BAB I KASUS

1.1 Keterangan Umum Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat : Tn. P : 44 tahun : Laki-laki : Buruh Pabrik : Jl. Cigugur Tengah RT 01 RW 10 Cimahi

Tanggal Pemeriksaan : 5 September 2013 No. Rekam Medik : 14109929

1.2 Anamnesis Keluhan Utama Anamnesis Khusus : timbul selaput di mata kiri :

Sejak enam bulan yang lalu, pasien mengeluh adanya selaput pada mata kiri di bagian dekat hidung yang semakin lama semakin besar ke arah bagian hitam bola mata. Keluhan ini disertai dengan rasa mengganjal pada mata. Sejak tiga bulan yang lalu pasien sering mengeluhkan mata sebelah kiri terasa merah yang hilang timbul. Keluhan ini timbul apabila pasien terkena sinar matahari saat bekerja.

Tiga tahun yang lalu keluhan adanya selaput pada mata timbul pada mata sebelah kiri. Keluhan tersebut disertai penurunan tajam penglihatan. Sehingga dua tahun yang lalu pasien menjalani operasi pengangkatan selaput. Pasien setiap hari bekerja sebagai buruh pabrik yaitu pengangkut kain yang sering berada di luar ruangan. Riwayat keluhan serupa pada keluarga pun disangkal. Pasien menyangkal adanya riwayat tekanan darah tinggi dan kencing manis. Pasien pun tidak mempunyai riwayat alergi.

1.3 Pemeriksaan Fisik Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Tanda Vital Kepala − − Leher Thorax − − Abdomen Pulmo Cor Mata THT : Lihat status lokalis : Tidak ada kelainan : KGB tidak teraba, JVP tidak meningkat : Bentuk dan gerak simetris : VBS kanan = kiri, Wh -/-, Rh-/: BJ I-II murni reguler : Datar, lembut, NT (-), BU (+) Normal Hepar dan Lien tidak teraba Ekstremitas : Tidak ada kelainan : Tampak sakit ringan : Komposmentis : TD : 120/80 mmHg, N: 84 x/m, R: 19 x/m, S: 36,7°C

Status Lokalis 1. Pemeriksaan Subjektif Visus kacamata VOD Koreksi : 5/6 : S -0,50 C -0,50 Axis 180 5/5 VOS : 5/30

Koreksi : S -2,00  5/6 pinhole tetap

ADDE : S +1,25

2. Pemeriksaan Objektif a. Inspeksi dan Palpasi OD Muscle Balance Pergerakan bola mata Orthotropia OS

Normal ke segala arah TIO Palpasi N Palpebra superior Tenang Palpebra inferior Tenang Konjungtiva tarsalis Tenang superior Konjungtiva tarsalis Tenang inferior Konjungtiva bulbi Selaput (-), vaskularisasi (-)

Normal ke segala arah Palpasi N Tenang Tenang Tenang Tenang

Kornea COA Pupil Iris Lensa

Selaput (+), vaskularisasi (+), melewati limbus <2 mm Jernih Jernih Sedang Sedang Bulat, Isokor, reflek cahaya Bulat, Isokor, reflek direk/indirek (+/+) cahaya direk/indirek (+/+) Sinekia (-) Sinekia (-) Jernih Jernih

b. Pemeriksaan Slit Lamp Tidak dilakukan pemeriksaan c. Pemeriksaan Objektif Lainnya Tidak dilakukan pemeriksaan

1.4 Diagnosis Banding - Pterygium Derajat II OS - Pseudopterygium OS - Pinguekula OS

1.5 Diagnosis Kerja Pterygium Derajat II OS

1.6 Usul Pemeriksaan Histopatologi

1.7 Penatalaksanaan  Umum : - Menganjurkan pasien untuk menggunakan kacamata - Menghindari paparan debu dan sinar UV yang terlalu lama  Khusus : - Artificial tears - Kortikosteroid - Pembedahan: simple excision

1.8 Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : ad bonam

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Keterangan Umum Pasien merupakan seorang laki-laki berusia 44 tahun yang bekerja sebagai buruh pabrik. Pterygium dilaporkan lebih sering terjadi dua kali lebih sering pada lakilaki dibandingkan dengan perempuan. Pasien dengan usia lebih dari 40 tahun memiliki prevalensi yang tinggi meskipun pasien dengan usia 20-40 tahun dilaporkan memiliki insidensi yang tinggi pula. Pada penelitian yang dilakukan tahun 2002 di Sumatra umur diatas 40 tahun lebih berisiko menderita pterygium dibandingkan usia lainnya. Prevalensi pterygium meningkat berbanding lurus dengan umur. Variasi pterygium dipengaruhi oleh lokasi geografik. Banyak penelitian memperlihatkan bahwa variasi geografi dan lokasi negara yang dekat dengan ekuator menunjukan tingginya insidensi pterygium. Hal ini dikarenakan efek perusakan oleh radiasi sinar UV terutama radiasi UV-B. Prevalensi tinggi sampai 22% di daerah dekat ekuator dan kurang dari 2% pada daerah yang terletak diatas 400 lintang. Insidensi pterygium di Indonesia cukup tinggi, yaitu 13,1%.

2.2 Anamnesis Keluhan utama: Timbul selaput di mata kiri Keluhan timbul selaput mata kiri dapat terjadi pada pterygium,

pseudopterygium, dan pinguekula.

Anamnesis Khusus: Sejak enam bulan yang lalu, pasien mengeluh adanya selaput pada mata kiri di bagian dekat hidung yang semakin lama semakin besar ke arah bagian hitam bola mata. Pterygium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular pada permukaan konjungtiva ke kornea yang berifat invasif. Umumnya, pterygium timbul dari konjungtiva nasal dan meluas kedaerah kornea. Pterygium berbentuk segitiga dengan puncak dibagian sentral atau di daerah kornea. Pada pseudopterygium terdapat riwayat tukak kornea sebelumnya dan selaput mengenai tempat tukak tersebut sedangkan pada pinguekula selaput biasanya terjadi bilateral. Keluhan ini disertai dengan rasa mengganjal pada mata. Keluhan ini diakibatkan oleh adanya selaput yang semakin lama semakin membesar. Sejak tiga bulan yang lalu pasien sering mengeluhkan mata sebelah kiri terasa merah yang hilang timbul. Pterygium dapat menimbulkan gejala mata merah yang diakibatkan pterygium mudah meradang dan bila terjadi iritasi maka bagian pterygium akan berwarna merah.

Keluhan ini timbul apabila pasien terkena sinar matahari saat bekerja. Sinar matahari merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya pterygium. Selain itu, pterygium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu, dan udara yang panas. Prevalensi pterygium lebih tinggi pada negara tropis (Indonesia) dibandingkan dengan negara subtropis. Tiga tahun yang lalu keluhan adanya selaput pada mata timbul pada mata sebelah kiri. Keluhan tersebut disertai penurunan tajam penglihatan. Sehingga dua tahun yang lalu pasien menjalani operasi pengangkatan selaput. Pterygium dapat mengenai kedua mata. Gangguan penglihatan akibat terjadinya astigmatisme ireguler atau pterygium yang telah menutupi media penglihatan dan pterygium dengan tipe II dan III. Pasien setiap hari bekerja sebagai buruh pabrik yaitu pengangkut kain yang sering berada di luar ruangan. Salah satu faktor risiko pterygium yaitu paparan dari sinar ultra violet. Patogenesis dari pterygium melibatkan paparan dari sinar ultra violet merupakan faktor risiko dari penyebab pterygium. Penelitian menunjukkan bahwa paparan sinar matahari merupakan salah satu etiologi primer. Hipotesis mengatakan bahwa radiasi ini menyebabkan mutasi dari gen P53. Gen tumor supresor ini memperlihatkan adanya proliferatif abnormal dari epitel limbal. Penelitian juga menunjukkan bahwa risiko terjadinya pterygium meningkat dengan bertambahnya usia dan aktivitas di luar ruangan. Riwayat keluhan serupa pada keluarga pun disangkal. Faktor genetik merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya pterygium.

Pasien menyangkal adanya riwayat tekanan darah tinggi dan kencing manis. Pasien pun tidak mempunyai riwayat alergi. Riwayat penyakit sitemik dan alergi ditanyakan sebagai persiapan pembedahan untuk terapi pterygium.

2.3 Pemeriksaan Fisik Status Generalis Tanda vital dan status generalis lainnya dalam batas normal. Tanda vital ini digunakan untuk kepentingan screening pre operasi agar menghindari komplikasi saat operasi. Jika diperlukan tindakan operatif dalam penatalaksanaan. Status Lokalis 1. Pemeriksaan Subjektif Visus kacamata VOD Koreksi : 5/6 : S -0,50 C -0,50 Axis 180 5/5 VOS : 5/30

Koreksi : S -2,00  5/6 pinhole tetap

ADDE : S +1,25 Pemeriksaan visus dilakukan untuk mengetahui apakah pasien mengalami gangguan visus atau tidak. Pada pterigium derajat II atau III dapat ditemukan gangguan visus karena telah mengenai kornea.

2. Pemeriksaan Objektif a. Inspeksi dan Palpasi OD Muscle Balance Pergerakan bola mata Orthotropia OS

Normal ke segala arah Normal ke segala arah TIO Palpasi N Palpasi N Palpebra superior Tenang Tenang Palpebra inferior Tenang Tenang Konjungtiva tarsalis Tenang Tenang superior Konjungtiva tarsalis Tenang Tenang inferior Konjungtiva bulbi Selaput (-), vaskularisasi (- Selaput (+), vaskularisasi ) (+), melewati limbus <2 mm Kornea Jernih Jernih COA Sedang Sedang Pupil Bulat, Isokor, reflek Bulat, Isokor, reflek cahaya direk/indirek (+/+) cahaya direk/indirek (+/+) Iris Sinekia (-) Sinekia (-) Lensa Jernih Jernih

Dengan melakukan pemeriksaan tersebut, didapatkan selaput pada mata sebelah kiri yang merupakan pterygium derajat II. a. Pemeriksaan Slit Lamp Tidak dilakukan pemeriksaan Pemeriksaan slit lamp berguna untuk melihat lebih jelas morfologi selaput ataupun menilai derajat dari pterigium tersebut. b. Pemeriksaan Objektif Lainnya Tidak dilakukan pemeriksaan.

2.4   

Diagnosis Banding Pterygium Derajat II OS Pseudopterygium OS Pinguekula OS

Secara klinis pterygium dapat dibedakan dengan dua keadaan yang sama yaitu pinguekula dan pseudopterygium. Pinguekula merupakan benjolan pada konjungtiva bulbi yang merupakan degenerasi hialin pada jaringan submukosa konjungtiva. Pingekula sangat umum terjadi, tidak berbahaya, dan tampak pada konjungtiva bulbar berdekatan dengan limbus nasal atau limbus temporal terdapat lapisan bewarna kuning putih dan amorphous. Pinguekula biasanya bilateral dan stadiumnya tetap tidak berubah. Ketika konjungtiva tersumbat maka pada pinguekula akan terlihat gambaran avaskular yang menonjol. Namun, apabila meradang atau terjadi iritasi, maka sekitar bercak degenerasi ini akan terlihat pembuluh darah yang melebar.

Gambar 2.1 Pinguekula.

Pseudopterygium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat. Pseudopterygium ini sering terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea, sehingga konjungtiva menutupi kornea. Letak pseudopterygium ini pada daerah konjungtiva yang terdekat dengan proses kornea sebelumnya. Berbeda dengan pterygium, selama anamnesis pada pseudopterygium ini didapatkan adanya kelainan kornea sebelumnya.

2.5 Diagnosis Kerja Diagnosis : Pterygium Derajat II OS Hal ini berrdasarkan temuan yang didapatkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, yaitu: 1. Anamnesis Dari keluhan utama didapatkan timbul selaput di mata kiri. Dari anamnesis khusus didapatkan: Timbulnya selaput pada mata kiri dan yang semakin lama semakin besar ke arah bagian hitam bola mata. Timbul rasa mengganjal pada mata kiri. Timbul mata merah kiri. Tidak ada keluhan penglihatan buram. Karena pada mata kiri derajat pterygium hanya derajat dua, yaitu apeks pterygium terletak pada kornea antara pinggir kornea dengan bagian tengah jarak pupil perikornea.

2. Pemeriksaan fisik - Konjungtiva bulbi pada mata kiri terdapat selaput yang telah melewati limbus kornea <2 mm berbentuk segitiga pada daerah fissure palpebralis. . 1. Berdasarkan tipenya pterygium terbagi atas tiga, antara lain:  Tipe I: Pterygium kecil, dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau menginvasi kornea pada tepinya saja. Lesi meluas <2 mm dari kornea. Stocker’s line atau deposit besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterygium. Lesi sering asimptomatis, meskipun sering mengalami inflamasi ringan. Pasien yang memakai lensa kontak dapat mengalami keluhan lebih cepat.

Gambar 2.2 Pterygium Tipe 1.

 Tipe II: Pterygium tipe primer advanced atau ptrerygium rekuren tanpa keterlibatan zona optik. Pada tubuh pterygium sering nampak kapilerkapiler yang membesar. Lesi menutupi kornea sampai 4 mm, dapat primer atau rekuren setelah operasi, berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmatisme.

Gambar 2.3 Pterygium Tipe II.

 Tipe III: Pterygium primer atau rekuren dengan keterlibatan zona optik. Merupakan bentuk pterygium yang paling berat. Keterlibatan zona optik membedakan tipe ini dengan yang lain. Lesi mengenai kornea >4 mm dan mengganggu aksis visual. Lesi yang luas khususnya pada kasus rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas ke forniks dan biasanya menyebabkan gangguan pergerakan bola mata serta kebutaan.

Pterygium Tipe III.

2.6 Usul Pemeriksaan Histopatologi Pterygium memiliki gambaran histopatologi yang khas yaitu terdapatnya jaringan ikat fibrovaskular yang abnormal. Pada jaringan subepitelial

memperlihatkan senil elastosis (degenerasi basofilik dari substansia propria dengan serabut kolagen yang abnormal). Didapatkan adanya peleburan dari membran bowman yang diikuti invasi dari kornea superfisial. Epitel di atasnya dapat menebal atau menipis, tetapi biasanya normal. Pterygium yang tumbuh ulang mempunyai gambaran histopatologi yang berbeda dengan pterygium primer, yaitu terdapatnya parut fibrovaskular yang tumbuh dari tempat eksisi dan komposisinya mengandung fibroblas yang banyak mengandung pembuluh darah sehingga gambaran ini mirip keloid pada kulit. Namun demikian, pemeriksaan histopatologi pterygium tidak dilakukan secara rutin di Indonesia.

2.7 Penatalaksanaan Umum : - Menganjurkan pasien untuk menggunakan kacamata - Menghindari paparan debu dan sinar UV yang terlalu lama Pasien dianjurkan untuk melakukan tindakan pencegahan yang dapat dilakukan dengan mengurangi paparan terhadap kemungkinan penyebab timbulnya pterygium, seperti memakai pelindung mata ketika akan melakukan kegiatan di luar rumah dengan memakai kacamata pelindung, topi, atau payung untuk menghindari paparan dari matahari, angin atau debu.

Khusus : - Artificial tears - Kortikosteroid - Pembedahan: simple excision Artificial tears hanya dipakai sebagai lubrikasi mata dan kortikosteroid dapat digunakan secara aman untuk menghilangkan gejala jika digunakan secara benar terutama pada derajat 1 dan 2. Terapi eksisi pterygium diindikasikan bila akan atau telah menghalangi jaras penglihatan atau bersifat mengiritasi mata. Indikasi untuk pterygium eksisi yaitu untuk alasan kosmetik, adanya gejala astigmatisme, gejala iritasi berat, gangguan penglihatan, ukurannya >3–4 mm, dan pertumbuhan yang progresif menuju tengah kornea dan adanya gangguan pergerakan bola mata. Pengobatan sesuai dengan derajat pterygium: 1. Derajat I Tidak meradang: observasi 3 bulan Meradang: a. Steroid/NSAID topikal b. Anjuran pencegahan paparan sinar UV dengan kacamata hitam. 2. Derajat II, III - Steroid/NSAID topikal - Pembedahan: simple excision Pterygium memiliki tingkat rekurensi 30-50% setelah operasi eksisi. Eksisi pterygium bertujuan untuk mencapai keadaan normal, gambaran permukaan bola mata yang licin. Ada berbagai macam teknik operasi yang digunakan dalam penanganan pterygium dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Melakukan tindakan aseptik dan antiseptik. 2. Melakukan anestesi topikal tetrakain 2%. 3. Dipasang spekulum palpebra kemudian anastesi infiltrasi dengan lidokain 2% sebanyak 1-2 ml pada konjungtiva bulbi. 4. Kepala dari pterygium diangkat dan dipisahkan dari kornea secara hati-hati. 5. Bagian badan dari pterygium dipisahkan dari sklera dibawahnya dan konjungtiva pada permukaannnya. 6. Jaringan pterygium di eksisi kemudian dirawat agar tidak melukai otot rectus medial dibawahnya. 7. Perdarahan pada jaringan episkleral di kauterisasi. 8. Langkah selanjutnya dibedakan menjadi beberapa teknik. Beberapa teknik yang dilakukan untuk menutup luka setelah eksisi pterygium adalah sebagai berikut: a) Bare sclera Tidak ada jahitan atau benang absorbable digunakan untuk melekatkan konjungtiva ke superfisial sklera didepan insersi rectus. Meninggalkan suatu daerah sklera terbuka (teknik ini, bagaimanapun tingkat rekuren 40–50%). b) Simple closure Pinggir dari conjungtiva yang bebas di jahit bersama (efektif jika hanya defek konjungtiva sangat kecil). c) Conjungtiva Graft Suatu free graft biasanya dari konjungtiva superior, di eksisi sesuai dengan besar luka dan kemudian dipindahkan dan di jahit.

d) Limbal conjungtival autograft transplantation (LLAT) Teknik baru dan paling efektif yang digunakan untuk menutupi luka setelah eksisi pterygium. e) Amnion Membrane Transplantation Mengurangi frekuensi rekuren pterygium, mengurangi fibrosis atau skar pada permukaan bola mata dan penelitian baru mengungkapkan menekan TGF – β pada konjungtiva dan fibroblas pterygium. Pemberian mytomicin C dan beta irradiation dapat diberikan untuk mengurangi rekuren tetapi jarang digunakan. - Anjuran pencegahan paparan sinar UV dengan kacamata hitam pasca eksisi.

2.8 Prognosis Quo ad vitam: ad bonam Quo ad functionam: ad bonam Pterygium tidak mengancam jiwa, selain itu tindakan pembedahan juga cenderung aman dan memiliki prognosis baik. Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi yaitu baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007.hal. 116 - 117. 2. Kanski JJ, Clinical Ophthalmology. 6thed. Edinburgh London New York Oxford Philadelphia St Louis Sydney Toronto: Elsevier; 2007.p 252-4. 3. Gazzard G, Saw S-M, Farook M, et al. Pterygium in Indonesia: Prevalence, Severity, and Risk Factors. Br J Ophthalmol 2002;86:1341-6 4. Fisher P Jerome. http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview. (Diunduh tanggal 5 September 2013). Pterygium. April 2013.

5. 4. Lazuarni. Tesis Prevalensi Pterygium di Kabupaten Langkat. Medan: Departemen Ilmu Kesehatan Mata Universitas Sumatera Utara; 2009. (Diunduh 5 September 2013).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful