Melanjutkan karier di Saudi Aramco, sekarang Penulis bekerja

sebagai Specialist Civil & Structural untuk Yanbu Export
Refinery Project (YERP)/Red Sea Refining Complex (RSRC) di
paket Crude Distillation Unit dan Sat Gas Plant masih dalam
tahapan DED di Seoul-Korea Selatan setelah menyelesaikan
tugas untuk JERP/SATORP (Saudi Aramco Total Refinery &
Petrochemical), sesudah berkarya di Borouge 2-Olefins
Conversion Unit di Ruwais emirate Abu Dhabi - UAE. Dari lebih
20 tahun pengalaman bekerja dalam bidang keahlian dasar Sipil
dan Struktur, meskipun pada awal karir berkarya di kontraktor
dan konsultan enjiniring untuk Highrise Building dan
Infrastruktur. Selanjutnya hingga sekarang sebagian besar berada
diranah multi disiplin pada sektor Oil/Gas, Petrokimia/Refinery,
Pembangkit (Power Plant), dan Yard Fabricator. Sempat
bergabung di salah satu produsen semen terbesar diIndonesia
sebagai CB Plant Manager. Beberapa proyek multi disiplin besar
dan prestisius yang pernah terlibat adalah Qatar Gas 2 LNG,
Yemen LNG, Arun NGL, Tangguh LNG, Balongan Blue Sky
Refinery, Cilegon Combined Cycle Power Plant, dan Arjuna Rigs
Platform. Penulis juga adalah anggota KMI (Komunitas Migas
Indonesia) dari BK (Bidang Keahlian) Sipil dan Struktur, dengan
Nomor Keanggotaan : 070171. Email: thomasyanuar@gmail.com
Kumpulan
Cerita Sipil
& Struktur

civilandstructure.wordpress.com
http://civilandstructure.wordpress.com
1
BELAJAR DESAIN PONDASI MESIN (ROTATING
EQUIPMENT FOUNDATION)
Posted by Thomas Yanuar under Engineering, Perhitungan Struktur, Perhitungan
Struktur Beton
[20] Comments

Saya mendapat banyak email yang menanyakan bagaimana merencanakan pondasi
untuk mesin-mesin, terutama yang mengeluarkan getaran. Untuk itu, saya tulis artikel
ini sebagai sumbang saran bagi design engineer yang berkutat di perencanaan pondasi
mesin. Dan saya ingin membagi pengalaman rekayasa dan desain tentang serba serbi
pondasi dangkal khususnya untuk pondasi mesin (rotating equipment) secara umum
saja.
http://civilandstructure.wordpress.com
2
Rotating equipment (RE), -saya cenderung memakai istilah RE saja diartikel ini untuk
lebih spesifik dibanding kata “mesin”-, yang harus diletakkan langsung diatas pondasi
beton, banyak macam jenisnya. Dan tiap jenis RE dapat memberikan efek yang harus
diperhitungkan dalam mendesain pondasi pendukungnya.
Jenis RE yang sering dijumpai dalam plant/kilang Migas/Petrokimia/Refinery
misalnya adalah:
1. Kompresor (Reciprocating dan Centrifugal).
2. Turbin (Gas dan Uap/Steam)
3. Pompa (Rotary dan Reciprocating)
4. Genset (biasanya hanya sebagai back up dari system catu daya listrik kilang).
Untuk rekayasa keteknikan pondasi RE ini, sebaiknya kita mempersenjatai diri
dengan membaca beberapa referensi dari beberapa Code dan Standard internasional
misalnya:
ASME B 73.1 M, ACI 207.2R, ACI 318 dan ACI 318R, ACI 504, kemudian serial
API seperti API STD (610, 611, 612, 613, 616, 617, 618, 672, 674, 676, 677) & API
RP 6869. Baik juga ditambah ISO 2631-1 & 2631-2 dan PIP REIE 686 & PIP STC
01015.
Sedangkan untuk pemahaman lebih lanjut, silahkan dibuka referensi kepustakaan
seperti Design of Structures and Foundations for Vibrating Machines oleh Suresh C
Arya, Michael O’Neill & George Pincus, juga Foundation Engineering Handbook
oleh Hans F Winterkon & Hsai Yang Fang, plus Foundation Design for Vibration
Machines oleh Suresh C Arya, Roland P Drewyer & George Pincus.
Sekedar mengingatkan dalam mendesain pondasi untuk RE yang mengeluarkan
vibrasi, saya kutipkan pendapat suhu-suhu pondasi (Suresh C Arya, Michael O’Neill
dan G Pincus) bahwa pondasi akan mengalami akibat getaran seperti berikut ini:
a. Vertical Excitation.
b. Horizontal Translation.
c. Rocking Exictation.
d. Torsional Excitation.
e. Coupled Horizontal Translation & Rocking Oscillation.
Dengan demikian, seorang design engineer harus mempertimbangkan bahwa
bentuk/dimensi dan massa pondasi serta daya dukung tanah harus benar-benar kuat
untuk menahan akibat getaran tersebut. Serta memperhitungkan faktor-faktor
sekunder seperti kondisi sekeliling, antisipasi lemahnya workmanship dari pekerja
lapangan dan lain sebagainya.
Disamping itu, pengertian atas beberapa istilah teknis dan nomenklatur yang juga
patut dipahami, seperti:
a. High Tuned System (HTS) : adalah suatu sistem pondasi pendukung dimana
kisaran frekwensi mesin dibawah frekwensi natural dari sistem secara keseluruhan.
b. Low-Tuned System (LTS): adalah suatu sistem pondasi pendukung dimana kisaran
frekwensi mesin diatas frekwensi natural dari sistem secara keseluruhan.
c. Table Top (TT): Struktur beton bertulang berketinggian untuk menopang/sebagai
http://civilandstructure.wordpress.com
3
dudukan RE.
d. f(n): Frekwensi natural dari system pondasi mesin dalam satuan Hertz.
e. ED: Modulus dinamis elastisitas beton dalam satuan MPa.
f. A: Batas ijin maximum getaran amplitude puncak ke puncak (peak to peak).
g. Grout: Material bersifat semen atau epoksi (epoxy) yang disediakan untuk
keseragaman pondasi pendukung dan sebagai media transfer beban dari instalasi RE
diatasnya ke pondasi. Grout diposisikan dibawah base plate/mounting plate/skid dari
RE. Dan grout haruslah mempunyai sifat non shrink (tidak berkerut).
Menurut saya, atas dasar kepraktisan dan keekonomisan, lebih baik menerapkan azas
desain Low-Tuned System (LTS) terutama untuk RE yang mempunyai RPM
(revolutions per minute) tinggi. RE dengan RPM tinggi cenderung menghasilkan
frekwensi natural yang lebih tinggi dari pada frekwensi natural pondasi beton. Selain
daripada itu, LTS memiliki efek vibrasi yang lebih rendah dari HTS.
Namun penerapan azas LTS tidak disarankan buat RE yang mempunyai RPM rendah
ataupun bervariasi. Untuk kasus seperti ini, azas HTS dianggap lebih baik.
Secara umum, rule of thumb jika kita sebagai perencana tidak ada/tidak bisa
mendapatkan data analisa dinamis (dynamic analysis) dari RE, sengaja kalimat itu
saya tebalkan dan garis bawahi sebagai catatan penting, maka langkah berikut ini bisa
kita pergunakan:
a. Struktur pendukung atau pondasi untuk RE CENTRIFUGAL yang mengeluarkan
output KURANG dari 500 HP (horse power), maka berat pondasi didesain tidak boleh
kurang dari 3 (tiga) kali dari berat RE secara keseluruhan. Terkecuali jika ada
pemberitahuan lain dari pabrik pembuatnya.
b. Sedangkan untuk RE RECIPROCATING yang mengeluarkan output KURANG
dari 200 HP, maka berat pondasi didesain tidak boleh kurang dari 5 (lima) kali dari
berat RE secara keseluruhan. Terkecuali jika ada pemberitahuan lain dari pabrik
pembuatnya.
Perbandingan rasio massa 3:1 dan 5:1 ini juga merupakan nilai empiris yang telah
lama dipakai perbandingan untuk massa pondasi terhadap massa RE/mesin. Tentu saja
nilai perbandingan tersebut bisa kita ubah menjadi lebih kecil dan tentu saja harus
dibarengi dengan perhitungan dan bukti terapan dilapangan yang cukup.
Dan meskipun pendekatan dengan metode ini merupakan best practice terhadap rule
of thumb, sebaiknya pada pendesainan tetap dilakukan analisa dinamis untuk
memprediksi perilaku pondasi akibat RE.
Patut dipertimbangkan bahwa untuk penempatan/lokasi pondasi RE haruslah terpisah
dari pondasi dan bangunan lain. Dasar pemikirannya adalah massa pondasi RE
maupun efek getaran yang dihasilkan akan memberikan stress/tekanan pembebanan
terhadap pondasi dan bangunan disampingnya dan ataupun sebaliknya jika tidak ada
pemisahan.
Berbicara tentang jarak pemisahan pondasi RE terhadap struktur lain disampingnya,
saya merekomendasikan lebar ruang antara (space) minimal sebesar 2,5 kali lebar
pondasi berukuran terkecil.
Nilai ini dianggap sebagai best practice serta karena stress yang diderita tanah
dibawah struktur/pondasi lain (pada jarak ruang antara tersebut) tidak akan menimpa
http://civilandstructure.wordpress.com
4
tanah dibawah pondasi RE dan sebaliknya. Pada jarak tersebut juga, dapat
dihindarkan akibat negative dari transmisi amplitudo getaran yang merugikan lewat
tanah disekeliling.
Tetapi, jika nilai jarak antar tersebut tidak bisa diterapkan karena keterbatasan ruang,
maka diperlukan perhitungan teknis yang dapat memberikan indikasi bahwa transmisi
amplitude getaran masih dapat diterima. Bisa juga dipertimbangkan opsi
menggunakan softboard (misalnya gabus/Styrofoam atau bahan yang tidak rigid) atau
menggunakan lapisan slurry (campuran semen) yang dibuat seperti dinding atau
bahkan sheetpiles yang diletakkan diantara pondasi yang berdekatan. Opsi-opsi diatas
tergantung dari hasil perhitungan amplitudo getaran dan perilaku tanah. Jadi bijaklah
menyikapi semua informasi yang didapat sebelum memutuskan.
Jika pondasi RE ini terletak diarea paving/pavement atau disekeliling slab beton,
maka perlu pula diberikan isolation joint disekeliling pondasi. Untuk penerapan
isolation joint ini disarankan lebar minimum 12 mm dan kedalaman sekitar 20 mm
dan material adalah sesuai penggunaan yaitu jenis material untuk expansion joint.
Untuk itu, ACI 504R (Guide for Sealing Joints in Concrete Structures) bisa dijadikan
rujukan.
Dalam menentukan seberapa kedalaman yang layak dari suatu pondasi RE dari muka
tanah khususnya untuk pondasi berbentuk blok, ada beberapa pendapat misalnya
minimum 50% dari tebal pondasi yang harus tertanam dalam tanah. Ada juga yang
berpendapat minimum 80%.
Saya pribadi lebih memilih nilai 80 % dengan pertimbangan faktor penambahan
keamanan stabilitas pondasi atas getaran yang bakal diterima. Menurut saya, dengan
berkedalaman lebih juga akan meningkatkan ketahanan lateral dan rasio-rasio
peredam untuk semua mode vibrasi.
Menyikapi perihal tentang tanah, perlulah dipahami kaitan pondasi yang kita desain
dengan tekanan daya dukung tanah. Untuk pondasi dangkal, meskipun kita sudah
mendesain pondasi pendukung sebaik mungkin namun itu semua bakal tidak terpakai
jika tanah sebagai pendukung pondasi tidak cukup baik kualitasnya, terutama daya
dukung.
Untuk itu, diperlukan tindakan uji soil investigation, kecermatan dalam membaca
hasilnya, kemudian kecermatan dalam menerapkannya dalam desain. Pemeriksaan
terhadap kecukupan kuat tanah dalam kemampuan kapasitas daya dukung statis dan
pertimbangan besar penurunan (settlement) perlulah dilakukan.
Termasuk juga efek pembebanan dinamis terhadap tanah dan jika diperlukan,
perlakuan lanjutan untuk meningkatkan kapasitas daya dukung dapat saja dilakukan.
Banyak metoda yang dipakai, salah satunya seperti metoda dynamic compaction atau
dynamic replacement seperti yang telah saya tulis diartikel sebelum ini.
Beberapa patokan untuk daya dukung ijin tanah yang dapat dipertimbangkan adalah:
a. Untuk system pondasi high-tuned: tekanan daya dukung tanah tidak melebihi 50%
dari tekanan daya dukung ijin yang diperbolehkan terhadap beban statis.
b. Untuk system pondasi low-tuned: tekanan daya dukung tanah tidak melebihi 75%
dari tekanan daya dukung ijin yang diperbolehkan terhadap beban statis.
http://civilandstructure.wordpress.com
5
Sebagai catatan, daya dukung ijin (Q all) untuk pondasi RE berat haruslah dikurangi.
Hal ini perlu dilakukan untuk menyediakan lebih besar safety factor terhadap
kemungkinan penurunan (settlement) akibat getaran.
Bagaimana dengan penentuan ketebalan minimum? Disamping kita bisa mendapat
masukan pertimbangan atas perbandingan berat dari rasio 3:1 atau 5:1, lebih spesifik
dalam menentukan ketebalan pondasi minimum adalah azas:
0.60 + L/30 (dalam satuan meter).
Misalnya:
Direncanakan panjang (L) pondasi = 1,50 meter maka ketebalan minimum adalah
0.60 + 1,5 m/30 = 0.605 m.
Faktor lain yang patut dipertimbangkan adalah jika ada anchor bolt yang harus
ditanam kedalam pondasi maka meskipun ketebalan minimum sudah terpenuhi
dengan azas diatas, ketebalan harus mengakomodasi panjang anchor bolt tertanam
plus ketebalan sekitar minimum 100 mm diatas lapisan tulangan terbawah.
Untuk lebar minimum, secara teknis nilai berikut ini dapat dipakai yaitu paling tidak
1,5 kali jarak vertical dari dasar ke garis tengah RE dan tambahkan lebar mimimum
dengan area bebas (jarak ke tepi beton) dari base plate/mounting plate/skid RE yaitu
100 mm kesegala arah.
Jadi misalnya lebar skid 1000 mm maka lebar pondasi disarankan 1000 mm + 100
mm (kiri) + 100 mm (kanan) = 1200 mm.
Mengapa? Hal ini untuk mengantisipasi jika terjadi retak pinggir yang sering terjadi
karena kekurang cermatan pekerja lapangan dalam mengkonstruksi pondasi dan jarak
100 mm ini dipandang cukup mengakomodasi sudut tekanan yang tercipta dari skid.
Sekarang kita masuk kebagian penulangan dan pembetonan.
Penulangan diperlukan untuk menahan gaya-gaya dalam dan momen yang relatif kecil
dalam suatu pondasi berbentuk blok disebabkan oleh ukuran pondasi yang masif.
Untuk itu, minimum jumlah tulangan yang diperlukan lebih banyak diperlukan untuk
mengantisipasi penyusutan dan temperatur beton.
Di ACI 318 memang tidak secara spesifik menyebutkan kebutuhan tulangan
minimum untuk pondasi blok, tetapi pemakaian nilai 0,0018 (sebagai A min tulangan)
dikalikan luasan arah melintang beton dapat dipergunakan sebagai panduan.
Pengecualian terhadap nilai tersebut dapat kita lihat di ACI 207.2R jika ketebalan
pondasi ternyata setelah kita hitung melebihi 1,2 meter. Dimana ketebalan tersebut
kita perlukan lebih pada faktor kestabilan, kekakuan dan peredaman akibat getaran
serta untuk mengakomodasi panjang anchor bolt, maka disarankan tulangan minimum
memakai diameter 22 mm dengan jarak maksimum antar tulangan adalah 300 mm
(center to center), namun saya lebih menyukai pemakaian jarak tulangan 200 mm.
Sedangkan jika kita harus menggunakan pier (pengertian ini beda dengan table top),
maka jumlah tulangan minimum yang harus disediakan di pier adalah tidak boleh
kurang dari 1% tetapi tidak boleh lebih dari 8% dikalikan luasan potongan melintang
beton. Jika mempergunakan pedestal, maka tulangan minimum tidak boleh kurang
dari ½%.
Untuk pondasi dengan ketebalan minimum 500 mm, maka haruslah disediakan
tulangan susut dan penahan temperature beton sesuai ACI 318. Untuk nilai ED dalam
http://civilandstructure.wordpress.com
6
menghitung kekakuan beton, kita memakai:
ED (dalam satuan MPa) = 6560 x kuat tekan beton berpangkat 0,5 (setengah).
Kuat tekan beton disarankan minimum 28 MPa (atau sekitar 4000 psi). Perlu
dipahami nilai modulus dinamis elastisitas harus lebih tinggi dari modulus statis.
Bagaimana dengan eksentrisitas pondasi dengan RE yang berporos horizontal?
Kita tahu bahwa eksentrisitas dapat menimbulkan gaya tidak seimbang yang berujung
pada penambahan momen. Untuk itu perlulah kita batasi besaran eksentrisitas
tersebut. Alasannya adalah untuk meminimalisasi momen-momen sekunder yang bisa
saja secara signifikan mempengaruhi frekwensi natural dari pondasi. Misalnya
pondasi dimaksudkan untuk mampu menahan gaya tidak seimbang vertical dimana
gaya tidak segaris dengan titik pendukung elastis, yang dimana gaya tersebut
menghasilkan tambahan gaya putar (rotation) terhadap vertical displacement.
Nah jika kita tidak menetapkan batasan eksentrisitas yang diijinkan maka
dikhawatirkan (momen sekunder plus momen utama) akan mengakibatkan 2 jenis
frekwensi natural yang mungkin saja secara significant berbeda dengan azas tunggal
frekwensi natural dalam satu system pondasi.
Ada beberapa batasan yang saya anut dalam menentukan nilai eksentrisitas ijin.
Yaitu, untuk eksentrisitas horizontal, tegak lurus terhadap bantalan poros (bearing
axis), antara titik pusat garis berat pondasi dan pusat area kontak tanah tidaklah boleh
melebihi nilai 0,05 dikalikan lebar pondasi. Sedangkan jika searah/parallel dengan
bantalan poros, maka tidak boleh melebihi 0,05 dikalikan panjang pondasi.
Jika kita menggunakan pier atau pedestal, maka penerapan nilai tersebut juga harus
disesuaikan plus pertimbangan terhadap center of gravity dari RE. Diatas semua itu,
saya menyarankan, jika dimungkinkan, sebaiknya hindarilah eksentritas. Sedapat
mungkin.
Sedikit bahasan tentang rasio rentang frekwensi natural yang diijinkan.
Pembatasan rentang frekwensi natural yang diijinkan dalam suatu system pondasi
berkaitan dalam upaya menghindari bahaya yang terjadi akibat getaran yang
berlebihan. Secara umum, rasio antara frekwensi operasi mesin (f) dengan frekwensi
natural dari system pondasi f(n) tidak diharapkan berada pada rentang 0,7 hingga 1,3.
Sehingga, untuk frekwensi natural HTS harus berada dibawah nilai 0,7 dan untuk LTS
f/f(n) nilainya harus diatas 1,3. Seperti yang kita ketahui, jika rasio f/f(n) mendekat
angka 1, akan terjadi penambahan peningkatan secara cepat terhadap amplitude
getaran.
Untuk itulah dalam menyediakan factor keamanan terhadap resonansi getaran, kita
membatasi rentang frekwensi natural ini. Diluar rentang 0,7 – 1,3 ini, respon dinamis
maksimum dari system hanya terbatas sedikit lebih besar dari nilai defleksi statis
system pondasi.
Meskipun demikian, pembatasan rentang frekwensi natural ini sangat sulit dicapai jika
kita mendesain suatu system struktur yang rumit seperti halnya kombinasi kekakuan
steel structure dengan sistim pondasi, pondasi untuk RE yang memilik beragam mode
kecepatan, pondasi untuk RE yang sangat berat (turbo compressor yang berdimensi
luar biasa besar misalnya), maka kita harus menyediakan perhitungan yang lebih
rumit (misalnya menghitung maksimum kecepatan getaran dalam fasa dan 180 derajat
diluar fasa, penentuan lokasi dimana amplitude getaran yang dominan berada dan lain
http://civilandstructure.wordpress.com
7
sebagainya). Jika nanti ada kesempatan, untuk serba serbi frekwensi natural ini akan
saya bahas dalam artikel tersendiri.
Untuk itu jika kita harus menyediakan suatu platform struktur baja, terutama jika
mendesain pondasi RE dengan memakai TT (table top), maka platform tersebut
sebaiknya terpisah dengan system pondasi TT. Untuk bagaimana supaya platform
dapat bernilai aman dan nyaman bagi pemakai dilapangan, design engineer sebaiknya
membaca ISO 2631-1 & ISO 2631-2. Referensi itu membahas tentang bagaimana
respon seseorang terhadap getaran bangunan dan kurva berat respon pada kesamaan
gangguan terhadap tubuh dan metoda-metoda bagaimana cara mengatasinya.
Diluar semua perhitungan teknis diatas kertas, seorang engineer haruslah memiliki
“sense of engineering” atau juga disebut “engineering feeling”. “Rasa” ini tidak ada
kriteria bakunya namun bisa terbentuk dan terasah jika seorang engineer setia pada
kemauan untuk berkarya sesuai bidangnya.
“Rasa” ini juga bisa membimbing seorang engineer dalam mendesain suatu konstruksi
yang kuat dan aman, tepat sasaran, tidak rumit, mudah dilaksanakan serta hemat
biaya.
Sedikit cerita tentang engineer copas (copy paste).
Suatu ketika karib saya mengirim email, meminta bantuan saya memeriksa pekerjaan
desain pondasi RE (generator/genset) yang dikerjakan staffnya. Setelah membaca
hitungan desain, belum lagi saya memeriksa hitungan yang dikirimkan tersebut, saya
langsung mendapat kesimpulan staff karib saya ini hanya melakukan engineering
copas. Sang staff yang mengaku jebolan konsultan engineering, hanya mengganti
angka-angka (dari suatu perhitungan pondasi lain) dan memberikan kesimpulan
dimensi serta menyebutkan bahwa desain tersebut aman. Aman dari hongkong?
Hehehehehe..
Dalam perhitungan tersebut, tidak ada hubungan data teknis dari mesin generator
dengan desain pondasi dibawahnya dan ajaibnya dibawah pondasi generator diberikan
usulan menggunakan cerucuk dolken kayu untuk meningkatkan daya dukung tanah,
yang sayangnya sang staff tidak menuliskan berapa daya dukung tanah yang
dihasilkan dengan metoda cerucuk.
Sehingga tidak ada perhitungan settlement dan daya dukung yang ditulis hanya
imajinasi saja. Sedangkan data teknis generator, yang seharusnya diperhitungkan
untuk penentuan system pondasi, tidak dipakai dan hanya untuk pajangan supaya
jumlah halaman teknis jadi panjang dan terkesan bagus.
Saya kemudian menganjurkan karib saya untuk meminta staff tersebut mendesain
ulang dengan kaidah-kaidah yang benar, desain harus memiliki esensi dan tidak
copas. Model copas inilah yang kita harus hindari.
Memang tidak sulit mengganti sekedar angka namun itu berarti kita hanya
berkemampuan meniru, yang kosong, tak berbobot, tak ada nilainya.
Berikut ini saya sajikan contoh perhitungan desain pondasi RE, silahkan dipelajari
untuk mengambil intisarinya/esensinya, melakukan trial dan error, sampai kita merasa
kita mampu melakukan desain secara mandiri.
Silahkan di klik hyperlink dibawah ini:
http://civilandstructure.wordpress.com
8
Foundation Design Analysis
(http://civilandstructure.files.wordpress.com/2011/04/content_typ1.pdf)
http://civilandstructure.wordpress.com
9
PERBAIKAN DAYA DUKUNG TANAH DENGAN
METODA DYNAMIC COMPACTION &
DYNAMIC REPLACEMENT (BAGIAN 2)
Posted by Thomas Yanuar under Konstruksi, Method Statement (Metoda
Pelaksanaan)
[4] Comments
Pada bagian 2 ini saya akan menuliskan tentang pengujian Metoda DC dan DR
lengkap dengan asumsi perhitungan peningkatan daya dukung tanah (soil bearing
capacity).
Sebelum beranjak lebih jauh kedalam pelaksanaan pekerjaan DC dan DR, ada tahapan
yang sebaiknya dilakukan, yaitu Pilot Test (PT) atau istilah lainnya Pengujian Awal.
PT ini dilakukan untuk mengesahkan perhitungan teoritikal daya dukung tanah,
mendapatkan perilaku lapisan tanah serta panduan detail pelaksanaan. Detail yang
dimaksud misalnya berat pounder/beban yang akan dipakai, tinggi jatuh, jenis crane,
jarak antar crater, perhitungan energi benturan yang berkorelasi pada jumlah jatuhan
pounder, penentuan berapa kali pelaksanaan pada lahan yang sama (number of series
for execution), hingga penentuan durasi pelaksanaan.
1. PILOT TEST
a. Target yang ingin dicapai
PT dilakukan untuk memverifikasi syarat teknis pelaksanaan tamping (penjatuhan
beban/pounder) metoda DC/DR langsung dilapangan sesuai kondisi asli tanah. Target
yang ingin dicapai adalah optimalisasi energy jatuhan, efisiensi dan kepastian kondisi
tanah baik sebelum dan sesudah pengujian.
Data kondisi tanah setelah diadakan DC/DR inilah yang menjadi tujuan utama. Data
yang ingin didapatkan tersebut antara lain; target N-value (SPT), daya dukung tanah
ijin (Q all), penurunan ijin/allowable settlement (S all) disamping data sekunder
mencakup suara dan getaran yang ditimbulkan. Selain itu, hasil yang didapat bisa
dipergunakan untuk memodifikasi lebih baik lagi rencana DC/DR yang sudah ada.
Adapun tujuan lainnya adalah untuk mendapatkan parameter-parameter seperti:
λ Jumlah jatuhan (drop) untuk tiap spot pada setiap seri DC.
λ Optimalisasi jarak antar DC (grid spacing).
λ Optimalisasi jumlah seri pelaksanaan DC.
λ Jeda waktu antara 2 seri DC dilokasi yang sama.
λ Rerata penurunan permukaan tanah akibat DC.
λ Dan lain sebagainya yang berkaitan dan disesuaikan dengan pelaksanaan pekerjaan
DC/DR nantinya.
b. Pengujian Penetrasi dan Level Muka Tanah akibat Tamping
Tahapan ini bertujuan untuk:
λ Penentuan frekwensi optimum tamping.
λ Menentukan metoda tamping yang tepat.
λ Mengetahui detail crater yang tercipta akibat tamping (diameter, kedalaman dan
http://civilandstructure.wordpress.com
10
penetrasi pounder).
λ Menganalisa hasil setelah uji ini dilakukan.
CATATAN:
Klik sketsa illustrasi atau foto-foto untuk memperjelas/memperbesar sehingga lebih
mudah dibaca.
Contoh illustrasi pengujian penetrasi pounder (tamping) dan muka tanah akibat
tamping tersebut:

c. Rencana pelaksanaan Pilot Test harus juga menentukan didaerah mana dan lokasi
penempatan peralatan penguji (Pressure Meter Tester/PMT). Misalnya seperti contoh
dibawah ini:
• Area PT untuk DC

• Area PT untuk DR
http://civilandstructure.wordpress.com
11

a) DR dangkal

b) DR dalam.
d. Contoh rencana aplikasi energy Tamping
■ Dynamic Compaction (W:Pounder weight, H:Drop height, N:No of tamping blows)
http://civilandstructure.wordpress.com
12

e. Contoh jumlah PT yang direncanakan

f. Contoh prosedur kerja pelaksanaan DC/DR (patokan area pengujiannya adalah
illustrasi diatas).
Dynamic Compaction:
1. Melaksanakan pra PMT Test, cukup 1 lubang.
2. Pengujian 1 lobang penetrasi dan penancapan patok penguji level muka tanah seri 1
(pertama).
3. Lanjutan pengujian penetrasi seri 1 sebanyak 8 lobang.
4. Perataan lahan (pengurugan lubang)
5. Untuk seri 2, langkah 2-4 diulang kembali, hanya saja pengujian penetrasi cukup 3
lobang.
6. Melaksanakan 1 kali tamping diarea pengujian kemudian dilakukan perataan.
7. Melaksanakan test PMT akhir, cukup 1 lobang.
http://civilandstructure.wordpress.com
13

Dynamic Replacement:
1. Tahapan-tahapannya sama dengan DC (langkah 1 – 7) hanya saja untuk DR
dalam/deep, berbeda dijumlah lobang pengujian penetrasi (11 lubang).
2. Namun meski secara garis besar sama, ada perbedaan pelaksanaan antara lain
dilaksanakan terlebih dahulu penggalian awal (kedalaman sekitar 50 cm) kemudian
dilakukan pengisian material kedalam crater yang terbentuk di spot hole.
3. Pengisian material pada tahap awal dilakukan hingga kedalaman 2 meter setelah
tamping sebanyak 3-4 kali. Selanjutnya dilakukan tamping lagi diatas material
tersebut. Demikian terus berulang sehingga kolom batu DR terbentuk.
4. Langkah terakhir adalah melakukan tamping penutupan 2 kali setelah pengurugan
spot hole.

2. CONTOH PERHITUNGAN
Dibawah ini merupakan contoh perhitungan estimasi pencapaian daya dukung tanah
dan settlement setelah dilakukan pekerjaan DC dan DR berdasarkan hasil dari PMT
Test.
Sebelumnya kita harus menentukan target nilai PMT Test setelah dilaksanakan PT
untuk DC/DR ini, misalnya;
DC area kita tentukan nilai Pl= 5 bar dan Ep= 60 bar. Sedangkan untuk DR area kita
tentukan nilai Pl= 11 bar dan Ep= 100 bar serta untuk tanah disekitar area pelaksanaan
yaitu Pl= 4 bar dan Ep= 60 bar.
a. Dynamic Compaction area:
http://civilandstructure.wordpress.com
14


b. Dynamic Replacement area:

http://civilandstructure.wordpress.com
15

c. Target nilai SPT (N-value) diharapkan berkisar pada angka N=17
3. PEMANTAUAN EFEK GETARAN DAN SUARA
Perlu disadari bahwa pekerjaan DC/DR ini juga menimbulkan efek samping yaitu
suara dan getaran. Untuk itu perlu diadakan antisipasi sebaik mungkin untuk
meminimalisasikan dampaknya. Terutama jika DC/DR dilaksanakan pada daerah
dimana sudah terdapat suatu struktur yang sudah berdiri. Berdasarkan pengalaman
lapangan/best practice dan teoritis, dampak samping yang ditimbulkan bisa diredam
sekecil mungkin.
Dari data grafik gelombang Rayleigh berdasarkan perhitungan Menard (France 1960),
dari energi benturan yang dihasilkan dapat dilihat kecepatan rambat permukaan
terhadap jarak dari titik benturan. Besaran kecepatan permukaan inilah yang dapat
mempengaruhi seberapa besar efek yang bakal diterima oleh suatu bangunan/struktur
yang sudah berdiri. Menard adalah formulator/penemu metoda pengujian DC/DR
dengan Pressure Meter Test (PMT).
Untuk PT yang dilakukan kita ambil contoh penggunaan energy tamping sebesar 300
t.m, menghasilkan kecepatan getar V= 10 mm/sec pada jarak 27 m dari titik tamping.
Angka V= 10 mm/sec ini adalah angka aman untuk kriteria energi yang dipakai
berbanding sifat tanah dan efisiensi pekerjaan nantinya.

Jika ternyata jarak aman 27 m belum terpenuhi dibeberapa titik tamping, maka
pembuatan galian/trench disekeliling pekerjaan dapat secara signifikan mengurangi
efek getaran dengan memutus kecepatan rambat permukaan. Sehingga jarak titik
tamping terhadap struktur yang sudah ada dapat lebih dekat lagi. Dimensi galian,
http://civilandstructure.wordpress.com
16
berdasarkan best practice untuk energi 300 t.m, tersebut adalah berkedalaman 1,5 –
2,5 m.
Disamping itu kita laksanakan pengujian suara (noise testing) sekaligus uji getaran.
Contoh illustrasinya sebagai berikut:

Berikut adalah contoh alat pengujian dan tabel efek getaran dibeberapa negara serta
tabel suara peralatan:

http://civilandstructure.wordpress.com
17

Untuk aplikasi PMT device, berikut contoh illustrasinya:


http://civilandstructure.wordpress.com
18

Semoga artikel ini membantu memberikan tambahan pengetahuan buat rekan-rekan
semua. Silahkan menuliskan komentar, kritik membangun dan saran.
http://civilandstructure.wordpress.com
19
PERBAIKAN DAYA DUKUNG TANAH DENGAN
METODA DYNAMIC COMPACTION &
DYNAMIC REPLACEMENT (BAGIAN 1)
Posted by Thomas Yanuar under Konstruksi, Method Statement (Metoda
Pelaksanaan)
[8] Comments
Kilang migas dan derivatifnya seperti halnya kilang petrokimia/refinery banyak
dibangun didaerah remote ataupun onshore yang rata-rata kondisi daya dukung tanah
alaminya kurang bagus. Daya dukung tanah yang cukup kuat diperlukan untuk
menempatkan pondasi dari equipment-equipment yang cukup banyak jumlahnya. Dan
seperti kita ketahui juga, banyak metode untuk meningkatkan kualitas daya dukung
tanah/tapak pada suatu proyek.
Faktor keekonomian dan penghematan waktu, sedikit banyak menentukan metoda
perbaikan tanah yang akan dipilih, tentunya disamping faktor-faktor lain yang
situasional. Dari berbagai pengalaman lapangan dan engineering yang pernah saya
geluti, beberapa metode perbaikan tanah dapat dilaksanakan sekaligus/sinergikal pada
suatu tapak proyek.
Dalam artikel bagian 1 ini, saya akan menyajikan metoda-metoda perbaikan daya
dukung tanah yang dapat dilakukan pada suatu waktu tertentu secara
berkesinambungan. Metoda tersebut adalah Dynamic Compaction/DC (Pemadatan
Dinamis) dan Dynamic Replacement/DR. Untuk metoda DR ini bisa juga disebut
metoda kolom batu (Stone Column), nanti akan saya uraikan lebih lanjut.
Metoda DC/DR ini ditemukan oleh Menard (France, 1960). Metoda ini bisa
menghemat biaya dalam mensubtitusi penggunaan pile (tiang pancang) menjadi
pondasi dangkal hingga penanggungan beban tertentu sesuai peningkatan kapasitas
daya dukung tanah. Di negara kita Indonesia, mungkin metoda ini belum banyak
diketahui. Tetapi seiring dengan mudahnya informasi yang didapat dan faktor
komparasi dengan metode konvesional lainnya yang dikenal, saya yakin kedepannya
metoda ini bisa jadi pilihan yang patut dipertimbangkan.Terutama untuk kondisi lahan
di Sumatera dan Kalimantan serta Sulawesi. Dimana yang saya tahu, pembukaan
lahan untuk eksplorasi dan pembuatan kilang pengolahan masih mengandalkan teknik
pemadatan pola konvensional.
Sedangkan tulisan di bagian 2 nanti akan membahas pelaksanaan Pilot Test dan
perhitungan kekuatan daya dukung tanah setelah pelaksanaan metoda DC dan DR.
CATATAN:
Silahkan meng-klik sketsa illustrasi dan foto-foto memperjelas tampilan.
1. Metoda Dynamic Compaction (DC)
http://civilandstructure.wordpress.com
20

Secara garis besar, pengertian DC adalah suatu metoda peningkatan kondisi tanah
yang dapat diterapkan pada tanah yang kering, basah/lembab dan jenuh (saturated).
Metoda ini bisa juga diterapkan pada tanah jenuh dengan kandungan butiran halus
mencapai hingga 30%. Target DC dicapai dengan menjatuhkan beban (pounder) dari
suatu ketinggian tertentu ke atas permukaan tanah yang akan dipadatkan. Proses
pemadatan ini berlangsung pada sekian banyak jatuhan pada lahan yang dituju.
a. Prinsip Dasar Peningkatan Tanah
Mengapa bisa terjadi pemadatan hanya dengan menjatuhkan beban? Pounder/beban
yang dijatuhkan pada ketinggian yang sudah ditetapkan akan memberikan impact
energy (energy benturan). Energi benturan ini menciptakan getaran dan mengatur
ulang partikel-partikel tanah yang ada dan mendorong keluar gas dan air terkandung
didalam partikel didalam tanah asal. Hal ini dapat meningkatkan kepadatan tanah
lunak. Metoda DC ini selain dapat diterapkan pada kondisi tanah diatas, dapat juga
secara terbatas, -berdasarkan hasil soil investigation tentunya-, pada kondisi tanah
kepasiran, lapisan tanah berbatu lepas, atau tanah hasil pembuangan.
Perilaku tanah setelah diterapkannya metoda DC ini bisa berbeda secara signifikan
tergantung kondisi tanah, seperti apakah tanah tersebut adalah tanah jenuh (saturated
soil) ataupun tanah tidak jenuh (non saturated soil). Dalam halnya tanah tidak jenuh,
efek benturan yang muncul adalah seperti halnya kita melakukan Proctor Compaction
Test di laboratorium mekanika tanah.
Sedangkan jika kondisi tanah jenuh, akan terjadi berbagai bentuk gelombang benturan
yang berpusat pada pusat jatuhan beban. Gambar dibawah ini akan bisa memberikan
gambaran tentang gelombang benturan yang dimaksud.
http://civilandstructure.wordpress.com
21


P wave atau gelombang tekan akan merombak struktur partikel tanah akibat Push-Pull
Motion dan meningkatkan tekanan pori. Sedangkan S wave atau gelombang geser
memainkan peran menyusun ulang kepadatan partikel meskipun kecepatan
gelombang cukup pelan. Adapun Rayleigh wave adalah ringkasan dari gelombang
geser dan gelombang permukaan yang tersebar dekat dengan permukaan tanah.
Sehingga akibat adanya berbagai macam gelombang yang tercipta oleh karena beban
benturan pounder, akan menghasilkan tekanan tarik dibawah tanah, berujung pada
retak tarik dalam bentuk radial (seperti gambar diatas) pada pusat beban benturan.
Retak tarik ini membuat jalur aliran yang berguna untuk mengeluarkan tekanan pori
yang berlebihan dan membuang air pori dalam tanah jenuh. Hal inilah yang berujung
pada peningkatan kapasitas daya dukung tanah.

Illustrasi diatas adalah perilaku partikel tanah secara mikroskopik selama pemadatan
berlangsung dan setelahnya.
Bagaimana dengan penurunan permukaan tanah? Penurunan tanah tergantung dari
pada jenis tanah dan energi jatuhan/pemadatan yang tercipta. Namun biasanya
http://civilandstructure.wordpress.com
22
berkisar 3-8 % dari ketebalan tanah asal alami, sedangkan untuk reklamasi lahan
buangan sekitar 20-30 %. Tekanan pori yang berlebih terjadi karena jatuhan beban
bisa saja masih terjadi bahkan setelah proses jatuhan itu selesai. Namun tingkat
disipasi (penghamburan/penghilangan) tekanan pori berlebih ini sangat singkat jika
dibandingkan dengan metoda pemadatan statis seperti halnya metoda pre-loading.
b. Karateristik Metoda DC
1. Pekerjaan terapan yang cepat dengan tahapan sederhana, penghematan biaya dan
sangat dimungkinkan pelaksanaannya dengan pekerjaan lain pada saat yang sama.
2. Meskipun tergantung dari jenis tanah, kelangsungan pekerjaan lain diatas tanah
setelah peningkatan terjadi sangatlah diijinkan.
3. Dapat diterapkan pada berbagai jenis tanah termasuk jenis tanah hasil
bongkaran/pembuangan, pasir tanah kepasiran (dredging soil), tanah halus, lumpur
buangan maupun hasil pengeboran atau bentonit.
4. Kualitas kerja dapat dikontrol dan hasil yang baik.
5. Tidak bermasalah terhadap lapisan batuan dibawahnya.
6. Tidak memerlukan material khusus.
2. Metoda Dynamic Replacement (DR)/Stone Column (Kolom Batu)

Metoda DR ini adalah lanjutan dari metoda DC dan biasanya dilaksanakan pada tanah
dengan kandungan lempung dan lapisan lanau sangat tebal serta diketahui dengan
metoda DC tidaklah cukup untuk meningkatkan daya dukung tanah pada kondisi
tanah tersebut seperti yang ditargetkan. Seperti kita ketahui, setelah pounder
dijatuhkan berkali-kali akan terbentuk suatu kawah yang disebut crater. Dalam
penerapan metoda DR, crater yang tercipta akan diisi dengan batuan/material non
plastis (berdasarkan pengujian ASTM D 4318), atau batuan alam yang ada dilokasi
tanah lunak. Crater akan terus diisi batuan dengan berulang kali melakukan jatuhan
pounder (tamping) hingga kedalaman yang diinginkan ataupun berhenti ketika crater
yang terbentuk sudah tidak bisa lagi melesak lebih dalam.
a. Prinsip Dasar DR
Secara prinsip, metoda pelaksanaan pada awal pekerjaan sama dengan metoda DC
tetapi ada tahapan kerja yang berkelanjutan yaitu pengisian material kasar kedalam
crater yang terbentuk akibat tamping. Material yang diisikan terus menerus akan
membentuk pola seperti kolom batu, maka dari itulah metoda DR ini dapat pula
disebutkan metoda kolom batu. Pada saat batuan kedalam crater ataupun granular soil
(seperti gravel ukuran tertentu misalnya), area tekanan pada tanah lunak
didistribusikan ke kolom batu (stone column/pillar). Sehingga tanah lunak memadat
dan menghasilkan daya dukung yang ditargetkan. Penerapan DR ini berdasarkan data
tanah (hasil dari soil investigation report) yang dilanjutkan pada tahapan experiment
lapangan (seperti halnya uji trial and error) serta dilakukan dengan interval tertentu
berdasarkan rumus yang tertulis berikut ini.
http://civilandstructure.wordpress.com
23


b. Karateristik Metoda DR
1. Sementara kolom DR terbentuk dengan mengisikan material non plastis (batuan
pecah, gravel), terjadi kontraksi dilapisan tanah lunak sekeliling kolom DR. Yang
menyebabkan tekanan pori berlebih terlepas terus menerus. Proses ini pada dasarnya
sama dengan dengan teknik konsolidasi tanah dengan metode pre-loading, hanya saja
konsolidasi tersebut terjadi lebih cepat sekaligus menaikkan daya dukung tanah.
2. Tahanan geser lebih besar terjadi didalam kolom DR dan kekuatan tanah diantara
kolom DR meningkat secara signifikan.
3. Pada saat kolom DR terbentuk didalam tanah setelah proses dilakukan, komposisi
kandungan tanah akan berubah. Pengertiannya yaitu lapisan tanah terdiri dari batuan
dan tanah asal yang mana partikel awal menjadi tersusun ulang. Dalam hal ini tekanan
tanah sebagian besar diakomodasi oleh kolom DR sedangkan tanah asal hanya
menderita tekanan lebih kecil.
Gambar illustrasi metoda DR:

Contoh foto pelaksanaan DR dilapangan:
http://civilandstructure.wordpress.com
24

Gambar dibawah adalah contoh crane lengkap dengan pounder (beban).

Gambar dibawah adalah kondisi lapangan seelah dilaksanakan DC dan DR. Crater
yang tercipta harus ditutup dengan urugan/backfill hingga ketinggian level yang
disyaratkan dalam Plot Plan.

Contoh hasil tamping dan bentuk crater yang tercipta (cukup besar ukurannya sekitar
2 x 2 m):

http://civilandstructure.wordpress.com
25
KAJIAN PEMODELAN 3D (3D
MODELING REVIEW)
Posted by Thomas Yanuar under Engineering
[17] Comments
Dari berbagai kajian pemodelan 3D
yang pernah saya ikuti, berikut saya sarikan pengalaman tersebut.
Dalam perencanaan tapak (site lay out design) diperlukan kajian yang komprehensif
dari berbagai disiplin. Kajian yang terutama berkaitan dengan penempatan equipment,
tanki penyimpan dan bangunan penunjang, sistim pemipaan baik bawah tanah
(underground), atas tanah (above ground) maupun diantara lantai platform serta yang
tidak kalah pentingnya adalah prinsip keutamaan keselamatan kerja (safety) yang
terintegrasi.
Kajian tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan efisiensi beroperasinya kilang
(Plant), kemudahan perawatan, penanggulangan bahaya dan ketepatan akses dalam
situasi darurat, penghindaran tumpang tindih/clash terhadap jalur pemipaan dengan
kelengkapan struktur pendukung. Dalam tahapan konstruksi, akan mempermudah
ereksi peralatan, keselamatan kerja dan aplikasi penggunaan alat bantu.
Kesemuanya akan berujung pada penghematan biaya dan waktu dari segala segi.
Baik ketika konstruksi, operasi sehari-hari, perawatan berkala maupun perawatan
besar (shut down/turn around).
Secara umum, pemeriksaan awal terhadap rencana 3D yang dapat dilakukan semua
disiplin adalah pemeriksaan:
1. Ketersediaan akses untuk operasi, perawatan dengan peralatan bergerak
(mobile equipment).
2. Lokasi area drop out. Maksudnya adalah lokasi dimana bagian equipment akan
ditaruh untuk sementara pada saat perawatan besar atau shut down/turn
around.
3. Jalur akses dan jalan yang menyediakan ruang yang cukup bagi ketinggian
kendaraan yang akan melewatinya, peralatan bergerak (crane misalnya). Akses
atau jalan yang diperlukan demi efisiensi dan keselamatan konstruksi, operasi
dan perawatan Plant. Poin ini hampir mirip dengan poin 1 namun lebih
http://civilandstructure.wordpress.com
26
menekankan pada batasan ketinggian yang dapat disediakan. Misalnya jalur
dibawah pipe bridge atau pipe rack.
4. Ketersediaan tempat yang cukup diplatform termasuk verifikasi apakah platfor
tersebut cukup memberikan ruang untuk pekerjaan tertentu nantinya . Dimana
dimungkinkan adanya pekerjaan perawatan pada masa mendatang.
5. Lokasi platform di stack atau vessel (baik vertical maupun horizontal),
dimana biasanya pekerja mencapai batas jeda dalam melakukan panjatan.
6. Terhadap lokasi katup darurat shut down (emergency shut down) di area aman
(biasanya untuk diameter 14” keatas).
7. Akses untuk crane baik ketika bergerak maupun kondisi sedang beroperasi.
Khususnya untuk kegunaan ketika perawatan air cooler dan motor pompa.
Secara khusus, tiap disiplin dapat menekankan lebih detail dalam pemeriksaan sesuai
bidangnya, seperti:
A. Disiplin Keselamatan (Safety). Lebih detail dalam:
1. Verifikasi terhadap lokasi hidran dan monitor untuk memastikan kecukupan
cakupan area yang berpotensi terjadinya kebakaran.
2. Pemeriksaan vessel vertikal dan platformnya demi ketepatan rute keluar
darurat. Memastikan pula jalur darurat terpendek dan tidak ada halangannya
ke darat serta ketika sampai dan berada didarat.
3. Pemeriksaan terhadap tangga tegak lurus (ladder) dan tangga biasa, apakah
telah dipasang dengan baik dari segala segi diluar struktur.
4. Apakah perlu lalulintas keluar darurat harus melewati struktur. Dalam perihal
ini, hendaknya diperiksa silang dengan peraturan keselamatan kerja dari pihak
yang berwenang.
5. Periksa ketersediaan akses untuk peralatan pemadam kebakaran bergerak
(mobile) dan tim penolong.
6. Apakah keselamatan pekerja dapat lebih dipastikan dengan penghindaran
kemungkinan bahaya jatuh (tripping hazard) dan tumbukan kepala (misalnya
terhadap posisi/ketinggian balok yang melintang dijalur darurat).
7. Pemeriksaan terhadap manhole diplatform dan tangga vertical yang berkaitan
dengan rute darurat.
B. Disiplin Static Equipment (khususnya Heat Exchanger, Heater, Vessel dan
Column):
1. Untuk Heat Exchanger, apakah bundle dapat ditarik dan direndahkan
posisinya daripada platform dan peralatan tegak lainnya (seperti hidran).
2. Juga, pemeriksaan terhadap kecukupan akses untuk perletakan exchanger di
platform ketika diadakan pekerjaan perawatan.
3. Untuk Vessel dan Column. Pemeriksaan dilakukan terhadap perletakan
tangga, ladder, platform, apakah lokasi tersebut masuk kedalam kriteria logis.
4. Kemudian, diperhatikan apakah area yang tersedia disekelilingnya cukup
untuk aktivitas ereksi.
5. Selanjutnya, perlu juga diperhatikan pertimbangan terhadap kegiatan
pemasangan dan perletakan katalis, pengepakan/pembukaan, internal tray dan
lain sebagainya.
http://civilandstructure.wordpress.com
27
6. Untuk Heater. Diperlukan pemeriksaan terhadap kebutuhan ruangan sekitar
fired heater jika terjadi hembusan jelaga dan aktifitas pelapasan residu kokas
(coke) saat pencopotan burner.
C. Disiplin Sipil/Struktur:
1. Pemeriksaan terhadap perletakan pengaku (bracing) struktur platform dan pipe
rack guna menghindari clash terhadap jalur pipa.
2. Juga posisi perletakan pondasi peralatan yang diperkirakan mempunyai berat
yang signifikan agar tidak berada diatas pipa bermaterial GRP/FRP.
3. Demikian halnya perletakan pondasi tidak berada diatas jalur kabel (cabel
trench) baik yang tertanam di tanah maupun berada dibawah pavement.
4. Untuk pekerjaan fireproofing dengan sistem insitu spray (penyemprotan
ditempat) bagi dudukan equipment maupun cast in situ untuk balok/kolom
struktur baja agar diperhitungkan kecukupan area kerja dan perletakan
peralatan kerja.
Dalam terapan kajian, ada beberapa tahapan yang dilakukan, normalnya dihitung
berdasarkan persentase kemajuan design engineering. Tahapan tersebut adalah
sebagai berikut:
1. 30% Model Review
Kajian yang dilakukan dalam tahapan ini mencakup Perawatan, Keselamatan,
Ergonomik, Keterbangunan (Constructability) dan Operasi serta pemipaan dengan
diameter besar (misalnya diameter 14” keatas). Skala pembagian diameter pipa untuk
tiap Plant bisa saja berbeda. Tergantung dari kapasitas out put yang akan dihasilkan.
Masukan data yang diperlukan pada saat kajian diangka 30% ini adalah:
1. Rencana Lokasi Tapak dan Peralatan (Equipment).
2. P & ID (Diagram Pemipaan dan Instrument)
3. Line List.
4. Spesifikasi Material Pipa.
5. Gambar-gambar Studi Rute Piping.
6. Gambar-gambar Engineering dan Data Sheet Peralatan.
7. Gambar-gambar Sipil dan Struktur.
8. Gambar-gambar Bangunan Gedung (ITR, Sub Station, Operator Shelter dll).
9. Gambar-gambar Cable Tray Kelistrikan dan Instrumen.
2. 60% Model Review
Mengkaji jalur utama pemipaan dan mempertahankan jalur yang sudah ada (jika tidak
ada perubahan signifikan dari disiplin process). Pemipaan utama berada pada diameter
menengah (misalnya diameter 4” keatas).
3. 90% Model Review
Mengkaji jalur pemipaan yang tersisa/diameter kecil (misalnya diameter 2 “ keatas)
dan mempertahankan desain yang sudah ada.
http://civilandstructure.wordpress.com
28
4. Sisanya (10%) berdasarkan as-built.
Dalam pemodelan 3D yang akan ditampilkan untuk tiap-tiap disiplin yang terlibat,
dilakukan dalam 3D CAD (Computer Aided Design) seperti:
1. Disiplin Piping dan Equipment model menggunakan PDS (Plant Design
System).
2. Pemodelan Electrical menggunakan PDS.
3. Structural menggunakan PDS.
4. Building menggunakan Microstation.
5. Pemodelan lain dapat diselesaikan dengan pemodelan integrasi Plant.
Sedangkan perangkat lunak komputer Intergraph 3D menggunakan:
1. PDS Piping dan Equipment software, version 7.3.
2. SmartPlant Review, version 6.2.
3. Microstation, version 7.1.
Pada pelaksanaan kajian yang dilakukan secara bersama-sama ini, biasanya
berlangsung dalam beberapa hari kerja, bahkan berminggu-minggu jika rencana
tapaknya sangat luas dan kompleks isinya.
Dalam acara kajian tersebut, biasanya ada beberapa hal yang dijadikan perhatian
bersama multi disiplin karena kaitan yang erat, misalnya seperti:
1. Material pipa diatas tanah.
2. Akses dan perawatan Pompa/Turbin/Boiler.
3. Kemungkinan ketersediaan lahan untuk masa depan di area tertentu.
4. Finalisasi Plot Plan.
5. Insulasi untuk katup dan flange.
6. Lokasi manifold katup control untuk layanan 2 fase.
7. Lokasi silencer untuk layanan 2 fase.
8. Konsep drainase permukaan.
9. Tinjauan lokasi transformer.
10. Tinjauan lokasi bangunan.
11. Lokasi rumah analyzer.
12. Lokasi Fuel gas drum.
13. Analisa vibrasi dan stree pada sistem uap letdown.
14. Kegunaan gedung-gedung pengendali.
Dan lain sebagainya. Yang pada dasarnya adalah perihal yang diajdikan perhatian
secara bersamaan tersebut secara kuantitaif dan kualitatif tergantung berapa besar dan
kompleksitas beban kerja di area yang akan dikerjakan.
Berikut contoh gambar Pemodelan 3D dari salah satu proyek petrokimia/refinery yang
pernah saya tangani, Borouge 2 (Abu Dhabi Polymer Co) disalah satu seksi paket
pekerjaan Olefins Conversion Unit:
http://civilandstructure.wordpress.com
29


http://civilandstructure.wordpress.com
30

http://civilandstructure.wordpress.com
31
TAHAPAN PERHITUNGAN DESAIN STRUKTUR
Posted by Thomas Yanuar under Perhitungan Struktur, Perhitungan Struktur Baja,
Perhitungan Struktur Beton
[24] Comments
TAHAPAN PERHITUNGAN STRUKTUR
Jika kita dalam posisi sebagai seorang civil/structure engineer dan karena tuntutan
tugas kita harus melakukan perhitungan struktur baik struktur baja maupun sipil
khususnya pondasi, kita dituntut harus berhati-hati, benar dalam asumsi dan cermat
dalam melakukannya. Dalam artikel saya kali ini, saya tulis beberapa hal dasar yang
perlu dilakukan oleh seorang civil/structure engineer dalam melakukan tahapan
perhitungan struktur.
1. TUJUAN PERHITUNGAN
Dalam melakukan perhitungan nantinya, perlu kita ketahui untuk apakah perhitungan
tersebut dilakukan, Normal tujuannya adalah:
1. Untuk membuat engineer mendapatkan desain yang aman, layak dan
ekonomis.
2. Penyediaan catatan sebagai kemungkinan referensi dimasa datang.
3. Pemenuhan persyaratan sesuai spesifikasi dan code/international standards
terhadap desain yang dikerjakan.
4. Memfasilitasi penentuan akibat yang akan terjadi jika dilakukan modifikasi
terhadap struktur dimasa datang.

1. UNIT/SATUAN
Pada umumnya, satuan yang digunakan dalam perhitungan memakai SI satuan metric.
Kecuali jika perhitungan dibuat sesuai Code atau memakai program computer, yang
belum disesuaikan dengan metric, maka pemakaian satuan konvesional boleh
dilakukan. Pada ujungnya, untuk lebih memudahkan padanan dengan satuan yang
dipakai oleh disipiln lain, sebaiknya hasil perhitungan dikonversikan ke metrik.
1. SIMBOL-SIMBOL
Symbol-simbol yang dipergunakan dalam desain struktur baja seharusnyalah memiliki
konotasi yang sama terhadap AISC Manual of Steel Construction, sedangkan untuk
struktur beton, padanannya adalah ACI 318 atau SK SNI untuk proyek bersifat lokal.
Simbol-simbol lainnya sebaiknya disamakan dengan Code/International Standards
yang berlaku dan dipakai sebagai referensi. Konotasi/pengertian symbol yang
dipergunakan dalam perhitungan, secara umum harus dituliskan pada awal
perhitungan. Gunanya untuk memudahkan pembaca/pemeriksa sewaktu mengkaji
dokumen perhitungan tersebut.
http://civilandstructure.wordpress.com
32
Sedangkan untuk simbol tertentu yang dipakai dalam suatu persamaan, sebaiknya juga
ditulis dalam cakupan persamaan tersebut, boleh sesudah ataupun sebelum persamaan
tersebut diketengahkan.
A. PERSAMAAN
Persamaaan-persamaan, grafik, nomograf dan lain sebagainya yang dipakai dalam
kalkulasi sebaiknya:
1. Merupakan turunan/derivative dari kalkulasi dasar, atau
2. Merujuk pada standard yang relevan dengan memberikan asal usulnya, atau
3. Jika diambil dari textbook, maka diperlukan juga salinan/copy dari halaman
diaman persamaan/grafik itu diambil.
4. Biasakan menggunakan persamaan yang biasa dan mudah dikenali seperti
PL/4, WL²/8 dan lain-lain.
B. ASUMSI
Asumsi yang diambil dimana perhitungan didasarkan haruslah ditulis dengan jelas.
Setiap asumsi yang diambil untuk mendukung perhitungan harus jelas
menggambarkan dan memiliki data yang sesuai.
Perhitungan yang dilakukan juga harus memberikan sepintas ulasan acuan dasar
(philosophy) yang dipergunakan dalam desain tersebut. Termasuk didalamnya adalah
konsep yang mungkin diadopsi dari sumber/referensi lain.
C. PARAMETER
Nilai-nilai dari parameter ditulis dibagian awal perhitungan. Tidak perlu kita
menjustifikasi nilai parameter yang telah biasa digunakan dan diterima secara umum
seperti Young’s modulus, Poisson’s ratio, koefisien tarik/tekan dll. Namun untuk nilai
parameter yang bersifat spesifik, barulah kita harus memberikan justifikasi, apakah
dengan menuliskan sumbernya (seperti hasil studi atau laporan pemeriksaan tanah)
ataukah ringkasan dasar penggunaan parameter tersebut ataukah kita ambil dari
referensi yang dipercaya secara umum maupun Code. Contohnya adalah:
1. Perbedaan temperatur.
2. Tegangan permukaan tanah, daya dukung ijin, penurunan/settlement ataupun
perbedaan nilai penurunan permukaan tanah.
3. Tekanan angin, dapat dihitung dari kecepatan rata-rata angin daerah dimana
desain kita akan dipergunakan dan exposure factor. Biasa ada referensi yang
sahih dari pihak berwenang seperti Badan Metrologi dan geofisika (BMG)
lokal. Perhitungan nilai parameter tersebut harus mengemukakan kecepatan
dasar angin terhadap tinggi, bentuk, arah hembusan (gust) dan importance
factor yang dipakai.
D. PRESENTASI PERHITUNGAN
Tampilan presentasi perhitungan selayaknya sebagai berikut:
http://civilandstructure.wordpress.com
33
a. Kepala Judul berisikan:
1. Jika kita melakukan untuk kepentingan perusahaan atau Klien, maka tulislah
nomor administrasi yang seharusnya. Biasanya sudah ada garis besar
penomoran dari Klien/Perusahaan. Selanjutnya work order atau nomor SPK.
2. Nama pembuat perhitungan (engineer ybs) dan nama pemeriksa (checker).
3. Judul desain perhitungan, yang harus menggambarkan isi kandungan
perhitungan. Misalnya Perhitungan Pondasi Turbo Compressor KT-2010 atau
Perhitungan Struktur Shelter Steam Turbin ST-007.
4. Tanggal sewaktu perhitungan itu dibuat.
b. Cover sheet atau halaman depan setiap paket dokumen perhitungan diberi label
nama untuk memudahkan identifikasi sesuai Job Order, Engineering Order ataukah
Study/Report Order. Penomoran halaman juga harus runtut.
c. Jangan lupa daftar isi, daftar codes/standards dan referensi lainnya yang sesuai. Jika
memakai referensi spesifikasi dari Klien, indikasikan juga tanggal rilis dari spek
tersebut. Ini gunanya utnuk menghindarkan salah pengertian dikemudian hari jika
spek perusahaan/klien tersebut ternyata berubah dimasa depan diluar sepengetahuan
engineer.
d. Perhitungan haruslah diperiksa oleh pihak yang yang berkompeten sebelum secara
resmi dirilis atau diserahkan kepada Klien. Pemeriksa haruslah memastikan bahwa
setiap isi halaman dokumen telah benar dan hasil perhitungan dapat diverifikasi dan
dipertanggung jawabkan.
e. Bahasa yang dipergunakan. Tergantung permintaan Klien. Untuk proyek
internasional ataupun yang memiliki hubungan dengan pihak dari warga negara lain,
tentu harus memakai bahasa Inggris.
f. Perhitungan struktur tersebut harus memuat kriteria desain, persyaratan beban-
beban utama, kombinasi beban layan kritis dan factor kritis kombinasi beban. Kriteria
desain ini tentulah harus sesuai dengan proyek yang sedang dikerjakan. Artinya, kita
tidak memakai kriteria desain berdasarkan proyek berbeda yang pernah dilakukan
meskipun banyak factor kesamaannya. Misalnya kita pernah mendesain onshore
platform buat proyek A di daerah Papua, maka kriteria desain proyek tersebut
janganlah dipakai untuk proyek onshore platform proyek B di daerah Balikpapan.
g. Dokumen perhitungan tersebut juga harus memuat urutan yang benar dalam
menuliskan sub judul. Sehingga pembaca/pemeriksa mengerti secara benar runtutan
perhitungan. Berilah penebalan atau garis bawah untuk sub judul guna memudahkan
pembedaan. Contohnya menghitung ketebalan base plate untuk struktur baja yang
akan didukung. Urutannya secara sederhana dalam perhitungan adalah asumsi
pembebanan, statika struktur (gaya dan momen yang bekerja), pemilihan material baja
untuk struktur atas. Baru kemudian perhitungan base plate.
h. Sediakan juga rangkuman dasar perhitungan secukupnya diawal sehingga pembaca
mengerti metode yang dipergunakan dalam perhitungan tersebut. Sketsa atapun
gambar sederhana perlu ditampilkan.
http://civilandstructure.wordpress.com
34
i. Perhitungan struktur baja khususnya, harus lengkap dengan detail perlu seperti
koneksi momen ataupun koneksi khusus di joint tertentu.
j. Pada akhirnya, sebelum dirilis, dipastikan bahwa dokumen perhitungan sudah
lengkap dan benar serta memuat lampiran jika diperlukan.
F. PERHITUNGAN MEMAKAI KOMPUTER
Untuk perhitungan memakai bantuan computer, yang sudah jamak saat ini, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Pemodelan computer haruslah disertai dan atau memperlihatkan nomor joint
dan member, kondisi/asumsi support dan pembebanan.
2. Output perhitungan dengan bantuan software computer haruslah memperlihat
input sebelumnya. Lembar pertama pada hasil computer run ditanda tangani
atau diberi inisial oleh engineer yang bertanggung jawab atau yang membuat
perhitungan. Jika diminta oleh Klien untuk memberikan gambaran program
computer yang pergunakan, meskipun misalnya kita memakai software
program calculation terkenal, kita harus juga memberikannya dan
dirangkumkan untuk hal-hal yang penting saja. Rangkuman itu berisikan dasar
dan cakupan analisa, verifikasi data input, interprestasi hasil dan penentuan
apakah hasil perhitungan tersebut sesuai dengan persyaratan.
3. Hasil perhitungan dapat disalin/copy dalam bentuk CD ROM kepada klien.
4. Program perhitungan menggunakan computer yang diterima secara umum
adalah STAAD III/STAAD Pro, STRUCAD, SAP 2000, ETABS, PCAMAT,
ENERCALC, PCA-COL, NASTRAN, STRUDDLE, SACS. Namun untuk
struktur onshore biasanya menggunakan STAAD Pro.

G. CHECK LIST DESAIN SIPIL/STRUKTUR
Dalam menghitung suatu desain, saya sarikan check list berikut ini sebagai panduan
umum. Check list ini memuat persyaratan kunci antara lain:
a. Kajian Skedul/Jadwal.
• Apakah dalam mendesain ada batas jadwal yang harus diikuti.
• Jika ada, berapa lama dan apakah skedul tersebut wajar untuk mendesain
struktur yang dimaksud.
b. Prosentase tahapan penyelesaian desain. Rekomendasinya adalah:
• Geoteknik dapat dihitung sebagai progress 30%.
• Desain Sipil dihitung sebagai progress 60%.
• Desain Struktur dihitung sebagai 90%.
c. Kajian Dokumentasi. Jumlah dokumen hardcopy yang harus diserahkan ke Klien:
• Proposal proyek. 1 hard copy dari seluruh dokumen per kajian.
http://civilandstructure.wordpress.com
35
• Detail desain. 1 paket dokumen lengkap per kajian.
d. Cakupan Pekerjaan (scope of work/SOW):
• Apakah SOW sudah tercakup dalam paket perhitungan.
e. Kajian Dokumen-Dokumen. Apakah semua dokumen yang diperlukan, termasuk
paket perhitungan, telah disetujui oleh Klien. Misalnya:
• Dokumen Sipil
• Dokumen Geoteknik.
• Dokumen Struktur. Dalam hal ini tidak termasuk shop drawing dan MTO.
Kedua jenis dokumen ini tidak perlu di serahkan kepada Klien.
f. Index Gambar. Apakah index gambar sesuai dengan penomoran administrasi yang
disepakati dengan Klien. Misalnya:
• Index A – Rencana tapak (plot plan).
• Index B – Konstruksi Bangunan (Building)
• Index C – Konstruksi Beton
• Index D – Arsitektural
• Index E – Struktur Baja
g. Penyelesaian Paket Desain. Apakah paket desain telah komplit. Misalnya:
• Gambar Tapak, konstruksi beton termasuk pondasi, struktur baja, kontruksi
sipil/drainase, gambar arsitektur bangunan kilang dll.
• Perhitungan beton termasuk desain pondasi, perhitungan seluruh struktur baja
termasuk pipe support, perhitungan bangunan tahan ledakan (blast resistant
building) dll.
h. Satuan. Apakah perhitungan menggunakan SI metric ataukah Imperial Unit.
i. Simbol-simbol. Apakah desain struktur baja dan sipil memiliki kesamaan notasi
atau nomenklatur dengan AISC Steel Manual dan Code ACI 318 atau SK SNI.
j. Persamaan. Apakah seluruh persamaan yang dipakai dalam perhitungan desain
cukup jelas?
k. Asumsi. Apakah dasar asumsi telah secara benar dipergunakan dan memiliki dasar
teknis yang bisa dipertanggungjawabkan.
l. Parameter. Apakah nilai-nilai parameter yang dipergunakan perlu dijustifikasi?
m. Kandungan Perhitungan. Apakah dokumen perhitungan telah mengandung seperti
hal berikut ini:
• Nama pembuat (Originator).
• Nama pemeriksa (Checker).
• Judul yang menggambarkan isi perhitungan.
http://civilandstructure.wordpress.com
36
• Tanggal perhitungan dibuat.
• Daftar isi.
• Daftar Code dan referensi.
• Gambaran umum metodologi perhitungan.
• Kriteria desain.
• Pembebanan dan turunannya.
• Sketsa/gambar untuk imaji perhitungan.
• Perhitungan tersendiri, manual, untuk sambungan khusus termasuk momen
sambungan balok/kolom (khususnya perhitungan struktur baja).
n. Perhitungan Komputer. Apakah perhitungan telah memenuhi, paling tidak, seperti
hal dibawah ini:
• Input data program sudah diperiksa untuk memastikannya benar.
• Pemodelan computer ditampilkan dan menunjukkan penomoran joint dan
member, kondisi support dan pembebanan.
• Output hasil perhitungan bersama input yang berkaitan.
• Lembar rangkuman hasil analisa setelah dipilih dari output computer.
• Rekaman/salinan hasil perhitungan dalam bentuk CD.
o. Jika memakai STAAD III/Pro, input computer – parameter desain:
• Apakah faktor Kz dan Ky (rasio efektif panjang kolom) telah diinput dalam
parameter desain.
• Apakah factor Lz dan Ly ( panjang bebas/tak terkekang dalam local z dan axis
y) telah diinput untuk menghitung rasio slenderness kolom.
• Apakah balok UNL (panjang bebas/unbraced length) telah diinput untuk
menghitung kuat ijin tekan balok.
p. Kajian Resiko. Apakah kajian resiko telah dibuat untuk bangunan kilang. Jika
sudah, apakah telah diserahkan kepada Klien.
q. Desain Bangunan. Apakah SOW juga mencakup tipe bangunan kilang yang harus
didesain. Misalnya:
• Bangunan biasa.
• Bangunan tahan ledakan (blast resistant building). Apakah data sheet untuk
persyaratan desain bangunan jenis ini telah ada?
• Pre-Engineered Building (PEB). Apakah data sheet juga telah tersedia.
• Struktur bermacam bangunan sipil.
r. Material yang dipergunakan. Apakah telah ditentukan jenis material yang akan
digunakan. Misalnya material untuk desain:
• Konstruksi baja.
• Konstruski beton.
• Dinding blok penahan beban.
• Kombinasi antara beton dengan baja (komposit).
• Pre cast dan beton Pre Stress
• Lain-lainnya sesuai tujuan desain.
http://civilandstructure.wordpress.com
37
s. Stabilitas Struktur. Apakah bangunan struktur cukup memiliki kestabilan lateral
dan longitudinal melalui:
• Kekakuan rangka momen sambungan (struktur baja).
• Rangka terkekang (struktur baja).
• Kombinasi antara kekakuan dan rangka terkekang.
• Sistem sambungan yang lain.
t. Slab atap bangunan kilang/lantai. Tentukan jenis slab yang dipakai. Misalnya:
• One-way concrete slab.
• Two-ways concrete slab.
• Komposit antara decking beton slab termasuk shear connector jika memakai
struktur komposit balok baja.
• Non-komposit decking slab beton.
• Slab yang ditunjang oleh balok baja.
• Slab yang ditunjang oleh rangka (truss) atau joist system.
u. Ketebalan Slab. Apakah nilai defleksi telah diperiksa untuk memastikan nilai
minimum ketebalan slab sesuai persyaratan di ACI.
v. Tipe Pondasi Bangunan. Apakah telah ditentukan jenis pondasi yang akan
dipergunakan. Contohnya:
• Pondasi sebaran (spread footing).
• Pondasi kombinasi.
• Pondasi lajur (strip footing).
• Pondasi rakit (raft/mat footing).
• Dan lain sebagainya.
w. Detail Bangunan Kilang. Apakah telah cukup tersedia detail tampak (plan), elevasi
dan potongan di dalam gambar yang menampakkan detail struktur bangunan?
x. Grade Material Baja. Apakah grade/kelas material baja telah sesuai dengan
spesifikasi yang dipersyaratkan.
y. Sambungan Konstruksi Baja. Apakah material sambungan-sambungan
balok/kolom/bracing telah sesuai dengan spesikasi yang disyaratkan.
z. Material Anchor Bolts dan Base Plate. Apakah jenis material anchor bolts dan base
plate sudah sesuai yang dipersyaratkan? Termasuk pemeriksaan detail-detail bentuk
atau tipenya.
aa. Metal Decking (pada slab). Apakah technical properties metal decking yang
digunakan untuk struktur slab baik lantai maupun atap telah diperiksa. Termasuk
didalam pemeriksaan adalah gambar-gambar yang disediakan.
ab. Grating. Apakah grating didesain untuk menahan beban hidup dan beban lalu
lintas (orang dan barang) diatasnya? Periksa juga system sambungan/perletakan
grating.
http://civilandstructure.wordpress.com
38
ac. Rangka Batang Atap ataupun Lantai.
• Apakah detail sambungan rangka batang (di las atau dibaut) telah
diperlihatkan digambar.
• Apakah batang-batang tersebut didesain untuk menahan gaya-gaya actual yang
terjadi.
• Apakah ikatan dasar rangka (truss bottom chord) telah dikekang secara benar.
• Pemeriksaan yang sama juga harus dilakukan untuk splice struktur baja.
ad. Lengan (jib) Crane. Apakah lengan crane telah didesain untuk menahan beban
yang diaplikasikan pada saat posisi lifting (pengangkatan) dalam posisi jarak penuh
(full range). Termasuk pemeriksaan defleksi/lendutan (termasuk kolom penopang)
dan eksentrisitas beban yang dapat menyebabkan tekuk major dan minor serta torsi
pada kolom.
Ditulis oleh:
Thomas Yanuar Purnoto
SPECIALIST – Civil & Structural
Utilities Package (5B)
Saudi Aramco Total Refining & Petrochemical Co. (SATORP)
192-18, Gwanhun-dong, Jongno-gu, Seoul.
KMI (Komunitas Migas Indonesia) Member: 070171
http://civilandstructure.wordpress.com
39
CONSTRUCTION QUALITY SURVEILLANCE
(PENGAWASAN KUALITAS KONSTRUKSI)
Posted by Thomas Yanuar under Quality Control/Quality Assurance
[8] Comments
I. PENGANTAR
Peran utama departemen Quality pada suatu organisasi Project Management Team
(PMT) adalah menjaga, menegaskan dan mengarahkan unjuk kerja/performance (sub)
kontraktor dan vendor agar mengikuti spesifikasi pekerjaan, Code dan Standards yang
sesuai, regulasi pemerintah setempat yang berkaitan, persyaratan sesuai dokumen
kontrak, normal practices dan dilakukan sesuai dengan dokumen Rencana (Jaminan)
Mutu (Contractor’s Quality Plan) yang telah disetujui PMT.
Dalam pelaksanaan pengawasan mutu pekerjaan dilapangan diperlukan panduan kerja
para personal departemen Quality. Normalnya adalah, Job Specification/Rencana
Kerja dan Syarat (RKS), Drawing/Gambar dengan status IFC/AFC dan harus revisi
terakhir serta Code/Standard yang menjadi rujukan untuk pekerjaan yang dimaksud.
Dalam perkembangan aplikasi teknik-teknik pemeriksaan pekerjaan diproyek, saat ini
dipergunakan pula apa yang disebut Construction Surveillance Program (CSP).
Aplikasi CSP ini membuat pemeriksaan pekerjaan menjadi lebih detail, meningkatkan
kemampuan inspektur QC dan supervisor konstruksi, mengantisipasi/meminimalisasi
kesalahan penerapan unsur-unsur pekerjaan dan menghindari rework (pekerjaan
ulang). Mudahnya, jika kesalahan pelaksanaan pekerjaan dapat diantisipasi, dikoreksi
dari awal sebelum pekerjaan tersebut dieksekusi maka rework yang berarti membuang
waktu dan biaya dapat juga dihindari. Berujung pada mutu pekerjaan (quality)
terjamin, efisiensi biaya dan (diharapkan) akselerasi waktu proyek.
II. CONSTRUCTION SURVEILLANCE PROGRAM
CSP merupakan perwujudan pelaksanaan assessment dan verification ditapak kerja.
Terdiri atas beberapa elemen sebagai berikut:
a. Critically Assessment
Adalah tinjauan ulang terhadap produk berdasarkan pengaruh terhadap ketidak
sesuaian (Non Conformance) di proyek. Hasil assessment (taksiran) ini berada dalam
peringkat kritis yang dapat dipergunakan PMT memutuskan jenis kekeliruan
konstruksi.
b. Construction Process Assessment
Adalah evaluasi secara periodik terhadap proses konstruksi yang dilakukan kontraktor
apakah taat terhadap norma kerja yang baik (normal good practices), prosedur dan
rencana. Rencana assessment dapat dikembangkan sesuai volume pekerjaan dan
produk yang akan dihasilkan nantinya. Misalnya seberapa banyak check list item yang
akan digunakan dan seberapa sering assessment yang patut dilakukan. Sebelumnya,
metode assessment yang akan dipergunakan sebaiknya didiskusikan terlebih dahulu
dan disetujui bersama. Langkah ini penting dilakukan demi membuat semua pihak
mengenal dan mengerti fungsi dan tujuan assessment. Dalam merencanakan
pembuatan Construction Assessment Plan, perlu dicakupkan hal-hal dibawah ini:
• Tipikal assessment yang akan dilakukan. Misalnya untuk pekerjaan piping apakah
assessment welding dicukupkan pada saat pengelasan joint pipa-pipa utama yang
bertekanan tinggi, apakah perlu juga assessment di golden joint. Untuk static/rotating
equipment, misalnya apakah perlu assessment pada saat vessel/compressor masih
http://civilandstructure.wordpress.com
40
berada di preservation area. Bagi sipil, apakah assessment cukup pada saat pre pour
ataukah dapat dimulai dari saat land clearing.
• Check list yang akan digunakan. Jenis check list dan isiannya mengacu pada
spesifikasi teknis dan good practices. Pada terapan dilapangan, check list dipakai pada
setiap jenis proses konstruksi dan merupakan panduan utama bagi Inspektur QC.
Inspektur QC sebagai personel lapangan yang melakukan tindakan ini selayaknya
mendapatkan pendalaman dan orientasi serta berpartisipasi dalam pembuatan check
list pekerjaan sesuai bidang inspeksi masing-masing. Namun patut diketahui bahwa
assessment yang diwujudkan dalam check list item pekerjaan bukanlah tindakan audit
ataupun inspeksi serta bukan difokuskan untuk mendapatkan kesalahan proses yang
berujung pada non compliance. Tetapi kalau diketemukan tindakan proses konstruksi
yang menyalahi aturan pada saat check list dilakukan, kesalahan tersebut dapat
dipertimbangkan sebagai “issue/case” dan mungkin saja berimplikasi pada penerbitan
non conformity jika tindakan koreksi tidak segera dilakukan.
• Frekwensi assessment. Assesment sebaiknya dilakukan secara berkala. Berkala
maksudnya tidak tergantung apakah pernah dilakukan assessment pada tahapan yang
sama terhadap suatu jenis pekerjaan tersebut sebelumnya. Misalnya begini, katakanlah
inspektur QC sipil pada minggu pertama hari kedua bulan A melakukan assessment
terhadap proses konstruksi pedestal dudukan vessel dan mendapatkan hasil
diterima/accepted. Namun ternyata pada minggu kedua hari kedua bulan A tersebut
proses pekerjaan belum selesai. Apakah perlu lagi dilakukan assessment terhadap
proses pekerjaan yang sama itu? ‘Kan, minggu lalu hasil assessment-nya bagus?
Jawabnya adalah, tetap perlu. Mengapa? Dasarnya adalah kemungkinan terjadi
perubahan-perubahan dalam seminggu berjalan yang lalu misalnya terhadap
kedudukan tulangan, formwork/perancah, anchor templates, dapat saja muncul dan
hasil assessment bisa saja “rejected/ditolak”. Assessment berkala akan lebih
mendapatkan bidikan yang focus terhadap Quality tahapan pekerjaan.
• Rencana Assessment Mingguan. Pembuatan rencana mingguan berfungsi untuk
mempertajam dan menjaga level quality assessment proses pekerjaan yang dimaksud.
Tentu harus diselaraskan dengan rencana kemajuan pekerjaan lapangan dari
kontraktor.
c. Construction Verifications
Adalah aktivitas utama atau review dokumen dimana Inspektur QC dari PMT
melakukan inspeksi pada level “witnessed” untuk memverifikasi/melakukan
pembuktian apakah kontraktor melakukan konstruksi sesuai dengan spesifikasi.
Verifikasi ini normalnya di munculkan pada level/poin “witness” dan “hold” dalam
ITP yang dipakai untuk pekerjaan yang dimaksud. Jumlah dan cakupan pekerjaan
oleh Inspektur QC dari PMT harus tertulis jelas dalam Spesifikasi Kontrak dan sesuai
terhadap tahapan yang dianggap kritis dalam proses fabrikasi, system yang dijalankan,
dan perakitan dilapangan. Peringkat tahapan kritis dari komponen produk/proses
konstruksi ataupun system ditentukan lebih lanjut dalam tingkat verifikasi (inspeksi)
yang termaktub dalam ITP.
Aplikasi CSP ini bukan dimaksudkan untuk mengambil porsi pengawasan pekerjaan
yang dilakukan oleh Supervisor konstruksi. Inspektur QC yang merupakan ujung
tombak dalam penerapan CSR dilapangan. Yang kemudian hasilnya dilaporkan dan
dipertanggung jawabkan ke atasannya. Rangkaian CSR sendiri patut dilakukan sejak
dari material berikut perangkat pembuatnya berada di preservation area
(gudang/tempat penyimpanan barang), saat assembly/installation, hingga post work.
Khususnya dalam aktivitas Monitoring terhadap kinerja Quality, Inspektur QC
diharapkan dapat melakukannya pada sekitar 20% dari waktu inspeksi dilapangan.
http://civilandstructure.wordpress.com
41
Tidaklah harus secara spesifik untuk lokasi kerja tertentu namun lebih ditekankan
pada pekerjaan apapun yang sedang berlangsung dilapangan. Jika dalam Monitoring
ini ditemukan non conforming condition baik itu masih berupa proses konstruksi
maupun telah menjadi produk konstruksi. Maka check list assessment baiknya segera
dibuat, laporan harus disampaikan dan tindakan yang sesuai harus segera diambil.
Illustrasi dibawah ini memberikan gambaran tentang aktivitas surveillance
Jumlah = 100%
Keterangan:
1. Administrative Duties mencakup pekerjaan reporting, meeting, training dll.
Sebelum melakukan assessment, ada baiknya mempertimbangkan hal dibawah ini:
1. Menentukan jadwal assessment untuk minggu mendatang dan memastikan bahwa
kontraktor dapat menampilkan proses konstruksi yang menjadi subyek assessment
selama kerangka waktu tersebut.
2. Tinjau ulang check list yang akan dipergunakan dan jika perlu, membuat persiapan
dan akses kelokasi proses.
3. Melaksanakan assessment menurut check list yang sesuai.
4. Mencatat hasil dari check list dan memasukkannya ke database construction
surveillance.
5. Penemuan defisiensi harus dicatat juga dalam check list dan digandakan kepada
kontraktor yang bersangkutan untuk segera ditindak lanjuti.
6. Defisiensi tersebut harus dipantau dan ditutup jika verifikasi pada assessment
berikutnya dinyatakan diterima/sesuai spesifikasi/gambar/standar.
Perlu diingat pula, pencatatan dan pelaporan hasil assessment akan sangat membantu
semua pihak terkait (PMT, Kontraktor/Sub dan Vendor) dalam melihat kinerja
Quality dilapangan. Apalagi jika terjadi kekeliruan yang berujung pada non
conformity dan penalti, assessment dapat membantu dalam mencari root cause dari
kekeliruan yang dimaksud. Untuk itu pembuatan assessment haruslah dilakukan oleh
inspektur QC yang ahli dan berkompeten dalam bidangnya.
Illustrasi untuk penerbitan CAR dan NCR
Fokus: Proses Produk Jadi
Metoda:
Contoh Check List:
Company :
Proyek :
Construction Assessment Checklist
Checklist No: Activity : HYDROTEST
Revision: Discipline: Piping
Site/Location : Report No. :
Contractor : Date :
Subcontractor : Component :
Item Action Result
Accepted
Yes No
1 Record the isometric numbers and spool
Drawing numbers to be tested
2 Check that acceptable specification for the test parameters on site (test definition
http://civilandstructure.wordpress.com
42
forms & test recording forms)
3 Check that the equipment involved in the test is satisfactorily certified.
4 Check that the safety precautions are in place (warning signs and barriers)
5 Check that the spool piece satisfies the drawing
6 Check the test pressure is correct
7 Check that the media is suitable
8 Check that the test duration is satisfactorily held and charted
9 Check that the test record is complete and accurate
10 Check the proper signatures are applied to the test records
Accepted Completed By : Date:
Rejected Witnessed By : Date:
(Explain below) (Contractor/Sub Representatives)
Deficiency Description: (What’s wrong and why did it happen?)
Contoh Check List:
Company :
Proyek :
Construction Assessment Checklist
Checklist No: Activity : PILE DRIVING
Revision: Discipline: CIVIL
Site/Location : Report No. :
Contractor : Date :
Subcontractor : Component :
Item Action Result
Accepted
Yes No
1 Were satisfactory soils investigations carried out?
2 Was deep foundation study approved, including depth, section, numbers and
spacing of piles?
3 Are all requirements for safety of workmen and public satisfied, namely advance
warning, protection barriers etc?
4 Were pile cylinders carefully handled and stockpiled in order to avoid any
damaged?
5 Was location of piles surveyed?
6 Was pile helmet and packing examined before any piling operation in order to avoid
any damage to the pile head?
7 Were pile pitched at specified batter before driving?
8 Were pile heads square to its axis and blows directed axially?
9 Was position and verticality or batter of piles continuously checked during driving
and corrected as required?
10 Were piles continuously checked for signs of cracking, bending or buckling and
driving stopped as required?
11 Was driving satisfactorily recorded, including blow counts or penetration per
blow?
12 Are records available of the height of fall and mass of the hammer, weather free or
with trailing rope?
http://civilandstructure.wordpress.com
43
13 Was excavation inside the steel cylinders properly recorded for comparison with
anticipated logs?
14 Was the foundation level of piles inspected and approved before placing reinforced
concrete?
15 Was water removed from the excavation or concreting under water carried out
following specific, appropriate procedures?
16 Are the reinforcement bars type, grade, dimensions, fastenings, etc. in conformity
to the drawing and specification?
17 Are all records for material traceability of reinforcement bar available for review?
18 Is the reinforcement correctly assembled conforming to specification?
19 Is concrete mix design approved?
20 Are the vibration tools adequate for the job?
21 Are all preparations made prior to commencing concrete, including adequate
weather protection?
22 Are concrete pouring operations, inspection and tests where required completed
and recorded?
23 Are all inspections and test carried out, recorded and released, including the lab
results?
24 Were any pile extensions requirements approved and satisfactorily carried out?
Accepted Completed By : Date:
Rejected Witnessed By : Date:
(Explain below) (Contractor/Sub Representatives)
Deficiency Description: (What’s wrong and why did it happen?)
Contoh Check List:
Company :
Proyek :
Construction Assessment Checklist
Checklist No: Activity: SURFACE PREPAPARATION/COATING
APPLICATION FOR CONCRETE
Revision: Discipline: Painting
Site/Location : Report No. :
Contractor : Date :
Subcontractor : Component :
Item Action Result
Accepted
Yes No
1 Verify concrete element(s) are fully cured
2 Verify item is clean of oil, grease and dirt.
3 Check paint system to be applied & verify against specification (including color)
4 Check masking of areas not required to be coated (nameplates, machined surfaces
etc)
5 Check surface irregularities like bug holes, honeycomb etc. has been patched
6 Identify stage of application (Primer, Tie-Coat etc) and WFT record.
7 Check & record time since last coat application
8 Verify adequate protection to surrounding areas
9 Check weather conditions, dew point, surface temperature and relative humidity
http://civilandstructure.wordpress.com
44
10 Verify adequate mixing of coatings
11 Check access for restrictions to coating
Accepted Completed By : Date:
Rejected Witnessed By : Date:
(Explain below) (Contractor/Sub Representatives)
Deficiency Description: (What’s wrong and why did it happen?)
http://civilandstructure.wordpress.com
45
PEKERJAAN FIREPROOFING (TAHAN API) DI
KILANG HIDROKARBON ONSHORE
Posted by Thomas Yanuar under Konstruksi, Method Statement (Metoda
Pelaksanaan)
[8] Comments
Pekerjaaan Fireproofing (Tahan Api) dikilang hidrokarbon ini merupakan salah satu
pekerjaan turunan/derivatif yang dilakukan oleh disiplin teknik sipil. Sedikit banyak
berkaitan erat dengan pekerjaan konstruksi struktur baja dan dari derivatif disiplin
mekanikal yaitu pekerjaan Static Equipment.
Dalam artikel kali ini, saya ingin membagi pengalaman dalam menangani pekerjaan
ini termasuk sedikit tinjauan teknis tentang apa dan bagaimana Fireproofing tersebut.
1. TINJAUAN TEKNIS
a. Apa Fireproofing Itu Dan Apa Kegunaannya?
Fireproofing yang dimaksud disini adalah lapisan dominan material sementasi
(cementitious) yang menutupi skirt/saddle (dudukan)/struktur baja penyangga vessel
atau jaringan pipa pembawa dan penyimpan material mudah terbakar (flammable).
Fireproofing dapat digolongkan sebagai tindakan pemadaman pasif.
Kegunaannya? Lapisan fireproofing ini dimaksudkan melindungi dudukan dan
penyangga vessel dan jaringan pipa yang dimaksud dari keruntuhan/kegagalan
fungsional selama terjadi kebakaran hidrokarbon minimal 3 jam. Rating 3 jam ini
sesuai dengan syarat minimum yang disebutkan dalam standar dunia yang diakui yaitu
UL (Underwriters Laboratories) 1709 tentang Rapid Rise Fire Test of Protection
Materials for Structural Steel. Asumsi lamanya minimum perlindungan yang
diinginkan ini lebih banyak berdasarkan faktor waktu perkiraan keruntuhan struktur
penyangga dan waktu evakuasi yang diperlukan terhadap manusia yang bekerja
disekitar area tersebut.
Keruntuhan struktur penyangga ini bisa berujung pada tumpahnya material mudah
terbakar dan atau material beracun dari dalam vessel dan berdampak negatif pada
lingkungan sekitarnya.
Namun sebaliknya, fireproofing material ini juga dapat dipergunakan sebagai
pelindung struktur penyangga tersebut terhadap siraman material dingin. Istilahnya
adalah cold splash protection. Proteksi kondisi dingin yang dimaksud adalah terhadap
kemungkinan gagal patah (fracture failure) struktur dan kerapuhan dasar (severe
embrittlement) disebabkan oleh pembekuan ekstrim mendadak atau lepasnya gas cair
cryogenic ke area sekitar. Cryogenic gas mempunyai suhu minus (-) 190˚ C. Jangan
tanya akibatnya jika terkena bagian tubuh, seketika itu juga bagian tubuh yang terkena
akan pecah berkeping-keping karena rapuh. Rapuh dan pecahnya seperti kalau kita
memecahkan biscuit kering.
b. Kriteria Dasar Aplikasi
http://civilandstructure.wordpress.com
46
Dalam kilang hidrokarbon, tidak semua struktur baja penyangga dan skirt/saddle
harus diberi perlindungan Fire Proofing. Ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi
dalam mempertimbangkan pemakaian Fireproofing ini. Normalnya hanya struktur
yang berada dalam FPZ (Fire Proofing Zone), namun beberapa tipe struktur diluar
FPZ dapat pula diperhitungkan untuk aplikasi FP ini. FPZ itu sendiri dapat diartikan
sebagai kawasan dimana terdapat kemungkinan kebocoran produk flammable yang
dapat memicu suatu kebakaran dalam intensitas dan waktu yang cukup yang berakibat
pada kegagalan struktur baja penyangga.
Area FPZ itu sendiri dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis kebocoran flammable
material seperti dibawah ini:
• Kebakaran Kebocoran Genangan Bahan Cair (Liquid Pool Fire)
Dapat diartikan terbakarnya genangan bahan cair yang terbentuk karena kebocoran
tak terduga produk hidrokarbon. Genangan cair ini dapat terbentuk dari segala produk
hidrokarbon yang berisi Pentana (C5) dan komponen lebih berat, namun juga oleh
Butana (C4) pada temperature dibawah nol. Tambahan lainnya, juga propane (C3) dan
gas cair cryogenic dapat membentuk genangan cair dalam kasus pelepasan tak terduga
atau kondisi kedua bahan ini berdekatan dengan atmosfir titik didih. Misalnya pada
kondisi tekanan lepas dibawah 1 bar (g). Bentuk kebakarannya seperti biasa
kebakaran yang jamak kita lihat.
Di jenis kebakaran ini, FPZ digolongkan berbentuk persegi. Sisi terdampak terjauh
horizontal dari PSL (Potential Source of Leakage) adalah 6 m dan vertikalnya 9 m
diatas Hazard Level (HL).
• Kebakaran Kebocoran Uap/Cairan Bertekanan (Liquid or Vapor Torch Fire).
Diartikan kebakaran dari cairan aerosol/uap bertekanan jet (aerosol liquid jet) yang
disebabkan oleh kebocoran tak terduga dari gas cair /uap bertekanan tinggi. Disebut
juga sebagai kebakaran obor karena bentuknya seperti obor yang sedang terbakar
(mengembang diawal dan mengerucut diujung api). FPZ untuk jenis kebakaran ini
berbentuk bulatan, sekitar 3 m dari PSL.
Nah sekarang coba kita bedah sedikit tentang kriteria dimana FP layak
dipertimbangkan dalam area FPZ:
1. Untuk Struktur Baja Penyangga Equipment/Vessel. FP dapat diaplikasikan pada
suatu kilang atau sistem dengan maksimal cadangan produk flammable yang
dioperasikan lebih dari 5 metrik ton. Atau jika equipment/vessel berisi lebih dari 2
metrik ton flammable produk dengan total berat massa lebih dari 10 metrik ton
(termasuk isiannya), mengandung material beracun atau jika keruntuhan mendadak
dapat mengakibatkan bahaya bagi orang dan kerusakan lingkungan sekitarnya.
Pada struktur baja penyangga Air Coolers. Jika Air Cooler mengandung lebih dari 1
metrik ton produk flammable atau total berat massa termasuk kandungannya lebih
dari 2,5 metrik ton.
http://civilandstructure.wordpress.com
47
Segala bentuk kolom, balok baja, atau bagian lainnya yang didesain untuk menahan
panjang tekuk batang efektif. Tetapi minor struktur seperti tangga, alur jalan
(pathway), anjungan (platform) dan bagian atas struktur yang menyangga pelat
lantai/grating biasanya tidak termasuk dalam aplikasi FP.
2. Struktur Penyangga Pipa/Pipe Support.
Secara terpisah/individual, FP dapat diaplikasikan pada Pipe Support (biasanya
terbuat dari potongan pipa carbon steel) dan struktur baja penyangga pipa jika salah
satu atau lebih dari persyaratan dibawah ini terpenuhi, jika yang disangga adalah:
a. Pipa merupakan rangkaian flare line atau emergency depressurizing vent line.
b. Pipa berisi material beracun.
c. Pipa tersebut tersambung dengan equipment yang dimungkinkan menderita
kerusakan akibat tambahan beban di nozzle jika terjadi kehilangan/lepasnya
pendukung.
d. Pipa dikonstruksikan tepat dibawah Air Cooler dimana struktur baja pendukungnya
(termasuk horizontal members) menerima palikasi FP.
e. Pipa membawa air pemadam kebakaran dan atau utilitas lain yang akan mengurangi
kemampuan pemadaman kebakaran jika terjadi kehilangan/lepasnya pendukung.
f. Pipa merupakan jalur instrument atas atau jalur kendali hidrolik dimana
kerusakannya dapat mengakibatkan terhentinya operasi dari kilang.
3. Bagian struktur Pipe Rack dan Pipe Support dalam posisi horizontal dan vertikal
termasuk lantai pertama jika ketinggian bagian-bagian tersebut kurang dari 9 m.
4. Segala bagian skirt dari vessel jika vessel dengan catatan seperti poin 1 diatas. Jika
terdapat mulut sambungan (flange) pipa diseputaran skirt atau jika terdapat bukaan
tetap dengan diameter lebih dari 600 mm, skirt bagian dalam juga harus dilaksanakan
pekerjaan FP ini.
5. Untuk saddle penyangga horizontal vessel dan heat exchanger, FP dapat
diaplikasikan jika tingginya lebih dari 300 mm.
Lalu apakah struktur baja lain diluar FPZ tidak memerlukan aplikasi FP ini?
Tergantung dimana posisi dan jenis equipment apa yang disangga. Mari kita lihat apa
saja jenisnya:
1. Kolom baja dalam rangkaian penyangga furnace. Bagian yang perlu pengaplikasian
FP hanya sekitar 30 cm dari titik HL (Hazard Level) dibawah bagian struktur yang
paling rendah.
2. Penyangga equipment bertekanan yang berbentuk bulat dan peluru. Kaki-kaki
penyangga/ kolom dan balok serta bagian struktur terkait yang berfungsi mengurangi
panjang tekuk efektif haruslah dilindungi oleh FP.
http://civilandstructure.wordpress.com
48
3. Susunan jembatan Tanki Penyimpan Cryogenic. Rangka utama dari tower baja
yang menyangga pipa dan atau jembatan pipa pada tangki penyimpan cryogenic
haruslah pula dilindungi.
4. Konstruksi baja penyangga didalam area kelompok tangki penyimpan. Pipa baja
penyangga didalam area ini haruslah dilindungi FP penuh dari bawah hingga ke level
tertinggi.
5. Perlindungan terhadap Siraman Dingin. Seperti yang ditulis diatas, FP harus bisa
juga memberikan perlindungan terhadap siraman diingin. Terutama terhadap struktur
baja yang rentan terhadap bahaya kerapuhan akibat efek dingin yang terlepas dari PSL
(Potential Source of Leakage). Ketebalan lapisan FP paling tidak harus mencapai 50
mm. Dan struktur baja yang harus dilindungi berada dalam radius 3 m dari PSl hingga
ke HL.
2. METODA APLIKASI FIREPROOFING
Naah, setelah kita bedah sedikit tentang FP ini, sekarang kita lihat bagaimana
mengaplikasikannya.
a. Material
Material yang dipergunakan tentunya harus memenuhi spesifikasi yang diharuskan
disamping wajib memenuhi persyaratan sesuai Code/Standard. Ada banyak pilihan
dipasaran. Seperti produk dari produsen Grace, Cafco/Primat, Carboline, dan masih
banyak lagi. Secara umum kandungan material dalam lapisan Fireproofing adalah:
• Material bersifat semen (cementitious).
• Wiremesh tersalut plastic dan tergalvanisasi.
• Lapisan Primer.
• Helical Pin/Retention lath.
• Lapisan finishing bersifat kalis terhadap air (water repellent).
b. Peralatan
• Mixer dengan kapasitas output yang diperhitungkan cukup selama pelapisan.
• Mesin penyemprot dengan pisau rotor /flexible stator. Pompa tunggal lebih baik.
Kecepatan normal putaran mesin biasanya dikisaran 100-600 rpm. Tekanan sebaiknya
diset pada 3.5 kg/cm². Berikut selang dan kepala penyemprot. Mesin tambahan adalah
pompa air dan kompresor udara.
• Peralatan pendukung. Seperti self rotated fan (untuk menyalurkan/pertukaran
udara/oksigen selama pelaksanaan pekerjaan didalam skirt. PPE wajib seperti helm,
masker, safety google dan sarung tangan. Termasuk lampu sebagai penerangan
didalam skirt. Untuk penerangan harus mengikuti peraturan safety yang berlaku.
http://civilandstructure.wordpress.com
49
• Scaffolding/perancah untuk pekerjaan diketinggian lebih dari 2 meter.
c. Prosedur Pelaksanaan (termasuk inspeksi QC) di Equipment Skirt, Saddle dan
Struktur Baja Penyangga.
• Terlebih dahulu kita harus melakukan pelatihan dan seleksi manpower yang
dianggap mampu penyemprotan. Tahapan ini disebut Gunner Qualification dan harus
disertifikasi serta dibuktikan dengan mock up oleh tiap gunner yang
direkomendasikan. Gunner dianggap lulus jika secara visual hasil semprotannya
merata, kepadatannya penuh dan massif dan tahu karakteristik jenis material siap
semprot.
• Pembersihan permukaan material induk/substrate wajib dilakukan. Untuk lokasi
internal skirt , pembersihan dapat dilaksanakan setelah lokasi dinyatakan safe dari gas
beracun oleh petugas HSE. Semua jenis kotoran dan lengketan terutama bersifat
minyak harus diangkat dan dilepaskan. Inspeksi permukaan wajib dilakukan.
• Setelah permukaan dinyatakan siap, pemulasan lapisan primer (key coating) bisa
dikerjakan. Biasanya secara manual dengan kuas atau roler. Tujuan utama pemulasan
adalah menghindarkan pengkaratan yang mungkin terjadi akibat reaksi oksidasi antara
permukaan baja dengan material saat material masih basah (mengandung air). Tebal
pemulasan/coating berkisar antara 100 – 150 mikron WFT.
Untuk area yang luas, kompresor dengan sprayer bisa dipakai. Perlu diingat, sebelum
pemulasan dilakukan, perlindungan/tutupan terhadap kepala anchor bolts, pelat nama
(equipment plate names), pipa dan valve serta semua utilitas yang tidak perlu di FP,
haruslah dilakukan. Tutupan sementara ini dapat mempergunakan isolasi kertas.
• Untuk aplikasi di Skirt. Selanjutnya wiremesh digelar beserta helical pin. Pin in
berfungsi untuk menahan posisi wiremesh supaya tidak merapat kepermukaan skirt.
Sebaran helical pin dipertimbangkan sesuai kondisi yang terlihat. Untuk sambungan
di wiremesh, paling tidak 2 kali “plong” atau lubang nya yang di-overlapping.
• Untuk aplikasi di struktur baja, penahan posisi wiremesh biasanya dibuat dari
nut/mur yang dilas kepermukaan baja tersebut (kolom ataupun balok). Sebelum
aplikasi wiremesh, nut/mur tersebut harus dilapisi primer dahulu.
• Jika QC inspector menyatakan kondisi wiremesh di Skirt diterima, maka selanjutnya
adalah menyiapkan campuran material utama dimixer dan instalasi mesin sprayer dan
perlengkapannya. Perlu dicatat perlunya dibuat perlindungan diseputar area kerja
demi kesehatan lingkungan dan menghindarkan cipratan material keequipment lain
atau area sekitar saat disemprotkan. Penyemprotan lapisan biasanya dilakukan 2 kali,
tergantung terhadap ketebalan lapisan FP yang dikehendaki dalam desain/gambar.
Lapisan FP biasanya 50 mm. Lapisan pertama ketebalannya lebih dari yang kedua.
Penyemprotan harus dilaksanakan kontinyu hingga lapisan selesai, permukaan harus
kasar untuk “gigitan”/bonding ke lapisan berikutnya. Setelah selesai, hasil semprotan
didiamkan paling tidak dalam jangka 24 jam untuk memberikan waktu bagi material
membaur sempurna.
http://civilandstructure.wordpress.com
50
Lapisan kedua dapat diaplikasikan setelah permukaan lapisan pertama diperkirakan
cukup kering atau paling tidak damp condition. Disemprotkan hingga mencapai
ketebalan final yang disyaratkan. Gunner yang berpengalaman dan ahli biasanya
hanya dengan visual dapat memperkirakan dimana penyemprotan harus dihentikan
ketika ketebalan tercapai.
Namun dalam halnya semua gunner belum berpengalaman, maka wajib dilakukan
pemeriksaan ketebalan secara berkala selama penyemprotan berlangsung.
1 hal penting yang perlu dilakukan sebelum penyemprotan adalah pengambilan
sample benda uji untuk mengetahui slump guna menghitung density material setelah
dicampur. Jika slump atau density tidak tercapai, maka perlu dilakukan modifikasi
pencampuran komposisi material. Dan pengujian slump tetap harus dilaksanakan
hingga mencapai density yang disyaratkan.
Setelah ketebalan rencana sudah tercapai, maka dilakukan penghalusan/rendering
permukaan, sekaligus berfungsi menutup celah celah yang mungkin masih tertinggal.
• Untuk pelapisan permukaan struktur baja penyangga dan saddle, perlu dipersiapkan
formwork/cetakan yang menyelubunginya. Selubung total untuk kolom dan saddle
sedangkan untuk balok hanya 3 muka. Untuk kolom, perlu diberi chamfer diseluruh
sisi. Selanjutnya material FP dicor kedalam cetakan in-situ tersebut secara kontinyu
dan dibarengi dengan pemadatan/penggetaran.
• Curing untuk lokasi skirt dilaksanakan setelah FP mengeras dengan menggunakan
karung goni dan air, paling tidak selama 3 hari terus menerus. Sedangkan untuk
struktur baja, curing dilakukan setelah formwork dibuka, dengan jangka waktu yang
sama.
• Setelah tahapan curing terlewati, selanjutnya wajib diadakan inspeksi permukaan.
Jika ada damage atau kondisi yang kurang memuaskan namun masih dapat diperbaiki,
maka harus dilakukan segera. Jika dianggap bagus, selanjutnya pada permukaan dapat
dilaksanakan finish coating. Tebalnya finish coat maksimal 200 mikron WFT. Dengan
selesainya finish coating ini dan inspeksi final dari inspektur QC menyatakan hasilnya
tidak bermasalah maka pekerjaan Fireproofing dapat dinyatakan selesai.
Tambahan: Komentar dan tanggapan tentang artikel Fireproofing yang
dipublikasikann dibawah ini diambil dari Milis Migas Indonesia
From amunawir@gmail.com
Komen saya,
Fireproofing itu bukan untuk memadamkan api, tetapi menahan paparan panas
pada temperatur tertentu yang telah dispesifikasikan dalam durasi waktu
tertentu. Sehingga diharapkan major hazard yang teridentifikasi dapat
dimitigasi dengan proteksi ini.
http://civilandstructure.wordpress.com
51
Pemilihan material coating itu sangat tergantung cost dan considering impact
dari penambahan fireproofing tsb terutama di Offshore dimana Bulk of
Material Weight sangat menjadi pertimbangan. Misalnya coating dengan
concrete material saya kira dihindari untuk digunakan pada Offshore Design.
Monggo dilanjutkan diskusinya.
Terima kasih,
Salam,
A Munawir
Betul Pak Munawir,
Fireproofing memang bukan untuk memadamkan api/kebakaran. Tetapi lebih pada
usaha perlindungan terhadap struktur inti penyangga equipment atau pipe support
pada waktu terjadi kebakaran. Sempat saya diskusi dengan beberapa Safety Engineer
diproyek-proyek saya sekarang dan sebelumnya, tentang istilah pemadam pasif
tersebut. Tulisan saya tersebut terbatas untuk aplikasi di Onshore, dimana densitas
satuan material (unit density) tidak menjadi pertimbangan utama.
Terima kasih komennya Pak.
Salam,
Thomas Yanuar P
Ruwais – UAE
From pyusnanto@gmail.com
Pak Munawir & Mas Thomas,
Mohon pencerahannya, bisakah yg dimaksud pemadaman pasif ini salah satunya
adalah menggunakan PFP (Passive Fire Protection). Karena saya pernah melihat
PFP ini dipasang/di lacing pada struktur jacket, ESDV maupun pada pipeline
(atau riser ya ?). PFP ini berupa panel2/lembaran dari bahan khusus
(fireproof) yang disatukan dengan cara dijahit disekeliling pipe/equipment
dan dari segi berat relatif ringan dibanding concrete.
Salam,
http://civilandstructure.wordpress.com
52
Puji
From alfiyansyah@yahoo.com
Pak Thomas,
Thanks atas sharingnya, ijikan saya menambahkan sedikit. Pastilah safety engineer yg
Bapak tanya itu mengerti konsep LOPA dimana di layer ke 6 jika konsep ini
diterapkan maka diperlukan Mechanical/Structure for Post Release Protection or PFP
(passive fire protection).
Sebenarnya ada 3 kategori material fireproofing yaitu :
a. Cementitious based material, sepertinya Pak Thomas banyak pakai yang ini.
b. Ablative materials or non cementitious based material
c. Insulation based material
Selain UL 1709, anda juga dapat merefer ke ASTM E-119 utk mendapatkan
fireproofing yang tahan sampai 4 jam.
Dari ketiga kategori material fireproofing diatas, haruslah dicocokkan dengan fire
envelope dari plant yang anda mau buat sehingga pemakaian fireproofing lebih tepat
dan lebih ekonomis, Pak Thomas sudah menyinggung hal ini dari analisa jenis
kebocoran flammable material di plant tersebut.
Kriteria aplikasi bisa dilihat dari densitas, hardness, compressive strength, thermal
conductivity, flexibility dan coating serta recommended use yang dipersyaratkan oleh
manufacturernya.
Memang aplikasi offshore hal densitas ini menjadi sangat sensitif, rule of thumb utk
offshore adalah memakai material yang UL 1709 atau ASTM E-119 fireproof tetapi
umumnya dibatasi kemampuan sampai 2 jam atau sesuai fire protection philosophy di
design tersebut.
Kemudian instalasi yang mau dilindungi oleh fireproofing haruslah dilihat satu
persatu, apakah itu valves, fire pump, air coolers, dll. Ada satu kasus di tempat saya
dimana disarankan memakai fireproofing namun setelah ditelaah lebih seksama maka
root cause dan akibat dari tumpahan material flammable justru akan mentrigger hal
yang berbeda, terkadang saran dari seorang bule belum tentu tepat dan mungkin
dibuat terburu-buru….So setuju dengan Pak Thomas bahwa kriteria aplikasi dan dan
instalasi fireproofing mestilah dibuat dengan hati-hati sesuai persyaratan project atau
perusahaan tersebut, buatlah flowchart kriteria pemasangan dan aplikasi utk melihat
efektivitas instalasi fireproofing ini.
Thanks & Wassalam,
Alvin Alfiyansyah
http://civilandstructure.wordpress.com
53
CVx – MSW Champion
Pak Puji,
Coated Fireproof Material seperti yang anda sebutkan dan didiskusikan
sebelumnya is one of applicable methode for implementing Passive Fire
Protection (PFP).
Segregation (e.g Safe Distance from Major Hazard, Fire Wall) should be able
to categorized as PFP too.
Salam,
A Munawir
Pak Alvin,
Untuk fireproofing pada pemakaian jenis insulation based material baik di struktur
baja atau bagiannya (seperti equipment shade) maupun static equipment itu sendiri
(khususnya vessel) memang belum saya bahas, karena saya merasa masih kekurangan
bahan untuk diterbitkan sebagai artikel tersendiri.
Tentang flow chart pertimbangan pengaplikasian FP di Plant Onshore, termasuk untuk
penerapan di tipe kebakaran Liquid Pool Fire dan Torch/Vapor Pool Fire, entah
kenapa tidak bisa tampil disitu. saya kan coba upload bagan-bagan untuk lebih
memperjelas sidang pembaca.
Terima kasih komen dan masukannya Pak Alvin.
@Pak Puji,
Saya senada dengan tanggapan Pak Munawir tentang pertanyaan Bapak. Seperti yang
dikomen Pak Munawir sebelumnya, di Offshore sangat dipertimbangkan besaran
beban yang disandang terkait bulk mass density yang akan dipasang.
Salam,
Thomas Yanuar P
Ruwais – UAE
From d_bayin2009@yahoo.com
Mengikuti diskusi Pak Alvin, Pak Yuniar dan Pak Thomas tentang Passive Fire
Protection. Saya sangat tertarik dan ingin gabung.
http://civilandstructure.wordpress.com
54
Saya ada permasalahan begini pak. Bagaimana kalau sebuah pipa sepanjang 6 km
dicoating dengan PE Tape satu layer (Anti corrosion coating). Menurut vendor, satu
layer itu cukup untuk 30 tahun. Pipa tersebut berguna untuk menyalurkan BBM
(Bensin) dan dipasang diatas permukaan rawa dengan penyangga H. Bagaimana kalau
pipa ini mau dipasang fireproofing (PFP) untuk mengantisipasi kebakaran semak
belukar pada musim kemarau. Mohon advice anda semua anggota milis, apakah boleh
pipa yang sudah di-coating tersebut dilapisi lagi dengan Fireproofing pada bagian
luarnya. Lalu jenis fireproofing yang mana yang cocok untuk itu?
Passive Fire Proofing bagi saya sesuatu yang masih baru.
Terima kasih atas info dan advice anda.
Darmawi Bayin – Palembang.
Pak Darma,
Waduh, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan, belum tentu fireproofing tepat
bagi pipeline yang dimaksud. Ada baiknya anda lakukan risk assessment untuk
menentukan pipeline segmen mana yang benar2 terexpose hazards yang dimaksud
(semaknya sering terbakar sendiri atau dibakar orang?), saya yakin jika sepanjang 6
KM mau dipasang fireproofing maka tidak akan efektif, coba deh run cost benefit
analysis untuk memastikannya. Jika memang sering terexpose temperature tinggi
karena kebakaran semak, profilenya seperti apa dari segi operation dan integrity,
apakah masih OK ?
ASME B31.4 dan ASME B31.8S bisa jadi panduan anda untuk melakukan risk
assessment, mungkin juga bisa anda benchmark dengan effectiveness integrity
program pipeline di tempat anda yang saya yakin ini existing pipeline utk melihat
kelayakan pemasangan proteksi selanjutnya jika benar-benar diperlukan.
Biasanya fireproofing dilakukan untuk structure member, support equipment yang
spesifik dan bernilai tinggi dan sangat jarang buat pipeline, coba lihat dahulu di API
2218 utk fireproofing practise di lingkungan petroleum & petrochemical plant.
Pakar pipeline safety silakan menambahkan ya…kita sambung kemudian diskusinya.
Thanks & Warm Regards,
Alvin Alfiyansyah
From roslinormansyah_35@yahoo.co.id
Rekans,
Sekedar nambahi saja API 2218 itu untuk jenis pool fire, bukan jet fire apalagi VCE.
Kalau probabilitas pool-fire lebih besar maka lebih baik API 2218 sebagai guidance-
nya.
Salam K3L
http://civilandstructure.wordpress.com
55
Roslinormansyah
To Err is Human
Menambahkan,
Jika mmng memerlukan Fireproofing sbg Fire protection, tidak hanya pipanya
tp juga supportnya (above ground kan?). Bayangkan jika pipeline-nya tahan
api tp supportnya collaps dan pipeline fallen down and broken then rupture
or leakage.
Bener spt yang disampaikan mas Alvin, di assess dulu lah benefitnya … fire
proofing dgn Epoxy coating material mahal bgt loh…
Salam,
A Munawir
Maaf agak terlambat respon saya Pak Darma.
Memang perlu diadakan studi kelayakan keeekonomian seiring risk/hazard assesment
untuk jaringan pipa sepanjang 6 kilometer itu. Menurut saya, penggunaan
Fireproofing tidaklah harus sepanjang itu. Efektifitas perencanaan penggunaan FP
berdasarkan prediksi tingkat kebahayaan, seperti yang Bapak sampaikan akibat
kebakaran semak pada waktu musim kemarau, mungkin akan lebih tepat guna setelah
assesment dilakukan.
Salam,
Thomas Yanuar P
Ruwais – UAE
http://civilandstructure.wordpress.com
56
PERBAIKAN RETAK STRUKTUR DI
SLAB BETON
Posted by Thomas Yanuar under Beton, Method Statement (Metoda Pelaksanaan)
[48] Comments
Pada konstruksi slab beton yang memiliki luasan cukup besar, sering dijumpai kasus
retaknya permukaan. Jenis retak juga bermacam-macam tergantung penyebab
awalnya. Jika area terekspose oleh panas matahari setelah dicor dan ditambah kurang
baiknya curing, retakan dipermukaan karena susut yang cepat (rapid shrinkage)
kemungkinan besar bisa terjadi. Dan untuk perbaikan retak permukaan karena susut
ini, relatif lebih mudah dan cepat.
Retakan yang terjadi akibat kontraksi beban awal yang diluar perkiraan bisa
dikonotasikan sebagai retakan struktur. Seberapa besar tingkat kebahayaannya dan
metodologi penanganannya, tergantung dari investigasi awal tentang dimensi retak
tersebut. Baik menyangkut kedalaman, lebar, lokasi retakan dan perkiraan sebaran
retakan didalam badan slab tersebut.

Mengambil contoh kasus retakan struktur di top slab yang pernah terjadi di salah satu
konstruksi bangunan Instrument Technical Room (ITR) – 52 di proyek Qatar Gas 2
Onshore, saya ingin berbagi cerita tentang metodologi penanganan kejadian tersebut.
ITR adalah salah satu bangunan yang sangat penting dalam beroperasinya suatu
kilang/Plant. Karena dari dalam gedung ini operator bekerja mengendalikan peralatan-
peralatan kilang dan didalam gedung juga terdapat peralatan instrument yang sangat
mahal, sensitif terhadap temperature, dan rentan terhadap air tentunya. Sehingga,
tidak ada toleransi terhadap kebocoran air dari manapun.
Retakan struktur ditemukan ketika diadakan inspeksi permukaan beton sebelum
pekerjaan pelapisan tahan air (waterproofing job) dillaksanakan. Sebaran retakan
banyak terjadi di jalur pertemuan antara balok utama/main girder dengan plat/slab
beton. Bentuknya memanjang seiring dengan letak main girder, lebar retakan
bervariasi dengan minimum lebar 2 mm dan kedalaman berkisar 30 – 40 mm.
Investigasi awal menyebutkan, retakan terjadi karena turunnya posisi slab didaerah
tengah bentang berawal dari perancah scaffolding yang mengalami penurunan akibat
beban dari beton dan beban ikutan sementara seperti pekerja dan peralatan. Sehingga
terjadi tarik berlebihan dan belum waktunya di joint main girder dengan slab. Dan
berujung pada keretakan didaerah tersebut.
Untuk memastikan sebaran retakan yang mungkin juga terjadi didalam lapisan beton
slab, dilakukan pemeriksaan ultra sonografi. Hasil pemeriksaan memperlihatan ada
bagian-bagian didalam slab yang mengalami kekosongan (void) yang diduga
berkaitan dengan kejadian ini.
Setelah melewati berbagai diskusi dan pertimbangan teknis, dipilih metode
penanganan berupa injeksi low viscosity epoxy resin kedalam slab. Tim kerja memilih
material Nitofill EPLV/Conbextra EP 10 untuk diinjeksi kedalam beton, sedangkan
untuk penutup akhir/sealer digunakan Nitomortar FC.
Tidak ada maksud untuk mempromosikan material tersebut diatas, namun hanya
berdasarkan pertimbangan unjuk kerja material disesuaikan dengan kondisi lapangan
dan tenggat waktu yang harus dipenuhi.
http://civilandstructure.wordpress.com
57
Berikut adalah langkah-langkah injeksi retakan dan penutupan retakan permukaan
dalam Method Statement no MS-846-467 Rev B yang disetujui Tim untuk
dilaksanakan:
(Saya tulis dalam bahasa Inggris)
I. Scope:
This method statement is applicable fro cracks Injection in the Roof Slab of ITR-52
II. Criteria:
Cracks Width more than 0.15 mm should be injected by Nitofill EPLV/Conbextra EP
10 Low Viscosity Epoxy Resin. These are type of material low viscosity epoxy
injection resin system for injecting into cracks in concrete or masonry to form a
permanent strong bond. Cracks should be identified and marked off based on agreed
used cracks maps.
III. Surface Preparation
1. Grind clean an area of about 5 cm wide along the cracks and close the
Cracks with two components, solvent free epoxy putty Nitomortar FC/Nitomortar FC
(B) in a band with of 3 – 4 cm.
2. All sealer coats of Nitomortar FC/Nitomortar FC (B) to be cured continuous and
properly for 8 hours at maximum temperature 35 C.
IV. Injection
1. Drill Ǿ 14 mm holes at an angle on either side of the cracks. The holes to be drilled
at a staggered interval of 200-300 mm (depending upon the width and depth of the
crack) as a stitch format. At an angle to reach the joint at approximately the center of
the structure.
2. Blow/vacuum clean the holes to remove loose material out. Remained loose
material may cause an obstruction the flow of the repair fluid.
3. Fix metal screw packers into the drilled holes. These screw packers are tightened
into the holes to withstand pressure and also to a tool on non return action. Since these
packers are fitted with non return valves and it helps to build up pressure within the
structure and keep it up. The nipples will be fixed at one by one step before injection.
Alternatively, a flat aluminium/plastic packer can also be fixed along the cracks using
epoxy Nitomortar FC putty.
4. Inject a two components, solvent free, low viscosity epoxy resin Nitofill
EPLV/Conbextra EP 10 by means using an electric injection machine through the
packers into the cracks. Injection pressure shall be a minimum of 20 bars.
5. All injection works shall be carried out in the presence of Consultant’s
representative.
6. After the resin has cured sufficiently (minimum 24 hours continuously), remove the
packers and rectify the holes with modified repair mortar inside case of screw
packers.
Selanjutnya dilakukan pengamatan lapangan selama 1 minggu berturut-turut dan tidak
ditemukan munculnya retakan baru di area yang diperbaiki. Pengujian ultra sono grafi
dilakukan kembali untuk memastikan tidak ada void yang tertinggal.
Perlu diingat dan ditekankan bahwa pemakaian kompresor yang menghasillan tekanan
minimum (20 bars) yang disyaratkan pada waktu penginjeksian adalah mutlak.
Dengan tekanan tersebut, memaksa material epoxy resin berjalan dan memenuhi sela-
http://civilandstructure.wordpress.com
58
sela retakan dan void didalam beton.
Bagaimana mengetahui tanda-tanda semua celah dan retakan telah terisi resin?
Secara visual, karena tekanan kompresor, epoxy resin akan muncul ke permukaan
sekitar, hkususnya dari retakan-retakan yang tidak kasat mata bahkan hingga
menyebar diradius yang cukup jauh. Retakan-retakan yang sangat kecil ini biasanya
tidak terdeteksi oleh mata kita pada waktu pemeriksaan awal lapangan.
Setelah tinggal dan mengisi semua celah dan retakan, selanjutnya epoxy resin ini akan
bersenyawa dengan kondisi sekitar dan menghasilkan ikatan yang kuat. Bahkan lebih
kuat dari kuat tekan karakteristik beton 9sebagai rumah induk) itu sendiri. Epoxy resin
ini memiliki kekuatan tekan (compressive strength) 93 N/mm2, kuat tarik (tensile
strength) 26 N/mm2 serta kuat lentur (flexural strength) 63 N/mm2. Semuanya pada
suhu operasi 35 C.
Selanjutnya,di area permukaan slab beton tersebut aman dilaksanakan pekerjaan
berikutnya yaitu roof waterproofing, tanpa ada kekhawatiran kebocoran yang
bersumber dari struktur beton itu sendiri.
http://civilandstructure.wordpress.com
59
STRUKTUR PRE CAST UNTUK PIPE RACK DI
OIL/GAS PLANT
Posted by Thomas Yanuar under Konstruksi
[25] Comments
Tujuan utama dari pemakaian struktur pre-cast untuk Pipe
Rack pada saat konstruksi di proyek-proyek Oil/Gas Plant adalah memangkas waktu
pelaksanaan, pengendalian mutu konstruksi beton terkait, dan berujung pada
penghematan biaya konstruksi.
Ada bermacam-macam teknik pembuatan pre cast beton pipe rack ini, tergantung dari
tingkat pengalaman dan pemahaman kontraktor. Dari beberapa proyek-proyek
Oil/Gas dan Petrokimia/Refinery yang saya ikuti, kontraktor Technip France
mempunyai kepiawaian lebih dari pada yang lainnya.
Perbandingan atas kemampuan kontraktor ini saya ambil dari proyek-proyek yang
saya pernah terlibat langsung didalamnya seperti Qatar Gas 2 (Train 4 dan 5) dengan
kontraktor utamanya adalah Chiyoda Japan dan Technip France, Qatar Gas 3 dan 4
(Train 6 dan 7), Yemen LNG kontraktor utamanya adalah KBR USA, Technip
France, JGC Japan, Tangguh LNG dengan kontraktor utamanya JGC Japan dan KBR
USA, Arun NGL dengan Chiyoda dan Ferrostahl Germany, Borouge 2 Polymer
dengan kontraktor utamanya Tecnicas Reunidas Spain, Samsung Engineering Korea,
Technimont Italy, Linde Germany.

Cerita saya kali ini adalah tentang konstruksi Pre Cast Pipe Rack dan serba serbinya.
Saya rangkum dari konstruksi yang dilakukan oleh Technip France di Qatar Gas 2, 3
dan 4 serta Yemen LNG. Untuk dasar perhitungan struktur rangka termasuk
pemakaian anchor bolt, saya taruh di Folder Perhitungan Struktur.
Gambar dibawah ini adalah contoh Pre Cast Pipe Rack yang sudah didirikan disalah
satu site unit di proyek Qatar Gas 2.
http://civilandstructure.wordpress.com
60

Tahapan-tahapan Precast Concrete Pipe Rack:
I. Persiapan Pekerjaan
http://civilandstructure.wordpress.com
61
1. Cetakan dibuat sesuai gambar rencana bentuk yang memuat ukuran/dimensi (lebar,
panjang dan tinggi), type/jenis berdasarkan peruntukan dan skala prioritas.
Pertimbangan juga diperlukan untuk batas maksimal pemakaian material cetakan
tersebut bagi tipe atau jenis yang sama.
2. Perancah. Dipertimbangkan terhadap bentuk baku pre cast. Contohnya bentuk
kolom yang hanya memuat korbel dan atau plat ikutan (embedded plates) tentu tidak
sama perancahnya dengan kolom yang dicor bersamaan dengan starter bar untuk joint
struktur berikutnya.

Gambar: Contoh Pre cast kolom dengan starter bar dan corbel yang telah dicat.
3. Lokasi. Berdasarkan kemudahan akses dan besaran pre cast yang dibuat termasuk
pertimbangan luas area radius operasi crane disamping formwork untuk loading
keatas truk pengangkut. Khusus untuk crane, perlu dipertimbangkan juga pemakaian
long term. Jika pembuatan pre cast bersifat long term (proyek jangka panjang),
penggunaan gantry crane yang memiliki rel tersendiri tentu lebih efektif.
4. Peralatan pendukung seperti air compressor, vibrator beton (baik penggetar yang
berdiameter normal maupun kecil (needle)), material untuk pelaksanaan curing,
pompa air dan lain sebagainya yang dipandang perlu berdasarkan kondisi lapangan.
II. Penulangan dan Material Terpasang/Ikutan (Embedded Items)
http://civilandstructure.wordpress.com
62
1. Tulangan dan embedded items harus dipasang berdasarkan gambar pelaksanaan
(shop drawing). Embedded items bisa berupa plat baja, anchor bolts maupun pipa
PVC ataupun Galvanized sebagai selongsong untuk kabel-kabel atau sarana lifting
lug. Embedded plates biasanya dipergunakan untuk perletakan pipe shoe, pipes, joint
terhadap steel structure frames, sambungan untuk bracket instrument/electrical.
2. Pada tahapan pemasangan embedded items ini sering ditemui kesulitan karena
rapatnya tulangan besi. Untuk itu diperlukan sinkronisasi perletakan tanpa mengorban
prinsip-prinsip kekuatan struktur sesuai perencanaan/desain. Disini diperlukan
kemampuan engineer lapangan untuk “bermain” berdasarkan pertimbangan teknis
yang tentunya harus dapat dipertanggung jawabkan.
3. Khusus untuk instalasi embedded anchor bolts, banyak hal yang harus
diperhitungkan. Seperti projection length, posisi/orientasi dan keselarasan
(alignment), serta kaitan terhadap pekerjaan selanjutnya seperti pocket dan under base
plate grouting untuk instalasi equipment dan fasilitas struktur pendukungnya.

Contoh gambar installed anchor bolts inside precast.
4. Tahapan perangkaian tulangan (rebars arrangement) dan cetakan, saya ambil
contoh pekerjaan precast kolom yang memiliki tingkat kesulitan lebih seperti gambar
diatas:
a. Tulangan utama (longitudinal main rebars) harus sudah dipotong sesuai panduan
BBS (bar bending schedule) di workshop rebar. Selanjutnya dikirim ke area perancah
dan formwork yang telah ditentukan bersama dengan tulangan lilitan.
b. Karena adanya starter bars arah melintang (cross sectional) yang cukup panjang
sekitar 80 cm, maka cetakan dasar (horizontal) harus mempunyai jarak dengan tanah.
Sehingga perlu dipersiapkan perancah yang cukup tinggi. Disini digunakan blok
beton. Dasar cetakan dan penutup lainnya menggunakan plywood bersalut lapisan
http://civilandstructure.wordpress.com
63
film untuk mendapatkan permukaan beton yang halus dan meminimalisasi penyerapan
air beton. Didasar cetakan itu harus sudah dipasang juga chamferer yaitu pembentuk
sudut tumpul disisi kolom. Bagian-bagian cetakan harus dibuatkan lubang untuk
starter bar (baik vertical maupun horizontal). Untuk menghindarkan kebocoran
(spillage) ketika pengecoran, diperlukan sumbatan yang harus cukup kokoh.
c. Tulangan longitudinal kemudian dirangkai sesuai gambar pelaksanaan, embendded
items dipasang dan diikat kuat supaya tidak bergeser ketika terkena tekanan pada saat
pengecoran. Untuk anchor bolts haruslah dipasang dengan memakai template. Selimut
beton (concrete cover) harus dipasang secukupnya.
d. Setelah tulangan sekunder/tulangan lilitan dipasang dan diikat kuat, baru penutup
cetakan (vertical) kedua sisi dipasang dengan chamferer sudah terpaku. Selimut beton
dipasang untuk memastikan jarak dari tulangan ke sisi terluar dapat terjaga.
e. Pengecoran siap dilakukan dan selanjutnya setelah beton mengeras adalah tahapan
membuka formwork (dismantling) dan curing.
5. Setelah tahapan curing selesai, selanjutnya dilakukan pekerjaan finishing dan touch
up. Finishing mencakup penghalusan permukaan yang akan diekspos (bisa disebut
sebagai rendering), pengkasaran permukaan yang berhubungan dengan pekerjaan
beton sambungannya dan grouting. Selanjutnya untuk permukaan yang
dihaluskan/rendered dilakukan pelapisan dan pengecatan (coating and painting).

Contoh gambar pengkasaran permukaan dan rendering/penghalusan.
http://civilandstructure.wordpress.com
64
III. Ereksi Di Lokasi/Site.
1. Precast yang telah lolos pemeriksaan kendali mutu (Quality Control Passed)
selanjutnya dikirim kelokasi peruntukannya. Diproyek QG 2, 3 dan 4, sistem
installasinya menggunakan pin down system. Yaitu dimana pondasi yang telah
disiapkan bersama dengan “rumah” precast kolom. “Rumah” yang dimaksud adalah
semacam concrete box yang berbentuk sama dengan kolom dengan rongga/sleeve
yang lebih lebar. Selisih jarak dimaksudkan untuk memberikan toleransi perletakan
dan juga pengisian grouting setelah kolom dinyatakan fix dan settle oleh surveyor.
2. Perlu diingat dalam mendirikan kolom, arah orientasi kolom haruslah benar. Hal ini
berkaitan dengan arah sambungan balok/girder/moment beam dimana starter bars dan
corbel sudah dicor dikolom tersebut.
3. Setelah temporary anchoring (perkuatan sementara) terhadap kolom dilakukan,
selanjutanya dilakukan grouting. Hal yang perlu dilakukan sebelum grouting dan
ereksi kolom adalah, pembasahan/wetting dengan air (water soaking) diarea bagian
dalam “rumah” kolom minimal 24 jam sebelumnya secara kontinyu.
4. Kemudian dilakukan grouting disisa jarak antara kolom dengan dinding dalam
“rumah’ dengan kolom terpasang. Grouting dilakukan dengan menggunakan non
shrink type. Karena grouting type ini rentan terhadap panas, maka curing harus
dilakukan benar-benar sesuai petunjuk pabrikan (manufacturer standard).
Aktualisasinya biasanya dilakukan selama 72 jam. Setelah itu, ereksi dapat dinyakan
selesai.
Untuk lebih detail dalam ereksi kolom precast, silahkan dilihat di Folder Method
Statement.

Contoh gambar unfinished pre cast.
http://civilandstructure.wordpress.com
65


Contoh-contoh gambar erected pre cast structures.
http://civilandstructure.wordpress.com
66
Beton Anti Retak
Posted by Thomas Yanuar under Beton
[12] Comments
Test…
artikel diambil dari Kompas.com, hari Rabu 6 May 2009

Masalah keretakan pada jalan atau jembatan beton yang sering terjadi jika ada gempa
bumi mungkin teratasi dengan material baru yang dikembangkan para peneliti di
Universitas Michigan, AS. Material tersebut tidak hanya membuat jalan beton lebih
tahan tekanan namun juga anti-retak.
Bahan beton yang dicampur komposit itu menjadi lebih fleksibel. Saat mendapat
tekanan yang tinggi, ia mampu melengkung tanpa mengalami keretakan. Kalaupun
tejadi, retakannya akan berbentuk garis dan akan pulih dalam waktu singkat hanya
dengan doguyur air, termasuk hujan misalnya.

Hal tersebut dapat terjadi karena material kering di bagian yang retak akan bereaksi
dengan air hujan dan karbon dioksida dari udara. Reaksi tersebut membentuk kalsium
karbonat, senyawa keras yang secara alami biasa ditemukan pada cangkang kerang.
“Material fleksibel ini akan kembali sekuat awalnya setelah dipulihkan,” ujar Victor
Li, salah satu anggota tim pembuatnya. Ia dan timnya telah 5 tahun melakukan riset
beton fleksibel itu dan beberapa sudah digunakan.
Material sejenis sudah dipakai pada kerangka bangunan tertinggi di Osaka, Jepang.
Selain itu, beton fleksibel juga sudah dipakai pada jembatan di Interstate 94 Michigan
yang dibangun tahun 2006.
Meski demikian, harga beton felsiibel masih tiga kali lipat harga beton standar.
Namun, karena lebih tahan tekanan dan getaran, pengembang bisa lebih hemat karena
tak perlu memasang alat pendeteksi getaran seismik di sepanjang struktur.
http://civilandstructure.wordpress.com
67
“Penggunaan material ini akan menghemat dalam jangka panjang karena mengurangi
ongkos perawatan,” ujar Li.
http://civilandstructure.wordpress.com
68
Heavy Lifting Vessel 24-C0201, QG2 TR-4
Process Area
Posted by Thomas Yanuar under Heavy Lifting & Rigging, Konstruksi | Tag: Heavy
Lifting & Rigging, Konstruksi |
[20] Comments
Departemen Heavy Lifting & Rigging memegang peranan penting dalam
meletakkan dan memposisikan peralatan (Equipment) dalam membangun Plant baik itu Onshore
maupun Offshore. Berikut ditampilkan salah satu serial peletakan Tower Vessel 24 C0201 di Qatar Gas
2 Project, persisnya di Train 4 Process Area. Tower terberat ini mempunyai bobot 1450 ton dan di
berdirikan (erected) dengan 1 Stationed Heavy Crane kapasitas 3000 ton sebagai Crane pengangkat
utama dan 1 Crawler Crane kapasitas 1600 ton sebagai pendukung.



http://civilandstructure.wordpress.com
69


http://civilandstructure.wordpress.com
70


http://civilandstructure.wordpress.com
71


1.0 GENERAL
1.1 Scope ----------------------------------------------------------------------------------------
1.2 Definitions ----------------------------------------------------------------------------------------
2.0 REFERENCE CODES, STANDARD AND PROJECT DOCUMENTS
2.1 Industry Codes and Standards ------------------------------------------------------------------
2.2 Company References ------------------------------------------------------------------
2.3 Saudi Arabian Standard Organization ------------------------------------------------------------------
2.4 Project Documents ------------------------------------------------------------------
2.5 Reference Document ------------------------------------------------------------------
3.0 MATERIALS AND UNITS
3.1 Materials ----------------------------------------------------------------------------------
3.2 Units of Measurements ----------------------------------------------------------------------------------
4.0 DYNAMIC FOUNDATION REQUIREMENTS
4.1 Foundation Grouping for Vibrating Machinery -------------------------------------------------------
4.2 General Design Requirements -------------------------------------------------------
5.0 BLOWER FOUNDATION
5.1 General Sketch -----------------------------------------------------------------------
5.2 The Soil and Foundation Paramete-----------------------------------------------------------------------
5.3 Foundation Data -----------------------------------------------------------------------
5.4 Equipment Data -----------------------------------------------------------------------
5.5 Machine Data -----------------------------------------------------------------------
0
0
0
0
0
0
PAGE
0
0
0
TABLE OF CONTENTS
DECRIPTION
0
0
0
0
0
0
0
6.0 CHECK FOR BLOWER FOUNDATION DESIGN
6.1 The Mass Ratio of Blower Foundation -------------------------------------------------------
6.2 The Minumum Thickness of Concrete Foundati -------------------------------------------------------
6.3 The Width of Concrete Foundation -------------------------------------------------------
6.4 Allowable Soil Bearing Pressure -------------------------------------------------------
6.5 Allowable Eccentricities for Concrete Foundatio-------------------------------------------------------
6.6 Rebar Check -------------------------------------------------------
ATTACHMENT (1)- Dynamic Analysis
ATTACHMENT (2)- Engineering Data
0
0
0
0
0
0
1.0 GENERAL
1.1 Scope
1.2 Definitions
Project :
Company : SATORP(Saudi Aramco Total Refining and Petrochemical Company)
Contractor :
Location : Industrial Site of Jubail 2, The West Coast of Arabian Gulf, Saudi
2.0 REFERENCE CODES, STANDARD AND PROJECT DOCUMENTS
2.1 Industry Codes and Standards
ACI-318-02 Building Code Requirements for Reinforced Concrete
Minimum Design Loads for Buildings and Other Structures
2.2 Company References
JERES-M-001 Civil and Structural Design Criteria
JERES-Q-001 Criteria for Design and Construction of Concrete Structures
JERES-Q-005 Concrete Foundations
JERES-Q-007 Foundations and Supporting Structure for Heavy Machinery
JERES-Q-010 Cement Based, Non-Shrink Grout for Structural and Equipment Grouting
JERES-Q-011 Epoxy Grout for Machinery Support
JERMS-H-9106 Epoxy Coating of Steel Reinforcing Bars
2.3 Saudi Arabian Standard Organization
SASSO SSA 2 Steel Bars for the Reinfocement of Concrete
SASSO SSA 224 Steel Fabric for Reinforcement of Concrete
This calculation report is relevant to the design of C.A.BLOWER Foundation (551-B-1001/2001/3001/4001)
ASCE 7-05
2.4 Project Documents
SA-JER-PUAAA-SKEC-468002 Design Criteria for Civil and Structure
SA-JER-PUAAA-SKEC-588001 Geotechnical Investigation Report
SA-JER-PUAAA-SKEC-468001 Geotechnical & Foundation Design Basis
2.5 Reference Document
Design of Structures and Foundations for Vibrating Machines by Suresh C. Arya
3.0 MATERIALS AND UNITS
3.1 Materials
3.1.1 Concrete
- Cement
1) Below Grade (up to 150 mm above grade)
Type - V Portland cement (JERES-Q-001 and ASTM 150) or
Type - I Portland cement (JERES-Q-001 and ASTM 150) + Silica Fume 7%
2) Above Grade (from 150 mm above grade)
Type - I Portland cement (JERES-Q-001 and ASTM 150)
- Specified Compressive Cylinder Strength at 28 Days
1) f'
c
= 35 Mpa for basins and water retaining structures
2) f'
c
= 28 Mpa for foundations, walls and pavings
- Unit Weight for Reinforced Concrete
1) W
c
= 24 kN/m³
- Modulus of elasticity
1) E
c
= (f'c = 28 Mpa)
2) E
c
= (f'c = 35 Mpa)
24800 Mpa
27800 Mpa
3.1.2 Reinforcing Bar
1) Reinforcing steel bars shall conform to SASO SSA 2, hot-rolled, high tensile, deformed steel.
2) Characteristic Strength (ACI 318M)
= 422 Mpa
3) Modulus of Elasticity
- E
s
= 200,000 Mpa
3.1.3 Anchor Bolt
1) Threaded Anchor Bolts : ASTM A36/A36M or ASTM F1554, Gr. 36
- Headed Bolts : ASTM A307 Grade A
- Washers : ASTM F436/F436M
- Nuts : ASTM A563 Grade A, Heavy Hex or ASTM A 563M
2) High Strength Anchor Bolts
- Anchor Bolts : ASTM A193/A193M Gr. B7 or ASTM F1554, Gr. 105
- Washers : ASTM F436/F436M
- Heavy Hex Nuts : ASTM A194/A194M or ASTM A563, DH
3) Min. Anchor Bolt Diameter : 20 mm
4) For Corrosion Allowance : Anchor Bolt Diameter + 3 mm.
3.1.4 Grout for Machinery Support
When type of grout is not specified by the equiment Manufacturer,
cenmentitious grout shall be used for any of the following
1) Non-Shrink Grout for Structural and Equipment
- Equipment with driver horsepower < 500 (373 kW)
- RPM of Equipment < 3600 RPM
- Total weight of Equipment < 2270 kg
2) Epoxy Grout for Machinery Support
- Equipment with driver horsepower ุ 500 (373 kW)
- RPM of Equipment ุ 3600 RPM
- Total weight of Equipment ุ 2270 kg
- f
y
3.2 Units of Measurements
The Metric units shall be used :
- Force : kN
- Length : meter
- Temperature : Degree centigrade
4.0 PUMP FOUNDATION DESIGN ASSUMPTION
4.1 Foundation Grouping for Vibrating Machinery
4.1.1 Centrifugal Rotating Machinery
1) Horsepower ุ 500 The foundatiom shall be designed for the expected
dynamic forces using dynamic analysis procedures
2) Horsepwoer < 500 The foundation weight shall be 3 times the total machinery weight
4.2 General Design Requirements
4.2.1 Clean, simple outlines shall be used for foundations. Beams and columns shall be of
a uniform rectangular shape. Block foundations should be rectangular.
4.2.2 The height of the machine support above grade shall be the minimum to accommodate
suction and discharge piping arrangements.
4.2.3 The minimum thickness of the concrete foundations
- 0.60 + L / 30 (meters)
Where, L = Length of foundation parallel to the machine bearing axis in meters
ITEMS
551-B-1001/2001/3001/4001
UNIT FDN. TYPE
MACHINE
TYPE
RATING
(JERES-Q-007 Section 5.1.1)
POWER
DYNAMIC
ANALYSIS
1587 HP YES UNIT 551 Rigid Block Rotating 1167 kW
4.2.4 The width of the foundation
- B ุ 1.5 × Vertical distance from the base to the machine centerline
Where, B = Width of foundation in meters
4.2.5 For deformed bars
1) The reinforcement in each direction shall not be less than 0.0018 times
the gross area perpendicular to the direction of reinforcement
2) Minimum tie size in pers shall be 12 mm
4.2.6 Allowable Eccentricities for Concrete Foundations with Horizontal Shaft Machinery
1) The horizontal perpendicular to the machine bearing axis, between of gravity of
the machine foundation system and the centroid of the cosil contact area ( < 0.05 × B)
2) The horizontal parallel to the machine bearing axis, between of gravity of
the machine foundation system and the centroid of the cosil contact area ( < 0.05 × L)
4.2.7 Allowable Soil Bearing Pressures
1) For High-tuned foundatio: Soil bearing pressures shall not exceed 50% of
the allowable bearing pressure permitted for static loads
2) For Low-tuned foundatio: Soil bearing pressures shall not exceed 75% of
the allowable bearing pressure permitted for static loads
Where,
High-tuned System = A high-tuned system is a machine support/foundation system
in which the operating frequency (range) of the machinery is below
all natural frequencies of the system
Low-tuned System = A low-tuned system is a machine support/foundation system
in which the operating frequenct (range) of the machinery is above
all natural frequencies of the system
4.2.8 Permissible Frequency Ratios
To avoid the danger of excessive vibration, the ratio between the operating frequency of the machi
f, and each natural frequency of the machine foundation system, f(n) shall not lie in the range of
0.7 to 1.3.
4.2.9 Permissible Vibration
If Manufacturer's vibration criteria are not available, the maximum velocity of movement
during steady-state normal operation shall be limited to 0.12 inch per second for centrifugal machi
5.0 BLOWER FOUNDATION (551-B-1001/2001/3001/4001)
5.1 General Sketch
Combined C.G
X direction
Y direction
C.G of Machine
[ unit : m ]
200
Z direction G.L
X direction [ unit : m ]
1.406
0
.
0
0
0

3.000
3.000
P L A N
1.945
0.000
1
0
.
0
0
0

TOG EL.+100,
3.645
1.784
0.294
5
.
3
4
6

1.443
1
0
.
0
0
0

0.000
5
.
0
6
9

1.216
A
X
I
S

O
F

R
O
C
K
I
N
G
0
.
0
0
0

3.550
S E C T I O N
1.850
0.200
1.000
0.500
5.2 The Soil and Foundation Parameters
Allowable Soil Beraing
Shear Modulus, G
Soil Internal damping Ratio
Poisson's Ratio, ȣ
Unit Weight (Soil)
Unit Weight (Con'c)
5.3 Foundation Data
Height (h)
Thickness of Grout
5.4 Equipment Data
=
=
=
=
=
5.5 Machine Data
(1) For values for Equipment
R.P.M F
Rotor Weight
Unbalanced Force
ton
C.A.BLOWER - 2242
C.A.BLOWER - 3.670
C.A.BLOWER - 0.072
ton
rpm
ton
MOTOR - 1490
m
m
0.040
17.000
m
kN/mt
0.321
Pedestal Height (PH)
rpm
kN
m
m
Weight of Motor (W
m
)
1.200
0.025
m
25.506
0.500
ton
ton
ton 6.000
m
304.110 kN
kN
kN
58.860 kN
200.000
24.000
82579.233
kN/mt
Item No.
Footing Width (FL)
551-B-1001/2001/3001/4001
m
kN/mu
kN/mu
3.000
ton
Ground Level (G.L.)
Footing Length (FB)
Footing Height (FH)
Pedestal Width (PL)
Pedestal Length (PB)
Weight of C.A.BLOWER (W
c
) 127.530
92.214
Total Weight (W
t
) 31.000 ton
Weight of Base Plate (W
b
)
Weight of Silencer (W
s
)
ton
10.000
3.000
0.200
1.700
m 10.000
13.000
2.600
9.400
(2) For dimensions of Equipment & Foundation
C.G from machines bottom to Machine center
C.G of Shaft from machines bottom (C.G
shaft
)
C.G from Pedestal Edge to Machine Center (X-direction) (E
dx
)
C.G from Pedestal Edge to Machine Center (Y-direction) (E
dy
)
6.0 CHECK FOR BLOWER FOUNDATION DESIGN
6.1 The Mass Ratio of Blower Foundation
(1) Foundation Weight Pedestal (W
cp)
Footing (W
cf
)
= [(FL × FB × FH) + (PL × PB × PH)] × Unit Weight (Con'c)
= [(3.000 m × 10.000 m × 0.500 m) + (3.000 m × 10.000 m × 1.200 m)] × 24.000
= kN
(2) Machine Weight
= Weight of Blower + Weight of Motor + Weight of Base Plate + Weight of Silencer
= 127.530 + 92.214 + 25.506 + 58.860
= kN
(3) Mass Ratio
= / >
= / >
= >
6.2 The Minumum Thickness of Concrete Foundation
- Thickness (= FH + PH) ุ0.6 + FB / 30 (m)
0.933
OK!!
W
c
360.000 kN
OK!!
0.6 + FB / 30 (m) Length ( = FB)
(m)
Thickness ( = FH + PH)
(m)
1.700
3.0
864.000 kN
Item No.
551-B-1001/2001/3001/4001 10.000
(m)
3.0
4.025
R
304.110
W
m
1.850
3.0
W
c
m
m
m
1.945 m
5.346
W
m
304.110
1224.000
1224.000
1.216
6.3 The Width of Concrete Foundation
- FL ุ 1.5 × Vertical Distance from The Base to the Machine Centerline
6.4 Allowable Soil Bearing Pressure (Static)
[kN/mt]
= 1,528.110 / 30.000
= kN/mt
Where,
= × [kN/mt]
= 0.750 × 200.000
= kN/m²
= Allowable soil capacity for static case.
= kN/m²
= + [kN]
= 1,224.000 + 304.110
= kN
= 0.25 W
m
× (FH + PH + G.L[kN-m]
= 0.250 × 304.110 × (0.500 + 1.200 + 1.850)
= kN-m
= FB × FL [mt]
= 10.000 × 3.000
= mt
OK!!
OK!!
1.5 × C.G
2.775
Q
Item No.
Q = 0.750 × Qa
(kN/m²)
Q =
W
t
Area
551-B-1001/2001/3001/4001 50.937
551-B-1001/2001/3001/4001
150.000
269.898
(kN/m²)
Length ( = FL)
(m)
Item No.
(m)
A
30.000
3.000
150.000
1528.110
50.937
W
m
Q
as
M
x
Q
a
0.750
W
t
200.000
Q
as
W
c
(JERES-Q-007 Section 9.3)
Low-tuned Foundations
6.5 Allowable Eccentricities for Concrete Foundations
= + = kN
= [(304.110 × 1.216) + (864.000 × 1.500) + (360.000 × 1.500)] / 1,528.110 = m
Eccentricity(X-dir) = (1.500 - 1.443) ×100 / 3.00 = < %
= [(304.110 × 5.346) + (864.000 × 5.000) + (360.000 × 5.000)] / 1,528.110 = m
Eccentricity(Y-dir) = (5.000 - 5.069) ×100 / 10.0 = < %
= [(304.110 × 3.645) + (864.000 × 1.100) + (360.000 × 0.250)] / 1,528.110 = m
6.6 Rebar Check
a = @ 200
c = @ 200
b = @ 200
5.069
1.443
1.884
OK!!
5.000
Y'
W
t
1528.110 W
c
X'
a (mmt c b Top (mmt) Bottom (mmt)
Rebar Dia.
W
m
Z' 1.406
D20 D20 D12 1350.000
Use A
S
5.000
OK!!
Req'd A
S
= 0.0018 × b × (H / 2)
OK!!
1350.000 5024.000
0.689
Item No.
551-B-1001/2001/3001/4001
"Dynamic Analysis.xls"
Job Name: Subject:
Job Number: Originator: TYP Checker:
1.0 Machine Data
Blower Blower =
Motor Motor =
Unbalanced Force
Blower = Motor =
Moment by U.F
Blower = Motor =
1.1 Centrifugal Force (F
o
)
1) F
0
= (W
r
/ g) × e × w² = (W
r
/ g) × e × w²
= 64,750.000 / 981.0 × 0.00588 × 234.78 = 0.000 / 981.0 × 0.00721 × 234.780²
= N = N
= kN = kN
Where,
g = cm/sec² = cm/sec²
w = (RPM × 2 × ˭ / 60) = (RPM × 2 × ˭ / 60)
= 2,242 × 2 × ʌ / 60 = 1,490 × 2 × ʌ / 60
= rad/sec = rad/sec
e = Į × (12000 / RPM) × 0.0025 (cm) = Į × (12000 / RPM) × 0.0 (cm)
(Maximum) = Į × (12000 / RPM) (mil) = Į × (12000 / RPM) (mil)
= 1.000 × (12000 / 2,242) = 1.000 × (12000 / 1,490)
= (mil) = (mil)
= cm = cm
Weight of Rotor of Blower Weight of Rotor of Motor
W
r
= 1.000 = 0.000
= ton = ton
= kN = kN
W
c
= Weight of C.A.BLOWER = 13.000 ton = kN
W
m
= Weight of Motor = 9.400 ton = kN
W
b
= Weight of Base Plate = 2.600 ton = kN
W
s
= Weight of Silencer = 6.000 ton = kN
2) F
0
= Factor × W × (rpm / 1000)
1.5
= Factor × W × (rpm / 1000)
1.5
= 0.001 × 600.408 × (2242 / 1000)^1 = 0.001 × 0.000 × (1490 / 1000)^1.5
= kN = kN
= ton = ton
R.P.M Rotor Weight
0.405 ton
0.600 ton
0.000 ton
For Motor
0.205
0.000
For Motor
0.205
0.000
92.214
25.506
0.000
For Blower
981
234.780
2.314
1490 rpm
For Blower
234.780
0.000 ton
DYNAMIC ANALYSIS
Design of Structures and Foundations for Vibrating Machines
981
64.750
For Block Foundation (Centrifugal Machinery)
127.530
58.860
2.016
1.000 (mil)
2.838
0.000
0.000
0.00721
2242 rpm
21384.054
21.384
0.00588
6.600
1.437 ton-m 0.000 ton-m
(W
c(rotor)
+ W
s
) × (W
m(rotor)
) ×
"Dynamic Analysis.xls"
Where,
Factor = 0.001 for SI units W = Total mass of the rotating
= 0.1 for imperial units FD = Steady state dynamic force
3) F
0
= kg = kg
= ton = ton
= kN = kN
Vertical Dynamic Force kN
kN
kN
Horizontal Dynamic Force kN
kN
kN
Rocking Dynamic moment [Verti. Force
(blower)
]× (From Base to C.G) = F
V(blower)
× (h + C.G.
[3.970]× (1.700 + 1.850)
kN-m
[Verti. Force
(motor)
]× (From Base to C.G) = F
V(motor)
× (h + C.G.)
[0.000]× (1.700 + 1.850)
kN-m
1.2 Calculation of center of gravity of machine & fdn.
W
p
= =
W
m
= =
W
b
= =
W
w
= =
W
E
= = W
E
/ g kN-sec²/m
W
cp
= = W
cp
/ g kN-sec²/m
W
cb
= = W
cb
/ g kN-sec²/m
W
F
= = W
F
/ g kN-sec²/m
W = = W / g kN-sec²/m
I
o
= I (Machine) + I (Foundation)
= W
e

M
+ ෤ [W
F
/ 12 (a²
i
+ b²
i
) + W
F

Fi
]
= [31.000 × (1.700 + 1.945)²] + [(88.073) / 12 × (3.000² + 1.200²)]
+ [(88.073) × (0.600 + 0.500)²] + [(36.697) / 12 × (3.000² + 0.500²)] + [(36.697) × (0.250)²]
= kN-m²
F
v(motor)
=
F
h(blower)
=
F
h(motor)
=
3.970
0.000
3.970 F
v(blower + motor)
=
M
r(blower)
=
= 88.073
= 36.697
= 155.771
= 124.771
13.000 ton
9.400 ton
2.600 ton
6.000 ton
3.970
Apply for ĺ 3) Fɨ
For Blower For Motor
31.000 ton
124.771 ton
88.073 ton
14.094
0.405
3.970
360.000 kN
58.860 kN
F
h(blower + motor)
=
92.214 kN
M
r(motor)
=
0.000
F
v(blower)
=
0.000
3.970
36.697 ton
404.689
1224.000 kN
25.506 kN
1528.110 kN
864.000 kN
127.530 kN
304.110 kN
155.771 ton
625.640
= 31.000
"Dynamic Analysis.xls"
Where,
W
E
= Total Machine Weight
W
F
= Foundation Weight
W = Total Static Load (Total Machine Weight + Foundation Weight)
g = cm/sec²
I
o
= SUM [m
i
(A
i
² + B
i
²) / 12 + m
i
K
i
²]
1.3 Coefficients B
v
, B
h
, and B
r
for Rectangular Footings
L = 3.000 m
B = 10.000 m
Coefficents ȕ
v
, ȕ
h
and ȕ
r
for rectangular footings
2.0 Vertical Excitation Analysis
2.1 Spring Constant
(1) Equivalent radius (r
0v
) for Rectangular Foundation
r
ov
=
(FB × FL / ʌ)
= m
(2) Embedment factor for Spring Constant
Effective Embedment height
Ș
v
= 1 + 0.6 × (1 - ȣ) × (h / r
ov
) = Height(h) - Ground Level(G.L.)
= 1 + 0.6 × (1 - 0.321) × (1.500 / 3.090) = 1.700 - 0.200
= = 1.500
(3) Spring Constant Coefficient
ȕ
v
=
L / B
0.300 Roking (ȕ
r
)
0.300
2.150
981.000
1.198
3.090
2.150
ʌ
=
10.000 × 3.000
Horizontal (ȕ
h
) 1.017
0.408
0.300
Coefficients
Vertical (ȕ
v
)
A
X
I
S
O
F
R
O
C
K
I
N
G
L
B
B
L
ȕ
ȕ
L/B
ȕ
"Dynamic Analysis.xls"
(4) Equivalent Spring Constant for Rectangular Foundation
K
v
= G / (1 - ȣ) × ˟
v
× FB × FL × Ș
v
= kN/m
2.2 Damping Ratio
(1) Effect of Depth of Embedment on Damping Ratio
Į
v
= [1 + 1.9 (1 - ȣ) × h / r
ov
] / Ș
v
= [1 + 1.9 × (1 - 0.321) × 1.500 / 3.090] / 1.198
=
(2) Mass Ratio
B
v
= (1 - ȣ) / 4 × W / (Ȗ × r
ov
³)
=
(3) Effective Damping Coefficient
This is not available for Vertical Mode
(4) Geometrical Damping Ratio
D
v
= 0.425 / B
v
× Į
v
= 0.425 / 0.517 × 1.486
=
(5) Internal Damping
D
vi
=
(6) Total Damping Ratio
D
vt
=
=
=
155.771
Consider the Internal Damping
1 - 0.321
=
×
D
v
+ D
vi
(1 - 0.321)
0.040
=
1715667.000
1.486
1.733 × 3.090³
10.000 × 3.000 × 1.198
0.918
82579.233
2.150
0.878 + 0.040
0.878
×
4
0.517
×
"Dynamic Analysis.xls"
2.3 Frequency Check
(1) Natural Frequency
F
nv
= 60 / (2 × ʌ) × ( K
v
/ m)
= 60 / (2 × ʌ) × (1,715,667.000 / 155.771)
= rpm
(2) Resonance Frequency (rpm)
F
rv
= F
nv
× [1 - (2 × D
vt
²)]
= 1,002.178 × [1 - ( 2 × 0.918²)]
ง 2 × D
vt
²
= 2 × 0.918²
= 1.685 > 1.00
(3) Frequency Ratio (JERES-Q-007, Section 10.1)
When f / f(n) < 0.7, f / f(n) > 1.3, O.K!!!
= =

(4) Magnification Factor
For Blower
M
v(blower)
= 1 / (1 - r
v(blower)
²)² + (2 D
vt
× r
v(blower)

= 1 / (1 - 2.237²)² + (2 × 0.918 × 2.237)² =
= < 1.500
For Motor
M
v(motor)
= 1 / (1 - r
v(motor)
²)² + (2 D
vt
× r
v(motor)

= 1 / (1 - 1.487²)² + (2 × 0.918 × 1.487)² =
= < 1.500
For Blower For Motor
r
v(motor)
=
=
0.335
0.335 OK!!!
f
v(motor)
2242.000
F
nv
1490.000
0.174
1.487
OK!!!
RESONANCE NOT POSSIBLE!!! (There is no need to analysis Vibration)
= r
v(blower)
0.174
=
1002.178
f
v(blower)
1002.178
2.237
Not Apply
1002.178
OK!!!
F
nv
OK!!!
"Dynamic Analysis.xls"
(5) Transmissibility Factor
For Blower
T
v(blower)
= M
v(blower)
× 1 + (2 D
vt
× r
v

= 0.174 × 1+ (2 × 0.918 × 2.237)²
=
For Motor
T
v(motor)
= M
v(motor)
× 1 + (2 D
vt
× r
v

= 0.335 × 1+ (2 × 0.918 × 1.487)²
=
(6) Vibration Amplitude
For Blower
(For the normal operating speed - 2242 rpm) (For the normal operating speed - 1490 rpm)
V
(blower)
= M
v(blower)
× F
v(blower)
/ K
v
V
rocking(blower)
= R
(blower)
× (FL / 2)
= 0.0000005 × (3.000 / 2)
= m = m
For Motor
(For the normal operating speed - 2242 rpm) (For the normal operating speed - 1490 rpm)
V
(motor)
= M
v(motor)
× F
v(motor)
/ K
v
V
rocking(motor)
= R
(motor)
× (FL / 2)
= 0.0000000 × (3.000 / 2)
= m = m
Total Vertical Amplitude
V
total
= V
(blower)
+ V
rocking(blower)
+ V
(motor)
+ V
rocking(motor)
= m
=
7.714E-07
0.000E+00
0.335 × 0.000
0.736
1715667.000
4.026E-07
=
1715667.000
0.000E+00
1.174E-06
0.974
0.174 × 3.970
"Dynamic Analysis.xls"
3.0 Horizontal Excitation Analysis
3.1 Spring Constant
(1) Equivalent radius (r
0h
) for Rectangular Foundation
r
oh
= (FB × FL / ʌ)
= m
(2) Emebedment factor for Spring Constant
Effective Embedment height
Ș
h
= 1 + 0.55 × (2 - ȣ) × (h / r
oh
) = Height(h) - Ground Level(G.L.)
= 1 + 0.55 × (2 - 0.321) × (1.500 / 3.090) = 1.700 - 0.200
= = 1.500
(3) Spring Constant Coefficient
ȕ
h
=
(4) Equiavelent Spring Constant for Rectangular Foundation
K
h
= 2 × (1 + ȣ) × G × ȕ
h
× FB × FL × Ș
h
= 2 × (1 + 0.321) × 82,579.233 × 1.017 × 10.000 × 3.000 × 1.448
= kN/m
3.2 Damping Ratio
(1) Effect of Depth of Embedment on Damping Ratio
˞
h
= [1 + 1.9 (2 - ȣ) × h / r
oh
] / Ș
h
= [ 1 + 1.9 × (2 - 0.321) × 1.500 / 3.090] / 1.448
=
(2) Mass Raito
B
h
= (7 - 8ȣ) / [32 × (1 - ȣ)] × W / (Ȗ × r
oh
³)
=
=
ʌ
1760211.961
0.621
2.118
=
1.017
1.448
3.090
×
10.000 × 3.000
32 × (1 - 0.321)
(7 - 8 × 0.321)
1.733 × 3.090³
155.771
A
X
I
S
O
F
R
O
C
K
I
N
G
L
B
"Dynamic Analysis.xls"
(3) Effective Damping Coefficient
This is not avilable for Horizontal Mode
(4) Geometrical Damping Ratio
D
h
= 0.288 / B
h
× Į
h
= 0.288 / 0.621 × 2.118
=
(5) Internal Damping
D
hi
=
(6) Total Damping Ratio
D
ht
=
=
=
3.3 Frequency Check
(1) Natural Frequency
F
nh
= 60 / (2 × ʌ) × (K
h
/ m)
= 60 / (2 × ʌ) × 1,760,211.961 / 155.771
= rpm
(2) Resonance Frequency (rpm)
F
rh
= F
nh
× [1 - (2 × D
ht
²)]
= 1,015.000 × [1 - (2 × 0.814²)]
ง 2 × D
ht
²
= 2 × 0.814²
= 1.325 > 1.0
0.774
RESONANCE NOT POSSIBLE!!! (There is no need to analysis Vibration)
0.814
0.040 Consider the Internal Damping
D
h
+ D
hi
0.774 + 0.040
1015.000
Not Apply
"Dynamic Analysis.xls"
(3) Frequency Ratio (JERES-Q-007, Section 10.1)
When f / f(n) < 0.7, f / f(n) > 1.3, O.K!!!
= =
(4) Magnification Factor
For Blower
M
h(blower)
= 1 / (1 - r
h(blower)
²)² + (2 D
ht
× r
h(blower)

= 1 / (1 - 2.209²)² + (2 × 0.814 × 2.209)² =
= < 1.50
For Motor
M
h(motor)
= 1 / (1 - r
h(motor)
²)² + (2 D
ht
× r
h(motor)

= 1 / (1 - 1.468²)² + (2 × × 1.468)² =
= < 1.50
(5) Transmissibility Factor
For Blower
T
h(blower)
= M
h(blower)
× 1 + (2 D
ht
× r
h(blower)

= 0.189 × 1 + ( 2 × 0.814 × 2.209)²
=
For Motor
T
h(motor)
= M
h(motor)
× 1 + (2 D
ht
× r
h(motor)

= 0.377 × 1 + ( 2 × 0.814 × 1.468)²
=
0.377
0.377
OK!!!
0.977
For Motor
r
h(blower)
1490.000
r
h(motor)
=
f
h(motor)
F
nh
f
h(blower)
F
nh
2242.000
1015.000
2.209
=
1015.000
1.468
OK!!!
=
0.189
OK!!!
=
0.189 OK!!!
For Blower
0.705
"Dynamic Analysis.xls"
(6) Vibration Amplitude
For Blower
(For the normal operating speed - 2242 rpm)
(For the normal operating speed - 1490 rpm)
H
(blower)
= M
h(blower)
× F
h(blower)
/ K
h
H
rocking(blower)
= R
(blower)
× (h + C.G.)
= 0.0000005 × (1.700 + 1.850)
= m = m
For Motor
(For the normal operating speed - 2242 rpm) (For the normal operating speed - 1490 rpm)
H
(motor)
= M
h(motor)
× F
h(motor)
/ K
h
H
rocking(motor)
= R
(motor)
× (h + C.G.)
= 0.0000000 × (1.700 + 1.850)
= m = m
Total Horizontal Amplitude
H
total
= H
(blower)
+ H
rocking(blower)
+ H
(motor)
+ H
rocking(motor)
= m
4.0 Rocking Excitation Analysis
4.1 Spring Constant
(1) Equivalent (r
0r
) for Rectangular Foundation
r
or
= [(FB × FL³) / (3 × ʌ)]^(¼)
^(¼)
= m
(2) Embedment factor for Spring Constant
Ș
r
= 1 + 1.2 × (1 - ȣ) × (h / r
or
) + 0.2 × (2 - ȣ) × (h / r
or

= 1 + 1.2 × (1 - 0.321) × (1.500 / 2.314) + 0.2 × (2 - 0.321) × (1.500 / 2.314)³
=
Effective Embedment height
= Height(h) - Ground Level(G.L.)
= 1.700 - 0.200
= 1.500
=
0.377 × 0.000
1760211.961
=
[ (10.000 × 3.000³) ]
1.826E-06
0.000E+00
2.252E-06
0.000E+00
0.189 × 3.970
=
1760211.961
3 × ʌ
2.314
4.263E-07
1.620
A
X
I
S
O
F
R
O
C
K
I
N
G
L
B
"Dynamic Analysis.xls"
(3) Spring Constant Coefficient
ȕ
r
=
(4) Equivalent Spring Constant for Rectangular Foundation
K
r
= G / (1 - ȣ) × ȕ
r
× FB × FL² × Ș
r
= kN/m
4.2 Damping Ratio
(1) Effect of Depth of Embedment on Damping Ratio
=
(2) Mass Ratio
B
r
= 3 × (1 - ȣ) / 8 × I
o
/ (ȡ × r
or
5
)
=
(3) Effective Damping Coefficient
n
r
=
(4) Geometrical Damping Ratio
D
r
= 0.15 × Į
r
/ [(1 + n
r
× B
r
) × (n
r
× B
r
) ]
=
(5) Internal Damping
D
ri
=
7234608.000
Ș
r
1 + 0.7 × (1 - 0.321) × (1.500 / 2.314) + 0.6 × (2 - 0.321) × (1.500 / 2.314)³
1.620
×
1.387
1.244
=
=
0.052
8
=
(1 - 0.321)
× 0.408 × 10.000 × 3.000² × 1.620
3 × (1 - 0.321) 625.640
1.251
0.040
82579.233
0.408
Į
r
1.733 × 66.277
=
(1 + 1.251 × 1.387) × (1.251 × 1.387)
1 + 0.7 × (1 - ȣ) × (h / r
or
) + 0.6 × (2 - ȣ) × (h / r
or

0.15 × 1.244
=
"Dynamic Analysis.xls"
(6) Total Damping Ratio
D
rt
=
=
=
4.3 Frequency Check
(1) Natural Frequency
F
nr
= 60 / (2 × ʌ) × (K
r
/ I
0
)
= 60 / (2 × ʌ) × [7,234,608.000 / 625.640]
= rpm
(2) Resonance Frequency
F
rr
= F
nr
× [1 - (2 × D
rt
²)]
= 1,027.000 × [1 - (2 × 0.092²)]
= rpm
ง 2 × D
rt
²
= 2 × 0.092²
= 0.017 < 1.00
(3) Frequency Ratio (JERES-Q-007, Section 10.1)
When f / f(n) < 0.7, f / f(n) > 1.3, O.K!!!
= =
1490.000
f
r(motor)
OK!!!
For Blower
F
nr
For Motor
r
r(motor)
=
=
1027.000
2.183
=
1027.000
1.451
RESONANCE COULD BE POSSIBLE!!! (It is necessary to analysis Vibration)
OK!!!
0.092
1027.000
1018.270
0.052 + 0.040
D
r
+ D
ri
r
r(blower)
=
f
r(blower)
F
nr
2242.000
"Dynamic Analysis.xls"
(4) Magnification Factor
For Blower
M
r(blower)
= 1 / (1 - r
r(blower)
²)² + (2 D
rt
× r
r(blower)

= 1 / (1 - 2.183²)² + (2 × 0.092 × 2.183)² =
= < 1.500
For Motor
M
r(motor)
= 1 / (1 - r
r(motor)
²)² + (2 D
rt
× r
r(motor)

= 1 / (1 - 1.451²)² + (2 × 0.092 × 1.451)² =
= < 1.500
(5) Transmissibility Factor
For Blower
T
r(blower)
= M
r(blower)
× 1 + (2 D
rt
× r
r(blower)

= 0.264 × 1 + (2 × 0.092 × 2.183)²
=
For Motor
T
r(motor)
= M
r(motor)
× 1 + (2 D
rt
× r
r(motor)

= 0.880 × 1 + (2 × 0.092 × 1.451)²
=
(6) Vibration Amplitude
For Blower
Moment Arm = (h + C.G.)
R
(blower)
= M
r(blower)
× F
r(blower)
/ K
r
= (1.700 + 1.850)
= 3.550
= rad
For Motor
R
(motor)
= M
r(motor)
× F
r(motor)
/ K
r
= rad
OK!!!
0.880
0.911
=
0.880 × (0.000 × 3.550)
7234608.000
7234608.000
0.880
0.264 × (3.970 × 3.550)
0.285
0.264
0.264 OK!!!
0.000E+00
5.143E-07
=
"Dynamic Analysis.xls"
5.0 Amplitude Check
5.1 Total Amplitude
(1) Vertical Amplitude
V
total
= Vertical Vibration Amplitude + Rocking Vibration Amplitude × (FL / 2)
= m
= cm
= in
(2) Horizontal Amplitude
H
total
= Horizontal Vibration Amplitude + Rocking Vibration Amplitude × (h + C.G.)
= m
= cm
= in
(3) Maximum Velocity
Where,
Velocity = in/sec
= m/sec
"Machine" is the imposed frequency of the rotating equipment.
RPM = (For Pump)
= (For Motor)
= cm = cm
= in = in
ง <
2 × ʌ × 24.833
0.0020
0.00077
OK!!!
2 × ʌ × 37.367
A
t
0.003
Blower
=
Velocity
Motor
=
Velocity
0.000089
0.000046
1490
Max(V
total
, H
total
)
2242
0.003 m/sec
=
0.0013
=
0.120
0.00012
1.174E-06
2 × ʌ × Machine(rpm) 2 × ʌ × Machine(rpm)
2.252E-06
0.003 m/sec
0.00051
0.00023
"Dynamic Analysis.xls"
5.2 Vibration Velocity
Vmax = 2 × ˭ × f × (Amplitude)
(1) Vertical Velocity
For Blower
V
v(blower)
= [V
(blower)
+ V
rocking(blower)
] × [2 × ʌ × (F
v(blower)
/ 60)]
=
[0.00000040 + 0.00000077] × [2 × ʌ × (2,242 / 60)]
= m/s
For Motor
V
v(motor)
= [V
(motor)
+ V
rocking(motor)
] × [2 × ʌ × (F
v(motor)
/ 60)]
=
[0.00000000 + 0.00000000] × [2 × ʌ × (1,490 / 60)]
= m/s
V
v(total)
=
=
= m/s
(2) Horizontal Velocity
For Blower
V
h(blower)
= [H
(blower)
+ H
rocking(blower)
] × [2 × ʌ × (F
h(blower)
/ 60)]
=
[0.00000043 + 0.00000183] × [2 × ʌ × (2,242 / 60)]
= m/s
For Motor
V
h(motor)
= [H
(motor)
+ H
rocking(motor)
] × [2 × ʌ × (F
h(motor)
/ 60)]
=
[0.00000000 + 0.00000000] × [2 × ʌ × (1,490 / 60)]
= m/s
V
h(total)
=
=
= m/s
OK!!!
OK!!!
OK!!!
OK!!!
5.287E-04
OK!!!
OK!!!
2.756E-04
5.287E-04
0.000E+00
V
v(blower)
² + V
v(motor)
²
0.00052873² + 0.00000000²
2.756E-04
0.000E+00
V
v(blower)
² + V
v(motor)
²
0.00027565² + 0.00000000²
"Dynamic Analysis.xls"
6.0 Soil Bearing Check (Static + Dynamic)
6.1 Transmissibility Force
(1) Transmissibility Vertical Force
P
v(blower)
= [T
v(blower)
× F
v(blower)
]
= [0.736 × 3.970]
= kN
P
v(blower)
= [T
v(motor)
× F
v(motor)
]
= [0.974 × 0.000]
= kN
P
v(total)
= [T
v(blower)
× F
v(blower)
] + [T
v(motor)
× F
v(motor)
]
= [0.736 × 3.970] + [0.974 × 0.000]
= kN
(2) Transmissibility Horizontal Force
P
h(blower)
= [T
h(blower)
× F
h(blower)
]
= [0.705 × 3.970]
= kN
P
h(motor)
= [T
h(motor)
× F
h(motor)
]
= [0.977 × 0.000]
= kN
P
h(total)
= [T
h(blower)
× F
h(blower)
] + [T
h(motor)
× F
h(motor)
]
= [0.705 × 3.970] + [0.977 × 0.000]
= kN
(3) Transmissibility Moment
P
r
= [T
r(blower)
× M
r(blower)
] + [T
r(motor)
× M
r(motor)
]
= [0.285 × 14.094] + [0.911 × 0.000]
= kN-m
6.2 Total Transmissibility Moment
P
tr
= P
r
+ [P
v(total)
× (P
L
/ 2 - E
dx
)] + [P
h(total)
× (C.G
shaft
+ h)]
= 4.010 + [2.922 × (3.000 / 2 - 1.216)] + [2.801 × 3.550]
= kN-m
2.801
2.922
4.010
14.782
2.922
0.000
0.000
2.801
"Dynamic Analysis.xls"
6.3 Soil Beraing Pressure (Static + Dynamic, Static)
(1) Fatigue Factor (ȟ) [Foundations and Supporting Structures for Heavy Machinery]
Design of Structures and Foundations for Vibrating M (8)
(2) Q
all
= = kN/m²
= or kN/m²
= or ton/m
2
= or kN/m²
= or ton/m
2
= kN/m²
= kN/m²
ง >
(3) P
sta+dyn
P
sta+dyn
52.561
Q
all
P
dyn
OK!!!
±
1.500 × 2.922
3.000 × 10.000 3.000 × 10.000
150.000
1528.110
5.086 5.299
±
Q
all
0.750 × Qa
49.893
=
=
W
t
51.981
Area
±
ȟ × P
h(total)
× (C.G
shaft
+ h) × 6
B × L²
Area
±
ȟ × P
v(total)
1.500
150.000
ȟ × P
r
× 6
B × L²
1.500 × 2.801 × (3.550) × 3.000
±
10.000 × 3.000²
±
1.500 × 4.010 × 6
10.000 × 3.000²
=
W
t
±
ȟ × P
v(total)
Area Area
3.000 × 10.000
±
ȟ × P
tr
× 6
B × L²
±
1.500 × 14.782 × 6
10.000 × 3.000²
=
1528.110
±
1.500 × 2.922
3.000 × 10.000
52.561 49.313
5.358 5.027

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful