You are on page 1of 50

�'r� H

U

yP

PEDOMAN TEKNIS PENEMUAN DAN TATALAKSANA PENYAKIT DIABETES MELITUS

CETAKAN II DIREKTORAT PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN DEPARTEMEN KESEHATAN RI TAHUN 2008

KATA PENGANTAR
DIREKTUR PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (DIREKTUR PPTM) Kemajuan dan inovasi ilmu pengetahuan dan tehnologi di bidang kesehatan (kedoteran), memungkinkan dilakukan upaya pengendalian berupa kegiatan promosi dan pencegahan serta penanggulangan penyakit termasuk penyakit tidak menular seperti diabetes melitus Pedoman teknis penemuan dan tatalaksana penyakit diabetes melitus dibuat sebagai penjabaran dan tugas dan fungsi Subdirektorat Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Buku pedoman in terdiri atas 3 (tiga) bagian utama, pertama penemuan dini; kedua tatalaksana; ketiga pengorganisasian penemuan dan tatalaksana penyakit diabetes melitus. Pedoman ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan dan pengelola program penyakit tidak menular khususnya diabetes melitus dan penyakit metabolik di tingkat pelayanan kesehatan dasar dalam upaya deteksi dini dan tatalaksana DM sehingga dapat memberikan pelayanan yang maksimal bagi orang dengan diabetes. Ucapan terima kasih dan penghargaan saya sampaikan kepada seluruh anggota tim yang telah menyumbangkan buah pikiran, tenaga dan waktunya untuk menyelesaikan pedoman ini. Disadari bahwa pedoman ini masih jauh dan sempurna, oleh karena itu masukan dan kritikan yang membangun dan berbagai pihak diperlukan guna perbaikan, agar pengelolaan program mi menjadi lebih balk dimasa mendatang. Jakarta, Maret 2007 Direktur Pengendalian Penyakit Tldak Menular

dr. Achmad Hardiman, SP.KJ, MARS NIP. 140 058 258

i

KATA PENGANTAR DIREKTUR PENGENDALIAN PENYAKITTIDAK MENULAR
Penyakit Diabetes Melitus (DM) di kalangan masyarakat dikenal dengan nama penyakit kencing manis dan oleh beberapa pakar memberikan julukan "the mother of diseases". Salah satu cara untuk mengetahui trend dan besaran masalah penyakit DM di masyarakat, dapat dilakukan dengan upaya penemuan kasus atau deteksi dini dilanjutkan dengan penatalaksanaan penderita diabetes.

Buku Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Diabetes Melitus ini merupakan salah satu pedoman atau acuan dan beberapa buku pedoman yang lain untuk petugas kesehatan pada Dinas Kesehatan dan Unit Pelayanan Kesehatan dalam pengendalian penyakit DM. Buku Cetakan Kedua ini terdiri atas 3 (tiga) bagian utama yaitu pertama tentang penemuan dini, kedua tentang tatalaksana dan ketiga tentang pengorganisasiannya.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang turut dalam penyusunan buku ini. Semoga Buku Penemuan dan Tatalaksana Diabetes Melitus ini lebih bermanfaat dan berdaya guna bagi petugas kesehatan dalam pengendalian penyakit DM di masyarakat. Jakarta, Agustus 2008

Direktur Pengdalian PTM
iii

dr. Yusharmen D.CommH, MSc NIP 140 150 335

11

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular ( PPTM) ... Daftar Isi BAB I ; PENDAHULUAN ... Latar Belakang ... A. Tujuan ... B. Sasaran ... C. Dasar Hukum ... D. Ruang Lingkup ... BAB II ; PENEMUAN PENYAKIT DIABETES MELITUS ... A. Klasifikasi Penyakit Diabetes Melitus ... B. Penemuan Penyakit Diabetes Melitus ... BAB III ; TATALAKSANA PENYAKIT DIABETES MELITUS ... A. Tujuan ... B. Sasaran ... C. Tatalaksana ... BAB IV; PENGORGANISASIAN PENEMUAN DINI DAN TATALAKSANA KASUS DIABETES MELITUS ... A. Penemuan Dini Penyakit Diabetes Melitus ... B. Tatalaksana Penyakit Diabetes Melitus ... BAB V ; PENUTUP ... DAFTAR PUSTAKA ... Lampiran I ; Definisi Operasional ... Lampiran II ; Skema Langkah Diagnostik ... Lampiran III ; Pemeriksaan Gula Darah ...

i - ii iii 1

15 15 15 15 27 27 27 32 33 36 36 36

DAFTAR SINGKATAN

ADA ADO BB Balitbangkes CRIPE DEPKES DM PM GDP GDS HOL IDF IMT KKP OHO PERKENI PERSADIA Puskesmas RI SKRT TGT : :

American Diabetes Association Anti Diabetik Oral Berat Badan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Continue, Rhythmical, interval, Progressive Endurance Departemen Kesehatan Diabetes Melitus Penyakit Metabolik Gula Darah Puasa Gula Darah Sewaktu High Density Lipid International Diabetes Federation IndexMasaTubuh Kantor Kesehatan Pelabuhan Obat Hipoglikemik Oral Perkumpulan Endokririologi indonesia Persatuan Diabetis Indonesia Pusat Kesehatan Masyarakat Republik Indonesia Survei Kesehatan Rumah Tangga Toleransi Glukosa Terganggu Test Toleransi Giukosa Oral World Health Organization

TTGO
WHO

v

Jepang.7% (12.2 % (20.2 juta orang) diabetisi dan 11. Italia. yang melakukan analisa data WHO dan memprediksi Indonesia ditahun 2000 dikatakan sebagai nomor 4 terbanyak diabetisi (8. dan Brazil merupakan 10 besar negara dengan jumlah penduduk diabetes terbanyak. Dalam Diabetes Atlas edisi kedua tahun 2003 yang diterbitkan oleh IDF. Rusia. China.3%) orang.9% (2. Negara-negara seperti India.8% (5. Amerika Serikat. Perkiraan 1 .BABI PENDAHULUAN A. Indonesia. Pakistan. Banglades.1 %) orang dengan diabetes (diabetisi) dan diduga 20 tahun kemudian yaitu tahun 2025 akan meningkat menjadi 333 juta (6. prevalensi diabetes di Indonesia pada tahun 2000 adalah 1. memungkinkan dilakukannya upaya pengendalian berupa kegiatan promosi dan pencegahan serta penanggulangan penyakit termasuk penyakit tidak menular. diperkirakan jumlah diabetisi di Indonesia akan meningkat hampir 250 % dari 5 juta di tahun 1995 menjadi 12 juts pada tahun 2025.5 juta orang) dan TGT (toleransi glukosa terganggu) 9. Latar Belakang Kemajuan dan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan (kedokteran).9 juta orang) dengan TGT.4 juta orang) pada tahun 2030 akan tetap nomor 4 di dunia tetapi dengan 21. Dalam Diabetes Care (Wild. Sementara menurut WHO 1998.9 juts orang) dengan prediksi bahwa di tahun 2025 berturut-turut akan menjadi 2. 2004).3 juta diabetisi. International Diabetes Federation (IDF) menyatakan bahwa pada tahun 2005 ini di dunia terdapat 200 juta (5.

Di Jawa Timur. di Indonesia akan terdapat 178 juta penduduk berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi diabetes melitus sebesar 4%. Di Makassar 1. bahkan pada suatu penelitian di Manado didapatkan prevalensi DM 6.9% (1998).43% sedangkan di daerah rural (1989) juga didapatkan prevalensi yang hampir sama yaitu 1. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001. Walaupun demikian prevalensi DM di daerah rural ternyata masih rendah.5% di Jawa dan 2 .7% pada tahun 1993.7% pada tahun 1982 menjadi 5.1% sedang di Kecamatan Sesean. suatu daerah terpencil di Tanah Toraja didapatkan prevalensi DM hanya 0.1%.3%.47%. menemukan prevalensi DM di kalangan penduduk 25-64 tahun. 7.jumlah ini akan menjadi kenyataan apabila tidak ada upaya kita semua untuk mencegah atau paling tidak mengeliminasi faktor-faktor penyebab ledakan jumlah tersebut. perbedaan rural-urban tidak begitu tampak. Menurut Konsensus Pengelolaan DM tipe 2 Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 1998 berdasarkan pola pertambahan penduduk seperti saat itu diperkirakan pada tahun 2020.8%.5-2. didapatkan prevalensi sebesar 1. Di Tasikmalaya didapatkan prevalensi sebesar 1. sekitar tahun 1980-an pada penduduk usia Iebih dari 15 tahun didapatkan prevalensi diabetes melitus (DM) sebesar 1. Dari berbagai penelitian epidemiologis di Indonesia yang dilakukan oleh pusat-pusat diabetes. Hasil penelitian epidemiologis di Jakarta (urban) membuktikan adanya peningkatan prevalensi penyakit DM tipe 2 dari 1. Di Surabaya pada penelitian epidemiologis yang dikerjakan di Puskesmas perkotaan mencakup penduduk diatas 20 tahun (1991). akan ada 7 juta diabetisi.5% (1981) menjadi 12.

menemukan prevalensi DM tipe 2 pada usia 25-64 tahun sebesar 12. maka konsentrasi glukosa darah di atas 110 mg% baru mewakili sebagian dari kelompok gangguan glukosa puasa atau impaired fasting glucose. Pada penelitian ini didapatkan prevalensi hiperglikemia (> 110 mg%) sebesar umur 45 tahun atau lebih. Petugas kesehatan dan pengelola program penyakit tidak menular khususnya diabetes melitus dan penyakit metabolik di Puskesmas sebagai lini terdepan dalam pelayanan kesehatan dasar tingkat primer perlu memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai untuk dapat melakukan penemuan dini dan penatalaksanaan DM sehingga 3 .Bali. melakukan pemeriksaan konsentrasi glukosa puasa memakai strip (dry chemistry) dan menyatakan bahwa seorang dikatakan sebagai DM bila konsentrasi glukosa darahnya >110 mg/dl. Apabila tidak dicegah dan ditangani dengan balk. Bila dipakai kriteria WHO (1995) yang biasa dipakai dalam klinik. Gambaran tersebut di atas menginformasikan bahwa penyakit diabetes telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu segera ditangani secara serius. SKRT 2003.8% dan berubah menjadi 11. Surveilans faktor risiko di Depok (2001) yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Depkes dengan menggunakan kriteria diagnostik DM yang benar. Oleh karena itu diperlukan suatu pedoman guna menemukan Iebih dini dan tatalaksana yang baik sehingga angka kesakitan dan kematian DM dapat dikendalikan melalui upaya pelayanan pasien DM. maka diperkirakan akan terjadi peningkatan prevalensi yang Iebih tinggi pada masa yang akan datang.2% di tahun 2003 setelah dilakukan intervensi terhadap perilaku. Sehingga agaknya data SKRT perlu dilakukan analisis memakai kriteria diagnostik yang tepat.

dan Puskesmas di seluruh Indonesia. dan Dinas Kesehatan Propinsi serta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) 4 .mampu berperan dalam pelayanan dasar pasien DM secara menyeluruh dan terpadu. yang meliputi upaya promotif. Pengelola program DM melekat menjadi satu dalam struktur organisasi kesehatan di Puskesmas. B. Tujuan khusus : 1. Terwujudnya sikap tanggap petugas terhadap penemuan dan tatalaksana penyakit DM. Meliputi seluruh masyarakat yang mempunyai faktor risiko DM. kuratif dan rehabilitatif. Kabupaten/ Kota. Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten. Sasaran 1. Tujuan Umum: Terlaksananya penemuan dan tatalaksana penyakit DM di Propinsi. Organisasi pengelola penyakit DM adalah sebagai berikut : a. 2. Terlaksananya upaya penemuan dan tatalaksana penyakit DM. 2. Penyandang DM tipe 2 tanpa komplikasi 3. Tujuan. C. preventif. 3. Terwujudnya kemampuan petugas di setiap jenjang pelayanan kesehatan dalam penemuan dan tatalaksana penyakit DM.

dilakukan pada masyarakat yang mempunyai faktor risiko DM positf balk yang tidak dapat dimodifikasi 5 . Penemuan Kasus Penyakit DM. No. meliputi : a. Keputusan Menteri Kesehatan R. Keputusan Menteri Kesehatan R. Ruang Lingkup Ruang Iingkup pedoman ini meliputi penemuan dan penatalaksanaan kasus penyakit Diabetes Melitus tipe 2. Penemuan.I. Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. sedangkan tingkat Propinsi adalah Kepala Dinas Kesehatan Propinsi.I. No 1116 tahun 2003 Pedoman penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan 5. Peraturan Menteri Kesehatan R.I. di tingkat Kabupaten/ Kota oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota yang bersangkutan. Pelaksana penyelenggara program DM pada tingkat Puskesmas/ Kecamatan adalah kepala Puskesmas. Undang Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 3. yaitu: 1. Dasar Hukum : 1. 1575 Tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan 4. E.b. D. No 1479 tahun 2003 Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu 6. 2.

Aktifitas Fisik d. Sistem Rujukan 6 . c. Gula Darah Sewaktu (GDS). Gula Darah Puasa (GDP) dan Test Toleransi Glukosa Oral (TTGO) guna penegakkan diagnosis. yaitu: a. Penataksanaan Kasus Penyakit DM dapat dilakukan pada saat penyandang terdiagnosa DM. Penatalaksanaan Kasus Penyakit DM. Pengelolaan Makanan c. Pemeriksaan gula darah meliputi. 2. Pemeriksaan gula darah dilakukan dengan pemeriksaan gula darah kapiler. Edukasi b.maupun yang dapat dimodifikasi. Manajemen Obat e. Penetapan Diagnosis DM/ Pra DM/ tidak DM. Selanjutnya dilakukan wawancara terarah terhadap keluhan klasik dan keluhan lainnya b.

Diabetes Melitus tipe 1 Defisiensi insulin absolut akibat destruksi sel beta. Infeksi g. Penyakit eksokrin pankreas d. Defek genetik kerja insulin c. Diabetes Melitus Kehamilan (Gestasional) 7 . Karena obat/zat kimia f.BAB II PENEMUAN PENYAKIT DIABETES MELITUS A. Diabetes Melitus tipe lain a. yaitu : 1. Defek sekresi insulin lebih dominan dari pada resistensi insulin c. Klasifikasi Penyakit DM Klasifikasi penyakit DM berdasarkan modifikasi PERKENI 2006. Defek genetik fungsi sel beta b. Diabetes Melitus tipe 2 Defisiensi insulin relatif: b. Resistensi insulin Iebih dominan dari defek sekresi insulin 3. 2. Imunologi (jarang) h. Endokrinopati e. Sindroma genetik lain 4. penyebab: autoimun clan idiopatik.

8 .9 dan perempuan 0. Berat badan lebih (BB >120% BB idaman atau IMT > 23 kg/mz) dan ratio lingkar pinggang pinggul untuk Laki-laki 0. sebagai berikut: 1) Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi a). kadar lipid (Kolesterol HDL = 35 mg/dI dan atau Trigliserida > 250 mg/dl) e). Pemeriksaan Faktor Risiko Dilakukan pada kelompok masyarakat dengan memperhatikan faktor risiko penyakit DM. tekanan darah diatas 140/90 mmHg d). Penemuan Penyakit DM Penyakit DM dapat ditemukan melalui pemeriksaan pada masyarakat. yaitu : 1. c). f). Hipertensi. Kurangnya aktifitas fisik c).8 Iingkar pinggang pria=wanita 90 cm b). Dapat dilakukan dengan metode tanya-jawab riwayat penyakit terdahulu. Diet tidak sehat. Pemeriksaan Penyaring Faktor Risiko DM Pemeriksaan penyaring bertujuan untuk mengidentifikasi mereka yang mempunyai faktor risiko penyakit DM. dengan tinggi -gula dan rendah serat. 2) Faktor risiko yang dapat dimodifikasi a). Riwayat pernah menderita diabetes gestasional d). Memiliki riwayat penyakit kardiovaskular. melalui: a. Riwayat keluarga dengan DM b). Umur. Risiko untuk menderita prediabetes meningkat seiring dengan meningkatnya usia. kurang dari 2500 gram.B. Riwayat Berat Badan Lahir dengan berat badan rendah. Dislipidemia.

b. BB menurun cepat tanpa penyebab yang jelas 2). yaitu a). yaitu : Kesemutan Gatal di daerah alat kelamin Keputihan Infeksi sulit sembuh Bisul yang hilang timbul Penglihatan kabur Cepat lelah Mudah mengantuk 2. 9 . gula darah puasa (GDP) clan test toleransi glukosa oral (TTGO) dilakukan dengan pengambilan darah melalui darah kapiler dengan alat pengukur glukosa darah (glukometer). yaitu b). Pemeriksaan Lanjutan DM Pemeriksaan lanjutan adalah dengan pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS). Sering haus d). Keluhan Iainnya. Wawancara terarah Wawancara terarah adalah wawancara guna dapat Iebih mengarahkan terhadap diagnostik penyakit 1). Cepat lapar c). Pemeriksaan ini dilakukan di Puskesmas yang mempunyai alat penunjang diagnostik (glukometer) guna pemeriksaan gula darah kapiler.Bagi masyarakat yang mempunyai 2 (dua) bush faktor risiko dilanjutkan dengan wawancara terarah. Untuk pengambilan darah vena dilakukan rujukan diagnostik di rumah sakit rujukan. Keluhan Klasik. Sering kencing DM.

a.Adapun persyaratan pemeriksaan gula darah jika pada masyarakat yang dilakukan pemeriksaan telah memiliki 2 (dua) Faktor Risiko balk yang dapat dimodifikasi ataupun tidak dapat dimodifikasi. Skema pasien dengan Keluhan Klasik (+) dan keluhan Iainnya (+) DM : 1) Pemeriksaan Gula Darah Puasa Keluhan Klasik (+) < 126 10 .

Skema pasien dengan Keluhan Klasik (-) dan keluhan Iainnya (-) DM : 1) Pemenksaan Gula Darah Puasa : Keluhan Klasik (-) GDP* 100-125 Ulang GDP' <100 Normal it .2) Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu : b.

2) Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu : Keluhan DM (-) c. Skema pasien dengan Keluhan Klasik (-) dan keluhan Iainnya (+) DM : 1) Pemeriksaan Gula Darah Puasa : 12 .

TTGO : Tes Toleransi Glukosa Oral TTGO GD 2 jam pasca pembebanan Pemeriksaan Gula Darah ulang dapat dilakukan pada waktu lain 140-199 TGT Normal 13 .2) Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu : Keluhan Klasik (-) Keluhan Lainnya (+) 1 140-199 < 140 TTGO" Normal Keterangan : (lain jam/had) dengan memeriksa Gula Darah puasa atau Gula Darah sewaktu.

dilakukan pemeriksaan ulangan tiap tahun. Bagi mereka yang berusia > 45 tahun tanpa faktor risiko lain. 14 .Kadar glukosa darah sewaktu dan glukosa darah puasa sebagai penyaring dan diagnosis DM : Bukan Belum DM Pasti DM Kadar glukosa darahPlasma Vena sewaktu (mg/dl) puasa (mg/dl) Darah Kapiler Darah Kapiler < 100 < 90 100-199 90-199 DM > 200 > 200 Kadar glukosa darahPlasma Vena < 100 < 90 100-125 90-99 > 126 > 100 Untuk kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan kelainan hasil. pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3 (tiga) tahun.

lembar balik dan sebagainya 16 . Kegiatan pendidikan kesehatan dapat dilakukan sebagai berikut : 1) Penyuluhan Penyuluhan diberikan dalam bentuk ceramah. Pendekatan yang dilakukan disesuaikan dengan kultur dan tingkat sosial masyarakat setempat.Kegiatan pendidikan atau edukasi dilakukan sebagai berikut: a. Materi atau pemahaman yang diberikan meliputi 1) Tingkat Pertama : (a) Pengertian Diabetes Melitus (b) Penatalaksanaan DM secara umum (c) Perencanaan makanan (d) DM dan bentuk aktivitas fisik yang dianjurkan (e) Obat-obatan untuk mengendalikan kadar glukosa darah (f) Pemantauan glukosa darah 2) Tingkat Lanjutan : (a) Komplikasi akut DM (b) Komplikasi menahun DM (c) DM ketika menderita penyakit lain (d) Makan di luar rumah (e) DM ketika bepergian (f) Pemeliharaan kaki (g) Pengetahuan dan teknologi mutakhir tentang DM (h) DM di bulan Ramadhan b.. penyampaian pesan pada poster. penyiaran televisi. penyiaran radio.

Kader sebagai mitra pemerintah diharapkan dapat melakukan motivasi pada masyarakat dalam melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan faktor risiko DM. 4) Kader 2. dll) 3) Petugas kesehatan yang telah mengikuti pelatihan DM. 17 . dietisien. Pengelolaan Makanan pada DM tipe 2 Pengelolaan makanan pada pada DM tipe 2 adalah untuk membantu diabetisi memperbaiki kebiasaan gizi untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih balk. Pendidikan atau edukasi dilakukan oleh : 1) Dokter 2) Edukator diabetes (perawat. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dalam bentuk diskusi kelompok. yaitu ditujukan pada pengendalian glukosa. 3) Kursus Kegiatan kursus dilakukan untuk memgembangkan kemandirian masyarakat melalui pembentukan kader.2) Dialog Kegiatan ini merupakan bentuk komunikasi dua arch. Dalam melakukan perencanaan makan yang penting adalah kebutuhan kalori dengan pdnsip tidak ada diet khusus diabetes dan tidak ada bahan makanan yang tidak boleh dikonsumsi (yang paling penting adalah jumlah kalori yang dibutuhkan oleh masing-masing individu). sehingga dapat disampaikan informasi yang lebih tepat serta mendalam. lipid dan tekanan darah. c.

Prinsip : • Anjuran makan seimbang seperti anjUran makan sehat pada umumnya • Tidak ada makanan yang dilarang.9 o Obesitas tingkat I : 25.10% Catatan : Untuk wanita tidak dikurangi 10% lagi. jumlah dan jenis makanan Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT)* IMT = BB k Rumus: TB (m)2 • • • BB kurang : 18.5-22. Makanan dianjurkan seimbang dengan komposisi energi dari karbohidrat 45-65%. Status Gizi Tentukan Berat Badan Idaman Berat Badan Idaman = (TB . 18 . < 150 cm dan pria < 160 cm. Teratur dalam jadwal.9 o Obesitas tingkat II 30 * WHO WPR/IASO/IOF dalam The Asia- Pasific Perspective: Redefining Obesity and its Treatment d.0-24.9 BB lebih : > 23.0-29. protein 10-15% dan lemak 2025% b. hanya dibatasi sesuai kebutuhan kalori (tidak berlebih) • Menu sama dengan menu keluarga • c.0 o Dengan risiko : 23.100) .Perencanaan Makanan : a.5 BB normal : 18.

........ .20% x kalori basal = .kalori f. .Makan selingan malam 19 ... Makan malam .kalori Berat Badan (BB) BB gemuk : .kalori • Koreksi/penyesuaian Umur >40 tahun : ....Makan selingan pagi 2.. kalori BB kurang + 20% x kalori basal = +... ..kalori .10% x kalori basal = +..• • • • :BB kurang 90% BB Idaman BB normal : 90-110% BB Idaman BB lebih : 110-120% BB Idaman Gemuk : > 120% BB Idaman e.kalori Wanita : BB idaman (kg) x 25 kal/kg = ... .5% x kalori basal = -..kalori BB lebih .... .. .....kalori Aktifitas sedang +20% x kalori basal = +........kalori Aktifitas ringan : +10% x kalori basal = +...... Makan slang 3.. Prinsip pembagian porsi makanan sehari-hari Disesuaikan dengan kebiasaan makan pasien dan diusahakan porsi tersebar sepanjang hari.... Penentuan Kebutuhan Kalori • Kalori Basal Laki-laki : BB idaman (kg) x 30 kal/kg =. Makan pagi . Aktifitas berat +37% x kalori basal = +. Disarankan porsi terbagi (3 besar dan 3 kecil) 1....Makan selingan slang .

rhythmical. Oleh karena itu program latihan yang diharuskan pada diabetisi sesuai dengan kebutuhannya yaitu : continue. yaitu otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur. meningkatkan fungsi jantung dan pernafasan. Disamping manfaatnya. bersepeda. interval. mendayung • Interval: Latihan dilakukan selang-seling antara gerak cepat 20 . kelincahan dsb. juga untuk kekuatan. menurunkan berat badan dan meningkatkan kualitas hidup. kelenturan.3. Program Olah raga bagi diabetesi : 1. • Continue : Latihan harus berkesinambungan dan dilakukan terus menerus tanpa berhenti • Rythmical: Latihan harus dipilih yang berirama. progressive dan endurance (CRIPE). Aktivitas Fisik Penyusunan program latihan bagi diabetisi sangat individual sesuai dengan kondisi penyakitnya sehingga latihan teratur dan terus menerus dibawah pengawasan tenaga medis pada diabetisi dapat bermanfaat untuk menurunkan kadar gula darah. Jenis Olah raga Program yang diberikan ditujukan untuk kesegaran kardiovaskuler yaitu jantung. latihan olah raga dapat berisiko menimbulkan hipoglikemi dan hiperglikemi sehingga akan memperburuk kontrol diabetesnya. memperbaiki kontrol diabetes. pemafasan dan sirkulasi darah. contoh : jalan kaki. jogging. pembuluh darah. berenang.

Peningkatan intensitas didasarkan pada umur. • Intensitas Adalah kerasnya melakukan latihan. Dosis/ takaran olah raga Aktifitas fisik yang dilakukan harus memenuhi dosis/ takaran yang ditentukan oleh karena bila kurang tidak akan memberikan manfaat.umur • Endurance : Latihan daya tahan untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi. keadaan kesehatan. contoh : jalan cepat diselingi jalan lambat. adaptasi latihan dan dampak terhadap kontrol gula darah diabetisi • Lama Lamanya latihan antara 20-30 menit dalam zona latihan. jogging. Jika intensitas tinggi maka lama latihan dapat Iebih pendek dan sebaliknya 21 .pemantauan denyut nadi atau jantung. maksimum denyut nadi rata-rata = 220 . dan bersepeda. dan frekuensi latihan. dikontrol dengan . berenang. 2. contoh : jalan. jogging diselingi jafan dll • Progressive : Latihan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dad intensitas ringan sampai sedang hingga mencapai 30-60 menit Sasaran denyut nadi rata-rata = 75-85% dad maksimum denyut nadi.dan lambat. kebugaran tingkat awal. Takaran meliputi : intensitas.lama..

hipertensi. koroner. Kenakan sepatu yang sesuai b. gangguan fungsi ginjal dan hati. 2. Diperlukan pemeriksaan medis sebelum berolah raga b. sepak bola. Komplikasi kardiovaskuler : a. kelainan kaki) Kadar glukosa darah 250 mg%. b. olah raga kontak tinju dll. Kaki diusahakan agar selalu bersih dan keying c. Hal-hal yang perlu diperhatikan : 1. dan olah raga permainan yang lain) c. Berlatih pada suhu terlalu panas/ dingin. Latihan tiap hari tidak dianjurkan karena dapat menurunkan kondisi fisik dan mental. jangan lakukan latihan berat (misalnya : latihan beban. Hal yang dapat memperburuk gangguan metabolik diabetisi : a. bulu tangkis. Lakukan pemeriksaan EKG kerja 22 . Periksa kedua kaki setiap sebelum dan sesudah latihan 3. Gangguan pada kaki : a.• Frekuensi Latihan paling sedikit 3 x seminggu hal ini karena ketahanan seseorang akan menurun setelah 48 jam. Beratnya penyakit dan komplikasinya (penyakit jantung. gangguan penglihatan.

teman atau tetangga dalam suatu kelompok untuk menjaga agar dorongan untuk berolah raga selalu tinggi. Hindari olah raga berat dan berlebihan 5.c. Pilih olah raga yang sesuai dan tepat b. Pemeriksaan laboratorium secara rutin 4. Contoh nilai energi latihan (BB 50 kg. Cedera muskuloskeletal : a. Lakukan pemanasan dan pendinginan d. AKTIVITAS Jalan santai Jalan cepat Jogging Lari Aerobik Sepeda Sepeda INTENSITAS 53 m/menit 66 m/menit 114 m/menit 133 m/menit Low impact 266 m/menit 357 m/menit ENERGI (Kalori) 56 68 136 181 113 113 181 Renang Renang Santai 15 m/menit 136 181 23 . Berlatihlah bersama keluarga. Program olah raga individual d. Tingkatkan intensitas latihan sedikit demi sedikit dan bertahap c. lama latihan 30 menit).

Pengelolaan farmakologis dengan OHO mengikuti aturan yang berlaku dimana untuk pengobatan jangka pendek dapat dilakukan di Puskesmas. dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OF40). Menejemen obat Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran. Sistem Rujukan Sistem rujukan yang diuraikan disini adalah rujukan medik yang menyangkut khusus pasien DM dalam wilayah kerja Puskesmas. pengobatan. tindakan operatif ditujukan diabetisi deng-an komplikasi. 5. Menentukan keadaan pasien DM Tenaga kesehatan harus dapat menentukan keadaan pasien DM yang dapat diobati di Puskesmas atau dirujuk ke fasilitas yang lebih memadai (Puskesmas Rawat inap atau Rumah Sakit) 24 . Rujukan medik rumah sakit meliputi konsultasi pasien untuk keperluan diagnostik. Pada keadaan tertentu OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi. sedangkan untuk pengobatan jangka panjang dapat dilakukan rujukan therapi di Rumah Sakit rujukan. Langkah-langkah rujukan pasien DM : 1. sesuai indikasi.4.

Menentukan tempat tujuan rujukan Tempat rujukan tidak memberatkan pasien DM oleh karena itu informasi yang diberikan pada pasien dan keluarga pasien adalah mengenai keadaan penyakitnya. 25 . pemberian obat-obatan. mengapa harus dirujuk dan akibatnya bila tidak dirujuk 3. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju Informasi melalui surat rujukan yang dibawa pasien ke fasilitas kesehatan yang dituju. apa yang telah dilakukan sehingga memudahkan dan mempercepat pelayanan kesehatan yang akan diberikan.2. Informasi tersebut meliputi keadaan pasien DM saat itu.

....I I i Dinas Kesehatan Kab/kota Rumah Sakit 4..._ ... ....... _.......Alur Rujukan Pasien DM Masyarakat 4 Kader Penemuan Dini DM / Desa Siaga Posyandu I Puskesmas N .....b..... Dinas Kesehatan propinsi Alur Pengiriman Rujukan Diagnostik .. Alur Pengembalian Rujukan Alur Rujukan Program 26 .

terutama yang mengkhususkan pada penyakit DM B. yang meliputi: Pengertian DM dan Keluhannya Pengenalan Faktor Risiko DM Pengukuran Berat Badan Ideal Pengukuran Tekanan Darah . seperti : a. meliputi : 27 .BAB IV PENGORGANISASIAN PENEMUAN DINI DAN TATALAKSANA KASUS DM A. Masyarakat. misalnya: Pos Yandu Lansia atau kelompokkelompok diabetisi dan sejenisnya dalam pembinaan Puskesmas dengan metode wawancara dan pemeriksaan faktor risiko DM. Rumah Sakit/ Fasilitas Kesehatan lain.Aktifitas Fisik/ Olah raga yang sehat b. Puskesmas c. Penemuan Dini Penyakit DM Penemuan dini meliputi pemeriksaan Faktor Risiko dan wawancara terarah dapat dilakukan di tempat-tempat. Tatalaksana Penyakit DM Tatalaksana Penyakit DM dapat diakukan secara berjenjang. Pemeriksaan pada masyarakat dapat dilakukan oleh kader kesehatan yang sudah melalui pelatihan dasar. .Pengetahuan Diet Sehat.Pengukuran Aktifitas Fisik Sederhana .

Kader yang sudah dilatih dapat melakukan penyuluhan kesehatan. Aktifitas Fisik Kader yang sudah dilatih dapat melakukan penyuluhan kesehatan mengenai aktifitas fisik/ olah raga yang sehat sambil membentuk kelompok-kelompok senam yang dilakukan secara teratur setiap 2 (dua) hari sekali. yaitu b. meliputi materi dasar yang telah diberikan pada pelatihan penemuan dini.1. dalam hal ini kader yang sudah terlatih dapat melakukan kegiatan Tatalaksana Kasus DM ini meliputi a. 28 . Aktifitas Fisik/ Olah raga yang sehat Pengelolaan Makanan Sederhana Kader yang sudah dilatih dapat melakukan penyuluhan kesehatan mengenai pengelolaan makanan sederhana. c. meliputi : Pengukuran Berat Badan Ideal Pengetahuan Diet Sehat. Edukasi. Pengertian DM clan Keluhannya Pengenalan Faktor Risiko DM Pengukuran Berat Badan Ideal Pengukuran Tekanan Darah Pengukuran Aktifitas Fisik sederhana Pengetahuan Diet Sehat. Masyarakat.

leaflet. e.Pengukuran Aktifitas Fisik sederhana . Puskesmas a. Aktifitas Fisik/ Olah raga yang sehat 29 . Edukasi. . 2.Pengetahuan Diet Sehat.Pengukuran Tekanan Darah .Pengenalan Faktor Risiko DM Pengukuran Berat Badan Ideal .Pengertian DM dan Keluhannya . lembar balik dan lain-lainnya yang meliputi mated dasar yang telah diberikan pada pelatihan penemuan dini.. yaitu : . Melakukan rujukan ke Puskesmas Kader bersama keluarga selalu memantau kondisi kesehatan diabetisi dan memotivasi agar selalu kontrol ke pelayanan kesehatan terdekat guna mencegah terjadinya komplikasi. Pengawasan Minum Obat Kader bersama keluarga memotivasi dan mengawasi keteraturan diabetisi dalam mengkonsumsi obat-obat yang harus diminum. Puskesmas selain melakukan pembinaan kepada kader juga memberikan informasi melalui penyuluhan langsung ke masyarakat maupun secara tidak langsung menggunakan poster.d.

Aktifitas Fisik Puskesmas melakukan pembinaan kepada Kader kesehatan mengenai aktifitas fisik / olah raga yang sehat dan merangsang terbentuknya kelompok-kelompok senam yang ada di masyarakat. pola makan sehat tinggi serat rendah gula. 30 . Memotivasi kader dan keluarga. dan aktivitas fisik rutin kepada diabetisi. diabetisi untuk melakukan pengawasan minum obat. yang meliputi : - Pengukuran Berat Badan Ideal Pengetahuan Diet Sehat. Pengobatan Puskesmas dapat melakukan diagnosis DM dan melakukan pengobatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. i. Serta melakukan pengelolaan makanan kepada diabetisi g.f. h. Melakukan rujukan Puskesmas mampu melakukan pengobatan tingkat dasar dan melakukan rujukan pasien sesuai dengan tingkat kemampuan Puskesmas Puskesmas mampu melakukan perencanaan kebutuhan obatnya guna pemenuhan kebutuhan diabetisi sesuai peraturan yang ada. Pengelolaan Makanan Kader yang sudah dilatih dapat melakukan penyuluhan kesehatan tentang pengelolaan makanan sederhana.

Melakukan fasilitasi peningkatan kemandirian masyarakat melalui pembentukan kelompok-kelompok diabetisi.3. pengobatan. Melakukan pembinaan terhadap diabetisi melalui penyuluhan lanjutan meliputi : Pengobatan komplikasi DM Upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan c. tindakan operatif ditujukan untuk diabetisi dengan komplikasi. Menerima rujukan medik meliputi konsultasi pasien untuk keperluan diagnostik. Rumah Sakit a. 31 . b.

Pedoman ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan dan pengelola program penyakit tidak menular khususnya diabetes melitus dan penyakit metabolik di tingkat pelayanan kesehatan dasar dalam upaya penemuan dan tatalaksana DM sehingga dapat memberikan pelayanan yang maksimal bagi orang dengan diabetes. Semoga. Disadari bahwa pedoman ini masih jauh dari sempurna. karena semakin meningkatnya usia harapan hidup masyarakat disamping faktor-faktor risiko yang juga berkontribusi dalam menimbulkan penyakit diabetes melitus. Pedoman teknis penemuan dan tatalaksana penyakit diabetes melitus dibuat sebagai penjabaran dari tugas dan fungsi Subdirektorat Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1575 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. agar pengelolaan program ini menjadi Iebih balk dimasa mendatang. oleh karena itu masukan dan kritikan yang membangun dari berbagai pihak diperlukan guna perbaikan.BAB V PENUTUP Penyakit diabetes melitus merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. 32 .

I. " Nutrition Principle and Recommendations in Diabetes " Diabetes Care 5. Nomor 1479 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Survailans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak menu/ar Terpadu "Jakarta 5.I. "Position Statement Clinical 2. Number 2 3. 7. Diabetes". "Evidence based nutrition principle and recommendation for the treatment and prevention of diabetes and related complication "Clinical Practice Recommendations. Depkes R. "Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Diabetes Care 4. dengan Diabetes ".I. (2003). Ermita Ilyas (2005). American Diabetes Association (2003). (2005). "Peraturan Menteri Kesehatan R. Penatalaksanaan Terpadu dalam Pelatihan Edukasi Diabetes Melitus. " Manfaat Olah Raga bagi Orang 8.I. Jakarta 9. Jakarta American Diabetes Association (2001). Nomor 116 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Survailans Epidemiologi Kesehatan "Jakarta Depkes R. Adiarta (2006). (2003). Nomor 1575 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan" Jakarta Ermita Illyas (1995).Volume 19. Depkes R. " Keputusan Menteri Kesehatan R.I. American Diabetes Association (2004). "Latihan Jasmani bagi Penyandang .DAFTAR PUSTAKA 1. "Pre diabetes "Perkemahan Diabetes.

Jakarta International Diabetes Federation (1999). "Guidelines for Diabetes Care. Policy Group European Region 33 . a Dekstop Guide Type 2 Diabetes Mellitus ". Penatalaksanaan Diabetes Terpadu.Diabetes 10.European Diabetes. Melitus ".

" Peraturan Pemerintah Nomor 32 tentang Tenaga Kesehatan " Jakarta Pemerintah R. 20. " Perencanaan Makan pada Diabetes Melitus " Pedoman Diet Diabetes Melitus. 18. "Petunjuk Praktis. "Pengetahuan Praktis Kesehatan dalam Olah Raga "Jakarta 22. " Terapi Gizi Medis pada Diabetes Tipe 2 Rawat Jalan " Pelatihan Terapi Gizi Medis pada Diabetes Melitus. Mardi Santoso dan Utoyo Sukanto (2000).J (2004) . Kartini Sukardji (2004). 19. Pemerintah R. 17. 16. " Olahraga pada Penderita Diabetes Melitus " Kursus Penyegaran Senam Diabetes Indonesia. "Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan "Jakarta Pemerintah R.l and Barned. "Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia "Jakarta Perkeni (2006).I." Dietary Management Diabetes Mellitus in Europe and North America "International Textbook of Diabetes Mellitus 14. N. "Diabetes Melitus. Jakarta . Mekanisme Dasar dan Pengelolaannya yang Rasional " Penatalaksanaan Diabetes Terpadu. Sarwono Waspadji (2005).I (2004).J. Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 " Jakarta Sadoso Sumosardjuno (2002). Jakarta 13. " Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia "Jakarta Perkeni (2002). Jakarta 15.I (1992). Jakarta 12. of Mann. 21. (1996).11. Kartini Sukardji (2005). " Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah " Jakarta Perkeni (2002).

34 .

Jakarta 29. Sri Henni Setiawati (2005). Soebagijo Adi (2006). Slamet Suyono (2005). Zulhaimi Hadi (2005). "Peran Aktifitas Fisik Bogor pada Diabetes " Perkemahan Diabetes. " Kecenderungan Peningkatan Jumlah Penyandang Diabetes " Penatalaksanaan Diabetes Terpadu. Suharyuni Suharmadji Argadikoesoema (2006). Jakarta 25. " Peran Anti Diabetik Oral (ADO) Perkemahan Diabetes. " The Asia-Pasific Perspective: Redefining Obesity and its Treatment " Geneva 31.23. Jakarta . " Dietetik dan Pelayanan Medis " Pelatihan Terapi Gizi Medis pada Diabetes Melitus. Sidartawan Soegondo (2005). " Pedoman Pengobatan Dasar Diabetes Melitus di Puskesmas " Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Diabetes Melitus dan Penyakit Kardiovaskuler " Pidato pada Upacara Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap dalam llmu Penyakit Dalam pada F a k u l t a s K e d o k t e r a n Universitas Indonesia. Bogor 28. " Sistem Rujukan Pasien DM " Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta 27. Sarwono Waspadji (2005). Jakarta 26. Jakarta 24. Menghadapi Tantangan Global . 30. Obesitas. "Peran Endokrinologi dalam Penanggulangan Penyakit Tidak Menular. Sidartawan Soegondo (2005). "Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus Terkini " Penatalaksanaan Diabetes Terpadu. WHO (2000).

35 .

dan gula darah sewaktu 200 mg/dI Keluhan klinis diabetes melitus adalah keluhan baik keluhan klasik maupun keluhan lainnya. 2. Penemuan kasus penyakit DM adalah suatu upaya penemuan atau pemeriksaan penyaring suatu faktor risiko yang khusus ditujukan untuk penyakit DM pada masyarakat umum. 9. 4 5. kondisi dan faktor pencetus yang berkontribusi atau mempunyai pengaruh terhadap terjadinya penyakit DM pada seseorang. Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal. 7. zat/bahan. 6. Diabetisi adalah orang yang menderita penyakit DM. dan perencanaan obat. DM tipe 2. 36 . DEFINISI OPERASIONAL 1. aktivitas fisik. dengan tujuan menyampaikan pesan atau informasi sehingga sasaran memperoleh pengetahuan dan ketrampilan serta kemampuan. Faktor risiko DM adalah suatu kegiatan/aktivitas. Klasifikasi diabetes melitus adalah kiasifikasi berdasar etiologis DM yaitu DM tipe 1.Lampiran 1. DM tipe lain dan DM Gestasional Diabetes Melitus type 2 adalah tipe DM yang bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin. 3. Tatalaksana kasus penyakit DM adalah suatu rangkaian upaya yang dilakukan untuk mereka dengan DM tipe 2 berupa pendidikan kesehatan. '' Pendidikan kesehatan adalah kegiatan pendidikan non-formal yang bertemakan atau bertopik kesehatan dalam bentuk penyuluhan dan kursus dengan sasaran individu atau kelompok. Gula darah puasa 126 mg/dl. 8. perencanaan makanan.

Puasa adalah puasa paling sedikit 10 (sepuluh) jam mulai malam had sebelum pemeriksaan. Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh dengan tujuan meningkatkan dan mengeluarkan tenaga dan energi. dll. 12. Gula Darah Puasa (GDP) adalah hasil pengukuran kadar glukosa darah yang diukur setelah puasa terlebih dahulu (puasa makan/intake kalori). Hipoglikemia adalah suatu kondisi dimana kadar gula darah turun sampai 60 mg/dl atau 80 mg/dl dengan gejala klinis berupa gangguan saraf dapat ringan berupa gelisah sampai berat berupa kejang atau koma. Olahraga adalah aktivitas fisik yang terencana dan terstruktur dengan memanfaatkan gerakan tubuh yang berulang untuk mencapai kebugaran.10. jalan kaki. Gula Darah Sewaktu (GDS) adalah hasil pengukuran kadar glukosa darah tanpa melakukan puasa terlebih dahulu 18. Test Toleransi Glukosa Oral (TTGO) adalah Pemeriksaan kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram 37 . 11. Perencanaan obat diabetes oral adalah pengobatan secara farmakologik yang disesuaikan dengan kondisi pasien 13. Perencanaan makanan adalah kegiatan merencanakan (memanage) pola'dan diet makanan yang dianjurkan sehingga tercipta komposisi energi yang seimbang dari karbohidrat. kegiatan rumah tangga. yang biasa dilakukan atau aktivitas sehari-hari sesuai profesi atau pekerjaan. Gula Darah adalah kadar glukosa dalam darah 16. bersepeda. dansa. 19. 14. Hiperglikemia adalah nilai kadar gula darah naik s/d diatas 550 mg/dl disertai dengan gejala klinis kesadaran menurun dan dehidrasi berat 15. 17. Contoh aktivitas fisik berupa olahraga. maksimal 16 (enam betas) jam minum air putih diperbolehkan. protein dan lemak.

Toleransi Gula Terganggu (TGT) adalah suatu keadaan prediabetik dimana hasil gula darah 2 jam PP setelah pembebanan glukosa 75 gram oral hasilnya antara 140 .199 mg/dl 21. Sistem rujukan adalah sistem jaringan pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus kepada yang lebih kompeten. Prediabetes adalah suatu fase transisisi dari. 25. Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional. 38. Promotif (Peningkatan Kesehatan). toleransi glukosa normal hingga berkembang menjadi diabetes. terjangkau dengan memperhitungkan daya guna (efisiensi) dan hasil guna (efektif). merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan dasar secara menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok 24.20. dimana hasil test glukosa darahnya salah satu dari : a. Pelayanan dasar adalah pelayanan kesehatan menyeluruh terpadu meliputi : Preventif (Upaya Pencegahan). Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT) adalah suatu keadaan dimana hasil gula darah 2 jam PP setelah pembebanan glukosa 75 gram oral hasilnya kadar gula darah puasa dibawah 140 mg/dl. Kuratif (Pengobatan) dan Rehabilitatif (Pemulihan Kesehatan). Mereka dengan kadar glukosa darah puasa antara 110-125 mg/dl b. 22. Mereka dengan kadar glukosa darah 2 jam setelah pembebanan glukosa 75 gram oral hasilnya antara 140-199 mg/dI (TGT) 23. .

GAKAN OAN PENAN GULANGAN FR-t!-M Keterangan : GOP GDS TOT : Glukou D.uh S. D..ktu : Tal..w. Keluhan Tidak Khas (-).rg. Keluhan Khas (-).nd Glukup T. Keluhan Tidak Khas (+) GOP GDS GDP GDS PFNCF.r.nggu GOPT Glukm.rsh Pun. Glukop D.Skema Iangkah diagnostik Lampiran 2. T.uh Pu. Keluhan Khas (-).rg gu 39 .

Lampiran 3. Setelah selesai pengambilan darah puasa. Cara Pengambilan Darah : 1. cepat dan tidak terlalu dalam 3. paling sedikit 10 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan. Balikkan tangan dan biarkan darah keluar setetes/ dua tetes 6. jari tengah. makan obat/suntikan insulin bisa dilaksanakan 2 jam post prandial (pp) 4. jari telunjuk) dengan kapas yang telah diberi alkohol 70%. 5. keringkan 2. Tusukkan lancet/ autoclix pada ujung jari secara tegak lurus. Sentuhkan setetes/dua tetes darah pada strip test 7. Setelah 2 jam tepat. boleh minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan. PEMERIKSAAN GULA DARAH Alat dan Bahan : • Alat pemeriksa glukosa darah • Test strip (carik uji) • Lancet/Autoclix • Alcohol 70% : Glukometer kapiler • Kapas Persiapan Pasien : 1. makan terakhir pukul 20. Berpuasa dimulai malam hari. 3. Lakukan prosedur pemeriksaan sesuai dengan instruksi masingmasing alat periksa 40 . jangan makan obat pada pagi hari. Tekan ujung jari ke arah luar 5.00 wib 2. diambil darah untuk pemeriksaan. Pasien makan sejumlah diet yang biasa dilaksanakan. Bila haus. Usap dengan kapas steril kering setelah darah keluar dari ujung jari 4. Bersihkan salah satu ujung jari pasien (jari manis.00 atau 22.

Tempelkan dan tekan Autoclix pada bag ian pinggir ujung jari tangan 6. Pasang penutup instrumen dan putar pada posisinya. Putar pelindung penutup lancet. Lepaskan penutup dan lancet yang telah digunakan. Putar ujung penutup Autoclix ke angkaangka yang sesuai dengan tebal tipisnya kulit sari tangan 2. Lepaskan penutup instrumen 3. Masukkan Autoclix lancet ke dalam tempat lancet. / •r 4. Bunyi klik menandakan Autoclix siap digunakan 5. 41 .Cara Menggunakan Autoclix Standar : 1.

Baca hasil glukosa darah yang muncul 42 . Masukkan tes strip bila gambar strip tes muncul 2. Sentuhkan satu/ dua tetes darah sampai memenuhi tengah medan test 3.Cara Menggunakan Glukometer: 1.

MOH. Suharto 43 . M. DR.Lampiran 4. Dr. Dit PPTM. SpKO (Subdit Kota dan Olahraga.Kes (Subdit Penyakit Kronis dan Degeneratif Lainnya. M. Dit Gizi Masyarakat. M. dr. EM. dr. DR. Prof. Rmarky Qemar. Ditjen Yanmedik) 5. Sedya Dwisangka 3. Eny Riangwati T. dr. Dit PPTM. TIM PENYUSUN Pelindung Pengarah Ketua Direktur Jenderal PP & PL : Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular. FACE (PERSADIA) 2. Dit PPTM alarn. Ditjen PP&PL) 12. Ditjen. Rustika. MScPH Anggota : 1. SKM. MSi (Subdit Jantung dan Pembuluh Darah. Ditjen PP&PL) 10. Anie Indriastuti. Ditjen. Dr. Rainy Fathiyah Sekretariat : 1. dr. Fainal Wirawan (Subdit Bina Yanmed RS Khusus. di. SKM : Titi San Renowati. Binkesmas) 6. dr. Tjetjep Ali Akbar (Subdit Gangguan Akibat Kecelakaan dan Kerja. dr. Petrus Maturbongs. Lourentia (Badan Litbangkes) dan 9. Prima Winingsih (Dinas Kesehatan DKI Jakarta) 4. Dt Bina Yanmedik Spesialistik.Kes (Kasubdat Penyakit Diabetes Melitus dan Penyakit Metabolik) Nara Sumber : 1. Endrawan 3. Yunir SpPD (PERKENI) can 3. Robert Saragih.Kes 2. drg. Sidhartawan Soegondo SpPD-KEMD. Binkesmas) 7. Ditjen PP&PL : dr. Y. Ditjen PP&PL) 11. MSc (Subdit Bina Gizi Klinis. PhD (Badan Litbangkes) 8. dr. dr. Ditjen PP&PL) Sekretans I Sekretaris II : Djoni Mardjozen. Endang Srituty 2. Rini Noviani (Subdit Kanker Dit PPTM. dr. DR. Ema Tresnaningsih.