BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obesitas 2.1.1 Definisi Obesitas Kelebihan berat badan adalah suatu kondisi dimana perbandingan berat badan dan tinggi badan melebihi standar yang ditentukan. Sedangkan obesitas adalah kondisi kelebihan lemak, baik di seluruh tubuh atau terlokalisasi pada bagian bagian tertentu. Obesitas merupakan peningkatan total lemak tubuh, yaitu apabila ditemukan kelebihan berat badan >20% pada pria dan >25% pada wanita karena lemak (Ganong W.F, 2003).

Faktor-faktor penyebab obesitas masih terus diteliti. Baik faktor lingkungan maupun genetik berperan dalam terjadinya obesitas. Faktor lingkungan antara lain pengaruh psikologi dan budaya. Dahulu status sosial dan ekonomi juga dikaitkan dengan obesitas. Individu yang berasal dari keluarga sosial ekonomi rendah biasanya mengalami malnutrisi. Sebaliknya, individu dari keluarga dengan status sosial ekonomi lebih tinggi biasanya menderita obesitas. Kini diketahui bahwa sejak tiga dekade terakhir, hubungan antara status sosial ekonomi dengan obesitas melemah karena prevalensi obesitas meningkat secara dramatis pada setiap kelompok status sosial ekonomi (Zhang, 2004). Meningkatnya obesitas tak lepas dari berubahnya gaya hidup, seperti menurunnya aktivitas fisik, dan kebiasaan menonton televisi berjam-jam. Faktor genetik menentukan mekanisme pengaturan berat badan normal melalui pengaruh hormon dan neural. Selain itu, faktor genetik juga menentukan banyak dan ukuran sel adiposa serta distribusi regional lemak tubuh.

Universitas Sumatera Utara

Tipe obesitas ini berhubungan lebih kuat dengan diabetes. Tipe obesitas ini lebih banyak terjadi pada wanita sehingga sering disebut “gynoid obesity”. Obesitas tubuh bagian atas merupakan dominansi penimbunan lemak tubuh di trunkal .. Tipe obesitas menurut pola distribusi lemak tubuh dapat dibedakan menjadi obesitas tubuh bagian atas (upper body obesity) dan obesitas tubuh bagian bawah (lower body obesity). 2004).1 Data survei obesiti mengikut umur Universitas Sumatera Utara . Gambar 2. dan retroperitoneal. oleh karena itu tipe obesitas ini lebih dikenal sebagai “android obesity”. Terdapat beberapa kompartemen jaringan lemak pada trunkal. Obesitas tubuh bagian bawah merupakan suatu keadaan tingginya akumulasi lemak tubuh pada regio gluteofemoral. Tipe obesitas ini berhubungan erat dengan gangguan menstruasi pada wanita (David. yaitu trunkal subkutaneus yang merupakan kompartemen paling umum. Obesitas tubuh bagian atas lebih banyak didapatkan pada pria. intraperitoneal (abdominal). dan penyakit kardiovaskuler daripada obesitas tubuh bagian bawah.Obesitas berhubungan erat dengan distribusi lemak tubuh. hipertensi.

serta perbandingan lingkar pinggang dan panggul. kelas II Obesitas ekstrim.9 30.0-29.2. IMT Metode yang sering digunakan adalah dengan cara menghitung IMT.9 35. Table 2.0-39.5-24. Berikut ini penjelasan masing-masing metode pengukuran antropometri tubuh: a.9 >40 Universitas Sumatera Utara . Klasifikasi IMT dapat dilihat pada tabel di bawah ini. kelas I Obesitas..1 Klasifikasi IMT (International Diabetes Federation. 2005). yaitu BB/TB2 dimana BB adalah berat badan dalam kilogram dan TB adalah tinggi badan dalam meter (Caballero B. Sebuah studi menyatakan bahwa pengukuran lingkar leher juga dapat digunakan sebagai screening obesitas. lingkar pinggang.0-34.5 18. kelas III (kg/m2) <18. 2005). metode yang lazim digunakan saat ini antara lain pengukuran IMT (Index Massa Tubuh).9 25. Klasifikasi IMT BB kurang (underweight) Normal BB lebih (overweight) Obesitas.1.2 Pengukuran Antropometri sebagai Skreening Obesitas Obesitas dapat dinilai dengan berbagai cara.

metode lain untuk pengukuran antropometri tubuh adalah dengan cara mengukur lingkar pinggang.b. Sehinggga IDF (Internasional Diabetes Federation) mengeluarkan kriteria ukuran lingkar pinggang berdasarkan etnis (Alberti.2 Kriteria ukuran pinggang berrdasarkan etnis Negara/grup etnis Eropa Asia Selatan Populasi China. Melayu. Parameter penentuan obesitas merupakan hal yang paling sulit dilakukan karena perbedaan cutt of point setiap etnis terhadap IMT maupun lingkar pinggang. Lingkar Pinggang IMT memiliki korelasi positif dengan total lemak tubuh. dan AsiaIndia China Jepang Amerika Tengah Sub-Sahara Afrika Timur Tengah Lingkar pinggang (cm) pada obesitas Pria >94 Wanita >80 Pria >90 Wanita >80 Pria >90 Wanita >80 Pria >85 Wanita >90 Gunakan rekomendasi Asia Selatan hingga tersedia data spesifik Gunakan rekomendasi Eropa hingga tersedia data spesifik Gunakan rekomendasi Eropa hingga tersedia data spesifik Universitas Sumatera Utara . Tabel 2. 2005). tetapi IMT bukan merupakan indikator terbaik untuk obesitas Selain IMT.

3 Rasio Lingkar perut dan pinggul Jenis Kelamin Wanita Pria Ukuran RLPP Normal <0.3 Epidemiologi Obesitas adalah suatu masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius di seluruh dunia karena berperan dalam meningkatnya morbiditas dan mortalitas.8% pada tahun 1998.8% di Brazil. Prevalensi obesitas meningkat di setiap negara. Sebagai contoh.2 Fenotip obesitas menurut Vague.. di Amerika Serikat prevalensi meningkat dari 12% pada tahun 1991 menjadi 17. 1947. mulai dari 7% di Perancis sampai 32. Rasio Lingkar Perut – Pinggul Tabel 2. 2.c.85 <0. Penelitian Himpunan Studi Obesitas Indonesia Universitas Sumatera Utara .1. Prevalensi obesitas berbeda-beda di setiap negara.90 Gambar 2.

. Selain itu. dan pada semua kelompok usia. National Cholesterol Education Program Third Adult Treatment Panel (NCEP-ATP III) tahun 2001. 2.1 Definisi Sindroma Metabolik Sindroma metabolik merupakan suatu kumpulan faktor risiko metabolik yang berkaitan secara langsung terhadap terjadinya penyakit kardiovaskuler artherosklerotik. terdapat kepentingan klinis dari kriteria-kriteria tersebut. peningkatan kadar glukosa plasma. 2004).16%). Pada tahun Universitas Sumatera Utara . pada setiap jenis kelamin. keadaann prototombik. Antara lain disebutkan oleh WHO pada tahun 1998 yang menekankan bahwa resistensi insulin merupakan penyebab primer dari sindrom. dan proinflamasi (Semiardji.2.(HISOBI) mendapatkan angka prevalensi obesitas pada wanita (11. Faktor risiko tersebut antara lain terdiri dari dislipidemia atherogenik.02%) lebih besar daripada pria (9. dan American Association of Clinical Endocrinologist (AACE) tahun 2003. WHO juga mengizinkan penggunaan terminologi sindroma metabolik untuk digunakan pada pasien DM tipe 2 yang juga memenuhi kriteria lain. Beberapa kriteria definisi sindroma metabolik yang sering digunakan antara lain WHO tahun 1998. European Group for The Study of Insulin Resistance (EGIR) tahun 1999. peningkatan tekanan darah. ras. dan tingkat pendidikan.2 Obesitas Abdominal sebagai Faktor Risiko Metabolik 2. Saat ini berkembang beberapa kriteria definisi dari sindroma metabolik yang pada akhirnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengenali sedini mungkin gejala gangguan metabolik sebelum seseorang jatuh ke dalam beberapa komplikasi yang terjadi. Secara garis besar. Obesitas meningkat di setiap negara.

NCEP ATP III tidak memasukkan resistensi insulin dalam kriteria. peningkatan trigliserida. salah satu yang diajukan oleh World Health Organization (WHO) dan yang lainnya oleh Institut Kesehatan Nasional (NIH). EGIR menggunakan terminologi sindroma resistensi insulin.4 . Tabel 2. Fakta bahwa dua set standar ada menunjukkan bahwa pemahaman dan penggunaan istilah Sindrom metabolik yang baru dan berkembang (David. Secara umum seseorang yang diklasifikasikan dengan Sindrom Metabolik kriteria WHO juga didiagnosis dengan menggunakan kriteria NIH.85 pada wanita dan> 0. 2004). AACE pada tahun 2003 merevisi kriteria ATP III untuk kembali berfokus pada resistensi insulin sebagai penyebab primer dari faktor risiko metabolik. Kriteria mayor lainnya adalah toleransi glukosa terganggu. penurunan HDL.1999. Pada tahun 2001.Tekanan darah> 140/90 mm Hg 4.Definisi Sindrom Metabolik World Health Organization 1.Peningkatan sekresi albumin dalam urin Universitas Sumatera Utara . Definisi ini bekerja sama dan mencakup beberapa unsur abnormalitas glukosa / insulin. EGIR mengajukan revisi dari definisi WHO. dan obesitas.Pinggang hip ratio> 0. tekanan darah dan lipid . dan obesitas.Trigliserida> 150 mg% dan / atau kolesterol HDL <35% mg (pria) atau <40% mg (wanita) 3. Saat ini ada dua set kriteria untuk sindroma metabolik. peningkatan tekanan darah. Hal ini disebabkan sulitnya melakukan pengukuran dan standardisasi resistensi insulin.9 pada pria atau indeks massa tubuh> 30kg/m2 2.

Peningkatan faktor risiko metabolik selalu berhubungan dengan tingginya akumulasi Universitas Sumatera Utara .2.HDL-kolesterol <50 mg% pada wanita atau <40 mg% pada laki-laki 4. keadaan prototombik memiliki karakteristik peningkatan plasminogen activator inhibitor (PAI-1). obesitas abdominal adalah bentuk dari obesitas yang paling kuat berhubungan dengan sindroma metabolik. b. fibrinogen. c.Tekanan darah> 130/85 mm Hg 5.Glukosa plasma puasa> 110 mg% 2. dislipidemia atherogenik bermanifestasi dengan penurunan kadar HDLC. keadaan proinflamasi meningkatkan kadar hsCRP sebagai akibat dilepaskannya sitokin proinflamasi merupakan pertanda risiko terjadinya myocard infarct. resistensi insulin/intoleransi glukosa terjadi pada sebagian populasi dengan sindroma metabolik. e. f. Hal ini dapat terlihat secara klinis dengan meningkatnya lingkar perut. Hal ini berhubungan erat dengan komponen sindroma metabolik lainnya dan berbanding lurus dengan risiko PKV (penyakit kardiovaskuler). peningkatan kadar trigliserid. dan faktor VII.Trigliserida> 150 mg% 3. peningkatan tekanan darah berhubungan dengan obesitas dan biasanya terjadi pada resistensi insulin. d.2 Patogenesis Sindroma Metabolik Menurut ATP III komponen-komponen sindroma metabolik terdiri dari : a.National Institutes of Health 1. dan small dense LDL.obesitas perut: lingkar pinggang> 35 cm pada wanita atau 40 inci pada laki-laki 2.

sehingga sel-sel lemak tersebut akan mensekresi produk-produk metabolik. batu empedu kolesterol. dan beberapa jenis kanker. sleep apnea. gout. hiperlipidemia. 2. Produk-produk dari sel lemak dan peningkatan asam lemak bebas dalam plasma bertanggung jawab terhadap berbagai penyakit metabolik seperti diabetes.2. 2.jaringan adiposa abdominal. asma. diantaranya sitokin proinflamasi. Berdasarkan data dari the Third National Health and Nutrition Examination Survey (1988 sampai 1994). dan angiotensinogen. prokoagulan. ATP III juga menyebutkan bahwa sindroma metabolik memiliki hubungan dengan beberapa keadaan seperti polikistik ovarii. Universitas Sumatera Utara . prevalensi sindrom metabolik (dengan menggunakan kriteria NCEP-ATP III) bervariasi dari 16% pada laki-laki kulit hitam sampai 37% pada wanita Hispanik. fatty liver. terutama jaringan lemak visceral.2. Salah satu karakteristik obesitas abdominal/lemak visceral adalah terjadinya pembesaran sel-sel lemak. peptida inflamasi. penyakit jantung. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh NHANES yang menyebutkan bahwa sindroma metabolik memiliki hubungan kuat dan konsisten dengan infark miokard/stroke atau infark miokard dengan stroke. dan hipertensi. Prevalensi Sindrom Metabolik meningkat dengan bertambahnya usia dan berat badan.4 Epidemiologi Prevalensi Sindrom Metabolik bervariasi tergantung pada definisi yang digunakan dan populasi yang diteliti.3 Manifestasi Klinik Sindroma metabolik ATP III menyatakan bahwa penyakit kardiovaskuler merupakan manifestasi utama sindroma metabolik.

4% memenuhi kriteria ATP III.F. 2006). diperkirakan Sindrom Metabolik melebihi merokok sebagai faktor risiko primer terhadap penyakit kardiovaskular. Universitas Sumatera Utara . Terdapat beberapa penelitian mengenai prevalensi sindroma metabolik di Indonesia. Surabaya didapatkan bahwa dari 100 orang.Karena populasi penduduk Amerika yang berusia lanjut makin bertambah dan lebih dari separuh mempunyai berat badan lebih atau gemuk . Soetomo. dari 227 pria berumur 21. Di RSUD Dr. 29% memenuhi kriteria WHO dan 31% memenuhi kriteria ATP III (Tjokroprawiro.81 tahun. 52. Adam pada Oktober 2002 hingga Januari 2003. Sindrom metabolik juga merupakan prediktor kuat untuk terjadinya DM tipe 2 dikemudian hari. 2% pasien memenuhi kriteria WHO dan 73% memenuhi kriteria ATP III. Di Semarang 297 penderita DM tipe 2 yang menjalani rawat jalan di poliklinik Endokrinologi RS Dr. Kariadi. Di Makasar dilaporkan pada sebuah studi yang dilakukan John M. 56.

adinopektin ↓. hsCRP ↑ ↑ Produksi asam lemak bebas Akumulasi lemak di berbagai organ Hepar Oto Skelet Pankreas Penurunan pengikatan & degradasi insulin VLDL ↑ Dislipidemia atherogenik Penumpukan lemak intraseluler Resistensi insulin Hiperinsulinemi PAI-1 ↑ Memblok transduksi sinyal insulin Hiperinsulinemi Disfungsi sel β ↓ Intramuscular glucose uptake Universitas Sumatera Utara . fibrinogen ↑. IL-6 ↑.3 Kerangka berpikir Sindroma Metabolik Hipertensi: ↓ NO ↑ Tonus simpatis ↑ angiotensinogen ↑Jaringan Lemak Visceral Keadaan prototombik & proinflamasi: PAI-1 ↑. TNFά ↑. IL-1 ↑.Gambar 2.

Kemudian tekanan di atas arteri brakhialis perlahan. sehingga tidak ada darah yang dapat lewat. Pada titik ini tekanan yang tampak pada kolom air raksa dalam manometer dianggap tekanan sistole. bila dengan menggunakan stetoskop denyut arteri brakhialis pada lekukan siku dengan jelas dapat didengar.hipertensi derajat 1. Dan titik di mana bunyi menghilang di anggap tekanan diastolik (Sherwood. Cara mengukur tekanan darah adalah dengan menggunakan alat yang di sebut spygmomanometer.3 Tekanan Darah dan Hubungan Dengan Obesitas 2. Menurut The Sixth Report Of The Joint National Committee On Prevention. hipertensi derajat 2. Lengan atas di balut dengan selembar kantong karet yang dapat digembungkan. 2001). dan hipertensi derajat 3.lahan di kurangi sampai bunyi jantung atau pukulan denyut arteri dengan jelas dapat di dengar atau dirasakan. Universitas Sumatera Utara .3. dan denyut nadi pergelangan menghilang. klasifikasi tekanan darah pada dewasa terbagi menjadi kelompok normal. yang terbungkus dalam sebuah manset dan yang di gandengkan dengan sebuah pompa dan manometer.2. Dengan memompa maka tekanan dalam kantong karet cepat naik sampai 200 mmHg yang cukup untuk menjepit sama sekali arteri brakhial. Kemudian tekanan diturunkan sampai suatu titik di mana denyut dapat dirasakan atau lebih tepat. prehipertensi. L. Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure (JNC 6).1 Definisi Tekanan Darah Tekanan darah ialah daya dorong ke semua arah pada seluruh permukaan yang tertutup pada dinding bagian dalam jantung dan pembuluh darah. Detection..

6 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7 Klasifikasi Tekanan Darah Normal Pre Hipertensi Hipertensi Derajat 1 Tekanan Sistolik dan Diastolik (mmHg) <120 dan < 80 120-139 atau 80-89 140 – 159 atau 90 – 99 Universitas Sumatera Utara . Detection. Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure (JNC 7).klasifikasi tekanan darah pada dewasa terbagi menjadi kelompok normal. Table 2.5 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 6 Klasifikasi Tekanan Darah Normal Prehipertensi Hipertensi Stadium I Hipertensi Stadium II Hipertensi Stadium III Tekanan Sistolik dan Diastolik (mmHg) <120 dan <80 120-139 atau 80-89 140-159 atau 90-99 >160 atau >100 > 180 atau > 110 Klasifikasi Pengukuran Tekanan Darah Orang Dewasa Dengan Usia Diatas 18 tahun menurut The Sixth Report Of The Joint National Committee On Prevention.hipertensi derajat 1. prehipertensi. Detection. Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure (JNC).Tabel 2. Manakala menurut The Seventh Report Of The Joint National Committee On Prevention. dan hipertensi derajat 2. Tahun 1997.

Tahun 2003. Detection. maka dipilih kategori yang lebih tinggi untuk mengklasifikasikan tekanan darah individu.3. Ketika tekanan darah sistolik dan diastolik berada pada pada kategori yang berbeda.2 Definisi Hipertensi Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90mmHg (Kaplan N.M.Derajat 2 >160 atau >100 Klasifikasi Pengukuran Tekanan Darah Orang Dewasa Dengan Usia Diatas 18 tahun menurut The Seventh Report Of The Joint National Committee On Prevention.3 Etiologi dan Klasifikasi Table 2. .3. posisi duduk punggung tegak. Hipertensi didiagnosis berdasarkan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik. 2. 2006). Tekanan darah diukur dengan sphygmomanometer yang telah dikalibrasi dengan tepat (80% dari ukuran manset menutupi lengan) setelah pasien beristirahat nyaman.7 Klasifikasi hipertensi menurut WHO/ISH Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg) Optimal Normal Normal tinggi < 120 < 130 130 -139 (<140) < 80 < 85 85 – 89 (<90) Universitas Sumatera Utara . Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure (JNC). 2.

Penyebab hipertensi sekunder antara lain penggunaan estrogen. b. sedangkan usia di bawah 20 tahun jarang ditemukan. natrium dan kalsium intraseluler. Faktor-faktor yang terlibat dalam patogenesis hipertensi essensial antara lain faktor genetik. Individu dengan hipertensi pertama kali pada usia di atas 50 tahun atau yang sebelumnya diterapi tapi mengalami refrakter terhadap terapi yang diberikan mungkin mengalami hipertensi sekunder. Patogenesis hipertensi essensial adalah multifaktorial. hipertaktivitas sistem saraf simpatis.Hipertensi Derajat 1 ( ringan ) Borderline Derajat 2 ( sedang ) Derajat 3 ( berat ) Hipertensi sistolik yang terisolasi Borderline a. serta konsumsi alkohol secara berlebihan. Hipertensi sekunder dapat terjadi pada individu dengan usia sangat muda tanpa disertai riwayat hipertensi dalam keluarga. sistem renin angiotensin. Hipertensi Sekunder Hipertensi sekunder memiliki patogenesis yang spesifik. Universitas Sumatera Utara . penyakit ginjal. Hipertensi Primer (essensial) 140 – 159 140 – 149 160 – 179 ≥ 180 ≥ 140 140 – 149 90 – 99 90 – 94 100 – 109 ≥ 110 < 90 < 90 Onset hipertensi essensial biasanya muncul pada usia antara 25-55 tahun. defek natriuresis.

Hipertensi pada Obesitas Berbagai penelitian epidemiologik telah membuktikan adanya hubungan yang kuat antara obesitas dan hipertensi. serta menurunnya nitrit oxide (NO). hiperaldosteronisme primer dan sindroma cushing. Beberapa mekanisme lain yang berperan dalam kejadian hipertensi pada obesitas antara lain peningkatan sistem saraf simpatik. Universitas Sumatera Utara .3. koarktasio aorta. Mekanisme penyebab utama terjadinya hipertensi pada obesitas diduga berhubungan dengan kenaikan volume tubuh.peningkatan endotelin 1. peningkatan asam lemak bebas (FFA). Farmingham study (2007) melaporkan risiko terjadinya hipertensi sebesar 65% pada wanita dan 78% pada laki-laki berhubungan langsung dengan obesitas dan kelebihan berat badan. peningkatan insulin. 2.4 Hipertensi dengan Faktor Risiko Obesitas . dan menurunnya resistensi vaskuler sistemik. peningkatan leptin. feokromsitoma. terganggunya aktivitas natriuretic peptide (NP). Data yang diperoleh dari NHANES pada populasi orang Amerika Serikat memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan linier antara kenaikan rasio lingkar pinggang dan pinggul dengan tekanan darah sistolik dan diastolik serta tekanan nadi. peningkatan curah jantung. meningkatnya aktivitas renin angiotensin aldosteron (RAAS).hipertensi vaskuler ginjal. kehamilan. serta penggunaan obat-obatan.

Gambar 2.4 Kerangka berpikir Hipertensi Pengukuran Rasio Lingkar Pinggang Dan Pinggul Obesitas tubuh bagian atas Akumulasi lemak di truncal Reabsorbsi Na Insulin Free Fatty Acid RAAS Leptin Nitrit Oxide Natriuretic peptide Retensi cairan Blood volume Cardiac output Resistensi vaskular Aktivitas saraf simpatis vaskuler↑ Tekanan darah↑ HIPERTENSI Universitas Sumatera Utara .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.