P. 1
Tamu Tak Diundang

Tamu Tak Diundang

|Views: 1|Likes:
Published by Fiteru Ntuh Fitori

More info:

Published by: Fiteru Ntuh Fitori on Sep 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/16/2014

pdf

text

original

Tamu Tak Diundang Sebuah potongan drum tampak di atas panguang.

Semula drum itu merupakan sebuah drum bekas wadah minyak tanah yang dibagi menjadi dua. Di atasnya tampak tanah yang becek. Tanah itu sengaja ditempatkan dalam drum itu untuk memelihara belut. Joni masuk ke punggung. Ia mendekati drum itu, kemudian melihat lihat kearah drum itu. Tiba-tiba, ia dikejutkan Iyah, tetengga dekatnya Iyah : “sedang apa, jon?” Joni : (Menoleh dan mulutnya mengangah) “kamu, Yah. Kapan dating?” Iyah : “Lho, ditanya kok malah bertanya. Saya datang kemarin sore.” Joni : “Lama amat di Ygya?” Iyah : “Habis kakak tidak mempunyai pembantu.” Joni : “Apakah yogya ramai?” Iyah : “Ramai sekali.” Joni : “Membawa oleh-oleh?” Iyah : (Tertawa) “Datang saja di rumah. Jika hanya sebuah roti dan emping mlinjo, masih ada.” Joni : “Baiklah, nanti aku ke sana.” Iyah : “Mengapa ada tanah becek di dalam drum? Kamu memelihara belut, ya?” Joni : “iya.” Iyah : “Di yogya jugak banyak yang memelihara belut.” Joni : (Bersemangat) “Apakah mereka berhasil?” Iyah : “iya. Mereka berhasil dengan baik. Akan teapi, mereka tidak menggunakan drum. Mreka memelihara belut-belut itu dalam sebuah bak.” Joni : (Agak heran) “Bak?” Iyah : (Mengangguk) “Ya. Baknya besar dan terdiri dari beberapa bak. Saya lihat setiap minggu tentu ada belut yangdijual ke pasar.” (Tiba-tiba terdengar suara seorang ibu dari luar panggung) Ibu iyah : “iyah, Bantu ibu, nak!” Iyah : (setengah berteriak) “Baik Bu.” (Berkata kepada Joni) “Aku permisi dahulu. Datang ke rumah, ya?” Joni : “Baiklah. (Memandang iyah pergi, kemudianmemandang drum itu lagi, setelah itu iya keluar mengambil roti tawar. Ia masuk kembali ke panggung membawa roti tawar) “ joni : “Aku ingin member makan belur-belut ku.” (Menebarkan roti tawar ke dalam drum. Namun tidak seperti biasa, belut-belut itu tidak bereaksi. Iya curiga belut-belutnya hilang. Ia lalu mengaduk-aduk tanah tersebut. Ternyata benar, belutnya telah hilang. Ia sedih) Ibu Joni : “Kamu apakan belut-belutmu , Jon?” Joni : (Diam dan berdiri mematung. Pandangannya terus diarahkan ke tanah berlumpur dalam drum) ibu Joni : “Ada apa, Jon?” (Merasa ada yang tidak beres, ia mendekati anaknya. Ia kemudian dapat menebak bahwa belut Joni hilang dicuri orang). “Ayok masuk.” Joni : (Tetap tidak beranjak) Ibu Joni : “nantik kita laporkan pada pak RT.” ( Ia lalu menarik tangan Joni).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->