BAB I PENDAHULUAN

Seorang Penderita bernama Ny. N dengan usia 29 tahun datang ke IGD (Instalansi Gawat
Darurat) RSUD Raden Mattaher pada tanggal 5 september 2010. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien baru saja melahirkan dengan dukun, Kemudian terjadi perdarahan yang terus menerus dan tidak berhenti. Kemudian oleh keluarga dipanggil seorang bidan, kemudian bidan menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan fisik, didapatkan counjungtiva pasien yang anemis dan tanda-tanda vital pasien seperti TD = 110/70, Nadi 92 x/menit, RR = 22 x/menit, dan suhu = 370C. Kemudian di dapatkan juga luka robekan dan perdarahan pada jalan lahir. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah rutin. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik ditegakkan diagnosa perdarahan post partum et causa laserasi portio. Kemudian pasien di terapi di IGD.

BAB II STATUS RESUSITASI UNTUK MAHASISWA PSPD UNJA BAGIAN ANESTESIOLOGI RSUD RADEN MATTAHER JAMBI

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Ruang Berat Badan : Ny. S : Perempuan : 29 tahun : IGD : 50 kg

ANAMNESIS Keluhan Utama Kronologis : Perdarahan setelah melahirkan yang tidak berhenti, :Sekitar 3 jam sebelum masuk rumah sakit penderita melahirkan seorang bayi yang ditolong oleh dukun. Kemudian terjadi perdarahan setelah melahirkan yang tidak berhenti, darah terus keluar melalui jalan lahir. Oleh bidan, penderita di suruh dibawa ke rumah sakit. Riwayat Penyakit Dahulu : Darah Tinggi dan kencing manis disangkal.

PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalisata 1. Keadaan Umum : Lemah

Kepala Bentuk Mata : : : : : : Composmentis (GCS 15) 110/70 mmhg 92 x/menit 22 x/menit 37’C 53 kg : Mesosefal : Conjungtiva Anemis +/+. Sklera Ikterik -/-. supel. vesikuler disemua lapangan paru. Thorax Pulmo : JVP(5-2) cmH20. edema pretibial (-) PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Darah Rutin Hb Ht Leukosit Trombosit : 9. Suhu 7. reflex cahaya +/+ Leher 2. hepar dan lien tidak teraba. sonor disemua lapangan paru. RR 6. II murni.5-10) : 225.2 gr/dl (11-16. Gallop (-). BB B. reguler. (+) normal.03 /mm3 (3. timpani. BJ I. Cor :Ictus cordis tidak terlihat.5) : 29. Nadi 5. Pemeriksaan Fisik 1. Kesadaran 3. Abdomen :Datar. Murmur (-).2.1 L % (35-50) : 24.pembesaran kelenjar getah bening (-) :simetris kanan dan kiri. Tekanan Darah 4. pupil isokor. bising usus 3.103 /mm3 (150-390) . Extrimitas :Acral hangat. ictus cordis teraba di ics V.

174 Golongan Darah Bleeding Time Clotting Time :O : 3’ : 4’ DIAGNOSIS : Haemorhagic post partum ec Laserasi portio THERAPY : IVFD RL 2 line gtt 30 Oksigen kanul 2l/menit Pemberian metergin 0.50 Cairan (kolf) RL I (cor)+ RL II RL III T/D 110/80 120/90 Nadi 90 98 Intake Output ..103/mm3 (3.Traneksamat 500mg Pemberian antibiotik cefotaxime 1 gr Pantau vital sign secara ketat Jahit jalan lahir Pasang tampon Jam 18. 103/mm3 : .21.8-5.2 mg IM Pemberian pitogin 20 IU IM Pemberian As.Eritrosit PCT : 3.8).30 18.

Pantau balance cairan . nadi. transfusi darah jika Hb < 8 L g/dl . 2. dengan cara melihat jumlah cairan yang masuk dan yang keluar. RR.1500 Perdarahan di IGD ± 200 cc Perdarahan saat persalinan ± 500 cc MONITORING 1. dan suhu perlu di awasi. PLANNING Cek darah rutin.tanda vital seperti tekanan darah. Pantau keadaan umum pasien dan tanda.

Resiko terjadinya asidosis hiperkloremik sangat rendah dalam hubungan dengan perdarahan post partum. Pada kasus ini. inversio uteri. Pasien dengan perdarahan post partum harus ditangani dalam 2 komponen. yaitu: (1) resusitasi dan penanganan perdarahan obstetri serta kemungkinan syok hipovolemik dan (2) identifikasi dan penanganan penyebab terjadinya perdarahan post partum. dan dipertimbangkan jalur kedua pada pasien dengan resiko sangat tinggi. Pada kasus ini. Pengangkatan kaki dapat meningkatkan aliran darah balik vena sehingga dapat memberi waktu untuk menegakkan diagnosis dan menangani penyebab perdarahan. Perlu dilakukan pemberian oksigen dan akses intravena. NS merupakan cairan yang cocok pada saat persalinan karena biaya yang ringan dan kompatibilitasnya dengan sebagian besar obat dan transfusi darah. Early post partum hemorrhage terjadi dalam 24 jam pertama setelah kelahiran dan late post partum hemorrhage terjadi antara 24 jam sampai dengan 6 minggu setelah kelahiran1. endometritis2.3 Berikan resusitasi dengan cairan kristaloid dalam volume yang besar. tertinggalnya sebagian plasenta. Selama persalinan perlu dipasang paling tidak 1 jalur intravena pada wanita dengan resiko perdarahan post partum. perdarahan pasien ± 600 cc setelah persalinan pervaginam dan termasuk early post partum hemorrhage karena terjadi setelah ± 1 jam setelah kelahiran.BAB III TEORI DAN PEMBAHASAN Perdarahan post partum ( post partum hemorrhage) adalah kehilangan lebih dari 500 cc darah setelah kelahiran pervaginam atau 1000 cc post operasi caesar (SC). baik normal salin (NS/NaCl) atau cairan Ringer Laktat melalui akses intravena perifer. retensio plasenta. dapat dipertimbangkan . robekan jalan lahir. penyebabnya adalah robekan jalan lahir (laserasi portio). Bila dibutuhkan cairan kristaloid dalam jumlah banyak (>10 L). Penyebab perdarahan post partum adalah atonia uteri.

PRC digunakan dengan komponen darah lain dan diberikan jika terdapat indikasi. Perlu diingat bahwa kehilangan I L darah perlu penggantian 4-5 L kristaloid. Masalah ini dapat diatasi dengan menambahkan 100 mL NS pada masing-masing unit. maka cairan kristaloid tetap direkomendasikan. Kehilangan darah yang banyak.500 mL/hari) dapat menyebabkan efek yang buruk pada hemostasis.3 Berikan RL atau Nacl fisiologis sebanyak 2-3 x darah yg keluar dgn tetesan cepat selama 20-30 menit. Para klinisi harus memperhatikan darah transfusi. berkaitan dengan waktu.500 mL pada wanita hamil yang normal dapat ditangani cukup dengan infus kristaloid jika penyebab perdarahan dapat tertangani. seperti D 5% tidak memiliki peran pada penanganan perdarahan post partum.pengunaan cairan Ringer Laktat.2 Perdarahan post partum lebih dari 1.000 – 1.3 Transfusi darah perlu diberikan bila perdarahan masih terus berlanjut dan diperkirakan akan melebihi 2.3 . Tidak ada cairan koloid yang terbukti lebih baik dibandingkan NS.000 mL atau keadaan klinis pasien menunjukkan tanda-tanda syok walaupun telah dilakukan resusitasi cepat.3 Tujuan transfusi adalah memasukkan 2 – 4 unit PRC untuk menggantikan pembawa oksigen yang hilang dan untuk mengembalikan volume sirkulasi. dan karena harga serta resiko terjadinya efek yang tidak diharapkan pada pemberian koloid. biasanya membutuhkan penambahan transfusi sel darah merah. Jangan menggunakan cairan Ringer Laktat untuk tujuan ini karena kalsium yang dikandungnya dapat menyebabkan penjenda. PRC bersifat sangat kental yang dapat menurunkan jumlah tetesan infus.4 Cairan yang mengandung dekstrosa.3 Cairan koloid dalam jumlah besar (1. karena sebagian besar cairan infus tidak tertahan di ruang intravasluler. tetapi terjadi pergeseran ke ruang interstisial. tipe dan jumlah produk darah yang tersedia dalam keadaan gawat.3 Jenis cairan ini mengisi intravaskuler dalam waktu singkat dan juga menstabilkan kehilangan cairan berikutnya ke dalam ruang interstisial dan intraseluler.

5 1. vitium kordis. produksi urine dapat digunakan sebagai pemantauan aliran darah ginjal. . Etika kedokteran Berdasarkan falsafah dasar ” saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien ” maka semua kegiatan di ICU bertujuan dengan berorientasi untuk dapat secara optimal memperbaiki kondisi kesehatan pasien. hipertensi Dalam batas tertentu.2 mg IM setelah 15 menit Bila masih diperlukan.5 ml/kg/jam pada orang dewasa.Jenis uteronika dan cara pemberian Jenis dan Cara Dosis dan cara pemberian awal Oksitosin IV: 20 U dalam 1 L larutan garam fisiologis dengan tetesan cepat IM: 10 U Dosis lanjutan IV: 20 U dalam 1 L larutan garam fisiologis dengan 40 tetes/menit Dosis maksimal per hari Kontraindikasi atau hati-hati Tidak lebih dari 3 L larutan fisiologis Pemberian IV secara cepat atau bolus Ulangi 0. beri IM/IV setiap 2-4 jam Total 1 mg (5 dosis) Total 1200 mg atau 3 dosis Nyeri kontraksi Asma 400 mg 2-4 jam setelah dosis awal Ergometrin IM atau IV (lambat): 0. Penggantian volume yang memadai seharusnya menghasilkan keluaran urin sekitar 0.2 mg Misoprostol Oral atau rektal 400 mg Preeklampsia.

. memberi instruksi terapi dan tindakan secara tertulis dengan mempertimbangkan usulan anggota tim lainnya. dengan dipimpin oleh seorang intensivist sebagai ketua tim. Kerjasama multidisipliner dalam masalah medis komplek Dasar pengelolaan pasien ICU adalah pendekatan multidisiplin dengan tenaga kesehatan dari beberapa disiplin ilmu terkait yang dapat memberikan kontribusinya sesuai dengan bidang keahliannya dan bekerjasama dalam tim. Ketua tim berkonsultasi pada konsultasi lain dengan mempertimbangkan usulan – usulan anggota lain. mengambil kesimpulan. 5. breathing (fungsi pernapasan). Pengelolaan fungsi sistem organ tubuh secara terkoordinasi dan berkelanjutan. c. Dokter yang merawat pasien sebelum masuk ICU melakukan evaluasi pasien sesuai bidangnya dan memberi pandangan atau usulan terapi. 4. sehingga dapat dilakukan pengawasan yang konstan dan terapi titrasi. Indikasi yang benar Pasien yang dirawat di ICU adalah yang memerlukan : a. melakukan evaluasi menyeluruh. selaku ketua tim. b. Kebutuhan pelayanan kesehatan pasien Kebutuhan pasien ICU adalah tindakan resusitasi yang meliputi dukungan hidup untuk fungsi – fungsi vital seperti Airway (jalan napas). Intensivist. Peran koordinasi dan integritas dalam kerjasama tim Dengan mengingat keadaan pasien seperti yang tersebut dalam butir 2 dan 4 di atas. dilanjutkan dengan diagnosis dan terapi definitif. Pemantauan kontinyu terhadap pasien – pasien dalam keadaan kritis yang dapat mengakibatkan terjadinya dekompensasi fisiologis c. b.2. dan fungsi organ lain. Circulation (fungsi sirkulasi). Brain (fungsi otak). Intervensi medis segera oleh tim intensive care 3. maka pembagian kerja tim multidisiplin adalah sebagai berikut : a.

teknologi tinggi. keselamatan dan ekonomis Unit pelayanan ICU mempunyai ciri biaya tinggi. Hak dan kewajiban dokter Setiap dokter dapat memasukkan pasien ke ICU sesuai dengan indikasi masuk ICU. 10. BAB III INTENSIVIST . Efektifitas. Sistem manajemen peningkatan mutu terpadu Demi tercapai koordinasi dan peningkatan mutu pelayanan di ICU. karena keterbatasan jumlah tempat tidur ICU.6. profesi perawat dan profesi lain agar dicapai hasil optimal maka perlu ditingkatkan mutu SDM secara berkelanjutan. Kemitraan profesi Kegiatan pelayan pasien di ICU disamping multi disiplin juga interprofesi. multidisiplin dan multi profesi berdasarkan atas efektivitas. HCU fungsi utamanya menjadi unit perawatan antara bangsal rawat dan ICU. keselamatan dan ekonomis. 7. yang diperlukan utamanya adalah kewaspadaan yang lebih tinggi. menyeluruh dan mencakup semua kelompok profesi. yaitu profesi medik. Kontinuitas pelayanan Untuk efektifitas. keselamatan dan ekonomisnya pelayanan ICU. Di HCU tidak diperlukan peralatan canggih seperti ICU. maka berlaku asas prioritas dan indikasi masuk. 8. diperlukan tim kendali mutu yang anggotanya terdiri dari beberapa disiplin ilmu. dengan tugas utamanya memberi masukan dan bekerjasama dengan staf struktural ICU untuk selalu meningkatkan mutu pelayanan ICU. 9. maka perlu dikembangkan unit pelayanan tingkat tinggi (high care unit).

Resusitasi kardiopulmoner f.Definisi Intensivist Seorang intensivist adalah seorang dokter yang memenuhi standar kompetensi sebagai berikut : A. d. kateter vena central. kateter arteri pulmonalis. antara lain : a. Melakukan dua peran utama : a. kateter vena perifer. Mempertahankan jalan napas termasuk intubasi trakeal dan ventilasi mekanis b. Pengelolaan pasien Mampu berperan sebagai pemimpin tim dalam memberikan pelayanan di ICU. menggabungkan dan melakukan titrasi layanan pada pasien berpenyakit kompleks atau cidera termasuk gagal organ multisistem. konsultan intensive care) melalui program pelatihan dan pendidikan yang diakui oleh perhimpunan profesi yang terkait B. Memasang kateter intravaskuler dan peralatan monitoring termasuk kateter arteri. Terdidik dan bersertifikasi sebagai seorang spesialis intensive care medicine (KIC. Pemasangan kabel pacu jantung transvenous temporer e. Mununjang kualitas pelayanan di ICU dan menggunakan sumber daya ICU secara efisien. Pungsi arteri untuk mengambil sampel arteri c. C. Intensivist memberi pelayanan sendiri atau dapat . Pipa thoracostomy F. 7 hari seminggu E. Mendarma baktikan lebih dari 50% waktu profesinya dalam pelayanan ICU D. Bersedia berpartisipasi dalam suatu unit yang memberikan pelayanan 24 jam/hari. Mampu melakukan prosedur kritikal care biasa.

Gangguan nutrisi yang memerlukan tunjangan nutrisi b. Gangguan atau gagal napas dengan atau tanpa memerlukan tunjangan ventilasi mekanis c. Triage. Gangguan koagulasi h. alokasi tempat tidur dan rencana pengeluaran pasien b. Manajemen unit Intensivist berpartisipasi aktif dalam aktivitas – aktivitas manajemen unit yang diperlukan untuk memberi pelayanan – pelayanan ICU yang efisien. Mampu mengelola pasien dalam kondisi yang biasa terdapat pada pasien sakit kritis seperti : a. Aktivitas – aktivitas tersebut meliputi antara lain : a.berkolaborasi dengan dokter pasien sebelumnya. Gangguan endokrin dan atau metabolik akut yang mengancam nyawa f. Gangguan atau gagal ginjal akut e. tepat waktu dan konsisten pada pasien. Partisipasi pada kegiatan – kegiatan perbaikan kualitas yang berkelanjutan termasuk supervisi koleksi data d. Kelebihan dosis obat. Supervisi terhadap pelaksanaan kebijakan – kebijakan unit c. reaksi obat atau keracunan obat g. Hemodinamik tidak stabil b. Berinteraksi seperlunya dengan bagian – bagian lain untuk menjamin kelancaran jalannya ICU . Gangguan neurologis akut termasuk mengatasi hipertensi intrakranial d. Infeksi serius i.

Selalu mengikuti perkembangan mutakhir dengan membaca literatur kedokteran 2. Ada dan bersedia untuk berpartisipasi pada kegiatan – kegiatan perbaikan kualitas interdisipliner BAB IV PELAYANAN INTENSIVE CARE 1. G. Mempertahankan pendidikan yang berkelanjutan di critical care medicine : 1.Untuk keperluan ini intensivist secara fisik harus berada di ICU atau rumah sakit dan bebas dari tugas – tugas lainnya. Berpartisipasi dalam program – program pendidikan kedokteran berkelanjutan 3. Praktek kedokteran intensive care . Menguasai standar – standar untuk unit critical care dan standar of care di kritikal care H.

manusiawi dan efektif dengan menggunakan sumber daya yang ada. perawat. Pelayanan Intensive Care Pelayanan ICU harus dilakukan oleh intensivist yang terlatih secara formal dan mampu memberikan pelayanan tersebut dan yang terbebas dari tugas – tugas lain yang membebani seperti kamar operasi. Hubungan pelayanan ICU yang terorganisir dengan bagian – bagian pelayanan lain di rumah sakit harus ada dalam organisasi rumah sakit. dan secara fisik selalu berada ditempat untuk melakukan perawatan titrasi dan berkelanjutan. diperuntukkan dan ditentukan oleh kebutuhan pasien yang sakit kritis. agar dapat dilakukan pengawasan yang konstan dan titrasi terapi b. Pasien sakit kritis meliputi : a. komitmen waktu. praktek atau tugas – tugas kantor. Perawatan ini harus berkelanjutan dan bersifat proaktif. Pasien sakit kritis membutuhkan pemantauan dan tunjangan hidup khusus yang harus dilakukan oleh suatu tim. Kebutuhan dari masing – masing bidang akan bergantung dari tingkat pelayanan tiap unit. perawatan napas yang terkoordinasi dan berkelanjutan. Tujuan dari pelayanan intensive care adalah memberikan pelayanan medik tertitrasi dan berkelanjutan serta mencegah fragmentasi pengelolaan. sedemikian rupa sehingga memberikan kualitas pelayanan yang tinggi dan hasil yang optimal. Pengelolaan pasien langsung . ketrampilan teknis. termasuk diantaranya dokter yang mempunyai dasar pengetahuan.Pelaksanaan pelayanan kedokteran intensive care adalah berbasis rumah sakit. Bidang kerja pelayanan intensive care meliputi : pengelolaan pasien. a. 2. yang menjamin pasien dikelola dengan cara yang aman. pendidikan dan penelitian. Pasien – pasien yang secara fisiologis tidak stabil dan memerlukan dokter. sehingga memerlukan perhatian yang teliti. Intensivist yang bekerja harus berpartisipasi dalam suatu sistem yang menjamin kelangsungan pelayanan intensive care 24 jam. administrasi unit. Pasien – pasien yang dalam bahaya mengalami dekompensasi fisiologis dan karna itu memerlukan pemantauan konstan dan kemampuan tim intensive care untuk melakukan intervensi segera untuk mencegah timbulnya penyulit yang merugikan.

Pengelolaan pasien langsung dilakukan secara primer oleh intensivist dengan melaksanakan pendekatan pengelolaan total pada pasien sakit kritis. Cara kerja demikian mencegah pengelolaan yang terkotak – kotak dan menghasilkan pendekatan yang terkoordinasi pada pasien serta keluarganya. BAB V STANDAR MINIMUM PELAYANAN INTENSIVE CARE UNIT . tepat waktu dan efektif. menjadi ketua tim dari berbagai pendapat konsultan atau dokter yang ikut merawat pasien. Untuk tercapainya tugas ini diperlukan partisipasi dari intensivist pada aktivitas manajemen. b. Administrasi unit Pelayanan ICU dimaksudkan untuk memastikan suatu lingkungan yang menjamin pelayanan yang aman.

Tingkat pelayanan ICU harus disesuaikan dengan kelas rumah sakit. Pelayanan ICU primer (standar minimal) Pelayanan ICU primer mampu memberikan pengelolaan resusitatif segera untuk pasien sakit gawat. Resusitasi jantung paru b. Pengelolaan jalan napas. pulse oksimetri terus menerus e. pelayanan penunjang. j. Kemampuan melaksanakan teknik khusus sesuai dengan kondisi pasien i. fasilitas. Memberikan tunjangan fungsi vital dengan alat – alat portabel selama transportasi pasien gawat Kemampuan melakukan fisioterapi dada 1. Terapi oksigen d. Pemantauan EKG. Pelayanan ICU harus memiliki kemampuan minimal sebagai berikut : a. termasuk intubasi trakeal dan penggunaan ventilator sederhana c. jumlah dan macam pasien yang dirawat. Pemberian nutrisi enteral dan parenteral f. tunjangan kardiorespirasi jangka pendek dan mempunyai peran penting dalam pemantauan dan pencegahan penyulit pada pasien medik dan bedah yang beresiko. Pemeriksaan laboratorium khusus dengan cepat dan menyeluruh g. Klasifikasi atau stratafikasi pelayanan ICU a. Kekhususan yang harus dimiliki : . Pelaksanaan terapi secara titrasi h. Dalam ICU dilakukan ventilasi mekanik dan pemantauan kardovaskuler sederhana selama beberapa jam. Tingkat pelayanan ini ditentukan oleh jumlah staf.

Memiliki kebijaksanaan atau kriteria penderita yang masuk. bedah saraf. 2. atau bila tidak tersedia oleh dokter spesialis anestesiologi. ruang darurat dan ruang perawatan lain. bedah. keluar serta rujukan. letaknya dekat dengan kamar bedah. b. yang bertanggungjawab secara keseluruhan dan dokter jaga yang minimal mampu melakukan resusitasi jantung paru 5. ruang darurat dan ruang perawatan lain 2. . bedah vaskuler. Ruangan tersendiri. Memiliki seorang kepala ICU. Memiliki seorang dokter spesialis anestesiologi sebagai kepala 4. Ada dokter jaga 24 jam dengan kemampuan melakukan resusitasi jantung paru 5. Mampu dengan cepat melayani pemeriksaan laboratorium tertentu. Kekhususan yang harus dimiliki : 1. kemudahan diagnostik dan fisioterapi. seorang dokter konsultan intensive care. letaknya dekat dengan kamar bedah. Konsulen yang membantu harus selalu dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat. Memiliki konsultan yang dapat dihubungi dan datang setiap saat bila diperlukan 4.1. pengelolaan trauma. yang mendukung peran rumah sakit yang lain yang telah digariskan. Ruangan tersendiri. Memiliki ketentuan/kriteria penderita yang masuk. Memiliki jumlah perawat yang cukup dan sebagian besar terlatih 7. 6. Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien : perawat (1:1) untuk pasien dengan ventilator.dll. keluar serta rujukan 3. rontgen. 3. misalnya kedokteran umum. renal replacement therapy dan 2:1 untuk kasus – kasus lainnya. ICU hendaknya mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanis lebih lama melakukan dukungan/bantuan hidup lain tetapi tidak terlalu kompleks. Pelayanan ICU sekunder Pelayanan ICU sekunder memberikan standar ICU umum yang tinggi.

Memiliki kriteria penderita masuk. Semua pasien yang masuk ke dalam unit harus dirujuk untuk dikelola oleh spesialis intensive care. memiliki ruangan isolasi atau mampu melakukan prosedur isolasi c. Memiliki lebih dari 75% perawat bersertifikat terlatih perawatan/terapi intensif atau minimal berpengalaman kerja 3 tahun di ICU . 4. 6. Memiliki dokter spesialis yang dibutuhkan dan dapat dihubungi. renal replacement therapy dan 2:1 untk kasus – kasus lainnya. datang setiap saat diperlukan. 5. Mampu menyediakan tenaga perawat dengan perbandingan pasien : perawat (1:1) untuk pasien dengan ventilator. Memiliki ruangan khusus tersendiri didalam rumah sakit 2. Mampu memberikan tunjangan ventilasi mekanis beberapa lama dan dalam batas tertentu melakukan pemantauan invasif dan usaha – usaha penunjang hidup. memberikan pelayanan yang tertinggi termasuk dukungan/bantuan hidup multi sistem yang kompleks dalam jangka waktu yang tak terbatas. ICU ini melakukan ventilasi mekanis pelayanan dukungan/bantuan renal ekstrakorporal dan pemantauan kardivaskuler invasif dalam jangka waktu yang terbatas dan mempunyai dukungan pelayanan penunjang medik.6. Pelayanan ICU tersier (tertinggi) Pelayanan ICU tersier merupakan rujukan tertinggi untuk ICU. Memiliki lebih dari 50% perawat bersertifikat terlatih perawatan/terapi intensif atau minimal berpengalaman kerja 3 tahun di ICU 7. rontgent. kemudahan diagnostik dan fisioterapi selama 24 jam 9. keluar dan rujukan 3. Mampu melayani pemeriksaan laboratorium. Dikelola oleh seorang ahli anestesiologi konsultan intensive care atau dokter ahli konsultan intensive care yang lain yang bertanggung jawab secara keseluruhan dan dokter jaga yang minimal mampu resusitasi jantung paru. 8. Kekhususan yang harus dimiliki : 1.

tenaga untuk kepentingan ilmiah dan penelitian. tenaga medik.7. b. misalnya tenaga administrasi. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit. Memiliki staf tambahan yang lain. e. Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang nyawanya pada saat itu bergantung pada fungsi alat/mesin dan orang lain. Memiliki prosedur untuk pelaporan resmi dan pengkajian 11. d. Mampu melakukan semua bentuk pemantauan dan perawatan/terapi intensif baik non invasif maupun invasif 8. rontgent. Ruang lingkup pelayanan yang diberikan di ICU a. kemudahan diagnostik dan fisioterapi selama 24 jam 9. c. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan pelaksanaan spesifik problema dasar. . Memiliki paling sedikit seorang yang mampu dalam mendidik tenaga medik dan paramedik agar dapat memberikan pelayanan yang optimal pada pasien 10. Mampu melayani pemeriksaan laboratorium.latrogenik d. Indikasi masuk dan keluar ICU Suatu ICU mampu menggabungkan teknologi tinggi dan keahlian khusus dalam bidang kedokteran dan keperawatan gawat darurat yang dibutuhkan untuk merawat pasien sakit kritis. Keadaan ini memaksa diperlukannya mekanisme untuk membuat prioritas pada sarana yang terbatas ini apabila kebutuhan ternyata melebihi jumlah tempat tidur yang tersedia di ICU. Prosedur pelayanan perawatan/terapi 1. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit – penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari.

Contoh pasien kelompok ini antara lain pasca bedah kardiotoraksik atau pasien shock septik. mengingat kondisi mediknya senantiasa berubah. Kriteria masuk ICU ICU memberikan pelayanan antara laian pemantauan yang canggih dan terapi yang intensif. Dalam keadaan penggunaan tempat tidur yang tinggi. Pasien prioritas 1 (satu) Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis. tidak stabil yang memerlukan terapi intensif seperti dukungan/bantuan ventilasi. Penilaian obyektif atas beratnya penyakit dan prognosis hendaknya digunakan untuk menentukan prioritas masuk pasien.Dokter yang merawat pasien mempunyai tugas untuk meminta pasiennya dimasukkan ke ICU bila ada indikasi dan segera memindahkan ke unit yang lebih rendah bila kondisi kesehatan pasien telah memungkinkan. dibandingkan pasien yang memerlukan pemantauan intensif dan pasien sakit kritis atau terminal dengan prognosis yang jelek untuk sembuh. karenanya pemantauan intensif menggunakan metode seperti pulmonary arterial catheter sangat menolong. pasien yang memerlukan terapi intensif didahulukan rawat ICU.dll. Pasien prioritas 2 (dua) Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih dari ICU. Bila kebutuhan masuk ICU melebihi tempat tidur yang tersedia. Pasien prioritas 3 . Kepala ICU bertanggung jawab atas kesesuaian indikasi perawatan pasien di ICU. Jenis pasien ini beresiko sehingga memerlukan terapi intensif segera. Pasien prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi yang diterimanya. infus obat – obat vasoaktif kontinyu. Pasien prioritas 1 umumnya tidak mempunyai batas ditinjau dari macam terapi yang diterimanya. kepala ICU menentukan berdasarkan prioritas kondisi medik. Harus tersedia mekanisme untuk mengkai ulang secara retrospektif kasus – kasus dimana dokter yang merawat tidak setuju dengan keputusan kepala ICU. Contoh pasien ini antara lain mereka yang menderita penyakit jantung dasar. f. pasien mana yang akan dirawat di ICU. Prosedur untuk melaksanakan kebijakan ini harus dijelaskan secara rinci untuk tiap ICU. paru atau ginjal akut dan berat atau yang telah mengalami pembedahan mayor.

pericardial tamponade. Pasien – pasien seperti itu dapat dimasukkan ke ICU bila mereka potensial donor organ. Pasien – pasien semacam ini lebih disukai dimasukkan ke suatu unit intermediet untuk terapi definitif dan atau observasi G. Pasien – pasien prioritas 3 mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut. Ini tidak menyingkirkan pasien dengan perintah DNR.Pasien jenis ini sangat kritis dan tidak stabil dimana status kesehatannya sebelumnya. pasien diabetic ketoacidosis tanpa komplikasi. Sesungguhnya pasien – pasien ini mungkin mendapat manfaat dari tunjangan canggih yang tersedia di ICU untuk meningkatkan kemungkinan survivalnya. atau payah jantung kongestif ringan. keracunan obat tetapi sadar. tetapi hanya tujuan untuk menunjang fungsi – fungsi organ sementara menunggu donasi organ. penyakit yang mendasarinya atau penyakit akutnya baik masing – masing atau kombinasinya sangat mengurangi kemungkinan kesembuhan dan atau mendapat manfaat dari terapi di ICU. atau sumbatan jalan napas atau pasien menderita penyakit jantung atau paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat.  Pasien – pasien yang kompeten tetapi menolak terapi tunjangan hidup yang agresif dan hanya demi perawatan yang nyaman saja. 3. Contoh – contoh pasien kelompok ini antara lain pasien pasca bedah vaskuler yang stabil. Lagi pula pasien – pasien tersebut bila perlu harus dikeluarkan dari ICU agar fasilitas yang terbatas tersebut dapat digunakan untuk pasien prioritas 1. concussion. tetapi usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi atau resusitasi jantung paru. Kriteria keluar ICU . Pengecualian Jenis pasien berikut umumnya tidak mempunyai kriteria yang sesuai untuk masuk ICU dan hanya dapat masuk dengan pertimbangan seperti pada keadaan luar biasa atas persetujuan kepala ICU.   Pasien dalam keadaan vegetatif permanen Pasien yang secara fisiologis stabil yang secara statistik resikonya rendah untuk memerlukan terapi ICU. 2.  Pasien yang telah pasti mengalami brain death. Contoh pasien ini antara lain pasien dengan keganasan metastatik disertai penyulit infeksi.

tetapi mereka mungkin dikeluarkan lebih dini bila kemungkinan kesembuhannya atau manfaat dari terapi intensif kontinyu kecil. Contoh – contoh hal terakhir adalah pasien dengan tiga atau lebih gagal sistem organ yang tidak berespon terhadap pengelolaan agresif. Pasien prioritas 3 Pasien prioritas 3 dikeluarkan dari ICU bila kebutuhan untuk terapi intensif telah tidak ada lagi. atau bila terapi telah gagal dan prognosis jangka pendek jelek dengan kemungkinan kesembuhan atau manfaat dari terapi intensif kontinyu kecil. Contoh dari hal terakhir anta . Pasien prioritas 2 Pasien prioritas 2 dikeluarkan bila kemungkinan untuk mendadak memerlukan terapi intensif telah berkurang.Pasien prioritas 1 (satu) Pasien prioritas 1 dikeluarkan dari ICU bila kebutuhan untuk terapi intensif telah tidak ada lagi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful