You are on page 1of 17

I. I.1.

Istilah-istilah

Istilah dan Panduan

Dalam bidang kalibrasi ada banya diantaranya : -

akronim dan istilah yang perlu diketahui,

ISO, International Organization for Standardization BSN, Badan Standardisasi Nasional KAN, Komite Akreditasi Nasional Kalibrasi, adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen pengukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dengan besaran yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukan alat ukur dan bahan ukur (test block dll) dengan cara membandingkan dengan standar (ketelitian dan akurasi yang lebih tinggi, red) ukurnya yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional untuk suatu ukuran dan/atau international.

-

Laboratorium uji, adalah sebuah laboratorium yang melakukan pengukuran, pemeriksaan, pengujian, mengkalibrasi atau lainnya untuk menentukan karakteristik atau unjuk kerja suatu material atau produk.

-

Metoda Uji, adalah prosedur teknis tertentu yang digunakan untuk menentukan satu atau lebih karakteristik yang spesifik dari suatu material atau produk. Material acuan, adalah sebuah material atau bahan yang bersifat memadai digunakan untuk bahan kalibrasi pada suatu alat. Mutu atau Kualitas, adalah gambaran dan karakteristik yang menyeluruh dari barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang ditentukan atau tersirat.

-

Kebijakan Mutu, adalah keseluruhan maksud dan tujuan organisasi yang berkaitan dengan mutu, yang secara formal dinyatakan oleh pimpinan puncak. Sistem Mutu, adalah merupakan struktur organisasi, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber daya untuk menerapkan manajemen mutu.

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

1

-

Ketidakpastian Pengukuran, adalah suatu taksiran yang mengkarakteristikkan rentang nilai-nilai yang di dalamnya terdapat nilai yang sebenarnya dari besaran ukur, taksiran tersebut bisa berupa simpangan baku atau kelipatannya.

-

Metrology, adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pengukuran. Kecermatan (akurasi), adalah kemampuan dari instrumen ukur untuk memberikan indikasi pendekatan terhadap harga sebenarnya dari objek yang diukur.

-

Kepekaan (sensitivity), adalah perubahan pada reaksi alat ukur yang dibagi oleh hubungan perubahan aksinya. Divisi, adalah pembagian skala, bagian-bagian terkecil dari suatu rentang ukur. Resolusi (Resolution), adalah harga atau skala yang paling berdekatan dari besaran yang ditunjukkan. Besaran (Quantity), adalah sifat dari suatu gejala, benda atau bahan yang dapat dibedakan secara kualitatif dan ditentukan secara kuantitatif. Nilai (value), adalah harga suatu besaran yang umumnya dinyatakan sebagai suatu angka satuan ukuran. Nilai benar (true value) , adalah nilai yang konsisten dengan definisi besaran.

Catatan : nilai sebenarnya tidak dapat ditentukan dengan pengukuran, karena setiap pengukuran memiliki ketidakpastian, lebih dari itu, definisi setiap besaran ukur bersifat tidak sempurna, dan karena itu nilai sebenarnya merupakan besaran hipotetik. - Nilai Konvensional (conventional true value), adalah nilai yang diberikan pada besaran tertentu dan diterima, kadang-kadang melalui kesepakatan, sebagai nilai yang mempunyai ketidakpastian yang sesuai untuk tujuan tertentu. Catatan : nilai ini mungkin diperoleh dari sejumlah pengukuran yang sengaja dilakukan untuk menetapkan suatu nilai konvensional. Pengukuran (measurement), adalah serangkaian operasi yang bertujuan untuk menetapkan nilai suatu besaran ukur. BMC (Best measurement capability), adalah kemampuan terbaik dari suatu alat ukur yang dijadikan standar untuk pengukuran alat. Rentang Ukur (Range), adalah besar daerah ukur antara batas ukur bawah dan batas ukur atas.

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

2

-

Koreksi adalah suatu harga yang ditambahkan sacara aljabar pada hasil pengukuran untuk mengkompensasi penambahan kesalahan secara sistematik. Alat Ukur Standar (Reference), adalah standar ketelitan yang paling tinggi pada urutan sistem kalibrasi. Alat Ukur Standar (Transfer), adalah alat ukur yang digunakan pada suatu sistem kalibrasi sebagai medium perantara untuk memindahkan harga dasar dari Standard Reference pada tingkatan yang lebih rendah. Standar Internasional, adalah yaitu :suatu standar yang ditetapkan oleh suatu persetujuan internasional, sebagai dasar untuk menetapkan suatu harga atau besaran bagi semua standar lain dari besaran yang ada. Standar Nasional, adalah standar yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah

-

-

-

-

sebagai dasar untuk menetapkan harga atau besaran dalam suatu negara untuk semua standar lain dari besaran yang ada. (Sering merupakan sebagai standar primer). Standar Primer, adalah Standar Sekunder, adalah standar primer. Standar Kerja, adalah standar yang berlaku terkalibrasi oleh standar reference dan digunakan terus menerus untuk mengkalibrasi instrument ukur. Mampu Telusur (Traceability), adalah kemampuan untuk menghubungkan hasil alat ukur tertentu dengan pengukuran pada standar nasional yang diterima sebagai sistem pengukuran melalui suatu mata rantai tertentu. Ketelitian (Presisi), adalah kemampuan proses pengukuran untuk menunjukkan hasil yang sama dari pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dan identik. Selang Waktu Kalibrasi, adalah jarak waktu untuk kalibrasi ulang atau jarak waktu antara kalibrasi pertama dengan kalibrasi berikutnya. Jenjang Kalibrasi, adalah tingkat kalibrasi yang berantai dimulai dari alat ukur yang terendah sampai dengan yang tertinggi ketelitiannya. standar yang mempunyai kualitas pengukuran paling standar yang harganya tertentu dibandingkan dengan tinggi pada suatu besaran ukur tertentu. -

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

3

1.2. Panduan
Akurasi suatu instrument tidak sendirinya timbul dari suatu rancangan yang baik, tetapi dipengaruhi oleh unjuk kerja (performance), stabilitas, kehandalan, dan biaya yang tersedia. Akurasi hanya timbul dari kalibrasi yang benar, artinya hasil pengukurannya dapat ditelusur kembali ke standar nasional atau internasional. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk, hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen pengukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dengan besaran yang dicek dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain kalibrasi adalah kegiatan yang menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukurnya yang mampu tekusur ke standar nasional atau internasional untuk satuan ukuran. a. Dari hasil kalibrasi dapat diketahui kesalahan penunjukan instrumen ukur, sistem pengukuran atau bahan ukur, atau pemberian nilai pada skala tertentu. b. Suatu kalibrasi dapat juga menentukan sifat-sifat metrologi lain. c. Hasil kalibrasi dapat dicatat dalam suatu dokumen, disebut sebagai sertifikat kalibrasi atau laporan kalibrasi. d. Hasil kalibrasi dapat dinyatakan sebagai suatu faktor kalibrasi, atau sebagai suatu deret faktor kalibrasi dalam bentuk kurva kalibrasi.

1.2.1. Tujuan Kalibrasi
1. Menentukan deviasi dari kebenaran konvensional nilai penunjukan suatu instrument ukur. 2. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional maupun internasional.

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

4

1.2.2. Manfaat Kalibrasi
Menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan spesifikasinya.

1.2.3. Perioda (Selang) Kalibrasi
Selang kalibrasi suatu alat tergantung pada karakteristik dan tujuan pemakaiannya. Ditinjau dari segi karakteristiknya, makin tinggi kualitas metrologis makin panjang selang kalibrasinya. Dan bila ditinjau dari tujuan pemakaiannya, semakin kritis dampak hasil ukurnya semakin pendek selang kalibrasinya. Jadi secara umum selang kalibrasi dipengaruhi oleh : jenis alat ukur, frekuensi pemakaian dan pemeliharaan. Selang kalibrasi biasanya dinyatakan dalam beberapa cara, yaitu : 1. Dinyatakan dalam waktu kalender. 2. Dinyatakan dalam waktu pemakaian. 3. Kombinasi cara pertama dan cara kedua. Penetapan selang waktu ini berdasarkan kepada pengalaman dan Standard Method. ( Lihat Jaminan Mutu Hasil Kalibrasi!).

1.2.4. Standar untuk Satuan Ukuran
Standar untuk satuan ukuran merupakan rujukan atau acuan yang digunakan untuk mengkalibrasi standar untuk satuan ukuran lain yang tingkat akurasinya lebih rendah atau alat ukur yang digunakan untuk mengukur/memeriksa karakteristik produk/proses. Oleh sebab itu, standar untuk satuan ukuran diklasifikasikan sebagai berikut : • Tingkat 1 (Standar Nasional) Ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah berdasarkan Undang-Undang Metrologi Legal Pasal 8, tahun 1981 dan atau oleh DSN (Dewan Standardisasi Nasional). Standar Nasional untuk satuan ukuran merupakan standar yang mempunyai tingkat akurasi dan realibilitas tertinggi di Indonesia, dan merupakan standar untuk satuan ukuran primer atau sekunder internasional. Mampu telusur secara lansung standar nasional untuk satuan ukuran ke internasional yang didukung oleh dokumen resmi. Dikelola oleh lab. Standar Nasional untuk satuan ukuran.

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

5

Tingkat II Merupakan turunan lansung dari standar untuk ukuran tingkat I dan mempunyai kemampuan telusur lansung ke standar satuan ukuran tingat I secara berkesinambungan. Digunakan secara lansung hanya untuk pembanding terhadap standar untuk satuan ukuran tingkat III. Dikelola oleh Institusi Metrologi.

Tingkat III Merupakan turunan lansung dari standar untuk ukuran tingkat II dan mempunyai kemampuan telusur lansung ke standar satuan ukuran tingat II secara berkesinambungan. Digunakan secara lansung hanya untuk pembanding terhadap standar untuk satuan ukuran tingkat IV. • Dikelola oleh Pusat Kalibrasi Tingkat IV Merupakan turunan lansung dari standar untuk ukuran tingkat III dan mempunyai kemampuan telusur lansung ke standar satuan ukuran tingat III secara berkesinambungan. • Digunakan secara lansung hanya untuk pembanding terhadap standar Kerja Dikelola oleh Laboratorium Standar Kerja Merupakan turunan lansung dari standar untuk ukuran tingkat IV dan mempunyai kemampuan telusur lansung ke standar satuan ukuran tingat IV secara berkesinambungan. Standar kerja sehari-hari lansung digunakan untuk menguji dan/atau mengkalibrasi alat-alat ukur milik masyarakat.

Institusi Kalibrasi a. Institusi Kalibrasi Eksternal. Kalibrasi eksternal harus dilakukan oleh Instansi Teknik Pemerintah atau Swasta yang berakreditasi untuk menjalankan kegiatan kalibrasi. Untuk membuktikan

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

6

kemampuan teknisnya, lab. kalibrasi harus mengikuti persyaratan yang ada di ISO Guide 25 atau Pedoman DSN 01.

b. Institusi Kalibrasi Internal Kalibrasi yang dilakukan oleh institusi ini minimum harus mempunyai 1. Alat kalibrasi yang mampu telusur; 2. Mempunyai teknisi kalibrasi yang berkualifikasi; 3. Mempunyai metoda kalibrasi; 4. Secara umum mempunyai ruangan yang terkondisi, dan lingkungan yang terjaga.

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

7

II. II.1.

Pengukuran Tekanan dan Kalibrasi Alat Ukurnya Alat Ukur Tekanan

Alat ukur tekanan secara garis besar terbagi 2 (dua) jenis. Jenis pertama adalah alat ukur tekanan yang mengukur secara langsung besaran tekanan dengan cara keseimbangan gaya, jenis ini biasanya yang digunakan sebagai Standar Primer. Contohnya Dead Weight Taster dan gelas pipa “U” yang berisi cairan standar. Jenis kedua adalah alat ukur tekanan yang mengukur besaran tekanan secara tidak langsung, jenis ini menggunakan sensor yang berupa bahan elastis, contohnya Manometer, Pressure Transducer dan lain-lain.

II.2.

Definisi Tekanan
Secara definisi Tekanan adalah gaya yang bekerja pada satu satuan unit luas,

sedangkan gaya adalah hasil perkalian antara Massa dengan percepatan gravitasi, sehingga bila ditulis dalam bentuk rumus menjadi sebagai berikut : P = F ……………………………………. (1a) A = M.g …………………………………. (1b) A Untuk gaya yang dihasilkan oleh massa suatu cairan, dalam persamaan (1b) M = d.v, dan v = A.h. Dengan demikian persamaan (1b) dapat dirubah menjadi sebagai berikut : P = d . g . h ………………………… (1c) Dengan : P : Tekanan F : Gaya M : Massa g : Gravitasi A : Luas d : Densitas Cairan h : Tinggi Cairan

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

8

2.3.Satuan Tekanan
Sesuai dengan persamaan (1), dimensi dari satuan tekanan adalah Massa (M), Percepatan (L/t²) dibagi luas (L²). Atau ML-1T-2. Namun dalam prakteknya dimensi satuan terbagi dalam 3 macam yaitu : a. ML-1T-2 b. ML-2 c. L Contohnya : Pascal (N/m²), bar Contohnya : PSI, Kg/cm² Contohnya : Cm Hg, Cm air, Cm Gasoline

Namun pada suatu konfrensi Internasional tentang berat dan massa yang diadakan pada tahun 1971, sebagai satuan Internasional untuk tekanan diambil “Pascal” sama dengan Newton per meter Kwadrat.

2.4.Manometer
Bourdon adalah salah satu sensor tekanan yang banyak sekali digunakan terutama untuk tekanan sedang sampai tinggi, bentuknya dapat berupa spiral, Helical atau C, yang paling sederhana adalah bentuk C. Bila pada element sensor bourdon diberikan tekanan maka gaya akan keseluruh arah, karena luas penampang bagian luar lebih besar dari pada luas penampang bagian dalam, maka gaya yang bekerja kebagian luar lebih besar, sehingga ujung bourdon akan bergerak ke arah luar, yang akan menggerakkan Kwardan yang dihubungkan dengan jarum penunjuk. Setiap alat ukur mempunyai kesalahan, begitu juga pada Manometer ada lima type kesalahan yaitu : a. Konstan b. Linier c. Kwadratic d. Komplek e. Acak dimana : x (p) : Kesalahan fungsi dari tekanan x (p) = a x (p) = bp x (p) = cp² x (p) = a + bp + cp² x (p) = …………………

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

9

P a,b,c

: Tekanan Pengukuran : Konstanta

Cara mengatasi kesalahan konstanta pada sebuah manometer yaitu dengan cara merubah posisi “jarum penunjuk” pada posisi yang benar, sedangkan kesalahan linier, mengatur besarnya penguatan dengan jalan merubah-ubah posisi “sekrup ganda” dan untuk Kwadratic yang harus dirubah adalah sudut, dengan cara mengatur panjangnya “batang pengatur sudut” Untuk “kesalahan komplek” ketiga langkah diatas harus dilakukan dimulai dari langkah mengatasi kesalahan kwadrat lalu linier dan terakhir baru posisi jarum penunjuk, sedangkan untuk kesalahan acak tak ada yang dapat di lakukan untuk memperbaiki kesalahannya. Selain kesalahan-kesalahan tersebut diatas ada satu lagi parameter yang harus diperhatikan yaitu “hysteresis” yang dapat diketahui dengan cara melakukan pengukuran naik (0 ke 100) dan turun (100 ke 0), Hysteresis ini selain disebabkan oleh material bourdon, juga disebabkan oleh gaya gesek dari komponen-komponen Manometer.

2.5.Dead Weight Tester
Dead Weight Tester dikenal pula dengan nama Pressure Balance atau Piston Gage. Karena mulai bekerjanya alat ini pada saat terjadi keseimbangan gaya dan komponen terpentingnya berupa sebuah piston-silinder. Pada dasarnya alat ini terdiri dari tiga komponen yaitu : a. Piston-silinder b. Beban (Weight) c. Pompa Penekan Piston-silinder merupakan komponen terpenting dalam Dead Weight Tester, terdiri dari piston yang dimasukkan ke dalam suatu silinder secara pas sekali, sehingga fluida penghantar tidak dapat ke luar melalui rongganya, tapi piston dapat bergerak secara bebas (gesekan kecil sekali) terhadap silinder. Untuk memperkecil gesekan yang terjadi antara piston dengan silinder posisi Piston-silinder harus betulbetul vertikal dan pada saat pengukuran piston selalu diputar.

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

10

Beban yang diletakkan di atas piston akan memberikan tekanan melalui media penghantar yang besarnya berbanding terbalik dengan luas Piston-silinder, sesuai dengan persamaan (1).

Untuk menghasilkan tekanan yang akurat, diperlukan kecepatan dalam pengukuran massa beban, luas efektif Piston-silinder, semua faktor yang mempengaruhi terhadap massa (gaya) beban antara lain:

 Gaya Bouyancy : Gaya angkat ke atas yang diberikan oleh udara
F1 = -gM (du/db) ..................................(2) dengan : F1 M du db : Gaya Bouyancy : Massa beban : Densitas udara : Densitas beban

Besarnya koreksi : M = ± df V ……………………………. (3) dengan : M Df V : Koreksi Massa : Densitas fluida : Volume fluida yang terdesak atau ikut pada bagian dasar Piston

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pada luas Piston-silinder antara lain : a. Temperatur, penyebab terjadinya pemuaian atau penyusutan sistem Pistonsilinder, sehingga luas efektif Piston-silinder sebagai fungsi dari temperatur. b. Tekanan, penyebab perubahan bentuk (deformasi) sistem Piston-silinder, sehingga luas Piston-silinder fungsi dari temperatur dan tekanan : A (t,p) = A (20,0) (1+ (α + β) (t – 20) (1 + λp) …………………….. (4) Bila faktor-faktor koreksi diatas dimasukkan, maka persamaan (1b) menjadi : Pe = g Dengan : Pe A(t,p) : Tekanan terkoreksi dari DWT : Luas piston-silinder pada t c, dan tekanan p M (1 – du/db) ± df . V A(20,0) (1+ (α + β) (t – 20) (1 + λp) .............................. (5)

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

11

A(20,0) : Luas piston-silinder pada O C, dan tekanan O α+β λ P : Koefisien muai piston, silinder : Koefisien deformasi piston-silinder : Tekanan Pengukuran

Selain koreksi terhadap massa dan luas piston, masih memungkinkan adanya koreksi pada saat dilakukan komparasi antara DWT yang disebabkan adanya perbedaan level dasar kedua DWT. Besarnya koreksi : ∆P = df.g.h …………………………. (6) dengan h : Beda level bagian dasar piston antara DWT. Bila kedua DWT dikomparasikan, pada saat terjadi keseimbangan maka berlaku : P1 = P2 + ∆P ……………………….. (7) dengan : P1 P2 ∆P : Tekanan yang dihasilkan oleh DWT 1 : Tekanan yang dihasilkan oleh DWT 2 : Koreksi Tekanan karena beda level dasar piston

Dengan menggunakan pers, (5), (6), (7), maka luas efektif sistem pistonsilinder dari suatu DWT dapat dihitung dengan cara dikomparasikan / dikalibrasi dengan DWT standar, sehingga tiap bebannya data diketahui niali tekanan.

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

12

2.6.Traceability Alat Ukur Tekanan

Unit Dasar

Massa, Panjang, Waktu

Interferometric s/d 1 Bar

Dead Weight Tester Udara s/d 25 Bar
(0.015 %)

Dead Weight Tester Oli s/d 4000 Bar
(0.02 %)

DWT Oli 700 Bar
(0.02 %)

DWT Oli 120 Bar
(0.02 %)

Barometer std

Manometer U Hg/air std
(0.03 %)

DWT Udara std
(0.03 %)

DWT Oli 40 Bar
(0.02 %)

Barometer std Lapangan

Manometer U Hg/air std Lapangan
(0.05 %)

DWT Udara Std lapangan
(0.05 %)

DWT Oli std Lapangan
(0.05 %)

Test gauge Udara
(0.1 %)

Manometer Digital
(0.1 %)

Test gauge Oli
(0.1 %)

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

13

INSTRUMEN TEKANAN YANG DIGUNAKAN DI LAPANGAN

III.

Metode Kalibrasi Tekanan

III.1. Alat-alat yang digunakan
1. Comparison pump 2. Standar Test gauge 0-5 bar akurasi kelas 0,25 3. Liquid ( Oli/Water/Gas ) 4. Kain Pembersih 5. Seal tape 6. Thermohygrometer 7. Kunci Pas 8. Kunci Inggris 9. Water Pass 10. Metal Rule

III.2. Perhitungan Ketidakpastian
Bersumber dari : 1. Ketidakpastian baku standard test gauge

U1 = Ketidakpastian Standard Test Gauge / k V1 = 60
2. Ketidakpastian baku karena variasi temperature Temperatur asumsi ruangan pengukuran bervariasi dalam limit ± 2°C dengan

U2 (t) = (1/2 x 2°C)/(3)1/2 = 0,57735 °C (distribusi rectangular) V2 = 1E+80 Ci = (23e – 6 °C^-1 * Tekanan Nominal)
PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge 14

3. Ketidakpastian baku dari variasi perbedaan level acuan

U3 = Ketidakpastian Standar ( Metal Rule) Faktor Cakupan k V3 = 60
Koefisien sensitifitas untuk komponen ini adalah pg tergantung media yang digunakan dlm kalibrasi ( oil/ aquadest ), jika diketahui densitas oil tellus 37 = 872 kg/ m^3 dan densitas air = 998 kg/m^3, jika media yg digunakan oil Ci = ( 800 kg/m^3 x 9.78 m /s^2 ) x Konversi Pa ke satuan yang digunakan 4. Ketidakpastian baku dari variasi percepatan gravitasi local Jika variasi tersebut diasumsikan sebesar 25 ppm dengan distribusi rectangular, maka:

U(g) = [{(1/2)x25 ppm} /(3)1/2] x 9,78 m/s2 = 0,000070581 m/s^2 V4 = 1E+80
Koefisien sensitifitas untuk komponen ini adalah P/g, sehingga pada titik pengukuran 5 Bar diperoleh :

Ci = ( 5 Bar / 9.78 m/s^2)
5. Ketidakpastian readability

U5 = 1/5 x resolusi /(3)1/2 V5 = 1E+80 Ci = 1
Ketidakpastian hasil pengukuran diperoleh dengan : Untuk readability memperhatikan Scale Interval (SI) alat yang dikalibrasi sebagai berikut : SI < 1,25 mm, readability-nya adalah ½ resolusi 1,25 mm ⊆ SI ⊆ 2,5 mm , readability-nya adalah 1/5 resolusi

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

15

-

SI > 2,5 mm, readability-nya adalah

1

/10 resolusi

6.

Ketidakpastian repeatability

U6 = (½ X selisih pembacaan terbesar)/sqrt(3) V6 = n – 1 = 2 Ci = 1
Ketidakpastian Gabungan : Uc Derajat Kebebasan Efektif

=

Σ (ciUi)2

Veff = (Uc)4/ ∑ (ciUi)4/Vi
dimana; ci = koefisien sensitifitas pada ketidakpastian ke-i Uc = ketidakpastian gabungan Ui = ketidakpastian individual ke-i Vi = derajat kebebasan pada tingkat kepercayaan ke-i Ketidakpastian Diperluas : U95 = ± k . Uc 3.3. Penyajian Laporan Laporan diberikan kepada Manajer Teknis setelah diverifikasi oleh Penyelia dengan lampiran data hasil Kalibrasi, data perhitungan ( Koreksi dan Ketidak Pastian Kalibrasi ). Selanjutnya laporan disajjikan sesuai dengan aturan yang didokumentasikan.

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

16

IV.

PENUTUP

Demikianlah Modul Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge ini disusun sebagai bahan materi pelengkap bagi para peserta. Kami, dari Team Teknis PT. Eldepe Kalibrasi Instrumenindo bermohon maaf apabila selama dalam proses pelatihan banyak kekurangan. Tidak lupa Kami sampaikan terima kasih atas partisipasi dari semua pihak yang membantu terlaksananya pelatihan ini. Sekian dari kami, Semoga Kerjasama ini bisa berlanjut. Terima kasih.

PT. Express Transindo Utama | Pelatihan Dasar Kalibrasi Pressure Gauge

17