REFERAT “KEHAMILAN POST DATE”

Pembimbing : dr. Moch Ma’roef.SpOG OLEH : Samirah 201210401011012

BAG/SMF ILMU KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN RSU HAJI SURABAYA FAKULTAS KEDOKTERAN

i

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT, karena berkat rahmat yang diberikan, penulis dapat menyelesaikan tugas referat yang berjudul “Post date” Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada - selaku pembimbing, yang telah memberikan saran serta bimbingan kepada penulis. Tidak lupa ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan sehingga referat ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menyadari, bahwa referat ini tentunya masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan dalam membantu memperbaiki kekurangan yang ada. Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.

Malang, 10 MEI 2013 Penulis

....3 Diagnosis...............................................1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.......................................................................... 3 2.......................................1 Definisi.......................................24 .........................................................................23 DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................DAFTAR ISI Halaman sampul………………………………………………………………......5 komplikasi .......................6 penatalaksanaan......................................... iii BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................................11 BAB 3 KESIMPULAN DAN SARAN............................................... i Kata Pengantar………………………………………………………………… ii DAFTAR ISI ..................................................5 2..................2 Etiologi dan Patogenesis....3 2........................................................................8 2...............................................

(Cunningham. 2010) Diagnosa kehamilan postterm berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT) hanya memiliki tingkat akurasi ±30 persen. et al. et al. masih belum ada ketentuan dan kesepakatan yang pasti mengenai penatalaksanaan kehamilan postterm.. Ketidakakuratan penentuan usia kehamilan akan menyulitkan kita untuk menentukan apakah janin akan terus hidup atau sebaliknya mengalami morbiditas bahkan mortilitas bila tetap berada dalam rahim. Masalah lain dalam penatalaksanaan kasus kehamilan postterm adalah karena pada sebagian besar pasien (±70%). 2010) Kehamilan ini merupakan permasalahan dalam dunia obstetri modern karena terjadi peningkatan angka kesakitan dan kematian bayi. 2010) Sampai saat ini. et al. 2008) (Cunningham. (Mochtar & Krisnanto.. Sementara itu. et al. (Cunningham. dengan adanya pelayanan USG maka usia kehamilan dapat ditentukan lebih tepat. Kini. terutama bila dilakukan pemeriksaan pada usia kehamilan 6-11 minggu. Masalah yang sering dihadapi pada pengelolaan kehamilan postterm adalah perkiraan usia kehamilan yang tidak selalu dapat ditentukan dengan tepat sehingga janin bisa saja belum matur sebagaimana yang diperkirakan.BAB I PENDAHULUAN Kehamilan postterm merupakan kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu (294 hari) sejak hari pertama siklus haid terakhir (HPHT). saat kehamilan mencapai 42 minggu. Insiden kehamilan postterm antara 4-19% tergantung pada definisi yang dianut dan kriteria yang dipergunakan dalam menentukan usia kehamilan. 2010) Penentuan usia kehamilan menjadi salah satu pokok penting dalam penegakan diagnosa kehamilan postterm... Informasi yang tepat mengenai lamanya kehamilan marupakan hal yang penting karena semakin lama janin berada di dalam uterus maka semakin besar pula resiko bagi janin ataupun neonatus untuk mengalami gangguan yang berat. (Cunningham. persalinan . didapatkan serviks belum matang/unfavourable dengan nilai Bishop yang rendah sehingga tingkat keberhasilan induksi menjadi rendah.

. masih menjadi kontroversi sampai saat ini apakah pada kehamilan postterm langsung dilakukan terminasi/induksi atau dilakukan penanganan ekspektatif sambil dilakukan pemantauan kesejahteraan janin. Induksi akhirnya berhasil dan pasien melahirkan seorang bayi laki-laki dengan berat badan 2858 gr. (Mochtar & Krisnanto. 2008) Pada makalah ini akan dilaporkan sebuah kasus dari seorang pasien berusia 23 tahun yang didiagnosa dengan G1P0A0H0 gravid postterm 42-43 minggu. tidak ditemukan tandatanda postmaturitas dari penampilan fisik janin pada masa postpartum. Namun demikian. Oleh sebab itu.yang berlarut-larut akan sangat merugikan bayi postmatur. Selama penanganan ekspektatif. pasien didiagnosa mengalami oligohidramnion dan kehamilannya diterminasi dengan drip induksi. serta skor APGAR 7/8. panjang badan 48 cm.

Teori-teori yang pernah diajukan untuk menerangkan penyebab terjadinya kehamilan postterm antara lain: 1. et al. (Mochtar & Krisnanto.Definisi Kehamilan Postterm Menurut definisi yang dirumuskan oleh American College of Obstetricians and Gynecologists (2004). 2008) 6 . (Mochtar & Krisnanto. Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen. Teori progesteron. Proses ini selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. (Mochtar & Krisnanto. dan masih tingginya bagian terbawah janin. 2008) 2.2 Patogenesis dan etiologi Kehamilan Postterm Penyebab pasti dari kehamilan postterm sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti. kehamilan postterm adalah kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu (294 hari) yang terhitung sejak hari pertama siklus haid terakhir (HPHT). tali pusat pendek. Teori kortisol/ACTH janin. Berdasarkan teori ini. 2008) 3. (Mochtar & Krisnanto. (Cunningham. Pada kasus-kasus kehamilan dengan cacat bawaan janin seperti anensefalus atau hipoplasia adrenal. tidak adanya kelenjar hipofisis janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan berlangsung lewat bulan. Berdasarkan teori ini. 2010) 2. diduga kehamilan postterm terjadi pada keadaan tidak terdapatnya tekanan pada ganglion servikalis. Rendahnya pelepasan oksitosin dari neurohipofisis wanita hamil pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu fakor penyebab terjadinya kehamilan postterm.. 2008) 4. Teori oksitosin. Treori syaraf uterus. seperti pada kelainan letak. diduga bahwa terjadinya kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron melewati waktu yang semestinya.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.

Hasil penelitian ini memunculkan kemungkinan bahwa kehamilan postterm juga dipengaruhi oleh faktor genetik. et al. Kitska et al (2007) menyatakan dalam hasil penelitiannya bahwa seorang ibu yang pernah mengami kehamilan postterm akan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kehamilan postterm pada kehamilan berikutnya. (Kistka. (Cunningham. Namun sebaliknya. Biggar et al (2010) melakukan penelitian tentang penyebab terjadinya kehamilan postterm dan telah membuktikan adanya pengaruh sistem imunitas terhadap inisiasi persalinan secara spontan. Diagnosis Kehamilan Postterm Meskipun diagnosis kehamilan postterm berhasil ditegakkan pada 4-19% dari seluruh kehamilan.. et al. Kemungkinan pada kehamilan postterm terjadi “keterlambatan” sistem imunitas maternal dalam mengenali antigen paternal yang terdapat pada sel janin yang masuk ke dalam sirkulasi maternal melalui mikrosirkulasi transplasental.. 2010) Oleh sebab itu. pemberian intervensi/terminasi secara terburu-buru juga bisa memberikan dampak yang merugikan bagi ibu maupun janin. Pengaruh herediter terhadap insidensi kehamilan postterm telah dibuktikan pada beberapa penelitian sebelumnya. 2010) 2. Keterlambatan ini menyebabkan tertundanya proses cascade yang dibutuhkan untuk mengawali terjadinya tahapan persalinan secara spontan. sebagian diantaranya kenyataanya tidak terbukti oleh karena kekeliruan dalam menentukan usia kehamilan.3. (Biggar. .. khususnya antigen HLA tipe A dan B. Hal ini disebabkan karena semakin lama janin berada di dalam uterus maka semakin besar pula risiko bagi janin dan neonatus untuk mengalami morbiditas maupun mortalitas. pada penegakkan diagnosis kehamilan postterm. informasi yang tepat mengenai lamanya kehamilan menjadi sangat penting. Biggar et al (2010) menemukan bahwa antigen HLA A dan B pada janin postterm lebih memiliki persamaan dengan antigen maternal-nya dibanding janin aterm. et al. 2007) Adanya pengaruh genetik terhadap kehamilan postterm tersebut telah dibuktikan pada penelitian Biggar et al (2010). Teori heriditer.5.

(Cunningham. terutama akibat ovulasi yang terlambat.. (c) tidak minum pil anti hamil setidaknya 3 bulan terakhir. (Cunningham. jika berdasarkan riwayat haid. et al.. (b) siklus 28 hari dan teratur. Akibatnya. Riwayat haid dapat dipercaya jika telah memenuhi beberapa kriteria. (Bennett. 2010) Pendekatan ini berpotensi menyebabkan kesalahan karena sangat bergantung kepada keakuratan tanggal HPHT dan asumsi bahwa ovulasi terjadi pada hari ke-14 siklus menstruasi. diagnosis kehamilan postterm tidaklah sulit untuk ditegakkan apabila keakuratan HPHT ibu bisa dipercaya. Penentuan usia kehamilan dengan HPHT didasarkan kepada asumsi bahwa kehamilan akan berlangsung selama 280 hari (40 minggu) dari hari pertama siklus haid yang terakhir. yaitu: (a) ibu harus yakin betul dengan HPHT-nya. Oleh sebab itu. et al. Diagnosis kehamilan postterm berdasarkan HPHT dapat ditegakkan sesuai dengan definisi yang dirumuskan oleh American College of Obstetricians and Gynecologists (2004). 2010) Permasalahan sering timbul apabila ternyata HPHT ibu tidak akurat atau tidak bisa dipercaya. 2004) Tingkat . masih ada kemungkinan ovulasi terjadi setelah hari ke-14 siklus.. yang bisa berlangsung selama 7-21 hari. ovulasi tidak selalu terjadi pada hari ke-14 siklus karena adanya variasi durasi fase folikular. 2008) usia kehamilan yang ditentukan berdasarkan HPHT cenderung lebih sering salah didiagnosa sebagai kehamilan postterm dibanding dengan pemeriksaan USG. et al. Padahal. diagnosis kehamilan postterm memiliki tingkat keakuratan hanya ±30 persen.1. terjadi kesalahan dalam penentuan usia kehamilan yang seharusnya dihitung mulai dari terjadinya fertilisasi sampai lahirnya bayi. pada ibu yang memiliki siklus 28 hari. (Mochtar & Krisnanto. yaitu kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu (294 hari) yang terhitung sejak hari pertama siklus haid terakhir (HPHT). Riwayat haid Pada dasarnya.

37 minggu. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Penggunaan pemeriksaan USG untuk menentukan usia kehamilan telah banyak menggantikan metode HPHT dalam mempertajam diagnosa kehamilan postterm. ukuran diameter biparietal (biparietal diameter/BPD) dan panjang femur (femur length/FL) memberikan ketepatan ± 7 hari dari taksiran persalinan. (Cohn.kesalahan estimasi tanggal perkiraan persalinan jika berdasarkan HPHT adalah ± 1. 2008) a. et al. c. et al. Ukuran-ukuran biometri janin pada trimester III memiliki tingkat . et al (2010) memiliki tingkat keakuratan yang lebih rendah dibanding metode HPHT maupun USG trimester I dan II. Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa penentuan usia kehamilan melalui pemeriksaan USG memiliki tingkat keakuratan yang lebih tinggi dibanding dengan metode HPHT. 2010) 2. Telah lewat 36 minggu sejak test kehamilan positif Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama kali dengan stetoskop Laennec 3. b.. Semakin awal pemeriksaan USG dilakukan. Riwayat pemeriksaan antenatal kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut: (Pernoll & Roman.. d. maka usia kehamilan yang didapatkan akan semakin akurat sehingga kesalahan dalam mendiagnosa kehamilan postterm akan semakin rendah. 2008) Pemeriksaan usia kehamilan berdasarkan USG pada trimester III menurut hasil penelitian Cohn.67 minggu. (Mochtar & Krisnanto. (Cohn. Tingkat kesalahan estimasi tanggal perkiraan persalinan jika berdasarkan pemeriksaan USG trimester I (crown-rump length) adalah ± 0. 2010) Pada usia kehamilan antara 16-26 minggu.

ini menunjukkan bahwa kehaminan sudah postterm. Perbandingan kadar lesitin-spingomielin (L/S). ACTA berkisar antara 45-65 detik sedangkan pada usia kehamilan >42 minggu. Sitologi cairan amnion. (Mochtar & Krisnanto. Keakuratan penghitungan usia kehamilan pada trimester III saat ini sebenarnya dapat ditingkatkan dengan melakukan pemeriksaan MRI terhadap profil air ketuban. (Mochtar & Krisnanto. 2008) b. (Mochtar & Krisnanto. Hasil penelitian terdahulu berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Aktivitas ini meningkat dengan bertambahnya usia kehamilan. Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan kehamilan postterm tetapi dilahirkan. Bila didapatkan ACTA antara 42-46 detik. Melalui amnioskop yang dimasukkan ke kanalis yang sudah membuka dapat dinilai keadaan air ketuban didalamnya. Perbandingan kadar L/S pada usia kehamilan sekitar 22-28 minggu adalah sama (1:1). didapatkan ACTA <45 detik. Pemeriksaan cairan amnion a. Apabila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10%.variabilitas yang tinggi sehingga tingkat kesalahan estimasi usia kehamilan pada trimester ini juga menjadi tinggi. Amniskopi. Pada usia kehamilan ±32 minggu. 2008) d. perbandingannya menjadi 1.6 minggu. Pada usia kehamilan 41-42 minggu. (Cohn. Pengecatan nile blue sulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. et al.2:1 dan pada kehamilan genap bulan menjadi 2:1.. 2008) hanya digunakan untuk menentukan apakan janin cukup usia/matang untuk . 2008) c. maka usia kehamilan 39 minggu atau lebih. maka kehamilan diperkirakan sudah berusia 36 minggu dan apabila jumlahnya mencapai 50% atau lebih. Aktivitas tromboplastin cairan amnion (ATCA). (Mochtar & Krisnanto. 2010) 4. Tingkat kesalahan estimasi tanggal perkiraan persalinan jika berdasarkan pemeriksaan USG trimester III bahkan bisa mencapai ± 3.

2010) Penurunan jumlah cairan amnion pada kehamilan postterm berhubungan dengan penurunan produksi urin janin. 2010) 2. 2002) Oleh sebab itu. Pengetahuan mengenai perubahan-perubahan tersebut dapat dijadikan dasar untuk mengelola kasus persalinan postterm. plasenta. (Cunningham. et al. 250 ml. Janin akan mengalami hambatan pertumbuhan dan penurunan berat hingga disebut sebagai dismatur. Penurunan jumlah cairan amnion berlangsung terus menjadi sekitar 480 ml. Pemasokan makanan dan oksigen akan menurun akibat proses penuaan plasenta disamping adanya spasme arteri spiralis. dan 44 minggu. (Oz. Dilaporkan bahwa berdasarkan pemeriksaan Doppler velosimetri. et al. Jumlah cairan amnion mencapai puncak pada usia kehamilan 38 minggu. Rendahnya fungsi plasenta ini berkaitan dengan peningkatan kejadian gawat janin dengan risiko 3 kali lebih tinggi. Oligohidramnion Pada kehamilan postterm terjadi perubahan kualitas dan kuantitas cairan amnion. et al. yaitu sekitar 1000 ml dan menurun menjadi sekitar 800 ml pada usia kehamilan 40 minggu. Disfungsi plasenta Disfungsi plasenta merupakan faktor penyebab terjadinya komplikasi pada kehamilan postterm dan meningkatnya risiko pada janin. pada kehamilan postterm terjadi peningkatan hambatan aliran darah (resistance index/RI) arteri renalis janin sehingga dapat menyebabkan penurunan jumlah urin janin dan pada akhirnya menimbulkan oligohidramnion.. hingga 160 ml pada usia kehamilan 42. Komplikasi Kehamilan Postterm Pada kehamilan postterm terjadi berbagai perubahan baik pada cairan amnion.. Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada kehamilan 38 minggu dan kemudian mulai menurun terutama setelah 42 minggu. 1. (Cunningham..4.2. evaluasi volume cairan amnion pada kasus kehamilan postterm . maupun janin. 43.

Dilaporkan bahwa kematian perinatal meningkat dengan adanya oligohidramnion yang menyebabkan kompresi tali pusat. Perubahan-perubahan tersebut antara lain. adanya pengeluaran mekonium akan mengakibatkan cairan amnion menjadi hijau atau kuning dan meningkatkan risiko terjadinya aspirasi mekonium. Keadaan ini menyebabkan kulit janin berhubungan langsung dengan cairan amnion. (Cunningham. kuku panjang. Tidak seluruh . Pada persalinan postterm. Namun demikian. (Cunningham.menjadi sangat penting artinya. 2008) Selain perubahan volume. Pelepasan sejumlah badan lamellar dari paru-paru janin akan mengakibatkan perbandingan Lesitin terhadap Sfingomielin menjadi 4:1 atau lebih besar. penurunan jumlah lemak subkutaneus. Salah satu metode yang cukup populer adalah pengukuran diameter vertikal dari kantung amnion terbesar pada setiap kuadran dari 4 kuadran uterus. keadaan ini dapat menyebabkan keadaan gawat janin saat intra partum. rambut panjang.. (Mochtar & Krisnanto. terjadi pula perubahan komposisi cairan amnion sehingga menjadi lebih kental dan keruh. Hal ini terjadi karena lepasnya vernik kaseosa dan komposisi fosfolipid. Perubahan lainnya yaitu. Bila nilai AFI telah turun hingga 5 cm atau kurang. Perubahan pada janin Selain risiko pertambahan berat badan yang berlebihan. Hasil penjumlahan keempat kuadran tersebut dikenal dengan sebutan indeks cairan anmion (Amnionic Fluid Index/AFI). et al. dan hilangnya vernik kaseosa. Selain itu.. janin pada kehamilan postterm juga mengalami berbagai perubahan fisik khas disertai dengan gangguan pertumbuhan dan dehidrasi yang disebut dengan sindrom postmaturitas. 2010) 3. et al. serta warna kulit kehijauan atau kekuningan karena terpapar mekonium. kulit menjadi keriput. 2010) Estimasi jumlah cairan amnion dapat diukur dengan pemeriksan USG. maka merupakan indikasi adanya oligohidramnion.

baik secara biofisik maupun biokimia sampai persalinan berlangsung dengan spontan atau timbul indikasi untuk mengakhiri kehamilan. pada ±70% penderita didapatkan serviks belum matang/ unfavourable dengan skor Bishop rendah sehingga tingkat keberhasilan induksi menjadi rendah. 2008) (Mochtar & 1.5Penatalaksanaan Kehamilan Postterm Sampai saat ini pengelolaanya masih belum memuaskan dan masih banyak perbedaan pendapat. Stadium 2 c. : Pewarnaan kekuningan pada kuku. Umumnya didapat sekitar 12-20 % neonatus dengan tanda postmaturitas pada kehamilan postterm. setelah diagnosis kehamilan postterm ditegakkan. Selain itu. kulit. 2008) a. saat usia kehamilan mencapai 42 minggu. rapuh. : Gejala di atas disertai pewarnaan mekonium pada kulit. Oleh karena itu. . Krisnanto. Stadium 3 : Kulit kehilangan verniks kaseosa dan maserasi berupa kulit kering.neonatus kehamilan postterm menunjukkan tanda postmaturitas tergantung fungsi plasenta. Pemantanauan kesejahteraan janin pemakaian kombinasi dari 5 variabel biofisik untuk menilai kesejahteraan janin dan menyatakan bahwa kombinasi ini memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan pemakaian salah satu variabel saja. Masalah yang sering dihadapi pada pengelolaan kehamilan postterm antara lain karena pada beberapa penderita. 2. dan tali pusat. Stadium 1 b. permasalahan yang harus dipecahkan selanjutnya adalah apakah dilakukan pengelolaan secara aktif dengan induksi ataukah sebaliknya dilakukan pengelolaan secara ekspektatif dengan pemantauan terhadap kesejahteraan janin. dan mudah mengelupas. usia kehamilan tidak selalu dapat ditentukan dengan tepat sehingga janin bisa saja belum matur sebagaimana yang diperkirakan. Tanda postterm dibagi dalam 3 stadium: (Mochtar & Krisnanto.

NST adalah tes utama yang paling sering digunakan untuk menilai kesejahteraan janin. dan (e) volume cairan amnion. Menurut hasil penelitian. denyut jantung janin yang tidak berada dalam keadaan asidosis akibat hipoksia ataupun depresi saraf akan mengalami akselerasi sementara sebagai respon terhadap gerakan janin. 2010) . (Cunningham. besarnya tingkat akselerasi denyut jantung akibat gerakan janin akan meningkat seiring dengan peningkatan usia kehamilan. et al. tes ini membutuhkan waktu sekitar 30-60 menit. Tes Tanpa Beban (Non-Stress Test/NST) Denyut jantung janin secara normal meningkat maupun menurun sebagai akibat pengaruh dari sistem saraf simpatis-parasimpatis yang impulsnya berasal dari batang otak. Variabel yang digunakan dalam penilaian profil biofisik adalah. (b) gerak nafas janin.. Secara sederhana. seorang janin sehat akan memiliki skor 10 pada pemeriksaan profil biofisiknya. (d) tonus janin.. NST adalah tes untuk mengetahui kondisi janin sedangkan OST digunakan untuk menilai fungsi uteroplasenta. 2010) Penggunaan NST memiliki tujuan yang berbeda dengan tes beban kontraksi (contraction stress test/oxytocin stress test/OST). (a) tes tanpa beban (non-stress test/NST). (Cunningham.. Oleh sebab itu. et al.Secara umum. Setiap variabel diberikan skor 2 bila normal dan skor 0 bila abnormal. Menurut hipotesis. et al. 2010) a. (Cunningham. Adanya akselerasi ini dipegaruhi oleh usia kehamilan. Sampai saat ini. (c) gerakan janin.

ketika proses inspirasi. Oleh karena gerakan nafas janin terjadi secara episodik. Pada janin. 2010) Beberapa peneliti telah mencoba melakukan penelitian mengenai adanya keterkaitan antara gerakan nafas janin melalui pemeriksaan USG dengan proses evaluasi kesejahteraan janin. Oleh sebab itu. Hasilnya menunjukkan bahwa pada janin normal pun bisa saja tidak ditemukan gerakan nafas bahkan sampai 122 menit lamanya.. (Cunningham. untuk menilai kesejahteraan janin. 2010) .b. et al. Pemeriksaan gerakan nafas janin (fetal breathing) Salah satu fenomena menarik dari gerakan pernafasan janin adalah gerakan dinding dada yang paradoks (paradoxical chest wall movement). dinding dada secara paradoks mengempis sedangkan dinding perut mengembung. Hal ini berkebalikan dengan proses inspirasi yang terjadi pada neonatus dan orang dewasa. Patrick dkk (1980) melakukan penelitian observasi selama 24 jam menggunakan ultrasonografi real time untuk mendapatkan gambaran karakteristik gerakan nafas janin selama 10 minggu terakhir kehamilan. (Cunningham. Gerakan ini dihubungkan dengan kemungkinan adanya gerakan janin untuk mengeluarkan debris cairan amnion yang menyerupai gerakan pada saat batuk. et al. maka interpretasi hasil tes pada saat tidak ditemukan gerakan nafas menjadi tidak dapat dipercaya. pemeriksaan gerakan nafas sering digabungkan dengan pemeriksaan lain.. Penelitian ini mengindikasikan bahwa untuk dapat mendiagnosis tidak ditemukannya gerakan nafas membutuhkan waktu observasi yang panjang. misalnya pemeriksaan denyut jantung janin.

Keadaan ini merupakan hal yang terjadi secara fisiologis pada trimester ke. gerakan tubuh umum menjadi lebih teratur dan janin mulai memperlihatkan siklus istirahataktivitas.. et al. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berkurangnya aktivitas pada kehamilan aterm mungkin juga disebabkan oleh pertambahan waktu tidur janin seiring dengan makin maturnya janin. (Cunningham.c. 2010) d. Pemeriksaan gerakan janin (fetal movements) Aktivitas pasif janin tanpa rangsangan sebenarnya sudah mulai ada sejak minggu ke-7 dan akan menjadi lebih kompleks serta terkoordinasi pada akhir kehamilan. et al. et al. Namun demikian.. pematangan gerakan janin terus berlanjut sampai sekitar 36 minggu. pergerakan janin rata-rata adalah sekitar 200 gerakan per 12 jam. 2010) Antara minggu ke-20 sampai ke-30. gerakan janin tidak pernah berhenti dengan waktu lebih dari 13 menit. 2010) Pergerakan rata-rata harian janin selama kehamilan bervariasi. Pemeriksaan volume cairan amnion . (Cunningham. (Cunningham. pergerakan menjadi kurang dirasakan setelah minggu ke-36 karena janin tumbuh dan volume cairan amnion berkurang. Pada trimester ketiga. ibu hamil baru bisa merasakan pergerakan janin pertama kali sekitar usia kehamilan 18-20 minggu. lemah. dan terkadang tidak dapat dibedakan dengan sensasi abdomen lainnya seperti gerakan usus. saat sikap tubuh normal telah terbentuk pada 80% janin. Setelah itu. yaitu ± 500 gerakan per 12 jam. Pada umur kehamilan 20 minggu. Pergerakan janin mencapai nilai maksimal sekitar minggu ke-32 kehamilan. Bahkan setelah minggu ke-8 usia kehamilan.tiga.. Mula-mula gerakannya jarang.

Skor profil biofisik yang didapatkan berkisar antara nilai minimal 0 dan maksimal 10. 2010) Metode lain adalah dengan cara mengukur salah satu kantung cairan amnion vertikal yang terbesar (single deepest pocket). Amniotic Fluid Index (Cunningham.. et al. (Cunningham. maka merupakan indikasi adanya oligohidramnion. 2010) Gambar 1. Pelaksanaan tes ini didasari pada pemikiran bahwa penurunan perfusi uteroplasenta akan menurunkan aliran darah ginjal janin. et al. Menurut pemeriksaan ini. dan pada akhirnya akan menimbulkan oligohidramnion. et al. volume cairan amnion dikatakan berkurang bila didapatkan ukuran kantong ≤ 2 cm.. menurunkan produksi urin janin. et al.. 2010) Estimasi volume cairan amnion dapat dilakukan dengan pemeriksaan USG dengan cara menilai indeks cairan amnion (amniotic fluid index/AFI). 2002. Cunningham. . (Cunningham... 2010) Berdasarkan penilaian kelima variabel yang telah dijelaskan di atas. Penilaian dengan indeks ini dilakukan dengan cara menambahkan ukuran kedalaman dari setiap kantung vertikal terbesar pada tiap kuadran uterus. et al. Bila nilai AFI telah turun hingga 5 cm atau kurang. (Oz. maka didapatkanlah skor profil biofisik dari janin yang dinilai kesejahteraanya.Pemeriksaan volume cairan amnion telah menjadi bagian dari pemeriksaan antepartum pada kehamilan yang memiliki risiko kematian janin.

(Heimstad. et al.. et al.. maka penanganan diberikan secara aktif dengan terminasi kehamilan. Induksi persalinan menjadi salah satu prosedur medis yang paling sering dilakukan di Amerika Serikat dengan proporsi yang meningkat dari 9% pada tahun 1989 menjadi 19% di tahun 1998. 2007) . Namun jika didapatkan gambaran keadaan asfiksia. Tabel 2. 2010) 2. Manajemen kehamilan berdasarkan skor profil biofisik (Cunningham.Tabel 1. Induksi persalinan Kehamilan postterm merupakan keadaan klinis yang sering menjadi indikasi untuk pelaksanaan induksi persalinan. 2010) Penatalaksanaan kehamilan berdasarkan skor profil biofisik dapat berupa penanganan ekspektatif tanpa melakukan intervensi apapun sambil melakukan pemeriksaan ulangan. Penilaian Skor Profil Biofisik (Cunningham.

2007) Kemungkinan keberhasilan induksi persalinan ditentukan oleh beberapa keadaan sebelum dilakukan induksi. et al. Penilainan kematangan serviks ini dapat dilakukan dengan menggunakan skor Bishop. Tindakan induksi persalinan ini adalah untuk keselamatan ibu dan anak. (Heimstad. untuk merangsang timbulnya kontraksi uterus sehingga diharapkan terjadi persalinan atau penipisan dan dilatasi serviks yang progresif disertai penurunan bagian presentasi janin. (3) konsistensi serviks. Skor ini dinilai berdasarkan lima faktor yang didapatkan dari pemeriksaan dalam dan akan digunakan untuk memperkirakan keberhasilan induksi persalainan. Tabel 3. Pelviks skor menurut Bishop. (Cunningham. dan (5) station dari bagian terbawah janin. Lima faktor yang diperiksa adalah (1) dilatasi serviks. (4) posisi serviks.. baik secara tindakan atau medisinal. skor Bishop ≤4 biasanya menunjukkan keadaan serviks yang belum matang (unfavorable) sehingga membutuhkan pematangan serviks yang bisa dilakukan secara .Induksi persalinan adalah suatu tindakan terhadap ibu hamil yang belum inpartu. 2010) Skor Bishop >8 memberikan kemungkinan keberhasilan induksi persalinan yang tinggi. kemungkinan untuk menimbulkan risiko terhadap ibu dan janin tetap ada. salah satunya dari kematangan serviks (favorable). (2) penipisan serviks/ effacement. tetapi walaupun dilakukan dengan terencana dan hati-hati. Sementara itu.

(Cunningham.farmakologis (prostaglandin. (Cunningham.. maka indusi tak perlu lagi dilanjutkan.000 mU) yang dilarutkan dalam 1000 cc larutan Ringer laktat. et al. (Cunningham. (Cunningham. 2010) Terdapat berbagai macam metode induksi dengan menggunakan drip oksitosin. kontraksi yang adekuat akan dicapai dengan dosis oksitosin 20 mU/menit. Apabila dengan pemberian dosis oksitosin 30-40 mU/menit masih tidak didapatkan his yang adakuat. Rejimen ini akan menghasilkan kadar oksitosin 10-20 mU/mL.. Kepekaan terhadap oksitosin meningkat pada saat persalinan. Selain itu.. 2010) . et al. Pemberian dengan dosis yang lebih besar akan menyebabkan ikatan oksitosin dengan reseptor vasopresin sehingga akan menimbulkan kontraksi yang tetanik atau hipertonik. nitrit oksida) ataupun teknik (kateter transervikal. Induksi persalinan dengan oksitosin yang diberikan melalui infus secara titrasi ternyata efektif dan banyak dipakai. Rejimen drip induksi dengan oksitosin. dilator higroskopis. yaitu his sekitar 3 kali dalam 10 menit dengan kekuatan sekitar 40 mmHg atau lebih (200 Montevidio). (Heimstad. Titrasi ini biasanya dilakukan dengan cara memberikan 10-20 unit oksitosin (10. baik yang menggunakan dosis rendah maupun dosis tinggi. 2007) Oksitosin mempunyai efek yang poten terhadap otot polos uterus dan kelenjar mammae. 2010) Biasanya. dapat juga muncul efek antidiuretik sehingga meningkatkan risiko terhadap keracunan air. 2010) Oksitosin adalah zat yang paling sering digunakan untuk induksi persalinan dalam bidang obstetri. Tabel 4. Induksi dianggap berhasil kalau didapatkan kontraksi uterus yang adekuat. stripping)..000-20. et al. et al.

. 2010) Sebaliknya. melakukan penelitian terhadap lebih dari 10.. Penatalaksanaan Kehamilan Postterm dengan Oligohidramnion Penatalaksanaan kasus oligohidramnion pada kehamilan postterm tergantung pada situasi klinik pasien yang bersangkutan. (2010) juga menyatakan bahwa hanya ibu paturien postterm yang memiliki nilai AFI ≤5 cm yang mengalami deselerasi denyut jantung janin dan aspirasi mekonium. . Menurut hasil penelitian didapatkan bahwa risiko seksio sesarea atas indikasi gawat janin pada kelompok oligohidramnion lebih tinggi 2 kali lipat. Pada kehamilan postterm yang diperberat dengan komplikasi oligohidramnion harus dilakukan pengawasan ketat karena tingginya risiko morbiditas janin. (2010) melaporkan bahwa kondisi oligohidramnion dengan nilai AFI ≤ 5 cm tidak berhubungan dengan kondisi perinatal yang buruk.3. et al. 2007) Hasil dari kehamilan dengan oligohidramnion intrapartum menurut beberapa penelitian memiliki hasil yang berbeda-beda. 2010) Perlu kita sadari bahwa persalinan adalah saat paling berbahaya bagi janin postterm sehingga setiap persalinan postterm harus dilakukan pengawasan ketat dan sebaiknya dilaksanakan di Rumah Sakit dengan pelayanan operatif dan neonatal yang memadai. Hasil penelitian Divon dkk (1995) yang dikutip dari Cunningham et al.500 ibu hamil yang memiliki nilai AFI intrapartum <5 cm dibandingkan dengan kontrol yang memiliki nilai AFI >5 cm. (Cunningham. (Heimstad. 2010). (Cunningham. et al.. Chauhan dkk (1999) yang dikutip dari (Cunningham. Selain itu. Pada tahap awal. risiko janin dengan skor APGAR 5 menit dibawah 7 pada kelompok ini lebih tinggi 5 kali lipat.. Begitu juga dengan Magann dkk (1999) yang tidak menemukan peningkatan risiko komplikasi intrapartum pada kondisi oligohidramnion. et al. harus dilakukan evaluasi terhadap anomali janin dan gangguan pertumbuhan. Zhang dkk (2004) yang dikutip dari Cunningham et al.

et al (2004) pengelolaan persalinan pada kehamilan postterm mencakup: a. c.Menurut Mochtar. Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda-tanda postmaturitas . d. Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan. e. Persiapan oksigen dan tindakan seksio sesarea bila sewaktu-waktu terjadi kegawatan janin Cegah terjadinya aspirasi mekonium dengan segera mengusap wajah neonatus dan penghisapan pada tenggorokan saat kepala lahir dilanjutkan resusitasi sesuai prosedur pada janin dengan cairan ketuban bercampur mekonium. Pemantauan yang baik terhadap kontraksi uterus dan kesejahteraan janin. Pemakaian alat monitor janin secara kontinu sangat bermanfaat. b.

et al. 2010) ..Gambar 2. (Cunningham. Skema penatalaksanaan kehamilan postterm.

24 .

BAB III KESIMPULAN 1) Kehamilan postterm/postdate adalah kehamilan yang berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih. penurunan oksitosin. 3) Dalam menentukan diagnosis kehamilan postterm di samping riwayat haid. Selaput vaskulosinsisial menjadi tambah tebal dan jumlahnya berkurang. belum adanya tekanan pada pleksus frankenhausen dan herediter/riwayat postterm pada kehamilan sebelumnya. Pengaruh kehamilan postterm antara lain sebagai berikut. peningkatan progesteron. dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus hadi rata-rata 28 hari 2) sampai saat ini sebab terjadinya kehamilan postterm belum jelas. Sindroma posmaturitas dan Gawat janin. Beberapa pengaruh kehamilan postterm terhadap janin dapat mempengaruhi berat badan badan janin. penundaan pengeluaran hormon kortisol. sebaiknya dilihat pula hasil pemeriksaan antenatal 4) Kehamilan postterm mempunyai resiko lebih tinggi daripada kehamilan aterm. lemak dan gama blobulin mengalami gangguan sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin intrauterin. Pengaruh pada plasenta dapat mengakibatkan penimbunan kalsium. Terjadi proses degenerasi jaringan plasenta. pengangkutan asam amino. antara lain. incoordinate uterine xxv . Beberapa teori yang diajukan pada umumnya menyatakan bahwa terjadinya kehamilan postterm sebagai akibat gangguan terhadap timbulnya persalinan. 6) Sedangkan perubahan pada ibu meningkatkan morbiditas/mortalitas ibu sebagai akibat dari makrosomia janin dan tulang tengkorak menjadi lebih keras yang menyebabkan terjadi distosia persalinan. 5) Pengaruh kehamilan postterm terhadap janin sampai saat ini masih diperdebatkan.

Perlu ditetapkan terlebih dahulu bahwa pada setiap kehamilan postterm dengan komplikasi spesifik dan pada kehamilan dengan faktor resiko lain : Pengelolaan aktif yaitu dengan melakukan persalinan anjuran pada usia kehamilan 41 atau 42 minggu untuk memperkecil resiko terhadap janin. Pengelolaan pasif / menunggu / ekspektatif: didasarkan pandangan bahwa persalinan anjuran yang dilakukan semata-mata atas dasar postterm mempunyai resiko komplikasi cukup besar terutama resiko persalinan operatif sehingga menganjurkan untuk dilakukan pengawasan terus menerus terhadap kesejahteraan janin baik secara biofisikan maupun biokimia sampai persalinan berlangsung dengan sendirinya atau timbul indikasi untuk mengakhiri kehamilan SARAN 1) Perlu kita sadari bahwa persalinan adalah saat paling berbahaya bagi janin postterm sehingga persalinan kehamilan postterm harus dilakukan pengamtan ketat dan sebaiknya dilaksanakan dirumah sakit dengan pelayanan operatif dan perawatan neonatal yang memadai.action. xxvi . partus lama meningkatkan tindakan obstertik dan persalinan traumatis/perdarahan post partum akibat bayi besar 7) Kehamilan postterm merupakan masalah yang banyak dijumpai dan sampai saat ini pengelolaannya masih belum memuaskan dan masih banyak perbedaan pendapat.

Nicholson. F G. Kistka.e6. 2010. First. et al. 196. July 2010. 2007. 2010. Am J Obstet Gynecol. JM. Vol. 1077-81. 202. RJ. Caughey.DAFTAR PUSTAKA Bennett. 2004.e1-207. ZA. JMG dan O’Shea. Vol.e6. 203. R. A comparison of 3 criteria of oligohydramnios in identifying peripartum complications. KA. hal. Vol. et al. 703. JM dan Washington. 197. et al. hal. Risk for postterm delivery after previous postterm delivery. 198. 2007. Heimstad. Am J Obstet Gynecol. 2004. Johnson. Maret 2010. Am J Obstet Gynecol.e1-10. 2010. March 2007. Vol. 190. Williams Obstetrics.e1-241. hal. 268. 76. Cunningham. Vol. EA. March 2008. First trimester ultrasound screening is effective in reducing postterm labor induction rates: A randomized controlled trial. 2007.e1-703. 207. xxvii . New York : The McGraw-Hill Companies. Section VII.vs second-trimester ultrasound: the effect on pregnancy dating and perinatal outcomes. March 2007. 2010. hal. Am J Obstet Gynecol. 23rd Edition. Postterm Pregnancy.e8. Calculation of gestational age in late second and third trimesters by ex vivo magnetic resonance spectroscopy of amniotic fluid. 3. Am J Obstet Gynecol. et al. hal. Spontaneous labor onset: is it immunologically mediated? American Journal of Obstetrics & Gynecology. 241. BR. Vol. Cohn. 2008. Chapter 37. Crane. AB. Post-term pregnancy. Biggar. Trondheim : Faculty of Medicine Norwegian University of Science and Technology. P. hal. et al. 2007.

et al. Late Pregnancy Complication. 715-8. Vol. et al. 2004. Am J Obstet Gynecol. Mochtar. Chapter 15. et al. Am J Obstet Gynecol. ultrasound scanning. 2002. Savitz. Pernoll. 187.] A H DeCherney. 1660-1666. Vol. New York : The McGraw-Hill Companies. et al. Bab VI. Desember 2002. Oz. EF. 190. hal. hal. 6. Surabaya : Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI. xxviii . 10th Edition. Edisi 1. Comparison of pregnancy dating by last menstrual period. 2007. H. 2004. Current Diagnosis & Treatment: Obstetrics & Gynecology. October 2002. hal. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. hal. A S. Bagian 58. Hariadi. Vol.] R. [penyunt. 2004. and their combination. 2004. 2007. 100. Kehamilan Lewat Bulan. [penyunt. AU. 2002. M L dan Roman. How well do the amniotic fluid index and single deepest pocket indices predict oligohydramnios and hydramnios? Am J Obstet Gynecol. A B dan Krisnanto. DA.Magann. Renal Artery Doppler Investigation of the Etiology of Oligohydramnios in Postterm Pregnancy. 384-391. 164-9.

xxix .