You are on page 1of 28

Materi Penyuluhan Kehutanan Seri :13/2012

PENGENDALIAN KARAT PURU (KARAT TUMOR) PADA SENGON

ISBN.978-602-7878-03-7

Pengendalian Karat Puru (Karat Tumor) Pada Sengon


Pengarah Penanggung Jawab Penyusun : Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan : Kepala Bidang Pengembangan Penyuluhan Kehutanan : Ahmad Zaenal Abidin, S.Hut Ir. Victor Winarto, M.Si Ir. Isnaeni Sri Fatmawati : Jaya Suhendi

Design Cover

Catatan : Tulisan ini sebagian bukan hasil karya sendiri, melainkan diambil dari berbagai tulisan dan hasil pengamatan lapangan, selanjutnya diperuntukkan bagi Penyuluh Kehutanan

ii

KATA PENGANTAR Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan - RI Nomor : P.40/Menhut-II/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan, tercantum bahwa Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan (BP2SDMK) berkedudukan sebagai unsur pendukung dengan tugas melaksanakan penyuluhan dan pengembangan SDM kehutanan dan salah satu fungsinya adalah penyiapan bahan materi penyuluhan kehutanan. Penyiapan materi penyuluhan dilakukan dalam rangka membekali Penyuluh Kehutanan dengan berbagai informasi kebijakan, program dan kegiatan pembangunan kehutanan serta meningkatkan kompetensi yang bersangkutan. Salah satu Materi Penyuluhan Kehutanan yang disusun dalam tahun 2012 adalah pengendalian karat puru (karat tumor) pada sengon. Buku ini disusun dengan mengambil bahan dari berbagai sumber, serta pengalaman di beberapa tempat. Diharapkan buku ini dapat menjadi acuan dan referensi sehingga pelaksanaan penyuluhan dapat dilaksanakan secara berdaya guna dan berhasil guna. Pada kesempatan kali ini, kami mengucapkan terima kasih kepada para pihak sehingga buku ini dapat tersusun. Semoga bermanfaat. Kepala Pusat,

Ir. Erni Mayana, MM NIP. 19580521 198403 2 001

i
iii

DAFTAR DAFTAR ISIISI


HalamanHalaman KATA ....................................................................................... iii KATA PENGANTAR PENGANTAR ....................................................................................... iii DAFTAR V DAFTARISI ISI ................................................................................................ ................................................................................................ V BAB I

BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................... 1 A. Latar Latar Belakang ......................................................................... 1 A. Belakang ......................................................................... 1 B. Tujuan Tujuan ..................................................................................... 2 B. ..................................................................................... 2 C. Ruang Ruang Lingkup ......................................................................... 2 C. Lingkup ......................................................................... 2 POTENSI SENGON DI INDONESIA .................................................... 3 A. Sebaran, Fisiologi dan Morfologi ................................................ 3 A. Sebaran, Fisiologi dan Morfologi ................................................ 3 B. Produksi dan Kebutuhan Kayu Sengon ...................................... 5 B. Produksi dan Kebutuhan Kayu Sengon ...................................... 5

PENDAHULUAN ............................................................................... 1

BAB II

BAB II

POTENSI SENGON DI INDONESIA .................................................... 3

BAB III WABAH KARAT PURU PADA SENGON ............................................... 7 BAB III WABAH KARAT PURU ............................................... 7 A. Penyebab KaratPADA Puru SENGON ................................................................ A. Karat Puru ................................................................ 7 B. Penyebab Intensitas Serangan Karat Puru .................................................. 9 B. Serangan Karat Puru .................................................. 9 C. Intensitas Tanda-Tandan Serangan Karat Puru ........................................... 9 C. Tanda-Tandan Serangan Karat Puru ........................................... 9 D. Kerugian Akibat Serangan Karat Puru ......................................... 12
D. Kerugian Akibat Serangan Karat Puru ......................................... 12

BAB IV PENGENDALIAN KARAT PURU .......................................................... 13 13 A. Cara Pengendalian Karat Puru ................................................... BAB IV PENGENDALIAN KARAT PURU .......................................................... 13 16 B. Cara Pengendalian Penyakit Karat Puru dengan Pestisida Buatan ......... A. Pengendalian Karat Puru ................................................... 13 B. Karat Puru dengan Pestisida Buatan ......... di 16 C. Pengendalian Studi Kasus Penyakit Pengendalian Penyakit Karat Puru pada Sengon 17 Wonosobo, Jawa Tengah ........................................................... C. Studi Kasus Pengendalian Penyakit Karat Puru pada Sengon di
Wonosobo, Jawa Tengah ........................................................... 17

BAB V

20 PENUTUP .......................................................................................
21

21 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... ....................................................................................... BAB V PENUTUP 20


DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

ii

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sengon merupakan tanaman hutan yang banyak diminati oleh berbagai kalangan terutama petani karena memiliki beberapa keistimewaan antara lain : pertumbuhannya cepat, masa panen lebih pendek, budidaya relatif mudah, kecocokan tempat tumbuh lebih luas, produktivitas tinggi dan kayunya memiliki berbagai kegunaan seperti untuk kayu bangunan, bahan perabotan rumah tangga dan sumber kayu bakar (Duladi, 2012). Tanaman sengon merupakan jenis tanaman yang mendominasi hutan rakyat di Pulau Jawa dan saat ini menjadi tumpuan penyediaan bahan baku bagi industri kayu berbasis sengon. Seiring dengan boomingnya tanaman sengon di Indonesia diikuti pula dengan berkembangnya hama dan penyakit yang menyerang tanaman sengon tersebut sebagai salah satu faktor pembatas dari suatu budidaya tanaman. Hama dan penyakit yang dilaporkan menyerang tanaman sengon yang menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat antara lain kupu kuning, boktor, ulat sisik, penggerek pucuk, ulat kantong dan penyakit karat puru (Anggraeni, 2011 dan Duladi, 2012). Sejak tahun 2003 telah terjadi wabah penyakit karat puru sengon yang banyak menyerang hutan rakyat terutama di Pulau Jawa. Wabah penyakit ini telah mengakibatkan banyak kerugian bagi masyarakat /petani hutan rakyat. Masing-masing daerah telah banyak melakukan upaya penanggulangan terhadap wabah penyakit tersebut. Berbagai cara telah dilakukan dalam pengendalian penyakit ini mulai dari pembibitan sampai dengan pengendalian dilapangan. Buklet ini akan berusaha menyajikan cara pengendalian penyakit karat puru pada sengon.

B.

Tujuan Penulisan Buku ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang sengon, hama penyakit yang menyerang sengon, karat puru pada sengon dan cara pengendaliannya.

C.

Ruang Lingkup Ruang yang lingkup yang menjadikan bahasan dalam buku ini adalah Potensi sengon di Indonesia terutama pulau jawa, wabah karat puru dan pengendalian karat puru pada sengon.

II. POTENSI SENGON DI INDONESIA A. Sebaran, Fisiologi dan Morfologi

falcataria) termasuk Famili: Sengon (Paraserianthes Leguminosae, subfam : Mimosoidae Sinonim : Albizia moluccana Miq. Albizia falcata Backer; Albizia falcataria (L.) Fosberg.Nama lokal/daerah: Indonesia: sengon (umum), jeungjing (Sunda), sengon laut (Jawa), sika (Maluku), tedehu pute (Sulawesi), bae, wahogon (Irja).
Sebaran alami di Maluku, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Bismark. Banyak ditanam di daerah tropis. Merupakan species pionir, terutama terdapat di hutan hujan dataran rendah sekunder atau hutan pegunungan rendah. Tumbuh mulai pantai sampai 1600 mdpl, optimum 0-800 mdpl. Dapat beradaptasi dengan iklim monsoon dan lembab dengan curah hujan 200-2700 mm/th dengan bulan kering sampai 4 bulan. Dapat ditanam pada tapak yang tidak subur tanpa dipupuk. Tidak tumbuh subur pada lahan berdrainase jelek. Termasuk species yang memerlukan cahaya. Merupakan salah satu species paling cepat tumbuh di dunia, mampu tumbuh 8 m/tahun dalam tahun pertama penanaman.

Selain itu sengon merupakan kayu serba guna untuk konstruksi ringan, kerajinan tangan, kotak cerutu, veneer, kayu lapis, korek api, alat musik, pulp. Daun sebagai pakan ayam dan kambing. Di Ambon kulit batang digunakan untuk penyamak jaring juga dapat sebagai pengganti sabun. Ditanam sebagai pohon pelindung, tanaman hias, reboisasi dan penghijauan. Pohon berukuran sedang sampai besar, tinggi dapat mencapai 40 m, tinggi batang bebas cabang 20 m. Tidak berbanir, kulit licin, berwarna kelabu muda, bulat agak lurus. Diameter pohon dewasa bisa mencapai 100 cm atau lebih. Tajuk berbentuk perisai, jarang, selalu hijau. Daun majemuk, panjang dapat mencapai 40 cm, terdiri dari 8 - 15 pasang anak tangkai daun yang berisi 15 - 25 helai daun. Buah berbentuk polong, pipih, lurus dan tidak bersekat-sekat waktu muda berwarna hijau, berubah kuning sampai coklat setelah masak Benih: Pipih, lonjong, 3 - 4 x 6 7 mm, warna hijau, bagian tengah coklat. Jumlah benih 40.000 butir/kg. Daya berkecambah rata-rata 80%. Berat 1.000 butir 16 - 26 gram. Mulai berbunga sejak umur 3 tahun. Berbunga bulan Maret Juni dan Oktober - Desember. Pembuahan berlangsung sepanjang tahun terutama bulan Juli - September.

Tanaman sengon sudah banyak di budidayakan hampir diseluruh wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Luas tanaman sengon di Pulau Jawa sebesar 2.799.181 ha (Suprapto, 2010) yang tersebar di Banten 325,336 ha (11.62%), Jawa Barat 973,860 ha (34.79%), Jawa Tengah 747,257 ha (26.70%), DI Yogyakarta 111,576 ha (3.99%) dan Jawa Timur 641,152 ha (22.90%). B. Produksi dan Kebutuhan Kayu Sengon Kayu sengon dengan beragam kegunaanya menjadi salah satu tumpuan sumber bahan baku industri terutama di Pulau Jawa. Kayu sengon di Pulau Jawa umumnya berasal dari hutan rakyat. Data Suplai kayu domistik Indonesia sebesar 42, 3 juta M3, dimana hutan rakyat menyumbang 10 juta m3. Jenis tanaman hutan yang di budidayakan pada Hutan rakyat adalah jenis tanaman sengon dan jati (Rimbawanto, 2008). Potensi produksi kayu sengon sampai saat ini masih dapat diandalkan. Data BPDAS PS (2010) melaporkan penanaman hutan rakyat seluas 684.495,80 hektar. Rata-rata produksi perhektar kayu sengon yang berasal dari usaha tani (hutan rakyat) sampai umur 8 tahun sebesar 134,23 m3/ha dan lebih besar lagi produksinya apabila menggunakan benih-benih terseleksi. Tanaman sengon Terseleksi yang ada di kebun benih sengon di Candiroto Temanggung menunjukan produktivitas yang lebih tinggi dari hutan rakyat dengan rata-rata produksi 190,84 m3/ha pada umur 7 tahun (Rimbawanto, 2008). Kebutuhan kayu sengon sejalan dengan kebutuhan kayu secara keseluruhan. Dari waktu ke waktu kebutuhan akan kayu terus meningkat, sementara produksi kayu yang dapat disediakan tetap bahkan

kecenderungan menurun. Total kapasitas produksi industri perkayuan Indonesia setara dengan 68 juta m3 kayu bulat (Dephut, 1997), pada tahun 2010 produksi kayu bulat sebesar 42,443 juta m3 apabila diasumsikan kapasitas produksi industri perkayuan tetap maka terdapat kesenjangan antara permintaan dan persediaan. Permintaan kayu sengon akan terus meningkat baik untuk keperluan pemenuhan kebutuhan masyarakat secara langsung maupun untuk keperluan industri. Beberapa permintaan kayu sengon belum bisa disediakan oleh petani atau pembudidaya tanaman hutan. Sebagai ilustrasi dari banyaknya industri kayu yang berbasis sengon memerlukan kayu sengon diantaranya (Rekawana, 2012) : x lumber core 250.000 m3, 300 papan blok, 100 m3 kayu lapis, 200.000 pintu dan 500.000 m2 lantai memerlukan kayu sengon setara dengan 600 ha/bulan. finger point dengan kapasitas produksi 1.200 - 1.400 m3 per bulan dan baru terpenuhi 600 m3 perbulan. Barcore (ukuran 1,2 m x 2,4 cm x 1-1,3 cm) sebesar 14.000 m3/bulan dan baru terpenuhi 8.000 m3 /bulan.

x x

III. WABAH KARAT PURU PADA SENGON Penyakit karat puru telah menjadi wabah yang menyerang tanaman sengon di Indonesia sejak tahun 2003 yang di mulai dari Jawa Timur, walaupun sebelumnya pada tahun 1996 telah dilaporkan bahwa penyakit karat puru telah menyerang tanaman sengon di Pulau Seram, Maluku (Anggraeni, 2011). Jumali (2009) dalam Artha, 2011 menerangkan bahwa sebaran geografis penyakit ini adalah di Australia, New Coledonia, Papua New Guinea (1984), Maluku (1988/1989), Afrika Selatan (1992), Sabah (1993), Philipina (1997), Timor-Timur (mulai 1998) dan Jawa (mulai 2003). Di Jawa beberapa sentra tanaman sengon yang diketahui telah terserang penyakit karat puru antara lain : Lumajang, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Malang, Boyolali, Salatiga dan Wonogiri. Dari Laporan para Penyuluh Kehutanan pada tahun 2006 penyakit karat puru telah tersebar merata di semua Kecamatan di Wilayah Kabupaten purbalingga. (Artha, 2011). A. Penyebab Karat Puru Penyebab penyakit karat puru pada sengon adalah jenis jamur atau fungi Uromycladium tepperianum (Sacc). Nama lain dari penyakit ini adalah : x x x x x x x Karat tumor Karat puru

Gall rust
divisi Basidiomycotina, kelas Urediniomycetes, Ordo Uredinales, family pileolariaceae.

Dalam kerajaan tumbuhan jamur ini masuk dalam klasifikasi :

Jamur ini bersifat parasit yang menyerang jaringan hidup pada tanaman dengan perbanyakan melalui spora. Spora yang memegang peranan dalam penyebaran dan pemancarannya adalah teliospora yang dibentuk dalam jumlah besar. Secara spesifik, teliospora mempunyai struktur yang berjalur, bergerigi dan setiap satu tangkai terdiri dari 3 teliospora. Ukuran spora berkisar antara lebar 14-20 m dan panjang 17-28 m. Daur hidup jamur ini cukup pendek dan hanya memerlukan satu inang saja yaitu tanaman sengon. Habitat asli dari jamur karat puru ini adalah tanah dan tanaman. Siklus hidup penyakit karat puru adalah sebagai berikut. Piknia (menghasilkan pikniospora) -- Tella (menghasilkan teliospora) Basidiospora (menginfeksi tanaman) -Piknia (menghasilkan pikniospora). Penularan penyakit ini melalui penyebaran teliospora dengan bantuan air, angin, serangga dan manusia. Tiliospora mudah diterbangkan oleh angin dari satu tempat ke tempat lain ataupun dari tanaman sengon satu ke tanaman sengon yang lain. Apabila telah mendapatkan tempat sesuai terutama pada bagian tanaman yang masih muda dan kondisi lingkungannya menguntungkan, teliospora akan berkecambah membentuk basidiospora. Teliospora berkecambah menjadi basidiospora memerlukan waktu 10 jam setelah inokulasi. Basidiospora ini yang langsung melakukan penetrasi menembus jaringan tanaman (epidermis) dan membentuk hifa di dalam dan atau di antara sel-sel tanaman (epidermis, xyluem dan floem). Setelah 7 hari inokulasi, terbentuklah piknia sebagai pustul coklat yang memecah jaringan kulit.

B.

Intensitas Serangan Karat Puru Penyakit karat puru dapat menyerang semua bagian tanaman sengon mulai dari pucuk, daun, tangkai daun, ranting, cabang, batang, bunga maupun biji. Serangan juga dapat terjadi pada berbagai tingkatan mulai dari biji, semai, pancang, tiang dan pohon. Pada tingkat semai, bagian tanaman yang sangat rentan terhadap serangan penyakit ini adalah bagian batang sengon. Pada musim penghujan intensitas serangan akan semakin bertambah dan terus tersebar ke seluruh tegakan sengon yang ada. Pada musim kemarau jamur karat puru masih dapat bertahan hidup pada bagian tanaman yang diserang.

C.

Tanda-Tanda Serangan Karat Puru Tanda-tanda serangan penyakit karat puru dalam suatu tegakan dapat diketahui dengan mengamati batang, cabang ataupun daun. Tanaman sengon yang terserang dapat terlihat dengan jelas benjolan benjolan yang berwarna coklat kemerahan sampai hitam pada bagian batang atau dahan. Pada bagian daun atau pucuk akan terlihat menggulung dan rontok.

Pada serangan yang berat, seluruh bagian tanaman akan dipenuhi penyakit, daun rontok dan mengering yang diikuti oleh cabang dan batang yang pada akhirnya tanaman sengon mengalami kematian. Anggraeni dan lelana tahun 2011 menerangkan secara lebih rinci tentang gejala serangan penyakit ini sebagai berikut : 1. Tingkat Semai x Semai umur 2 - 3 minggu : daun mengeriting, melengkung dan tidak berkembang secara normal, apabila disentuh daun terasa kaku dan mudah rontok. x Semai umur 6 minggu : batang dan pucuk melengkung dan agak kaku. x Semai umur 3 bulan atau lebih : benjolan atau tumor mulai membesar. Tingkat Pancang - Pohon Tanda-tanda serangan lapangan menunjukkan gejala yang khas, yaitu hiperplasia (pertumbuhan lebih) pada bagian tanaman yang diserang, diawali dengan adanya pembengkakan lokal (tumefaksi) di bagian tanaman yang terserang baik daun, cabang atau batang. x Serangan pada bagian batang lama kelamaan pembekakkan berubah menjadi benjolan- benjolan yang kemudian menjadi bintil-bintil kecil atau disebut tumor (gall). Tumor yang timbul mempunyai bentuk bervariasi dari bulat sampai tidak beraturan dengan ukuran diameter mulai dari beberapa milimiter sampai lebih besar dari 10 cm. Tumor tersebut dapat berkelompok atau tersebar pada bagian batang atau cabang yang terserang. Tumor yang masih muda berwarna

2.

10

hijau kecoklat coklatan muda yang diselimuti oleh spora patogen berupa lapisan seperti tepung berwarna agak kemerah-merahan. Tumor yang tua berwarna coklat kemerah-merahan sampai hitam dan biasanya sudah keropos berlobang, biasa digunakan sebagai sarang semut atau serangga lainnya. Serangan pada bagian tangkai daun majemuk atau tajuk mengakibatkan bagian tersebut agak membengkok karena adanya penebalan dan pembengkakan kemudian tajuk daun menggulung berubah bentuk (malformasi) tanpa daun lagi. Serangan pada bagian daun mengakibatkan daun mengeriting dan tangkai daun terbentuk tumor.

11

D.

Kerugian Akibat Serangan Karat Puru Serangan karat puru yang banyak diberitakan diberbagai daerah terutama pada sentra budidaya tanaman sengon mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi masyarakat. Bentuk kerugian yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini antara lain : kematian tanaman, cacat pada batang yang dapat mengurangi volume dan kualitas kayu, kesempatan dan harapan yang hilang bagi petani dengan rusaknya tanaman budidaya mereka. Cukup banyak kerugian secara finansial yang diberitakan dibeberapa wilayah terutama di Pulau Jawa antara lain : 1. Kabupaten Tasikmalaya : sebanyak 309.760 pohon sengon milik petani diserang karat puru dengan kerugian ditaksir mencapai Rp. 4.115.023.350,- (Supriyatna, 2010) 2. Kabupaten Ciamis, karat puru menyerang sekitar 1,2 juta tanaman sengon, juga menyerang kabupaten Wonosobo dan Magelang (Anggraeni, 2011). Tanaman sengon di Kabupaten Wonosobo tersebar di 221 desa dan sebanyak 94 desa / 42,5% telah terserang penyakit karat puru. 3. Jawa dan Bali, karat puru diperkirakan telah menjangkiti 59 juta tanaman sengon dengan potensi kerugian akibat serangan penyakit ini sedikitnya Rp. 2,4 triliun, dengan asumsi per hektar 200-300 m3 dengan harga berkisar antara Rp.800 ribu - Rp. 1,2 juta. (Fathoni. 2011).

12

IV. A.

PENGENDALIAN KARAT PURU

Cara Pengendalian Karat Puru Pengendalian karat puru pada sengon dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor penyebab timbulnya penyakit tersebut. Penyakit karat puru pada tanaman sengon disebabkan oleh interaksi tiga faktor, yakni inang (tanaman sengon), penyakit (Uromycladium tepperianum) dan lingkungan. Epidemi penyakit ini timbul akibat ketiga faktor tersebut diatas berada dalam kondisi yang sesuai bagi perkembangan penyakit tersebut. Oleh sebab itu cara untuk mengendalikan penyakit adalah dengan memanipulasi salah satu atau lebih faktor-faktor tersebut sehingga tercapai kondisi yang merugikan bagi pertumbuhan penyakit dan mencegah terjadinya infeksi oleh penyakit. Dalam pengendalian penyakit pada sengon perlu dilakukan pengamatan dini secara menyeluruh areal tanaman sengon untuk mengetahui lebih dini apakah tanaman terserang penyakit atau tidak. Selanjutnya perlu identifikasi untuk mengetahui jenis penyakit yang menyerang dan intensitas serangan. Cara Pengendalian dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : pengendalian preventif dan pengendalian kuratif. 1.

Pengendalian Preventif
x Melakukan seleksi benih dari asal usul benih yang berkualitas dan tidak terkontaminasi dengan karat puru. Benih hasil seleksi yang baik akan memiliki karakter seragam, daya kecambah tinggi, pertumbuhan yang cepat dan relatif tahan terhadap penyakit. Melakukan seleksi bibit di persemaian dan memusnahkannya apabila bibit ada yang terkontaminasi atau terserang penyakit karat puru. Perlakuan higienis (sanitasi) pembibitan di lapangan sehingga sumber inokulum (penyakit) karat puru dapat ditekan serendah mungkin.

13

Pada daerah dataran tinggi >400 m dpl dengan menggunakan jarak tanam yang lebih renggang atau kerapatan dikurangi untuk mengurangi kelembaban mikroklimat yang dapat memicu perkembangan penyakit. Jarak tanam bisa diperlebar menjadi 2 x 3 atau 3 x 3 atau lebih yang dipadukan dengan sistem tumpang sari atau agroforestri dengan pohon bukan se-famili, tajuk ringan dan tidak impasif (kanibal). Melakukan pengolahan tanah yang tepat yaitu dengan pencangkulan atau pembajakan tanah sehingga tanah menjadi gembur, aerasi baik, mematikan sumber inokulum (penyakit) dan mematikan gulma sebagai inang perantara. Melakukan pembuatan lubang yang standar dan menunda penanaman agar lubang terpapar sinar matahari sehingga sumber inokulum (penyakit) akan mati. Pemeliharaan lingkungan mikroklimat yang maksimal melalui pruning yang teratur dan seimbang, wiwil, pembumbunan dan babat gawang yang efektif sehingga tanaman dapat tumbuh maksimal serta perkembangan penyakit dapat ditekan. Pemupukan tanaman dengan tepat yaitu tepat jenis, dosis, waktu, aplikasi dan caranya sehingga tanaman tumbuh sehat dan lebih tahan terhadap serangan penyakit. Menggunakan jenis atau kultivar sengon hasil pemuliaan melalui seleksi tanaman yang secara genetik lebih tahan terhadap penyakit karat puru seperti kultivar wamena. Menanam dengan pola tanam campuran berbagai jenis tanaman yang tidak sejenis atau tidak sekerabat dalam taksonomi tumbuhan sehingga akan memutus perkembangan penyakit yang endemik. Penjarangan awal pada pohon tertekan atau terserang karat tumor dan penjarangan panen untuk menurunkan kerapatan tegakan sehingga menurunkan kelembaban mikroklimat untuk menekan pemicu perkembangan penyakit di lapangan.

14

Pergantian tanaman dengan jenis tanaman yang berbeda seperti Jabon (Antocephalus sp), Balsa (Ochroma piramidale), Suren (Toona sureni), Jenitri (Elaeocarpus ganitrus) dan Bayur (Pterospermum spp). Pada daerah yang telah terjadi serangan hingga 75% dilakukan pembatasan penanaman ini dengan tanaman jenis lain (tanaman semusim) yang tidak sefamili Leguminose hingga masa 2 tahun.

2.

Pengendalian Kuratif x x Cara manual melalui upaya pemangkasan daun, tajuk dan cabang yang terserang penyakit atau gejala karat puru. Bagian tanaman yang terserang dimusnahkan atau Bagian dimusnahkan gall ditimbun tanaman di dalam yang tanah terserang yang rapat. Pengambilan atau ditimbun di dalam tanah yang rapat. Pengambilan gall (tumor) sebaiknya pada saat masih hijau atau sebelum (tumor) sebaiknya pada saat masih hijau atau berkembang menjadi cokelat (karat) yangsebelum telah berkembang menjadi cokelat (karat) yang telah mengeluarkan spora untuk menekan perkembangan mengeluarkan untuk menekan perkembangan penyakit ke area spora lain. penyakit ke area lain. Serangan pada batang dengan cara melepaskan gall dengan pisau, sayatan dimusnahkan Serangan pada selanjutnya batang dengan cara gall melepaskan gall dengan cara ditimbun dalam tanah. dengan pisau, selanjutnya sayatan gall dimusnahkan Cara chemis/kimiawi diberi fungisida dari pabrik dan dengan cara ditimbunyaitu dalam tanah. dari bahan-bahan kimia ramuan seperti spirtus, Cara chemis/kimiawi yaitu diberi fungisida dari pabrik dan larutan/bubur garam dan larutan/bubur belerang. dari bahan-bahan kimia ramuan seperti Penyemprotan bahan kimia berupa fungisida buatanspirtus, pabrik larutan/bubur garam dan larutan/bubur belerang. pada bekas sayatan dengan dosis dan jenis yang tepat setiap dua minggu sekali untuk menekan perkembangan Penyemprotan bahan kimia berupa fungisida buatan pabrik penyakit selanjutnya. pada bekas sayatan dengan dosis dan jenis yang tepat Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dengan cara setiap dua minggu sekali untuk menekan perkembangan mengelupas gall tersebut dari batang/cabang/pucuk. penyakit selanjutnya. Selanjutnya bagian tersebut disemprot/dioles dengan spirtus atau pestisida buatan. Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dengan cara mengelupas gall tersebut dari batang/cabang/pucuk. Selanjutnya bagian tersebut disemprot/dioles dengan spirtus atau pestisida buatan.

15

B.

Pengendalian Penyakit Karat Puru dengan Pestisida Buatan


Pada umumnya jamur atau fungi dapat dikendalikan dengan fungisida baik berasal dari bahan nabati maupun kimia. Dalam praktek pengendalian karat puru pada sengon telah dicobakan formula dengan bahan campuran belerang, garam dapur dan kapur yang dilarutkan dalam air dapat menekan diatas 90 % penyebaran karat puru pada sengon (Anggraeni dan Lelana. 2011) dan (Rahayu, 2008). Cara pembuatan pestisida dan aplikasi dilapangan dapat dilakukan seperti berikut : 1. Komposisi bahan campuran terdiri dari 4 formula : x Campuran Kapur : garam (10:1) + 10 liter air x Campuran Belerang : Garam (10 :1) + 10 liter air x Campuran 5 kg kapur + 0,5 kg garam + 5-10 liter air x Campuran 1 kg kapur + 1 kg belerang + 10-20 liter air Cara pencampuran Masingmasing bahan dilarutkan dalam air dengan diaduk-aduk sampai rata. Cara aplikasi x Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dari gall-nya dengan melakukan penyayatan. x Semprotkan atau oleskan larutan (bubur garam) ke tanaman yang terserang. x Lakukan penyemprotan atau pelaburan setiap 2 minggu sekali selama 3 bulan atau sesuai kebutuhan. x Masing-masing formula dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan.

2.

3.

16

C.

Studi Kasus Pengendalian Penyakit Karat Puru pada Sengon di Wonosobo, Jawa Tengah Dalam penanggulangan wabah penyakit karat puru Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Wonosobo-Jawa Tengah telah melakukan langkah-langkah :

1. Cara Pengendalian Penyakit Karat Puru a. Mengambil gall (benjolan tumor) dengan di potong 15 cm dari gall, saat pengambilan sudah disiapkan kantong plastic untuk menyimpan gall, sehingga spora tidak menyebar kemana-mana. Gall yang telah diambil selanjutnya dibakar dan dikubur dengan kedalaman 40 cm, spora yang terkubur mampu bertahan + 3 tahun. Pelaburan/penyemprotan pada bekas luka pengambilan gall dengan larutan kapur, belerang dan air dengan komposisi (1:1:10). Pada areal yang mendapat serangan berat yaitu prosentase serangan di atas 50% dari tegakan yang ada pada areal tersebut, maka dilakukan tindakan sebagai berikut : x Pemanenan secara keselurahan/panen tebang habis. x Pengumpulan dan pembakaran gall selanjutnya dikubur/dibenam, agar spora tidak menyebar ke lahan yang lain. x Penggantian tanaman dengan jenis komoditas atau tanaman yang lain, missal untuk wilayah dengan ketinggian <1000 m dpl dengan tanaman jenitri dan wilayah dengan ketinggian >1000 m dpl dengan tanaman suren.

b.

c.

17

d.

e. f.

Upaya penurunan kelembaban udara lahan melalui penjarangan, dengan jarak tanam minimal 3 x 3 m penjarangan dilakukan dengan cara tebang pilih : x Tanaman yang siap panen x Tanaman yang pertumbuhanya abnormal (bengkok) x Pemindahan tanaman dengan sistim cangkok Dilakukan pruning (pemangkasan cabang/ranting) tanaman sengon sampai usia 3 tahun. Penggunaan benih/bibit yang belum terserang karat puru

2. Isolasi Lahan Bebas Penyakit Karat Puru a. Penggunaan benih/bibit harus dari lokasi setempat, tidak memasukan benih/bibit dari luar wilayah yang belum jelas dari lahan bebas karat puru. Rutinitas melakukan pengamatan dan pengendalian dini pada lahan dari serangan karat puru Tidak membawa masuk barang/bagian tanaman dari lokasi terserang karat puru. Penanaman tanaman sengon dengan jarak tanam awal tanam 3 x 3 m, secara campuran dengan jenis lain. Dilakukan pemangkasan ranting/cabang sengon di bawah umur 3 tahun. Dilakukan penjarangan sesuai anjuran teknis dengan penjarangan awal pada umur 3 tahun sebesar 30% dari total tegakan dengan tujuan memberikan ruang perkembangan tanaman/mempercepat daur produksi/panen lebih cepat. Penggunaan lahan bawah tegakan dengan kopi, kakao, kapulogo dan lain sebagainya.

b. c. d. e. f.

g.

18

3. Pengendalian Karat Puru di Persemaian a. b. Gunakan benih dari tegakan sengon bagus/berkualitas dan bebas dari karat puru. yang

Pemilihan lokasi perbenihan yang jauh dari lokasi terserang karat puru, persemaian terbuka dan terkena sinar matahari penuh. Penggunaan media tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1, penggunaan pupuk harus sudah matang dan media dicampur Trichoderma sp. Setelah benih direndam dalam air panas selama 5 menit, selanjutnya benih direndam dengan air dingin yang mengandung Trichoderma sp selama 12 jam. Dilakukan pemantauan dini dan teratur, bila ada bibit terserang segera pisahkan, dibakar dan dibenamkan dalam tanah. Pemeliharaan bibit disemprot dengan Trichoderma sp atau fungisida sistemik, Ekstrak daun mimba dan lainlain.

c.

d.

e.

f.

19

V. PENUTUP Buku Pengendalian Karat Puru Pada Sengon disusun guna memenuhi kebutuhan materi penyuluhan kehutanan. Sebagai bahan materi penyuluhan tentunya buku ini masih perlu perbaikan terutama dengan bertambahnya informasi/ penemuan baru tentang pengendalian karat puru. Diharapkan, buku ini dapat menjadi perangsang bagi para penyuluh kehutanan dalam penyampaikan dan menyusun materi penyuluhan yang lebih baik dan sesuai kebutuhan.

20

DAFTAR PUSTAKA Adi JN, at all. 2005. Hutan Wonosobo : Keberpihakan yang tersendat, Jawa Tengah Indonesia. BP AruPa. Yogyakarta. Anggraeni, I dan Lelana, NE. 2011. Penyakit Karat Tumor Pada Sengon. Kementerian Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta. Anggraeni, I, Dendang, B dan Lelana, NE. 2010. Pengendalian Penyakit Karat Tumor Uromycladium tepperianum ( (Sacc.) Mc.Alpin) Pada Sengon (Falcataria mollucana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) Di Panjalu Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol.7 No.5. Pusat Peningkatan Produktifitas Hutan. Bogor. Artha, IPB (2011). Penyakit Karat Tumor/Karat Puru Pada Albizia (Albizia falcata Backer) Dalam http://bpk-karangreja. blogspot.com/2011/09/ penyakit-karat-tumorkarat-puru-pada.html September 2012 Budi, A dan Rosika, N. 2012. Pencetak Uang itu Bernama Sengon. Dalam http://www.agrikaindoraya.com/pencetak-uang-itu-bernama-sengon/ Dishutbun Kabupaten Wonosobo, 2009. Mengenal dan Pengendalian Karat Puru. Dinas Kehutanan Kabupaten Wonosobo. Wonosobo Duladi. 2012. Cara Cerdas Mengendalikan Hama dan Penyakit pada Sengon. PT. Penerbit IPB Press. Kampus IPB Taman Kencana Bogor. Hidayat, J. 2002. Paraserianthes falcatria. Informasi Singkat Benih No 23. Juni 2002. Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan Krisnawati, H., Varis, E., Kallio, M. dan Kanninen, M. 2011 Paraserienthes falcataria (L.) Nielsen: ekologi, silvikultur dan produktivitas.CIFOR, Bogor, Indonesia. Rahayu, S.2008. Penyakit Karat Tumor pada Sengon (Paraserianthes moluccana (miq) Barnebi & J.W. Grimes) Rekawana (2012). industri-kayu permintaan-pasar-kayu-sengon-sebagai-bahan-bakudalam http://rekawana.com/berita-investor/210-

21

permintaan-pasar-kayu-sengon-sebagai-bahan-baku-industrikayu.html Rimbawanto, A. 2008. pemuliaan tanaman dan ketahanan penyakit pada sengon. Makalah Workshop Penanggulangan Serangan Karat Puru pada Tanaman Sengon 19 Nop 2008. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta. Soeprapto, E. 2010. Hutan Rakyat:Aspek Kelembagaan. Lembaga AruPa Produksi, Ekologi dan Yaogyakarta dalam

http//www.AruPa.co.id/ Aspek Produksi, Ekologi dan Kelembagaan.


Supriyatna, E. 2010. Waspadai tanaman sengon terserang penyakit karat puru. Dalam http://budidayasengon.blogspot.com/2010/11/waspadaitanaman-sengon-terserang.html. 3 september 2012 Kementerian Kehutanan, 2010. Statistik Kementerian Kehutanan tahun 2010

22