“Dari Talang sampai ke Payo, dari hutan sampai ke sawah, dari kayu sampai ke padi”

Umo” adalah
kehidupan

“Sebuah penelitian yang dilakukan oleh petani, berdasarkan pengetahaun dan pengalaman petani di Kecamatan Batin XXIV, kabupaten Batanghari, Propinsi Jambi.”

Datuk Nur Ibrahim, M. Basit, A. Rahman, Mahdalena, Asbiruddin, Sanusi, Ida, Wartini, Aisyah, Yasnar, Butomi, Hafizi, Mahfuz.

1

Contents
Preface...................................................................................................................................... 3 Research Objective................................................................................................................. 4 Research Methode.................................................................................................................. 5 Expected Outcome................................................................................................................ 5 Pengelolaan lahan, kearifn tradisional dan pola produksi di lokasi penelitian......... 6

Umo dan nilai yang dikandungnya ................................10
Umo: benteng ketahanan pangan dan nutrisi keluarga Umo; sumber ekonomi keluarga Umo Sebagai ruang interaksi sosial Umo dan perempuan Umo: sebagai model penataanruang yang berbasiskan keberlanjutan

Umo dalam kontek kekinian ...........................................19
Umo diantara kebun sawit, kebun kayu dan program pemerintan Ber-Umo di kebun sawit atau berkebun sawit di Umo? Kesimpulan............................................................................................................................24 Rekomendasi .........................................................................................................................24 Penutup...................................................................................................................................24

2

Pendahuluan
Eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan pendapatan daerah dengan model perkebunan skala besar, pertambangan dan industri hutan tanaman, seperti tak pernah berhenti, setelah setelah hutan habis dilalap, kini lahan-lahan pertanian jadi incaran. Tak tanggung-tanggung, kini sawah-sawah basah pun sepertinya tak akan luput dari rencana eksplotasi ini. Baru-baru ini yakni akhir tahun 2012 lalu sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit mendapatkan izin lokasi sebesar 7.800 Ha , dan izin tersebut dikeluarkan oleh Bupati Batanghari. Keluarnya izin ini justru ketika negera Indonesia sedang dalam situasi moratorium pemberian izin untuk perkebunan kelapa sawit1 untuk dikawasan hutan dan kawasan gambut. Memang izin baru untuk PT ICA bukan berada dikawasan gambut atau kawasan hutan alam, tapi justru lebih membahayakan, karena izin tersebut berada tepat diatas sumbersumber penghidupan bagi ribuan petani, karena izin tersebut tepat diatas diareal persawahan dan hutan rawa yang menjadi supply air bagi sawah-sawah di beberapa desa di Kecamatan Mersam. Selain di kecamatan Mersam, Bupati juga mengeluarkan izin bagi perusahaan PT Damasraya Palma Sejahtera dengan luas 5000 Ha di Kecamatan Batin XXIV dan kecamatan Tembesi. Dan areal tersebut juga tepat berada diatas sawah-sawah produktif milik masyarakat dan lahan potensi sawah di 2 kecamatan.

1

Kebijakan moratorium pemberian izin baru bagi perkebunan kelapa sawit baru dituangkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) No 10 Tahun 2011. Dalam inpres yang berlaku efektif mulai 20 Mei 2011 itu disebutkan, penerapan moratorium terhadap pemberian izin kawasan hutan alam dan gambut untuk perkebunan sawit berlaku efektif selama dua tahun ke depan.

3

Sungguh sebuah ironi, dimana Bupati Batanghari adalah salah satu Bupati yang dikenal sangat getol mengkampanyekan swasembada pangan di kabupaten Batanghari, justru pada sisi yang lain telah secara lansung menggadaikan lahanlahan yang menjadi sumber pangan bagi masyarakat Batanghari kepada industri besar kelapa sawit. Kini di Kabupaten Batanghari dan mungkin di Kabupaten yang lain, tak hanya lahan pangan yang digadaikan, tapi juga pengetahuan dan kearifan petani dalam pengelolaan lahannya juga digadaikan dengan model pertanian yang monokulture yang eksploitatif. Dan ditengan tekanan yang demikian serta informasi yang sedikit, petani-petani pangan telah pula berbondong-bondong meninggalkan lahan mereka, meninggalkan tradisi pertanian mereka, dan berebut masuk dalam model dan sistem pertanian moderen tersebut, dengna mimpi yang mereka gantungkan tinggi-tinggi bahwa pertanian moderen dengan model perkebunan kelapa sawit akan membuat mereka lebih sejahtera dari saat ini. Situasi diatas, kemudian mendorong petani-petani di Desa Karmeo Kecamatan Batin XXIV kabupaten Batanghari, bersama dengan tim dari Yayasan SETARA melakukan penelitian bersama dan melakukan pendokumentasian secara bersama tentang pertanian tradisional yang selama ini telah banyak dilupakan, diabaikan oleh pihak pemerintah dengan wujud pengalih fungsian lahan secara “legal” melalui izin -izin lokasi dan pemberian HGU, dan bahkan kini ditinggalkan oleh petani-petaninya, karena tergiur akan model pertanian moderen. Penelitian dan pendokumentasian ini adalah juga bertujuan untuk menjelaskan secara detail bahwa pertanian tradisional yang selama ini dilakoni oleh petani dan juga seluruh masyarakat di kecamatan Batin XXIV, adalah model pertanian yang tidak ketinggalan zaman dan bukan model pertanian yang hanya demi kepentingan ekonomi semata, tapi juga mengandung nilai-nilai yang tidak bisa dihitung dengan uang.

Tujuan penelitian
Tujuan penelitian adalah: 1. Melihat Bagaimana model pengelolaan lahan yang selama ini dikembangkan oleh petani-petani pangan Di Kecamatan Batin XXIV atau wilayah penelitian. 2. Melihat Hubungan antara pertanian tradisional sebagai model pengelolaan lahan atau pola produksi untuk menopang keseimbangan lingkungan, keberlanjutan sumber kehidupan, ketahanan pangan, dengan pengelolaan lahan sebagai perekat sosial dan budaya di wilayah study. 3. Melihat perbandingan secara cepat mengenai keuntungan apa saja yang disediakan oleh pertanian dengan model perkebunan kelapa sawit dan model pertanian tradisional yaitu Umo. 4. Mempromosikan model pertanian Umo sebagai model pertanian masa kini, yang tak hanya sebagai sumber ekonomi bagi keluarga, tapi juga menjadi benteng ketahanan pangan, benteng kedaulatan pangan, dan menjadi contoh model

4

penataan ruang yang memperhatikan keseimbangan dan keberlanjutan lingkungan. 5. Membangun dokumentasi bagi JARITANGAN 2 (Jaringan Petani Pangan) Sumatera, dan menjadi alat advokasi bagi JARINTANGAN Sumatera, dan beberapa NGO yang terlibat dalam JARITANGAN Sumatera. 6. Agar hasil riset ini bisa menjadi acuan bagi perbaikan dan perubahan kebijakan di Sumatera dan khususnya di propinsi Jambi, terutama yang berkaitan dengan kebijakan penggunaan dan pengelolaan lahan. 7. Mempromosikan penelitian-penelitian berbasiskan pengetahuan dan pengalaman petani di Sumatera.

Metode penelitian
Penelitian bersama ini hadir karena adanya makin tingginya kekhawatiran dari petani-petani pangan yang tergabung dalam JARITANGAN Sumatera terutama petani-petani yang berada di kecamatan Batin XXIV yang saat ini sedang berjuang melawan ekspansi perkebunan kelapa sawit skala besar diwilayah pertanian dan wilayah kelola rakyat. Penelitian ini adalah berbasiskan pengetahuan dan pengalaman petani, sehingga motode yang yang digunakan dalam penelitian ini juga adalah metode sederhana. Penelitian bersama ini dilakukan dengan cara diskusi mendalam, FGD dan pertemuan kampung. Pertemuan kampung dimaksudkan untuk melakukan pengecekan ulang atas informasi-informasi yang digambarkan oleh para peneliti, dan konsolidasi data dan informasi. “Kami sangat terkesan dengan penelitian yang dilakukan di Sumatera Barat, tentang perbandingan ekonomi mengenai semua komoditas, dan dari hasil penelitian itu, kami mengerti bahwa komoditas kelapa sawit bukanlah menjadi harapan, karena secara ekonomi tidak menguntungkan, dan kami juga ingin agar model pertanian kami, yaitu Umo bisa diketahui oleh orang lain, terutama petani-petani seperti kami, yang selama ini hanya dapat informasi mengenai kelapa sawit dan keuntungannya, bahwa Umo adalah model pertanian tradisonal, tapi tidak ketinggalan zaman, Umo memiliki nilai-nilai yang digagaskan pada masa kini, yaitu nilai sosial, lingkungan dan ekonomi.” Rafiq, sebagai peneliti dan juga sebagai anggota BPD di Desa Hajran.

Hasil yang diharapkan
1. Pemahaman mendalam mengenai model pengelolaan lahan yang dikembangkan oleh petani terutama yang berkaitan model pertanian dan pola produksi untuk menjawab persoalan keberlansungan ekonomi, ketahanan pangan dan keseimbangan lingkungan. 2. Pengelolaan lahan melalui pertanian tradisional yang beragam dan gilir balik menjadi alternatif bagi model pertanian masa kini, dan antitesis terhadap
JARITANGAN Sumatera adalah sebuah jaringan petani pangan di Sumatera yang dideklarasikan pada tanggal 16 Oktober 2012 di Bukit Tinggi.
2

5

model perkebunan kelapa sawit skala besar yang monoculture dan eksploitatif. 3. Sebagai dokumentasi bagi petani-petani pangan di Sumatera, dan sebagai bahan untuk melakukan advokasi terhadap ekspansi perkebunan kelapa sawit yang destruktif. 4. Sebagai rekomendasi bagi para pengambil kebijakan, agar ekspansi perkebunan kelapa sawit tidak lagi dilakukan dikawasan-kawasan penting seperti kawasan pangan dan kawasan kelola rakyat, serta kawasan yang berekologi genting seperti kawasan perbukitan dan pegunungan. 5. Menjadi dasar pembelajaran bagi petani-petani pangan, yang kini juga sedang bersip-siap untuk meninggalkan model pertanian tradisional, dan siap beralih menjadi petani-petani modern yang monokultur.

6

Pengelolaan lahan, kearifan produksi di wilayah penelitian

tradional

dan

pola

Kecamatan Batin XXIV adalah kecamatan yang berada di kabupaten Batanghari, kecamatan ini terbentuk pada tahun 1991 (PP No. 60 tahun 1991) dengan dengan luas wilayah 898.130 km2 atau ± 89.813 ha yang terdiri dari 14 Desa dan 2 Kelurahan dengan jumlah penduduk ± 25.131jiwa dengan jumlah KK mencapai 6.563 KK, dari jumlah tersebut sebut sekitar 2.520 KK adalah petani yang menggantungkan hidup dari pertanian local baik pertanian padi, karet, sayur-sayuran dan buah-buahan. Secara administrasi Kecamatan Batin XXIV memiliki batas-batas sebagai berikut :  Sebelah Utara dengan Kecamatan Mersam  Sebelah Selatan dengan Kecamatan Mandiangin  Sebelah Barat dengan Kecamatan Muara Tembesi  Sebelah Timur dengan Kecamatan Muara Bulian Kecamatan ini adalah kecamatan yang strategis, baik secara kewilayahan, dan juga secara bentangan alam. Kecamatan ini hanya berjarak sekitar 110 Km dari pusat kota Jambi, dan memiliki bentangan alam yang datar dan berbukit-bukit pada sisi yang lain. Kondisi ini membuat Kecamatan Batin XXIV menjadi wilayah yang menjadi incaran bagi pengusaha-pengusaha dari Jambi. Tak hanya dalam bentangan alam, tapi juga potensi sumber daya alam diwilayah ini juga memiliki keunikan tersendiri,

7

dimana beberapa desa, diantaranya Desa Olak Besar, Desa Jelutih dan Desa Hajran adalah sebagai desa penyangga Taman Nasional Bukit 12. Selain bentangan alam yang unik, karena berbatasan lansung dengan Taman Nasional Bukit 12, hal yang menarik lainnya adalah kearifan masyarakatnya dalam mengelola lahan dengan 3 tradisi ber Umo . Hingga saat ini, meskipun perlahan memudar akibat dari desakan model-model pertanian moderen dengan model monoculture, tradisi Be-umo masih dikembangkan tak hanya oleh masyarakat di kecamatan Batin XXIV, tapi juga oleh sebagian masyarakat pedesaan di beberapa kabupaten, seperti Kerinci, Bangko, Sarolangun, Bungo, Batanghari, Muara Jambi, dan beberapa desa di Kab. Tanjabar dan Tanjabtim. Umo menurut masyarakat di Kecamatan Batin XXIV, terbagi menjadi tiga macam, dan pembagian jenis itu menurut wilayah dan bentangannya, yaitu : 1. Umo Renah adalah berupa dataran rendah yang dijadikan sebagai lahan tempat menanam padi dan tanaman pangan lainnya, Umo Renah berada di dalam dusun/pemukiman warga, atau berada dipinggir sungai dalam dusun. 2. Umo Kasang/Umo Talang, berupa dataran tinggi yang dijadikan sebagai lahan tempat menanam padi dan kebutuhan pangan lainnya, tempatnya berada di dalam areal dusun ataupun berada jauh dari dusun/pemukiman warga, berkisar 2-50 Km dari dusun/pemukiman warga, sehingga masyarakat membuat pondok (rumah kecil sederhana) sebagai tempat tinggal selama be-umo. karena itu Umo Kasang yang berada jauh dari pemukiman ini sering juga disebut Umo Talang atau Umo Rimbo Karena lokasi areal berada jauh di dalam hutan atau rimba. 3. Umo Payo, merupakan dataran rendah yang basah/berair, dijadikan sebagai tempat menaman padi dan sayuran daun berumur pendek seperti kangkung, juga menjadi areal ternak itik, umumnya setiap paska musim panen, petani melepaskan ternak itiknya di umo payo. Saat ini Umo payo ini di sebut sawah.

3

Umo menurut beberapa petani adalah berkebun campuran. Tapi dalam pengertian yang luas Umo adalah keberagaman, baik dalam bentuk bentangan yang beragam, komoditas yang dihasilkan dan manfaat yang diberikan.

8

Umo, adalah pengertian model pertanian yang beragam, dan jenis diatas adalah dilandaskan pada bentangan umo tersebut. Jika Umo berada didalam hutan, maka Umo masuk dalam ketegori Umo Talang taua Umo Kasang dengan variasi tanaman lebih cendrung pada pada tanaman hutan, kayu-kayuan, buah-buahan hutan, karet hutan, dan jika ada tanaman padi, maka padinya adalah varietas padi ladang.

Be-umo, merupakan pertanian tradisional yang secara turun-temurun telah dikembangkan masyarakat Jambi, hampir semua suku melayu yang tersebar di berbagai kabupaten di Propinsi Jambi mengenal pertanian tradisional be-umo.4 Tradisi be-umo dikembangkan dengan menggunakan alat-alat sederhana seperti tajak (parang), tuai (ani-ani/alat untuk menuai padi), dan peralatan tradisional lainnya. Demikian juga cara membuka Umo baru, dimulai dari menebang batang kayu dengan menggunakan alat sederhana yang disebut Parang (untuk pohon kecil) dan Beliung5 (untuk pohon yang besar). Lama waktu pembukaan Umo tergantung dari luasnya Umo yang akan dibuka, dan besar kecilnya kayu-kayu yang ada didalam calon Umo. Diperkirakan satu pohon berdiameter 1 M membutuhkan waktu 1-10 hari untuk menebangnya. Setelah melakukan penebangan, kemudian dilanjutkan dengan melakukan pembakaran atau sebagian masyarakat
4

Suku Melayu Jambi merupakan penduduk asli yang tersebar di seluruh kabupaten di Provinsi Jambi, populasi Suku Melayu Jambi diperkirakan sebesar 1.170.000 orang.
5

Kapak berukuran kecil, yang diikat di kayu bulian.

9

menyebutnya dengan istilah “manggang” sebagian lain menyebutnya “merun”. Pembakaran lahan ini bukan tanpa tujuan dan metode, dimana pembakaran dianggap sebagai proses penyuburan secara alami dan tradisional dan dilakukan secara bergiliran serta dilakukan dengan mempertimbangkan arah angin dan cuaca. Setelah pembakaran lahan dilakukan, selanjutnya penanaman padi dengan cara, tanjak6 untuk umo kasang, dan nandur7 untuk umo renah. Hampir semua proses pertanian be-umo dilakukan secara berkelompok dan bergotong-royong, mulai dari membukaan lahan, penanaman, pemanenan hingga penanganan paksa panen. Beselang dan pelarian8 merupakan tradisi budaya gotongroyong yang dikenal dalam sistem pertanian tradisonal be-umo. Umo berkembang dan berubah seiring dengan perkembangan budidaya tanaman karet9, di Kecamatan Batin XIV kegiatan be-umo (khususnya umo kasang yang berada di talang/jauh dari pemukiman warga), tidak hanya mengembangkan tanaman pangan yang cocok untuk kontur dan jenis tanah umo tersebut, tapi juga menanam karet10 sebagai tanaman tahunan mereka. Sebagai sebuah tradisi, Umo adalah sebuah model pertanian berkelanjutan yang menyelaraskan daya dukung sebuah bentangan alam, Umo adalah model pertanian yang menyelaraskan keragaman baik keragaman nutrisi, keragaman pendapatan dan juga keragaman pengetahuan, dan Umo adalah model pertanian yang memperhatikan seluruh aspek, baik itu aspek sosial, ekonomi, dan aspek lingkungan. Tanpa disadari bahwa Umo adalah model pertanian tradisional yang sebetulnya sebagai model yang harusnya menjawab persoalan-persoalan ekonomi, sosial dan lingkungan yang muncul di masa kini.

6 7

Tanjak adalah kegiatan menanam padi tanpa penyemaian, biasa disebut Nugal. Nandur adalah kegiatan menanam padi setelah penyemaian benih. 8 Tradisi Pelarian dan beselang dalam berumo akan dijelaskan lebih detail di bab selanjutnya 9 Tanaman karet mulai dibudidayakan oleh petani di Jambi sejak awal abad ke 20. Ketika Belanda berkuasa di Jambi dan komoditi karet menjadi primadona pada masa itu, pemerintah Belanda membagikan bibit karet kepada masyarakat untuk di tanam. Zaman itu disebut dengan zaman kupon yang merupakan sistem pengaturan produksi karet. Lihat buku ed terjemahan, Elsbeth Locher-Scholten “Kesultanan Sumatera dan Negara Kolonial” 10 Karet yang ditanam pada masa itu dan masih ada sampai sekarang adalah karet hutan atau disebut juga dengan karet alam.

10

Umo dan nilai yang dikandungnya
Umo; benteng ketahanan pangan dan nutrisi keluarga Umo dengan semua keragaman yang dimiliki dalam bentuk komoditas, mampu menghasilkan beragam pangan bagi keluarga. Dan bahkan dimasa lalu, Umo juga mampu menyediakan berbagai jenis kayu-kayuan untuk memenuhi bahan papan bagi keluarga. Kemampuan Umo memenuhi semua kebutuhan pangan keluarga, merupakan suatu bukti bahwa sistem pertanian tradisional ini tak ternilai dengan uang. Ketersediaan bahan pangan yang beragam di Umo tak membuat keluargakeluarga yang mengusahakannya takut akan kelaparan.

11

“Segalo bahan makan yang kami butuhkan ado di Umo, sampai kayu untuk masak pun ado di Umo. Yang dak ado di Umo adalah garam, gulo dan baju. Kalau rempah-rempah, minyak semua bisa diolah dari hasil Umo. Umo memang sangat penting bagi kami, karena Umo menjadi tempat semua makan kami, dan kami dak takut kelaparan, karena di Umo semua macam makanan tersedia.” Seperti yang disampaikan oleh pak Basit sebagai salah satu petani yang sampai saat ini masih mempertahankan Umo dalam aktifitas pertaniannya.

Tak hanya karbohidrat seperti beras, umbi-umbian, protein hewani dari ayam ternak, ikan juga tersedia di Umo. Dalam pribahasa digambarkan oleh Datuk Nur Ibrahim sebagai ketua adat Batin XXIV “ Rumput Mudo Kerbaunya gemuk, pergi keaek sungai cemetik keno, naek kerumah nengok kesangkar ayam betelok, tengok kedapur lemang lah masak, masuk kekamar bini beranak.”(Rumput muda kerbau gemuk, pergi kesungai jala penuh ikan, disangkar ayam ada telur, pergi kedapur nasi masak, masuk kekamar, istri melahirkan” pribahasa ini menggambarkan bahwa tersedianya semua kebutuhan pangan di Umo. Ketersediaan pangan, juga dibuktikan dari kalender pendapatan dari Umo, seperti yang dijelaskan berikut dalam sketsa.

12

Sketsa kalender Musim dalam pola pertanian tradisional disalah satu jenis Umo Renah dan Umo Payo

Des (musim hujan) :
musim rambutan, rambai dan jmbu

Jan-Feb (air pasang) : masang pukat di sungai
Mar-Apr : air surut nyemai padi, nanam padi

Nov (mulai musim hujan):
panen labu, kacang panjang

Mei-Juni :
Sept-Okt : panen padi, musim buah duku dan durian (membuat tempoyak)

Menanam sayuran di pematang, membersihkan gulma sambil mencari ikan

Juli-Agust : panen
padi dan sayuran

“Kalau beras, kami dak pernah beli, dan sampai sekarang pun beras kami adalah beras dari Umo talang atau Umo payo (sawah basah). Ado istilah kami sejak dulu yaitu belubur 11. Kalau bahasa kini, adalah lumbung. Belubur artinya beras yang dipanen pada tahun lalu masih ada, dan terkadang beras yang dipanen tahun lalu bertemu lagi dengan beras panen tahun ini. Dan inilah yang dimaksud belubur. Kami selalu menyiapkan beras dalam bentuk padi, untuk mengantisipasi gagal panen. Dulu setiap rumah punya belubur, tapi sekarang, biso dihitung yang punya Belubur.”Datuk Nur Ibrahim. Dalam diskusi dengan petani-petani di desa Karmeo, bahwa keberadaan Belubur masa lalu adalah agar semua orang atau semua keluarga memiliki cadangan beras, dan menghilangnya Belubur saat ini karena beras mudah dibeli, dan bahkan ada beberapa petani yang menyatakan bahwa saat ini Belubur sudah pindah kepasar. Jadi kalau petani tidak tanam padi, atau gagal panen padi, mereka bisa beli kepasar. Didesa Karmeo saat ini, meskipun peran Belubur telah digantikan dengan peran pasar, namun masih banyak petani-petani yang tetap mempertahankan Belubur itu dalam bentuk yang lebih sederhana, misalnya tetap menanam padi dan
11

Belubur adalah lumbung padi, atau bangunan yang dibangun khusus untuk menyimpan padi.

13

menyimpannya, dan takarannya adalah beras yang ditanam dan di panen adalah beras yang dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka hingga pada musim tanam berikutnya. Sawah atau payo atau rawa yang menjadi tempat menanam padi, tidak hanya bisa menghasilkan beras saja, tapi juga ketika selesai musim panen, dan payo kembali berair, maka pada siklus berikutnya adalah musim memancing ikan atau menjala ikan, dan aktifitasnya ini akan berlansung hingga musim tanam berikutnya. Dan begitulah terus menerus. Tak hanya manusia yang akan memanfaatkan air yang tersedia dalam payo atau rawa tersebut, tapi terkadang banyak petani memanfaatkannya untuk berternak itik. Itik akan berpesta makan ketika sesaat setelah panen padi, karena pada waktu setelah selesai panen padi, itik akan dilepaskan disawah, dan padi-padi yang tercecer ditanah serta gabah kosong akan menjadi santapan lezat bagi itik. Dan sepanjang tiga bulan itu pula itik akan terus bertelor, dan menghasilkan protein tambahan bagi petani-petani. Sementara bagi petani yang memiliki Umo Talang (umo yang yang berada jauh didesa) mereka akan berternak ayam, sementara ternak sapi akan dilakukan di dekat pemukiman.

Sumber makanan yang dihasilkan dari Umo

Selain sayur-sayuran, bumbu-bumbu dapur juga tersedia di Umo. Biasanya bumbubumbu dapur itu ditanam disekeliling pondok, dan biasanya kaum perempuan yang punya peran menanam bumbu dapur, selain juga punya peran untuk menanam sayur-sayuran serta menuai padi. Bumbu-bumbu dapur yang tersedia adalah seperti serei, lengkuas, jahe, kunyit dan gando12. Tak hanya untuk kebutuhan dapur, tapi
12

Gando merupakan tanaman bumbu pelengkap dapur sebagai penganti bawang merah.

14

juga buah-buahan tersedia di Umo, walau memang biasanya buah-buahan ditanam di Umo Talang atau Umo Renah. Buah-buahan yang ditanam petani adalah rambutan, duku, jambu air, jambu biji, durian. Walaupun memang bukan buah seperti yang dijual dipasar, tapi setidaknya buah-buahan yang tersedia di Umo cukup mampu memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga mereka. Umo; Sumber ekonomi keluarga Pertanian campuran dengan model Umo, tak hanya sebagai penyedia pangan keluarga, di Umo telah tersedia tanaman-tanaman yang menjadi sumber ekonomi bagi keluarga, seperti kebun karet. Dan sejak dulu, karet adalah sebagai sumber ekonomi yang berkelanjutan sebuah keluarga. “Kalau beras, sayur, buah-buahan, dalam tradisi kami memang tidak dijual, kalau berlebih atau panen melimpah, paling-paling kami membaginya dengan tetangga dan sanak saudara. Tapi kalau getah dari karet atau getah dari kayu Jelutung, atau kayu-kayu untuk keperluan memasak, pasti kami jual, dan uang nya untuk memenuhi kebutuhan kami yang lain, seperti untuk membiayai anak sekolah, membeli baju, dan membeli kebutuhan-kebutuhan lainnya yang memang tidak terpenuhi dari Umo. Dan saat ini selain tanaman karet, kami juga mulai mencoba menanam pohon sawit di dalam Umo kami, tapi paling-paling 10 Batang”. Menurut pak Basit yang sampai saat ini masih mempertahankan tradisi ber Umo.

Dalam perhitungan pak Basit yang ber Umo, didalam Umo ada kebun karetnya yang luasnya sekitar 2 Ha, yang sudah dipanen ada sekitar 1000 batang karet alam atau karet hutan, dengan jumlah hasil karet sekitar 800 kg/bulan. Artinya dalam 20 hari panen 13, pak Basit akan menghasilkan 40 Kg/hari. Pak Basit akan menjual hasil
13

Panen karet biasanya tergantung hari, kalau hari hujan, maka panen tidak dilakukan. 20 hari adalah pertimbangan minimal kerja panen karet.

15

panen karetnya setiap 10 hari 1 kali, dengan total penjualan sekitar 400 kg/hari. Jika harga per Kg karet sebesar Rp 10.000/kg14, maka setiap 10 hari, pak Basit akan memperoleh uang sebesar Rp 4.000.000. Berarti dalam 1 bulan dengan perhitungan 2 kali jual hasil karet, maka pak Basit akan mendaparkan uang sebesar Rp 8.000.000, dan dana ini menurut pak Basit adalah diperuntukkan untuk biaya sekolah anak yang berjumlah 3 orang (anak tertua saat ini sedang bersekolah di sekolah Menengah Pertama), biaya membayar listrik, membayar cicilan motor dan untuk simpanan tabungan. Dari Umo, pak Basit memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dan dari Umo pula pak Basit bisa memiliki dana simpanan untuk memenuhi kebutuhan bagi anak-anak nya yang sedang bersekolah. Menurut beberapa petani yang lain yang juga terlibat dalam diskusi kami, bahwa saat ini petani bisa memanfaatkan semua yang dihasilkan oleh Umo untuk pendapatan ekonomi yang lain, misalnya mulai menjual sayur-sayuran yang dihasilkan dari Umo, menjual buah Durian, Duku dan Rambutan kalau lagi musim buah-buahan, dan menjual beras. Tapi dengan pertimbangan bahwa semua kebutuhan dan juga keperluan rumah tangga telah cukup. Sehingga Umo tidak hanya bisa menyediakan bahan pangan yang sehat bagi keluarga, tapi juga sebagai sumber ekonomi. Karena menurut beberapa petani, salah satu keunggulan kelapa sawit yang saat ini menyilaukan mata para petani Umo adalah, karena kelapa sawit memang bisa dijual dan menghasilkan uang cash bagi petani. Dan jika memang hasil-hasil dari Umo bisa juga dijual dengan harga yang baik, dan juga memiliki pasar yang pasti, maka sudah pasti petani Umo tidak akan dengan gampang menjual atau bahkan mengubah bentangan Umonya menjadi kebun kelapa sawit. Umo sebagai ruang bagi interaksi sosial Tradisi be-umo merupakan hal yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Batin XXIV, selain komoditas yang dihasilkan oleh Umo, ternyata tradisi memiliki nilai-nilai sosial budaya yang tidak bisa dinilai dengan mata uang. Tradisi bertukar makanan atau hasil pangan dari Umo, dan tradisi memberi hasil pangan bagi keluarga yang tidak memiliki Umo adalah beberapa contoh dari nilai itu. Nilai yang lainnya adalah ketika membuka Umo, dan beberapa kegiatan panen dalam Umo juga memiliki nilai gotong royong. Nilai gotong royong diperlihatkan dengan beberapa model dalam aktifitas pertanian di Umo, yaitu Beselang (bersama-sama) dan Pelarian (bergiliran) : 1. Beselang15: yaitu gotong-royong dalam bentuk mengerjakan salah satu aktivitas proses pertanian padi dengan cara beramai-ramai misalnya, satu keluarga mengundang/meminta kepada orang banyak baik tua ataupun muda, untuk

14 15

Harga ini adalah harga karet ketika hasil studi ini dilakukan Menanam pagi bersama-sama.

16

membantu menanam padi dalam waktu yang diinginkan16, pada hari tersebut semua masyarakat dusun datang ke umo membantu menanam padi, tuan rumah atau keluarga yang mengundang menyiapkan kebutuhan makan pagi, makan siang dan makanan selingan. Dan apa bila beselang dilakukan di Talang (Umo Kasang yang berlokasi jauh di luar dusun) masyarakat akan berangkat ke talang pada sore hari menjelang hari Beselang di pagi hari17. Untuk kebutuhan makanan bagi orang-orang yang ikut Beselang adalah ditanggung oleh pemilik upacara Beselang. 2. Pelarian: bentuk gotong-royong yang dilakukan dengan cara membantu orang lain dalam aktiftas pertanian seperti menanam pagi, menuai padi, dengan sistem bergiliran, pebedaanya dengan Baselang adalah Baselang dilakukan secara beramai-ramai dan tidak bergiliran, namun sesuai dengan kebutuhan atau permintaan orang yang meminta bantuan Beselang, siapapun yang meminta bantuan Beselang semua orang baik diberitahukan langsung oleh yang meminta Bantuan atau tidak secara suka rela semua orang akan datang ketempat Beselang dilakukan. Sementara pelarian hanya dilakukan oleh beberapa orang saja (5-10 orang). 10 orang ini akan melakukan gotong-royong di Umo atau dikebun secara bergantian, tergantung kesepakatan berapa hari, misalnya masing-masing mendapatkan bantuan tenaga 2 hari secara bergantian. Untuk kepentingan konsumsi orang-orang yang terlibat dalam Pelarian, adalah berdasarkan kesepakatan, tapi dalam banyak contoh di desa, masing-masing orang yang ikut dalam gotong royong dengan sistem Pelarian, setiap orang membawa bekal dari rumah masing-masing, dan ketika tiba waktu makan siang setelah berkerja semua orang akan saling berbagi makanan dan bertukar-tukar bekal. Budaya bergotong-royong dengan model Beselang dan Pelarian, tidak hanya sebatas Lingkungan keluarga dan kerabat saja, namun sepanjang orang tersebut berada dalam satu dusun, ataupun dari luar dusun tetapi satu kebutuhan areal pertanian atau setidaknya saling kenal maka proses saling membantu akan dilakukan. Beselang tidak hanya terjadi dalam komoditas padi, tapi juga dalam komoditas yang lain seperti kebun karet, dimana beselang dilakukan ketika membersihkan kebun karet. “Beselang tu intinyo kerjo-samo, saling bantu, kalo dulu kito nanam padi luas, paling dikit seorang punyo 2 Ha, tapi jadi semangat kareno semuo orang be-umo, belumbo nak dapat padi panyak, kerjo berat berat jadi teraso ringan kareno saling bantu, kalo musim nanjak/tanam dengan cara nugal atau musim nuai/panen, bengantian ngundang orang

Biasanya pemuda/i secara lisan memberitahukan pesan berantai tersebut kepada pemuda/i lainnya, dan orang-tua akan memberitahukan kepada orang-tua lainnya. 17 Pada malam hari pemuda/i dan masyarakat yang akan ikut beselang tidak tidur hingga menjelang pagi, waktu semalaman suntuk diisi dengan kegiatan berbalas pantun, tak jarang moment seperti ini juga menjadi ajang cari jodoh bagi muda-mudi.
16

17

sedusun beselang, bilo perlu dusun orang lain di bagi tau jugo, apo idaknyo rame, kadang lebih saeratus orang yang datang.” Menurut cerita Pak Bustomi dari Desa Karmeo. “Bahkan tak jarang petani disini datang ketempat baselang yang dilakukan dikampung lain, kami dulu sering pergi baselang sampe Mersam, asal tahu ado orang baselang di sano datang kesano pake sepeda, bujang-gadis(pemuda-pemudi) ramai nian, biasonyo kalo bujangan yang pintar bepantun akan mendapatkan banyak kain dari gadis, sebagai pertanda suka atau simpatik, dak jarang tradisi beselang juga menjadi ajang mencari jodoh bagi bujang-gadis saat itu’. Sambung Pak Basit 3. Basokat; adalah Interaksi sosial juga dengan cara berzakat menggunakan beras dari Umo. Sebagai masyarakat yang pada umumnya adalah penganut Agama Islam, syiar-syiar Islam juga memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan budaya kekerabatan di Batin XXIV, kejujuran dan kepedulian satu sama lain dituangkan dalam pelaksanaan Basokat , yaitu mengeluarkan zakat dari padi yang didapatkan tiap tahunnya, masing-masing petani mengeluarkan zakat padinya sebanyak 10 persen dari total padi yang didapat18. Dan Basokat atau zakat itu akan diberikan kepada warga yang kurang mampu. 4. Bertukar Benih dengan warga lain, adalah juga termasuk interaksi sosial dan memiliki nilai gotong-royong. Dalam pertukaran benih, segala macam jenis benih padi yang ada, secara suka-rela menyebar kesemua masyarakat dengan sistem sharing atau betukar, benih jenis tertentu ditukar dengan benih yang lain atau bisa juga ditukar dengan bentuk barang yang dibutuhkan lainnya. Atau bisa juga benih yang diberikan akan digantikan dengan benih baru setelah panen tiba. Pertukaran benih ini adalah dimaksudkan agar benih tidak di monopoli oleh satu pihak saja, dan juga keragaman benih lokal tetap ada, sehingga ketika terjadi pertukaran bahan makanan, baik itu besar ataupun yang lain, maka terjadi pertukaran jenis nutrisi secara alamiah. Banyak nilai-nilai sosial yang terkandung dalam model pertanian tradisional Umo, tak hanya pada proses aktifitas dalam Umo, tapi juga ketika membuka Umo, aktifitas gotong royong juga dilakukan. Gotong royong dilakukan agar semua masyarakat didesa memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki Umo, sehingga di desa tak ada yang tidak punya Umo, dan tidak ada pula yang memiliki Umo lebih besar dan lebih luas dari masyarakat yang lainnya (monopoli lahan). Tapi saat ini beberapa petani telah mulai meninggalkan tradisi ini, mereka lebih memilih menjadi pekerja di
Alat timbang/ukur yang digunakan disebut gantang, 1 gantang padi senilai dengan 3 Kg padi, pendapatan 400 gantang padi, dikeluarkan zakat sebanyak 40 gantang, ini merupakan kewajiban yang disadari oleh masyarakat untuk terus dilakukan meski belum ada yang mengatur sistem pengumpulan dan pendistribusiannya, masing-masing orang secara suka rela mengeluarkan zakat dan membagikannya kepada orang miskin, tua renta, janda, anak yatim, dan orang yang tidak beumo.
18

18

perusahaan perkebunan ketimbang berkerja di Umo mereka, sehingga banyak Umo kini terlantar, dan bahkan banyak juga Umo yang kini telah berganti rupa menjadi kebun kelapa sawit milik perusahaan. Umo dan perempuan Umo secara khusus memiliki keterikatan dengan perempuan. Seperti ikatan antara ibu dan anak. Ikatan tersebut makin kuat ketikan Umo tersebut berisi tanaman padi, baik padi ladang ataupun padi payo. Misalnya saja, menjelang masa-masa padi mulai berisi, pada sore hari ibu-ibu selalu membuat perapian di pematang sawah sebagai makna menunjukkan kepada tanaman yang ada di Umo, terutama tanaman padi, bahwa pemilik Umo berada di Umo bersama mereka (tanaman padi), dan ketika para perempuan atau ibu-ibu hendak pulang kerumah, para perempuan itu akan saling mengikat daun padi dari dua batang padi yang berdekatan sembari mengucapan “tetaplah disiko besok aku akan datang lagi/ tetaplah disini, besok aku akan kembali”. Ucapan ini selain bermakna bentuk syukur dan pengharapan agar bulirbulir padi tetap terjaga hingga musim panen tiba, juga sebagai bentuk kasih sayang yang ditunjukkan oleh perempuan terhadap tanaman padi dan tanaman yang lain yang ada didalam Umo, seperti ikatan ibu dengan anaknya.

Di Umo, peran perempuan lebih terlihat, terutama Umo yang tanamannya adalah tanaman pangan seperti sayur, padi, buah-buahan dan juga bumbu-bumbu dapur.

19

Para perempuan memang berkuasa di wilayah ini, dari proses menanam, merawat, memanen, hingga proses memasak, para perempuanlah yang paling berperan dan memiliki ruang penuh. Umo bagi perempuan seperti ruang kreasi bagi pemenuhan kebutuhan pangan yang bervariasi, ruang kreasi bagi pemenuhan beragam nutrisi bagi keluarganya. Tanpa Umo, ruang kreasi perempuan akan hilang, karena dari Umo semua bermula, keragaman pangan dan keragaman nutrisi. Pada situasi saat ini, meskipun Umo telah banyak digantikan perannya oleh pasar, tapi kemudian pemenuhan atas keragaman dan nutrisi tergantung dari ketersediaan uang cash yang dimiliki. Hal yang lain adalah, tanpa Umo, perempuan seperti seorang ibu tanpa anak. Dibawah ini akan digambarkan peran perempuan dalam aktifitas pertanian tradisional dengan model Umo. Aktifitas diantaranya adalah : 1. Menanam padi, mulai dari menyiapkan lahan, penyemaian, penyiangan, panen, paska panen (menjemur, ngirik/menggiling padi, menumbuk padi menjadi beras dan proses penyimpanannya). 2. Pemuliaan benih, khususnya penggunaan benih local, perempuan umumnya bertanggung-jawab terhadap pemuliaan benih (memilih dan menyimpan), 3. Menaman tanaman buah-buahan, sayur-mayur, dan bumbu dapur, 4. Bertani karet, keterlibatan perempuan bersama dengan pihak laki-laki terkadang dari mulai penyiapan lahan, menaman, membersihkan, motong/panen, ngodel, bahkan ada yang ikut mengangkut hasil hingga ketempat penampungan. 5. Menjaga dan mengembangkan tanaman pangan yang merupakatan tanaman hutan (manggis, rambai, durian daun, tampui, buah jentik ikan, petei, jengkol, kabau, cempedak hutan, buah berangan, sagu gizi, sayuran langgui/rimbang, kacang gelimbing/kecipir, bumbu dapur berupa daun salam, asam kandis, asam glugur dan asam siriang-riang). 6. Mengurus ternak (tidak hanya ayam, itik, tapi juga kambing dan kerbau/sapi), 7. Mencari ikan di sawah, payo dan di Sungai. 8. Mengolah bahan pangan menjadi makanan bagi keluarga. Jika mencermati diatas, bahwa terlihat perempuan memiliki ruang paling besar dalam model Pertanian Umo. Mungkin bisa dikatakan bahwa Umo adalah ruangnya perempuan. Dan bayangkan jika Umo kini telah banyak berganti kebun kelapa sawit, berapa banyak perempuan yang kehilangan ruang, dan berapa banyak anak-anak yang kehilangan sumber nutrisi bagi pertumbuhannya dan perkembangannya. Umo; model penataan ruang yang berbasis keberlanjutan Melihat bentangan dari Umo, terlihat harmonisasi atas penggunaan lahan, harmonisasi peruangan yang tepat dan sangat memperhatikan daya dukung dan kesesuaian lahan. Salah satu contoh, ketika Umo Payo hanya ditanam dengan padi payo dengan waktu hanya 1 kali tanam dalam 1 tahun, membuktikan bahwa petani begitu arif dalam memberikan ruang bagi kehidupan yang lain seperti ikan dan juga

20

ternak, bahkan memberikan ruang bagi tanah untuk kembali bernafas. Begitu pula ketika di Umo Kasang atau Umo Talang, tanaman yang ditanam adalah tanaman keras seperti karet, kayu dan buah-buahan. Dan jika ada padi yang ditanam di Umo Talang, padi itu adalah padi talang atau padi ladang. Selain pola tanaman yang beragam yang memiliki makna akan keragaman bentangan alam, juga ada pola-pola tradisional yang petani gunakan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, yaitu : 1. Dalam mementukan lahan pertanian padi, petani melihat apakah di lahan tersebut terdapat kayu bungor19 berarti tanah tersebut lembab dan cocok untuk ditaman padi. 2. Dalam penanggulangan hama, petani menggunakan Tubo Seluang (akar kayu), akar Tubo Seluang dikeringkan dan dibakar, lalu abunya di letakkan di antar tanaman Timun atau padi. 3. Membakar lilin lebah (Sarang Lebah) untuk mengusir hama Welang sangit20 yang biasanya menyerang tanaman padi. 4. Penetapan musim taman dengan melihat bintang tigo (dalam bahasa jawa biasa disebut lintang luku), bintang berderet tiga yang dapat dilihat disaat gerhana bulan, jika bintang yang pertama lebih terang, maka penanam padi dilakukan lebih awal, jika bintang yang kedua lebih terang maka menaman padi dilakukan pada pertengahan musim tanam, namun jika bintang yang ketiga lebih terang maka sebaiknya menaman padi dilakukan pada akhir musim tanam. Jika bentangan alam telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit, akankah polapola kearifan ini tetap ada? Dan ketika Umo telah berganti wajah menjadi kebun kelapa sawit yang monokulture, akankah keseimbangan alam tetap terjaga?

Sejenis kayu yang hidup ditanah-tanah yang mengandung air, dan kayu ini menjadi pertanda kesuburan tana untuk menaman padi. 20 Sejenis hama padi
19

21

Umo dalam konteks kekinian
Umo dimasa kini, meskipun telah mulai redup akibat makin mengkilapnya model pertanian moderen dengan wajah perkebunan kelapa sawit, namun sebagian petani masih tetap meneruskan Umo sebagai pilihan mereka dalam mengelola lahan pertanian. Umo dimasa kini mungkin tak lagi seberagam dahulu, tak lagi seluas dimasa lalu. keterbatasan lahan lah yang mendorong petani-petani Umo memilih untuk mengintensifkan lahan pertanian mereka. sehingga tak heran jika Umo saat ini telah mulai dikembangkan saat ini adalah bukan lagi karet alam, tapi sudah mulai menggunakan karet unggul, dan padi ladang tak lagi bisa ditemukan di Umo Talang, karena semua ruang Talang kini hanya diperuntukkan bagi kebun karet dan kebun buah-buahan atau untuk sawit, sementara untuk padi, kini petani hanya memberikan ruang di kawasan yang ber air (kawasan payo atau rawa) saja. Itupun padi yang ditanam adalah jenis padi yang bisa ditanam sebanyak 2 kali dalam 1 tahun, sehingga penggunaan sawah dilakukan semaksimal mungkin. Dampaknya secara nyata adalah penggunaan pestisida tak terhindarkan untuk mengintensifkan penggunaan lahan secara maksimal. Tingkat kesuburan tanah akibat bentangan industri perkebunan kelapa sawit disekeliling desa Karmeo yang berdampak pada menurunnya ketersediaan air dan tingginya serangan hama adalah masalah lain yang juga berdampak pada makin menurunnya tingkat keragaman komoditas Umo di Desa Karmeo. Pencemaran air akibat penggunaan pestisida berbahaya oleh industri perkebunan juga turut dalam mengurangi ketersediaan protein berupa ikan dari Sungai.

22

Pada situasi kini, petani Umo memang tidak memiliki pilihan yang banyak, ditengah fakta-fakta buruk yang makin menekan keberadaan Umo dan varietas komoditas yang dihasilkannya. Kini keberadaan Umo makin menyempit dan bahkan sedang menunggu waktu untuk lenyap dari model dan sistem pertanian di Kecamatan Batin XXIV. Umo diantara Kebun sawit, kebun kayu, dan program pemerintah “Sejak perusahaan dah banyak disekitar dusun kami, kami sudah mulai dak lagi bisa membuka Umo, katonyo hutan dak boleh lagi dibuka karena punya negara. Mau dak mau Umo yang adolah yang kami kerjakan. Tapi makin lamo makin susah kami yang ber-umo ni, soalnyo, kami dak boleh lagi merun (membakar lahan), katonyo kalau membakar, kami kena tangkap dengan polisi, padahal merun (membakar) itu adalah tradisi kami dalam beumo. Kalau dak merun (membakar) bukan beumo namonyo. Jadi sekarang ni, bukannya kami tak mau lagi beumo, tapi karena banyak nian peraturan yang dak boleh.” Menurut pak Mahfus dari desa tetangga Desa Karmeo.

Tanaman sayur yang subur setelah pembakaran

Beberapa petani di beberapa desa di Kecamatan Batin XXIV, yang dahulu berumo kini telah berganti menjadi petani sawit, selain karena larangan pembakaran lahan, menurunnya ketersediaan air dan tingginya hama akibat hilangnya hutan dan berganti jadi bentangan perkebunan kelapa sawit, juga menjadi penyebab makin menghilangnya tradisi ber Umo di kecamatan Batin XXIV. Bayangkan saja, sejak tahun 1995 hingga tahun 2012, terdapat 8 unit perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Batin XXIV dengan luas izin mencapai 47.360 Ha, atau sekitar 52% dari luas total wilayah Kecamatan Batin XXIV yang luasnya hanya berkisar 89.813 Ha

23

telah menjadi milik perusahaan besar kelapa sawit. Tak dapat dibayangkan, berapa juta liter air yang hilang yang diserap oleh jutaan pohon kelapa sawit dan berapa juta hama yang ditimbulkan oleh ribuan hektar ini. Kehadiran perusahaan tak hanya mengubah fungsi lahan, tapi juga turut mengobah pola dan budaya berkerja petani, dari petani kini banyak yang berubah menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit dengan upah harian kerja21 sebesar Rp. 41.000 45.000/hari dengan waktu kerja dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Perubahan ini juga terlihat jelas dari makin menurunnya petani yang mengelola lahannya, terutama sawah di Kecamatan Batin XXIV. Bayangkan, sepanjang tahun 2008-2010 terjadi penurunan luas lahan pertanian pangan yang tertanam, pada tahun 2008 misalnya, luas tanaman padi yang ditanam dan dikelola oleh petani di Kecamatan Batin XXIV hanya 394 Ha (dari luas total sawah keseluruhan mencapai 1.301 Ha) artinya hanya sekitar 30,2 % lahan yang ditanam dan dikelola. Dan penurunan makin drastis pada tahun tahun 2010 hingga sekarang yang hanya 81 Ha saja yang dimanfaatkan atau yang ditanam oleh petani. Sisanya sekitar 30% telah berubah menjadi kebun sawit dan 70% lainnya adalah tidak dimanfaatkan, karena petani lebih memilih menjadi Buruh harian Lepas ketimbang bertani diatas lahannya sendiri.

Catatan penting dari keluarga di Desa Hajran Sebuah keluarga 1 orang suami, 1 orang istri, dan 2 orang anak. Suami dan istri berkerja sebagai BHL di perusahaan perkebunan dengan upah masing-masing Rp 45.000/hari. Sebagai pasangan BHL, mereka akan menerima upah Rp. 90.000/hari. ssebagai BHL, pekerjaan tidak dilakukan secara terus menerus, dan terkadang BHL hanya akan berkerja selama perusahaan membutuhkan pekerja untuk pemupukan, pembibitan, dan penyemprotan. Jika pekerjaan sudah selesai, maka BHL tidak akan diperkerjakan lagi, kecuali perusahaan membutuhkannya kembali untuk tahun berikutnya. Untuk kebutuhan makan sehari-hari : Beras 1 kg/hari : harga beras Rp 6.500/kg (ini adalah beras yang kualitas rendah) Lauk-pauk 0,5 Kg/hari : rata-rata harga ikan Rp 15.000/kg (ikan sungai) Sayur 2 ikat/hari : harga Rp 1000/ikat Cabe 1 ons/hari : harga Rp 5000/ons Bumbu-bumbu : Rp 3000/hari Minyak goreng 0,25/hari : Rp 3000 Gula, garam,teh, kopi : Rp 3000 Listrik : Rp 5000 (dengan perhitungan setiap bulan harus bayar listrik sebesar Rp 150.000/bulan Gas untuk masak : Rp 2000 (dengan perhitungan setiap bulan mereka harus membeli gas sebesar Rp 60.000/bulan Biaya sekolah dasar 1 anak : Rp 10.000 ( biaya ini sudah termasuk biaya SPP dan uang jajan anak disekolah sebesar Rp 2000/hari. Jika dijumlahkan, maka setiap hari, keluarga ini harus menganggarkan sebesar Rp 53.500/hari.

21

Upah ini adalah upah untuk Buruh Harian Lepas, yang pekerjaannya adalah pembibitan, pemupukan, pembersihan piringan, dan juga bagian seprot.

24

Selain desakan pertanian Moderen dengan model perkebunan kelapa sawit, penguasaan hutan untuk perkebunan kayu juga memberikan dampak serius terhadap kesuburan tanah dan kesetersediaan air di kawasan-kawasan yang memang diperuntukkan oleh petani untuk pertanian padi basah. “ Kami petani ini serba salah, mau tanam padi dan sayur, air dak ado lagi, habis diserap dengan kebun sawit dan kebun akasia, mau nanam sawit, lahan juga dak besar nian. Kalau pun kami nanam sawit, paling Cuma bisa beli beras murah dipasar, padahal selama ini kami makan beras yang bagus. Sementara mau beli beras bagus harga mahal, mano cukuplah kalau Cuma tanam sawit 1 hektar, hargo sawit kan dak pernah naik, malah harga beras sama makanan pokok yang naik terus.” Salah satu ungkapan petani yang kini menyesal menanam sawit, tapi tak punya banyak pilihan. “banyak nian masalah yang buat kami ini petani kecil dak biso berumo lagi, selain keberadaan perusahaan di wilayah kami ini, program pemerintah juga banyak membuat petani-petani kami ini dak mau lagi be umo dan dak mau lagi besawah. Misalnya saja, program Raskin 22 masuk desa kami ini, membuat banyak petani dak lagi mau beumo, karena sudah dapat beras murah. Bayangkan harga raskin cuma Rp 2000/kg. Karena sudah ado beras, jadi sawah-sawah mereka tinggalkan dan bahkan ada yang dijual kepada perusahaan, atau ada pula yang nanam sawit di sawah.” Datuk Ibrahim. “Sejak raskin dibagikan ke desa-desa, petani padi juga banyak yang menerima raskin, sehingga sebagian petani yang dua tahun telah menerima raskin merasa tidak perlu lagi menglola sawahnya, karena raskin yang diterima cukup untuk memenuhi kebutuhan konsusmi keluarganya, meskipun tidak cukup untuk satu bulan. Kedepan pembagian raksin ini harus lebih berhati-hati, jangan membagikan beras raskin pada petani padi, karena sama halnya dengan menyuruh mereka tidak lagi menanam padi”. Hj Sumardiyanti.23 Ber-Umo di kebun sawit atau Berkebun sawit di Umo? Jika dahulu, kita pasti berfikir bahwa perusahaan besar kelapa sawit hanya tertarik untuk menguasai hutan, karena nilai ekonomi yang diperoleh dari kayu-kayu yang ada dihutan cukup untuk membiayai pembangunan kebun kelapa sawit dalam skala besar, dan mustahil perusahaan akan tertarik untuk membangun kebun diruang kelola rakyat dan ruang kelola petani. Tapi ternyata anggapan itu, salah, justru saat ini perusahaan besar mulai beramai-ramai berebut lahan-lahan yang saat ini dikuasai oleh petani-petani local. Berbagai macam dilakukan, dari memaksa petani untuk menjual lahannya kepada perusahaan, hingga memaksa petani untuk terlibat sebagai mitra perusahaan. Umo, baik itu Umo Talang/Umo kasang, Umo Renah, dan bahkan
22

Raskin adalah ringkasan dari Beras Miskin. Raskin adalah program pemerintah untuk menyediakan beras murah bagi masyarakat miskin. 23 Disampaikan pada dialog publik yang dilakukan oleh SETARA bekerja sama dengan BPK Kab. Batanghari. 20, Juni 2013 (Narasumber Hj. Sumardiati SP-Kepala BKP Kab. Batanghari ). Info ini dibenarkan oleh petani yang menjadi partisipan dialog.

25

Umo Payo kini dalam ancaman industri ini. Umo dan petaninya kini harus berjuang sendirian, pemerintah yang diharapkan mampu melindungi Umo sebagai model pertanian tradisional ternyata tak bisa diharapkan. Kini pertanian moderen sedang mengintai sumber-sumber kehidupan petani. “Kalau biso, kami mengharap agar petani berfikir seribu kali sebelum menjual lahan kepada perusahaan, karena kalau petani menjual lahan kepada perusahaan, sama halnya dengan menjual nyawa, dan petani juga harus berfikir seribu kali sebelum memutuskan untuk menanam kelapa sawit. Sawit itu bagus Cuma dalam 35 tahun setelah itu, tanah mati. Jadi kalau memang masih bisa memilih tanaman keras, karena air sudah susah, sebaiknya tanam karet saja. paling tidak karet masih bisa disimpan kalau harga rendah. Lagi pula karet tidak membunuh tanah.” Pak Daraman, petani sawit. “Kalau Cuma ngandalkan kebun sawit, dak telap, soalnya kebutuhan harian dan bulanan sangat tinggi, untuk memenuhi kebutuhan kami, istri saya membuat kebun sayur dihalaman rumah, dan saya juga harus cari kerjaan yang lain, seperti menjadi guru, karena hasil uang dari jual buah sawit pun hampir 40% kembali lagi ke kebun sawit untuk biaya upah panen, ngangkut, dan biaya lainnya.” Sambung pak Daraman.

Sketsa diatas menunjukkan bahwa, petani sawit memang secara cepat mendapatkan dana segar, tapi dana segar yang diperoleh dari menjual TBS tidaklah mampu menutupi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan dasar lainnya. Sehingga fakta yang terjadi saat ini adalah, petani sawit mengurangi belanja untuk kebutuhan pangan mereka, mengurangi keragaman konsumsi pangan, dan mengurangi kualitas pangan. Selain mengurangi konsumsi dan keragaman pangan, tak jarang anak-anak mereka berhenti bersekolah hanya untuk diperkerjakan sebagai

26

buruh diperusahaan, agar mereka bisa mendapatkan pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Tabel perbandingan sumber kebutuhan petani24
Petani Umo Beras Sayur cabe Ikan Bumbu dapur Gula, teh, garam, kopi Minyak goreng Buahbuahan Obatobatan Sumber Umo V V V V V Beli Beras Sayur Cabe Ikan Bumbu dapur Gula, teh, garam, kopi Minyak Goreng Buahbuahan Obatobatan Petani plasma Sumber Umo Beli V V V V V V

V

V V V

V V V

Pola pangan petani sawit, hampir semua kebutuhan adalah dibeli di pasar, dan instan.

Sumber: hasil pemetaan bersama tentang sumber kebutuhan petani sawit dan petani Umo, untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
24

27

Kesimpulan
1. Umo dengan semua kekuatannya adalah sebuah sistem pertanian tradisional yang menyelaraskan ketahanan pangan, kedaulatan pangan, keragaman nutrisi, sumber ekonomi berkelanjutan, sistem interaksi sosial, pengarus utamaan peran perempuan, dan sistem yang secara baik menyelaraskan keseimbangan lingkungan yang berdasarkan pada daya dukungnya. Umo memberikan lebih banyak manfaat daam jangka panjang dari pada berkebun kelapa sawit. Umo adalah sebagai pasar segar yang beragam dan bernutrisi tinggi bagi keluargakeluarga, dan hanya dibayar dengan tenaga, dan bukan dengan uang cash. 2. Umo adalah model pertanian tradisional yang saat ini masih tetap bisa digunakan sebagai jawaban bagi persoalan kerawanan pangan, kerusakan lingkungan, kemiskinan, tersingkirnya peran perempuan yang diakibatkan oleh kehadiran pertanian moderen, baik itu perkebunan kelapa sawit dan perkebunan kayu yang industrialistik.

Rekomendasi
1. Ekspansi perkebunan yang monokulture telah memberikan kontribusi yang buruk bagi ekosistem, juga lahan-lahan pertanian milik petani. Untuk itu pemerintah untuk segera mungkin segera menghentikan pemberian izin bagi perusahaan-perusahaan skala besar, baik itu untuk kepentingan industri perkebunan kelapa sawit, maupun untuk industri perkebunan kayu (HTI). Pemerintah juga hendaknya melakukan perlindungan lahan-lahan pertanian pangan, melalui penataan ruang dan peraturan desa tentang perlindungan lahan-lahan pertanian pangan dan ekosistem yang mendukungnya. Umo seharusnya dipromosikan sebagai model pertanian yang harus diindungi dan dikembangkan oleh petani dimasa kini. 2. Pemerintah bersama pihak-pihak lainnya mendorong agar petani pangan agar mampu mendorong komoditas pangan yng dihasilkan dari Umo bisa menjadi komodotas yang diperjual belikan dipasar tradisional sehingga, selain hasil Umo bisa di konsumsi sendiri, tapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi secara lansung. Bagi aktivis LSM untuk turut segera mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman masyarakat tentang model pertanian, yang sebetulnya lebih arif dari model pertanian moderen yang saat ini menjadi style hampir seluruh petanipetani di Indonesia.

Penutup
Segala Puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk menyelesaikan penelitian ini, meskipun banyak sekali masalah yang kami temukan. Dan kami mengucapkan terima kasih atas dukungan Misereor terhadap kami dan juga petani-petani di Jambi, dan terutama telah banyak memberikan montivasi untuk

28

membuat dokumentasi dan penelitian yang berbasikan pengetahuan masyarakat. dan ini adalah adalah dokumentasi ke 2 dan tentu juga menjadi bagian kedua dari buku pertama yang mendokumentasikan pengetahuan, pengalaman petani-petani pangan di Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam, propinsi Sumatera Barat. dan semoga penelitian ini bukan yang terakhir, karena masih banyak pengetahuan, pengalaman petani-petani dalam pengelolaan lahan yang arif dan bijaksana yang ada di Sumatera, dan bahkan yang ada di Indonesia. Akhirnya terima kasih kepada semua pihak.
Jambi, June 2013

Research Team
Tim periset dari petani 1. Mr. Datuk Nur Ibrahim 2. Mr. M. Basit 3. Mr. A. Rahman 4. Mrs. Mahdalena 5. Mr. Asbiruddin 6. Mr. Sanusi 7. Mrs. Ida 8. Mrs Wartini 9. Mrs. Aisyah 10. Mrs. Yasnar 11. Mr. Butomi 12. Mr. Hafizi 13. Mr. Mahfuz

Tim pendukung 1. 2. 3. 4. Mrs. Nurbaya Zulhakim Mr. M. Rafik Mr. Rian Hidayat Mrs. Rukaiyah Rofiq

29