You are on page 1of 6

PSEUDOMONAS PUTIDA Pseudomonas putida merupakan termasuk bakteri yang terkenal di kalangan saintis karena sulitnya mengklasifikasi organisme

ini dan kemampuannya memecah toksin organik. Pseudomonas merupakan genus yang memiliki lebih dari 40 nama spesies bakteri; genus tersebut dibagi menjadi lima grup klasifikasi. Mikroba yang diklasifikasikan dalam grup 1 (termasuk di dalamnya P. Putida) adalah true Pseudomonads; Namun, mikroba dalam kelompok-kelompok yang tersisa berada di bawah pengawasan oleh para ilmuwan yang percaya bahwa mereka tidak termasuk dalam genus Pseudomonas. Mereka secara pindah ke klasifikasi yang sistematis dihapus lebih dari genus yang

Pseudomonas dan

sesuai. Genus

dirombak ini telah menyebabkan sejumlah besar kebingungan dalam komunitas ahli biologi. Meskipun baru-baru ini dilakukan perakaran

spesies Pseudomonas lainnya, tampaknya P. putida-lah yang tertanam kuat dalam genus tersebut. Berikut ini susunan taksonomi P. putida :

Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Species Group Spesies

: Bacteria : Proteobacteria : Gammaproteobacteria : Pseudomonadales : Pseudomonadaceae : Pseudomonas : Pseudomonas putida group : Pseudomonas putida

Gambar 1. Pohon Filogenetik antar strain Pseudomonas putida

P. putida berbentuk batang, Gram-negatif, dan secara resmi ditemukan pada pertengahan 1900an. Karakteristik lainnya yaitu : Non-spore forming 1 atau lebih flagella Aerobik Mesofilik Kemoheterotrofik Florescent Oksidase-positif Mikroorganisme ini merupakan mikroorganisme yang paling umum hidup di tanah dan lingkungan air tawar di seluruh dunia dengan sifat motilitasnya menggunakan satu atau lebih flagella sehingga dapat ditemukan di bagian permukaan lingkungan tersebut. Mikroorganisme ini memiliki peran yang sangat penting dalam dekomposisi yang menggerakkan siklus karbon. Uji yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa P. putida dapat memecah senyawa hidrokarbon alifatik dan aromatik. Senyawa yang tidak dapat dipecah yaitu Teflon,Styrofoam, dan produk organik yang mengandung hidrogen tunggal. Yang menyebabkan banyak ahli mikrobiologi dan lingkungan di dunia tertarik dengan P. putida adalah kemampuannya yang dapat memecah banyak toksin organik termasuk Atrazine, herbisida yang paling banyak digunakan di dunia, menjadi karbondioksida dan air.

Atrazine bersifat toksik terhadap lingkungan dan diduga merupakan karsinogen. Sampai sekarang, cara satu-satunya untuk membersihkan bumi dari pencemaran Atrazine adalah dengan merelokasi tanah yang tercemar ke penimbunan limbah (landfill). Saat ini saintis sedang mengembangkan sistem untuk menginokulasi tanah yang terkontaminasi dengan P. putida dengan konsentrasi tinggi untuk

membersihkan bahan kimia beracun. P. putida bekerja sangat efektif yaitu dengan mengurangi waktu paruh Atrazine (delapan tahun) menjadi hanya 5,5 jam. Rintangan terbesar untuk melakukan proses bioremediasi adalah dengan menumbuhkan P. putida di tanah yang sangat dalam supaya dapat secara efektif memecah Atrazine yang sebelumnya dipindahkan ke tanah dengan air rembesan dari permukaan. Teknik yang paling menjanjikan yaitu metode curtain. Metode ini dilakukan dengan mengebor tanah di bagian Atrazine digunakan dan P. putida ditempatkan di dalam lubang. Air dari permukaan merembes akan membawa toksin berbahaya tersebut dan melewatkannya ke lubang yang telah diinokulasi, menghilangkan toksin dari air. Metode tersebut sedang diujicobakan di Australia di mana Atrazine telah mengontaminasi persediaan air di Perth, Australia. Terdapat perdebatan mengenai keamanaan dari mikroba ini. Banyak saintis mengkhawatirkan P. putida merupakan mikroba yang patogen yang dapat mengontaminasi air tanah sehingga tidak dapat diminum. Kekhawatiran tersebut disebabkan adanya mikroba dalam genus yang sama, Pseudomonas aeruginosa, yang merupakan mikroba patogen yang dapat menginfeksi manusia. Pseudomonas syringae juga merupakan mikroba yang menyebabkan penyakit pada tumbuhan. Perdebatan ini kemudian berakhir dengan ditemukannya bahwa P. putida tidak dapat hidup pada temperatur lebih dari 35 derajat Celcius, sehingga tidak dapat hidup pada temperatur tubuh manusia (37C). P.putida juga tidak pernah ditemukan dapat menyebabkan penyakit pada tumbuhan. Bahkan ditunjukkan bahwa koloni P. putida tumbuh pada struktur akar tumbuhan sebenarnya dapat meningkatkan kesehatan tumbuhan. Dengan kemampuannya dalam mendegradasi herbisida Atrazine, banyak saintis memanfaatkan P. putida strain KT2442 untuk direkayasa sebagai pendegradasi bahan beracun lainnya seperti organofosfat yang digunakan sebagai pestisida seperti Parathion (Walker and Keasling, 2002). Mikroorganisme ini menggunakan Organophosphate Hydrolase (OPH) dalam mendegradasi senyawa

organofosfat dengan menghidrolisis Parathion menjadi p-nitrophenol (PNP) dan diethylthiophosphate. PNP merupakan zat karsinogen dan berbahaya bagi lingkungan, sehingga diperlukan rekayasa hayati untuk dapat mendegradasi senyawa tersebut.Untuk dapat memiliki kemampuan tersebut, P.putida diinduksi operon PNP degradatif dan gen opd (pengkode OPH) sehingga mampu memanfaatkan parathion sebagai sumber karbon dan energi. Hal tersebut membuka peluang lebih besar dalam pemanfaatan P. putida sebagai sarana bioremediasi. Pseudomonas putida juga dapat menghasilkan biosurfaktan yaitu amphiphilic yang diproduksi pada permukaan selmikroba atau diekskresikan secara

ekstraseluler dan mengandung bagian-bagian hidrofobik dan hidrofilik yang menurunkan tegangan permukaan dan tegangan interfacial di antara molekul pada permukaan dan antar permukaan. Struktur biosurfaktan meliputi mycolic acid, glycolipid, kompleks polisakarida-lipid, lipoprotein, fosfolipid, atau permukaan sel mikroba itu sendiri. P. putida diduga menghasilkan biosurfaktan yang termasuk jenis rhamnolipid yang terdiri dari dua molekul rhamnose dan dua molekul bhydroxydecanoic acid. Surfaktan tersebut dapat menambah luas permukaan materi hidrofobik, seperti kandungan pestisida di tanah dan air, sehingga menambah pula kelarutan dalam air. Dalam hal ini, adanya surfaktan menambah tingkat degradasi polutan oleh mikroba. Dalam suatu penelitian, diketahui bahwa bakteri ini memiliki kemampuan dalam mengoksidasi logam mangan (Mn) dengan menghasilkan protein pengoksidasi mangan yang dihasilkan secara independen (terdapat Mn 2+ atau tidak). Protein tersebut hanya diekspresikan pada fase stationer secara konsisten dengan sifatnya yang non-katalitik (bukan enzim sebenarnya) dan tidak memerlukan oksigen pada reaksinya. Logam mangan dapat digunakan sebagai sumber energi dengan menghasilkan ATP dari senyawa anorganik dengan membutuhkan komponen organik yang tereduksi untuk mendapatkan sumber karbon sehingga Mn dapat dioksidasi menjadi Mn2+ kemudian Mn3+ atau Mn4+. Bakteri P. putida juga memiliki kemampuan untuk mendegradasi senyawa toluen dalam tanah yang terkontaminasi dengan memanfaatkan kandungan toluene tersebut sebagai sumber karbon. Katabolisme toluene menggunakan sistem enzim toluene dioxygenase. Toluene pertama dioksidasi menjadi (+)-cis-(lS, 2R)-dihydroxy3-methylcyclohexa-3,5-diene(cis-toluene terdapat pada gambar 1. dihydrodiol). Mekanisme lengkapnya

Gambar 1. Jalur Metabolisme oksidasi toluene oleh P.putida.

Selain kemampuannya dalam bioremediasi, P. putida memiliki kemampuan dalam memproduksi bioplastik dengan melakukan rekayasa pada genomnya. Bioplastik yang dihasilkan tersusun dari polimer polyhydroxyalkanoic acid (PHA) yang merupakan polimer yang mudah terdegradasi secara biologis. PHA terakumulasi pada kondisi pertumbuhan mikroba yang tidak seimbang sebagai mekanisme penyimpanan kelebihan karbon dan energi. Polimer tersebut disintesis oleh enzim PHA synthase yang terikat pada granula PHA dan menggunakan koenzim A thioester dari hydroxyalkanoic acid sebagai substrat. Pada suatu penelitian yang dilakukan, Pseudomonas putida memiliki kemampuan dalam mengakumulasi PHA pada medium alpechin (olive-mill waste water) yang memiliki kandungan zat organik yang tinggi berupa senyawa fenolik sederhana yang bersifat toksik bagi lingkungan (Rafael et.al, 2001). Pseudomonas putida juga memiliki kemampuan sebagai agen biokontrol pada akar tumbuhan. Sifat biokontrol ini ditentukan dari sifat antagonistik terhadap patogen tertentu yang menyerang tumbuhan, seperti fungi Fusarium yang menyebabkan penyakit Fusarium wilt. Dengan jumlah atau densitas P. putida yang melebihi jumlah koloni Fusarium, sifat supresif terhadap Fusarium akan terinduksi sehingga melindungi tumbuhan dari kerusakan akibat penyakit yang ditimbulkan oleh Fusarium.