Hiperbilirubinemia I Pendahuluan Hiperbilirubinemia I dapat terjadi karena proses fisiologis atau non-fisiologis pada masa neonatal, peningkatan

produksi bilirubin, gangguan ambilan bilirubin di hepar, dan gangguan konjugasi bilirubin. Hiperbilirubinemia pada masa neonatal dibagi menjadi dua yaitu ikterik fisiologis dan non-fisiologis. Neonatus memiliki kadar bilirubin lebih tinggi (terutama bilirubin indirek) dibandingkan dewasa. Hal inilah yang menyebabkan ikterik fisiologis. Proses-proses non-fisiologis yaitu breastfeeding jaundice, sindroma Lucey-Driscoll, hemolisis, gangguan metabolik/ endokrin, galaktosemia, fruktosemia, hipoglikemia, hipoalbunemia, hipotiroidisme, sepsis, hipoksia, dan stenosis pyloric hypertrophy. Selain itu, ikterik pada masa neonates juga dapat disebabkan oleh peningkatan muatan bilirubin seperti pada inkompatibilitas Rh/ ABO, gangguan sel darah merah herediter (anemia bulan sabit, spherocytosis/elliptocytosis herediter), reaksi obat, dan eritropoesis yang tidak efektif seperti pada thalasemmia, defisiensi Vitamin B12 dan anemia diserytropoetik kongenital. Peningkatan produksi bilirubin dapat terjadi akibat hemolisis. Hemolisis akan meningkatkan level bilirubin indirek dalam plasma (1-4mg/dl). Selama krisis hemolitik akut pada anemia sel bulan sabit atau hemoglobinuria nocturnal paraoksismal, produksi bilirubin dan kadar plasma bilirubin meningkat melebihi level tersebut. Pada proses eritropoesis yang inefektif (produksi early labeled bilirubin (ELB)) juga ditemukan peningkatan bilirubin yang dikenal sebagai hiperbilirubinemia pintas primer (primary shunt hyperbilirubinemia) atau ikterik diseritropoitik idiopatik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful