SEKEDAR PENYEGAR

Penatalaksanaan Penderita Lanjut Usia Secara Terpadu
R. BOEDHI-DARMOJO Guru Besar Emeritus Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, RS Dr. Kariadi Semarang

Pendahuluan Menua adalah suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki atau mengganti diri serta mempertahankan struktur dan fungsi normalnya. Banyak teori mengenai proses menua ini. Teori yang menjelaskan tentang sebab-sebab menua antara lain: 1. Genetic Clock Theory 2. Somatic Mutation Theory (=Error Catastrophe). Errors in Transcription and Translation Process. 3. Immune System Destruction Theory (with incised Auto-Antibodies) 4. Metabolic Theory: Mammals with hibernation live longer, Exercise can cause longer longevity. 5. Free Radicals Theory. Free radicals, a.o. superoxyde, hydroxyl, hydrogen peroxide etc. can cause cell destruction etc. Existing anti-oxidants can reduce destruction process. (Hanya teori-teori yang penting yang disebutkan di sini). Dengan mengembangkan teoriteori ini, timbullah konsep menjadi tua dan sehat. Konsep "Menua Sehat" Tujuan hidup manusia adalah menjadi tua, tetapi tetap sehat ( healthy aging). Healthy aging artinya menjadi tua dalam keadaan sehat. Dalam hal ini, yang terpenting adalah promosi kesehatan dan pencegahan penyakit yang juga harus dimulai sedini mungkin dengan cara dan gaya hidup sehat. Menurut persepsi penulis, prevensi yang dimaksudkan adalah mencegah agar proses menua tadi tidak disertai dengan proses patologik. Timbullah gagasan penulis untuk membuat suatu model pencapaian hal tersebut, seperti tertera pada bagan 1. Healthy aging akan dipengaruhi oleh faktor-faktor: (gambar 1) 1. Endogenic aging, dimulai dengan cellular aging lewat tissue dan anatomical aging ke arah proses menuanya organ tubuh. Proses ini seperti jam yang terus berputar. 2. Exogenic factor, dibagi dalam penyebab lingkungan (environtment) di mana seseorang hidup dan faktor sosio-ekonomi, sosio budaya, atau yang paling tepat disebut gaya hidup (life style). Faktor exogenic aging tadi, kini lebih dikenal dengan sebutan "faktor risiko". Konsep Faktor Risiko (FR) dan Penyakit Degeneratif Penyakit degeneratif mempunyai penyebab dan selalu berhubungan dengan faktor risiko yang biasanya selalu lebih dari satu, yang bekerjasama menimbulkan penyakit degeneratif tadi. FR adalah suatu kebiasaan, kelainan, dan faktor yang bila ditemukan atau dipunyai seseorang menyebabkan orang tersebut secara bermakna lebih berpeluang menderita penyakit degeneratif tertentu. Misalnya, penyakit jantung koroner, stroke, kanker, osteoporosis, dst. Pada gambar 2, di sebelah kiri adalah FR dan sebelah kanan penyakit degeneratif. Beberapa FR melalui suatu "core" dapat menyebabkan penyakit degeneratif tertentu. Penyakit degeneratif sendiri dapat merupakan FR penyakit degeneratif yang lain. Misalnya, penyakit jantung dan hipertensi merupakan FR stroke.

Di tingkat pelayanan dasar. Pelayanan kesehatan vertikal dan horisontal: aspek holistik dari pelayanan geriatri harus tercermin dari pemberian pelayanan vertikal. kuratif. preventif. yaitu berupa identitas penderita. olah raga. 2. misalnya agama. maka penanganannya harus bersifat holistik. pekerjaan. maka pelayanan kesehatan yang diberikan harus meliputi aspek promotif. perawat. serta penyakit-penyakit iatrogenik (Brocklehurst dan Allen. pendidikan/kebudayaan. yaitu pelayanan yang diberikan dari Puskesmas sampai ke pusat rujukan geriatri tertinggi. Termasuk dalam bagian ini adalah anamnesis mengenai faktor risiko sakit. dan sosial. Hadi Martono.Dari tabel tersebut. Cara ini merupakan suatu analisis multidimensional dan sebaiknya dilakukan oleh suatu tim geriatrik. Tetapi. 3. hanya diperlukan tim "inti" yang terdiri dari dokter. yaitu usia sangat lanjut (> 70 tahun). . dan rehabilitasi dengan memperhatikan aspek psiko-sosial serta lingkungan. duda hidup sendiri. penegakan diagnosis pada penderita usia lanjut dilaksanakan dengan tata cara khusus yang disebut dengan asesmen geriatrik. yaitu: 1. baru kematian orang terdekat. Jenis pelayanan kesehatan: sesuai dengan batasan geriatri seperti tersebut di atas. Tugas masing-masing anggota tim adalah sebagai berikut: • • • • • Asesmen lingkungan/sosial: petugas sosio-medik Asesmen fisik: dokter/perawat Asesmen psikis: dokter/perawat/psikolog-psikogeriatris Asesmen fungsional/disabilitas: dokter/terapis rehabilitasi Asesmen psikologik: dokter-psikolog/psikogeriatri Dengan tata cara asesmen geriatric yang terarah dan terpola. 1999. ada kerjasama lintas sektoral dengan bidang kesejahteraan lain. Kane et al. Brocklehurst dan Allen menambahkan bahwa penderita usia lanjut lebih mudah terkena penyakit akut (infeksi dan penyakit akut lain). umur. jenis kelamin dan berapa yang masih tinggal bersama penderita). selalu terdapat aspek psikologik dan sosial ekonomi. 1999) Awal anamnesis serupa dengan semua anamnesis yang lain. Dengan demikian. perkawinan. serta keadaan sosial ekonomi. Hal ini perlu mengingat semua aspek penyakit (fisik-psikis). 1999) Mengingat sifat dan karakteristik penderita usia lanjut seperti disebutkan di atas. pertanyaan-pertanyaan berikutnya dilakukan dengan lebih terinci dan terarah sebagai berikut: • Identitas penderita: nama. dan lingkungan harus mendapat perhatian yang sama. dan tenaga sosiomedik. 1987). alamat. sosial-ekonomi. Anamnesis (Kane et al. Penegakan diagnosis: berbeda dengan tata cara diagnosis yang dilaksanakan pada golongan usia lain. yaitu di rumah sakit provinsi. Susunan dan besar tim bisa berbeda-beda tergantung pada tingkatan pelayanan. Penatalaksanaan penderita: penatalaksanaan penderita juga dilaksanakan oleh suatu tim multidisipliner yang bekerja secara interdisipliner dan disebut sebagai "tim geriatri". Pelayanan kesehatan horizontal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan merupakan bagian dari pelayanan kesejahteraan menyeluruh. anak (jumlah. maka kemungkinan terjadinya "mis/under diagnosis" yang sering didapatkan pada praktik geriatri dapat dihindari atau dieliminasi sekecil mungkin. Penanganan Holistik (Hadi Martono. 4.

• • baru sembuh dari sakit/pulang opname. Pada akhir anamnesis harus dicatat derajat kepercayaan informasi yang diperoleh. antara lain: • Pemeriksaan tekanan darah. Penilaian sistem dilaksanakan secara urut. seringkali justru memberikan keluhan yang tidak khas. dan lainlain. gangguan komunikasi/bicara. misalnya dari sistem syaraf pusat saluran napas atas dan bawah. dan lain-lain. Yang penting adalah bahwa pemeriksaan dengan sistem ini menghasilkan ada/tidaknya gangguan organ atau sistem (walaupun secara kasar). saluran napas atas. dan lain-lain. duduk. minum alkohol. karena tidak berdasarkan "model medik" (tergantung pada keluhan utama). gangguan mental nyata. Bila yang melakukan perawat. seterusnya sampai kulit integumen dan lain-lain. Harus selalu diingat bahwa pada usia lanjut. Anamnesis tentang berbagai gangguan yang terdapat: menelan. walaupun rinciannya mungkin terdapat beberapa perbedaan. gangguan tidur atau keluhan malam hari. jatuh. dan berdiri. Pemeriksaan organ dan sistem ini perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan pemeriksa/dokter. gigi-mulut Pemeriksaan leher. bising arteri karotis . masalah gigi. Anamnesis tentang obat. yang pada gilirannya tidak serinci hasil pemeriksaan fisik oleh dokter spesialis. menderita penyakit progresif. dementia. hipotensi ortostatik. Penilaian sistem: bagian ini berbeda dengan anamnesis penderita golongan umur lain. kelenjar tiroid. dan afek (alo-anamnesis atau pengamatan) konfusio. mengembara. nyeri/gerak yang terbatas pada anggota badan. kesadaran. baik yang berasal dari resep dokter maupun yang dibeli bebas (termasuk jamu-jamuan). daya ingat. Kepribadian perasaan hati. masing-masing dengan selang 1--2 menit. perlu dicatat untuk dapat dilaksanakan asesmen khusus kejiwaan atau bahkan konsultasi psiko-geriatrik. keluhan tidak selalu menggambarkan penyakit yang diderita. Kemungkinan hipertensi palsu juga harus dicari (dengan perasat Osler). TIA/RIND. Riwayat tentang problema utama geriatri (sindrom geriatrik): pernah stroke. gigi palsu. mengunyah tembakau. Pemeriksaan fisik untuk menilai sistem. untuk melihat kemungkinan adanya hipotensi ortostatik. yaitu: • • • Pemeriksaan syaraf kepala Pemeriksaan panca indera. baik sebelum sakit ini maupun yang masih diminum di rumah. • Pada pelaksanaannya dilakukan pemeriksaan fisik dengan unitan seperti pada anamnesis penilaian sistem. curiga/bermusuhan. Apabila hasil anamnesis ini membingungkan atau mencurigakan. inkontinensia urin/alvi. • • • Anamnesis tentang kebiasaan yang merugikan kesehatan (merokok. seringkali diperlukan alo-anamnesis dari orang/keluarga yang merawatnya sehari-hari. dan lain-lain). dekubitus. Untuk mendapatkan jawaban yang baik. • Perlu digarisbawahi bahwa anamnesis pada lansia harus meliputi auto-dan alloanamnesis. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dimulai dengan pemeriksaan tanda vital (seperti pada golongan umur lain). gangguan mobilitas. harus dilaksanakan dalam keadaan tidur. dan patah tulang. tentu saja tidak serinci dokter umum.

Perlu pula pemeriksan X-foto thorax dan EKG. Pemeriksaan Tambahan Pemeriksaan tambahan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi penderita. Dari asesmen ketiga fungsi tersebut. Sama sekali tidak mampu untuk melakukan kegiatan di atas tanpa bantuan orang lain. dan sebagainya hanya dilakukan bila perlu. fungsi hepar/renal. sedang trace elements bila ada indikasi saja). Pemeriksaan Fungsi Hal ini dianggap merupakan fokus sentral. Kemampuan untuk melakukan kegiatan dengan sedikit bantuan. . Pemeriksaan laboratorium rutin di sini meliputi: • • • Pemeriksaan darah. albumin/globulin. Dengan kata lain. {Kane et al (1994)} Hasil penelitian Boedhi-Darmojo dkk. jantung. EEG. ke kamar mandi/WC (lihat tabel 2). urin. elektrolit (terutama FE. tingkat keahlian pemeriksa (perawat/dokter umum/dokter spesialis). yang selain memerlukan kemampuan dasar juga memerlukan berbagai koordinasi kemampuan otot. Pemeriksaan status gizi dengan menggunakan patokan BMI ( Body Mass Index) harus bisa melengkapi. yaitu: ' • • • Aktivitas hidup sehari-hari (AHS fisik) yang hanya memerlukan kemampuan tubuh untuk berfungsi sederhana. dapat ditentukan tiga tingkat kemampuan dari seorang penderita lansia. Apabila terdapat kecurigaan adanya kelainan yang belum jelas atau diperlukan tindakan diagnostik/terapeutik lain. Pelaksanaan asesmen fungsi fisik dan psikis penderita dapat dibagi dalam beberapa jenis. Kemampuan mental dan kognitif. yang hasilnya dapat dievaluasi oleh tim. dan seterusnya sampai pada pemeriksaan ekstremitas. Ca. gula darah. tanpa melihat apakah terdapat keluhan pada organ/sistem itu atau tidak. susunan syaraf yang lebih rumit. terutama menyangkut fungsi intelek. 1996) mengenai AHS (ADL) terhadap komunitas lansia di Semarang dan desa sekitarnya dapat dilihat pada tabel 2. dapat dilakukan konsultasi/rujukan kepada disiplin lain. kulit-integumen. pemeriksaan organ-sistem adalah melakukan pemeriksaan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki secara sistematis. misalnya bangun dari tempat tidur. yaitu: • • • Kemampuan untuk melakukan kegiatan tersebut di atas tanpa bantuan orang lain. berpakaian. refleks-refleks. feces rutin.• Pemeriksaan dada. Echo-c. juga kemampuan berbagai organ kognitif lain (lihat tabel 2). (1992. tetapi minimal harus mencakup pemeriksaan rutin usia lanjut. dan memori tentang hal-hal yang baru saja terjadi. lipid. EMG. memori lama. Aktivitas hidup sehari-hari instrumental (AHS instrumental). CT-scan. P. paru-paru.

juga lebih nyata sesudah usia 70 tahun hingga kemandirian akan lebih berkurang. Pemberian nutrisi yang baik dan seimbang perlu melengkapi tindakan-tidakan tersebut di atas. berupa massa otot. Boedhi-Darmojo R. dan patologik yang khas sehingga memerlukan pendekatan penatalaksanaan yang khusus pula. Data Penelitian Penyakit pada Penderita Lanjut Usia Indonesia Akhirnya. dengan catatan bahwa data ini haruslah dilengkapi dengan data di daerah lain dan dilakukan updating data tsb. Demikianlah telah dengan jelas diuraikan dan dijelaskan bahwa penderita lansia. Penatalaksanaan dan Pengobatan Medik Prinsip penting seperti pada pengobatan penderita lain. albumin serum. juga fungsi sekresi dan detoksifikasi hati serta ginjal Kemungkinan polifarmasi dan efek samping obat yang lebih sering terjadi. Yokohama. Daftar Pustaka 1. fisiologik. juga berlaku pada penderita lansia ini. AHS fisik dapat diartikan sebagai kegiatan sehari-hari terhadap diri sendiri. Simposium Nasional Gerontologi Geriatri. hal 40-45 . fisiologik/fungsional. makalah ini akan dilengkapi dengan beberapa data penelitian penyakit pada lansia di Indonesia. Indonesia Country Report. Menyempitnya "therapeutic window" pada lansia (lihat gambar 4). Iatrogenesis yang diakibatkannya. Perlu disadari dan dilaksanakan semboyan "Start slow. Dokter yang merawat harus mengetahui betul sifat farmakodinamik dan farmakokinetik obat yang diberikan. Boedhi-Darmojo R. 1992 3. Selain itu. AsiaOceania International Congress of Gerontology.: Clinical Features of myocardial infarction in erderly patients. terutama oleh lansia di bawah 70 tahun dan menurun kemampuannya pada usia makin tua. Colombo. Boedhi-Darmojo R. Perlunya individualisasi pada tiap kasus.: Aspek Kesehatan pada Golongan Lanjut Usia. baik simtomatik maupun kausal. serta fungsi postural yang menurun.• • • AHS fisik pada umumnya masih dapat dilakukan cukup baik oleh para lansia. AHS instrumental memang lebih jelas menurun. yang harus cermat diperhatikan. sering timbul masalah khusus yang perlu diperhatikan oleh dokter yang merawat seperti tertera pada tabel 3. Untuk penderita lansia yang dirawat di rumah sakit. go slow". Hal ini perlu dimonitor lebih cermat. Faktor lupa dan ketaatan (compliments) minum obat. tidaklah hanya sekadar penderita dewasa yang lanjut usia. Bila kita mulai berketetapan menggunakan obat. Jakarta (Serpong) 1994. dan komposisi tubuh penderita lansia tadi. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: • • • • • • • • Perubahan anatomik. 1992 2. Dewan Riset Nasional. yaitu mulai dengan non-drug treatment. tetapi mempunyai sifat anatomik.: WHO-Community Study on Health of the Elderly.

: Simposium Nasional ke-1 Geriatric Cardiology. hal. 3rd Ed. Editor Boedhi-Darmojo R. Boedhi-Darmojo R.4. Hadi Martono R. 82-106 10. Stieglitz EJ: Geriatric Medicine. 3rd Ed. 2000. JC & Allen. McGraw Hill. 1986 9. hal 318-332 5. Gizi. 2000. dalam Buku Ajar Geriatri. Nasution I & Handayani R: Penggunaan Obat Secara Rasional pada Usia lanjut. SKRT.: Penderita Geriatri dan Asesmen Geriatri. hal 18-29 6. Ouslander JG & Abrass IB: Essentials of Clinical Geriatrics. Boedhi-Darmojo R. Churchill & Livingstone. Hadi Hartono. Philadelphia. Brocklehurst.. SC: Geriatric Medicine for Students. 1996. Kesehatan. Dep. JE Lippincott Co. Edisi ke-2. 1999. Buku Kenangan. Fakultas Kedokteran Un. Dalam Bunga Rampai Karangan Ilmiah Buku I. Editor Boedhi-Darmojo R dan Balai Pnerbit FK Universitas Indonesia. Diponegoro. Boedhi-Darmojo R. Balitbang Kesehatan. hal 538-548 11. Buku Ajar Geriatri. 1954 . 2001 7. Kane RL. dan Hadi Martono..: Kesehatan. 1999 12. NY. 1987 8. dan Beberapa Keadaan Sosial Golongan Usia Lanjut di Lingkungan Kota dan Desa Jawa Tengah. 4 th Ed.: Orasi Purna-Tugas. Perki Jakarta .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful