ANALISIS PERBANDINGAN PEMAKAIAN ENERGI LISTRIK PADA MESIN PENDINGIN RUANGAN DENGAN RETROFIT DARI R-407C ke R-290 Tatang

Hidayat* ABSTRACT Air conditioning machines in general use refrigerant type R-22 but in line with the policy phase out off R-22 subsequently developed various types such as R-407C. On the other hand the use of hydrocarbon refrigerant as a refrigerant environmentally friendly and energy efficient substitute for R-22 also continues to grow. Research here is to analyze the use of hydrocarbon refrigerants R-290 (with a test sample MC-22) on the cooling machine using R-407C. The results show that R-407C can be replaced by R-290 (MC-22) with the data saving: electrical current of 19.43%, 20.71% and a power of Energy by 20.66%. Key Word : Refrigerant R-290, Refrigerant R-407C, Kompresi Uap.

ABSTRAK Mesin pendingin ruangan pada umumnya menggunakan bahan pendingin (refrigerant) jenis R-22 namun sejalan dengan kebijakan penghapusan R-22 selanjutnya dikembangkan berbagai jenis diantaranya R-407C. Dilain pihak penggunaan refrigerant hidrokarbon sebagai refrigerant ramah lingkungan dan hemat energi banyak digunakan untuk mengggantikan R-22 juga terus berkembang. Penelitian disini adalah melakukan analisis penggunaan refrigerant hidrokarbon R-290 (dengan contoh uji MC-22) pada mesin pendingin yang menggunakan R-407C. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa R-407C bisa diganti dengan R-290 (MC-22) dengan data penghematan : arus listrik sebesar 19,43 %, daya sebesar 20,71 % dan Energi sebesar 20,66%. Kata Kunci : Refrigeran R-290, Refrigeran R-407C, Kompresi Uap.

*) Dosen Teknik Elektro STT Bina Tunggal Bekasi

Analisis Perbandingan Pemakaian Energi Listrik pada Mesin Pendingin Ruangan dengan Retrofit dari R-407C ke R-290 77

PENDAHULUAN Perkembangan teknologi mesin pendingin sejalan dengan perkembangan kebijakan dibidang perlindungan lingkungan dan penghematan energi. Implementasinya dari sisi refrigerant dilakukan dengan pergantian jenis refrigerant dari jenis R-22 ke jenis yang lebih ramah lingkungan diantaranya R407C, sedangkan dari sisi perangkat kerasnya untuk mendapatkan penghematan pemakaian listrik berkembang jenis inverter. Perkembangan kebijakan global dibidang lingkungan mendorong teknologi di bidang refrigerant untuk menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Untuk itu penggunaan refrigeran alami kembali diperhitungkan sebagai pengganti refrigeran sintetik, karena refrigerant sintetik merusak lingkungan dalam bentuk pengrusakan lapisan ozon dan menyebabkan pemanasan global, salah atu refrigeran alami yang banyak digunakan adalah jenis refrigeran hidrokarbon. Refrigeran hidrokarbon memiliki keunggulan dibandingkan refrigeran sintetik, selain ramah lingkungan juga baik dari segi sifat fisika, termodinamika maupun efek dari bisa memberikan penghematan listrik. Penggunaan refrigeran hidrokarbon sebagai pengganti R-22 sudah demikian berkembang karena penggantian tsb tidak memerlukan penggantian komponen dan tidak ada penggantian pelumas pada kompresor. Dengan larangan penggunaan R22, maka mesin pendingin beralih ke jenis refrigeran yang lebih ramah lingkungan diantaranya R-407C sehingga populasi mesin pendingin yang menggunakan R-407C terus berkembang di masyarakat. Penelitian yang dilakukan disini dengan tujuan untuk mengetahui sejauhmana kinerja 78

mesin pendingin dan penghematan energi listrik yang bisa dicapai dengan melakukan penggantian refrigeran (retrofiting) dari R-407C dengan R-290 (menggunakan refrigerant yang banyak dipasaran yaitu jenis MC-22) pada mesin pendingin ruangan (Air Conditioning) yang sebelumnya menggunakan R407C. TEORI Sistem Kompresi Uap Mesin refrigerasi kompresi uap memiliki empat proses yaitu: kompresi, kondensasi, ekspansi dan evaporasi seperti gambar 2-1.

Gambar. 1. Komponen refrigerasi kompresi uap

Siklus

Mesin pendingin bekerja menyerap kalor dari lingkungan bersuhu rendah kemudian dipindahkan ke lingkungan bersuhu tinggi.

Jurnal Teknosain Volume VII, Nomor 2, Juni 2010

• Tidak beracun terhadap manusia (teknisi dan pengguna AC & Refrigerator), makanan, obat-obatan, dll yang didinginkan dalam mesin pendingin. Karakteristik refrigeran dapat dianalisa dengan menggunakan Diagram Mollier yang menyatakan hubungan antara tekanan (P) pada ordinat dan entalpi (i) pada absis dari siklus refrigerasi, sehingga dikenal juga dengan diagram tekanan – entalpi atau diagram P-i seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 2. Prinsip dasar dari mesin pendingin dan pemanas. Untuk bisa menghasilkan kinerja pendinginan maka di dalam sistem refrigerasi kompresi uap digunakan media pendingin yang disebut dengan refrigeran dengan persyaratan : • Tekanan penguapan cukup tinggi, untuk menghindari vakum di evap & turunnya effisiensi volumetrik • Tekanan pengembunan tidak terlalu tinggi, tekanan yang rendah  mesin lebih aman • Kalor laten penguapan harus tinggi refrigerasi sama -> jml refrigeran lebih kecil • Koefisien prestasinya harus tinggi, makin tinggi akan lebih baik • Konduktivitas termal tinggi, merupakan sifat bahan menunjukan kemampuan memindahkan kalor • Viskositas fasa cair maupun gas rendah, menunjukkan kemudahan mengalir dalam sistim mesin tertutup • Tidak bersifat korosif, berupa karat dalam logam, seperti pada evaporator, kondensor dan pipa saluran • Stabil, tidak bereaksi dengan material yg dipakai, artinya tidak boleh dipengaruhi atau mempengaruhi material yang dilalui saat bersirkulasi

Gambar 3. Siklus ideal kompresi uap Siklus refrigerasi dalam P-i Diagram dapat dibagi menjadi 4 tahapan proses yaitu kompresi, kondensasi (pengembunan), ekspansi, dan evaporasi

• Tahap A-B adalah proses kompresi dalam kompresor, di mana refrigeran dalam fase uap masuk menuju kompresor dimana tekanannya dinaikan. Suhu juga akan meningkat karena kalor yang diserap refrigeran pada waktu penguapan di evaporator energi kalornya dipindahkan ke refrigeran yang menuju proses kompresi di kompresor. • Tahap B-C digambarkan dengan garis tekanan konstan, dimana gas bertekanan tinggi yang keluar dari kompresor mengalami proses pengembunan di dalam kondensor dengan melepaskan kalor ke lingkungannya. Analisis Perbandingan Pemakaian Energi Listrik pada Mesin Pendingin Ruangan dengan Retrofit dari R-407C ke R-290 79

• Tahap C-D cairan yang sudah didinginkan dan bertekanan tinggi melintas melalui peralatan ekspansi yang fungsinya untuk memperbesar volume yang akan menurunkan tekanan refrigeran sehingga menjadi bentuk butiran-butiran cairan dengan suhu yang dingin saat masuk evaporator. • Tahapan D-A menunjukkan proses tekanan konstan yang terjadi selama penguapan dalam evaporator. Penguapan memerlukan kalor, cairan refrigeran dalam evaporator menyerap kalor dari sekitarnya. Perhitungan Termodinamika Siklus Refrigerasi Efisiensi kinerja refrigeran dalam siklus refrigerasi dinyatakan dengan Koefisien Prestasi atau Coefficient of Performance (COP). Koefisien kinerja atau COP adalah bilangan tidak berdimensi, didefinisikan dengan persamaan : Koefisien Prestasi (KP, COP)

Qw = iB – iA ................................. (2 – 3) • Kalor pengembunan pada proses kondensasi di kondensor, merupakan selisih entalpi dari entalpi masuk dikurangi entalpi keluar kondensor Qc = iB – iD .................................. (2 – 4) Jumlah refrigeran yang bersirkulasi dalam sistem : ..............(2 – 5) di mana Q adalah kapasitas refrigerasi, dimana besarnya untuk satu ton refrigerasi yang sebesar 3320 kcal/jam. Refrigeran Hidrokarbon Diantara refrigeran alam seperti: Amonia (NH3), Karbondiosida (CO2), Hidrokarbon (HC) dalam aplikasinya dengan pertimbangan ekonomi (murah) Hidrokarbon lebih banyak digunakan sebagai pengganti refrigeran CFC : R12, HCFC : R-22 dan HFC : R-134a, penggunaan selain jenis tersebut masih terbatas. Ditinjau dari aspek energi pada mesin pendingin penggunaan refrigeran hidrokarbon terbukti dapat menurunkan penggunaan energi, dan kondisi seperti inilah yang menjadi daya tarik dan potensi yang bermanfaat untuk digunakan secara lebih luas di masyarakat. Kelemahannya seperti halnya bahan-bahan yang berasal dari hidrokarbon diantaranya : bensin, LPG, avtur, dan lain-lain, memiliki sifat mudah terbakar (flammable). Dalam perkembangannya dengan mengacu pada berbagai standar kerja yang berlaku seperti British Standard, Australian standard dan SNI maka sifat mudah terbakar tersebut dapat diatasi dengan baik.

KP =

Kalor yang diserap pada tahap di evaporator Usaha kompresi pada kompresor
............................................

. (2 - 1) • Efek refrigerasi dari proses penguapan pada evaporator, dihitung berdasarkan selisih entalpi antara entalpi pada saat keluar evaporator dikurangi entalpi pada saat masuk evaporator : ∆He = iA – iD ....................................... (2 – 2) • Kerja proses kompresi pada kompresor, dihitung berdasarkan selisih entalpi yang keluar kompresor dikurangi entalpi masuk kompresor : 80

Jurnal Teknosain Volume VII, Nomor 2, Juni 2010

PEMBAHASAN Sifat Termodinamika R-407C dan MC-22 Parameter yang penting untuk membandingkan kinerja bahan pendingin pada suatu mesin pendingin adalah besaran dari sifat termodinamikan bahan, yaitu :

Tabel 1. Perbandingan Kondisi Kerja R-407C Suction (bar) 5.17 Discharge (bar) 22.41 Rasio 4.33 Kompresi MC-22 4.82 16.55 3.43

a. Temperatur dan tekanan saturasi Salah satu yang dibandingkan adalah temperatur saturasi seperti ditunjukkan pada gambar 3.1 berikut :

Terlihat bahwa rasio kompresi MC-22 lebih kecil dibandingkan R-407C. Dengan rasio kompresi yang lebih rendah maka kerja kompresor setelah menggunakan MC-22 akan jauh lebih ringan sehingga energi listrik yang dibutuhkan untuk menggerakan kompressor akan lebih kecil. Oleh karena itu penggantian R-407C oleh MC-22 akan menghemat penggunaan energi listrik. b. Kalor Laten Penguapan Hal lain yang penting untuk dilihat adalah besarnya kalor laten penguapan. Kalor laten penguapan adalah jumlah kalor yang dibutuhkan untuk menguapkan refrigeran sebanyak 1 satuan massa refrigeran. Bila kalor penguapannya besar, maka kemampuan menarik kalor dari refrigeran cukup besar. Hal ini berarti dengan laju aliran massa refrigeran yang sedikit, akan diperoleh penarikan kalor yang besar pula. Tabel 3.2 berikut menunjukkan perbandingan antar entalpi penguapan (kalor laten penguapan) refrigeran pada berbagai tekanan yang sama.

Gambar 4.Hubungan Temperatur dan Tekanan Saturasi MC-22 dan R407C Pada gambar 3.1 di atas nampak bahwa untuk mencapai temperatur yang sama, tekanan MC-22 lebih rendah dibandingkan dengan R-407C. Hal ini sangat menguntungkan, dimana akan meringankan kerja dari kompresor. Seperti kita ketahui bahwa kompresor akan bekerja ringan pada rasio kompresi rendah

Rasio Kompresi =

Tekanan Discharge Pd = Tekanan Suction Ps

Dari data pengukuran yang diperoleh di lapangan didapatkan data tekanan suction dan discharge serta rasio kompresi seperti yang ditunjukan pada tabel 3.1 Analisis Perbandingan Pemakaian Energi Listrik pada Mesin Pendingin Ruangan dengan Retrofit dari R-407C ke R-290 81

Tabel 2. Perbandingan Kalor Laten Penguapan

a.

Arus listrik

Tabel 3. Arus listrik rata-rata 3 fasa R-407C dan MC-22
Parameter Arus ratarata 3 fasa (A) R-407C MC22 Selisih penghemat an %

115.148

92.773

22.374

19.43

b.Daya Tabel 4. Daya rata-rata 3 fasa R-407C dan MC-22
Persentase penghema tan (%) 20.711

Parameter Daya ratarata (kW)

R-407C 65.697

MC-22 52.090

Selisih 13.606

c. Energi Tabel 5. Energi yang digunakan selama 15 menit R-407C dan MC-22 Pada table 3.2 di atas, nampak bahwa kalor laten penguapan MC-22 lebih besar dibandingkan dengan R-407C. Bila diperhatikan, Kalor laten penguapan MC-22, kira-kira 2 kali dari kalor laten penguapan refrigeran R407C. Oleh karenanya dengan kerja kompresor yang lebih ringan (untuk laju refrigeran yang sama) akan didapatkan efek refrigerasi yang lebih baik (kalor yang dipindahkan lebih banyak) dibandingkan menggunakan R-407C c. Pengukuran Listrik Pengukuran listrik menggunakan alat ukur listrik digital yang dihubungkan dengan laptop untuk direkam datanya. Data dibandingkan ketika menggunakan R-407C dan ketika sesudah di retrofit menggunakan MC-22. Data yang akan dibandingkan masing-masing untuk rentang waktu 15 menit pada beban maksimum. 82
Parameter Meter Awal / 0 menit (kWh) Meter Akhir / 15 menit (kWh) Energi 15 menit / Selisih (kWh) Energi 1 jam ( 15 menit X 4) Energi 1 hari ( 1 jam X 24) Energi 1 bulan (1 hari X 30) R407C 4.93 21.39 16.46 65.84 1580.16 47404.8 MC-22 51.36 64.42 13.06 52.24 1253.76 37612.8 3.4 13.6 326.4 9792 20.65613609 20.65613609 20.65613609 20.65613609 Selisih

Persentase penghematan (%)

PENUTUP Kesimpulan a. Berdasarkan hasil percobaan dapat dibuktikan bahwa R-407C dapat digantikan dengan R-290 (MC-22) dengan kinerja pendinginan yang sesuai dengan spesifikasi mesin tersebut b. Penghematan yang diperoleh refrigeran hidrokarbon R-290 (MC22) dibandingkan R-407C : arus listrik sebesar 19,43 %, daya sebesar 20,71 %, Energi sebesar 20,66%.

Jurnal Teknosain Volume VII, Nomor 2, Juni 2010

Saran a. Diperlukan data pengujian yang lebih banyak untuk lebih memperkuat pembuktian bahwa R407C bisa digantikan oleh R-290. b. Disosialisasikan kepada masyarakat bahwa R-407C bisa digantikan oleh R-290. DAFTAR PUSTAKA : 1. Stocker, W.F. & Jones, J.W., 1982, Refrigeration and Air Conditioning, Mc Graw-Hill Book Co, New Delhi. 2. Dossat, Roy J., 1978, Principles of Refrigeration, 2 nd edition, John Willey and Sons, New York. 3. Arismunandar, W, 1986, Penyegaran Udara, PT. Pradnya Paramita, Bandung. 4. Carrier Air Conditioning Comp., 1965, Handbook of Air Conditioning System Design, McGraw-Hill Book Co., New York. 5. J.P. Holman, 1976, Heat Transfer, fourth edition, McGraw-Hill Kogakusha, Ltd. Tokyo. 6. Kenneth Wark, Jr., 1995, Advanced Thermodynamics for Engineers, McGraw-Hill, Inc., Singapore. 7. Rhamdani, F, Pengukuran listrik pada Chiller menggunakan R407C dan MC-22, 2010 8. Muliawati E, Studi karakterisasi dan optimalisasi campuran propane-butane sebagai refrigerant, 2012. 9. Pertamina, Kajian aplikasi campuran propane-butane pada mesin pendingin, 2010.

10. Agus Maulana, Tatang Hidayat, 9 Oktober 1999, Aspek Teknis penggunaan zat pendingin hidrokarbon pada mesin pendingin, Seminar pengenalan zat pendingin hidrokarbon sebagai alternatif pengganti CFC (R-12), HFC (R-134a) dan HCFC (R-22) pada mesin pendingin, UPT-Teknik Pendingin STT-Bina Tunggal bekerjasama dengan APRRAL. 11. Totok Sulistiyanto, Juli 2000, Peluang Penghematan Energi pada Sistem AC, pelatihan konservasi energi sektor bangunan, Cisarua. 12. Cinto Azwar, Rusdi M., Nasruddin, Perbandingan Unjuk Kerja Refrigeran Hidrokarbon Petrozon Rossy-12 Terhadap Refrigeran CFC-12, Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.

Analisis Perbandingan Pemakaian Energi Listrik pada Mesin Pendingin Ruangan dengan Retrofit dari R-407C ke R-290 83

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful