You are on page 1of 8

Dari : http://cungkringmacho.blogspot.com/2012/03/pencemaran-limbahminyak-di-wilayah.

html

PENCEMARAN LIMBAH MINYAK DI WILAYAH LAUT INDONESIA


PENCEMARAN LAUT Pencemaran laut merupakan suatu peristiwa masuknya material pencemar seperti partikel kimia, limbah industry, limbah pertanian dan perumahan, ke dalam laut yang bisa merusak lingkungan laut. Material berbahaya tersebut memiliki dampak yang bermacam-macam dalam perairan. Ada yang berdampak langsung, maupun tidak langsung. Sebagian besar sumber pencemaran laut berasal dari daratan, baik tertiup angin, terhanyut, maupun melalui tumpahan. Salah satu penyebab pencemaran laut adalah kapal yang dapat mencemari sungai dan samudera dalam banyak cara. Misalnya melalui tumpahan minyak, air penyaring dan residu[1] bahan bakar. Polusi dari kapal dapat mecemari pelabuhan, sungai, dan lautan. Kapal juga membuat polusi suara yang mengganggu kehidupan organisme perairan, dan aire dari ballast tank yang bisa mempengaruhi suhu air sehingga mengganggu kenyamanan organisme yang hidup dalam air. Limbah kimia yang bersifat toxic (racun) yang masuk ke perairan laut akan menimbulkan efek yang sangat berbahaya. Kelompok limbah kimia ini terbagi dua, pertama kelompok racun yang sifatnya cenderung masuk terus menerus seperti pestisida, furan, dioksin dan fenol. Terdapat pula logam berat, suatu unsur kimia metalik yang memiliki kepadatan yang relative tinggi dan bersifat racun atau beracun pada konsentrasi rendah. Contoh logam berat yang sering mencemari adalah air raksa, timah, nikel, arsenik, dan kadmium. Dan kelompok racun yang kedua adalah bahan kimia anorganik yang bisa berbahaya bagi ekosistem laut seperti nitrogen dan fosfor. Sumber dari limbah ini umumnya berasal dari sisa pupuk pertanian yang terhanyut kedalam perairan, juga dari limbah rumah tangga berupa detergent yang banyak mengandung fosfor. Senyawa kimia ini dapat menyebabkan eutrofikasi[2], karena senyawa ini merupakan nutrisi bagi tumbuhan air seperti alga dan fitoplankton. LIMBAH MINYAK Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi produksi minyak, pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan, pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak kapal laut. Limbah minyak bersifat mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif[3]. Limbah minyak merupakan bahan yang dapat mencemarkan dan membahayakan lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya. Limbah minyak terjadi dikarenakan oleh dua sebab utama yaitu : 1. Pengeboran Di Laut Pada umumnya, pengeboran minyak bumi di laut menyebabkan terjadinya peledakan (blow out) di sumur minyak. Ledakan ini mengakibatkan semburan minyak ke lokasi sekitar laut, sehingga menimbulkan pencemaran. 2. Tumpahan Minyak

Tumpahan minyak dilaut bersal dari kecelakaan dari kapal tanker. Contohnya adalah tumpahan minyak terbesar yang terjadi pada tahun 2006 di lepas pantai Lebanon. Selain itu, terjadi kecelakaan Prestige pada tahun 2002 di lepas pantai Spanyol. Bencana alam seperti badai atau banjir juga dapat menyebabkan tumpahan minyak. Sebagai contoh, pada tahun 2007 di Kansas menyebabkan lebih dari 40.000 galon minyak mentah dari kilang tumpah ke perairan itu. AKIBAT LIMBAH MINYAK Akibat yang ditimbulkan dari terjadinya pencemaran minyak bumi dilaut adalah : Rusaknya estetika pantai akibat bau dari material minyak. Residu berwarna gelap yang terdampar di pantai akan menutupi batuan, pasir, tumbuhan, dan hewan. Gumpalan tar yang terbentuk dalam proses pelapukan minyak akan hanyut dan terdampar di pantai. Kerusakan biologis, bias merupakan efek letal dan subletal. Efek letal yaitu reaksi yang terjadi saat zat-zat fisika dan kimia mengganggu proses sel ataupun subsel pada makhluk hidup hingga memungkinkan terjadinya kematian. Efek subletal adalah efek yang mempengaruhi kerusakan fisiologisdan perilaku, namun tidak mengakibatkan kematian secara langsung. Terumbu karang akan mengalami efek letal dan subletal dimana pemulihannya memakan waktu lama karena kompleksitas dari komunitasnya. Pertumbuhan fitoplankton[4] laut akan terhambat akibat keberadaan senyawa beracun dalam kompnen minyak bumi, juga senyawa beracun yang terbentuk dari proses biodegradasi[5]. Jika jumlah fitoplankton menurun, maka populasi ikan,udang, dan kerang juga akan menurun. Padahal hewan-hewan tersebut dibutuhkan manusia karena memiliki nilai ekonomi dan nilai gizi yang tinggi. Penurunan populasi alga dan protozoa akibat kontak dengan racun slick(lapisan minyak dipermukaaan air). Selain itu, terjadi kematian burung-burung laut. ANALISIS PENCEMARAN LAUT AKIBAT TUMPAHAN MINYAK DI LAUT Beberapa efek tumpahan minyak di laut dapat dilihat dengan jelas seperti pada pantai menjadi tidak indah lagi untuk di pandang, kematian burung laut, ikan, dan kerang-kerangan, atau meskipun beberapa dari organism tersebut selamat, akan tetapi menjadi berbahaya untuk dimakan. Efek periode jangka panjang (sublethal) misalnyab perubahan karakteristik populasi spesies laut atau struktur ekologi komunitas laut, hal ini tentu dapat berpengaruh terhadap masyarakat pesisir yang lebih banyak menggantungkan hidupnya disektor perikanan dan budi daya, sehingga tumpahan minyak akan berdampak buruk terhadap upaya perbaikan kesejahteraan nelayan. Berikut adalah table indeks kepekaan tipe pantai terhadap tumpahan minyak[6]. Indeks Tipe Garis Pantai Keterangan 1 Terekspose pada puncak batuan Energy gelombang yang besar pantai menyebabkan tumpahan minyak akan tercuci dengan sendirinya. 2 Terekspose pada platform batu- Aksi gelombang mempercepat pencucian batuan minyak, umumnya dalam skala mingguan. Dalam beberapa kasus khususnya tidak diperlukan. 3 Dataran pantai berpasir lembut Minyak biasanya membentuk lapisan tipis pada pemukan pasir. Pencucian

1.

2.

3.

4.

7 8

9 10

dilakukan pada saat air pasang. Pada bagian pantai yang lebih bawah minyak mudah dibersihkan oleh aksi gelombang. Pantai berpasir dengan ukuran Minyak membentuk lapisan tebal pada sedang sampai kasar lapisan sedimen yang dapat mencapai kedalaman sampai sekitar 1 m. pencucian yang dilakukan dapat membahayakan pantai dan harus dilakukan pada saat air pasang tertinggi Terekspose pada daerah pasang Minyak tidak terpenetrasi pada surut permukaan sedimen yang kompak, tetapi secara biologis berbahaya. Pencucian hanya dilakukan jika kontaminan cukup berat Pantai dengan campuran pasir dan Minyak terpenetrasi dan terkubur sangat kerikil cepat, minyak dapat bertahan lama, sehingga mempunyai dampak yang cukup lama Pantai berkerikil Minyak dapat terpenetrasi dan terkubur cukup dalam. Pantai berbatu yang terlindung Minyak menempel pada permukaan batubatuan dan genangan akibat pasang surut bertahan lama karena tidak adanya aktivitas gelombang. Paparan pantai yang telindung Dapat membahayakan kehidupan biologis dalam kurun waktu yang lama. Rawa-rawa dan mangrove Dapat menimbulkan kerusakan ekosistem yang cukup lama. Minyak mungkin tetap ada sampai sekitar 10 tahun atau lebih.

Dan table efek minyak pada komunitas dan populasi laut[7]. NO Tipe Komunitas/Populasi Perkiraan dampak awal 1 2 Plankton Komunitas bentik : -Pasut berbatuan -Pasut Berlumpur/berpasir -Daerah subtidal/offfshore Ikan Burung Mamalia laut Ringan-sedang Ringan Sedang Berat Ringan-sedang Berat Ringan

Perkiraan tingkat pemulihan Cepat-sedang Cepat Sedang Lambat Cepat-sedang Lambat Lambat

3 4 5

KASUS PENCEMARAN LAUT KARENA LIMBAH MINYAK OLEH AUSTRALIA DI PERAIRAN INDONESIA

Kasus terbesar di Indonesia akibat pencemaran minyak terjadi di Laut Timor akibat meledaknya sumur minyak Montara milik PTTEP Australia. Kasus tersebut terjadi pada 21 Agustus 2009 pukul 04.30 WIB, dan berlokasi di Montara Welhead Platform (WHP), Laut Timor, atau sekitar 200 km dari Pantai Kimberley, Australia. Kejadian seperti ini merupakan yang kesekian kalinya terjadi di perairan Indonesia, tercatat samapi tahun 2001, telah terjadi 19 peristiwa tumpahan minyak di perairan Indonesia[8]. Tumpahan minyak tersebut telah memasuki wilayah perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) sejauh 51 mil atau sekitar 80 km tenggara Pulau Rote. Tumpahan minyak tersebut tentu berdampak pada banyak hal, diantaranya, terhadap kondisi lingkungan laut, biota laut, dan tentu saja berdampak pada ekonomi nelayan Indonesia yang setiap harinya beraktivitas di daerah tersebut. Secara umum, dampak langsung yang terjadi adalah sebanyak 400 barel atau 63,3 ribu liter minyak mentah mengalir ke Laut Timor per hari. Permukaan laut tertutup 0,0001 mm minyak mentah, minyak mentah masuk ke Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE) Indonesia pada 28 Oktober 2009, serta gas hidrokarbon[9] terlepas ke atmosfer. Ironisnya, pemerintah tidk bias memberikan angka valid terhadap kerugian yang diakibatkan oleh pencemaran minyak Montara tersebut. Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI), Dr. Y. Paonganan. M.Si. yang juga Pakar Ekologi Laut menilai, lambannya pemerintah dalam menyikapi persoalan pencemaran Laut Timor telah mencabik-cabik harkat, martabat dan jati diri bangsa Indonesia. Menurut Paonganan, pemerintah tidak pernah mempunyai perhatian serius terhadap masalah pencemaran di laut Timor. Masalah Laut Timor bukan hanya masalah sepele dari sisi ekologi, tapi merupakan masalah berbahaya yang mengancam masa depan anak cucu karena akan berdampak panjang. Kita berharap Presiden menyikapi hal ini. Bila tidak, kita kan buat gerakan yang lebih besar untuk mendesak pemerintah menyikapinya lebih serius. Sehingga, harga diri dan jati diri bangsa tidak tercabik-cabik karena persoalan ini. Tegas Paonganan. Ia juga menggaris bawahi seharusnya pemerintah melakukan kajian ilmiah secara komprehensif dan menyeluruh di Laut Timor agar proses klaim ke pihak pencemar disertai bukti-bukti ilmiah akurat. Tak heran, Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) dengan tegas menolak rencan PTTEP Australia, untuk memberikan ganti rugi 5 juta dolar AS atau 45 miliar bagi para nelayan dan petani rumput laut di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlah ganti rugi tersebut sangat tidak sebanding dengan penderitaan yang ditanggung para nelayan dan petani rumput laut sejak terjadinya pencemaran Laut Timor, seluas 85.000 kilometer persegi akibat meledaknya lading minyak Montara, pada 21 Agustus 2009 lalu[10]. YPTB bahkan mengajukan pengaduan baru dengan melengkapi seluruh data tambahan berkaitan dengan pencemaran akibat ledakan ladang minyak Montara. Jumlah nelayan yang mengalami kerugian, jauh lebih banyak dibandingkan yang diajukan Tim Nasional yang dipimpin Menhub Fredy Numberi. Saya minta Menteri Perhubungan Fredy Numberi tidak mengorbankan dan menggadaikan harga diri masyarakat Timor Barat-NTT, dan menjadikan kami sebagai warga negara kelas tiga di negara ini, ujar Tanoni. Tanoni menyatakan hal tersebut untuk menaggapi pernyataan Fredy Numberi bahwa Pemerintah Indonesia akan menerima ganti rugi dari pihak PTTEP Australia sebesar 5 juta Dolar AS terkait pencemaran di Laut Timor. Dari hasil laporan pemerintah Australia, kata Fredy, PTTEP seuju untuk membayar ganti rugi kepada masyarakat

yang terkena dampak. Tadinya mereka minta 1 juta dolar AS, tapi kami tidak setuju, kilah Numberi dalam pernyataannya. Menurut Tanoni, kesediaan Menhub menerima ganti rugi 5 juta dolar AS, berarti pemerintah Indonesia secara tidak langsung mengakui data-data ilmiah yang diklaim oleh PTTEP Australia sangat tidak valid. Dengan kata lain, Pemerintah Indonesia mengakui bantahan PTTEP Australia bahwa sebagian besar data-data dari Indonesia hanya berdasarkan pada asumsi saja, beber Tanoni. Sebenarnya, kata Tanoni, nilai ganti rugi 5 juta dolar AS bukan hal baru. Angka tersebut sudah pernah diajukan pada Juli 2010. Namun, saat itu diprotes keras oleh YPTB. Kemudian Pemerintah Indonesia mengajukan klaim 2,3 miliar dolar AS atau Rp.22 triliun, namun di tolak PTTEP Australia. Tanoni mengatakan, jika Fredy Numberi menyepakati menerima 5 juta dolar AS, maka hal ini merupakan sebuah kemunduran besar. Seharusnya yang dilakukan Fredy saat tumpahan minyak terjadi adalah mengusulkan kepada Presiden untuk membuat sebuah Crsah Program bernilai Rp.100 miliar hingga Rp.200 miliar untuk membantu para nelayan dan petani rumput laut. Karena itu, Tanoni meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyno bersikap cepat dan tegas dalam penyelesaian masalh Montara dengan memperhatikan fakta dan data-data yang telah disampaikan YPTB sejak Desember 2010. Harus ada sikap tegas Presiden untuk menyelesaikan masalah ini, tandasnya[11]. TINDAKAN PEMERINTAH TERHADAP KASUS LAUT TIMOR Menteri Perhubungan Fredy Numberi menegaskan, permasalahan terkait pencemaran di Laut Timor bukanlah permasalahan antara Pemerintah Indonesia dengan Australia terkait pelaksanaan penuntutan ganti rugi. Menhub menambahkan, terkait dengan itu, Pemerintah Indonesia melalui Tim Nasional Penanggulangan Pencemaran Laut Timor yang di ketuainya, telah melakukan kerja sama koordinasi dengan Pemerintah Australia. Salah satunya dalam melakukan verifikasi data dan pemetaan wilayah perairan masing-masing negara yang terkena cemaran minyak kilang Montara. Disampaikan Menhub, Pemerintah Indonesia berdasr data-data yang telah dihimpun akan menyampaikan klaim ganti rugi jangka panjang terkait pencemaran Laut Timor kepada PTTEP Australia, pemilik kilang Montara yang meledak di Blok West Atlas, 21 Agustus 2009. Alasannya, pencemaran tersebut tidak hanya menimbulkan dampak langsung terhadap ekosistem di perairan yang tercemar, tetapi juga memunculkan akibat jangka panjang bagi perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat yang mengandalkan pendapatan hidupnya di laut. Berbeda dengan pencemaran yang dilakukan oleh kapal, kata Menhub, penanganan ganti rugi akibat pencemaran langsung oleh kilang belum memiliki formula penghitungan yang pasti. Hal ini membuat proses penggantian kerugian membutuhkan waktu yang lebih panjang. Sehubungan dengan itu, Menhub menegaskan dalam pertemuan-pertemuan internasional mendatang, Pemerintah Indonesia akan menyinggung hal ini. Dikatakan, dengan adanya penghitungan konversi kerugian terhadap imbas jangka panjang yang terjadi, sangat tidak mustahil Pemerintah Indonesia menurut PTTEP Australia dengan besaran klaim hingga mencapai Rp.1 triliun atau lebih. Di sisi lain, pihak manajemen PTTEP Australia sudah menyatakan tidak menutup diri terhadap seberapa pun besar nilai kerusakan dan dampaknya yang akan diklaim. Namun, tegasnya, bukan berarti penuntutan bias dilakukan dengan serta-merta.

Menurut Menhub, dalam kurun dua minggu ke depan, Tim Nasional akan bekerja keras melakukan seluruh penghitungan-penghitungan tersebut. Dijadwalkan, 27-28 Agustus nanti aka nada rapat berikut untuk pengajuan klaim dari kita untuk tuntutan ganti rugi, jelasnya. TINDAKAN YAYASAN PEDULI TIMOR BARAT (YPTB) TERHADAP KASUS LAUT TIMOR Kasus pencemaran minyak di Laut Timor akibat meledaknya sumur minyak Montara pada 21 Agustus 2009, siap dibawa ke Pengadilan Australia oleh Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) pimpinan Ferdi Tanoni. Kami akan segera mendaftarkan kasus tersebut, jika Pemerintah Indonesia dan perusahaan pencemar Laut Timor PTTEP Australia menolak untuk duduk bersama di satu meja guna menuntaskan kasus tersebut, kata Tanoni kepada Pers di Kupang. Tanoni yang juga mantan agen imigrasi Kedutaan Besar Australia itu mengatakan cukup kecewa dengan hasil perombakan (reshuffle) kabinet yang diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada selasa malam, karena sama sekali tidak menyinggung dan member prioritas pada urusan pencemaran minyak di Laut Timor. Meskipun demikian, dia member apresiasi kepada Presiden yang mencopot tiga menteri dalam kabinetnya yang ia nilai bertanggung-jawab penuh atas pencemaran minyak di Laut Timor. Mereka itu Menteri Perhubungan ; Fredy Numberi,Menteri Perikanan dan Kelautan ; Fadel Muhammad, serta Menteri Negara Lingkungan Hidup ; Gusti Muhammad Hatta. Ia mengharapkan agar tongkat komando Timnas Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut (PDKTML) dibawah kendali Menteri Perhubungan yang baru ; Ever Ernest Mangindaan, dapat menyatukan langkah dengan YPTB dalam upaya menyelesaikan kasus tumpahan minyak di Laut Timor. Menurut dia, sebuah langkah baru dengan tetap mengacu pada aturan hukum lingkungan dan hak-hak dasar manusia yang berlaku di Indonesia, Australia dan dunia internasional perlu dibangun. Mekanisme penelitian ilmiah perlu dibina agar lebih komprehensif dan kredibel. DASAR HUKUM PENCEMARAN LAUT Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. Pasal 1 PP no.19 tahun 1999: Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Laut adalah ruang wilayah lautan yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsure terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional; 2. Pencemaran Laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kuatitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya; 3. Baku mutu air laut adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsure pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air laut; 4. Perusakan laut adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang metampui kriteria baku kerusakan laut; 5. Kerusakan laut adalah perubahan fisik dan/atau hayati laut yang melewati kriteria baku kerusakan laut; 6. Kriteria baku kerusakan laut adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan laut yang dapat ditenggang;

7. Status mutu laut ada tingkatan mutu laut pada lokasi dan waktu tertentu yang dini berdasarkan baku mutu air laut dan/atau criteria baku kerusakan laut; 8. Perlindungan mutu laut adalah setiap upaya atau kegiatan yang dilakukan agar mutu laut tetap baik; 9. Pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut adalah setiap upaya atau kegiatan pencegahan dan/atau penanggulangan dan/atau pemulihan pencemaran dan/atau perusakan laut; 10. Pembuangan (dumping) adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan/atau kegiatan dan/atau benda tam yang tidak terpakai atau daluarsa ke laut; 11. Limbah adalah sisa usaha dan/atau kegiatan; 12. Limbah cair adalah sisa dan proses usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair; 13. Limbah padat adalah sisa atau hasil samping dan suatu usaha dan/ atau kegiatan yang berwujud padat termasuk sampah; 14. Orang adalah orang perseorangan, dan/atau kelompok orang, dan/ atau badan hukum; 15. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan; 16. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. KESIMPULAN Kasus pencemaran laut akibat dari tumpahan minyak dapat berpengaruh pada beberapa sektor, diantaranya lingkungan pantai dan laut, ekosistem biota pantai dan laut, dan mengganggu aktivitas nelayan sehingga mempengaruhi kesejahteraan mereka. Pengaruh-pengaruh tersebut antara lain dapat mengubah karakteristik populasi spesies dan struktur ekologi komunitas laut, dapat mengganggu proses perkembangan dan pertumbuhan serta reproduksi organisme laut, bahkan dapat menimbulkan kematian pada organisme laut. Dan untuk kasus pencemaran minyak antara Australia dan Indonesia, sebaiknya digunakan jalan berunding dengan mambawa bukti-bukti yang rill untuk menentukan seberapa parah kerusakan ekosistem di Laut Timor dan siapa yang akan menanggung biaya penggantian kerugian dan penetapan jumlah total kerugian, dan sebaiknya pemerintah lebih serius dalam menanggapi kasus pencemaran minyak ini. SUMBER REFERENSI Mukhtasor, 2007, Pencemaran Pesisir Dan Laut, Jakarta : PT. Pradnya Paramita SuaraMerdeka.com Madina.co.id Indomaritimeinstiute.org http://www.edmart.staff.ugm.ac.id http://id.wikipedia.org

[1] Residu adalah sisa insektisida yang ditinggalkan sesudah perlakuan dalam jangka waktu yang panjang dan menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa khemis dan fisis yang mulai bekerja. [2] Eutrofikasi adalah masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-), khususnya dalam ekosistem air tawar. Defines dasar dari eutrofikasi adalah pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan kedalam ekosistem air.

[3] Korosif adalah sifat suatu subtantsi yang dapat menyebabkan benda lain hancur atau memperoleh dampak negative. [4] Fitoplankton adalah komponen atotrof plankton. Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makan sendiri yang berupa bahan organic dan bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen. [5] Biodegradasi adalah istilah yang digunakan dalam ekologi untuk menggambarkan proses biokimia yang cendrung membawa zat organik, yang dihasilkan secara langsung ataupun secara tidak langsung dari fotosintesis dalam zat anorganik. [6] Table tumpahan minyak oleh : Gunland dan Hayes, 1978 dalam Bishop, 1983 [7] Tabel efek minyak pada komunitas dan populasi laut oleh : Hyland dan Sceneider, 1976 dalam Bishop, 1983. [8] Mukhtasor. 2007. Pencemaran Pesisir dan Laut. Jakarta : PT Pradnya Paramita [9] Dalam bidang kimia, Hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri dari unsure atom karbon (C) dan atom hydrogen (H). seluruh Hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atom-atom hydrogen yang berikatan dengan rantai tersebut. Istilah tersebut digunakan juga sebagai pengertian dari Hidrokarbon Alifatik. [10] Ferdi Tanoni, Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB). [11] Sumber: Indomaritimeinstitute.org