kamu juga sering bicara bahwa kamu tidak pernah merasa mendapat kepercayaan darinya dan kamu juga bilang kalau kamu tidak pernah menemukan orang yang begitu baik dan bisa kamu percaya selain aku lalu kenapa tidak kau putuskan dia dan datang padaku. Ada apa Leila ? apa aku tidak cukup pantas untukmu?” Attar membuka pintu dan beranjak keluar. Ia merasakan suasana yang mulai sepi dan dingin. Tidak ada lagi yang bermain gitar hanya tinggal suara kendaraan dari jauh. Tak lama ia masuk lagi kedalam kamar dan mengunci pintu, menutup jendela dan menggeser gordeng. Ia kemudian melemparkan tubuhnya keatas

25 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
kasur. Jam sudah menunjukan pukul 2 malam. Keheningan malampun semakin sunyi. Attar bangkit lagi dan mengambil gelas untuk menyeduh kopi. Kopi dan rokok sering menjadi teman setianya saat ia harus larut dalam harapan dan mimpi-mimpinya. Attar menyeruput kopi yang masih panas dan kembali duduk didepan komputernya. Kemudian ia menulis, “Lewat jendela kamarku kukirim doa untuk menyertaimu tidur, lewat jendela kamarku kukirim rasa ini padamu, lewat jendela kamarku kukirim salam dan bisikan bahwa aku ingin menikahimu dan menjadikanmu sebagai orang yang pantas melahirkan anak-anakku” Sementara hari terus berlanjut. Attar terus menapaki kisah hidupnya. Kuliahnya tidak ada hambatan sama sekali, usahanya lancar hanya saja situasi tempat kerjanya yang semakin tidak kondusif. Dari penelusuran Attar, ia menemukan banyaknya penyelewengan dana. Itu bukan hanya dilakukan oleh orang-orang yayasan juga tapi dilakukan oleh kepala sekolahnya juga termasuk bendahara kepercayaan kepala sekolah tersebut. Attar semakin terusik. Ia harus bertindak. Ah bagaimana dengan kuliahnya nanti. Ia kembali mencoba berpikir ulang. Kalau ia melakukan ulah dan dikeluarkan dari tempat kerja kemungkinan ia akan berhenti kuliah. Itu berarti untuk kedua kalinya ia gagal kuliah. Manusiakan harus menimbang-nimbang mana yang baik dan mana yang tidak. Mana prioritas utama mana yang second chances. Untuk saat ini sebaiknya aku diam saja. Bukan berkompromi tapi menunggu waktu yang tepat kata hati Attar mencoba menguatkan pendapatnya sendiri.

Kemelut kembar

S
26

UASANA

tempat

Attar

kerja

semakin

panas.

Permasalahan demi permasalahan muncul dan meletup. Dua guru mengundurkan diri dan satu dikeluarkan karena tidak kooperatif dan produktif menurut kepala

sekolah dan yayasan. Tahun ajaran baru didepan mata. RAPBS telah dirancang oleh kepala sekolah dan kini sudah siap. Jadwal mengajar guru sudah rampung. Kini ia bisa berangkat ke Padang untuk liburan

msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
bersama keluarganya. Ia tenang menurutnya pekerjaannya sudah selesai. Ia berhak untuk libur walau sebenarnya banyak hal yang membutuhkannya sebagai pimpinan. Ia tidak menyadarinya dan tidak ada yang berani mengingatkannya. “Buat apa mengingatkan orang yang tidak pernah merasa salah” begitu kata pak Surahman. Selama libur permasalahan terus bertubi-tubi datang dan menampar wajah bopeng pendidikan sekolah Islam ini. Guru-guru yang dijadikan tameng babak belur mempertahankan citra sekolah walaupun mereka hampir mati kehausan. Saat kepala sekolah kembali dari liburnya ia kaget. Sebab semua rencana dan prediksinya hancur berantakan. Jauh api dari panggang. Jumlah murid yang masuk menyusut terjun bebas hingga lima puluh persen. Permasalahan yang tak pernah terlihat sekarang mulai muncul kepermukaan menunggu penyelesaian. Kursi kepemimpinannya terancam. Ia harus segera melakukan sesuatu demi mengamankan posisinya supaya tidak jadi bulan-bulanan beberapa pengurus yayasan yang tidak bisa ia sentuh. Secara umum ini memang bukan salahnya saja walau banyak orang yang menyalahkan gaya kepemimpinannya. Sejak sekolah negeri untuk tingkat menengah pertama di Jakarta digratiskan, siswa-siswa lulusan SD berlomba masuk negeri. Mereka yang nilainya bagus dan berarti pintar, diterima dinegeri. Anak-anak yang bodoh dan tidak memenuhi syarat harus tersingkir. Mereka masuk sekolah swasta. Kalau mau sekolah bagus ya sekolah swasta yang mahal. Kalau tidak punya uang ya sekolah di swasta yang ecek-ecek. Bisa disimpulkan bahwa sekolah swasta standar hanyalah sebuah kandang untuk menampung murid-murid yang otaknya kurang cerdas kalau enggan mengatakan bodoh bin goblok bin tolol. Jadi wajarlah kalau swasta standar tidak bisa bersaing dengan negeri. Kalaupun ada swasta yang bisa bersaing dengan sekolah negeri, pasti biayanya selangit. Itu berarti hanya orang kaya yang mampu sekolah disana. Jadi pendidikan itu mahal, kata Attar. Bila Attar memikirkan kondisi pendidikan ini ia semakin pusing. Kok bisa jadi begini. Indonesia, Indonesia, katanya tak berdaya. Jadi semrawut. Kalau aku jadi menteri, eh jangan President sekalian, akan aku gratsikan seluruh sekolah. Ku sejahteraan guru, ku bangun gedung sekolah beserta fasilitasnya.

27 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Murid yang sedikit dan segala permasalahan yang muncul menjadi amunisi untuk orang-orang yang tidak menyukai kepemimpinan kepala sekolah tersebut. Ada yang menjadikannya pembicaraan yang hangat dan menarik ada juga yang semakin bersemangat mengatur strategi untuk menurunkan dari sisi kepemimpinannya. Attar sendiri berpendapat bahwa memang kepemimpinan, kepala sekolah yang sekarang kurang mampu. Ia terlalu arogan dan emosianal. Ada yang lebih mampu dari dia tapi sayang pengurus yayasan yang kolot dan korup tidak menyukai orang yang lebih tepat itu. Attar menganggap bahwa Kepala sekolah memang harus diganti. Untuk melakukan ini Attar memiliki data yang banyak tentang penyelewengan dana yang digunakan, itu bisa dijadikannya sebagai senjata. Ah nanti bagaimana dengan pekerjaanku? Bagaimana dengan kuliahku? Ia diserang bimbang untuk kesekian ribu kalinya. Ia masih takut, ia takut. Masalahnya bukan saja kepala sekolah nanti yang dia serang. Data yang ia miliki bisa menyentuh korupsi yang terjadi ditingkat yang lebih atas, seperti pengurusmau Attar melangkahkan kakinya yang sedikit berat. Hari ini ia merasakan kelelahan luar biasa dan suhu badannya sedikit demam. Kelelahan sudah jadi bagian hidupnya namun ia seolah tidak perduli walau setiap saat kesehatannya terancam. Sampai didepan gerbang kakinya sedikit sulit digerakan namun ia tetap memaksakan kakinya agar melangkah. Pak Tono menyambut Attar dipintu gerbang, “Malam mas” Attar menjawab sapaan lelaki tua itu sambil tersenyum, “Tadi ada non Pertiwi kemari nyari mas Attar” “Oh ya, ada pesen buat saya” “Ndak ada mas tapi dia masuk kamar sebentar tadi, katanya memberikan sesuatu buat mas” Tono menerangkan. “Sebenarnya saya sudah minta agar menitipkannya kesaya saja tapi katanya penting sekali jadi non Pertiwi tidak mau menitipkannya sama saya. Karena non Pertiwi memaksa saya terpaksa memberikan kunci kamar sampean mas” pengurus yayasan. Akhirnya ia urungkan niatnya untuk melakukan manuper.

28 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Ya sudah gak apa-apa kok” kata Attar menenangkan lelaki tua yang merasa tidak enak pada Attar karena melalaikan tugasnya, “Mari Pak Tono, saya mau istirahat dulu” Attar pamit melangkah menuju kamarnya. Attar melangkahkan kakinya. Menaiki tangga. Ditangga terakhir ia belok kekanan. Aku tak boleh sakit. Gumamnya dalam hati saat merasakan demam ditubuhnya tiba-tiba meningkat. Melewati kamar Lidia ia mendengar seseorang yang sedang mengobrol dengan Lidia. Obrolannya terdengar serius. Attar merogoh kunci disaku celananya dan membuka pintu kamar. Kamar terbuka. Attar melihat ada sebuah kotak dengan sebuah surat diatas kasurnya. Ia menutup pintu dan menguncinya. Setelah melepas sepatu ia membaringkan tubuhnya yang sudah diserang demam. Attar melihat sebuah bingkisan diatas kasurnya beserta sebuah surat yang ditindih bingkisan tersebut. dengan enggan ia menarik surat tersebut dan mulai membacanya sambil tiduran, “Saat kakak membaca surat ini aku sudah tidak di Indonesia. Pagi ini aku mendapat pengumuman di Jepang bersama mbak Rina. Sebelum pergi aku ingin mengatakan sesuatu yang tak bisa aku katakan

langsung, sebuah perasaan yang mulai menggangguku setahun terakhir ini. Aku tak tahu mengatakannya bagimana kak. Aku mengagumimu, menghormatimu

bahkan, aku mencintaimu, sungguh” Attar berhenti membaca. Wajah Pertiwi seketika berkelebat dibenaknya. Sikapnya dan kelakuannya akhir-akhir ini memang membuat Attar merasa aneh. Attar meneruskan membaca, “Maafkan aku kalau kakak menganggap ini kurang sopan. Aku tidak mengharapkan balasan sebab aku tahu kakak telah mencintai orang lain, itu karenanya aku pergi. Aku mohon maaf, mohon maaf sekali kak. Aku Pergi jauh untuk memendam rasa ini. Kesalahan terbesar bila kepada seandainya kakak aku tak kakak

mengatakan

perasaanku

sebab

kelulusan dan sudah kuputuskan untuk meneruskan kuliah

sendiri yang mengajari aku agar selalu jujur dalam segala hal, cukuplah kakak tahu bagaimana perasaanku

29 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
selama ini. Semoga kakak dapat menggapai cinta kakak. Aku pamit, mencari kelopak bunga cinta yang sejati” Attar meletakkan surat tersebut tanpa ekspresi apa-apa. Perempuan yang dekat dengannya kini pergi jauh. Ia kecewa karena perasaannya tidak direspon Attar. Hati Attar memang tak bisa luluh oleh siapapun. Hanya untuk Leila hatinya terbuka. Padahal apa yang kurang dari Pertiwi? Wajahnya cantik. Baiknya minta ampun. Perhatian dan penuh kelembutan. Usia mereka hanya terpaut lima tahun. Disekolah Pertiwi selalu menjadi incaran laki-laki. Tapi mereka tidak membuatnya tertarik. Hanya Attar yang dicintainya. Namun rupanya cintanya tak disambut Attar. Segala perhatian dan kelembutan yang diberikannnya oleh Attar dianggap biasa saja. Seperti perhatian adik terhadap kakaknya. Attar sebenarnya tahu bagimana perasaan Pertiwi sesungguhnya, namun ia tak bisa pindah kelain hati. Hanya Leila, cuma Leila. Attar tiba-tiba merasakan kekosongan bathin. Perasaan yang aneh yang sering dirasakannya saat ia sendiri atau ditinggal pergi seseorang. Kenyataan bahwa hidupnya tidak pernah mendapat curahan kasih yang tak sempurna. Ayahnya meninggal saat ia duduk dikelas tiga dan karena harapannya yang meng-api ditengah kegilaan kemiskinan ia terpaksa harus menjauh dari belaian ibunya. Praktis, ia besar bersama kekosongan, kesendirian dan kerasnya mimpi ditengah ketidakpastian. Renyahnya senyum Pertiwi terbayang seketika. Rajukannya dan tertawanya yang diselingi manja seorang adik. Attar memang pernah merasakan ada perubahan pada Pertiwi namun sama sekali ia tidak menyangka kalau ternyata Pertiwi mencintainya. Ia terlalu bodoh untuk menyadari hal itu. dipikirannya tidak ada kemungkinan lai selain Leila. Ia mematikan harapan yang lain, just Leila, only Leila. Setiap ada orang yang mengadu padanya akan kasih sayang dan keindahan serta kenyamanan, Attar akan merubah dirinya menjadi malaikat. Ia akan memberikan curahan air kesejukan kepada mereka yang kekeringan, ia akan memberikan lampu penerang kepada mereka yang merasa kegelapan, sebab ia tahu sakitnya sendiri, sakitnya kesepian. Seperti apa yang dilakukannya terhadap Pertiwi adik angkatnya. Namun dibalik ketegarannya, dibalik keteguhannya dan dibalik ketegasannya yang kuat dan berkarakter itu ternyata tersimpan sesuatu yang besar dan rapuh. Ia

30 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
memiliki keyakinan namun ia kesepian karena tak bisa berbagi beban dengan seseorang yang diharapkan berada pada posisi yang diinginkannya. Hatinya sering tiba-tiba merasa kosong, kesepian kadang menjalar kesekujur tubuhnya, meresap melalui titik-titik nadi darahnya, perlahan dan perlahan yang akhirnya melemparkan jiwanya keruang kosong yang sama sekali tidak dipahami dan dikenalnya. Kesepian yang akut. Ia merasa bahwa hidupnya hanya sendiri, sendiri mengecapi pemahaman alam pikirannya yang semakin terbang terbentuk tanpa penjagaan yang ketat. Ia sering merasa bahwa dirinya tidak pernah menemukan tempat yang aman untuk melabuhkan kesepiannya, kesulitannya dan kegundahannya sebab tak mungkin baginya untuk mengeluh segala yang dirasakannya dihadapan orang-orang yang mencintai, menghormati dan memerlukannya sebagai penolong, penasehat, penjaga dan sebagai sahabat. Benarkah cinta adalah hal tunggal yang menciptakan kebahagiaan. Benarkah hanya cinta yang mampu merajut mimpi dan kekekalan dalam berumah tangga. Tiba-tiba kata-kata itu menggelayut dibenak Attar. Begitulah, saat kesepian akut menyerangnya, pikirannya bak monyet hutan yang bergelantung dibelantara. Terus berpindah, berpindah dan bertanya dari satu sudut kesudut lainnya, dari satu pandangan kedahan lainnya. Kalau cinta adalah hal tunggal yang bisa membuat kekalnya pernikahan mengapa banyak yang cerai karena setelah menjalani rumah tangga yang pada awalnya dibangun atas nama cinta. Ah sudahlah. Lagi pula tidak ada yang tahu apakah cinta yang melatari pernikahan yang pada akhirnya ditimpa perceraian. Lagi pula takdir hanya Tuhan yang tahu. Ah lagi-lagi takdir. Pikiran Attar semakin melambung meracau tak menentu. Menerima surat perpisahan yang tiba-tiba dari adik angkat terkasihnya dan tentu yang mencintainya, demam yang semakin tinggi dan kesepian akut yang menjalar, membuat Pikirannya tidak karuan kemana-mana. Attar begitu yakin bahwa semua hal yang menimpa manusia bukan hanya akibat takdir Tuhan namun ada juga bagian dari sebab akibat tindakan amnesia itu sendiri. Bila manusia, sampai menentukan pilihan dan berapa jumlah langkahnya menuju ke tempat kerja sudah ditentukan Allah secara detil maka manusia tidak lebih sekedar komputer yang diprogram. Lalu apa gunanya akal.

31 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Apa gunanya jiwa dan apa gunanya usaha bila takdir Tuhan sampai menyentuh penentuan sedetil itu. Attar percaya bahwa manusia punya kuasa akan jalan hidupnya sebab setiap saat manusia dihadapkan pada sejumlah pilihan mengenai tindakan dan keputusannya dalam menjalankan kehidupan diplanet ini. Sudah jelas baginya bahwa bila ingin cerdas ia harus belajar, ingin kaya ia harus berusaha dan bila ingin masuk surga haruslah bertakwa namun lagi-lagi itu semua tergantung kepada jumlah kekuatan yang dimiliki, jumlah derajat keinginan yang dimiliki, mau atau tidak melakukan hal itu. Itu tergantung. Tergantung pada kemauan, persepsi, sudut pandang, keyakinan dan tentunya kesempatan. Attar menarik selimut menutupi tubuhnya. Demam yang dirasakannya kian menjalar berlomba bersama kekosongan hatinya yang menyeruak dan merasuki setiap detak jantung dan nadinya. Attar terkapar tak berdaya, tubuhnya terasa sakit untuk digerakan dan demamnya makin menggila. Ia memaksa untuk memejamkan matanya yang masih liar. Akhirnya dalam hitungan menit matanya yang liar itupun tertutup membuka gerbang kealam mimpi mengentar kelelahan dan ketakutannya. “Menurut kamu Azam itu bagaimana Sop?” Tanya Leila disela-sela kegiatan mereka yang sedang merapikan berkas dan menyiapkan administrasi untuk sebuah event akbar yang akan digelar dua minggu lagi. Sopia berhenti sejenak, menatap Leila, “Ah jangan curiga begitu, kakak pengen tahu saja” SOPIA DAN LEILA tengah menyiapkan perangkat kegiatan. Sakit adalah momok bagi Attar. Walaupun demikian saat Attar sehat cenderung ia berprilaku kurang sehat. Tidur malam kadang dini hari sudah menjadi biasa, menikmati rokok yang berarti menghisap racun ditambah kopi kental yang mengandung kafein, dan makan yang tidak teratur. Semua itu membuat kondisi tubuhnya semakin rentan akan gangguan kesehatan. Anehnya dalam hidup Attar, justru yang paling ditakutinya adalah sakit. Sakit secara fisik mungkin tidak terlalu masalah buatnya namun dikala sakit tanpa orang yang perduli dan menjaganya itu adalah hal yang menjadi hantu dalam hidupnya.

32 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Eem gimana ya?” Sopia meneruskan pekerjaannya, “Pia udah kenal lama sama Azam dari sejak kita SMP. Tak ada yang istimewa dari dia selain kekonyolannya yang kadang kelewatan” Leila tertawa mendengar kata-kata Sopia, “Kok kak Lala malah ketawa sih” “Kakak denger, dulu kalian pernah pacaran ya?” Tanya Lala. Ia melihat perubahan pada raut wajah Sopia namun ia berusaha tak memerdulikannya. “Kakak tahu dari siapa?” belum sempat Lala menjawab Sopia memotong, “Kak Attar ya?” Lala menggelengkan kepalanya, “Terus dari siapa?” “Kok jadi serius banget sih Sop?” Lala bangkit menyimpan berkas pada filing kabinet, “Mau dijawab sukur, tidak juga tak apaapa” ia duduk dan kembali berkutat dengan data-data, “Sama kakak tercatat jumlah peserta yang terdaftar sudah 800 anak atau sekitar 80 regu. Itu berarti pemasukan pendaftaran sekitar 8 juta sama dengan data kamu?” Sopia mengangguk, “Pas, pemasukan peserta tercatat ada 8 juta, dana dari sponsorship 12 juta sebanyak 5 sponsor utama dan kecil jadi jumlah total pemasukan sudah 20 juta” Sopia menyodorkan selembar kertas coret-coretan kedepan Leila, “Eh kak Pia serius ni, dari siapa kakak tahu?” Leila mengambil kertas yang disodorkan Sopia dan memeriksanya, “Emangnya penting banget kamu?” “Enggak, pengen tahu aja” “Pengen tahu aja? hampir semua teman-teman tahu kamu mantan Azam!” kata Leila “Iya kak!” kata Sopia kaget. Rona mukanya berubah seperti biasa, sedikit konyol. Sopia sudah mahasiswa tingkat III namun ia sering bersikap seperti anak-anak terutama bila menghadapi sesuatu yang membuatnya terancam, atau seolah terancam, atau pura-pura terancam dan tentu saja tidak aman bahkan memalukan menurut pendapatnya bukan menurut orang lain. Leila menatap wajah Sopia yang berubah, “Loh kok jadi serius banget. Emangnya kenapa?” “Waduh bisa turun deh pasaran Sopi” gadis itu berseloroh. “Ah kamu ini ada-ada saja” Leila memberikan kertas itu kembali, “Untuk pengeluaran sejauh ini sudah berapa?”

33 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Sebentar” Sopia memeriksa data, “Sepuluh juta lebih” “Jadi saldo yang ada sekarang sekitar 9 juta lebih” Sopia mengangguk, “Kira-kira masih ada pos pendanaan yang belum dikeluarin belum?” “Kalau dari data yang dikasih kak Attar kayanya sudah semua deh kak” jawab Sopia setelah melihat bagan pengeluaran yang semuanya ditandai ceklis, “Kak…?” “Apa?” Leila tak melihat wajah Sopi. Ia sibuk memeriksa baris-baris data pada lembar kertas yang dibuatnya. “Pia mau Tanya sesuatu tapi ini sedikit pribadi, boleh?” Sopia menunggu jawaban dengan sangat. Ia hendak menanyakan sesuatu yang selama ini membuatnya selalu bertanya. Tak ada yang lebih baik dalam menjaga sesuatu ataupun sebuah rahasia dibanding Attar dan tentu saja perempuan yang kini bersama Sopia. Leila menghentikan pekerjaannya dan menatap Sopia. Ia menarik napas seolah tahu apa yang akan ditanyakan gadis yang sudut hidungnya sedang ditumbuhi jerawat itu. Leila sesaat menatap Sopia lalu meneruskan mengoreksi data kembali sambil berkata “Tanya apaan?” “Dimata kak Lala, Kak Attar itu bagaimana sih kak?” Sopia bertanya sedikit ragu. Dari data manual, Leila beralih kedata yang tertera diLaptopnya. Ia memeriksa dan membandingkan data manual dan data yang ada dilayar laptop. Mouse kecil yang menyala bergantian antara merah, biru dan hijau terus bergerak dalam genggaman tangan kanan Nindia Sitta Leila. Tanpa disengaja mouse menyenggol gelas. Prak …gelas terjatuh pada lantai yang dialasi permadani hijau tebal. Gelas tidak pecah tapi airnya tumpah “Aduh…..!”. Sopia yang lebih dekat dengan gelas jatuh itu segera memungutnya, “Untung Tidak pecah” katanya sambil mengamati gelas tersebut, “Inikan gelasnya kak Attar?” “Iya, tadi habis rapat kakak belum sempat membereskannya” kata Leila sambil mengambil gelas tersebut dan mencucinya di westaple. Setelah bersih ia meletakkan gelas tersebut dilemari. “Kamu jadi nginep?” Tanya Leila. Ia mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan yang diinginkan Sopia. Sopia menyadari sepertinya Leila berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan. Pada guratan wajah Leila, Sopia

34 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
melihat ada sesuatu yang disembunyikan. Seperti sesuatu yang besar. Suatu rahasia.

ATTAR mengibaskan selimut yang menutup tubuhnya. Demam menjalar terus ditubuhnya. Ia mencoba berdiri namun tubuhnya tak seimbang dan akhirnya ia terhuyung jatuh. Saat terjatuh ia mencoba meraih sesuatu namun yang diraihnya ternyata sebuah foto yang tergantung didinding. Tidak kuat, foto itu terjatuh, praaang. Kaca yang melapisi bingkai foto Leila hancur. Attar menatap foto itu. Ia duduk kembali diatas tempat tidur sambil menatap pecahan kaca yang berserak didekat kakinya. Perlahan ia menarik foto Leila yang ditindih pecahanpecahan kaca. Pecahan kaca itu terlalu tajam hingga saat Attar menariknya, walau secara perlahan-lahan, foto itu tergores juga. wajah Leila terluka. Untung hanya fotonya, pikir Attar Ia berusaha berdiri lagi. Kepalanya terasa semakin pusing. Ia tidak kuat lagi untuk duduk sekalipun, kemudian ia merasakan pandangannya gelap. Ia tidak dapat melihat apapun dan akhirnya ia tidak sadarkan diri.

Terenggut dari kesucian bumi

S
niatnya. 35

EHABIS makan malam, Jaka Satria, yang baru saja diangkat sebagai Manajer Operasional disebuah perusahaan swasta tengah mengutarakan keinginannya untuk menikahi perempuan yang telah lama dicintainya. kamu sudah mantap untuk melangsungkan

“Kalau

pernikahan ibu setuju saja” kata ibunya setelah Jaka mengutarakan “Pekerjaan yang mapan dan sudah memiliki rumah!. Usia kamu juga sudah mencukupi untuk melangsungkan pernikahan”

msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
kata Pak Jamal namun nada bicara jauh berbeda dengan Atikah, istrinya, seperti menyindir “Tapi apa kamu sudah membicarakan hal ini dengan Leila. Dia itukan masih kuliah” Jaka menarik napas panjang sambil tersenyum menandakan rasa optimisnya, “Saya sudah membicarakan hal ini dengan Leila. Dia akan memberikan jawabannya esok sore. Tapi saya yakin dia akan menyetujuinya. Leila mencintai saya pak demikian juga saya” “Apa kita datang saja langsung kerumahnya dan melamar Leila Pak?” ibunya memberikan usul “Jangan dulu bu. Tunggu saja dulu sampai saya mendapatkan jawaban yang pasti dari Leila. Ibu sabar ya” ibunya terlalu bersemangat. “Kamu ini Ka. Takut ditolak lamaranmu? Kamu kan sudah lama pacaran sama dia masa dia menolak lamaran kamu. Lagian mana ada anak gadis yang menolak lamaran pemuda seperti kamu. Pemuda yang masa depannya sudah jelas dan hidupnya sudah terjamin” ibunya membanggakan anaknya itu. Malam itu setelah mengutarakan keinginannya Jaka pamit kepada ibu dan bapaknya untuk pulang. Jaka sudah membeli rumah sendiri disebuah perumahan daerah Depok. Kini ia tinggal sendiri disana. Jamal mengantarkan anaknya hingga kepintu gerbang rumahnya. “Pak izinkanlah saya memperbaiki rumah Bapak ini….” kata Jaka sebelum dia pergi. Berulang kali ia mengutarakan keinginannya itu namun berkali-kali juga Pak Jamal menolak. Ayahnya terlihat tidak terlalu senang dengan kata-kata ibunya yang berkesan terlalu menyombongkan diri. Jaka Satria menyadari gelagat ayahnya itu. Pak Jamal dengan Istrinya, Atikah, memang memiliki pandangan berbeda. Ibunya sombong dengan kesuksesan anak itu. Menurutnya, ia telah berhasil mendidik anak itu hingga menjadi orang sukses seperti saat ini, dalam usia yang relatif masih muda lagi. Sementara pak Jamal yang tahu persis bagaimana sepak terjang anaknya tidak demikian. Pak Jamal lebih bisa menilai anaknya secara objektif dibanding dengan istrinya itu.

36 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Pak Jamal tersenyum, “Seperti yang sudah Bapak katakan. Biarlah rumah ini seperti adanya. Dirumah yang kamu anggap tidak layak ini Bapak merasa lebih tenang karena rumah ini dibangun dari uang yang halal hasil jerih payah Bapak” Mendengar jawaban bapaknya seperti itu Jaka kurang senang. Ia tersinggung. Ia memandang Bapaknya dengan tatapan tidak suka. Bapaknya balas menatap anaknya itu dengan tenang dan tersenyum. Entah kenapa Jaka tak pernah bisa melawan tatapan orang tua itu. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ketempat lain. Ia bergegas menuju mobilnya kemudian mobil itu melaju. Pak Jamal masih berdiri didepan rumahnya melihat kepergian anaknya yang kata ibunya sukses. Dalam hati ia merasakan kekhawatiran. Ia takut kalau suatu hari Jaka akan kehilangan semua yang dimilikinya dan tidak bisa menerima kenyataan itu. Ayahnya tahu bagaimana sepak terjang Jaka ditempat ia bekerja hingga dalam waktu yang singkat ia berhasil menduduki jabatan yang strategis. Jaka dimata Jamal adalah pembuat onar. Kalau ia memarahi Jaka ibunya pasti membela anaknya itu. Bagi Atikah anaknya adalah sebuah permata yang tidak ada cacatnya. Ia terlalu mencintai anak tunggalnya itu. Dengan setiap ulah yang dibuat Jaka pak Jamal berusaha untuk selalu bersabar walau lama-kelamaan ia kehilangan kesabaran dan akhirnya membentak anak dan memaki anak itu, “Mau jadi apa kamu. Kerjamu cuma buat masalah dan menyusahkan orang tua. Kalau kamu jadi bajingan terus seperti ini hidup kamu tidak akan bahagia. Kamu tidak akan pernah berhasil kecuali jadi sampah masyarakat” seperti itulah jika Pak Jamal marah dengan setiap masalah yang dibuat Jaka. Sebenarnya ia sayang pada Jaka walau anak itu bukan anak kandungnya. Jika sudah marah ibunya akan membelanya mati-matian. Ibunya bukan ikut mendidik Jaka malah memberikan uang banyak pada anak tunggalnya itu agar pergi dari rumah sementara agar bapaknya tenang. Seperti itulah yang terjadi setiap rumah itu meledak dengan pertengkaran. Kini waktu berlalu. Dunia berubah. Kenyataannya Jamal harus menelan pahit ludahnya sendiri sebab anak yang menurutnya berengsek, bajingan dan akan jadi sampah masyarakat itu malah berhasil. Anak itu kini sudah memiliki rumah sendiri bahkan

37 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
memiliki jabatan yang strategis diperusahaannya. Jamalpun tidak berkutik. Ia hanya bisa tersenyum sambil mengingat apa yang diceritakan sahabatnya yang bekerja ditempat yang sama dengan Jaka. ATTAR terbangun. Kini semua yang ada didalam kamarnya berubah lebih banyak didominasi warna putih. Ada empat tempat tidur dikamar tersebut. Aku dimana, Attar bingung. Lelaki yang mulai dimakan usia dengan kemeja kotak-kotak datang menghampiri. Lelaki tua itu tersenyum pada Attar, “Alhamdulillah, sudah sadar mas” Attar “Pak Tono, Saya ada dimana?” Tanya Attar bingung. “Semalam saya mendengar suara kaca pecah dari kamar sampean mas. Terus saya masuk, e sampean sudah pingsan. Atas inisiatif bak Linda, sampean kami bawa kerumah sakit” Tono mencoba menerangkan. Tak lama Linda datang. Perawan tua itu masih mengenakan seragam kantornya. Dari kantor ia langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi Attar. Saat ia sampai dirumah sakit Attar panggilan mas. Segala aktifitasnya segera menyerang kebenaknya. Otak kirinya dipenuhi dengan segala yang telah ia lewati mulai dari kesehariannya dan pola hidupnya yang kurang sehat, “Sebenarnya kalau saya bisa mengatur pola hidup saya, tak seharusnya saya sakit” katanya dengan suara yang sedikit lemah. hanya tersenyum mendengar nasehat Linda. Perempuan itu lebih tua darinya tapi ia memanggil dirinya dengan tahu” “Sudah ‘lah mas, kita ‘kan tetangga jadi sudah seharusnya saling tolong” Linda berbicara, “Saya sudah ketemu dokter katanya kamu kena tipes” perempuan itu berhenti sesaat, “Kamu mungkin terlalu banyak pekerjaan jadi kecapean. Sebaiknya kamu kurangin pekerjaan kamu itu mas” sudah siuman. “Sudah sadar mas” katanya, Attar hanya tersenyum “Syukur deh” kata Linda sambil duduk disamping tempat tidur Attar “Makasih ya bak udah nolongin aku,” Linda tersenyum “Pak Tono makasih juga ya, kalau tidak ada kalian berdua saya tidak

38 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Itulah mas pentingnya disiplin diri untuk kesehatan. Kalau sudah seperti ini kan bukan hanya kamu yang kesusahan. Coba bayangkan pekerjaan kamu, mungkin banyak tertunda karena kamu sakit, belum lagi urusan lain yang sangat membutuhkan kehadiran tenaga dan pikiran kamu” kata Linda. Attar tersenyum lagi walau ia merasakan kepalanya semakin berat. Ia mengantuk kemudian tertidur. Linda menatap lelaki itu. Dalam hati Linda harus mengakui bahwa sebenarnya ia mulai menyukai Attar namun Linda berusaha untuk menepisnya sebab ia sudah memiliki calon suami. “Kira-kira berapa lama dia harus istirahat setelah keluar dari LEILA bersama Sopia datang menjenguk Attar dirumah sakit. Mereka mendapati Attar tengah terbaring memejamkan mata. Dalam posisi tertidur kelihatan sekali Attar tidak menikmati tidurnya. Posisinya berubah-ubah. Kadang ia menghadapkan badannya kekanan dan kemudian kekiri. Seperti sedang mengalami mimpi buruk. Melihat Sopia dan Leila sudah datang Sutono pamit. Leila mempersilahkannya pulang, “Pak Tono pulang saja. Biar saya yang menjaga Attar” kata Leila. sini dok?” Tanya Leila. “Kalau, suami embak” dokter itu meneba. Leila tertawa “Sudah bisa pulang ia harus istirahat total selama satu bulan” dokter menjelaskan. Ia terus menjelaskan kondisi Attar dan penyakitnya. Setelah dirasa cukup dokter itu menatap Attar sebentar kemudian dia pamit meninggalkan Leila. Dokter itu pergi. Nindia Sitta Leila menarik sebuah kursi kedekat tempat tidur Attar pada posisi dimana kepalanya tersanggah dibantal putih. Leila menatap lelaki itu. Ia menatapnya lekat. Ia “Pak Tono Makasih banyak ya” kata Sopia mengiringi kepergian Sutono. Orang tua itu tersenyum. Seorang dokter datang menghampiri mereka berdua. Dokter itu memberikan resep pada Sopia. Sopia membacanya dan mengucapkan terima kasih kemudian ia ke Apotek dilantai bawah untuk menebus obat yang tertera diresep. “Pak Attar membutuhkan istirahat banyak. Kondisinya lemah.” Kata dokter itu. Leila mendengarkan dengan seksama keterangan dokter tersebut.

39 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
menekur sesaat mengingat semua hal yang sudah ia lewati bersama sahabat terbaiknya itu. Betapa banyak pertolongan yang diberikan Attar untuknya termasuk sebuah perlindungan dan rasa aman. Attar bisa memberikan semua itu kepadanya dan kepada semua orang yang dekat dan percaya kepadanya dalam sebuah kondisi yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa, menurut Leila. Attar adalah manusia yang teguh dengan ketakinannya. Banyak anak usia SMA dan Mahasiswa yang dekat disampingnya. Mereka membuka hati, mereka bercerita, mereka memberikan kepercayaan yang besar kepada seorang Attar yang kata Attar sendiri, “Kakak tak memiliki apapun yang bisa kak berikan kepada kalian kecuali sebuah keyakinan. Bahwa hidup akan semakin baik bila segala hal dijalani dengan keyakinan” Dilain kesempatan Attar pernah bilang, “Apapun yang kita lakukan jangan pernah kita lakukan tanpa keyakinan dalam diri kita sebab menyertakan keyakinan dalam setiap langkah yang kita jalani akan memberikan perbedaan dan kekuatan tersendiri” pernah juga ia bicara, “Tidak ada orang yang paling bahagia didunia ini selain orang yang telah hidup bersama keyakinannya. Hingga setiap kata dan gerak tangannya seolah memiliki ruh tersendiri, hidup, dan penuh kekuatan. Keyakinan iu ibarat sebuah janji yang pasti terpenuhi diatas sebuah peta perjalanan menuju impian. Keyakinan memberikan sebuah kepastian apa yang kita lakukan dan apa yang bisa kita berikan kepada kehidupan” Leila mencoba membenarkan selimut Attar yang tertumpuk dikakinya pada ujung tempat tidur. Ia menariknya pelan-pelan tak ingin membuat Attar terbangun. Siapapun yang berazam untuk perduli dengan orang lain, untuk membuka hati dan menjadi pendengar yang setia atau menjadi malaikat penolong yang berwujud manusia., maka bersiaplah. Karena dengan itu kita menjadi manusia yang paling kesepian dimuka bumi. ATTAR merasakan sesuatu. Ia terbangun. Lamat-lamat ia melihat ada seorang wanita tersenyum padanya mengenakan kaos tangan panjang berwarna hijau lumut. Semakin jelas ia melihat wanita itu tersenyum padanya. “Sudah lama La?” tanyanya. “Baru aja” jawab Leila. “Sebaiknya kamu tidur kembali. Maafkan aku Tar baru sempat sekarang menjenguk kamu aku baru tahu tadi pagi”

40 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Ya sudah tak apa lah” kata Attar “Kamu datang sama siapa?” “Sama Sopi. Dia lagi kebawah menebus obat” jawab Leila pelan. Leila terus bicara menghibur Attar. Tak lama Sopia datang membawa bungkusan obat. “Kakak sudah bangun?” Attar tersenyum melihat Sopia masih terlihat seperti biasanya, ceria dan penuh semangat. Sopia duduk disamping Leila. “Maafkan aku ya. Mungkin tidak bisa mengikuti kegiatan yang sudah kita rencanakan” kata Attar putus asa. “Tenang saja kak. Kelihatannya Azam mampu lagi” Attar mengangguk pelan. Walau tiba-tiba ia merasa takut ditinggalkan Leila. Azam duduk mendekati Attar “Gimana keadaannya kak?” Tanya Azam “Sudah lumayan” jawab Attar, “Bagaimana PLPK kita?” “Kak! kak! sudahlah jangan dipikirkan” kata Azam, “Pokoknya biar kita semua yang atur. Kakak terima beres” jawab Azam, “Kakak mendidik kita semua dengan baik. Kakak sudah sering mendelegasikan tanggung jawab pada kita semua. Dan sekarang kita akan buktikan bahwa kakak berhasil mendidik kita” Mendengar jawaban seperti itu dari adik kepercayaannya Attar merasa senang dan tenang. Selama ini setiap ada kegiatan pada jaringan yang dibentuk Attar, ia selalu hadir memberikan komando dan membagi tugas. Walau kadang ia juga mendelgasikan tugas kepada orang-orang kepercayaannya sebagai bentuk pelatihan langsung. Attar selalu mengajarkan agar bertanggung jawab dengan pekerjaan yang menjadi tugasnya dan mempercayai kemampuan teman yang menjadi tim bekerja. Kini ia dihadapkan pada nilai yang selama ini ia ajarkan kepada mereka. Attar harus percaya bahwa tim

mengatasinya” mendengar Sopia menyebut Azam Leila sengaja terbatuk, “Ih mulai deh kak Lala” Leila tertawa dan Attar juga ikut tertawa. Mereka bertiga ngobrol kesana kemari sambil sedikit-sedikit tertawa. Sopia memang pandai melucu dan mampu mencairkan suasana. Sekitar jam lima sore Azam baru muncul dirumah sakit bersama Ridwan. Sementara itu Leila langsung pamit karena masih ada urusan yang harus diselesaikannya. “Aku keluar sebentar ya Tar, nanti aku kesini

41 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
bisa bekerja tanpa dirinya. Bukankah itu keberhasilan yang sebenarnya. Berikan joran kepada seseorang jangan berikan ikan agar ia bisa mengail ikan sendiri. Atau berikan ilmu bagaimana cara membuat joran. SAMPAI dipelataran Rumah Sakit Leila dijemput oleh Jaka. Mereka menuju suatu tempat untuk membicarakan sesuatu. Hampir tiga tahun mereka menjalin hubungan cinta. Selama itu pula Leila sering merasakan siksaan Jaka. Saat pertengkaran meledak diantara mereka ia sering ingin memutuskan hubungan dengan Jaka namun Leila selalu mengurungkan niatnya. Bukan hanya karena ia kasihan kepada Jaka namun ia juga takut menelan ludahnya. Ia selalu menasehati teman-teman dikampusnya bahwa pertengkaran yang terjadi diantara sepasang kekasih itu sudah biasa. Kalau sampai putus karena pertengkaran itu namanya kita dikalahkan permasalahan. Kita tidak boleh kalah. Tanpa disadari Leila disiksa oleh pikiran yang dibuatnya sendiri. Bila Jaka sedang dirundung masalah akibat ulahnya sendiri ia sering bersikap kasar kepada Leila. Selebihnya Leila akan mendiamkan Jaka. Namun dengan segala kemampuan rayuannya Jaka akan meluluhkan hati Leila. “Maafkan aku sayang. Aku tidak bermaksud kasar kepadamu. Masalahku sedang banyak. Kamu tahu sendiri kan. Kamu harus mengerti. Kamu bilang kamu sayang sama aku, kamu bilang cinta sama aku tapi semua itu percuma kalau kamu tidak memahami sikapku. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud bersikap kasar kepada kamu. Ayolah sayang! Apa kamu tega membiarkan aku dirundung rasa bersalah. Kalau kamu tidak mau memaafkan aku aku juga tidak mau memaafkan diriku” dan seterusnya. Rayuan gombal dari berbagai macam jenis dimiliki Jaka dan anehnya Leila akan selalu luluh dan memaafkan Jaka walau ia tahu Jaka akan mengulanginya, walau ia tahu ia tak jarang digombali. Leila sangat mencintai Jaka walau sebenarnya ia tidak bisa membedakan antara rasa iba kasihan dan rasa cinta. Namun kini ia semakin mantap dengan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Jaka atas lamarannya. Setiap orang harus berani bilang tidak agar terhindar dari beban yang lebih berat. Itu nasehat kakaknya. Cinta bukan saja urusan hati, cinta juga membutuhkan logika. Keduanya harus berimbang. Cinta tanpa hati memang tak akan punya arti namun cinta tanpa logika bisa memperdaya.

42 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Lalu bagaimana dengan teman-temanku dikampus. Ia ragu kembali. Aku bisa dianggap menelan ludah sendiri. Aku bisa dikatakan kalah. Ia semakin ragu tapi tiba-tiba ia teringat dengan kata-kata Ibunya yang berprofesi sebagai guru bahwa ketenangan itu bukan diperolah dari luar tapi dari dalam. Jadilah kita sebagai kita. Kita yang menentukan pilihan, bukan orang lain. Kalau kita sudah yakin dengan keputusan kita kenapa kita harus takut dengan pembicaraan orang lain. Jadilah tuan dijasadmu. Leila mantap kembali. Mereka sampai disebuah restorant. Jaka dan Leila turun dari mobil. Kelihatannya Jaka sudah menyiapkan semua dengan matang. Tempatnya begitu romantis dan begitu privasi. Setelah mereka selesai makan akhirnya Jaka membuka pembicaraan. “Sesuai dengan janji kamu, sekarang aku membutuhkan jawabannya La” Perempuan ia diam sesaat dan menatap Jaka “Ka, ku harap kamu siap menerima jawaban ini” kata Leila. Jaka mulai serius sebab kata-kata pertama yang keluar dari mulut Leila membuat dia ragu, “Aku sudah pikirkan masak-masak dan juga sudah aku pertimbangkan dengan tenang. Aku..” ia berhenti lalu, “Maaf, aku menolak lamaran kamu” Bak disambar petir Jaka tersengat. Ia tidak percaya bahwa kekasihnya akan menolak lamarannya. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi yang didudukinya. Tak mungkin, apa artinya perngorbananku selama tiga tahun ini. Pasti ada sesuatu. Tak lama ia menyatukan kedua tangannya diatas meja sambil menopangkan pundaknya pada kursi, “Ini pasti karena Attar. Iya ‘kan. Sudah aku bilang kamu jangan dekat-dekat dengan dia. Attar itu ular berbisa. Mulutnya saja yang manis seperti penyihir yang membumbui ucapannya dengan mantra” “Kamu salah Ka. Ini bukan karena Attar” “Lalu karena apa! Kalau bukan karena keparat itu” Jaka memotong. Ia mulai emosi, matanya mulai memerah, “Apa lagi yang kurang dari aku La. Kita sudah pacaran selama tiga tahun. Aku sudah berkorban selama tiga tahun. Kamu bayangkan itu, tiga tahun!” Jaka mengangkat tangannya dengan tiga jarinya mengacung, “Apasih yang akan kamu dapat dari Attar. Lihat aku La, aku bisa seperti ini karena kamu, karena dorongan cinta kamu. Aku jauh lebih sukses dibanding dengan si Attar melarat itu……”

43 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Cukup!” Leila memotong. Ia tidak terima bila Attar yang sangat baik dikaitkan dengan keputusan yang dibuatnya itu, “Ini keputusanku dan sekali lagi aku katakan ini tidak ada hubungannya dengan Attar. Ini pilihanku sendiri” Jaka berdiri. Tidak biasanya Lala berkata tegas seperti itu. Ia menarik tangan Leila dengan kencang dan membawanya, hampir seperti menyeret dirinya keluar restorant. Beberapa orang yang sedang makan memperhatikan mereka. Jaka membuka pintu mobilnya, “Masuk!” perintahnya. Leila enggan masuk namun ia begitu takut melihat mata Jaka yang memerah. Akhirnya iapun masuk setelah Jaka memberi perintah untuk kedua kalinya. Jaka melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ia tidak berbicara sama sekali. Napasnya memburu dan matanya merah menahan amarah. Leila yang tahu persis bagaimana jika Jaka marah hanya diam saja. Ia ketakutan dan kemudian ia menitikan air mata. Mobil terus melaju menuju arah Pasar Minggu. Pikiran Leila sudah kalut, bimbang, bingung bercampur takut. Tiba-tiba Jaka menepikan mobilnya. Ia tak bergerak. Ia diam lama sekali. ia menatap tajam kedepan, kemudian “Maafkan aku” katanya yang mulai tenang. Leila yang mendengar kata-kata itu meresa tenang kembali. Ia menarik napas perlahan. Jaka turun dari mobil tak berapa lama ia datang kembali membawa dua botol minuman dingin. Jaka memberikannya pada Leila dan ia sendiri segera menghabiskan minumannya. Leila sedikit ragu namun Jaka memandangnya dengan tajam. Leila menyedot minuman itu. Jaka melajukan mobilnya kembali “Maafkan aku la” katanya seteleh beberapa saat “Aku hanya kaget saja. Ku pikir jawaban yang aku terima tidak seperti ini. Aku jadi kehilangan arah. Apa yang aku lakukan selama ini sampai aku berhasil seperti ini semua kulakukan demi kamu” katanya, “Suatu hari aku ingin kamu tinggal bersamaku, dengan hasil jerih payahku, tapi kamu menolak menjadi istriku, maafkan aku, aku tidak punya cara lain” Leila sepintas memperhatikan apa yang tengah diucapkan oleh Jaka. Pemilihan kata-kata jaka sedikit aneh karena selama ia kenal Jaka, tak pernah ia bicara sebijak ini. Leila ingin menanyakan sesuatu namun kepalanya mulai merasa pusing.

44 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus

Kesadaran menikam

Attar mengingat, Malam itu sewaktu, Attar tertidur. Leila datang menjenguknya. Leila duduk disampingnya. Matanya basah. Ia menangis. Attar terbangun dan menyadari kedatangan Leila namun entah kenapa ia memilih untuk pura-pura tertidur. Leila tidak berbicara sama sekali. Perempuan itu menatapnya lekat-lekat sambil meneteskan air mata. Ia hendak bangun dan bertanya kenapa namun….. Jaka Satria datang. Lelaki itu memegang kedua pundak Leila dari belakang. Attar merasakan cemburu. Leila diam seolah tidak peduli dengan kehadiran Jaka. Leila terus menangis kemudian ia pergi meninggalkan Attar. Jaka diam mematung sambil menatap tubuh Attar yang dikiranya sudah tidur. Ia tersenyum menyeringai lalu pergi. Hingga kini Attar tak tahu kenapa Leila menangis malam itu. Hal itu masih jadi misteri. Attar merasa Seperti ada isyarat yang hendak disampaikan Leila tapi ia tak pernah tahu itu tentang apa. Saat ia pulih sebuah undangan datang menjawab pertanyaan hatinya. Walau hanya sekedar kertas namun bagi Attar itu lebih dari sebuah belati yang menusuk jantungnya. Ia meradang

A

GAKNYA apa yang dialami Attar adalah sebuah teguran keras dari kelalaian hatinya. Semenjak ia terbaring dirumah sakit ia banyak disadarkan akan arti perjalanannya dalam hidup. Selama ini ia tidak

menghargai kesehatan yang diberikan Allah. Ia kurang bersyukur dengan pola hidupnya yang tidak sehat. Rokok, kopi, makan yang tidak teratur, pola tidur yang buruk dan masih banyak lainnya. Ia bertekad untuk memperbaiki pola hidupnya. Bukan saja demi kesehatan badannya tapi sekarang ia sadar betul bahwa menjaga kesehatan dengan cara yang baik dan benar adalah salah satu formula mensyukuri nikmat dari Allah. Terima kasih ya Allah. Disamping kesadaran itu ada yang lebih berharga yang menelusuk kerelung hatinya. Kesadaran bahwa dirinya selama ini diam-diam telah dibutakan keinginan dengan tipuan yang begitu halus. Ia dijajah keinginan. “Keinginan adalah sumber penderitaan” begitu kata mas Iwan Fals dalam lagunya.

45 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
juga dihunjam kekecewaan. Tapi apa yang bisa dilakukan Attar kecuali pasrah dan kecewa. Leila akan menikah dengan Jaka. Bagaimanapun itu pilihan Leila ia tak bisa berbuat apa-apa. Attar memang kecewa luar biasa kecewa. Namun ia lebih kecewa karena ia tak pernah diberi tahu tentang rencana pernikahan Leila itu. Ia merasa tidak dihargai bahkan mungkin dilecehkan. Attar bangun dari tidurnya. Ia menatap jam yang menunjukan pukul setengah empat pagi. Ia beranjak dari tempat tidur dan melakukan Tahajjud. Ini adalah Tahajjudnya yang pertama setelah beberapa tahun ia tinggalkan. Sekembalinya dari sakit tiba-tiba Attar merasakan ada sebuah kekuatan besar yang mendorong dirinya untuk kembali mendekatkan diri pada Allah. Selama ini ia terlalu sibuk dengan urusan dirinya sendiri tanpa melibatkan Allah. Setiap masalah yang datang ia hadapi dengan sebuah keyakinan bahwa manusia mampu menyelesaikannya dengan baik sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pemikirannya. Ia tidak menafikan Allah namun ia merasa bahwa salama ini tidak menempatkan Allah sebagaimana seharusnya. Sebelum takbiratul ihram ia melihat sebuah undangan pernikahan. Undangan yang meluluh lantakkan hatinya. Yang mengalahkan perjuangannya. Yang menghancurkan mimpinya. Ia begitu yakin dengan teorinya tentang perencanaan masa depan namun kini semua teorinya runtuh seketika manakala apa yang selama ini menjadi tujuan hidupnya, harapan mimpinya, yaitu Leila sudah menjatuhkan pilihan dengan siapa ia akan mengarungi biduk rumah tangga. Leila akan menikah minggu depan bersama Jaka Satria kekasihnya. Manusia memang selalu berencana dan memang sudah seharusnya setiap manusia memiliki rencana akan kehidupannya namun perlu juga diingat bahwa kemampuan manusia hanya sebatas itu. Sebatas membuat rencana dengan sebaik-baiknya. Ujung akhir dari semuanya adalah turunnya sebuah ketetapan Allah dimuka bumi. Sebuah Qodho yang menghunjam menjadi kodar, ketetapanNya. Dan kodar itu ternyata, Leila bukanlah miliknya. Leila milik orang lain. Attar merasakan pukulan hebat namun seiring dengan itu secara perlahan namun pasti Attar mengalami pencerahan. Hatinya kembali terusik. Ia berusaha mengatasi kepedihannya sebagai laki-

46 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
laki yang kehilangan kesempatan menyunting wanita terkasih. Ia berusaha tegar dan mencoba menerima ketetapan takdir. Ia ingin bersujud dan memohon kekuatan dari pemilik kekuatan yang sebenarnya. Ia sadar sekali telah banyak dosa yang dilakukannya. Usia muda seharusnya digunakan baik-baik. Namun ia habiskan untuk bermimpi dalam pijakan yang tidak kuat, tak ajeg. Sholat hanya sebatas sholat. Sekedar menggugurkan kewajibannya yang kebetulan ia terlahir Islam seperti bapak ibunya yang Islam. Kini ia berdiri dalam tahajjud. Ia merasa kecil sekarang, ia merasa lemah dihadapan sumber kekuatan yang tidak ada tandingnya. Ia berdzikir. Hatinya semakin miris. Tidak kuat ia mengucurkan air mata. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya dan bermunajat: Tuhan! Sejak kapan aku mengenaliMU. Selama ini aku hanya tahu namaMu yang begitu mudah aku sebut, kujual, kukantongi, dan kulupakan. Bahkan tidak jarang aku kentuti. Selama ini aku hanya menikmati apa yang Engkau berikan. Sekali waktu memang aku berusaha bersyukur atas apa yang diberikan itu. Namun, lebih banyak, bahkan terlalu banyak ketika aku menanjaki jalanMU aku malah tergelincir dan tergelincir lagi, selalu tergelincir lagi ke dalam lubang hitam pekat memalukan. Tak terhitung maksiat, dosa, kekuarang ajaran dan kenistaan yang ku perbuat. Dan itu aku lakukan dengan segala fasilitas yang secara gratis Engkau berikan. Dengan nikmatMu aku mengurangajariMu. Dengan anugrah Allah aku bermaksiat pada Allah. Degan rejeki dari Allah aku berbuat dosa kepada Allah. Dengan semua hal yang diberikan Allah aku mencoreng-coreng wajah Allah. Oh Allah, Kau tetap diam jua. Padahal aku menyadari Engkau tak pernah sesaatpun lengah dari apa yang ku perbuat. Padahal aku menyadari bahwa tak secuilpun yang tidak diketahui Allah. Yang tersembunyi, yang terlihat nyata, yang hari ini, kemarin atau esok, semuanya telah diketahui oleh Allah. Dan dengan tenangnya, aku masih saja bermaksiat padaMu. Oh Allah, Kau tetap diam jua. Mata dariMu ini adalah satu nikmat tak bertar,a tak berhingga. Dengan mata ini aku nikmati aurora semesta. Ku telusuri indahnya jejak pantai berdebur ombak, haru biru membujur lautan yang senantiasa berseru. Dengannya aku bisa membedakan setiap wajah hingga tak salah memanggil dan mengenali. Dengannya aku

47 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
tahu mana yang cantik dan mana yang terluka. Dengan matalah aku hidup melangkah dari dan ke manapun aku mau. Tak tersesat, tak terjerumus dalam gang-gang kota dan jalan-jalan lembut desa. Dengannya aku mampu melihat dan mengecapi setiap lapisan warna-warna alam raya. Kemudian akupun mampu mengagumi lukisan pegunungan, kanvas cerita dan rangkaian tulisan demi tulisan. Dengan mata ini pula, yang tidak ada pabriknya didunia manapun bahkan dengan teknologi secanggih apapun, aku bermaksiat. Menelusuri nafsu angkara murka pada yang tidak berhak, melihat aurat terbuka berbau syahwat, menjalangi perempuan-perempuan yang dikuntili iblis dan menelusuri lekuk demi lekuk tubuh perempuan yang haram demi memuaskan syahwat kemaluan. Mata oh mata, berapa jumlah sel yang membangun eksistensimu. Nanti kalian akan membalas dengan apa yang telah aku lakukan. Ku gunakan kalian untuk berbuat nista dan hina. Namun kalian masih diam pula, tunduk pada diamnya Tuan pencipta. Aku tahu aku salah, namun masih saja aku lakukan segala salah itu. Iman ternyata bukan cuma perkara pikiran? Sebab tahu dan tidak tahu beranak pinak dari pikiran. Tapi iman bukan cuma perkara pikiran. Sekalipun tahu, aku masih jua begitu, berdosa melulu selalu. Segala puji bagi Tuhanku yang kudurhakai setiap waktu. Segala puji bagi Tuhanku yang kuculasi setiap waktu. Segala puji bagi Tuhanku yang kubohongi setiap waktu. Segala puji bagi Tuhanku yang kutipu setia waktu. Segala puji bagi Tuhanku yang kukufuri setiap waktu. Segala puji bagi Tuhanku yang diam selalu padaku. Segala puji bagi Tuhanku yang tak marah padaku. Segala puji bagi Allahku. Tuhanku enggan memarahiku atau mencungkil mataku untuk mengambilnya. Walau demikian, sejujurnya aku tak mau jika Tuhan datang padaku dan meminta mata ini. Walau aku sadar bahwa mata ini dariNya. Jika itu terjadi maka padamlah dunia ini bagiku Allah. Mata ini Kau berikan untuk digunakan pada jalan yang Kau ridhoi. Dan dengan hebatnya ku gunakan dijalan yang aku sukai, lagi-lagi dosa dan dosa dan dosa dan dosa. Lagi-lagi setiap saat,

48 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
setiap kala, setiap waktu, setiap sempat bermuara dosa, dosa dan nista. Mata ini diberikan untuk dimantrai dengan tasbih. Mata ini diberikan untuk mengucurkan air mata hangat ditengah sepi malam dingin menghunjam. Mata ini diberikan untuk membaitkan tahmid kala fajar berkobar diufuk hingar. Mata ini dipinjamkan untuk mentakbir kala senja tenggelam dalam duka kelam. Mata ini diberikan untuk mengantar tahlil diri kala malam senyap menggulita sepi. Sudahkan itu kulakukan. Dengan tegas aku mejawab, BELUM. Malahan, belum sama sekali. Mata ini telah kugunakan, namun bukan pada jalan itu, bukan jalan yang dipinta oleh MU. Mata ini kubawa-bawa selalu. Ku bawa ke gedung bioskop atau ke depan layar televisi demi melihat gambar-gambar seronok. Mata ini kubawa demi menonton mahluk yang berpasangan berperang berpacu dengan nafsu. Mata ini kubawa berjalan dibelakang perempuan demi memuaskan fantasi dari alam liar membara. Mata ini kubawa ke balik bukit, sembunyi diantara celahnya dan mengintipi wanita-wanita telanjang. Mata ini telah kubuat jalang, liar menngangkarai segala bentuk aturanMU. Ya Al lah Tuhanku, hamba dipintuMu Memohon Rahmat Mu, M emoho n a mpunMu diri. Robbi, Robbi, Kau masih diam jua. Betapa sabarnya Engkau. Kalau boleh aku Tanya, dibagian neraka yang manakah tempatku? Ah walau demikian, sejujurnya aku tak mau masuk neraka, aku takut. Tapi mengharap surgaMupun rasanya tidak berani. Bagaimana bisa!!! Sementara dosa bergelimang menutupi hatiku, melumuri sekujur diriku setiap waktu. Sementara hasrat gila masih liar menggebuki pandangku, pikirku dan tujuku. Tuhan maha pema’af, masih bisakah aku meminta ampun maafMu. Oh betapa kurang ajarnya aku. Ditengah segala najis pada diri masih saja berdalih dengan mengharap melalui nama Tuhan, Yang Maha Pemaaf, Yang Maha Pengampun. Ya Allah, masukkan saja aku ke nerakaMu. Aku lebih pantas didalam sana, didalam nerakaMu yang paling dasar. Merasakan sakit, merasakan siksa, merasakan balasan atas berjuta-juta dosaku. Sia-sia. Sia-sia sudah pemberianMu ini Robbi. Allahku Engkau kucurkan ni’mat ini pada si Durhaka yang tak pernah tahu

49 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Ata s dosa ku dan k ekhilaf anku Ata s sal ahku d an kebodohanku Menyes al ter as a ji wa k u tersiks a Menging ati dos a dan semu a alf a Akal t erperd ay a h ati ter pe nj ara Dipenu hi noda dilu muri dos a Ya Al lah y a Robby, H am baM u dis in i Tersu ng kur beg ini dihamp aran bum i Memb awak an diri dan memangg ul hati Yan g tlah ku kufuri dan tl ah ku kotori Ta k teru kur la gi, t ak t erbilang l agi Kekur ang a ja ran sert a ke alfa an Hany a Ampu nanMu k ini h ara panku Hany alah Rahma tMu k ini t uju anku Asta gfirul lah Robbal B aroy a Asta gfirul lah M inal Khoto ya Duhai Robbi P em ilik Yang Suci Perj alanan in i penu h onak duri Tanpa p etunjukM u t anpa bimbi ng anMu Tersesa t jal anku cel ak a hi dup ku Duhai Robbi y an g me ng geng gam hati Teta pk an hidupku d alam a gama Mu Bi mbi ngl ah ji waku t uk t aat p ad aM u Teguhk an imanku ku kuhkan te kadk u Mere ta si j al an de ngan kerid ho an Had api ujian de ng an k esab ar an Jal ani c oba an p enuh k eiklas an Meneri ma pemberian penuh kes yu kuran Asta gfirul lah Robbal B aroy a Asta gfirul lah M inal Khoto ya

Attar menitikan air mata. Ia tidak kuat membayangkan kelakukannya selama ini. Ia begitu besar dimata orang lain dan orang-orang dekatnya namun iapun mengakui bahwa selama ini ia sendiri sangat rapuh. Ia kecil. Ia tidak ada apa-apanya. Buktinya ia sering merasakan kesedihan tiba-tiba, kekosongan tiba-tiba dan kegundahan yang luar biasa. Secara keseluruhan ia merasakan ketenangan semu. Segala kegundahan, kekosongan dan setiap masalah ia mencari penawarnya dari buku, ia mencari jawabnnya dari buku. Ia

50 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
lupa bahwa ada pemilik segalanya yang tidak pernah ia Tanya. Ia mengisi segala otaknya dengan berbagai macam buku bacaan namun hatinya tidak pernah jua subur sebab Ia tidak pernah menyuburkan hatinya dengan tangisan kelemahan dihadapan sang Maha Segala. Ia lupa bahwa buku hanya salah satu jalan. Bahwa yang menetapkan segala sesuatu, yang memberi kekuatan, yang menurunkan segalanya. dan yang menenangkan hati adalah Allah. Allah lah pemilik kuasa atas menuju ke Masjid. Rumah Allah yang selama ini hanya ia kunjungi setiap hari jum’at saja. Setelah selesai sholat hatinya semakin merasa lapang. Attar mengakui selama ini ia terlalu banyak bicara. Ia sering bicara atas nama Agama. Kini ia sadar bahwa apa yang sering dikatakannya hanya dari mulut belaka. Ia tidak mengatakannya dengan hati, itu kenapa ia justru tidak pernah merasakan ketenangan yang hakiki. Justru setelah menyampaikan nasihat ia merasa terjebak dan tidak bebas. Ia terpenjara karena kata-katanya. Attar mengikuti kuliah subuh. Penceramahnya membahas Ia mengusapkan kedua telapak tangannya kewajahnya yang basah karena air mata. Seketika ia merasakan ada kedamaian. Hatinya terasa terbebas dari beban berat. Kini tidak lagi ia harus bermimpi tentang Leila. Ia tidak lagi mengharapkan Leila. Kini Leila ada yang menjaga. Cinta selesai sudah……. ADZAN terdengar dari masjid. Attar segera mengangkat sejadahnya dan pergi menuju masjid yang tidak jauh dari tempat kostnya. Berapa lama kah ia tidak ikut berjamaah subuh dimasjid. Ia lupa, sebulan, dua tahun……atau berapa?. Kini hatinya merasa ringan sebuah ayat yang berbunyi “Kaburo maktan indaallhi antakulu mala taf’alun”, “Dosa besar disisi Allah bagi orang yang mengatakan apa yang tidak ia kerjakan” Hati Attar semakin tergetar. Kemarin mungkin kata-kata itu tidak akan membuat Attar terguncang seperti ini. Kini keadaannya berbeda. Ia merasakan bahwa hatinya lebih lunak dan peka. Ya Allah terima kasih Engkau telah melembutkan hatiku kembali. Sedikit demi sedikit ia sadari bahwa terlalu banyak ia berbicara tentang banyak hal yang ia sendiri belum meyakini betul didalam hatinya dan belum ia kerjakan dengan sebaik-baiknya.

51 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Ia bertekad merubah pribadinya. Ia bertekad menata hatinya kembali. MATAHARI terbit dengan sinarnya yang terang. Attar berdiri Matahari terus bersinar. Attar masuk kekamarnya dan ganti pakaian. Hari ini hari sabtu. Ia harus masuk kerja. Setelah semua rapi ia menatap satu bundle kertas yang tadi ia print out sehabis sholat subuh. Isi bundle kertas itu adalah data-data semua penyelewengan yang dilakukan oleh kepala sekolah dan beberapa pengurus yayasan. Ia sudah memikirkan ini dengan matang dari sejak lama. Ia akan membongkar kasus ini. Hari ini. Kemarin-kemarin sambil mengumpulkan data-data ia masih maju mundur untuk membongkar kasus disekolah tersebut namun ia selalu mengurungkan niatnya. Ia takut kehilangan pekerjaanya sebab ia membutuhkan pekerjaan itu untuk membiayai kuliah dan hidupnya. Kini tidak lagi. Attar mantap. Qulil haqqo walau kaana Murran. Katakan kebenaran itu walaupun pahit. Allah yang menjamin rejekiku, Allah yang menjagaku, bukan saatnya lagi aku mundur. Bismillah. Ia melangkahkan kaki dan memantapkan niatnya. Harus ada yang berani. Berani untuk membela dan mengabarkan kebenaran. Terlalu banyak muslim di Negara Indonesia ini yang memiliki karakter baik namun lemah. Justru sebenarnya sedikit orang yang berkarakter buruk tapi kuat. Namun diluar kamarnya dengan hanya mengenakan singlet dan sarung bekas tadi sholat subuh. Ia kini sudah terbiasa kembali berjama’ah subuh dimasjid. Andai setiap subuh penduduk muslim bangun dan menghidupkan masjid seperti hari jum’at tentu saja tidak ada yang berani dengan kebesaran agama Islam. Tapi sayang…seribu sayang. Jauh panggang dari api. Jauh harap dari realitas…..ini perlu diperjuangkan. Linda tetangganya sudah satu minggu keluar dari tempat kost. Wanita baik hati itu kini pulang dan menikah dengan seorang tentara dikota kelahirannya. Seperti baru bangun dari mimpi. Begitulah perasaan Attar sekarang. Kemarin Leila melangsungkan aqad nikah dan hari ini resepsinya. Berakhirlah mimpi itu ibarat drama dengan sebuah ending yang tidak menyenangkan bagi Attar. Namun itu sudah menjadi skenario Allah. Ia terima dengan lapang dada. Membayangkan itu ia tersenyum sendiri. Walau terlihat getir.

52 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
sayangnya Negara kita ini dikuasi oleh mereka yang memiliki moral buruk tapi kuat . Mereka tidak jujur, mereka culas namun mereka memiliki strategi dan begitu gigih memperjuangankan keburukannya. Sebaliknya banyak disini Muslim-muslim yang baik. Jujur, sopan dan ramah namun malas bekerja, sering putus asa dan berpendidikan rendah. Mereka tidak memiliki semangat dan keyakinan bahwa sebenarnya mereka bisa maju. Akhirnya kemajuan ekonomi dan segala hal hanya dinikmati segelintir orang. Mereka yang buruk tapi kuat, gigih. Dunia ini memang senda gurau belaka. Dunia memang hanya tempat persinggahan menuju kehidupan akhirat yang kekal abadi namun perlu kita sadari bahwa kualitas hidup didunia sangat menetukan derajat kita diakhirat kelak. Banyak orang bicara bahwa kekayaan itu tidak penting namun sebenarnya yang sering bicara demikian adalah orang yang tidak mampu meraih kekayaan. Itu adalah dalih bin kamuflase dari ketidakmampuan diri untuk meraih kekayaan. Lalu baikkah kekayaan atau kekayaan itu buruk? Banyak orang karena memiliki kekayaan yang melimpah lupa diri dan lupa Allah. Banyak juga yang hanya demi kekayaan mereka meraihnya dengan jalan tidak halal. Korupsi, mencuri, merampok dan lain sebagainya. Jadi kekayaan itu buruk. Lalu bagaimana dengan para dermawan yang menyumbangkan kekayaannya untuk kemajuan masyarakat. Orang membangun pesantren akan lebih mudah bila memiliki kekuatan kekayaan/ekonomi. Oarng yang ingin membantu fakir miskin tentulah orang-orang yang memiliki harta yang banyak yang lebih leluasa menafkahkan hartanya dijalan Allah. Dengan demikian harta kekayaan itu baik. Menurut guru Attar, yang menyebabkan buruknya kekayaan atau harta adalah kecintaan berlebihan manusia terhadap harta. Itulah yang menyebabkan kemafsadatan. Nabi Muhammad sangat kaya, nabi Sulaiman kaya, Abdurahman bin Auf kaya dan Utsman bin Affan juga kaya namun orang-orang pilihan Allah itu tidak silau apalagi mencintai kekayaan. Harta mereka yang berlimpah semuanya digunakan untuk memperjuangakan Agama Allah. Jika kita dalam posisi yang benar kenapa kita harus mundur dan takut. Kata Attar dalam hati. Hidupku ditangan Allah bukan ditentukan oleh pekerjaanku sekarang. Pintu rejeki dan rejekinya Allah yang memiliki. Sekarang aku harus teguh dengan ini. Aku tak boleh takut demi kebenaran. Inilah ujian keimanku. Hasbunallahu

53 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
wani’mal wakil ni’mal maula mani’man nasir. Jika nanti aku harus keluar karena berusaha menyuarakan kebenaran maka kuatkanlah aku ya Allah. Gantilah sesuatu yang engkau ambil kembali dengan sesuatu yang lebih baik. Aku yakin padaMu maka cukuplah engkau yang menjadi penolongku. Hari itu, sekolah telah dibuat geger oleh Attar. Sekolah adalah sebuah system yang seharusnya mampu menghasilkan manusia-manusia yang berpendidikan dan bermoral. Bila system yang diciptakan disekolah sendiri adalah sebuah system yang tidak bermoral dan tak adil maka bagaimana murid yang dihasilkan akan memiliki moral dalam masyarakat. Tidak mungkin buahnya jagung bila pohonnya pohon ganja. Ini yang ingin ditebang oleh Attar. Pikiran Attar terus meracau. Perguruan Islam namun tidak menghidupkan ruh Islam. Mungkin ini salah satu penyebab runtuhnya Islam dan penyebab kenapa bangsa Indonesia, yang secara fakta sebagai Negara yang penduduk Muslimnya terbesar didunia justru menjadi Negara yang memiliki kualitas pendidikan dan ekonomi rendah. Seperti ada firasat, siang itu Attar membereskan semua barang miliknya dan membawanya pulang. Ini sebuah antisipasi kalau ternyata Attar harus menyingkir dari tempat itu. Attar sudah pasrah dengan semua yang akan menimpanya. Beberapa teman sekantornya memuji keberanian Attar walau ada juga yang mencibir mengatakan Attar sok suci. Attar hanya tersenyum getir. Kalau semua orang disekolah itu berani dan yakin dengan jaminan Allah mungkin tidak ada yang berani mempecundangi, memeras tenaga dan meperlakukan mereka dengan tidak manusiawi. Usai sudah satu persoalan yang selalu membelenggunya. Kini ia lebih tenang. Ia serahkan semua urusan kepada Allah. Ia sendiri tidak menyadari kenapa tiba-tiba keberanian itu timbul. Bisa jadi ini muncul dari kesadaran keimannnya atau justru karena ia tidak lagi punya mimpi akan masa depannya yang sudah luput dipendam selembar undangan pernikahan. Hingga akhirnya ia tidak peduli lagi dengan kuliah dan rencana hidupnya. Sebab ia telah kehilangan tujuan yang selama ini dibangunnya. Ia tidak punya mimpi lagi. Setelah sholat dzuhur Attar pulang. Ia membasahi badannya. Sambil merendam badannya ia berpikir apakah ia akan sanggup menghadiri resepsi Leila. Apakah ia harus hadir dipesta pernikahan

54 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Leila. Apakah ia akan kuat melihat Leila bersanding dengan orang lain. Ternyata cinta masih membuat ia bimbang. besar yang dipegang algojo mengikat tangan dan kakinya dengan erat. Saat sumpah diterima ia seperti dipasung ditengah api neraka yang panas membara. Ia dihukum karena ketidakberdayaannya. Dari kejauhan Attar mendengar lagu-lagu berirama gambus. PERNIKAHAN menyatukan dua insan dalam sebuah ikatan suci yang sakral. Cinta dengan segala perbedaannya disatukan dalam ikatan pernikahan. Menjadikan beda sebuah rahmat, menjadi sebuah kolaborasi pribadi baru yang lebih baik dan agung. Lagu-lagu cinta yang bertalu menambah syahdunya persatuan dua sejoli yang memadu kasih dalam ikatan paling kramat diplanet bumi ini. Semua orang berpesta dengan penuh kebahagiaan. Satu persatu tamu yang telah menikmati hidangan dalam perhelatan itu memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai yang bersanding di singgasana pelaminan. Pengantin laki-laki terlihat sumringah namun pengantin perempuannya seperti menyimpan sesuatu. Wajahnya mendung seperti mau hujan. Saat semua orang tertawa, saat semua orang mengucap doa dan memberi restu dalam ikatan penuh cinta, Nindia Sitta Leila merasa dirinya dicemplungkan dalam lubang hitam, pekat, gelap dan tak berdasar. Saat ijab kobul diucapkan ia merasakan rantai-rantai Gambus itu musik islami, kata teman-temannya. Memang kebanyakan temannya mengaitkan setiap yang berbau arab itu Islam. Attar kadang tertawa sendiri. Joged-joged, tarian perut antara perempuan bukan muhrim dan laki-laki berpeci kok dibilang Islami. Syair mendayu-dayu melagukan kegilaan pada kekasih dibilang seni Islam. Aneh. Tapi Attar hanya bisa tertawa sebab tak ada gunanya berdebat dengan orang yang tidak terbuka pikirannya. Toh ia sendiri tidak lebih baik dari mereka. kejahatan hatinya malah lebih buruk, ia menyelubungi dosa dengan kata-kata manisnya. Perlahan ia melangkahkan kakinya. Seikat bunga dipegangnya dengan erat. Ia kecewa. Jelas sangat kecewa. Tapi ia tidak mau dibilang pengecut dengan menangis apalagi tidak menghadiri pernikahan Leila. Ia harus memberi restu. Ia harus berani . Tapi apa aku sanggup melihat orang yang kumimpikan selama ini bersanding dengan laki-laki lain.

55 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Attar ragu sejenak. Aya dong Attar. Kamu melangkahkan kakinya juga. Semua orang yang hadir terlihat bahagia dan tersenyum. Dari jarak sedikit jauh Attar melihat Leila yang malam ini lain sekali. Dalam hati Attar, Leila memendam sesuatu. Lalu kenapa aku harus peduli dengan hatinya dia. Toh selama ini ia juga tak pernah peduli dengan hatiku. Tuhan jangan biarkan kebencian merasuk dijantungku. Setelah mengisi daftar tamu ia melangkah masuk menuju pelaminan. Ia menyalami Jaka dan memberikan selamat serta do’a restu. Jaka tersenyum padanya tapi Attar tahu itu senyum yang dipaksakan. Dia tahu persis bahwa Jaka tak pernah suka melihat kedekatannya dengan Leila sejak dulu. Attar kemudian menyerahkan seikat bunga pada Leila. Perlahan gadis itu menerimanya. Attar ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya terkunci. Ia seperti tersedak dan tak bisa bicara. Ia tak mampu memberi restu. Bahkan ia tak bisa menatap mata Leila. harus kuat. Saat itu hati laila menjerit bagai lolongan srigala. Ia ingin menatap mata Attar namun lelaki itu menunduk. Ia memaki dirinya. Ia memaki nasibnya. Bahkan ia hendak menyalahkan Tuhannya. Attar tidak menikmati jamuan makan. Ia langsung pulang tanpa pamit. Ia tak tahan harus berlama-lama melihat gadis impiannya diambil orang. Dengan langkah gontai Attar pulang. Disulutnya sebatang rokok yang diharapnya bisa mengusir gundah dan cemburu yang bercampur sakit hati. Tapi rokok tak mengusir resahnya. Ia mencoba menyulut lagi namun gundahnya semakin gila. Lalu dibuangnya rokok yang masih panjang itu. Samapai ditempat kost.. Ia beranjak kekamar mandi dan mengambil wudhu. Kemudian ia menunaikan sholat Isya. Selesai sholat ia membca Qur’an yang sudah jarang sekali ia sentuh. Perlahan hatinya damai. perlahan ia mendapat kekuatannya kembali. Ya Allah kuatkan hambamu ini. Hilangkan siksa cinta yang tak bisa ku gapai ini. Ia terus membaca Qur’an yang terjadi malah ia menitikkan air mata. Siksa cinta memang pedih bahkan membuat manusia gila.

Nyantai aja men. Masih banyak wanita lain. Akhirnya ia

56 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Cintanya kini hilang ditelan bumi. Pekerjaannya juga hilang disapu angin. Badai keraguan dan ketakutan datang menghantam dirinya. Mampukah Attar bertahan dengan ujian yang terbentang dihadapannya ini. Memang kita tak selalu meraih apa yang kita harapkan. Memang takdir urusan Allah. Tapi karena ia memilih ini makanya ia harus tegar. kalau perlu setegar batu karang sekuat baja.

U
dzarrotin

DARA

dingin

menelusuk

hingga

ketulang.

Sukabumi memang terkenal sejuk tapi kalau malam kesejukannya turun drastic, dingin. Attar yang beberapa tahun terbiasa dikota Jakarta yang panas

merasakan dingin menusuk. Attar tetap memaksa tubuhnya bangun dari tidur, menyingkapkan selimut dan melaksanakan tahajjud. Suasana benar-benar sepi hingga langkahnya menuju kamar mandipun seolah begitu berisik. Kucur air dari pancuran bambu bergemericik membelah kesunyian malam. Attar mengambil wudhu dengan perlahan. Ia menyempurnakan wudhunya sambil mengingat hadits nabi bahwa yang menyempurnakan wudhu dikala dingin

JALAN PILIHANKU
Sentuhan dari langit

sekali akan mendapatkan ampunan. Attar bertakbir dan melapalkan niat secara perlahan untuk melaksanakan sholat. Ia membaca surat secara perlahan dan tartil. Gemetar tubuhnya saat ia membaca “Fa mayya’mal mistqola khoiroyyaroh, wa mayya’mal misqola dzarrotin sarroyyaroh” barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar dzaroh atau kejahatan seberat itu juga maka itu akan kembali kepadanya. Attar ingat dosa-dosa yang telah dilakukannya.

Bagian Dua
Anak panah iblis

57 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Masa remaja adalah saat-saat krusial dalam hidup manusia. Semua jalan seolah terbuka dan memberi kesempatan. Surga dan neraka terbuka begitu lebar. Apalagi ia hidup bebas tanpa orang tua. Semua yang berbau kenikmatan sesaat begitu terlihat menyilaukan dan Attar yang saat itu tidak tahu diri terjerumus kelubang kenistaan. Hidup ditengah kota besar. Menyandang status sebagai orang miskin dan anak angkat dari seorang ibu yang begitu baik dan mencintainya tidak membuat Attar menyukurinya, ia tidak tahu diri. Saat ia kelas dua dunianya tiba-tiba berubah. Ia melupakan belajarnya, ia melupakan keadaannya, ia melupakan mimpimimpinya. Saat itu matanya dibuat buta oleh sosok perempuan cantik yang ia puja hidup dan mati. Seperti kerbau dicocok hidungnya ia menurut dibawa kemana saja oleh nafsunya. Geloranya terbakar namun dibakar nafsu yang nista penuh dosa. Segala macam dalih ia gunakan agar apa yang dilakukannya dianggap benar oleh dirinya. Untuk hal ini kemampuannya tidak diragukan. Ia pandai bersilat lidah dan bermaian dalil. Berkali-kali hatinya mengingatkan. Nuraninya berteriak menasehati namun nafsu dan ego jiwa mudanya lebih kuat. Iapun terjerumus dalam kubangan dosa. Seperti teman-temannya dikota Jakarta, pacaran memang sudah lumrah baginya. Berpegangan sudah biasa baginya. Ciuman ia masih takut namun lama-kelamaan ia berani ditambah kekasihnya sendiri tidak menolak. Kekasihnyapun sama sepertinya. Wajah dan tubuh cantiknya sudah jadi alat propaganda setan untuk memendamkan manusia dalam kubangan dosa, kedurhakaan dan kenistaan. Dari sekedar makan berdua, nonton berdua terus meningkat. Dari sekedar berpandangan naik menjadi saling berpegangan kemudian nafsu semakin bertambah dibumbui perjuangan mencapai kepuasan. Akhirnya meningkat menjadi saling berpelukan dan berciuman dan…. Setan tertawa. Dalih yang digunakan berhasil. Manusia berhak menikmati hidup, menikmati masa muda dan memuaskan kebebasan. Dari sudut lain ada yang sedang menunggu. Keresahan, dosa yang membuat tidak tenang, hilangnya akal sehat dan jauhnya rahmat. Benarlah kata Nabi bahwa masa setelah beliau wafat adalah masa sulit bagi ummatnya yang hanya ibarat buih dilautan. Pemuda-pemuda lebih asik memuaskan nafsunya, mengejar mimpi tak bertuan, bersenda gurau, menonton film, shoping, pacaran

58 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
bahkan zina, sudah biasa terutama dikota-kota besar. Hancurlah sudah generasi muda Islam. Hancur lebur sudah generasi penerus bangsa. Hancurlah sudah Indonesia. Attar semakin tidak puas ia terus menjerumuskan diri dengan kekasihnya kelubang kehinaan. Ia lupa segala-galanya. Yang ia cari justru semakin membuatnya dahaga. Ia tidak waras lagi. Ia gila. Ia lupa diri dan tak tahu diri. Untungnya ia tidak tersesat semakin jauh. Allah mungkin masih sayang padanya yang sudah berkubangan dosa dalam maksiat. Allah tidak memberi kesempatan baginya untuk melakukan hubungan zina yang dosanya jauh lebih besar. Attar menangis sesenggukan. Dadanya sesak karena dorongan tangisan yang diiringi derai air mata yang mencurah dari kelopak matanya yang membasahi pipi dan pakaiannya. Ya Allah ampuni aku. Aku lupa. Aku terlena. Aku terperdaya oleh setan. Ya Allah jangan engkau sungkurkan aku lagi kelubang kehinaaan itu. Aku takut tersungkur lagi dan terkubur dalam lubang maksiat dan penuh dosa. Ya Allah beri aku kekuatan. Attar terus menangis dalam munajatnya. Ia mengingat dan berandai, seandainya dulu ia tidak terjebak dalam keadaan memalukan itu mungkin saat ini ia sudah berhasil. Mungkin ia sudah lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana. Faktanya tidak. Ia masih miskin dan ia masih sengsara, berjalan terseok-seok meraih impiannya. Masa muda yang dilumuri dosa membuat otaknya tak bisa berpikir jernih dan cerdas. Pintu-pintu rejekipun seolah tertutup rapat dari kehidupannya. Do’a-doa dan harapannya tumpul melebihi pisau berkarat. Ya Allah jika karena dosaku engkau tidak menyatukan aku dengan perempuan yang kuanggap baik dan sholehah maka ampuni aku. Aku kini sadar bahwa selama ini aku telah lupa. Aku memang tidak pantas untuknya. Hidupku dilumuri dosa. Ya Allah Lupa aku akan Engkau dan lupa aku akan tugas sebagai manusia. Setelah ia kembali kekampungnya ia kembali disadarkan bahwa kondisi disini masih serupa seperti dulu. Tidak ada kemajuan. Adiknya untuk sekolahpun sulit. Ibunya berusaha mati-matian namun tetap saja ia miskin. Usaha apa yang bisa membuat kaya orang yang tidak tahu apa-apa bahkan membaca saja hanya sekedarnya. Dikampung semuanya serba sulit. Ditengah ibunya berperang dengan kemiskinan, ditengah adiknya dihajar oleh ketidakberdayaan ia malah bersenang-senang

59 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
dan terlena dikota besar. Betapa ia tidak tahu diri. Betapa ia telah kehilangan akal sehatnya. Andai aku dulu lebih hati-hati. Andai aku dulu tidak menuruti nafsuku, andai dulu aku sadar mungkin tidak seperti ini. Ya Allah terima kasih engkau telah merengkuh aku ditengah kubangan lumpur dosa. Kini aku sadar. Kini aku tahu tugasku. Kini aku tahu tanggung jawabku yang besar. Berilah aku kekuatan. Jagalah kami semua ya Allah agar tidak kembali kepada kesesatan. Attar mengingat bagaimana kekasihnya pergi saat ia dalam kesulitan. Saat ia diusir dari rumah ibu angkatnya, saat kuliahnya hancur. Kekasihnya pergi meninggalkannya beralih kelain hati kepada orang yang lebih memiliki masa depan dan kepastian hidup. Semua berakhir sudah dan hancurlah Attar. Untunglah ditengah segala kesulitan ia masih bisa bernapas dan mendapatkan kesadaran. Awalnya ia merasa biasa saja saat ia mengingat kelakuannya dulu. Secara perlahan hatinya kembali bersinar dan iapun akhirnya mulai sadar betapa ia dulu salah jalan. Pencerahannya berlanjut hingga kini ia merasa malu dengan apa yang sudah ia lakukan dulu. Ia malu. Dulu ia marah kemudian ia tertawa mengingat kejadian yang pahit itu dan sekarang ia menangis mengingat kelakuannya yang terkutuk dimata Allah itu. Iapun kini bertaubat. Ia ingin kembali kepada Allah. Tuhannya yang telah ia lupakan dalam rutinitas kepalsuannya. Ia kemudian menutup doanya dengan sayyidul istigfar “Allahumma anta robbi. Lailaha illa anta. Klholaktani. Wa ana abduka. Wa ana ‘ala ahdika wa wa’dika mastato’tu. Abu’u laka bini’matika ‘alayya wa’abu’u bijambi. Fagfirli, fagfirli, fagfirli, fagfirli. Ia terus mengulang kata itu hingga beberapa kali. Hatinya bergetar hebat. Fa innahu la yagfiru illa anta. Subuh bergema. Suara bedug bertalu. Ia beranjak menuju mushola kecil yang sudah bertahun-tahun tak berubah. Imam masjid yang semakin tua, muadzin yang sudah tua. Melengkapi anggunnya mushola yang sudah tua. Namun kesakralan ibadah memang lebih terasa ditempat ini bagi Attar. Apakah karena hatinya yang sedikit cerah atau memang karena kondisinya mendukung. Angin semilir berhembus lembut. Sepi meruang indah dan damai. Kesejukan menjadi bahasa udara yang menyentuh kulit-kulit orang kampung yang ramah-ramah itu.

60 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Kalau sore tiba ia berjalan diantara pematang sawah yang baru ditumbuhi bulir-bulir padi. Burung-burung bernyanyi melagukan cinta. Di depan terlihat aliran sungai yang mengalir dari atas kebawah. Suara gemericiknya membawa alam semakin anggun. Damai ia rasakan. Ia menyebrangi sungai melalui jembatan bambu. Desanya begitu indah. Menatap kedepan. Terlihat sejejeran tembok beton setinggi dua meter lebih memagari sawah. Pagar-pagar beton itu membelah sebagian tanah desanya. Bagian yang dipagari itu adalah areal sawah yang sudah dibeli orang kota. Kini diubah jadi lapangan golf dan beberapa rumah peristirahatan. Keserakahan kota sudah menjamah keperawanan kampung halamannnya. Seorang pencari rumput kehilangan lahannya. Petani beralih profesi menjadi buruh. Sawahnya hilang, kehidupannya mengambang. Attar mengelus dada. Ia sadar apa yang mesti dilakukan.

T
Ia

URUN dari taksinya laki-laki bercelana jeans itu memasuki pekarangan rumah yang bersih. Seorang perempuan yang badannya sedikit lebih pendek dari dia menantinya didepan pintu dan menyambutnya

dengan tersenyum ceria. Ia kemudian memeluk erat lelaki itu. “Apa kabar sayang?” kata perempuan yang menyambut kedatangan lelaki itu. “Seperti yang kau lihat. Aku baik selalu” jawab lelaki itu. Perempuan itu membimbing kekasihnya masuk kedalam. Suasana dirumah itu sepi. Zulfikar melihat sekeliling rumah. “Kok sepi, Ayah sama Ibu kemana?” Tanya Zulfikar yang baru sampai dari Medan itu. “Ada saudara nikahan, jadi lagi pada disana semua, makanya sepi.” Jawab gadis yang sedang kuliah pada jurusan Tehnik sipil itu. menyediakan minuman untuk lelaki itu. “Bagaimana perjalananya?”

Titik balik

61 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Lancar” jawab Zulfikar. Ia pindah posisi duduk kesamping Asti kemudian melingkarkan tangannya, “As, apa tidak bisa dipertimbangkan lagi” “Aku tidak bisa Zul. Ayah sama ibu tak mungkin mengizinkan kalau aku harus tinggal di Medan” kata Asty. “Kalau kuliah kamu?” Tanya Zulfikar lagi “Itu juga tak mungkin. Kita tetep sama kesepakatan semula. Aku kelarin kuliah dulu, baru kita nikah dan tinggal di Jakarta” Jawab Asty. Zulfikar tetap keberatan. Ia ingin bisa menikahi Asty sekarang. Untuk tempat tinggal mungkin ia bisa kompromi sebab ia sedang merintis bisnis di Jakarta saat ini. “Kalau harus tinggal di Jakarta aku sudah tidak keberatan lagi tapi kalau harus nunggu selesai kuliah aku..” ia berhenti “Kenapa?” Tanya Asty, “Kamu keberatan?” Anak Medan itu tidak menjawabnya. Ia memandang Asty lekat-lekat. Mereka saling pandang. Zulfikar mulai tidak bisa mengendalikan dirinya. Asti melepaskan ciuman kekasihnya yang mulai tidak terkendali. Sambil memejamkan mata ia berbisik ditelinga Zulfikar, “Zul, kita belum nikah. Kamu harus sabar…..” Zulfikar mematung. Ia menegakkan kepalanya dan memandang Asty. Asti menganggukan kepalanya, perempuan itu seolah meyakinkan Zulfikar yang menatapnya dengan rasa kecewa. “Maafkan aku….” kata Asty kemudian. Zulfikar memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Ia pamit dan berlalu meninggalkan Asty. Ia kecewa walau ia semakin mencintai Asty.

A
62

TTAR sudah berada di Jakarta. Ia sedang membaca modul kuliahnya. Handphonenya bergetar. Ternyata Zulfikar “Aku ada perlu sama kau. Kau jangan kemana-mana ya, aku segera kesana. Masih tetap

ditempat yang dulu ‘kan?” Attar mendengar temannya berbicara dengan logat Medan yang kental. Sudah tiga tahun mereka berpisah. Setahun setelah lulus sekolah Zulfikar kembali ke Medan dan membantu bisnis

msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
orang tuanya sedangkan Attar tetap di Jakarta. Kini sahabatnya itu sedang mengembangkan usahanya sendiri di Jakarta. Gantian Attar yang bicara, “Aku sudah pindah” “Ah dimana rupanya kau sekarang tinggal?” “Aku kirim lewat sms. Kau tutup telponnya sekarang” “Aku lagi ada masalah. Bolehkan aku datang ketempat kau itu. Semoga kau tidak terganggu, aku butuh nasehatmu” “Tak usah ‘lah kau minta izin macam tu. Macam kita bukan sahabat saja kau ini” Attar tertawa telpon ditutup. Attar mengetikkan alamat dihandphonenya kemudian mengirimkannya pada Zulfikar, sahabatnya waktu di SMA dulu. Ia mulai membaca modulnya kembali. Tekadnya kini sudah bulat. Ia harus lulus kuliah dan menjadi guru yang baik dan berdedikasi tinggi. Ia akan mengajarkan kepada murid-muridnya nanti arti sebuah kejujuran, keberanian dan bagaimana menikmati perjuangan. Attar ingin murid-muridnya kuat seperti dia atau melebihi dia Pintu diketuk. Cepat sekali si Medan ini datang, pikirnya. Attar bangkit dan membuka pintu. Ternyata Azam dan Sopia yang datang. Mereka berdua tersenyum. Attar

mempersilahkan mereka masuk. “Bagaimana keadaan kakak?” Tanya Sopia “Sangat baik bahkan tidak pernah sebaik ini” jawab Attar sambil menyediakan mereka minuman. “Kakak lebih cepat datang dari rencana kakak. Apa kakak yakin sudah pulih benar?” kali ini Azam yang bertanya. “Kakak tidak pernah merasa sebaik ini. Dulu sebelum sakit kakak tidak merasakan ketenangan seperti ini. Rupanya melalui sakit kakak mendapat teguran. Allah masih sayang sama kakak agar kakak tidak tersesat terlalu jauh” kata Attar. “Sopi gak ngerti maksud kakak?” “Kak Leila” Attar menyebut nama perempuan yang kini sudah menjadi istri orang. Ia kembali mengingat semua hal yang pernah ia lewati yang kini sudah jadi kenangan. “Kakak terlalu mengharapkannya. Semua hal yang kakak lakukan demi meraih cinta kak Lala. Kakak sadar. Itu salah….” “Walau tidak sepenuhnya kak” potong Azam

63 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Attar tersenyum, “Ya. Kakak tahu. Allah juga yang menentukan jodoh seseorang. Kita hanya punya rencana dan takdirlah yang menentukan.” “Jadi sekarang bagaimana kak?” Tanya Sopia yang sudah paham apa yang dimaksud Attar. “Maksudmu?” “Apa yang akan kakak lakukan sekarang?” Attar menarik napas panjang “Sudah waktunya kakak sadar. Kalau kita melakukan sesuatu karena orang lain, mungkin kita akan ditinggalkan. Saat itu, semua hal yang kita perjuangankan lenyap dan tinggal derita yang menyertai kita. Tapi, kalau kita melakukan sesuatu karena Allah, Allah tak pernah meninggalkan kita” Attar berhenti sambil tersenyum simpul. Mereka berbincang ke pembicaraan yang lain. Setelah cukup merekapun pamit pulang. Attar beranjak dari tempat duduknya dan mulai merapikan buku-buku yang berserakan diatas kasur. Ia meletakkan buku-buku itu kembali ketempatnya. Dirak buku itu terdapat sekitar dua ratus judul buku dari yang tebal hingga yang super tipis dengan berbagai macam judul buku. Attar memiliki hobi membaca yang dahsyat. Dalam semalam ia bisa menyelesaikan buku setebal lima ratus halaman bahkan lebih. Ia menata buku-bukunya yang sudah berantakan. Memisahkan judul-judul buku dengan materinya yang sejenis. Rak pertama berisi novel-novel sastra dan kontemporer baik yang Islami maupun yang umum. Rabindranat Tagore, Kahlil Gibran, Ahmad Tohari, Ernes Hamingway, Luigi Pirandilo, JK Rowling, Najib Hailani, Pramudya Anantatoer, hingga Habiburrahman El-siraji ada disana. Rak kedua berisi buku-buku keagamaan. Disana ada bukubuku tebal dengan berbagai judul. Tafsir Al-Misbah karya Qurais Shihab volume I hingga V, Fikih Lima Mazhab, buku-buku Aid Alqorni, Perjalanan Sufi, Ahmad Didat, Ihya Ulumuddin, The road To Allah, Perjalanan spiritulnya Yusuf Mansyur, buku-buku Ari Ginanjar, Emha Ainun nadjib, karya-karya Abdullah Gymnastiar dan yang lainnya. Pada Rak disamping dan diatasnya kelihatan belum diatur. Banyak buku-buku pengembangan kepribadian baik dari Indonesia maupun barat. Dari luar negeri buku yang ia sukai ialah buku The Seven Habits Of Highly Efektif Peole, The True Of secret Water,

64 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Primal leadher ship, emotional intellegence, dan biografi Colin Powell. Di rak paling atas adalah buku-buku sejarah. Ia memiliki beberapa judul buku sejarah Islam, beberapa Negara seperti Jepang, Arab Saudi dan Amerika. Ada juga buku-buku karangan Husen Heikal tentang sejarah Nabi Muhammad dan para Sahabatnya dan buku-buku Bung karno dari yang bertemakan tentang Pancasila, biografi hingga buku Dibawah Bendera Revolusi. Buku-buku itu Attar perolah dari memaksakan diri untuk selalu membeli buku bila memiliki uang dan dari hadiah beberapa orang teman dan kenalannya. Ia merawat dan mengumpulkan bukubuku itu sejak ia SMA dulu. Terdengar suara klakson dari luar. Attar bergegas membuka pintu. Dari kamarnya diatas ia melihat ada sebuah Nissan Terano menanti dibukaan pintu. Pak Tono terlihat bergegas membukakan pintu gerbang setelah sebelumnya terlihat berbicara dengan seorang laki-laki yang menyetir mobil tersebut. Gerbang terbuka dan mobilpun masuk. Zulfikar keluar dari mobil. Ia melihat Attar diatas tersenyum melihatnya. Ia menaiki tangga, berbelok kekanan dan sampai dikamar Attar. “Apa kabar?” Tanya Attar “Seperti yang kau lihat.” jawab Zulfikar. “Ah dari dulu. Selalu saja jawaban kau sama ‘seperti yang kau lihat’” komantar Attar sambil menjabat tangan sahabatnya dan mengajaknya masuk. Zulfikar mengedarkan mata kesekeliling kamar Attar. Dikanannya ada satu unit komputer dengan kursi yang inovatif, “Kursi boleh juga ni”. Didepannya ada sebuah rak dengan berbagai macam buku, “Tak pernah berubah kau Tar. Kutu buku akan tetap jadi kutu buku. Cuma hati-hati nanti jadi kutu busuk kau” Zulfikar tertawa. Ia melihat-lihat koleksi buku Attar yang semakin banyak, “Juga selalu rapi dan bersih” katanya lagi saat membuka pintu kamar mandi dan melihatnya. Zulfikar tertawa. “Aku dengar kau ke Singapura?” Attar bertanya “Cuma sebulan aku disana. Kau sendiri kemana sebulan ini? Aku telpon tak nyambung-nyambung” Ia berhenti. “Ah bagaimana kerjaan?”

65 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Keluar” jawab Attar Zulfikar berhenti mengamati koleksi DVD Attar dan memandang sahabatnya itu, “Jadi tak kerja kau sekarang” “Secara resmi, iya” Attar kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya. “Memang harus seperti itu. Kita memang harus berani mengambil keputusan. Kan semua ada resikonya. Bisnis juga begitu. Hatus berani. Kalau terus-terusan jadi pengecut kita bisa diinjakinjak terus seperti bangsa kita ini, tak punya harga diri. Kalau kau ikut ke Singapur kemarin, wah alamat muntah kau. Disini banyak orang melarat terseok-seok eh pejabat-pejabat itu malah plesiran disana” kata Zulfikar. Attar mengangguk-angguk. Sahabatnya benarbenar berubah “Kalau begitu tepat sekali aku temui kau sekarang” kata Zulfikar kemudian setelah mendengar cerita Attar “Wah kelihatannya aku bakal dapat kerja ni?” “Seperti yang kau tahu aku sedang buka Restorant. Ini murni bisnis pribadi bukan punya bapakku. Aku butuh manajer untuk disana. Aku rasa kau orang yang tepat” kata Zulfikar Attar tak percaya, “Tak salah pilih kau Zul?” Zulfikar menatapnya dengan membelalakan mata, “Hah? Kau mau jadi guru?” ia melihat Attar mengangguk dengan mantap, “Tak salah dengar aku?” “Ah, masih saja kau seperti dulu. Aku punya alasan Tar. Disamping karena kita sahabat, sudah seharusnya ‘kan kita saling tolong, tapi, ini yang lebih penting,” Zulfikar memberi penekanan, “Aku tidak mungkin salah memilih orang. Aku butuh teman yang bisa aku percaya dan aku kira kau orang yang tepat” Zulfikar menatap Attar yang masih ragu, “Ayolah Tar! Aku tahu siapa kau. Setahuku, kau bukan orang yang mudah menyerah. Kau senang mencoba sesuatu yang baru dan aku yakin ini bukan pekerjaan sulit buat orang seperti kau” Attar tersenyum, “Kalau kau percaya, baiklah, Insya Allah” jawab Attar, “Lagi pula aku memang lagi butuh kerjaan. Kalau tidak kerja bisa berantakan lagi kuliahku dan bisa diusir aku dari tempat ini” “Kau pindah ke Jurusan apa sekarang?” “Pendidikan” jawab Attar

66 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Men, jadi guru itu prosfeknya cukup menjanjikan sekarang. Aku yakin sama pilihanku. Lagi pula guru itu ‘kan profesi yang paling mulia. Tanpa guru mana mungkin kau bisa seperti ini” Attar beralasan. “Ya terserahlah. Semoga kau bisa bagi waktu dengan baik nanti” Zulfikar mengambil salah satu foto, “Kau tahu Aku tidak suka dengan pegawai yang tidak disiplin” Attar tersenyum, “Ya, ya, ya. Itu salah satu hal yang paling membuat aku kaget. Seorang Fikar ternyata bisa berubah sedemikian dahsyat” Zulfikar tertawa, “Ada waktunya untuk kita memiliki titik balik dan perubahan. Aku memilih sebab takdir juga merupakan pilihan. Itu katamu kan.” Zulfikar tertawa “Aku baru tahu ternyata hidup dengan komitmen itu asik juga.” Zulfikar menatap foto yang dipegangnya, “Masih saja kau memujanya? Jangan kau terlalu larut, dia sudah dinikahi sibrengsek itu” Attar tersenyum, “Aku mencoba untuk merelakannya” “Ah rupanya kau sudah sadar betul. Dulu waktu kau pacaran sama si Amel, kau seperti orang gila. Aku pikir kau mau jadi orang gila untuk yang kedua kalinya ternyata sudah berubah rupanya kau” Zulfikar mengomentari. Attar tersenyum satire. “Asty bagaimana?” “Ah itu dia yang ingin kubicarakan. Dibuat kesal selalu aku olehnya. Masih saja seperti kemarin-kemarin Asty itu. Dia tidak mau kawin sama aku sebelum lulus kuliah” Kata Zulfikar kesal. “Ayahnya kali?” “Sama sajalah. Kalau Asty sedikit memaksa orang tuanya mungkin saja mereka mengizinkan” Zulfikar duduk bersila diatas permadani berwarna merah. Ia mengambil remot TV dan menyalakan televisi, “Aku kadang ragu Tar apa dia itu benar-benar cinta sama aku” “Jangan berpikir seperti itu. Itu ujian untuk orang yang mulai punya komitmen. Pernikahan itu ‘kan ada waktunya. Anak terlahir dari perut wanita itu ‘kan tak usah dipaksa. Kalau sudah waktunya lahir ya lahir juga. Sabarlah men.” Attar merebahkan diri dikasur, “Kenapa tak kau samakan saja Asty dengan bisnis kau itu” “Apa? Jangan bercanda kau Tar. Asty itu bukan komoditi bisnis. Dia itu cinta. Cintaku!”

67 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Attar tertawa, “Maksud ku Prinsipnya, jangan cepat menyerah and jangan terlalu banyak mengeluh ‘lah men” Zulfikar merasa senang. Ia tidak salah menunjuk seorang manajer “Kata-kata kau itu membuktikan kalau aku, tak salah pilih manajer. Tapi Asty, aduh dia sudah bikin aku gila” kata Zulfikar Attar mengingat bagaimana ia dulu memuja-muja Amel juga Leila “Men, Aku rasa kau sekarang tahu kenapa dulu aku dibilang gila karena mencintai seseorang” Ia tertawa. Zulfikar menaikan alis, “Sudah lah tak usah dibahas lagi tentang orang gila itu, aku sudah ngantuk.” “Kapan aku mulai kerja?” tanya Attar “Besok kau ikut aku melihat tempatnya” ia mendorong tubuh Attar, “Aku mau tidur bangunkan aku pagi-pagi ya. Aku mau sholat subuh” “Tak salah dengar aku?!, sejak kapan kau sholat subuh” Attar kaget tapi meledek Zulfikar menarik bantal dan melemparkannya ke arah Attar, “Bangsat kau!. Kan sudah aku bilang manusia itu ada titik baliknya” “Ya, ya. Aku senang mendengarnya”

Bara Api dan Derai Air mata

L
68

EILA duduk diruang tengah. Ia menantikan suaminya yang belum pulang padahal jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Sebentar-sebentar ia mengelus perutnya yang sudah semakin besar. Ia duduk diruang

tamu sendirian. Semakin gelisah, ia berdiri menuju jendela. Ia menatap pintu gerbang dari balik kaca setelah menyingkapkan tirai kaca. Tidak ada yang datang. Tidak ada suara mobil menderu. Ia kembali duduk, mengantuk, matanyapun terpejam. Terdengar suara bel berbunyi. Leila terbangun. Ia mengucek matanya yang perih dan membuka pintu. Jaka berdiri dihadapannya dengan wajah yang kusut. Jaka masuk tanpa memperdulikan istrinya yang cemas menanti. Ia melangkah menuju kamarnya. Bau minuman keras yang menyengat dari mulut Jaka hampir membuat Leila muntah.

msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Ka kamu udah makan?” Tanya Leila. Jaka seolah tak mendengar pertanyaan Leila. Lelaki itu terus melangkah dan membuka pintu kamarnya lalu merebahkan diri tanpa membuka sepatunya. Leila jengkel. Ia melangkah menuju kamar sambil memegang perutnya, “Mau sampai kapan kamu seperti ini? Aku tahu kamu sedang kesulitan tapi bukan berarti kamu harus bersikap seperti itu!” Jaka Satria mengambil sebuah bantal dan melemparkannya kewajah Leila. “Berisik! Aku mau istrirahat!” Leila tertegun. Sakit hatinya selalu dikasari. Ia mengucurkan air mata. Ia sudah terbiasa dengan kekasaran Jaka bahkan jauh sebelum mereka menikahpun Jaka sudah terbiasa bersikap kasar kepadanya. Yang ia bisa hanya menangis. Leila sadar bahwa betapa ia begitu lemah. Dengan derai air matanya Leila menuju meja makan. Ia membereskan semua makanan yang sudah dingin yang tadinya ia sediakan untuk suaminya itu. “Kenapa harus seperti ini. Apa salahku hingga menanggung beban seberat ini”. Leila mengelus perutnya yang semakin membesar. Hatinyapun ia rasa semakin perih. Apa yang terjadi pada dirinya ia sudah iklaskan. Ia menerima apa yang menjadi takdirnya. Ini sudah ketetapan Allah baginya, bagi dirinya yang lebih senang dianggap baik oleh orang walau hatinya selalu berteriak bahwa ia salah. Ia lebih senang melihat orang senang dengan pikiran dan pendapatnya. Ia paling tidak suka bertentangan. Ia lebih suka mengalah demi membuat senang orang lain. Kini ia sadar bahwa selama ini ia menjadi produk lingkungannya. Ia telah membiarkan dirinya dibentuk sudut pandang masyarakat. Ia menjadi korban. Salah siapa ini, ia bertanya. Ini salahku. Salahku. Aku lemah. Ia senang membuat bahagia orang lain sementara dirinya sendiri ia biarkan. Leila beranjak dari dapur. Ia mengambil wudhu dan menunaikan sholat Isya. Setelah selesai sholat ia memandang suaminya yang sudah tertidur pulas. Semenjak pekerjaannya bermasalah ia tak pernah melihat suaminya menunaikan sholat. Suaminya itu tak pernah menjadi imam baginya. “Ya Allah,” Leila merapal do’a, “Jika ini adalah hukuman bagi hambaMu. Hukuman atas segala kelalaian dan kealpaanku maka kuatkanlah aku ya Allah. Aku sadari kesalahanku ampuni aku

69 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
ya Allah. Sebagai seorang istri aku sangat berharap suamiku dapat menjadi imam bagiku dan anak yang akan Engkau titipkan kepada kami ini. Cukuplah kiranya kesalahanku ini aku yang menanggung. Jangan biarkan anak kami terlahir dalam keadaan keluarga kami yang kering akan keharmonisan. Ya Allah aku mohon jadikan keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah. Ampuni suamiku, beri ia petunjuk, berikan kami yang terbaik” Leila mengusap wajahnya. Bara api dan air mata menyatu dalam hatinya. Laila tertegun. Hatinya terus memanjatkan do’a-do’a kepada Allah agar ia dikuatkan. Ia memohon perlindungan, petunjuk dan ampunan. Air matanya yang menetes kala ia berdoa ia bersihkan. Ia bangkit dan kembali memandang suaminya. Ia melepaskan sepatu Jaka yang masih terpakai dikakinya dan juga melepaskan dasinya. Setelah selesai secara perlahan ia membentangkan selimut dan menutupi tubuh suaminya. Iapun merebahkan diri disamping suaminya tanpa mengisi perutnya. Ia sudah lupa bahwa ia sendiri belum mengisi perutnya. Ia kenyang saat suaminya datang dan memberinya makanan penderitaan dengan caci maki dan kekasaran. Kehiduoan tak lagi menjanjikan dalam hidupnya. Walaupun ia berdo’a ia tidak yakin kehidupannya akan berubah menjadi baik. Tiba-tiba ia mengingat Attar, ia rindu Attar yang penuh kelembutan dan penghormatan padanya. Kalau saja Attar yang menjadi suaminya, mungkin Attar akan mengimaminya sholat. Kalau ia pulang mungkin akan didapatinya senyuman lembuat dari suaminya yang santun. Mungkin, senadainya, ah kalau saja, jikalau…..Ia tersadar, segera ditepisnya imajenasi itu.

Lima bulan kemudian

A
70

TTAR mengendarai motornya menuju Restorant. Tadinya dari kampus ia langsung menuju tempat kerja namun diperjalanan ia membelokan motornya menuju ketempat kost. Ada yang ketinggalan.

msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Sampai ditempat kost dengan terburu-buru ia memasuki kamarnya dan mengambil berkas yang sudah ditutup rapi didalam amplop coklat. Ia menuruni tangga dan disana ada Pak Tono yang sedang menanti, “Mas tadi ada yang nyari?” “Siapa pak?” Tanya Attar “Waduh saya lupa tanya namanya” “Ciri-cirinya?” “Pake kerudung terus lagi hamil mas” Attar mengerutkan dahi. Siapa yang mencariku. Ia melihat jam. Waduh ia hampir telat. Hari ini Zulfikar ulang tahun. Kalau telat bisa repot aku, “Ya sudah makasih pak Tono ya. Saya sudah telat nih mau kerja” Attar pamit. Attar menstarter motornya. Handphonenya bergetar. Zulfikar menelpon, “Iya aku segera kesana. Ada berkas yang Asty tersenyum, “Tak apa-apa” Zulfikar menggandeng Asty untuk duduk disebelahnya, “Kamu bilang ada yang penting. Apaan sih?” “Aku sebelumnya minta maaf” Kata Asty dengan raut wajah yang serius. Zulfikar memandangnya, “Aku tak mau pacaran lagi sama kamu. Aku mau putus……” “Hah” Zulfikar terbelalak. Ia tak percaya dihari ulang tahunnya harus mendengar ini, ia berdiri “Ty kamu jangan konyol. Kalau aku ada salah kita bicarakan lah. Pasti ada jalan keluarnya. Lagi pula aku merasa tidak punya salah sama kau. Bagai badai saja kau bilang putus. Jangan lah kau bicara demikian. tak sanggup aku hidup tanpa kau Asty” Asty tetap memandang serius Zulfikar. Ia meyakinkan Zulfikar bahwa ia serius, “Aku serius, aku ingin putus, aku tak kuat lagi.” Asty menitikkan air mata Anak Medan itu gelisah “Bah macam mana ini. Tak bagaimana maksudmu? Ah Pasti ada sesuatu. Bicaralah…. katakan…..” Pinta Zulfikar memaksa dengan sedikit emosi.

A

ketinggalan jadi aku ambil dulu ke kost” Motor melaju. STY berada diruang kerja Zulfikar. Tak lama Zulfikar masuk keruang kerjanya. Asty tersenyum padanya. Zulfikar mengecup kening kekasihnya, “Sory nunggu lama”

71 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Ayah memintaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai anak aku harus menurut dan sudah kuputuskan aku akan memenuhi permintaan ayah” Kata Leila. “Ah, Ah, Jangan kau buat aku tambah bingung. Katakanlah apa yang diinginkan Ayahmu sampai-sampai kita harus putus segala” Zulfikar semakin tidak sabar. Asty tidak bereaksi, “Sia-sia saja penantian dan pengorbananku selama ini. Kau tahu apa yang aku inginkan selama ini, hanya kau. Sekarang kau malah mau kita putus. Bagaimana dengan rencana kita, bagaimana dengan mimpi kita Ty. Ba..bagaimana dengan aku. Kau tahu aku tak bisa hidup tanpa kau…….” “Tekad ku sudah bulat Zul. Aku minta Maaf. Ayah memaksaku. Aku juga sayang kamu tapi Aku tidak mau jadi anak durhaka ” Asty mulai menitikkan air mata. “Ah macam mana ini. Katakan saja, sudah lah jangan berbelit-belit. Aku paling tidak suka. Sekarang kau bilang apa yang dinginankan ayah kau itu sampai kau tega mau memutuskan hubungan kita. Setidaknya bila alasannya masuk akal aku tidak membencimu nanti…….” Zulfikar semakin emosi. “Ayah meminta…” Asty berhenti lagi ia seolah tak bisa meneruskan kata-katanya. Zulfikar terlihat semakin tidak sabar, “Ayah meminta,……..” Ia menatap kekasihnya itu, “…Kita segera menikah” Zulfikar merasakan segunung es menimpa tubuhnya yang sedang panas. Ia menatap wajah Asty yang kini tersenyum, “Kau…” Tiba-tiba pintu terbuka dan lagu selamat ulang tahun dinyanyikan oleh seluruh karyawan Restorant dipimpin oleh Attar. Zulfikar memeluk erat calon istrinya itu. “Jadi kalian sengaja mempermainkan aku ya. Bah apa kata dunia anak Medan dipermainkan” “Selamat ulang tahun ya sayang” ucap Asty penuh kemesraan. “Sebentar, Yang tadi itu serius kau?” Zulfikar ingin memastikan bahwa ia tidak dipermainkan. Asty mengangguk dengan mantap. Zulfikar tertawa, “Jadi kita kawin!” Asty mengangguk lagi sambil tersenyum. Zulfikar tertawa semakin kencang. “Potong kuenya dulu. Mesra-mesraannya nanti saja” Kata Attar yang telah menyiapkan kue diatas meja.

72 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Zulfikar menerima pisau dari salah satu karyawannya dan siap memotong kue. “Pak Zul, Tak punya permintaan dulu sebelum tiup lilinnya?” Tanya salah satu karyawatinya yang berambut pendek “Ah, kalau permintaan ku minta waktu sholat sama Allah bukan sama kue Tar. Macam aku ini orang jahiliyyah saja kau ini” Jawab Zulfikar. Sontak semua yang hadir tertawa. Zulfikar memberikan kue. Ia memberikan potongan kue pertama itu pada Attar bukan pada calon istrinya, “Kenapa ini kuberikan sama dia” Kata Zulfikar sambil menatap semua pegawainya, “Karena dia ini lah aku bisa bertahan dengan komitmenku pada dia” Ia menunjuk Asty, “Pada perempuan yang membuat aku selalu jatuh cinta,” Zulfikar menatap mesra Asty, “Pada perempuan yang selalu membuat aku gelisah. Awas nanti malam pengantin kau!” Mendengar kata yang terakhir ini, semua yang hadir tertawa meledak-ledak tak karuan. “Selamat men. Semoga panjang umur” kata Attar mengucapkan selamat. “Thanks juga” Jawab Zulfikar sambil memeluk sahabatanya itu, “Kalau bukan karena usaha kau, Restoran ini tak semaju sekarang”

R
73

IDWAN keluar dari biokop bersama seorang gadis. Mereka menuju kelantai bawah untuk mengisi perut disebuah restoran cepat saji.

“Aku mau beli sesuatu dulu kebawah. Kamu makan duluan aja” Kata Ridwan “Tapi jangan lama-lama ya wan” pinta Kipti Ridwan mengangguk sambil tersenyum. Ia pun meninggalkan Kiptiah sendiri.

msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Sampai didekat counter HP Ridwan tertegun. Ia menatap seseorang yang sepertinya dia kenal. Ia mendekat mencoba memastikan. Aku yakin, itu pasti dia. Ridwan melupakan tujuannya. Ia naik kembali kelantai dua. “Loh kok cepet banget sih wan” kata Kipti yang baru kelas dua SMA itu. “Iya barangnya lagi gak ada. Ya udah lah kita makan aja yuk” Ajak Ridwan. Ia masih memikirkan orang yang ditemuinya tadi. Masa dia sih. Jangan-jangan adiknya atau saudaranya. Tapi kok mesra begitu. “Kamu kenapa wan” Tanya Kipti “Oh gak apa-apa. Ini ni minumannya enggak manis” kata Iwan. “Masa sih” Kipti tidak percaya “Kamu coba aja” Ridwan menyodorkan minumannya. Maryatul Kiptiah mengambil minuman itu dan mencicipinya sedikit. “Manis! ah lidah kamu aja kali yang aneh” “Ah jangan becanda, masa lidah kita beda” Ridwan mencoba lagi minumannya, “Iya manis!” Ia menatap Kekasihnya “Eeem HANDPHONE bergetar disaku celana Attar. “Silahkan makanannya dinikmati” Attar meninggalkan pengunjung restorant. Ia mengangkat Hpnya, “Oh kamu Ada apa?” Attar mendengarkan Ridwan yang sedang memberikan informasi penting, “Kamu yakin itu dia” Ia diam lagi, “Ya sudah. Makasih ya” Telpon ditutup. Attar kembali kepekerjaannya. Soalnya udah kena bibir kamu kali, jadi terasa manis” kata Ridwan menggoda. Pipi Kipti memerah, “Ah kamu bisa aja.” Ia tersenyum, “Oh iya hubungan kamu dengan kak Attar itu seperti apa sih. Aku jadi pengen ketemu sama dia, kayanya dia itu istimewa banget buat kalian ya” Mendengar nama Attar disebuat Ridwan ingat kejadian yang tadi dilihatnya. Ia harus memberitahukan ini pada kakak angkatnya itu “Kamu bawa HP ‘kan” Kipti mengangguk, “Aku pinjem dulu, pulsaku habis. Ada yang penting” Kiptiah menyodorkan Hpnya. Ridwan mengambilnya, “Sebentar ya. Ini sedikit pribadi” Ridwan menyingkir dari Kipti, “Tenang urusan sama kak Attar bukan sama cewek lain” Ia tertawa

74 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Apa yang diinformasikan Ridwan membuat Attar gelisah. Ia hilang konsentrasi. Setelah menemui beberapa pelanggan dan memastikankan service restorantnya memusakan Attar berundur keruang kerjanya. Ia membuka pintu dan merebahkan diri diatas Sofa. Lewat ponsel Ridwan mengatakan bahwa dia melihat Jaka Satria sedang jalan bersama perempuan lain. Mereka terlihat mesra dan jelas itu bukan istri Jaka, bukan Leila sebab wanita itu tidak pakai kerudung. Tak mungkin Leila keluar tanpa kerudung. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa pening. Ia ingat kembali Leila. Kalau dihitung sejak pernikahnnya mungkin Leila sudah hamil sekarang. Hamil! Apa yang tadi datang ke tempat kost ku itu Leila, Attar menerka-nerka. Terdengar pintu diketuk. Zulfikar masuk membawa dua gelas minuman ringan. Ia menyodorkannya kepada Attar. Attar menerima minuman itu “Asty sudah pulang ?” “Barusan,” Kata Zulfikar, “Kenapa kau? Sakit?” Attar menggelangkan kepala, “Terus kenapa” Ada sesuatu yang terlintas dalam benak Zulfikar, “Ah aku tahu. Kau ingat sama Lala ya?” Attar memaksakan diri untuk tersenyum. Senyumannya secara tidak langsung justru membenarkan perkataan Zulfikar. Zulfikar mereguk sedikit minumannya, “Kau ‘kan sudah tahu Tar, Lala sudah kawin. Masih banyak perempun lain. Sudahlah jangan jadi orang gila lagi” “Bukan itu masalahnya Kar” Kata Attar “Terus apaan lagi?” “Aku belum yakin. Nanti kalau sudah yakin aku cerita” Jawab Attar. Zulfikar menatap sahabatnya itu, “Terserah kau lah itu. yang penting jangan sampai kau kembali kemasa lalu kau itu. Aku tak mau melihat kau jadi gila lagi” Zulfikar tertawa, “Lagi pula aku tak mau dihari yang bahagia ini kau malah sedih” Attar memandang sahabatnya itu, “Sorry men. Aku tak bermaksud” “Sudah lah jangan kau pikirkan lagi” Zulfikar menghabiskan minumannya, “Ah jadi bagaimana kuliah kau?” “Sebentar lagi sidang. Aku butuh bantuan kau sekali lagi bisa?” Attar melonggarkan dasi dan melepas jasnya

75 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Ah macam mana kau ini ini. Jangan kan sekali, sampai kau mati juga kalau mampu, pasti ‘lah aku tolong” Zulfikar berdiri. Ia meraih botol dan menuangkan minuman bersoda itu kegelasnya, “Kita ini kan sudah kaya saudara. Masa ada sih saudara yang tak mau menolong saudaranya. Eeee memang kau mau minta tolong apaan?” “Aku mau menerbitkan Novel. Sekarang tinggal endingnya aja. Aku lagi cari waktu yang tepat untuk ending ceritanya” Kata Attar “Itu masalah gampang. Kalau kau mau penerbit yang sudah terkenal juga bisa. Aku ada kenalan yang punya penerbitan. Tapi kalau kau mau aku yang menerbitkan aku juga tak keberatan. Ini kan juga bisnis” Jawab Zulfikar. “Thanks men. Kau memang sahabat terbaik ku”

Tabir yang terkuak

A

WAN-AWAN berarak menjelajah bumi. Seribu suara adzan terus berkumandang membelah kesunyian bumi memanggil hati terdalam manusia yang semakin terkubur. Matahari tak pernah enggan

untuk tersenyum memberi warna hati para musafir walau sering juga ia marah pada manusia-manusia tolol dan durhaka. Attar disibukan dengan persiapan kelulusannya. Tinggal beberapa langkah lagi namanya akan dibubuhi beberapa huruf penanda gelarnya. Ia tidak bangga dengan gelarnya namun dengan gelar itu setidaknya ia akan membuat umminya bangga. Baginyua gelar tidak berarti sama sekali bila tak dibarengi kualitas pribadi dan keilmuan. Ia bahagia sekali. Yang lebih berbahagia adalah Zulfikar. Ia sudah menikahi kekasih yang dipujanya, Asty. Perempuan itu sangat berarti bagi zulfikar. Ditengah keterpurukan dan kehancuran hidupnya Asty ‘lah yang selalu memompa semangat Zulfikar hingga kini ia bangkit dan sadar betapa sebenarnya ia memiliki segalanya kecuali kesyukuran.

76 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Zulfikar sadar ia kurang memiliki kesyukuran atas semua kelebihan yang dimiliki dirinya dan keluarganya. Ia sempat kuliah namun tidak serius. Ia hanya menghamburhamburkan uang. Bapakknya marah, dimintanya Zulfikar pulang ke Medan. Awalnya anak Bengal itu menolak namun setelah ATMnya dibekukan ia menyerah juga. pulanglah ia ke Medan. Setelah menikah Attar sempat iseng bertanya, “Bagaimana rasanya kawin?” Zulfikar yang ditanya sedikit mesem lalu berkata, “Ah menyesal aku kawin. Cuma 20 % enaknya yang 80 % Uenak banget” Attar tertawa. Penganten baru itu kini sedang berada di Bali untuk honeymoon. Diluar dugaan Attar, Azam dan Sopia ternyata memberi kejutan. Mereka sudah bertunangan dan berencana menikah sebelum kuliah mereka selesai, “Biar terhindar dari zina kak.” Kata Azam sambil tertawa “Lagi pula apa lagi yang kita pikirkan. Kontrakan banyak, kuliah sebentar lagi, bisnis bisa dibilang stabil. Kalau sudah mampu kenapa harus ditunda-tunda” Senyuman dan dukunganlah yang Attar berikan kepada keduanya. Mereka berdua sudah seperti adik Attar sendiri. Begitu dekat, terbuka dan sangat setia mendampingi perjuangan Attar. Sewaktu Attar punya waktu senggang ia menyempatkan diri berkunjung kesekolah tempat ia bekerja dulu. Diluar dugaan Attar, disana banyak terjadi perubahan. Kepala sekolah diganti. Attar disambut oleh beberapa temannya. Bahkan oleh Surahaman selaku kepala sekolah yang baru Attar ditawari untuk bekerja kembali ditempat itu. Dengan halus Attar menolak sebab ia sudah memiliki pekerjaan yang menguras pikiran dan tenaganya. Guru-guru yang sempat mengundurkan diri juga ditarik kembali. Dengan berbagai kesepakatan dan keberanian, akhirnya sekolah itu memulai sesuatu yang baru. Manajemennya lebih terbuka, job and deskriptionnya lebih detil dan jelas. Disiplin mulai ditegakkan. Kesejahteraan guru dan karyawan juga sudah mulai diperhatikan. Beberapa bulan lalu Attar dipecat kerena berani menasehati kepala sekolah yang sudah berusia kepala empat. Bukti-bukti penyelewengan dana sekolah yang ia pegang diserahkan kepada Pak

77 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Surahman. Oleh PNS itu data diamankan. Rencananya akan dibongkar setelah semua guru dan karyawan dapat dikoordinasi. Namun diluar dugaan, sebuah surat kaleng datang ke sekolah. Surat itu berisi ancaman akan membeberkan kasus-kasus korupsi yang dipraktekan kepala sekolah. Kalau mau berita itu ditutupi pimpinan harus mengundurkan diri. Kepala sekolah tidak gentar, ia bertahan. Ia tidak takut sama sekali. Sebab ia merasa tidak punya salah. Ternyata surat kaleng tersebut juga sampai kepada pimpinan Umum perguruan. Kiai gusar membaca ancaman dan beberapa bukti yang kini ditangannya. Disamping menyinggung sekolah surat kaleng itu juga mengancam pribadinya yang tidak pernah memperhatikan kesejahteraan guru-guru dan karyawan-karyawan yang bekerja dibawah pimpinannya dengan gaji yang mengenaskan. Khawatir kredibilitasnya hancur dan berita itu sampai dimedia massa maka Kiai segera membuat surat sakti. Isi surat tersebut adalah memberhentikan kepala sekolah yang terlalu arogan tersebut. Surahman menjadi calon kuat untuk menggantikan kepala sekolah yang telah dipecat. Semua guru mendukung dia. Dengan pasrah Pak Kiai mengangkatnya sebagai kepala sekolah. Tak dikira SEKARANG Attar ada di Sukabumi untuk menghandiri pernikahan sahabat kecilnya waktu di SD dulu itu. Saefullah adalah sahabat yang dikelasnyanya lumayan pintar tapi sayang sekolahnya tidak dilanjutkan. Mungkin karena biaya atau mungkin juga karena orang kampung yang memang belum menganggap sekolah itu penting. Lulus SD Saefullah sahabatnya meneruskan pendidikan di pesantren tradisional sebagai santri kalong. Attar duduk didepan rumah yang sedang menggelar hajatan. Suara lagu-lagu pernikahan dalam bahasa sunda menyentuh telinga para undangan. Tiada henti senyuman dan ucapan selamat terlontar dan menghunjam kedua mempelai dari para undangan. Attar duduk sambil menikmati kopinya. Ia menatap sahabatnya yang bahagia. Tiba-tiba dalam benaknya muncul begitu saja. Ia berandai bahwa yang bersanding disana itu adalah dirinya dengan Leila. Ah indah Surahman menolak. Ia mengajukan beberapa syarat kepada kiai sebelum menerima pengangkatannya. Pak Kiai yang hatinya bimbang setuju. Maka sejak saat itu sekolah telah berubah. Dari manakah surat kaleng tersebut? masih jadi misteri sampai saat ini.

78 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
sekali pikirnya. Lama ia memanjakan imajenasi khayalannya sampai pada saat terdengar ada suara memanggilnya, Attar menghentikan belaian mimpi sorenya. Pesta telah usai. Kedua pengantin menuju kamar kebesaran yang dibalut udara dingin pegunungan. Attar duduk diberanda rumah dimana didepannya nun jauh disana terhampar jutaan lampu yang bersinar dikaki bukit. Dari tempat tinggalnya yang berada didataran tinggi ia bisa melihat kejauh sana. Digunung sebelah barat dari tempat duduknya, ribuan lampu bersinar terang dari rumahrumah penduduk. Pikirannya terlempar kemasa lalu saat ia sering bermainmain di sungai yang airnya terasa dingin dan jernih. Ia tak pernah melakukannya kini. Ia terlalu sibuk dan lagi pula anak kampungnya sekarang sudah tidak lagi bermain seperti itu. Anak sekarang lebih senang main PS, sepeda dan motor-motoran. Tidak ada lagi yang bermain gepruk disawah, main panggal, gelatrik, enggrang, ucing rebon dan main benteng. Mereka tidak lagi bermain disawah sebab sawah kini telah hampir habis. Mereka menjualnya dengan harga murah dan menggantikannya dengan membeli motor atau untuk modal menikah. Jakarta yang serakah sudah memperkosa

keperawanan kampung halamannya. Jarang anak muda yang pergi kesawah dan bertani. Disamping sudah tidak punya sawah mereka lebih senang mencari pekerjaan lain. Pendidikan rendah, kerjaan susah, akhirnya mereka kebanyakan jadi tukang ojek. Ojeknya makin banyak, penumpangnya tak bertambah maka jadilah jalanan yang keropos itu arena tongkrongan. Pemuda dikampung tak lagi punya masa depan. Attar menyesalkan yang terjadi dikampungnya ini. Dalam lubuk hatinya berkobar semangat. Ia harus mengubah keadaan ini. Aku harus mengubah keadaan ini. Warga kampungku harus tahu pentingnya pendidikan formal bukan hanya pesantren tradisional, ini demi kesadaran akan kondisi ekonomi mereka yang mulai habis dan berantakan. Aku harus meningkatkan kesejahteraan warga ini. Ini tanggung jawabku. Kata Attar dalam hati. “Puntennya kang” Attar dikagetkan oleh suara seorang gadis yang berkerudung. Rupanya tetangganya yang baru pulang mengaji. “Eh neng Ai, tos ngaosnya. Mangga-mangga, sok” kata Attar mempersilahkan Aisah yang baru pulang mengaji untuk lewat.

79 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Ini yang tidak pernah ia temukan di kota besar. Mereka memang rata-rata miskin dan berpendidikan rendah tapi orang desa ini sangat sopan jauh lebih sopan dari para sarjana yang hidup di kota besar seperti Jakarta. Kenal atau tidak kenal mereka biasa bertegur sapa dan saling permisi. Sesama tetangga saling membantu dan saling menghargai. Jauh sekali dengan Jakarta dimana tetangga saja hampir tidak kita kenal. Diam-diam Attar merasa bangga dengan budaya desanya itu. Saling tolong, gotong royong, silaturahmi, kekeluargaan yang erat dan fanatisme beragama. Yang terakhir ini mungkin sedikit meanganggu pikiran Attar. Melihat Aisyah Attar kembali teringat Leila. Bagaimana kabarnya dia. sudah lama ia tak berjumpa dengan wanita itu. bahagiakah ia? Tapi kalau ia mengingat kabar dari Ridwan, Attar sedikit ragu apa Leila bahagia. Leila hanya mengelus dada sementara tangan kirinya LEILA tak habis pikir dengan sikap Jaka yang tidak berubah. Ia terus menjadi objek pelampiasan amarahnya. Usaha suaminya itu bangkrut, jatuh dan menanggung hutan yang besar. Jaka tidak bisa lagi mempertahankan bisnisnya. Bisnisnya ambruk karena ia beserta koleganya tidak menjalankan bisnis dengan moral dan etika. mengelus perutnya. Air matanya meleleh tiada henti membasahi dasternya. Ia terus menangis dan sesenggukan melihat dirinya yang tidak berdaya sama sekali, “Istigfar Ka, Istigfar.” “Alaaaah,” Jaka membanting pot bunga yang ada dihadapannya, “Istigfar-istigfar. Bisa kenyang perut kamu pake Pada akhirnya bisnis yang bertahan itu adalah bisnis yang dijalankan dengan moralitas dan kejujuran. Itu kata salah satu Direktur BUMN. Jaka Satria tidak menerima keadaan itu. Ia sering uringuringan dan selau kasar pada istrinya yang penyabar. Kesialan, itulah yang selalu Jaka katakan bila berhadapan dengan istrinya “Cukup! Aku tak mau lagi dengar ocehan kamu itu. Sholat katamu?” Amarah Jaka sudah diubun-ubun, “Sholat, Sholat. Apa itu sholat? Aku sudah sholat menuruti anjuran kamu tapi usahaku malah hancur. Dulu sebelum kita menikah usahaku baik-baik saja. Dulu sebelum kamu sholat dikamarku, usahaku selalu untung. Tapi sekarang! Setelah kamu datang dengan sholat mu itu, semua habis, semua ludes. Aku bangkrut”

80 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
istigfar? Kagak? Apa bisa bayar rumah sakit buat anak sundel diperutmu itu pake istigfar Hah ? Dasar perempuan pembawa sial!” “Cukup! Cukup-cukup” kali ini Leila tak dapat menahan amarahnya, “Ini memang anak sundel sebab bapaknya kamu, kamu yang sundel. Kamu bilang aku pembawa sial, bukan aku tapi kebejatan kamu yang membuat kamu selalu sial” Praak. Tangan Jaka mendarat dipipi Leila untuk kesekian ribu kalinya. Ia marah sekali “Sudah berani kamu sama aku ya, sudah pintar kamu ya?” Attar memegang kencang mulut Leila dengan tangan kirinya, “Siapa yang mengajari kamu kurang ajar sama suami? Siapa? Apa ibu kamu yang mengajari kamu jadi kurang ajar sama aku, hah. Ibu kami itukan guru..” Jaka mengangkat tangan kanannya untuk kembali menampar istrinya yang dianggapnya kurang ajar. “Kamu mau pukul aku lagi? Silahkan aku tidak takut. Aku sudah capek hidup bersama bajingan seperti kamu. Pukul aku. Ayo pukul aku kalau perlu bunuh aku sekalian, bunuh…..” kata Leila tidak gentar dalam berai air mata yang terus membuncah dari kedua kelopak matanya. Hatinya bergemuruh, setiap kekesalan yang sekian hah?” Darah segar menetes dari sudut bibir Leila, “Aku yang harusnya bertanya, memangnya siapa kamu sampai merasa memiliki hak menggagahi tubuhku” kata Leila sambil mengusap darah dibibirnya “Siapa kamu sampai kamu tega memukuli aku. Siapa kamu? Suami? Kamu bukan suamiku, kamu bajingan. Detik ini juga aku minta cerai” “Tanpa kamu mintapun aku akan menceraikan kamu. Sekarang pergi dari rumahku, pergi!” Jaka mengusir Leila. Malam itu ia keluar dari rumah Jaka. lama ia tahan terhadap suaminya itu tiba-tiba secara bergelombang memuncak membangkitkan amarah. Praaak. Tamparan mendarat kembali dipipi Leila, “Dasar perempuan tak tahu diuntung. Emangnya kamu pikir siapa kamu

S
81

EHABIS Sholat subuh Attar tidur kembali. Ia benar-benar beristirahat. Jam sepuluh ia baru bangun. Handphonenya ia matikan supaya tidak ada yang mengganggunya.

msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Ia bangkit dari tempat tidur. Rosi adik perempuannya sedang membaca buku, “Ih A’a mah baru bangun. A Hpnya mana? Oci pinjem dong, Hp Oci gak ada pulsanya” “Tuh ditempat tidur tapi mati. Kamu nyalain saja sendiri. A’a mau mandi dulu” Attar pergi kekamar mandi. Rosi meraih HP kakaknya itu dan mengaktifkannya. Banyak panggilan tak terjawab. Setelah selesai ia meletakkan Handphone itu diatas meja. Attar bernyanyi-nyanyi sambil mandi. Ia senang karena malam tadi bermimpi bertemu dengan Leila yang datang tersenyum manis menyambutnya penuh cinta. Attar sudah selesai mandi. Ia menuju kamarnya “ A banyak panggilan tak terjawab tuh” Attar meraih handphonenya. Ia memeriksa. Ternyata panggilan dari Sopia dan Azam. Panggilannya banyak sekali dari tadi malam. Ada apa ya. Ia mencoba menghubungi Sopia, “Sop ada apa?!!”, “Hah!”, “Kakak ke Jakarta sekarang. Dirumah sakit mana?”, “Oh, ya sudah kamu tunggu disana ya” Attar langsung pamit kepada umminya. Ia mengendarai mobil Zulfikar yang ditinggal bulan madu ke Bali seperti orang kesetanan. Pikiran Attar gelisah bukan main. Sopia memberi tahu bahwa Leila masuk rumah sakit. Leila tertabrak mobil saat hendak menyebrang jalan.

S
sabar ya”

OPIA dan Azam duduk di koridor depan kamar disebuah rumah sakit. Leila selamat dari masa kritis. Namun kandungannya tidak dapat diselamatkan. Ia juga harus menjalani operasi untuk mengeluarkan mayat

anaknya yang masih ada didalam rahimnya. Sekitar jam empat Attar baru sampai dirumah sakit. Leila sudah dipindahkan dari ruang ICU namun ia belum sadarkan diri karena pendarahan yang parah. Azam dan Sopia melihat kedatangan Attar. Azam merangkul Attar. “Kak Lala selamat, hanya kandungannya yang tidak bisa diselamatkan” Attar melihat ibunya Leila duduk termanggu berlinang air mata. Ia segera mendekati ibunya Leila. “Maafkan saya baru datang sekarang bu” Kata Attar. Wanita yang sudah dimakan usia itu hanya mengisakan suara tangisnya sambil memeluk abang Leila, “Ibu

82 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Kenapa nasib malang selalu menimpa Leila,” Kata Suryani meratapi nasib anaknya, “Dulu saat ibu melahirkan dia ayahnya meninggal. Setelah dewasa ia harus menikah dengan orang yang telah merenggut kehormatannya”. Attar seperti tersengat listrik mendengar kata-kata itu. Dadanya memanas. Ia lemas dan duduk duduk diatas lantai rumah sakit. Inikah sebabnya ia tidak sanggup memberi restu pernikahan Leila dengan Jaka. Inikah sebabnya ia tak sanggup memandang wajah Leila dihari pernikahannya dulu. Benarkan Leila dinodai oleh Jaka. Lala! Kenapa harus Lala. Suryani terus menceritakan nasib anak putri bontotnya. Matanya menerawang kedepan dengan tatapan kosong. “Demi nama baik kelurga dengan sangat terpaksa Leila yang sudah merasa dirinya kotor menikah dengan Jaka. Leila bilang ini demi nama baik keluarga” Suryani mengusap air matanya yang terus mengalir tanpa henti, “Dari dulu ibu tak pernah setuju Leila berhubungan dengan Jaka. Ibu punya firasat kalau anak itu tidak baik. Akhirnya firasat ibu benar. Jaka merenggut kehormatan Leila” Ia mengusap air matanya lagi, “Tidak sampai disitu. Leila bahkan harus menangung derita selama berumah tangga dengan bajingan itu” Attar merasakan dunianya kiamat dan bergoyang. Sopia menangis. Azam duduk terpaku sambil menenangkan Sopi Suryani melanjutkan ceritanya, “Bukan tidak sering tangan Jaka melukai Leila. Setiap mereka bertengkar tangan Jaka selalu mendarat diwajah Leila” Suryani menahan napasnya yang tersengalsengal. Antara sedih dengan amarah menyatu ditubuhnya yang sudah tua. Ia menangisi nasib anak kesayangannya, “Lebih dari itu, Jaka tidak hanya menyakiti tubuh Leila tapi hatinya juga. Jaka main perempuan lagi. Ibu tahu itu walau Leila selalu menutupinya. Ibu minta ia sebaiknya bercerai tapi Leila selalu menolak permintaan ibu. Ia selalu berharap suaminya akan berubah. Ia begitu tabah dan sabar” Tak dirasa, Attarpun melelehkan air mata. Kenapa Leila tidak cerita padanya. Suryani melanjutkan ceritanya, “Kabar terakhir yang ibu terima, Leila bilang bahwa ia mau minta cerai dari suaminya. Ibu bahagia sekali mendengar kabar itu tapi kini……” Suryani tak mampu bercerita lagi. Ia meratapi nasib anaknya. Ia menanngis menahan rasa sesal.

83 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Attar duduk disamping wanita yang telah melahirkan Leila. Ia menyandarkan punggungnya. Ia merasa seperti ditimpa segunung batu. Ia mematung tak bisa berpikir. Pikirannya kalut tak karuan. Ia sedih dengan nasib wanita yang dicintanya hingga saat ini. Seorang dokter datang menghampiri mereka, “Permisi, suaminya ibu Leila mana?” Suryani menatap dokter itu. Ia bingung harus mengatakan apa. Attar berdiri, “Saya dok” Dokter meminta Attar ikut dengannya. Diruang prakteknya Attar diminta menandatangani persetujuan untuk mengoperasi janin Leila yang harus segera diangkat dari rahimnya. Kecelakaan yang menimpa Leila sangat parah “Istri anda bisa selamat dari kecelakaan itu saja sudah luar biasa. Ini namanya mukjizat dari Tuhan” Komentar dokter “Anda harus tabah. Proses penyembuhan membutuhkan waktu sedikit lama. Jadi anda harus bersabar menunggu dapat anak lagi” Attar diam seribu bahasa. Ia bingung harus bagimana. “Minta maaf untuk apa La” Attar malah balik tanya, “Sekarang kamu jangan pikirkan apa-apa. Pokoknya kamu harus sehat. Kamu harus cepat sembuh. Aku akan selalu menunggui kamu disini sampai kamu sembuh dan bisa memulai kehidupan baru” “Tar makasih ya. Aku minta maaf” Kata Leila dengan suara sedikit lemah. duduk lagi” Attar menanda tangani surat persetujuan. Setelah itu ia keluar. Ia berjalan gontai menuju koridor dimana Suryani Azam, Sopia dan beberapa keluarga Leila sudah menanti. Operasi berjalan dengan lancar. Leila sudah siuman. Ia terbaring diatas tempat tidur disalah satu kamar. Attar ada disana disampingnya. Ia dengan setia menunggui Leila. Menenangkannya. Leila kelihatan sekali terpukul apalagi mendapati anaknya pergi sebelum sempat ia mendengar tangisnya saat turun ke bumi. “ini bukan berarti istri anda tidak bisa hamil lagi. kalau rahimnya sudah sembuh total, normal baru istri anda boleh hamil

84 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
“Aku takut………” Leila menangis “Ssssst, kamu jangan takut. Tidak ada yang bisa menyakiti kamu lagi. Aku ada disini. Aku akan menjaga kamu…..” Ia sudah resmi bercerai dengan Jaka. Keadaan ini sedikit membuatnya tenang. Mantan suaminya itu kini harus meringkuk ditahanan karena kasus penggelapan dana perusahaan ditambah kasus kekerasan dalam rumah tangga. Pasal berlapis yang menuntutnya membuat masa hukuman Jaka semakin panjang.

Sayapku tak pernah patah

T
baginya. masih setia

Untuk mengisi waktu dan melupakan semua peristiwa yang menimpanya, Leila kini mengajar disebuah TK Islam. Disana ia bercanda dan bernyanyi dengan anak-anak kecil yang lucu-lucu. Saat ia bersama mereka dan bersama celoteh yang luar biasa sekali dari murid-muridnya, Leila melupakan segalanya kecuali kesyukuran bahwa ia masih memiliki pilihan untuk melanjutkan cerita hidupnya dan ia diberi kekuatan untuk memilih dan menjalani itu. Ia harus memilih demi menjemput takdirnya. Ia tak mau terpuruk, ia harus membangun kembali ceritanya. Selalu ada jeda diantara aksi dan reaksi. Selalu ada jeda antara stimulus dan respon. Disana kita bisa memilih. Disana terletak perbedaan kita dengan binatang. Disana kita bisa memilih takdir. Itu yang dikatakan Attar padanya.

IGA BULAN kemudian. Leila berangsur pulih. Kini ia tinggal di dirumah kakaknya, Bekasi. Dari segi kesehatan badannya, Leila bisa dibilang sudah sehat namun kondisi psikologisnya masih dihantui trouma

yang membutuhkan proses panjang untuk kembali pulih. Leila harus merelakan anaknya yang meninggal didalam perutnya sebelum melihat dunia. Dari hati terdalamnya ia mengucap syukur. Mungkin ini yang terbaik baginya. Mungkin ini hukuman Dengan segala hal yang dilaluinya ia mencoba terus bangkit. Ia ingin kembali lagi kekehidupannya. Attar menguatkan itu. Attar mendukungnya, ada disampingnya, memberi perlindungan, rasa aman dan ketenangan padanya.

85 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Leila membuka halaman terakhir sebuah novel bersampul putih bercampur biru berjudul, “SAYAPKU TAK PERNAH PATAH” disana tertulis “Jika kamu melakukan sesuatu karena seseorang, bisa saja ia pergi meninggalkan kamu dan sia-sialah apa yang telah kamu lakukan, bahkan bisa jadi itu membuat kamu tak berdaya dan patah arang juga mungkin membuat kamu gila. Jangan jadi kekasihnya Kahlil Gibran yang sayapnya patah. Yang kematian memupuskan harapannya. Jadilah api yang bergelora. Kepakkan kembali sayapmu. Dunia baik-baik saja kalau engkau membuatnya baik. Dan berbuatlah karena pemilik cinta. Sebab sang pemilik cinta tak pernah meninggalkanmu. Ia malah selalu merindukanmu. Leila tersenyum. Leila menutup buku tersebut. Dicover depan tertulis nama pengarangnya, Muhammad Fariduddin Attar, orang yang dicintainya.

I

A MENGENAKAN jas hitam dengan dasi berwarna coklat tua bergaris-garis. Ia duduk diruang kerjanya. Malam sudah larut, Restorantnya yang semakin ramai membuat ia semakin semangat bekerja. Attar kemudian melepaskan jasnya dan

melemparkannya keatas kursi. Pintu diketuk, Zulfikar masuk dan tersenyum. “Kemajuan yang terjadi luar biasa” Kata Zulfikar sambil menghempaskan diri keatas sofa, “Aku tahu itu semua karena kau. Aku punya manajer yang bener-bener pekerja sejati ditambah, sekarang sudah jadi pengarang yang mulai diperhitungkan” “Kalau bukan karena kau, aku bukan apa-apa Zul” Attar merendah, “Selama ini kau yang banyak menolong bahkan sejak kita sekolah. Saat sulit kau kasih aku kerjaan. Dari kerjaan inilah aku bisa membantu keluarga ku dan meneruskan kuliah sampai aku sekarang bisa lulus” Attar yang baru diwisuda dua minggu lalu itu melepas dasinya, “Satu lagi. Tulisan gaku bisa dinikmati orang juga karena kau sudi menerbitkannya. Makasih banyak men” “Aku sekarang merasa punya kepuasan tersendiri saat melihat orang sukses.” Kata Zulfikar “Apalagi orang-orang yang ada disekitar ku. Terlebih dengan kau Tar, aku bukan cuma merasa

86 msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
puas tapi lebih dari itu. Karena kau dan juiga Astry hidup ku bisa bertahan dan lebih berarti. Secara tidak langsung kau sudah mengajari aku banyak hal terutama bagaimana menikmati hidup dan memperjuangakannya” Attar tersenyum tulus, “Sudah banyak kau bantu aku Zul jadi itu sudah sewajarnya sebagai sahabat. Kalau aku mampu terus terang aku juga pengen sekali-kali membantumu” Zulfikar tertawa, “Nah itu dia yang aku tunggu” Zulfikar duduk “Sekarang keadaan sudah berubah. Punya permintaan aku sama kau. Tapi kalau kau tak bisa itu tak masalah” “Jangan seperti terhadap orang lain lah kau ini. Ngomong saja. Tadi kan aku bilang kalau aku mampu aku pasti bantu, Insya Allah” Kata Attar “kaondisi kau sduah berbeda. Uang bukan lagi jadi masalah buat kau sekarang kan. Tapi aku berharap kau masih tetap jadi manajer disini” “Aku menikmati pekerjaan ini. Lagi pula, aku toh masih punya banyak waktu untuk menulis” Kata Attar, “Tenang aja…” “Terus rencana kau jadi guru bagaimana?” Zulfikar bertanya. “Lewat tulisan. Aku tetap seperti dulu. Ingin jadi pendidik walau tak menyandang status guru. Setidaknya lewat tulisan, aku bisa ikut berpartisipasi mencerdaskan bangsa kita. Dakwah dengan caraku sendiri. Dakwah dengan cara yang bisa diterima semua orang” Jawab Attar mantap. Zulfikar kagum dengan sahabatnya itu “Aku senang mendengarnya. Begini men, aku berencana mau buka cabang. Jadi siap-siaplah!” Kata Zulfikar. Attar tertawa, “Wah , ini bisa menyita waktu…..”

A
87

TTAR mengenakan Jeans dan kemaja putih. Ia duduk dimobilnya yang tengah diparkir disebuah sekolah TK Islam di daerah Bekasi. Ia melihat anakanak yang keluar dari sekolah TK. Suara mereka

tertawa begitu renyah tanpa beban dan pikiran. Mereka seperti kain putih yang siap menerima apapun. Anak-anak itu akan selalu bahagia. Tapi setelah dewasa kebahagiaan itu akan direnggut. Orang dewasa hidupnya tambah kompleks malah tambah sulit.

msibsn04@yahoo.com

THE CHOISE

Kang Idrus
Ia belum melihat Leila keluar dari TK tersebut. Attar tetap menantinya. Ia keluar dari mobil. Leila keluar gerbang. Ia tersenyum saat melihat ada seorang laki-laki yang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum lebar. Ia mengenakan celana jeans biru dan kemeja putih. Leila segera mendapatinya. “As-salamualaikum Bu guru” sapa Attar saat Leila datang padanya. “Wa’alaikum salam” Jawab Leila sambil tersenyum. Attar membukakan pintu mobilnya untuk Leila. Perempuan itu naik. Wajahnya semakin terlihat ceria. Ia seperti Dewi yang baru kembali. Seperti dulu, seperti Bintang Kejora. Mobil melaju, “Kita mau kemana Tar” Tanya Leila “Ke Jakarta, Ketemu ibu kamu” jawab Attar “Loh emangnya kenapa sama Ibu. Perasaan aku tidak minta pulang deh” Leila bingung. Attar tersenyum, “Kita ketemu ibu sekarang. Aku mau melamar kamu, hari ini juga” Jantung Leila berhenti berdetak. Ia menatap Attar seolah tak percaya. Sahabat yang menyukai novel ini diizinkan untuk mengkopi dan menyimpannya atau memberikan pada sahabat yang lain. Akan tetapi mohon maaf, novel ini tidak dizinkan untuk diperjual belikan. Jakarta, 30 Agustus 2007 Attar mengehntikan mobilnya sesaat. Ia balas menatap Leila “Aku tidak mau kehilangan kamu lagi La. Aku tak mau mengulangi kesalahanku dulu. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu dan aku tidak mau menunggu lagi, sedetikpun. Sudah saatnya kita bahagia” Leila tersenyum. Ia menengadahkan hatinya kelangit. Menjamah kesyukuran dan kebahagiaan. Kenapa begitu lama ia menunggu kebahagiaannya itu. Kenapa harus melalui berbagai cerita yang membuat ia pilu. Ah Allah pasti punya rencana. Allah lebih tahu yang terbaik baginya juga bagi Attar yang kini akan menjadi suaminya.

88 msibsn04@yahoo.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->