You are on page 1of 18

STATUS ILMU PENYAKIT SARAF RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI Nama Mahasiswa NIM : Suci Dwi Putri

: 030.08.234

Dokter Pembimbing : dr. Maysam Irawati Sp. S IDENTITAS PASIEN Nama Usia Status perkawinan Pekerjaan Alamat : Ny. E P : 22 tahun : : : Jakarta Selatan Jenis kelamin : perempuan Suku bangsa : Jawa Agama Pendidikan : Islam : -

Tanggal masuk RS: 28 Desember 2012

A. ANAMNESIS Diambil dari Alloanamnesis (suami) tanggal 28 Desember 2012 Keluhan Utama: penurunan kesadaran perlahan sejak 3 hari SMRS Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien dibawa ke IGD RSUP Fatmawati oleh keluarganya dengan keluhan penurunan kesadaran perlahan sejak 3 hari SMRS. 3 bulan SMRS, pasien pernah dirawat di RSUP Fatmawati karena menderita kejang dan sakit kepala disertai diare lama (± 1 bulan). Sakit kepala juga sudah di derita sejak lama, dirasakan semakin berat dan tidak lagi hilang dengan obat-obatan warung. Oleh dokter saraf pasien di sarankan untuk melakukan pengambilan cairan otak karena dicurigai ada infeksi intrakranial, namun keluarga menolak dan meminta pasien untuk dipulangkan. Kemudian pasien dipulangkan dan dikatakan kondisinya baik. Pasien diminta untuk tetap kontrol ke RS. Selama 2 bulan pasien tidak pernah kontrol, sehingga kembali ke RS karena merasa sakit kepala semakin berat dan badan terasa lemah. Pasien dikatakan mengalami sakit TB paru dengan HIV. 1

DM. Riwayat kebiasaan dan sosial Riwayat pemakaian narkoba dijumpai sejak 8 tahun yang lalu. Riwayat sakit HIV. jantung. dengan menggunakan jarum suntik. 17 hari SMRS kondisi pasien semakin buruk. Kondisi pasien saat itu masih lemah. penyakit jantung (-). Saat ini pasien masih terlihat lemah. dan pasien tidak dapat di ajak berkomunikasi. namun karena tempat penuh selama 2 hari keluarga berusaha mencari alternatif lain. B. hipertensi. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien pernah dicurigai mengalami infeksi intrakranial. Hingga akhirnya pasien dapat di rawat di RSUP fatmawati. Riwayat kejang (+). Riwayat Hipertensi (-). Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga pasien yang pernah mengalami keluhan seperti pasien. penyakit ginjal (-). dan lebih banyak berbaring di tempat tidur. 3 hari SMRS kondisi pasien semakin diperburuk dengan intake nutrisi yang sedikit. penyakit paru dalam keluarga disangkal. Saat itu pasien masih dapat berkomunikasi. Pasien hanya bisa berbaring di tempat tidur. PEMERIKSAAN FISIK 2 . Riwayat perilaku seksual bebas tidak jelas. Oasien menolak untuk minum obat. HIV (+) putus obat ARV. pasien hanya diam dan tidak dapat diajak komunikasi. 1 minggu SMRS pasien merasa anggota gerak sebelah kanan menjadi berat dan sulit di gerakan. Keluarga pasien akhirnya membawa pasien ke RS. Menurut keluarga pasien menjadi lebih pasif. DM (-). Riwayat penyakit TB Paru (+).± 3 minggu SMRS pasien kembali kontrol untuk mendapatkan OAT dan ARV. Intake makanan sedikit dan sulit.

regular : 23 x/m : 36 0C : Normocephali KANAN + - .2 cm H2O. Bibir kering. Oral thrush (+). rhonki basah +/+ . Auskultasi : Suara dasar vesikular. : : : 155 cm 37 kg kurang KIRI + : 62 x/m. wheezing -/3 : 5 . : tidak tempak membesar : normal.Status Generalis (tanggal 28 desember 2012) Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : : : Tampak sakit berat Apatis Tekanan darah : 88/57 mmHg Nadi Pernapasan Suhu Tinggi badan Berat badan Keadaan gizi Kepala Mata Konjungtiva anemis Sklera ikterik Telinga Discharge Mulut Leher JVP KGB Thoraks Paru – Paru Inspeksi Palpasi Perkusi : Gerak dinding dada pada pernapasan simetris kanan dan kiri : Gerak dinding dada saat pernapasan simetris kanan dan kiri Vocal fremitus kanan dan kiri simetris : Sonor di kedua hemithoraks Batas paru dan hepar setinggi ICS 5 di linea midklavicularis kanan dengan peranjakan 2 jari pemeriksa Batas paru dan lambung setinggi ICS 8 di linea axilaris anterior Margin of isthmus kronig didapatkan sonor 3 jari pemeriksa. simetris : oral hygine buruk.

GCS Kaku kuduk Laseque Kerniq Brudzinsky I Brudzinsky II c. Murmur (-).I (olfaktorius) N. ginjal Nyeri tekan (-) Perkusi Auskultasi : timpani : bising usus (+) normal : supel. turgor menurun : ttm : Bunyi jantung I-II reguler normal. b. pasien tidak kooperatif) : E4M4V2 Rangsang Selaput Otak Saraf-saraf Kranialis . lien. Gallop (-) : Ictus cordis terlihat pada ics 5 2 cm medial linea midklavicularis Anggota Gerak : akral hangat (+) STATUS NEUROLOGIS a. N.II (optikus) 4 :+ : <700 / <700 : < 1350 / < 1350 :+ :+/+ : (tidak dapat dilakukan.Jantung Inspeksi kiri Palpasi Perkusi : Ictus cordis teraba pada linea midklavikularis kiri : Batas paru dan jantung kanan setinggi ICS 3 – 5 di linea sternalis kanan Batas paru dan jantung kiri setinggi ICS 5 2cm medial linea midklavicularis kiri Batas atas jantung setinggi ICS 3 di linea parasternalis kiri Auskultasi Perut Inspeksi Palpasi : Datar : Dinding perut Hepar.

Saat dinamis tidak dapat dinilai. Abducen) Kedudukkan bola mata Pergerakkan bola mata Exopthalmus Nystagmus Pupil Bentuk Reflek cahaya langsung N.VII (Fasialis) Motorik • • • Orbitofrontalis : kerutan dahi simetris saat statis. 3mm/3mm : +/+ Visus campus : (tidak dapat dilakukan. pasien tidak kooperatif) :-/: (tidak dapat dinilai. pasien tidak kooperatif) : bulat. pasien tidak kooperatif) : (tidak dapat dilakukan. Orbikularis okuli Orbikularis oris menunjukkan gigi. VI (Occulomotorius. pasien tidak kooperatif. isokor. pasien tidak dapat diminta untuk menyeringai / . terbatas alat) : ortoposisi + / + : (tidak dapat dinilai.V (Trigeminus) Motorik • Gerakan rahang : (tidak dapat dilakukan. pasien tidak kooperatif) Reflek cahaya tidak langsung : +/+ sensorik o Ophtalmikus : (tidak dapat dinilai. pasien tidak kooperatif) : sudut bibir dan plica nasolabialis asimetris (sebelah kiri lebih rendah). Trochlearis. IV.Acies visus Lihat warna Funduskopi : (tidak dapat dilakukan. pasien tidak kooperatif) : (tidak dilakukan. pasien tidak kooperatif) N. pasien tidak kooperatif) N.III. pasien tidak kooperatif) o Mandibularis : (tidak dapat dinilai. pasien tidak kooperatif) o Maksilaris : (tidak dapat dinilai. Sensorik • Pengecapan 2/3 anterior lidah: (tidak diperiksa) 5 : (tidak dapat dinilai.

pasien tidak kooperatif) Fungsi Otonom 6 . terbatas alat) : (tidak dilakukan. VII dextra sentral N.VIII (Vestibulocochlearis) Vestibular : Vertigo. pasien tidak : letak uvula ditengah. trapezius : (tidak dapat dinilai. Trofi : eutrofi Sistem Sensorik : (tidak valid dinilai. Palpasi Sistem Motorik Inspeksi : posisi berbaring pasien cenderung ke arah kanan : tonus otot tangan dan kaki kanan ↓ (hipotoni) :::- Gerakan pasif : tidak didapatkan tahanan pada ke empat ekstrimitas Gerakan aktif : (tidak dapat dinilai. Sternocleidomastoideus kooperatif) kesan : tanda parese (-) N.Kesan : parese N. pasien tidak kooperatif) Kesan : hemiparese dextra e. g.XI (Accesorius) • • m. terbatas alat) m. tidak tertarik ke satu sisi baik statis maupun dinamis : tes pengecapan 1/3 posterior lidah tidak dilakukan Kesan : tanda parese (-) : (tidak dilakukan. pasien tidak kooperatif) Atrofi Fasikulasi Tremor d. nistagmus (manuver Hallpike tidak dilakukan) Koklearis : tes Rinne tes Webber tes Swabach N.XII (Hypoglossus) Saat mulut dibuka (statis). tidak terlihat deviasi lidah Saat menjulurkan lidah (dinamis)  (tidak dapat dinilai.IX. Vagus) Motorik Sensorik N. f. X (Glossopharyngeus. pasien tidak kooperatif) : (tidak dapat dinilai. terbatas alat) : (tidak dilakukan.

Miksi Defekasi Sekresi keringat h. :+/+ :+/+ : Terpasang kateter urin. Tremor Chorea Atetose Miokloni Tics l. : inkontinensia (-) . retensio (-) : baik Refleks Fisiologis : +3 / +3 : +3/ +3 : +3 / +3 : +3 / +3 : (tidak dilakukan) :-/:+/+ :-/:-/:-/:-/:-/: (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai)) :-/:-/:-/:-/:-/Fungsi Serebelar 7 Refleks Patologis Hoffman Tromer Babinsky Chaddok Gordon Schaefer Klonus lutut Klonus tumit j. Intelegensia Tanda regresi Demensia k. Keadaan Psikis Gerakkan Involunter . Kornea Biceps Triceps Dinding perut : + / + Otot perut Lutut Tumit Kremaster i.

8 – 10. pasien tidak kooperatif) : (tidak dapat dilakukan. PEMERIKSAAN PENUNJANG 28-12-2012 10.2 227 NILAI NORMAL 14 – 18 g/dL 42 – 52 % (4. pasien tidak kooperatif) :: (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak valid dinilai) : (tidak dapat dilakukan) C. 103/uL (150 – 450). pasien tidak kooperatif) : (tidak dapat dilakukan. 103/uL 8 . pasien tidak kooperatif) : (tidak dapat dilakukan. pasien tidak kooperatif) : (tidak dapat dilakukan. Atensi Konsentrasi Orientasi Waktu Tempat Orang Berbahasa Disartria Disfonia Disprosodia Afasia Apraxia Memori Astereognosia Mini mental status 1) Laboratorium Darah Rutin PEMERIKSAAN HEMATOLOGI Hb Ht Leukosit Trombosit Fungsi Luhur : (tidak dapat dilakukan.Ataxia Tes Romberg Disdiadokokinesia Jari-jari Jari-hidung Tumit-lutut Rebound phenomenon m. pasien tidak kooperatif) : (tidak dapat dilakukan.8 33 4. pasien tidak kooperatif) : (tidak dapat dilakukan.8).

3 12.9 96.5 32.370 -7. 1 bulan SMRS pasien di diagnosis menderita TB paru dengan HIV. dibawa keluarga ke RSUP Fatmawati karena kesadaran menurun perlahan sejak 3 hari SMRS.10 mmol/L 95-108 mmol/L 7.0 pg 32.0 3.0 mmHg 83.0-36.0 fl 26.0-45.0-34.6 118.56 102 7.0-100.0 – 24. dan menjalani pengobatan. dan dicurigai mengalami infeksi intrakranial.0-28.0-99. 22 tahun.5 mg/dl 70-240 mg/dl 135-147 mmol/L 3.0 g/dl 11.0 mmol/L Infiltrat di suprahiler kanan dan Tb paru lama kanan DD/ bekas TB 3) CT Scan kepala (Belum ada data baru) RESUME Perempuan.5-14.7 752.0 mmHg 24.8-5.2 106/uL 80.0-108.6-1.10-5.0 mmol/L 95. 9 . Pasien pernah dirawat 3 bulan SMRS.0% -2.5% 0-34 u/L 0-40 u/L 20-40 mg/dl 0.5 mmol/L 19.5 – 2.3 -0.2 26.342 41.0 mmHg 21.440 35.Eritrosit VER/HER/KHER/RDW VER HER KHER RDW KIMIA KLINIK SGOT SGPT Ureum Darah Kreatinin Darah GDS ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida ANALISIS GAS DARAH pH pCO2 pO2 BP HCO3 Sa O2 BE Total CO2 2) Rontgen Thoraks Kesan : • • Cor dalam batas normal 3.7 98.4 145 256 28 0. pasien menolak untuk dilakuakan LP dan pulang atas permintaan sendiri.6 94 136 2.2 28.

56mmol/L) 10 . hipokalemia (2. Pada pemeriksaan fisik didapatkan:     KU / Kesadaran Tanda vital : Tampak Sakit berat / Apatis : TD 88/57 mmHg Oral hygiene buruk. VII dekstra sentral (sudut bibir dan plica nasolabialis asimetris (sebelah kiri lebih rendah). dan kontak (-). 3 hari SMRS intake makanan sulit. 1 minggu SMRS pasien merasa tubuh bagian kanan lebih berat dan sulit digerakkan. peningkatan SGOT/SGPT (145/256 u/L). oral thrus (+). kesadaran mulai menurun. bibir kering Auskultasi paru didapatkan rhonki (+) pada apeks kedua lapang paru Pada pemeriksaan neurologis didapatkan :    Tanda rangsang meningeal (+) N.Sejak 17 hari SMRS pasien menolak untuk minum obat dan keadaan semakin memburuk. pasien lebih banyak di tempat tidur.8 gr/dl).  Laboratorium  Anemia (10. Kranialis Tanda parese N. pasien tidak dapat diminta untuk menyeringai / menunjukkan gigi)     Motorik  kesan hemiparese kanan Refleks fisiologis meningkat Refleks patologis babinsky (+) Tidak ada atensi Pada pemeriksaan penunjang .

korteks serebri : suspect infeksi intrakranial ( meningitis TB DD/ toksoplasma ensefalitis eksaserbasi / meningoensephalitis) RENCANA PENGELOLAAN Elevasi kepala 30 0 O2 3L/m nasal kanul Medikamentosa: •NaCl 3% 500 cc + KCl 12. VII dekstra sentral. hemiparese dekstra. parese N. TB Paru putus obat.5 mEq / 8jam •Dexamethason 4 x 5mg •Ranitidin 2 x 50mg •Curcuma 3 x 400 mg •Clindamisin 4 x 600mg •Pirimetamin 3 x 25mg •FDC stop  E / S / O = 750/750/400 PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : dubia ad malam : dubia ad malam : dubia ad malam 11 . Rontgen thoraks  Infiltrat di suprahiler kanan dan Tb paru lama kanan DD/ bekas TB DIAGNOSIS KERJA Diagnosa klinis : penurunan kesadaran. HIV putus ARV. gangguan fungsi hati. hipokalemia Diagnosa topis Diagnosa etiologis : meningen. TRM (+).

sitomegalivirus. Secara umum gejala ensefalitis berupa demam. Rabdovirus : virus rabies Togavirus : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis Jepang B. virus Epstein-barr.coli dan M. ENSEFALITIS VIRUS Virus yang dapat menyebabkan radang otak pada manusia2 : • Virus RNA (Paramikso virus : virus parotitis.kejang dan kesadaran menurun. ENSEFALITIS SUPURATIVA Bakteri penyebab ensefalitis supurativa adalah : staphylococcus aureus. herpes simpleks. vaksinia .TINJAUAN PUSTAKA ENSEFALITIS PENDAHULUAN Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti bakteri. Penyakit ini dapat dijumpai pada semua umur mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. 2 3. kaku kuduk). ENSEFALITIS KARENA PARASIT • Malaria serebral.parasit. virus morbili. walaupun pada evaluasi klinis keduanya mempunyai tanda dan gejala inflamasi meningeal (fotopobia. Picornavirus : enterovirus (virus polio. coxsackie A. virus dengue). 2 2.Retrovirus : AIDS) 4.tuberculosa. Infeksi terjadi melalui permukaan umumnya sewaktu kontak seksual. Poxvirus : variola. Gangguan utama terdapat didalam pembuluh darah mengenai parasit. Plasmodium falsifarum penyebab terjadinya malaria serebral. streptococcus. 2 tubuh 12 . virus virus rabies Togavirus : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis Jepang B.1 KLASIFIKASI 1.echovirus) Arenavirus : virus koriomeningitis limfositoria • Virus DNA (Herpes virus : herpes zoster-varisella.B. ENSEFALITIS SIPHYLIS Disebabkan oleh Treponema pallidum. E. sakit kepala.virus.fungus dan riketsia. ensefalitis berbeda dari meningitis. Dari perspektif epidemiologi dan patofisiologi.

Cryptococcus neoformans. Kesadaran menurun Bila berkembang menjadi abses serebri akan timbul gejala-gejala infeksi umum. ENSEFALITIS KARENA FUNGUS 6. pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil. 1.Coccidiodis. tandatanda meningkatnya tekanan intracranial yaitu : nyeri kepala yang kronik dan progresif. RIKETSIOSIS SEREBRI Riketsia dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan Ensefalitis. 3 PEMERIKSAAN PENUNJANG • • • Pemeriksaan cairan serobrospinal Pemeriksaan darah lengkap Pemeriksaan feses 13 . Demam 2. 2 MANIFESTASI KLINIS Secara umum gejala berupa trias ensefalitis . Fumagatus dan Mucor mycosis. kejang. 2 5. Kejang 3. 2 Fungus yang dapat menyebabkan radang antara lain : candida albicans. muntah.Tanda-tanda deficit neurologist tergantung pada lokasi dan luas abses. 2 • Amebiasis Amuba genus Naegleria dapat masuk ke tubuh melalui hidung ketika berenang di air yang terinfeksi dan kemudian menimbulkan meningokel kemudian menimbulkan meningoencefalitis akut. penglihatan kabur. Didalam tubuh manusia parasit ini dapat bertahan dalam bentuk kista terutama di otot dan jaringan otak.• Toxoplasmosis . Aspergillus. 2 • Sistiserkosis .Toxoplasma gondii pada orang dewasa biasanya tidak menimbulkan gejala kecuali dalam keadaan dengan daya imunitas menurun. kesadaran menurun.Cysticercus cellulosae ialah stadium larva taenia.

TERAPI 1.5) 3.• • • • • • • Pemeriksaan serologik darah (VDRL.5) 2. Cloramphenicol 4 x 1g/24 jam intra vena selama 10 hari.4 juta unit/hari intra muskulat + probenesid 4 x 500mg oral selama 14 hari. TPHAPemeriksaan serologik darah (VDRL. TPHA) Pemeriksaan titer antibody EEG Foto thorax Foto roentgen kepala CT-Scan Arteriografi.(3. Asiclovir 10 mg/kgBB intra vena 3 x sehari selama 10 hari atau 200 mg peroral tiap 4 jam selama 10 hari. 14 .4. Ensefalitis syphilis Penisillin G 12-24 juta unit/hari dibagi 6 dosis selama 14 hari Penisillin prokain G 2. Ensefalitis supurativa • • • • Ampisillin 4 x 3-4 g per oral selama 10 hari.(4. • Pengobatan antivirus diberikan pada ensefalitis virus dengan penyebab herpes zostervaricella. Bila alergi penicillin : • • • • • Tetrasiklin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari Eritromisin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari Cloramfenicol 4 x 1 g intra vena selama 6 minggu Seftriaxon 2 g intra vena/intra muscular selama 14 hari. Ensefalitis virus Pengobatan simptomatis Analgetik dan antipiretik : Asam mefenamat 4 x 500 mg Anticonvulsi : Phenitoin 50 mg/ml intravena 2 x sehari.

motoris. psikiatris.4. paru. Ensefalitis karena fungus • • • • Amfoterisin 0. (4) 5. penglihatan dan pendengaran. Toxoplasmosis Sulfadiasin 100 mg/KgBB per oral selama 1 bulan Pirimetasin 1 mg/KgBB per oral selama 1 bulan Spiramisin 3 x 500 mg/hari • Amebiasis Rifampicin 8 mg/KgBB/hari. Gejala sisa berupa defisit neurologik (paresis/paralisis. 15 . (4) 6. Penderita yang sembuh tanpa kelainan neurologis yang nyata dalam perkembangan selanjutnya masih menderita retardasi mental. dan sistem lain dapat terlibat secara menetap.25 g/KgBB/hari intravena 2 hari sekali minimal 6 minggu.1-0. Dari penderita yang hidup 2040% mempunyai komplikasi atau gejala sisa. dan masalah tingkah laku. Mikonazol 30 mg/KgBB intra vena selama 6 minggu. hati. hidrosefalus maupun gangguan mental sering terjadi. Riketsiosis serebri Cloramphenicol 4 x 1 g intra vena selama 10 hari Tetrasiklin 4x 500 mg per oral selama 10 hari. Ensefalitis karena parasit • • Malaria serebral Kinin 10 mg/KgBB dalam infuse selama 4 jam. setiap 8 jam hingga tampak perbaikan. intraokuler. epilepsi.(4) GEJALA SISA DAN KOMPLLIKASI Gejala sisa maupun komplikasi karena ensefalitis dapat melibatkan susunan saraf pusat dapat mengenai kecerdasan.5 PROGNOSIS Kematian karena ensefalitis masih tinggi berkisar antara 35-50%. epilepsi. pergerakan koreoatetoid). sistem KV.

PUNGSI LUMBAL Lumbal pungsi adalah upaya pengelauran cairan serebrospinal dengan memasukan jarum kedalam ruang subarakhnoid. hidrosefalus) Gangguan pembekuan darah yang belum diobati LCS pada berbagai infeksi: Penyakit Meningitis bakteri Meningitis virus Meningitis tuberkulosis Ensefalitis Tekanan LCS ↑ N ↑/N ↑/ N Protein ↑ sedang tinggi ↑ sedikit s/d N ↑ sedang ↑ sedikit s/d N Hitung sel – >50 PMN limfosit Pleositosis limfositosis limfositosis Glukosa rendah normal atau rendah normal 16 . intracranial ↑ yang jinak (benign intracranial hypertension) Tbc miliair Leukimia Mastoiditis kronik yang dicurigai meningitis Kontraindikasi : Syok/renjatan Infeksi lokal pada daerah tempat pungsi lumbal Peningkatan tekanan intrakranial (oleh tumor. SOL. Indikasi Lumbal puncture: • • • • • • • • • • • • kejang-kejang paralisis/ paresis demam > 2 minggu yang tidak diketahui sebabnya kaku kuduk (+) dengan kesadaran menurun terapi tek.

jamur. toksoplasmosis otak. serologis dan biopsi. dan cephalgia. edema otak. pemeriksaan neuroimaging. demensia. atrofi serebri. dan parasit. stroke non hemoragik. Diagnosis pasti ditegakkan melalui biopsi otak. HIV ensefalopati. Persentase terbanyak pada toksoplasmosis otak (58. Pada penderita HIV-AIDS terjadinya ensefalitis toksoplasmosis lebih sering disebabkan reaktivasi dari infeksi laten yang sudah ada sebelumnya dibanding infeksi yang baru didapat. ensefalitis CMV. virus. Faktor yang pertama adalah infeksi dari HIV sendir yang menyerang sistem kekebalan tubuh juga berdampak pada sistem saraf dan dapat mengakibatkan kelainan pada saraf. mati batang otak.1 juta meninggal dunia.6 Dua faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit saraf pada penderita HIV/AIDS. Toxoplasma gondii merupakan parasit intraseluler yang menyebabkan infeksi asimptomatik pada manusia sehat. Selain itu.7 Ensefalitis Toksoplasmosis merupakan manifestasi utama pada penderita HIV-AIDS. meningitis kriptokokal. Biopsi terutama dianjurkan untuk kasus-kasus dengan pemeriksaan imajing yang tidak jelas atau pada keadaan terapi presumtif yang menunjukkan kegagalan. Diagnosis ensefalitis toksoplasmosis didasarkan pada gambaran klinis neurologis. Dalam tahun 2002. meningoensefalitis. faktor dari infeksi opportunistik yang terdiri dari berbagai macam kuman. dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) telah diketahui sebagai penyebab pada tahun 1984. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 42 juta penduduk hidup dengan HIV. Pada bulan Desember 2002.ENSEFALITIS PADA PENDERITA HIV Aquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) pertama kali diidentifikasi pada tahun 1981.20%). Penatalaksanaan ensefalitis toksoplasmosis pada penderita HIV-AIDS adalah pemberian anti toksoplasmosis dan sebagai terapi standar adalah pirimetamin dan sulfadiazin. Jenis-jenis penyakit saraf yang diderita pasien HIV/AIDS adalah meningitis TB.7 17 . dtemukan 5 juta penderita baru yang terinfeksi HIV dan 3.

2000. 421. Mardjono. NEUROLOGI KLINIS DASAR. 579-583 2. Hal. Gajah Madah University Press. J.DAFTAR PUSTAKA 1. 36-40 4. Hal. Neurogical disease in HIV-infected patients in the era of highly active antiretroviral treatment: a Brazilian experience. Samsuridjal D. Dian Rakyat. NEUROANATOMI KORELATIF dan NEUROLOGI FUNGSIONAL. Jilid 2.Arif. Edisi Ketiga. HIV / AIDS di Indonesia. 1990. 327-333. NEUROLOGI KLINIS DALAM PRAKTEK UMUM. Mansjoer. 313-314. Mardjono. Chusid. Media Aesculapius. Edisi Ke Dua.Mahar dan Sidarta.Mahar.2003. Edisi 4. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Priguna. Setiowulan. Dian Rakyat. Hal. et all. Zubairi D.Wiwiek.Soemarmo. Jakarta : Pusat Penerbitan FK UI.V. Hal.Bagian Dua. Bambang S. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1999. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical 39 (2). Dalam : Aru WS. 2003. et al editor. Oliveira. 1803-1808. 7.Gajah Mada University Press.14-16 6. 2006. Sidarta . Wardhani. 2006. KAPITA SELEKTA NEUROLOGI. Markam.155-162 5. Suprohaita.J. Maret-april: 146-151 18 .Wahyu Ika. Hal. 3.Priguna.G. J. Idrus alwi.