You are on page 1of 55

HIMPUNAN DAN

SISTEM BILANGAN
I Komang Adi Aswantara
Fall 2013
UT Korea
1
Definisi
• Himpunan (set) adalah kumpulan objek-objek
yang berbeda.

• Objek di dalam himpunan disebut elemen,
unsur, atau anggota.

• UT Korea adalah contoh sebuah himpunan, di
dalamnya berisi anggota berupa mahasiswa. Tiap
mahasiswa berbeda satu sama lain.
2
Cara Penyajian Himpunan
1. Enumerasi
Setiap anggota himpunan didaftarkan secara rinci.

Contoh 1.
- Himpunan empat bilangan asli pertama: A = {1, 2, 3, 4}.
- Himpunan lima bilangan genap positif pertama: B = {2, 4, 6, 8,
10}.
- C = {kucing, a, Amir, 10, paku}
- R = { a, b, {a, b, c}, {a, c} }
- C = {a, {a}, {{a}} }
- K = { {} }
- Himpunan 100 buah bilangan asli pertama: {1, 2, ..., 100 }
- Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {…, -2, -1, 0, 1, 2, …}.
3
Keanggotaan
x e A : x merupakan anggota himpunan A;
x e A : x bukan merupakan anggota himpunan A.

• Contoh 2.
• Misalkan: A = {1, 2, 3, 4}, R = { a, b, {a, b, c}, {a, c}
}, K = {{}}
• maka
3 e A
{a, b, c} e R
c e R
{} e K
{} e R
4
Contoh 3. Bila
P
1
= {a, b},
P
2
= { {a, b} },
P
3
= {{{a, b}}},
maka
a e P
1

a e P
2

P
1
e P
2

P
1
e P
3

P
2
e P
3

5
Simbol-Simbol Baku
P = himpunan bilangan bulat positif = { 1, 2, 3, ... }
N = himpunan bilangan alami (natural) = { 1, 2, ... }
Z = himpunan bilangan bulat = { ..., -2, -1, 0, 1, 2, ... }
Q = himpunan bilangan rasional
R = himpunan bilangan riil
C = himpunan bilangan kompleks

Himpunan yang universal: semesta, disimbolkan
dengan U.
Contoh: Misalkan U = {1, 2, 3, 4, 5} dan A adalah
himpunan bagian dari U, dengan A = {1, 3, 5}.

6
Notasi Pembentuk Himpunan
7
Notasi: { x ( syarat yang harus dipenuhi oleh x }


Contoh 4.
(i) A adalah himpunan bilangan bulat positif kecil dari 5
A = { x | x bilangan bulat positif lebih kecil dari 5}
atau A = { x | x e P, x < 5 }
yang ekivalen dengan A = {1, 2, 3, 4}

(ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil kuliah
IF2151}
Diagram Venn
Contoh 5.
Misalkan U = {1, 2, …, 7, 8},
A = {1, 2, 3, 5} dan B = {2, 5, 6, 8}.

Diagram Venn:


8
U
1
2
5
3 6
8
4
7
A B
Kardinalitas
Jumlah elemen di dalam A disebut kardinal dari himpunan
A.
Notasi: n(A) atau A

Contoh 6.
(i) B = { x | x merupakan bilangan prima lebih kecil dari 20
},
atau B = {2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19} maka |B| = 8
(ii) T = {kucing, a, Amir, 10, paku}, maka |T| = 5
(iii) A = {a, {a}, {{a}} }, maka |A| = 3
9
Himpunan kosong (null set)
10
- Himpunan dengan kardinal = 0 disebut himpunan kosong (null
set).
- Notasi : C atau {}

Contoh 7.
(i) E = { x | x < x }, maka n(E) = 0
(ii) P = { orang Indonesia yang pernah ke bulan }, maka n(P) = 0
(iii) A = {x | x adalah akar persamaan kuadrat x
2
+ 1 = 0 }, n(A) = 0

- himpunan {{ }} dapat juga ditulis sebagai {C}
- himpunan {{ }, {{ }}} dapat juga ditulis sebagai {C, {C}}
- {C} bukan himpunan kosong karena ia memuat satu elemen yaitu
himpunan kosong.
Himpunan Bagian (Subset)
11
- Himpunan A dikatakan himpunan bagian dari himpunan
B jika dan hanya jika setiap elemen A merupakan
elemen dari B.
- Dalam hal ini, B dikatakan superset dari A.
- Notasi: A _ B

- Diagram Venn:
U
A
B

12
Contoh 8.
(i) { 1, 2, 3} _ {1, 2, 3, 4, 5}
(ii) {1, 2, 3} _ {1, 2, 3}
(iii) N _ Z _ R _ C
(iv) Jika A = { (x, y) | x + y < 4, x >, y > 0 } dan
B = { (x, y) | 2x + y < 4, x > 0 dan y > 0 }, maka B _ A.


TEOREMA 1. Untuk sembarang himpunan A berlaku hal-hal
sebagai berikut:
(a) A adalah himpunan bagian dari A itu sendiri (yaitu, A _ A).
(b) Himpunan kosong merupakan himpunan bagian dari A ( C _
A).
(c) Jika A _ B dan B _ C, maka A _ C
13
- C _ A dan A _ A, maka C dan A disebut himpunan
bagian tak sebenarnya (improper subset) dari himpunan
A.

Contoh: A = {1, 2, 3}, maka {1, 2, 3} dan C adalah
improper subset dari A.
14
- A _ B berbeda dengan A c B
(i) A c B : A adalah himpunan bagian dari B tetapi A = B.
A adalah himpunan bagian sebenarnya (proper subset) dari B.
Contoh: {1} dan {2, 3} adalah proper subset dari {1, 2, 3}

(ii) A _ B : digunakan untuk menyatakan bahwa A adalah
himpunan bagian (subset) dari B yang memungkinkan A = B.
• Latihan
[LIP00] Misalkan A = {1, 2, 3} dan B = {1, 2, 3, 4,
5}. Tentukan semua kemungkinan himpunan C
sedemikian sehingga A c C dan C c B, yaitu A
adalah proper subset dari C dan C adalah proper
subset dari B.

15
Jawaban:
C harus mengandung semua elemen A = {1, 2, 3} dan
sekurang-kurangnya satu elemen dari B.

Dengan demikian, C = {1, 2, 3, 4} atau
C = {1, 2, 3, 5}.

C tidak boleh memuat 4 dan 5 sekaligus karena C adalah
proper subset dari B.
16
Himpunan yang Sama
17
- A = B jika dan hanya jika setiap elemen A merupakan
elemen B dan sebaliknya setiap elemen B merupakan
elemen A.
- A = B jika A adalah himpunan bagian dari B dan B
adalah himpunan bagian dari A. Jika tidak demikian,
maka A = B.

- Notasi : A = B ÷ A _ B dan B _ A
18
Contoh 9.
(i) Jika A = { 0, 1 } dan B = { x | x (x – 1) = 0 }, maka A = B
(ii) Jika A = { 3, 5, 8, 5 } dan B = {5, 3, 8 }, maka A = B
(iii) Jika A = { 3, 5, 8, 5 } dan B = {3, 8}, maka A = B

Untuk tiga buah himpunan, A, B, dan C berlaku aksioma
berikut:
(a) A = A, B = B, dan C = C
(b) jika A = B, maka B = A
(c) jika A = B dan B = C, maka A = C
Himpunan yang Ekivalen
19
- Himpunan A dikatakan ekivalen dengan himpunan B
jika dan hanya jika kardinal dari kedua himpunan
tersebut sama.

- Notasi : A ~ B ÷ |A| = |B|


Contoh 10.
Misalkan A = { 1, 3, 5, 7 } dan B = { a, b, c, d }, maka
A ~ B sebab |A| = |B| = 4
Himpunan Saling Lepas
20
- Dua himpunan A dan B dikatakan saling lepas (disjoint) jika keduanya
tidak memiliki elemen yang sama.

- Notasi : A // B

- Diagram Venn:
U
A
B


Contoh 11.
Jika A = { x | x e P, x < 8 } dan B = { 10, 20, 30, ... }, maka A // B.

Himpunan Kuasa
21
- Himpunan kuasa (power set) dari himpunan A adalah suatu himpunan
yang elemennya merupakan semua himpunan bagian dari A,
termasuk himpunan kosong dan himpunan A sendiri.

- Notasi : P(A) atau 2
A


- Jika |A| = m, maka |P(A)| = 2
m
.

Contoh 12.
Jika A = { 1, 2 }, maka P(A) = { C, { 1 }, { 2 }, { 1, 2 }}


Contoh 13.
Himpunan kuasa dari himpunan kosong adalah P(C) = {C}, dan
himpunan kuasa dari himpunan {C} adalah P({C}) = {C, {C}}.

Operasi Terhadap Himpunan
22
1. Irisan (intersection)

- Notasi : A · B = { x , x e A dan x e B }

Contoh 14.
(i) Jika A = {2, 4, 6, 8, 10} dan B = {4, 10, 14, 18}, maka A · B = {4, 10}
(ii) Jika A = { 3, 5, 9 } dan B = { -2, 6 }, maka A · B = C. Artinya: A // B

23
2. Gabungan (union)

- Notasi : A B = { x , x e A atau x e B }

Contoh 15.
(i) Jika A = { 2, 5, 8 } dan B = { 7, 5, 22 }, maka A B =
{ 2, 5, 7, 8, 22 }
(ii) A C = A
24
3. Komplemen (complement)

- Notasi : A = { x , x e U, x e A }


Contoh 16.
Misalkan U = { 1, 2, 3, ..., 9 },
(i) jika A = {1, 3, 7, 9}, maka A = {2, 4, 6, 8}
(ii) jika A = { x | x/2 e P, x < 9 }, maka A= { 1, 3, 5, 7, 9 }
25
Contoh 17. Misalkan:
A = himpunan semua mobil buatan dalam negeri
B = himpunan semua mobil impor
C = himpunan semua mobil yang dibuat sebelum tahun 1990
D = himpunan semua mobil yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta
E = himpunan semua mobil milik mahasiswa universitas tertentu

(i) “mobil mahasiswa di universitas ini produksi dalam negeri atau diimpor
dari luar negeri”  (E · A) (E · B) atau E · (A B)

(ii) “semua mobil produksi dalam negeri yang dibuat sebelum tahun 1990
yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta”  A · C · D

(iii) “semua mobil impor buatan setelah tahun 1990 mempunyai nilai jual
lebih dari Rp 100 juta”  B D C · ·
26
4. Selisih (difference)

- Notasi : A – B = { x , x e A dan x e B } = A ·
B




Contoh 18.
(i) Jika A = { 1, 2, 3, ..., 10 } dan B = { 2, 4, 6, 8, 10 }, maka A – B
= { 1, 3, 5, 7, 9 } dan B – A = C
(ii) {1, 3, 5} – {1, 2, 3} = {5}, tetapi {1, 2, 3} – {1, 3, 5} = {2}
Sistem Bilangan
• Ada beberapa sistem bilangan yang digunakan dalam
sistem digital. Yang paling umum adalah sistem bilangan
desimal, biner, oktal dan heksadesimal
• Sistem bilangan desimal merupakan sistem bilangan
yang paling familiar dengan kita karena berbagai
kemudahannya yang kita pergunakan sehari – hari.
Sistem Radiks Himpunan/elemen Digit Contoh
Desimal r=10
r=2
{0,1,2,3,4,5,6,7,8,9} 255
10

Biner {0,1} 11111111
2

Konversi

• Contoh:
• 1101
2
= 1×2
3
+ 1×2
2
+ 1×2
0
= 8 + 4 + 1 = 13
10




Konversi Bilangan Desimal ke Biner
• Konversi bilangan desimal bulat ke bilangan Biner:
Gunakan pembagian dgn 2 secara suksesif sampai
sisanya = 0. Sisa-sisa pembagian membentuk jawaban,
yaitu sisa yang pertama akan menjadi least significant
bit (LSB) dan sisa yang terakhir menjadi most significant
bit (MSB).

• Contoh: Konersi 179
10
ke biner:
• 179 / 2 = 89 sisa 1 (LSB)
• / 2 = 44 sisa 1
• / 2 = 22 sisa 0
• / 2 = 11 sisa 0
• / 2 = 5 sisa 1
• / 2 = 2 sisa 1
• / 2 = 1 sisa 0
• / 2 = 0 sisa 1 (MSB)
• ¬ 179
10
= 10110011
2

• MSB LSB

Bila dan adalah dua pernyataan matematika, maka
masing – masing pernyataan
( ) P x ( ) Q x
( ) ( ) ( ) ( ) < s , P x Q x P x Q x
( ) ( ) ( ) ( ) > > , P x Q x P x Q x
disebut pertidaksamaan dalam satu variabel (x)
Pertidaksamaan
Sebuah bilangan real disebut penyelesaian
dari sebuah pertidaksamaan bila substitusi
nilai itu pada variabel dalam
pertidaksamaan memberikan pernyataan
yang benar. Himpunan dari semua
penyelesaian sebuah pertidaksamaan
disebut himpunan penyelesaian. Dua
pertidaksamaan disebut ekuivalen bila
himpunan penyelesaiannya sama.
Misalkan a, b dan c bilangan – bilangan real
( ) < < < 1 Jika dan , maka a b b c a c
( ) < + < + 2 Jika , maka a b a c b c
( ) < < · > · 3 Jika dan 0, maka a b c a c b c
( ) < > · < · 4 Jika dan 0, maka a b c a c b c
Sifat – sifat di atas juga berlaku untuk tanda
s > > , dan
Misalkan a dan b bilangan – bilangan real
( ) · > > > < < 1 Jika 0 maka 0 dan 0, atau 0 dan 0 a b a b a b
( ) · < > < < > 2 Jika 0 maka 0 dan 0, atau 0 dan 0 a b a b a b
( )
1 2 3 7 x + >
( )
2 3 2 5 x ÷ s ÷
( )
3 3 5 13 x x + s ÷ +
Tentukan penyelesaian dari pertidaksamaan-
pertidaksamaan berikut
Contoh Soal 1

Hotel Ever Green Bogor,Agustusi 2006
Ary Surfyanto SSi
SMA Muhammadiyah 4, J akarta

3 2 3 3 7 x + ÷ > ÷
tambahkan – 3 pada kedua ruas
Himpunan Penyelesaian pada garis bilangan
Soal 1
2 3 7 x + >
2 4 x >
2 x >
2 4
2 2
x
>
kalikan kedua ruas dengan
1
2
2
Soal 2
3 2 5 x ÷ s ÷
2 8 x ÷ s ÷
4 x >
3 3 2 5 3 x ÷ s ÷ ÷ ÷
tambahkan – 3 pada kedua ruas
2 8
2 2
x ÷ ÷
s
÷ ÷
kalikan kedua ruas dengan
1
2
÷
4
Himpunan Penyelesaian pada garis bilangan
Soal 3
3 5 13 x x + s ÷ +
4 8 x s
2 x s
( ) ( )
5 5 3 5 13 x x x x + + s ÷ + + ÷ ÷
tambahkan x – 3 pada kedua ruas
4 8
2 2
x
s
kalikan kedua ruas dengan
1
2
Himpunan Penyelesaian pada garis bilangan
2
Tentukan penyelesaian dari pertidaksamaan-
pertidaksamaan berikut
( )
÷ + >
2
4 5 6 0 x x
( )
+ ÷ <
2
5 2 15 0 x x
Contoh Soal 2
÷ + >
2
5 6 0 x x
( )( )
÷ ÷ > 2 3 0 x x faktorkan
faktor tanda tanda tanda
negatif positif positif
negatif negatif positif
positif negatif positif
( )
÷2 x
( )
÷ 3 x
( )( )
÷ ÷ 2 3 x x
Himpunan penyelesaian s > 2 atau 3 x x
2 3
+ ÷ <
2
2 15 0 x x
( )( )
÷ + < 2 5 3 0 x x
faktorkan
faktor tanda tanda tanda
negatif positif positif
negatif negatif positif
positif negatif positif
( )
÷ 2 5 x
( )
+ 3 x
( )( )
÷ + 2 5 3 x x
÷3 5 2
Himpunan penyelesaian ÷ < < 3 5 2 x
Menentukan penyelesaian pertidaksamaan pecahan yang
memuat bentuk linear atau kuadrat
Misalkan a dan b bilangan – bilangan real, dan b=0
( )
> 1 0
a
b
( )
< 2 0
a
b
jika dan hanya jika a dan b keduanya positif
atau keduanya negatif (tandanya sama)
jika dan hanya jika a dan b tandanya berbeda
Tentukan penyelesaian dari pertidaksamaan-
pertidaksamaan berikut
( )
1
7 0
2
x
x
÷
<
+
( )
2
8 0
1
x
x
÷
>
+
( )
2
2
5 6
9 0
4 5
x x
x x
+ +
s
÷ ÷
1
0
2
x
x
÷
<
+
faktor tanda tanda tanda
negatif positif positif
negatif negatif positif
positif negatif positif
( )
1 x ÷
( )
2 x +
( )
( )
1
2
x
x
÷
+
Himpunan penyelesaian 2 1 x ÷ < <
faktor tanda tanda tanda
negatif positif positif
negatif negatif positif
positif negatif positif
( )
1 x +
( )
2 x ÷
( )
( )
2
1
x
x
÷
+
2
0
1
x
x
÷
>
+
Himpunan penyelesaian 1 2 x atau x < ÷ >
LATIHAN SOAL
Untuk x e { himpunan cacah }, himpunan penyelesaian
dari 3x – 5 > x + 3 adalah. . .
a. { 0, 1, 2, 3 }
b. { 0, 1, 2, 3, 4 }
c. { 4, 5, 6, 7, . . .}
d. { 5, 6, 7, 8, . . .}
Pembahasan:
x e { himpunan cacah },
Hp dari 3x – 5 > x + 3
3x – 5 > x + 3  pakai cara cepat
3x – x > 3 + 5
2x > 8
x > 4
jadi, himpunan penyelesaiannya :
= { 5, 6, 7, 8, . . .}
LATIHAN SOAL
Penyelesaian dari pertidaksamaan
⅔ ( 6 + 3x ) > 8, adalah. . . .
a. x > 2 b. x > 4
c. x < 2 d. x < 4
Pembahasan:
Penyelesaian ⅔ ( 6 + 3x ) > 8
⅔ ( 6 + 3x ) > 8  pakai cara cepat
4 + 2x > 8
2x > 8 - 4
2x > 4
x > 2
LATIHAN SOAL
Diketahui pertidaksamaan
13 – 2( y + 1) > ( y + 1 ) – 8.
Penyelesaian pertidaksamaan
tersebut adalah . . .
a. y > - 6 b. y < - 6
c. y > 6 d. y < 6
Pembahasan:
13 – 2( y + 1) > ( y + 1 ) – 8.
13 – 2y – 2 > y - 7
11 – 2y > y - 7
- 2y - y > - 7 - 11
- 3y > - 18
y < 6
LATIHAN SOAL
Sebuah persegi panjang memiliki panjang 5
cm lebih dari lebarnya dan kelilingnya tidak
lebih dari 38 cm. Jika lebarnya x cm, maka
batas-batas nilai x adalah . . .
a. 0 < x s 7 b. x s 7
c. x > 7 d. 7 s x s 9
Pembahasan:
• lebar ( l ) = x cm dan panjang
(p) = x + 5 cm
• p + l = ½ keliling.
• x + 5 + x s ½ ( 38 )
• 2x + 5 s 19
• 2x s 19 – 5
• 2x s 14
• x s 7