BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akhlak (akhlaq) diartikan sebagai tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama.

Akhlak adalah tabiat atau sifat seseorang, yakni keadaan jiwa yang terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angankan lagi. Etika bisa diartikan sebagai usaha dengan akal budinya untuk menyusun teori mengenai penyelenggaraan hidup yang baik. Dari dua pengertian di atas dapat dipahami bahwa sesungguhnya dibutuhkan kerelevan antara akhlak dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Akhlak dan etika juga harus diterapkan dalam segala bentuk aspek kehidupan termasuk dalam aspek berpakaian dan pergaulan. Zaman serba modern ini dengan perkembangan teknologi informasi mengenai cara berpakaian dapat mudah didapatkan mulai dari media elektronik, media internet maupun media cetak. Hal ini dapat mempengaruhi cara pandang manusia secara umum dalam berpakaian, begitu pula dengan cara manusia bergaul yang sering kali meniru tingkah dan sikap yang mereka lihat di media elektronik maupun media cetak. Hal ini memberikan pengaruh besar akan perubahan akhlak dan etika manusia terutama dalam berpakaian dan cara bergaul dengan lingkungan. Perubahan ini seringkali berdampak buruk untuk kehidupan manusia yang tentunya bertentangan dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam hal berpakaian yang baik dan benar serta tingkahlaku dalam pergaulan antar individu. Hendaknya manusia dapat berpakaian dan melakukan pergaulan sesuai dengan perintah Allah SAW seperti yang tercantum dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW dalam hadistnya. 1.2 Rumusan Masalah Dalam makalah ini akan di bahas mengenai:

1. Bagaimana pengertian akhlak dan etika dalam berpakaian dan pergaulan menurut perspektif Islam? 2. Bagaimana penerapan ajaran Islam mengenai akhlak dan etika berpakaian dan pergaulan di masyarakat masa kini? 1.3 Tujuan Makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai berikut: 1. Memberikan pengetahuan tentang akhlak dan etika dalam berpakaian dan pergaulan menurut pandangan Islam. 2. Menyadarkan masyarakat umum tentang keharusan berpakaian dan melakukan pergaulan sesuai perintah Allah SWT dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. 1.4 Batasan Masalah Untuk membatasi pembahasan dalam makalah ini: 1. Makalah ini hanya membahas masalah ahlaq dan etika mukmin dalam berpakaian dan pergaulan 2. Hanya menjelaskan secara umum ahlaq dan etika dalam berpakain dan pergaulan

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Akhlak Secara etimologi kata akhlak berasal dari bahasa Arab akhlaq (‫ )أخل(ق‬dalam bentuk jama’, sedang mufradnya adalah khuluq (‫)خللق‬. Selanjutnya makna akhlak secara etimologis akan dikupas lebih mendalam. Kata khuluq (bentuk mufrad dari akhlaq) ini berasal dari fi’il madhi khalaqa yang dapat mempunyai bermacam-macam arti tergantung pada mashdar yang digunakan. Ada beberapa kata Arab yang seakar dengan kata al-khuluq ini dengan perbedaan makna. Namun karena ada kesamaan akar kata, maka berbagai makna tersebut tetap saling berhubungan. Diantaranya adalah kata al-khalq artinya ciptaan. Dalam bahasa Arab kata al-khalq artinya

menciptakan sesuatu tanpa didahului oleh sebuah contoh, atau dengan kata lain menciptakan sesuatu dari tiada, dan yang bisa melakukan hal ini hanyalah Allah, sehingga hanya Allah lah yang berhak berpredikat Al-Khaliq atau Al-Khallaq sebagaimana yang diungkapkan dalam QS. al-Hasyr ayat 24 dan QS. Yasin ayat 81. Di samping itu masih ada arti lain yaitu, pertama mereka-reka/merekayasa, misalnya dalam QS. Al-Mu’minun ayat 14 diartikan Maha Suci Allah Sang Perekayasa yang terbaik, dan QS. AlAnkabut ayat 17 diartikan …dan kalian mereka-reka bohong. Kedua, al-din (agama) misalnya QS. Al-Nisa ayat 119 diartikan …maka mereka benarbenar merubah ciptaan (agama) Allah (yang berupa hukum-hukum-Nya).[2] Ketiga, rusak, misalnya ‫ أخلقه الثوب‬artinya memakaikan pakaian rusak.[3] Arti lain yang hampir mirip dengan al-khaliq adalah kata khalaqa yang artinya bergaul dengan orang lain, seperti ungkapan syair : ّ ‫خالق الناس بخلق حسن ÷ ل تكن كلبا على الناس يه‬ ‫ر‬ (Artinya : Pergaulilah orang lain dengan pergaulan yang baik, Jangan seperti anjing yang menggonggongi orang). Kemudian kata al-khalaq yang diartikan bagian yang baik, seperti disebutkan dalam al-Qur’an QS. Al-Baqarah ayat 102 ‫ وماله فى الخرة من خل(ق‬diartikan : Dan tidak ada baginya bagian yang baik di akhirat (nanti). Arti-arti di atas mempunyai konsekuensi logis dalam penggunaan kata alkhuluq yang diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.[4] Sehingga dapat dijelaskan al-khuluq (budi pekerti) mengandung segi-segi penyesuaian dengan makna di atas. Oleh karena itu, al-khuluq itu sifatnya diciptakan oleh si pelaku itu sendiri, dan ini bisa bernilai baik (hasan) dan buruk (qabih) tergantung pada sifat perbuatan itu. Kemudian al-khuluq itu bisa dianggap baik dengan syarat memenuhi aturan-aturan agama. Sifat alkhuluq itu tidak hanya mengacu pada pola hubungan kepada Allah, namun juga mengacu pada pola hubungan dengan sesama manusia serta makhluk lainnya. Bila khuluq seseorang itu baik maka ia akan mendapatkan kebaikan (kebahagiaan) di akhirat nanti. Selanjutnya kata al-khuluq ini juga mengandung segi-segi penyesuaian dengan perkataan al-khalq yang berarti ciptaan serta erat hubungannya

Sementara itu dari sudut terminologi (istilah). dan bila yang muncul dari sifat itu perbuatan-perbuatan buruk maka disebut akhlak yang buruk. Pengertian di atas memberikan pemahaman bahwa al-khuluq disebut sebagai kondisi atau sifat yang terpatri dan meresap dalam jiwa. sehingga si pelaku perbuatan melakukan sesuatu itu secara sepontan dan mudah tanpa dibuatbuat.dengan kata al-Khaliq yang berarti pencipta. dan perkataan makhluq yang berarti yang diciptakan. Sifat yang telah meresap dan terpatri dalam jiwa itu juga disyaratkan dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan lagi. Sehingga pola-pola hubungan ini menjadi pembahasan ruang lingkup akhlak. Ibnu Maskawih memberikan definisi senada mengenai istilah khuluq sebagai berikut : 6] ‫]الخلق حال للنفس داعية لهاإلى أفعالها من غير فكر ورؤية‬ . ada banyak pendapat yang mengemukakan istilah akhlak. maka bukanlah orang tersebut dianggap dermawan sebagai pantulan kepribadiannya. karena seandaianya ada orang yang mendermakan hartanya dalam keadaan yang jarang sekali untuk dilakukan (mungkin karena terpaksa atau mencari muka). Inilah ciri khusus kata akhlak dalam bahasa Arab yang digunakan untuk menyebut perangai manusia dalam kajian bahasa (etimologi). Maka bila sifat itu memunculkan perbuatan baik dan terpuji menurut akal dan syariat maka sifat itu disebut akhlak yang baik. Perumusan pengertian tersebut timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluk dan antara makhluk dengan makhluk lainnya. Diantaranya adalah yang dikemukakan AlGhazali [5] : ‫فالخلق عبارة عن هيئة فلي النفلس راسلخة عللن تصلدرالفعال بسللهولة ويسلرمن غيرحاجللة إلللى فكلر‬ ‫فان كانت إلهيئة بحيث تصدرعنها الفعال الجميلللة المحمللودة عقل وشللرعا سللميت تلللك الهيئللة‬،‫ورؤية‬ ‫خلقا حسنا وإن كان الصادرعنها الفعال القبيحة سميت تلك الهيئة التى هى المصدر خلقا سيئا‬ Artinya : Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

maka akan terbentuk pula pola yang baku. Dengan demikian. atau tertawa berlebihan hanya karena suatu hal yang biasa saja. Di mana Zakki Mubarak menegaskan bahwa arti . melainkan secara langsung melakukan tindakan yang sering dilaksanakan tersebut. Yang dimaksud dengan ‘adah (‫ )علللادة‬ialah perbuatan yang dilakukan berdasarkan kecenderungan hati yang selalu diulang-ulang tanpa pemikiran dan pertimbangan yang rumit. dapat dikatakan bahwa akhlak merupakan manifestasi iman. tercipta melalui kebiasaan atau latihan. Dijelaskan pula oleh Ibnu Maskawaih bahwa keadaan gerak jiwa tersebut meliputi dua hal. seperti adanya orang yang mudah marah hanya karena masalah yang sangat sepele. Apabila iradah sering terjadi pada diri seseorang. namun kemudian menjadi karakter yang melekat tanpa dipertimbangkan dan dipikirkan masak-masak. Oleh karena itu secara singkat Ahmad Amin menyatakan: 7] ‫]الخلق عادة الرادة‬ Artinya: Khuluq ialah membiasakan kehendak. Yang kedua. dan ihsan yang merupakan refleksi sifat dan jiwa secara spontan yang terpola pada diri seseorang sehingga dapat melahirkan perilaku secara konsisten dan tidak tergantung pada pertimbangan berdasar interes tertentu. sedangkan yang melakukan dengan iradah ( ‫ )الرادة‬ialah menangnya keinginan untuk melakukan sesuatu setelah mengalami kebimbangan untuk menetapkan pilihan terbaik diantara beberapa alternatif. Sifat dan jiwa yang melekat dalam diri seseorang menjadi pribadi yang utuh dan menyatu dalam diri orang tersebut sehingga akhirnya tercermin melalui tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari bahkan menjadi adat kebiasaan. atau sedih berlebihan hanya karena mendengar berita yang tidak terlalu memprihatinkan. Definisi yang terakhir ini mendukung dua definisi di atas dengan penjelasan secara rinci tentang pembiasaan kehendak.Artinya: Khuluq ialah keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pemikiran. alamiah dan bertolak dari watak. Pada awalnya keadaan tersebut terjadi karena dipertimbangkan dan dipikirkan. Islam. Yang pertama. sehingga selanjutnya tidak perlu membuat pertimbangan-pertimbangan lagi.

telah mengajarkan kepada pemeluknya tntang bagaimana tata cara berpakaian.1. bentuk akhlak berpakaian. dermawan dan sebagainya. Pengertian Akhlak Berpakaian .[8] Kembali pada masalah akhlak yang dibatasi sebagai suatu kondisi atau sifat yang tertanam dalam jiwa manusia. berwatak buruk. tetapi berpakaian sebagai ibadah untuk mendapatkan ridha Allah. ada yang berwatak baik. Memang harus diakui bahwa manusia dilahirkan dengan membawa seperangkat watak. seperti pemarah. baik itu tujuan sementara ataupun tujuan yang akan datang. pemberani. Berikut ini akan dikupas pengertian etika dan moral. nilai positif berpakaian dan cara membiasakan diri berpakaian sesuai ajaran Islam.kehendak itu adalah sesuatu yang membangkitkan hati pada apa yang ia ketahui yang sesuai dengan tujuan. berikut ini akan dijelaskan pengertian adab berpakaian. Watak-watak tersebut turut menentulan bentuk akhlak seseorang di samping faktor pembiasaan dan latihan tadi. Untuk memberikan gambaran yang jelas tntang adab berpakaian dalam Islam. mudah risau. penakut. yakni istilah etika dan moral. Dalam pembahasan tentang akhlak sering muncul beberapa istilah yang bersinonim dengan akhlak. Keadaan atau sifat ini bisa merupakan watak atau pembawaan sejak lahir. 2. Berpakaian menurut Islam tidak hanya sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap orang. dan ada pula yang berwatak di antara baik dan buruk.1 Ahklak Dalam Berpakaian Pakaian sebagai kebutuhan dasar bagi setiap orang dalam berbagai zaman dan keadaan. Oleh karena itu setiap orang muslim wajib berpakaian sesuai dengan ketentuan yang ditetap Allah. Islam sebagai ajaran yang sempurna. dan biasanya merupakan hasil pembiasaan atau latihan yang kadang-kadang sumber asalnya dengan mempertimbangkan dan berpikir tentang perbuatan yang akn dilakukan kemudian berlangsung terus menerus sehingga sedikit demi sedikit sifat itu meresap dalam jiwa dan menjadi akhlak.

Pakaian (jawa : sandang) adalah kebutuhan pokok bagi setiap orang sesuai dengan situasi dan kondisi dimana seorang berada. . Standar pakaian seperti ini dalam perkembangannya telah melahirkan kebudayaan berpakaian bersahaja sopan dan santun serta menghindarkan manusia dari gangguan dan eksploitasi aurat.Rahman. jubah ataupun yang lain). Tujuan bersifat khusus artinya pakaian yang dikenakan lebih berorientasi pada nilai keindahan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi pemakaian. 2008 : 30). sarung. dan bagi pria menutup di bawah lutut dan di atas pusar. pakaian untuk menutupi auot tubuh sebagai realisasi dai perintah Allah bagi wanita seluruh tubuhnya kecuali tangan dan wajah. (Roli A. surban dan lain sebagainya. pakaian adalah segala sesuatu yang dikenakan seseoang dalam bebagai ukuran dan modenya berupa (baju. Khamzah. yang disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya untuk suatu tujuan yang bersifat khusus ataupun umum. Dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonsia. Dalam Bahasa Arab pakaian disebut dengan kata "Libaasun-tsiyaabun". Bentuk Akhlak Berpakaian Dalam pandangan Islam pakaian dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk yaitu : pertama. celana. Sedangkan yang kdua. baik menurut kepatutan adat ataupun agama. kerudung. Menurut kepatutan adat berarti sesuai mode ataupun batasan ukuran untuk mengenakan pakaian yang berlaku dalam suatu wilayah hukum adat yang berlaku. Tujuan bersifat umum lebih berorientasi pada keperluan untuk menutup ataupun melindungi bagian tubuh yang perlu ditutup atau dilindungi. guna melindungi tubuh dari semua kemungkinan yang merusak ataupun yang menimbulkan rasa sakit. Sedangkan menurut ketentuan agama lebih mengarah pada keperluan menutup aurat sesuai ketentuan hukum syari'at dengan tujuan untuk berribadah dan mencari ridho Allah. selendang. celana. Secara istilah. sarung. pakaian diartikan sebagai "barang apa yang biasa dipakai oleh seorang baik berupa baju. jaket. jubah. dan M. Pakaian memiliki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan seorang.

kebaya) dan pakaian wanita bagian luar yang menutupi semua tubuhnya seperti halnya mantel. Pakaian yang berfungsi menutup aurat pada wanita diknal dengan istilah jilbab. jas panjang.pakaian merupakan perhiasan yang menyatakan identitas diri sebagai konsekuensi perkmbangan peradaban manusia. Karena itu setiap orang beriman baik pria atau pun wanita memiliki kewajiban untuk berpakaian yang menutup aurat. . maka setiap manusia memiliki kebebasan untuk mengekspresikan keinginan mengembangkan bebagai mode pakaian menurut fungsi dan momentumnya namun dalam agama harus tetap pada nilai-nilai dan koridor yang telah digaiskan dalam Islam. Dengan pengertian seperti itu selendang yang masih mmperlihatkan sebagian rambut atau leher tidaklah dinamai jilbab. Berpakaian dalam pengertian untuk menutup aurat. baik ukuran aurat yang harus ditutup atau pun jenis pakaian yang digunakan untuk menutupnya. sesuai dengan adaptasi dan tradisi dalam berpakaian. leher. dalam bahasa sehari-hari jilbab mengangkut segala macam jenis selendang atau kerudung yang menutupi kepala (kecuali muka). Dalam kamus Bahasa Arab. terutama ibadah shalat atau pun haji dan umrah. Dalam kaitannya dengan pakaian sebagai pehiasan. Nilai keindahan dan kekhasan berpakaian menjadi tuntutan yang terus dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman. Al-Mu'jam al-Wasith. Dengan pengertian seperti itu jilbab bisa diartikan dengan busana muslimah dalam hal ini secara khusus berarti selendang atau kerudung yang berfungsi menutupi aurat. Bepakaian yang menutup aurat juga menjadi bagian intgral dalam menjalankan ibadah. jilbab di samping dipahami dalam arti di atas juga digunakan secara umum untuk segala jenis pakaian yang dalam (gamis. merupakan kebutuhan manusia untuk menjaga dan mengaktualisasikan dirinya menurut tuntutan perkembangan zaman. dalam Syari'at Islam mempunyai ketentuan yang jelas. punggung dan dada wanita. Sedangkan pakaian yang berfungsi sebagai perhiasan yang menyatakan identitas diri. long dress.

panas zat kimia dan lain-lain. Tidak menyerupai pakaian laki-laki 3. Sehingga bila hendak menjalankan shalat dan seyogyanya pakaian yang kita pakai itu adalah . Dalam pengertian bahwa pakaian tersebut dapat memenuhi hajat tujuan berpakaian. tangan dan lutut ke bawah). Rahman. Tetapi dengan maharim yang boleh terlihat hanyalah aurat kecil (leher ke atas. akan tetapi harus dapat menjaga kesehatan lapisan terluar dari tubuh kita.Karena itu hanya muka dan telapak tangan yang boleh diperlihatkan kepada umum. Tidak jarang dan ketat 2. penyinaran kuman-kuman. Busana muslimah haruslah memenuhi kriteria berikut ini : 1. Dalam kaitannya dengan penggunaan bahan. karena memudahkan terjadinya penguapan keringat. Selain itu haram diperrlihatkan kecuali kepada beberapa orang masuk kategori mahram atau maharim dan tentu saja kepada suaminya. penyakit kanker kulit dan lain-lain. Pantas dan sederhana (Roli A. dan untuk menjaga suhu kestabilan tubuh agar tetap normal. bakteri ataupun semua unsur yang merugikan bagi kesehatan tubuh manusia. Khamzah. indah dan bagus. maka pakaian ini menjadi sangat penting. yaitu menutupi aurat dan keindahan. Antara suami istri tidak ada batasan aurat sama sekali secara fiqih. hendaknya pakaian terbuat darri bahan yang dapat menyerap keringat seperti katun. Pakaian harus bersih dan secara rutin dicuci setelah dipakai supaya terbebas dari kuman. Kulit befungsi sebagai pelindung dari krusakan-kerusakan fisik karena gesekan. yang tidak hanya berfungsi sebagai menutup auat dan hiasan. sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pancaran radiasi sinar ultra violet akan dapat menimbulkan terbakarnya kulit. dan M. Agama Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar berpakaian yang baik. 2008 : 30) Nilai Positif Akhlak Berpakaian Setiap muslim diwajibkan untuk memakai pakaian. Tidak menyerupai busana khusus non-muslim 4. Di daerah tropis dimana pancaran sinar ultra violet begitu kuat.

berpakaian secara wajar. pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid makan. َ‫ي ِن‬ ‫ن‬ ْ‫ف ا‬ ِ‫ر ى‬ ِ‫س ى‬ ْ‫م ا‬ ُ‫ل ْو‬ ْ‫ب ا ا‬ ُّ ‫ح‬ ِ‫ي ى‬ ُ‫ل ْو‬ َ‫ ِن‬. pilihan warna dan mode akan selalu berubah sesuai dengan perkembangan peradaban umat manusia. Hal ini sesuai fiman Allah dalam Surat al-A'raf/7 : 31. minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Terutama apabila kita akan melakukan ibadah shalat.S Al-A'raf/7 : 31) Islam mengajak manusia untuk hidup secaa wajar. 2008 : 32) Membiasakan Akhlak Berpakaian Merujuk pada realita di lapangan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (Q. Karena itu apapun model busanya. Karena itu pakaian yang dikenakan setiap orang pada zaman modern cukup beragam baik bahan ataupun modenya. Rahman. maka seyogyanya pakaian yang kita pakai itu adalah pakaian yang baik dan bersih Islam mengajak manusia . Jenis pakaian yang dikenakan setiap orang mencerminkan identitas seorang sesuai dengan tingkat peradaban yang berkembang. misalnya masalah warna dan mode. maka haruslah dapat mengantarkan menjadi hamba Allah yang bertaqwa (Roli A. sesuai dengan kemampuan masingmasing. makan minum juga jangan kurang dan jangan berlebihan. manusia dalam berbagai tingkat statifikasi dan levelnya tetap akan mengenakan pakaian sebagai kebutuhan untuk melindungi diri ataupun memperelok diri. yaitu menutupi aurat dan keindahan. Agama Islam memerintahkan pemeluknya agar berpakaian yang baik dan bagus. Khamzah. Halhal yang tidak diatur oleh Al-Qur'an dan Sunnah diserahkan kepada pilihan masing-masing.‫ه‬ ُ‫ن ْو‬ َّ‫ا ه‬ ِ‫وا ج ى‬ ْ‫ف ا‬ ُ‫ر ْو‬ ِ‫س ى‬ ْ‫ت ا‬ ُ‫ل ْو‬ َ‫و ِن‬ َ‫بوا ِن‬ ُ‫ر ْو‬ َ‫ش ِن‬ ْ‫وا ا‬ َ‫وا ِن‬ ْ‫ل ا‬ ُ‫كْو‬ ُ‫و ْو‬ َ‫د ِن‬ ٍ ‫ج و‬ ِ‫س ى‬ ْ‫م ا‬ َ‫ِل ِن‬ ّ ‫ك َم‬ ُ‫د ْو‬ َ‫ن ِن‬ ْ‫ع ا‬ ِ‫م ى‬ ْ‫ك ا‬ ُ‫ت ْو‬ َ‫ن ِن‬ َ‫ي ِن‬ ْ‫ز ا‬ ِ‫وا ى‬ ْ‫ذ ا‬ ُ‫خ ْو‬ ُ‫م ْو‬ َ‫د ِن‬ َ‫أ ِن‬ َ‫نى ِن‬ ِ‫ب ى‬ َ‫ي ِن‬ َ‫ِن‬ Artinya : "Hak anak Adam. dan M. Ketentuan dan kriteria busana muslimah menurut Al-Qur'an dan Sunnah memang lebih ketat dibanding ketentuan berbusana untuk kaum pria.pakaian yang baik dan bersih (bukan berarti mewah). Dalam pengertian bahwa pakaian tersebut dapat memenuhi hajat tujuan berpakaian. Keduanya menyangkut selera dan budaya.

Tidak dibenarkan seorang muslim atau muslimah memakai busana hanya berdasarkan kesenangan. Berhias dalam Bahasa Arab disebut dengan kata "Zayyana-yazayyini (QS. Rahman. Seorang muslim atau muslimah diwajibkan untuk memakai busana sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam aturan. membiasakan akhlak berhias dalam kehidupan sehari-hari. Berhias dalam ajaran Islam sebagai ibadah yang berorientasi untuk mndapatkan ridha Allah. tingkat sosial di masyarakat. pengetian akhlak berhias. Pengetian Akhlak Berhias Dalam kehidupan masyarakat dewasa ini (modern). dan M. berpakaian secara wajar. Khamzah 2008 : 32) 2). AKHLAK BERHIAS Berhias adalah naluri yang dimiliki oleh setiap manusia. nilai positif akhlak berhias. Berhias adalah bentuk ekspesi personal. baik di lingkungan rumah ataupun di luar rumah. Islam telah menggariskan aturan-aturan yang jelas dalam berpakaian yang harus ditaati yakni dalam apa yang disebut etika berbusana. mode atau adat yang berlaku di suatu masyarakat. bentuk akhlak berhias. tentunya sesuai dengan nilai Islam. berhias adalah kebutuhan dasar untuk memperindah penampilan diri. AlNisa') 'Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Karena sesungguhnya hanya orang munafiq. Untuk memberikan uraian yang lebih detail tentang akhlak berhias. Berhias telah menjadi kebutuhan dasar manusia sesuai dengan tingkat peradaban. yang suka meninggalkan ketentuan berpakaian yang sudah diatur agama yang diyakini kebenarannya. yang menegaskan jati diri dan menajdi kebanggaan seseorang. makan minum juga jangan kurang dan jangan berlebihan. berikut akan dibahas tentang . berhias diarttikan : "Usaha memperelok diri dengan pakaian ataupun lainnya yang indahindah. berdandan dengan dandanan yang indah dan menarik" . sementara batasanbatasan yang sudah ditentukan agama ditinggalkan.untuk hidup secara wajar. (Roli A. akibat mereka yang mengabaikan ketentuan akan mendapatkan azab di hadapan Allah kelak di akhirat.

Berdasarkan ilustrasi di atas. tetapi mencakup keseluruhan piranti (alat) aksesoris yang lazim digunakan untuk mempercantik diri. Berhias dalam ajaran Islam tidak sebatas pada penggunaan pakaian. anting-anting. arloji. Mengenakan pakaian merupakan salah satu bentuk berhias yang diperintahkan. maka dapat dipahami pada pada hakekat berhias itu dapat dikategorikan akhlak terpuji. Muslim) Adapun tujuan berhias untuk memperindah diri sehingga lebih memantapkan pelakunya menjadi insane yang lebih baik (muttaqin). Al-A'raf : 31). Di samping itu dalam kehidupan modern.Secara istilah berhias dapat dimaknai sebagai upaya setiap orang untuk memperindah diri dengan berbagai busana. sebagai perbuatan yang dibolehkan bahkan dianjurkan. (QS. dan M. berhias juga . mode pakaian ataupun berdandan mmperoleh perhatian lebih besar. mulai dari kalung. (Roli A. Bentuk Akhlak Berhias Berhias merupakan perbuatan yang diperintahkan ajaran Islam. Jilbab. tetapi juga busana yang memperelok pemakainya. Mode jilbab dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan. Dalam sebuah Hadist Nabi saw bersabda : ‫ل )رواه مسلم‬ ِ‫ما ى‬ َ‫ج ِن‬ َ‫ل ِن‬ ْ‫ب ا ا‬ ُّ ‫ح‬ ِ‫ي ى‬ ُ‫و ْو‬ َ‫ِل ِن‬ ٌ ‫ي و‬ ْ‫م ا‬ ِ‫ج ى‬ َ‫هلل ِن‬ َ‫ن ا ِن‬ َّ‫إ ه‬ ِ‫) ى‬ Artinya : Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan (HR. dalam konteks ini. selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Pada masyarakat yang sudah maju peradabannya. gelang. Jilbab bukan hanya sebagai penutup aurat. Rahman. Pakaian dalam Islam memiliki fungsi hiasan yaitu untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak sekadar membutuhkan pakaian penutup aurat. sehingga memunculkan kesan indah bagi yang menyaksikan serta menambah rasa percaya diri penampilan untuk suatu tujuan tertentu. bross dan lainnya. asesoris ataupun yang lain dan dapat memperindah diri bagi pemakainya. Khamzah. 2008 : 33). namun juga memberikan keelokan dan keindahan bagi pemakainya untuk mempercantik dirinya. menjalankan fungsinya sebagai hiasan bagi para muslimah.

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu. Sebab seringkali naluri manusia berubah menjadi nafsu liar yang menyesatkan dan akan menimbulkan bencana bagi kehidupan manusia. yaitu berhias hanya untuk beribadah. Agama Islam telah memberikan rambu-rambu yang tegas agar setiap muslim mengindahkan kaidah berhias yang meliputi : 1. hai ahlul bait (1217)dan membersihkan kamu sebersihbesihnya. Dalam berhias tidak dibenarkan menggunakan bahan-bahan yang dilarang agama 3.mencakup penggunaan bahan ataupun alat tertentu untuk melengkapi dandanan dan penampilan mulai dari bedak. wewangian dan sejenisnya. (QS. Niat yang lurus. 2. sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah berikut : ‫هللل‬ َ‫ن ا ِن‬ َ‫عل ِن‬ ْ‫ط ا‬ ِ‫أ ى‬ َ‫وِن‬ َ‫ة ِن‬ َ‫كلو ِن‬ َ‫ز ِن‬ َّ‫ن ال ه‬ َ‫يل ِن‬ ْ‫ت ا‬ ِ‫أ ى‬ َ‫وِن‬ َ‫ة ِن‬ َ‫لو ِن‬ َ‫صلِن‬ َّ‫ن ال ه‬ َ‫مل ِن‬ ْ‫ق ا‬ ِ‫أ ى‬ َ‫وِن‬ َ‫ى ِن‬ َ‫ولل ِن‬ ْ‫ل ا‬ ُ‫ا ْو‬ ْ‫ة ا‬ ِ‫يل ى‬ َّ‫ل ه‬ ِ‫ه ى‬ ِ‫ج ى‬ َ‫ال ِن‬ ْ‫ج ا‬ َ‫ر ِن‬ ُّ ‫بل‬ َ‫ت ِن‬ َ‫ن ِن‬ َ‫جل ِن‬ ْ‫ر ا‬ َّ‫ب ه‬ َ‫ت ِن‬ َ‫ل ِن‬ َ‫و ِن‬ َ‫ن ِن‬ َّ‫ك ه‬ ُ‫ت ْو‬ ِ‫و ى‬ ْ‫يل ا‬ ُ‫ب ْو‬ ُ‫فلى ْو‬ ِ‫ن ى‬ َ‫ر ِن‬ ْ‫ق ا‬ َ‫و ِن‬ َ‫ِن‬ 23) ‫را‬ ً‫ي ا‬ ْ‫ه ا‬ ِ‫ط ى‬ ْ‫ت ا‬ َ‫م ِن‬ ْ‫ك ا‬ ُ‫ر ْو‬ َ‫ه ِن‬ ّ ‫ط َم‬ َ‫ي ِن‬ ُ‫و ْو‬ َ‫ت ِن‬ ِ‫ي ى‬ ْ‫ب ا‬ َ‫ل ِن‬ ْ‫ِل ا ا‬ َ‫ه ِن‬ ْ‫أ ا‬ َ‫س ِن‬ َ‫ج ِن‬ ْ‫ر ا‬ ّ ‫م ال َم‬ ُ‫ك ْو‬ ُ‫ن ْو‬ ْ‫ع ا‬ َ‫ب ِن‬ َ‫ه ِن‬ ِ‫ذ ى‬ ْ‫ي ا‬ ُ‫ل ْو‬ ِ‫هلل ى‬ ُ‫د ا ْو‬ ُ‫ي ْو‬ ْ‫ر ا‬ ِ‫ي ى‬ ُ‫ما ْو‬ َ‫ن ِن‬ َّ‫إ ه‬ ِ‫ه ج ى‬ ُ‫ل ْو‬ َ‫وِن‬ ْ‫س ا‬ ُ‫ر ْو‬ َ‫و ِن‬ َ‫) ِن‬ 33. Dilarang berhias seperti cara berhiasnya orang-orang jahiliyah 6. artinya segala bentuk kegiatan berhias diorientasikan sebagai bentuk nyata bersyukur atas nikmat dan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasulnya. Agama Islam memberi batasan dalam etika berhias. Dilarang berhias dengan menggunakan simbol-simbol non muslim (salib dll) 4. Al-ahzab/33 : 33) . make-up. semir rambut. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu (1215) dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (1216) dan dirikanlah shalat. Dilarang berhias untuk keperluan berfoya-foya atau pun riya' Islam telah memberikan batasan-batasan yang jelas agar manusia tidak tertimpa bencana karena nalurinya yang cenderung mengikuti hawa nafsunya. parfum. Berhias menurut kelaziman dan kepatutan dengan memperhatikan jenis kelamin 7. Tidak berlebih-lebihan 5.

Ajaran Islam bukannya hanya mengatur hubungan vertikal manusia (hablum minallah). 2008 : 34) Nilai Positif Akhlak Berhias Islam adalah agama yang sempurna.(1215) Maksudnya : istri-istri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'. Berangkat dari pengalaman sejarah masa lalu. (1216) yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum Nabi Muhammad saw dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah jahiliyah kemaksiatan. Rahman dan M. Khamzah. Karena itulah antara lain Islam dikatakan sebagai yang sempurna. seorang muslim atau muslimah dalam berhias hanya mementingkan mode atau adat yang . maka seorang muslim harus berhatihati dalam berhias. tidur. yang mengatur manusia dalam segala aspeknya. sampai bagaimana cara mengabdi kepada sang khalik. Islam menggariskan aturan-aturan yang harus ditaati yakni dalam apa yang disebut etika berhias (berdandan). (1217) Ahlul bait disini. Perintah ini juga meliputi segenap mukminat. agar mereka tidak berpenampilan (tabarruj)seperti orang-orang jahiliyah zaman Nabi dahulu. maka akan terjebak dalam perangkat setan. Tujuannya tentu saja untuk menjebak manusia agar menjadi sahabat setianya. Dalam masalah berhias. secara khusus ditujukan kepada wanita-wanita muslimah. Ketauhilah bahwa setan memasang perangkap di setiap sudut kehidupan manusa. minum. yang terjadi sesudah datangnya Islam. Sebab jika seorang muslim sembarangan dalam berhias. Tidak boleh misalnya. tetapi juga hubungan horizontal dengan sesamanya (hablum minannas). Islam mengajarkan kepada manusia mulai dari bagaimana cara makan. (Roli A. yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah saw Larangan Allah dalam ayat tersebut di atas. Seorang muslim atau muslimah dituntut untuk berhias sesuai dengan apa yang digariskan dalam aturan.

Sehingga apa yang sudah dilakukan akan mnajdi motivasi untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sesamanya. Ketika Adam dan Hawa masih tinggal di surga. Berhias secara Islami akan memberikan pengaruh positif dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak mnimbulkan keangkuhan dan kesombongan karena dandanan (hiasan) yang dikenakan. Seorang muslim ataupun muslimah yang berhias (berdandan) sesuai ketentuan Islam. Setan membujuk mereka untuk menampakkan auratnya dengan cara merayu mereka untuk memakan buah khuldi. dapat kita telusuri melalui kisah manusia pertama sebelum diturunkan di bumi. akan menjadi jalan untuk mendapatkan barokah dan pahala dari alKholik. Adapun bentuk perangkap setan dalam hal berhias. Di samping itu dengan dandannya yang telah mendapatkan jaminan halal secara hukum. Namun sebaliknya apabila seseorang dalam berhias (berdandan) mengabaikan norma Islam maka segala hal yang dilakukan dalam berdandan. Mereka telah menampilkan diri sebagai sosok pribadi yang bersahaja dan berwibawa sebagai cermin diri yang konsisten dalam berhias secara syar'i. sementara batasan-batasan yang sudah ditentukan agama ditinggalkan. karena keangkuhan dan kesombongan merupakan perangkap syaithon yang harus dihindari. karena berhias yang dilakukan diniatkan sebagai ibadah. maka segala aktivitas berhias yang dilakukan seorang muslim. setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya.berlaku di suatu masyarakat. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata : "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini. melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi . maka sesungguhnya telah menegaskan jati dirinya sebagai mukmin ataupun muslim. akan menjadi pendorong untuk melakukan kemaksiatan kemungkaran bahkan menjadi sarana memasuki perangkap syaithon yang menyesatkan.

Kedua. Nilai keindahan dan kekhasan dalam berhias menjadi tuntutan yang terus dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman. 2008 : 35) Membiasakan Akhlak Berhias Sejak awal agama Islam telah menanamkan kesadaran akan kewajiban pemeluknya untuk menjaga sopan santun dalam kaitannya dengan berhias ataupun berdandan. Khamzah. yaitu mempercantik atau memperelok diri dengan dandanan yang baik dan indah. dan M. makan. kita dapat mengambil dua pelajaran. Dalam kaitannya dengan kegiatan berhias atau berdandan. maka seyogyanya perhiasan yang kita pakai itu haruslah yang baik. bagus. Hal ini sesuai firman Allah :" Hak anak Adam. Ahman. minumlah. pertama. Adam dan Hawa diusir dari surga karena terjebak pada perangkap setan. Al-a'raf /7:20). Berhias merupakan kebutuhan manusia untuk menjaga dan mengaktualisasikan dirinya menurut tuntutan perkembangan zaman. maka derajat mereka turun dengan drastis. Dalam Islam diperintahkan untuk berhias yang baik. dan indah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Begitulah siapapun yang mau dijebak setan akan mengalami nasib yang sama. perhiasan tersebut dapat memenuhi hajat tujuan berhias. bersih dan indah (bukan berarti mewah). dan janganlah . karena mewah itu sudah memasuki wilayah berlebihan. dengan cara menentukan bahan. maka setiap manusia memiliki kebebasan untuk mengekspresikan keinginan mengembangkan berbagai model menurut fungsi dan momentumnya.malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)" (QS. bentukm ukuran dan batasan aurat baik bagi pria ataupun wanita. Dari peristiwa Adam dan Hawa tersebut. sehingga berhias dapat menyatakan identitas diri seseorang. Dalam pengertian bahwa. pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. ide membuka aurat adalan idenya setan yang selalu hadir dalam lintasan pikiran manusia. (Roli A. Terutama apabila kita akan melakukan ibadah shalat.

dia selalu sabar dan ikhlas untuk menyuapi aku. berhias secara lazim. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. asal usul dan agama yang dipeluk oleh pengemis-pengemis tersebut. Islam menempatkan akhlak dalam kedudukan yang tinggi karena akhlak adalah sebagai bukti . dia harus memiliki akhlak yang baik karena akhlak bisa digunakan sebagai cermin keimanan dalam diri seorang muslim. Seketika itu.berlebih-lebihan. Rahman. Suatu ketika. Pengemis tersebut berkata bahwa orang sebelum Abu Bakar. (Q. Rasul bertemu dengan seorang pengemis buta yang beragama yahudi. 2008 : 36). Khamzah. tidak angkuh. salah satunya adalah Akhlak. tetapi tetap sederhana dan penuh kebersahajaan sebagai wujud konsistensi terhadap ajaran Islam. (Roli A. Islam mengajak manusia untuk hidup secara wajar. berpakaian secara wajar. Setelah Rasulullah meninggal. Kebiasaan tersebut terus dilakukan oleh Rasul sampai beliau meninggal. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita di atas. Abu Bakar terkejut karena pengemis yang selalu diberi makan oleh Rasul tau bahwa dia bukan orang yang setiap hari memberinya makan. dan M. Rasul hanya diam dan terus memberi makan pengemis buta tersebut. kebiasaan tersebut diteruskan oleh Abu Bakar yang saat itu menjadi mertua Rasul. Sebagai orang yang mengaku muslim. tidak menyombongkan diri. Mendengar ucapan pengemis tersebut.1. Mendengar hal tersebut. Ketika memberi makanan. pengemis buta itu menagis dan langsung masuk islam”. Karena itu setiap pribadi menyakinkan.2 Akhlak Dalam Pergaulan Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan untuk memberikan makanan kepada pengemis. beliau tidak pernah membeda-bedakan latar belakang. 2. Pengemis tersebut selalu menasehati Rasul untuk untuk tidak mempercayai adanya Nabi Muhammad SAW.S. al-A'raf/7:31). jangan kurang dan jangan berlebihan. Abu Bakar menangis dan menjelaskan bahwa selama ini orang yang setiap hari pengemis buta itu caci maki dan hina adalah Nabi Muhammad.

3. pasti imannya baik dan begitu juga sebaliknya. Akhlak Kepada Rasul Maksud dari akhlak kepada Rasul yaitu kita harus meneladani dan mencontoh semua sifat dan akhlak baik yang dimiliki oles Rasul. Akhlak kepada yang Lebih Tua . Jangan sampai kita menyekutukan Allah karena Allah sangat membenci hal itu. akhlak dibedakan menjadi tiga. Selain itu. akhlak dibedakan lagi menjadi tiga. Akhlak kepada Sesama Akhlak kepada manusia mengatur bagaimana kita berperilaku kepada orang lain. yaitu: a.keimanan seseorang. Dalam islam sendiri. damai. 2. Akhlak kepada Allah Maksud dari akhlak kepada Allah yaitu apa saja yang kita lakukan harus sesuai dengan yang Allah perintahkan. kita harus senantiasa ingat dan mentauhidkan Allah dengan selalu berdzikir setiap waktu. Akhlak yang baik akan menciptakan suasana aman. Ketiga akhlak tersebut adalah : 1. Dalam hal ini. Menerapkan semua sifat Rasul dalam kehidupan sehari-hari adalah contoh konkrit kita memiliki akhlak kepada Rasul. Barang siapa yang akhlaknya baik. dan tentram di lingkungan masyarakat.

Akhlak kepada yang Lebih Muda Hal ini bisa diwujudkan dengan semangat menyayangi. Miminimalkan komunikasi secara langsung. hal ini perlu dilakukan karena bisa membawa kita pada perbuatan syirik yang tergolong syirik dahsyat. Itulah sedikit gambaran bagaimana akhlak dan cara bergaul kita sebagai umat muslim. Akhlak kepada Teman Sebaya Hal ini bisa kita wujudkan dengan cara saling menghormati dan menyayangi. hal ini dilakukan supaya antar lawan jenis tidak sampai Ikhtilat atau saling membaur dengan lawan jenis. hal ini dilakukan untuk selalu menjaga keseimbangan alam semesta ini. Selalu mewaspadai Cinta. Selalu dekatkan diri kepada Allah dan jadilah seorang muslim yang sejati. Sementara itu. 2. c. Aturan yang dibuat Allah adalah untuk mengatur pergaulan antar lawan jenis. Beberapa aturan tersebut adalah : 1. jangan sampai akhlak kita rusak karena pergaulan yang salah dan jangan pula pergaulan kita membawa kepada dosa besar yakni Zina. . yang dimaksud dengan pergaulan dalam islam adalah pergaulan yang didasari dengan niat dan tujuan yang ikhlas dan sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan oleh Allah. jangan hanya menjadi muslim yang ikut-ikutan dan jangan sampai jadi orang yang menyandang gelar islam KTP. b.Hal ini bisa diwujudkan dengan adanya semangat menghormati.

maka janji Tuhan adzab dan kehinaan akan datang. Inilah yang sering dikatakan sebagai sudut lahirnya keberagamanaan seorang manusia yang akan berbeda satu dengan yang lainnya. interpersonal dan masyarakat secara agung dan luhur. Fitrah kemanusiaan yang merupakan pemberian Tuhan (Given) memang tidak dapat ditawar. Karena Islam yang berakar pada kata “salima” dapat diartikan sebagai sebuah kedamaian yang hadir dalam diri manusia dan itu sifatnya fitrah.2. tidak ada perbedaan satu sama lain. dia hadir sering tiupan ruh dalam janin manusia dan begitu manusia lahir dalam bentuk “manusia” punya mata. begitu pun nasrani dan lain sebagainya. Anak yang dilahirkan dalam keluarga dan lingkungan muslim sudah barang tentu secara akidah akan mempunyai persepsi ketuhanan (iman) yang sama.2 Pengertian Etika Islam merupakan salah satu agama samawi yang meletakan nilai-nilai kemanusia atau hubungan personal. tangan. keadilan. Kedamaian akan hadir. Dalam wacana studi agama sering dikatakan bahwa fenomena keberagamaan manusia tidak hanya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang normativitas melainkan juga dilihat dari historisitas. tempat. relevansi. kaki dan anggota tubuh lainnya sangat tergantung pada wilayah.1. kedamaian yang mengikat semua aspek manusia. namun jika sebaliknya manusia mengikuti nafsu dan tidak berjalan seiring fitrah. [1] Keberagamaan dalam Islam tentu saja harus dipandang secara konfrehenship dan seyogyanya harus diposisikan sbagai sebuah persfektif tanpa menapikan yang lain. lingkungan dimana manusia itu dilahirkan. telinga. Keberagamaan yang berbeda (defernsial) antara satu dengan yang .3 Akhlak Manusia Dalam Berpakaian dan Pergaulan Masa Sekarang 2. tapi juga sempurna. jika manuia itu sendiri menggunakan dorongan diri (drive) kearah bagaimana memanusiakan manusia dan atau memposisikan dirinya sebagai makhluk ciptaaan Tuhan yang bukan saja unik.

baik kebenaran sosial hubungan antar manusia atau kebenaran transenden. yaitu cara pandang dan sikap manusia dalam menempatkan Tuhan dan makhluk ciptaan-Nya sebagai kebenaran absolut. Keimanan adalah inti pemahaman manusia tehadap sang pencipta. Dilihat dalam kontek ini adalah bagaimana manusia memposisikan diri selain pemahaman terhadap kebenaran transenden. Maka keberagamaan itu sendiri akan mengarah pada bagaimana kebenaran itu bisa diraih dalam rangka pendekatan diri kepada Tuhan sebagai manifestasi dari “iman” Dalam hubungannya dalam pencarian kebenaran dari sudut pandang keberagamaan manusia yang berbeda (hetrogenitas-religiusitas) tentu akan didapat adalah berbedaan cara pandang (persfektif) dan sangat tergantung dorongan dari manusia itu sendiri yang sudah dikatakan di atas sebagai fitrah mansia yang given akan mengarakan kepada kebenaran atau sebaliknya. syariat adalah jalan menuju penghambaan manusia kepada tuhannya. Pembahasan1. Karena Islam itu lahir dengan pondasi keimanan. muamalat dan ihsan. yaitu moral atau etika. juga memahamkan dirinya pada kebenaran hubungan antar manusia yang dalam Islam masuk dalam kategori “ihsan” yang secara harfiah berarti kebaikan dan kebaikan. Pengertian Etika . Keberagamaan manusia yang berbeda inilah yang perlu diangkat sebagai sebuah momentum guna melihat sisi keunikan manusia sebagai ciptaan Tuhan itu sendiri. sedangkan muamalat dan Ihsan adalah keutamaan manusia memandang dirinya dan diri orang lain sebagai sebuah hubungan harmonis yang bermuara pada kesalehan sosial. Dorongan ihsan itu sendiri akan melahirkan subuah prilaku.lainnya merupakan salah satu nilai luhur kemanusiaan itu sendiri. B. Persoalannya adalah apakah keberagamaan yang berbeda itu akan bermuara kearah yang sama? Kalau kita melihat secara seksama bahwa pada intinya keberagamaan manusia adalah pencarian terhadap kebenaran. syariat.

kata faham ini. berpandangan bahwa suatu tindakan disebut baik manakala sejalan dengan kehendak atau pertimbangan subyek tertentu. nilai kebaikan suatu tindakan bukannya terletak pada obyektivitas nilainya. etika mengenai kritis. sedangkan dalam Islam –pada batas tertentu– ialah aliran Muitazilah. merupakan usaha dengan akal budinya untuk menyusun teori seseorang atau suatu masyarakat mulai ditinjau kembali penyelenggaraan hidup yang baik. bukan karena kita senang melakukannya. etika bisa dibedakan manjadi dua: obyektivisme dan subyektivisme. karena sejalan dengan kehendak melainkan semata keputusan rasionalisme universal yang mendesak kita untuk berbuat begitu. atau bisa saja subyek Tuhan. Yang pertama berpandangan bahwa nilai kebaikan suatu tindakan bersifat obyektif. Faham subyektifisme etika ini terbagi kedalam beberapa aliran. Sebagai cabang pemikiran filsafat. Persolan etika muncul ketika moralitas secara Moralitas berkenaan dengan tingkah laku yang konkrit. Nilai-nilai etis yang difahami. melainkan pada ketaatannya pada kehendak Tuhan. Suatu tindakan disebut baik. Menurut faham Asy’ariyah. Asy’ariyah berpandangan bahwa menusia itu bagaikan ‘anak kecil’ yang . yaitu masyarakat. sedangkan etika bekerja dalam level teori. Dengan kata lain. sejak dari etika hedonismenya Thomas Hobbes sampai ke faham tradisionalismenya Asy’ariyah. Subyek disini bisa saja berupa subyektifisme kolektif. terletak pada substansi tindakan itu sendiri. dan berusaha diwujudkan dalam kehidupan nyata kadangkala disebut ethos. Tokoh utama pendukung aliran ini ialah Immanuel Kant.Dalam tradisi filsafat istilah “etika” lazim difahami sebagai suatu teori ilmu pengetahuan yang mendiskusikan mengenai apa yang baik dan apa yang buruk berkenaan dengan perilaku manusia. diyakini. Aliran kedua ialah subyektifisme. atau masyarakat. Faham ini melahirkan apa yang disebut faham rasionalisme dalam etika.

etika Islam tidak menentang fithrah manusia. Munculnya perbedaan itu memang sulit diingkari baik karena pengaruh Filsafat Yunani ke dalam dunia Islam maupun karena narasi ayat-ayat al-Qur’an sendiri yang mendorong lahirnya perbedaan penafsiran. kecenderungan memandang dunia keadilan yang bias diratakan. kepekaan pada waktu dan lebih mementingkan waktu kini dan mendatang ketimbang waktu yang telah lampau. bagaimana halnya dengan teori etika dalam Islam. Setelah melakukan kajian terhadap berbagai modernisasi. kita menemukan dua faham. yaitu: kegandrungan menerima gagasan-gagasan baru dan mencoba metode-metode baru. dihitung. kesediaan buat menyatakan pendapat. Sekedar cirri utama.harus senantiasa dibimbing oleh wahyu karena tanpa wahyu manusia tidak mampu memahami mana yang baik dan mana yang buruk. menghargai kekuatan ilmu dan teknologi. dan keyakinan pada . Etika Dalam Pandangan Islam Kalau kita sepakati bahwa etika ialah suatu kajian kritis rasional mengenai yang baik dan yang buruk. Etika Islam memiliki antisipasi jauh ke depan dengan dua amat rasionalistik. rasa ketepatan waktu yang lebih baik.[2] 2. Pertama. Di dalam al-Qur’an pesan etis selalu saja terselubungi oleh isyarat-isyarat yang menuntut penafsiran dan perenungan oleh manusia. etika Islam sebagai perbandingan baiklah akan saya teori dan definisi mengenai kutipkan pendapat Alex Inkeles mengenai sikap-sikap modern. keprihatinan yang lebih besar untuk merencanakan organisasi dan sebagai suatu yang bisa efisiensi. Inkeles membuat rangkuman mengenai sikap-sikap modern sabagai berikut. yaitu faham rasionalisme yang diwakili oleh Mu’tazilah dan faham tradisionalisme yang diwakili oleh Asy’ariyah. Sedangkan telah disebutkan di muka. Kedua.

Dalam diskusi tentang hubungan antara etika dan moral. . dan nafs mutmaninah. Ketiganya merupakan unsur hidup yang ada dalam manusia yang akn tumbuh berkembang seiring perjalanan dan pengalaman hidup manusia. Pendeknya.[3] Diantara pemberiaan edukasi etika kepada anak diarahkan kepada beberapa hal di bawah ini: 1. Yakni bagaimana mempertanggungjawabkan suatu tindakan subyektif dalam kerangka nilai-nilai etika obyektif. kesadaran moral serta rasionalitas menjadi amat penting. tindakan mikro dalam kerangka etika makro. diperlukan edukasi yang diberikan orang tua kepada anaknya dalam bentuk pemberian muatan etika yang menjadi ujung tombak dari ketiga unsur di atas. Ego. nilai solidaritas kadangkala berbenturan dengan nilai keadilan dan kejujuran. dan Superego. nafs lawwamah. tindakan moral adalah tindakan konkrit yang bersifat pribadi dan subyektif. Id. Pembiasaan kepada hal-hal yang baik dengan contoh dan perilaku orang tua dan tidak banyak menggunakan bahasa verbal dalam mecari kebenaran dan sudah barang tentu sangat tergantung pada sisi historisitas seseorang dalam hidup dan kehidupan.Rasanya tidak perlu lagi dikemukakan di sini bahwa apa yang dikemukakan Inkeles dan diklaim sebagai sikap modern itu memang sejalan dengan etika al-Qur'an. tindakan lahiriah dalam acuan sikap batin. problem yang seringkali muncul ialah bagaimana melihat peristiwa moral yang bersifat partikular dan individual dalam perspektif teori etika yang bersifat rasional dan universal. Tindakan moral ini akan menjadi pelik ketika dalam waktu dan subyek yang sama terjadi konflik nilai. Di sinilah letaknya kebebasan. Dalam persfektif psikologi. Misalnya saja. Maka untuk menjaga agar ketiganya berjalan dengan baik. Islam yang mempunyai klaim universal ketika dihayati dan direalisasikan cenderung menjadi peristiwa partikular dan individual. sedangkan dalam pandangan Islam ketiganya sering dipadankan dengan nafs amarah. manusia terdiri dari tiga unsur penting yaitu.

3. dan keadilan. Maka Islam menganjurkan kepada manusia untuk menjungjung etika sebagai fitrah dengan menghadirkan kedamaian. prilaku secara normative. peran orang tua sebagai pengingat dan pengarah tidak harus putus. Di sinilah pean orang tua dalam memberikan muatan moral kepada anak agar mampu memahami hidup dan menyikapinya dengan bijak dan damai sbagaimana Islam lahir ke bumi membawa kedamaian untuk semesta (rahmatan lilalamain) . melainkan wujud dari hubungan manusia terhadap Tuhan. yaitu cara pandang dan perilaku manusia dalam hubungan social hanya dan untuk mengabdi pada Tuhan. tanpa harus ada kesan otoriter. Etika sebagai fitrah akan sangat tergantung pada pemahaman dan pengalaman keberagamaan seseorang. buka ada pamrih di dalamnya. Pada masa dewasa. anak juga tidak dilepas begtu saja. bahkan mengajak anak untuk diskusi tentang pemahaman keberagamaan. sesat dan tidaknya.2. yaitu dalam bentuk hubungan manusia dengan tuhan (iman). bahkan mengajak anak untuk diskusi tentang pemahaman keberagamaan. Bila anak sudah mampu memahami dengan suatu kebiasaan. Manusia dan alam semesta dari sudut pangan historisitas. manfaat dan mudharatnya. maka dapat diberikan arahan lanjut dengan memberikan penjelasan apa dan mengapa dan yang berkaitan dengan hokum kausalitas (sebab akibat) Pada masa dewasa. tanpa harus ada kesan otoriter. C. Penutup Etika dalam islam adalah sebagai perangkat nilai yang tidak terhingga dan agung yang bukan saja beriskan sikap. kejujuran. Etika dalam islam akan melahirkan konsep ihsan. peran orang tua sebagai pengingat dan pengarah tidak harus putus.Pembiasaan kepada hal-hal yang baik dengan contoh dan perilaku orang tua dan tidak banyak menggunakan bahasa verbal dalam menyampaikan baik dan buruk sesuatu. anak juga tidak dilepas begtu saja.

Manusia dengan segala peradabannya memiliki naluri untuk mengembangkan apa yang ada. Dan kafanilah orang yang meninggal dengan kain putih.2 Etika Dalam Berpakaian Pakaian dikenakan oleh seorang muslim maupun muslimah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah. syarat-syarat berpakaian menurut syari’at Islam. bersabda: “pakailah pakaian berwarna putih. tidak mengabaikan apa yang menjadi batasanbatasan berpakaian sesuai syari’at Islam. HADITS ‫ض؛‬ َ‫يا ِن‬ َ‫ب ِن‬ َ‫ل ِن‬ ْ‫م ا ا‬ ْ‫ك ا‬ ُ‫ب ْو‬ ِ‫يا ى‬ َ‫ث ِن‬ ِ‫ن ى‬ ْ‫م ا‬ ِ‫و ى‬ ْ‫س ا‬ ُ‫ب ْو‬ َ‫ل ِن‬ ْ‫ا ا‬:‫لم‬ َ‫سِن‬ َ‫و ِن‬ َ‫ه ِن‬ ِ‫ي ى‬ ْ‫ل ا‬ َ‫عِن‬ َ‫هلل ِن‬ ِ‫ِل ا ى‬ َّ‫ص ه‬ َ‫هلل ِن‬ ِ‫ل ا ى‬ َ‫و ِن‬ ْ‫س ا‬ ُ‫ر ْو‬ َ‫ل ِن‬ َ‫قا ِن‬ َ‫ ِن‬:‫ل‬ َ‫قا ِن‬ َ‫س ِن‬ ٍ ‫با و‬ َ‫ع ِن‬ َ‫ن ِن‬ ِ‫ب ى‬ ْ‫ا ا‬ ِ‫ن ى‬ ْ‫ع ا‬ َ‫ِن‬ 2](‫م )اخرجه أبوداودوالترمذي والطبراني‬ ْ‫ك ا‬ ُ‫ا ْو‬ َ‫وت ِن‬ ْ‫م ا‬ َ‫ها ِن‬ َ‫ي ِن‬ ْ‫ف ا‬ ِ‫وا ى‬ ْ‫ن ا‬ ُ‫ف ْو‬ ّ ‫ك َم‬ َ‫و ِن‬ َ‫ ِن‬.”(H.2. Adapun yang akan diuraikan adalah pengertian dari pakaian. fungsi dari pakaian. II. ia berkata: Rasulullah saw. karena itu berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. Dalam hal ini akan dibahas lebih lanjut tentang segala yang berhubungan dengan tema MAKALAH ini yakni “Pakaian”.2.warna pakaian yang disukai Rasulullah serta etika dalam berpakaian.2.‫م‬ ْ‫ك ا‬ ُ‫ب ْو‬ ِ‫ا ى‬ َ‫ثي ِن‬ ِ‫ر ى‬ ِ‫ي ى‬ ْ‫خ ا‬ َ‫ن ِن‬ ْ‫م ا‬ ِ‫ها ى‬ َ‫ن ِن‬ َّ‫ا ه‬ ِ‫ف ى‬ َ‫] ِن‬ Artinya: Dari Ibnu Abbas R.A. Tapi umat Islam haruslah tetap bercermin terhadap syari’at Islam yang Rasulullah lah yang menjadi suri tauladannya.. Karena pakaian putih adalah pakaian yang paling baik. Karena itu dalam berpakaian ia pun mengikuti aturan yang ditetapkan Allah.R Abu Daud dan Tirmidzi)[3] ‫هلل ل‬ ِ‫ل ا ى‬ َ‫و ِن‬ ْ‫س ا‬ ُ‫ر ْو‬ َ‫ت ِن‬ ُ‫ي ْو‬ ْ‫أ ا‬ َ‫رِن‬ َ‫ ِن‬: ‫ل‬ َ‫قا ِن‬ َ‫ ِن‬.‫ه ل‬ ُ‫ن ْو‬ ْ‫ع ا‬ َ‫هلل ِن‬ ُ‫ي ا ْو‬ َّ‫ض ه‬ ِ‫ر ى‬ َ‫ي ل ِن‬ ْ‫م ا‬ ِ‫ي ى‬ ْ‫ت ا‬ َّ‫عة ال ه‬ َ‫ا ِن‬ َ‫رف ِن‬ ِ‫ثه ى‬ َ‫م ِن‬ ْ‫ر ا‬ ِ‫ي ى‬ ْ‫ب ا‬ ِ‫ا ى‬ َ‫ن ِن‬ ْ‫ع ا‬ َ‫و ِن‬ َ‫ِن‬ 4](‫ )رواه أبو داودوالترمذي بإسنادصحيح‬. Tidak bisa dipungkiri lagi model pakaian yang ada di era globalisasi ini banyak menyadur dari dunia barat. termasuk dalam perkembangan model pakaian.1 2.‫ن‬ ِ‫را ى‬ َ‫ض ِن‬ َ‫خ ِن‬ ْ‫ن أ ا‬ ِ‫با ى‬ َ‫و ِن‬ ْ‫ث ا‬ َ‫ه ِن‬ ِ‫ي ى‬ ْ‫ل ا‬ َ‫عِن‬ َ‫و ِن‬ َ‫لم ل ِن‬ َ‫سِن‬ َ‫و ِن‬ َ‫ه ِن‬ ِ‫ي ى‬ ْ‫ل ا‬ َ‫عِن‬ َ‫هلل ِن‬ ِ‫ِل ا ى‬ َّ‫ص ه‬ َ‫] ِن‬ .

barang siapa memanjangkan sesuatu darinya karena‬‬ ‫‪sombong Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Ia berkata: “saya‬‬ ‫‪pernah melihat Rasulullah SAW.. memasuki‬‬ ‫‪kota makkah pada hari penaklukannya. beliau memakai sorban‬‬ ‫]‪hitam”(H.R Abu‬‬ ‫)‪Daud‬‬ ‫عا‬ ‫و اً‬ ‫ب اْ‬ ‫ر ْوُ‬ ‫م اْ‬ ‫م ِنَ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫سِنَ‬ ‫و ِنَ‬ ‫ه ِنَ‬ ‫ي ىِ‬ ‫ل اْ‬ ‫ع اً‬ ‫هلل ِنَ‬ ‫ِل ا ْوُ‬ ‫ص هَّ‬ ‫هلل ِنَ‬ ‫ل ا ىِ‬ ‫و ِنَ‬ ‫س اْ‬ ‫ر ْوُ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫كا ِنَ‬ ‫ل‪ِ :‬نَ‬ ‫قا ِنَ‬ ‫ه ِنَ‬ ‫ن ْوُ‬ ‫ع اْ‬ ‫هلل ِنَ‬ ‫ي اا ْوُ‬ ‫ض هَّ‬ ‫ر ىِ‬ ‫ئ ِنَ‬ ‫ر ىِ‬ ‫ب ِنَ‬ ‫ن ال ِنَ‬ ‫ع اْ‬ ‫و ِنَ‬ ‫ِنَ‬ ‫ه )اخرجه ابوداود(]‪9‬‬ ‫ن ْوُ‬ ‫ ىِ اْ‬ ‫نم‬ ‫س ِنَ‬ ‫ح ِنَ‬ ‫ا اْ‬ ‫ط ِنَ‬ ‫ق ُّ‬ ‫أ ِنَ‬ ‫ي اً‬ ‫ش اْ‬ ‫ت ِنَ‬ ‫ي ْوُ‬ ‫ا اْ‬ ‫رِنَ‬ ‫ما ِنَ‬ ‫ء ِنَ‬ ‫را ِنَ‬ ‫م ِنَ‬ ‫ح اْ‬ ‫ة ِنَ‬ ‫ل و ٍ‬ ‫حهَّ‬ ‫ي ْوُ‬ ‫ف اْ‬ ‫ه ىِ‬ ‫ت ْوُ‬ ‫ي ْوُ‬ ‫ا اْ‬ ‫رِنَ‬ ‫د ِنَ‬ ‫ق اْ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫وِنَ‬ ‫] ِنَ‬ ‫‪Artinya: Dari Al Barra bin Azib R.” (H.A.‬‬ ‫‪baju. dan belum pernah melihat orang yang lebih tampan dari‬‬ ‫]‪beliau. dari Salim bin Abdullah. pasang yang kanan terlebih dahulu tetapi‬‬ ‫‪kalau membukanya yang kiri buka dahulu. ia berkata:”ketika Rasulullah SAW.”(H.R Abu‬‬ ‫]‪Daud dan Tirmidzi)[5‬‬ ‫ي ىِ‬ ‫ه‬ ‫ل اْ‬ ‫عِنَ‬ ‫و ِنَ‬ ‫ة ِنَ‬ ‫ك ِنَ‬ ‫م هَّ‬ ‫ح ِنَ‬ ‫ت ىِ‬ ‫ف اْ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫م ا اْ‬ ‫عا ِنَ‬ ‫ِل ِنَ‬ ‫ِنَ ِنَ‬ ‫دخ‬ ‫لم ِنَ‬ ‫سِنَ‬ ‫و ِنَ‬ ‫ه ِنَ‬ ‫ي ىِ‬ ‫ل اْ‬ ‫عِنَ‬ ‫هلل ِنَ‬ ‫ِل ا ْوُ‬ ‫ص هَّ‬ ‫هلل ِنَ‬ ‫ل ا ىِ‬ ‫سو ِنَ‬ ‫ر ْوُ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫ه ‪ :‬أ هَّ‬ ‫ن ْوُ‬ ‫ع اْ‬ ‫هلل ِنَ‬ ‫ي ا ْوُ‬ ‫ض هَّ‬ ‫ر ىِ‬ ‫ر ِنَ‬ ‫ب و ٍ‬ ‫جا ىِ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫ع اْ‬ ‫و ِنَ‬ ‫ِنَ‬ ‫ء )رواه داود(]‪6‬‬ ‫دا ْوُ‬ ‫و ِنَ‬ ‫س اْ‬ ‫و ٌ ِنَ‬ ‫مة‬ ‫ما ِنَ‬ ‫ع ِنَ‬ ‫] ىِ‬ ‫‪Artinya: Dari Jabir R. Saya pernah melihat beliau mengenakan kain‬‬ ‫‪merah. dari‬‬ ‫‪ayahnya.A. ia berkata: “Tubuh Rasulullah‬‬ ‫‪SAW.[7‬‬ ‫ل‪:‬‬ ‫قللا ِنَ‬ ‫لم ِنَ‬ ‫سلِنَ‬ ‫و ِنَ‬ ‫ه ِنَ‬ ‫يل ىِ‬ ‫ل اْ‬ ‫عِنَ‬ ‫هللل ِنَ‬ ‫ِل ا ْوُ‬ ‫صل ِنَ‬ ‫ي ِنَ‬ ‫بل اْ‬ ‫ن ىِ‬ ‫ن ال هَّ‬ ‫عل ىِ‬ ‫ه ِنَ‬ ‫يل ىِ‬ ‫ب اْ‬ ‫ا ىِ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫عل اْ‬ ‫هلل ِنَ‬ ‫دا ىِ‬ ‫بل ىِ‬ ‫ع اْ‬ ‫لم بن ِنَ‬ ‫ا ىِ‬ ‫س ىِ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫ع اْ‬ ‫د ِنَ‬ ‫وا ىِ‬ ‫ر هَّ‬ ‫ي ِنَ‬ ‫ب اْ‬ ‫ا ىِ‬ ‫زبن ِنَ‬ ‫ي ىِ‬ ‫ز اْ‬ ‫ع ىِ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫دا اْ‬ ‫ب ىِ‬ ‫ع اْ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫ع اْ‬ ‫ِنَ‬ ‫ة )اخرجلله‬ ‫م ىِ‬ ‫يا ِنَ‬ ‫ق ِنَ‬ ‫ل ىِ‬ ‫م ا اْ‬ ‫و ِنَ‬ ‫ي اْ‬ ‫ه ِنَ‬ ‫ي ىِ‬ ‫ل اْ‬ ‫اِنَ‬ ‫هلل ِنَ‬ ‫را ىِ‬ ‫ظ ْوُ‬ ‫ن ْوُ‬ ‫ي اْ‬ ‫م ِنَ‬ ‫ل اْ‬ ‫ء ِنَ‬ ‫ل ىِ‬ ‫ي ِنَ‬ ‫شيأخ ِنَ‬ ‫ها ِنَ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫م اْ‬ ‫ر ىِ‬ ‫ج هَّ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫م اْ‬ ‫ة ىِ‬ ‫م ىِ‬ ‫ما ِنَ‬ ‫ع ِنَ‬ ‫ل ىِ‬ ‫وا اْ‬ ‫ص ِنَ‬ ‫ي ىِ‬ ‫م اْ‬ ‫ق ىِ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫وا اْ‬ ‫ر ِنَ‬ ‫زا ىِ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫ي ا ىِ اْ‬ ‫ف اْ‬ ‫ل ىِ‬ ‫با ْوُ‬ ‫لس اْ ِنَ‬ ‫ا ىِ اْ‬ ‫]ابوداود(]‪8‬‬ ‫‪Artinya: Dari Abdul Aziz bin Abu Ruwad. jadi yang kanan adalah‬‬ .R Abu Daud)[10‬‬ ‫ز ِنَ‬ ‫ع‬ ‫نل ِنَ‬ ‫ذا ِنَ‬ ‫إ ِنَ‬ ‫و ىِ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫يل ىِ‬ ‫م اْ‬ ‫ي ىِ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫بللا اْ‬ ‫دأ ىِ‬ ‫بل ِنَ‬ ‫ي اْ‬ ‫فل اْ ِنَ‬ ‫م ِنَ‬ ‫ك اْ‬ ‫د ْوُ‬ ‫حل اْ‬ ‫ا ِنَ‬ ‫ِل ِنَ‬ ‫ع ِنَ‬ ‫ت ِنَ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫ا اْ‬ ‫ذا ِنَ‬ ‫ا ِنَ‬ ‫ل ىِ‬ ‫قا ِنَ‬ ‫لم ِنَ‬ ‫سِنَ‬ ‫و ِنَ‬ ‫ه ِنَ‬ ‫ي ىِ‬ ‫ل اْ‬ ‫عِنَ‬ ‫هلل ِنَ‬ ‫ِل ا ْوُ‬ ‫ص هَّ‬ ‫هلل ِنَ‬ ‫ل ا ىِ‬ ‫و ِنَ‬ ‫س اْ‬ ‫ر ْوُ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫ا هَّ‬ ‫ة ‪ِ :‬نَ‬ ‫ر ِنَ‬ ‫ي ِنَ‬ ‫ر اْ‬ ‫ه ِنَ‬ ‫ي ْوُ‬ ‫ب اْ‬ ‫ا ىِ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫ع اْ‬ ‫ِنَ‬ ‫ع)اخرجلله ابوداودوالترمللذي وقللال أبللو‬ ‫ز ْوُ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫ي اْ‬ ‫مللا ْوُ‬ ‫ه ِنَ‬ ‫ر ْوُ‬ ‫خ ِنَ‬ ‫وخآ ىِ‬ ‫ِل ِنَ‬ ‫عل ْوُ‬ ‫ت ِنَ‬ ‫ن ِنَ‬ ‫ي اْ‬ ‫ا ْوُ‬ ‫همل ِنَ‬ ‫ل ْوُ‬ ‫و ِنَ‬ ‫أ اْ‬ ‫نى ِنَ‬ ‫م ىِ‬ ‫ي ىِ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫ن ا اْ‬ ‫ك ْوُ‬ ‫ت ْوُ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫وا اْ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫ما ىِ‬ ‫ش ِنَ‬ ‫بال َم ّ‬ ‫أ ىِ‬ ‫د اْ‬ ‫ب ِنَ‬ ‫ي اْ‬ ‫ل ِنَ‬ ‫فا اْ‬ ‫ِنَ‬ ‫]عيسى هذاحديث حسن صحيح(]‪11‬‬ ‫‪Artinya: dari Abu Hurairah‬‬ ‫”‪bahwasanya Rasulullah SAW bersabda‬‬ ‫‪kalau kamu memakai sandal. dari Nabi SAW bersabda:” hendaknya dipanjangkaan sarung.A. dan sorban..R Abu Daud). berukuran sedang.‫‪Artinya: Dari Abu Rimtsah Rifaah at-taimiy R.memakai dua baju yang hijau”(H.

Hukumnya wajib jika untuk menutupi aurat. Pengertian Pakaian Huruf lam ‫ ل‬.Pengertian Pakaian dan Aurat 1. Barang siapa mensyukuri nikmat ini. Secara denotatif kata allibas ‫ الباس‬berarti pakaian yang dikenakan. hukumnya sunnah jika dengan berpakaian itu menjadikannya lebih menarik dan indah dan haram hukumnya karena ada larangan dari Rasulullah. Hukum berpakaian ada tiga yaitu wajib. yaitu pakaian khusus perempuan dan pakaian khusus laki-laki. [12]Karena aurat adalah sesuatu yang harus dijaga oleh setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan maka ini adalah sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan oleh setiap umat Islam. sunnah dan haram. Sesuatu yang baik akan tetap apik ketika dapat dijaga. 2. maka dia telah berada dalam batas-batas aturan yang diperbolehkan kepadanya. Pengertian Aurat Aurat adalah bagian tubuh yang tidak boleh dibuka untuk diperlihatkan. Pakaian perempuan Adapun syarat yang harus dipenuhi dalam mengenakan pakaian bagi perempuan. III. yaitu 1. Menutupi seluruh anggota tubuh kecuali bagian-bagian tertentu yang boleh diperlihatkan. B.pertama dipasang dan yeng kiri terakhir dibuka. Syarat-syarat berpakaian menurut syari’at Islam Pakaian merupakan salah satu nikmat dan penghormatan yang diberikan Allah kepada anak cucu Adam. PEMBAHASAN A. dan Abu Isa berkata ini hadits hasan shahih). .”(HR Abu Daud dan Tirmidzi.ba’‫ ب‬dan sin ‫س‬adalah tiga huruf asli yang menunjuk pada pengertian tutup atau menutupi. Pakaian ada dua macam.

3. yasu’u yang berarti buruk. Keburukan yang dimaksud tidak harus dalam arti sesuatu yang pada dirinya buruk.lekukan tubuh yang dapat menimbulkan daya rangsang bagi laki-laki. 5. tidak menyenangkan. yaitu 1. [13] perlu memperlihatkannya. Fungsi pakaian Untuk memahami kembali fungsi-fungsi busana. tetapi bisa juga karena adanya faktor lain yang mengakibatkannya buruk. Tidak satu pun dari bagian tubuh yang buruk karena semuanya baik dan bermanfaat termasuk aurat. 7. maka “keterlihatan” itulah yang buruk. C. Pakaian tidak terbuat dari sutera murni Tidak berlebihan atau mewah Tidak menyerupai pakaian wanita Tidak memberikan gambaran bentuk tubuh atau aurat dan tidak Hendaknya panjang pakaian tidak melebihi kedua mata kaki. Kata ini sama maknanya dengan aurat yang terambil dari kata ar yang berarti onar. dapat diperjelas lagi ilustrasi berikut: 1. Tetapi bila dilihat orang.2. 2. Tidak menyerupai pakaian laki-laki Tidak menyerupai pakaian orang kafir Tidak terlalu berlebihan atau mewah Pakaian laki-laki Mengenai pakaian laki-laki juga ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. tercela. Fungsi Busana sebagai Perhiasan . 4. 6. Pakaian itu tebal dan tidak transparan sehingga bagian dalam tubuh Pakaian tersebut tidak ketat atau sempit sehingga tidak membentuk tidak terlihat lekukan. 3. 2. Pakaian itu tidak menjadi fitnah pada dirinya. aib. Busana Sebagai Penutup Aurat Aurat dalam al-Qur’an disebut sau’at yang terambil dari kata sa’a. 5. 4.

senang memakai pakaian putih. melainkan juga karena warna putih segera menampakkan kotoran. Ada yang mengatakan bahwa memandang kehijauan dan air yang mengalir dapat menguatkan pengllihatan. “Suatu hari kami pergi bersama . Kebebasan haruslah disertai tanggung jawab.w. Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad S. sehinga pemakaiannya akan segera terdorong untuk mengenakan pakaian lain yang bersih. al-Mudatsir (74): 4). kendati orang lain tidak menilai indah atau pada hakikatnya memang tidak indah. warna hijau menjadi warna yang paling dsukai oleh rasulullah. bukan saja karena warna ini lebih sesuai dengan iklim Jazirah Arab yang panas.a. “Dengan Rasuliullah menyukainya saja sudah cukup bagi warna ini kemuliaan dan alasan disukai.w. Hakikat ini merupakan salah satu sebab mengapa al-Qur’ân tidak menjelaskan secara rinci apa yang dinilainya indah atau elok. Al-Qur’an tidak menjelaskan apalagi merinci apa yang disebut perhiasan. Sebagian pakar menjelaskan bahwa sesuatu yang elok adalah yang menghasilkan kebebasan dan keserasian.” Qatadah menuturkan.Perhiasan merupakan sesuatu yang dipakai untuk memperelok (memperindah). karena keindahan harus menghasilkan kebebasan yang bertanggung jawab.[14] D. Namun harus diingat pula bahwa keindahan sangat relatif. Memang salah satu unsur multak keindahan adalah kerbersihan. sebagai Rasul antara lain menuntunnya agar menjaga dan terus-menerus meningkatkan kebersihan pakaiannya (Q. atau sesuatu yang “elok”. tergantung dari sudut pandang masing-masing penilai. Karena hasiatnya itulah. Tentunya pemakaiannya sendiri harus lebih dahulu menganggap bahwa perhiasan tersebut indah.S.a. Warna Pakaian yang Paling Disukai Nabi Warna pakaian yang disukai oleh Nabi saw adalah hijau karena warna ini merupakan warna pakaian disurga. Wahyu kedua yang dinilai oleh ulama sebagai ayat-ayat yang mengandung informasi pengangkatan Nabi Muhammad s. Tentu saja pendapat tersebut dapat diterima atau ditolak sekalipun keindahan merupakan dambaan manusia. Ibnu Baththal menngatakan.

hingga memakai sandal pun harus didahulukan yang kanan. wudlu. ‘Betapa indah kehijauan ini.Anas r. laku kita. golongan kanan. Etika berpakaian Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti karakter. bahwa semua tindakan kita. Dimana sebelah kanan. adalah hijau. seperti. atau golongan kiri. dan melepaskannya dari sebelah kiri lalu kanan. Lalu ketika kami sampai disana seseorang berujar. Pahamilah perlambang "KANAN" dan "KIRI" ini. Sangat dianjurkan memakai pakaian dari sebelah kanan lalu sebelah kiri. 4. menuju ke yang sebelah kanan. 2. ‘kita sudah pernah membicarakan bahwa warna yang paling disukai oleh Nabi SAW. atau adat kebiasaan yang mana etika berhubungan erat dengan konsep penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan. makan. Dan sebelah kiri umumnya adalah perlambang dari "Ashabul shima". Membaca doa Disunnahkan untuk mendahulukan anggota tubuh yang bagian Memakai pakaian yang rapi dan sopan yang sesuai dengan tempat Disunnahkan melepaskan pakaian dari sebelah kiri. Bahwa itu merupakan mengarahkan segala sesuatunya. kanan dalam mengenakan pakaian Jadi dalam mengenakan pakaian tidak hanya sekedar langsung memakai pakaian tersebut.”[15] E. bahwa itu merupakan pemahaman secara tersirat. melainkan ada beberapa aturan-aturan yang harus diperhatikan sebelumnya. atau golongan yang menjadi lawan dari baik. sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi tentang tata cara mengenakan sandal. Dan sebenarnya tidak hanya dalam hal berpakaian saja tapi dalam mengerjakan semua hal sanagat dianjurkan melakukannya dengan yang kanan terlebih dahulu.a kesuatu tempat. diantaranya: 1. Dalam berpakaian ada beberapa etika yang harus diperhatikan oleh seorang muslim. merupakan perlambang dari "Ashabul yamin".’ Maka ketika itu Anas berkata. atau golongan yang baik. akhlak . 3.

3 Etika Dalam Pergaulan “Hai manusia. Sengaja Allah Swt. interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan. Di dalam Al-Qur`an al-Karim. tentu saja manusia tak ada dapat hidup tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya. karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Cultural Sociology. bahkan mengintegrasikan misi sosial ke dalam misi ibadah.kita. tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengemban misi sosial (lita’aarafu bainal insaan). Interaksi sosial. membangun silaturahim (persahabatan dan persaudaraan). QS Hud: 61). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. dan melakukan kerjasama antarsuku dan atau antarbangsa. Simaklah firman Allah Swt. Allah Swt. 1954). antara kelompok-kelompok manusia. agar satu sama lain melakukan interaksi sosial. “Dan tetaplah memberi peringatan. karena tanpa interaksi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama (Gillin dan Gillin. 2. sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. dalam arti dakwah (tadzkirah). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Al-Hujurat: 13).2. Sebagai makhluk sosial. Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa selain mengemban misi ibadah (QS Adz-Dzariyat: 56) dan misi memakmurkan bumi (isti’marul ardh. Interkasi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial. Dan Aku tidak menciptakan . menjadi prasyarat dan penyempurna bagi pelaksanaan misi ibadah. menciptakan manusia dalam ragam suku dan bangsa. maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. haruslah diarahkan pada hal-hal yang baik. Menurut Kimball Young dan Raymond (1959). yaitu golongan orangorang yang mendapatkan petunjuk Allah dan mengerjakannya.

Banyak aktifitas ibadah yang tidak bisa atau kurang sempurna bila dilakukan tanpa melibatkan orang lain. hubungan kekerabatan. atau sebaliknya. interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia. Begitu pula dengan pelaksanaan shaum (puasa) di bulan Ramadhan akan terasa berat bila tidak dilakukan secara serempak (berjamaah). menegaskan bahwa sebelum melaksanakan misi ibadah dalam arti luas. Oleh karena itu. Islam mengatur tentang hubungan antara orangtua dengan anak. dan sebagainya. interaksi sosial pada hakikatnya adalah dakwah itu sendiri. Seperti dikatakan Bonner dalam bukunya Social Psychology (1953). yaitu tadzkirah (saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan) di antara sesama manusia. Ayat ini menegaskan bahwa misi ibadah akan sulit dilaksanakan tanpa adanya aktivitas dakwah. diterima (accepted) atau ditolak (rejected). yang lebih tua dengan yang lebih muda. hubungan sesama Muslim. Bagi seorang Muslim. suami dengan istri. Dalam terminologi Islam. Sehingga . Semua itu diatur agar tercapai sebuah keharmonisan hidup. hubungan Muslim dengan non-Muslim. interaksi sosial kurang bermakna bila tidak menghasilkan interaksi dakwah. ulama dengan ‘umara (pemerintah). Setiap interaksi sosial selalu menimbulkan dampak baik atau buruk. suka atau tidak suka. di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi. Belum lagi pelaksanaan hudud dan jinayah (hukum pidana) tak bisa dilakukan tanpa adanya kesepakatan di antara umat Islam untuk melaksanakan hukum tersebut. kita diperintahkan untuk melakukan misi sosial (interaksi sosial) dalam bentuk dakwah. pemerintah dengan rakyat. Misalkan shalat Jum’at dan shalat berjamaah. Allah Swt.jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS AdzDzariyat: 55-56). atau memperbaiki kelakuan individu yang lain. mengubah. hubungan bertetangga. Oleh karena itu. Karena pada hakikatnya interaksi sosial adalah proses saling mempengaruhi di antara manusia.

akan tetapi hak kerabat mahram (orang yang haram dinikahi sebagaimana tercantum dalam QS An-Nisa`: 23) lebih kuat. Begitu pula dengan kenalan atau pertemanan. Jika marah. terikat dengan etika pergaulan sesuai dengan kadar dan ikatan pergaulan tersebut. pertemanan. Said bin Muhammad Daib Hawwa yang lebih dikenal dengan Syeikh Said Hawwa dalam kitab Al-Mustakhlash fii Tazkiyatil Anfus memaparkan tentang etika interaksi sosial atau etika pergaulan. atau chating.kehidupan yang penuh ujian dan fitnah bila diatur oleh nilai-nilai Islam. Duduklah dengan tenang. Beliau mengatakan. atau sahabat pena. hendaklah anda tetap menghargai dan . Mahram punya hak. Buatlah mereka segan tanpa kekerasan. akan tetapi hak kedua orangtua lebih kuat. dan tawadhu tanpa kehinaan. persahabatan. janganlah menarik-narik jenggot. kekerabatan. berbeda-beda sesuai dengan jauh dan dekatnya rumah. menghormati tanpa sombong. Secara garis besar. jangan memasukkan jari ke lubang hidung. Janganlah anda terlalu banyak bercanda dengan bawahan dan pembantu anda. Setiap orang yang melakukan interaksi sosial. Demikian pula hak tetangga. “Bila anda menginginkan interaksi sosial yang baik. bila anda berada di hadapan orang. Hak orang yang dikenal dengan cara bertemu langsung tidak sama dengan teman yang dikenal lewat telepon. surat. kolega. dan jangan banyak menguap. Bersikaplah lemah-lembut tanpa rasa lemah. Ikatan itu bisa berupa kekeluargaan. berbicaralah dengan teratur dan dengarlah pembicaraan orang lain dengan baik tanpa menampakkan kekaguman yang berlebihan. maka hadapilah teman dan orang-orang yang membenci anda dengan wajah ridha tanpa menghinakan diri dan takut kepada mereka. Setiap orang tentu memiliki kekerabatan yang bertingkat-tingkat. pembantu anda. Dr.” Beliau menambahkan. dan semua urusan pribadi anda. Janganlah anda berbicara tentang kekaguman anda kepada anak anda. Kekerabatan memiliki hak. tulisan anda. maka akan menghasilkan kehidupan yang lebih bermakna. Diamlah terhadap hal-hal yang mengundang tawa.

dituntut untuk bijak dalam menata pergaulannya. menjatuhkan kedudukan di hadapan orang bijak.menjaga diri dari berbuat kebodohan dan menjauhi ketergesaan. Berbicaralah jika kemarahan anda telah reda. dapat menjaga rahasia. Karena orang pintar akan mendengki dan merendahkanmu. sedangkan orang bodoh akan berani kepadamu. Janganlah anda duduk-duduk di pinggir jalan. tidak berambisi atau menjilat di hadapan mereka. nasehat Said Hawwa. menghilangkan kasih sayang. dan tidak bertusuk gigi setelah makan di sisi mereka. mengakibatkan kehinaan. menjauhkan diri dari Allah. tidak melangkahi orang yang telah duduk terlebih dahulu. menghaluskan bahasa dan ungkapan. tidak meludah ke arah kiblat atau ke sebelah kanan anda. Duduklah di tempat yang kosong. mencegah yang munkar. melupakan ungkapan-ungkapan buruk mereka. mengkaji akhlak para raja. membela orang yang teraniaya. hendaknya tidak melibatkan diri terlalu jauh dengan pembicaraan mereka. dan mengucapkan salam kepada orang yang paling dekat duduknya dengan anda. memerintahkan yang ma’ruf. bersikap tawadhu. menimbulkan kedengkian. maka adabnya adalah menundukkan pandangan. membantu orang yang lemah. apalagi juru dakwah. dalam mengemban misi dakwahnya. Senda gurau yang melampaui batas etika Islam juga bisa mematikan hati. menjatuhkan air muka. jangan berdusta. Di satu sisi. mempersedikit keperluan. Jika anda bergaul dengan para penguasa atau pejabat. Bila anda bergaul dengan orang awam. memberi orang yang meminta. memperbanyak aib dan dosa. menyebabkan kelalaian. Jika anda duduk di pinggir jalan. Senda gurau yang berlebihan akan mengurangi wibawa. Demikian. mematikan imajinasi. dan tidak disukai orang-orang bertaqwa. ia harus membuka kontak sosial seluas-luasnya dan bergaul dengan seluruh . janganlah menggunjing. menolong orang yang memerlukan pertolongan. berilah salam terlebih dahulu. Bila memasuki sebuah majelis. membimbing orang yang tersesat. menjawab salam. Janganlah anda mencandai orang pintar atau orang bodoh. Setiap Muslim.

Aisyah ra. tabi’it tabi’in. janganlah mencela orang yang berprasangka buruk kepadanya. Beliau mengizinkannya sambil berkata. Akan tetapi di sisi lain. dan jauhilah mereka dengan hatimu. "Wahai Aisyah. Perinsip ini diajarkan oleh Rasulullah Saw. tabi’in. para ulama dakwah membuat prinsip. "nakhtalithuun walaakin natamayyazuun" (berbaur tetapi tidak melebur). tetapi tidak diwarnai. Mempengaruhi. memperlakukannya dengan sopan dan lemah lembut. Untuk melakonkan peran demikian.2. 2. Rasulullah Saw. Setelah lelaki tersebut keluar. Mewarnai. mengingatkan kita agar tidak terlalu longgar dalam pergaulan untuk menghindari terjadinya fitnah atau su`uzhzhan (prasangka buruk) dari orang lain. Beliau berkata. Tetapi engkau menerimanya dengan penuh penghormatan. ia harus tetap menjaga kelebihan dan keistimewaan dirinya sebagai seorang Muslim. "Akrabilah manusia dengan amal perbuatan kalian. "Siapa yang menempatkan dirinya pada posisi yang mengundang tuduhan. Akan tetapi." Wallahu a'lam bishshawab. "Ketika orang itu akan masuk engkau memburukkannya. Aisyah ra. seorang lelaki meminta izin bertemu Rasulullah Saw. Akan tetapi Umar ra.2 Saran ." Nabi Saw.lapisan masyarakat. setelah orang itu masuk. bahkan menghormatinya. lalu bersabda.3 Etika Manusia Dalam Berpakaian dan Pergaulan Masa Sekarang BAB III PENUTUP 3. sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan manusia lantaran menghindari keburukannya" (HR Bukhari dan Muslim). "Seburuk-buruk teman adalah dia".1 Kesimpulan 3. berkata." Sebuah atsar (perkataan shahabat. tetapi tidak dipengaruhi. ulama salaf) menyebutkan. menceritakan.

DAFTAR PUSTAKA .