P. 1
Lapsus Spinal Anesthesia 2012.doc

Lapsus Spinal Anesthesia 2012.doc

|Views: 7|Likes:
Published by Ecank Rsmr
lapsus anestesi 2013. dari lapsus ini dapat dilihat bagaimana kerja suatu anestesi itu
lapsus anestesi 2013. dari lapsus ini dapat dilihat bagaimana kerja suatu anestesi itu

More info:

Categories:Topics
Published by: Ecank Rsmr on Sep 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/23/2014

pdf

text

original

LAPORAN KASUS SPINAL ANESTHESIA

Oleh : Nanda Fitri Nurbaeti (H1A008031) Radian Sesarmulya, R (H1A008048)

Pembimbing: dr. Budi Wibowo, Sp.An

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN / SMF ANESTESI DAN REANIMASI RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2012

LAPORAN KASUS SPINAL ANESTHESIA I. Agama 6. No. b) Riwayat penyakit sekarang : pasien datang ke rumah sakit dengan perut mules ingin melahirkan yang menjalar sampai ke punggung. Register 3. Menurut keterangan pasien kehamilan sudah mencapai 9 bulan dan merasa bayi seperti akan keluar. Pasien saat ini sedang hamil anak ke-5. Diagnosa pre-op : G5 P4 A0 + kala II memanjang + fetal distress 9. Jenis kelamin 5. Pasien juga mengeluhkan pusing. Umur 4. PEMERIKSAAN PRA ANESTESI Anamnesis a) Keluhan utama : nyeri perut mules ingin melahirkan yang menjalar sampai ke punggung. Sebelumnya pasien sudah dibawa ke Puskesmas Muncen karena keluhan serupa. No. : 007004 : 30 tahun : Perempuan : Islam : Buruh tani : Bungken 8. IDENTITAS PASIEN 1. RM : SC : 19 Juni 2012 : 20 Juni 2012 : 285016 II. namun pasien merasa lelah bernapas dan sangat lemah sehingga tidak kuat untuk mengejan. M. MRS 11. Dari keterangan juga . Macam operasi 10. Pekerjaan 7. Alamat : Ny. Nama 2. Tanggal operasi 12.

massa (-). : 130/90 mmHg : 72x/menit : 20 x/menit : 36. CM. A. : konjungtiva anemis ringan (+/+). mata cowong -/-. secret (-) : baik. pupil isokor. Status Fisik Keadaan umum a. c) Riwayat penyakit dahulu : − Riwayat alergi (-) − Riwayat asma (-) − Riwayat batuk lama (-) − Riwayat hipertensi (-) − Riwayat kencing manis (-) d) Riwayat penyakit keluarga : pasien mengatakan tidak ada anggoa keluarga yang menderita penyakit seperti hipertensi dan kencing manis. Tanda Vital Tanda vital : TD Nadi Respirasi Suhu 2.+) • Hidung : deformitas (-). oedem kelopak mata (-). e) Riwayat operasi sebelumnya : pasien tidak pernah menjalani operasi sebelumnya. Kepala-Leher • • Umum Mata : ekspresi biasa. gizi cukup.50 C . deviasi septum (-). PEMERIKSAAN FISIK 1.didapatkan bahwa air ketuban pecah sebelum pasien datang ke Rumah Sakit Riwayat ANC 5 kali. reflek cahaya (+. sclera ikterik (-/-).

perkusi (sonor di seluruh lapang paru). suara tambahan (-)). gigi goyang (-). d. Cor : inspeksi (iktus kordis tak tampak). spider nevi (-). c. suara tambahan (-)). massa (-). gigi berlubang (-) : bentuk dan ukuran normal.16 28. motoric +/+ +/+. Hasil Laboratorium Pemeriksaan Hb RBC Hct WBC PLT Warna Kejernihan Berat jenis pH Protein Glukosa Darah Leukosit Sedimen Hasil 9. ekstremitas bawah -/-. pembesaran kelenjar getah bening tidak membesar Leher : pembesaran tiroid (-). palpasi (fokal fremitus dada kanan=kiri). Bentuk cembung. jaringan parut (-). akral hangat. Abdomen Tinggi fundus uteri 38 cm. palpasi (iktus kordis kuat angkat). Leopold letak kepala.2 169 Satuan gr/dL Juta/mm3 % x1000/mm3 x1000/mm3 Pemeriksaan Urinalisis Nilai Normal 14-18 4. sensorik +/+ +/+. Ekstremitas Edema : ekstremitas atas -/-.6 8. auskultasi (suara dasar vesikuler. pembesaran KGB leher (-) b. distensi (+). Thoraks Bentuk dan ukuran dada normal. Pulmo : inspeksi (pengembangan paru kanan=kiri). DJJ 172 x/menit dengan irama 14:14:15. sianosis (-). auskultasi (suara dasar tunggal. perkusi (batas jantung kesan normal).5 – 5 25-42 4000-12000 150000-400000 kuning keruh 1015 5 +3 +1 +5 +2 Eritrosit: penuh/lpb Leukosit: 0-5/lpb . pergerakan dinding dada simetris. B. simetris. massa (-). tidak ada deformitas.• • • Mulut Telinga : mukosa bibir sianosis (-).7 3. mukosa kering (-). jari tabuh (-).

myomergin 200 mg/ml 1 ampul . dan 10 cc Plester Alkoho Betadine Jarum spinal Obat : bupivacaine 1 ampul (5 mg/ml) isi 4 ml. monitoring vital sign selama operasi tiap 5 menit. perdarahan 6. perawatan pasca anestesi di ruang RR D. RR. nadi. oksitosin 3 ampul. Siapkan alat dan bahan • • • • • • Alat : spuit 3. jenis operasi : SC 3. cairan. saturasu O2 2.Epitel: 5-10/lpb C. Rencana Anestesi 1. jenis anestesi : regiona anestesi dengan spinal anestesi 4. Persiapan : • • • • • Persetujuan tertulis Puasa minima 6 jam preoperasi Infus RL 20 tpm Pasang DC no 12 untuk produksi urin Awasi tanda vital: TD. suhu. ondansetron 1 ampul isi 2 ml (4mg/2ml). Penatalaksanaan Anestesi 1. maintenance: O2 nasal kanul 3 lpm 5.5.

Gunakan sarung tangan dan masukkan bupivacaine dalam spuit yang telah disiapkan 7. Buat drip pada satu flash RL berisi ketorolac 3 % sebanyak 1 ampul ditambah oksitosin sebanyak 2 ampul. 14. bupivacaine 1 ampul dan spinocain ukuran 25 6. posisikan pasien tidur dengan posisi kepala lebih tinggi dan beri oksigen nasal kanul 3 lpm 12. Pembahasan Pemilihan metode anestesi spinal pada pasien ini sesuai dengan indikasi penggunaan motode regional anestesi jenis spinal. Cabut jarum. Saat akan mulai dilakukan hecting daerah pembedahan. Tandai lokasi injeksi antara lumbal 4-5 5. Injeksikan bupiovacaine dengan dosis 6 mg/kgBB sebanyak 1 ampul 11. E. Semprotkan alcohol pada bagian yang akan diinjeksikan 9. injeksikan oksitosin 1 ampul + methergin 1 ampul 13. injeksikan ketorolac 3 % sebanyak 1 ampul. Lakukan tindakan asepsis dengan betadin disekitar tempat suntikan yang telah ditandai 8.v sebagai premedikasi 3. Persiapkan sarung tangan steril di atas bed operasi beserta spuit 3 cc. yaitu: • Bedah ekstremitas bawah . Injeksikan metoklopramid 10 mg i. Tusukkan jarum spinal pada batas antara L4-L5 sampai keluar cairan serebrospinal 10. tempatkan kasa pada daerah suntikkan.• Ketorolac 3% 2 ampul 2. Beri keterangan untuk drip yang dibuat agar diberikan 20 tpm. Persiapkan pasien dan posisikan duduk tegak dengan kepala menunduk 4. 15. Setelah bayi lahir.

penggunaan regional anestesi juga mencegah terjadinya perdarahan yang berlebihan karena tidak ada efek peningkatan tekanan darah seperti yang terjadi pada general anesthesia.• Bedah panggul • Bedah obstetric dan ginekologi • Bedah urologi • Bedah abdomen bawah • Tindakan sekitar rectum-perineum Selain itu. Terapi Cairan a. agar memudahkan Rahim kembali ke ukuran semula. F. lidocain dan bupivacaine (dalam hal ini. Terapi cairan: EBV dewasa: 70mg/kgBB = 70 x 60 =4200 mg Jumlah perdarahan preop+ durante op yang hilang sekitar 750 cc. hanya mungkin pada masing-masing center ada sedikit penambahan atau pengurangan pada obat yang dipilih. Pemberian koloid pada pasien sesuai dengan prinsip penggantian kehilangan darah >10% (diganti dengan koloid sejumlah darah yang hilang). Metergin diberikan untuk membantu mengehentikan perdarahan pada yang timbul selama operasi. Penggunaan ondansetron diberikan untuk mencegah mual muntah pada pasien. Berarati . Obat yang biasa dipakai dalam regional anestesi diantaranya yaitu. procain.8% berarti perdarahan lebih dari 10% (perdarahan sedang). Oxitosin digunakan untuk membantu menguatkan kontraksi Rahim setelah bayi lahir. 750/EBV x 100% = 17. dari perhitungan yang dilakukan maka dibutuhkan 2 flash cairan kristaloid sebagai terapi yang tepat. pasien diberikan bupivacaine). Ketorolac merupakan analgetik tambahan yang diberikan sebagai medikasi untuk membantu pasien mengurangi rasa sakit. juga untuk menghindari efek sedasi yang terlalu lama yang biasanya timbul akibat metode GA. terutama setelah operasi berakhir. Untuk terapi cairan durante operasi. Pemilihan obat yang digunakan pada metode spinal pada prinsipnya sama.

Resume Pasien. kontraksi uterus setiap 30 menit. Head up (kepala tinggi) berbaring supinasi 8 jam post operasi.5 mg i. Drip Ketorolac 3 % + oxytocin 20 tetes/menit. Bila tekanan darah ≤ 90 mmHg guyur dengan RL 500cc per 30 menit. Jika HR ≤ 60x/menit beri SA 0. Lapor dokter jaga. Maka total cairan yang diberikan adalah 960 cc. maka prinsip penggantian cairan puasa yang digunakan hanya untuk jam pertama. H. karena operasi hanya berlangsung sekitar 1 jam. Observasi tanda vital. c. boleh tidur miring-miring. Terapi cairan durante operasi: Kehilangan cairan puasa= 6x maintenance = 6 x 2 x60 = 720 cc Stress operasi = 8 x BB = 8x60 = 480 cc Maintenance = 2xBB = 2x60 = 120 cc Jam I = 50% = 50% x70 + (480+120) = 360+600= 960 cc. Instruksi Post Operasi a. namun pasien merasa napas berat dan lemas sehingga tidak mampu . e. makan dan minum bebas tapi sedikit-sedikit.karena perdarahan >10% prinspi pengganti cairannya menggunakan koloid sebanyak 2 flash (1000 cc). b.v. Jika mual dan muntah (-). d. Usia kehamian sudah mencapai 9 minggu. perempuan usia 30 tahun dating ke Rumah Sakit dengan keluhan nyeri perut ingin melahirkan yang menjalar sampai ke punggung. G.

Pasien didiagnosa dengan G5P4A0 + kala II memanjang + fetal distress dan membutuhkan terapi SC segera.mengejan. DJJ bayi 172 x/menit. . Metode anestesi yang dipilih yaitu tehnik spinal dengan menggunakan bupivacaine sebagai agen anestesi dan metoklopramid sebagai premedikasi serta oksitosin dan ergometrin sebagai medikasi tambahan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->