P. 1
Skripsi Bang Hendrik Hutasuhut

Skripsi Bang Hendrik Hutasuhut

|Views: 28|Likes:
Published by Yudi Eka Tamba

More info:

Published by: Yudi Eka Tamba on Sep 15, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/19/2014

pdf

text

original

Sections

1 I.

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Budidaya ikan hias air tawar ternyata mampu memberikan kehidupan

bagi banyak orang yang menekuninya. Selain orang suka akan keindahan ikan hias, banyak pula orang yang menggantungkan hidupnya dari membudidayakan dan memasarkan ikan hias yang jenisnya bermacam-macam. Tidak jarang beberapa petani yang semula menekuni budidaya ikan konsumsi seperti ikan lele, ikan nila, guramih dan lain sebagainya beralih menekuni budidaya ikan hias. Semua itu dilakukan karena potensi ekonomis budidaya ikan hias lebih menggiurkan dibandingkan dengan ikan konsumsi. Dengan pola pemeliharaan dan pemberian makanan yang hampir sama dengan ikan konsumsi, budidaya ikan hias mampu menghasilkan pemasukan yang lebih besar karena harga ikan hias lebih mahal. Kunci membudidayakan ikan hias adalah telaten dan senang di dalam memeliharanya. Jika dibandingkan dengan budidaya ikan konsumsi pemeliharaannya hampir sama sedangkan masalah penjualan biasanya ikan konsumsi dihargai dengan sistem kiloan, ikan hias dihargai dengan sistem per ekor, dengan demikian bisnis budidaya ikan konsumsi lebih menekankan kuantitas, sehingga memerlukan lahan yang luas dan sarana yang lebih banyak. Hasil budidaya Ikan hias lebih menekankan kualitas sehingga bisa dilakukan di lahan sempit dan bisa dilakukan sebagai usaha sampingan. Jika tidak memiliki kolam yang luas, budidaya ikan hias bisa dilakukan di dalam akuarium atau bak semen yang cukup kecil. Jika lahan yang tersedia cukup kecil, kita harus lebih selektif dalam memelihara ikan hias.

2 Sebaiknya ikan-ikan hias yang dipelihara cukup yang berkualitas bagus agar tidak memakan tempat. Salah satu alasan mengapa budidaya ikan hias dipilih selain memiliki nilai jual yang tinggi, proses pemijahan dan perawatan benih tidak terlalu membutuhkan modal yang besar dan usaha pembenihan/pembudidayakan ikan hias tersebut masih di daerah tertentu saja sehingga masih memiliki potensi yang luas. Karena suka terkadang penggemar ikan hias bersedia mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah untuk memiliki seekor ikan hias yang diidam-idamkannya. Hal inilah yang terkadang membuat harga ikan hias melambung tinggi. Selain faktor kesukaan faktor keindahan ikan hias juga turut andil dalam menentukan harga. Secara umum ikan hias yang memiliki bentuk, warna, corak yang indah akan berharga cukup mahal. Di sinilah letak kunci keberhasilan budidaya ikan hias, menghasilkan ikan-ikan yang indah dan berkualitas bagus. Keberadaan ikan hias sendiri saat ini tidak lagi sebagai hiburan atau hobi semata tetapi telah berkembang menjadi objek yang dimanfaatkan bagi kepentingan dunia pendidikan, penelitian, medis maupun keperluan konservasi alam. Sampai saat ini ikan hias air tawar merupakan salah satu jenis komoditas ekspor nonmigas bidang perikanan yang mampu menyumbang devisa negara yang cukup besar. Dengan kekayaan ikan hias yang berlimpah maka peluang Indonesia sebagai pengekspor komoditas ini sangat terbuka lebar. Sehingga budidaya ikan hias layak digencarkan di masyarakat. Ada beraneka ragam ikan hias bernilai ekonomi cukup tinggi antara lain ikan Koi, Manfish, Koki, Niasa, Redfin, Lemon, Komet, Sumatra barb, Black

3 Ghost, Aligator, Arwana dan ikan hias jenis lainnya. Ikan-ikan hias tersebut merupakan ikan hias yang biasa dicari penghobi dan dibudidayakan petani ikan. Ikan koi (Cyprinus carpio) bila diperhatikan sepintas struktur tubuhnya menyerupai ikan mas, tetapi warna lebih cerah, berpadu dengan warna merah, putih mutira serta belang-belang serta kombinasi merah putih dan hitam. Sedangkan sirip serta ekornya yang panjang membuat ikan yang berasal dari Jepang ini semakin indah dan menawan. Keindahannya itu membuat ikan koi selalu diminati pasar dengan harga yang lumayan tinggi, peminatnya tak hanya pasar domestik, tapi juga dari manca negara. Seperti halnya ikan koi, ikan mas koki ( Carassius auratus) juga memiliki warna yang sangat bervariasi seperti yang berwarna tunggal, dua warna dan lebih dari dua warna. Bagian tubuh mas koki didominasi oleh perut yang umumnya bulat dan sirip ekor yang panjang. Kepalanya sering kali dilengkapi dengan berbagai aksesoris tergantung jenisnya, misalnya jambul, mata menonjol, atau batok kepalanya berwarna tertentu yang berbeda dengan warna tubuhnya. Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai labu adalah Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan pembudidayaa ikan hias seperti koi dan mas koki telah cukup lama dilakukan oleh petani ikan hias di dua kecamatan ini. Pengalaman petani ikan hias ini dalam usaha perikanan budidaya telah lebih dari lima tahun . Peluang usaha pembudidayaan ini sangat menjanjikan dikarenakan permintaan untuk ikan hias khususnya ikan koi dan mas koki selalu tinggi. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis merasa tertarik untuk meneliti usaha pembudidayaan ikan hias ini.

4 1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Seberapa besar biaya yang dikeluarkan dan penerimaan dari setiap unit usaha pembudidayaan ikan hias tersebut? 2. Apakah unit usaha pembudidayaan ikan hias tersebut sudah menguntungkan? 1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk: 1. Mengetahui struktur biaya dan penerimaan dari setiap unit usaha pembudidayaan ikan hias. 2. Mengetahui besarnya keuntungan dan tingkat keuntungan dari setiap unit usaha pembudidayaan ikan hias. 3. Mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing unit usaha pembudidayaan ikan hias tersebut. Sedangkan manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah: 1. Dapat memberikan sumbangan pemikiran khususnya bagi petani yang memiliki usaha pembudidayaan ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu. 2. Dapat memberikan informasi sebagai bahan rujukan penelitian bagi pihak-pihak yang membutuhkannya. 3. Dapat memberikan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan pengembangan sektor perikanan, khususnya di

5 Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang dimasa yang akan datang. II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Landasan Teori Budidaya perikanan dalam arti sempit adalah usaha memelihara ikan yang

sebelumnya hidup secara liar di alam menjadi ikan peliharaan. Sedangkan dalam arti yang luas adalah semua usaha membesarkan dan memperoleh ikan, baik ikan itu masih hidup liar di alam atau sudah dibuatkan tempat tersendiri dengan adanya campur tangan manusia (Rahardi, 2001). Prospek bisnis ikan hias di Indonesia cukup cerah. Faktor pendukungnya adalah jenis ikan yang beragam, air yang cukup, lahan masih sangat luas, dan iklimnya cocok. Bukan hanya itu, ternyata di negeri beriklim tropis ini banyak ikan hias pendatang yang bisa hidup layak dan berkembang biak. Pada awalnya, masyarakat memelihara ikan hias hanya sebatas hobi dan belum mengarah ke usaha komersial. Sejalan dengan perkembangan teknologi dibidang budidaya dan didukung oleh sarana transportasi yang semakin modern, kini usaha usaha budidaya ikan hias semakin semarak da bergairah (Daelami, 2001) . Usaha budidaya ikan hias air tawar dapat dijadikan alternatif usaha yang memberikan keuntungan. Disamping peluang pasarnya yang terbuka didalam dan diluar negeri, usaha ini bisa dilakukan dilahan terbatas dengan teknologi yang sederhana. Keberadaan ratusan jenis ikan hias air tawar di Indonesia tidak seluruhnya merupakan ikan asli Indonesia. Sebagian besar adalah ikan hias yang diimpor kemudian dikembangbiakan dan hasilnya banyak yang sudah diekspor untuk memenuhi selera para penggemar ikan hias diluar negeri (Daelami, 2001).

6 Usaha budidaya ikan hias merupakan salah satu usaha yang memberikan alternatif sumber penghasilan untuk meningkatkan pendapatan petani/pengusaha ikan hias. Usaha budidaya ikan hias cukup prospek dikembangkan. Hal ini disebabkan dalam budidaya ikan hias memiliki keunggulan-keunggulan sebagai berikut : 1. Teknologinya mudah diserap dan diterapkan, karena teknologi yang digunakan cukup sederhana. 2. Budi daya Ikan Hias Dapat diusahakan skala rumah tangga/ usaha kecil, tidak membutuhkan lahan yang luas. 3. Perputaran modal cepat, dapat dipanen dalam jangka waktu yang singkat. 4. Budi daya ikan Hias mampu Menyerap tenaga kerja. 5. Pasar yang menjanjikan baik domestik maupun ekspor. Kebijakan yang dilakukan pada usaha pembenihan adalah memelihara dan memijahkan induk ikan untuk menghasilkan anak ikan serta memelihara anak ikan (mendeder) untuk menghasilkan benih yang lebih besar (Suyanto, 1994). Pengelolaan usaha benih meliputi beberapa kegiatan yaitu seleksi induk, pemijahan, penetasan, perawatan larva dan pendederan (Candra,1994). Usaha pembenihan adalah pemeliharaan dan pemijahan induk ikan untuk menghasilkan burayak atau anak ikan (Suyanto, 1994). Demikian juga halnya dengan pernyataan Fatuchri (1993), benih merupakan salah satu komponen yang penting di bidang usaha budidaya ikan. Upaya peningkatan produksi ikan budidaya berarti pula peningkatan kebutuhan benih ikan. Untuk itu teknologi budidaya pembenihan harus digalakkan guna memenuhi kebutuhan benih yang

7 baik kualitas maupun kuantitasnya. Prospek usaha pembenihan ikan sangat baik disamping nilai ekonominya juga permintaan benih yang tinggi. Pakan berhubungan dengan pertumbuhan dan kesehatan maupun stamina ikan. Pakan yang diberikan untuk ikan hias hendaknya jangan terlalu banyak karena pada ikan hias pertumbuhan badan tidak mutlak menjadi hal yang dipertimbangkan karena beberapa jenis ikan hias kehilangan daya tarinya saat berukuran sudah besar (Hayati, 2004). Pakan ikan hias yang baik adalah pakan yang mampu meningkatkan kualitas warna, mempercepat pertumbuhan, dapat menagkal bibit penyakit dan sekaligus membantu pembentukan warna pada tubuh ikan. Sedangkan pemberian pakan yang baik adalah pemberian sebanyak 2-3% dari berat badan ikan perhari. Pemberian pakan harus tepat, ini dikarenakan 60-65% biaya produksi merupakan biaya pakan (Cahyono, 2000). Modal dan keuangan merupakan aspek penting dalam kegiatan suatu bisnis. Tanpa modal, usaha tidak dapat berjalan walaupun syarat-syarat lain untuk mendirikan suatu bisnis sudah dimiliki. Dilihat dari segi manajemen modern, modal dan keuangan hanya merupakan salah satu aspek fungsional manajemen, disamping pemasaran, produksi, dan aspek personalia atau tenaga kerja. Jika aspek-aspek ini diterapkan secara proporsional, akan diperoleh keseimbangan dalam melakukan perencanaan atau tindakan. Namun, dalam prakteknya, aspek keuangan lebih diutamakan di setiap pengusaha atau perusahaan (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2008). Selanjutnya Sinuraya (1988), juga menyatakan bahwa segala usaha yang akan dilakukan, terlebih dahulu dibuat suatu perencanaan biaya, termasuk di

8 dalamnya modal kerja, fixed cost, variable cost, keuntungan yang akan dicapai dan periode usaha yang harus dilaksanakan. Dengan adanya perencanaan ini maka diharapkan segala kegiatan yang akan dilaksanakan akan berhasil dan memberi keuntungan finansial bagi pengusahanya. Riyanto (1983), juga menyatakan bahwa persoalan modal dan keuangan merupakan aspek penting dalam kegiatan usaha. Tanpa memiliki modal suatu usaha tidak dapat berjalan. Berdasarkan sifat penggunaan modal yang dijalankan, modal dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu modal tetap dan modal kerja. Modal tetap yaitu modal berupa alat-alat dan sarana produksi yang sifatnya tetap dan dapat digunakan dalam jangka waktu lama. Sedangkan modal kerja yaitu modal operasional yang digunakan untuk keperluan biaya dalam proses produksi. Analisis usaha dalam bidang perikanan merupakan pemeriksaan keuangan untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan yang telah dicapai selama usaha perikanan itu berlangsung. Dengan analisis usaha ini, pengusaha dapat membuat perhitungan dan menentukan tindakan untuk memperbaiki dan meningkatkan keuntungan dalam usahanya (Rahardi, 2001). Dalam suatu analisis usaha perlu diperhatikan faktor-faktor produksi seperti tanah/areal, modal, tenaga kerja dan keterampilan. Untuk memperoleh faktor-faktor produksi yang digunakan dalam menciptakan barang atau menambah guna dari barang-barang diperlukan pengorbanan berupa biaya-biaya, biaya ini dikenal dengan biaya produksi. Biaya produksi ini merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang yang diinginkan, sedangkan besarnya biaya produksi sebagai dasar dalam menentukan harga jual dari barang yang akan

9 dipasarkan. Biaya produksi dan harga produksi menjadi pertimbangan yang pentingbagi petani ikan dalam melanjutkan usahanya (Sukirno, 1985). Soekartawi (2003), menjelaskan bahwa faktor produksi tenaga kerja, merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup bukan saja dilihat dari tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam teanga kerja perlu pula diperhatikan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi tenaga kerja, antara lain; tersedianya tenaga kerja yang cukup memadai, kualitas tenaga kerja yang mempunyai spesialisasi pekerjaan tertentu, jenis kelamin, tenaga kerja musiman, dan upah tenaga kerja. Dalam analisis finansial hal-hal yang harus diperhatikan antara lain: hasil usaha/revenue, investment cost, operating cost yang terdiri pembelian bahan mentah/bahan baku, pembelian mesin-mesin, biaya pembelian, upah/gaji serta pembayaran kembali hutang atau pajak (Djamin, 1984). Rentabilitas usaha adalah ukuran dari semua kegiatan yang dilakukan oleh semua perusahaan dalam jangka waktu tertentu, yang menyangkut persoalan dan pemasukan keuangan dari: 1) perbandingan antara Total Benefit dan Total Cost yakni Benefit Cost of Ratio (BCR) sama dengan TB/TC, 2) persentase dari Net Benefit dalam jumlah investasi yaitu Return On Investment (ROI) sama dengan NB/TI X 100%, 3) masa kembalinya modal yang dinamakan Payback Periode of Capital (PPC) sama dengan TI/ (NB + D) dalam jangka waktu tertentu (Tjakrawilaksana, 1983). 2.2. Tinjauan Hasil-Hasil Penelitian Hasil penelitian Purnamasari (2008) yang berjudul analisis investasi pengembangan bisnis ikan hias air tawar untuk pasar ekspor: studi kasus rencana

10 pengembangan bisnis ikan hias air tawar pada CV. Exotic Aquarium menunjukkan bahwa berdasarkan hasil kajian aspek pasar, komoditas ikan hias air tawar masih prospektif untuk dikembangkan mengingat besarnya kebutuhan ikan hias terutama untuk pasar Eropa maupun dunia secara keseluruhan. Hal ini merupakan peluang pasar yang sangat potensial untuk digarap. Selanjutnya berdasarkan penelitian Wijono (2008) yang berjudul analisis perilaku konsumen ikan hias air tawar menunjukkan bahwa menurut responden, urutan atribut ikan hias mulai dari yang terpenting berturut-turut adalah keindahan warna, keindahan bentuk, harga jual kembali, kemudahan cara perawatan, biaya pemeliharaan yang ekonomis, kedua atribut terakhir mempunyai kekuatan yang sama, dilanjutkan dengan harga pembelian, kemudian keunikan bantuk dan kelangkaan juga mempunyai kekuatan yang sama, kemudahan diternakkan, kemampuan tingkah laku untuk dinikmati, kemampuan dapat menghasilkan varietas baru dan yang terakhir adalah citra yang dibawa. Berdasarkan penelitian Siregar (2008) yang berjudul analisis prilaku konsumen ikan hias air tawar di Kota Bogor diperoleh hasil bahwa lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran ikan hias adalah : produsen (petani/pembudidaya), pedagang pengumpul tingkat I (PP I), pedagang pengumpul tingkat II (PP II), eksportir dan pedagang pengecer. Saluran pemasaran yang terpola ada dua yaitu : (1). Produsen --- PP I --- PP II --Pedagang Pengecer --- Konsumen DN, (2). Produsen --- PP I --- Eksportir --Konsumen LN.

11

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Arikunto (1986) mengemukakan bahwa metode studi kasus sebagai salah satu jenis pendekatan deskriptif, adalah penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu organisme (individu), lembaga atau gejala tertentu dengan daerah atau subjek yang sempit. 3.2. Prosedur Penelitian 3.2.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan ditempat pembudidayaan ikan hias di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Dimana lokasi penelitiannya berada di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut memiliki potensi usaha budidaya ikan hias yang cukup besar untuk dikembangkan. 3.2.2. Penentuan Responden Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah pembudidayaan ikan hias yang berjumlah 5 orang. Terdiri dari 4 responden di Kecamatan Beringin dan 1 orang responden di Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. 3.2.3. Pengumpulan Data

12 Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung yang berpedoman pada kuisioner yang telah dipersiapkan. Data primer yang dikumpulkan diantaranya: luas kolam pemijahan dan pembesaran, jumlah induk jantan dan betina, jumlah pakan, lama pemeliharaan benih dan pemasaran hasil pembudidayaan. Untuk melengkapi data tersebut diperlukan data sekunder yang diperoleh dari Kantor Camat Beringin ,Kantor Camat Pantai Labu, dan Dinas Perikanan Deli Serdang. Data yang dikumpulkan meliputi keadaan geografis, jumlah penduduk, mata pencaharian, jumlah petani pembudidaya ikan hias, produksi ikan hias dan hal-hal lainnya yang ada hubungannya dengan penelitian ini. 3.3. Definisi Operasional Untuk memberikan pengertian dan kepentingan analisis digunakan konsep operasional sebagai berikut : 1. Analisis usaha dalam bidang perikanan merupakan pemeriksaan keuangan untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan yang telah dicapai selama usaha tersebut berlangsung. Dengan analisis usaha ini, pengusaha dapat membuat perhitungan dan menentukan tindakan untuk memperbaiki dan meningkatkan keuntungan dalam usahanya. 2. Produksi adalah jumlah benih ikan hias yang dihasilkan dalam satu kali produksi dihitung dalam ekor per panen. 3. Biaya produksi adalah segala pengeluaran yang dikeluarkan untuk keperluan pelaksanaan pembudidayaan ikan hias yang berhubungan dengan proses produksi yang terdiri dari biaya tetap (biaya penyusutan, bunga modal,

13 pembelian alat-alat yang digunakan) dan biaya tidak tetap (pembelian induk, pakan, sewa lahan, dan upah tenaga kerja) dihitung dalam rupiah per panen. 4. Biaya tetap adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi ikan hias yang diperoleh banyak atau sedikit. 5. Biaya tidak tetap adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi benih ikan hias yang diperoleh. 6. Penerimaan adalah pendapatan yang diperoleh dari penjualan total produksi ikan hias dikali dengan harga penjualan dihitung dalam Rp/panen. 7. Keuntungan adalah selisih antara pendapatan kotor dengan total biaya produksi pada usaha pembenihan ikan dihitung dalam rupiah/panen. 8. Penyusutan adalah pengurangan nilai suatu barang atau input karena umur dan penggunaannya (Rp/panen). 3.4. Analisis Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini disusun dalam bentuk tabel kemudian dianalisis secara deskriptif. Untuk menganalisis struktur biaya dan penerimaan serta mengkaji tingkat keuntungan setiap unit usaha pembudidayaan ikan hias dilakukan dengan analisis biaya dan keuntungan seperti : 1. Laporan laba rugi
Usaha Pembudidayaan Penerimaan *Penjualan Koi *Penjualan Mas Koki *Penjualan Komet Total Penerimaan (TP) Biaya Tetap (BT) *Gaji Pegawai *Biaya Perawatan *Administrasi *Biaya Lain-lain Biaya Tidak Tetap (BTT) *Induk *Pakan 100 Satuan (q) Harga (p) Nilai (Rp) Persentase 100

14
*Obat-obatan Total Biaya (TB) Keuntungan Bersih Usaha (K)

-

2.

Untuk melihat keuntungan bersih (K) usaha pembudidayaan digunakan rumus: K = TP – TB = TP– (BT+BTT) Dimana: K TP = Keuntungan bersih = Total penerimaan, yaitu hasil produksi dikalikan dengan harga ikan hias pada saat penelitian (q x p). TB = Total biaya, yaitu seluruh biaya yang dikeluarkan dalam usaha pembudidayaan meliputi biaya tetap (BT) dan biaya tidak tetap (BTT).

3.

Untuk

mengetahui

tingkat

keuntungan

usaha

pembudidayaan digunakan rumus-rumus berikut: a. Rasio Total Penerimaan Atas Total Biaya, merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan dengan rumus: Rasio Total Penerimaan Atas Total Biaya = TP/TB Dimana: TP = Total penerimaan TB = Biaya

Kriteria BCR > 1, usaha tersebut menguntungkan untuk itu usaha dapat diteruskan. BCR < 1, usaha mengalami kerugian dan tidak dapat diteruskan

15 BCR = 1, usaha tersebut tidak mengalami kerugian dan tidak mendapat keuntungan. Indeks rasio akan menjelaskan bahwa setiap Rp 1.000 biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan/ memperoleh penerimaan 1.000 x nilai indeks. b. Rasio Keuntungan Atas Total Biaya, merupakan perbandingan antara keuntungan bersih dengan total biaya yang dikeluarkan dengan rumus: Rasio Keuntungan Atas Biaya = K / TB Dimana: K = Keuntungan Bersih TB = Biaya Indeks rasio akan menjelaskan bahwa setiap Rp 1.000 biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan/ memperoleh keuntungan sebesar Rp 1.000 x nilai indeks. c. Rasio Keuntungan Atas Total Penerimaan, merupakan perbandingan antara keuntungan bersih dengan total penerimaan yang dihitung dengan menggunakan rumus : Rasio Keuntungan Atas Total Penerimaan = K/ TP Dimana: K = Keuntungan Bersih sebesar Rp

TP = Total Penerimaan Indeks rasio akan menjelaskan bahwa setiap Rp 1.000 penerimaan akan menghasilkan/ memperoleh keuntungan sebesar Rp 1.000 x nilai indeks.

16

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1. Kondisi Geografis Daerah Penelitian Kabupaten Deli Serdang secara geografis, terletak diantara 2°57’ - 3°16’ Lintang Utara dan antara 98°33’ - 99°27’ Bujur Timur, merupakan bagian dari wilayah pada posisi silang di kawasan Palung Pasifik Barat dengan luas wilayah 2.497,72 Km2 Dari luas Propinsi Sumatera Utara, dengan batas sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Sumatera.- Sebelah Selatan berbatasan dergan Kabupaten Karo. - Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai- Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Langkat. Kabupaten Deli Serdang mempunyai luas wilayah sebesar 2.497,72 km2 yang menyebar di 22 kecamatan dengan 380 desa dan 14 kelurahan. Adapun kecamatan yang terdapat di Kabupaten Deli yakni Kecamatan Gunung Meriah, Kecamatan Kutalimbaru, Kecamatan Galang, Kecamatan Hamparan Perak, Kecamatan Labuhan Deli, Kecamatan Lubuk Pakam, Kecamatan Bangun Purba, Kecamatan Batang Kuis, Kecamatan Beringin, Kecamatan Biru-biru, Kacamatan Deli Tua, Kecamatan Galang, Kecamatan Pantai Labu, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kecamatan Tanjungmuda Patumbak, Hulu, Kecamatan Sibolangit, Merbabu, Kecamatan Kecamatan Sinembah Sinembah Morawa.

Kecamatan

Pagar

Tanjungmuda Hilir, Kecamatan Sunggal, dan Kecamatan Tanjung Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1.

17

Tabel 1. Luas dan Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Kecamatan di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. Kecamatan Gunung Meriah STM Hulu Sibolangit Kutalimbaru Pancur Batu Namorambe Biru-Biru STM Hilir Bangun Purba Galang T. Morawa Patumbak Deli Tua Sunggal Hamparan Perak Labuhan Deli Percut Sei Tuan Batang Kuis Pantai Labu Beringin Lubuk Pakam Pagar Merbau Jumlah Luas (Km2) 76,65 223,38 179,96 174,92 122,53 62,30 89,69 190,50 129,95 150,29 131,75 46,79 9,36 92,52 230,15 127,23 190,79 40,34 81,85 52,69 31,19 62,89 2.497,72 Desa 12 20 30 14 25 36 17 15 24 28 25 8 3 17 20 5 18 11 19 11 6 16 380 Desa/Kelurahan Kelurahan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 3 0 0 0 2 0 0 0 7 0 14 Jumlah 12 20 30 14 25 36 17 15 24 29 26 8 6 17 20 5 20 11 19 11 13 16 394

Sumber: Kantor BPS Deli Serdang Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu adalah kecamatan yang letaknya bersebelahan. Kecamatan Beringin merupakan kecamatan yang dimana

wilayahnya merupakan dataran rendah dengan luas wilayah 52,69 Km2yang terdiri dari11 desa dengan Ibu Kota yang berada di Desa Karang Anyar. Sedangkan Kecamatan Pantai Labu merupakan kecamatan dengan luas 81,85 Km2 yang terdiri dari 19 desa dengan Ibu Kota yang berada di Desa Kelambir. Secara geografis, Kecamatan Pantai Labu merupakan wilayah pesisir dengan ketinggian 0-8 meter diatas permukaan laut yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka. 4.2. Demografi dan Kependudukan

18 4.2.1. Penduduk Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk 2010 (SP2010), jumlah penduduk Deli Serdang adalah 1.789.243 orang yang terdiri atas 900.733 laki-laki dan 888.510 perempuan. Jika dibandingkan dengan angka sensus penduduk sebelumya, maka laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Deli Serdang menurun, dimana periode 1990-2000 laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Deli Serdang sebesar 2,66 persen menjadi 2,62 persen pada periode 2000-2010. Secara lebih rinci jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan sex ratio per Kecamatan di Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dan Sex Ratio Per Kecamatan di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Kecamatan Gunung Meriah STM Hulu Sibolangit Kutalimbaru Pancur Batu Namorambe Biru-Biru STM Hilir Bangun Purba Galang T. Morawa Penduduk Laki-Laki Perempuan Jumlah 1.246 1.240 2.486 6.228 6.098 12.326 9.884 9.907 19.791 17.882 17.925 35.807 42.731 42.313 85.044 18.230 18.522 36.752 17.171 16.874 34.045 15.503 14.951 30.454 11.104 10.630 21.734 31.050 30.369 61.419 96.592 95.630 192.222 Sex Ratio 100,48 102,13 99,77 99,76 100,99 98,42 101,76 103,69 104,46 102,24 101,01

19
12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. Patumbak Deli Tua Sunggal Hamparan Perak Labuhan Deli Percut Sei Tuan Batang Kuis Pantai Labu Beringin Lubuk Pakam Pagar Merbau Jumlah 45.299 29.834 123.295 76.361 30.528 192.178 28.372 22.318 26.574 40.099 18.254 900.733 43.999 30.901 121.438 73.618 29.654 190.978 27.529 20.828 25.824 40.677 18.605 888.510 89.298 60.735 244.733 149.979 60.182 383.156 55.901 43.146 52.398 80.776 36.859 1.789.243 102,95 96,55 101,53 103,73 102,95 100,63 103,06 107,15 102,90 98,58 98,11 101,38

Sumber: Kantor BPS Deli Serdang Kecamatan Percut Sei Tuan, Kecamatan Sunggal dan Kecamatan Tanjung Morawa adalah tiga Kecamatan dengan urutan teratas yang memiliki jumlah penduduk terbanyak, masing-masing 383.156 orang, 244.733 orang dan 192.222 orang. Sedangkan Kecamatan Beringin memiliki penduduk yang berjumlah 52.398 orang yang terdiri dari 26.574 orang penduduk laki-laki dan 25.824 orang penduduk wanita. Jumlah penduduk di Kecamatan Pantai Labu adalah 43.146 orang yang terdiri dari 22.318 orang penduduk laki-laki dan 20.828 orang penduduk wanita. Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah penduduk di

Kecamatan Pantai Labu mengalami penurunan dibandingkan tahun 2009 yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 49.221 orang. Tabel 2 juga memberikan gambaran tentang sex ratio di Kabupaten Deli Serdang, terlihat bahwa sex ratio penduduk Deli Serdang adalah sebesar 101, yang artinya jumlah penduduk laki-laki 1 persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Sex ratio terbesar terdapat pada Kecamatan Pantai Labu yakni sebesr 107 dan yang terkecil adalah sex ratio kecamatan Deli Tua yakni sebesar 96 yang berarti jumlah penduduk perempuan 4 persen lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki. Sedangkan untuk wilayah Kecamatan Beringin, sex ratio penduduknya adalah 102.

20 4.2.2. Pendidikan Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola pikir masyarakat baik yang diperoleh melalui jenjang pendidikan formal maupun informal. Tingkat pendidikan ada hubungannya dengan mudah atau tidaknya masyarakat tersebut menerima pembaharuan dan teknologi yang terus berkembang. Sehingga masalah kesenjangan sosial dapat diatasi. Oleh karena itu tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor penentu perkembangan suatu daerah. Untuk mengetahui jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Dan Jenis Kelamin di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pendidikan Yang Ditamatkan Tidak/ Belum Pernah Sekolah Tidak /Belum Tamat SD Sekolah Dasar SMTP SMTA SMTA Kejuruan Diploma I,II Diploma III/ Akademi D IV/SI Jumlah Laki-laki 2.284 135.063 198.137 185.784 151.147 44.984 2.216 2.976 19.654 742.245 Perempuan 15.811 114.349 178.334 152.725 125.926 39.247 5.877 6.227 10.913 649.409 Jumlah 18.095 249.412 376.471 338.509 277.073 84.231 8.093 9.203 30.567 1.391.654

Sumber: Kantor BPS Deli Serdang Dari Tabel 3 terlihat bahwa tingkat pendidikan penduduk di Kabupaten Deli Serdang sudah tergolong baik karena telah banyak penduduk yang telah menamatkan pendidikan SMTP Yaitu sebanyak 277.073 orang dan juga perguruan tinggi yaitu sebanyak 30.567 orang. 4.2.3. Mata Pencaharian

21 Kesejahteraan suatu penduduk ditentukan oleh jenis mata pencaharian yang ditekuninya. Semakin tinggi penghasilan dari mata pencahariannya atau usaha yang ditekuninya akan dapat menentukan tingkat kesejahteraan dalam kehidupannya. Adapun sebaran penduduk berdasarkan mata pencahariannya di Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama Dan Jenis Kelamin di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Mata Pencaharian Pertanian Pertambangan/ Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas, Air Minum Bangunan Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan Dan Hotel Pengangkutan Dan Komunikasi Keungan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah 9. Dan Jasa Perusahaan Jasa Kemasyarakatan Jumlah 49.851 553.112 51.328 267.866 101.179 820.978 Laki-laki Perempuan Jumlah 130.461 66.580 197.041 1.767 110 1.877 102.747 53.290 156.037 3.651 722 4.373 89.974 4.102 94.076 104.663 87.822 192.485 58.986 11.012 1.834 2.078 60.820 13.090

Sumber: Kantor BPS Deli Serdang Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah penduduk yang memiliki mata pencaharian yang terbanyak adalah dibidang pertanian yakni sebesar 197.041 orang. Hal ini membuktikan bahwa Kabupaten Deli Serdang merupakan daerah yang bertumpuh pada bidang pertanian. Sedangkan mata pencaharian penduduk yang terkecil adalah pada bidang listrik, gas dan air minum yakni sebesar 4.373 orang.

4.3. Sarana dan Prasarana

22 4.3.1. Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu parameter yang dapat menentukan perkembangan dan kemajuan di suatu daerah. Jadi pendidikan dapat dijadikan salah satu faktor penentu maju tidaknya suatu daerah. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat di suatu daerah maka akan lebih mudah bagi masyarakat untuk menerima informasi-informasi ataupun sarana dan prasarana yang dapat membangun bagi kepentingan mereka sendiri. Pendidikan sebagai modal dalam meningkatkan kemampuan pola pikir dari masyarakat dilatih dan dididik dalam suatu pendidikan formal, dalam meningkatkan pendidikan itu dibutuhkan sarana dan prasarana yang mendukung berupa sarana yang berbentuk fisik yaitu gedung sekolah. Untuk mengetahui jenis dan jumlah sarana pendidikan di Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2009 dapat dilihat dari tabel 5 sebagai berikut: Tabel 5. Jenis dan Jumlah Sarana Pendidikan di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sarana Pendidikan Jumlah (Unit) 7 153 592 182 53 166 16 97 4 98 1.368 Tenaga Guru (Orang) 58 607 8.191 2.113 2.148 2.963 870 1.972 361 2.180 21.463

TK Negeri TK Swasta SD Negeri SD Swasta SLTP Negeri SLTP Swasta SMU Negeri SMU Swasta SMK Negeri SMK Swasta Jumlah Sumber: Kantor BPS Deli Serdang

Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa jumlah sarana pendidikan di kabupaten ini sebanyak 1.368 unit, dimana sarana yang paling banyak adalah SD Negeri sebanyak 592 unit dan yang paling sedikit adalah SMK

23 Negeri yang berjumlah 4 unit. Sedangkan jumlah Tenaga Guru yang terdapat di kabupaten ini sebanyak 21.463 orang, dimana guru yang paling banyak bekerja di SD Negeri sebanyak 8.191 orang dan jumlah guru yang paling sedikit bekerja adalah di SMK Negeri yang berjumlah 361 orang. Untuk jenis dan jumlah sarana pendidikan yang terdapat di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu dapat dilihat pada tabel 6 berikut : Tabel 6. Jenis dan Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009.
No.

Sarana Pendidikan

Kec. Beringin
Jumlah (unit) Tenaga Guru (Orang)

Kec. Pantai Labu
Jumlah (unit) Tenaga Guru (Orang)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

TK Negeri TK Swasta SD Negeri SD Swasta SLTP Negeri SLTP Swasta SMU Negeri SMU Swasta SMK Negeri SMK Swasta
Jumlah

4 23 3 1 6 3 7 47

14 283 29 13 95 42 113 589

1 1 21 3 3 3 3 35

3 4 284 29 74 38 47 479

Sumber: Kantor BPS Deli Serdang Sarana dan prasarana di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu sudah cukup memadai, hal ini dapat dilihat dari tersedianya sekolah dari tingkat TK hingga tingkat SMU. Untuk Sekolah Dasar, kedua kecamatan ini cukup banyak memilikinya. Kecamatan Beringin memiliki 23 unit SD Negeri dan 3 SD Swasta sedangkan Kecamatan Pantai Labu memiliki 21 unit SD Negeri dan 3 unit SD Swasta. Fasilitas pendidikan ini telah cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar dari pendidikan masyarakat setempat.

24 4.3.2. Ibadah Agama merupakan peranan yang penting bagi masyarakat dalam membentuk tata kelakuan sehari-hari. Dalam menjalankan ibadah agama tersebut dibutuhkan sarana dan prasarana yang mendukung berupa sarana yang berbentuk Rumah Ibadah. Untuk mengetahui jenis dan jumlah sarana ibadah di Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2009 dapat dilihat dari tabel 7 sebagai berikut: Tabel 7. Jenis dan Jumlah Sarana Ibadah di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009. No 1 2 3 4 5 Sarana Ibadah Jumlah (Unit) 825 766 577 14 50 2.232 Persentase (%) 36,96 34,32 25,85 0,63 2,24 100

Masjid Langgar, Musholla Gereja Kuil Vihara Jumlah Sumber: Kantor BPS Deli Serdang

Dari Tabel 7 dapat diketahui bahwa sarana ibadah yang paling banyak adalah Masjid sebanyak 825 Unit (36,96 %) dan Langgar/Musholla sebanyak 766 unit (34,32 %) yang dimana memiliki Imam sebanyak 1.723 orang. Sedangkan sarana ibadah yang paling sedikit adalah Kuil sebanyak 14 unit (0,63%). Pada Kecamatan Beringin sarana ibadah yang terdapat disana adalah Masjid sebanyak 18 unit, Musholla sebanyak 12 unit, Gereja sebanyak 13 unit, dan sebuah unit Vihara. Sedangkan pada Kecamatan Pantai Labu sarana yang terdapat disana adalah Masjid sebanyak 27 unit, Musholla sebanyak 40 unit, Gereja sebanyak 19 unit, dan Vihara sebanyak 4 unit. 4.3.3. Kesehatan Sarana kesehatan merupakan hal yang penting dalam meningkatkan kesehatan penduduk di suatu daerah. Kesehatan merupakan salah satu faktor

25 penting bagi kehidupan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Untuk mengetahui jenis dan jumlah sarana kesehatan di Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2009 dapat dilihat dari tabel 8 sebagai berikut: Tabel 8. Jenis dan Jumlah Sarana Kesehatan di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sarana Kesehatan Jumlah (Unit) 16 33 104 114 141 125 35 325 249 171 1.313 Persentase (%) 1,22 2,51 7,29 8,68 10,74 9,52 2,67 24,75 18,97 13,02 100

Rumah Sakit Umum Puskesmas Puskesmas Pembantu Rumah Bersalin Balai Pengobatan Swasta Poskesdes Puskesmas Keliling Patroli Kesehatan/Roda 2 Praktek Dokter Praktek Bidan Jumlah Sumber: Kantor BPS Deli Serdang

Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa sarana kesehatan yang paling banyak adalah Patroli Kesehatan/Roda 2 sebanyak 325 Unit (24,75 %). Sedangkan jumlah Rumah Sakit Umum yang terdapat di Kabupaten Deli Serdang berjumlah 16 unit (1,22%). Sedangkan untuk rincian dari sarana kesehatan di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu dapat dilihat pada tabel 9 sebagai berikut:

26 Tabel 9. Jenis dan Jumlah Sarana Kesehatan di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009.
No. Sarana Kesehatan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kec. Beringin
Jumlah (unit)

Kec. Pantai Labu
Jumlah(unit)

Puskesmas Puskesmas Pembantu Rumah Bersalin Balai Pengobatan Swasta Poskesdes Puskesmas Keliling Patroli Kesehatan/Roda 2 Praktek Dokter Praktek Bidan
Jumlah

1 5 3 2 4 1 7 2 1 26

1 5 1 3 6 1 12 1 2 32

Sumber: Kantor BPS Deli Serdang Sarana kesehatan tersebut sudah dapat mendukung kebutuhan dasar masyarakat akan fasilitas kesehatan. Untuk kebutuhan kesehatan yang lebih, masyarakat dapat dengan mudah pergi ke Rumah Sakit yang berada di Ibukota Kabupaten yaitu Kota Lubuk Pakam. Hal ini dikarenakan jarak yang dekat dan akses yang mudah. Sarana-sarana kesehatan tersebut tidak akan lepas dari tenaga kerja yang mengabdikan diri dibidang kesehatan tersebut. Untuk mengetahui jenis dan jumlah tenaga kerja kesehatan di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu pada tahun 2009 dapat dilihat dari tabel 10 sebagai berikut:

Tabel 10. Jumlah Tenaga Kesehatan di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009.
No. Kec. Beringin Kec. Pantai Labu

27 Tenaga Kesehatan Dokter Umum Dokter Gigi Perawat dan Bidan Farmasi Teknisi Medis Sanitasi
Jumlah
Jumlah (unit) Jumlah(unit)

1. 2. 3. 4. 5. 6.

8 1 40 1 1 51

2 1 39 1 1 1 45

Sumber: Kantor BPS Deli Serdang Sarana dan prasarana kesehatan di kedua kecamatan ini sudah cukup memadai, hal ini dapat dilihat dari data diatas. Untuk tenaga kerja kesehatan di Kecamatan Beringin, yang paling banyak adalah Perawat dan Bidan sebanyak 40 orang. Sedangkan Perawat dan Bidan di Kecamatan Pantai Labu berjumlah 39 orang.

4.4. Perikanan Perikanan adalah salah satu usaha manusia untuk memanfaatkan sumber hayati perairan bagi kepentingan hidupnya, baik itu sumber hayati hewan maupun sumber hayati tumbuh-tumbuhan. Kabupaten Deli Serdang merupakan wilayah pengembangan yang cukup berpotensial dalam bidang perikanan. Secara umum potensi pengembangan perikanan dan kelautan pada wilayah Kabupaten Deli Serdang adalah sangat menjanjikan, karena selain memiliki potensi yang besar dengan topografi wilayah yang beragam, daerah ini juga memiliki peluang pemasaran hasil yang lebih baik dibandingkan daerah-daerah lainnya di Sumatera Utara. Sesuai dengan letak geografis, Kabupaten Deli Serdang yang memiliki wilayah laut dengan panjang garis pantai ± 65 km, merupakan peluang bagi usaha perikanan tangkap. Kabupaten Deli Serdang merupakan wilayah pengembangan yang cukup berpotensial dalam perikanan

28 tangkap, dimana produksi perikanan tangkap pada tahun 2010 sebesar 26.821,74 ton (Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Deli Serdang, 2010). Pada bidang budidaya, wilayah Kabupaten Deli Serdang memiliki berbagai jenis sektor budidaya perikanan diantaranya tambak, kolam, perikanan sawah dan sungai. Hal ini dikarenakan wilayah Kabupaten Deli Serdang yang beragam, mulai dari wilayah pesisir hingga pegunungan yang dimana sektor perikanan dapat dikembangkan diberbagai wilayah. Adapun jenis dan luas areal budidayanya dapat dilihat pada tabel 11 berikut:

Tabel 11. Luas Areal Budidaya Perikanan dan Perairan di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009.
No. 1. 2. Kecamatan Gunung Meriah STM Hulu Budidaya Tambak Perikanan kolam 68,12 46,50 Perikanan Sawah 0,97 Sungai 0,16

29
3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. Sibolangit Kutalimbaru Pancur Batu Namorambe Biru-Biru STM Hilir Bangun Purba Galang T. Morawa Patumbak Deli Tua Sunggal Hamparan Perak Labuhan Deli Percut Sei Tuan Batang Kuis Pantai Labu Beringin Lubuk Pakam Pagar Merbau Jumlah 502,58 210,60 335,41 264,30 1.312,89 39,81 32,06 26,23 68,98 91,47 97,02 56,35 90,92 71,76 60,52 25,81 29,84 11,10 3,47 13,19 12,21 1,38 9,02 12,49 13,84 882,09 0,96 2,01 1,65 0,78 0,80 1,61 0,80 0,40 9,98 0,40 0,40 0,16 1,12

Sumber: Dinas Perikanan Kabupaten Deli Serdang Areal budidaya perikanan yang terluas adalah sektor budidaya tambak dimana luas total arealnya 1.312,89 ha. Sedangkan untuk budidaya kolam, semua kecamatan di Kabupaten Deli Serdang memiliki sektor budidaya tersebut. Kecamatan Beringin hanya memiliki perikanan kolam saja dengan dengan luas areal sebesar 9,02 ha. Sedangkan Kecamatan Pantai Labu memiliki areal tambak dengan luas areal 264,3 ha dan areal budidaya kolam dengan luas areal sebesar 1,38 ha. Dengan luas areal budidaya kolam sebesar 882,09 ha, Kabupaten Deli Serdang dapat menghasilkan produksi ikan kolam sebanyak 1.553,5 ton. Produksi perikanan diberbagai sektor di kecamatan- kecamatan Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat pada tabel 12 berikut : Tabel 12. Produksi Perikanan di Kabupaten Deli Serdang Per Kecamatan (Ton) Tahun 2009.
No. 1. 2. Kecamatan Gunung Meriah STM Hulu Laut Tambak Kolam 47,50 85,84 Sawah 6,76 Perairan Umum 4,92 2,69

30
3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. Sibolangit Kutalimbaru Pancur Batu Namorambe Biru-Biru STM Hilir Bangun Purba Galang T. Morawa Patumbak Deli Tua Sunggal Hamparan Perak Labuhan Deli Percut Sei Tuan Batang Kuis Pantai Labu Beringin Lubuk Pakam Pagar Merbau Jumlah 5.058,63 4.191,31 5.134,57 5.138,09 19.522,60 1.305,73 455,45 1.470,68 757,09 3.988,95 38,44 46,49 44,35 98,79 173,68 133,47 34,95 37,90 144,14 150,59 62,52 35,90 34,39 30,06 44,93 38,83 7,46 51,27 44,57 45,08 1.553,50 9,26 12,24 8,54 8,21 4,42 7,01 5,32 4,9964,75 3,76 5,14 3,45 2,90 5,14 1,69 5,29 8,52 2,65 4,02 2,73 2,01 20,44 15,01 22,67 2,65 26,72 2,74 4,67 2,57 152,38

Sumber: Dinas Perikanan Kabupaten Deli Serdang Total produksi perikanan Kabupaten Deli Serdang tahun 2009 adalah 25.282,18 ton. Produksi perikanan yang terbesar berada pada bidang penangkapan yaitu sebesar 19.522,60 ton yang dimana daerah penghasil terbesar adalah Kecamatan Pantai Labu sedangkan produksi ikan yang terkecil terdapat pada bidang perikanan sawah sebesar 64,75 ton. Perikanan kolam terdapat pada seluruh kecamatan dengan total produksi sebesar 1.553,5 ton dimana daerah penghasil terbesar adalah Kecamatan Biru-Biru sebesar 173,68 ton. Sedangkan produksi perikanan kolam dari Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu masingmasing adalah 51,27 ton dan 7,46 ton. Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu adalah sebuah kecamatan yang letaknya bersebelahan. Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu merupakan sebuah kecamatan yang banyak memiliki areal persawahan. Dengan menggunakan areal persawahan, banyak penduduk yang melakukan usaha budidaya ikan termasuk jenis ikan hias seperti ikan koi, maskoki dan juga komet. Hingga akhirnya banyak orang yang menggantungkan hidupnya

31 pada budidaya ikan hias tersebut. Jumlah pembudidaya ikan hias di Kecamatan Beringin sebanyak 22 orang, yang dimana 20 orang diantaranya tergabung dalam Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Mawar. Kelompok ini didirikan pada tahun 2005 dan dibawa binaan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Deli Serdang. Sedangkan di Kecamatan Pantai Labu hanya terdapat seorang pembudidaya ikan hias yang hanya membesarkan ikan dari jenis maskoki saja.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Pembudidaya Ikan Hias Karakteristik pembudidaya ikan hias yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi karateristik sosial yang terdiri dari umur, pendidikan, pengalaman berusaha dan jumlah tanggungan keluarga. 5.1.1. Umur Pembudidaya Ikan Hias Umur seseorang merupakan salah satu karakteristik internal individu yang ikut mempengaruhi fungsi biologis dan psikologis individu tersebut. Umur juga akan berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam mempelajari,

memahami, menerima dan mengadopsi suatu inovasi. Umur juga akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja yang akan dilakukan seseorang. Yuzzsar (2008), menjelaskan bahwa usia atau umur dalam arti bio-ekonomis menunjukkan tahap perkembangan kemampuan energi manusia untuk berproduksi. Karenanya usia dalam komposisi penduduk diberi nilai usia produktif dan usia non-produktif.

32 Umur responden dalam penelitian ini dikelompokkan dalam tiga kelompok usia kerja (Salladien dalam Zulkarnain, 2003) yaitu usia sangat produktif (15-45 tahun), usia produktif (46-65 tahun) dan usia kurang produktif (<15 tahun dan >65 tahun). Pembudidaya ikan yang dijadikan sebagai responden berumur antara 36-60 tahun. Untuk mengetahui umur pembudidaya ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13.

Umur Pembudidaya Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. Responden Umur (tahun) 59 36 40 47 60

No. 1. Tugimin 2. Wagiso 3. Asui 4. Suparman 5. Akiang Sumber: Data Primer

Tabel 13 diatas menunjukkan bahwa pembudidaya ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu berada pada usia produktif dan sangat produktif. Pembudidaya ikan yang berada pada kategori produktif merupakan salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan dimasa yang akan datang dalam pengembangan suatu wilayah. Adapun pembudidaya ikan yang berada pada kategori sangat produktif, umumnya mempunyai kondisi fisik yang sehat dan mampu menerima dengan cepat inovasi ataupun ide–ide baru yang dianjurkan dibanding pembudidaya yang berumur tua.

33 5.1.2. Pendidikan Pembudiddaya Ikan Hias Pendidikan masyarakat merupakan salah satu indikator kesejahteraan dan keberhasilan pembangunan suatu daerah. Tingkat pendidikan masyarakat mempengaruhi cara berpikir seseorang, terutama dalam menganalisis suatu masalah. Tingginya tingkat pendidikan masyarakat memungkinkan masyarakat lebih cepat menerima dan memberikan respon terhadap hal-hal yang membutuhkan kemampuan berpikir dari inovasi-inovasi baru yang dianjurkan kepadanya. Kecenderungan yang ada, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin responsif orang tersebut terhadap perubahan–perubahan. Distribusi tingkat pendidikan pembudidaya ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Tingkat Pendidikan Pembudidaya Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. No. 1. Tugimin 2. Wagiso 3. Asui 4. Suparman 5. Akiang Sumber: Data Primer Responden Pendidikan SR/SD SMK SMA S1 SMA

Tabel 14 menggambarkan bahwa tingkat pendidikan pembudidaya ikan hias tergolong baik, yaitu 3 orang pembudidaya ikan hias telah menamatkan jenjang pendidikan SMA dan 1 orang pembudidaya berpendidikan Sarjana. Dengan tingkat pendidikan yang mereka peroleh, para pembudidaya mampu melakukan usahanya hingga saat ini. 5.1.3. Pengalaman Usaha Pembudidaya

34 Pengalaman berusaha pembudidayaan dapat diartikan bahwa lamanya seseorang melakukan kegiatan usaha pembudidayaan. Menurut Yasin (1996), pengalaman berusaha tani akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam mengalokasikan faktor-faktor produksi serta penerapan teknologi baru. Untuk melihat distribusi responden berdasarkan pengalaman berusaha

pembudidayaan ikan hias disajikan dalam Tabel 15.

Tabel 15. Pengalaman Usaha Pembudidaya Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. No. Responden 1. Tugimin 2. Wagiso 3. Asui 4. Suparman 5. Akiang Sumber: Data Primer Pengalaman Usaha (tahun) 13 6 10 3 9

Dari Tabel 15 terlihat bahwa sebagian besar pembudidaya ikan hias telah melakukan usaha pembudidayaan lebih dari 5 tahun. Ini menunjukkan bahwa pengalaman petani dalam usaha pembudidayaan ikan hias dalam melakukan usahanya cukup lama dan telah banyak mengetahui kendala dan solusi yang baik untuk mengembangkan usahanya. 5.1.4. Jumlah Tanggungan Keluarga Pembudidaya Jumlah tanggungan adalah banyaknya anggota keluarga yang menjadi tanggungan kepala keluarga yang terdiri dari istri, anak dan anggota keluarga lainnya. Menurut Yasin (1996), jumlah tanggungan keluarga secara langsung tidak berpengaruh terhadap tingkat produksi usaha yang dilakukan. Namun akan mempengaruhi pembudidaya dalam melaksanakan produksi.

35 Jumlah tanggungan keluarga pembudidaya ikan hias dalam penelitian ini berkisar antara 3 sampai dengan 7 orang. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah tanggungan keluarga mereka dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Jumlah Tanggungan Keluarga Pembudidaya Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. No. Responden 1. Tugimin 2. Wagiso 3. Asui 4. Suparman 5. Akiang Sumber: Data Primer Jumlah Tanggungan (orang) 7 3 4 4 3

Tabel 16 menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga pembudidaya ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang cukup bervariasi. Banyaknya jumlah anggota rumah tangga memiliki pengaruh terhadap pendapatan dan pengeluaran rumah tangga.

5.2. Keadaan Usaha Pembudidayaan Pembudidayaan ikan terdiri dari beberapa sektor antara lain sektor pembenihan dan sektor pembesaran/pendederan. Hal ini juga terdapat pada pembudidayaan ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu. Untuk melihat keadaan usaha dari para pembudidaya ikan hias seperti jenis usaha, ikan yang dibudidayakan, keadaan kolam, jumlah indukan dan jumlah tenaga kerja dapat dilihat pada tabel 17 hingga tabel 21 berikut.

36

Tabel 17. Keadaan Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Milik Tugimin
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Keadaan Usaha Uraian Keterangan

Jenis Usaha Jenis Ikan Yang Dibudidayakan Luas Kolam Kolam Induk Kolam Pembenihan Kolam Pendederan

Pembenihan dan Pembesaran Koi, Maskoki, Komet
9.049,5 m2 12 unit 16 unit 31 unit 12 unit 70 ekor 400 ekor 400 ekor 6 orang Ukuran 6 m x 10 m Ukuran 2,5 m x 3 m Ukuran 15 m x 15 m Ukuran 15 m x 20 m Ukuran 2 m x 3 m

Kolam Penjualan Jumlah Indukan Ikan Koi Jumlah Indukan Maskoki Jumlah Indukan Komet Jumlah Tenaga Kerja Sumber: Data Primer

Pada mulanya Tugimin adalah seorang petani yang menanam padi di sawah. Dari upaya untuk meningkatkan produktifitas, Tugimin melakukan usaha pembudidayaan ikan mas didalam sawahnya yang biasa disebut dengan minapadi. Dari awal usaha minapadinya tersebut, Tugiman banyak mengetahui tentang perikanan hingga akhirnya memutuskan untuk beralih menjadi pembudidaya ikan koi pada tahun 1998. Hingga saat ini Tugimin telah memiliki kolam sebanyak 58 unit dengan luas areal sebesar 9.049,5 m2. Adapun ikan hias yang dibudidayakan dari jenis koi, maskoki dan komet. Dari lamanya pengalamanya tersebut, Tugimin ditunjukan untuk menjadi Ketua Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Mawar di Kecamatan Beringin.

37

Tabel 18. Keadaan Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Milik Wagiso
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Keadaan Usaha Uraian Keterangan

Jenis Usaha Jenis Ikan Yang Dibudidayakan

Pembenihan dan Pembesaran Koi, Maskoki, Komet 3.222 m2
4 unit 20 unit 14 unit 10 unit 38 ekor 90 ekor 160 ekor 2 orang Ukuran 1,5 m x 2 m Ukuran 1 m x 2 m Ukuran 15 m x 15 m Ukuran 1 m x 2 m

Luas Kolam Kolam Induk Kolam Pembenihan Kolam Pendederan Kolam Penjualan Jumlah Indukan Ikan Koi Jumlah Indukan Maskoki Jumlah Indukan Komet Jumlah Tenaga Kerja Sumber: Data Primer

Usaha pembudidayaan ikan hias milik Wagiso dimulai pada tahun 2005. Pada awalnya usaha pembudidayaan ini hanya pada sektor pembesaran ikan hias saja yang dilakukan pada kolam tanah di areal persawahan. Setelah 2 tahun melakukan usaha pembesaran, akhirnya Wagiso membuat kolam semen yang berguna sebagai tempat melakukan pemijahan. Luas keseluruhan kolam yang dimiliknya sebesar 3.222 m2 yang terbagi atas kolam semen dan juga kolam tanah. Indukan ikan yang dimiliki oleh Wagiso berjumlah 38 ekor ikan koi, 90 ekor maskoki dan 160 ekor komet. Pembenihan yang dilakukannya masih sering mengalami kegagalan ataupun belum mendapatkan hasil yang optimal. Untuk memenuhi kekurangan benih, biasanya dilakukan dengan membeli benih dari pembudidaya lainya dengan harga Rp 60 per ekor.

Tabel 19. Keadaan Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Milik Asui

38
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Keadaan Usaha Uraian Keterangan

Jenis Usaha Jenis Ikan Yang Dibudidayakan

Pembenihan dan Pembesaran Koi, Maskoki, Komet 540 m2
4 unit 10 unit 30 unit 10 unit 100 ekor 240 ekor 300 ekor 3 orang Ukuran 6 m x 10 m Ukuran 2 m x 3 m Ukuran 2 m x 3 m Ukuran 2 m x 3 m

Luas Kolam Kolam Induk Kolam Pembenihan Kolam Pendederan Kolam Penjualan Jumlah Indukan Ikan Koi Jumlah Indukan Maskoki Jumlah Indukan Komet Jumlah Tenaga Kerja Sumber: Data Primer

Usaha milik Asui dimulai berdasarkan hobinya memelihara ikan koi dan memulai usaha pembudidayaan pada tahun 2001. Kolam yang dimilikinya berjumlah 54 unit yang terdiri 4 unit kolam pemeliharahan indukan koi dan 50 unit kolam yang dapat berfungsi sebagai tempat pemijahan, pendederan dan sebagai tempat penjualan. Semua kegiatan pembudidayaan seperti pemijahan, pendederan, dan pemeliharaan dilakukan pada kolam-kolam semen. Sehingga semua asupan makanan berasal dari pemberian pembudidaya. Berbeda dari pembudidaya lain yang lebih banyak menggunakan kolam tanah yang dimana tersedianya pakan alami. Keunggulan dari kolam semen ini adalah tingkat kehidupan ikan lebih terjamin meskipun dengan perlakuan yang lebih dibandingkan pembudidayaan yang dilakukan pada kolam tanah.

Tabel 20. Keadaan Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Milik Suparman
No. 1. Keadaan Usaha Uraian Keterangan

Jenis Usaha

Pembenihan dan Pembesaran

39
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Jenis Ikan Yang Dibudidayakan

Koi, Maskoki, Komet 2.712 m2
4 unit 8 unit 16 unit 26 60 95 2 orang Ukuran 2 m x 3 m Ukuran 2 m x 3 m Ukuran 11 m x 15 m

Luas Kolam Kolam Induk Kolam Pembenihan Kolam Pendederan Jumlah Indukan Ikan Koi Jumlah Indukan Maskoki Jumlah Indukan Komet Jumlah Tenaga Kerja Sumber: Data Primer

Suparman memulai usaha pembudidayaan ikan hias pada tahun 2008. Hal yang melatar belakanginya adalah masih besarnya peluang dibidang

pembudidayaan ikan hias. Pada mulanya ia hanya melakukan pembesaran baik itu berupa ikan koi, maskoki ataupun komet. Benih untuk pembesaran didapat dari pembudidaya lain. Untuk memenuhi benih untuk kebutuhan usaha sendiri, ia membangun kolam semen berjumlah 12 unit yang berguna sebagai tempat pemeliharaan induk dan temat pemijahan. Hasil dari pemijahan sendiri dapat menghasilkan sekitar 7.500 ekor ikan setiap bulannya. Untuk memenuhi benih yang kurang ia masih memasok dari para pembudidaya lainnya.

Tabel 21. Keadaan Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Milik Akiang
No. 1. 2. 3. 4. Keadaan Usaha Uraian Keterangan Dalam waktu 5 bulan

Jenis Usaha Jenis Ikan Yang Dibudidayakan Luas Kolam Kolam Pendederan

Pembesaran Maskoki 6.600 m2
11 unit

Ukuran 15 m x 40 m, 15 m x 60 m, 15 m x

40 70 m Jumlah Tenaga Kerja Sumber: Data Primer
5. 1 orang

Dari lima responden pembudidaya, empat orang diantaranya memiliki usaha pembenihan dan pembesaran sekaligus dengan jenis ikan yang dipelihara berupa koi, maskoki dan komet. Sedangkan Usaha pembudidayaan yang dilakukan oleh Akiang berupa usaha pembesaran dengan jenis ikan berupa

maskoki. Pembesaran ini dilakukan selama 5 bulan dengan siklus dua kali dalam setahun. Benih yang dibesarkan diperoleh dari pembudidaya ikan maskoki yang banyak di daerah Kecamatan Beringin. Benih yang tebar berumur sekitar sebulan dengan ukuran sekitar 1,5 inci. Harga benih tersebut berkisar Rp 250 hingga Rp 300. Benih tersebut telah dipilih dengan kualitas yang bagus sehingga lebih menjamin dalam melakukan pembesaran.

5.3. Pembudidayaan Ikan Koi (Cyprinus carpio) Koi masih satu jenis dengan ikan mas lauk (Cyprinus carpio). Perbedaan antara keduanya terletak pada bentuk, pola warna, dan pemanfaatannya. Proses budidaya, baik pembenihan maupun pembesaran hampir sama. Perbedaanya terletak pada seleksi dan pemberian pakan. Koi merupakan ikan yang hidup di daerah beriklim sedang dan hidup pada perairan tawar. Mereka bias hidup pada temperatur 8°C -30°C. Oleh karena itu koi bias dipelihara diseluruh wilayah Indonesia, mulai dari pantai hingga daerah pegunungan. Koi asli merupakan ikan air tawar, tapi masih dapat bertahan hidup pada air yang agak asin sekitar 10 permil kandungan garam.

41 Secara garis besar ikan koi dapat dikelompokan menjadi 13 golongan yaitu kohaku, sanke, showa, bekko, utsurimono, asagi, shusui, koromo, kawarimono, ogon, hikari moyomono, hikari utsurimono dan tancho. Harga ikan koi sangat bervariasi, sebagai perbandingan harga per ekor pada website breederkoi.com dijual mulai harga Rp 350.000 hingga Rp 7.800.000 per ekor. 5.3.1. Pemeliharaan Induk Ikan Koi Sebelum melakukan kegiatan pemijahan atau mengawinkan induk ikan koi, induk terlebih dahulu dipelihara di dalam kolam pemeliharaan induk. Indukan jantan dan betina dipelihara pada kolam terpisah. Induk ikan koi diberi pakan berupa pelet seperti biasa dan ada yang memberi cacing sutera sebagai pudding untuk mempercepat pematangan gonad. Syarat utama induk adalah calon induk harus sudah matang kelamin dan matang tubuh. Matang kelamin artinya induk jantan sudah menghasilkan sperma dan induk betina sudah menghasilkan sel telur yang matang. Matang tubuh artinya mereka sudah siap menjadi induk-induk yang produktif. Syarat fisik lainya adalah kondisi ikan yang prima, tidak cacat, siripsiripnya lengkap, tidak loyo, gerakannya anggun dan seimbang. Umur jantan minimal 2 tahun pada jantan dan 3 tahun pada betina. Betina lebih besar daripada jantan, perutnya terlihat lebih besar dibandingkan punggung. Sebaliknya jantan lebih lebih langsing dan perutnya rata jika dilihat dari punggung. Sirip dada induk jantan yang siap kawin akan muncul bintik-bintik putih. Padat penebaran induk yang dapat dipelihara per m2 tergantung dari kondisi kolam, pakan, dan sistem pengairannya.. Padat penebaran ikan untuk pematangan gonad umumnya dilakukan di kolam dengan kepadatan 2-3 ekor/m2.

42 Induk yang baik adalah yang memiliki pola warna bervariasi yang cerah simetris dengan bentuk tubuh seperti terpedo dengan berat badan minimal 1 kg. Kebanyakan pembudidaya memilih untuk memeliharah koi berkualitas baik untuk dibesarkan menjadi induk. Harga indukan koi yang dijual oleh pembudidaya ikan di Kecamatan Beringin berkisar Rp 2.500.000 per ekor. 5.3.2. Pemijahan Ikan Koi Pada daerah yang memiliki empat musim seperti jepang, dikabarkan ikan koi hanya memijah setahun sekali. Di Indonesia yang hanya memiliki dua musim, ikan koi bisa berpijah sepanjang tahun. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian, kolam pemijahan dan kolam pembenihan yang dipakai oleh

pembudidaya yaitu kolam semen. Kolam pemijahan juga digunakan sebagai kolam pembenihan oleh pembudidaya, hal ini lebih praktis karena lebih menghemat lahan (kolam). Telur koi bersifat adesif (menempel), biasanya koi akan bertelur dibawah tanaman atau bahan apa saja yang bisa dipakai untuk menempelkan telurnya. Oleh karena itu para pembudidaya ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu biasa menggunakan kakaban yang digunakan untuk memijahkan ikan mas. Ada dua jenis kakaban yang digunakan para pembudidaya, yaitu kakaban yang terbuat dari ijuk dan dari tali raffia. Harga pembuatan kakaban ini berkisar Rp 5.000 per buah. Induk dimasukkan sekitar pukul 16.00 dan akan mulai memijah tengah malam. Dengan perbandingan dua ekor induk jantan dengan satu ekor induk betina. Pada puncaknya, induk betina akan mengeluarkan telurnya dengan sesekali meloncat ke udara. Aktifitas betina ini segera diikuti jantan dengan mengeluarkan

43 cairan sperma. Telur-telur yang terkena sperma akan menempel pada kakaban atau bahan penempel telur lainnya dan susah lepas. Juga ada sebagian telur uyang jatuh ke dasar kolam. Perkawinan selesai pada pagi hari. Induk segera dipisah dari telurnya. Jika terlambat telur bisa habis dimakan induknya. Ada dua cara untuk memisahkan induk dari telur yang dihasilkan.Pertama, dengan memindahkan induk dari kolam pemijahan dan tetap membiarkan telur menetas di kolam tersebut. Cara kedua dengan memindahkan telur ke kolam penetasan. Para pembudidaya ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu menggunakan cara pertama dikarenakan lebih praktis dan lebih menghemat lahan (kolam). Suhu air mempengaruhi cepat lambatnya penetasan telur. Semakin tinggi suhunya akan semakin cepat telur menetas. Jika suhu air terlalu dingin biasanya telur tidak menetas atau karena terlalu lama di kolam bisa terkena jamur. Pada suhu 25°C telur akan menetas dalam tempo 48-60 jam. Setelah menetas kakaban diangkat dan dipindahkan ke tempat lain. Nantinya kakaban bisa dipakai lagi pada pemijahan berikutnya. Koi yang baru menetas masih membawa kuning telur sebagai persedian makanan. Selama memiliki kuning telur (yolk), koi yang baru menetas belum membutuhkan pakan dari luar dikarenakan pencernaanya belum terbentuk sempurna. Kuning telur tersebut akan habis dalam 3 hari. Selanjutnya benih ikan koi diberi pakan buatan berupa kuning telur rebus. Pakan kuning telur ini diberikan hingga benih koi berumur ±10 hari. Biasanya kuning telur yang diberikan berasal dari telur bebek dengan harga per butir Rp 1.500. Untuk

menambah asupan makanan, benih ikan juga dapat diberikan cacing sutera. Untuk

44 cacing sutera para pembudidaya biasanya membeli dengan harga Rp 5.000 per kaleng susu. 5.3.3. Pendederan Benih Ikan Koi Setelah berumur ±10 hari , benih harus dipindahkan ke kolam pendederan. Pemindahan dilakukan pada saat sore hari, hal ini dilaukan untuk mencegah stress suhu pada benih. Benih yang akan ditebar di kolam pendederan dibawa dengan menggunakan plastik ataupun ember. Suyanto (2007), mengatakan bahwa padat penebaran benih dalam kolam pendederan dapat mencapai 100-200 ekor/m2. Didalam kolam pendederan ini telah tersedia pakan alami yang sebelumnya telah dipersiapkan. Untuk menambah makanan benih, biasanya para pembudidaya memberikan pellet tepung/ tepung ikan. Pellet tepung ini diberikan selama lebih kurang 25-30 hari. Pada usia sekitar 40 hari, benih ikan sudah dapat diberikan pellet 781. Pemberian pakan dilakukan hingga waktu panen yang ditentukan. 5.3.4. Seleksi Benih Ikan Koi Kegiatan paling sulit dari rangkaian pembudidayaan adalah penyeleksian benih. Penyeleksian dilakukan ketika benih berumur 1 hingga 3 bulan, dan benih dipisahkan menurut ukuran tumbuh dan jenisnya. Ada beberapa alasan mengapa penyeleksian benih harus dilakukan, yaitu : 1. Penyeleksian ini juga membantu koi yang pertumbuhannya lambat agar bisa tumbuh normal kembali. 2. Memisahkan koi yang cacat dan tidak memiliki pigmen warna, hal ini bertujuan mengurangi biaya pakan. Koi yang cacat dan tidak memilki

45 pigmen warna akan langsung dipisah dan akan dijual dengan harga yang murah.

5.4. Pembudidayaan Ikan Maskoki (Carassius auratus) Pada awalnya maskoki diberi nama ilmiah Cyprinus auratus, yang berarti “ikan berwarna emas dengan tiga lapis ekor”. Tapi rupanya ilmu pengetahuan dalam taksonomi ikan berkembang pesat sehingga dihasilkan nama biologi baru untuk maskoki, yaitu Carassius auratus . Maskoki (Carassius auratus) dan koi (Cyprinus carpio) masih satu kerabat, keduanya termasuk famili Cyprinidae. Bedanya koi berkumis pada mulutnya, sedangkan maskoki tidak berkumis. Berbeda dengan ikan karper, maskoki tidak dimakan sebagai ikan konsumsi. Maskoki seratus persen dimanfaatkan untuk ikan hias. Ini karena bentuk dan warna maskoki yang aneh dan menarik. Amerika serikat menghasilkan dua varietas atau tipe maskoki yang sangat terkenal diseluruh dunia, yaitu maskoki veiltail (ekor rumbai) atau kokitosa, dan comet tail (ekor komet). Maskoki comet tail diduga berasal dari mutasi ryukin atau fantail. Maskoki ini lebih dikenal dengan nama komet. Tubuhnya memanjang seperti ikan konsumsi, tapi sangat indah dipandang dan mudah dipelihara. 5.4.1. Pemeliharaan Induk Ikan Maskoki Kualitas benih maskoki sangat tergantung pada kualitas induk. Penggunaan Induk yang baik dan produktif akan menghasilkan ribuan telur dengan daya tetas tinggi. Kelak benih yang akn dihasilkan pun juga bermutu tinggi. Untuk mendapatkan benih berkualitas tinggi, maskoki yang dipijah harus

46 berasal dari induk berumur 2-4 tahun. Kalau umur induk ikan lebih dari 4 tahun, telurnya besar-besar, kurang subur dan sukar menetas. Selama perawatan, induk jantan dan betina ditempatkan pada kolam yang terpisah. Hal ini dilakukan agar indukan tidak melakukan perkawainan liar. Setiap hari indukan diberi pakan, baik pakan alami maupun pakan buatan. Harga calon indukan berharga sekitar Rp 5.000 per ekor. 5.4.2. Pemijahan Ikan Maskoki Selain penggunaan induk terpilih, perawatan dan perlakuan selama pemijahan berlangsung sangat menentukan hasil. Seperti halnya koi, pemijahan ikan maskoki dilakaukan pada kolam pemijahan juga. Air pengisi kolam adalah air tanah yang telah diendapkan. Setelah air terisi, kolam juga membutuhkan perlengkapan substrat pelekat telut. Penyediaan substrat penempel telur itu diperlukan untuk meniru kebiasaan ikan kawin di alam. Substrat tersebut dapat berupa kakaban, eceng gondok (Eichornia sp) dan tanaman air lainnya yang mengapung. Para pembudidaya ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu menggunakan tanaman eceng gondok sebagai substrat penempel telur. Yang menjadi sarang penempel telur adalah akar tanaman yang menjuntai rimbun dan mengambang didalam air. Adanya akar-akar didalam air dapat merangsang induk maskoki melepas telur ketika berpijah. Ketika kawin, maskoki menghendaki suasana agak gelap dan suhu air yang agak dingin. Agar pemijahan sempurna, pasangan induk maskoki dimasukan kebak pemijahan menjelang maghrib. Biasanya seekor induk betina dikawainkan dengan tiga pejantan unggul yang sama ukuranya. Tetapi ada juga pembudidaya

47 yang melakukan perkawainan massal dengan mengawainkan sepuluh induk betina dengan tiga belas induk jantan. Induk maskoki yang dipijahkan akan mulai kawin menjelang subuh. Setelah berpijah, indukan betina maupun jantan dikeluarkan dari bak pemijahan. Mereka dipindahkan kembali ke kolam pemeliharaan induk masing-masing. Dari hasil pemijahan, tampak ribuan telur maskoki menempel pada sarang. Cepat tidak penetasan telur tergantung suhu air disekelilingnya. Semakin tinggi suhunya semakin cepat telur maskoki menetas. 5.4.2. Pendederan Ikan Maskoki Mendeder adalah menebar benih ditempat yang lebih luas agar anak ikan leluasa bergerak dan cepat tumbuh. Setelah benih ikan berusia 2 minggu, benih ikan maskoki dipindahkan ke kolam pendederan. Kolam pendederan yang paling banyak digunakan berupa kolam tanah. Hanya satu responden yang menggunakan kolam semen sebagai tempat pendederan. Padat tebar benih ikan biasanya berjumlah 150-200 ekor per meternya. Benih ikan yang baru didederkan diberi pakan berupa pellet tepung hingga berkisar sebulan. Untuk pendederan ikan yang menggunakan kolam tanah memiliki keuntungan dari segi pakan. Hal ini dikarenakan pada kolam tanah tanah terdapat pakan alami. Setelah sekitar sebulan, benih ikan maskoki tersebut dapat diberi pakan berupa pellet 781. Pemberian pellet ini dilakukan hingga waktunya panen sesuai keinginan. 5.4.2. Seleksi Benih Ikan Maskoki

48 Proses pembesaran maskoki membutuhkan beberapa perlakuan khusus agar nantinya menghasilkan maskoki bermutu sebagai ikan hias. Perlakuan khusus itu antara lain adalah seleksi benih. Seleksi diperlukan untuk mendapatkan maskoki yang bermutu prima sebagai ikan hias. Seleksi awal dilakukan dengan memperlihatkan bentuk ekor, tubuh dan pigmen warna tubuh. Ikan yang cacat dan tidak memiliki pigmen diapkir sebagai ikan yang bermutu rendah. Kalau benih ikan cacat ini dibesarkan hanya akan buang-buang pakan, tempat dan tenaga. Setelah tumbuh besar, bentuk ikan tidak sedap untuk dipandang dan tidak laku untuk dijual. Seperti halnya koi, Ikan maskoki yang bermutu rendah akan dijual dengan harga yang murah. Biasanya ikan-ikan yang bermutu rendah seperti ini akan dijual untuk umpan pancing dan makanan ikan arwana dengan harga berkisar Rp 100.

5.5. Pakan dan Pemberiannya Pakan ikan koi dan maskoki dapat dibagi menjadi dua macam yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami berupa jasad renik hidup yang diperoleh dari alam atau hasil ternakan dan pakan buatan diperoleh dari hasil ramuan berbagai bahan pakan yang komposisinya disusun berdasarkan keperluan ikan. Pakan merupakan sarana produski yang nilainya dapat mencapai 60% dari biaya produksi (Mahyuddin, 2008). Oleh karena itu, pakan yang digunakan harus diperhitungkan mutunya dan jumlah pemakaiannya agar mencapai efisiensi yang optimal bagi pertumbuhan ikan. Pemberian pakan pada ikan koi dan maskoki dilakukan berdasarkan umur atau bukaan mulut benih. Pemberian pakan berdasarkan umurnya dapat dilihat pada Tabel 22.

49 Tabel 22. Pemberian Pakan Berdasarkan Umur Ikan Pada Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011.
No. 1.

Umur (hari) Telur Menetas – 3

Pakan (memanfaatkan cadangan makanan yang dibawanya)

Harga (Rp) -

2.

4–9

Kuning Telur Rebus
Cacing Sutera

1.500 per butir 5.000 per kaleng 12.000 per kg 8.150 – 9.000 per kg

10 – 40 41 – tergantung pemanenan Sumber: Data Primer

3. 4.

Pellet Tepung Pellet 78-1

Tabel 22 menunjukkan bahwa ikan koi maupun ikan maskoki mulai dari telur menetas hingga larva berumur 3 hari, larva tidak perlu diberi pakan apapun karena masih memanfaatkan cadangan makanan yang dibawa di dalam tubuhnya (yolk). Larva baru diberi pakan setelah berumur 4 hari dengan memberikan kuning telur. Setelah benih berumur 7-10 hari, benih dipindahkan ke kolam pendederan. Pada kolam pendederan ini, benih mendapatkan asupan makanan berupa pakan alami yaitu plankton. Penambahan pakan tambahan yang diberikan berupa pellet tepung. Pemberian pellet tepung ini dilakukan hingga 25-30 hari. Tepung pellet ini biasanya mengandung protein sebesar 40%, moister 11%, lemak 6%, dan serat 3%. Pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit hingga ikan menjadi kenyang (adlibitum). Setelah ikan berumur sekitar 40 hari, pakan yang diberikan berupa pellet 78-1. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari pada pagi, siang dan sore hari. Pakan pellet ini biasanya mengandung protein sebesar 31-33%, lemak 3-5%, serat 4-6%, abu 10-13%, dan kadar air 11-13%. Pada saat ini, pakan yang dibutuhkan

50 ikan sekitar 3-4% dari berat tubuhnya. Pemberian pakan yang diberikan menggunakan perkiraan dan pengalaman pembudidaya. Pakan pellet ini diberikan selama ikan dipelihara hingga akhirnya dipanen.

5.6. Hama Dan Penyakit Masalah terbesar yang sering menjadi faktor penghambat pada usaha pembenihan maupun pembesaran ikan adalah munculnya serangan hama dan penyakit sewaktu pemeliharaan. Hama bersifat memangsa, ikan akan lansung mati atau habis dimakan kalau tertangkap olehnya. Adapun hama bagi ikan-ikan hias tersebut adalah burung elang, belut, bangau, ular, kucing, musang, kodok dan lain sebagainya. Melindungi ikan-ikan hias tersebut dapat dilakukan dengan memasang pagar dan penutup yang terbuat dari jaring. Pagar dan penutup kolam dibangun sedemikian rupa sehingga pemangsa tidak dapat masuk. Penyakit bersifat mengganggu kesehatan, ikan yang semula sehat suatu ketika bisa stress atau sakit. Ikan yang menderita sakit menunjukan gejala perubahan fisik dan perilaku yang khas. Misalnya terlihat sesuatu yang lain pada permukaan tubuh ikan, atau berprilaku suka menyendiri. Gejala lain ikan tampak bernafas megap-megap, suka diam didasar perairan dengan sirip terbuka, dan tidak mempunyai nafsu makan. Ikan biasa sakit karena gangguan parasit. Jenis-jenis parasit yang sering mengganggu ikan-ikan hias ini adalah white spot (bintik putih), kutu ikan (udang renik), larnaea (cacing jangkar) dan jamur. Untuk mengatasi penyakit yang disebebkan parasit ini, biasanya para pembudidaya hanya menggunakan garam. Pertama ikan yang terserang penyakit dipisahkan dari ikan sehat yang lain.

51 Kemudian ikan yang sakit dimasukan ke dalam wadah yang telah berisi air garam. Parasit yang menempel biasanya akan mati dikarenakan tidak hidup pada salinitas yang tinggi. Selain itu, jamur juga dapat tumbuh dan menyerang ikan disebabkan oleh pembudidaya yang tidak rutin mengganti air kolam dari sisa-sisa makanan di dasar kolam. Pencegahan yang dilakukan adalah dengan mengganti air secara teratur.

5.7. Panen dan Produksi Panen merupakan tahap akhir dari kegiatan budidaya ikan. Pemanenan harus sudah direncanakan sejak awal pemijahan induk karena menyangkut biaya pakan yang harus dikeluarkan dan jumlah produksi yang dihasilkan. Waktu pemanenan biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari. Berdasarkan analisis data, diketahui bahwa rata-rata produksi ikan hias dihasilkan oleh masing-masing pembudidaya di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu dalam satu kali panen cukup bervariasi. Jumlah produksi ikan ini tergantung dari jumlah telur yang menetas, teknik pemijahan dan jenis usaha yang digunakan. Untuk lebih jelasnya mengenai produksi produksi ikan hias hias yang dihasilkan pembudidaya dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 23. Produksi Ikan Dalam Satu Kali Panen Pada Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. Koi (ekor) 65.010 7.505 13.205 11.000 96.720 Maskoki (ekor) 50.000 10.500 15.000 10.000 22.000 107.500 Komet (ekor) 50.000 10.500 15.000 10.000 85.500 Produksi (ekor/panen) 165.010 28.505 43.205 31.000 22.000 289.720

Responden 1 2 3 4 5 Jumlah

52 Sumber: Data Primer Siklus produksi ikan hias responden nomer 1 hingga 4 berkisar satu bulan, sedangkan untuk responden nomer 5 berkisar lima bulan. Jumlah produksi ini bisa saja mengalami kenaikan maupun penurunan karena dipengaruhi oleh strategi, keahlian, dan pengalaman yang dimiliki oleh masing-masing petani.

5.8. Pemasaran Pemasaran adalah suatu proses kegiatan menyalurkan produk dari produsen ke konsumen. Pemasaran merupakan ujung tombak kegiatan ekonomi dalam agribisnis perikanan. Pengusaha agribisnis perikanan sudah harus memikirkan rencana pemasaran jauh sebelum produknya siap dipasarkan (Mahyuddin, 2008). Salah satu upaya pemasaran yang dilakukan adalah melakukan promosi diajang kontes maupun kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan ikan hias. Pemerintah setempat melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Deli Serdang, turut berperan dalam mendukung pemasaran ikan-ikan hias tersebut seperti memberikan informasi pemasaran dan juga mengajak ikut pameran. Para pembudidaya biasanya telah memiliki pasar masing-masing. Ada yang memiliki pelanggan tetap berupa hobiis maupun pedagang ikan hias didalam dan diluar kota. Ikan yang telah mencapai ukuran tertentu telah dapat dipanen dan dijual kepada pedagang maupun pembudidaya pembesaran. Para pembeli berasal dari berbagai daerah antara lain berbagai kota di Sumatera Utara, Aceh, Riau dan Sumatera Barat.

53 Pembeli terbesar berada pada Kota Medan, dimana seperti diketahui permintaan akan ikan hias sangat besar di wilayah Kota Medan. Pembeli dari Medan dapat langsung datang membeli di tempat pembudidayaan ataupun dapat memesan dan menunggu pesanan ikannya diantar. Pendistribusian untuk wilayah medan dengan sekali kecil dapat dilakukan dengan menggunakan sepeda motor dengan jumlah maksimal 6 kantung plastik yang dibungkus dengan karung goni. Waktu yang ditempuh sekitar 45 menit hingga akhirnya sampai di Medan. Sedangkan untuk kota-kota lain yang jauh, biasanya ikan akan di paketkan dengan menggunakan bus. Satu paket kotak rokok dapat menampung 4 kantung plastik yang berisi ikan. Untuk satu paket kotak bisanya dikenakan biaya Rp 50.000 per ongkos paket. Jumlah ikan per kantung biasanya lebih sedikit dibandingkan dengan pengiriman ke Medan. Ini dikarenakan jarak tempuh yang lebih jauh dan penggunaan oksigen yang terbatas. Utuk lebih jelasnya, rantai pemasaran hasil pembudidayaan ikan hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu dapat dilihat pada gambar berikut :

54

Pembudidaya Ikan Hias

Pembudidaya/Pedagang Pengumpul

Pembudidaya Pembesaran

Pedagang Pengecer Lokal

Konsumen Lokal

Pedagang Pengecer Luar Kota

Konsumen Luar Kota

Gambar 1. Rantai Pemasaran Hasil Pembudidayaan Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Gambar 1 memperlihatkan bahwa pembudidaya ikan hias biasanya menjual hasil ikanya ke pembudidaya pembesaran, pedagang/pembudidaya pengumpul, dan pedagang pengecer lokal. Hal ini tidak jauh berbeda oleh pembudidaya pembesaran yang dimana mereka menjual hasil ikannya ke pembudidaya/pendagang pengumpul dan juga kepada pedagang pengecer lokal. Sedangkan pembudidaya/pedagang pengumpul mampu menjual ke berbagai seperti pembudidaya pembesaran, Harga jual ikan-ikan hias tersebut berdasarkan jenis dan ukurannya dapat dilihat pada tabel 24.

55 Tabel 24. Harga Ikan Hias Berdasarkan Jenis Dan Ukuran Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. Jenis Dan ukuran Benih BS/ Tidak Berwarna 1,5’’ 2’’ 3’’ 4’’ Sumber: Data Primer Koi (Rp/ekor) 60 100-150 500-800 1.000 1.500 Maskoki (Rp/ekor) 60 100-150 250-300 500-800 1.000 Komet (Rp/ekor) 60 100-150 250-300 500-800 1.000 -

Harga ikan tidak selalu ditetapkan atau dipatokan oleh pembudidaya. Harga ikan tergantung dari besar, kualitas, maupun waktu. Selain itu, untuk pasar ikan koi kualitas show harga ikan ditetapkan sesuai kesepakatan konsumen dan pembudidaya dengan rentang harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah tergantung dari pola dan warna. 5.9. 5.9.1. Analisis Finansial Investasi Investasi adalah penanaman atau penggunaan modal dalam bentuk harta kekayaan dengan tujuan untuk menggerakkan atau mempelancar suatu usaha (Riyanto, 1993). Modal dalam usaha dapat digunakan untuk menghasilkan tambahan kekayaan atau meningkatkan produksi. Investasi terdiri dari modal tetap dan modal kerja. Modal tetap merupakan sejumlah biaya yang ditanamkan untuk pembelian (pengadaan aktiva) atau barang-barang (peralatan) yang tidak habis dalam satu kali proses produksi akan tetapi dapat digunakan berulang-ulang kali untuk jangka waktu yang lama.

56 Adapun modal tetap yang dimiliki oleh pembudidayaan ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu terdiri dari: biaya pembuatan kolam pemeliharaan induk, kolam pembenihan, kolam pendederan, hapa, pembelian induk, kakaban, selang, serok induk, serok benih, sikat, aerator, ember besar, ember kecil, baskom sortiran, suntik, pompa air, cangkul, instalasi air dan tabung oksigen (lihat lampiran 3). Sedangkan modal kerja merupakan modal yang digunakan untuk memperlancar jalannya usaha dan modal ini habis dalam satu kali pengoperasian. Dalam pengertian lain modal kerja adalah sejumlah uang yang diperlukan untuk pengadaan dan untuk memperlancar proses produksi yang habis dalam satu kali proses produksi atau satu kali periode sirkulasi pengembalian uang yang sama dengan modal kerja tersebut. Modal kerja yang digunakan oleh pembudidaya ikan hias terdiri dari pakan induk, pakan benih, plastik packing, karet, listrik, upah tenaga kerja, obat-obatan, transportasi, dan pengisian oksigen (lihat lampiran 4). Besarnya jumlah investasi yang ditanamkan oleh pembudidaya ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu cukup bervariasi. Mahyuddin (2008), mengatakan bahwa besarnya modal investasi budidaya ikan sangat beragam, tergantung jenis budidaya yang dilakukan. Total investasi yang dimiliki oleh masing-masing pembudidaya ikan hias disajikan pada Tabel 25.

Tabel 25. Total Investasi Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. Responden Modal Tetap (Rp) Modal Kerja (Rp) Total Investasi (Rp)

57 Tugimin 454.700.000 Wagiso 194.652.000 Asui 348.516.000 Suparman 168.668.000 Akiang 142.189.000 Jumlah 1.308.698.000 Rata-rata 261.739.600 Sumber: Data Primer 11.907.000 5.076.500 7.359.500 5.069.000 18.834.000 48.246.000 9.649.200 466.607.000 199.728.500 355.875.500 173.737.000 161.023.000 1.356.971.000 271.394.200

Perbedaan modal tetap yang tertera pada Tabel 25 disebabkan oleh adanya perbedaan luas lahan yang dimiliki oleh petani pembenih. Semakin luas lahan usaha maka semakin besar pula modal tetap yang harus dikeluarkan oleh petani. Selain itu dapat juga ditentukan oleh jumlah komponen modal tetapnya dan harga dari komponen tersebut. Modal tetap yang terbesar terdapat pada usaha milik Tugimin dengan nilai Rp 454.700.000, yang dimana pembiayaan terbesarnya terdapat pada pengadaan indukan koi sebanyak 70 ekor dengan nilai Rp 175.000.000 dan pembuatan kolam secara keseluruhan sebesar Rp. 172.575.000,-. Sedangkan modal tetap terkecil terdapat pada usaha milik Akiang dengan nilai Rp. 142.189.000,-. Kecilnya modal tetap dari usaha miliknya tersebut dikarenakan tidak terdapatnya kolam-kolam semen untuk pembudidayaan dan alat-alat pendukung kolam semen, serta tiadanya pengadaan indukan ikan hias. Perbedaan modal kerja juga terlihat pada Tabel 25, ini disebabkan oleh penggunaan faktor-faktor produksi yang tidak sama pada masing-masing usaha pembudidayaan. Dalam setiap kali panen, rata-rata modal kerja yang harus dikeluarkan oleh pembudidaya adalah Rp 9.649.200,-. Modal kerja terbesar terdapat pada usaha milik Akiang dengan nilai sebesar Rp 18.834.000,- dimana pembiayaan terbesar terdapat pada pengadaan benih sebesar Rp 9.900.000,- dan upah tenaga kerja sebesar Rp 5.000.000,-. Besarnya modal kerja usaha milik

58 akiang tersebut dikarenakan usaha pembudidayaan ikan hias miliknya tersebut memiliki siklus selama 5 bulan atai 150 hari. Dari usaha pembudidayaan yang memiliki siklus panen selama 1 bulan, modal kerja terbesar terdapat pada usaha milik Tugimin, dimana pembiayaan terbesarnya terdapat pada pakan sebesar Rp 5.420.000,- dan biaya tenaga kerja sebanyak 6 orang sebesar Rp 4.500.000,-. Sedangkan modal kerja terkecil terdapat pada usaha milik Suparman sebesar Rp 5.069.000,- dengan modal kerja terbesar terdapat pada pembiayaan pembelian benih sebesar Rp 2.400.000 dengan biaya pakan sebesar Rp. 655.000,-. Kecilnya modal kerja Suparman ini dikarenakan kecilnya nilai dari faktor-faktor produksi seperti halnya pakan, bahan-bahan kolam dan bahan packing dari milik usaha lainya. Tabel 25 menunjukkan perbedaan total investasi yang ditanamkan oleh masing-masing pembudidaya ikan hias. Besarnya modal tetap maupun modal kerja yang dikeluarkan akan berpengaruh pada investasi yang ditanamkan. Semakin besar investasi yang ditanamkan oleh pembudidaya ikan hias maka akan berpengaruh pada jangka waktu pengembalian investasi tersebut. Rata-rata total investasi yang ditanamkan oleh pembudidaya ikan hias Rp 271.394.200,-. Investasi terbesar terdapat pada usaha milik Tugimin sebesar Rp 466.607.000,dan yang terkecil pada usaha milik Akiang sebesar Rp 161.023.000,-. 5.9.2. Biaya Produksi Biaya produksi adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan dalam menjalankan sebuah usaha agar dapat berjalan dengan lancar. Biaya produksi terdiri atas dua biaya yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan oleh pembudidaya ikan hias yang besarnya tidak

59 tergantung pada jumlah produksi, antara lain biaya penyusutan dan bunga modal. Bunga modal diperoleh dari tingkat suku bunga kredit investasi yang berlaku di Bank Mandiri yaitu 15% per tahun atau 1,25% per bulan (per panen). Untuk mengetahui biaya tetap yang dikeluarkan oleh masing-masing pembudidaya ikan hias disajikan pada Tabel 26. Tabel 26. Biaya Tetap Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. Biaya Penyusutan (Rp) 7.367.003,71 3.369.949,53 5.276.543,11 2.727.894,86 14.304.389,5 33.045.781 6.609.156 Bunga Modal (Rp) 5.832.587 2.496.606 4.449.443 2.171.712 10.063.937 25.014.285 5.002.875 Biaya Tetap (Rp) 13.199.590 5.866.555 9.725.986 4.899.606 24.368.326 58.060.063 11.612.012

Responden

Tugimin Wagiso Asui Suparman Akiang Jumlah Rata-rata Sumber: Data Primer

Tabel 26 menunjukkan bahwa biaya tetap yang dikeluarkan oleh pembudidaya ikan hias yaitu antara Rp 4.899.6060,- sampai dengan Rp 24.368.326,- dengan rata-rata Rp 11.612.012,- per panen. Biaya tetap terbesar terdapat pada usaha milik Akiang sebesar Rp 24.368.326,-. Besarnya biaya tidak tetap ini dikarenakan siklus usahanya tersebut selama 5 bulan jika dibandingkan dengan yang lainnya yang hanya memiliki siklus usaha 1 bulan. Dari usaha pembudidayaan yang memiliki siklus panen selama 1 bulan, biaya tetap terbesar terdapat pada usaha milik Tugimin sebesar Rp 13.199.590,dengan biaya penyusutan sebesar Rp 7.367.003,71,- dan bunga modal sebesar Rp 5.832.587,-. Biaya penyusutan terbesarnya terdapat pada indukan koi sebesar Rp 2.876.712,32,- dan biaya penyusutan kolam sebesar Rp 1.418.424,64,-.

60 Sedangkan biaya tetap terkecil terdapat pada usaha milik Suparman sebesar Rp 4.899.606,- dengan biaya penyusutan sebesar Rp 2.727.894,86,- dan bunga modal sebesar Rp 2.171.712,-. Kecilnya biaya tetap Suparman ini dikarenakan kecilnya nilai dari investasinya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 7. Biaya tidak tetap adalah biaya yang dikeluarkan oleh pembudidaya ikan hias yang besarnya tergantung pada jumlah produksi. Untuk mengetahui biaya tidak tetap dan total biaya pada usaha pembudidaya ikan hias tersebut dapat dilihat pada pada Tabel 27. Tabel 27. Total Biaya Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. Responden Tugimin Wagiso Asui Suparman Akiang Biaya Tetap Biaya Tidak Tetap (Rp) 11.907.000 5.076.500 7.359.500 5.069.000 18.834.000 48.246.000 Total Biaya (Rp) 25.106.590 10.943.055 17.085.486 9.968.606 43.202.326 106.306.063 (Rp) 13.199.590 5.866.555 9.725.986 4.899.606 24.368.326 Jumlah 58.060.063 Sumber: Data Primer

Tabel 27 menunjukkan bahwa biaya tidak tetap yang dikeluarkan oleh pembudidaya ikan hias yaitu antara 5.069.000,- sampai dengan Rp 18.834.000,Rata-rata biaya tidak tetap yang dikeluarkan oleh pembudidaya ikan hias yaitu Rp 9.649.200,- per panen. Seperti halnya modal kerja, biaya tidak tetap terbesar terdapat pada usaha milik Akiang dengan nilai sebesar Rp 18.834.000,-. Besarnya modal kerja usaha milik akiang tersebut dikarenakan usaha pembudidayaan ikan hias miliknya tersebut memiliki siklus selama 5 bulan atai 150 hari.

61 Dari usaha pembudidayaan yang memiliki siklus panen selama 1 bulan, biaya tidak tetap terbesar terdapat pada usaha milik Tugimin, dimana pembiayaan terbesarnya terdapat pada pakan sebesar Rp 5.420.000,- dan biaya tenaga kerja sebanyak 6 orang sebesar Rp 4.500.000,-. Sedangkan biaya tidak tetap terkecil terdapat pada usaha milik Suparman sebesar Rp 5.069.000,- dengan biaya terbesar terdapat pada pembiayaan pembelian benih sebesar Rp 2.400.000 dengan biaya pakan sebesar Rp. 655.000,-. Kecilnya biaya tidak tetap Suparman ini

dikarenakan kecilnya nilai dari faktor-faktor produksi seperti halnya pakan, bahan-bahan kolam dan bahan packing dari milik usaha lainya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 8. Total Biaya yang dikeluarkan oleh pembudidaya ikan hias yaitu antara Rp 9.968.606,- sampai dengan Rp 43.202.326,-. Total biaya adalah hasil dari penjumlahan biaya tetap dan biaya tidak tetap yang dikeluarkan masing-masing petani. Total biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing pembudidaya akan berpengaruh langsung terhadap pendapatannya. Total biaya terbesar terdapat pada usaha milik Akiang dan terkecil terdapat pada usaha milik Suparman. Besar kecilnya total biaya ini dipengaruhi oleh biaya tetap dan biaya tidak tetap seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. 5.9.3. Keuntungan (K) Keuntungan merupakan total penerimaan (TP) per panen dikurangi dengan total biaya (TB) per panen. Keuntungan disebut juga dengan laba atau pendapatan bersih, semakin kecil total biaya yang dikeluarkan dan semakin besar jumlah produksi yang diperoleh selama produksi maka pendapatan yang diperoleh semakin besar pula.

62 Sedangkan penerimaan adalah total produksi ikan hias dikali dengan harga pasar ikan hias tersebut. Besarnya nilai penerimaan yang diperoleh oleh pembudidaya dipengaruhi dengan banyaknya hasil produksi ikan dan harga setiap ukuran ikan. Semakin banyak hasil produksi maka semakin besar pula penerimaan yang akan diterima oleh pembudidaya. Demikian juga dengan tingkat harga, semakin tinggi harga dari satu ukuran ikan hias maka semakin besar pula penerimaan yang akan diperoleh pembudidaya ikan hias. Untuk mengetahui total penerimaan dan keuntungan pada usaha pembudidaya ikan hias ini dapat dilihat pada Tabel 28.

Tabel 28. Total Keuntungan Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. Responden Tugimin Wagiso Asui Suparman Akiang
Jumlah

Total Penerimaan (Rp) 35.350.000 17.700.000 24.560.000 17.000.000 66.000.000 160.610.000

Total Biaya (Rp) 25.106.590 10.943.055 17.085.486 9.968.606 43.202.326 106.306.063

Keuntungan (Rp) 10.243.410 6.756.945 7.474.514 7.031.394 22.797.674 54.303.937

Sumber: Data Primer Total penerimaan (TP) yang diperoleh oleh pembudidaya yaitu antara Rp 17.000.000,- sampai dengan Rp 66.000.000,- per panen. Rata-rata total

63 penerimaan yang diperoleh dari empat responden yang memiliki siklus satu bulan adalah Rp 23.652.500,-. Total penerimaan terbesar terdapat pada usaha milik Akiang. Seperti besarnya total biaya, besarnya total penerimaan ini juga dipengaruhi oleh siklus produksi yaitu selama 5 bulan. Dalam sekali panen Akiang mampu menghasilkan sejumlah 3.000 ekor ikan maskoki yang duiual dengan harga Rp 3.000,- per ekor. Dari usaha pembudidayaan yang memiliki siklus panen selama 1 bulan, total penerimaan terbesar terdapat pada usaha milik Tugimin sebesar Rp 35.350.000,- dengan total produksi sebesar 165.010 ekor. Dimana penerimaan terbesar dari penjualan ikan koi sebesar Rp 19.200.000,Sedangkan total penerimaan terkecil terdapat pada usaha milik Suparman sebesar Rp 17.000.000,- dengan total produksi sebesar 31.000 ekor. Dimana total penerimaan terbesar dari penjualan ikan koi sebesar Rp 8.150.000,- dengan total ikan koi sebesar 11.000 ekor. Kecilnya penerimaan dari usaha Suparman ini dikarenakan masih kecilnya produksi dikarenakan tingkat pengalaman usaha yang masih selama 3 tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran 10. Tabel 28 memperlihatkan perbedaan keuntungan yang diperoleh pembudidaya ikan hias. Keuntungan terbesar tersapat pada usaha milik Akiang sebesar Rp 22.797.674,-, tetapi keuntungan tersebut didapat dalam jangka waktu 5 bulan. Keuntungan terbesar dalam siklus panen 1 bulan diperoleh oleh usaha miliki Tugiman sebesar 10.243.410 dan yang terkecil terdapat pada usaha milik Suparman sebesar Rp 7.031.394,- . Kuntungan yang berbeda jauh ini dikarenakan adanya perbedaan siklus panen, total biaya dan total penerimaan yang telah dijelaskan sebelumnya.

64

5.9.4.

Analisis Biaya dan Tingkat Keuntungan Dalam penelitian ini analisis yang digunakan yaitu rasio total penerimaan

atas total biaya(TP/TB), rasio total keuntungan atas total biaya (K/TB), dan rasio total keuntungan atas total penerimaan (K/TP). Rasio total penerimaan atas total biaya merupakan perbandingan (nisbah) antara total penerimaan (TP) dan total biaya (TB). Dari hasil perhitungan rasio ini dapat diketahui apakah usaha tersebut layak atau tidak layak untuk dilanjutkan dengan menggunakan tiga kriteria. Rasio total keuntungan atas total biaya merupakan perbandingan (nisbah) antara keuntungan (K) dan total biaya (TB). Dari hasil perhitungan rasio ini dapat diketahui bahwa dari setiap Rp 1.000 biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 1.000 dikali dengan nilai indeks. Sedangkan rasio total keuntungan atas total penerimaan merupakan perbandingan (nisbah) antara keuntungan (K) dan total penerimaan (TP). Dari hasil perhitungan rasio ini dapat diketahui bahwa dari setiap Rp 1.000 penerimaan yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp 1.000 dikali dengan nilai indeks. Untuk mengetahui nilai dari analisa pada usaha pembudidaya ikan hias ini dapat dilihat pada Tabel 29. Tabel 2.9 Rasio Total Penerimaan, Total Biaya, Dan Keuntungan Usaha Pembudidayaan Ikan Hias Di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. Responden Tugimin Wagiso Asui Suparman Akiang TP/TB 1,41 1,62 1,44 1,71 1,53 K/TB 0,41 0,62 0,44 0,71 0,53 K/TP 0,29 0,39 0,31 0,42 0,35

65 Jumlah 7,71 Sumber: Data Primer 2,71 1,76

Dari analisis data yang dilakukan, diperoleh bahwa rata-rata nilai TP/TB usaha pembudidayaan ikan hias yaitu 1,54 yang memiliki arti bahwa usaha pembudidayaan ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu layak untuk dilanjutkan. Nilai TP/TB yang tertinggi diperoleh oleh Suparman yaitu 1,71. Nilai TP/TB Suparman ini dikarenakan lebih tingginya nilai penerimaan dari nilai total biaya, yang dikarenakan usaha milik Suparman sedikit menggunkan faktor produksi seperti pakan buatan dan lebih banyak

mengharapkan pakan alami. Hal ini dapat terjadi dikarenakan jumlah pakan alami yang cukup tersedia pada kolam sawah dan jumlah padat tebar yang tidak terlalu padat. Nilai TP/TB yang terkecil diperoleh oleh Tugiman yaitu 1,41. Hal ini

disebabkan oleh tingginya nilai permintaan ikan hias pada usaha milik Tugimin sehingga dari hasil penjualan banyak dari jenis ikan yang berukuran kecil, sehingga nilai TP/TB dari usaha milik Tugimin lebih kecil dari milik usaha lainnya. Secara keseluruhan nilai TP/TB tersebut memiliki arti bahwa semua usaha pembudidayaan ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu layak untuk dilanjutkan. Sebagaimana diketahui bahwa jika nilai TP/TB >1, maka usaha mengalami keuntungan dan layak untuk dilanjutkan. Dari analisis data yang dilakukan, diperoleh bahwa rata-rata nilai K/TB usaha pembudidayaan ikan hias yaitu 0,54 yang memiliki arti bahwa dari Rp 1.000 biaya yang dikeluarkan akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 540. Seperti halnya nilai TP/TB, nilai K/TB yang tertinggi juga diperoleh oleh Suparman yaitu 0,71 dan yang terkecil diperoleh oleh Tugiman yaitu 0,41. Hal ini sejalan dari analisis TP/TB yang sudah dijelaskan sebelumnya.

66 Dari analisis data yang dilakukan, diperoleh bahwa rata-rata nilai K/TP usaha pembudidayaan ikan hias yaitu 0,35 yang memiliki arti bahwa dari Rp 1.000 hasil penerimaan yang diterima akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 350. Nilai K/TP yang tertinggi diperoleh oleh Suparman yaitu 0,42 dan yang terkecil diperoleh oleh Tugiman yaitu 0,29, hal ini sejalan dari analisis sebelumnya. Meskipun nilai K/TP milik Tugimin yang terkecil, tetapi nilai produksi yang besar dari pada usaha milik yang lainnya menyebabkan nilai total penerimaan dan keuntungan milik Tugimin lebih besar dari pada lainnya.

VI. KENDALA USAHA DAN PEMECAHANNYA

Potensi yang besar dan prospek pengembangan yang terbuka, bukanlah jaminan bahwa budidaya ikan hias air tawar akan berjalan mulus. Kegiatan usaha budidaya ikan hias air tawar membutuhkan input berupa uang sebagai modal dan juga sarana lainnya yang tidak sedikit. Olek karena itu, sebelum memulai usaha persiapan harus dilakukan sungguh-sungguh agar usaha ini terhindar dari resiko kegagalan. Secara teknis usaha budidaya ikan hias tawar seperti ikan koi dan maskoki mudah untuk dilaksanakan. Namun dalam beberapa kasus sering terjadi kegagalan yang pada umumnya disebebkan oleh penerapan manajemen perikanan yang kurang tepat. Berikut adalah kendala dalam usaha budidaya ikan hias di

67 Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu yang sering terjadi dan cara pemecahannya. Kualitas air disuatu daerah berbeda dengan daerah lainnya, unsur kualitas air yang paling berpengaruh terhadapat kehidupan ikan antara lain suhu air, oksigen terlarut (DO), dan keasaman (pH). Secara umum, kisaran suhu yang baik pada ikan kepentingan budidaya ikan adalah 25-32° C. Kisaran suhu tersebut umumnya terdapat diseluruh wilayah Indonesia yang beriklim tropis sehingga menguntungkan bagi usaha pembudidayaan ikan hias. Namun perubahan suhu secara mendadak harus diwaspadai karena toleransi ikan terhadap perubahan ini relatif rendah. Perubahan suhu mendadak sebesar 5° C saja sudah dapat

menyebabkan ikan stres hingga kematian khususnya pada benih ikan. Dari 5 pemilik usaha, satu orang diantaranya menggunkan atap yang terbuat dari plastik fiberglass untuk menutupi kolam pembenihan dan empat orang pemilik usaha lainnya menggunkan jaring halus. Hal ini berguna untuk mencegah perubahan suhu secara mendadak dan mencegah serangan dari berbagai hama. Pencegahan lainnya juga dilakukan pada saat akan melakukan pendederan benih, terlebih dahulu benih ikan diaklimatisasi (penyesuian suhu terhadap lingkungan) dengan cara merendam dan memasukan sedikit demi sedikit air kolam kedalam wadah plastik benih hingga suhu air dalam wadah dapat sama dengan suhu kolam. Sedangkan oksigen terlarut dalam air harus dipertahankan diatas 5 ppm. Dampak dari kandungan oksigen yang rendah adalah menuunkan kesehatan ikan dikarenakan ikan menghentikan makan dan pertumbuhannya. Kebutuhan air dari sumur memiliki tingkat kandungan oksigen yang rendah. Oleh karena itu para

68 pembudidaya mengendapakan dahulu air tersebut selama 24 jam sebelum digunakan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu kendala yang menjadi penghambat pada usaha pembudidayaan ikan hias adalah munculnya serangan hama dan penyakit sewaktu pemeliharaan. Melindungi ikan-ikan hias tersebut dapat dilakukan dengan memasang pagar dan penutup yang terbuat dari jaring. Pagar dan penutup kolam dibangun sedemikian rupa sehingga pemangsa tidak dapat masuk. Hama yang tidak kalah menakuti adalah ikan gabus (Channa striata), ikan ini adalah jenis ikan pemangsa yang dapat menggagalkan panen ikan hias. Ikan ini biasanya ditemukan pada kolam-kolam tanah persawahan. Untuk mengatasinya biasanya para pembudidaya memasang saringan/jaring halus pada saluran air masuk agar ikan dan benih ikan gabus tidak dapat masuk kedalam kolam. Kemudian untuk ikan yang sakit, karena jamur dan parasait,

penanggulangan yang dilakukan adalah memasukan ikan yang sakit ke dalam wadah yang telah berisi air garam. Jamur dan parasit yang menempel biasanya akan mati dikarenakan tidak hidup pada salinitas yang tinggi. Jamur dapat tumbuh dan menyerang ikan disebabkan oleh pembudidaya yang tidak rutin mengganti air kolam dari sisa-sisa makanan di dasar kolam. Pencegahan yang dilakukan adalah dengan mengganti air secara teratur. Pengetahuan dan ketrampilan yang kurang sering menyebabkan suatu usaha perikanan menjadi gagal, termasuk pada usaha pembudidayaan ikan hias pada Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu. Kegagalan yang sering terjadi adalah pada saat pembenihan, dimana banyak dari benih yang tidak

69 menetas dan mati sesaat baru menetas. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan antara lain dengan bertukar pengalaman dengan pembudidaya yang telah berpengalaman. Apalagi setelah terbentuknya kelompok pembudidaya ikan hias yang diberi nama Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Mawar di Kecamatan Beringin. Kelompok ini adalah binaan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Deli Serdang. Dengan terbentuknya kelompok ini, maka tenaga penyuluh perikanan menjadi wadah bagi para pembudidaya untuk mendapatkan pengetahuan, bimbingan dan ketrampilan mengenai ikan-ikan hias yang mereka budidayakan.

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang analisis biaya dan tingkat keuntungan usaha budidaya ikan hias di Kabupaten Deli Serdang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan seperti : 1. Dari 5 usaha pembudidayaan ikan hias, empat orang diantara memiliki usaha pembenihan dan pembesaran ikan koi dan maskoki sekaligus yang berada di Kecamatan Beringin. Kemudian satu orang lainnya hanya memiliki usaha pembesaran ikan maskoki yang berada di Kecamatan Pantai Labu. 2. Rata-rata total investasi yang ditanamkan oleh pembudidaya ikan hias Rp 271.394.200,-. Investasi terbesar terdapat pada usaha milik Tugimin sebesar

70 Rp 466.607.000,- dan yang terkecil pada usaha milik Akiang sebesar Rp 161.023.000,-. 3. Total biaya terbesar terdapat pada usaha milik Akiang yaitu sebesar Rp 43.202.326,- dan terkecil terdapat pada usaha milik Suparman sebesar Rp 9.968.606,- . Besar kecilnya total biaya ini dipengaruhi oleh biaya tetap dan biaya tidak tetap serta lamanya siklus panen. 4. Rata-rata total penerimaan (TP) yang diperoleh dari empat responden yang memiliki siklus satu bulan adalah Rp 23.652.500,- dengan rata-rata keuntungan (K) sebesar Rp 15.010.820,25- per panen. Sedangkan total penerimaan untuk responden yang hanya membesarkan ikan maskoki saja dengan siklus lima bulan adalah Rp 66.000.000,-. dengan keuntungan sebesar Rp 22.797.674,- per panen. 5. Nilai rata-rata nilai TP/TB usaha pembudidayaan ikan hias yaitu 1,54 yang memiliki arti bahwa usaha pembudidayaan ikan hias di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu layak untuk dilanjutkan. Hal ini sejalan dari analisis data yang dilakukan, diperoleh bahwa rata-rata nilai K/TB usaha pembudidayaan ikan hias yaitu 0,54 yang memiliki arti bahwa dari Rp 1.000 biaya yang dikeluarkan akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 540. Sedangkan Nilai rata-rata nilai K/TP usaha pembudidayaan ikan hias yaitu 0,35 yang memiliki arti bahwa dari Rp 1.000 hasil penerimaan yang diterima akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 350. 7.2. Saran Usaha pembudidayaan ikan hias yang dilakukan di Kecamatan Beringin dan Kecamatan Pantai Labu sangat menguntungkan dikarenakan tingginya

71 permintaan akan ikan hias dipasaran. Disarankan agar pembudiaya dapat menambah varietas-varietas ikan hias unggulan yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi seperti halnya ikan maskoki yang banyak memiliki varietas unggul dengan harga yang mahal. Dinas Perikanan dan Kelautan Deli Serdang telah banyak memberikan bantuan dan semangat bagi para pembudidaya ikan tersebut. Disarankan agar terus memberikan penyuluhan kepada pembudidaya dalam meningkatkan produktifitas dan membantu dalam menghadapi masalah-masalah yang terjadi pada usaha pembudidayaan ikan tersebut

1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->