14 Infertilitas pada Pria

Kurang lebih 10-15% istri dari pasangan suami-istri atau pasutri yang berhubungan seksual tanpa mempergunakan alat kontrasepsi belum hamil pada tahun pertama perkawinan. Kegagalan pasutri dalam memperoleh keturunan itu, 30% disebabkan oleh faktor yang berasal dari suami, 20% disebabkan oleh faktor yang berasal dari suami dan istri. Jadi paling sedikit terdapat 50% penyebab infertilitas berasal dari pria. Meskipun pada tahun-tahun berikutnya kemungkinan untuk mendapatkan kehamilan masih tetap ada, tetapi pasutri yang belum berhasil pada saat itu kemungkinan untuk tetap infertile (mandul) cukup besar sehingga evaluasi medik harus sudah mulai dilakukan. Mengingat kemungkinan infertilitas yang disebabkan oleh istri juga cukup besar maka evaluasi infertilitas pada pasutri harus dilakukan secara komprehensif bersama-sama dengan seorang spesialis ginekologi. Fisiologi reproduksi pria Kemampuan seorang pria untuk memberikan keturunan tergantung pada kualitas sperma yang dihasilkan oleh testis dan kemampuan organ reproduksinya untuk menghantarkan sperma bertemu dengan ovum. Kualitas sperma yang baik dapat dihasilkan oleh testis yang sehat setelah mendapatkan rangsangan dari organ-organ pretestikuler melalui sumbu hipotalamo-hipofisis-gonad. Kemampuan sperma untuk melakukan fertilisasi ditentukan oleh patensi organ-organ pasca testikuler dalam menyalurkan sperma untuk bertemu dengan ovum. Spermatogenesis Sperma diproduksi di dalam testis melalui proses spermatogenesis. Proses ini diatur oleh sumbu hipotalamo-hipofisis-gonad. Hipotalamus mengeluarkan hormon gonadotropin releasing hormone (GnRH) yang merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk memproduksi hormon gonadotropin yaitu follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Produksi hormon testosteron oleh sel-sel Leydig di dalam testis diatur oleh LH dan pada kadar tertentu, testosteron memberikan umpan balik negatif kepada hipotalamus/hipofisis sebagai kontrol terhadap produksi LH. FSH merangsang tubuli seminiferi (terutama sel-sel Sertoli) dalam proses spermatogenesis, disamping itu sel-sel ini memproduksi inhibin yaitu suatu substansi yang mengontrol produksi FSH melalui mekanisme umpan balik negatif (Gambar 14-1).

dan selanjutnya dialirkan melalui vas deferens untuk disimpan di ampula duktus deferens. cairan prostat (15-20%). dimulai dari fase pretestikuler-testikuler (pada sumbu hipotalamo-hipofisis-gonad) sampai pasca testikuler. Sel-sel spermatogonum mengalami mitosis menjadi sel-sel diploid spermatosid I (mempunyai 46 kromosom) dan mengalami meiosis menjadi sel-sel haploid spermatosid II (mempunyai 23 kromosom).1. dan mengalami tarnsformasi menjadi spermatozoa sesuai dengan urutan mulai dari : spermatogonium  spermatosid I  spermatosid II  spermatid  spermatozoa (Gambar 14-2). Spermatogonium kemudian mengalami mitosis. yang kemudian disalurkan ke epididimis melalui duktuli eferentes. Gambar 14-2. Proses ini menyebabkan sperma beserta cairan vesikula seminalis dan cairan prostat terkumpul di dalam uretra posterior dan siap disemprotkan keluar dari uretra. Di dalam epididimis sperma mengalami maturasi sehingga mampu bergerak (motile). cairan vesikula seminalis (50-55%). Setelah di deposit di dalam vagina. dan cairan-cairan dari epididimis dan vas deferens. Proses transformasi pembentukan spermatozoa yang siap disalurkan ke epididimis disebut spermiogenesis. HA: hipofisis anterior. Dalam waktu 5 menit sperma dapat bergerak mencapai ampula tuba falopii dan setelah mengalami perubahan fisiologis bertemu dengan ovum dan terjadilah fertilisasi. Proses ejakulasi terjadi karena adanya dorongan ritmik dari kontraksi otot bulbo kavernosus.Gambar 14. Komposisi cairan yang diejakulaiskan atau disebut mani/ cairan semen terdiri atas spermatozoa (1%). dan selanjutnya mengalami mitosis menjadi sel-sel spermatid. HT: hipotalamus. Proses ini diawali dari fase emisi yaitu terjadinya kontraksi otot vas deferens dan penutupan leher bulibuli di bawah kontrol saraf simpatik. Proses spermatogenesis di dalam tubulus seminiferus Transportasi sperma Sperma yang dibentuk di tubuli seminiferi terkumpul di dalam rete testis (yaitu tempat bermuaranya tubuli seminiferi di dalam testis). sperma masih dapat hidup hingga 36-72 jam. Sperma dikeluarkann dari organ reproduksi pria melalui proses ejakulasi. Proses produksi sperma (spermatogenesis) berlangsung di dalam testis dimulai dari diferensiasi sel stem primitif spermatogonium yang terdapat pada membrana basalis tubulus seminiferus testis. disimpan beberapa saat di kauda epididimis. . Sel-sel spermatid ini mengalami transformasi menjadi spermatozoa sehingga terbentuk akrosom dan flagella serta hilangnya sebagian sitoplasma. Seluruh proses spermatogenesis ini berlangsung kurang lebih 74 hari. meiosis. Skema reproduksi pria.

Selain itu 40% penyebab infertilitas pria adalah idiopatik yaitu infertilitas yang masih belum dapat diketahui penyebabnya. gagal hepar. Evaluasi dari pihak pria meliputi anamnesis. (2) testikuler yaitu kelainan dalam proses spermatogenesis. radiasi Orchitis Trauma testis Penyakit sistemik: gagal ginjal. anemi bulan sabit Kriptorkismus Varikokel Pasca Testikuler Gangguan transportasi sperma o Kelainan bawaan: vesikula seminalis atua vas deferens tidak terbentuk yaitu pada keadaan congenital bilateral absent of the vas deferens (CBAVD) o Obstruksi vas deferens / epididimis akibat infeksi atau vasektomi o Disfungsi ereksi. dan FSH Kelainan pada hipofisis o Insufisiensi hipofisis oleh karena tumor. yang bertujuan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan dari pihak istri. dan (3) pasca testikuler yaitu kelainan pada proses transportasi sperma hingga terjadi fertilisasi (Tabel 14-1 dan Gambar 14-1). .Etiologi Infertilitas pria dapat disebabkan oleh karena kelainan-kelainan yang terdapat pada fase-fase: (1) pre testikuler yaitu kelainan pada rangsangan proses spermatogenesis. radiasi. pemeriksaan fisik. Tabel 14-1. gangguan emisi. Etiologi Infertilitas Pria Pre Testikuler Kelainan pada hipotalamus o Defisiensi hormon gonadotropin yaitu LH. atau operasi o Hiperprolaktinemia o Hemokromatosis o Substitusi / terapi hormon yang berlebihan Testikuler o o o o o o o o Anomali kromosom Anorkhismus bilateral Gonadotoksin: obat-obatan. dan gangguan ejakulasi (ejakulasi retrograd) Kelainan fungsi dan motilitas sperma o Kelainan bawaan ekor sperma o Gangguan maturasi sperma o Kelainan imunologik o Infeksi Evaluasi dan Diagnosis Evaluasi pasutri yang menderita infertilitas harus dilakukan secara komprehensif bersama ahli obstetri dan ginekologi.

gagal liver. kokain. dan pemeriksaan penunjang yang mungkin dapat menemukan penyebab infertilitas. dan pembedahan pada retroperitoneal o Pekerjaan dan kebiasaan: perokok. pembedahan pada pelvis. Tindakan pembedahan yang pernah dijalani pada masa lalu dapat pula mempengaruhi sistem reproduksi. frekuensi senggama. Demikian pula serangan parotitis akut (mump) yang diderita pada usia pubertas dapat menyebabkan kerusakan testis. Pada pemakaian steroid dalam jangka . trauma serta didapatkannya varikokel atau kriptorkismus dpaat mempengaruhi spermatogenesis. Disamping itu torsio atau trauma pada testis dapat menyebabkan reaksi imunitas testis akibat rusaknya blood testis barrier. Testis yang pernah mengalami torsio. terpapar oleh radiasi. dan bahkan dapat membunuh sperma seperti pada pemakaian jelly KY. sedangkan penggunaan pelicin sewaktu senggama dapat mengurangi motilitas sperma seperti pada pemakaian air ludah / saliva. dan riwayat reproduksi sang istri seperti terlihat pada Tabel 14-2. dan disfungsi tiroid) dapat menurunkan kualitas testis dan mengurangi potensi seksual. Riwayat penyakit dahulu: o Penyakit sistemik (kencing manis. dan rongga retroperitoneal dapat mempengaruhi fungsi seksual. orkidopeksi. Infeksi gonore atau tuberkulosis pada masa lalu menyebabkan pembuntuan vas defens. alkohol. anemia bulan sabit. trauma. Wawancara untuk menggali penyebab infertilitas pria I. Anamnesis Pada anamnesis ditanyakan mengenai riwayat seksual. dan marijuana dapat menurunkan kemampuan spermatogenesis. Penyakit sistemik (kencing manis. torsio testis. epididimis. faal liver. nikotin. dan pestisida. III. dan penggunaan lubrikan pada saat senggama II. o Riwayat pemakain obat-obatan dalam jangka lama: marijuana dan steroid o Riwayat operasi: pasca herniorafi. sering menderita episode febris. riwayat penyakit yang pernah diderita. gagal ginjal. mump (gondongen). antara lain: herniorafi dapat merusak pembuluh darah vas deferen.laboratorium. dan fungsi tiroid). infeksi saluran kemih. simetidine. Pemakaian obat-obatan nitrofurantoin. maupun duktus ejakulatorius. Riwayat reproduksi pasangannya (isteri) Libido maupun potensi seksual yang lemah mengurangi kemampuan sperma mengumpul di vagina. Tabel 14-2. gangguan faal ginjal.Riwayat seksual: o Libido / potensi seksual.

dan organ genitalia ukurannya kecil. korpus. Pemeriksaan genitalia o Jaringan parut (bekas herniotomi atau bekas orkidopeksi / orkidektomi). Dicari pula kemungkinan adanya varikokel yang dapat mempengaruhi kualitas maupun kuantitas sperma. kauda. atau penyempitan lapangan pandang (visual field) II. ukuran. vesikula seminalis. III. anosmia (pada sindroma Kallmann). Epididimis diperiksa mulai kaput. epididimis. keadaan testis (jumlah. yang menyebabkan kegagalan dalam transportasi sperma. anosmia. Colok dubur: menilai pembesaran / nyeri pada prostat. pubis. Untuk mencari keberadaan dan adanya kelainan pada vesikula seminalis serta kelenjar prostat. epididimis atau vas deferens menebal atau tak teraba. Panjang testis normal pada orang dewasa adalah lebih dari 4 cm dengan volume 20 ml. Pemeriksaan Fisis Pada pemeriksaan fisis dicari kemungkinan adanya kelainan sistemik atau kelainan endokrinologi yang mempengaruhi proses spermatogensis dan proses transportasi sperma. atau penyempitan muara uretra. Diperhatikan penampilan pasien. Panjang testis diukur dengan kaliper. adanya hipospadi.Pemeriksaan umum o Fisik tubuh kekar. sedangkan volume testis diukur dengan orkidometer atau ultrasonografi. Tidak didapatkannya vas deferens pada kedua sisis perlu dipikirkan adanya kelainan bawaan pada vas deferen atau congenital bilateral absent of the vas deferens (CBAVD). dan penis.galaktore. diperhatikan konsistensi dan ukurannya. vas deferens. reflek bulbokavernosus. dan badan sangat jarang. apakah tampak feminin atau seperti orang yang telah dikebiri (orang kasim atau eunuchoidism) yaitu badannya tumbuh besar. Testis yang mengecil merupakan tanda adanya kerusakan tubulus seminiferus. varikokel. Adanya obstruksi pada epididimis ditandai dengan adanya jaringan fibrosis yang teraba seperti tasbeh akibat infeksi kuman tuberkulosis. keadaan vesikula seminalis. prostat. seperti terlihat pada Tabel 14-3. dan konsistensinya). dan gangguan lapangan penglihatan yang terdapat pada tumor hipofisis. dilakukan colok dubur atau ultrasonografi trans rektal. Dicari kemungkinan adanya ginekomasti. Tabel 14-3. ginekomasti. Pemeriksaan genitalia pria meliputi testis. Pada palpasi testis.waktu lama dapat menimbulkan hipogonadotropik hipogonadisme yangmenghambat spermatogenesis. galaktore. pertumbuhan rambut pada ketiak. Tidak didapatkannya vesikula . Pemeriksaan infertilitas pada pria I.

pemeriksaan hormon untuk menilai fungsi sumbu hipotalamo-hipofisis-gonad (FSH. Jika didapatkan adanya leukosit pada analisis semen atau diduga terdpaat infeksi pada genitalia harus dicari kuman penyebab infeksi dengan melakukan kultur cairan semen. besar. pernah mengalami cedera testis. Analisis semen Pemeriksaan analisis semen dilakukan setelah 2-3 hari pasutri menjalani abstinensi (tidak berhubungan seksual). dan nyeri merupakan tanda dari prostatitis. Keadaan ini terdapat pada ± 3% dari infertilitas pria. Pemeriksaan imunologik Antibodi anti sperma terdapat pada ± 3-7 % pria infertil. torsio testis. Pada penis diperjatikan adanya hipospadi atau korde yang keduanya dapat mempengaruhi kemampuan pengumpulan sperma di vagina. dan beberapa pemeriksaan imunologik yang mungkin diperlukan untuk membantu mencari penyebab infertilitas. Pada peemriksaan ini dihitung bebrapa parameter. Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan kimia klinik rutin untuk mencari kemungkinan adanya kelainan sistemik. antara lain: volume ejakulat.seminalis mungkin disebabkan karena kelainan bawaan. Kecurigaan adanya kelainan hormonal adalah jika pada analisi semen didapatkan densitas sperma yang sangat rendah (kurang dari 5 juta sperma per ml) atau oligospermia ekstrem. prolaktin dan testosteron. dan setelah menjalani vasektomi. Prostat yang teraba keras. Pemeriksaan hormon Pemeriksaan hormon dilakukan jika pneyebab infertilitas adalah karena kelainan endokrin. dan ultrasonografi trans rektal untuk mencari keberadaan vesikula seminalis. Hormon yang diperiksa meliputi FSH. Kadang-kadang dibutuhkan pemeriksaan pencitraan antara lain: ultrasonografi doppler guna membantu mencari adanya varikokel. jumlah (konsentrasi) sperma. motilitas. Biopsi testis Biopsi testis dikerjakan untuk membedakan antara kelainan primer pada proses spermatogenesis dengan kelainan obstruksi transportasi sperma. LH. biopsi testis. Kecuali itu diperhatikan pula konsentrasi fruktose yang dihasilkan oleh vesikula seminalis. testosteron. vasografi untuk menilai patensi saluran vas deferens / duktus ejakulatorius. Aenker. Contoh ejakulat ditampung di dalam tabung yang tidak mengandung spermisidal dan paling lambat aanlisis dilakukan 2 jam setelah ejakulasi. . LH. Terbentuknya antibodi ini ada hubungannya dengan inflamasi pada genitalia. atau Conroy. Kedua kelainan ini menunjukkan adanya oligospermia yang berat atau azoospermia tetapi pada pemeriksaan hormon FSH normal. Jaringan testis hasil biopsi tidak boleh diawetkan dalam larutan formalin melainkan dalam larutan Bouin. pemeriksaan analis semen. dan morfologinya. uji fungsi sperma. dan prolaktin).

Pembedahan Usaha pembedahan yang dilakukan ditujukan pada tempat kelainan penyebab infertilitas. koreksi terhadap penyebab kerusakan testis.Untuk melihat patensi vas deferens. yaitu mungkin operasi pada organ pre testikuler. dan hyposmotic swelling test. Tabel 12-4. Adanya antibodi antisperma yang didapatkan pada pemeriksaan imunologik dapat dicoba dengan pemberian kortikosteroid. Beberapa pengujian itu adalah: interaksi sperma dengan mukus (getah) serviks. Harga Normal Analisis Semen Volume Ejakulat Total sperma Atau konsentrasi sperma Motilitas (gerakan >2) Morfologi: bentuk normal Aglutinasi sperma Piospermi Uji Fungsi Sperma Sekarang banyak sekali pemeriksaan untuk menilai kemampuan fungsi sperma dalam menembus organ genitalia wanita hingga bertemeu dengan sel telur dan terjadinya pembuahan. dan ejakulasi retrograd. Adenomektomi hipofisis pada adenoma hipofisis 1.5-5 Ml >50 juta >20 juta/Ml >50% >60% - . Ejakulasi retrograd dapat diberikan golongan adrenergik alfa atau trisiklik anti depresan (imipramin) yang dapat menyebabkan kontraksi leher buli-buli pada saat emisi sperma pada uretra posterior. hemizona assay. uji penetrasi sperma (zone free harmster penetration). dan koreksi saluran yang membuntu penyaluran sperma. duktus ejakuloatorius. Tindakan itu bisa berupa: 1. kemudian diberikan hormon human chorionic gonadotropin atau hCG (misalkan dengan pregnyl atau profasi). Terapi Medikamentosa Kelainan-kelainan yang mungkin masih dapat dikoreksi secara medikamentosa adalah: defisiensi hormon. dan vesikula seminalis biasanya dilanjutkan dengan pemeriksaan vasografi atau seminal vasikulografi yaitu dengan menyuntikkan bahan kontras melalui vas deferens dan mengikuti jalannya kontras samapai ke uretra posterior. infeksi. reaksi imunologik antibodi antisperma. Pada hipogonadotropik-hipogonadismus (hipogonadismus sekunder) dapat dicoba diberikan LH untuk merangsang sel Leydig memproduksi teststeron.

epididimis. 3. gamette intrafallopian tube transfer (GIFT). Teknik-teknik itu antara lain adalah inseminasi intra uterin (IUI). Pada teknik ICSI. Pasien yang menderita kelainan bawaan karena tidak mempunyai vas deferens pada kedua sisi (CBAVD) dibuatkan lubang pada epididimis (spermatokel aloplastik) sehingga dapat dilakukan aspirasi sperma langsung dari epididimis.2. Teknik reproduksi artifisial Pada klinik-klinik infertilitas modern. . Dengan ditemukan teknik mikromanipulasi pada gamet melalui teknik intracytoplasmic sperm injection (ICSI) saat ini perkembangan fertilisasi in vitro semakin bertambah maju. sedangkan pada pembuntuan yang lebih proksimal yaitu pada epididimis dilakukan penyambungan epididimo-vasostomi yaitu penyambungan epididimis dengan vas deferens. saat ini telah dikembangkan teknik-teknik untuk mengatasi hambatan dalam proses fertilisasi/ pertemuan antara sel sperma dengan ovum melalui inseminasi buatan. dan mikromanipulasi. ataupun langsung dari testis. satu sperma disuntikkan ke dalam sel telur (yang telah mengalami processing) sehingga hambatan fertilisasi berupa ketidakmampuan sperma untuk menembus zona pelusida sel telur sudah tidak ada lagi. fertilisasi in vitro (IVF). Pengambilan sperma dari epididimis / testis dilakukan pada pasien azoospermia obstruktif (pasca testikuler). Sperma diambil dari ejkaulat. Melalui teknik bedah mikroskopik angkan keberhasilan penyambungan vas deferens (yang ditandai dengan terdapatnya sperma pada ejakulat) ± 80-90% sedangkan angka keberhasilan fungsional (pasangan menjadi hamil) ± 50-60%. Pembuntuan pada duktus ejakulatorius dilakukan reseksi transuretral. Varikokel yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada spermatogonium dilakukan operasi vasoligasi tinggi atau varikokelektomi. Jika terdapat pembuntuan pada vas deferens karena infeksi atau setelah menjalai vasektomi dilakukan penyambungan kembali vas deferens atau vaso-vasostomi. 4. Teknik aspirasi sperma ini dapat dilakukan melalui bedah mikroskopik yang disebut dengan mikrosurgical epididymal sperm aspiration (PESA).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful