You are on page 1of 4

- First Pass Effect (FPE) [Pengaruh Lintas Pertama] : Perombakan yang dialami obat dalam dinding usus(dimetabolisir

) dan hati (diekskresi ato diubah secara biokimia) sebelum mencapai jantung, sirkulasi paru2, dan sirkulasi tubuh. FPE dapat menurunkan bioavailabilitas jadi lebih rendah daripada persentase yang sebenarnya di resorpsi, sehingga efek obat berkurang. FPE juga bisa meningkatkan bioavailabilitas. - First pass effect adalah keadaan dimana beberapa obat yang dapat diambil oleh hati secara efisien dan dimetabolisme secara cepat sehingga jumlah obat yang mencapai sirkulasi sistemik jauh berkurang dibanding jumlah obat yang diabsorbsi masuk ke dalam vena portae. -Proses-proses kimia dan fisika menyebabkan bioavaibilitas obat berkurang yang meliputi kelarutan obat jelek, absorbsi gastrointestinal yang tidak lengkap, dan metabolisme yang cepat pada saat melalui hati sebelum sampai ke sirkulasi sistemik (first pass effect). Bioavaibilitas obat yang rendah dapat juga dihasilkan oleh adanya first pass effect yang hebat walaupun sebenarnya obat tersebut diabsorbsi dengan baik pada saluran cerna. DAUR ENTEROHEPATIK Ekskresi melalui empedu : Obat dengan BM lebih kecil dari 150 dan obat yang telah dimetabolisme menjadi obat yang lebih polar, dapat diekskresikan dari hati lewat empedu menuju ke usus dengan mekanisme transport aktif ( dalam bentuk terkonjugasi dengan asam glukuronat, asam sufat atau glisin ). Di usus, obat bentuk konjugat dapat langsung diekskresi atau mengalami hidrolisis oleh enzim atau bakteri usus menjadi senyawa yang bersifat nopolar sehingga dapat diabsorpsi kembali ke plasma darah, kembali ke hati , dimetabolisisr, dikeluarkan

kembali melalui empedu menuju ke usus, demikian seterusnya sehingga merupakan siklus yang disebut siklus enterohepatik. Siklus enterohepatik menyebabkan kerja obat menjadi lebih panjang. Setelah diserap dari saluran cerna, obat ini cepat diekskresi melalui empedu dan kemudian mengalami sirkulasi enterohepatik. Penyerapanya dihambat oleh adanya makanan sehinnga dalam waktu 6 jam hampir semua obat yang berada dalam saluran empedu berbentuk diasetil rifampisin, yang mempunyai aktivitas atibakteri penuh. Obat ini berdifusi baik ke berbagai jaringa termasuk ke cairan otak. Farmakokinetik Dapson di serap lambat di saluran cerna, tetapi hampir sempurna. Sulfokson di serap kurang sempurna sehingga banyak tebuang bersama feses. Kadar puncak tercapai setelah 1-3 jam , yaitu 10-15 µɡ/mL. setelah pemberian dosis yang di anjurkan. Kadar puncak cepat turun, tetapi masih di jumpai dalam jumlah cukup setelah 8 jam. Waktu paruh eliminasi berkisar antara 10-50 jam dengan rata-rata 28 jam. Pada dosis berulang, sejumlah kecil obat masih di temukan sampai 35 hari setelah pemberian obat di hentikan. Golongan sulfon tersebar luas di seluruh jaringan dan cairan tubuh. Obat ini cenderung tertahan dalam kulit dan otot, tetapi lebih banyak dalam hati dan ginjal. Obat tetrikat pada protein plasma sebanyak 50-70%, dan mengalami daur enterohepatik. Daur ini yang menyebabkan obat masih di temukan dala darah lama setelah pemberiannya di hentikan. Sulfon mengalami metabolisme dalam hati dan kecepatan asetilasinya di etntukan oleh factor genetic.contoh Ekskresi melalui urin berbeda jumlahnya bagi setiap sediaan sulfon. Dapson dosis tunggal di ekskresi sebanyak 70-80% terutama dalam bentuk metabolitnya. Probenesid dapat menghambat ekskresi dapson dan metabolitnya. Golongan tetrasiklin di ekskresi melalui urine berdasarkan filtrasi glomerulus. Pada pemberian per oral kira-kira 20 – 55% golongan tetrasiklin di ekskresi melalui urine. Golongan tetrasiklin yang di ekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali kadar serum. Sebagian besar obat yang di ekskresi ke dalam lumen usus ini mengalami sirkulasi enterohepatik : maka obat ini masih

terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan faal hati obat ini akan mengalami kumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap diekskresi melalui tinja.

1. Dopamin

Sediaan: Injeksi (Ampul) 10 mg/ml, 20 mg/ml, 40 mg/ml Cara Kerja Obat: Dopamine adalah agen vasopressor dan inotropic. Dopamine bekerja dengan cara meningkatkan kekuatan memompa pada jantung dan suplai darah ke ginjal dan digunakan untuk meningkatkan fungsi jantung ketika jantung tak mampu memompa cukup darah. Indikasi: Memperbaiki keseimbangan hemodinamik pada kondisi sindroma syok terhadap infark miokardial, trauma, syok sepsis, operasi terbuka gagal jantung, gagal ginjal dan serangan jantung kronis. Kontraindikasi: Hipersensitif terhadap sulfit (sediaan yang mengandung natrium bisulfit), takiaritmia, phaeochromocytoma, fibrilasi ventrikular. Dosis: Infus I.V (pemberiannya memerlukan pompa infus) : Bayi : 1-20 mcg/kg/menit, infus kontinyu , titrasi sampai respon yang diharapkan Anak-anak : 1-20 mcg/kg/menit, maksimum 50 mcg/kg/menit, titrasi sampai respon yang diharapkan. Dewasa : 1-5 mcg/kg/menit sampai 20 mcg/kg/menit, titrasi sampai respon yang diharapkan. Infus boleh ditingkatkan 4 mcg/kg/menit pada interval 10-30 menit sampai respon optimal tercapai. Jika dosis > 20-30 mcg/kg/menit diperlukan, dapat menggunakan presor kerja langsung (seperti epinefrin dan norepinefrin).

-

Peringatan dan Perhatian: - Hipovolemia harus diperbaiki sebelum pengobatan dilakukan.

- Hindari pada pasien dengan pheochromocytoma atau hipertiroidisme dan kemunculan tachyarrhythmias atau fibrilasi ventrikular. - Gunakan dengan hati-hati dan dalam dosis rendah pada pasien dengan syok secondary terhadap MI, pasien dengan riwayat peripheral vascular disease (PVD) berisiko meningkatkan kemungkinan terkena ischemia akut. Efek Samping: - Sering : denyut ektopik, takikardia, sakit karena angina, palpitasi, hipotensi, vasokonstriksi, sakit kepala, mual, muntah, dispnea. - Jarang : bradikardia, aritmia ventrikular (dosis tinggi), gangrene, hipertensi, ansietas, piloereksi, peningkatan serum glukosa, nekrosis jaringan (karena ekstravasasi dopamin), peningkatan tekanan intraokular, dilatasi pupil, azotemia, polyuria.
Deskripsi Dopamine adalah agen vasopressor dan inotropic. Dopamine bekerja dengan cara meningkatkan kekuatan memompa pada jantung dan suplai darah ke ginjal dan digunakan untuk meningkatkan fungsi jantung ketika jantung tak mampu memompa cukup darah. simpatomimetik yang merupakan

agen yang biasa digunakan untuk mengatasi hipotensi yang berkaitan dengan syok. Sebuah vasopressor merupakan suatu obat yang digunakan untuk meningkatkan tekanan darah arterial. Hubungan yang lemah dalam rantai kejadian kardiovaskuler yang menghasilkan aliran darah dan transpor oksigen saat ini dapat dideteksi secara selektif dan dimanipulasi. Istilah vasopressor dulunya sama dengan vasokonstriksi, namun saat ini istilah tersebut telah menjadi istilah generik untuk setiap obat-obatan vasoaktif yang dapat meningkatkan CO baik dengan atau tanpa peningkatan tekanan darah. Kegunaan obat-obatan ini dalam anestesi antara lain (1) mempertahankan perfusi organ (2) terapi alergi, (3) memperpanjang aksi anestesi lokal, (4) resusitasi kardiopulmoner.