BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Angka kejadian kecelakaan lalu lintas selalu meningkat setiap tahunnnya.

Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab utama terbanyak terjadinya trauma organ pada manusia tergantung letak mana yang mengalami benturan. Trauma yang terjadi dapat meliputi kepala, leher, thorak (dada), perut (abdomen), dan ekstremitas (bagian tangan dan kaki). Cedera kepala atau cedera kepala merupakan salah satu jenis cedera yang banyak terjadi pada trauma kecelakaan lalu lintas, baik cedera kepala ringan, sedang, maupun berat. Cedera kepala adalah cedera yang meliputi trauma kulit kepala, tengkorak, dan otak. Cedera kepala bisa di golongkan kepada cedera kepala ringan, sedang, dan berat. Resiko utama dari pasien yang mengalami cedera kepala adalah adanya kerusakan pada otak akibat pembengkakan otak akibat respon dari cedera, yang dapat menyebabkan tekanan pada intra-kranial. Syok

hipovolemik juga dapat terjadi akibat penderita banyak kehilangan darah akibat jaringan yang rusak. Hal ini juga merupakan salah satu yang membahayakan nyawa pasien. Syok hipovolemik adalah suatu keadaan dimana tubuh kekurangan volume cairan, sehingga menyebabkan jantung untuk memompa tidak maksimal dan menyebabkan penurunan perfusi jaringan sistemik, dan kerusakan sel, yang dapat megancam nyawa pasien. Adanya cedera bagan kepala, perdarahan bagian kepala, atau saluran pernafasan menyebabkan sumbatan jalan nafas pasien, baik berupa darah maupun cairan lain, hal ini menyebabkan jalan nafas pasien terganggu, sehingga pasien menjadi sulit bernafas dan menyebabkan gagal nafas. Penanganan yang cepat dan tepat dapat meyelamatkan nyawa pasien. Penanganan utama dari pasien kegawat daruratan ini meliputi Airway, Breathing, Circulation, dan Disability klien.

1

B. Ruang Lingkup Makalah ini merupakan hasil pengkajian dari Tn.A.P di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Fatmawati yang mengalami kecelakaan lalu lintas dengan diagnosa medik Syok Hipovolemik, Cedera Kepala Berat, Fraktur Mandibula. Makalah ini menyajikan tentang data hasil pengkajian pada Tn.A.P, analisa data, masalah keperawatan, diagnosa keperawatan dan tindakan keperawatan yang dilakukan pada Tn. A.P selama di rawat di IRD RSUP Fatmawati.

C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Penulisan makalah ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran penatalaksanaan asuhan keperawatan darurat pada pasien Tn.A.P yang mengalami Syok Hipovolemik, Cedera Kepala Berat, Fraktur Mandibula di IGD RSUP Fatmawati Jakarta Selatan. 2. Tujuan Khusus a. Dapat mendapatkan gambaran tentang pengkajian, analisa data, masalah keperawatan, menetapkan diagnosa keperawatan pada Tn.A.P yang mengalami Syok Hipovolemik, Cedera Kepala Berat, Fraktur Mandibula di IGD RSUP Fatmawat. b. Dapat mendapatkan gambaran implementasi rencana tindakan

keperawatan yang nyata sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ditegakkan. c. Dapat mendapatkan gambaran hasil (evaluasitindakan) keperawatan yang telah dilakukan.

2

BAB 2 KAJIAN TEORI A. TRAUMA 1. Definisi Trauma dapat didefinisikan sebagai cedera pada tubuh akibat pemajanan akut tubuh ke suatu bentuk energi atau akibat ketiadaan suatu bahan esensial misalnya oksigen dan panas (Shechy, 1989). Walaupun jaringan memiliki elastisitas untuk menyerap energi, namun apabila kemampuan terlampaui maka akan terjadi cedera. Cedera dapat terbatas pada satu organ atau sistem, misalnya fraktur paha, atau mengenai banyak sistem, misalnya pada kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kecelakaan pada kepala, dada, perut, dan tulang. Tidak seperti penyakit progressif, trauma adalah suatu kejadian akut. Dalam beberapa detik, kondisi pasien trauma dapat bergeser dari keseimbangan relatif menjadi stress fisiologis yang berat. Derajat stress bergantung pada faktor-faktor misalnya keparahan cedera yang dialami, efektivitas usaha resusitasi, usia, dan patofisiologis yang sudah ada sebelumnya (Richardson & Rodriguaz, 1987). 2. Mekanisme trauma a. Direct (langsung)

b. Akselerasi

3

Deselerasi d. Kompresi KECELAKAAN SEPEDA MOTOR  Frontal  Lateral 4 .c.

Tanda yang pertama adalah arah 5 . luka robek. walaupun terkadang sulit dipastikan. Arah dari pengelupasan dapat ditentukan dengan pemeriksaan luka. Penyebab trauma a. patah tulang atau luka tekan. lantai. sepatu. lebih dalam ke lapisan bawah kulit (dermis) atau lebih dalam lagi sampai ke jaringan lunak bawah kulit. tinju. Luka karena kererasan tumpul dapat berbentuk salah satu atau kombinasi dari luka memar. Jika abrasi terjadi lebih dalam dari lapisan epidermis pembuluh darah dapat terkena sehingga terjadi perdarahan. Adapun definisi dari benda tumpul itu sendiri adalah :    Tidak bermata tajam Konsistensi keras / kenyal Permukaan halus / kasar Kekerasan tumpul dapat terjadi karena 2 sebab yaitu alat atau senjata yang mengenai atau melukai orang yang relatif tidak bergerak dan yang lain orang bergerak ke arah objek atau alat yang tidak bergerak. luka lecet. Dalam bidang medikolegal kadang-kadang hal ini perlu dijelaskan. besi. Trauma Tumpul Benda tumpul yang sering mengakibatkan luka antara lain adalah batu. Dua tanda yang dapat digunakan. Laying the bike 3. jalan dan lain-lain. Dapat terjadi superfisial jika hanya epidermis saja yang terkena. Luka Akibat Trauma Tumpul  Abrasi : adalah pengelupasan kulit.

Benda tajam misalnya peluru dan pisau sering menjadi penyebabnya. Pada orang dengan kulit berwarna memar sulit dilihat sehingga lebih mudah terlihat dari nyeri tekan yang ditimbulkannya. Penekanan ini menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil dan dapat menimbulkan perdarahan pada jaringan bawah kulit atau organ dibawahnya. fraktur dibagi menjadi fraktur sederhana dan komplit atau terbuka. Trauma tajam/trauma tembus Trauma tembus terjadi apabila terjadi kerusakan (robekan) kulit dan lapisan jaringan lunak sebelah luar. 6 . b. terjadi karena tekanan yang besar dalam waktu yang singkat. Istilah fraktur pada bedah hanya memiliki sedikit makna pada ilmu forensik.  Kompresi Kompresi yang terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek lokal maupun sistemik yaitu asfiksia traumatik sehingga dapat terjadi kematiaan akibat tidak terjadi pertukaran udara.dimana epidermis bergulung. disekitarnya terdapat luka lecet yang diakibatkan oleh bagian yang lebih rata dari benda tersebut yang mengalami indentasi. Cedera terjadi pada jaringan yang terletak tepat di jalur perjalanan benda tersebut. Pada bedah.  Fraktur Fraktur adalah suatu diskontinuitas tulang.  Laserasi Laserasi disebabkan oleh benda yang permukaannya runcing tetapi tidak begitu tajam sehingga merobek kulit dan jaringan bawah kulit dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit dan bawah kulit. Tepi dari laserasi ireguler dan kasar. tanda yang kedua adalah hubungan kedalaman pada luka yang menandakan ketidakteraturan benda yang mengenainya.  Kontusi/rupture Kontisio/memar.

kemudian pernafasan dan sirkulasi dievaluasi dan didukung. melakukan terapi cairan intravena. resusitasi. pengkajian sekunder. stang roda 7 . karena dapat terjadi kerusakan organ massif disepanjang jalan perjalanan misil tersebut. Setelah jalan nafas dipastikan. pernafasan. pada luka tusuk kerusakan terbatas pada jaringan dibawahnya. dan triage untuk korban trauma telah dikembangkan oleh “American college of surgeons. Rumah Sakit Pengkajian dan perawatan yang dilakukan setibanya di rumah sakit dibagi ke dalam empat fase : evaluasi primer. dan adakalanya pemasangan pneumatic antishock garment (PASG).Sebagai contoh. b. Fase ini dimulai pada tempat kecelakaan dengan pengkajian cepat terhadap cedera-cedera yang mengancam keselamatan jiwa. dan menentukan kemungkinan ancaman terhadap jiwa dan anggota badan. Informasi tentang mekanisme terjadinya cedera dan gambaran tentang keadaan kecelakaan (seperti. 1) Evaluasi Primer Seperti halnya pada pengkajian prarumah sakit. dan perawatan definitive. misalnya luka tembakan. Potensi terhadap fraktur juga harus diimobilisasi sebelum dipindahkan. committee on trauma”. Kriteria dan protokol untuk memudahkan pengkajian awal. Trauma tembus yang disebabkan oleh misil kecepatan tinggi. intervensi. Lubang luka yang tampak kecil dapat menyesatkan. PENGKAJIAN 1. Resusitasi sirkulasi awal termasuk kontrol terhadap hemoragi eksternal. dapat menyebabkan kerusakan yang lebih luas. a. B. evaluasi primer mendeteksi masalah-masalah jalan nafas. Prarumah Sakit Penatalaksanaan awal sering kali menentukan hasil akhir. Pengkajian Awal dan Penatalaksanaan Awal pasien trauma Orang yang mengalami cedera barat harus dikaji dengan cepat dan efisien. dan sirkulasi.

Terdapat pengecualian untuk pasien luka bakar.mobil yang bengkok) akan memberikan petunjuk tentang kemungkinan terjadinya cedera serius. Pelayan kesehatan diharapkan bisa memberikan distribusi oksigen dalam kurang waktu 8-10 menit. dia mampu berbicara dengan jelas tanpa suara tambahan. Kalau kita temukan jejas kehitaman pada lubang hidung pasien atau lendir kehitaman yang keluar dari hidung pasien itu mungkin disebabkan sudah terjadinya inflamasi pada saluran pernapasan akibat inhalasi udara bersuhu tinggi. Tindakan yang dapat 8 . Beberapa nemonic yang sering membantu antara lain: o A : Airway with c-spine control o B : Breathing and ventilation o C : Circulation with haemorrage control o D : Disability (neurologic evaluation) o E : Exposure and Environment A: Airway with c-spine contol. dengarkan ada atau tidak suara nafas. Jika terjadi obstruksi total maka akan timbul apnea biasanya disebabkan obstruksi akibat benda asing. Jika pasien tidak sadar maka segera lakukan penilaian LookListen-Feel. Di sini perawat diminta menilai secermat mungkin hal apa yang mengancam nyawa pasien. Pemeriksaan neurologic yang seksama juga dilakukan. Hal dilakukan adalah Primary Survey. Lihat gelisah atau tidak. Ini berarti laringnya mampu dilewati udara yang artinya airway is clear. Assessmentnya : Jika pasien sadar. Hal pertama yang harus diperiksa dalam penyelamatan seorang pasien. Pasien tidak langsung menunjukan gejala obstruksi saluran nafas segera. rasakan hembusan nafas pasien dari pipi dalam satu waktu. gerakan dinding dada.

Penanganan pertama nya dengan penggunaan endotracheal tube (ETT) 9 . Sementara pada pasien tidak sadar yang bisa dilakukan antara lain : finger sweep. yang elastic dan yang rigid.dilakukan antara lain memberikan penekanan pada dinding abdomen melalui manuver Heilmicth atau Manuver Abdominal Trust. Terdapat dua jenis suction yakni. Penanganannya melalui suction. Jangan melakukan tindakan yang berlebihan di daerah laring sehingga tidak timbul vagal refleks. dan instrumental. Beberapa bunyi nafas itu antara lain: a) Gurgling (kumur-kumur) = obstruksi akibat adanya air dalam saluran nafas. Tindakan yang disebutkan diatas dilakukan pada pasien sadar. Kalau terjadi obstruksi parsial maka pasien akan menunjukan tanda bunyi nafas tambahan. Pilih saction yang rigid karena lebih mudah diarahkan. abdominal trust. b) Stridor (crowing) = obstruksi karena benda padat dan terjadi pada URT. Kalau untuk anak kecil bisa dibantu dengan membalik posisi anak secara vertikal agar mempermudah keluarnya benda asing.

Kemudian diikuti dengan membersihkan jalan nafas melalui finger sweep (cara ini tidak amam karena memungkinkan trauma mekanik pada jari dokter) atau melalui bantuan instrumen. bahwa pada oropharingeal tube terdapat tiga jenis ukuran sehingga sebelum memasangnya dokter harus menentukan ukuran yang sesuai. Penangannya yang pertama dengan membuka mulut pasien dengan jalan. chin lift atau jaw trust. Cara mudahnya dengan menyamakan ukuran dengan panjang dari lubang telinga ke sudut mulit atau panjang dari sudut telinga ke lubang hidung.c) Snorg (mengorok) = biasa nya obstruksi karenan lidah terlipat dan pasien dalam keadaan tidak sadar. Sebagai tambahan info. Tindakan berikutnya dengan pemasangan oropharingeal tube (untuk pasien tidak sadar) atau nasopharyngeal tube untuk pasien sadar. Begitu pula dengan pemasangan nasopharingeal tube. 10 .

Penanganan pneumotorak ini antara lain dengan menusukan needle 14 G di daerah yang hipersonor atau pengguanan chest tube. Cirinya adalah keluar darah atau cairan bercampur darah dari hidung atau telinga. Fraktur ini seringkali disertai dengan robekan pada Duramater). Keadaan dada pasien yang mengembung apalagi tidak simetris mungkin disebabkan pneuomotorak atau pleura hemorage. Jika semuanya gagal. B: Breathing and Ventilation Lihat keadaan torak pasien. Suara paru yang hipersonor disebabkan oleh pneumotorak sementara pada pleurahemorage suara paru menjadi redup. C-spine kontrol dilakukan dengan indikasi:     Multiple trauma Terdapat jejas di daerah serviks ke atas Penurunan kesadaran.C-spine kontrol mutlak harus dilakukan terutama pada pasien yang mengalami trauma basis crania (Suatu fraktur linear yang terjadi pada dasar tulang tengkorak yang tebal. dan kalau pasien sadar maka pasien mampu berbicara dalam satu kalimat panjang. maka terapi bedah menjadi pilihan terakhir. ada atau tidak sianosis. Untuk membedakannya dilakukan perkusi di daerah paru. 11 .

Jika terdapat henti napas : Hal yang dapat dilakukan antara lain Resusitasi Paru, bisa dilakukan melalui :     Mouth to mouth Mouth to mask Bag to mask (Ambu bag).

Jika menggunakan ventilator oksigen dapat diberikan melalui : Kanul. Pemberian Oksigen melaui kanul hanya mampu memberikan oksigen 24-44 %. Sementara saturasi oksigen bebas sebesar 21 %.   Face mask/ rebreathing mask. Saturasi oksigen melalui face mask hanya sebesar 35-60%. Non-rebreathing mask. Pemberian oksigen melalui nonrebreathing mask inilah pilihan utama pada pasien cyanosis. Konsentrasi oksigen yang diantarkannya sebesar 80-90%. Perbedaan antara rebreathing mask dan non-rebreathing mask terletak pada adanya valve yang mencegah udara ekspirasa terinhalasi kembali.  Note : pada pasien pneumotorok perhatikan adanya keadaan pergesaran mediastinum yang tampak pada pergeseran trakea, peningkatan tekanan vena jugularis, dan kemungkinan timbul tamponade jantung

C: Circulation and haemorage control Assessment : Pertama kali yang harus diperhatikan adalah kemungkinan pasien mengalami syok. Nilai sirkulasi pasien dengan melihat tanda-tanda perfusi darah yang turun seperti keadaan pucat, akral dingin, nadi lemah atau tidak teraba. Syok yang tersering dialami pasien trauma adalah shock hemoragik. Jadi dalam

penatalaksanaannya yang pertama adalah tangani status cairan pasien dan cari sumber perdarahan, kemudian atasi perdarahan.

12

Berikan cairan intravena kemudian tutup luka dengan kain kassa, immobilisasi. Pemberian cairan intravena harus pada suhu yang hangat agar tidak memperberat kondisi pasien (pemasukan cairan yang memiliki suhu lebih rendah daripada suhu tubuh menyebabkan vasokontriksi sehingga nantinya menurunkan perfusi). Status hidrasi pasien juga harus diukur melalui output cairannnya sehingga sering diikuti dengan pemasangan kateter. Namun pemasangan kateter dikontraindikasikan pada pasien yang mengalami ruptur uteri. Cirinya terdapat lebam pada perineal atau skrotum. Luka pasien trauma yang sering menimbulkan keadaan syok antara lain luka pada abdomen, pelvis, tulang panjang, serta perdarahan torak yang massive. Kalau terjadi henti jantung maka lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru).

\\\\

D: Disability Pada tahap ini dokter diharapkan menilai keadaan neurologic pasien. Status neurologic yang dinilai melalui GCS (Glasgow Coma Scale) dan keadaan pupil serta kecepatannya. 2) Resusitasi Resusitasi seringkali mulai dilaksanakan selama evaluasi primer dan mencakup tindakan terhadap kondisi-kondisi yang mengancam keselamatan jiwa. Pasien dapat memerlukan intubasi endotrakeal, pemberian oksigen, terapi cairan intravena, dan kontrol terhadap hemoragi. Kondisi-kondisi yang mengancam keselamatan jiwa,

13

misalnya tension, pneumotoraks terbuka, hemotoraks masif, dan tamponade jantung, diatasi dengan cepat kecuali adanya

kontraindikasi, kateter urin dan selang nasogastrik dipasang. 3) Pengkajian sekunder Apabila kondisi pasien sudah berhasil distabilkan, riwayat kesehatan yang lengkap, termasuk informasi tentang mekanisme terjadinya cedera, harus diperoleh dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh harus dilakukan. Pemeriksaan dapat mencakup elektrokardiogram (ECG), berbagai uji laboratorium, dan

pemeriksaan radiologik (Table 44-1). Jika diduga adanya cedera abdomen, maka lavage peritoneal diagnostic (DPL) juga diperlukan dilakukan. 4) Pola-pola cedera Informasi tentang pola atau mekanisme terjadinya cedera sering kali akan sangat membantu dalam mendiagnosa kemungkinan gangguan yang diakibatkan. Trauma tumpul terjadi pada kecelakaan kenderaan bermotor (KKB) dan jatuh, sedangkan trauma tusuk (penetrasi) seringkali di akibatkan oleh luka tembak, atau luka tikam. Umumnya, makin besar kecepatan yang tetrlibat di dalam suatu kecelakaan, akan makin besar cedera yang terjadi (mis,KKB kecepatan tinggi, peluru dengan kecepatan tinggi, jatuh dari tempat yang sangat tinggi). Trauma tumpul pada kecelakaan kenderaan mobil, badan kenderaan memberikan sebagian perlindungan dan menyerap energi dari hasil benturan tabrakan. Pengendara atau penumpang yang tidak menggunakan sabuk pengaman. Bagaimanapun akan

terlempar dari mobil dan dampaknya mendapatkan cedera tambahan. Pengendara sepeda motor mempunyai perlindungan yang minimal dan seringkali akan menderita cedera yang parah apabila terlempar dari motor. Perlambatan yang cepat selama KKB atau jatuh dapat

menyebabkan kekuatan yang terputus yang dapat merobek struktur

14

Hepar. Stir atau kemudi kenderaan yang bengkok atau rusak memperbesar dugaan akan 15 .tertentu. Tabel 2. Cedera karena benturan seringkali menyebabkan kerusakan internal dengan sedikit tanda-tanda trauma eksternal. Demikian juga. limpa. jantung dapat tetrhimpit diantara sternum dan tulang belakang. usus) akan terlepas dari mensenteri.1 Prosedur-prosedur Radiologi pada Trauma Prosedur Radiografi Dada Dugaan Cedera Pneumotoraks Hemothoraks Fraktur iga Kontusio pulmonal Cedera trakeobronkial Cedera pembuluh besar Fraktur Fraktur Cedera pembuluh besar Cedera ginjal Cedera vascular pelvis Cedera vascular ekstremitas Dera abdomen Cedera retroperitoneal Cedera ginja Fraktur pelvic Hematoma atau laserasi Duodenal Cedera seplenik Cedera Hepatik Cedera ginjal Cedera uretra Cedera kandung kemih Pelvis Ekstremitas Angiogram Tomografi Komputer Serangkaian gastrografin GI bagian atas Skan hepar/limpa radioNuklida Pielogram intravena Uretrogram Retrograd Sistogram retrograde Tipe kedua trauma tumpul termasuk kompresi yang disebabkan oleh kekuatan tabrakan berat. dan pancreas juga sering tertekan terhadap tulang belakang. organorgan abdomen (limpa. ginjal. Pada kasus demikian. Organ-organ yang berdenyut seperti jantung dapat terlepas dari pembuluh besar yang menahannya. Tipe kerusakan pada kendraan seringkali memberikan petunjukpetunjuk cedera spesifik yang diderita pada KKB.

Hipovolemia yang tidak dapat dijelaskan pada korban trauma multiple Trauma abdomen penetrasi (jika eksplorasi tidak dikasikan) Kontraindikasi : Riwayat operasi abdomen multiple Kebutuhan laparotomi segera Prosedur : Pasang kateter lavege kedalam rongga peritoneal melalui insisi 1-2 cm. tulang belakang lumbar atau iga bawah. 16 .kemungkinan cedera pada dada. Peningkatan : fraktur pelvik. luka dada penetrasi akibat pegangan pintu atau jendela. cedera tulang belakang servikal. cedera limpa atau hepar dan fraktur pelvis. trakea. Trauma kepala dan wajah. jantung. adanya alcohol dan obat-obatan. Ubah posisi pasien dari satu sisi kesisi yang (kecuali jika ada kontraindikasi) Beriakan cairan mengalir kembali kekantung dengan bantuan gaya gravitasi. iga. Benturan lateral dapat menyebabkan patah iga. tulang belakang atau abdomen. Coba mengespirasi cairan peritoneal. Lavage periotoneal Diagnostik (LPD) Tujuan : untuk mendeteksi perdarahan intraperitoneal Indikasi:              Cedera tumpul dengan abdominal Perubahan respons nyeri Penurunan : cedera kepala atau medula spinalis . Infus normal salin atau Ringer laktat dengan bantuan gaya gravitasi. dan cedera trakeal sering berkaitan dengan kerusakan pada kaca depan mobil atau dashboard.

     Kirim spesimen ke laboratorium. 5) Perawatan definitif Meskipun perawatan definitif dapat dimulai pada unit gawat darurat atau ruang operasi. identifikasi cedera yang terlewatkan selama tindakan terhadap masalah-masalah yang mengancam jiwa. perawat unit keperawatan kritis dapat membantu dalam mengidentifikasi cedera yang tidak didiagnosa di unit kegawatdaruratan.000 SDP/mm³ Lebih besar dari 500 SDP/mm³ adanya bilirubin. Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma yang Terjadi a. atau bahan feses. Dengan menggunakan keterampilan pengkajian yang baik dan kewaspadaan pada mekanisme terjadinya cedera. Perawatan ini sebagian besar terdiri atas perawatan yang diberiakan pada unit rawat intensif. penatalaksaan terhadap kondisi-kondisi medis yang sudah ada terlebih dahulu. Luka tembak berkaitan dengan derajat kerusakan yang lebih tinggi dari luka-luka tikaman. dan yang konstan adalah penting dalam memudahkan penatalaksanaan masalh-masalah yang ada. dan fraktur kesemuanya dapat disebabkan oleh cedera penetrasi. mengakibatkan peningkatan cedera. Hasil-hasil positif : 10-20 ml darah nyata pada aspirasi awal Lebih besar dari 100. 2005) 17 . bakteri. Perdarahan internal. Elemen penting lainnya dari perawatan definitif termasuk evaluasi tanda-tanda serta gejala-gejala baru. Trauma kepala Cedera kepala adalah kerusakan neurologi yang terjadi akibat adanya trauma pada jaringan otak yang terjadi secara langsung maupun efek sekunder dari trauma yang terjadi (Sylvia anderson Price. Trauma penetrasi. Peluru dapat menyebabkan luka di sekitar jaringan dan dapat terpecah atau merubah arah di dalam tubuh. perforasi organ. 2.

Tidak ada kontusio tengkorak. b) Sedang GCS 9 – 12 Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam. laserasi. c) Berat GCS 3 – 8 Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. juga meliputi kontusio serebral. atau hematoma intracranial. tidak ada fraktur cerebral. Resiko utama pasien yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan menyebabkan peningkatan TIK. Klasifikasi Klasifikasi trauma kepala berdasarkan Nilai Skala Glasgow (SKG/ GCS): a) Minor / Ringan GCS 13 – 15 Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit. Klasifikasi lesi intrakranial  Epidural hematom  Subdural hematom  Kontusio serebral atau perdarahan intraserebral 18 .Disebut cedera kepala berat bila GCS <8. kehilangan kesadaran atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam bahkan sampai berhari-hari. Dapat mengalami fraktur tengkorak. hematoma.

Periode akut terjadi dalam 48 jam atau dapat terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. perdarahan lambat dan sedikit. 19 . Fungsinya untuk melindungi otak.  Subdural hematom subdural hematoma adalah terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak. Otak juga di kelilingi oleh sesuatu yang berguna sebagai pembungkus yang di sebut dura. dan membentuk periosteum tabula interna. ketika pembuluh darah mengalami robekan maka darah akan terakumulasi dalam ruang antara dura dan tulang tengkorak. Epidural hematoma Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intracranial yang paling sering terjadi karena fraktur tulang tengkorak.. Ketika seorang mendapat benturan yang hebat di kepala kemungkinan akan terbentuk suatu lubang. menutupi sinus-sinus vena. pergerakan dari otak mungkin akan menyebabkan pengikisan atau robekan dari pembuluh darah yang mengelilingi otak dan dura. yang dapat terjadi secara akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena/jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater. Otak di tutupi olek tulang tengkorak yang kaku dan keras. keadaan inlah yang di kenal dengan sebutan epidural hematom.

 Kerusakan mobilitas fisik: Hemisfer atau hemiplegi akibat kerusakan pada area motorik otak. gangguan pergerakan Tiba-tiba defisit neurologic Perubahan TTV Gangguan penglihatan Disfungsi sensorik Lemah otak Pola pernafasan: Pusat pernafasan diciderai oleh peningkatan TIK dan hipoksia. Paling banyak terjadi di lobus frontalis atau temporalis. dangkal. Pola pernafasan dapat berupa hipoventilasi alveolar. Kelainan ini sering ditemukan pada penderita trauma kepala. dan tidak jarang ditemukan multipel. 20 . Perdarahan yang terjadi pada memar otak dapat membesar menjadi hematom intraserebral. Lebih dari 50 % penderita dengan hematom intracerebral disertai hematom epidural atau hematom subdural. vertigo. Tanda Dan Gejala Trauma otak mempengaruhi setiap sistem tubuh. trauma langsung atau interupsi aliran darah. Manifestasi klinis cedera otak meliputi :          Gangguan kesadaran Konfusi Sakit kepala. Hematoma intraserebral/kontusio serebral Perdarahan intracerebral merupakan penyabab Cerebrovaskular Accident yang ketiga.

dan mudah. sedangkan selang dada untuk mengembangkan kembali paru-paru sering kali sudah memadai tamponade dengan sumber pendarahan yang lebih kecil.500 ml pada awalnya atau >100-200 ml/jam) akan memerlukan torakotomi. seringkali tanpa operasi besar. Cedera pada Paru dan Iga 1) Pneumotoraks dan Hemotoraks Trauma tumpul dan penetrasi dapat menyebabkan pneumotoraks atau hemotoraks Seringkali. batuk. Selang dada harus dikaji patensi dan fungsinya serta dokter harus diberitahu jika drainase menjadi berlebihan.   Ketidakseimbangan hidrasi: Terjadi karena adanya kerusakan kelenjar hipofisis atau hipotalamus dan peningkatan TIK. perawat unit perawatan kritis harus mengkaji fungsi pernafasan dan hemodinamik dengan cermat. Trauma Torak Kurang lebih 25% dari kematian karena trauma adalah karena cedera torak. peneumonia. Jika tidak ditangani. Banyak cedera torak yang secara potensial mengancam jiwa. latihan nafas dalam). Aktifitas menelan: Reflek melan dari batang otak mungkin hiperaktif atau menurun sampai hilang sama sekali Kerusakan komunikasi:Pasien mengalami trauma yang mengenai hemisfer serebral menunjukkan disfasia. Pasien dengan cedera paru mempunyai resiko lebih besar untuk mengalami komplikasi pulmonal seperti etelekstatis. b. misalnya tension atau pneumotoraks terbuka. satu-satunya tindakan yang diperlukan adalah pemasangan selang dada. iga melayang (flail chest). hemotoraks massif. c. Untuk 21 . Hemotoraks massif (>1. dan empiema. kehilangan kemampuan untuk menggunakan bahasa. Intervensi pembedahan juga mungkin diperlukan dalam kasus pneumotoraks terbuka (luka menyedot dada) atau kebocoran udara yang tidak terkontrol. Selain memberikan perawatan rutin posoporasi (spirometri. maka akan mengancam jiwa.

bronkodilator. Berbagai intervensi untuk memperbaiki fungsi pernafasan dapat dilaksanakan termasuk batuk dan panas dalam. Control nyeri yang ade kuat dapat meningkatkan ekspansi paru tanpa memerlukan ventilasi mekanis jangka panjang. Fraktur iga sering berkaitan dengan nyeri yang hebat. termasuk atelektasis dan peneumonia. atau analgesia yang dikontrol pasien. pernafasan 22 . bagaimanapun tidak cukup kuat untuk menghilangkan nyeri iga melayang. Mungking juga digunakan tekanan akhir ekspirasi positif (PEEP). Pada kejadian yang langka. mungkin harus dilakukan ototranfusi. mungkin dilakukan stabilisasi operatif dengan kawat dan staples. Tujuan utama daari perawatan terhadap iga mengambang adalah untuk meningkatkan fentilasi yang ade kuat. Iga melayang berkaitan dengan pneumotoraks. hemotoraks. Analgetik sistemik. maka ada indikasi pemasang intibasi dan fentilasi mekanis. Hipoventilasi. kontusio miokardial. Asuhan keperawatan pada pasiaen denga iga melayang ditujukan pada pengkajian dan pengontrolan nyeri. spirometrik. disertai dengan peningkatan oksigenasi dan pertukaran gas yang ade kuat. Akibat nyeri meningkatkan resiko terhadap komplikasi pernafasan. 2) Iga melayang (flail chest) Iga melayang terjadi bila trauma tumpul menyebabkan fraktur multiple iga.kehilang darah dalam jumlah besar dari selang dada. Jika status pernafasan terganggu atau diperlukan operasi untuk cidera terjadi. mukolitik. Sering diberikan analgesi parenteral. menyebabkan ketidak stabilan dinding dada. drainase dan chapping. sehingga membutuhkan metode lain untuk menghilangkan nyeri seperti blok interkosta atau analgesia epidural. kontusio pumonal. Fraktur iga tidak pernah dibalut karena hal ini nantinya hanya akan mengutangi pul monal. intramuscular.

dan takipnea. menyebabkan hemoragi dan ekstravasasi plasma dan protein ke dalam alveolar dan spasium interstisial. pemeriksaan fisik.2 Prosedur-prosedur antara Kontusio Pulmonal dan ARDS Kontusio Pulmonal ARDS Awitan gagal pernapasan bertahap Awitan gagal pernapasan mendadak Perubahan-perubahan gambaran Perubahan-perubahan radiografi dapat segera terlihat gambaran radiografi sering kali tertunda 2-3 hari setelah timbul gejala-gejala Infiltrate setempat Infiltrate menyebar Dapat mengarah pada terbentuknya rongga dan abses Dapat mengaah pada fibrosis pulomanal kronis 3) Kontusio Pulmonal Kontusio Pulmonal adalah memar pada parenkim paru. Intervensi keperawatan tambahan termasuk pengkajian pernapasan yang kerap. dan kadang-kadang pemantauan dengan oksimetrik adalh penting. termasuk sinar-x dada. rales. Tanda-tanda dan gejala-gejalanya termasuk dispnea. Tabel 2. Gangguan ini dapat tidak terdiagnosa pada foto dada awal: bagaimanapun adanya fraktur iga atau iga melayang harus mengarah pada dugaan kemungkinan adanya kontusio pulmonal. Kontusio pulmonal terjadi bila perlambatan cepat memecahkan dinding sel kapiler. dan kontrol nyeri. Suksionendotrakeal nasotrakeal. perawatan pulmonal. gas-gas aterial darah. seringkali akibat trauma tumpul.tekanan positif intermiten (PTPI). Pasien dengan kontusio ringan memerlukan pengamanan ketat. 23 . hemoptitis. Perlu sering dilakukan pengukuran gas darah arterial (GDA) atau oksimetri nadi. bronkoskopi terapeutik. dan Serangkain pengkajian pulmonal.

Tanda-tanda dan gejalagejala yang bersifat temporer (mis. Diagnosa bias sulit ditegakkan. Setelah trauma. Gejala-gejala kontusio jantung bervariasi dari tidak ada gejala (umum) sampai pada gagal jantung kongestif yang berat dan syok kardiogenik. Cedera jalan udara seringkali tidak tersamar. takikardia. d. Untuk menegakkannya dilakukan serangkaian pemeriksaan EKG dan serangkaian pengukuran keratin kinaseinsoenzim miokardial. kontusio jantung mirip dengan infark miokardial. Cedera trakeobronkial yang parah mempunyai angka kematian yang tinggi.4) Cedera Trakeobronkial Cedera pada trakea atau bronki dapat disebabkan oleh trauma tumpul atau penetrasi dan seringkali disertai dengan kerusakan pada esophagus dan vascular. maka makin banyak pasien ini yang bertahan hidup. sedangkan stenosis trakeal dapat terjadi kemudian. Asuhan keperawatan melibatkan pengkajian terhadap oksigenisasi dan pertukaran gas. Tandatandanya termasuk dispnea (ada kalanya satu-satunya tanda). Perbaikan operasi dengan ventilasi mekanis pascaoperasi melalui selang endotrakeal atau trakeostomi akan diperlukan. Secara histology. dan emfisema subkutan. batuk. Yang lebih umum dari kontusio miokardial yang sudah dipastikan adalah cedera tipe “konkusio” (gegar) yang dapat pulih. hemoptisis. disertai dengan perawatan pulmonal yang tepat. bagaimanapun dengan bertambah baiknya perawatan dan transportasi pra-rumah sakit akhir-akhir ini. Pneumonia adalah komplikasi jangka pendek. keluhan-keluhan tentang nyeri dada harus dievaluasi dengan cermat. kontraks premature) 24 . Cedera Pada Jantung 1) Kontusio Miokardial Memar pada miokardium kebanyakan disebabkan oleh benturan dada pada batang stir atau dashboard selama KKB.

peningkatan tekanan vena sentral sebagaimana yang ditunjukan oleh distensi vena leher. Hipotensi berkepanjangan meningkatkan kemungkinan terjadinya gagal renal. Tanda-tanda awal dapat mencakup penurunan tekanan darah. hemoragi dan syok adalah yang umum terlihat. Asuhan keperawatan pasca pembedahan mirip dengan tindakan cedera penetrasi jantung 25 . maka tindakan yang dilakukan serupa dengan untuk infark miokardial akut. Tabel 2. Pada peristiwa transfusi multipel. Manakala kontusi sudah dipastikan. Setelah operasi perbaikan.akan terlihat tanpa adanya perubahan dalam insoenzim. Luka tikam kecil yang mengenai ventrikel ada kalanya menutup sendiri karena tebalnya muskulatur ventrikuler. risiko terhadap ARDS dan koagulasi intravascular diseminata makin tinggi (Tabel 44-4).4 Komplikasi yang Berhubungan dengan Transfusi Darah Multipel ARDS Koagulopati KID Hipokalemia atau Hiperkalemia Hipokalsemia Metabolik asidosis Hipotermia Kelebihan volume Reaksi Transfusi Penularan infeksi Cedera pada Pembuluh Darah Besar 3) Tamponade Tamponade jantung dapat terjadi akibat trauma penetrasi maupun trauma tumpul. Pada 10% sisanya. 2) Cedera penetrasi Cedera penetrasi pada jantung mengakibatkan kematian korban prarumah sakit sekitar 60% sampai 90% dari kasus. dan bunyi muffle pada jantung. kateter arteri pulmonal (SwanGanz) dan selang arterial dipasang unutk memudahkan pemantauan hemodinamik dengan cermat.

26 . Pada kasus yang langka. Kecurigaan akan cedera pada aorta atau pembuluh darah lainnya meningkat dengan adanya fraktur iga pertama dan kedua atau hemotoraks masif sebelah kiri. termasuk hipertensif ekstremitas atas dengan penurunan nadi ekstremitas bawah. meskipun tidak selalu ada. Tanda-tanda diagnostik tambahan. perbaikan atau pengkleman silang aorta totatik asending dapat menyebabkan iskemia medula spinalis. menyebabkan peradangan dan infeksi. Komplikasi-komplikasi serius termasuk gagal ginjal karena iskemia. Cedera pada subklavia atau arteri innominata dapat menyebabkan penurunan nadi pada ekstremitas atas. Tempat yang paling umum terjadinya cedera adalah dekat ligamentum arteriosum. dan trauma penetrasi sebagian besar melukai organ-organ berongga. Organorgan berongga pecah dan mengeluarkan isinya dan ke dalam rongga peritoneal. disertai dengan ARDS dan KID karena transfuse multipel. Secara umum. e. mengakibatkan paralysis pemanen dari ekstremitas bawah. ketidakstabilan hemodinamik. organorgan padat berespon terhadap trauma dengan perdarahan. Trauma tumpul kemungkinan besar menyebabkan kerusakan yang serius organ-organ padat.Sebagian besar pasien dengan transeksi atau robekan pada aorta mengalami pengeluaran darah sebelum sampai dirumah sakit. “Aneurisma palsu” ini dapat pecah setiap saat. atau tanda-tanda dan gejalagejala abdomen akut dilakukan eksplorasi dngan pembedahan. sehingga memerlukan diagnosa dan tindakan yang cepat. Trauma Abdomen Rongga abdomen memuat baik organ-organ yang padat maupun yang berongga. Pasien yang memperlihatkan adanya cedera abdomen penetrasi fasia dalam peritoneal. Diagnosis dini adalah penting pada trauma abdomen. Kematian mendadak dapat dihindari jika hemoragi benda didalam adventisia aortic.

Cedera penetrasi biasanya menyebabkan LPD positif. Namun skan CT tidak dapat terlalu diandalkan dalam mendeteksi cedera pada rongga-rongga berongga. getah asam lambung mengiritasi peritoneum dan dapat menyebabkan peritonitis. Meskipun kontusio usus ringan dapat diatasi secara konservatif (dekompresi lambung dan menunda masukan per oral). 1) Cedera pada Lambung dan Usus Halus Cedera lambung yang signifikan jarang ditemui. Pada sisi lain. distensi. pembedahan biasanya diperlukan untuk memperbaiki luka-luka penetrasi. Meskipun sering mengalami kerusakan oleh trauma penetrasi. namun pemberian anti biotik profilaktik dapat dilakukan kapan saja terjadi perforasi usus. Hipovolemia karena “spasium ketiga” serta timbulnya fistula atau obstruksi. Dekompresi pascaoperasi. rigiditas. atau sebagai tambahan LPD. Beberapa dari keadaan ini mengharuskan adanya tindakan pembedahan 27 . dipertahankan sampai fungsi usus pulih. Selang pemberi makan dapat dipasangkan segera pascaoperasi. guarding dan nyeri lepas. Penggunaan CT abdomen telah memperoleh popularitas dan sering digunakan. Potensial komplikasi lainnya termasuk perdarahan pascaoperasi. Cedera tumpul usus halus atau lambung dapat terlihat dengan adanya darah pada aspirasi nasogastrik atau hematemesis. maka resiko terhadap sepsis adalah kecil. Karena lambung dan usus halus mengandung jumlah bakteri yang signifikan. namun usus halus lebih umum mengalami cedera. Mobilitas usus di sekitar titik tetap (seperti ligamentum Treitz) mencetuskan terjadinya cedera dengan adanya perlambatan.Pasien dikaji untuk mendapatkan tanda-tanda abdomen akut. Eksplorasi pembedahan menjadi perlu dengan adanya awitan setiap tanda-tanda dan gejalagejala yang mengindikasikan cedera. baik dengan selang nasogastrik atau selang lambung.

tambahan. Sindrom malabsorpsi jarang terjadi kecuali jika lebih dari 200 cm usus telah diangkat. 2) Cedera pada Duodenum dan Pankreas Pankreas dan duodenum akan dibahas bersama-sama karena keduanya adalah organ-organ retroperitoneal dan secara anatomi dan fisiologi mempunyai hubungan yang dekat.

Diperlukan kekuatan yang besar untuk mencederai organ-organ ini, karena organ-organ ini terlindung dengan baik, jauh di dalam abdomen. Tanda-tanda dan gejala-gejala dapat mencakup abdomen akut, peningkatan kadar amylase serum, nyeri epigastrik yang menjalar ke punggung, mual, dan muntah-muntah. Laserasi minor atau kontusio hanya akan memerlukan pemasangan drain, sedangkan luka-luka besar memerlukan perbaikan pembedahan. pada kasus-kasus ini Prosedur pembedahan yang dilakukan termasuk pankreotikoduodenektomi,

anastomosis Roux-en-Y, dan pada keadaan yang langka, dilakukan pankreatektomi total. Pengkajian dan asuhan keperawatan pascaoperasi adalah sama untuk berbagai prosedur. Patensi drain harus dipertahankan dan pasien dipantau terhadap timbulnya fistula. Perlindungan terhadap kulit adalah penting jika fistula telah terbentuk, karena tingginya kandungan enzim dari getah pankreatin. Awitan Diabetes Militus jarang terjadi kecuali jika dilakukan pankreatektomi total. Cedera pada duodenum sendiri dapat disembuhkan dengan anastomosis primer atau Billroth II. Trauma tumpul pada duodenum juga dapat mengarah pada obstruksi duodenal. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan diatrizoate (Gastrografin) gastrointestinal atas. Obstruksi menyeluruh umumnya memerlukan drainase pembedahan dari hematoma. 3) Cedera pada Kolon Cedera pada kolon biasanya berkaitan dengan trauma penetrasi. Sifat dari cedera paling sering menuntut segera

28

dilakukannya operasi eksplorasi. Perbaikan primer adalah tindakan pilihan untuk laserasi kolon. Kolon mempunyai jumlah bakteri yang tinggi, tumpahnya isi kolon dapat mencetuskan terjadinya sepsis intra-abdominal, dan pembentukan abses. Asuhan keperawatan pascaoperasi difokuskan pada

pencegahan infeksi. Pada kasus perbaikan kolon eksterior, dan dilakukan anastomosis ujung-ke-ujung dan tempat perbaikan eksterior untuk memudahkan identifikasi kebocoran. Karena sepsis adalah komplikasi utama pada cedera kolon, mungkin diperlukan serangkaian prosedur radiografi dan pembedahan untuk

menemukan dan mengalirkan abses. 4) Cedera pada Hepar Setelah limpa, hepar adalah organ abdomen yang paling umum mengalami cedera. Baik trauma tumpul maupun trauma penetrasi dapat menyebabkan cedera. Pada banyak kasus, baik sifat dari cedera atau LPD positif atau skan CT digabung dengan kondisi klinis pasien akan menuntut dilakukannya pembedahan. Cedera pada hepar juga memrlukan drainase empedu dan darah pascaoperasi melalui drain. Setelah pembedahan, mungkin timbul syok hipovolemik dan koagulopati. Dengan koagulopati, perdarahn timbul dari berbagai tempat, sedangkan dengan hemostasis inkomplit

perdarahan terutama berasal dari tempat pembedahan. Asuhan keperawatan termasuk penggantian produk darah sambil memantau hematokrit dan pemeriksaan koagulasi. Pengkajian tipe dan jumlah selang drainase, disertai keseimbangan cairan, juga adalah penting. Potensial komplikasi dari cedera hepar termasuk abses hepatic atau perihepatik, obstruksi atau kebocoran saluran empedu, sepsis, ARDS dan KID. 5) Cedera pada Limpa Limpa adalah organ abdomen yang paling umum mengalami cedera. Lebih sering sebagai akibat trauma tumpul.

29

Tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditunjukkan termasuk nyeri kuadran kiri atas menjalar sampai ke bahu kiri, syok hipovolemik, dan temuan-temuan nonspesifik dengan peningkatan jumlah sel darah putih. LPD, skan CT abdominal, atau pemeriksaan radionuklida biasanya penting untuk diagnosa. Orang dewasa dengan cedera minor atau kebanyakan anakanak ditangani tanpa tindakan operasi, dengan observasi

(serangkaian pemeriksaan abdomen, hematokrit) dan dekompresi nasogastrik. Tindakan pembedahan terdiri atas splenorafi atau splenektomi. Ototransplantasi splenik, suatu prosedur yang masih sangat baru dan controversial, terdiri atas implantasi fragmentfragment splenik ke dalam kantung omentum. Komplikasi dini termasuk perdarahan berulang, abses subfrenik, dan pankreatitis karena trauma pembedahan. Komplikasi akhir terdiri atas trombositosis dan sepsis berat postplenektomi (SBPS). Penyuluhan harus difokuskan pada deteksi terhadap tandatanda dan gejala-gejala dari infeksi. Autotransplantasi splenik terbukti dapat bermanfaat dalam menurunkan insiden SBPS. f. Cedera pada Ginjal 1) Cedera Vaskular Cedera penetrasi dapat mengarah baik pada hemoragi “bebas”, hematoma terkandung, atau berkembangnya trombus intraluminal. Tanda-tanda dan gejala-gejala, jika ada, terdiri atas hematuria, nyeri, dan massa panggul. Skan CT, pielogram intravena, atau engiogram biasanya dapat membantu dalam menegakkan diagnosa. Laserasi yang lebih kecil diperbaiki, sedangkan cedera yang lebih besar mengharuskan dilakukan nefrektomi. Pengkajian pascaopersi dan dukungan fungsi ginjal adalah penting. Mungkin diberikan dopamine dosis rendah, dan

keseimbangan cairan optimal harus dipertahankan untuk menjamin

30

nyeri abdomen bawah. paling sering sebagai konsekuensi trauma tumpul. Cedera pada kandung kemih dapat menyebabkan ekstravasasi urine intraperitoneal atau ekstraperitoneal. Diagnosanya serupa dengan cedera vskular ginjal. Hemoragi sekunder adalah penyebab yang paling sering dari kematian dini. sedangkan sepsis menyebabkan penundaan mortalitas. Transfusi multipel dan pemantauan hemodinamik diperlukan dalam kasus hemoragi yang 31 . 2) Cedera Parenkin Trauma tumpul atau penetrasi dapat menyebabkan laserasi atau kontusio parenkin ginjal atau pecahnya system koligentes. Angiogram seringkali diperlukan untuk menemukan letak dan menyumbat sumber perdarahan. Adanya hematuria. atau ketidakmampuan berkemih memerlukan pemeriksaan terhadap cedera uretra dengan uretrogram retrogad sebelum pemasangan kateter urine. Ekstravasasi ekstraperitoneal sering dapat ditangani dengan drainase kateter. g. Komplikasi jarang terjadi namun dapat saja terjadi infeksi karena kateter urine atau sepsis akibat ekstravasasi urine. dan awitan lambat hipertensi. Cedera pada kandung kemih seringkali berhubungan dengan fraktur pelvic. Pembedahan diperlukan untuk cedera yang lebih besar. berkembangnya fistula uriner.perfusi ginjal. Perhatian utama dari perawat unit perawatan kritis adalah untuk mencegah syok hemoragi. Komplikasi lainnya termasuk perdarahan. sepsis (terutama dengan ekstravasasi dari urine yang terinfeksi). Komplikasi utama terdiri atas trombosis arterial atau vena dan gagal ginjal akut. 2) Fraktur Pelvik Fraktur pelvik yang kompleks berkaitan dengan mortalitas yang tinggi. Trauma Pelvik 1) Cedera pada Kandung Kemih Kandung kemih dapat mengalami laserasi atau pecah.

penyusutan otot). dan penutupan intima. Trauma pada Ekstremitas 1) Fraktur Fraktur sering terjadi pada trauma tumpul. 2) Cedera Vaskular Cedera vaskular sering kali mengakibatkan perdarahan atau trombosis pembuluh. sensasi. Perawat harus mengkaji nadi distal. Segera setelah periode pasceoperasi. Asuhan keperawatan harus diarahkan terhadap pencegahan dan deteksi dini tentang masalah-masalah ini. dan suhu ekstremitas yang cedera. kurang jarang pada trauma penetrasi. Perawat juga harus bekerja sama dengan terapis fisik untuk meningkatkan kekuatan dan mobilisasi dini. gerakan. sejalan dengan perawatan luka dan pin.signifikan. Tanggung jawab keperawatan termasuk pengkajian status neurovaskuler. Angiogram juga dapat digunakan untuk menentukan tempat cedera dan mengidentifikasi fistula arteriovenosa. warna kulit. Manakala radiografi sudah memastikan adanya fraktur. Komplikasi utama lain dari fraktur pelvik termasuk keterlibatan saraf pelvik dan emboli pulmonal. maka harus dilakukan stabilitasi atau perbaikan fraktur. Fiksasi internal fraktur sering memungkinkan ambulasi dini pada pasien dengan cedera multipel yang mungkin akan mengalami komplikasi akibat tirah baring berkepanjangan (ulkus dekubitus. h. Cedera vaskular biasanya disebabkan oleh trauma penetrasi. emboli pulmonal. dan kurang sering karena fraktur. Dilakukan perbaikan pembedahan primer atau tandur vaskuler. Penting untuk dilakukan terapi fisik yang berkepanjangan dan rehabilitsi yang sering. pseudoaneurisme. Indeks ankle-brakial (ABI) seringkali berguna dalam mendeteksi perkembangan oklusi setelah trauma 32 . terdapat resiko perdarahan berlanjut atau oklusi trombotik dari pembuluh.

Mengikuti perintah 5. dan Motorik (gerakan). Trauma kepala Penilaian Trauma kapitis 1) Penurunan kesadaran Penurunan kesadaran merupakan tanda utama trauma kapitis. Verbal (kemampuan berbicara). Berorientasi baik 4. Eye 4.ekstremitas bawah. Membuka terhadap nyeri 1. Perawat juga harus memperhatikan perkembangan sindrom kompartemen. yakni Eye (mata). Suara merintih atau menerang 1. Berbicara tapi tidak berbentuk kalimat 3. Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang) 3. Membuka terhadap suara 2. GCS memakai 3 komponen. Metode ini memberikan data yang lebih objektif ketimbang hanya meraba nadi. Tidak ada respon Verbal 5. Melokalisir nyeri 4. Ekstensi abnormal (deserebrasi) 33 . Penurunan ABI menunjukan peningkatan gradient tekanan yang menembus pembuluh. Saat ini penurunan kesadaran dinilai memakai Glosgow Coma Scale (GCS). Berbicara kacau atau tidak sinkron 2. dan merupakan keharusan untuk dikuasai oleh setiap para medic. Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma Lanjutan a. tidak ada respon Motorik 6. Membuka spontan 3. 2. Fleksi abnormal (dekortikasi) 2.

GCS Sedang (GCS=9-13) Penderita masih mampu menuruti perintah sederhana namun biasanya tampak bingung atau mengantuk dan dapat desertai deficit neurologis fokal seperti hemiparesis. seperti misalnya perdarahan intra-kranial.1. Sebanyak 10-20% dari penderita cedera otak sedang mengalami pemburukan dan jatuh dalam koma. Pupil Kedua pupil mata harus diperiksa. 2) Tanda lateralisasi Tanda lateralisasi disebabkan karena adanya suatu proses pada satu sisi otak. Dapat disertai riwayat hilangnya kesadaran yang singkat namun sulit untuk dibuktikan terutama bila dibawah pengaruh alcohol atau obat-obatan 2. Motorik 34 . GCS Ringan (GCS=14-15) Penderita tersebut sadar namun dapat mengalami amnesia berkaitan dengan cedera yang dialaminya. tidak ada respon (flasid) Keadaan koma apabila diterjemahkan ke GCS adalah : Tidak membuka mata : Eye =1 Tidak dapat berkata-kata : Verbal =2 atau 1 Tidak dapat mengikut perintah : Motorik = 5 Maka koma adalah GCS 8 atau kurang. Biasanya sama lebar (3mm) dan reaksi sama cepat apabila salah satu lebih lebar (lebih dan 1mm). 3. GCS Berat (GCS 3-8) Penderita dengan cedera kepala berat tidak mampu melakukan perintah sederhana walaupun status kardiopulmonalnya telah stabil. maka keadaan ini disebut sebagai anisokoria. Tingkatan GCS 1.

Airway dan Breathing Gangguan airway dan breathing sangat berbahaya pada trauma kapitis karena akan dapat menimbulkan hipoksia atau hiperkarbia yang kemudian akan menyebabkan kerusakan otak skunder. Nyeri kepala hebat c. namun apabila ditemukan maka harus sangat waspada. karena reflex menelan dan reflex batuk kemungkinan sudah tidak ada sehingga ada bahaya obstruksi jalan nafas. pupil dan tanda lateralisasi yang lain. Penurunan kesadaran dalam bentuk penurunan GCS lebih dan 1 (2 atau lebih) menandakan perlunya konsultasi bedah syaraf 35 . Disability Selalu dilakukan penilaian GCS. Tekanan darah sistolik meninggi d. Dengan demikian syok trauma kapitis harus dilakukan penanganan dengan agresif. apabila salah satu lengan atau dan tungkai kurang atau sama sekali tidak bereaksi maka disebut sebagai adanya tanda lateralisasi 3) Tanda-tanda peningkatan tekanan intra-kranial (TIK) a. Oksigen selalu diberikan dan bila pernafasan meragukan lebih baik memulai ventilasi tambahan. Circulation Gangguan Circulation (syok) akan menyebabkan gangguan perfusi darah keotak yang akan menyebabkan kerusakan otak sekunder. Pusing dan muntah proyektil b. Tanda-tanda peninggian tekanan intra-kranial tidak mudah untuk dikenali. 4) Pengelolaan cedera kepala Pada setiap cedera kepala harus selalu diwaspadai adanya fraktur sevikal.Dilakukan perangsangan pada kedua lengan dan tungkai. Bila koma harus dipasang jalan nafas definitive. Nadi melambat (bradikardia) e.

sehingga hanya 10% yang memerlukan operasi.dengan cepat. Nilai peranjakan kedua sisi dada penderita apakah teraba simektris atau tidak oleh kedua tangan pemeriksa. Trauma Torak Trauma torak sering ditemukan.berbeda dengan bagian paru yang lain. Pada daerah paru berbunyi sonor. 90% pada penderita dengan trauma toraks ini dapat diatasi dengan tindakan yang sederhana oleh dokter rumah sakit (atau paramedic dilapangan). b. pada daerah jantung berbunyi redup (dull).Pada keadaan hemotorak akan berbunyi redup (dull) 4) Auskultasi Auskultasi dilakukan pada 4 tempat yakni dibawah kedua klavikula. Pemeriksaan Fisik Paru 1) Inspeksi Pemeriksaan paru dilakukan dengan melihat adanya jejas pada kedua sisi dada. sekitar 25% dan penderita multitrauma ada komponen trauma toraks. 3) Perkusi Dengan mengetukan jari tengah terhadap jari tengah yang lain yang diletakan mendatar di atas dada.Pada pemeriksaan klinis penderita aka nada gejala penekanan airway seperti stridor inspirasi dan suara serak.Pada keadaan pnuemothorax akan berbunyi hipersonor.serta ekspansi kedua paru simektris atau tidak 2) Palpasi Palpasi dilakukan dengan kedua tangan memegang kedua sisi dada.dan pada kedua mid-aksila (kosta 4-5) bunyi nafas harus sama kiri sama dengan kanan. 36 .(pada garis mid-klavikularis) .sedangkan diatas lambung (dan usus) berbunyi timpani. Selalu ingat upayakan mencegah kerusakan otak sekunder. Jenis Trauma Torak Manifestasi : gangguan airway (obstruksi) Penekanan pada trakea didaerah toraks dapat terjadi karna mislnya fraktur seternum.

Pada ekspirasi segman akan menonjol keluar.hilang suara nafas pada satu sisi.Tension pneumothorax juga ditandai dengan gejala nyeri dada.dan ditensi venaleher 3) Hematothorax massif Pada keadaan ini terjadi perdrahan hebat dalam rongga dada. Flail chest mungkin tidak terlihat pada awalnya.Tekanan didalam rongga pleora akan segera menjadi sama dengan tekanan atmosfer.Pada perkusi dada akan dull karan adarah dalm rongga pleura (pada pneumothorax adalah hipersonor) 4) Flail chest Terjadinya flail chest dikarnakan fraktur iga multiple pada dua atau lebih tulang dengan dua atau lebih garis fraktur. 37 .Gerkan pernafasan menjadi buruk dan torak bergerak secara asimetris dan tidak terkoordinasi.Palpasi gerakan pernafasan yang abnormal dan krepitasi iga atau fraktur tulang rawan membentuk diagnosis. karna spilnthing pada awalnya (terbelat) dengan dinding dada. 2) Tension pneumothorax Penyebab tersering dari tension pneumothorax adalah komplikasi penggunaan fentilasi mekanik (Ventilator) dengan fentilasi tekanan positif pada penderita yang ada kerusakan pada pleura visceral.distress pernafasan takikardea.Manifestasi : gangguan breathing (sesak) Ada 4 gangguan breathing : 1) Pneumotoraks terbuka /open pneumo-thorax (sucking chest wound) Depek atau luka yang besar pada dinding dada akan menyebabkan pneumo-thorax terbuka.pada inspirasi justru akan masuk kedalam ini dikenal sebagai pernafasan paradogsal.Adanya sigmen flail chest (segmen mengambang) menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada.hipotensia deviasi trakea.Pada keadaan ini akan terjadi sesak karna darah dalam rongga pleura dan sok karna kehilangan darah.sesak yang berat.

pisau lipat. golok. sehingga tidak adanya rasa nyeri. kaca atau benda-benda yang menancap. Sering kali terjadi bahwa diagnostic akan adanya cedera intra-abdomen terlambat karena: 1) Gejala dan tanda yang ditimbulkannya kadang-kadang lambat. luka bacok atau luka tembak. obeng. 4) Pemakaian obat-obatan atau minuman keras. 2) Adanya penurunan kesadaran karna ada cedera kepala yang bersamaan. Trauma tajam di Indonesia cukup sering terjadi umumnya disebabkan oleh luka tikam. dada. umumya pada senjata sipil/polisi 38 .Juga dapat terjadi pada tampo nade jantung. misalnya dikepala. sehingga gejala nyeri abdomen tidak ada. Luka tembak bisa disebabkan menjadi 2 (dua) jenis: 1) Kecepatan rendah : < 1000 feet/detik. Insiden Trauma abdomen bisa disebabkan karna trauma tajam dan trauma tumpul. Pada luka bacok biasanya penderitanya mengalami luka-luka ditempat lain. dileher.Manifestasi : circulation (shok) Cidera torak yang akan mempengaruhi sirkulasi yang harus ditemukan pada primary survey adalah hemotorak mosip karna terkumpulnya darah dengan cepat dirongga pleura. c. Trauma Abdomen Trauma abdomen akan ditemukan pada 25% penderita multi-trauma. Penderita umumnya pria dari kelompok usia produktif.walaupun trauma tumpul juga dapat menyebabkannya.walaupun penderita tidak dalam keadaan sesak namun dalam keadaan shok ( syok nonhemoragik ) terjadi paling sering karna luka tajam jantung. 3) Adanya cedara spinal. Mekanisme trauma Luka tikam bisa dibedakan oleh pisau. extremitas dan kadang-kadang menimbulkan syok hypovolemik.

Penanganan Trauma Abdomen Pada dasarnya semua trauma abdomen tumpul dan dan tajam.abdomen bagian depan dan belakang diteliti apakah mengalami ekskoriasi atau memar. Shifting dullness (adanya darah dalam abdomen) terjadi kalau pasien dimiringkan. Palpasi Tujuan palpasi adalah untuk mendapatkan adanya nyeri lepas yang kadang-kadang dalam. Pemeriksaan color dubur sangat penting pada trauma tajam abdomen dan bila ditemukan adanya darah pada sarung tangan berarti ada cedera pada usus. Bila pada pemeriksaan tidak ditemukan tanda dan gejala klinis yang positif kita harus hati-hati dan tetap waspada.2) Kecepatan tinggi : > 3000 feet/detik. Perkusi Dengan perkusi bisa kita ketahui adanya nada tympani karna dilatasi lambung akut dikwadran kiri atas ataupun adanya perkursi redup bila ada hemoperitoneum. 39 .atau team harus melakukan resusitasi dan stabilisasi secepat mungkin. umumnya pada senjata standar militer Gejala Dan Tanda Trauma Abdomen Pada trauma tajam abdomen seharusnya kita mampu mendeteksi cedera yang potensial pada organ-organ intra abdomen. Inspeksi Semua pakaian harus dilepas. Perkusi mengakibatkan pergerakan peritoneum dan mencetuskan tanda peritonitis. Disini penolong atau tim harus melakukan resusitasi dan stabilisasi secepat mungkin. tusukan dan sebagainya dengan cara log roll Auskultasi Lakukan auskultasi untuk mendengarkan bising usus terdengar atau tidak. Dengan palpasi juga kita dapat menentukan besarnya uterus dan usia kehamilan. penanganan awal tindakan penyelamatan selalu didahulukan dan mengacu prosedur ABCDE.m adakah laserasi.

d penurunan tingkat kesadaran. Circulation Kebanyakan trauma abdomen tidak dapat dilakukan tindakan apaapa pada fase pra-RS namun terhadap syok yang menyertainya perlu penanganan yang agresif c. 2. trauma. Risiko bersihan jalan nafas tidak efektif b. DIAGNOSA Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kegawatdaruratan trauma adalah: 1. dan apapun yang ditemukan. Risiko tinggi penurunan curah jantung 4. Airway dan breathing Ini diatasi terlebih dahulu. 6. b. Risiko tinggi gangguan perfusi jaringan serebral b.d perdarahan daerah serebral sekunder trauma langsung.d trauma mekanik 40 . ingat untuk memprioritaskan airway dan breathing terlebih dahulu. Kerusakan intergritas kulit b. jangan dicabut tetapi dilakukan fikasi benda tersebut terhadap dinding perut.. Pola nafas tidak efektif b. Apabila ditemukan usus yang menonjol keluar (eviserasi) cukup denga menutupnya dengan kasa steril yang lembab supaya usus tidak kering. Selalu ingat bahwa cedera bisa lebih dari satu area tubuh. Risiko tinggi penurunan perfusi jaringan perifer b. d.d berkurangnya volume darah sekunder perdarahan.d masuknya benda asing (darah). Disability Tidak jarang trauma abdomen disertai dengan trauma kapitis.a. Apabila ada benda menancap. C. risiko lidah menutupi jalan nafas sekunder penurunan penjahat. kerusakan neurologis sekunder peningkatan tekanan intracranial. 5. 3. Selalu periksa tingkat kesadaran (dengan GCS) dan adanya lateralisasi (pupil anisokor dan motorik yang lebih lemah satu sisi).

Pernafasan regular. perhatikan apakah ada bunyi nafas abnormal 2) Monitor pernafasan. INTERVENSI No 1.7.Pengembangan dada kanan dan kiri teratur . . Risiko tinggi infeksi b. dalam dan kecepata teratur . kedalaman.Hasil AGD dalam Intervensi Mandiri: 1) Auskultasi bunyi nafas.Batuk efektif. perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi 3) Berikan posisi datar 4) Lakukan suction Kolaborasi: 1) Intubasi dengan ETT (Endo-Trakeal Tube) no. 7. tindakan invasif. Mandiri 1) Observasi frekuensi. terapi. kecepatan. wheezing (-).d menurunnya kesadaran. D. dalam dan kecepatan nafas teratur . dan irama pernafasan tiap 2 jam 2) Observasi penggunaan otot bantu pernafasan tiap 2 jam 3) Perhatikan pengembangan dada simetris atau tidak tiap 2 jam 4) Auskultasi bunyi nafas.Trakea midline .Pernafasan regular. ronkhi ().d kerusakan integritas kulit. wheezing dan creckles 5) Lakukan sution bila perlu Kolaborasi 1) Intubasi dengan ETT 2) Gunakan Ventilator 41 2. . trauma. kerusakan neurologis sekunder peningkatan tekanan intracranial.Tanda dan gejala obstruksi pernafasan tidak ada: stridor (-).5 2) Berikan premedikasi ventilator  fentanyl 1 amp 3) Pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah). trauma. Risiko tinggi penambahan cedera b.Suara nafas vesikuler kanan dan kiri Tujuan : Selama 1 x 24 jam Pola nafas efektif Kriteria hasil: . sesak nafas (-).Suara nafas vesikuler kanan dan kiri .d perdarahan sekunder fraktur mandibula Tujuan dan Kriteria Hasil Tujuan: Selama 1 x 24 jam Bersihan jalan nafas efektif Kriteria hasil: . Pola nafas tidak efektif b. wheezing (-). refleks menelan baik .d penurunan tingkat kesadaran.Tanda dan gejala obstruksi pernafasan tidak ada: stridor (-). Diagnosa Risiko bersihan jalan nafas tidak efektif b. proses ambulasi 8. perhatikan bila ada ronkhi. .Pengembangan dada kanan dan kiri simetris .

PEEP 5.Kesadaran meningkat . Penatalaksanaan pada pasien dengan henti jantung Di bawah ini 42 .Penghentian aliran Kolaborasi darah 1) Monitor hasil AGD .Tidak tampak tanda2) Evaluasi status neurologis daerah serebral tanda peningkatan tiap 2 jam sekunder trauma tekanan intracranial. seperti: muntah GCS tiap jam proyektil. FiO2 80%.TTV dalam batas peningkatan tekanan normal intracranial tiap jam . 3) Kaji tingkat kesadaran dan langsung.3 PSIMV 12 bpm.Tekanan intracranial 0-15 mmHg batas normal E. PSV 5.d Kriteria hasil: jam perdarahan . 4) Observasi tanda nyeri kepala hebat dan perdarahan penurunan kesadaran 5) Monitor tanda-tanda . 3) Pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah). perfusi jaringan jaringan serebral adekuat catat kekuatan nadi tiap serebral b.Tekanan perfusi otak 60-90 mmHg . papil edema. 4) Pertahankan OPA (OroPharingeal Airway) Risiko tinggi Tujuan: Mandiri gangguan Selama 1 x 24 jam Perfusi 1) Kaji dan pantau TTV.

Berikan antiaritmia.75 mg/kgbb iv) maks 3 dosis 14. selama defribilator di charge. Lanjutkan CPR. 1. Cek nadi 7. Ulangi CPR segera setelah DC Shock. Cek nadi 12  Jika Asistole. 2. Berikan DC Shock. Ulangi CPR 5 siklus 5. kemudian jika perlu tambahkan 150 mg iv 1 kali) atau lidocaine (11. Jika tidak ada nadi. 5 siklus= 2 menit  Hindari hiperventilasi. Atau vasopressin sebagai pengganti epinephrine dgn dosis 40 U. ulangi setiap 3-5 menit. 1. selama defribilator di charge. lihat box 10.:  Manual Biphasik: Sama dengan dosis pertama/ lebih tinggi  Monophasik: 360 J 2. Lihat box 4 8. Nadi tidak teraba Berikan RJP Berikan Oksigen Pasang Monitor 9. Cek nadi 10. lihat box 10  Jika ada aktivitas listik. Cek nadi 4 1.  Atropine 1 mg iv untuk asistole/ slo PEA. Berikan DC Shock. hipoksia 43 .  Monofasik (360 J). berikan selama dilakukan RJP (sebelum dan sesudah dc shock). berikan:  Epinephrine 1 mg iv. Ventrikel Fibrilasi/ Ventrikel Takikardia 2.:  Manual Biphasik: Sama dengan dosis pertama/ lebih tinggi  Monophasik: 360 J 2.  \Cari dan atasi factor yang berkontribusi: hipovolemia. Jika jalur IV tersedia.  Lindungi jalan nafas  Rotasi kompresor setiap 2 menit. Ulangi CPR segera setelah DC Shock.5-0. Selama CPR:  Tekan keras dan cepat (100/menit)  Pastikan kembalinya dada dengan sepenuhnya  Minimalisasi iterupsi selama CPR  1 siklus CPR= 30 kompresi kemudian 2 nafas.5 mg/kgbb dosis pertama. Asistole/PEA 3. Jika jalur iv tersedia. Lanjutkan CPR. amiodarone (300 mg iv.   1. berikan:  Epinephrin 1 mg iv. chek nadi. Ulangi CPR selama 5 siklus. atau. ulaangi setiap 3-5 menit  Atau berikan vasopressin 40 U iv untuk menggantikan epinephrin 11. Ulangi setiap 3-5 menit smapi 3 dosis 6. lakukan postresusitation care. dosis selanjutnya: 0. dengan mengecek nadi terlebih dahulu. 13. Berikan DC Shock  Manual Bifsik (120-200 J).  Jika ada nadi.

lakukan RJP selama 5 siklus disertai dengan alat bantu nafas. Kotak 3. 1. Kompresi dilakukan dengan kecepatan 100x/menit dan ventilasi diberikan sekitar 8-10 kali/menit. pemberian defribilasi memberikan keberhasikan setelah dilakukan kompresi dada yang adekuat. Pengecekan nadi dan irama jantung tidak perlu dilakukan setelah RJP selama 5 suklus (kira-kira 2 menit).5 Defribilasi dilakukan 1 kali dengan energy 350 J dengan menggunakan defribilator monofasik. 44 .4. Dan tindakan defribliasi harus dilakukan secepat mungkin. setelah diberikan bantuan nafas 2 kali dan pemeriksaan nadi ternyata tidak teraba. segera lakukan tindakan fibrilasi. Jika alat bantu nafas sudah terpasang (endotracheal tube. Kotak 1 dan 2 Segera lakukan RJP secara terus menerus pada menit pertama. Jika tidak diketahui jenis defribilasi. maka kompresi tidak perlu dihentikan saat pemberian ventilasi. Pada saat kompresi. saat mengecek irama jantung. Segera lakukan pemasanagan intravena. 2. jika tidak terjadi perubahan irama. atau saat defribilasi siap diberikan. Tetapi jika VF/VT tanpa nadi yang tersaksikan dan defribilator tersedia. tidak diizinkan untuk terlalu serng dihentikan karena akan menurunkan perfusi ke otak. Jika VF/VT tanpa nadi tidak tersaksikan. untuk defibilator bifasik menggubakan energy 250-200 J. laryngeal mask. Setelah defribilasi dilakukan. lakukan RJP selama 5 siklus sebelum defribilasi dilakukan. Kompresor harus digantikan setiap 2 menit untuk menghindari kelelahan yang dapat mengakibatkan kompresi dada tidak adekuat. tetapi tidak boleh mengganggu tindakan RJP atau tindakan defribilasi. pada orang dewasa yang mengalami henti jantung yang sudah lama. maka diberikan 200 J. Idealnya hanya berhenti pada saat ventilasi diberikan.Penjelasan Alogaritma Ventrikel Fibilasi dan Ventrikel Takikardia tanpa nadi. jika belum menggunakan alat bantu nafas devinitife. segera lakukan RJP selama 5 siklus (kira-kira 2 menit). kemudian lakukan pengecekan irama. conbitube).

Pengecekan irama harus dilakukan dalam waktu sangat singkat. dengan dosis awal amiodaron 300 mg diencerkan dalam 20-30 ml cairan dextrose 5% atau Nacl 0. Maka antiartimia seperti amiodaron dapat diperimbangkan untuk diberikan.9% sebanyak 20 ml. Pemberian obat-obatan pada saat RJP diberikan tanpa harus menghentikan RJP. Setelah obat diberikan. Tetapi pilihan pertama yaitu vasopressor yaitu adrenalin 1 mg diberikan setiap 3-5 menit sekali atau vasopressor dapat diberikan sebagai pengganti adrenalin atau sebagai pbat kedua. Kotak 9 Di monitor menunjukan irama asistole atau PEA. 45 . dan pengecekan nadi hanya dilakukan jika terjadi perubahan irama. Jika terdapat keraguan mengenai keadaan nadi (teraba/tidak) lakukan RJP. dan irama tersebut teratur (QRS jelas. serta vasopressor teah diberikan dan irama belum berubah. kemudian pastikan irama lalu defribilasi dilakukan dengan energy yang sama seperti energy sebelumnya. Kotak 8 Jika setelah dilakukan 2 atau 3 defribilasi dan RJP.5-0. Jika penederita kembali pada sirkulasi spontan (nadi teraba) segera mulai penatalaksanaan pada pasca resusitasi. Penjelasan Alogaritma Asistole dan Pulseless Electrical Activity (PEA) 1. teratur dan sempit). Kotak 6 dan 7 Obat-obatan pada alogaritma VF/VT tanpa nadi diberikan setelah 1 atau 2 kali defribilasi dan RJP dilakukan. amiodaron dapat diulang dengan dosis 150 mg per iv/io.3. dosis maksimal 3 mg/kg. Vasopressor diberikan dengan dosis tunggal 40 unit.9% diikuti cairan pembilas dextrose 5% atau Nacl 0.75 mg/kg jika VF/VT tanpa nadi menetap. RJP dilakukan selama 5 siklus atau 2 menit. Pemberiannya dapat diulang 5-10 menit dengan sosis 0. 4. yaitu diberikan segera setelah pengecekan irama dilakukan dan dapat diberikan sebelum dan sesudah defribilasi. Apabila irama menjadi asistole atau PEA lihat alogaritma selanjutnya (kotak 9 dan 10).

RJP dilakukan tanpa harus menghentikan kompresi dada untuk pemberian ventilasi. jika irama berubah yang membutuhkan tindakan defribilasi lihat alogaritma pada kotak 4 dan jika irama berubah menjadi irama yang teratur.2. Setelah alat bantu jalan nafa terpasang. Jika irama tidak berubah maka RJP dilakukan dilanjutkan kembali seperti pada kotak 10. nadi teraba. Pengecekan nadi dilakukan kembali untuk memastikan terjadi adanua perubahan irama. setelah pemberian obat kemudian RJP dilakukan selama 2 menit. 46 . RJP dilakukan dengan cara melakukan kompresi dada dengan kecepatan 100 kali/menit dan ventilasi 8-10 kali/menit. Vasopressin dapat diberikan sebagai pengganti adrenalin atau sebagai obat kedua setelah adrenalin. dengan dosis tunggal 40 unit. Kotak 10 RJP dilakukan selama 5 siklus diikuti dengan pemasangan alat bantu nafas devinitif dan pemasangan intravena. kemudian pengecekan nadi dilakukan kembali. Adrenalin diberikan dengan dosis 1 mg setiap 3-5 menit. identifikasi irama EKG tersebut dan lakukan penatalaksanaan sesuai irama yang tampak atau lakukan penatalaksanaan pasca resusitasi. Waktu yang tepat untuk pemberian obat adalah segera setelah dilakukan pengecekan nadi. Vasopressor seperti adrenalin atau vasopressin diberikan segera setelah intravena dipasang. tanpa menghentikan tindakan RJP.

nafas cuping hidung (+).BAB III TINJAUAN KASUS A.08/07 Ragunan. sputum (-). Rahang asimetris. otot bantu pernafasan (+). wheezing (-/-). klien ditemukan tidak sadar di dalam got dan mekanisme kejadian?  tidak ada saksi. pengembangan dinding dada asimetris (+). pola regular. ronchi (-/-). PENGKAJIAN I. sumbatan hidung/secret (+) yaitu darah. PENGKAJIAN KEPERAWATAN PRIMER 1. Pasar minggu Jakarta Selatan Pekerjaan Agama Suku bangsa Status perkawinan Pendidikan terakhir Tanggal masuk Tanggal pengkajian : Pelajar : Islam : Betawi. Indonesia : Belum Menikah : SMP : 17 Mei 2012 : 17 Mei 2012 II. gurgling (+). cepat dan dangkal. penggunaan alat bantu pernafasan (-). alat bantu (-). Klien langsung dibawa ke Rumah sakit tanpa ditangani di tempat kejadian. DATA UMUM Inisial klien Umur Alamat : Tn. 47 . T. A: Airway dan kontrol servikal: Sumbatan mulut (+) yaitu darah dan air liur.Harsono Rt. dada kiri tertinggal. stridor (+). B: Breathing : RR: 28x/menit.P : 18 th : Jl. klien mengendarai sepeda motor tanpa helm. batuk (-). Pengkajian Keluhan utama: Klien dibawa ke RS setelah kecelakaan sepeda motor.

wheezing (-).Batuk efektif. perdarahan sekunder fraktur mandibula. GCS:6  E: 2.d masuknya benda asing (darah). b) Bersihan jalan nafas tidak efektif b. V: 1. M: 2.Lakukan Intervensi Mandiri: 1) Auskultasi bunyi nafas. mengalir. D: Disability : Kesadaran Stupor. Diagnosa Bersihan jalan nafas tidak efektif b. nadi carotis teraba S: 36. dalam dan kecepatan nafas teratur .banyak.Tanda dan gejala obstruksi pernafasan tidak ada: stridor (-). kulit wajah berwarna pucat.C: Circulation : TD: 80/45 mmHg. pupil isokor.d perdarahan sekunder fraktur mandibula Tujuan dan Kriteria Hasil Tujuan: Bersihan jalan nafas efektif Kriteria hasil: . sianosis (-). perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi 3) Berikan posisi datar 4) Lakukan suction 5) Lakukan jaw trust 6) Jaga agar pagar tempat tidur terpasang dengan aman 7) Gunakan teknik Log Role. 2.d perdarahan sekunder fraktur mandibula c) Penurunan perfusi jaringan perifer b. Diagnosa ABCD: a) Bersihan jalan nafas tidak efektif b. refleks menelan baik . Terdapat perdarahan pada kepala bagian frontalis. ronkhi (). .Suara nafas vesikuler kanan dan kiri . ketika memiringkan 8) mobilisasi area leher dan tulang belakang Kolaborasi: 1) Pasang collar neck 48 . akral dingin. pengisian kapiler >2 detik. Nadi radialis dan brakhialis tidak teraba.80C. Intervensi keperawatan No 1.Pernafasan regular. perhatikan apakah ada bunyi nafas abnormal 2) Monitor pernafasan. risiko lidah menutupi jalan nafas. 3. arteri berdenyut.Pengembangan dada kanan dan kiri simetris .d berkurangnya volume darah sekunder perdarahan.

PEEP 5. peningktan nyeri 49 .d berkurangnya volume darah sekunder perdarahan.Pernafasan regular.2. sesak nafas (-). kerusakan neurologis sekunder peningkatan tekanan intracranial.Pengembangan dada kanan dan kiri teratur . wheezing (-). kecepatan.d penurunan tingkat kesadaran.Urine output 1 cc/KgBB/jam . Gangguan perfusi jaringan perifer b. 3) Pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah). .Trakea midline .Tanda-tanda vital dalam batas normal . 4) Pertahankan OPA (OroPharingeal Airway) Mandiri 1) Observasi penurunan kesadaran yang tiba-tiba 2) Kaji adanya pucat (akral dingin) 3) Observasi tanda-tanda vital 4) Kaji kekuatan nadi perifer 5) Kaji tanda-tanda dehidrasi 6) Observasi intake dan output cairan 7) Lakukan balut tekan pada area perdarahan 8) Observasi tanda-tanda iskemia ekstremitas tibatiba.Akral hangat .Tanda dan gejala obstruksi pernafasan tidak ada: stridor (-). trauma. FiO2 80%. 4) Pemasangan OroPharingeal Airway (OPA Mandiri 1) Observasi frekuensi. Pola nafas tidak efektif b. PSV 5.Analisa gas darah dalam batas normal 2) Berikan 02 nasal 4L/menit 3) Pemeriksaan labortaorium AGD (Analisa Gas Darah). kedalaman.Suara nafas vesikuler kanan dan kiri . perhatikan bila ada ronkhi. wheezing dan creckles 5) Lakukan sution bila perlu Kolaborasi 1) Intubasi dengan ETT 2) Gunakan Ventilator PSIMV 12 bpm. dalam dan kecepata teratur . Tujuan: Perfusi jaringan adekuat Kriteria Hasil: . Tujuan : Selama 1 x 24 jam Pola nafas efektif Kriteria hasil: .Hasil AGD dalam batas normal 3.Pengisian kapiler <2 detik . misalnya penurunan suhu. dan irama pernafasan tiap 2 jam 2) Observasi penggunaan otot bantu pernafasan tiap 2 jam 3) Perhatikan pengembangan dada simetris atau tidak tiap 2 jam 4) Auskultasi bunyi nafas.

Wheezing (-/-) . teringgal dada sebelah kanan .Penggunaan otot bantu nafas (+) .Intubasi ETT S: (-) O: . dada. perhatikan apakah ada bunyi nafas abnormal . hemostase darah) 2) Pemberian RL (Ringer Laktat) resusitasi 500 cc 3) Lakukan pemeriksaan Rontgen kepala.Terpasang collar neck . dan .Auskultasi bunyi nafas.RR: 12x/menit dalam. perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi 3) Memberikan posisi datar 4) Melakukan suction 5) Melakukan jaw trust 6) Menjaga agar pagar tempat tidur terpasang dengan aman 7) Menggunakan teknik Log Role.Stridor (-) .2 Mandiri 1) Mengobservasi frekuensi.RR: 12 x/menit 50 Dx.Gurgling (-) .Nafas cuping hidung (+) . 4) Perekaman Elektrokardiografi 5) Pemberian obat-obatan 4. kecepatan. kimia darah. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan Diagnosa Tindakan Dx 1 Mandiri: 1) Mengauskultasi bunyi nafas 2) Memonitor pernafasan.Lakukan suction .Ronchi (-/-) .Berikan posisi datar .Kolaborasi 1) Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap. irama reguler . kedalaman.Berikan 02 nasal 4L/menit .Lakukan jaw trust Kolaborasi: . ketika memiringkan 8) mengimobilisasi area leher dan tulang belakang Kolaborasi 1) Memasang hard collar neck 2) Memberikan O2 nasal 4L/menit 1) Memasang Oro-Pharingeal Airway (OPA) SOAP S: (-) O: .Pengembangan dada.Monitor pernafasan. dan CT-Scan kepala. perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi .Bed side rell terpasang A: Bersihan Jalan nafas efektif P: Lanjutkan intervensi Mandiri: .

perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi .irama pernafasan tiap 2 jam 2) Mengobservasi penggunaan otot bantu pernafasan tiap 2 jam 3) Memperhatikan pengembangan dada simetris atau tidak tiap 2 jam 4) Mengauskultasi bunyi nafas.2 (normal) A: Pola nafas efektif P: Lanjutkan intervensi Mandiri: .PO2 : 205.N: 97x/menit .Total CO2: 19. bengkak (-).Wajah kemerahan . teringgal dada sebelah kanan . perhatikan bila ada ronkhi.3 (rendah) .BE (Base Excess) : -5.Infus terpasang.Intake: 1200cc .4 .Auskultasi bunyi nafas.1 (tinggi) .Akral hangat .S: 36.Nadi perifer (radialis dan brakhialis teraba lemah) .PCO2 : 30. 51 .pH : 7.Berikan posisi datar Kolaborasi: . flebitis (-).Kesadaran stupor .392 (normal) . misalnya penurunan suhu.3 Mandiri 1) Mengobservasi penurunan kesadaran yang tiba-tiba 2) Mengkaji adanya pucat (akral dingin) 3) Mengobservasi tanda-tanda vital 4) Mengkaji kekuatan nadi perifer 5) Mengkaji tanda-tanda dehidrasi 6) Mengobservasi intake dan output cairan 7) Melakukan balut tekan pada area perdarahan (frontalis) 8) Mengobservasi tanda-tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba.Mukosa mulut lembab . 3) Mempertahankan OPA (OroPharingeal Airway) - Dx. V:1 .Pengisian kapiler < 2 detik . M:2.GCS: 5  E:2.HCO3 : 18. S: (-) O: .Pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah).Output: 1100cc . Gurgling (-) Stridor (-) Ronchi (-/-) Wheezing (-/-) Penggunaan otot bantu nafas (+) Nafas cuping hidung (+) Pengembangan dada.Intubasi ETT .4 (normal) .TD: 102/63 mmHg .Hasil lab AGD .Pasang ventilator PSIMV .7 (rendah) . perhatikan apakah ada bunyi nafas abnormal .70C .Monitor pernafasan.Turgor kulit baik . wheezing dan creckles Kolaborasi 1) Mempersiapkan Intubasi dengan ETT dan pengggunaan ventilator 2) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah).O2 saturasi : 99.

dada. hemostase darah . 4) Melakukan pemeriksaan Rontgen kepala. susp.Lanjutkan RL (Ringer Laktat) 500 cc/8 jam .9% 1 kolf + HES 1 kolf. dada. kimia darah. c) Pemeriksaan fisik 1) Keadaan Umum: sedang 2) Kesadaran : Compos Mentis.peningkatan nyeri Kolaborasi 1) Melakukan pemeriksaan laboratorium (darah lengkap. peningktan nyeri Kolaborasi . hemostase darah) 2) Melakukan pemasangan infus pada brakhialis kiri dan kanan (2 line) 3) Memberikan RL (Ringer Laktat) resusitasi 8 kolf + 1 kolf Nacl 0. syok hipovolemik. III. BB/TB : 53 kg/151 cm 3) Tanda vital TD : 105/67 mmHg 52 .Kaji adanya pucat (akral dingin) .Observasi tanda-tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba. 5) Melakukan perekaman Elektrokardiografi 6) Pemberian obat-obatan A: Perfusi jaringan perifer adekuat P: lanjutkan intervensi Mandiri . b) Diagnosa medis masuk: CKB (Cedera Kepala Berat). misalnya penurunan suhu.Tunggu hasil Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap.Menunggu hasil pemeriksaan Rontgen kepala. Fraktur mandibula. kimia darah.Kaji kekuatan nadi perifer . dan CTScan kepala. PENGKAJIAN KEPERAWATAN SEKUNDER a) Alasan masuk Rumah Sakit Klien dibawa ke RS setelah kecelakaan sepeda motor + 1 jam yang lalu.Kaji tanda-tanda dehidrasi .Trauma tumpul thorax. dan CT-Scan kepala. Fraktur kompresi frontalis.Observasi intake dan output cairan . klien ditemukan tidak sadar di dalam got dan mekanisme kejadian tidak diketahui karena tidak ada saksi.Observasi penurunan kesadaran yang tiba-tiba .Observasi tanda-tanda vital . klien mengendarai sepeda motor tanpa helm. Klien langsung dibawa ke Rumah sakit tanpa ditangani di tempat kejadian.

luka dalam dan fraktur di area frontal  Wajah: kemerahan. refleks pupil +/+. deformitas (-). stomatitis (+). kebersihan baik. kebersihan baik Leher: Pembesaran kelenjar getah bening (-). Nadi : 91 x/menit Pernafasan : 10 x/menit Suhu : 36. distribusi rambut tebal dan pendek. nyeri (+). mukosa lembab. caries gigi (+). epistaksis (+) Mulut: bibir kering. Telinga: Normal. serumen kering. fraktur mandibula (+)      Mata: Konjungtiva anemis +/+.8⁰C 4) Kepala Leher Kepala: kebersihan rambut kurang. benjolan (-). distensi vena jugular (-) 5) Dada 53 . sekret (-). sinusitis (-). sklera anikterik +/+. pembesaran kelenjar tiroid (-). Hidung: Normal. pupil isokor +. polip (-).

54 . Varises : -/-. nadi teraba lemah dan cepat. gallop (-). murmur(-). pernafasan vesikuler (+/+). 9) Eliminasi   Urine Kebiasaan BAK : tidak terkaji BAB Kebiasaan BAB: tidak terkaji 10) Istirahat dan kenyamanan :     Pola tidur : tidak terkaji Keluhan ketidaknyamanan : tidak terkaji 11) Mobilisasi dan latihan Mobilisasi: diatas tempat tidur dan imobilisasi Latihan: Tidak mampu melakukan rentang gerak 12) Nutrisi dan Cairan  Asupan nutrisi: puasa dan diberikan nutrisi parenteral  Asupan cairan.  Jantung: bunyi jantung S1/S2 (+). pengisian kapiler < 2 detik. wheezing (-/-) 6) Abdomen        Kandung kemih : penuh Fungsi Pencernaan : Bising usus (+) 4x/menit 7) Perinium Genital Testis: tidak ada kelainan Penis: tidak ada kelainan Hemoroid: (-) 8) Ekstremitas Ekstremitas atas : edema +/+. akral hangat. suara tambahan (-). Paru: pengembangan dada tidak simetris otot bantu nafas (+). ronchi (-/-). pengisian kapiler < 2 detik. Ekstremitas bawah: edema : -/-. nadi teraba lemah dan cepat.

67 17/5/2012 12:43 7.2 32.7 3.6 1.6 – 8.d.7 25 7.9 31.40-5.0-34.3 31.3 g/Dl 33-45 % 5.5 43 21.8 28.5 – 5.6-1.0-10.6 14.27 123 252.0 19 0.0 g/dL 11.9 183 2.3 13.5-14.0 ribu/uL 150-440 ribu/uL 4.4-39.3-14.4 346 4.7 11 70-140 108 27.5 mg/dl 20-40 mg/dl 6.2 13.2-17.5 17.6 1.90 uta/uL 07:46 13.5 % 92.7 detik 212-433 mg/ml < 300 ng/mL 29.4 28.3 detik 11.73 55 .0-36.0 pg 32.27 34.0 600 80-100 fl 26.2 90.5 17.3 13.6 14.2 1.2 32. Hasil pemeriksaan laboratorium PEMERIKSAAN NILAI NORMAL HASIL 17/5/2012 Darah lengkap Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Eritrosit VER/HER/KHER/RDW VER HER KHER RDW Hemostase APTT Kontrol APTT PT Kontrol PT INR Fibrinogen Kontrol fibrinogen D-Dimer Glukosa darah Gula darah sewaktu Fungsi ginjal Kreatinin Ureum Protein total Albumin Fungsi hati 0.

0-24.7 -2. Tak tampak pergeseran struktur midline Poros dan cervikum tak tampak menyempit 56 .0-108.2 7.2 98. Mulai setinggi garis orbita.1 18.0 mmHg 83.4 -5.5-2.392 30. Tak tampak perdarahan subarachnoid di fissure intrahemisfer posterior dan cyterna supragerminal    Tak tampak hematom epidural/ subdural atau perdarahan intraparenkimal Sistem ventrikel baik.80 108 O/ Rh (+) 7.0 mmol/L 7.440 35.0 mmol/L 95-99.0-28.1 26.7 205.370-7.5 mmol/L 19. potongan aksial.373 39.7 98.3 20.0%% -2.0 e. tebal irisan 3-10 mm.0 mmHg 21.4 19. Hasil pemeriksaan penunjang 1) CT-Scan kepala Dilakukan pemeriksaan CT scan kepala tanpa kontras.3 99.0-45.SGOT SGPT Elektrolit serum Natrium Kalium Klorida SERO-IMUNOLOGI Golongan darah ANALISA GAS DARAH pH PCO2 PO2 HCO3 O2 saturasi BE (Base Excess) Total CO2 0-34 U/I 0-40 U/I 75 47 34 17 135-147 mmol/l 3. Hasil sbb:   Sulci serebri sedikit menyempit. Gray dan white matter masi bisa dibedakan Fissure serebri tak menyempit.10-5.10 mmol/l 95-108 mmol/l 139 4.

fraktur multiple sphenoid dextra. Terapi Medis Tindakan  Intubasi ETT dan gunakan ventilator PSIMV 12 bpm. spinodalis. Tulang tampak fraktur kompresi. dinding anterior sinus frontal dekstra. Fraktur dinding lateral sinus ethmoid trilateral. KESAN    Perdarahan supra-ethmoiddi fissure intrahemisfer posterior dan sisterna quadrigerminal Edema serebri Fraktur kompressi frontalis. ethmoidalis. PSV 5. dan frontalis bilateral. 57 . Fraktur dinding anterior sinus maksilaris bilateral dan os-nasal. ethmoidalism dan frontalis bilateral 2) Rontgen thorax Kesan:    Corakan paru normal Tidak ada fraktur iga Ukuran jantung dalam batas normal f. fraktur multiple ethmoid dekstra.   Subilateral hematom di frontalis parietal Hematosinus di sinus maksilaris. frktur dinding lateral sinus ethmoid bilateral. Dinding posteriolateral sinus ethmoid sinistra. FiO2 80%. fraktur dengan fragmen multiple dinding anterior-posterior sinus frontal dextra. Dinding posterolateral sinus spinoid sinistra. fraktur dengan fragmen multiple dinding anterior-posterior sinus frontalis dan dinding posterior sinus frontal dekstra. PEEP 5. fraktur dinding anterior sinus maksilaris bilateral  Perselubungan di sinus maksilaris.

CaCl2 0. KCl 0.Suplai ion bikarbonat . HES (Hydroxyetyl Starches) 500 cc/ 24 jam Komposisi : Starches tersusun atas 2 tipe polimer glukosa. air untuk injeksi ad 1.3 gram. laktat asidosis.2 gram. kerusakan sel hati.Asidosis metabolic Kontra Indikasi Hipernatremia. NaCl 6 gram. Indikasi : Penggunaan HES pada resusitasi post trauma dapat menurunkan 58 .000 mL.Resusitasi .Oral                 Paracetamol 3 x 1 tab Ferrous 2 x 1 tab Parenteral Ceftriaxone 2 x 2 gr (IV) Levoflxacin 1 x 500 mg (IV) Ozid/Omeprazole 2 x 1 Neulin/ citicholine 2 x 500 mg Ranitidine 3 x 1 amp (IV) Dexamethasone 4 x 50 mg Sucralfat 4 x 15 cc Vitamin C 3 x 1 amp (IV) Ketorolak 3 x 30 mg (IV) Tetagam (IM) Fentanyl 1 amp (IV) Ringer laktat 500 cc/ 8 am  20 tts/menit HES 500 cc/24 jam Packed Red Cells (PRC) 950 cc Intravena Fluid Therapy No 1 2 Obat-obatan Ringer laktat 500 cc/ 8 am  20 tts/menit (IV) KOMPOSISI Komposisi: Per 1000 mL Natrium laktat 3. kelainan ginjal. yaitu amilosa dan amilopektin. Indikasi: .1 gram.

sehingga dapat menurunkan resiko kebocoran kapiler.  penggunaan bersama obat-obat anti radang non steroid dengan Quinolon dapat meningkatkan resiko stimulasi sistem saraf pusat 59 . Sepsis.  Pada syok hipovolemia diperoleh innvestigasi bahwa HES dan albumin menunjukkan manifestasi edema paru yang lebih kecil dibandingkan kristaloid.  Penilaian secara teratur fungsi ginjal. infeksi saluran kemih yang berkomplikasi & pielonefritis (radang ginjal serentak dengan radang pasu ginjal) akut.  HES juga mempunyai kemampuan farmakologi yang sangat menguntungkan pada kondisi sepsis yaitu menekan laju sirkulasi dengan menghambat adesi molekuler. Penggunaan HES pada sepsis masih terdapat perdebatan.  Terpapar sinar matahari secara berlebihan harus dihindari. hati.  Dengan menjaga COP. Kontra Indikasi Hipersensitivitas.  Pasien yang diketahui atau diduga menderita kelainan sistem saraf pusat yang bisa mempunyai kecenderungan kejang atau ambang kejang rendah. Kontraindikasi : Cardiopulmonary bypass.  Dianjurkan untuk memonitor secara ketat glukosa darah. disamping itu HES tetap bisa digunakan untuk menambah volume plasma meskipun terjadi kenaikan permeabilitas. dapat meningkatkan resiko perdarahan setelah operasi. dan hematopetik Interaksi obat :  absorpsi/penyerapan Levofloksasin dikurangi oleh antasida yang mengandung Al atau Mg dan obat-obat yang mengandung Fe. Perhatian  Insufisiensi ginjal. Levoflxacin 1 x 500 mg (IV) Indikasi Sinusitis maksilaris akut. pneumonia yang didapat dari komunitas.permeabilitas pembuluh darah. karena dapat meningkatkan resiko acute renal failure (ARF). sehingga dapat menimbulkan pruritus. infeksi kulit & struktur kulit tanpa komplikasi. dapat mencegah komplikasi lebih lanjut seperti asidosis refraktori. kumatnya penyakit atau gejala penyakit bronkhitis kronis secara mendadak akibat bakteri. Muncul spekulasi tentang penggunaan HES pada kasus sepsis. hal ini terjadi karena HES berefek antikoagulan pada dosis moderat (>20 ml/kg). Adverse reaction : HES dapat terakumulasi pada jaringan retikulo endotelial jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. dimana suatu penelitian menyatakan bahwa HES dapat digunakan pada pasien sepsis karena :  Tingkat efikasi koloid lebih tinggi dibandingkan kristaloid.

gemetar. gangguan pengecapan. kelemahan. Analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang nyeri. Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. edema.  antidiabetes. Indikasi  Pengobatan jangka pendek tukak usus 12 jari aktif. keringat berlebihan. perasaan tidak enak badan yang tidak jelas.v. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin.Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap. Konsentrasi puncak plasma dicapai 2–3 jam setelah pemberian dosis 150 mg./i. Sehingga untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan. moniliasis pada alat kelamin. muntah. Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesik narkotika. kadar dalam serum yang diperlukan untuk menghambat 50% perangsangan sekresi asam lambung adalah 36–94 mg/mL. Dalam bentuk sediaan injeksi IM (intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan kanker. keputihan. biduran/kaligata. vaginitis. gatal-gatal. dispepsia. kehilangan nafsu makan. Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan. tukak 60 . ruam kulit.m. susah buang air besar. sulit tidur. kembung. Kadar tersebut bertahan selama 6–8 jam. pusing. Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. mual. Fentanyl 1 amp (IV) Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Pada pemberian i.3 4 dan kejang. nyeri pada perut. Ranitidine diabsorpsi 50% setelah pemberian oral. Absorpsi tidak dipengaruhi secara nyata oleh makanan dan antasida. sakit kepala. Ranitidine diekskresi melalui urin. kegugupan. Efek Samping Diare. Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf pusat. Indeks Keamanan Pada Wanita Hamil C: Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada wanita dan hewan belum tersedia. Waktu paruh 2 ½–3 jam pada pemberian oral. muntah. Ranitidine 3 x 1 amp (IV) Farmakologi Ranitidine adalah suatu histamin antagonis reseptor H2 yang menghambat kerja histamin secara kompetitif pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung. gangguan tidur.

anafilaksis. trombositopenia (pada beberapa penderita). kasus hipersensitivitas yang jarang (contoh : bronkospasme. mual. demam. mengantuk. hematologis.  Lain-lain. muntah. vertigo. Kontraindikasi Penderita yang hipersensitif terhadap Ranitidine. granulositopenia.5 6 lambung aktif. sedikit peningkatan kadar dalam kreatinin serum Paracetamol 500 mg jika demam (oral) Indikasi Menghilangkan rasa sakit & penurun panas. Efek Samping Reaksi kulit. agitasi. eosinofilia). tukak lambung. Bubuk dan solusi untuk pelarut untuk injeksi Indikasi Ulkus duodenum. ulkus lambung dan refluks esofagitis. premature ventricular beats.  Hematologik : leukopenia. jarang terjadi : malaise. insomnia. depresi. diare. anemia aplastik pernah dilaporkan. jarang dilaporkan : artralgia dan mialgia. Subtance injeksi yang berisi: omeprazol natrium setara dengan omeprazol 40 mg . Kontra Indikasi Gagal ginjal & hati. jarang dilaporkan : aritmia seperti takikardia. sindroma Zollinger-Ellison Posology dan metode administrasi Ulkus duodenum. reaksi alergi yang lain OZID/ OMEPRAZOLE 2 x 1 Komposisi mengandung zat kering dan 1 ampul mengandung pelarut. mengurangi gejala refluks esofagitis.  Ranitidine injeksi diindikasikan untuk pasien rawat inap di rumah sakit dengan keadaan hipersekresi patologis atau ulkus 12 jari yang sulit diatasi atau sebagai pengobatan alternatif jangka pendek pemberian oral pada pasien yang tidak bisa diberi Ranitidine oral. bradikardia. Jarang dilaporkan : pankreatitis. ulkus lambung dan refluks esofagitis: Pasien yang  61 . Perhatian Pasien alkoholik. pusing.  Gastrointestinal : konstipasi.  Kardiovaskular.  Muskuloskeletal. trombositopenia. nyeri perut. Efek samping  Sakit kepala  Susunan saraf pusat. Bentuk sediaan farmasi . pansitopenia.  Pengobatan keadaan hipersekresi patologis (misal : sindroma Zollinger Ellison dan mastositosis sistemik). halusinasi. atrioventricular block. Terapi pemeliharaan setelah penyembuhan tukak usus 12 jari. Kasus jarang terjadi seperti agranulositopenia. edema angioneurotik.

 Kehamilan dan laktasi  Pragnancy: Seperti kebanyakan obat. Anak-anak : Hanya ada pengobatan experiance terbatas pada anakanak. Dosis yang lebih tinggi dan / atau beberapa dosis harian mungkin diperlukan. disfagia.  Laktasi: Menghentikan laktasi jika digunakan omeprazol dianggap penting Interaksi  ia pharmakokinetics: 'Dther obat kombinasi berikut dengan bubuk dan pelarut ozid jauh solusi untuk injeksi harus dihindari: ketoconazole dan itraconazole. Over dosis  Intravenouse dosis sampai 200 mg dalam sehari dan sampai 520 mg selama periode tiga hari telah diberikan tanpa ada efek yang 62 . warfarin. Pasien Lansia : Sebuah penyesuaian dosis tidak diperlukan pada pasien usia lanjut.  Karena intragastric penurunan keasaman. Intravena: dapat pemberi injeksi.  Khusus peringatan dan tindakan pencegahan khusus untuk digunakan  Dugaan penyakit maag harus diverifikasi secara objektif pada tahap awal dengan menggunakan sinar X atau endoskopi untuk menghindari pengobatan yang tidak memadai. dalam sindrom Zollinger-Ellison Dosis harus disesuaikan secara individual. Masa pengobatan yang biasa sebelum transfer ke pengobatan oral 2-3 hari. hematemesis atau melena. Gangguan fungsi hati : Pada pasien dengan gangguan fungsi hati clearance sangat berkurang. berulang muntah. penyerapan ketoconazole atau itraconazole dapat dikurangi selama terapi omeprazol. Kontraindikasi  Dikenal hipersensitivitas untuk omeorazole. fenitoin) metabolised melalui enzim ini dapat diharapkan. keganasan harus disingkirkan sebagai pengobatan dapat mengurangi gejala dan keterlambatan diagnosis.  Omeprazol menghambat enzym CYP2C19 dan karenanya memperlambat penghapusan obat lain (diazepam. ozid tidak boleh diberikan selama kehamilan dan menyusui kecuali penggunaannya dianggap penting. dimana solusi untuk injeksi harus oe gfven siowly selama sekurang-kurangnya 2 1 / 2 menit dan dengan tingkat maksimum 4 ml per menit. Fungsi ginjal : Sebuah penyesuaian dosis tidak diperlukan untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Ketika bisul perut hadir atau yang dicurigai atau di hadapan setiap gejala alarm berikut: unitentionaJ signifikan menurunkan berat badan.tidak dapat diberikan obat oral dapat diobati parerteraily dengan 40 mg sekali sehari. Sebuah dosis pengurangan 0 'obat ini mungkin diperlukan.

perut kembung. EFEK SAMPING  Rasa baal pada ekstremitas.  Akut : Kondisi tidak sadar sesudah trauma serebral kecelakaan lalu lintas dan operasi otak. Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal. muntah.Infeksi saluran kemih . apatis.Septisemia bakteri .Anak-anak dengan berat badan 50 kg atau lebih : dapat digunakan dosis dewasa melalui infus paling sedikit > 30 menit.Infeksi saluran pernafasan .Bayi 14 hari : 20 – 50 mg/kg berat badan sekali sehari .  Memperbaiki aliran darah serebral termasuk stroke iskemik. Ceftriaxone 2 x 2 gr (IV) Deskripsi: Ceftriaxone merupakan golongan sefalosporin yang mempunyai spektrum luas dengan waktu paruh eliminasi 8 jam. Bayi dan anak-anak di bawah 12 tahun : . Hentikan pemberian jika terjadi gejala syok dan ruam. sakit kepala.  Sensasi hangat pada kulit dan perubahan tekanan darah sementara 63 . serius dan progresif yang berhubungan dengan cedera otak dan operasi otak.7 8 tidak diinginkan  Gejala: Pusing.  Insomnia. PERHATIAN Pasien dengan kesadaran akut. Indikasi: Untuk infeksi-infeksi berat dan yang disebabkan oleh kuman-kuman gram positif maupun gram negatif yang resisten terhadap antibiotika lain : . pusing.0 g. Neulin/ citicholine 2 x 500 mg INDIKASI  Kronik : Gangguan psikiatrik atau saraf. sakit kepala.Infeksi tulang dan jaringan . Komposisi: Tiap vial mengandung ceftriaxone sodium setara dengan ceftriaxone 1.Bayi 15 hari s/d 12 tahun : 20 – 80 mg/kg berat badan sekali sehari . Ceftriaxone sangat stabil terhadap enzim ?-laktamase. takikardia. dosis tidak lebih dari 2 g sehari.  Mual dan muntah anoreksia. diare. lihat juga efek samping. Mual.Infeksi gonoreal . eksitasi dan konvulsi. kliren creatinin tidak lebih dari 10 ml/menit. Efektif terhadap mikroorganisme gram positif dan gram negatif.Infeksi kulit Dosis: Dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun : 1-2 g sekali sehari secara intravena Dosis lebih dari 4 g sehari harus diberikan dengan interval 12 jam.

ulkus peptikum. Sementara itu. yaitu anti tetanus serum (ATS) dan vaksin tetanustoxoid. KONTRA INDIKASI Herpes simpleks pada mata. PERHATIAN Hipotiroidisme. infeksi piogenik (infeksi yang bernanah) atau infeksi yang disebabkan oleh jamur. vaksin tetanus toxoid 0. terapi yang berkepanjangan. peningkatan keringat. tetapi keuntungan dari penggunaan oleh wanita hamil mungkin dapat diterima walaupun berisiko. (Misalnya jika obat digunakan untuk situasi menyelamatkan nyawa atau penyakit yang serius dimana obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif). yaitu: luka yang lebih dari 6 jam tidak ditan gan  Luka kurang dari 6 jam namun terpapar banyak kontaminasi  luka kurang dari 6 jam namun timbul karena kekuatan yang cukup besar (misalnya lukatembak atau terjepit mesin)  Penderita tidak memiliki riwayat imunisasi tetanus yang jelas ata u tidak mendapat booster selama 5 tahun atau lebih Epinephrine 1 mg (iv) Epinefrin (juga dikenal sebagai adrenalin) merupakan hormon dan neurotransmitter. juga mencegah tetanus pada kejadian lain dalam jangka waktukira-kira 6 bulan bila tanpa booster . gangguan penyembuhan luka. Indikasi suntikan ATS (Anti Tetanus Serum)  Luka cukup besar (dalam lebih dari 1 cm)  Luka berbentuk bintang  Luka berasal dari benda yang kotor dan berkarat  Luka gigitan hewan dan manusia  Luka tembak dan luka bakar  Luka terkontaminasi.5 ml tidak untuk mencegahtetanus saat itu. ATS/ Tetagam (IM) Suntikan tetanus ada 2 macam. osteoporosis. Cara kerja: 64 . sakit kepala. menghambat pertumbuhan pada anak-anak. penurunan toleransi karbohidrat. sehingga mencegah terjadinya tetanus di kemudian hari bila ternyata luka tersebut masih mengandung kuman. EFEK SAMPING Kelemahan otot. ATS sebanyak 1500 IU merupakan serum yang dapat langsung mencegah timbulnya tetanus. menstruasi tidak teratur. namun untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap tetanus. Dexamethasone/Deksametason 4 x 50 mg (IV) INDIKASI Peradangan.9 10 11 atau tidak enak badan. sirosis hati. alergi & penyakit lain yang responsif terhadap glukokortikoida. INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL Positif ada kejadian yang berbahaya pada janin manusia.

Adrenalin (Epinefrin) juga berefek pada timbulnya vasokontriksi karena stimulasi adrenoseptor-β pada otot polos dinding pembuluh darah perifer. kolaps KV. blok AV. fibrilasi ventrikel) Ggn ritma yang berhubungan dengan sindroma Wolf-Parkinson-White. Ggn ritme nodal. Efek adrenalin (Epinefrin) terutama pada arteriola kecil dan sfingter prekapiler sehingga tahanan perifer meningkat. hipotensi atrial berat.  Pada saluran nafas adrenalin (Epinefrin) mempunyai efek bronkodilatasi melalui stimulasi adrenoseptor polos bronkhus. insufisiensi jantung 65 . blok SA. Meningkatkan laju jantung. sick sinus sindroma. Kedua hal tersebut berakibat tekanan darah meningkat. Indikasi:  Acute Bronchospasme  Anaphylaxis  Angiodema  Atsma  Brokhospasme profilaksia  Cardiac Arest  Cardiopulmonarry Resusitation  Glaucoma 12 Cordarone 150 mg Kandungan  Amiodarone HCI.β1 jantung yang terjadi setelah pelepasan atau pemberian adrenalin (Epinefrin) berhubungan dengan kerja kronotropik positif dan inotropik positif atas jantung.  Adrenalin (Epinefrin) mempunyai efek meningkatkan tekanan darah melalui aktivasi adrenoseptor . melebarkan saluran udara dan berpartisipasi dalam respon fightor-flight dari sistem saraf simpatik . Amiodarone digunakan untuk membantu menjaga jantung berdetak dengan normal pada orang yang memiliki gangguan irama jantung tertentu pada bilik jantungnya (bilik jantung yang lebih kecil yang membiarkan darah mengalir keluar jantung). Kontra Indikasi  Sinus badikardi. Indikasi  Ggn ritme atrium (perubahan fibrilasi atau fluter). hamil. Ggn ritme ventrikel (takikardi ventrikel. Dengan demikian adrenalin (Epinefrin) juga mempunyai efek kronotropik positif (meningkatkan kecepatan denyut jantung) dan inotropik positif (memperkuat kontraksi myokardium) sehingga cardiac out put (curah jantung) meningkat. Cara Kerja Obat:  Amiodarone adalah obat anti-arrhythmic kelas III yang mempengaruhi irama detak jantung. kontraksi pembuluh darah. laktasi. kontraksi permatur.

pneumopati interstisial difus reversibel. hipotiroidisme. hipertiroidisme. 66 . Distiroidisme. intoleransi terhadap yodium. Efek Samping  Mikrodeposit kornea. dan pigmentasi. fotosensitisasi.akut.

Pengembangan dada.70C HASIL CT-SCAN KEPALA: . 67 . trauma. Risiko tinggi gangguan perfusi jaringan serebral b.Penggunaan otot bantu nafas (+) .d masuknya benda asing (darah). teringgal dada sebelah kanan .Nafas cuping hidung (+) . 3 Penolong mengatakan: Klien dibawa ke RS setelah kecelakaan sepeda motor + 1 jam yang lalu.Fraktur kompressi frontalis. irama reguler .Tampak darah masih keluar dari luka robek didaerah mulut .Terpasang OPA .Edema serebri . V:1 .Perdarahan supraethmoiddi fissure intrahemisfer posterior dan sisterna quadrigerminal . kerusakan neurologis sekunder peningkatan tekanan intracranial.GCS: 5  E:2.TD: 102/63 mmHg .d penurunan tingkat kesadaran. teringgal dada sebelah kanan . klien ditemukan tidak sadar di dalam got dan mekanisme kejadian tidak diketahui karena tidak ada saksi. fraktur dengan fragmen multiple dinding anterior-posterior sinus Masalah Risiko bersihan jalan nafas tidak efektif b.Penggunaan otot bantu nafas (+) . 2 (-) Pola nafas tidak efektif b.Kesadaran stupor . perdarahan sekunder fraktur mandibula.Nafas cuping hidung (+) .Ronchi (-/-) .Pengembangan dada. irama reguler .IV.d perdarahan daerah serebral sekunder trauma langsung.Wajah kemerahan . M:2. ANALISA DATA No Data subjektif 1 (-) Data objektif Gurgling (+) Stridor (-) Ronchi (-/-) Wheezing (-/-) RR: 12x/menit dalam.S: 36.Gurgling (+) .N: 97x/menit .Akral hangat . risiko lidah menutupi jalan nafas. klien mengendarai sepeda motor tanpa helm.Wheezing (-/-) .RR: 12x/menit dalam.Stridor (-) .

frktur dinding lateral sinus ethmoid bilateral. Fraktur dinding anterior sinus maksilaris bilateral dan os-nasal.70C Nadi perifer teraba lemah Turgor kulit baik Mukosa mulut lembab Intake: 1200cc Output: 1100cc Pengisian kapiler < 2 detik Luka laserasi dalam diatas bibir Luka laserasi dalam di are frontalis Pus (-) Edema (+) Lasersi dangkal di area kaki. fraktur multiple sphenoid dextra. klien ditemukan tidak sadar di dalam got dan mekanisme kejadian tidak diketahui karena tidak ada saksi. klien mengendarai sepeda motor tanpa helm. Klien langsung dibawa ke Rumah sakit tanpa ditangani di tempat kejadian. (-) frontal dextra. ethmoidalism dan frontalis bilateral Akral hangat TD: 102/63 mmHg N: 97x/menit S: 36.d berkurangnya volume darah sekunder perdarahan. tangan dan dada Risiko tinggi penurunan perfusi jaringan perifer b. dinding anterior sinus frontal dekstra.- 4 (-) - 5 Penolong mengatakan: Klien dibawa ke RS setelah kecelakaan sepeda motor + 1 jam yang lalu.d trauma mekanik 6 - Muntah proyektil (-) Kesadaran stupor Risiko tinggi penambahan cedera 68 . Kerusakan intergritas kulit b. Subilateral hematom di frontalis parietal Hematosinus di sinus maksilaris. Dinding posteriolateral sinus ethmoid sinistra.

d kerusakan integritas kulit. c) Risiko tinggi gangguan perfusi jaringan serebral b.d berkurangnya volume darah sekunder perdarahan. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN a) Risiko bersihan jalan nafas tidak efektif b.d menurunnya kesadaran. V. terapi.d kerusakan integritas kulit. trauma.70C Luka laserasi dalam diatas bibir Luka laserasi dalam di are frontalis Pus (-) Edema (+) Lasersi dangkal di area kaki. M:2. d) Risiko tinggi penurunan perfusi jaringan perifer b. V:1 Turgor kulit baik Mukosa lembab Bed side rell terpasang Takiradia (-) Diaphoresis (-) Hematuria (-) Collar neck terpasang TD: TD: 102/63 mmHg N: 97x/menit S: 36. tindakan invasif. trauma. tindakan invasif. proses ambulasi Risiko tinggi infeksi b.d masuknya benda asing (darah). b) Pola nafas tidak efektif b.70C TD: TD: 102/63 mmHg N: 97x/menit S: 36.7 (-) - GCS: 5. terapi. trauma. kerusakan neurologis sekunder peningkatan tekanan intracranial. e) Kerusakan intergritas kulit b. 69 .d trauma mekanik f) Risiko tinggi penambahan cedera b. tangan dan dada b.d perdarahan daerah serebral sekunder trauma langsung. proses ambulasi g) Risiko tinggi infeksi b.d menurunnya kesadaran. perdarahan sekunder fraktur mandibula. risiko lidah menutupi jalan nafas. E: 2.d penurunan tingkat kesadaran.

Suara nafas vesikuler kanan dan kiri . kedalaman.Pernafasan regular. kecepatan. refleks menelan baik . Tujuan : Selama 1 x 24 jam Pola nafas efektif Kriteria hasil: . Diagnosa Risiko bersihan jalan nafas tidak efektif b.AGD dalam batas normal. 2.d penurunan tingkat kesadaran.Tanda dan gejala obstruksi pernafasan tidak ada: stridor (-). dalam dan kecepatan nafas teratur . INTERVENSI No 1.5 2) Berikan premedikasi ventilator  fentanyl 1 amp 3) Pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah).Trakea midline .Suara nafas vesikuler kanan dan kiri . wheezing (-). perhatikan apakah ada bunyi nafas abnormal 2) Monitor pernafasan.Batuk efektif. ronkhi (). PSV 5. FiO2 80%. 7. . wheezing dan creckles 5) Lakukan sution bila perlu Kolaborasi 1) Intubasi dengan ETT 2) Gunakan Ventilator PSIMV 12 bpm. . PEEP 5. wheezing (-). trauma.Pengembangan dada kanan dan kiri teratur .Hasil AGD dalam batas normal Intervensi Mandiri: 1) Auskultasi bunyi nafas.Pengembangan dada kanan dan kiri simetris . sesak nafas (-). Pola nafas tidak efektif b.Pernafasan regular. perhatikan bila ada ronkhi. dan irama pernafasan tiap 2 jam 2) Observasi penggunaan otot bantu pernafasan tiap 2 jam 3) Perhatikan pengembangan dada simetris atau tidak tiap 2 jam 4) Auskultasi bunyi nafas.VI. 3) Pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah).d perdarahan sekunder fraktur mandibular Tujuan dan Kriteria Hasil Tujuan: Selama 1 x 24 jam Bersihan jalan nafas efektif Kriteria hasil: . 70 . perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi 3) Berikan posisi datar 4) Lakukan suction Kolaborasi: 1) Intubasi dengan ETT (Endo-Trakeal Tube) no. Mandiri 1) Observasi frekuensi. kerusakan neurologis sekunder peningkatan tekanan intracranial.Tanda dan gejala obstruksi pernafasan tidak ada: stridor (-). dalam dan kecepata teratur .

Penghentian aliran Kolaborasi darah 1) Monitor hasil AGD .Akral hangat dingin) volume darah .Tanda-tanda vital 3) Observasi tanda-tnda vital sekunder dalam batas normal 4) Kaji kekuatan nadi perifer perdarahan.Urine output 1 output cairan cc/KgBB/jam 7) Observasi tanda-tanda . seperti: muntah GCS tiap jam. papil edema.Tekanan intracranial 0-15 mmHg Risiko tinggi Tujuan: Mandiri gangguan Perfusi jaringan perifer 1) Observasi penurunan perfusi jaringan adekuat kesadaran yang tiba-tiba perifer b. hemostase darah) 2) Pemberian RL 500 cc/24 jam  20 tpm 3) Perekaman Elektrokardiografi 4) Pemberian obat-obatan Kerusakan Tujuan : Mandiri integritas kulit Setelah 1 x 24 jam 1) Kaji tanda-tanda b. perdarahan . perfusi jaringan jaringan serebral adekuat catat kekuatan nadi tiap serebral b.Tidak tampak tanda2) Evaluasi status neurologis daerah serebral tanda peningkatan tiap 2 jam. kimia darah.TTV dalam batas peningkatan tekanan normal intracranial tiap jam . misalnya penurunan suhu.3 4 5. 4) Pertahankan OPA (OroPharingeal Airway) Risiko tinggi Tujuan: Mandiri gangguan Selama 1 x 24 jam Perfusi 1) Kaji dan pantau TTV.Analisa gas darah iskemia ekstremitas tibadalam batas normal tiba. proyektil. sekunder trauma tekanan intracranial. peningkatan nyeri Kolaborasi 1) Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap. 3) Kaji tingkat kesadaran dan langsung. .d Kriteria Hasil: 2) Kaji adanya pucat (akral berkurangnya .Tekanan perfusi otak 60-90 mmHg . 4) Observasi tanda nyeri kepala hebat dan perdarahan penurunan kesadaran 5) Monitor tanda-tanda .d trauma Integritas kulit dapat kerusakan kulit 71 .Pengisian kapiler <2 5) Kaji tanda-tanda dehidrasi detik 6) Observasi intake dan .Kesadaran meningkat .d Kriteria hasil: jam.

. kolor. diaphoresis. proses .Ht.Leukosit) 2) Penjahitan/ hecting luka Risiko tinggi Tujuan : Mandiri penambahan Klien tidak mengalami 1) Kaji status neurologis cedera b.Leukosit dalam batas 4) Lakukan penggantian dipertahankan Kriteria hasil: . takikardia. 2) Gunakan teknik septic dan aseptic untuk perawatan luka 3) Cegah infeksi yang dapat memperlambat penyembuhan luka 4) Jaga kebersihan diri klien 5) Lakukan perawatan luka 1 x sehari Kolaborasi 1) Pemeriksaan laboratorium (terutama Hb. integritas kulit.Memperlihatkan kemajuan penyembuhan luka pada daerah dahi dan mandibula 72 . 7) Jaga agar pagar tempat tidur terpasang dengan aman 8) Jika ingin dimiringkan.5) suhu tubuh meningkat .d cedera 2) Kaji tanda-tanda menurunnya Kriteria hasil: peningkatan tekanan kesadaran. edema) tindakan invasif. terutama suhu 3) Beri kompres biasa bila ( 36. hematuria.0-37.d Setelah 1 x 24 jam infeksi 1) Monitor tanda dan gejala kerusakan tidak terjadi infeksi ( rubor. lakukan menggunakan teknik Log Role 9) Imobilisasi area leher dan tulang belakang Kolaborasi 1) Pemasangan hard collar neck 2) Pemberian O2 4L/menit Risiko tinggi Tujuan: Mandiri infeksi b.Suhu normal intracranial terapi.TTV dalam batas 2) Observasi TTV tiap jam trauma normal. Kriteria hasil: dolor.Lokasi luka tampak bersih .Tanda vital dalam mukosa batas normal 5) Lakukan tindakan pengamanan lingkungan untuk mencegah cidera 6) Laporkan segera adanya penurunan tekanan darah.Klien bebas / tidak ada 3) Kaji status pernafasan ambulasi penambahan cidera 4) Kaji kulit dan membrane . pucat. .mekanik 6. 7.

- normal Luka bebas dari eksudat Tercapai masa penyembuhan luka linen dan bantu pasien untuk kebutuhan hygiene 5) Lakukan perawatan luka 1 x sehari Kolaborasi 1) Monitor hasil lab.Penggunaan otot bantu nafas (-) .T.Nafas cuping hidung (-) . Levoflxacin 1 x 500 mg (IV) 4) Berikan anti-tetanus  ATS (Anti Tetanus Serum) atau tetagam.Nafas dengan alat bantu Ventilator PSIMV 12 bpm.Stridor (-) . perhatikan apakah ada 73 . VII.Ronchi (-/-) . perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi 3) Memberikan posisi datar 5) Melakukan suction Kolaborasi: 1) Melakukan Intubasi dengan ETT (EndoTrakeal Tube) no.Wheezing (-/-) .Auskultasi bunyi nafas. perhatikan apakah ada bunyi nafas abnormal 2) Memonitor pernafasan. PSV 5. A: Bersihan Jalan nafas efektif P: Lanjutkan intervensi Mandiri: . FiO2 80%.Gurgling (-) . terutama leukosit 2) Berikan antipiretik jika demam paracetamol 500 mg 3) Berikan terpi antibiotic untuk profilaksis Ceftriaxone 2 x 2 gr (IV).P Usia : 18 tahun Diagnosa medis: CKB dengan fraktur kompressi frontalis Hari/tanggal: 1705/2012 Tanggal Dx Intervensi 17/5/2012 1 Mandiri: 1) Mengauskultasi bunyi nafas.5 2) Memberikan premedikasi ventilator  fentanyl 1 amp SOAP S: (-) O: . 7. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Nama pasien: Tn. PEEP 5.Pengembangan dada simetris .

1 (tinggi) . perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi .Pengembangan dada. kecepatan.HCO3 : 18.Hasil lab AGD .Auskultasi bunyi nafas. FiO2 80%.Pertahankan OPA S: (-) O: .Berikan posisi datar Kolaborasi: - 74 .17/5/2012 2 Mandiri 5) Mengobservasi frekuensi.pH : 7. perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi . 6) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah).392 (normal) .7 (rendah) .Berikan posisi datar .4 . PEEP 5.PO2 : 205. perhatikan apakah ada bunyi nafas abnormal .3 (rendah) . kedalaman. . perhatikan bila ada ronkhi.4 (normal) .Wheezing (-/-) .Stridor (-) .Nafas cuping hidung (+) .O2 saturasi : 99.Total CO2: 19. PSV 5.2 (normal) A: Pola nafas efektif P: Lanjutkan intervensi Mandiri: .PCO2 : 30. teringgal dada sebelah kanan .Pertahankan ETT dan lakukan perawatan ETT .Ronchi (-/-) . 7) Mempertahankan OPA (Oro-Pharingeal Airway) bunyi nafas abnormal Monitor pernafasan. PEEP 5. dan irama pernafasan tiap 2 jam 6) Mengobservasi penggunaan otot bantu pernafasan tiap 2 jam 7) Memperhatikan pengembangan dada simetris atau tidak tiap 2 jam 8) Mengauskultasi bunyi nafas. PSV 5.Gurgling (-) .BE (Base Excess) : -5.Nafas dengan alat bantu Ventilator PSIMV 12 bpm.Penggunaan otot bantu nafas (+) .Monitor pernafasan. wheezing dan creckles Kolaborasi 4) Membantu Intubasi dengan ETT 5) Membantu penggunaan Ventilator PSIMV 12 bpm.Lakukan suction . FiO2 80%.Lakukan jaw trust Kolaborasi: .

PEEP 5. misalnya penurunan suhu.Kaji kekuatan nadi perifer .Muntah proyektil (-) .Papil edema (-) .Pertahankan Ventilator PSIMV 12 bpm.Pemberian RL 500 cc/24 jam  20 tpm . peningkatan nyeri Kolaborasi .N: 99 x /menit . E: 1. hemostase darah) . FiO2 80%.Perekaman Elektrokardiografi 75 . kimia darah.Kaji adanya pucat (akral dingin) .TD: 101/59 mmHg .S: 36. .- 17/5/2012 3 Mandiri 1) Mengkaji dan pantau TTV.Nyeri kepala tidak dapat dinilai A: perfusi jaringan serebral tidak adekuat P: lanjutkan intervensi: Mandiri . S : (-) O: . catat kekuatan nadi tiap jam 2) Mengevaluasi status neurologis tiap 2 jam 3) Mengkaji tingkat kesadaran dan GCS tiap jam 4) Mengobservasi tanda perdarahan 5) Monitor tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial Kolaborasi 1) Memonitor hasil AGD Pertahankan ETT dan lakukan perawatan ETT .Refleks +/+ .30C .Masih terdapat perdarahan pada luka diatas bibir dan dahi sebelah kanan . V:1 .Observasi intake dan output cairan .Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap.P: dengan ventilator .GCS: 5.Observasi tanda-tanda vital .Pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah).Observasi tanda-tanda iskemia ekstremitas tibatiba.Kaji tanda-tanda dehidrasi .Kesadaran Stupor . M:3.Observasi penurunan kesadaran yang tiba-tiba . PSV 5.

Kesadaran : stupor .Observasi tanda-tnda vital .Mukosa lembab .Kaji adanya pucat (akral dingin) .5 .Sianosis (-) . misalnya penurunan suhu.Turgor kulit baik . hemostase darah) .GCS: 5. E: 1.4 (tinggi) .Kaji kekuatan nadi perifer . kuat dan teratur .N: 99 x /menit.Akral hangat .Observasi tanda-tanda iskemia ekstremitas tibatiba. kimia darah.Trombosit: 346 .P: dengan ventilator .67 A: perfusi jaringan perifer tidak adekuat P: lanjutkan intervensi Mandiri .Pengisian kapiler < 2 detik . peningkatan nyeri Kolaborasi .Kaji tanda-tanda dehidrasi .Pucat (+) .Observasi intake dan output cairan . misalnya penurunan suhu.S: 36.17/5/2012 4 Mandiri 1) Mengobservasi penurunan kesadaran yang tiba-tiba 2) Mengkaji adanya pucat (akral dingin) 3) Mengobservasi tandatanda vital 4) Mengkaji kekuatan nadi perifer 5) Mengkaji tanda-tanda dehidrasi 6) Mengobservasi intake dan output cairan 7) Mengobservasi tandatanda iskemia ekstremitas tiba-tiba.Leukosit: 21.30C .Hemoglobin: 13. kimia darah.Hematokrit: 43 .TD: 101/59 mmHg . V:1 .Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap.Refleks +/+ .Eritrosit: 4. M:3. peningkatan nyeri Kolaborasi 1) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (darah lengkap.Nadi perifer kuat dan teratur . hemostase darah) 2) memberikan RL 500 cc/24 jam  20 tpm 5) Melakukan perekaman Elektrokardiografi 6) Pemberian obat-obatan Pemberian obat-obatan S: (-) O: .Pemberian RL 500 cc/24 76 .Lakukan transfuse PRC .Observasi penurunan kesadaran yang tiba-tiba .

Tromosit: .Penjahitan/ hecting luka S: (-) O: .Jaga kebersihan diri klien .Badan masih tampak kotor oleh darah kering .Pemeriksaan laboratorium (terutama Hb.Pus (-) A: integritas kulit dapat dipertahankan P: lanjutkan intervensi : Mandiri .Gunakan teknik septic dan aseptic untuk perawatan luka .GCS: 5.Ht: .Hb: .Leukosit) .Kesadaran: stupor .Lakukan perawatan luka 1 x sehari Kolaborasi . M:3.9% dan betadine 70% .17/5/2012 5 Mandiri 1) Mengkaji tanda-tanda kerusakan kulit 2) Menggunakan teknik septic dan aseptic untuk perawatan luka 3) Mencegah infeksi yang dapat memperlambat penyembuhan luka 4) Menjaga kebersihan diri klien Kolaborasi 1) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (terutama Hb.Luka sobek di atas bibir dan dahi .Leukosit) 2) Penjahitan/ hecting luka jam  20 tpm Perekaman Elektrokardiografi .Kaji tanda-tanda kerusakan kulit .RR: dengan ventilator .Refleks (+/+) .Pemberian obat-obatan S: (-) O: .Ht.Pupil : isokor . E:1.Muntah proyektil (-) .Luka dibesihkan dengan NaCl 0.RR: dengan ventilator PSIMV 12 bpm.Leukosit . V: 1 .Ht.Cegah infeksi yang dapat memperlambat penyembuhan luka . FiO2 17/5/2012 6 Mandiri 1) Mengkaji status neurologis 2) Mengkaji tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial 3) Mengkaji status pernafasan 4) Mengkaji kulit dan membrane mukosa 77 .

Kaji status neurologis .5) Melakukan tindakan pengamanan lingkungan untuk mencegah cidera 6) Melaporkan segera adanya penurunan tekanan darah.Lakukan tindakan pengamanan lingkungan untuk mencegah cidera . 7) Menjaga agar pagar tempat tidur terpasang dengan aman 8) Memiringkan menggunakan teknik Log Role Kolaborasi 1) Pemasangan hard collar neck 2) Pemberian O2 4L/menit 80%.Hematuria (-) .Laporkan segera adanya penurunan tekanan darah.Kaji tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial . takikardia.Edema (-) .S: 36.Jaga agar pagar tempat tidur terpasang dengan aman .30C . diaphoresis. .N: 99 x /menit.Diaphoresis (-) . kolor. diaphoresis. hematuria. takikardia. dolor. kuat dan teratur .TD: 101/59 mmHg . PEEP 5.Bed side rell terpasang A: cedera tambahan tidak terjadi P: lanjutkan intervensi: Mandiri .Pucat (+) . PSV 5. kuat dan teratur 17/7/2012 7 Mandiri 1) Memonitor tanda dan gejala infeksi ( rubor. edema) 2) Mengobservasi TTV tiap jam 3) memberi kompres biasa bila suhu tubuh meningkat 78 . pucat. TD: 101/59 mmHg N: 99 x /menit.Kaji kulit dan membrane mukosa .Pertahankan hard collar neck S: (-) O: .Kaji status pernafasan .Kulit teraba normal .Imobilisasi area leher dan tulang belakang Kolaborasi . lakukan menggunakan teknik Log Role .Pus (-) .Jika ingin dimiringkan. pucat.Kemerahan (-) . hematuria.

30C .Kolaborasi 1) Memonitor hasil lab.Observasi TTV tiap jam .S: 36.Monitor tanda dan gejala infeksi ( rubor.Stridor (-) . 79 .Berikan antipiretik jika demam paracetamol 500 mg .Wheezing (-/-) .Gurgling (-) .T. perhatikan apakah ada bunyi nafas abnormal 2) Memonitor pernafasan.Nafas cuping hidung (-) . . kolor. perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi 3) Memberikan posisi datar 4) Melakukan suction Kolaborasi: 1) Mempertahankan dan perawatan ETT (EndoSOAP S: (-) O: .Beri kompres biasa bila suhu tubuh meningkat . terutama leukosit 2) Memberikan antipiretik jika demam paracetamol 500 mg 3) Memberikan terpi antibiotic untuk profilaksis Ceftriaxone 2 x 2 gr (IV).Nafas dengan alat bantu Ventilator PSIMV 12 bpm. Levoflxacin 1 x 500 mg (IV) 4) Memberikan antitetanus  ATS (Anti Tetanus Serum) atau tetagam. terutama leukosit . edema) .Penggunaan otot bantu nafas (-) . dolor.Berikan terpi antibiotic untuk profilaksis Ceftriaxone 2 x 2 gr (IV).Lakukan perawatan luka 1 x sehari Kolaborasi .P Usia : 18 tahun Diagnosa medis: CKB dengan fraktur kompressi frontalis Hari/tanggal: 18/05/2012 Tanggal Dx Intervensi 18/5/2012 1 Mandiri: 1) Mengauskultasi bunyi nafas.Lakukan penggantian linen dan bantu pasien untuk kebutuhan hygiene .Pengembangan dada simetris .Ronchi (-/-) .Monitor hasil lab.Leukosit: A: infeksi tidak terjadi P: lanjutkan intervensi Mandiri . Levoflxacin 1 x 500 mg (IV) Nama pasien: Tn.

5 2) Memberikan premedikasi ventilator  fentanyl 1 amp 3) Memantau hasi pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah).Monitor pernafasan. perhatikan bila ada .Pertahankan OPA Mandiri S: (-) 1) Mengobservasi frekuensi.Stridor (-) 2 jam .Trakeal Tube) no. 7.3 Ventilator PSIMV 12 . nafas. O: kecepatan.O2 saturasi : 98. (Analisa Gas Darah). A: Pola nafas efektif 3) Memantau hasil P: Lanjutkan intervensi pemeriksaan Mandiri: laboratorium AGD . PSV 5. PEEP 5.Wheezing (-/-) penggunaan otot bantu .Auskultasi bunyi nafas. perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi . perhatikan apakah ada bunyi nafas abnormal . 4) Mengauskultasi bunyi FiO2 80%. PSV 5.373 creckles .Hasil lab AGD: ronkhi.7 dengan ETT .Gurgling (-) dan irama pernafasan tiap . A: Bersihan Jalan nafas efektif P: Lanjutkan intervensi Mandiri: . PEEP 5.Lakukan suction Kolaborasi: .Penggunaan otot bantu nafas pernafasan tiap 2 jam (-) 3) Memperhatikan . PSV 5.PCO2 : 39.Ronchi (-/-) 2) Mengobservasi .Nafas cuping hidung (-) pengembangan dada .2 Kolaborasi .Pertahankan ETT dan lakukan perawatan ETT .Monitor pernafasan. perhatikan apakah ada bunyi 4) Mempertahankan OPA nafas abnormal (Oro-Pharingeal Airway) . FiO2 80%.Pengembangan dada simetris simetris atau tidak tiap 2 .7 2) Membantu penggunaan .BE (Base Excess) : -2. (normal) PEEP 5.pH : 7. . perhatikan rasio inspirasi 80 . . kedalaman.Berikan posisi datar .Auskultasi bunyi nafas.1 1) Membantu Intubasi . wheezing dan .0 bpm.Pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah).HCO3 : 26.PO2 : 98. 18/5/2012 2 FiO2 80%.Total CO2: 20.Nafas dengan alat bantu jam Ventilator PSIMV 12 bpm.

Muntah proyektil (-) .Pertahankan ETT dan lakukan perawatan ETT .373 . .S: 36. catat kekuatan nadi tiap jam 2) Mengevaluasi status neurologis tiap 2 jam 3) Mengkaji tingkat kesadaran dan GCS tiap jam 4) Mengobservasi tanda perdarahan 5) Monitor tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial Kolaborasi 1) Memonitor hasil AGD maupun ekspirasi .Pertahankan Ventilator PSIMV 12 bpm.Hasil lab AGD: .7 .Kaji tanda-tanda dehidrasi .2 .Total CO2: 20.Papil edema (-) .PO2 : 98. FiO2 80%.18/5/2012 3 Mandiri 1) Mengkaji dan pantau TTV.7 . M:3.Kaji adanya pucat (akral dingin) .GCS: 5.30C .Refleks +/+ .Observasi tanda-tanda vital . E: 1. V:1 .BE (Base Excess) : -2.PCO2 : 39.0 (normal) A: perfusi jaringan serebral tidak adekuat P: lanjutkan intervensi: Mandiri . PSV 5.Observasi penurunan kesadaran yang tiba-tiba .Berikan posisi datar Kolaborasi: .Kesadaran Stupor .P: dengan ventilator .Kaji kekuatan nadi perifer .3 .Luka sudah tertutup dan perdarahan (-) .Nyeri kepala tidak dapat dinilai .1 .O2 saturasi : 98. PEEP 5.Observasi intake dan output cairan .Pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah).Observasi tanda-tanda 81 . S : (-) O: .HCO3 : 26.N: 105 x /menit .pH : 7.TD: 95/67 mmHg .

Pemberian RL 500 cc/24 jam  20 tpm .S: 350C .18/5/2012 4 Mandiri 1) Mengobservasi penurunan kesadaran yang tiba-tiba 2) Mengkaji adanya pucat (akral dingin) 3) Mengobservasi tandatanda vital 4) Mengkaji kekuatan nadi perifer 5) Mengkaji tanda-tanda dehidrasi 6) Mengobservasi intake dan output cairan 7) Mengobservasi tandatanda iskemia ekstremitas tiba-tiba. 9) Memberikan bagging via ETT dengan kecepatan 10-12x/menit Kolaborasi 1) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (darah lengkap. karotis tidak teraba. kimia darah. hemostase darah) 2) memberikan RL 500 cc/24 jam  20 tpm 3) Melakukan perekaman Elektrokardiografi 4) Pemberian obat-obatan iskemia ekstremitas tiba-tiba.N: nadi radialis.Kesadaran : .Pemberian obat-obatan S: (-) O: .Pucat (+) .TD: 95/67 mmHg . brakhialis.Perekaman Elektrokardiografi . misalnya penurunan suhu.Akral dingin .Pupil : midriasis +/+ A: Pasien dinyatakan meninggal 82 . peningkatan nyeri Kolaborasi . misalnya penurunan suhu.EKG : asistole . kimia darah. hemostase darah) .Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap.GCS: 3 . peningkatan nyeri 8) Melakukan RJP 50 siklus dengan kecepatan 100x/menit. .

Cordarone 300 mg (2 ampul) via iv S: (-) O: .Muntah proyektil (-) .9% dan betadine 70% .Jaga kebersihan diri klien .Ht.Pus (-) A: integritas kulit dapat dipertahankan P: lanjutkan intervensi : Mandiri . E:1.Badan masih tampak kotor oleh darah kering .Tromosit: .Ht: .Leukosit .GCS: 5.Luka dibesihkan dengan NaCl 0. Sufas Atrophine 1 mg (1 ampul) via iv.RR: dengan ventilator .Lakukan perawatan luka 1 x sehari Kolaborasi . V: 1 18/5/2012 5 Mandiri 1) Mengkaji tanda-tanda kerusakan kulit 2) Menggunakan teknik septic dan aseptic untuk perawatan luka 3) Mencegah infeksi yang dapat memperlambat penyembuhan luka 4) Menjaga kebersihan diri klien Kolaborasi 1) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (terutama Hb.Ht.Refleks (+/+) .Cegah infeksi yang dapat memperlambat penyembuhan luka .   Epinephrine 4 mg (4 ampul) via iv. M:3.Kaji tanda-tanda kerusakan kulit .Kesadaran: stupor .Gunakan teknik septic dan aseptic untuk perawatan luka .Luka sobek di atas bibir dan dahi .Pupil : isokor .Pemeriksaan laboratorium (terutama Hb.Penjahitan/ hecting luka S: (-) O: .Leukosit) .Leukosit) 18/5/2012 6 Mandiri 1) Mengkaji status neurologis 2) Mengkaji tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial 3) Mengkaji status pernafasan 83 .Hb: .

diaphoresis.Kaji status neurologis . hematuria.N: 99 x /menit.S: 36. pucat.Bed side rell terpasang A: cedera tambahan tidak terjadi P: lanjutkan intervensi: Mandiri . kolor.Leukosit: 18/5/2012 7 Mandiri 1) Memonitor tanda dan gejala infeksi ( rubor. edema) 2) Mengobservasi TTV tiap jam 3) memberi kompres biasa bila suhu tubuh meningkat Kolaborasi 1) Memonitor hasil lab.Pertahankan hard collar neck S: (-) O: . takikardia.N: 105 x /menit. 84 . hematuria. .TD: 95/67 mmHg .Kaji kulit dan membrane mukosa .30C .30C . FiO2 80%.Pus (-) .Jika ingin dimiringkan.Laporkan segera adanya penurunan tekanan darah. pucat.Edema (-) .Diaphoresis (-) .Lakukan tindakan pengamanan lingkungan untuk mencegah cidera .TD: 101/59 mmHg .Kulit teraba normal . .Jaga agar pagar tempat tidur terpasang dengan aman . kuat dan teratur . takikardia.Kaji tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial .Hematuria (-) .Imobilisasi area leher dan tulang belakang Kolaborasi .Pucat (+) . lemah dan cepat . 7) Menjaga agar pagar tempat tidur terpasang dengan aman 8) Memiringkan menggunakan teknik Log Role - RR: dengan ventilator PSIMV 12 bpm. diaphoresis. lakukan menggunakan teknik Log Role . PSV 5.Kemerahan (-) .Kaji status pernafasan . PEEP 5.S: 36. dolor.4) Mengkaji kulit dan membrane mukosa 5) Melakukan tindakan pengamanan lingkungan untuk mencegah cidera 6) Melaporkan segera adanya penurunan tekanan darah.

Berikan terpi antibiotic untuk profilaksis Ceftriaxone 2 x 2 gr (IV). Melakukan RJP dengan kecepatan 100x/menit selama 2 menit. 85 . tidak teraba nadi. kolor. Melakukan RJP kembali selama 2 menit dengan kecepatan 100x/menit dan bantuan nafas via ETT 10-12 x/menit. Saturasi Oksigen klien turun dari 100% semakin turun sampai 77%.Berikan antipiretik jika demam paracetamol 500 mg .Lakukan penggantian linen dan bantu pasien untuk kebutuhan hygiene . Levoflxacin 1 x 500 mg (IV) A: infeksi tidak terjadi P: lanjutkan intervensi Mandiri .Monitor tanda dan gejala infeksi ( rubor. Memberikan Epineprin 1 ampul iv. diberikan Epinephrine 1 ampul. tidak teraba. mengecek nadi karotis  tidak teraba.terutama leukosit 2) Memberikan antipiretik jika demam paracetamol 500 mg 3) Memberikan terpi antibiotic untuk profilaksis Ceftriaxone 2 x 2 gr (IV). lalu nadi klien turun (bradikardia) 30x/menit. Lalu. TD turun (95/60 mmHg). nadi klien lalu asistole. tidak naik.Monitor hasil lab.Observasi TTV tiap jam .00 WIB. terutama leukosit . edema) . dolor.Beri kompres biasa bila suhu tubuh meningkat . 3. melakukan tindakan kolaborasi sebagai berikut: 1. Dicek nadi karotis.Lakukan perawatan luka 1 x sehari Kolaborasi . Di cek nadi karotis. 2. Levoflxacin 1 x 500 mg (IV) Tanggal 18 Mei 2012. dengan bantuan nafas (bagging) via ETT 10-12 x/menit. Pukul 17.

Memberikan Sulfas Atrophine 1 ampul. 6. dengan bantuan nafas via ETT 10-12x/menit. 10. Melakukan RJP kembali 100x/menit selama 2 menit. dengan bantuan nafas via ETT 10-12x/menit. 7. 13. Memberikan epinephrine kembali 1 ampul. Melakukan DC Shock (Defribilasi) 200 J. nadi karotis tetap tidak teraba. Melakukan RJP kembali 100x/menit selama 2 menit. dengan bantuan nafas via ETT 10-12x/menit. Melakukan DC Shock (Defribilasi) 200 J. Memberikan Cordaron 300 mg (2 ampul) iv selama proses RJP. dengan bantuan nafas via ETT 1012x/menit. tampak pucat. Cek nadi karotis  tidak teraba. Melakukan RJP kembali 100x/menit selama 2 menit. Memberikan epinephrine 1 mg (1 ampul) iv. 14.di monitor menunjukan asistole. Pasien tidak tertolong (dinyatakan meninggal dunia) setelah dilakukan pertolongan kurang lebih selama 50 siklus RJP. dengan bantuan nafas via ETT 10-12x/menit.4. cek nadi  tidak teraba. Pupil midriasis. Mengecek irama  Ventrikel Takikardia. Melakukan DC Shock (Defribilasi) 200 J. Melakukan RJP kembali 100x/menit selama 2 menit. 8. Mengecek nadi  Asistole 12. Cek irama  tidak berubah 11. 86 . Mengecek irama di monitor  tidak berubah 9. Mengecek nadi karotis  tidak teraba. Melakukan RJP kembali 100x/menit selama 2 menit. dengan bantuan nafas via ETT 10-12x/menit. 2 kali DC Shock dengan waktu kurang lebih 40 menit. 5. akral dingin. Melakukan RJP kembali 100x/menit selama 2 menit. mengecek nadi karotis  tidak teraba.

pupil isokor. batuk (-). Kepala dan leher (Kepala: kebersihan rambut kurang. klien ditemukan tidak sadar di dalam got. alat bantu (-). suhu : 36. M: 2. distribusi rambut tebal dan pendek. nyeri (+). 2005). Hal ini sesuai dengan konsep teori initial assessment yang harus diperhatikan dalam pengkajian dan penanganan segera pasien. Pada pengkajian primer dilakukan menilai airway. dada kiri tertinggal. didapatkan: keadaan umum: sedang . klien mengendarai sepeda motor tanpa helm.dan mekanisme kejadian tidak diketahui karena tidak ada saksi yang meliat. Breathing : RR: 28x/menit. kulit wajah berwarna kemerahan. deformitas (-). terutama di IGD (John Emory Campbell. nadi : 91 x/menit. Fraktur mandibula. 2004). sputum (-). stridor (+). Fraktur kompresi frontalis. GCS:5  E: 2. Circulation : TD: 80/ 40 mmHg. penggunaan alat bantu pernafasan (+). nafas cuping hidung (+). Pada pengkajian sekunder pada klien. susp. circulation dan disability. pernafasan : 10 x/menit. kesadaran : compos mentis. Hasil pemeriksaan awal terhadap Airway didapatkan hasil : sumbatan (+) yaitu darah. BB/TB : 53 kg/151 cm.Trauma tumpul thorax. sianosis (-).80C. klien dibawa ke RS setelah kecelakaan sepeda motor. Tanda vital (TD : 105/67 mmHg.BAB IV PEMBAHASAN A. V: 1. pengisian kapiler > 3 detik. pola regular. ronchi (-/-). benjolan (-). pengembangan dinding dada (+). PENGKAJIAN Cedera kepala adalah kerusakan neurologi yang terjadi akibat adanya trauma pada jaringan otak yang terjadi secara langsung maupun efek sekunder dari trauma yang terjadi (Sylvia anderson Price.8⁰C. Nadi radialis dan brakhialis tidak teraba. luka dalam 87 . Klien (Tn. wheezing (-/-). otot bantu pernafasan (+). Penatalaksanaan awal dari klien korban kecelakaan adalah dengan melakukan pengkajian primer dan sekunder. T) masuk ke IGD RSUP Fatmawati dengan diagnosa medis CKB (Cedera Kepala Berat). gurgling (+). cepat dan dangkal. akral dingin. Pada kasus ini. dan S: 36. Disability : Kesadaran Stupor. breathing.

pergeseran otak atau hernia. paru: pengembangan dada tidak simetris otot bantu nafas (+). nadi teraba lemah dan cepat. Hal ini sesuai dengan teori etiologi dari cedera kepala.a. fraktur mandibula (+).dan fraktur di area frontal. bising usus (+) 4x/menit.a. Fraktur dinding anterior sinus maksilaris bilateral dan os-nasal.k).a.k). pernafasan vesikuler (+/+). Berdasarkan pembagian cedera kepala. leher (t. akral hangat.k). ekstremitas (ekstremitas atas : edema +/+.Scan. stomatitis (+). pengisian kapiler < 2 detik. dinding anterior sinus frontal dekstra. fraktur multiple sphenoid dextra. ronchi (-/-). nadi teraba lemah dan cepat). subilateral hematom di frontalis parietal.k). Kerusakan lokal meliputi Contusio serebral. perinium genital (t. latihan: Tidak mampu melakukan rentang gerak). ekstremitas bawah: edema: -/-. caries gigi (+). mukosa lembab. Dada: jantung (t. keluhan ketidaknyamanan : tidak terkaji. Berdasarkan etiologi dari cedera kepala.k). Hal ini terjadi pada klien yang dilihat dari hasil CT.a. nutrisi :puasa dan diberikan nutrisi secara parenteral. fraktur kompressi frontalis. mulut: bibir kering. ethmoidalism dan frontalis bilateral. klien masuk ke dalam cedera kepala sekunder yang dibuktikan dengan adanya edema serebri pada hasil CT. Klien (Tn. hematosinus di sinus maksilaris. klien masuk ke dalam cedera karena benda tumpul karena menyebabkan cedera setempat & menimbulkan cedera lokal. kerusakan otak sekunder yang disebabkan perluasan masa lesi. wheezing (-/-). hidung: normal. fraktur dengan fragmen multiple dinding anterior-posterior sinus frontal dextra. abdomen (kandung kemih : penuh.Scan kepala dengan kesan Perdarahan supra-ethmoiddi fissure intrahemisfer posterior dan sisterna quadrigerminal. telinga (t. Varises : -/-.a. otot bantu pernafasan 88 . eliminasi (BAK dan BAB tidak bisa terkaji) . mata (t. T) mengalami cedera kepala yang disebabkan oleh adanya trauma karena kecelakaan. wajah: kemerahan. edema serebri . pengisian kapiler < 2 detik. mengakibatkan gangguan pernafasan yang ditandai dengan Airway: sumbatan (+) yaitu darah. hematom serebral. pola tidur : tidak terkaji. Dinding posteriolateral sinus ethmoid sinistra. frktur dinding lateral sinus ethmoid bilateral. mobilisasi dan latihan (diatas tempat tidur dan imobilisasi. epistaksis (+).

O2 saturasi= 99.2. kalium= 4. pengisian kapiler <2 detik. Klien mengalami masalah pada hal circulation dengan TD: 80/40 mmHg. Hal ini sesuia dengan teori bahwa cedera kepala sekunder akan menyebabkan hipotensi sistemik. hiperkapnea. 89 . pemeriksaan darah lengkap (elektrolit hasil normal) dengan hasil natrium= 139 mmol/l. Hal ini sesuai dengan teori manifestasi klinis dari cedera otak adalah gangguan kesadaran. ketidakseimbangan hidrasi. pupil isokor. vertigo. ukuran jantung dalam batas normal. konfusi. kerusakan aktivitas menelan. FiO2 80%. akral dingin. HCO3= 18.7. klien terpasang ETT. cepat dan dangkal. Klien (Tn. PO2= 205. CT Scan. sputum (-).80C. komunikasi (-). T) belum dilakukan pemeriksaan angiografi serebral. kulit wajah berwarna kemerahan. penggunaan alat bantu pernafasan (+). kerusakan komunikasi.80 mmol/l. alat bantu (-).1. aktifitas menelan (-). gurgling (+). PSV 5. komplikasi pernapasan. gangguan pergerakan.4. S: 36. hipoksia. PCO2= 30.a. V:1 ditambahkan dengan data yang termasuk dalam cedera kepala sekunder diatas. gangguan pola pernafasan. tidak ada fraktur iga. total CO2= 19. PEEP 5. disfungsi sensorik. kerusakan mobilitas fisik. Breathing: RR: 28x/menit. dada kiri tertinggal. klorida= 108 mmol/l. BE= 5. pola regular. sianosis (-). Klien (Tn.4. dan ventilator dengan mode PSIMV 12 bpm. wheezing (-/-). pada klien (Tn. Namun. GCS:5  E: 2. nafas cuping hidung (+). batuk (-).3. ronchi (-/-). T) juga mengalami cedera otak yang dimanifestasikan secara klinis dengan penurunan kesadaran: kesadaran stupor. gangguan penglihatan. edema otak. pengembangan dinding dada (+). stridor (+). Nadi radialis dan brakhialis tidak teraba. infeksi/komplikasi pada organ tubuh yang lain. Pemeriksaan analisa gas darah dengan hasil pH= 7.392. tiba-tiba defisit neurologi. lemah otak. perubahan TTV. sakit kepala. T) sudah dilakukan pemeriksaan rontgen thorak dengan hasil normal (t.(+). juga terdapat gangguan pergerakan (klien bed rest). M: 2. OPA. Hal ini sesuai dengan teori terhadap pelaksanaan klien dengan cedera kepala.k): corakan paru normal.

circulation adalah bersihan jalan nafas tidak efektif b.d berkurangnya volume darah sekunder perdarahan.d masuknya benda asing (darah). memberikan arahan pada asuhan keperawatan. terapi. risiko 90 . T) dari pengkajian sekunder adalah risiko bersihan jalan nafas tidak efektif b. Diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn. trauma. pola nafas tidak efektif b. P berdasarkan penilaian awal airway. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) (1990.d penurunan tingkat kesadaran.d perdarahan daerah serebral sekunder trauma langsung. M: 2. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan cedera kepala berat bila GCS <8. breathing. risiko tinggi penambahan cedera b. V:1. Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien (Tn. T. kehilangan kesadaran atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam bahkan sampai berhari-hari. Diagnosa keperawatan memberikan dasar-dasar pemilihan intervensi untuk mencapai hasil yang menjadi tanggung gugat perawat. spesifik dan akurat. 1997) diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang.d menurunnya kesadaran. Pada klien terlihat dari pengkajian disability klien yang didapatkan kesadaran stupor.Klien (Tn. perdarahan sekunder fraktur mandibula. keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah-masalah kesehatan/ proses kehidupan yang aktual atau risiko. dapat dilaksanakan oleh perawat dan mencerminkan keadaan kesehatan klien. perdarahan sekunder fraktur mandibula. risiko tinggi penurunan perfusi jaringan perifer b. T) diagnosa mengalami cedera kepala berat (CKB). dalam Carpenito. risiko tinggi gangguan perfusi jaringan serebral b. B. kerusakan neurologis sekunder peningkatan tekanan intracranial. GCS:6  E: 2. risiko lidah menutupi jalan nafas. Adapun persyaratan dari diagnosa keperawatan adalah perumusan harus jelas dan singkat dari respons klien terhadap situasi atau keadaan yang dihadapi.d masuknya benda asing (darah). proses ambulasi. risiko lidah menutupi jalan nafas.

d trauma mekanik. D. Rencana perawatan terorganisasi sehingga setiap perawat dapat dengan cepat mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan. INTERVENSI KEPERAWATAN Intervensi keperawatan merupakan pedoman tertulis untuk perawatan klien. trauma. tindakan invasif.d berkurangnya volume darah sekunder perdarahan. semua perawat mempunyai kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas tinggi dan konsisten. C. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Rencana asuhan keperawatan yang di rumuskan dengan tepat memfasilitasi kontinuitas asuhan keperawatan dari satu perawat ke perawat lainnya. proses ambulasi.d menurunnya kesadaran. risiko tinggi infeksi b.tinggi penurunan perfusi jaringan perifer b. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktorfaktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien (Perry & Potter. IMPLEMENTASI Implementasi merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Pedoman intervensi yang dilakukan adalah dengan panduan Buku Rencana Asuhan Keperawatan : Marylinn Doegoes. 91 . Sebagai hasil. Rencana perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka panjang (Potter.Buku Saku Diagnosa Keperawatan : Lynda Jual Carpenito dan disesuaikan dengan kondisi klien sehingga asuhan keperawatan yang diberikan tepat dan sesuai kebutuhan klien.1997). Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. risiko tinggi penambahan cedera b. terapi. kerusakan intergritas kulit b.d kerusakan integritas kulit. Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur pertukaran informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas.

menggunakan teknik Log Role. ketika memiringkan. melakukan suction. memasang Oro-Pharingeal Airway (OPA). pucat. takikardia. misalnya penurunan suhu. memberikan obat-obatan. diaphoresis. mengobservasi intake dan output cairan.1997). perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi. melakukan pemeriksaan Rontgen kepala. memberikan RL (Ringer Laktat) resusitasi sebanyak 8 kolf + 1 kolf Nacl 0. T) berdasarkan hasil pengkajian keperawatan sekunder pada tanggal 17-18 Mei 2012 dengan diagnosa risiko bersihan 92 . memberikan posisi datar. mengobservasi tanda-tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba. Implementasi yang telah dilakukan berdasarkan diagnosa yang muncul pada klien (Tn. mengkaji status pernafasan. kimia darah. Implementasi secara mandiri yang telah dilakukan untuk diagnosa risiko tinggi penurunan perfusi jaringan perifer adalah mengobservasi penurunan kesadaran yang tiba-tiba. mengimobilisasi area leher dan tulang belakang. memonitor pernafasan. Implementasi yang dilakukan pada klien (Tn. melakukan perekaman Elektrokardiografi. Tindakan kolaborasi adalah dengan memasang hard collar neck. memberikan O2 4L/menit. melaporkan segera adanya penurunan tekanan darah. mengkaji tanda-tanda dehidrasi. Tindakan kolaborasi untuk diagnosa bersihan jalan tidak efektif adalah melaksanakan pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah). Implementasi mandiri yang dilakukan pada diagnosa risiko tinggi penambahan cedera adalah mengkaji tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial. menjaga agar pagar tempat tidur terpasang dengan aman. mengobservasi tanda-tanda vital. hematuria. T) tanggal 17 mei 2012 untuk diagnosa bersihan jalan nafas tidak efektif adalah intervensi mandiri yaitu mengauskultasi bunyi nafas. mengkaji kulit dan membrane mukosa. Tindakan kolaborasi yang dilakukan adalah melakukan pemeriksaan laboratorium (darah lengkap. dada. melakukan pemberian posisi jaw trust. melakukan tindakan pengamanan lingkungan untuk mencegah cidera. dan CT-Scan kepala. mengkaji kekuatan nadi perifer.9% dan HES sebanyak 1 kolf cc. peningkatan nyeri. mengkaji adanya pucat (akral dingin). hemostase darah).

jalan nafas tidak efektif b. risiko lidah menutupi jalan nafas intrvensi mandiri yang sudah dilakukan adalah Mengauskultasi bunyi nafas.d perdarahan daerah serebral sekunder trauma langsung. mengauskultasi bunyi nafas. Diagnosa risiko tinggi gangguan perfusi jaringan serebral b. perhatikan apakah ada bunyi nafas abnormal. intervensi mandiri yang dilakukan adalah mengkaji dan pantau TTV. memonitor pernafasan. mengkaji tanda-tanda dehidrasi. perdarahan sekunder fraktur mandibula. mengobservasi penggunaan otot bantu pernafasan tiap 2 jam. perhatikan bila ada ronkhi. mengobservasi tanda perdarahan. trauma. Tindakan 93 .d masuknya benda asing (darah). tindakan keperawatan kolaborasi yaitu dengan memonitor hasil AGD. perhatikan rasio inspirasi maupun ekspirasi. melakukan suction. 7. kerusakan neurologis sekunder peningkatan tekanan intracranial.d penurunan tingkat kesadaran. memantau hasi pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah). PSV 5. memantau hasil pemeriksaan laboratorium AGD (Analisa Gas Darah). mengkaji tingkat kesadaran dan GCS tiap jam. peningkatan nyeri. Diagnosa keperawatan risiko tinggi penurunan perfusi jaringan perifer b.d berkurangnya volume darah sekunder perdarahan. mengkaji adanya pucat (akral dingin). mengkaji kekuatan nadi perifer. Kolaborasi dengan melakukan intubasi dengan ETT (Endo-Trakeal Tube) no. memberikan premedikasi ventilator  fentanyl 1 amp. PEEP 5. kecepatan. dan irama pernafasan tiap 2 jam. misalnya penurunan suhu. mempertahankan OPA (Oro-Pharingeal Airway). memperhatikan pengembangan dada simetris atau tidak tiap 2 jam. Intervensi kolaborasi adalah membantu Intubasi dengan ETT. Diagnosa pola nafas tidak efektif b. catat kekuatan nadi tiap jam. mengobservasi intake dan output cairan. intervensi mandiri yang sudah dilakukan adalah mengobservasi frekuensi. kedalaman. FiO2 80%. memberikan posisi datar.5. mengevaluasi status neurologis tiap 2 jam. mengobservasi tanda-tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba. mengobservasi penurunan kesadaran yang tiba-tiba. memonitor tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial . wheezing dan creckles. mengobservasi tanda-tanda vital. membantu penggunaan Ventilator PSIMV 12 bpm.

Levoflxacin 1 x 500 mg (IV). risiko tinggi infeksi b. terapi. adanya penurunan tekanan darah. trauma dilakukan intervensi mandiri dengan memonitor tanda dan gejala infeksi ( rubor.kolaborasi yang dilakukan adalah memantau hasil pemeriksaan laboratorium (darah lengkap.d menurunnya kesadaran. mengkaji kulit dan membrane mukosa. mengkaji status pernafasan. pucat. tanggal 18 Mei 2012 pukul 17.d trauma mekanik. terapi. dan nadi menjadi bradikardia. sedangkan diagnosa keperawatan risiko tinggi penambahan cedera b. memberikan antipiretik jika demam paracetamol 500 mg. encegah infeksi yang dapat memperlambat penyembuhan luka. tindakan invasif.d menurunnya kesadaran. Tindakan kolaborasi yang dilakukan adalah memantau hasil pemeriksaan laboratorium (terutama Hb. edema).00 WIB. takikardia. memiringkan menggunakan teknik Log Role. dolor.d kerusakan integritas kulit. Tindakan kolaborasi yang dilakukan adalah memonitor hasil lab. melakukan tindakan pengamanan lingkungan untuk mencegah cidera. memberi kompres biasa bila suhu tubuh meningkat. mengkaji tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial. risiko tinggi penambahan cedera b. saturasi oksigen klien turun.Ht. Tindakan kolaborasi yang dilakukan adalah dengan pemasangan hard collar neck. memberikan anti-tetanus  ATS (Anti Tetanus Serum) atau tetagam. mengobservasi TTV tiap jam. melaporkan segera diaphoresis. memberikan terpi antibiotic untuk profilaksis Ceftriaxone 2 x 2 gr (IV). melakukan penjahitan/ hecting luka. hemostase darah). Pada hari kedua pasien dirawat. menjaga kebersihan diri klien. proses ambulasi dilakukan intervensi mandiri yaitu dengan mengkaji status neurologis. menggunakan teknik septic dan aseptic untuk perawatan luka. menjaga agar pagar tempat tidur terpasang dengan aman. memberikan O2 4L/menit. Diagnosa kerusakan intergritas kulit b.Leukosit). mengkaji tanda-tanda kerusakan kulit. telah dilakukan tindakan mandiri dan kolaborasi yaitu melakukan 94 . hematuria. proses ambulasi. kolor. terutama leukosit. melakukan perekaman Elektrokardiografi. memberikan RL 500 cc/24 jam  20 tpm. memberikan obat-obatan. kimia darah. lalu asistole.

RJP dengan kecepatan 100 kali/menit. GCS: 5  E:2. Penatalaksanaan pada pasien dengan asistole sesuai dengan teori yang ada. intake: 1200cc.Evaluasi dari diagnosa keperawatan risiko tinggi penurunan perfusi jaringan perifer dengan analisis perfusi jaringan perifer adekuat yang ditandai dari data objektif: kesadaran stupor. analisisnya adalah bersihan jalan nafas efektif yang ditandai dengan data objektif gurgling (-). Evaluasi dari diagnosa risiko tinggi penambahan cedera dengan analisis penambahan cedera tidak terjadi yang ditandai dari data objektif : muntah proyektil (-).70C. DC Shock juga dilakukan sebanyak 2 kali dengan 200 Joule. tidak ada yang berbeda. E: 2. kesadaran stupor. RR: 12x/menit dalam. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan pedoman/rencana proses tersebut. Sulfas Atropine 1 ampul. irama regular. GCS: 5. output: 1100cc. tertinggal dada sebelah kanan. S: 36. RJP dilakukan sebanyak 50 siklus. dan bagging via ETT dengan kesepatan 10-12 x/menit. E. M:2. wheezing (-/-). 1997). (Perry dan Potter. TD: 102/63 mmHg. mukosa mulut lembab. dan diberikan obat-obatan diantaranya Ephinephrine sebanyak 4 ampul. namun nyawa klien tidak tertolong dan dinyatakan meninggal. M:2. wajah kemerahan. dan Cordarone sebanyak 300 mg (2 ampul). turgor kulit baik. mukosa lembab. nadi perifer teraba lemah. ronchi (-/-). pengembangan dada. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di rumuskan sebelumnya. stridor (-). V:1. N: 97x/menit. EVALUASI Perencanaan evaluasi memuat kriteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan. pengisian kapiler < 2 detik. V:1. Evaluasi dari implementasi yang telah dilakukan kepada klien (Tn T. turgor kulit baik. P) untuk diagnosa keperawatanbersihan jalan nafas tidak efektif. akral hangat. bed side 95 . nafas cuping hidung (+). penggunaan otot bantu nafas (+).

Evaluasi terhadap implementasi keperawatan yang sudah dilakukan dari semua diagnosa pengkajian sekunder adalah sebagai berikut(tanggal 17 mei 2012): diagnosa bersihan jalan nafas tidak efektif dengan analisa bersihan jalan nafas efektif yang ditandai dengan gurgling (-). teringgal dada sebelah kanan. nafas cuping hidung (+). refleks +/+. penggunaan otot bantu nafas (+). leukosit. nyeri kepala tidak dapat dinilai. S: 36. pengisian kapiler < 2 detik. pupil : isokor. hematuria (-). wheezing (-/-).rell terpasang. PSV 5. FiO2 80%. M:3. turgor kulit baik. nafas dengan alat bantu Ventilator PSIMV 12 bpm. kuat dan teratur.30C. GCS: 5. TD: 102/63 mmHg. kesadaran stupor.S: 36. penggunaan otot bantu nafas (+). Evaluasi diagnosa risiko penambahan cedera adalah cedera tambahan tidak bertambah yang dilihat dari refleks (+/+). N: 97x/menit. nafas cuping hidung (+). masih terdapat perdarahan pada luka diatas bibir dan dahi sebelah kanan. wheezing (-/-). V:1. PEEP 5. Evaluasi diagnosa kerusakan integritas kulit idapatkan analisis integritas kulit dapat dipertahankan berdasarkan data obektif: luka dibesihkan dengan NaCl 0. ronchi (-/-). Evaluasi terhadap implementasi diagnosa pola nafas tidak efektif dengan analisa pola nafas efektif yang ditandai dengan gurgling (-). nadi perifer kuat dan teratur. P: dengan ventilator. trombosit:. . muntah proyektil (-). sianosis (-). akral hangat. Diagnosa keperawatan risiko tinggi gangguan perfusi jaringan perifer dengan analisa perfusi jaringan perifer tidak adekuat yang ditandai dengan kesadaran : stupor. collar neck terpasang. stridor (-). TD: 101/59 mmHg. P: dengan ventilator. teringgal dada sebelah kanan. pengembangan dada.9% dan betadine 70%. N: 99 x /menit. Evaluasi dari diagnosa risiko tinggi gangguan perfusi jaringan serebral didapatkan bahwa perfusi aringan serebral tiak adekuat yang ditandai dengan data obektif TD: 101/59 mmHg. pengembangan dada. M:3. E: 1. ronchi (-/-). 96 . badan masih tampak kotor oleh darah kering. stridor (-). S: 36. RR: dengan ventilator. papil edema (-). muntah proyektil (-). GCS: 5. PEEP 5. E: 1. nafas dengan alat bantu Ventilator PSIMV 12 bpm. PSV 5. refleks +/+. Ht:. takiradia (-).30C. mukosa lembab. N: 99 x /menit. FiO2 80%. pucat (+). diaphoresis (-).70C. Hb:. V:1. pus (-).

Evaluasi dari diagnosa kerusakan integritas kulit dengan 97 . pengembangan dada simetris. FiO2 80%.30C. N: 99 x /menit. O2 saturasi : 98. S: 36. kuat dan teratur. PEEP 5. N: 99 x /menit. turgor kulit baik. TD: 95/67 mmHg. kulit teraba normal. ronchi (-/-). hasil lab AGD: pH : 7. nafas cuping hidung (-). S: 36. BE (Base Excess) : -2. nafas dengan alat bantu Ventilator PSIMV 12 bpm. papil edema (-). P: dengan ventilator . muntah proyektil (-). PCO2 : 39. penggunaan otot bantu nafas (-). E:1. Evaluasi dari diagnosa risiko tinggi gangguan perfusi jaringan perifer dengan analisa perfusi jaringan perifer tidak adekuat yang didapatkan dari hasil data objektif yaitu: kesadaran : stupor. V:1. stridor (-). pengisian kapiler < 2 detik. Total CO2: 20. PSV 5. nafas dengan alat bantu Ventilator PSIMV 12 bpm.30C. M:3. GCS: 5. diaphoresis (-).7. FiO2 80%. sianosis (-).30C.7. ronchi (-/-). Evaluasi dari diagnosa bersihan jalan nafas tidak efektif dengan analisa bersihan jalan nafas efektif yang didapatkan dari hasil data objektif yaitu: gurgling (-).0 (normal). S: 36. kuat dan teratur. pengembangan dada simetris.2. V: 1. nyeri kepala tidak dapat dinilai. nafas cuping hidung (-).373. E: 1. pucat (+). pucat (+). masih terdapat perdarahan pada luka diatas bibir dan dahi sebelah kanan.kesadaran: stupor. FiO2 80%. akral hangat. hematuria (-). PEEP 5.3. GCS: 5. refleks +/+. refleks +/+. PSV 5. M:3. RR: dengan ventilator PSIMV 12 bpm. penggunaan otot bantu nafas (-). Evaluasi dari diagnosa pola nafas tidak efektif dengan analisa pola nafas efektif yang didapatkan dari hasil data objektif yaitu: gurgling (). wheezing (-/-).1. Begitu pula dengan diagnosa keperawatan resiko infeksi dengan analisis infeksi tidak terjadi yang dilihat dari data obektif edema (-). kesadaran stupor. PO2 : 98. EKG : sinus takikardi. V:1. GCS: 5. S: 36. wheezing (-/-). bed side rell terpasang. N: 105 x /menit lemah dan cepat. HCO3 : 26. nadi perifer kuat dan teratur. stridor (-). P: dengan ventilator . TD: 101/59 mmHg. N: 99 x /menit.30C. mukosa lembab. M:3. pus (-). TD: 101/59 mmHg. kemerahan (-). Evaluasi dari diagnosa risiko tinggi gangguan perfusi jaringan serebral dengan analisa perfusi jaringan serebral tidak adekuat yang didapatkan dari hasil data objektif yaitu: TD: 101/59 mmHg. PEEP 5. PSV 5. E: 1.

9 . pus (-). hematuria (-). bed side rell terpasang. pupil : isokor. badan masih tampak kotor oleh darah kering. trombosit: 183. S: 36. kulit teraba normal. RR: dengan ventilator. hemoglobin: 7. Evaluasi dari diagnosa risiko tinggi infeksi dengan analisa infeksi tidak terjadi yang didapatkan dari hasil data objektif yaitu: edema (-). kesadaran: stupor.30C.30C 98 . PEEP 5. TD: 101/59 mmHg. hematokrit: 25 (rendah). kuat dan teratur. pucat (+). eritrosit: 2. N: 99 x /menit.9% dan betadine 70%. S: 36. E:1. muntah proyektil (-). leukosit: 7.73 (rendah). luka dibesihkan dengan NaCl 0. TD: 95/67 mmHg. kemerahan (-). RR: dengan ventilator PSIMV 12 bpm. diaphoresis (-). V: 1. FiO2 80%. lemah dan cepat. Evaluasi dari diagnosa risiko penambahan cedera dengan analisa cedera tambahan tidak terjadi yang didapatkan dari hasil data objektif yaitu: refleks (+/+). M:3.analisa integritas kulit dapat dipertahankan yang didapatkan dari hasil data objektif yaitu: luka sobek di atas bibir dan dahi. PSV 5.7 (rendah). GCS: 5. N: 105 x /menit.

Berdasarkan etiologi dari cedera kepala. T. frktur dinding lateral sinus ethmoid bilateral. breathing. risiko tinggi gangguan perfusi jaringan serebral b. risiko tinggi penambahan cedera b. perdarahan sekunder fraktur mandibula. T) mengalami cedera kepala yang disebabkan oleh adanya trauma karena kecelakaan. risiko tinggi penurunan perfusi jaringan perifer b. trauma. kerusakan otak sekunder yang disebabkan perluasan masa lesi. fraktur dengan fragmen multiple dinding anterior-posterior sinus frontal dextra. dinding anterior sinus frontal dekstra. klien masuk ke dalam cedera karena benda tumpul karena menyebabkan cedera setempat & menimbulkan cedera lokal. Dinding posteriolateral sinus ethmoid sinistra. kerusakan intergritas kulit b. pergeseran otak atau hernia. terapi. hematom serebral.d perdarahan daerah serebral sekunder trauma langsung.d berkurangnya volume darah sekunder perdarahan. kerusakan neurologis sekunder peningkatan tekanan intracranial. fraktur kompressi frontalis.d trauma mekanik.d masuknya benda asing (darah). perdarahan sekunder fraktur mandibula. Fokus utama penanganan nya adalah pada ABC Diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn. risiko lidah menutupi jalan nafas. proses ambulasi. Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien (Tn.BAB V PENUTUP KESIMPULAN Klien (Tn. Hal ini terjadi pada klien yang dilihat dari hasil CTScan kepala dengan kesan Perdarahan supra-ethmoiddi fissure intrahemisfer posterior dan sisterna quadrigerminal. circulation adalah bersihan jalan nafas tidak efektif b. Kerusakan lokal meliputi Contusio serebral.d menurunnya kesadaran. P berdasarkan penilaian awal airway.d penurunan tingkat kesadaran. T) dari pengkajian sekunder adalah risiko bersihan jalan nafas tidak efektif b. risiko tinggi penambahan cedera b. fraktur multiple sphenoid dextra.d masuknya benda asing (darah). risiko lidah menutupi jalan nafas. risiko tinggi penurunan perfusi jaringan perifer b. edema serebri .d 99 . pola nafas tidak efektif b.d berkurangnya volume darah sekunder perdarahan.

tindakan invasif.d kerusakan integritas kulit. trauma. terapi. 100 . proses ambulasi.menurunnya kesadaran. risiko tinggi infeksi b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful