Bab Dua

DANNY melangkah keluar dari flatnya di Mayfair dan menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan iPod dan memasang earphone ke telinga, lalu berjalan ke stasiun kereta bawah tanah. Suasana hatinya saat itu sangat bertolak belakang dengan langit yang cerah. Wajar saja. Ia baru saja berbicara dengan ayahnya di telepon. Setiap kali ia selesai berbicara dengan ayahnya, dadanya selalu terasa berat. Tadi ia menelepon orangtuanya hanya untuk mengabarkan bahwa ia sudah tiba di London dengan selamat. Orangtuanya selalu mencemaskannya, selalu khawatir apabila pekerjaan Danny menuntutnya pergi ke luar negeri. Sering kali Danny merasa tertekan dengan kekhawatiran yang berlebihan terhadap dirinya itu. Karena itulah ia juga harus terus-menerus mengingatkan diri sendiri untuk memaklumi perasaan orangtuanya. “Kau tahu benar kenapa mereka mengkhawatirkanmu, In-Ho,” kata Anna dulu ketika Danny pertama kali mengungkapkan perasaan tertekannya kepada kakak perempuannya. “Aku tahu, Nuna,” gerutu Danny, lalu mendesah. “Aku tahu.” Danny tahu benar bahwa semua kekhawatiran itu bermula dari kecelakaan lalu lintas yang menewaskan kakak lakii-laki mereka, putra sulung keluarga Jo, ketika sedang berada di luar negeri. “Ayah dan Ibu sudah tua,” kata Anna sambil menatap Danny yang saat itu memandang kosong ke luar jendela. Ia mengerti apa yang dirasakan Danny dan ia juga bisa merasakan perasaan tertekan adiknya itu, tetapi bagaimanapun juga Danny sendiri harus mengerti perasaan orangtua mereka. “Karena Oppa1 sudah tidak ada, yang tersisa hanya kau. Hanya kau anak laki-laki yang bisa mereka andalkan untuk menjaga keluarga.”
1

Panggilan wanita kepada pria yang lebih tua / kakak

Saat itu Danny hanya diam, tidak tahu harus berkata apa, dan kembali

Kita akan mulai setengah jam lagi. Kau bisa memperkenalkan diri nanti. “Aku baik-baik saja. Ia berhenti di . gadis itu pasti lawan mainnya. ia melihat para staf produksi sibuk bersiapsiap memulai proses syuting. Ketika Danny tiba di lokasi syuting. menyentakkan Danny kembali ke alam sadar. “Sebaiknya kau juga bersiap-siap. jadi kau jangan berceloteh kepadanya dalam bahasa Korea. ia menoleh dan tersenyum lebar. Waktunya meninggalkan masalah pribadi dan mulai bersikap profesional. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berseru memanggilnya. Ia bertubuh kurus. “Ngomong-ngomong.” “Bagus. bertopi. Kurasa dia sedang dirias. penata rias selebriti yang sudah dikenalnya. berkacamata.” Bobby Shin mengangguk-angguk. Ia menarik napas panjang.” katanya. Seharusnya itu bukan masalah besar. bersama seorang gadis berambut hitam panjang yang belum pernah dilihatnya. Ia menoleh ke arah salah satu tenda dan melihat Yoon.” panggilnya ketika ia melihat si sutradara sedang mengobrol dengan salah seorang kamerawan. “Apa kabar. Ia enyapa beberapa staf yang dikenalnya dan pergi mencari Bobby Shin.” sahutnya ramah dan mengulurkan tangan. tapi jadwal kita akan sangat padat. lawan mainmu sudah datang. Kereta berhenti di stasiun Hyde Park Corner. Dia orang Jepang. Nuna?” sapa Danny sambil menghampiri Yoon. “Danny boy. “Kau baru tiba kemarin. “Hyong2. Nah. Bobby Shin yang berusia empat puluhan terlihat seperti penampilan sutradara pada umumnya.” Danny menjabat tangan Bobby Shin yang terulur. senang bertemu denganmu lagi. Kita hanya punya waktu tiga hari untuk syuting.” kata Danny. “Hyong tidak perlu khawatir. dan tidak ada ciri khusus di wajahnya yang ramah. Mendengar panggilan Danny. agak bungkuk karena terbiasa duduk membungkuk menatap monitor.memandang ke luar jendela. bukan? Kuharap kau tidak jet-lag.” Danny pergi menyapa beberapa staf produksi yang sudah dikenalnya.

“Ada sesuatu yang berubah di sini. “Omong kosong.” kata Danny dan menyunggingkan senyumnya yang terkenal. seolah-olah baru tersadar dari lamunan. Mungkin matanya yang besar itulah yang membuatnya tidak mirip orang Jepang. Hmm. lalu menyipitkan mata. Danny Jo memang tepat seperti yang digambarkan Yoon tadi. Dan. Danny Jo cepat-cepat berkata. “Kau yang akan menjadi lawan mainku. Danny mengulurkan tangan dan berkata dalam bahasa Inggris. “Dan kau pasti gadis yang membuatku jatuh cinta.” Gadis itu tersentak. mendongak dan menatap langsung ke arah Danny. Dan mata itu menatap Danny dengan kaget dan gugup. takut? *** Naomi mendongak dan menatap laki-laki berambut hitam dan bertubuh jangkung yang berdiri di dekatnya itu tanpa berkedip. Sebelum Naomi sempat membuka mulut. lalu tertawa..depan Yoon dan menatap wanita bertubuh agak gempal itu dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Kemudian ia mengalihkan perhatian kepada gadis yang satu lagi.” Ia berhenti sejenak.. Dan Naomi memang merasa hampir pingsan. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran Danny ketika ia melihat wajah gadis itu dengan jelas adalah bahwa gadis itu mirip boneka. Kau akan berperan menjadi gadis yang membuatku jatuh cinta dalam video musik ini. walaupun alasannya jauh berbeda dengan perkiraan Yoon. maksudku. bukan?” Naomi mengerjap satu kali. Bukankah Sutradara Shin berkata gadis ini orang Jepang? Tetapi gadis ini tidak benar-benar mirip orang Jepang. “Dalam video musik ini. lalu bertanya ragu. .. yang 2 Panggilan pria kepada pria yang lebih tua / kakak duduk diam sambil menggenggam cangkir kertas dengan kedua tangan. Aku tahu berat badanku tidak turun-turun walaupun aku sudah mencoga segala macam diet.” “Tapi Nuna tetap cantik.. Nuna lebih kurus ya?” Yoon meringis. Perlahanlahan ia mengembuskan napas yang ternyata ditahannya sejak tadi dan bergumam.

Kemudian ia kembali menatap Naomi. mengundang Naomi menjabatnya.” Tepat pada saat itu terdengar seseorang berseru memanggil Danny dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Korea. “Itu penata riasku. menunduk menatap jari-jari tangannya yang saling meremas. “Namaku Danny. Naomi menarik napas dalam-dalam dan memaksa dirinya tersenyum kepada bayangan Yoon di cermin. Matanya bersinar geli. “Dia baik sekali. Naomi menunduk menatap tanagn Danny. “Naomi Ishida.“Ya. kemudian ia meletakkan cangkir kertasnya di atas meja dan berdiri dari kursi. Ia membungkuk sedikit sebelum menjabat tangan Danny—itu salah satu kebiasannya sebagai orang Jepang yang tidak bisa dihilangkannya—dan bergumam. kau tidak mau melihat penata riasku .” jealsnya dalam bahasa Inggris karena tahu Naomi tidak bisa berbahasa Korea.” gumamnya. Entah berapa lama Naomi duduk di sana dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Danny membalikkan tubuh dan bergegas menghampiri penata rias yang sudah menunggunya. Percayalah padaku.” Ia mengangkat bahu. “senang berkenalan denganmu. “Tapi sebaiknya aku menurutinya.” kata Danny.” katanya sambil menggerakkan tangannya yang masih terulur. bukan?” kata Yoon ketika Naomi kembali duduk dan menatap cermin. “Dia menyuruhku segera bersiap-siap karena kita akan segera mulai syuting. senyumnya melebar. Danny Jo.” “Naomi. Naomi mendongak dan menarik napas. Aku pernah melihatnya dan itu bukan pemandangan yang bagus. Aku tidak mengerti kenapa aku harus dirias kalau wajahku tidak akan disorot sepanjang video musik ini. Danny menoleh ke belakang dan balas menyerukan sesuatu.” Setelah melambai singkat kepada Naomi.” Danny tersenyum. Ia baru tersadar dari lamunannya ketika seseorang berseu menyuruh para model berkumpul karena syuting akan segera dimulai. “Ya. mengamuk.

Ini adalah pekerjaannya dan ia tahu ia bisa melakukannya. Ia hanya perlu bertahan tiga hari. Lalu semua ini akan segera berakhir.Saatnya meninggalkan masalah pribadi dan mulai bersikap profesional. . pikir Naomi dalam hati. Hanya tiga hari. Lakukan dan selesaikan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful