Modul Organ Sistem Saraf Kelompok V

Seorang laki-laki dengan keluhan nyeri kepala dan mual muntah

Neysa Glenda P.I Irmawati Marlia R. Salvia Meirani Delima Cheryka Pratiwi Linda Setyowati Meiria Sari Nabilah Achmad Muchlis Nurul Ulfa Septiani Raden Rainy Febriani Risadayanti Siti Khoerum Milla Venty Rachma Yogyantari Winny Mauli

0302008174 0302009123 0302009220 0302010072 0302010221 0302011168 0302011186 0302011205 0302011223 0302011239 0302011256 0302011274 0302011295 0302011310

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI Jakarta, November 2012
1

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan ............................................................................................................... 3 Bab II Laporan Kasus ........................................................................................................... 4 Bab III Pembahasan................................................................................................................ 5 Bab IV Tinjauan Pustaka ........................................................................................................ 15 Bab V Kesimpulan ................................................................................................................ 33

Daftar Pustaka ........................................................................................................................ 34

2

BAB I PENDAHULUAN

Sistem saraf manusia merupakan jalinan jaringan saraf yang saling berhubungan, sangat khusus, dan kompleks. Sistem saraf ini, mengkoordinasikan, mengatur, dan mengendalikan interaksi antar seorang individu dengan lingkungan sekitarnya. Sistem tubuh yang penting ini juga mengatur aktivitas sebagian besar sistem tubuh lainnya. Tubuh mampu berfungsi sebagai satu kesatuan yang harmonis karena pengaturan hubungan saraf di antara berbagai system. Fenomena mengenai kesadaran, daya pikir, daya ingat, bahasa, sensasi, dan gerakan semuanya berasal dari sistem ini. Oleh karena itu, keampuan untuk memahami, belajar, dan berespons terhadap rangsangan merupakan hasil dari integrasi fungsi sistem saraf, yang memuncak dalam kepribadian dan perilaku, seseorang. Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intracranial yang mengakibatkan akumulasi darah di ruang potensial antara duramater dan tulang tengkorak dan paling sering terjadi karena fraktur pada tulang tengkorak. Otak ditutupi oleh tulang tengkorak yang kaku dan keras. Otak juga dikelilingi oleh sesuatu yang berguna sebagai pembungkus yang di sebut dura. Fungsinya untuk melindungi otak, menutupi sinus-sinus vena, dan membentuk periosteum tabula interna. Ketika seorang mendapat benturan yang hebat di kepala kemungkinan akan terbentuk suatu lubang, pergerakan dari otak mungkin akan menyebabkan pengikisan atau robekan dari pembuluh darah yang mengelilingi otak dan dura, ketika pembuluh darah mengalami robekan maka darah akan terakumulasi dalam ruang antara dura dan tulang tengkorak, keadaan inlah yang dikenal dengan sebutan epidural hematom. Epidural hematom merupakan komplikasi terburuk dari cedera kepala sehingga memerlukan diagnosis segera dan intervensi bedah.

3

lidah ditengah.BAB II LAPORAN KASUS Seorang laki-laki dengan keluhan nyeri kepala dan mual muntah Anda adalah seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran yang sedang bertugas diInstalasi Gawat Darurat Rumah Sakit. Motorik tidak ada hemiparesis. Menurut saksi mata tabrakan cukup keras sehingga helm pasien terlepas. Refleks fisiologis +/+ dan refleks patologis -/-. GCS : E4 M6 V5 . Pada pemeriksaan didapatkan keadaan umum pasien sakit sedang. kepala terbentur jalanan. 4 . Tanda vital masih dalam keadaan batas normal. Ketika dalam perjalanan ke RS pasien mengeluhnyeri kepala dan mual muntah beberapa kali. terdapat vulnus excoriasi dibahu dan lengan kiri. Kesadaran kompos mentis. Gerak bola mata baik ke segala arah.00 ketika pulang bekerja naik motor. namun pasien tidak ingat kejadiaan yang menimpanya. Pasien lalu segera dibawa ke rumah sakit. pasien mengalami kecelakaan lalu lintas.00 datang seorang laki-laki berusia 23 tahun yang diantar oleh temannya dengan keluhan nyeri kepala dan mual muntah beberapa kali. Sekitar pukul 22. Ketika pukul 22. Setelah kecelakaan pasien tampak tidak sadar sekitar 15 menit. Pada pemeriksaan status neurologis ditemukan pupil bulat isokor ODS 3mm. terdapat vulnus laceratum dikepala sebelah kiri. tampak hematom didaerah belakang telinga kiri(mastoid) disertai keluar cairan bening dari telinga kiri. refleks cahaya +/+. Wajah simetris.

BAB III PEMBAHASAN IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis Kelamin : : 22 Tahun : Laki . tidak ingat kejadian trauma ANAMNESIS TAMBAHAN Riwayat Penyakit Sekarang          Bagaimana onset sakit kepalanya? Apakah tiba2 atau sudah pernah sebelumnya? Apakah ada faktor pencetus? Apakah disertai kaku kuduk? Apakah ketika membungkuk semakin parah? Sifat nyeri kepalanya berdenyut atau menetap? Apakah ada demam? Apakah muntah disertai mual? Apakah ada kejang? Lokalisasi nyeri? Apakah ada keadaan yang meringankan atau memberatkan sakit kepala? 5 .laki Tempat Tanggal Lahir: Alamat Agama No. Telepon Nama Ayah/Ibu Pekerjaan Ayah/Ibu :::::- KELUHAN UTAMA Nyeri kepala di sertai mual dan muntah KELUHAN TAMBAHAN Tidak sadar selama 15 menit.

perdarahan sedikit. luka tepi tidak rata. Keluar cairan bening dari (Otorhea css) akibat patah tulang 6 . Hematom di daerah belakang telinga kiri (mastoid) Hematom terdapat di luar durameter di daerah temporo sebagai akibat dari pecahnya vasa meningea media. dan meningkatkan resiko infeksi.Riwayat Penyakit Dahulu  Ada riwayat sakit kepala sebelumnya? Riwayat Penyakit Keluarga  Apakah keluarga mempunyai riwayat hipertensi? Riwayat Obat-obatan  Apakah sebelumnya pernah menggunakan obat? PEMERIKSAAN FISIK PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik Status Generalis : Keadaan Umum Kesadaran Tanda vital Status Lokalis : Inspeksi Hasi pemeriksaan Keterangan Sakit Sedang Compos Mentis Dalam batas normal Terlihat lemah Sadar sepenuhnya (baik) (baik) Vulnus laceratum di kepala sisi kiri Akibat benda tumpul.

(1. mual.2) Vulnus excoriasi di bahu dan lengan kiri Status Neurologis : GCS (Eye)E4 (Motoric)M6 (Verbal) V5 Luka lecet terbuka pada kulit E4 : Dapat membuka mata spontan M6 : Dapat bergerak sesuai perintah V5 :Orientasi baik Cedera kepala/otak ringan (GCS = 14-15) Pupil Bulat isokor Ø ODS 3mm Refleks cahaya +/+ Ukuran sama (Normal) (Normal = 2-5mm) (3) Ada kontraksi pupil (N. IV Normal) N. muntah Tidak ada hemiparese +/+ -/- 7 .telinga kiri temporal diikuti robeknya membran timpani. XII normal Peningkatan TIK Normal Normal Normal Tekanan Intrakranial Motorik Refleks fisiologis Refleks patologis Nyeri kepala. Cranial Gerak bola mata baik ke segala arah Lidah di tengah N. VI normal N.

HIPOTESIS 1) Perdarahan Epidural Perdarahan epidural terletak diantara dura dan calvaria. papil edema dan gejala herniasi transcentorial. ottorhoe. 2) Perdarahan subdural Perdarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan epidural. muntah ataksia serebral dan paresis nervi kranialis. Perdarahan ini sering terjadi akibat robeknya vena-vena jembatan yang terletak antara korteks cerebri dan sinus venous tempat vena tadi bermuara. epistaksis. 8 . Keadaan ini disusul oleh gangguan kesadaran progresif disertai kelainan neurologist unilateral. namun dapat terjadi juga akibat laserasi pembuluh arteri pada permukaan otak. masa tanpa keluhan itu dinamakan "latent interval" . hemiparese. dan pupil anisokor. Perdarahan epidural difossa posterior dengan perdarahan berasal dari sinus lateral. Keluhan bisa timbul langsung atau jauh setelah mengidap trauma. Umumnya terjadi pada temporal atau temporoparietal akibat pecahnya arteri meningea media. Gejala-gejala tersebut bisa berupa kesadaran menurun. rhinorrhoe. hemiparesis ringan. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak dan kerusakan otak dibawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk daripada perdarahan epidural. perdarahan dari telinga. Gejala klinik berupa gangguan kesadaran sebentar dan dengan bekas gejala (interval lucid) beberapa jam. Ciri perdarahan epidural berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung.4 3) Fraktur basis cranii Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala hematoma kacamata (racoon eyes) tanpa disertai subkonjungtival bleeding. nyeri kepala. Kemudian gejala neurology timbul secara progresif berupa pupil anisokor. Fraktur pada fossa media menimbulkan gejala: hematom retroaurikuler. jika terjadi di oksiput akan menimbulkan gangguan kesadaran.

5 105 8-25 mg/dL 0.4-5. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pemeriksaan Hb Eritrosit Trombosit LED Hasil 12. Pada commotio cerebri mungkin pula terdapat amnesia retrograde.5-5.000-10.4) Commotio cerebri Commotio cerebri (gegar otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala.000 Normal Meningkat Karena infeksi.0-16.000 <10 mm/jam Normal Normal Interpretasi Menurun Adanya pendarahan Meningkat Karena proses inflamasi akut. kerusakan jaringan (nekrosis) Hematokrit Lekosit 42 % 12. anemia hemolitik.5 juta/ 150.000 u/L 25 mm/jam Normal 13.3 mg/dL 136 3.1 mg/dl 25 U/L 35 U/L 4.7-1.5 juta/ 215. vertigo.7 mg/dL 135-145 3. infeksi akut atau kronis. Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala. trauma.0 94-111 Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal 9 .0 g/dL 4. yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya kecelakaan.000-400.5-5.3 g/dL 4. mungkin muntah dan tampak pucat.6 mg/dl 5-40 U/L 5-41 U/L 2. keracunan Gula Darah Sewaktu Ureum Kreatinin SGOT SGPT Asam urat Na K Cl 176 <180 Normal 35 mg/dL 1.500 45-55 % 5. yang tidak disertai kerusakan jaringan otak.

PEMERIKSAAN FOTO POLOS KEPALA Pemeriksaan foto polos kepala tidak dapat dipakai untuk memperkirakan adanya peradarahan subdural. Namun tidak ada pergeseran midline shift dimana harus dicurigai adanya massa kontralateral. 10 . PEMERIKSAAN CT SCAN Berdasarkan hasil CT Scan menunjukkan adanya perdarahan subdural akut. namun dapat digunakan untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan intracranial. Ditandai dengan adanya suatu massa hiperdens (putih) berbentuk bulan sabit pada otak sebelah kiri di daerah parietal. Dimana pada hasil foto polos kepala tampak lucent pada daerah occipital dan parietal yang merupakan suatu gambaran adanya perdarahan.

DIAGNOSIS Diagnosis Klinis           Diagnosis Topis Diagnosis Patologis Diagnosis Etiologis : Nyeri kepala Mual muntah GCS: cedera kepala ringan Vulnus laceratum di kepala sisi kiri Hematom di daerah belakang telinga kiri (mastoid)/battle’s sign Otorhea Vulnus excoriasi di bahu dan lengan kiri Hb menurun LED meningkat Leukositosis : Subdural. berbulan-bulan dan adakalanya juga bisa lebih dari 2 tahun. lobus temporalis sinistra : Hematoma Subdural : Trauma Diagnosis kerja: Hematoma subdural akut et causa trauma Dari foto CT-Scan dapat dilihat jelas bahwa perdarahan terjadi pada subdural yang ditunjukkan dengan gambaran hiperdens berbentuk bikonkaf seperti bulan sabit yang khas sebagai ciri dari hematoma subdural. Namun demikian. status neurologis 11 . Keluhan bisa langsung timbul setelah hematoma subdural terjadi bisa juga tidak. “latent interval” bukan berarti penderita sama sekali bebas dari keluhan. Sebenarnya dalam latent interval kebanyakan penderita hematoma subdural mengeluh tentang nyeri kepala atau pening seperti yang terjadi pada pasien ini. masa tanpa keluhan itu dinamakan latent interval yang bisa berlangsung bermingguminggu. Kesadaran pasien yang compos mentis.

muntahan. dan hematoma subdural bersifat progresif lambat. Sirkulasi ( circulation) Pertahankan tekanan diastolic > 90 mmHg ( pasang infus) d. Disability ( pemeriksaan status generalis dan neurologis ) 12 . miringkan Bila perlu lakukan intubasi ( waspadai adanya fraktur servical) b. a. gigi palsu/patah Bila muntah . Pernafasan ( Breathing) Berikan oksigen Cari dan atasi faktor penyebab Jika perlu ventilator c. Juga tidak ditemukan adanya lucid interval yang merupakan ciri khas dari hematoma epidural. darah. Jalan nafas ( Airways) Posisi kepala ekstensi Bersihkan sisa makanan. Diagnosis banding: Hematoma epidural Diagnosis ini tidak dapat ditegakkan karena pada gambaran CT-Scan tidak ditemukan adanya hiperdens bikonveks yang disebabkan darah mengumpul di antara tulang tengkorak dan durameter yang terlepas dari lekatannya di tulang sehingga darah tidak dapat mengalir keluar dan menyebabkannya menonjol/cembung ke arah corteks. lender. PENATALAKSANAAN Penanggulangan cedera kepala akut : Survey primer (ABCD) dan stabilkan kondisi pasien.yang normal dan keluhan-keluhan lain yang belum terjadi pada pasien desebabkan karena trauma yang terjadi masih akut hanya selang beberapa jam yang lalu saja. Otorhea pada pasien terjadi karena pecahnya duramater yang dapat disebabkan oleh fraktur dari basis cranii.

refleks patologis Luka-luka ( cedera ekstrakranial) Tujuan penatalaksanaan ini adalah Membatasi kerusakan otak yang sedang berlangsung Mencegah kerusakan otak baru Mencegah dan mengatasi komplikasi yang terjadi Memudahkan penyembuhan/pemulihan otak yang cedera dengan upaya :    Medikamentosa : Terapi symptomatis : Analgetik Anti emetic Manitol 20% dosis 0. suhu Kesadaran (GCS) Pupil: ukuran. Pada cedera kranioserebral tertutup : Fraktur impresi Perdarahan epidural Perdarahan subdural 13 . nadi .bentuk dan refleks cahaya Pemeriksaan neurologis cepat : hemiparese.- Tanda vital : tekanan darah.25-2 gr/KgBB/kali pemberian tiap 4-6 jam Mengembalikan perfusi optimal Oksigenasi adekuat Nutrisi dan homeostasis fisiologis Non medikamentosa: Istirahat baring dengan mobilisasi bertahap Penanganan luka-luka Observasi tanda vital Tindakan operatif Indikasi : 1. pernafasan.

Disfasia/afasia 3. Hidrosepalus 5. fraktur multiple. Subdural empiema PROGNOSIS    Ad vitam Ad Functionam Ad Sanationam : Bonam : Bonam : Dubia ad bonam Ad vitam dan ad functionam ditentukan bonam karena pada pemeriksaan GCS masih normal dan belum ada tanda abnormalitas dari status neurologis. Epilepsi 4.- Perdarahan intraserebral Operasi dekompresi ( misalnya kontusio berat & edema serebri) 2. 14 . Ad sanationam ditentukan dubia ad bonam karena ada kemungkinan perdarahan terjadi kembali. Pada cedera kranioserebral terbuka Perlukaan kranioserebral dengan luka kulit. dura yang robek disertai laserasi serebri Liquorhea Pneumoencephali Corpus alienum Luka tembak KOMPLIKASI Subdural hematom dapat memberikan komplikasi berupa : 1. Hemiparese/hemiplegia 2.

Loose conective tissue atau jaringan penunjang longgar dan 5. temporal dan oksipital. 1.Tulang Tengkorak Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii .Aponeurosis atau galea aponeurotika.Skin atau kulit.BAB IV TINJAUAN PUSTAKA ANATOMI A. fosa media tempat temporalis dan fosa posterior ruang bagi bagian bawah batang otak dan serebelum.Pericranium B. namun di sini dilapisi oleh otot temporalis. Basis kranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. parietal. Kalvaria khususnya di regio temporal adalah tipis. 4. 15 . 3. 2. Kulit Kepala Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut SCALP yaitu.Connective tissue atau jaringan penyambung. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu : fosa anterior tempat lobus frontalis. Tulang tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal.

Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya. dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. 2. Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan epidural. Arteri meningea terletak antara duramater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural). Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial. Meningens Selaput meningens menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan yaitu : 1. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. maka terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang terletak antara duramater dan arachnoid.C. terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat pada permukaan dalam dari kranium. Selaput Arakhnoid Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang.pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat. disebut spatium subdural dan dari piamater oleh 16 . Duramater merupakan selaput yang keras. Selaput arakhnoid terletak antara piamater sebelah dalam dan duramater sebelah luar yang meliputi otak. Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media). dimana sering dijumpai perdarahan subdural. Pada cedera otak. Duramater Duramater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan endosteal dan lapisan meningeal.

spatium subarakhnoid yang terisi oleh liquor cerebrospinalis. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewapadaan. fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara. mesensefalon (otak tengah) dan rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari pons. proensefalon (otak depan) terdiri dari serebrum dan diensefalon. Perdarahan sub arachnoid umumnya disebabkan akibat cedera kepala. Pia mater adarah membrana vaskular yang dengan erat membungkus otak. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang.3 3. Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu. Otak Otak merupakan suatu struktur gelatin yang mana berat pada orang dewasa sekitar 14 kg.7 Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi. meliputi gyri dan masuk kedalam sulci yang paling dalam. Pada medulla oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik. D. Membrana ini membungkus saraf otak dan menyatu dengan epineuriumnya. Serebellum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan. medula oblongata dan serebellum. Fisura membagi otak menjadi beberapa lobus. Lobus temporal mengatur fungsi memori tertentu. 17 . Lobus oksipital bertanggung jawab dalam proses penglihatan. Arteri-arteri yang masuk kedalam substansi otak juga diliputi oleh pia mater. Piamater Pia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri.

18 .

Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan takanan intracranial. Hukum Monroe-Kellie 19 . Cairan serebrospinalis Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. G.E. CSS mengalir dari dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior. F. dari akuaduktus sylvius menuju ventrikel IV. Perdarahan Otak Otak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis.Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk sirkulus Willisi.3 Angka rata-rata pada kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan dihasilkan sekitar 500 ml CSS per hari. Vena tersebut keluar dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus cranialis ASPEK FISIOLOGIS CEDERA KEPALA a. Vena-vena otak tidak mempunyai jaringan otot didalam dindingnya yang sangat tipis dan tidak mempunyai katup. Tentorium Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media) dan ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior).

aliran darah otak akan bersifat konstan selama MAP berkisar 50-150mmhg. Vic = V br+ V csf + V bl b. TIK normal pada saat istirahat kira-kira 10 mmHg (136 mm H 2 O). Volume intrakranial (Vic) adalah sama dengan jumlah total volume komponen-komponennya yaitu volume jaringan otak (V br). Semakin tinggi TIK setelah cedera kepala. Bila ADOmenurun sampai 20-25 ml/100 gr/menit maka aktivitas EEG akan hilang dan pada ADO5 ml/100 gr/menit 20 .TIK lebih tinggi dari 20 mmHg dianggap tidak normal dan TIK lebih dari 40 mmHg termasuk dalam kenaikan TIK berat. Tekanan Perfusi Serebral Adalah selisih antara mean arterial pressure (MAP) dan tekanan intarkranial (ICP). Jadi. Hal ini dapat terjadi akibat adannya autoregulasi dari arteriol yang akan mengalami vasokonstriksi atau vasodilatasi dalam upaya menjaga agar aliran darah ke otak berlangsung konstan c.Volume intrakranial adalah tetap karena sifat dasar dari tulang tengkorang yang tidak elastik. Pada seseorang yang dalam kondisi normal. Tekanan Intrakranial Berbagai proses patologis yang mengenai otak dapat mengakibatkan kenaikan tekanan intrakranial yang selanjutnya akan mengganggu fungsi otak yang akhirnya berdampak b u r u k t e r h a d a p k e s u d a h a n p e n d e r i t a . kenaikan tekanan intrakranial (TIK) tidak hanya merupakan indikasi adanya masalah serius dalam otak tetapi justru sering merupakan masalah utamanya. Aliran Darah ke Otak (ADO) ADO normal ke dalam otak kira-kira 50 ml/100 gr jaringan otak per menit. semakin buruk prognosisnya d. volume cairan serebrospinal (V csf) dan volume darah (Vbl). D a n t e k a n a n i n t r a k r a n i a l ya n g t i n g g i d a p a t menimbulkan konsekuensi yang mengganggu fungsi otak dan tentunya mempengaruhi pula kesembuhan penderita.

B i l a t e k a n a n a r t e r i r a t a . Akibatnya. Sedangkan nyeri kepala sekunder adalah nyeri kepala yang jelas terdapat kelainan anatomi atau kelainan struktur atau sejenisnya. Sekali mekanisme kompensasi tidak bekerja dan terjadi kenaikan eksponensial TIK. Nyeri Kepala 1. adalah rasa nyeri atau rasa tidak mengenakkan pada seluruh daerah kepala dengan batas bawah dari dagu sampai kedaerah belakang kepala ( area occipital dan sebagian daerah tengkuk ). Nyeri kepala primer adalah nyeri kepala yang tidak jelas terdapat kelainan anatomi atau kelainan struktur atau sejenisnya. teruta m a p a d a penderita yang mengalami hipotensi.r a t a dibawah 50 mmHg. dimana pada orang awam sering disebut sebagai istilah sakit kepala. Definisi Nyeri kepala atau headache. yaitu nyeri kepala lebih dari tiga bulan. ADO menurun curam dan bila tekanan arteri rata-rata di atas 160mmHg terjadi dilatasi pasif pembuluh darah otak dan ADO meningkat.h a r u s l a h d i k e l u a r k a n s e d i n i m u n g k i n d a n t e k a n a n d a r a h ya n g a d e k u a t t e t a p h a r u s dipertahankan. digolongkan nyeri kepala primer dan nyeri kepala sekunder. Mekanisme autoregulasi sering mengalami gangguan pada penderita cedera kepala. pening kepala dan lain-lainnya. Kronis progresuf menunjukan kemungkinan nyeri kepala sekunder. Karenanya bila terdapat hematoma intracranial.sel-sel otak mengalami kematian dan terjadi kerusakan menetap. perfusi otak sangat berkurang. fenomena autoregulasi mempertahankan ADO pada tingkat yang konstan apabila tekanan arteri rata-rata 50-160 mmHg. penderita-penderita tersebut sangat rentan terhadap cedera otak sekunder karena iskemia sebagai akibat hipotensi yang tiba-tiba. yang 21 . Berdasarkan kausanya. Pada penderita non-trauma.

nyeri wajah primer atau central. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan psikiatrik. mulut. 2. Struktur bangunan peka nyeri di kepala a. sinus. leher. hidung. atau struktur fasial atau kranial lainnya. Klasifikasi nyeri kepala Berdasarkan the international classification of headache disorders edisi 2 tahun 2004 (ICHD-2).mengalami pertambahan dalam derajat berat. Nyeri kepala primer lainnya. gigi. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan vaskuler kranial atau servikal. mata. Nyeri kepala primer Migrain Nyeri kepala tipe tegang Nyeri kepala cluster dan sefalgia trigeminal-otonomik yang lain. neuralgia kranial. klasifikasinyeri kepala dibagi atas : a. frekuensi dan durasinya serta dapat disertai munculnya defisit neurologis yang lain selain nyeri kepala. Nyeri kepala lainnya. b. Nyeri kepala atau nyeri vaskuler yang berkaitan dengan kelainan kranium. Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan non vaskuler intrkranial Nyeri kepala yang berkaitan dengan substansi Nyeri kepala yang berkaitan dengan infeksi Nyeri kepala yang berkaitan dengan kelainan homeostasis. Struktur intrakranial meliputi : Sinus kranialis dan vena aferen ( sinus venosus dan vena-vena yang mensuplai sinus-sinus tersebut ) 22 . Nyeri kepala sekunder Nyeri kepala yang berkaitan dengan trauma kepala dan atau leher. Neuralgia kranial dan central yang menyebabkan nyeri wajah. 3. telinga.

Struktur ekstrkranial meliputi c. Saraf N. serotonin. Sebagai penambah pencetus sensitisasi dari aferen primer. scalp. sel mast melepaskan histamin. neuron yang rusak melepaskan adenosin trifosfat/ATP dan proton.vagus Saraf spinal servikal 1.2. Terjadi pula proses upregulasi beberapa reseptor yaitu VR-1. b. dan peptida yaitu calcitonine gene related protein/CGRP dan substansi P. N. otot. dan asam arakidonat yang memiliki kemampuan melakukan sensitisasi terminal neuron. SNS-2.trigeminus. Mukosa sinus paranasalis dan cavum nasi Gigi geligi Telinga luar dan tengah Arteri ekstrakranial 4. dimana makrofag melepaskan sitokin yaitu interleukin IL-1. IL-6. N.3 Kulit. ditandai dengan pelepasan zat substansi dari berbagai neuron disekitar daerah injury. tendon. Nyeri akibat inflamasi disebabkan oleh sensitisasi sentral dan peningkatan input noxious perifer. tumor necrosis factor/TNF-α.facialis. N. prostaglandin. proses inflamasi menghasilkan sinyal kimiawi yang memasuki darah dan menembus susunan saraf pusat untuk menghasilkan IL-1a dan 23 .glossofaringeus. dan fascia daerah kepala dan leher. sensory specific sodium/SNS-1. Nyeri kepala dapat ditimbulkan oleh karena Inflamasi pada struktur bangunan peka nyeri intrakranial maupun ekstrakranial.- Arteri dari duramater ( arteri meningea media ) Arteri di basis kranii yang membentuk sirkulus wilisi darah cabangcabang besarnya Sebagian duramater yang berdekatan dengan pembuluh darah terutama yang terletak di basis fossa kranii anterior dan posterior serta meningen. dan nerve growth factor/NGF.

sub oksipital. Kadang-kadang radiks servikalis 24 . Sedangkan rangsangan terhadap struktur peka nyeri dibawah tentorium serebelli. sinus venosus dan vena-vena yang mensuplai sinus tersebut. Aktivasi mekanoreseptor pada ujung terminal saraf sensoris vaskuler untuk melepaskan L-glutamat dan aktivasi termoreseptor Distensi atau dilatasi pembuluh darah intrakranial dan ekstrakranial. Traksi pada arteri sirkulus wilisi. Nyeri ini ditransimisi oleh nervus IX. sehingga muncul persepsi nyeri kepala. Semua penyebab nyeri kepala ini menyebabkan terjadinya sensitisasi sentral di nosireseptor meningeal dan neuron ganglion trigeminal. dan neurokinin/NKA dari nerve ending. kista. Inflamasi neurogenik steril selanjutnya akan mengakibatkan proses vasodilatasi dan ekstravasasi plasma protein yang mengikuti pelepasan peptida vasoaktif CGRP. Kontraksi kronik otot-otot kepala dan leher Tekanan langsung pada saraf-saraf yang mengandung serabut-serabut untuk rasa nyeri didaerah kepala. edema perifokal. dan arteri meningea media. akan timbul rasa nyeri menjalar pada daerah didepan batas garis vertikal yang ditarik dari kedua telinga kiri dan kanan melewati puncak kepala (frontotemporal dan parietal anterior). dan sebagainya) Peningkatan TIK yang terjadi melalui dua mekanisme dasar yaitu bertambahnya volume otak dan adanya obstruksi CSS dan sistem vena. Pergeseran bangunan peka nyeri karena suatu desakan ( massa. Hal ini berkontribusi terhadap perkembangan nyeri inflamasi. servikal bagian atas). Rasa nyeri ini ditransmisi oleh nervus trigeminus.C2. X.C3. dan saraf spinal C1. substansi P.ekspresi cylooxigenase/COX disusunan saraf pusat. radiks servikalis bagian atas dengan cabang-cabang saraf perifernya akan menimbulkan nyeri didaerah belakang garis tersebut diatas ( oksipital. Pemberian rangsang nyeri pada struktur peka nyeri yang terletak di tentorium cerebelli maupun diatasnya. Aktivitas COX merangsang produksi prostaglandin ( PGE2 ) didaerah injury dan setelah diindukasi di susunan saraf pusat. yaitu pada fossa kranii posterior.

fraktur tulang tengkorak.bagian atas dapat menjalarkan nyeri ke frontal dan mata ipsilateral melalui refleks trigeminoservikal. dan muntah. nausea. keadaan umum dan kesadaran. Refleks ini dapat dibuktikan dengan cara pemberian stimulasi pada nervus supraorbital dan direkam dengan pemasangan elektroda pada otot sternokleidomastodeus. Hal ini menunjukan adanya hubungan erat antara inti-inti trigeminus dengan radiks dorsalis segmen servikal atas sehingga menunjukan bahwa nyeri didaerah leher dapat dirasakan atau diteruskan ke arah kepala atau sebaliknya. Pada penderita cedera kepala harus diperhatikan pernapasan. Sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan sebagai cedera kepala berat. yaitu Simple head injury. Contusio cerebri. Tingkat keparahan cedera kepala harus segera ditentukan pada saat pasien tiba di Rumah Sakit. dan sebagian besar disebabkan karena kecelakaan lalu lintas.input eksteroseptif dan noiseptif refleks. termasuk nukleus spinal trigeminal lalu mencapai motorneuron servikal. Adapun pembagian trauma kapitis ada lima. Trauma Kepala Cedera kepala atau yang disebut trauma kapitis adalah ruda paksa tumpul atau tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara. dan Basis cranii fracture. peredaran darah. Definisi Cedera kepala atau trauma kapitis adalah cedera mekanik yang secara langsung atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit kepala. Tindakan resusitasi. Refleks ini juga menunjukan adanya keterlibatan batang otak yaitu dengan munculnya rasa nyeri kepala. Commotio cerebri. Trigeminoservikal ditransmisikan melalui rute polisinaptik. 25 . anamnesa dan pemeriksaan fisik umum serta pemeriksaan neurologis harus dilakukan secara serentak. Simple head injury dan Commotio cerebri sekarang digolongkan sebagai cedera kepala ringan. Laceratio cerebri. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif.

Dari tempat benturan. akan terjadi kerusakan jaringan otak di tempat benturan yang disebut “coup” atau di tempat yang berseberangan dengan benturan (countre coup). nekrosis. gelombang kejut disebar ke seluruh arah. subdural. 1. yakni metode EMV (Eyes. Cedera difus dapat mengakibatkan gangguan fungsi saja. Verbal). pada cedera kepala harus dijamin bebasnya jalan nafas. Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa. Gangguan metabolisme jaringan otak akan mengakibatan oedem yang dapat menyebabkan herniasi jaringan otak melalui foramen magnum. dan kerusakan jaringan otak itu sendiri.robekan selaput otak. hematom epidural. Mekanisme dan patofisiologi Cedera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung tanpa benturan langsung pada kepala. Kelainan dapat berupa cedera otak fokal atau difus dengan atau tanpa fraktur tulang tengkorak. Kemampuan membuka kelopak mata (E) Secara spontan Atas perintah : : 4 3 26 . Cedera kepala dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa. Karena itu. Gelombang ini mengubah tekanan jaringan dan bila tekanan cukup besar. misalnya akibat syok. Movement. Derajat cedera dapat dinilai menurut tingkat kesadarannya melalui sistem GCS. yang terjadi karena berkurangnya oksigenasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau akibat aliran darah ke otak yang menurun. Cedera fokal dapat menyebabkan memar otak. gerakan nafas yang adekuat dan hemodinamik tidak terganggu sehingga oksigenasi cukup. yaitu gegar otak atau cedera struktural yang difus. serta mengakibatkan gangguan neurologis. sehingga jaringan otak tersebut mengalami iskhemi. dan intraserebral. atau perdarahan dan kemudian meninggal. Gambaran klinis Gambaran klinis ditentukan berdasarkan derajat dan lokasinya.

cukup diberi obat simptomatik dan istirahat cukup.- Rangsangan nyeri Tidak bereaksi : : 2 1 2. mungkin muntah dan tampak pucat. 2) Commotio cerebri Commotio cerebri (gegar otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala. vertigo. Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala. 27 . yang tidak disertai kerusakan jaringan otak. Kemampuan motorik (M) Menurut perintah : Reaksi setempat Menghindar Fleksi abnormal Ekstensi abnormal Tidak bereaksi 6 : : : : : 5 4 3 2 1 Pembagian cedera kepala 1) Simple head injury Diagnosa simple head injury dapat ditegakkan berdasarkan: Ada riwayat trauma kapitis Tidak pingsan Gejala sakit kepala dan pusing Umumnya tidak memerlukan perawatan khusus. Kemampuan komunikasi (V) Orientasi baik Jawaban kacau Kata-kata tidak berarti Mengerang Tidak bersuara : : : : : 5 4 3 2 1 3.

Setelah kesadaran pulih kembali. muntah dan gangguan pernapasan bisa timbul. Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada trauma kapitis tersebut di atas. Timbulnya lesi contusio di daerah “coup” . Pemeriksaan penunjang seperti CT-scan berguna untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. Terapi dengan antiserebral edem. simptomatik. Amnesia ini timbul akibat terhapusnya rekaman kejadian di lobus temporalis. Juga karena pusat vegetatif terlibat. Akibat blockade itu. meskipun neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus. otak tidak mendapat input aferen dan karena itu. otak membentang batang otak terlalu kuat. Terapi simptomatis. sehingga terjadi vasoparalitis. Pada commotio cerebri mungkin juga terdapat amnesia retrograde. “countrecoup” . 3) Contusio cerebri Pada contusio cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringan yang kasat mata. Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat adalah foto tengkorak. Yang penting untuk terjadinya lesi contusion adalah adanya akselerasi kepala yang seketika itu juga menimbulkan pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif. autoregulasi pembuluh darah cerbral terganggu. dan “intermediate” menimbulkan gejala defisit neurologik yang bisa berupa refleks babinski yang positif dan kelumpuhan UMN. penderita biasanya menunjukkan “organic brain sindrome”. Oleh karena itu. pemeriksaan memori. yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya kecelakaan. maka rasa mual. perawatan selama 3-5 hari untuk observasi kemungkinan terjadinya komplikasi dan mobilisasi bertahap. kesadaran hilang selama blockade reversible berlangsung. atau menjadi cepat dan lemah. Akselerasi yang kuat berarti pula hiperekstensi kepala. 28 . neurotropik dan perawatan 7-10 hari. sehingga menimbulkan blockade reversible terhadap lintasan asendens retikularis difus. EEG.Vertigo dan muntah mungkin disebabkan gegar pada labirin atau terangsangnya pusatpusat dalam batang otak. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat. anti perdarahan.

Ottorhoe Perdarahan dari telinga Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan X-foto basis cranii. Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala : Hematom kacamata tanpa disertai subkonjungtival bleeding Epistaksis Rhinorrhoe Fraktur pada fossa media menimbulkan gejala : Hematome retroaurikuler. Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka.4) Laceratio cerebri Dikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan kerobekan piamater. Laceratio dapat dibedakan atas laceratio langsung dan laceratio tidak langsung. fossa media. Komplikasi: Gangguan pendengaran Parese N. 5) Fracture basis cranii Fracture basis cranii bisa mengenai fossa anterior. VII perifer Meningitis purulenta akibat robeknya duramater 29 . Gejala yang timbul tergantung letak atau fossa mana yang terkena. subdural akut dan intraserebral. Sedangkan laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat akibat kekuatan mekanis. Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan subarakhnoid traumatika. dan fossa posterior.

Derajat cedera kepala  Cedera kepala ringan (CKR) termasuk di dalamnya comotio dan contusio cerebri. Tindakan operatif bila adanya liquorrhoe yang berlangsung lebih dari 6 hari. jadi terapinya harus disesuaikan. Dapat ditemukan : Skor GCS 9-12 Ada pingsan lebih dari 10 menit Ada sakit kepala. muntah.  Cedera kepala sedang (CKS). amnesia retrograde Pemeriksaan neurologis terdapat kelumpuhan saraf dan anggota gerak  Cedera kepala berat (CKB). sakit kepala Ada muntah. Pada cedera kepala ringan ditemukan : Skor GCS 14-15 Tidak ada kehilangan kesadaran atau jika ada tidak lebih dari 10 menit Pasien mengeluh pusing. hanya dalam tingkat yang lebih berat Terjadinya penurunan kesadaran secara progresif Adanya fraktur tulang tengkorak dan jaringan otak yang terlepas 30 .Fraktur basis kranii bisa disertai commotio atau contusio. Pemberian antibiotik dosis tinggi untuk mencegah infeksi. Dapat ditemukan : GCS < 8 Gejala serupa dengan CKS. ada amnesia retrograde dan tidak ditemukan kelaian pada pemeriksaan neurologis. kejang.

Patofisiologi Hematoma Subdural Bridging vein yang masih intak Guncangan/benturan/ atrofi otak pada lansia memutuskan bridging vein Pendarahan pada ruang subdural Patofisiologi Mual dan Muntah     31 .

Patofisiologi nyeri kepala 32 .

IVFD NaCl 0.9% (30-40cc/KgBB per hari). Lalu untuk selanjutnya bisa di lakukan Observasi GCS dan tanda vital 02 lembab 4-6 liter/menit. Pemeriksaan penunjang lain berupa foto polos kepala dan CT-Scan juga yang ditandai dengan adanya suatu massa hiperdens (putih) berbentuk bulan sabit pada otak sebelah kiri di daerah parietal yang memperkuat diagnosa kami. Pemeriksaan penunjang yang memperlihatkan penurunan Hb akibat pendarahan dan kenaikan lekosit akibat trauma. Untuk penanggulangan awal cedera kepala akut dilakukan survey primer (ABCD) dan stabilkan kondisi pasien. Diagnosa diambil dari anamnesa yang menyatakan bahwa pasien mengeluh nyeri kepala yang di sertai mual dan muntah.BAB V KESIMPULAN Pada kasus ini pasien menderita Hematoma subdural akut et causa trauma. Serta pemeriksaan fisik yang memperlihatkan bahwa pasien Hematom terdapat di luar durameter di daerah temporo sebagai akibat dari pecahnya vasa meningea media. Manitol manitol 20% dosis 0.25-2 gr/KgBB/kali pemberian tiap 4-6 jam 33 .

Kwartljer JA. A.com/2008/04/25/cedera-kepala-head-injury/ Accessed on: December 8. Management of Cerebrospinal Fluid Leaks Involving the Temporal Bone: Report on 92 Patients.about. Pupil Size. Beatty CW. 2006. 2009] Available from: http://www.BAB VI DAFTAR PUSTAKA 1.com/od/eyeexaminations/f/Pupil-Size. Available at: http://yayanakhyar. Available at: http://vision. cited Nov 1. Taylor MJ.com/article/88316 3.htm Accessed on: December 8. 2013 4. [updated June 21.113:50 6 2. CSF Otorrhea. Skull Base.wordpress. Laryngoscope 2003.emedicine. Savva A. Yayan. Cedera kepala. Hanson MB. 2013 34 .