pencabutan gigi

BAB I PENDAHULUAN I.1 Abstrak Pencabutan gigi impaksi terutama gigi molar merupakan tindakan yang paling sering dilakukan baik oleh para dokter gigi maupun ahli bedah mulut dan maksilofasial. Dengan memahami resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan melakukan prosedur tindakan yang baik dan benar, maka komplikasi tersebut dapat diminimalkan.(9) I.2 Latar belakang Untuk mendukung diagnosa yang benar dan tepat serta menyusun rencana perawatan yang tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan, maka sebelum dilakukan tindakan eksodonsi atau tindakan bedah lainnya harus dipersiapkan dahulu suatu pemeriksaan yang teliti dan lengkap. Yaitu dengan pertanyaan adakah kontra indikasi eksodonsi atau tindakan bedah lainnya yang disebabkan oleh faktor lokal atau sistemik.(11) Kontra indikasi eksodonsi akan berlaku sampai dokter spesialis akan memberi ijin atau menanti keadaan umum penderita dapat menerima suatu tindakan bedah tanpa menyebabkan komplikasi yang membahayakan bagi jiwa penderita.(11) Komplikasi pencabutan gigi banyak jumlahnya dan bervariasi, serta beberapa di antaranya dapat terjadi meskipun sudah dilakukan tindakan sebaik mungkin. Respon pasien tertentu dapat dianggap normal sebagai kelanjutan yang normal dari suatu tindakan pembedahan, yaitui perdarahan, rasa sakit dan edema. Tetapi apabila berlebihan, perlu dipikirkan lagi apakah termasuk morbiditas yang biasa ataukah komplikasi. Komplikasi digolongkan menjadi intraoperatif, segera setelah operasi, dan jauh sesudah operasi.(1) Perdarahan mungkin merupakan komplikasi yang paling ditakuti, karena oleh dokter maupun pasien dianggap dapat mengancam kehidupan. Pasien dengan gangguan pembekuan darah sangatlah jarang ditemukan, kebanyakan adalah individu dengan penhyakit hati, misalnya seorang alkoholik yang menderita sirosis, pasien yang menerima terapi antikoagulan, atau pasien yang mengkonsumsi aspirin dosis tinggi atau agen antiradang nonsteroid. Semua itu mempunyai resiko perdarahan.(1) Pembedahan merupakan tindakan yang dapat mencetuskan perdarahan, untuk penderita dengan kondisi yang normal, perdarahan yang terjadi dapat mudah ditangani. Hal yang berbeda dapat terjadi apabila pasien mengalami gangguan sistem hemostasis, perdarahan yang hebat dapat terjadi dan sering mengancam kelangsungan hidupnya.(1) Bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi kita dihadapkan dengan kelainan hemostasis ringan sehingga dalam evaluasi pra bedah tidak terdeteksi secara klinis. Kesulitan kemudian timbul setelah dilakukan pembedahan, terjadi perdarahan selama ataupun sesudah pembedahan sehingga dapat mengancam jiwa pasien. Oleh karenanya kelainan hemostasis sekecil apapun sebaiknya diketahui sebelum tindakan bedah dikerjakan agar dapat dilakukan persiapan dan pencegahan sebelumnya.(1) I.3.Rumusan Masalah(1) 1. Apa indikasi ekstraksi gigi ? 2. Hal-hal apa yang perlu diperhatikan sebelum melakukan tindakan ekstraksi? 3. Kontraindikasi ekstraksi gigi ?

4. Apa saja yang perlu dilakukan setelah ekstraksi gigi ? I.4. Tujuan Penulisan(1) 1. Mengetauhi apa indikasi ekstraksi gigi 2. Mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan tindakan ekstraksi. 3. Mengetahui kontraindikasi dari ekstraksi gigi. 4. Mengetahui hal-hal penting setelah dilakukan ekstraksi gigi BAB II PEMBAHASAN II.1. Definisi pencabutan gigi4 Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, dimanan pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Pencabutan gigi juga adalah operasi bedah yang melibatkan jaringan bergerak dan jaringan lunak dari rongga mulut, akses yang dibatasi oleh bibir dan pipi, dan selanjutnya dihubungkan/disatukan oleh gerakan lidah dan rahang. Pencabutan Gigi atau extraction adalah tindakan bedah minor guna mengambil gigi dengan terlebih dahulu dilakukan tindakan anastesi (pembiusan).(3) Definisi pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik di masa mendatang. Seorang dokter gigi haruslah mengusahakan agar setiap pencabutan gigi yang dilakukannya merupakan suatu tindakan yang ideal. Untuk mencapai tujuan tersebut dan menghindari komplikasi yang mungkin timbul pada pencabutan gigi haruslah mengetahui indikasi dan kontraindikasi dari pencabutan gigi. II.2. Indikasi dan kontraindikasi pencabutan gigi Indikasi : 4 1. Gigi yang sudah karies dan tidak dapat diselamatkan dengan perawatan apapun. 2. Pulpitis atau gigi dengan pulpa non-vital yang harus dicabut jika perawatan endodontic tidak dapat dilakukan. 3. Periodontitis apical. Gigi posterior non-vital dengan penyakit periapikal sering harus dilakukan pencabutan. 4. Penyakit periodontal. Sebagai panduan, kehilangan setengah dari kedalaman tulang alveolar yang normal atau ekstensi poket ke bifurkasi akar gigi bagian posterior atau mobilitas yang jelas berarti pencabutan gigi tidak bias dihindari lagi. 5. Gigi pecah atau patah. Dimana garis pecah setengah mahkota dari akar. 6. Rahang pecah. Jika garis gigi peca mungkin harus dilakukan pencabutan untuk mencegah infeksi tulang. 7. Gigi yang merusak jaringan lunak, jika pengobatan atau terapi lainnya tidak mecegah trauma atau kerusakan. 8. Salah tempat dan dampaknya. Harus dilakukan pencabutan ketika gigi menjadi karies, menyebabkan nyeri, atau kerusakan batas gigi. 9. Gigi yang tidak dapat disembuhkan dengan ilmu konservasi 10. Gigi impaksi dan gigi non erupsi (tidak semua gigi impaksi dan non erupsi dicabut)

11. Gigi utama yang tertahan apabila gigi permanen telah ada dan dalam posisi normal. 12. Persiapan radioterapi. Sebelum radiasi tumor oral, gigi yang tidak sehat membutuhkan pencabutan, atau pengangkatan untuk mereduksi paparan radiasi yang berhubungan dengan osteomelitis. 13. Gigi dengan supernumerary, maksudnya gigi yang berlebih yg tumbuh secara tidak normal.(2) 14. Gigi persistensi, gigi sulung yang tidak tanggal pada waktunya, sehingga menyebabkan gigi tetap terhambat pertumbuhannya.(2) 15. Gigi yang menyebabkan fokal infeksi, maksudnya dengan keberadaan gigi yang tidak sehat dapat menyebabkan infeksi pada tubuh manusia.(2) 16. Gigi dengan fraktur/patah pada akar krena trauma misalnya jatuh, kondisi ini jelas akan membuat rasa sakit berkelanjutan pada penderita hingga gigi tersebut menjadi non vital atau mati.(2) 17. Gigi dengan sisa akar, sisa akar akan menjadi patologis karena hilangnya jaringan ikat seperti pembuluh darah, kondisi ini membuat akar gigi tidak vital.(2) 18. Untuk keperluan perawatan ortodontik ataupun prostodontik, biasanya hal ini merupakan perawatan konsul dari bagian ortodontik dengan mempertimbangkan pencabutan gigi untuk mendapatkan ruangan yang dibutuhkan dalam perawatannya.(2) 19. Dan biasanya yang terakhir adalah keinginan pasien untuk dicabut giginya, dengan pertimbangan 'langsung' menghilangkan keluhan sakit giginya, walaupun gigi tersebut masih dirawat secara utuh.(2) Kontraindikasi : Kontra Indikasi Sistemik(11) Pasien dengan kontra indikasi yang bersifat sistemik memerlukan pertimbangan khusus untuk dilakukan eksodonsi. Bukan kontra indikasi mutlak dari eksodonsi. Faktor-faktor ini meliputi pasien-pasien yang memiliki riwayat penyakit khusus. Dengan kondisi riwayat penyakit tersebut, eksodonsi bisa dilakukan dengan persyaratan bahwa pasien sudah berada dalam pengawasan dokter ahli dan penyakit yang menyertainya bisa dikontrol dengan baik. Hal tersebut penting untuk menghindari terjadinya komplikasi sebelum pencabutan, saat pencabutan, maupun setelah pencabutan gigi. 1. Diabetes Mellitus Malfungsi utama dari diabetes melitus adalah penurunan absolute atau relative kadar insulin yang mengakibatkan kegagalan metabolisme glukosa. Penderita diabetes melitus digolongkan menjadi: 1. Diabetes Melitus ketergantungan insulin (IDDM, tipe 1, juvenile,ketotik, britlle). Terjadi setelah infeksi virus dan produksi antibodi autoimun pada orang yang predisposisi antigen HLA. Biasanya terjadi pada pasien yang berumur di bawah 40 tahun. 2. Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (NDDM, tipe 2, diabetes dewasa stabil). Diturunkan melalui gen dominan dan biasanya dikaitkan dengan kegemukan. Lebih sering terjadi pada umur di atas 40 tahun. Pembedahan dentoalveolar yang dilakukan pada pasien diabetes tipe 2 dengan menggunakan anestesi local biasanya tidak memerlukan tambahan insulin atau hipoglikemik oral. Pasien diabetes tipe 1 yang terkontrol harus mendapat pemberian insulin seperti biasanya sebelum dilakukan pembedahan; dan makan karbohidrat dalam jumlah yang cukup. Perawatan yang terbaik untuk pasien ini adalah pagi hari sesudah makan pagi. Diabetes yang tidak terkontrol

dan khemotaksis karena hiperglikemi. bila ada pasien dalam keadaan pregnant bermaksud untuk scaling kalkulus atau ekstraksi. (ada daftarnya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh (FDA) sedative (nitrous oxide. Kehamilan Pregnancy bukan kontraindikasi terhadap pembersihan kalkulus ataupun ekstraksi gigi. Diabetes dan Infeksi Diabetes yang terkontrol dengan baik tidak memerlukan terapi antibiotik profilaktik untuk pembedahan rongga mulut. bisa dicurigai menderita diabetes. diapedisis. Untuk mengatasi ketoasidosis diperlukan pemberian insulin dan cairan. dormicum itu tidak dianjurkan). rontgen harus dihindari saja kecuali kasus akut (politrauma. harus dijadikan terkontorl lebih dahulu sebelum dilakukan pembedahan. yang terjadi bersamaan dengan kegagalan penyembuhan infeksi dengan terapi yang biasa dilakukan. misalnya meningkatnya kebutuhan insulin. kondisi tersebut akan dengan mudah membaik. syok insulin (hipoglikemia). pasien dilakukan tensi dulu. Kegagalan untuk merawat kondisi ini akan mengakibatkan kekejangan. Ini biasanya memerlukan rujukan dan kemungkinan pasien harus rawat inap. infeksi orofasial menyebabkan kendala dalam pengaturan dan pengontrolan diabetes. akan lenyap setelah melahirkan. Pasien dengan diabetes yang tidak terkontrol akan mengalami penyembuhan lebih lambat dan cenderung mengalami infeksi. dan ketoasidosis (hiperglikemia) lebih sering terjadi pada diabetes tipe 1. Jadi.dengan baik. berkeringat. Yang perlu diwaspadai adalah sering terjadinya kondisi hipertensi dan diabetes mellitus yang meskipun sifatnya hanya temporer. waspada dengan posisi tidurnya jangan terlalu baring. Hati-hati bila menggunakan obat bius dan antibiotic. Kejadian yang sering terlihat adalah hipoglikemia. namun cukup dapat menimbulkan masalah saat dilakukan tindakan perawatan gigi yang melibatkan perusakan jaringan dan pembuluh darah. sebaiknya di-refer dulu untuk pemeriksaan darah lengkap.dll). koma. Dengan pemberian glukosa secara oral (10-20 gram). Pasien dengan riwayat kehilangan berat badan yang penyebabnya tidak diketahui. dan kadar gula darahnya. Hati-hati bila pada 3 bulan pertama. Keadaan Darurat pada Diabetes Diabetes kedaruratan. yang dapat timbul sangat cepat apabila terjadi kegagalan menutupi kebutuhan akan insulin dengan asupan karbohidrat yang cukup. Pasien yang menderita hipoglikemia menunjukkan tanda-tanda pucat. Sedangkan ketoasidosis biasanya berkembang setelah beberapa hari. 2. laju endap darah. karena tidak ada hubungan antara pregnancy dengan pembekuan darah. sehingga memerlukan pemberian antibiotik profilaksis. Sebaliknya. Responnya terhadap infeksi tersebut diduga keras akibat defisiensi leukosit polimorfonuklear dan menurunnya atau terganggunya fagositosis. Kalau memang ada gigi yang perlu diekstraksi (dimana hal itu tidak bisa dihindari lagi. fraktur . dan lemah. karena bisa bikin kompresi vena cafa inferior. Perdarahan pada gusi mungkin merupakan manifestasi dari pregnancy gingivitis yang disebabkan pergolakan hormon selama pregnancy. Hal tersebut sebaiknya dilakukan di rumah sakit (pasien rawat inap).dll) bukanlah suatu kontraindikasi waktu hamil. gelisah. . Kalau memang harus dicabut giginya atau scalling pada ibu hamil. dan mungkin menyebabkan kematian. tremor. Jangan lupa sebelum dilakukan tindakan apapun. pencabutan gigi (dan juga tindakan surgery akut lainnya seperti abses. yang sering disebabkan oleh karena sulit mendapatkan insulin.

kita bisa mendapatkan rekomendasi atau izin dari dokter spesialis mengenai waktu yang tepat bagi pasien untuk menerima tindakan eksodonsi tanpa terjadi komplikasi yang membahayakan bagi jiwa pasien serta tindakan pendamping yang diperlukan sebelum atau sesudah dilakukan eksodonsi. jantung berdesir. maka sebaiknya tindakan dilakukan di kamar operasi dengan bekerja sama dengan tim code blue. misalnya pemeriksaan tekanan darah. namun dalam penangannannya perlu konsultasi pada para ahli. Kesulitan yang sering timbul pada ekstraksi gigi pada ibu hamil adalah keadaan psikologisnya yang biasanya tegang. diperlukan pemeriksaan lanjut yang teliti dan akurat. atau rumah sakit. Dengan berkonsultasi. dalam hal ini dokter spesialis jantung. Sehingga mudah infeksi dan terjadi perdarahan. Purpura hemoragik Pada pasien dengan keadaan scurvy lanjut maka perdarahan ke dan dari dalam gusi merupakan keadaan yang biasa terjadi. Kontra indikasi eksodonsi di sini bukan berarti kita tidak boleh melakukan tindakan eksodonsi pada pasien ini. Oleh karena itu.Kalau memang riskan. Perlu ditanyakan kepada pasien tentang riwayat perdarahan pasca eksodonsia. dan perawatan gigi-mulut tidak dapat ditunda sampai post-partus. kita memang harus mengetahui riwayat kesehatan pasien baik melalui rekam medisnya atau wawancara langsung dengan pasien. kelelahan kronis. 4. sehingga menuju kearah keadaan mudah terjadi pendarahan petechie dan ecchimosis. b. Selanjutnya diteruskan pada pemerikasaan darah yaitu waktu pendarahan dan waktu penjedalan darah. tknn drh rendah• tanda2 anemia • limfonodi membesr dsluruh tbh • gusi berdarah • petechyae . atau tim resusitasi. atau pengalaman pendarahan lain. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung diagnosa sehingga kita dapat menyusun rencana perawatan yang tepat dan tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan. Ekstraksi gigi pada pasien hamil yang ’sehat’ bisa dilakukan dengan baik dan aman di praktek. Lekemia Pada lekemia terjadi perubahan proliferasi dan perkembangan leukosit dan prekursornya dalam darah dan sumsum tulang. palpitasi. Lekemia Limfatika Tanda2 : • badan mkn lelah dan lemah pucat. Kelainan Darah a. misalnya saja penderita jantung rema harus diberi penicillin sebelum dan sesudah eksodonsi dilakukan. b. Jika ditemukan pasien dengan tanda-tanda sesak napas. sukar tidur dan vertigo maka perlu dicurigai bahwa pasien tersebut menderita penyakit jantung. Pada penyakit kardiovaskuler. juga konsentrasi protrombin. tekanan darah pasien naik menyebabkan bekuan darah yang sudah terbentuk terdorong sehingga terjadi perdarahan. Pasien dengan penyakit jantung termasuk kontra indikasi eksodonsi. Seandainya status umum pasien yang kurang jelas sebaiknya di konsulkan dulu ke dokter obsgin-nya. Penyakit Kardiovaskuler Sebelum menangani pasien ketika berada di klinik. Hal ini disebabkan karena fragilitas kapiler (daya tahan kapiler abnormal terhadap rupture) pada pasien tersebut dalam keadaan kurang. clinic biasa. denyut nadi pasien meningkat.1. 3. dll.

tetapi penyakit ini jarang ditemukan. konversi dari prothrombin menjadi thrombin. Penting juga ditanyakan kepada pasien apakah dia mengkonsumsi obat-obat tertentu seperti obat antihipertensi. obat-obat pengencer darah. Sedangkan pada von Willebrand’s disease terjadi kegagalan pembentukan platelet. Anemia Ciri-ciri anemia yaitu rendahnya jumlah hemoglobin dalam darah sehingga kemampuan darah untuk mengangkut oksigen menjadi berkurang. Luka ekstraksi juga memicu clotting cascade dengan aktivasi thromboplastin. Lekemia Mielogenous • Kek. Selain itu juga ada vasokonstriksi pembuluh darah. dan obat-obatan lain karena juga dapat menyebabkan perdarahan. Agar tidak terjadi komplikasi pasca eksodonsia perlu ditanyakan adakah kelainan perdarahan seperti waktu perdarahan dan waktu penjendalan darah yg tdk normal pada penderita 5. darah dapat tetap mengalir sehingga terjadi perdarahan pasca ekstraksi.• perdarahan pasca eksodonsia • batuk2 • pruritus • pemeriksaan darah menunjukkan ada anemia tipe sekunder b. dan akhirnya membentuk deposisi fibrin. d. penderita anemia memiliki kecenderungan adanya kerusakan mekanisme pertahanan seluler. 6. Hipertensi Bila anestesi lokal yang kita gunakan mengandung vasokonstriktor. pembuluh darah akan menyempit menyebabkan tekanan darah meningkat. Tbh penderita bkrg • bb berkurang • tanda2 anemia • pembesaran limfa • perut terasa kembung & mual • demam • gangguan gastro intestinal • gatal2 pada kulit • perdrahan pd bbgai bag tbh • gangguan penglihatan / perdarahan krn infiltrais leukemik • perbesaran lien • perdarahan petechyae • perdrahan gusi • rasa berat di daerah sternum c. Selain itu. Apabila kita menggunakan anestesi lokal yang tidak mengandung vasokonstriktor. Pada pasien hemofilli A (hemofilli klasik) ditemukan defisiensi factor VIII. disebabkan karena adanya interaksi antara trombosit. hemostasis primer yang terjadi adalah pembentukan platelet plug (gumpalan darah) yang meliputi luka. sehingga terjadi perdarahan. pembuluh darah kecil akan pecah. faktor-faktor koagulasi dan dinding pembuluh darah. Hemofilia Setelah tindakan ekstraksi gigi yang menimbulkan trauma pada pembuluh darah. Jaundice . Pada hemofilli B (penyakit Christmas) terdapat defisiensi faktor IX.2.

Tanda-tandanya adalah ( Archer, 1961 ) ialah kulit berwarna kekuning-kuningan disebut bronzed skin, conjuntiva berwarna kekuning-kuningan, membrana mukosa berwarna kuning, juga terlihat pada cairan tubuh ( bila pigmen yang menyebabakan warna menjadi kuning ). Tindakan eksodonsi pada penderita ini dapat menyebabkan “prolonged hemorrahage” yaitu perdarahan yang terjadi berlangsung lama sehingga bila penderita akan menerima pencabutan gigi sebaiknya dikirimkan dulu kepada dokter ahli yang merawatnya atau sebelum eksodonsi lakukan premediksi dahulu dengan vitamin K. 7. AIDS Lesi oral sering muncul sebagai tanda awal infeksi HIV. Tanpa pemeriksaan secara hati-hati, sering lesi oral tersebut tidak terpikirkan, karena lesi oral sering tidak terasa nyeri. Macammacam manifestasi infeksi HIV pada oral dapat berupa infeksi jamur, infeksi bakteri, infeksi virus dan neoplasma. Pada penderita AIDS terjadi penghancuran limfosit sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi berkurang. Pada tindakan eksodonsi dimana tindakan tersebut melakukan perlukaan pada jaringan mulut, maka akan lebih mudah mengalami infeksi yang lebih parah. Bila pasien sudah terinfeksi dan memerlukan premedikasi, maka upayakan untuk mendapatkan perawatan medis dulu. Tetapi bila belum terinfeksi bisa langsung cabut gigi. Dengan demikian, apabila dokter gigi sudah menemui gejala penyakit mematikan ini pada pasiennya, maka dokter bisa langsung memperoteksi diri sesuai standar universal precautaion (waspada unievrsal). Perlindungan ini bisa memakai sarung tangan, masker, kacamata, penutup wajah, bahkan juga sepatu. Karena hingga kini belum ditemukan vaksin HIV. 8. Sifilis Sifilis adalah penyakit infeksi yang diakibatkan Treponema pallidum. Pada penderita sifilis, daya tahan tubuhnya rendah, sehingga mudah terjadi infeksi sehingga penyembuhan luka terhambat. 9. Nefritis Eksodonsi yang meliputi beberapa gigi pada penderita nefritis, dapat berakibat keadaan nefritis bertambah buruk. Sebaiknya penderita nefritis berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli sebelum melakukan eksodonsi. 10. Malignansi Oral Di daerah perawatan malignasi suatu rahang melalui radiasi sel jaringan mempunyai aktivitas yang rendah sehingga daya resisten kurang terhadap suatu infeksi. Eksodonsia yang dilakukan di daerah ini banyak yang diikuti osteoradionekrosis rahang ( Archer, 1966 ). Apabila perawatan rad iasi memang terpaksa harus dikerjakan sehubungan dengan malignansi tersebut maka sebaiknya semua gigi pada daerah yang akan terkena radiasi dicabut sebelum dilakukan radiasi. Bahkan banyak yang berpendapat bahwa semua gigi yang masih ada di daerah itu, dibuang bersih dahulu sebelum penderita menerima radiasi yang berat. Tujuan utama adalah mencabut gigi-gigi dan melakukan alveolektomi seluruh processus alveolaris sejauh sepertiga dekat apeks lubang alveolus. Mukoperiosteal flap dibuka lebar pada daerah yang akan dikerjakan operasi dan kemudian direfleksikan ke arah lipatan mukobukal atau lipatam labial. Semua tulang labial atau bukal diambil dengan menggunakan chisel dan mallet. Pengambilan tulang tersebut meliputi daerah akar dan interseptal, dan kemudian gigi-gigi dicabut. Dengan memakai bone rongers, chisel, bone burs yang besar , kikir bulat. Semua tulang

alveolus yang tinggal dan tulang kortikal bagian lingual diambil dengan meninggalkan sepertiga dari tulang apeks alveolus. Kemudian flaps yang berlebihan digunting agar masing-masing ujung flaps dapat bertemu dengan baik, tanpa terdapat teganagan. Penyembuhan biasanya cepat dan perawatan radiasi dapat dimulai dalam waktu seminggu. 11. Hipersensitivitas Bagi pasien dengan alergi pada beberapa jenis obat, dapat mengakibatkan shock anafilaksis apabila diberi obat-obatan pemicu alergi tersebut. Oleh karena itu, seorang dokter gigi perlu melakukan anamnesis untuk mengetahui riwayat kesehatan dan menghindari obat-obatan pemicu alergi. 12. Toxic Goiter Ciri-ciri pasien tersebut adalah tremor, emosi tidak stabil, tachycardia dan palpitasi , keringat keluar berlebihan, glandula tiroidea membesar secara difus (kadang tidak ada), exophthalmos (bola mata melotot), berat badan susut, rata-rata basal metabolic naik, kenaikan pada tekanan pulsus, gangguan menstruasi (pada wanita), nafsu makan berlebih. Tindakan bedah mulut, termasuk mencabut gigi, dapat mengakibatkan krisis tiroid, tandatandanya yaitu setengah sadar, sangat gelisah ,tidak terkontrol meskipun telah diberi obat penenang. Pada penderita toxic goiter jangan dilakukan tindakan bedah mulut, termasuk tindakan eksodonsi, karena dapat menyababkan krisis tiroid dan kegagalan jantung. Kontra Indikasi Lokal(11) Kontraindikasi eksodonsi yang bersifat setempat umumnya menyangkut suatu infeksi akut jaringan di sekitar gigi. 1. Infeksi gingival akut Infeksi gingival akut biasa juga disebut dengan acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG) atau fusospirochetal gingivitis. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri fusospirochaetal atau streptococcus. Ciri-ciri penderita infeksi gingival akut adalah : a. memiliki OH yg jelek b. perdarahan pada gusi c. radang pada gusi d. sakit e. nafas tidak sedap (adanya akumulasi plak) 2. Infeksi perikoronal akut Merupakan infeksi yang terjadi pada jaringan lunak di sekitar mahkota gigi molar yang terpendam (gigi impaksi). Perikoronitis dapat terjadi ketika gigi molar 3 bererupsi sebagian (hanya muncul sedikit pada permukaan gusi). Keadaan ini menyebabkan bakteri dapat masuk ke sekitar gigi dan menyebabkan infeksi. Pada perikoronitis, makanan / plak dapat tersangkut di bawah flap gusi di sekitar gigi sehingga dapat mengiritasi gusi, pembengkakan dan infeksi dapat meluas di sekitar pipi, leher, dan rahang. Selain itu, faktor-faktor yang juga menyebabkan infeksi adalah trauma dari gigi di sebelahnya, merokok dan infeksi saluran pernapasan bagian atas. 3. Sinusitis maksilaris akut Sinus adalah rongga berisi udara yang terdapat di sekitar rongga hidung. Sinusitis (infeksi sinus) terjadi jika membran mukosa saluran pernapasan atas (hidung, kerongkongan, sinus) mengalami

pembengkakan. Pembengkakan tersebut menyumbat saluran sinus yang bermuara ke rongga hidung. Akibatnya cairan mukus tidak dapat keluar secara normal. Menumpuknya mukus di dalam sinus menjadi faktor yang mendorong terjadinya infeksi sinus. Gejala sinusitis akut : • Nyeri, sakit di sekitar wajah • Hidung tersumbat • Kesulitan ketika bernapas melalui hidung • Kurang peka terhadap bau dan rasa • Eritem di sekitar lokasi sinus • Jika menunduk ke depan nyeri berdenyut akan terasa di sekitar wajah 4. Radiasi Alasan melarang eksodonsi dengan keadaan seperti tersebut diatas adalah bahwa infeksi akut yang berada di sekitar gigi, akan menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan terjadi keadaan septikemia. Septikemia adalah suatu keadaan klinis yang disebabkan oleh infeksi dengan tanda-tanda respon sistemik, septikimia juga biasa diartikan dengan infeksi berat pada darah. Infeksi dalam rongga mulut bila tidak ditangani secara adekuat dapat menjadi suatu induksi untuk terjadinya sepsis. Bila pasien telah mengalami sepsis dan tidak segera ditangani maka keadaan sepsis ini akan berlanjut menjadi syok septic dan dapat mengakibatkan kematian pasien. Tanda-tanda respon sistemik sepsis : a. Takhipne (respirasi > 20 kali/menit b. Takhikardi (denyut nadi > 90 kali/menit) c. Hipertermi (suhu badan rektal > 38,3) Sedangkan syok septik adalah suatu sindroma klinik yang disebabkan oleh tidak cukupnya perfusi jaringan dan adanya hipoksia jaringan yang disebabkan oleh sepsis. Keadaan diatas kadangkala disebut juga Sindroma Respon Inflamasi Sistemik (Systemic Inflammatory Response Syndrome = SIRS) yaitu suatu respon inflamasi sistemik yang bervariasi bentuk kliniknya, ditunjukkan oleh dua atau lebih keadaan sebagai berikut : a. Temperatur > 38 b. Denyut jantung > 90 kali /menit c. Respirasi > 20 kali/menit d. Jumlah leukosit > 12.000/mm3 atau <>3 Komplikasi pencabutan gigi molar impaksi Komplikasi secara terminologi adalah penyakit atau jejas yang terjadi pada waktu dilakukan terapi penyakit sebelumnya.4 Waktu pencabutan gigi molar impaksi tidak dapat ditentukan dengan jelas. Bila telah ada indikasi pencabutan gigi tersebut, maka tindakan pencabutan gigi molar tiga impaksi sebaiknya pada usia relatif muda pada waktu pertumbuhan tulang telah berhenti (16-18 tahun), karena akan mengurangi komplikasi karena akar belum terbentuk sempurna (sebaiknya bila akar telah terbentuk sepertiga atau duapertiga) dan tulang sekitar gigi belum padat.5,6 Bagian terpenting dari pencabutan gigi impaksi karena tindakan ini adalah tindakan elektif adalah pemberian penjelasan dan konsultasi tentang resiko dan komplikasi sebelum tindakan. Beberapa komplikasi pencabutan gigi impaksi yang sering dijumpai: 1. Nyeri dan Bengkak 4,7,8 Ketidak nyamanan, bengkak dan rasa nyeri merupakan suatu konsekuensi tindakan pencabutan gigi impaksi, yang harus diminimalkan. Waktu tindakan yang lama dan retraksi flap akan

Relasi radiografi saraf alveolaris inferior dengan gigi molar bawah 5 1. Diseksi anatomi menunjukan variasi posisi saraf lingualis dan dapat melintas pada daerah retromolar pad.5-5% . pengggunaan bur. vitamin B kompleks dan fisioterapi. Evaluasi kerusakan saraf Bila terjadi kerusakan saraf. Secara statistik. Outline kortikal kanalis hilang. Flap ligual jangan dielevasi. Tidak seperti pada saraf alveolaris inferior. Perbaikan saraf dimulai 6-8 minggu dan selesai 6-9 bulan.2 Pada umumnya kerusakan saraf akan mengalami perbaikan secara spontan terutama saraf alveolaris inferior karena terletak dalam kanalis mandibula sehingga ujung2 saraf yang rusak dapat dengan lebih baik mendekat secara spontan. Flap harus didesign lebih kearah bukal sehingga dapat menghindari retromolar pad (Gambar 2). pengeluaran folikel dan penjahitan. dan jangan melakukan kuretase secara agresif serta jahitan pada lingual harus ditempatkan superfisial.2. . apeks gigi pada atau dibawah neurovasculer bundle. asam). kemungkinan saraf grooving akar gigi 3. Dengan demikian saraf ini dapat mengalami kerusakan oleh elevasi flap dan retraksi.menambah pembengkakan. Follow up dilakukan secara periodik. Gambar 2. Outline kortikal kanalis utuh. Tindakan lain adalah dengan melakukan irigasi cairan fisiologis yang adekuat selama operasi dan menggunakan anestesi lokal long acting seperti bupivacain. Pada umumnya tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan kompres es dan pemberian preparat steroid yang mempunyai efek anti inflamasi kuat seperti betametason dan eksametason pra bedah. Saraf alveolaris inferior Jejas pada saraf alveolaris inferior terjadi secara primer karena hubungan anatominya dengan gigi molar tiga bawah. maka pada kerusakan saraf lingualis teknik operasi memegang peran penting. Outline kortikal kanalis hilang dan penyempitan dan deviasi kanalis mandibula. Insisi bukal pada pencabutan gigi molar tiga impaksi 5 2. Gambar 1.1. 2.8 Kerusakan saraf sangat mungkin terjadi pada tindakan operasi gigi molar tiga impaksi dengan frekuensi berkisar 0. 5 Faktor lain adalah umur pasien karena makin tua maka semakin sulit tindakan. Posisi keduanya dapat ditentukan secara radiografi dengan foto panoramik. faktor yang berhubungan dengan insidensi kerusakan saraf alveolaris inferior pada waktu tindakan pengangkatan gigi molar tiga adalah full bony impaction. Kerusakan saraf 4. 2. Terapi yang dapat diberikan untuk regenerasi saraf adalah methy cobalt. Saraf lingualis Kerusakan saraf lingualis lebih sulit diterangkan dan lebih mengganggu pasien karena akan menyebabkan sensasi rasa yang abnormal dan lebih sulit mengalami perbaikan. menunjukkan hubungan yang erat antara akar gigi dengan kanalis 2. maka daerah yang mengalami sensasi abnormal harus didokumentasikan sehingga perbaikan saraf dapat dicatat dengan akurat.7.3. pahit. bundle terlihat pada waktu tindakan dan perdarahan yang banyak pada waktu waktu operasi. impaksi horizontal. asin. Demikian pula dengan sensasi rasa pada lidah (Manis. jangan memakai lingual bone-splitting technique. kemungkinan hanya superimposisi 2.

Spatum buksinator 5. Infeksi spatium pterigoid interna berada pada ruang antara otot pterigoid interna dan permukaan medial mandibula yang juga menyebabkan trismus dan masalah jalan nafas. sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya resiko perforasi sinus maksilaris pada waktu pencabutan gigi2 tersebut. Infeksi akibat gigi molar tiga perlu mendapat perhatian serius karena dapat menyebar ke spatium kepala dan leher yang berakibat fatal (Gambar 3). Infeksi ini terutama pada pengambilan gigi molar bawah yang sulit dengan trauma yang besar disertai adanya penyakit periodontal disekitarnya. Gambar 3. Bilateral submandibular infeksi dengan selulitis disebut Ludwig Angina yang dapat berakibat fatal. 5. rasa nyeri yang menyebar dan terjadi 48 jam setelah tindakan. Kerusakan saraf dapat pula disebabkan oleh hematoma dan fibrosis akibat penyuntikan anestesi lokal.8 Fraktur mandibula merupakan komplikasi pencabutan gigi molar tiga bawah yang dapat terjadi . Terapi kuratase jangan dilakukan karena tidak memperbaiki keadaan penyakit. Infeksi spatium submandibular dapat menyebabkan gangguan jalan nafas. Komplikasi sinus maksilaris 5. 3. 4. Infeksi lokal yaitu alveolar osteitis yang dikenal dengan dry socket. Infeksi 4. Bila sudah terjadi sinusitis maka diperlukan irigasi sinus dan teknik Cadwell Luc untuk membuang dinding sinus yang mengalami infeksi. Follow up yang dianjurkan adalah evaluasi tiap 2 minggu selama 2 bulan.Terdapat pula kemungkinan terjadi perbaikan 18 bulan-24 bulan.5. Prinsip utama adalah drainase pus dan antibiotika adekuat.6 Infeksi dapat terjadi baik sebelum maupun setelah tindakan pencabutan gigi molar tiga. Infeksi ini ditandai oleh adanya bau mulut yang khas. Potongan koronal ramus asenden mandibula 5 1. evaluasi tiap 6 bulan selama 2 tahun dan evaluasi tahunan untuk tahun berikutnya.6 Secara anatomis terdapat hubungan yang erat antara gigi premolar dan molar atas dengan sinus maksilaris. Spatium parafaringeal 2.6. Spatium bukalis Infeksi pada spatium bukal dan buksinator umumnya terlokalisir pada sisi lateral mandibula. Fraktur tulang mandibula 5. evaluasi tiap 6 minggu untuk 6 bulan berikut. maka diperlukan penutupan baik dengan bukal atau palatal flap disertai dengan pemberian antibiotika beta laktam atau sefalosforin dan nasal dekongestan. Infeksi spatium parafaringeal terjadi antara mukosa faring dan otot konstriktor superior yang merupakan kedaruratan yang mengancam jiwa. perokok dan menggunakan lokal anestetik dengan vasokonstriktore yang banyak. Bila perforasi kecil maka akan sembuh secara spontan dengan adanya bekuan darah dalam soket. Komplikasi ini Terapi yang dianjurkan adalah dengan irigasi soket dengan saline hangat dan aplikasi kassa yodoform sampai gejala hilang. Infeksi pada submaseter akan berada pada spatium antara tepi lateral madibula dan otot maseter dan menyebabkan trismus. Spatium submaseter 4. Bila tidak terjadi penutupan.7. Spatium pterigoid interna 3.

Gigi terdorong kedalam spatium lingualis 5 7. meggosok gigi dapat dilakukan dengan hati-hati. pemberian anti perdarahan kapiler seperti asam trasexamik. Dapat pula terjadi bila menggunakan terlalu besar tenaga. 8. osteoporosis atau adanya kista ata tumor yang besar. minumlah sesuai petunjuk dokter. umumnya disebabkan oleh perdarahan kapiler. • Hindari berkumur atau menggosok gigi selama 24 jam setelah operasi • Setelah 24 jam.8 Perdarahan yang terjadi dapat dibagi menjadi perdarahan primer. vena dan kapiler. buat foto 3 dimensi dan gigi dicabut kemudian sebagai prosedur sekunder melalui tindakan ekstra oral. Komplikasi ini umumnya disebabkan oleh elevasi lingual dan posterior yang berlebihan pada tulang lingual yang tipis. • Setelah 24 jam.6. Berkumurlah dengan hati-hati karena tekanan dapat menyebabkan lubang bekas operasi terbuka lagi dan terjadi pendarahan. lakukan imobilisasi dan lakukan foto Panoramik. Komplikasi dapat diminimalkan dengan pasien menggigit pada bite block pada sisi kontralateral dan istirahat sebentar durante operasi. Bila terjadi fraktur mandibula maka segera hentikan tindakan. kebersihan daerah operasi dapat dijaga dengan berkumur air hangat bergaram (1 sendok teh garam untuk 1 gelas air) minimal 4 kali sehari. Antibiotik . tindakan yang lama dan tenaga yang berlebihan. kemudian letak gigi dilokalisasi dengan foto tiga dimensi atan CT scan dan gigi diangkat dalam 7-10 hari kemudian. • Bila diberi obat penahan sakit dan antibiotik. muscle relaxant dan bila mungkin dengan terapi splint oklusal. terapi hangat. Terapinya adalah aplikasi tampon adrenalin. terutama di daerah operasi. Bila terjadi.3 Hal yang perlu diperhatikan setelah pencabutan Untuk mempercepat proses penyembuhan:(10) • Usahakan beristirahat sepanjang hari dan tidak mengerjakan pekerjaan berat. Bila memungkinkan selama proses penyembuhan (3-4 hari). II.6. pemberian antibiotika. maka akan sangat menyulitkan karena terjadi rembesan darah vena yang cukup banyak dari plexus pterigoid. intermediat atau sekunder atau perdarahan arteri. Gigi molar bawah dapat terdorong kearah spatium sublingual melewati otot milohioid dan masuk ke fasia leher (Gambar 4).7 Gigi molar tiga atas dapat terdorong kearah posterosuperior kedalam spatium infratemporalis bila menggunakan tenaga yang berlebihan pada waktu elevasi kearah distal tanpa retraktor debelakang tuberositas. 6. Pada tindakan pencabutan gigi molar tiga pada pasien tanpa kelainan darah. Dengan demkian maka perlu dijahit dulu. • Hindari merokok. Gambar 4. Komplikasi pada sendi temporomandibula 5 Pencabutan gigi molar kadang akan mengakibatkan disfungsi sendi temporomandibula terutama pada penderita yang sebelumnya telah mengalami gangguan sendi.pada penderita dengan atropi mandibula. surgicel dan penjahitan.7. maka kelainan sendi tersebut diterapi dengan cara konvensional seperti istirahat. minimal selama 24 jam setelah operasi. Perdarahan sekunder disebabkan oleh oral fibrinolisis akibat terlalu banyak kumur. hemostatik lokal seperti spongostan. Bila gigi tersebut tidak teraba maka luka dijahit dulu. Bila terjadi. Perdarahan 5. infeksi lokal atau trauma pencabutan yang terlalu besar. Terdorongnya gigi ke spatium sekitarnya 5.

Demikian seterusnya hingga pedarahan berkurang atau berhenti. obat penahan sakit dapat dihentikan bila sakit mereda. karena makan dan minum yang cukup sangat penting untuk proses penyembuhan. Bila terlalu lama. darah dapat membeku pada kasa dan gumpalan darah dapat terlepas lagi saat kasa dibuang. Gulungan kasa hanya boleh digigit selama sekitar 20 menit. Beberapa petunjuk perawatan pada pasien setelah pencabutan gigi impaksi adalah:(9) • Dilarang menghisap atau meniup • Dilarang merokok • Minum menggunakan sedotan selama 24 jam • Dilarang berkumur keras walaupun menggunakan obat kumur • Dilarang membersihkan gigi dekat tempat pencabutan • Dilarang olah raga berat selama 24 jam • Dilarang minum panas atau alkohol Masalah yang mungkin timbul setelah pencabutan(9) • Pendarahan Pendarahan tidak dapat dihindari dan dapat berlangsung selama satu hari penuh. Berkumur pada saat pendarahan terjadi sangat tidak dianjurkan. Bila menggunakan bius total. • Hindari minum menggunakan sedotan karena tekanannya dapat melepaskan gumpalan darah pada lubang operasi. Minuman jus buah terutama jeruk sangat disarankan. Pendarahan yang terus menerus menunjukkan masalah pada proses penyembuhan. diulang sampai saat istirahat malam. darah akan menggenangi lubang bekas gigi dan . Bila pendarahan masih terjadi setelah 20 menit. letakkan gulungan kecil kasa steril (umumnya diberikan oleh dokter gigi) pada lubang bekas pencabutan. tetapi jangan dilakukan telalu berlebihan sehingga menimbulkan iritasi pada lubang pencabutan. Hal ini dapat memperlambat proses penyembuhan dan menyebabkan pendarahan terjadi lebih lama. • Lubang operasi tidak tertutup sempurna (Dry socket) Pada umumnya. ganti dengan kasa yang baru. diseling 10 menit tanpa kompres. untuk menstimulasi peredaran darah di daerah gigi bungsu yang dapat mempercepat penyembuhan. • Makan tambahan vitamin C dianjurkan. Selain hal-hal di atas. Bila pendarahan terus berlanjut setelah 1 hari. dan berkumur dapat menyebabkan gumpalan darah terlepas. Sebaliknya. Cara ini akan membantu menghentikan pendarahan. setelah operasi rahang sebaiknya dikompres dengan es atau air dingin. Tempelkan kompres dingin selama 15 menit. Hindari berdiet. • Makan dan minumlah seperti biasanya. segera kembali ke dokter gigi dan laporkan. melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. pembiusan yang dilakukan sebelum operasi juga dapat berpengaruh pada kemampuan psikis dan mekanis. • Hindari minuman bersoda karena busanya diperkirakan dapat melepaskan gumpalan darah pada lubang operasi. Bila terjadi pendarahan. • Untuk menghindari pembengkakan. Jangan berkendara. Pendarahan akan berhenti saat darah mulai menggumpal di lubang pencabutan. rahang dapat dikompres dengan kompres hangat. setelah gigi bungsu dicabut. • Pada hari-hari setelah hari operasi. usahakan ada seseorang yang dapat menemani selama minimal satu hari tersebut.harus dihabiskan walaupun gigi sudah tidak terasa sakit. atau menandatangani dokumen penting pada hari yang sama. Kasa harus digigit dengan baik dengan tekanan secukupnya.

jepit dengan haemostat atau klem. gula darah. klinisi dapat meminimalkan kejadian tersebut dengan melakukan manipulasi pencabutan dengan baik dan benar. Seorang dokter gigi harus bisa menganamnesis dengan cermat untuk mengungkapkan adanya riwayat penyakit atau riwayat pendarahan sebelaum melakukan pencabutan gigi serta perlunya penanganan awal seorang dokter gigi. Oleh karena itu. 3. ESR. Periksa tekanan darah b. Meskipun tidak dapat menghilangkan komplikasi tersebut. Diperkirakan dry socket dapat dihindari dengan melakukan operasi pada hari ke-22 hingga ke-28 siklus.dan berikan tindakan penjahitan bila diperlukan III. waktu bekuan. Berikan riwayat kesehatan yang sesuai pada dokter gigi sebelum pencabutan dilakukan 2. Berkumur dengan air garam setiap selesai makan dapat membantu membersihkan daerah operasi. mempertimbangkan keadaan apa yang harus dilakukan untuk mencegah perdarahan yang banyak dengan menggunakan tindakan sebagai berikut: tutup luka dengan menggunakan perban atau kain. Telah diketahui bahwa umumnya penderita dry socket adalah perempuan yang minum pil kontrasepsi.menggumpal. Sebelum mengadakan suatu tindakan terhadap pasien harus selalu dicurigai mengenai akan terjadinya komplikasi atau indikasi kontraindikasi. BAB III PENUTUP II1. Saran Seorang dokter gigi dalam melakukan tindakan ekstraksi gigi sederhana bisa saja mengahadapi kondisi komplikasi perdarahan. Terbentuknya gumpalan darah ini sangat penting karena berfungsi sebagai tempat gusi kemudian akan tumbuh menutupi lubang. gunakan teknik operasi yang baik dan benar. . 2. c. Diperkirakan sebanyak 5-10% kasus mengalami penutupan lubang yang tidak sempurna atau terlepasnya gumpalan darah sebelum waktunya. yaitu: a. tutup luka dengan gelfoam yang menyerap perdarahan. Hindari atau minimalkan komplikasi setelah pencabutan gigi impaksi dengan prinsip dasar yaitu tentukan rencana pencabutan dengan jelas. dan pemberian informed consent tertulis tentang resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi. pengetahuan akan faktor yang menyebabkan dan cara menanggulanginya menjadi suatu hal yang penting dalam menghadapi kondisi seperti di atas. sehingga syaraf pada gusi dan bahkan tulang rahang menjadi terbuka (dry socket). Bila terjadi perdarahan. yaitu saat kadar estrogen sedang pada titik terendah. Periksa laporan darah untuk pendarahan. Jika memakai aspirin hentikan pada waktu pencabutan gigi d. Tindakan pencabutan gigi impaksi dapat menimbukan beragam komplikasi yang tidak diharapkan. seorang dokter gigi harus bisa bertindak dengan benar.1 Kesimpulan(1) Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. • Infeksi Infeksi yang terjadi saat proses penyembuhan dapat dihindari dengan minum antibiotik dan menjaga kebersihan mulut.

Gigi bungsu 2009 dalam Wikipedia bahasa indonesia. Komplikasi Pencabutan gigi impaksi 14 desember 2007. Mosby’s Dental Dictionary. http://www.animatedteeth. Diagnosa.htm . Fehrenbach MJ. What are the complications as risks with wisdom teth extraction. http://www.Cabut gigi 21 desember 2007. Website address:http://www.DAFTAR PUSTAKA 1. Tiedemann MA. Pencabutan gigi 2009.com 4. Wibsite address:http://www.bupa.com/wisdom-teeth/ 7. Gigi Sehat. Wisdom tooth removal.http://www.htm 2. Pogrel MA. Perdarahan pasca ekstraksi gigi 4 april 2009. Oral and maxillofacial surgery clinics of North America.uk/ 8.@2009 ReymediQ.Elsevier. 5.co.htm 3.08 pm 10. Kontraindikasi eksodonsi 27 maret 2008. Complications of third molar surgery. August 1990 6. 2004. Website address:uncategorized – hargo -@ 11.India. Website address:http://www KI eksodonsi . Website address:http://www.cabut gigi.mynewsmile. Emmons M. ensiklopedia bebas. Zwerner T.htm 11.perdarahan pasca ekstraksi. Website address:http://www Gigi-bungsu.com/ 9. Wisdom teeth.why not.

Yang termasuk kedalam golongan amida. bagian badan sebagai penghubung terdiri dari cincin hidrokarbon dan bagian ekor yang terdiri dari amino tersier bersifat hidrofilik. August 22.1. Anestetik lokal dibagi menjadi dua golongan: 1 i) Golongan ester (-COOC-) Obat – obat ini termetabolisme melalui hidrolisis. etidokain. Anestetik lokal setelah keluar dari saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf. maka semua anestesi lokal bersifat vasodilator (melebarkan pembuluh darah). piperoain. Untuk memperpanjang kerja serta memperkecil . 1  Anestesi lokal adalah obat – obat yang menghalangi penghantaran impuls – impuls saraf ke susunan saraf pusat secara reversible pada penggunaan lokal.2 Struktur Anestetik Lokal Anestetik lokal merupakan gabungan dari garam laut dalam air dan alkaloid larut dalam lemak dan terdiri dari bagian kepala cincin aromatik tak jenuh bersifat lipofilik. Kecuali kokain.1 2. Sifat ini membuat zat anestesi lokal cepat diserap. ametocaine. dibukain. yakni : Kokain. 01 Februari 2011 Sunday. Yang termasuk kedalam golongan ester. 2010 Anestesi Lokal 2.1. 2 2. yakni : Lidokain. levobupivacaine. sehingga toksisitasnya meningkat dan lama kerjanya jadi singkat karena obat cepat masuk ke dalam sirkulasi. mepivakain. kloroprokain.Selasa.1  Anestesi Lokal Definisi Anestetik lokal adalah obat yang menghasilkan blockade konduksi atau blockade lorong natrium pada dinding saraf. ii) Golongan amida (-NHCO-) Obat – ob\at ini termetabolisme melalui oksidasi dealkilasi di dalam hati. Benzokain. tetrakain. jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. prokain. prilokain. ropivakain. bupivacain.

toksisitas sering ditambahkan vasokonstriktor. misalnya telinga dan jari. misalnya pada mata.5. laring. (2) Infiltrasi. telinga. Anestesi berdifusi dan khasiatnya dicapai melalui penghambatan ujung saraf perasa di jaringan subkutan.6. misalnya pada tindakan operasi di lengan bawah dengan memblok saraf brakialis. seperti lignokain 4%. blok saraf pada persalinan spontan. Blok saraf : Melalui cara ini yang dituju langsung saraf bagian proksimal. (7) Penderita tirotoksikosis. Dengan cara ini daerah yang dipersarafi akan teranestesi. tumor-tumor kulit. faring. misalnya pada pengangkatan kista di kulit. kokain 5%. Topikal : melalui cara ini obat dioleskan/ disemprotkan pada mukosa daerah tindakan. Vasokonstriktor merupakan kontraindikasi pada keadaankeadaan sebagai berikut: 2 (1) Anestesi end organ. 3. 2. Agen anestesi lokal yang digunakan yang mudah diserap permukaan mukosa. Field block : obat disuntikkan mengelilingi daerah tindakan. tanpa mempertimbangkan persarafannya. Cara pemberian ini dipakai pada pembedahan kecil. rongga hidung. pencabutan gigi. (5) Penderita dengan penyakit-penyakit kardiovaskuler. tetrakain. Keuntungan teknik ini adalah sederhana. penjahitan luka.3 Cara Pemberian 2. mudah dan dapat diandalkan. Sedangkan kerugiannya ialah struktur jaringan di lapangan bedah disamarkan. 4. (3) Penderita usia lanjut. 2.7 1. uretra dan jalan lahir. . (4) Penderita hipertensi.1. pengambilan kulit untuk transplantasi. (6) Penderita diabetes mellitus. traktus respiratorius bagian bawah. dan lidokain. Infiltrasi : obat disuntikkan langsung ke dalam jaringan yang akan dimanipulasi.

1. sehingga daerah setinggi persarafan yang bersangkutan dan di bawahnya teranestesi sesuai dengan teori dermatom kulit. 8 Obat anestesi lokal bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium (sodium channel). sehingga obat tidak langsung masuk ke dalam sirkulasi sistemik. minimum alveolar concentration) dipengaruhoi oleh .4 Mekanisme Kerja Membran yang mudah terangsang dari akson saraf. Ukuran. saluran natrium terbuka dan arus natrium yang masuk cepat ke dalam sel dengan cepat mendepolarisasi membrane ke arah keseimbangan potensial natrium (+40mV). dan anestesi lokal pun mempunyai efek yang sama pada kedua jaringan tersebut. Perbedaan ionic transmembran dipertahankan oleh pompa natrium. mirip dengan membrane otot jantung dan badan sel saraf mempertahankan potensial transmembran seitar -90 sampai -60 mV. sehingga terjadi depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tidak terjadi konduksi saraf. terjadi lagi repolarisasi saluran natrium menjadi keadaan istirahat. jenis dan mielinisasi saraf 2. 2. sedangkan aliran darah dibendung dengan manset tensimeter. makin larut makin poten. amputasi.5. Potensi kerja obat anestesi lokal dipengaruhi oleh kelarutan dalam lemak. 6. 1 Kosentrasi minimal anestetik lokal (analog dengan mac. Sebagai akibat depolarisasi ini maka saluran natrium menutup (inaktif) dan saluran kalium terbuka. Spinal : zat anastesi lokal disuntikkan ke dalam rongga subaraknoid atau ke ruang epidural di dalam kanalis vertebralis pada ketinggian tertentu. Sifat ini mirip dengan yang terjadi pada otot jantung. mencegah peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium. Selama eksitasi. Ikatan dengan protein (protein binding) mempengaruhi lama kerja dan konstanta dissosiasi (pKa) menentukan awal kerja. frekuensi stimulasi saraf . Aliran kalium keluar sel merepolarisasi membran ke arah keseimbangan potensial kalium (-95mV). dan debridement. 1 1. Intravascular : obat dimasukkan langsung ke dalam vena atau arteri besar pada ekstremitas yang bersangkutan. pH (asidosis menghambat blockade saraf) 3. Cara ini dipakai pada reposisi patah tulang.

3.1. 8 i) Absorpsi sistemik Absorpsi sistemik dipengaruhi oleh : 1 (1) Tempat suntikan Kecepatan absorpsi sistemik sebanding dengan ramainya vaskularisasi tempat suntikan (absorpsi intravena > trakeal > interkostal > kaudal > para-servikal > epidural > pleksus brakialis > skiatrik > subkutan) (2) Penambahan vasokonstriktor . Alkalinisasi anestetik lokal membuat mula kerja cepat 3. Dipengaruhi oleh ramainya pembuluh darah perifer di daerah pemberian. pKa mendekati pH fisiologis sehingga konsentrasi bagian tak terionisasi meningkat dan dapat menembus membrane sel saraf sehingga menghasilkan mula kerja cepat. Konsentrasi obat anestetik lokal Lama kerja dipengaruhi oleh : 1 1. 2. yaitu : 1 1. 2. Ikatan dengan protein plasma. penyerapan dan distribusi tidak begitu penting dalam memantau mula kerja efek dalam menentukan mula kerja anestesi dan seperti halnya mula kerja anestesi umum terhadap SSP dan toksisitasnya pada jantung.5 Farmakokinetik Anestesi lokal biasanya diberikan secara suntikan ke dalam daerah serabut saraf yang akan dihambat. Dipengaruhi oleh kecepatan absorbsi. Oleh karena itu. karena reseptor anestetik lokal adalah protein 2.Mula kerja bergantung beberapa faktor. Aplikasi topical anestesi lokal bagaimanapun juga memerlukan difusi obat guna mula kerja dan lama kerja efek anestesinya.

obat ini khas sekali mempunyai waktu paruh yang sangat singkat. Oleh karena itu. sehingga mudah diekskresikan karena bentuk ini tidak mudah diserap kembali oleh tubulus ginjal. Kecepatan metabolisme senyawa amida di dalam hati ini bervariasi bagi setiap individu. 8 Ikatan amida dari anestesi lokal amida dihidrolisis oleh enzim mikrosomal hati. Pengasaman urin akan meningkatkan ionisasi basa tersier menjadi bentuk bermuatan yang mudah larut dalam air.Adrenalin 5 µg/ml membuat vasokonstriksi pembuluh darah pada tempat suntikan sehingga dapat memperlambat absorpsi sampai 50% (3) Karakteristik obat anestetik lokal Obat anestetik lokal terikat kuat pada jaringan sehingga dapat diabsorpsi secara lambat ii) Distribusi Distribusi obat anestetik lokal dipengaruhi oleh ambilan organ (organ uptake) dan ditentukan oleh faktor-faktor : (1) Perfusi jaringan (2) Koefisien partisi jaringan/ darah Ikatan kuat dengan protein plasma Kelarutan dalam lemak tinggi (3) Massa jaringan Otot merupakan tempat reservoir bagi anestetika lokal iii) Metabolisme dan ekskresi Anestesi lokal diubah dalam hati dan plasma menjadi metabolit yang mudah larut dalam air dan kemudian diekskresikan ke dalam urin. 8 Tipe ester anestesi lokal dihidrolisis sangat cepat di dalam darah oleh butirikolinesterase (pseudokolinesterase). perkiraan urutannya obat lebih lama di darah meningkatkan ambilan jaringan . maka sedikit atau tidak ada sama sekali bentuk netralnya yang diekskresikan. kurang dari 1 menit untuk prokain dan kloroprokain. Karena anestesi lokal yang bentuknya tak bermuatan mudah berdifusi melalui lipid.

seperti pada perbaikan tendo. usia yang sangat lanjut. 8 Penurunan pembersihan anestesi lokal oleh hati ini harus diantisipasi dengan menurunkan aliran darah ke hati. Kedaruratan karena tidak ada waktu untuk mengurangi bahaya anestesi umum. 2. seperti pada anestesi halotan berulang.1. Prosedur yang membutuhkan kerjasama dengan penderita. 8 (1) Golongan ester Metabolisme oleh enzim pseudo-kolinesterase (kolinesterase plasma). Akibatnya. diabetes. serta pemeriksaan gerakan faring. Metabolismenya lebih lambat dari hidrolisa ester. 4. Propanolol dapat memperpanjang waktu paruh anestesi lokal amida.8 jam pada pasien normal menjadi lebih dari 6 jam pada pasien dengan penyakit hati yang berat. Indikasi Jika nyawa penderita dalam bahaya karena kehilangan kesadarannya. dan pembedahan yang lama. Metabolit diekskresi lewat urin dan sebagian kecil diekskresi dalam bentuk utuh. 2. 3. Kecepatan metabolisme tergantung kepada spesifikasi obat anestetik lokal. waktu paruh lidokain rerata akan memanjang dari 1. Menghindari bahaya pemberian obat anestesi umum. gagal ginjal atau hepar dan porfiria intermiten akut. Penurunan aliran darah ke dalam hati dan penekanan mikrosom hati karena halotan.adalah Prilokain (tercepat) > etidokain > lidokain > mepivakain > bupivakain (terlambat). sebagai contoh sumbatan pernafasan atau infeksi paru. pembersihan lidokain oleh hati pada binatang yang dianestesi dengan halotan lebih lambat dari pengukuran binatang yang diberi nitrogen oksida dan kurare. Sebagai contoh. . pembedahan mata.6 1. Hal ini dapat terjadi pada kasus seperti partus obstetik operatif. miotonia. Hidrolisa ester sangat cepat dan kemudian metabolit diekskresi melalui urin. toksisitas dari anestesi lokal tipe amida ini akan meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi hati. penyakit sel bulan sabit. Sebagai contoh. (2) Golongan amida Metabolisme terutama oleh enzim mikrosomal di hati.

Toksisitas sistemisnya kecil 3. Tidak merangsang jaringan 2. herniorafi. lesi kulit. laserasi minor. dan revisi jaringan parut.5. seperti ekstraksi gigi tanpa penyulit. torakotomi. seperti pada free flap atau pembedahan reimplantasi. 3 2. 4.8 Kontra Indikasi 1. Pemberian analgesi pascabedah. Larut dan stabil dalam air serta stabil pada pemanasan (sterilisasi). Kejadian ini mungkin disebabkan oleh kelebihan dosis atau suntikan intravaskular. 5. Kurangnya prasarana resusitasi. . contohnya sirkumsisi. atau iskemia ekstremita. 3. Kurangnya tenaga terampil yang mampu mengatasi atau mendukung teknik tertentu.1.1. Untuk menimbulkan hambatan simpatik. Alergi atau hipersensitivitas terhadap obat anestesi lokal yang telah diketahui.7 Syarat – syarat Anestesi lokal yang baik 1. Infeksi lokal atau iskemik pada tempat suntikan. 2. 7. tempat donor cangkok kulit. Efektif melalui penggunaan suntikan atau topical pada mukosa 5. 2 2. serta pembedahan abdomen. Lesi superfisial minor dan permukaan tubuh. Tidak tersedianya alat injeksi yang steril. Mula kerja cepat 6. Tak merusak saraf secara permanen 4. Lama kerjanya lambat 7. 6.

Distorsi anotomik atau pembentukan sikatriks. tremor. Jika dibutuhkan anestesi segera atau tidak cukup waktu bagi anestesi lokal untuk bekerja dengan sempurna. edema angioneurotik. 8. inkoherensia. 3. nadi kecil dan syok. pernafasan dalam dan kemudian tak teratur. 4. 2 Daftar Pustaka . Sistem Pernafasan Relaksasi otot polos bronkus. 7.9 Efek samping / tosisitas 1. gerakan koreatosis. tinnitus. Henti nafas akibat paralise daraf frenikus. 11.4 2. 2. Reaksi hipersensitivitas berupa urtikaria. 3. mual. Risiko hematoma pada tempat-tempat tertentu. muntah. Kurangnya kerja sama atau tidak adanya persetujuan dari pihak penderita. hipersekresi dan bronkospasme. hipotensi. nyeri kepala. status asmatikus. pusing. bradikardi. penglihatan kabur. paralise interkostal atau depresi langsung. Pembedahan luas yang membutuhkan dosis toksis anestesi lokal. Sistem saraf pusat (SSP) SSP rentan terhadap toksisitas anestetik lokal. sesak nafas hingga apneu. `bronkospasme. 9.1. dermatitis. 10. Pasien yang sedang menjalani terapi sistemik dengan antikoagulan.sinkop dan apneu. rasa logam di mulut. kejang koma. dengan tanda-tanda awal parestesi lidah gelisah. Sistem kardiovaskuler : vasodilatasi.6.

113-119. 9. Operasi Kecil. Bob Bachsinar. 2003. Jakarta: EGC. Colin EB. Karakata S. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 7. Anestesiologi. Sabiston. dkk. 8. 1994. Edisi 2. Dobron. Katzung. 4.p. Edisi 2. 2009. 2. Kartini AS. 10. Petunjuk praktis anestesiologi. Jakarta: EGC.p. Jakarta: EGC. 6. Syarif.p. Michael B. Buku Ajar Ilmu Bedah. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: EGC. 89-103 Boulton TB.p. Penuntun Praktis anestesi.247-253. Jakarta: EGC. 5. M Ruswan D. Edisi 7. 1994. Bedah Minor. Jakarta: EGC.1. Gaya Baru. 3. Latief SA. Farmakologi dasar dan klinik. 2004. 1997 Sjamsuhidayat R. Ilmu Bedah.108-133 Bisono. 2007 Posted by infokedokteran at 10:21 PM . Bertram G. Wim de jong.p. 1995.Jakarta: EGC. Amin. Jakarta.bagian I. Edisi Kedua. Buku Ajar Ilmu Bedah.p. Jakarta: Hipokrates. 24-29 Schrock TR.97-104. 1996. 1995.

contohnya rasa sakit pada penderita pulpitis. hal ini yang dimaksud sebagai anastesi lokal yang berfungsi sebagai bahant terapi c. Pasca operasi Sesudah tindakan pembedahan baik dengan anestesi lokal maupun general. Anastesi lokal biasa digunakan dalam beberapa hal a. Kemampuan untuk melakukan anastesi lokal dengan baik kepada semua pasien merupakan kemampuan yang fundamental yang harus dimiliki oleh dokter bedah mulut (Wray. contohnya pengguanaan teknik blok pada penderita dry socket untuk mengurangi rasa sakit. Diagnostic Dalam hal ini anastesi lokal digunakan untuk menemukan sumber sakit yang diderita pasien. 2003) Macam-macam teknik yang digunakan dalam penatalaksanaan anastesi lokal : . Praoperasi Anastesi lokal juga diberikan sebelum tindakan praoperasi.47 Lutfan10 Anastesi Lokal Berhasil dalam anastesi lokal merupakan prasyarat semua bedah dibidang kedokteran gigi. d. hal ini dilakukan untuk keamanan dan kenyamanan pasien pada saat melakukan tindakan pembedahan.Anastesi 15. efek anatesi yang berkelanjutan kebanyakan menguntungkan untuk mengurangi rasa sakit yang timbul dari tindakan setelah operasi (Wray. pada pasien pulpitis sulit baik bagi pasien maupun bagi ooperator karena rasa sakit yang timbul dapat dirasakan dibagian mulut atau bagian wajah yang jauh dari lokasi pulpitis b. 2003) . dan di bedah mulut ini dibutuhkan bagi pasien dan operator. Terapi Anastesi lokal marupakan bagian dari perawatan pada tindakan bedah.

adanya porositas pada tulang alveolar menyebabkan cairan anastesi berdifusi menuju saraf pada apeks gigi. Lebih lanjut daerah mulut selalu dibasahi oleh saliva dimana terdapat berbagai macam jenis mikroorganisme yang terdapat pada tubuh manusia. pencabutan gigi. tindakan tersebut dibatasi oleh bibir dan pipi dan terdapat faktor yang dapat mempersulit dengan adanya gerakan dari lidah. (Wray. dan infraorbital blok. 2003) Eksodonsia ( Pencabutan Gigi ) Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari tulang alveolar. Terdapat pula hal yang dapat membahayakan tindakan tersebut yaitu adanya hubungan antara rongga mulut dengan pharynk. Definisi pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi. extraksi gigi. Pencabutan gigi juga adalah operasi bedah yang melibatkan jaringan bergerak dan jaringan lunak dari rongga mulut. Teknik-teknik yang lain Ada teknik-teknik lain yang digunakan untuk anastesi seperti periodontal ligamen injection. dimanan pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. dan selanjutnya dihubungkan/disatukan oleh gerakan lidah dan rahang.a. sehingga bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik di masa mendatang. akses yang dibatasi oleh bibir dan pipi. Anastesi blok yang biasa dilakukan yaitu inferior dental blok. posterior superior dental blok. Infiltrasi Anastesi dilakukan dengan mendeponirkan cairan anastesi disekitar apeks gigi yang akan dicabut di sisi bukal pada sulkus. c. merupakan suatu tindakan pembedahan yang melibatkan jaringan tulang dan jaringan lunak dari rongga mulut. Anastesi blok Anastesi blok merupakan anastesi dengan menginjeksikan cairan anastesi pada batang saraf yang biasa digunakan untuk tindakan bedah di rongga mulut. Tindakan pencabutan gigi merupakan tindakan yang dapat . larynx dan oeshophagus. mental blok. b. intraosseous injection. dan intrapulpal injection.

2. 2. Gigi posterior non-vital dengan penyakit periapikal sering harus dilakukan pencabutan. kehilangan setengah dari kedalaman tulang alveolar yang normal atau ekstensi poket ke bifurkasi akar gigi bagian posterior atau mobilitas yang jelas berarti pencabutan gigi tidak bias dihindari lagi. 3. Pulpitis atau gigi dengan pulpa non-vital yang harus dicabut jika perawatan endodontic tidak dapat dilakukan. menyebabkan nyeri. Gigi impaksi dan gigi non erupsi (tidak semua gigi impaksi dan non erupsi dicabut) 13. Penyakit periodontal.2. 10. atau kerusakan batas gigi. 6. 7. Untuk perawatan ortodonsi 8. walaupun sebagian besar tindakan pencabutan gigi dapat dilakukan ditempat praktek. Periodontitis apical. 4. Dimana garis pecah setengah mahkota dari akar. Harus dilakukan pencabutan ketika gigi menjadi karies. Jika garis gigi peca mungkin harus dilakukan pencabutan untuk mencegah infeksi tulang. dasar pembedahan harus dipahami.2 Indikasi dan kontraindikasi eksodonsia  Indikasi : 1. 11. Rahang pecah. Salah tempat dan dampaknya. 5. Gigi yang merusak jaringan lunak. Gigi yang tidak dapat disembuhkan dengan ilmu konservasi 12.menimbulkan bahaya bagi penderita. Gigi pecah atau patah. . Gigi utama yang tertahan apabila gigi permanen telah ada dan dalam posisi normal. Sebagai panduan. Supernumerary teeth 9. Gigi yang sudah karies dan tidak dapat diselamatkan dengan perawatan apapun. jika pengobatan atau terapi lainnya tidak mecegah trauma atau kerusakan.

merupakan ujung yang mencekeram gigi geligi . atau pengangkatan untuk mereduksi paparan radiasi yang berhubungan dengan osteomelitis. 3.beak. agar dapat meneruskan kekuatan tekanan operator ke gigi dengan baik. Persiapan radioterapi. . Hipertensi jika pendarahan tidak terkontrol 5. merupakan bagian untuk pegangan operator - Bentuk bayonet Untuk pencabutan gigi molar tiga atau sisa akar gigi-gigi posterior. merupakan pertemuan antara beak dan handle . Diabetes yang tidak terkontrol sangat mempengaruhi penyembuhan luka 6.  Kontraindikasi : 1. Gigi yang masih dapat dirawat/dipertahnkan dengan perawatan konservasi. endodontic dan sebagainya. untuk itu diperlukan tang yang ideal untuk masing-masing gigi. Bagian-bagian dari tang ekatraksi adalah : . Apabila pasien tidak menghendaki giginya dicabut 2.Handle/pegangan. yang terdiri dari : 1. gigi yang tidak sehat membutuhkan pencabutan. Pendarahan yang tidak diinginkan 3.1. Sebelum radiasi tumor oral.14. Forcep ( tang pencabutan ) Tang merupakan alat yang dipergunakan untuk melepaskan gigi dari jaringan tulang dan jaringan lunak disekitar gigi.1 Alat yang dibutuhkan untuk tindakan eksodonsi Alat-alat yang berhubungan dengan pencabutan gigi. Alergi pada anastesi local 4.Joint/sendi/poros.

Sedangkan tang untuk gigi insisivus. Untuk pengungkit gigi/akar dengan titik fulcrum. straight ( lurus ) Alat ini mempunyai bentuk dimana handle. merupakan bagian yang menghubungkan blade dan handle . shank dan blade membentuk suatu garis lurus. Elevator/pengungkit Alat ini digunakan untuk mengungkit gigi dari alveolus.shank. Alat ini berpasangan mesial/distal atau kiri/kanan. merupakan bagian yang digunakan untuk pegangan Menurut bentuknya elevator dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu : 1.Tang untuk pencabutan gigi molar rahang atas atau mahkota dibedakan atas kiri dan kanan sesuai bentuk beak. elevator yang didesain untuk menyingkirkan segala gigi . a. Angular Alat ini mempunyai bentuk dimana blade membentuk sudut terhadap shank dan handle. merupakan ujung yang tajam untuk mengungkit gigi . dimana letak fulcrum tergantung dari lokasi objek yang diungkit. cross Bar Alat ini mempunyai bentuk antara handle dan shank. kaninus dan premolar tidak dibedakan atas kanan atau kiri. 2. 3.blade. 2. Menurut penggunaannya elevator diklasifikasikan atas : 1. membentuk sudut ≥ 90 ˚.handle. bagian-bagian alat pengungkit .

Churchill Livingstone Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. elevator yang didedain untuk akar yang fraktur ⅓ panjang akar 5. Jakarta : EGC Howe. Jakarta : EGC. Philadelphia. Tang trismus 2. Jakarta. 2007. dkk. elevator yang didesain untuk menyingkirkan mukoperiosteal sebelum penggunaan tang ekstraksi. 1989. FARMAKOLOGI DAN TERAPI Edisi 5.2. Balai Penerbit FK UI . Purwanto. Wray. Textbook of General and Oral Surgery. Tang M3 Rahang Atas 3. Tang cow horn Daftar Pustaka anastesi lokal. david. 2003. alih bahasa drg. Pencabutan Gigi Geligi.1993. elevator yang didesain untuk akar yang fraktur ½ panjang akar 4. elevator yang didesain untuk menyingkirkan akar yang fraktur setinggi gingiva line 3. Beberapa tang khusus : 1. Geoffrey L.

maupun setelah pencabutan gigi. 1. tipe 2. Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (NDDM.Kamis.ketotik. juvenile. Kontra Indikasi Sistemik Pasien dengan kontra indikasi yang bersifat sistemik memerlukan pertimbangan khusus untuk dilakukan eksodonsi. Diabetes Mellitus Malfungsi utama dari diabetes melitus adalah penurunan absolute atau relative kadar insulin yang mengakibatkan kegagalan metabolisme glukosa. Kontra indikasi eksodonsi akan berlaku sampai dokter spesialis akan memberi ijin atau menanti keadaan umum penderita dapat menerima suatu tindakan bedah tanpa menyebabkan komplikasi yang membahayakan bagi jiwa penderita. . Yaitu dengan pertanyaan adakah kontra indikasi eksodonsi atau tindakan bedah lainnya yang disebabkan oleh faktor lokal atau sistemik. Penderita diabetes melitus digolongkan menjadi: 1. tipe 1. eksodonsi bisa dilakukan dengan persyaratan bahwa pasien sudah berada dalam pengawasan dokter ahli dan penyakit yang menyertainya bisa dikontrol dengan baik. Terjadi setelah infeksi virus dan produksi antibodi autoimun pada orang yang predisposisi antigen HLA. Bukan kontra indikasi mutlak dari eksodonsi. Diturunkan melalui gen dominan dan biasanya dikaitkan dengan kegemukan. Lebih sering terjadi pada umur di atas 40 tahun. diabetes dewasa stabil). Biasanya terjadi pada pasien yang berumur di bawah 40 tahun. Dengan kondisi riwayat penyakit tersebut. britlle). Faktor-faktor ini meliputi pasien-pasien yang memiliki riwayat penyakit khusus. saat pencabutan. Hal tersebut penting untuk menghindari terjadinya komplikasi sebelum pencabutan. Diabetes Melitus ketergantungan insulin (IDDM. maka sebelum dilakukan tindakan eksodonsi atau tindakan bedah lainnya harus dipersiapkan dahulu suatu pemeriksaan yang teliti dan lengkap. 2. 27 Maret 2008 Kontra Indikasi pada eksodonsi KONTRA INDIKASI EKSODONSI Pendahuluan Untuk mendukung diagnosa yang benar dan tepat serta menyusun rencana perawatan yang tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.

2. akan lenyap setelah melahirkan. Yang perlu diwaspadai adalah sering terjadinya kondisi hipertensi dan diabetes mellitus yang meskipun sifatnya hanya temporer. Hal tersebut sebaiknya dilakukan di rumah sakit (pasien rawat inap). Pasien yang menderita hipoglikemia menunjukkan tanda-tanda pucat. Dengan pemberian glukosa secara oral (10-20 gram). dan mungkin menyebabkan kematian. yang dapat timbul sangat cepat apabila terjadi kegagalan menutupi kebutuhan akan insulin dengan asupan karbohidrat yang cukup. karena tidak ada hubungan antara pregnancy dengan pembekuan darah. diapedisis. dan ketoasidosis (hiperglikemia) lebih sering terjadi pada diabetes tipe 1. Perawatan yang terbaik untuk pasien ini adalah pagi hari sesudah makan pagi. Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik. harus dijadikan terkontorl lebih dahulu sebelum dilakukan pembedahan. Sebaliknya. Kegagalan untuk merawat kondisi ini akan mengakibatkan kekejangan. Pasien dengan riwayat kehilangan berat badan yang penyebabnya tidak diketahui. namun cukup dapat . yang sering disebabkan oleh karena sulit mendapatkan insulin. Kejadian yang sering terlihat adalah hipoglikemia. yang terjadi bersamaan dengan kegagalan penyembuhan infeksi dengan terapi yang biasa dilakukan. Kehamilan Pregnancy bukan kontraindikasi terhadap pembersihan kalkulus ataupun ekstraksi gigi. dan khemotaksis karena hiperglikemi. Ini biasanya memerlukan rujukan dan kemungkinan pasien harus rawat inap. Untuk mengatasi ketoasidosis diperlukan pemberian insulin dan cairan. infeksi orofasial menyebabkan kendala dalam pengaturan dan pengontrolan diabetes. Pasien diabetes tipe 1 yang terkontrol harus mendapat pemberian insulin seperti biasanya sebelum dilakukan pembedahan. kondisi tersebut akan dengan mudah membaik. gelisah. Pasien dengan diabetes yang tidak terkontrol akan mengalami penyembuhan lebih lambat dan cenderung mengalami infeksi. Sedangkan ketoasidosis biasanya berkembang setelah beberapa hari. syok insulin (hipoglikemia). sehingga memerlukan pemberian antibiotik profilaksis. tremor. koma. dan lemah. Perdarahan pada gusi mungkin merupakan manifestasi dari pregnancy gingivitis yang disebabkan pergolakan hormon selama pregnancy. misalnya meningkatnya kebutuhan insulin. bisa dicurigai menderita diabetes.Pembedahan dentoalveolar yang dilakukan pada pasien diabetes tipe 2 dengan menggunakan anestesi local biasanya tidak memerlukan tambahan insulin atau hipoglikemik oral. Diabetes dan Infeksi Diabetes yang terkontrol dengan baik tidak memerlukan terapi antibiotik profilaktik untuk pembedahan rongga mulut. Keadaan Darurat pada Diabetes Diabetes kedaruratan. Responnya terhadap infeksi tersebut diduga keras akibat defisiensi leukosit polimorfonuklear dan menurunnya atau terganggunya fagositosis. berkeringat. dan makan karbohidrat dalam jumlah yang cukup.

3. Pasien dengan penyakit jantung termasuk kontra indikasi eksodonsi. laju endap darah. karena bisa bikin kompresi vena cafa inferior. Hati-hati bila menggunakan obat bius dan antibiotic. Dengan berkonsultasi. dalam hal ini dokter spesialis jantung. dan kadar gula darahnya. Jangan lupa sebelum dilakukan tindakan apapun.dll). Seandainya status umum pasien yang kurang jelas sebaiknya di konsulkan dulu ke dokter obsgin-nya. Kontra indikasi eksodonsi di sini bukan berarti kita tidak boleh melakukan tindakan eksodonsi pada pasien ini. Ekstraksi gigi pada pasien hamil yang ’sehat’ bisa dilakukan dengan baik dan aman di praktek. Kesulitan yang sering timbul pada ekstraksi gigi pada ibu hamil adalah keadaan psikologisnya yang biasanya tegang. Jika ditemukan pasien dengan tanda-tanda sesak napas. misalnya saja penderita jantung rema harus diberi penicillin sebelum dan sesudah eksodonsi dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung diagnosa sehingga kita dapat menyusun rencana perawatan yang tepat dan tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan. misalnya pemeriksaan tekanan darah. bila ada pasien dalam keadaan pregnant bermaksud untuk scaling kalkulus atau ekstraksi. atau rumah sakit. atau tim resusitasi. kelelahan kronis. kita bisa mendapatkan rekomendasi atau izin dari dokter spesialis mengenai waktu yang tepat bagi pasien untuk menerima tindakan eksodonsi tanpa terjadi komplikasi yang membahayakan bagi jiwa pasien serta tindakan pendamping yang diperlukan sebelum atau sesudah dilakukan eksodonsi. rontgen harus dihindari saja kecuali kasus akut (politrauma.dll) bukanlah suatu kontraindikasi waktu hamil. Kalau memang ada gigi yang perlu diekstraksi (dimana hal itu tidak bisa dihindari lagi. pasien dilakukan tensi dulu. Penyakit Kardiovaskuler Sebelum menangani pasien ketika berada di klinik. fraktur . maka sebaiknya tindakan dilakukan di kamar operasi dengan bekerja sama dengan tim code blue. pencabutan gigi (dan juga tindakan surgery akut lainnya seperti abses. kita memang harus mengetahui riwayat kesehatan pasien baik melalui rekam medisnya atau wawancara langsung dengan pasien. namun dalam penangannannya perlu konsultasi pada para ahli. . sebaiknya di-refer dulu untuk pemeriksaan darah lengkap. Jadi. palpitasi. tekanan darah pasien naik menyebabkan bekuan darah yang sudah terbentuk terdorong sehingga terjadi perdarahan. denyut nadi pasien meningkat. Kalau memang harus dicabut giginya atau scalling pada ibu hamil. dll. Pada penyakit kardiovaskuler. (ada daftarnya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh (FDA) sedative (nitrous oxide.menimbulkan masalah saat dilakukan tindakan perawatan gigi yang melibatkan perusakan jaringan dan pembuluh darah. clinic biasa. dormicum itu tidak dianjurkan). diperlukan pemeriksaan lanjut yang teliti dan akurat. sukar tidur dan vertigo maka perlu dicurigai bahwa pasien tersebut menderita penyakit jantung. waspada dengan posisi tidurnya jangan terlalu baring. Oleh karena itu. dan perawatan gigi-mulut tidak dapat ditunda sampai post-partus. Kalau memang riskan. Hati-hati bila pada 3 bulan pertama.

1. Hal ini disebabkan karena fragilitas kapiler (daya tahan kapiler abnormal terhadap rupture) pada pasien tersebut dalam keadaan kurang. Purpura hemoragik Pada pasien dengan keadaan scurvy lanjut maka perdarahan ke dan dari dalam gusi merupakan keadaan yang biasa terjadi. Selanjutnya diteruskan pada pemerikasaan darah yaitu waktu pendarahan dan waktu penjedalan darah. Tbh penderita bkrg . Lekemia Pada lekemia terjadi perubahan proliferasi dan perkembangan leukosit dan prekursornya dalam darah dan sumsum tulang. Sehingga mudah infeksi dan terjadi perdarahan.4. tknn drh rendah • limfonodi membesr dsluruh tbh • gusi berdarah • petechyae • perdarahan pasca eksodonsia • batuk2 • pruritus • pemeriksaan darah menunjukkan ada anemia tipe sekunder b. Lekemia Limfatika Tanda2 : • badan mkn lelah dan lemah • tanda2 anemia  pucat.2. b. Lekemia Mielogenous • Kek. b. Perlu ditanyakan kepada pasien tentang riwayat perdarahan pasca eksodonsia. jantung berdesir. sehingga menuju kearah keadaan mudah terjadi pendarahan petechie dan ecchimosis. Kelainan Darah a. atau pengalaman pendarahan lain. juga konsentrasi protrombin.

faktorfaktor koagulasi dan dinding pembuluh darah. disebabkan karena adanya interaksi antara trombosit. Pada hemofilli B (penyakit Christmas) terdapat defisiensi faktor IX. Sedangkan pada von . penderita anemia memiliki kecenderungan adanya kerusakan mekanisme pertahanan seluler. hemostasis primer yang terjadi adalah pembentukan platelet plug (gumpalan darah) yang meliputi luka. d. dan akhirnya membentuk deposisi fibrin. Luka ekstraksi juga memicu clotting cascade dengan aktivasi thromboplastin. Selain itu juga ada vasokonstriksi pembuluh darah. Selain itu.• bb berkurang • tanda2 anemia • pembesaran limfa • perut terasa kembung & mual • demam • gangguan gastro intestinal • gatal2 pada kulit • perdrahan pd bbgai bag tbh • gangguan penglihatan / perdarahan krn infiltrais leukemik • perbesaran lien • perdarahan petechyae • perdrahan gusi • rasa berat di daerah sternum c. konversi dari prothrombin menjadi thrombin. Hemofilia Setelah tindakan ekstraksi gigi yang menimbulkan trauma pada pembuluh darah. Pada pasien hemofilli A (hemofilli klasik) ditemukan defisiensi factor VIII. Anemia Ciri-ciri anemia yaitu rendahnya jumlah hemoglobin dalam darah sehingga kemampuan darah untuk mengangkut oksigen menjadi berkurang.

darah dapat tetap mengalir sehingga terjadi perdarahan pasca ekstraksi. penutup wajah. Jaundice Tanda-tandanya adalah ( Archer. juga terlihat pada cairan tubuh ( bila pigmen yang menyebabakan warna menjadi kuning ). Agar tidak terjadi komplikasi pasca eksodonsia perlu ditanyakan adakah kelainan perdarahan seperti waktu perdarahan dan waktu penjendalan darah yg tdk normal pada penderita 5. Pada penderita AIDS terjadi penghancuran limfosit sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi berkurang. 1961 ) ialah kulit berwarna kekuning-kuningan disebut bronzed skin. Karena hingga kini belum ditemukan vaksin HIV. Hipertensi Bila anestesi lokal yang kita gunakan mengandung vasokonstriktor. sering lesi oral tersebut tidak terpikirkan. Macammacam manifestasi infeksi HIV pada oral dapat berupa infeksi jamur. conjuntiva berwarna kekuning-kuningan. tetapi penyakit ini jarang ditemukan. Apabila kita menggunakan anestesi lokal yang tidak mengandung vasokonstriktor. karena lesi oral sering tidak terasa nyeri. . obat-obat pengencer darah. Pada tindakan eksodonsi dimana tindakan tersebut melakukan perlukaan pada jaringan mulut. dan obat-obatan lain karena juga dapat menyebabkan perdarahan. pembuluh darah akan menyempit menyebabkan tekanan darah meningkat. bahkan juga sepatu. 7. Tanpa pemeriksaan secara hati-hati. Dengan demikian.Willebrand’s disease terjadi kegagalan pembentukan platelet. Penting juga ditanyakan kepada pasien apakah dia mengkonsumsi obat-obat tertentu seperti obat antihipertensi. membrana mukosa berwarna kuning. maka dokter bisa langsung memperoteksi diri sesuai standar universal precautaion (waspada unievrsal). pembuluh darah kecil akan pecah. Tetapi bila belum terinfeksi bisa langsung cabut gigi. 6. maka akan lebih mudah mengalami infeksi yang lebih parah. sehingga terjadi perdarahan. infeksi virus dan neoplasma. apabila dokter gigi sudah menemui gejala penyakit mematikan ini pada pasiennya. kacamata. maka upayakan untuk mendapatkan perawatan medis dulu. Perlindungan ini bisa memakai sarung tangan. Tindakan eksodonsi pada penderita ini dapat menyebabkan “prolonged hemorrahage” yaitu perdarahan yang terjadi berlangsung lama sehingga bila penderita akan menerima pencabutan gigi sebaiknya dikirimkan dulu kepada dokter ahli yang merawatnya atau sebelum eksodonsi lakukan premediksi dahulu dengan vitamin K.Bila pasien sudah terinfeksi dan memerlukan premedikasi. masker. AIDS Lesi oral sering muncul sebagai tanda awal infeksi HIV. infeksi bakteri.

Pada penderita sifilis. emosi tidak stabil. exophthalmos (bola mata melotot). dibuang bersih dahulu sebelum penderita menerima radiasi yang berat. Apabila perawatan rad iasi memang terpaksa harus dikerjakan sehubungan dengan malignansi tersebut maka sebaiknya semua gigi pada daerah yang akan terkena radiasi dicabut sebelum dilakukan radiasi. dan kemudian gigi-gigi dicabut. berat badan susut. Oleh karena itu. Kemudian flaps yang berlebihan digunting agar masing-masing ujung flaps dapat bertemu dengan baik. Semua tulang labial atau bukal diambil dengan menggunakan chisel dan mallet. Eksodonsia yang dilakukan di daerah ini banyak yang diikuti osteoradionekrosis rahang ( Archer. kenaikan pada tekanan pulsus. Penyembuhan biasanya cepat dan perawatan radiasi dapat dimulai dalam waktu seminggu. Hipersensitivitas Bagi pasien dengan alergi pada beberapa jenis obat. tanpa terdapat teganagan. bone burs yang besar . Nefritis Eksodonsi yang meliputi beberapa gigi pada penderita nefritis. Sebaiknya penderita nefritis berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli sebelum melakukan eksodonsi. Mukoperiosteal flap dibuka lebar pada daerah yang akan dikerjakan operasi dan kemudian direfleksikan ke arah lipatan mukobukal atau lipatam labial. Toxic Goiter Ciri-ciri pasien tersebut adalah tremor. 11. dapat mengakibatkan shock anafilaksis apabila diberi obat-obatan pemicu alergi tersebut. Pengambilan tulang tersebut meliputi daerah akar dan interseptal. nafsu makan berlebih. 12. tachycardia dan palpitasi .8. daya tahan tubuhnya rendah. chisel. dapat berakibat keadaan nefritis bertambah buruk. keringat keluar berlebihan. seorang dokter gigi perlu melakukan anamnesis untuk mengetahui riwayat kesehatan dan menghindari obat-obatan pemicu alergi. 9. Semua tulang alveolus yang tinggal dan tulang kortikal bagian lingual diambil dengan meninggalkan sepertiga dari tulang apeks alveolus. 10. . rata-rata basal metabolic naik. gangguan menstruasi (pada wanita). Malignansi Oral Di daerah perawatan malignasi suatu rahang melalui radiasi sel jaringan mempunyai aktivitas yang rendah sehingga daya resisten kurang terhadap suatu infeksi. Sifilis Sifilis adalah penyakit infeksi yang diakibatkan Treponema pallidum. 1966 ). sehingga mudah terjadi infeksi sehingga penyembuhan luka terhambat. Bahkan banyak yang berpendapat bahwa semua gigi yang masih ada di daerah itu. Tujuan utama adalah mencabut gigi-gigi dan melakukan alveolektomi seluruh processus alveolaris sejauh sepertiga dekat apeks lubang alveolus. kikir bulat. glandula tiroidea membesar secara difus (kadang tidak ada). Dengan memakai bone rongers.

Tindakan bedah mulut. sinus) mengalami pembengkakan. merokok dan infeksi saluran pernapasan bagian atas. Pada perikoronitis. radang pada gusi d. kerongkongan. faktor-faktor yang juga menyebabkan infeksi adalah trauma dari gigi di sebelahnya. Infeksi perikoronal akut Merupakan infeksi yang terjadi pada jaringan lunak di sekitar mahkota gigi molar yang terpendam (gigi impaksi). leher. Sinusitis (infeksi sinus) terjadi jika membran mukosa saluran pernapasan atas (hidung. pembengkakan dan infeksi dapat meluas di sekitar pipi. makanan / plak dapat tersangkut di bawah flap gusi di sekitar gigi sehingga dapat mengiritasi gusi. termasuk mencabut gigi. nafas tidak sedap (adanya akumulasi plak) 2. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri fusospirochaetal atau streptococcus. Ciri-ciri penderita infeksi gingival akut adalah : a. 3. Pada penderita toxic goiter jangan dilakukan tindakan bedah mulut. dapat mengakibatkan krisis tiroid. Sinusitis maksilaris akut Sinus adalah rongga berisi udara yang terdapat di sekitar rongga hidung. perdarahan pada gusi c. sakit di sekitar wajah  Hidung tersumbat  Kesulitan ketika bernapas melalui hidung  Kurang peka terhadap bau dan rasa  Eritem di sekitar lokasi sinus  Jika menunduk ke depan nyeri berdenyut akan terasa di sekitar wajah . termasuk tindakan eksodonsi. Gejala sinusitis akut :  Nyeri. dan rahang. sangat gelisah . Keadaan ini menyebabkan bakteri dapat masuk ke sekitar gigi dan menyebabkan infeksi. Selain itu. 1. Menumpuknya mukus di dalam sinus menjadi faktor yang mendorong terjadinya infeksi sinus. Akibatnya cairan mukus tidak dapat keluar secara normal.tidak terkontrol meskipun telah diberi obat penenang. Kontra Indikasi Lokal Kontraindikasi eksodonsi yang bersifat setempat umumnya menyangkut suatu infeksi akut jaringan di sekitar gigi. sakit e. tandatandanya yaitu setengah sadar. Infeksi gingival akut Infeksi gingival akut biasa juga disebut dengan acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG) atau fusospirochetal gingivitis. memiliki OH yg jelek b. Pembengkakan tersebut menyumbat saluran sinus yang bermuara ke rongga hidung. Perikoronitis dapat terjadi ketika gigi molar 3 bererupsi sebagian (hanya muncul sedikit pada permukaan gusi). karena dapat menyababkan krisis tiroid dan kegagalan jantung.

ditunjukkan oleh dua atau lebih keadaan sebagai berikut : a. septikimia juga biasa diartikan dengan infeksi berat pada darah.000/mm3 atau <>3 . Keadaan diatas kadangkala disebut juga Sindroma Respon Inflamasi Sistemik (Systemic Inflammatory Response Syndrome = SIRS) yaitu suatu respon inflamasi sistemik yang bervariasi bentuk kliniknya. akan menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan terjadi keadaan septikemia. Takhikardi (denyut nadi > 90 kali/menit) c. Radiasi Alasan melarang eksodonsi dengan keadaan seperti tersebut diatas adalah bahwa infeksi akut yang berada di sekitar gigi. Respirasi > 20 kali/menit d. Denyut jantung > 90 kali /menit c. Tanda-tanda respon sistemik sepsis : a.3) Sedangkan syok septik adalah suatu sindroma klinik yang disebabkan oleh tidak cukupnya perfusi jaringan dan adanya hipoksia jaringan yang disebabkan oleh sepsis. Jumlah leukosit > 12. Temperatur > 38 b. Hipertermi (suhu badan rektal > 38. Takhipne (respirasi > 20 kali/menit b. Bila pasien telah mengalami sepsis dan tidak segera ditangani maka keadaan sepsis ini akan berlanjut menjadi syok septic dan dapat mengakibatkan kematian pasien.4. Septikemia adalah suatu keadaan klinis yang disebabkan oleh infeksi dengan tanda-tanda respon sistemik. Infeksi dalam rongga mulut bila tidak ditangani secara adekuat dapat menjadi suatu induksi untuk terjadinya sepsis.

Contoh : inferior alveolar nerve block. maka kemungkinan terjadi penetrasi pembuluh darah cukup besar.Rabu. Teknik ini sering digunakan di rongga mulut khususnya di rahang bawah. (081610101062) Idwan Tunggal S. Field Block Larutan anestesi lokal disuntikkan pada atau disekitar cabang saraf terminal dengan tujuan untuk memblokir semua persarafan sebelah distal dari tempat injeksi cairan anestesi. 2. Kerugian dari teknik ini adalah bahwa biasanya pembuluh darah letaknya berdekatan dengan batang saraf. (081610101006) Sukma Surya Putri (081610101065) Erni Kartikasari (081610101073) Annisa Fivemy Agti (081610101079) Hidayat Purwanto (081610101080) Wildhan Septianda (081610101081) Sayyidatu Alwiyah (081610101089) Dian Rosita Rahman (081610101104) Rizki Wahyu R. Nerve Block Larutan anestesi lokal disuntikkan pada atau disekitar batang saraf utama. Lokal infiltrasi Larutan anestesi lokal dituntikkan di sekitar ujung-ujung saraf terminal sehingga efek anestesi hanya terbatas pada tempat difusi cairan anestesi tepat pada area yang akan dilakukan instrumentasi.1. Teknik ini terbatas hanya untuk anestesi jaringan lunak. (081610101106) LAPORAN SKENARIO EksoDonsia BAB III PEMBAHASAN 3. sehingga mampu menganestesi daerah yang luas yang mendapat inervasi dari percabangan saraf utama tersebut. Efek anestesi meliputi darah yang terbatas (tidak seluas pada teknik nerve block) contoh : injeksi di sekitar apeks akar gigi rahang atas. . (081610101054) Nur Baiti M. 05 Januari 2011 Eksodonsia KELOMPOK TUTORIAL 6 FKG UNEJ 2008 PRESENTS Trias Leonita (081610101092) Falefhi Rizqia (081610101093) Ranti Safira (081610101097) Dinda Catur Pangestu (081610101048) Ulil Rachima P.1 Klasifikasi Teknik Anestesi Lokal Berdasarkan area yang teranestesi.1 ANASTESI LOKAL 3. anestesi lokal dapat dibedakan menjadi : 1. 3.

Anterior palatine nerve block 3. Anestesi lokal pada rahang atas dapat dilakukan dengan beberapa teknik injeksi diantaranya : 1. dimana jarum disuntikkan ke dalam tulang alveolar bagian interseptal diantara kedua gigi yang akan dianestesi. Interseptal injection Teknik ini merupakan modifikasi dari teknik intraosseous. teknik injeksi anestesi lokal dapat dibedakan menjadi: 1.2 Teknik Anastesi Blok .1. Berdasarkan tepat insersi jarum. Topikal anesthesia Teknik ini dilakukan dengan cara mengoleskan larutan anestesi pada permukaan mukosa atau kulit dengan tujuan untuk meniadakan stimulasi pada ujung-ujung saraf bebas (free nerve endings). Intraosseous injection Injeksi dilakukan ke dalam struktur tulang. Field block (araperiosteal injection) 3. setelah terlebih dahulu dibuat suatu jalan masuk dengan bantuan bur. Lokal infiltration (submucous injection) 2. Paraperiosteal injection Jarum diinsersikan sampai mendekati atau menyentuh periosteum. 6. Teknik ini biasanya dilakukan untuk mempermudah pelaksanaan injeksi intraosseous. Teknik ini diindikasikan terutama pada gingivectomy. Middle superior alveolar nerve block (paraperiosteal injection) 5. Intraperiodontal injection Jarum diinjeksikan langsung pada periodontal membran dari akar gigi yang bersangkutan. Nasopalatine nerve block 8. Submucosal injection Jarum diinsersikan dan cairan anestesi dideponir ke dalam jaringan di bawah mukosa sehingga larutan anestesi mengadakan difusi pada tempat tersebut. Infra orbital nerve block 7. Pappilary Injection Teknik ini sebenarnya termasuk teknik submukosa yang dilakukan pada papila interdental yang melekat dengan periosteum. Anterior superior alveolar nerve block (paraperiosteal injection) 4. 4. dan setelah diinjeksikan larutan anestesi mengadakan difusi menembus periosteum dan porositas tulang alveolar. Anestesi topikal dapat digunakan pada tempat yang akan diinjeksi untuk mengurangi rasa sakit akibat insersi jarum. 5.4. 2. Posterior superior alveolar nerve block 6. 3. yang memerlukan baik efek anestesi maupun efek hemostatis dari obat anestesi.

Injeksi Zigomatik Titik suntikan terletak pada lipatan mukosa tertinggi diatas akar distobukal molar kedua atas. posisi jari yang mempalpasi jangan dirubah dan tusukkan jarum dari seberang gigi premolar ke dua. (3) c. ujung jarum harus tetap menempel pada periosteum untuk menghindari masuknya jarum ke dalam plexus venosus pterygoideus. Perlu diingat bahwa injeksi zigomatik ini biasanya tidak dapat menganestesi akar mesiobukal molar pertama atas. kira-kira 5 mm ke luar dari permukaan bukal. Ujung jarum diarahkan ke atas pada garis tengah menuju canalis palatina anterior. Di anjurkan juga untuk melakukan anestesi permulaan pada jarigan yang akan dilalui jarum. Injeksikan anestetikum sedikit mesial dari titik tersebut dari sisi kontralateral. anestesi ini mutlak harus digunakan untuk injeksi nasopalatinus. Injeksi N. ujungnya akan terletak tepat pada foramen infraorbitale jika garis batas tepat setinggi ujung bukal bonjol gigi premolar kedua. Untuk memperkecil resiko masuknya jarum ke dalam orbita. Nasopalatinus Titik suntikan terletak sepanjang papilla incisivus yang berlokasi pada garis tengah rahang. Teknik-teknik anastesi blok pada maksila : a. apabila gigi tersebut perlu dianestesi untuk prosedur operatif atau ekstraksi. Dengan cara ini.palatinus major. di posterior gigi insicivus sentral. Arahkan jarum ke atas dan ke dalam dengan kedalaman kurang lebih 20 mm. Arahkan jarum sejajar dengan aksis panjang gigi premolar kedua sampai jarum dirasakan masuk kedalam foramen infraorbitale di bawah jari yang mempalpasi foramen ini. Meskipun demikian bila diperlukan anestesi daerah kaninus. Karena itu. Foramen ini terletak tepat dibawah crista infraorbitalis pada garis vertikal yang menghubungkan pupil mata apabila pasien memandang lurus ke depan. injeksi ini biasanya lebih dapat diandalkan daripada injeksi palatuna sebagian pada daerah kuspid dengan maksud menganestesi setiap cabang n. Injeksi Infraorbital Pertama-tama tentukan letak foramen infraorbitale dengan cara palpasi. . Walaupun anestesi topikal bisa digunakan untuk membantu mengurangi rasa sakit pada daerah titik suntikan.palatinus major yang bersitumpang. dalam hal ini. Kemudian ukuran ini dipindahkan ke jarum. lakukanlah injeksi n. b. bagian yang di tusuk adalah pada titik refleksi tertinggi dari membran mukosa antara incisivus sentral dan lateral. Kurang lebih 2 cc anestetikum dideponir perlahan-lahan. Pada waktu jarum diinsersikan sejajar dengan aksis gigi premolar kedua. Injeksi ini menganestesi mukoperosteum sepertiga anterior palatum yaitu dari kaninus satu ke kaninus yang lain. harus dilakukan injeksi supraperiosteal yaitu di atas premolar kedua. Untuk ekstraksi satu atau semua gigi molar. Injeksi Nervus Palatinus Major Tentukan titik tengah garis kayal yang ditarik antara tepi gingiva molar ketiga atas di sepanjang akar palatalnya terhadap garis tengah rahang. pulsasi pembuluh darah kadang bisa dirasakan. Jika foramen diraba perlahan. jarum tidak perlu melalui otot-otot wajah. Apabila ditransfer pada siringe jarak tersebut sampai pada titik perbatasan antara bagian yang runcing dengan bagian yang bergigi. d. Beberapa operator menyukai pendekatan dari arah garis median.1. klinisi pemula sebaiknya mengukur dulu jarak dariforamen infraorbitale ke ujung tonjol bukal gigi premolar ke dua atas. Tarik pipi.

jarum tidak perlu diteruskan sampai masuk ke foramen. Disini. bibir bagian bawah.Mentalis Tentukan letak apeks gigi-gigi premolar bawah. Teknik ini menyebabkan efek anestesi pada jaringan buccal bagian anterior di depan foramen. gigi tersebut masih tetap terasa sakit. Keadaan ini akan menyebabkan timbulnya gagging. .palatinus major. Ketika blok nervus maxilaris atau alveolaris inferior sukses. Tusukkan jarum tersebut sampai menyentuh tulang.palatinus major yang keluar dari foramen palatinum majus (foramen palatinum posterior) yang akan dianestesi. e. Masukkan jarum ke dalam membrana mukosa di antara kedua gigi premolar kurang lebih 10 mm eksternal dari permukaan bukal mandibula. Kurang lebih ½ cc anestetikum dideponir. Anestesi blok n. Selama pencarian foramen dengan jarum. dan dagu.mentalis Nervus mentalis merupakan cabang dari N. Injeksi ke foramen atau deponir anestetikum dalam jumlah besar pada orifisium foramen akan menyebabkan teranestesinya n. kulit dan membrana mukosa labium oris inferior. lakukan aspirasi dan injeksikan anestetikum sebanyak 0. Injeksi ini digunakan bersama dengan injeksi supraperiosteal atau zigomatik. Injeksi Sebagian Nervus Palatinus Injeksi ini biasanya hanya untuk ekstraksi gigi atau pembedahan. Teknik-teknik anastesi blok pada mandibula : a.Karena hanya bagian n. Teknik Anestesi Blok N.6 cc. ditunggu sebentar kemudian ujung jarum digerakkan tanpa menarik jarum keluar. 2. maka tidak perlu dilakukan injeksi. jagalah agar jarum tetap membentuk sudut 45o terhadap permukaan bukal mandibula untuk menghindari melesetnya jarum ke balik periosteum dan untuk memperbesar kemungkinan masuknya jarum ke foramen. Kadang-kadang bila injeksi upraperiosteal dan zigomatik digunakan untuk prosedur dentistry operatif pada regio premolar atau molar atas. Injeksi ini menganestesi mukoperosteum palatum dari tuber maxillae sampai ke regio kaninus dan dari garis tengah ke crista gingiva pada sisi bersangkutan.Alveolaris Inferior yang berupa cabang sensoris yang berjalan keluar melalui foramen mentale untuk menginervasi kulit dagu. Foramen biasanya terletak di dekat salah satu apeks akar gigi premolar tersebut. Tariklah pipi ke arah bukal dari gigi premolar. sampai terasa masuk ke dalam foramen. Jarum pendek yang berukuran 25 gauge dimasukkan (setelah jaringan yang akan dipreparasi diberikan antiseptik) dalam mucobuccal fold di dekat foramen mentale dengan bevel di arahkan ke tulang.palatinus medius sehingga palatum molle menjadi keras. anestesi bila dilengkapi dengan mendeponir sedikit anestetikum di dekat gigi tersebut sepanjang perjalanan n. Pasien mungkin saja merasakan sakit ketika nervus telah teraba pada foramen. dan deponirkan kembali ½ cc anestetikum dengan hati-hati. Posisi syringe membentuk sudut 45¬¬¬0 terhadap permukaan bukal mandibula. mengarah ke apeks akar premolar kedua. Foramen dapat diraba atau dapat terlihat dengan menggunakan sinar x dan biasanya berada di antara gigi premolar.5 Lakukan penembusan jaringan dengan kedalaman 5 mm.

In jeksi ini tidak selalu diindikasikan dalam pembuatan preparasi kavitas kecuali jika kavitas bukal dibuat sampai di bawah tepi gingival. Jika jaringan tertarik kencang. Injeksi tambahan tidak perlu dilakukan ketika melakukan pengobatan untuk satu gigi. anestetikum dideponir perlahan-lahan seperti pada waktu memasukkan jarum melalui jaringan. Prosedur ini disebut "aspirating" dan syringenya adalah syringe aspirating. Operator yang menggunakan tangan kanan berada dalam posisi searah dengan jarum jam delapan sedangkan operator yang kidal berada pada posisi searah dengan jarum jam empat. Cincin-ibu jari digunakan untuk menarik kembali plunger serta menentukan apakah jarum telah menembus pembuluh darah.alveolaris inferior untuk ekstraksi semua gigi pada sisi yang diinjeksi. Syringe Anastesi (Syringe. Injeksi ini menganestesi jaringan bukal pada area molar bawah. Bersama dengan injeksi lingual. Seruit ini dirancang untuk melibatkan plunger karet penyumbat cartridge. jika diindikasikan. dapat melengkapi blok n. Jarum cartridge yang tersedia untuk anestesi lokal memiliki cincin yang menangani ibu jari pada akhir luar dan tombak pada akhir cartridge dari plunger. dengan bevel mengarah ke bawah.4 Setelah melakukan aspirasi dan hasilnya negatif. B. Syringe anastesi (aspirating). serabut saraf yang bersitumpang dari sisi yang lain juga harus di blok. jadi jarum yang sama dapat digunakan setelah anestetikum terisi). jarum akan dibuang. Cartridge) Syringe obat bius (gambar 1-15) dirancang untuk mendukung dan mengusir solusi anestesi dari tabung kaca komersial yang disusun disebut carpuletm. Jarum disuntikan pada membran mukosa bagian disto bucal sampai pada molar terakhir dengan bevel menghadap ke arah tulang setelah jaringan telah diolesi dengan antiseptik.Buccalis Nervus buccal tidak dapat dianestesi dengan menggunakan teknik anaestesi blok nervus alveolaris inferior. (nama merek dagang. Untuk ekstraksi harus dilakukan injeksi lingual. pasien lebih merasa nyaman. Untuk menganestesi gigi insisivus. carpule). Masukkan jarum 2 atau 4 mm secara perlahan-lahan dan lakukan aspirasi. ke suatu titik sejauh molar ketiga. Pasien harus berada dalam posisi semisupine. 3. Jarum ini melekat pada syringe yang dihubungkan oleh plastic-hub yang merupakan bagian dari . Setelah digunakan.Injeksi ini dapat menganestesi gigi premolar dan kaninus untuk prosedur operatif. Nervus buccal menginervasi jaringan dan buccal periosteum sampai ke molar. maka depositkan anestetikum sebanyak 2 cc secara perlahanlahan. Perlahanlahan tusukkan jarum sejajar dengan corpus mandibulae. Gambar 2. jadi jika jaringan halus tersebut diberikan perawatan. b. Teknik Anestesi Blok N. Disposable) Jarum sekali pakai dikemas untuk menjaganya dalam kondisi steril.3 Instrumen Untuk Anastesi Lokal A. Masukkan jarum pada lipatan mukosa pada suatu titik tepat di depan gigi molar pertama. Jarum panjang dengan ukuran 25 gauge digunakan (karena injeksi ini biasanya dilakukan bersamaan dengan injeksi blok nervus alveolaris inferior. maka harus dilakukan injeksi nervus buccal.1. Bucalis Teknik Injeksi N. Disposable Needles (Needles.

Syringe (sisi-loading jarum suntik cartridge) adalah satu-satunya item dalam persiapan yang memerlukan penyterilan setelah digunakan pada setiap pasien. Sedangkan. Jarum infiltrasi memiliki panjang 13/16 inci dan digunakan untuk injeksi maksilaris. Sterilisasi Instrumen Seperti dalam pemeriksaan dasar. Hal ini juga dapat membantu dalam mengontrol pendarahan. untuk membius daerah kecil sekitar dua hingga tiga gigi. Sebagai contoh: lidokain hidroklorida dengan epinefrin (1:50.000) dan mepivacaine hidroklorida (carbocaine) tanpa epinefrin. anastesi daerah menyeluruh. Operator akan menangani dua jarum yang berbeda: sebuah infiltrasi dan jarum konduktif. Jarum syringe merupakan jenis sekali pakai. Aliran darah yang menurun menyebabkan lambatnya difusi anastesi di seluruh tubuh. Syringe. Epinefrin adalah faktor pengendali untuk berapa lama anestesi akan berlangsung. Salah satu instrumen dalam persiapan yang selalu membutuhkan. yaitu lidokain hidroklorida (xylocaine) dengan epinefrin (1:50. Syringe ini digunakan untuk mengaplikasikan anestesi lokal. lidokain hidroklorida dengan epinephrine (1:100. sehingga akan mengkonstriksi kapiler dan memperlambat aliran darah. 3.4 Persiapan Instrument Anastesi A.000 hingga 1:100. dan cenderung mudah patah daripada yang lain jarum. Jarum hipodermik harus dibuang agar tidak dapat melukai operator maupun menguhindari kejadianlain yang tidak diinginkan. ditandai dengan tutup hijau dan garis hijau di wadah. Jenis ini dapat diidentifikasi dengan warna tutup dan dengan warna wadah. anestesi juga memerlukan persiapan tertentu.000) memiliki tutup merah dan bergaris-garis merah. Item lainnya disterilisasi oleh produsen dan dikemas dalam kondisi steril. Anastesi Topical Item pertama saat persiapan adalah topikal xylocaine. Syringe ini dilengkapi dengan perangkat yang memungkinkan operator untuk menentukan apakah operator telah menginjeksi ke dalam aliran darah. sehingga memperpanjang aksinya. dan hidroklorida mepivacaine memiliki tutup putih dan wadah cokelat. Hal ini paling sering digunakan untuk menganastesi daerah tempat suntikan yang sebenarnya harus dilakukan. jarum konduktif memiliki panjang 1 3 / 8 inci panjang.1. Penambahan epinefrin mengakibatkan semakin lama daerah tersebut akan teranastesi. C. selalu tajam. Panjang dan jarum gauge yang digunakan akan bervariasi. Penginjeksian agen ke dalam sistem peredaran darah dapat menimbulkan gejala yang tidak . B. Anastesi Lokal. yaitu penyterilan syringe. Anastesi ini diproduksi dalam bentuk jelly atau salep.jarum sekali pakai. Aspirasi Perakitan dan penggunaan syringe aspirasi cukup sederhana. Umumnya jarum tersedia dalam ukuran 13/16 inci dan 1 3 / 8 inci. Dua kasa 1-2 inci atau cotton tip aplicator akan diperlukan bila menggunakan topikal xylocaine. tergantung kebutuhan operator.000). Tujuan anestesi topikal adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan pada pasien selama injeksi berlangsung. dua jenis obat bius lokal yang banyak tersedia. E. Injeksi blok dibuat dengan menggunakan jarum tersebut. Sejumlah kecil ditempatkan pada aplikator dan diaplikasikan di atas area yang akan disuntikkan. Epinefrin adalah vasokonstriktor yang menyebabkan jaringan di sekitar kapiler membengkak. Jarum sekali pakai selalu steril. D. Saat ini.

Namun. dapat dilihat pada gambar 3. Instrumen untuk anastesi (lokal). Setelah memasukkan carpuletm. Hal ini biasanya akan dilakukan setelah carpuletm larutan anestesi telah dan disisipkan tepat sebelum injeksi diberikan.diinginkan atau kematian.6 Perbedaan Dosis Pada Anak-Anak Dan Dewasa jenis injeksi jarum Nervus yang di anastesi dosis dewasa anak Injeksi supraperiosteal 1 7/8 in. reaksi alergi terhadap obat yang dipakai mungkin timbul. F. dan obat-obatan yang digunakan memiliki batas keselamatan yang sangat tinggi. Langkah pertama adalah memasukkan jarum yang tepat. Hub dan jarum dan dibuang setelah digunakan. – 25 gauge-hub panjang . dan sesuai dengan kebijakan lokal. Kadang-kadang. B. berikut pencegahan standar. Komplikasi paling umum adalah sinkop (pingsan) yang disebabkan oleh anemia otak (yang biasanya psikogenik di alam) dan biasanya berlangsung dari 30 detik sampai 2 menit. yang memungkinkan aspirasi ketika operator menarik plunger melalui jarum suntik pada cincin jempol. Perhatikan cincin jempol dan plunger berpentil.1. Langkah berikutnya adalah untuk menarik plunger dari jarum suntik dan masukkan carpuletm (cartridge) dari obat bius. daerah injeksi/ kerja harus dikeringkan dengan kain kasa. komplikasi masih dapat terjadi. Komplikasi Meskipun telah mengikuti teknik. tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan jarum panjang pada kedua jenis injeksi. Ketika operator siap menyuntikkan larutan anestesi.1. Instrument Untuk instrumen yang biasa digunakan pada anastesi lokal. tetapi ini sangat jarang. Jarum anestesi tersedia dalam ukuran (gauge) yang berbeda dan panjang. Pelindung silinder dapat dilepas tergantung kebutuhan dan kenyamanan operator dalam bekerja. 3. Gauge 25 merupakan jarum panjang yang disediakan dalam bidang gigi. sehingga jaringan tersebut siap untuk di injeksi. hub plastik berulir ke syringe tanpa merusak segel atau memindahkan silinder plastik pelindung luar. Jarum dengan ukuran panjang biasanya digunakan terutama untuk injeksi "blok" dan jarum pendek untuk tipe injeksi infiltrasi. Pentil itu menembus tutup karet cartridge anestesi. C. 3.5 Prosedur A. Pengisian Tabung Syringe Ketika jarum sekali pakai digunakan. lepaskan plunger dan amankan pentil pada stopper karet dengan menyolok cincin jempol di telapak tangan. Injeksi. Gambar 3. Operator dapat mengaplikasikan antiseptik ke daerah tersebut dengan aplikator. Anestesi lokal tidak diragukan lagi adalah obat yang paling sering digunakan dalam praktek kedokteran gigi. dan peralatan yang digunakan efisien dan mudah disterilkan.

pendek 1 in-27 gauge-hub pendek Nervus alveolaris superior posterior 1-2 cc 0.alveolaris superior medius n anterior teranastesi 2 cc 1 cc .25 gauge-hub.27 gauge-hub pendek Nervus alveolaris superior anterior 1-2 cc 0.5-1 cc Injeksi blok *injeksi zigomatik 1 7/8 in. -25 gauge-hub.2 cc 0.pendek 1 in-27 gauge-hub pendek Nervus alveolaris superior medius 1-2 cc 0. – 23 gauge – hub panjang 1 7/8 in – 25 gauge . – 25 gauge-hub panjang 1 in. -25 gauge-hub.pendek 1 in . – 25 gauge-hub panjang 1 in.hub pendek Blok n.5-1 cc Injeksi supraperiosteal 1 7/8 in.23 gauge-hub pendek Blok nervus alveolaris superior posterior sebelum masuk ke maksila di atas molar ketiga 11/2 .75-1 cc Injeksi blok Injeksi infraorbital 1 7/8 in. .1 in. .5-1 cc Injeksi supraperiosteal 1 7/8 in.25 gauge-hub panjang 1 7/8 in. .infraorbitalis melalui deponir anastetikum ke dalam canalis infraorbitalis agar nervus cabang seperti n.

– 25 gauge – hub panjang Nervus lingualis 0. nasopalatinus 1 in.5 cc 0.1. dan durasi blokade saraf ditentukan oleh ukuran dan lokasi anatomis saraf.7 Faktor Penyebab Keefektifan Dan Kegagalan Dalam Anastesi Lokal Faktor Penyebab Keefektifan dan Kegagalan Anestesi Lokal: kadar obat dan potensinya jumlah pengikatan obat oleh protein dan pengikatan obat ke jaringan local kecepatan metabolisme perfusi jaringan tempat penyuntikan obat. – 27 gauge .hub pendek 1 in.5 cc 0. – 25 gauge – hub panjang Blok n. gauge – hub panjang 13/4 in.alveolaris inferior dengan deponir anastetikum sebelum masuk ke canalis mandibula 2 cc 1 cc Injeksi blok *injeksi mentalis 1 7/8 in. – 23 gauge – hub panjang 17/8 in.25 cc Injeksi n.25 cc 3.25 cc Injeksi intraseptal 17/8 in.5 cc 0. – 25 gauge – hub pendek Nervus bukalis longus 0.5 cc jenis injeksi jarum Nervus yang di anastesi dosis dewasa anak Injeksi bukalis longus 17/8 in. Serabut saraf terkecil yang tidak bermielin pada umumnya lebih cepat dihambat daripada serabut .hub pendek Nervus nasopalatinus 0. – 27 gauge – hub pendek Nervus palatines mayor 0. Adanya perbedaan sensitifitas serabut saraf Pada umumnya serabut saraf kecil lebih peka terhadap anestesi local.375 cc Injeksi lingual 17/8 in.Injeksi blok *injeksi mandibular 1 7/8 in.5 cc 0.25 cc Injeksi nervus palanus mayor 17/8 in. – 25 gauge-hub panjang 1 in. – hub pendek Nervus yg berkontak langsung dengan anastetikum yang mengalir masuk ke dalam apicis dentis dan membrane periodontium 0. – 25 gauge – hub pendek 1 in. Onset. – 23 gauge – hub panjang 1 7/8 in.75 cc 0. – 25 gauge .alveolaris inferior dengan deponir anastetikum ke dalam canalis mandibula melalui foramen mentale 1 cc 0. – 25 gauge – hub pendek Blok n. intensitas.

karena biasanya infeksi mengakibatkan asidosis metabolik lokal. Penggunaan sebuah penjepit. Serabut halus bermielin melebihi kepekaan serabut besar bermielin. Pencabutan Intra-Alveolar Pencabutan gigi geligi rahang atas Insisivus sentral sering memilki akar yang berbentuk konis dan dapat dapat diatasi dengan hanya melakukan pergerakan rotasi. Prinsip-prinsip Mekanik pencabutan Ekspansi dinding tulang soket. antara akar gigi dan dinding tulang soket. Kepekaan serabut sasraf tidak tergantung dari fungsi serabut. Teknik ini lazimnya disebut “surgical method” (metode pembedahan).bermielin. Dalam sebagian kasus gigi ini lebih baik dipecah. dengan demikian serabut sensorik maupun motorik yang sama besar tidak berbeda kepekaannya. Anomali serabut saraf antar individu Psikologis pasien 3. dan menurunkan pH. Pilihlah tang blade yang kecil dan pegang akarnya dengan baik sebelum memberikan tekanan pada gigi tersebut. Anestetika lokal umumnya kurang efektif pada jaringan yang terinfeksi dibanding jaringan normal. maka nama yang lebih baik dan lebih akurat adalah pencabutan “trans-alveolar”. Metode pertama yang cukup memadai dalam sebagian besar kasus biasanya disebut “forceps extraction” (pencabutan dengan tang) dan terdiri dari pencabutan gigi atau akar dengan menggunakan tang atau bein atau kedua-duanya. untuk mendesak gigi atau akar keluar dari soketnya sepanjang lintasan dengan hambatan terkecil. yang mana menyebabkan gigi terangkat dari soketnya. Beberapa tang gigi caninus memilki ujung yang terlalu lebar sehingga membentuk kontak 2 titik jika digunakan. Insisisvus lateral memilki akar-akar yang ramping dan seringkali permukaan mesial maupun distalnya rata. maka kemungkinan terjadinya fraktur pada lapisan tulang labial pada . Blade instrumentinstrumen ini ditekan masuk ke dalam membrane periodontal antara akar gigi dan dinding tulang soket. Dengan benar dengan akarnya.2.2 EKSODONSIA 3. Penggunaan sebuah pengungkit dan titik tumpu .Bila akan melakukan pencabutan berganda. Metode ini biasa disebut sebagai pencabutan “intraalveolar” Metode pencabutan yang lain adalah memisahkan gigi atu akar dari perlekatannya dengan tulang.1 Tehnik Pencabutan Pada dasarnya hanya ada 2 metode pencabutan . Tindakan ini dilakukan dengan menggunakan gigi sebagi instrument yang dapat melebarkan dan ini merupakan factor terpenting dalam pencanutan dengan tang. untuk memungkinkan pengambilan gigi yang terdapat di dalamnya. Pemisahan ini dilakukan dengan mengambil sebagian tulang penyanngga akar gigi itu yang mana kemudian dikeluarkan dengan bein dan/tang. tetapi karena semua pencabutan yang dilakukan merupakan prosedur bedah. Caninus memilki akar yang panjang dan kuat dengan potongan melintang yang berbentuk segitiga. Ini merupakn factor dasar yang menentukan penggunaan bein untuk mencabut gigi geligi serta akar0-akar dan penggunaan instrument .

Pencabutan gigi geligi susu Sementara pencabutan gigi geligi aanterior ini biasanmya sangatlah mudah bila menggunakan tehnik dasar. Sepasang tang dengan blade yang cukup kecil untuk mendapatkan kontak dengan dua titik pada akar harus digunakan secara hati-hati pada gigi tersebut. sering dapat di permudah dengan menggoyangkannya dengan bein lurus. biasanya harus dikeluarkan dengan jalan pembedahan. sehingga harus digunakan tang dengan blade yang kecil.mulut yang kecil dan memberikan jalan masuk terbatas.Gigi geligi ini mungkin sangat mudah untuk dicabut tapi kadang-kadang juga sangat rapuh. dan gigi premolar yang sedang di bentuk terdapat diantara akar-akar gigi susu pendahulunya Tehnik pencabutan gigi geligi susu ini pada dasarnya sama dengan tehnik yang digunakan dalam pencabutan terhadap gigi geligi permanen. Pencabutan Gigi geligi Rahang Bawah Incisivus rahang bawah memiliki akar-akar yang kecil dan rata pada bagian sampingnya(pipih). dan metode ini harus digunakan bila terdapat salah satu dari . Metode ini sering disebut dengan metode “terbuka” atau metode “pembedahan”. Akar-akar premolar rahang bawah sering tertanam dalam tulang yang padat dan jika terjadi fraktur selama pencabutan. Pencabutan dari keenam gigi anterior bawah. Harus dgnkan sbh tang dengan blade yang lebih lebar dan penggunaannya pada gigi memerlukan kecermatan yang tinggi. maka mahkota gigi itu akan hancur di dalam tang. Molar rahang bawah paling tepat dicabut dengan tang molar tapi banyak operator yang tidak menggunakan tang ini oleh karena mereka menjumpai banyak kesulitan dalam memasukkan blade yang lebar itu ke dalam membrane periodontal. Namun karena semua pencabutan yang dilakukan merupakan suatu prosedur bedah. Kesulitan ini ditimbulkan oleh gabungan dari beberapa factor. maka nama yang lebih baik dan lebih akurat adalah pencabutan :trans-alveolar”.saat caninus di cabut dapat berkurang dengan mencabut gigi ini sebelum gigi insisivus lateral dan premolar pertamanya. Jika ia tidak bertindak hati-hati dalam mendorong masuk blade ke dalam membrane periodontal sehingga massa akar dapat dipegang. Apeknya sering memiliki inklinasi ke distal. karena pencabutan terlebih dahulu pada gigi insisivus lateral dan premolar akan melemahkan lapisan tulang labial. adalah memastikan bahwa bladenya cukup kecil agar dapat masuk ke dalam membrane periodontal dan blade ini digunakan pada akar. Yang penting terutama bila menggunakan tang. tapi pencabutan terhadap gigi molar pertama san molar kedua susu kadang-kadang lebih sulit daripada gigi permanen penggantinya. Dan selama pencabutan sering terjadi fraktur. Pencabutan Trans-Alveolar Metode pencabutan ini terdiri dari pemisahan gigi atau akar dari perlekatannya dengan tulang. Akar dari caninus rahang bawah lebih panjang dan lebih kokoh daripada akar gigi tetangganya. Premolar pertama rahang atas memilki dua akra kecil yang mungkin membengkok dan meregang. Premolar rahang bawah memiliki akar” yang berbentuk runcing dan apeknya mungkin memiliki inklinasi ke distal.

harus dilatih menggunakan instrument yang terbatas pada tahap pertama. Sisa akar yang tidak dapat dipegang dengan tang atau dikeluarkan dengan bein. dan rencana secara keseluruhan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan serta menghindari atau menghadapi setiap komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi harus disusun. atau akar –akar dengan arah lintasan pengeluaran yang tidak menguntungkan atau rumit. Untuk itu amatlah baik bila digunakan instrument dasar dan meskipun para pembimbing mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang komposisi satu perangkat instrument.2. kebanyakan menyetujui penggunaan instrument baja tahan karat karena kepraktisannya.2 Instrumen Untuk Eksodonsia Tiap dokter gigi memiliki instrument favorit dan ini menyebabkan kesulitan dalam penyusunan alat-alat yang dipergunakan . metode yang akan digunakanuntuk mengeluarkan gigi atau akar-akar dari soketnya .komponen-komponen yang penting dari rencana semacam ini adalah bentuk flap mukopeiostealnya. Peralatan modern yang dianjurkan untuk tujuan ini secara mudahnya digolongkan menjadi dua golongan yaitu tang dan elevator. jenis anastesi yang akan digunakan harus ditetapkan. Tang Pencabut Gigi Untuk Gigi Tetap Nomor Tang akar gigi bawah (kecil) 74n Tang akar gigi bawah (besar) 137 Tang mahkota gigi molar bawah 73 Tang atas lurus (kecil) 29 Tang atas lurus (besar) 2 Tang premolar atas (read) 76s Tang premolar atas (kecil) 147 Tang mahkota gigi molar atas (kiri dan kanan) 94 dan 95 Tang bayonet atas 101 Untuk Gigi Sulung Tang atas lurus 163 .indikasi-indikasi berikut ini : Setiap gigi yang tidak dapat dicabut dengan pencabutan intra-alveolar dengan menggunakan gaya yang cukup besar. Mahasiswa yang sedang belajar melakukan pencabutan gigi. terutama bila akarnya telah diisi atau tak berpulpa Gigi geligi yang mengalami hipersementosis atau ankilosis Gigi geligi yang m. terutama sisa akar yang berhubungan dengan sinus maksilaris Riwayat pencabutan-pencabutan yang sulit Setiap gigi dengan restorasi yang cukup besar . dan pengambilan tulang yang dibutuhkan untuk memudahkannya.engalami geminasi atau dilaserasi Gigi geligi yang secara roentgenologis menunjukkan pola-pola akar yang rumit. 3. Setelah memutuskan akan menggunakan metode “trans-alveolar” untuk mencabut sebuah gigi atau akar. Bila akan dicabut pemasangan gigi tiruan segera atau sesaat setelah pencabutan.

4. biasanya hal ini merupakan perawatan konsul dari bagian ortodontik dengan mempertimbangkan pencabutan gigi untuk mendapatkan ruangan yang dibutuhkan dalam perawatannya. 9. kondisi ini sama dengan gigi pada fraktur pada akar. maksudnya dengan keberadaan gigi yang tidak sehat dapat menyebabkan infeksi pada tubuh manusia. Kontraindikasi Dan Komplikasi Eksodonsia Indikasi Beberapa Indikasi pencabutan gigi : 1. tambal. Gigi persistensi.3 Indikasi.Tang akar gigi atas lurus 159 Tang mahkota gigi molar atas 157 Tang akar gigi bawah 162 Tang mahkota gigi molar atas 160 Elevator Bentuk Warwick James (kiri dan kanan) Bentuk Cryer 30/31 (kiri dan kanan) Bentuk Lindo Levien (besar. maka sebelum dilakukan tindakan eksodonsi atau tindakan bedah lainnya harus dipersiapkan dahulu suatu pemeriksaan yang teliti dan lengkap. sisa akar akan menjadi patologis karena hilangnya jaringan ikat seperti pembuluh darah. sedang dan kecil) Mouth gag dengan lidah Ferguson Pengganjal gigi McKesson (1 set terdiri dari 3 buah) 3. 5. kondisi ini jelas akan membuat rasa sakit berkelanjutan pada penderita hingga gigi tersebut menjadi non vital atau mati. walaupun gigi tersebut masih dirawat secara utuh. maksudnya gigi yang berlebih yg tumbuh secara tidak normal. Gigi dengan supernumerary. gigi yang tidak bisa lagi dirawat misalnya. sehingga menyebabkan gigi tetap terhambat pertumbuhannya. kondisi ini membuat akar gigi tidak vital. Untuk keperluan perawatan ortodontik ataupun prostodontik. gigi sulung yang tidak tanggal pada waktunya. Yaitu dengan pertanyaan adakah kontra indikasi eksodonsi atau tindakan bedah lainnya yang disebabkan oleh faktor . Dan biasanya yang terakhir adalah keinginan pasien untuk dicabut giginya. Kontraindikasi Untuk mendukung diagnosa yang benar dan tepat serta menyusun rencana perawatan yang tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan. Gigi dengan sisa akar. 3. perawatan saluran akar. Gigi dengan fraktur/patah pada akar krena trauma misalnya jatuh. Gigi yang tidak dapat dirawat secara endodontik/restorasi. Gigi dengan fraktur/patah pada bagian tulang alveolar ataupun pada garis fraktur tulang alveolar. 7.2. 2. dengan pertimbangan 'langsung' menghilangkan keluhan sakit giginya. 8. 6. Gigi yang menyebabkan fokal infeksi.

Pasien dengan riwayat kehilangan berat badan yang penyebabnya tidak diketahui. yang terjadi bersamaan dengan kegagalan penyembuhan infeksi dengan terapi yang biasa dilakukan. tipe 2. . Bukan kontra indikasi mutlak dari eksodonsi. Dengan kondisi riwayat penyakit tersebut. syok insulin (hipoglikemia). Diturunkan melalui gen dominan dan biasanya dikaitkan dengan kegemukan. Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik. Kontra indikasi eksodonsi akan berlaku sampai dokter spesialis akan memberi ijin atau menanti keadaan umum penderita dapat menerima suatu tindakan bedah tanpa menyebabkan komplikasi yang membahayakan bagi jiwa penderita. Terjadi setelah infeksi virus dan produksi antibodi autoimun pada orang yang predisposisi antigen HLA. britlle). juvenile. Ini biasanya memerlukan rujukan dan kemungkinan pasien harus rawat inap. Hal tersebut penting untuk menghindari terjadinya komplikasi sebelum pencabutan. dan ketoasidosis (hiperglikemia) lebih sering terjadi pada diabetes tipe 1. dan makan karbohidrat dalam jumlah yang cukup. Lebih sering terjadi pada umur di atas 40 tahun. Pasien diabetes tipe 1 yang terkontrol harus mendapat pemberian insulin seperti biasanya sebelum dilakukan pembedahan. Faktor-faktor ini meliputi pasien-pasien yang memiliki riwayat penyakit khusus. harus dijadikan terkontorl lebih dahulu sebelum dilakukan pembedahan. diapedisis. saat pencabutan. Keadaan Darurat pada Diabetes Diabetes kedaruratan. misalnya meningkatnya kebutuhan insulin. Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (NDDM. Responnya terhadap infeksi tersebut diduga keras akibat defisiensi leukosit polimorfonuklear dan menurunnya atau terganggunya fagositosis. Diabetes Mellitus Malfungsi utama dari diabetes melitus adalah penurunan absolute atau relative kadar insulin yang mengakibatkan kegagalan metabolisme glukosa. Kejadian yang sering terlihat adalah hipoglikemia. maupun setelah pencabutan gigi. Pembedahan dentoalveolar yang dilakukan pada pasien diabetes tipe 2 dengan menggunakan anestesi local biasanya tidak memerlukan tambahan insulin atau hipoglikemik oral. sehingga memerlukan pemberian antibiotik profilaksis. Penderita diabetes melitus digolongkan menjadi: Diabetes Melitus ketergantungan insulin (IDDM.lokal atau sistemik. Perawatan yang terbaik untuk pasien ini adalah pagi hari sesudah makan pagi. yang sering disebabkan oleh karena sulit mendapatkan insulin. yang dapat timbul sangat cepat apabila terjadi kegagalan menutupi kebutuhan akan insulin dengan asupan karbohidrat yang cukup. infeksi orofasial menyebabkan kendala dalam pengaturan dan pengontrolan diabetes. Diabetes dan Infeksi Diabetes yang terkontrol dengan baik tidak memerlukan terapi antibiotik profilaktik untuk pembedahan rongga mulut. eksodonsi bisa dilakukan dengan persyaratan bahwa pasien sudah berada dalam pengawasan dokter ahli dan penyakit yang menyertainya bisa dikontrol dengan baik. Kontra Indikasi Sistemik Pasien dengan kontra indikasi yang bersifat sistemik memerlukan pertimbangan khusus untuk dilakukan eksodonsi. diabetes dewasa stabil). dan khemotaksis karena hiperglikemi. Sebaliknya.ketotik. bisa dicurigai menderita diabetes. tipe 1. Biasanya terjadi pada pasien yang berumur di bawah 40 tahun. Pasien dengan diabetes yang tidak terkontrol akan mengalami penyembuhan lebih lambat dan cenderung mengalami infeksi.

Perdarahan pada gusi mungkin merupakan manifestasi dari pregnancy gingivitis yang disebabkan pergolakan hormon selama pregnancy. tremor. dll. karena tidak ada hubungan antara pregnancy dengan pembekuan darah. Untuk mengatasi ketoasidosis diperlukan pemberian insulin dan cairan. Ekstraksi gigi pada pasien hamil yang ’sehat’ bisa dilakukan dengan baik dan aman di praktek. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung diagnosa sehingga kita dapat menyusun rencana perawatan yang tepat dan tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan. Kontra indikasi eksodonsi di sini . karena bisa bikin kompresi vena cafa inferior. Jika ditemukan pasien dengan tanda-tanda sesak napas. dan lemah. Kegagalan untuk merawat kondisi ini akan mengakibatkan kekejangan.Sedangkan ketoasidosis biasanya berkembang setelah beberapa hari. fraktur . Jadi. berkeringat. atau tim resusitasi. Jangan lupa sebelum dilakukan tindakan apapun. kita memang harus mengetahui riwayat kesehatan pasien baik melalui rekam medisnya atau wawancara langsung dengan pasien. dan mungkin menyebabkan kematian. Hati-hati bila menggunakan obat bius dan antibiotic. dan kadar gula darahnya. rontgen harus dihindari saja kecuali kasus akut (politrauma. Kalau memang ada gigi yang perlu diekstraksi (dimana hal itu tidak bisa dihindari lagi. dan perawatan gigi-mulut tidak dapat ditunda sampai post-partus. Pada penyakit kardiovaskuler. Kehamilan Pregnancy bukan kontraindikasi terhadap pembersihan kalkulus ataupun ekstraksi gigi. palpitasi. (ada daftarnya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh (FDA) sedative (nitrous oxide. misalnya pemeriksaan tekanan darah. laju endap darah. Yang perlu diwaspadai adalah sering terjadinya kondisi hipertensi dan diabetes mellitus yang meskipun sifatnya hanya temporer.dll) bukanlah suatu kontraindikasi waktu hamil. Oleh karena itu. sebaiknya direfer dulu untuk pemeriksaan darah lengkap. sukar tidur dan vertigo maka perlu dicurigai bahwa pasien tersebut menderita penyakit jantung. waspada dengan posisi tidurnya jangan terlalu baring. bila ada pasien dalam keadaan pregnant bermaksud untuk scaling kalkulus atau ekstraksi. Seandainya status umum pasien yang kurang jelas sebaiknya di konsulkan dulu ke dokter obsgin-nya. pencabutan gigi (dan juga tindakan surgery akut lainnya seperti abses. gelisah. clinic biasa. kelelahan kronis. Pasien yang menderita hipoglikemia menunjukkan tanda-tanda pucat. Kesulitan yang sering timbul pada ekstraksi gigi pada ibu hamil adalah keadaan psikologisnya yang biasanya tegang. Hal tersebut sebaiknya dilakukan di rumah sakit (pasien rawat inap). maka sebaiknya tindakan dilakukan di kamar operasi dengan bekerja sama dengan tim code blue. kondisi tersebut akan dengan mudah membaik. diperlukan pemeriksaan lanjut yang teliti dan akurat.dll). Penyakit Kardiovaskuler Sebelum menangani pasien ketika berada di klinik. akan lenyap setelah melahirkan. pasien dilakukan tensi dulu. koma. Dengan pemberian glukosa secara oral (10-20 gram). dormicum itu tidak dianjurkan). Kalau memang harus dicabut giginya atau scalling pada ibu hamil. Hati-hati bila pada 3 bulan pertama. Pasien dengan penyakit jantung termasuk kontra indikasi eksodonsi. denyut nadi pasien meningkat. Kalau memang riskan. tekanan darah pasien naik menyebabkan bekuan darah yang sudah terbentuk terdorong sehingga terjadi perdarahan. atau rumah sakit. namun cukup dapat menimbulkan masalah saat dilakukan tindakan perawatan gigi yang melibatkan perusakan jaringan dan pembuluh darah.

dalam hal ini dokter spesialis jantung. Sehingga mudah infeksi dan terjadi perdarahan.1. Lekemia Pada lekemia terjadi perubahan proliferasi dan perkembangan leukosit dan prekursornya dalam darah dan sumsum tulang. Hal ini disebabkan karena fragilitas kapiler (daya tahan kapiler abnormal terhadap rupture) pada pasien tersebut dalam keadaan kurang. Kelainan Darah a. Tbh penderita bkrg • bb berkurang • tanda2 anemia • pembesaran limfa • perut terasa kembung & mual • demam • gangguan gastro intestinal • gatal2 pada kulit • perdrahan pd bbgai bag tbh • gangguan penglihatan / perdarahan krn infiltrais leukemik • perbesaran lien . misalnya saja penderita jantung rema harus diberi penicillin sebelum dan sesudah eksodonsi dilakukan. namun dalam penangannannya perlu konsultasi pada para ahli. Lekemia Limfatika Tanda2 : • badan mkn lelah dan lemah • tanda2 anemia à pucat. sehingga menuju kearah keadaan mudah terjadi pendarahan petechie dan ecchimosis. b. Purpura hemoragik Pada pasien dengan keadaan scurvy lanjut maka perdarahan ke dan dari dalam gusi merupakan keadaan yang biasa terjadi. Perlu ditanyakan kepada pasien tentang riwayat perdarahan pasca eksodonsia. Dengan berkonsultasi.bukan berarti kita tidak boleh melakukan tindakan eksodonsi pada pasien ini. atau pengalaman pendarahan lain. b. tknn drh rendah • limfonodi membesr dsluruh tbh • gusi berdarah • petechyae • perdarahan pasca eksodonsia • batuk2 • pruritus • pemeriksaan darah menunjukkan ada anemia tipe sekunder b.2. kita bisa mendapatkan rekomendasi atau izin dari dokter spesialis mengenai waktu yang tepat bagi pasien untuk menerima tindakan eksodonsi tanpa terjadi komplikasi yang membahayakan bagi jiwa pasien serta tindakan pendamping yang diperlukan sebelum atau sesudah dilakukan eksodonsi. Lekemia Mielogenous • Kek. juga konsentrasi protrombin. jantung berdesir. Selanjutnya diteruskan pada pemerikasaan darah yaitu waktu pendarahan dan waktu penjedalan darah.

AIDS Lesi oral sering muncul sebagai tanda awal infeksi HIV. conjuntiva berwarna kekuning-kuningan. Selain itu. Selain itu juga ada vasokonstriksi pembuluh darah. penderita anemia memiliki kecenderungan adanya kerusakan mekanisme pertahanan seluler. Tanpa pemeriksaan secara hati-hati. obat-obat pengencer darah. sehingga terjadi perdarahan. Apabila kita menggunakan anestesi lokal yang tidak mengandung vasokonstriktor. pembuluh darah kecil akan pecah. maka upayakan untuk mendapatkan perawatan medis dulu. faktor-faktor koagulasi dan dinding pembuluh darah.• perdarahan petechyae • perdrahan gusi • rasa berat di daerah sternum c. Sedangkan pada von Willebrand’s disease terjadi kegagalan pembentukan platelet. Agar tidak terjadi komplikasi pasca eksodonsia perlu ditanyakan adakah kelainan perdarahan seperti waktu perdarahan dan waktu penjendalan darah yg tdk normal pada penderita Hipertensi Bila anestesi lokal yang kita gunakan mengandung vasokonstriktor. infeksi virus dan neoplasma. dan akhirnya membentuk deposisi fibrin. Penting juga ditanyakan kepada pasien apakah dia mengkonsumsi obat-obat tertentu seperti obat antihipertensi. konversi dari prothrombin menjadi thrombin. membrana mukosa berwarna kuning. karena lesi oral sering tidak terasa nyeri. 1961 ) ialah kulit berwarna kekuning-kuningan disebut bronzed skin. juga terlihat pada cairan tubuh ( bila pigmen yang menyebabakan warna menjadi kuning ). hemostasis primer yang terjadi adalah pembentukan platelet plug (gumpalan darah) yang meliputi luka. Luka ekstraksi juga memicu clotting cascade dengan aktivasi thromboplastin. Pada tindakan eksodonsi dimana tindakan tersebut melakukan perlukaan pada jaringan mulut. disebabkan karena adanya interaksi antara trombosit. infeksi bakteri. Pada hemofilli B (penyakit Christmas) terdapat defisiensi faktor IX. tetapi penyakit ini jarang ditemukan. sering lesi oral tersebut tidak terpikirkan. dan obat-obatan lain karena juga dapat menyebabkan perdarahan. maka akan lebih mudah mengalami infeksi yang lebih parah. Anemia Ciri-ciri anemia yaitu rendahnya jumlah hemoglobin dalam darah sehingga kemampuan darah untuk mengangkut oksigen menjadi berkurang. d. Pada penderita AIDS terjadi penghancuran limfosit sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi berkurang. pembuluh darah akan menyempit menyebabkan tekanan darah meningkat. Tetapi bila belum terinfeksi . Hemofilia Setelah tindakan ekstraksi gigi yang menimbulkan trauma pada pembuluh darah. Jaundice Tanda-tandanya adalah ( Archer. Pada pasien hemofilli A (hemofilli klasik) ditemukan defisiensi factor VIII. Macam-macam manifestasi infeksi HIV pada oral dapat berupa infeksi jamur. Tindakan eksodonsi pada penderita ini dapat menyebabkan “prolonged hemorrahage” yaitu perdarahan yang terjadi berlangsung lama sehingga bila penderita akan menerima pencabutan gigi sebaiknya dikirimkan dulu kepada dokter ahli yang merawatnya atau sebelum eksodonsi lakukan premediksi dahulu dengan vitamin K. darah dapat tetap mengalir sehingga terjadi perdarahan pasca ekstraksi.Bila pasien sudah terinfeksi dan memerlukan premedikasi.

Karena hingga kini belum ditemukan vaksin HIV. emosi tidak stabil. sangat gelisah . Hipersensitivitas Bagi pasien dengan alergi pada beberapa jenis obat. nafsu makan berlebih. Dengan memakai bone rongers. Penyembuhan biasanya cepat dan perawatan radiasi dapat dimulai dalam waktu seminggu. tanda-tandanya yaitu setengah sadar. Apabila perawatan rad iasi memang terpaksa harus dikerjakan sehubungan dengan malignansi tersebut maka sebaiknya semua gigi pada daerah yang akan terkena radiasi dicabut sebelum dilakukan radiasi. termasuk tindakan eksodonsi. apabila dokter gigi sudah menemui gejala penyakit mematikan ini pada pasiennya. Sifilis Sifilis adalah penyakit infeksi yang diakibatkan Treponema pallidum.tidak terkontrol meskipun telah diberi obat penenang. keringat keluar berlebihan. Perlindungan ini bisa memakai sarung tangan. dibuang bersih dahulu sebelum penderita menerima radiasi yang berat. Sebaiknya penderita nefritis berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli sebelum melakukan eksodonsi. tachycardia dan palpitasi . Bahkan banyak yang berpendapat bahwa semua gigi yang masih ada di daerah itu. Nefritis Eksodonsi yang meliputi beberapa gigi pada penderita nefritis.bisa langsung cabut gigi. penutup wajah. Semua tulang labial atau bukal diambil dengan menggunakan chisel dan mallet. daya tahan tubuhnya rendah. berat badan susut. bahkan juga sepatu. tanpa terdapat teganagan. Dengan demikian. maka dokter bisa langsung memperoteksi diri sesuai standar universal precautaion (waspada unievrsal). Toxic Goiter Ciri-ciri pasien tersebut adalah tremor. . Pada penderita toxic goiter jangan dilakukan tindakan bedah mulut. dapat mengakibatkan krisis tiroid. kenaikan pada tekanan pulsus. sehingga mudah terjadi infeksi sehingga penyembuhan luka terhambat. exophthalmos (bola mata melotot). kikir bulat. chisel. Semua tulang alveolus yang tinggal dan tulang kortikal bagian lingual diambil dengan meninggalkan sepertiga dari tulang apeks alveolus. kacamata. dapat berakibat keadaan nefritis bertambah buruk. dapat mengakibatkan shock anafilaksis apabila diberi obat-obatan pemicu alergi tersebut. Oleh karena itu. termasuk mencabut gigi. bone burs yang besar . Tindakan bedah mulut. dan kemudian gigi-gigi dicabut. Eksodonsia yang dilakukan di daerah ini banyak yang diikuti osteoradionekrosis rahang ( Archer. Mukoperiosteal flap dibuka lebar pada daerah yang akan dikerjakan operasi dan kemudian direfleksikan ke arah lipatan mukobukal atau lipatam labial. gangguan menstruasi (pada wanita). Tujuan utama adalah mencabut gigi-gigi dan melakukan alveolektomi seluruh processus alveolaris sejauh sepertiga dekat apeks lubang alveolus. Malignansi Oral Di daerah perawatan malignasi suatu rahang melalui radiasi sel jaringan mempunyai aktivitas yang rendah sehingga daya resisten kurang terhadap suatu infeksi. Pengambilan tulang tersebut meliputi daerah akar dan interseptal. rata-rata basal metabolic naik. seorang dokter gigi perlu melakukan anamnesis untuk mengetahui riwayat kesehatan dan menghindari obat-obatan pemicu alergi. Pada penderita sifilis. Kemudian flaps yang berlebihan digunting agar masing-masing ujung flaps dapat bertemu dengan baik. 1966 ). masker. glandula tiroidea membesar secara difus (kadang tidak ada).

Sinusitis (infeksi sinus) terjadi jika membran mukosa saluran pernapasan atas (hidung. perdarahan pada gusi c. Infeksi gingival akut Infeksi gingival akut biasa juga disebut dengan acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG) atau fusospirochetal gingivitis. Perikoronitis dapat terjadi ketika gigi molar 3 bererupsi sebagian (hanya muncul sedikit pada permukaan gusi). faktor-faktor yang juga menyebabkan infeksi adalah trauma dari gigi di sebelahnya. Bila . Pada perikoronitis. Kontra Indikasi Lokal Kontraindikasi eksodonsi yang bersifat setempat umumnya menyangkut suatu infeksi akut jaringan di sekitar gigi. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri fusospirochaetal atau streptococcus. Infeksi dalam rongga mulut bila tidak ditangani secara adekuat dapat menjadi suatu induksi untuk terjadinya sepsis. Akibatnya cairan mukus tidak dapat keluar secara normal. Ciri-ciri penderita infeksi gingival akut adalah : a. Sinusitis maksilaris akut Sinus adalah rongga berisi udara yang terdapat di sekitar rongga hidung. pembengkakan dan infeksi dapat meluas di sekitar pipi. memiliki OH yg jelek b. Pembengkakan tersebut menyumbat saluran sinus yang bermuara ke rongga hidung.karena dapat menyababkan krisis tiroid dan kegagalan jantung. sakit di sekitar wajah ¨ Hidung tersumbat ¨ Kesulitan ketika bernapas melalui hidung ¨ Kurang peka terhadap bau dan rasa ¨ Eritem di sekitar lokasi sinus ¨ Jika menunduk ke depan nyeri berdenyut akan terasa di sekitar wajah Radiasi Alasan melarang eksodonsi dengan keadaan seperti tersebut diatas adalah bahwa infeksi akut yang berada di sekitar gigi. nafas tidak sedap (adanya akumulasi plak) Infeksi perikoronal akut Merupakan infeksi yang terjadi pada jaringan lunak di sekitar mahkota gigi molar yang terpendam (gigi impaksi). Keadaan ini menyebabkan bakteri dapat masuk ke sekitar gigi dan menyebabkan infeksi. septikimia juga biasa diartikan dengan infeksi berat pada darah. akan menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan terjadi keadaan septikemia. kerongkongan. Septikemia adalah suatu keadaan klinis yang disebabkan oleh infeksi dengan tanda-tanda respon sistemik. Menumpuknya mukus di dalam sinus menjadi faktor yang mendorong terjadinya infeksi sinus. leher. merokok dan infeksi saluran pernapasan bagian atas. sinus) mengalami pembengkakan. makanan / plak dapat tersangkut di bawah flap gusi di sekitar gigi sehingga dapat mengiritasi gusi. radang pada gusi d. Gejala sinusitis akut : ¨ Nyeri. Selain itu. dan rahang. sakit e.

biasanya gigi ini mempunyai akar resopsi yang divergen. Seperti pada pencabutan semua gigi atas. vaskularisasi melimpah tekanan dan klem: penanganan awal perdarahan arteri adalah dengan penekanan langsung dengan jari kasa darah deras . seperti pada gigi molar atas. fraktur minor / mayor procalupolaris fraktur mandi bula) Cedera jaringnan lunak lecet : kesalahan teknik flap luka besar bibir yang teranestasi tertekan handpiece: aplikas salip antibiotik / strtoid empiseme sulokutan Cidera saraf ex: N linguasi paling sering cidera karena pencabutan m3 bawah yang implikasi terapi: dekompresi. Denyut jantung > 90 kali /menit c. Palatina mayor. Gigi molar susu atas mempunyai akar yang memancar.000/mm3 atau <>3 Komplikasi Pendarahan (individu dengan penyakit hati pasien yang menrima terapi antikoagulan. eksisi den anastomosis ulang 3. . a. Tanda-tanda respon sistemik sepsis : Takhipne (respirasi > 20 kali/menit Takhikardi (denyut nadi > 90 kali/menit) Hipertermi (suhu badan rektal > 38.2. Keadaan diatas kadangkala disebut juga Sindroma Respon Inflamasi Sistemik (Systemic Inflammatory Response Syndrome = SIRS) yaitu suatu respon inflamasi sistemik yang bervariasi bentuk kliniknya.3) Sedangkan syok septik adalah suatu sindroma klinik yang disebabkan oleh tidak cukupnya perfusi jaringan dan adanya hipoksia jaringan yang disebabkan oleh sepsis. Jumlah leukosit > 12. mengetahui anatomi regio resiko tinggi: palatum. Temperatur > 38 b. diklem dengan mehostat Fraktur: disebabkan oleh tekanan berlebihan dan tidak terkontrol (fraktur ujung akar / foramen.pasien telah mengalami sepsis dan tidak segera ditangani maka keadaan sepsis ini akan berlanjut menjadi syok septic dan dapat mengakibatkan kematian pasien. a. Respirasi > 20 kali/menit d.4 Perbedaan Eksodonsia Pada Gigi Sulung Dan Gigi Permanen Pencabutan Gigi Susu Pencabutan gigi susu atas : Gigi susu bisa dicabut dengan menggunakan tang (#150 atau #151 (#150 S atau # 151 S).fasialis. pasien yang minum aspirindosis tinggi: cek lab dan kerja sama dengan dokter spesialis penanganan : menghindari pembuluh darah. Pencabutan gigi susu bawah : Untuk pencabutan gigi molar susu. digunakan tang #151 dengan sling grasp. ditunjukkan oleh dua atau lebih keadaan sebagai berikut : a. Apabila masalah tersebut ditambah dengan adanya resorpsi maka tekanan berlebihan sebaiknya dihindari. vestikulum bukal M bawah.yang menyulitkan pencabutannya. digunakan pinch grasp dan telapak menghadap keatas. regio mandibula anterior.

Bila tang hanya ditempatkan pada sisi bukal dan lingual dari gigi dan dipaksakan masuk kedalam jaringan benih gigi tetap pengganti dapat menjadi rusak. pencabutan gigi sebaiknya ditunda karena rasio manfaat / resiko tidak menguntungkan. Sering bagian samping dari akar gigi teresopsi dan secara tidak sengaja menahan fragmen akar gigi. sebaiknya direncanakan pembedahan dan pemotongan gigi susu. Meskipun pencabutan gigi anterior susu biasanya amat mudah dilakukan dengan teknik dasar pencabutan gigi.Pertimbangan utama pada pencabutan gigi susu adalah menghindari cedera pada gigi permanen yang sedang berkembang. Resorpsi akar menimbulkan masalah dalam apakah akar ini sudah keluar semuanya atau belum. sebaiknya dilakukan foto rontgen. Gerakan kearah lingual yang kuat biasanya menyebabkan gigi muncul dari soketnya dan dapat dicabut dengan gerakan kebukal dan rotasi kedepan. Sedangkan apabila pengambilan fraktur akar dianggap membahayakan gigi permanen penggantinya. Permukaan gigi yang patah terasa rata dan mengkilap dengan tepi yang tajam. Akar gigi susu yang tidak dpat dipegang dengan tang. harus digoyangkan kedalam kearah gigi tetap yang sedang bertumbuh menggunakan elevator Warwick James. Resorpsi akar gigi pada gigi geligi campuran tidak terjadi dalam pola yang teratur dari apeks ke mahkota gigi. Mulut anak kecil dan akses terbatas serta gigi premolar yang sedang terbentuk terletak dikitari akar gigi susu sehingga dapat rusak bila gigi molar susu diatasnya dicabut. Apabila ada keraguan. Sewaktu mengaplikasikan bilah tang pada akar yang mengalami karies didaerah gusi harus disadaribahwa gusi cenderung untuk tumbuh masuk ke dalam gigi tersebut. Pencabutan Gigi Permanen Pencabutan gigi geligi atas Insisivus pertama memiliki akar gigi yang konus dan dapat dilakukan pencabutan hanya dengan gerakan . bukan merupakan pilihan yang cocok untuk molar bawah susu. Gigi posterior susu terkadang lebih sulit dicabut daripada gigi tetap penggantinya. Akar gigi susu yang dicabut harus diperiksa untuk memeriksa bahwa pencabutan telah sempurna. jaringan lunak harus cukup terbuka sehingga operator dapat melihat jelas hubungan benih gigi tetaP pengganti dan memmungkinkan operator mengeluarkan fragmen akar gigi tadi dengan melihat langsung. Gigi molar susu tidak memiliki massa akar dan karies yang kadang meluas hingga ke akar gigi membuatnya sulit untuk dipegang dengan tang. akar yang mengalami resopsi biasanya kasar dengan tepi tidak berbentuk tidak teratur. Keputusan untuk mengambil akar gigi tersebut. Lebih baik meninggalkan patahan fragmen akar gigi susu yang kecil yang akan mengalami resopsi atau eksfoliasi daripada merusak atau mengubah posisi benih gigi tetap pengganti dalam upaya menenemukan lokasi dan mengambil fragmen akar gigi susu tadi. Misalnya tang #23 (crownHorn). sehingga bagian tepi akar gigi tersebut sebaiknya benar-benar terlihat. dengan memakai dinding soket sebagai tumpuan. Yang amat penting adalah ketika mengaplikasikan tang harus yakin bahwa bilah tang cukup kecil untuk melewati membrane periodontal dan bahwa bilah benar diaplikasikan pada akar gigi. Teknik pencabutan gigi susu pada dasarnya dalah sama seperti teknik yang dipergunakan untuk mencabut gigi tetap. Apabila diperkirakan akan terjadi cedera selama pencabutan dengan tang. Beberapa faktor berkombinasi menyebabkan kesulitan ini.

Pilihlah bilah tang yang lebih kecil dan bilah tang harus benar-benar masuk ke dalam akar gigi sebelum memberikan tekanan pada gigi. jika diaplikasikan dengan benar pada akar gigi. Insisivus kedua memiliki akar gigi yang yang lebih ramping dan sering datar pada permukaan distal dan mesial. Pada beberapa kasus gigi tersebut dipegang dalam arah mesiodistal dengan tang yang dipegang menyilang lengkung gigi dan pencabutan dilakukan. Namun. Gigi premolar bawah memiliki akar berbentuk mengecil kebawah dan apeksnyadapat miring kedistal. Apeksnya terkadangmiring kedistal. dapat juga dibantu dengan menggoyangkannya menggunakan elevator atau bein lurus. Pada mulut dengan gigi yang berjejal. Premolar pertama atas memiliki dua akar gigi yang kecil. tapi terkadang sangat rapuh. Posisi sumbu panjang akar gigi molar ketiga atas adalah sedemikian rupa sehingga mahkota gigi terletak lebih posterior daripada akar giginya. gerakan pertama yang harus dilakukan adalah rotasi. Gerakan kearah bukal ini dapat dilakukan apabila pasien menggerakan mandibulanya kesisi pencabutan. Akar gigi premolar bawah akarnya sering tertanam pada tulang yang padat dan apabila fraktur selama pencabutan gigi biasanya dilakukan pembedahan untuk mengeluarkannya. Ini mempersulit aplikasi tang. Pencabutan gigi geligi bawah Gigi insisivus bawah memiliki akar yang kecil dengan sisi yang rata. gigi premolar kedua atas sering keluar dari lengkung gigi. biasanya gigi dapat dipegang dengan benar. . Tang dengan bilah kecil dengan menghasilkan ‘ kontak 2 titik’ pada akar. akar gigi ini memiliki bentuk konus yang sederhana .rotasi saja. berarti pencabutan gigi ini harus dengan pembedahan. yang melengkung atau divergen dan fraktur dapat terjadi selama pencabutan. diindikasikan pencabutan transalveolar dengan pemecahan akar gigi. Tang dengan bilah kecil harus digunakan. Gigi-gigi ini dapat dengan mudah dicabut. haruslah hati-hati untuk memastikan bahwa bilah tangbenar-benar masuk kemembran periodontal sehingga dapat memegang masa akar gigi. Gerakan pertama harus kuat tapi perlahan. harus diaplikasikan dengan hati-hati. Kaninus memiliki akar gigi yang panjang dan kuat dengan potongan melintang yang berbentuk segitiga. dan dengan tekanan kearah bukal sudah dapat mengeluarkannya. Tang dengan bilah yang lebih besar harus digunakan dan diaplikasikan dengan cermat pada gigi. Bila pencabutan drngan gerakan rotasi tetap diteruskan.dan bila mulut pasien membuka terlalu lebar. sehingga menggerakan procesus koronoid keluar dari daerah operasi. Akar gigi molar pertama atas tetap dapat menyebar sehingga bila tang molar dipergunakan. prosesus koronoid dapat mengganggu masuknya tang dan menambah kesulitan. tapi terkadang bentuk akar menjadi lebih rumit sehingga menghambat pencabutan dengan tang dan untuk kasus ini diindikasikan pencabutan dengan pembedahan. Beberapa tang kaninus memiliki bilah tang yang terlalu lebar untuk membentuk ’ kontak dua titik’. Bila terasa ada tahanan pada rotasi. Bila terasa ada tahanan pada’rotasi pertama’ jangan dipaksakan dan cobalah gerakan yang lebih klasik yaitu gerakan kelateral. dan hanya untuk pencabutan gigi premolar kedua saja. Akar gigi dari kaninus bawah lebih panjang dan lebih besar daripada gigi sebelahnya. Pada banyak kasus. Pencabutan dari keenam gigi anterior bawah. fraktur akar berbentuk spiral dapat terjadi dan meninggalkan patahan akar gigi yang sulit dikeluarkan. Pada beberapa kasus. bila pasien menutup separuh mulut dan tang bayonet atau tang premolardigunakan.

Dokter gigi harus mencoba untuk melakukan pekerjaan dalam suasana yang tenang. kursi pasien harus disesuaikan sehingga daerah kerja lebih kurang 8 cm di bawah bahu operator (gambar A). Ini. meskipun gigi tersebut erupsi penuh. premolar dan kaninus. Pada pencabutan gigi dengan karies gigi yang amat besar. dan sesuai dengan metode. Gigi ini sering digoyangkan dengan tekanan kearah bukolingual dan paling baik dicabut dengan tambahan gerak rotasi. 3. perlekatan gigi premolar kedua dapat rusak akibat tekanan yang disalurkan melalui septum interdental. seperti gambar A.erasa lebih sulit memasukkan bilah tang membrane periodontal tidak dilakukan dengan hati-hati. Tinggi Kursi Pasien. berarti operator bekerja pada keadaan mekanis yang tidak menguntungkan dan dalam posisi yang melelahkan serta tidak nyaman. kursi pasien harus direndahkan secukupnya agar dokter gigi dapat melihat jelas daerah kerja dan memperoleh posisi kerja yang nyaman. operator harus di belakang pasien seperti gambar C. mahkota gigi dapat hancur akibat terjepit oleh tang. Selama pencabutan gigi bawah. akan banyak berpengaruh dalam memperoleh kerjasama dan kepercayaan dari pasien. banyak dokter gigi lebih suka mengaplikasikan tang pada akar gigi daripada bagian mahkota gigi yang lebih sehat.2. Bila hendak dilakukan pencabutan gigi atas.Gigi molar bawah paling bagus dicabut dengan tang molar. Untuk pencabutan gigi kanan bawah dengan metode intra-alveolar. tinggi kursi pasien harus diatur sehingga gigi yang akan dicabut lebih kurang 16 cm di bawah siku operator (gambar B). Pencabutan dengan Tang . efisien. Untuk mencabut semua gigi kecuali gigi molar kanan bawah. kegagalan memperoleh penerangan yang cukup pada daerah kerja adalah kesalahan yang biasa terjadi. dan merupakan alasan utama kegagalan sejumlah pencabutan gigi. tapi banyak operator tidak menggunakan tang ini karena mereka . operator berdiri pada samping tangan pasien. terkadang dapat dibantu dengan aplikasi elevator pada sebelah mesial sebelum aplikasi tang. Dalam banyak kasus. bersamaan dengan dorongan yang simpatik. Walaupun agak berlebihan untuk mnegatakan bahwa pencahayaan yang baik pada daerah kerja adalah mutlak untuk keberhasilan pencabutan gigi. Lampu. Terkadang operator harus berdiri lebih tinggi dengan menginjak suatu kursi kecil supaya memperoleh posisi kerja optimal. Ia harus berpijak stabil selama prosedur perawatan dan harus yakin bahwa sepatu maupun lantai yang dipijaknya tidak mengganggu keseimbangan tubuh. Hal ini dapat diperoleh bila dokter gigi menggunakan kotak pijakan khususnya untuk pasien yang tinggi. Teknik ini seharusnya tidak dilakukan selama pencabutan dengan tang gigi molar pertama tetap bawah karena dengan pola akar berbeda premolar kedua. Bila daerah pencabutan terlalu tinggi atau terlalu rendah bagi operator. Pencabutan gigi molar kedua dan ketiga bawah.5 Perbedaan Tindakan Eksodonsi pada Mandibula dan Maksila serta Regio-regionya Pengaturan Umum Posisi Operator. Bentuk akar dari gigi molar ketiga bawahtetap amat bervariasi sehingga harus dibuat pemotretan radiografi sebelum pencabutan gigi. tidak terburu-buru. Bila operator berdiri di belakang pasien (gambar C). Operator harus mencegah timbulnya kekhawatiran dari pihak pasien dengan hanya menunjukkan instrumen bila tidak lagi dapat disembunyikan. gigi ini lebih baik dibedah dari perlekatannya. Ini adalah pertimbangan penting yang terkadang diabaikan.

akar palatal biasanya dapat dikeluarkan semuanya. Beberapa tang kaninus memiliki bilah yang terlalu lebar untuk membentuk ‘kontak dua titik’. harus dipertimbangkan dengan cermat bila mengaplikasikan bilah tang pada gigi. Inklinasi gigi perlu diperhatikan dan berhati-hatilah ketika menempatkan bilah tang yang kecil sepanjang sumbu panjang gigi. Rotasi ini. tetapi jangan di antaranya. Bila lebih dominan dilakukan gerakan lateral dalam arah ke bukal dan terjadi fraktur akar gigi. dapat massa akar sulit atau tidak mungkin dipegang dengan tang molar. dengan bilah bukal ditempatkan hati-hati pada akar mesiobukal atau distobukal. Posisi sumbu panjang akar gigi molar ketiga atas adalah sedemikian rupa sehingga mahkota gigi terletak lebih posterior daripada akar giginya. gigi premolar atas dapat miring ke distal dan rotasi pada akar palatalnya. diindikasikan pencabutan transalveola dengan pemecahan akar gigi. dan gigi molar atas lainnya migrasi. posisi massa akar molar kedua atas oblik terhadap mahkota gigi. dan fraktur dapat terjadi selama pencabutan. jika diaplikasijan dengan benar pada akar gigi. meninggalkan akar bukal yang lebih mudah untuk dikeluarkan dengan pembedahan. dan pencabutan gigi ini harus dengan pembedahan. Pada kedua keadaan tersebut. Pada beberapa kasus. Bila gigi molar pertama telah hilang. Ini mempersulit aplikasi tang. Pilihlah bilah tang yang lebih kecil dan bilah tang harus benar-benar masuk ke dalam akar gigi sebelum memberikan tekanan pada gigi. atau bila pasien mempunyai riwayat kesulitan dalam pencabutan gigi. teknik transalveolar merupakan indikasi.Pencabutan Gigi Geligi Atas Insisivus pertama memiliki akar gigi yang konus dan dapat dilakukan pencabutan hanya dengan gerakan rotasi saja. Bila pencabutan multipel dilakukan. Pada banyak kasus. sehingga disebut ‘akar molar oblik’. Pada beberapa kasus. maka tang premolar atas harus digunakan. Kaninus memiliki akar gigi yang panjang dan kuat dengan potongan melintang berbentuk segitiga. prosesus koronoid dapat mengganggu masuknya tang dan menambah kesulitan. dan bila mulut pasien membuka terlalu melebar. Atau pada beberapa kasus. gigi ini lebih baik dibelah. kemungkinan patahnya pelat tulang alveolar sebelah labial sewaktu mencabut gigi kaninus dapat dikurangi dengan mencabut gigi ini sebelum pencabutan gigi insisivus kedua dan gigi premolar pertama akan melemahkan pelat tulang alveolar sebelah labial. Insisivus kedua memiliki akar gigi yang lebih ramping dan sering datar pada permukaan distal dan mesial. Sering dianjurkan agar gigi ini ditarik. Bila molar pertama atas tetap telah hilang. apeksnya lebih dekat dengan gigi kaninus daripada apeks gigi premolar kedua. tapi pada praktiknya gerakan ke lateral sering diperlukan untuk mengeluarkan gigi dengan akar pipih yang divergen. haruslah hati-hati untuk memastikan bahwa bilah tang benar-benar masuk ke membran periodontal sehingga dapat memegang massa akar gigi. Premolar pertama atas memiliki dua akar yang kecil. dan juga kemiringan. biasanya . sumbu panjang gigi semakin ke atas semakin miring ke medial. gigi tersebut cenderung rotasi pada akar palatal dan miring ke mesial. Akar gigi molar pertama atas tetap dapat menyebar sehingga bila tang molar dipergunakan. yang melengkung atau divergen. Gigi premolar kedua sering keluar dari lengkung rahang pada mulut dengan gigi yang berjejal. Pada beberapa kasus gigi tersebut dapat dipegang dalam arah mesiodistal dengan tang yang dipegang menyilang lengkung gigi. Namun. bila pasien menutup separuh mulut dan tang bayonet atau tang premolar digunakan. Bila gigi telah nekrosis atau memiliki restorasi yang besar.

mahkota gigi dapat hancur akibat terjepit oleh tang. Gigi ini sering digoyangkan dengan tekanan ke arah bukolingal dan paling baik dicabut dengan tambahan gerak rotasi. Bila terasa tekanan pada rotasi pertama . yaitu gerakan ke lateral. memungkinkan diduganya kesulitan yang bakal terjadi. Dalam banyak kasus. Bentuk akar dari gigi molar ketiga bawah tetap amat bervariasi sehingga harus dibuat pemotretan radiografi sebelum pencabutan gigi. Pencabutan Gigi Geligi Bawah Gigi insisivus bawah memiliki akar yang kecil dengan sisi yang rata. Pencabutan gigi molar kedua dan ketiga bawah terkadang dapat dibantu dengan aplikasi elevator pada sebelah mesial sebelum aplikasi tang. Pencabutan dari keenam gigi anterior bawah. Jika penekanan bilah tang ke dalam membran periodontal tidak dilakukan dengan hati-hati. Pada pencabutan gigi dengan karies yang amat besar.6 Penatalaksanaan Bedah Diagnosis dan Rencana Perawatan Anamnesis untuk memperoleh riwayat secara lengkap dan pemeriksaan klinis yang didukung oleh metode pemeriksaan tertentu bila perlu. Jangan mencoba mengaplikasikan tang pada gigi molar ketiga atas yang erupsi sebagian atau pada akar gigi posterior atas kecuali bila kedua permukaan bukal dan lingual terlihat jelas. tapi terkadang sangat rapuh. Pada banyak kasus. dapat juga dibantu dengan menggoyangkannya menggunakan elevator/bein lurus. fraktur akar berbentuk spiral dapat terjadi. banyak dokter gigi lebih suka mengaplikasikan tang pada aka gigi daripada bagian mahkota gigi yang lebih sehat. perlekatan gigi premolar kedua dapat rusak akibat tekanan yang disalurkan melalui septum interdental. Tang dengan bilah kecil yang menghasilkan ‘kontak dua titik’ pada akar. Teknik ini seharusnya tidak dilakukan selama pencabutan gigi molar pertama bawah tetap karena dengan pola akar yang berbeda dengan gigi premolar kedua. harus diaplikasikan dengan hati-hati. Bila usaha pencabutan dengan gerakan rotasi tetap diteruskan. gigi ini lebih baik dibedah dari perlekatannya. sehingga menggerakkan prosesus koronoid keluar dari daerah operasi. Tang dengan bilah yang lebih besar harus digunakan dan diaplikasikan dengan cermat pada gigi. jangan dipaksakan dan cobalah gerakan yang lebih klasik. 3. Gerakan pertama harus kuat tapi perlahan. Bila tekanan diaplikasikan ke arah atas. dan hanya untuk pencabutan gigi premolar kedua saja. meskipun gigi tersebut erupsi penuh. dan meninggalkan patahan akar gigi yang sulit dikeluarkan. tapi terkadang bentuk akar menjadi lebih rumit. Apeksnya terkadang miring ke distal.2. Gigi molar bawah paling baik dicabut dengan menggunakan tang molar. sehingga menghambat pencabutan dengan tang. Akar gigi premolar bawah sering tertanam dalam tulang yang padat dan bila fraktur selama pencabutan gigi biasanya diperlukan pembedahan untuk mengeluarkannya. dan untuk kasus ini diindikasikan pencabutan dengan pembedahan. Gigi-gigi ini dapat dengan mudah dicabut. Gigi premolar bawah memiliki akar berbentuk mengecil ke bawah dan apeksnya dapat miring ke distal. dan dengan tekanan ke arah bukal sudah dapat mengeluarkannya. Akar dari kaninus bawah lebih panjang dab lebih besar daripada gigi sebelahnya. Gerakan ke arah bukal ini dapat dilakukan bila pasien menggerakkan mandibulanya ke sisi pencabutan. Tang dengan bilah kecil harus digunakan. gigi atau akar gigi dapat masuk ke dalam sinus maksilaris. akar gigi ini memiliki konus yang sederhana. dan .gigi dapat dipegang dengan benar. tatapi banyak operator tidak menggunakan tang ini karena mereka lebih sulit memasukkan bilah tang yang lebih lebar ke dalam membran periodontal. gerakan pertama adalah rotasi.

hanya tangkai instrument ygang boleh disentuh.apakah dipetlukan bentukk perawatan medis yang lain (seperti antikonvulsi.termasuk penggunaan kumur-kumur larutan saline hangat Perdarahan.komplikasi serta menetapkan pilihan teknik pencabutan yang tepat. Keputusan yang perlu diambil sehubungan dengan pembedahan Pasien rawat jalan atau rawat inap. dan rencana operasi yang disusun untuk mengatasi kesulitan dan menghindari komplikasi. anastesi yg efektif. asisten yang terampil. Bila instrument yang dipergunakan mempunyai satu ujung. Setelah digunakan. insulin. . Bahanbahan yang kotor harus ditempatkan pada tempat yang terpisah. Pasca operasi Resepkan analgesic seperlunya Memberikan instruksi yang jelas sehubungan dengan Kebersihan mulut. instrument harus dikembalikan ke tempat semula pada baki atau trolley. penerangan yang cukup. gambaran radiografis daerah operasi. ditentukan oleh Kondisi pasien Kemungkinan lamanya operasi Indikasi jenis anastesi Apakah perlu kesiapan khusus? –instruksi kepada pasien . rasa sakit setelah dioperasi dan pembengkakan pasca operasi Indikasi untuk perawatan darurat serta hal-hal yang perlu dilakukan Buat janji untuk kanjungan berikutnya. Keperluan lain.apakah perlu pemberian nantibotik terlebih dahulu ? . antikoagulan atau terapi steroid? Pada saat operasi Yakin bahwa semua instrument yang mungkin diperlukan sudah tersedia dan sudah steril (dengan cara memikirkan tiap tahap prosedur dan mencatat daftar intrumen yang diperlukan untuk melakukan tahap prosedur tadi) Letakkan instrument dalam urutan seperti biasa pada baki steril atau pada trolley yang telah didesinfeksi kering dengan bagian atasnya ditutup dengan lap steril.apakah perlu pemberian pramedikasi? .

tindakan operatif dan lain-lain b) Pengiriman bahan (spesimen) pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap c) Mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu pelayanan pengobatan setempat. Laboratorium atau fasilitas kesehatan lainnya D. Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif secara berhasil guna dan berdaya guna.45 Under Info Kesehatan a. Tujuan Sistem Rujukan Upaya Kesehatan 1). c. b. Rujukan Medik: a) Konsultasi penderita. . Rujukan Kesehatan: Adalah rujukan yang menyangkut masalah kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif yang antara lain meliputi bantuan: a) Survey epidemiologi dan pemberantasan penyakit atas kejadian luar biasa atau berjangkitnya penyakit menular b) Pemberian pangan atas terjadinya kelaparan di suatu wilayah c) Penyidikan sebab keracunan. Langkah-langkah dalam meningkatkan rujukan: . Khusus: a) Dihasilkannya upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan rehabilitatif secara berhasil guna dan berdaya guna b). tempat tinggal dan obat-obatan untuk pengungsi atas terjadinya bencana alam e) Saran dan teknologi untuk penyediaan air bersih atas masalah kekurangan air bersih bagi masyarakat umum f) Pemeriksaan spesimen air di laboratorium kesehatan dan sebagainya. Definisi Adalah suatu sistem jaringan pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat. Umum: Dihasilkannya pemerataan upaya pelayanan kesehatan yang didukung mutu pelayanan yang optimal dalam rangka memecahkan masalah kesehatan secara berdaya guna dan beerhasil guna 2). untuk keperluan diagnostik. baik secara vertikal maupun horisontal. Jalur Rujukan berlangsung sebagai berikut: 1).SISTEM RUJUKAN Posted By Revolusi Pendidikan On 17. Antara satu Puskesmas dengan Puskesmas yang lain 5). pengobatan. Antara Puskesmas Pembantu dengan Puskesmas 3). bantuan teknologi penanggulangan keracunan dan bantuan obatobatan atas terjadinya keracunan masal d) Pemberian makanan. Jenis rujukan Secara konsepsional meliputi: 1). kepada yang lebih kompeten. C. Antara masyarakat dengan Puskesmas 4). Intern antar petugas Puskesmas 2). terjangkau dan dilakukan secara rasional. Upaya kesehatan Rujukan 1. Antara Puskesmas dengan RS.

Menyediakan sarana pencatatan dan pelaporan yang memadai bagi sistem rujukan. Menyediakan puskesmas keliling pada setiap kecamatan dalam bentuk kendaraan roda 4 atau perahu bermotor yang dilengkapi dengan radio komunikasi e. Meningkatkan sarana komunikasi antara unit-unit pelayanan kesehatan dengan perantaraan telpon atau radio komunikasi pada setiap unit pelayanan kesehatan d. baik rujukan medik maupun rujukan kesehatan f. Meningkatkan dana sehat masyarakat untuk menunjang pelayanan rujukan . Mengadakan ”Pusat Rujukan Antara” dengan mengadakan ruangan tambahan untuk 10 tempat tidur perawatan penderita gawat darurat pada lokasi yang strategis c. Meningkatkan mutu pelayanan di Puskesmas dalam menampung rujukan dari Puskesmas Pembantu dan Pos Kesehatan dari masyarakat b.a.