BAB II PEMBAHASAN DILEMA DAN KONFLIK MORAL

DEFINISI A. · Delima Moral Dilema moral menurut Campbell adalah suatu keadaan dimana dihadapkan pada dua alternative pilihan, yang kelihatannya sama atau hampir sama dan membutuhkan pemecahan masalah. · Johnson (1990)Menyatakan hal tersebut merupakan keadaan yang terdiri dari dua pilihan yang seimbang,dengan kata lain, dilemma merupakan keadaan yang dihadapkan pada persimpangan yangserupa atau bercabang denagn petunjuk yang tidak jelas. · Oxford Learner‟s Pocket Dictionary (1995) Moral dilemma is concerning principles of right and wrong in difficult situation in which onehas to choose between two things.

Dilema muncul karena terbentur pada konflik moral, pertentangan batin, atau pertentangan antara nilai-nilai yang diyakini bidan dengan kenyataan yang ada.

Ketika mencari solusi atau pemecahan masalah harus mengingat akan tanggung jawab profesional,yaitu: 1. Tindakan selalu ditujukan untuk peningkatan kenyamanan kesejahteraan pasien atau klien. 2. Menjamin bahwa tidak ada tindakan yang menghilangkan sesuatu bagian [omission], disertai ras tanggung jawab memperhatikan kondisi dan keamanan pasien atau klien.

3. Konflik moral menurut Johnson adalh bahwa konflik atau dilema pada dasarnya sama , kenyataannya konflik berada diantara prinsip moral dan tugas yang mana sering menyebabkan dilema.

Ada 2 tipe konflik: 1. Konflik yang berhubungan dengan prinsip.

kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain. konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan. hubungan selain dapat menciptakan kerjasama. 2. Contoh : Studi kasus mengenai dilema moral "Seorang ibu primipara masuk kamar bersalin dalam keadaan inpartu. Menurut Robbin (1996). dilakukan karna untuk melindungi bayinya.Keadaan ini dijelaskan kepada ibu oleh bidan.2. bagai mna tinjau dari segi etik dan moral. hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. tetapi ibu tetap tidak menyetujuinya. Konflik Moral 1. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam . Ternyata selama kala II kemajuan kala II berlangsung lambat. et al (1997: 437). Menurut Gibson.Sementara itu ada bidan yang memberitahukan bahwa dia perna melakukan hal ini tanpa persetujuan pasien. Sihingga inilah yang merupakan contoh gambaran dilema moral. Jika bidan melakukan episiotomi tanpa persetujuan pasien. Sementara waktu berjalan terus dan denyut jantung janin menunjukkan keadaan fetal distress dan hal ini mengharuskan bidan untuk melakukan tindakan episiotomi. keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. maka bidan akan dihadapkan pada suatu tuntutan dari pasien. tetapi ibu tetap pada pendiriannya menolak di episiotomi. Sewaktu dilakukan anamnese dia mengatakan tidak mau di episiotomi. 3. Bidan berharap bayinya selamat. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977). Konflik yang berhubungan dengan otonomi. perineum masi tebal dan kaku. Bila tidak dilakukan tindakan. Dua tipe konflik ini merupakan dua bagian yang tidak dapat dipisahkan. apa yang akan terjadi pada bayinya?” B. Bila bidan melakukan tindakan tanpa pesetujuan pasien.

dan dialami (Pace & Faules. Menurut Minnery (1985). Dipandang sebagai perilaku. 1993). 6. 1986:185. namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan. Konflik yang berhubungan dengan otonomi. Konflik dapat dirasakan. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain. jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan. interpersonal.1982:234-237. kelompok atau pada tingkatan organisasi (Muchlas. Dalam pandangan ini. diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi (Folger & Poole: 1984). 2. 10.organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres. 1995:381) § Ada 2 tipe konflik: 1. 1994:249). maupun perilaku setiap pihak yang terlibat (Myers. 1999). 1993:341). satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif (Robbins. 7. Dua tipe konflik ini merupakan dua bagian yang tidak dapat dipisahkan. diketahui. Kreps. Sebaliknya. 5. kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. 4. 9. Stewart. 8. Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama. Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan. keputusan yang diambil. . Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. diingat. Konflik yang berhubungan dengan prinsip. tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang berbeda – beda (Devito. Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung. alokasi sumber – sumber yang dibagikan. konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual. yakni tujuan yang ingin dicapai. Atau.

Melihat kasus ini maka maka bidan diharapkan pada konflik moral yang bertentangan dangan prinsip moral dan otonomi maupun kewenangan dalam pelayanan kebidanan. Bahwa sesuai Kepmenkes Republik Indonesia 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan. maka bagai mana seorang bidan mengambil keputusan yang terbaik terhadap konflik moral yang dihadapidalam pelayanan kebidanan”. Hasil pemerisaan penapisan awal menunjukkan presentasi bokong dengan taksiran berat janin 3900 gram.Status obstetri pasien adalah G1 P0 AB0. yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan § Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda § Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok § Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat Contoh studi kasus mengenai konflik moral: “Ada seorang bidan yang berpraktik mandiri dirumah. Informed Concent Pesetujuan yang diberikan pasien atau walinya yang berhak terhadap bidan. untuk melakukan suatu tindakan kebidanan kepada pasien setelah memperoleh informasi lengkap dan dipahami mengenai tindakan yang akan dilakukan . dengan kesejahtraan janin dan ibu baik. Namun pasien dan keluarganya menolak dirujuk dan bersikuku untuk tetap melahirkan di bidan tersebut karena pertimbangan biaya dan kesulitan lainya. PEMBAGIAN DILEMA / KONFLIK ETIK Pembagian konflik etik meliputi empat hal : a. C.Ada seorang pasien inpartu datang ke tempat praktinya. yiatu ketidak mampuan secara sosial ekonomi dan kesulitan yang lain.Penyebab Konflik § Perbedaan individu. Maka bidan tersebut menganjurkan dan memberi konseling pada pasien mengenai kasusnya dan untuk dilakukan tindakan rujukan. bidan tidak berwenang memberikan pertolongan persalinan pada primigravida dengan presentasi bokong disisi lain ada prinsip nilai moral dan mananusiaan yang dihadapi pasien.

Persuasi Persuasi bisa diartikan sebagai usaha untuk mengubah sikap dan kepercayaan melalui informasi dan argument. Ketika target menerima pesan (message) yang berbeda dari pendiriaanya. maka munculah respon yang bermacam-macam : § reject the message (menolak pesan atau informasi) § derogate the source (mencela the source) § suspend judgment (mencari informasi tambahan untuk menentukan keputusan. melibatkan dua pihak atau lebih.b. § Ketiga. Price vs profit. Kedua. § Keduanya menginginkan sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya masing-masing. pihak-pihak yang terlibat sama-sama berusaha untuk mencapai kesepakatan. Sukarela (Voluntariness) Sukarela mengandung makna pilihan yang dibuat atas dasar sukarela tanpa ada unsur paksaan didasari informasi dan kompetensi . Kesepakatan dapat dicapai melalui kompromi antara memberi dan menerima sesuatu antar pihak tersebut c. menolak atau menerima) § distort the message (tidak menanggapi informasi dan menyimpannya dalam “skema” yang mungkin suatu saat akan mengubah sikapnya) § attempt counterpersuasion (melancarkan argumentasi balik) d. Negosiasi terjadi ketika suatu keadaan memenuhi syarat-syarat berikut ini: § Pertama. Negosiasi Proses yang di dalamnya dua pihak atau lebih bertukar barang/jasa dan berupaya menyepakati tingkat kerjasama tsb. Komite etik Menurut Culver and Gert ada 4 komponen yang harus dipahami pada suatu consent atau persetujuan : 1. terdapat suatu konflik kepentingan antara pihak-pihak tersebut. bukannya berkonflik. keuntungan bagi satu pihak merupakan harga yang harus dibayar oleh pihak lain.

memuat : . dimana merupakan persetujuan tanpa refleksi. Informed Consent Pesetujuan yang diberikan pasien atau walinya yang berhak terhadap bidan. Informed consent merupakan suatu proses. D. tetapi bukti jaminan informed consent telah terjadi. untuk melakukan suatu tindakan kebidanan kepada pasien setelah memperoleh informasi lengkap dan dipahami mengenai tindakan yang akan dilakukan.2. Berperan dalam mencegah konflik etik tetapi tidak mengatasi masalah etik.Keputusan penolakan pasien terhadap suatu tindakan harus di validasi lagi apakah karena pasien kurang kompetensi. Merupakan dialog antara bidan dan pasien di dasari keterbukaan akal pikiran. pada intinya adalah bidan harus berbuat yang terbaik bagi pasien atau klien.8 tahun 1981. a. Kompetensi (Competence) Dalam konteks consent kompetensi bermakna suatu pemahaman bahwa seseorang membutuhkan sesuatu hal untuk mampu membuat keputusan yang tepat bahkan ada rasa cemas dan bingung 4. tuntutan. Pembuatan keputusan merupakan tahap terakhir proses pemberian persetujuan. Informed consent berarti pernyataan kesediaan atau pernyataan setelah mendapat informasi secukupnya sehingga setelah mendapat informasi sehingga yang diberi informasi sudah cukup mengerti akan segala akibat dari tindakan yang akan dilakukan terhadapnya sebelum ia mengambil keputusan. Keputusan (decision) Pengambilan keputusan merupakan suatu proses. Informed consent bukan hanya suatu formulir atau selembar kertas. Secara hukum informed consent berlaku sejak tahun 1981 PP No. Kurangnya informasi atau diskusi tentang risiko. efek samping akan membuat klien sulit mengambil keputusan 3. dengan bentuk birokratisasi penandatanganan formulir. Dalam berbagai kode etik pelayanan kesehatan bahwa informasi yang lengkap dibutuhkan agar mampu keputusan yang tepat. Informasi (Information) Jika pasien tidak tahu sulit untuk dapat mendeskripsikan keputusan.Keterbukaan informasi antara bidan dengan pasien . Dimensi informed consent 1) Dimensi hukum. merupakan perlindungan terhadap bidan yang berperilaku memaksakan kehendak.

Pilihan (choice) berbeda dengan persetujuan (consent) : a.Informasi yang diberikan harus dimengerti pasien . Pilihan atau choice penting dari sudut pandang klien sebagai penerima jasa asuhan kebidanan..Bidan menggali keinginan pasien baik secara subyektif atau hasil pemikiran rasional E. keuntungan dan kemungkinan hasil dari tiap pilihannya. manfaat. Menurut kode etik kebidanan internasionl (1993) bidan harus menghormati hak informed choice ibu dan meningkatkan penerimaan ibu tentang pilihan dalam asuhan dan tanggungjawabnya terhadap hasil dari pilihannya Definisi informasi dalam konteks ini meliputi : informasi yang sudah lengkap diberikan dan dipahami ibu.Menghargai otonomi pasien . yang memberikan gambaran pemahaman masalah yang sesungguhnya dan menerapkan aspek otonomi pribadi menentukan “ pilihannya” sendiri. menggunakan alternatif media ataupun yang lain. mengandung nilai – nilai : .Memberi kesempatan pasien untuk memperoleh yang terbaik 2) Dimensi Etik. informasi yang jujur. Bidan ada dalam posisi baik yaitu memfasilitasi pilihan klien dan membutuhkan peningkatan pengetahuan tentang etika untuk menetapkan dalam strategi praktik kebidanan Informed Choice Informed choice adalah membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentan alternatif asuhan yang akan dialaminya. Persetujuan atau consent penting dari sudut pandang bidan karena berkaitan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua prosedur yang akan dilakukan bidan b. tentang pemahaman resiko. . Bagaimana Pilihan Dapat Diperluas dan Menghindari Konflik § Memberi informai yang lengkap pada ibu. tidak bias dan dapat dipahami oleh ibu. MENGHADAPI MASALAH ETIK MORAL DAN DILEMA DALAM PRAKTEK KEBIDANAN Menurut Daryl Koehn (1994) bidan dikataka profesional bila dapat menerapkan etika dalam menjalankan praktik. sebaiknya tatap muka.Tidak melakukan intervensi melainkan membantu pasien bila diminta atau dibutuhkan .

propinsi untuk semua kelompok tenaga pemberi pelayanan bagi ibu.§ Bidan dan tenaga kesehatan lain perlu belajar untuk membantu ibu menggunakan haknya dan menerima tanggungjawab keputusan yang diambil. diharapkan konflik dapat ditekan serendah mungkin § Tidak perlu takut akan konflik tetapi mengganggapnya sebagai sutu kesempatan untuk saling memberi dan mungkin suatu penilaian ulang yang obyektif bermitra dengan wanita dari sistem asuhan dan tekanan positif pada perubahan . § Hal ini dapat diterima secara etika dan menjamin bahwa tenaga kesehatan sudah memberikan asuhan yang terbaik dan memastikan ibu sudah diberikan informsi yang lengkap tentang dampak dari keputusan mereka § Untuk pemegang kebijakan pelayanan kesehatan perlu merencanakan. mengembangkan sumber daya. memonitor perkembangan protokol dan petunjuk teknis baik di tingkat daerah. § Menjaga fokus asuhan pada ibu dan evidence based.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful