DIMENSI SOSIAL PUASA

Oleh :
SALAH satu yang menarik dari ajaran Islam adalah dimensi sosiologis dalam setiap ajarannya. Syahadat, misalnya, selain kesaksian kepada keesaan Tuhan dan kerasulan Muhammad SAW, juga menjadi tuntutan loyalitas (wala’) dan persaudaraan (ukhuwah) sesama muslim. Shalat dan zakat merupakan kristalisasi dari kolektifitas dan solidaritas sosial. Haji menjadi penanda leburnya perbedaan-perbedaan materi-antropologis-geografik yang seringkali menjadi biang kesombongan duniawi, rasisme, chaunivisme, bahkan fasisme. Begitu juga dengan puasa. Menahan rasa lapar dan haus bukan hanya melatih kesabaran invidual namun juga memupuk kesadaran sosial. Rasa lapar dan haus memberikan pelajaran empati kepada sesama manusia. Puasa Ramadhan menjadi pengingat bahwa di luar tembok megah rumah mewah yang serba kecukupan, ada rintihan pilu para pengemis yang kelaparan. Di seberang rumah keluarga yang bangga menyekolahkan anaknya ke luar negeri, ada sekelompok orang yang tidak bisa bersekolah hingga gantung diri. Di balik tong sampah tempat membuang sisa makanan cepat saji, ada tangan-tangan yang berjuang mencari nasi basi. Ramadhan menjadi pengigat bahwa di tengah kelakar kita, ada tangisan kaum papa. Jika puasa selama sebulan penuh ini tidak bisa menumbuhkan rasa empati kepada sesama, maka makna ibadah puasa menjadi sirna. Roh kewajiban berpuasa menjadi hambar dan hampa sebab kualitas ketakwaan sesorang hanya bisa diukur dengan ibadah kepada-Nya dan akhlak baik kepada sesama. Kata Nabi SAW, tidak termasuk beriman seseorang yang lelap tidur dalam kecukupan sementara tetangganya lemah dalam kelaparan. Puasa juga tidak hanya latihan untuk berbagi rasa serba kekurangan. Puasa mendidik untuk berbagi dalam berbagai kelebihan. Empati harus berbuah simpati. Kesadaran sosial akan kehadiran orang-orang yang lemah dan dilemahkan secara ekonomi (mustadh’afin) harus dimanifestasikan dalam amal sosial. Agar ibadah puasa semakin bermakna, kesalehan individual harus mewujud dalam kesalehan sosial. Rasulullah SAW memberitahukan bahwa orang yang memberi makanan untuk berbuka kepada saudaranya yang sedang berpuasa, akan diberi pahala sebagaimana ia mengerjakan puasa itu sendiri. Karena itu, Ramadhan bukan bulan untuk sekedar menyibukkan diri dalam dzikir di mesjid tetapi mengabaikan keadaan masyarakat sekitar. Mengisi Ramadhan bukan sekedar dengan berlombalomba meng-khatam Al-Quran namun buta terhadap penderitaan orang-orang jelata. Puasa Ramadhan yang diakhiri dengan kewajiban membayar zakat merupakan pemberitahuan istimewa dari Allah SWT bahwa untuk menemui-Nya harus melalui dua cara. Yaitu dengan menengadahkan tangan dalam doa dan mengulurkan tangan kepada sesama. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah SWT berfirman bahwa setiap hamba bisa menemui-Nya di

tengah-tengah sesama manusia yang hatinya terluka. Yaitu orang-orang yang menderita karena himpitan sosial-ekonomi. Di antara mereka adalah petani yang kulitnya terbakar mencari nafkah namun tetap kekurangan, para gelandangan yang mencari sisa-sia makanan, nelayan yang miskin, pengemis jalanan, pemungut sampah, para pekerja yang diberhentikan, para pengangguran yang diabaikan negara dan para buruh yang diabaikan hak-haknya oleh para majikan. Bulan puasa saat yang tepat untuk belajar berada di tengah-tengah mereka. Maka sangat ironis, jika bulan puasa justru dijadikan bulan konsumtif dan bulan untuk belanja. Bulan menghamburkan uang untuk persiapan sahur dengan berbagai jenis makanan. Menyediakan hidangan yang seringkali keterlaluan untuk setiap berbuka. Di tengah lingkungan yang serba kesulitan, puasa dijadikan ajang untuk menimbun berbagai jenis kebutuhan dan memamerkan segala jenis pakaian yang berlabel islami. Sungguh sia-sia, jika puasa tidak membuat kita untuk lebih peduli pada sesama. Sungguh tidak bernilai, jika puasa berlalu sementara kita tetap egois dan menutup mata terhadap keadaan masyarakat yang serba kekurangan. Sungguh tidak berarti, jika puasa tidak menjadikan kita mawas diri dan sanggup menahan dorongan hewani. Rasulullah SAW mengingatkan, banyak orang berpuasa namun tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Jelaslah bahwa puasa bukan sekadar ritual kosong atau sekadar upaya menahan lapar dan haus semata, melainkan menebarkan spirit dan makna yang mendalam bagi manusia untuk merenda kehidupan yang semakin baik, indah, dan bermakna. Puasa adalah anugrah dari Allah swt agar kita menjadi lebih baik. Allah swt berfirman: “Berpuasalah karena akan jauh lebih baik bagimu jika kamu sekalian mengetahui.” (QS Al-Baqarah (2): 184)