P. 1
MardiLuhung Lorong

MardiLuhung Lorong

|Views: 27|Likes:
Published by Joshua Sentosa
Kumpulan Puisi Mardi Luhung
Kumpulan Puisi Mardi Luhung

More info:

Categories:Topics
Published by: Joshua Sentosa on Sep 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2014

pdf

text

original

SAJAK-SAJAK MARDI LUHUNG

LORONG AMPYANG
(2008-2009)

Sedangkan. Selembut rentangan tali tipis dari napas ke Maut. “Ada guguran putik di keningmu. Dengan lembut. “Anak kita sudah dewasa. ayahku dan ibuku kini berkilau. Juga saling memerhatikan. kami memang penyuka ayam. Keduanya persis remaja pulang belajar.” kata ayahku. ada laut yang mendekati gunung. 2012) . “Dari dulu. ke naga. Tapi sesekali datang padaku. Dan abu ayahku disebar ke laut. Siapa yang mengucapnya? Ayahku atau ibuku? Barangkali keduanya. kau suka melihatnya. Keduanya terpisah. ke laron. “Malah ketika kami memeliharanya di halaman belakang. Dan ayam bertelur. Dan ada aku yang melihatnya.” tukas ibuku. Dan ketika ibuku yang wafat: dikubur. yang sesekali kelak akan datang padanya. Terus berangkulan. Bergandengan. nisan ibuku ada di gunung. dengan berpasangan. Aku cuma tersenyum. Dan itu kilau apa? Dari jenis apa? Aku tak bisa menduganya. Seperti siapa saja yang melihat semesta. (Gresik. Barangkali juga bukan keduanya. Telur menetas. “Kerah bajumu nyelip. Bentukbentuk silih-ganti. Dekat telaga.KETIKA Ketika ayahku wafat: dibakar. ke macan. ke unta. bukan?” tambah ibuku. Melubanginya dengan pelan. Saling colek dan pandang. Ada gunung yang melingkupi laut. Lahir anak ayam. ke ayam. kilau itu meluncur ke diriku.” balas ayahku. ke kucing. Dari marmut ke burung. Wangi melati menyeruak. Lalu keduanya duduk di depanku. Dengan hangat. ke belalang. Silih jelma. ya?” Dan itu penutup yang aku dengar. Yang jelas. Ayahku tertawa. Datang berpasangan. Hmm. Tapi merasa. Ibuku juga tertawa.

naik-turunnya arah itu. dan terus mengingatmu. Seperti aku mengingat kuku. Embun yang pecah tepat di telangkup potongan kukuku yang tersebar itu. Arah yang di kanan-kirinya." dan itu jawabanmu.KUKU ampyang Aku mengingatmu. "Tapi. tujuh. lurusnya. Jimat percik giok dengan warna hijau. Ya. Dan betapa berkeloknya. Agar terkorek tanah dan kotoran di lekukannya. telah menumbuhkan jimat percik giok di jantung jisimku. Warna hijau yang sedikit disepuhi si kelabu susu. betapa berbinarnya lentera yang menandai arah ke padamu. seratus dan bahkan sampai tak terjumlah. kau pun dapat melihatnya. jika aku mengingatmu. seluruh lantai dan dindingnya telah aku penuhi dengan kata. Seperti keindahan lambaian tangan si penenun di lembaran sutra. Warna kuku! (Gresik. aku tak peduli. aku mengingat. dua puluh. ya. Sebab. selalu saja akan menjelmakan dirimu. Memang. Dan di antara jarak yang seperti ini. di bilikku. kau merasa selalu saja memainkan tepukan dengan sebelah tangan untuk ketakbisaan itu. Dirimu yang menari di bawah jatuhnya embun pada musim hujan. Sutra yang dikemulkan di lubang keranjang si kue yang kau persembahkan untuk Ibu Suci. Kukuku yang setiap memanjang selalu aku potong dan aku rapikan. sungguh. Dan mengapa pula. Kata yang jika dirangkum. Kukuku di jari tangan. Agar setiap aku melambai. aku tak bisa untuk membalas lambaianmu itu. Kata berjumlah tiga. Betapa indah lambaian tanganku. Arah yang demikian dekat tapi jauh. 2010) . masih saja aku merasa. mengapa mesti meminta membalas lambaian dengan lambaian. Tapi.

Arah berangkat ke depan atau ke belakang. Arah dimana. Kemenangan dan kesialan untuk mencari jalan arah berangkat.” Aku lihat. Sambil tak lupa menumpahkan segenap-keringat-isikantung gelapmu. Atau malah menjelma ke bentuk lain. kau pun kembali terjun ke air. Dia cuma mau menyambutmu. nanti dia malah akan jadi lebih tegang darimu. yang seperti cumi-cumi pun terjun ke air. kau selalu meludahi mulutku. Agar tak ada yang tahu: apakah kau akan menghilang atau menyelam. pun tak lagi dapat kau samarkan. Terjun dengan sekian tanganmu yang begitu memanjang dan menjulur. Atau ke arah-arah yang mana aku suka. Akh. Yang setiap ada bocah disunat di malam hari. 2008) .” Bertengger sambil menakikkan kemenangan dan kesialanku. Jadi jangan tegang. Mengucek rambutmu dan terus mengantarmu ke pantai yang sama dengan pantai yang di atas. aku dapat menakwil. (yang semula gagu ini) pun berkilah: “Terima kasih. (Gresik. Mengering dalam warna coklat. yang seperti cumi-cumi atau seperti buaya-putih-kuno yang gaib itu. ya aku. Menjilati sepercik bekas darah kulup yang mengering. Dan bentukmu. selalu merapat ke pojok-kolong-ranjangnya. Dan aku. Agar segera dapat balik membalas meludahi mulutmu.LUDAH Setiap datang. Mengucek rambutku dan mengantarku ke pantai. aku selalu ingin memapak kedatanganmu yang berikutnya. kau.. mengapa di setiap aku menyabung ayam. Seperti bentuk buaya-putih-kuno yang gaib. kau selalu saja bertengger di puncak-ujung-gilap-taji. aku lihat. Ke atas atau ke samping. Sebab lewat ludahmu itu. Lalu. Warna sawo yang pahit. kata denyut karang dan kerang yang mengintip dengan waswas: “Maafkan dia..

rambut dan punggungku yang telah terbuang hitam. teruslah.RUMAH WARNA rotib di beranda abi Ajari aku mencongkel mata. Ajari aku memotong telinga dan hidung. pertemuan kita yang telah dijanjikan berpendar. lidah. (Gresik. 2009) . Dan ajari aku menyumbingkan bibir terus membakar rambut. pun segera berpendar. Berpendar dengan pondasi yang berserabut mata. Yang hadir lewat sungai yang tersembelih. hidung. Seperti hitamnya setiap impian pendek. Aku sebagai si pemilik ketampanan rupa setengah jagat ini. Sungai yang darah sembelihannya selalu mewarnai sekian keganjilan yang mengingat tentang aku. bibir. gontai sapi kurus serta tujuh musim paceklik yang lebih suci daripada nyalang rengut si lentik. Semua cara untuk merusak ketampanan rupa sendiri itu. Saat dihikmatinya ketampanan rupaku. Seperti membakar sampah dan kotoran. Dan biar dari kegelapan ketaktampanan ini dapat aku ramal: desah bulir padi. Seperti merajang lapisan bawang. telinga. teruslah merengutnya!” Sungguh. Dan ajari juga aku cara memberikan punggung (bukan jantung) pada si lentik yang nyalang ingin merengutku. ajari aku semuanya. Dan biar juga. Dan saat si kasar-kasar yang bergantung di atapatap sana berseru: “Terus. Biar semua kegelapan ketaktampanan jadi milikku. Ajari aku mengerat lidah. Si lentik yang telah merajang kelingkingnya kecil-kecil.

Tentang waktu mendatang.NANTI Kau mendirikan rumah. Guguran daun dan sampah bertebaran. Begitu juga pintu dan jendela rumahku. membaca atau memasang foto? Sayangnya tak jelas. Yang kerap membuat aku menceburkan kepala sendiri ke bak mandi. Lampunya mati sejak malam. Juga tentang rumahmu dan rumahku. Kenapa tak kau sapu? Apa kau sakit atau bepergian? Rasa cemasku menebal. Ah aku. Lumrah. Lampunya aku biarkan kedap-kedip. Dan sesekali merajuk dan melengos. Rumahmu dan rumahku berhadapan. (Gresik. Dan selalu gagal menulis sajak kenangan. begitu liar menggambarkan setiap depa dirimu. 2013) . Aku mendirikan rumah. Pintu dan jendela rumahmu terbuka. Seperti sepasang kekasih yang saling tatap. Kenangan tentang kita. Agar dapat melepaskan semua hal yang ada tentangnya. Dan pernah di suatu pagi rumahmu terkunci. Dan dari sana aku mengintip dirimu? Apa kau memasak. Dirimu yang diam-diam ingin aku masukkan ke kotak kaca. Aku pajang di beranda rumahku. akan ada yang menjadi perhitungan yang tak meleset. pastilah. Sebab nanti. Dan aku pun memutarinya sambil menebak. Waktu aku sudah tua.

Tapi karena kau remang dan licin. Bersisir. atau tak perkasa. Tapi tetap leluasa mengintip. padi. Sebab. ikutlah. setiap yang datang itu tak pernah ke mana-mana. Sambil memukuli tembok. Dunia yang selalu tengadah. kami segera berangkat!” Dan aku tahu. Terus berteriak: “Ikut. Kapan pula. berputar dan memotongi bulu dan kumisnya. 2012) . Dunia yang begitu membenci kekecilan dan kerahasianmu.AKU BERI NAMA Aku beri nama kau yang kecil tapi rahasia. Seperti menarik tepi kabut luas. kacang dan bunga di sana. Kapan aku pergi. Agar aku selalu sabar dan membilas keruh-sumur-pikiran sendiri. kau pun berdoa untukku. Sebab. tak bosan menghitungi degup jantung bongsor milik si penghujah yang waswas!” (Gresik. Tapi merasa telah melipat seluruh kota dan kampung. jika pelanduk-pelanduk mesti dijinakkan. kau juga di sana. Bukan karena lemah. Juga merasa telah menanam buncis. aku menerima pada setiap yang datang. Serta menyulam cinta murni yang seutuhnya. Sambil membayangkan. Yang akan dikemulkan pada dunia dengan empat mata anginnya. Memilih pintu yang cocok bagi dirimu agar tak tersentuh. Lereng tempat malam ditarik dengan paksa. Cuma berkisaran di lingkaran jalan yang sama. Datang dengan garis yang disangka lurus. jagung. Cinta murni yang membuat si penyelinap menegak di cermin. ketawa. Kapan aku pulang. Dan dikandangkan dekat lereng yang berumput. Dan di mana saja aku berada. Mengasah kunci.

Digantung kawat. Waktu itu. Juga di kembang berduri. Sejurus kemudian. Segera saja menulis sajak pengharapan. Dan sajak pengharapan yang tertusuk itu melesat ke angkasa. Merah merekah di tanah.MENYAPA MARDI Kembang ganjil yang berkelopak seperti pedang. Lalu si peri mungil sekecil kumbang datang. “Ahai. ram-raman besi dirambati anggur. Si peri mungil hinggap di kembang ungu. Lalu di atasnya kembang berduri di dalam pot. Si peri mungil pergi. menggoda benar. Kembang ganjil menatap anggur. Tapi tidak di kembang ganjil. Seperti mengusung nyala lilin. Terkesiap. si empu anggur lewat. Sayapnya bening. Sekaligus menusuk sajak pengharapan. 2013) . Di sisinya lagi kembang ungu agak wangi.” Terus dipetiklah anggur. Dipetik sampai habis. Di sisinya rumput. Dan waktu itu juga. kembang ganjil (yang baru saja selesai menulis sajak pengharapan) melihat anggur sudah tak ada. Dan di atas kawat. Punggungnya menyala. angin bertiup agak kencang. Diurai oleh udara: “Hiruplah!” (Gresik. Dan kelopaknya yang seperti pedang pun menusuk dirinya sendiri.

Tulang ngilu. Ngedop. Putih. Di manakah batas lampauan itu? Di sini ataukah di sana? Atau. telah padam dengusan. Tapi membau apa saja yang tertunduk. Bergeriapan ketika malam tiba. Otot kaku. Sampai ingin kembali merengkuhi dua menara yang lama tertanam di tebing sana. Dan ingin lagi diberi warna yang bertumpuk. apa kau masih memanggilku seperti itu. Dan tak kusut. Kasih? Ya. yang lain dan yang lain. Tapi rute tetap saja meluas. Dan kita gantung di dalam kamar. Sampai tiap pandangan yang pernah terpandang terlampaui.TOPLES --Kita telah uzur. 2012) . Seperti dua patung yang telah lama dipahat. Uban bertumbuhan seperti kecamba di musim basah. ada sergahan yang tiba-tiba terdengar: “Apa mungkin. masih tersiaga di keduanya!” (Gresik. Dan aku membaumu bukan seperti membau keringat di pipi. Sayang? Ya. Yang dulu pernah kita ambil. memang tak lagi saling menegur. Seprei yang terbentang sampai jauh. Telah lebam juga sentuhan. Yang pasti. Dua menara yang pernah menjelma kunang-kunang kembar. Warna angkasa raya. Kunangkunang kembar yang kini meringkuk di rapat toples. Tertunduk di seprei yang terhampar bersih.-Kita. apa aku juga masih memanggilmu seperti itu. Akh. Entahlah.

ada yang berkotbah. di perumahan yang ditinggal itu. Janganjangan!” Ada perdebatan yang tiba-tiba menebah. Dan ketika sore tiba. Burung-burung yang terbang digusahnya. Kaki berjumlah tiga. Berkotbah tentang keselamatan dan kesengsaraan. Bukit gelap yang lebih mungil. Malahan. Lalu ada sekian orang yang mengikutinya. Dan sesekali mengiba: “Pemilik hari akhir selamatkan kami dengan suka-cita!” Bukit gelap tak menggubris. Tapi tak merusak. Menyapa dan melambai. Bentangan angkasa pun ditutupnya. Bukit gelap pun tetap berjalan. Dan ada kaki yang ke luar di bawahnya. Dengan kunci yang mesti dicari. Bukit gelap yang rasanya ingin berjalan. Sekian orang yang mengikutinya bertambah panjang. Dan waktu itu. Serta sorga dan neraka yang segera dijelang. Dan berjumlah sebanyak yang kau ketahui. Tiga kaki panjangnya bergeliyutan.” Dan sekian orang itu mencari matahari. Yang buruk disisakan. Tapi bukit gelap telah berjalan. Ketika yang baik akan diangkat. Juga pahala dan dosa yang tak terduga. Menelisik dan menduga: “Jangan-jangan matahari nanti akan selurup di sebelah timur. Bukit gelap yang tak bisa diam. Bergerak-gerak seperti gerakan belalai gajah. Tetap berjalan.BUKIT GELAP Ada bukit gelap yang muncul di perumahan itu. 2013) . Segera dibuka atau ditutup. Padahal. Dan ada sekian orang melihatnya. (Gresik. ternyata matahari tetap saja selurup di sebelah barat. Salah-satunya malah berkata: “Apa ini yang disebut hari akhir. Kaki panjang yang lentur. Bukit gelap yang gelisah. kembali muncul bukit gelap yang lain. sekian orang yang mengikutinya makin berhasrat.

Tulisannya tersebar di berbagai media. 5 Maret 1965. kumpulan cerpen pertamanya adalah: Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011) . International Literary Biennale (2005) serta diundang dalam Festival Kesenian Yogyakarta XVIII/2006. Wanita yang Kencing di Semak (2002). Tahun 2010 buku puisinya Buwun mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award. Lahir di Gresik. Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007).TENTANG MARDI LUHUNG Nama asli Mardi Luhung adalah Hendry. dan Belajar Bersepeda (2011). Sedangkan. Mengikuti Program Penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) dalam Bidang Puisi (2002). Buku puisi tunggalnya: Terbelah Sudah Jantungku (1996). Dia lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Buwun (2010). Cakrawala Sastra Indonesia (2004).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->