You are on page 1of 4

PHOSPHORESCENCE

Dalam istilah sederhana, phosphorescence adalah proses dimana energi yang diserap oleh zat dilepaskan relatif lambat dalam bentuk cahaya (lebih lambat dari fluorescence yaitu sebesar 10-4104 s). Hal ini dalam beberapa kasus mekanisme dari phosphorescence digunakan untuk material “glow in the dark” (bercahaya dalam gelap) yang mendapat energi dari paparan cahaya. Berbeda dengan reaksi relatif cepat dalam tabung neon biasa, material phosphorescence menyerap energi dan “menyimpannya” dalam waktu lebih panjang karena proses yang diperlukan untuk memancarkan cahaya kembali lebih jarang. Zat Phosphorescence memiliki kemampuan untuk menyimpan cahaya dan melepaskannya secara bertahap. Gagasan tentang keadaan metastable menjelaskan tentang hal ini. Jika molekul zat dari keadaan dasar ke keadaan metastabil, dan jika keadaan metastabil perlahan dapat kembali ke keadaan dasar melalui emisi foton, maka akan didapatkan phosphorescence (pendar). Biasanya, keadaan metastabil terjadi dalam triple state, dan keadaan dasar adalah single state. Molekul keadaan dasar menyerap foton dan mengeksitasi single state. Kebanyakan dari mereka segera “meloncat” kembali ke keadaan dasar, memancarkan foton, tetapi proses non radiasi mengambil beberapa ke triple state dengan energi lebih rendah. Ketika molekul ini sampai pada triplet state terendah, mereka terjebak disana untuk setidaknya untuk sementara waktu. Beberapa kemungkinan probabilitas rendah menyelesaikan konversi triplet state, dan molekul perlahan-lahan mengeluarkan cahaya.

Teori dari phosphorescence yaitu sebagian besar senyawa memiliki keadaan dasar singlet S0. Ketika menyerap cahaya, elektron dalam molekul dapat bergerak ke keadaan tereksitasi dari S1, S2, Sn, dan sebagainya. Ada pula keadaan triplet T1 dan T2. Energi dari keadaan T1 biasanya berada di bawah kondisi S1, sementara T2 berada diantara S2 dan S1. Panjang gelombang radiasi dapat menentukan keadaan elektron akan berpindah kemana. Hal ini dimungkinkan untuk elektron dari keadaan tereksitasi kembali ke keadaan dasar. Contohnya adalah pendar. Molekul dari pendar memiliki waktu hidup yang lama, kehilangan energi dengan mudah, sehingga sulit untuk mengamatinya.

Kebanyakan event photoluminescent, dimana substrat kimia menyerap dan kemudian memancarkan kembali foton cahaya, berlangsung dengan cepat, sekitar 10 nanodetik. Cahaya diserap dan dipancarkan dalam kasus dimana energi dari foton yang terlibat sesuai dengan keadaan energi yang tersedia dan memungkinkan transisi dari substrat. Dalam keadaan istimewa dari phosphorescence, energi foton yang diserap mengalami suatu intersistem yang tidak biasa, menyeberang ke keadaan energi yang memiliki multiplisitas putaran yang lebih tinggi (biasanya triplet state). Akibatnya, energi dapat terjebak dalam keadaan triplet dengan hanya transisi “terlarang” yang klasik tersedia untuk kembali pada keadaan energi yang lebih rendah. Transisi ini, walaupun “terlarang”, masih akan tetap terjadi dalam mekanika kuantum tetapi secara kinetik tidak diinginkan dan dengan demikian kemajuan pada skala waktu secara signifikan lebih lambat. Kebanyakan senyawa phosphorescence adalah pemancar yang cepat secara relatif, dengan hidup triplet pada urutan milidetik. Namun, beberapa senyawa memiliki lifetime triplet himgga menit bahkan jam, sehingga substansi tersebut secara efektif menyimpan energi cahaya dalam bentuk

excited electron states yang terdegrasi dengan lambat. Jika phosphorescent quantum yield tinggi, makan substansi ini akan melepaskan sejumlah besar cahaya dari skala waktu panjang, menciptakan apa yang disebut material “glow in the dark”. Terdapat persamaan untuk photorescence :

Dimana S adalah singlet dan T adalah triplet yang subskripsnya melambangkan keadaan (0 adalah keadaan dasar, dan 1 adalah keadaan tereksitasi). Transisi juga dapat terjadi ke tingkat energi yang lebih tinggi, namun keadaan tereksitasi pertama dilambangkan untuk kepraktisan.

Pigmen yang biasa digunakan untuk material phosphorescence termasuk seng sulfida (Zinc Sulfide) dan strontium aluminate. Penggunaan seng sulfida sering untuk produk yang berkaitan dengan keamanan. Akan tetapi, perkembangan strontium aluminate, dengan luminance diperkirakan sepuluh kali lebih kuat dibandingkan dengan seng sulfida, telah mendegradasi kebanyakan produk berbasis seng sulfida untuk kategori baru. Pigmen berbasis strontium aluminate sekarang digunakan untuk tanda keluar (Exit signs), marka jalan, dan tanda-tanda yang berkaitan dengan keamanan lainnya. Selain itu, senyawa lain yang dapat menghasilkan phosphorescence antara lain mengandung sodium fluorescein dan rhodamin. Contoh aplikasi material phosphorescence dalam kehidupan sehari-hari antara lain barangbarang glow in the dark seperti mainan, cat, lampu, dan penunjuk jam yang akan berpendar di kegelapan setelah di-charge dengan sinar terang seperti lampu kamar atau lampu baca. Kebanyakan penggunaan phosphorescence juga dijumpai pada obat-obatan di bidang pharmaceutical. Beberapa obat yang memiliki kandungan phosphorescence antara lain aspirin, asam benzoat, morfin, dan dopamine. Phosphorescence juga digunakan untuk menganalisa air, udara, dan polusi kimia.

REFERENCES
1. Anonymous, 2012, Determining Planck’s Constant with LED, [online], http://web.phys.ksu.edu/vqm/tutorials/phosphorescence/describing.html, diakses tanggal 21 September 2013 pukul 22.46 2. Atkins Physical chemistry 8th . Peter Atkins. Julio De Paula. Ch. 13 p.567-569 3. Karl A. Franz, Wolfgang G. Kehr, Alfred Siggel, Jürgen Wieczoreck, and Waldemar Adam "Luminescent Materials" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry 2002, Wiley-VCH, Weinheim