KEHAMILAN DAN INFEKSI HIV

Pengaruh Kehamilan pada Perjalanan Penyakit HIV Kehamilan tidak secara signifikan mempengaruhi resiko kematian, progresivitas menjadi AIDS atau progresivitas penurunan CD+4 pada ODHA perempuan. Pengaruh kehamilan pada CD+4 pertama kali dilaporkan oleh Burns dkk. Pada kehamilan normal erjadi penurunan CD+4 pada awal kehamilan untuk mempertahankan janin. PAda perempuan yang tidak menderita HIV, presentasi CD+4 akan meningkat kembali di awal trimester ketiga hingga 12 bulan setelah melahirkan; sedang pada ODHA penurunan tetap terjadi selama kehamilan dan setelah melahitrkan walaupun tidak bermakna sedcara statistic. NAmun penelitian dari European Collaborative Study dan Swiss HIV Pregnancy Cohort dengan jumlah sample yang lebih besar, menunjukkan presentasi penurunan CD +4 selama kehamilan sampai 6 bulan setelah melahirkan tetap stabil. Kehamilan ternyata hanya sedikit memp;engaruhi kadar virus ( viral load) HIV. KAdar virus HIV meningkat terutama setelah 2 tahun persalinan, walaupun secara statistic tidak bermakna. Kehamilan juga tida mempercepat progresivitas penyakit AIDS. Italian Seroconversion Study Group yang membandingkan ODHS yang pernah hamil dan tidak, tidak menunjukkan perbedaan resiko menjadi AIDS atau penurunan CD+4 menjadim kurang dari 200. Pengaruh Infeksi HIV pada Kehamilan Penelitian di Negara maju sebelum era antiretrovirus menunjukkan bahwa HIV tidak

menyebabkan peningkatan prematuritas, berat badan lahir rendah atau gangguan pertumbuhan intra uterine sedangkan di Negara berkembang, infeksi HIV justru meningkatkan kejadian aborsi, prematuritas, gangguan pertumbuhan intrauterine dan kematian januin intrauterine terutama pada stadium lanjut. Karena kondisi fiasik ibu yang lebih buruk, juga karena kemungkinan penularan perinatalnya yang lebih tinggi. Transmisi Vertikal HIV Tanpa intervensi, resiko penularan HIV dari ibu ke janinnya dilaporkan berkisar antara 15-45%. Resiko penularan ini lebih tinggi dibandingkan dengan Negara maju (21-43% dibandingkan 14-26%). Penularan dapat terjadi asaat kehamilan, intrapartum dan pasca persalinan. Sebagian besar penularan terjadi intgrapartum. Pada ibu yang tidak menyusui. 24-40% penularan terjadi intrauterine dan 60-75% terjadi intrapartum atau saat awal menyusui dan 10-15% sisanya setelah, persalinan. Resiko intrauterine, intrapartuum dan pasca persalinan adalah6%, 18% dan 4% dari seluruh kelahiran ibu dengan HIV positif.

1

Besarnya paparan pada jalan lahir juga dikaitkan dengan ulkus serviks atau vagina. penggunaan vakum atau forceps. transmisi dikatakan in utero/ infeksi awal jika tes virologisnya positif dalam 48 jam setelah kelahiran dan test berikutnya juga positif. MAlnutrisi yang sering kali ditemukan pada ODHAakan meningkatkan resiko transmisi karena akan menurunkan imunitas. persalinan premature. Terdapatnya HIV pada cairan servikovaginal berhubungan dengan duh vagina abnormal. Pemeriksaan patologi menemukan HIV dalam plasenta ibu yang terinfeksi HIV. kadar CD +4 yang rendah dan defisiensi vitamin A. Selain menurunkan immunitas. 2 . Menurut Pediatric Virology Comitee of the AIDS Clinical Trials Group (PACTG).Kejadian transmisi HIV pada janin kembar dan ditemukannya DNA HIV. Plasenta diduga juga mempunyai efek anti HIV-1 dengan mekanisme yang masih belum diketahui. penggunaan electrode pada kepala janin. defisiensi vitamin A akan menurunkan integritas plasenta dan permukaan mukosa jalan lahir. episiotomi dan rendahnya kadar CD+4 ibu.bat penetrasi virus ke jaringan plasenta dan mengindukdi apoptosis sel-sel yang terinfeksi HIV-1. HIV ditemukan pada cairan servikovaginal 21% Odha yang hamil dan pada cairan aspirasi lambung 10% bayi yang dilahirkan. Transmisi Intrapartum Transmisi lambat atau intrapartum didiagnosis jika pemeriksaan virologisnya negative dalam 48 jam pertama setelah kelahiran dan tes 1 minggu berikutnya menjadi positif dan bayi tidak menyusui. antigen p24 pada neonatus minggu pertama membuktikan bahwa transmisi dapat terjadi selama kehamilan. IgM dan anti HIV. Sel Limfosit atao monosit ibu yang terinfeksi HIV atau virus HIV itu sendiri dapat mencapai janin secara langsung melalui lapisan sinsitiotrofoblast atau tidak langsung melalui trofoblast dan menginfeksi sel makrofag plasenta ( sel Hofbauer) yang mempunyai reseptor CD+4. Walaupuin masih belum jelas benar mekanismenya fdiduga melalui plasenta. korioamnionitis. Ketuban pecah dini lebih dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan resiko transmisi antepartum sampai dua kali lipat disbanding jika ketuban pecah kurang dari 4 jam sebelum persalinan. Bebetrapa penelitian yang mengemukakan factor-faktor yang berperan pada transmisi antepartum seperti pada tabel 1. meningkatkan progresifitas penyakit ibu. Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan servikovaginal yang mengandung virus HIV melalui paparan trakeobronkial atau tertelan pada jalan lahir. ketuban pecah dini. meningkatkan resiko berat badan lahir rendah dan fungsi immunitas gastrointestinal dan integritas fetus. Salah satu hormone plasnet. sehingga akan memudahkan terjadi trauma pada jalan lahir dan transmisi HIV vertical.human chorionic gonadotropin (hCG) diduga melindungi janin dari HIV-1 melalui beberapa cara seperti mengham.

urutan kelahiran juga memegang peranan. Transmisi pasca persalinan Air susu ibu diketahui mengandung HIV dalam jumlah yang cukup banyak. KAdar HIV tertinggi dalam air susu ibu terjadi mulai minggu pertama sampai tiga bulan pasca persalinan. hal ini disebabkan biasanya bayi pertama berada dijalan lahir lebih lama juga berukuran lebih besar. HIV ditemukan pada 58% pemeriksaan kolostrum dan air susu ibu. Menurut Duliege dkk. Partikel virus ditemukan pada komponen sel dan non sel air susu ibu. penggunaan kokain atau opiate.Beberapa penelitian menghubungkan kelahiran premature dengan stadium penyakit HIV ibu.000 kopi/mL> Namun kadar HIV yang rendah atau tidak terdeteksi tidak menjamin bahwa bayi tidak akan tertular karena pada beberapa kasus penulara tetap terjadi. Selain factor ibu. Resiko penularan pada bayi yang disusui paling tinggi pada enam bulan pertama. sedangkan PACTGA 185 menunjukkan angka <500 kopi/mL. Wiener mengemukakan hubungan linier kadar HIV ibu dan kadar HIV bayi pada 3 bulan pertama kehidupannya. kemudian menurun secara bertahap pada bulan-bulan berikutnya. meski tanpa pemakaian obat antiretrovirus. kemungkinan transmisi sangat kecil atau tidak terjadi. bayi yang lahir pertama kali mempunyai resiko tertular dua kali lebih tinggi dari bayi kedua. Selain itu.000/mL penularan yang terjadi 63%. Prematuritas dan berat badan lahir rendah diduga berperan karena sistem imunitas pada bayi tersebut belum berkembang dengan baik. Pada bayi kembar. Konsentrasi median sel yang terinfeksi HIV pada ibu yang menderita HIV adalah I per 10 4 sel. Garcia dkk menunjukkan 21% penularan HIV pada ibu dengan kadar < 100. factor janin ternyata mempengaruhi transmisi perinatal.000/mL. 3 . HIV dalam konsentrasi rendahmasih dapat dideteksi sampai 9 bulan setelah persalinan. Namun belum ada angka yang pasti pada kadar HIV berapa penularan dapat terjadi.Diantara factor-faktor tersebut. kadar HIV ibu sebelum dan saat persalinan juga akan menentgukan kadar HIV pada bayi yang ditularkannya. Penelitian dari The Women and Infants Transmission Study menunjukkan pada kadar HIV ibu < 1000 kopi/mL menjellang atau saat persalinan. Pada penelitian Nduati dkk. kadar HIV ibu saat persalinan atau menjelang persalinan merupakan predictor yang paling penting. sehingga secara tidak langsung membersihkan jalan lahir untuk bayi yang lahir berikutnya. sedangkan pada kadar > 100. Jiohn menemukan penularan empat kali lebih tinggi pada ibu dengan kadar HIV > 43. resiko penularan lebih tinggi terjadi pada ibu Hamil dengan infeksi HIV primer. Karena itu.

infeksi HIV ditegakkan jika pemeriksaan antibody menetap atau bayi meninggal akibat penyakit terkait HIV. abses payudara. Pada kehamilan. Pemeriksaan antibody ini kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan Western Blot. Berbagai macam factor lain yang dapat mempertinggi resiko transmisi HIV melalui air susu ibu antara lain mastitis atau luka di putting susu ibu. Sayangnya sensitivitas kedua pemetriksaan ini masih rendah. Demikian juga angka kematian bayi yang terinfeksi HIV-1 lebih tinggi daripada bayi yang terinfeksi HIV-2. infeksi HIV ditegakkan bila dua sample dari dua kali pemeriksaan yang berbeda dengan kultur. bahkan sampai usia 24 bulan. Semba dkk mengemukakan bahwa kadar HIV di dalam air susu ibu lebih tinggi pada ibu yang anaknya terinfeksi HIV daripada yang tidak. CD+4 ibu dan defisiensi vitamain A. deteksi DNA atau RNA HIV. Pada bayi dibawah 18 bulan. Hal ini berdasarkan bahwa resiko transmisi perinatal meningkat sesuia dengan kadar HIV ibu dan resiko transmisi dapat diturunkan hingga 20% pada ODHA yang dalam terapi ART Tujuan terapi ART pada kehamilan adalah untuk memaksimalkan kesehatan ibu dan mengurangi resiko transmisi HIV dengan cara menurunkan kadar HIV serendah mungkin. lesi di mukosa mulut bayi. ART direkomendasikan untuk semua ODHA yang hamil untuk mengurangi resiko transmisi perinatal. sehingga dapat digunakan sebagai konfirmasi diagnosis bila ditemukan pada bayi. Hali ini disebabkan masih dapat ditemukannya IgG anti HIV ibu yang melewati plasenta di darah bayi. prematuritas dan respons imun bayi. PENATALAKSANAAN INFEKSI HIV DALAM KEHAMILAN Pencegahan Transmisi Perinatal Pemberian Antiretrovirus (ART) Berbeda dengan populasi ODHA lainnya. Sedangkan IgA dan IgM anti HIV tidak dapat melewati plasenta. Selain factor-faktor yang sudah disebutkan di atas. transmisi juga dipengaruhi jenis virus. Diagnosis Infeksi HIV pada Bayi Pada bayi. hanya 1%. Transmisi vertical pada ibu yang menderita HIV-2 jauh lebih rendah dari HIV-1. pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain kultur HIV. dan deteksi antigen p24. Disebut tidak terinfeksi bila dua kali pemeriksaan atibodi menunjukkan hasil yang negative. Pada bayi dibawah 18 bulan. Disebut tidajk terinfeksi jika 2 macam sample test yang berbeda menunjukkan hasil negative Pada bayi usia 18 bulan ke atas. DNA HIV atau RNA HIV menunjukkan hasil yang positif. pemeriksaan serologi standar dseperti anti HIV dan Western Blot tidak dapat digunakkna untuk menegakan diagnosis sebelum usia 18 bulan.keuntungan 4 .Kadar HIV pada air susu ibu dipengaruhi kadar HIV serum ibu.

3%. Kesulitannya.Penelitian retrospektif oleh Wade dkk di Newyork menunjukkan kepatuhan ODHA mengikuti protocol ini sering kali menjadi tidak komplit. efek penelitian mengenai toksisitas dan efek smaping jangka lama ART pada wanita hamil masih sedikit. seringkali ODHA datang pada saat hendak melahirkan.Selain monoterapi dengan ZDV. Saat ini di Indonesia beberapa ART tersebut sudah tersedia dalam bentuk generic dengan harga yang lebih murah.28 minggu pada kelompok bayi yang tefrtular HIV. obat pencegahan yang paling mampu laksana adalah pemebrian nevirapin dosis tunggal. seperti efek teratogenesis kombinasi ART dan antagonis folat yang dilaporkan Jungman dkk. regimen lain yang sudah diteliti adalah monoterapi dengan nevirapin dan terapi kombinasi dengan ZDV dan lamivudin seperti dalam tabel 3. nevirapin dan stavudin.1% jika terapi dimulai antepartum. Cara ini ternyata efektif untuk menurunkan transmisi perinatal dari 25. Transmisi yang terjadi 6. antara lain zidovudin. Obat antiretrovirus yang pertama kali diteliti untuk mengurangi transmisi perinatal adalah zidovusdin (ZDV). seperti efek teratogenesis kombinasi ART. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut. Sayang sekali.5% pada kelompok control menjadi 8. protocol ACTG 076 ini cukup rumit. kemudian dilanjutkan pemberian pada bayi dalam 12 jam pertama Namun ternyata hiperimunoglobulin tidak memberikan efek yang protektif tambahan seperti yang diharapkan. berat bagdan lahir rendah atau kematian janin intra uterin. 10% jika dimulai intrapartum. kejadian transmisi menjadi lebih tinggi 18. Selain karena harga obat genericnya yang cukup murah.Efek samping tersebut diduga akan meningkat pada pemberian kombinasi ART. dikombinasi dengan pemberian nevirapin pada bayi. Pada PACTG protocol 076. diikuti untuk ZDV sirup yang diberikan pada bayi usia 6-12 jam sampai 6 minggu. ZDV yang diberikan per oral mulai minggu ke 14 kehamilan dilanjutkan ZDV intravena pada saat intrapartum untuk ibu. Penelitian ini kemudian dilanjutkan oleg PACTG yang menambahkan immunoglobulin spesifik HIV intravena yang diberikan setiap bulan pada ibu mulai minggu ke 20 -30 hingga persalinan. Namun penelitian terakhir oleh Toumala. dkk juga sedang meneliti kombinAasi ZDV dan nevirapin. Beberapa penelitian mencoba menggunakan ZDV dalam jangka wajktu panjangMakin lama penggunaan ART. lamivudin. Perinatal HIV Guidelines Working Group di Amerika Serikat mengajukan rekomendasi pemberian 5 . Kategori Fod and Drug Administration (FDA) tentang ART dapat dilihat di tabel 2. Jika ZDV baru diberikan setelah 48 jam.pemberian ART ini harus dibandingkan dengan potensi toksisitas. skk menunjukkan bahwa dibandingkan dengan monoterapi. Jao dkk mengungkapkan bayi yang tidak tertular HIV. terapi kombinasi ART tidak meningkatkan resiko prematuritas. Di Indonesia. Lalemant. rerata penggunaan ART ibu 6.4%. teratogenesis dan efek smaping jangka lama.5. makin besar kemungkinan penurunan resiko transmisi HIV.9% jika hanya diberikan pada bayi dalam 12 jam pertama. membutuhkan kepatuhan yang baik dan memerlukan biaya yang besar. Pada penelitian ini bayi tidak mendapat air susu ibu.

Regimen ZDV tiga bagian direkomendasikan setelah trimester pertama tanpa memandang kadar HIV ibu. semua obat harus dihentikan untuk kemudian diberikan secara simultan setelah trimester pertama untuk mencegah resistensi obat. Pertimbangkan inisiasi dan pemilihan ART sama dengan ODHA yang tidak hamil dengan pertimbangkan efek terhadap kehamilan. ODHA diberikan konseling tentang keuntungan dan resiko ART pada trimester pertama. Tanpa pertimbangan regimen sebelumnya.antiretrovirus dengan beberapa scenario seperti tabel 4. Jika ODHA memilih menghentikan ART selama trimester pertama. pemberian ART dapat ditunda sampai usia kehamilan 10-12 minggu Jika kehamilan diketahui setelah trimester pertama. Skenario ini tidak banyak berbeda dengan yang direkomendasikan British HIV Association Tabel 4. ODHA hamilyang sedang mendapatkan ART dan terapi ART yang sebelumnya diteruskan. sebaiknya hamil dengan menyertakan ZDV. dan virologisnya berat atau kadar HIV > 1000 kopi/mL: Jika ODHA datang pada trimester pertama kehamilan. Rekomendasi pemberian antiretrovirus (ART) untuk mengurangi transmisi perinatal Situasi kehamilan ODHA yang hamil yang belum Rekomendasi pernah ODHA yang hamil yang menjalani pemeriksaan klinis. ZDV dianjurkan untuk diberikan selama intrapartum dan pada bayi. Ada beberapa regimen yang dianjurkan :  Nevirapin ODHA hamil datang pada saat persalinan dan dosis tunggal pada saat persalinan dan dosis tunggal pada bayi menggunakan antiretrovirus sebelumnya 6 . imunologis dan virologist yang standar. Regimen kombinasi direkomendasikan pada ODHA yang status klinisnya imunologis. Jika kehamiloan diketahui pada trimester pertama.

Segera setelah persalinan ODHA + menjalaini pemeriksaan seperti CD4 dan kadar HIV untuk menentukan apakah ART akan dilanjutkan.6% ) tanpa membedakan seksio elektif ataupun seksio emergensi. Womwn and Infants Transfusion Study mengemukakan bahwa lamanya ketuban 7 . Namun ternyata penelitian-penelitian selanjutnya tidajk menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistic. Bayi menjalankan pemeriksaan diagnostic awal agar ART dapat diberikansesegera mungkin jika ternyata HIV positif. Penatalaksanaan Obstetrik Untuk mengurangi resiko transmisi HIV yang terutama terjadi saat intrapartum. Namun efikasi sedangkan ibu belum mendapatkan ART selama regimen ini belum diketahui dan dosis untuk anak kehamilan atau intrapartum belum sepenuhnya diketahui. Beberapa dokter dapat memilih kombinasi ZDV dengan ART lain.7% dibandingkan dengan 17. diikuti ZDV/3TC pada bayi selama seminggu  ZDV intravena intrapartum diikuti ZDV pada bayi selama 6 minggu  Dua dosis nevirapin dikombinasi dengan ZDV intravena selama persalinan diikuti ZDV pada bayi selama 6 minggu. beberapa peneliti mencoba membandingkan transmisi antara ODHA yang menjalaini seksio sesarea dibandingkan partus pervaginam ( 11. Segera setrelah persalinan. ZDV sirup diberikan pada bayi selama 6 minggu .belum mendapat ART pada usia 48 jam  ZDV dan 3TC oral pada persalinan. diketahui resisten terhadap ZDV. terutama jika ibunya Jika bayi dari ibu ODHA datang setelah persalinan. ODHA akan menjalani pemeriksaan seperti CD4+ dan kadar HIV untuk menentukan apakah ART akan dilanjutkan. dimulai secepatnya dalam 6-12 jam setelah kelahiran.

8% dibandingkan dengan 10. Karena itu seksio sesarea saat ini hanya dianggap mempunyai efek potensai parsial terhadap transmisi HIV vertical. Laporan PACTG 185 menyebutkan bahwa komplikasi minor seksio sesarea seperti endometritis. mengingat komplikasi seksio sesarea yang mungkin terjadi pada ODHA terutama pada stadium lanjut.9%). European Mode of Delivery Collaboration membandingkan transmisi peribnatal pada ODHA yang melahirkan secara pervaginam dan seksio sesarea elektif. Salahsatunya adalah pencucian jalan lahir dengan kassa yang direndam dengan 0. Seksio sesarea elektif akan lebih bermakna jika disertai dengan pemberian antiretrovirus. belum mendapat konseling tentang seksio sesarea untuk mengurangi resiko transmisi dan ART dan sedang resiko komplikasi pasca operasi. Namun pada penelitian tersebut ternyata efek seksio sesarea dengan perdarahan minimal ternyata hampir sama demngan pemberian antiretrovirus ( transmisi 6. Namun pertimbangan untguk melakukan seksio sesarea tanpa indikasi obstetric lain harus dilakukan dengan hati-hati. Selanjutnya beberqapa penelitian membandingkan resiko transmisi pada partus pervagina. Namun tidak ada perbedaan komplikasi mayor seperti pneumonia. anestesi dan resiko operasi lain. Ternyata cara ini tidak dapa mengurangi transmisi partus pervaginam.pecahsebelum persalinan lebih bermakna daripada seksio sesarea untuk menurunkan transmisi vertical ( resiko relative 1. Towers dkk mencoba teknik seksio sesarea dengan perdarahan minimal.3% disbanding 7. Resiko transmisi akan berkurang menjadi 87%. Cara ini mungkin dapat menjadi alternatif bagi ibu yang tidak dapat menggunakan antiretrovirus. ODHA dilakukan minggu. Rekomendasi cara persalinan untuk mengurangi transmisi HIV dari ibu ke anak Cara Persalinan Rekomendasi ODHA hamil yang datang Ada beberapa regimen yang harus didiskusikan dengan jelas.5%). berbagai cara telah dicoba untguk mengurangi resiko transmisi intrapartum pada ODHA. Demikian juga hasil metaanalisis dari the International Perinatal HIV Group terhadap 15 penelitian dengan lebih dari 8000 sampel di berbagai Negara. ODHA harus pada kehamilan diatas 36 mendapat terapi ART seperti regimen PACTG 076. Selain seksio sesarea. Untuk lebih mengurangi kemungkinan transmisi intrapartum. seksiosesarea emergensi fdan seksio elektif.25% kloroheksidin. Perinatal HIV Guidelines Working Group di Amerika Serika mengajukan rekomendasi penatalaksanaan obstetric untuk mengurangi transmisi HIV vertical dengan beberapa scenario seperti pada tabel 5. Tabel 5.13 ).81 dibanding 1. Ternyata seksio sesarea elektif dapat menurunkan resiko transmisi hingga 80% dibandingkan dengan partus pervaginam (1. 8 . infeksi luka dan infeksi traktus urinarius lebih banyak terjadi pada ODHA dibandingkan dengan kelompok non HIV. efusi pleura ataupun sepsis.

menunggu yang diperkirakan hasil Jika diputuskan seksio sesarea. Jika dilatasi serviks direncanakan sesarea datang persalinan elektif. seksio direncanakan pada minggu ke-38 kehamilan. ketuban pecah Air Susu Ibu vs Susu Formula 9 . kombinasi ART dan kadar seperti infeksi pasca operasi. dapat dipilih antara namun ZDV intravena dan melakukan seksio sesarea atau memberikan pitosin untuk awal mempercepat persalinan. Demikian pula dengan komplikasi seksio sesarea yang meningkat. electrode kepala. anestesi dan operasi.V harus mendapat konseling pemeriksaan HIV dan CD4+ 38nkehamilan. Keputusan akan menetuskan ART setelah melahirkan atau tidak. seksio direncanakan pada minggu keada 3 jam sebelumnya dan bayi mendapat ZDV sirup selama 6 minggu. Selama kopi/mL pada minggu ke-36 seksio. tergantung pada hasil pemeriksaan virus dan CD4+. ODHA ODHAhamil yang sudah ditawarkan untuk menjalani persalinan pervaginam. sebelumnya. Regimen ART yang digunakan tetap diteruskan. ODHAmendapat ZDV intravena yang dimulai sebelum persalinan ODHA hamil yang datang bahwa kadar HIV-nya mungkin tidak turun sampaiaaaaaaa kurang dari 1000 pada kehamilan awal dan kopi/mL sebelum persalinan. pada atau seksio minimal dan diduga persalinan akan berlangsung lama. Bayi mendapat ZDV sirup selama 6 minggu. Pemilihan cara persalinan harus mempertimbangkan kombinasi keuntungan dan resiko komplikasi seksio. Jika persalinan kemajuan cepat. monitor invasif dan alat Bantu lain sebaiknya dihindari. Selama seksio. Bayi mendapat ZDV sirup selama 6 minggu. Jika ODHA diputuskan untuk menjalani persalinan setelah pervaginam. ART lain tetap diteruskan sebelum dan sesudah persalinan.sehingga dianjurkan untuk melakukan seksio sedang mendapat sesarea. mendapatkan ART dan kadar HIV tidak terdeteksi sampai minggu ke-36 kehamilan ZDV intravena segera diberikan. ODHA yang mendapat ZDV intravena yang dimlai minimal 3 jam kehamilan. Jika diputuskan seksio HIV tetap diatas 1000 sesareaaaa. ODHA yang diberikan konseling bahwa kemungkinan transmisi jika kadar HIV tidak terdeteksi mungkin kurang dari 2% bahkan pada persalinan ODHA hamil yang sedang pervaginam.

sehingga HIV dari air susu ibu dapat masuk ke tubuh bayi. Penelitian Coutsouidis dkk menunjukkkan bahwa bayi yang mendapat air susu eksklusif selama 3 bulan mempunyai resiko transmisi HIV lebih rendah (14.7% perbulan pada usia 0-5 bulan.7% dibandingkan 20.1%) bahkan menyamai resiko pemberian susu formula saja. 10 . Namun angka kematian setelah 2 tahun pada kedua kelompok ternyata sama. Sebaiknya vaksinasi tersebut diberkan sesudah kadar HIV turun sampai tidak terdeteksi untuk mencegah peningkatan kadar HIV RNA setelah vaksinasi. Keadaan penyakit ibu juga perlu diperhatikan karena ODHA yang menyusui mwmpunyai resiko kematian yang lebih tinggi daripada yang tidak menyusui. WHO. vaksinasi hepatitis B. Di Negara majui. Ternyata tidak selamanya susu formula lebih elektif daripada air susu ibu untuk mencegah penularan HIV tetapi tergantung cara pemberiannya. Karena hal-hal tersebut. Pneumocystis carinii. 0. lalu 0. influenza dan pneumokokus tetap dapat diberikan selama kehamilan. kandida dan infeksi jamur invasive tidak dianjurkan secara rutin mengingat toksisitas obatnya.Penularan HIv melalui air susu ibu diketahui merupakan factor penting transmisi pasca persalinan dan meningkatkan resiko transmisi dua kali lipat.6% pada 6-11 bulan. Namun hal tersebut sulit dilakukan di Negara berkembang mengingat keterbatasan dana untuk membeli susu formula. Hal ini diperkirakan karena air dan makanan terkontaminasi yang diberikan pada bayi yang menerima dua macam susu tersebut merusak usus bayi. Flukonazol misalnya diketahui dapat menyebabkan deformitas skeletal dan ktraniofascial pada pemakaian jangka lama selama kehamilan.2 per 100 anak-tahun. diberbagai Negara menyebutkan resiko transmisi HIV melalui air susu ibu yang diperkirakan adalah 3. Penelitian Leroy dkk. Pada bayi yang terinfeksi HIV in utero. Miotti. M avium compleks. air susu ibu eksklusif dianjurkan kecuali jika keadaan ibu tidak memungkinkan. upaya untuk menghindari menyusui bayi dari ibuyang menderita HIV seperti yang dianjurkan tidak mengalami kendala. Toxoplasma gondii dan virus Herpes simplex pada ODHA yang hamil tidak berbeda dengan yang hamil.3% perbulan pada usia 12-17 bulan. kesulitan mencari air bersih dan menyediakan botol bersihselain norma-norma di masyarakat tertentu. Unicef dan UNAIDS mengeluarkan rekomendasi-rekomendasi untuk menghibndari air susu ibu yang terkena HIV jika alternatif susu lain tersedia dan aman. dkk pada penelitian dio Malawi membuktikan air susu iobu meningkatkan resiko transmisi HIV 0. Pencegahan dan Penatalaksanaan Infeksi Oportunistik Selama Kehamilan Terapi profilaksis dan terapi terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis. Penelitian di Nairobi yang membandingkan bayi dari ibu dengan HIV yang disusui dengan air susu ibu dibandingkan dengan susu formula emnunjukkan probabilitas infeksi HIV pada usia 24 bulan 36.5%. Namun profilaksis primer terhadap infeksi sitomegalovirus.6%) dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula dan air susu ibu (24.

11 . evaluasi. inseminasi dan pencucian sperma bagi suami. dengan antiretrovirus. Beberapa alternatif yang dapat dilakukan adalah penggunaan antiretrovirus. Karena itu timbul pertanyaan “ apakah keinginan ODHA dan pasangannya untuk emmpunyai keturunan sendiri lebih penting daripada resiko menularkan penyakit serius seperti HIV kepada bayinya. serta pelayanan antenatal dan obstetric di tempat-tempat yang menyediakan antiretrovirus. apakah mereka akan mempunyaia anak atau tidak. menjalani konseling tentang pilihan reprosuksi mereka. anak yang dilahirkan ODHA juga kemungkinan menjadi yatim piatu pada usia muda karena kematian ibunya diakibatkan AIDS. Namun jika pasutri tersebut sudah memutuskan untuk mempunyai anak sewndiri dengan kemungkinan infeksi yang disadari. Selanjutnya keputusan tetap berada di tangan ODHA atau pasangannya. Lagipula intervensi-intervesi ini belum tersedia luas di Negara-negara berkembang seperti Indonesia. pasangan tersebut sebaiknya pergi ke fasilitas ksehatan yang menyediakan konseling. namun tidak dapat sama sekali dihilangkan. ODHA yang mempunyai pasangan sebaliknya. operasi seksio sesarea dan tidak menyusui bayi. Belum lagi akibat isolasi social dari masyarakat karena dialhirkan dari ODHA. penatalaksanaan obstetric yang tepat dan pemilihan susu yang sesuai kemungkinan transmisi HIV dari ibu ke bayinya dapat dikurangi. Anak yang tidak mempunyai orangtua lagi cenderung menjadi malnutrisi dan terhambat tumbuh kembangnya dubandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan orang tua. Selain kemungkinan tertular HIV. Mereka juga cenderung untuk kurang mendapatkan pendidikan dan layanan kesehatan dibandingkan dengan anak lainnya.PILIHAN UNTUK HAMIL PADA ODHA Seperti yang sudah ditunjukkan berbagai penelitian di atas. terapi dan pemantauan penularan peruinatal HIV. Banyak wanita hamil yang belum menjalani konseling yang sesuai. Kematian orangtuanya akibat AIDS akan menyebabkan anak berada pada situasi yang membahayakan. Alternatif terbaik adalah tidak mempunyai anak atau adopsi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful