You are on page 1of 24

Disfungsi Ereksi

Wening Sari, dr., M.Kes.

Pendahuluan

 

Disfungsi ereksi (DE): kegagalan penis berereksi yg memadai untk berhubungan seksual Pasien  impoten Bedakan dg gangguan libido, gangguan ejakulasi, infertilitas (mandul)  fatofisiologi beda  terapi juga beda ex: ♂ tua dg masalah primer hipogonadisme  libido << & dysfungsi ereksi

Fisiologi Ereksi Anatomi Penis  2 corpus cavernosum (dorsal)  terdiri atas jaringan yg saling berhubungan  1 corpus spongiosum (ventral) mengelilingi uretra  Ereksi  proses neurovaskuler yg dipengaruhi oleh faktor psikis & hormonal  Stimulus Seksual  impuls saraf melepaskan neurotransmiter .

.

   The corpora cavernosa contain a network of smooth-muscle cells and endothelial cells surrounded by an expansible tunica albuginea.g..g. If there is insufficient relaxation of smooth-muscle cells (e. As the sinusoids expand. an inadequate number of smooth-muscle cells (e.g. or tunical degeneration (e. smooth-muscle cells relax. cell apoptosis from diabetes or neuropathy). which allows the sinusoids to engorge with blood and causes the penis to become tumescent. from a lack of endogenous nitric oxide associated with endothelial disease) and decreased sinusoid compliance.. The sinusoid cavities are small in volume at rest as the smoothmuscle cells are tonically contracted With stimulation.. Peyronie's disease). then insufficient compression of the subtunical veins results in erectile dysfunction . they compress the subtunical venous plexus. which causes an erection.

.

With the increase in nitric oxide content. which leads to relaxation. both of which increase the concentration of nitric oxide (NO) in smooth-muscle cells. as well as increased levels of vascular endothelial growth factor (VEGF). Active treatments (red boxes) include drugs that affect the cGMP pathway (phosphodiesterase [PDE] type 5 inhibitors and guanylyl cyclase agonists). Outflow from the parasympathetic nervous system leads to relaxation of the cavernous sinusoids in two ways. noncholinergic (NANC) fibers. along with neural-tone mediators (phentolamine) . A separate mechanism that decreases the intracellular calcium level is mediated by cyclic adenosine monophosphate (cAMP). or both pathways (papaverine). With increased cavernosal blood flow. The nitric oxide produced in the endothelium then diffuses into the smooth-muscle cells. the smooth-muscle cell decreases its intracellular calcium concentration through a pathway mediated by cyclic guanosine monophosphate (cGMP). the endothelial release of nitric oxide is further sustained through the phosphatidylinositol 3 (PI3) kinase pathway. First. stimulation of endothelial nitric oxide synthase (eNOS) through cholinergic output causes increased production of nitric oxide. nitric oxide is the neurotransmitter in nonadrenergic. second. the cAMP pathway (alprostadil).

.

Androgen (1)     Defisiensi androgen  M↓↓ ereksi nokturnal & libido. 2-3 mggu. aktivitas tinggi pd mggu I stlh injeksi dan kemudian menurun Testosteron transdermal aplikasi harian m↑↑ kadar serum testosteron dalam range normal pd 90% pasien . tp ♂ hipogonadisme dg adanya stimulus seksual scr visual  respon ereksi + ♂ hipogonadisme  androgen oral << efektif dibandingkan IM dan transdermal Testosteron sipionat & testosteron enantat 200 mg . IM.

Androgen memacu pertumbuhan prostat Terapi testosteron lama  hematokrit. dermatitis kontak KI : kanker prostat. hepatitis) . serum testosteron. lipid & prostate specific antigen harus dievaluasi setiap 6 bulan Androgen oral: hepatotoksik (kolestasis.Androgen (2)     ES testosteron transdermal: iritasi kulit. hiperplasia prostat ok.

drug of choice utk sebag besar kasus disfungsi ereksi Stimulasi seksual  pelepasan nitrit oksida ke dlm otot polos penil  penghambatan PDE5 oleh PDE5 inhibitor  P↑↑ kadar c-GMP di glans penis. corpus cavernosum & corpus spongiosus  P↑↑ relaksasi otot polos & ereksi yg lebih baik Stimulasi seksual (-)  kadar nitrit oksida & c-GMP ↓↓  PDE5 inhibitor tidak berefek .Penghambat Fosfodiesterase-5 (PDE5)    Penghambat selektif fosfodiesterase tipe 5 (PDE5).

Stimulasi seksual Nitrit oksid / NO Saraf nonadrenergiknonkolinergik & endotel Guanilat siklase GTP Oral PDE5 inhibitor cGMP relaksasi Ereksi penis GMP PDE5 .

7 jam 4 25 -100 13 80 25 mg/ hari (simetidin. (ritonavir.5-1 Ya 3.8 j 18 jam 4 24-36 5 – 20 5 – 20 2-6 36 91-95 61 2. ketokonazol) ritonavir) .Fmkdinamik & Fmkinetika PDE5 Sildenafil (viagra) Hambat PDE5 Hambat PDE6 Hambat PDE11 Kadar puncak plasma (jam) Absorbsi << dg mkn berlemak Waktu paruh (jam) Durasi (jam) Dosis harian (mg) Eksresi melalui urin (%) Eksresi melalui feses (%) Dosis pd pasien yg mendapat inhibitor enz sitokrom P450 +++ +++ 0.4-4. ketokonazol.10 mg / 72 72 jam jam (ketokonazol. indinavir.9 2 Ya Tidak 4. eritromisin.7-0.ritonavir) Vardenafil (Levitra) Tadalafil (Cialis) +++ +++ + + 0.5-5 mg / 24.

kongesti nasal. fasial flushing. gangg dlm membedakan hijaubiru. Laporan gangg visual kronik (-)  keamanan jangka lama (?).Efek Samping PDE5 (1)      ES inhibisi PDE5  nyeri kepala. ♂ dg penykt retina hrs konsul dulu dg opthalmologis sebelum terapi sildenafil diberikan ES visual jarang pd vardenafil (0. pusing ES inhibisi PDE6 (sildenafil) gangguan visual: hipersensitif thdp cahaya.pandangan kabur. dispepsia.1%) ES inhibisi PDE11 (tadalafil)  nyeri otot & pinggang (7-30% pasien) Sildenafil hambat PDE5 di platelet  hati2 pasien terapi aspirin/ antiplatelet lain & pasien dg kecenderungan perdarahan .

angka kematian krn infark miokard/stroke pd ♂ dg rentang usia disfungsi ereksi biasa terjadi ± 170/1jt ♂/mggu Sidenafil aman utk sebagian besar ♂. infark miokard 1.7/100 ♂/thn Aktivitas seksual  infark miokard 0.Efek Samping PDE5 (2)     Sildenafil & vardenafil  ↓↓ sistolik (8-10mmHg) & diastolik (5-6mmHg) Angka kejadian ES KV serius (angina & penykt arteri koroner) 4.9% dr 858 ♂.1 per 100 ♂ /thn. namun ok sebag besar ♂ yg meninggal punya riwayat penykt KV  status KV harus di evaluasi dg cermat sebelum terapi diberikan .

Kematian terkait sildenafil      Data FDA: maret – Nov 1998  6 juta resep sildenafil 25100mg Periode yg sama 130 pasien mati terkait sildenafil Usia rata2 64th (29 – 87) Sildenafil & nitrat: hipotensi berat 16 pasien † 44 pasien † < 4 jam  27 pasien † selama/segera setelah hubungan seksual Penyebab kematian Jumlah Infark miokard Cardiac arrest Cardiac symptom Pykt arteri koroner Stroke Keracunan Tdk diketahui Total 41 27 6 3 3 2 48 130 KI absolut Sildenafil : ♂ yg mendapat terapi nitrat .

Yohimbin      Antagonis reseptor α2-adrenergik dr akar pohon yohim Diperkirakan bekerja di reseptor adrenergik saraf pusat yg terkait libido & ereksi penil Penelitian: 419 ♂ DE  yohimbin lebih baik dr plasebo ES: palpitasi. tekanan darah ↑↑. tremor. ansietas Tidak direkomendasikan utk ♂ organik DE  efeknya marginal .

hipotensi (injeksi intracavernosum.Fentolamin       Antagonis nonkompetitif -adrenergik  pro-erectogenic  M< tonus adrenergik & m↑↑ tonus kolinergik memperbaiki pengisian cavernosum Oral fentolamindpt perbaiki fungsi ereksi Sering diberikan sbg injeksi intracavernosum.terutama jk salah tempat suntik) Belum disetujui FDA USA . dikombinasi dg papaverin  hindari monoterapi ok butuh dosis >>  ES hipotensi Uji klinik: 459 ♂ DE  perbaikan fs ereksi: 37% (40mg). 16% (plasebo) ES:nyeri kepala. 45% (80mg). kongesti nasal. facial flushing.

4% butuh antiemetik Penggunaannya terbatas krn ESnya:muntah Belum disetujui FDA USA .Apomorfin       Obat pemacu muntah yg poten Bekerja pada reseptor dopamin sentral (D1 / D2) Apomorfin SK  menginduksi ereksi pd tikus & manusia Penelitian 457 ♂ DE: 4 mg apomorfin vs plasebo  52% vs 35%  apomorfin:16% muntah.

namun efeknya tidak signifikan pd penelitian multisenter .Trazodon     Antagonis serotonin & reuptake inhibitor. digunakan sebagai sedatif & antidepresan Sebabkan priapismus pd bbrp kasus Efeknya pd ereksi mungkin krn aktivitas serotonergik & α-adrenolitik Pd beberapa ♂ dpt memperbaiki fungsi ereksi.

Alpostradil (1)      Prostaglandin E1 stimulasi adenil siklase prod cAMP  relaksasi otot polos arteri & sinusoid aliran & pengisian darah corpora >> Tersedia : injeksi intracavernosa & intrauretral Sifat invasif. diberikan bila pasien gagal / tidak bisa dg terapi non invasif Cocok utk pasien DM  terbiasa menyuntik sendiri & sensori nyeri << krn neuropati Disetujui FDA  potensi priapismus / ereksi lama << .

atau hipotensi sistemik ES lokal: nyeri pd tempat injeksi / saat ereksi. prolonge ereksi. obat yg terbawa sirkulasi sistemik diinaktifasi di paru.hipotensi terkait dosis .Alpostradil (2)      Efektivitas: Inj. durasi ereksi 1 jam (dosis 2.5-20mcg). endapan darah  hipoksia jaringan & fibrosis cavernosum ES sistemik: jarang. intracavernosa > intrauretra Alprostradil diinjeksikan hanya pada satu cavernosum. T½ 1’ Dosis 10-20mcg. max 60mcg  > 60mcg: tdk hasilkan ereksi yg > baik. onset 5-15’. dimetabolisme dg cepat oleh enzim lokal. priapismus.

absorbsi sistemik . aman: ES minimal Tunggal 7.Papaverin     Hambat cavernosal PDE  metabolisme cAMP di jaringan cavernosum <<  relaksasi otot polos Tidak disetujui FDA: intracavernosal papaverin tunggal tdk disarankan utk DE krn butuh dosis besar ES >>: priapisme. fibrosis corporal. T ½ 1 jam . hipotensi dan hepatotoksik Dosis << dikombinasi dg alprostradil / fentolamin  efek >>. kombinasi 0.5-20mg.5 – 60 mg.

Sekian .