TUGAS OBAT-OBAT YANG SERING DIGUNAKAN DALAM ILMU KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Oleh: Yana Asmawaty Sirajul Munir Pembimbing: dr. Andi Irawan, Sp.FK

Lab/SMF Ilmu Farmasi/Farmakoterapi Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Samarinda 2010

OBAT-OBAT YANG SERING DIGUNAKAN DALAM ILMU KESEHATAN GIGI DAN MULUT Ilmu kesehatan gigi dan mulut adalah ilmu yang mempelajari gigi dan mulut termasuk perawatan karena sakit, rehabilitasi dan meratakan gigi. Di dalam tugas ini akan dibahas tentang obat-obat yang sering digunakan dalam perawatan gigi dan mulut tersebut. I. Golongan Antibiotik a. Beta Lactam Penicillin • Ampicillin • Amoxicillin Cephalosforin • Generasi pertama (Cepadroxil) b. Tetracycline • Tetracycline c. Makrolide • Erythromycin

AMPICILLIN 1) Farmakodinamik Ampisilin termasuk golongan penisilin semisintetik yang berasal dari inti penisilin yaitu asam 6-amino penisilinat (6-APA) dan merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat bakterisid. Secara klinis efektif terhadap kuman gram-positif yang peka terhadap penisilina G dan bermacam-macam kuman gram-negatif, diantaranya : a) Kuman gram-positif seperti S. pneumoniae, enterokokus dan stafilokokus yang tidak menghasilkan penisilinase. b) Kuman gram-negatif seperti gonokokus, H. influenzae, beberapa jenis E. coli, Shigella, Salmonella dan P. mirabilis. Ampicillin mampu menembus Gram-positif dan Gram-negatif bakteri. Ia berbeda dari penisilin karena adanya asam amino. inhibitor kompetitif dari enzim transpeptidase. Asam Amino membantu menembus selaput luar dari bakteri gram-negatif. Ampicillin bertindak sebagai zat Transpeptidase diperlukan oleh bakteri untuk membuat dinding sel. Dengan dihambatnya tahap akhir dari sintesis dinding sel bakteri, yang akhirnya mengarah ke sel lysis. 2) Farmakokinetik Jumlah ampicillin dan senyawa sejenisnya yang diabsorpsi pada pemberian oral dipengaruhi besarnya dosis dan ada tidaknya makanan dalam saluran cerna. Dengan dosis lebih kecil persentase yang diabsorpsi relative lebih besar. Adanya makanan dalam saluran cerna akan menghambat absopsi obat sehingga terabsorpsi secara lambat di saluran cerna. Ampicillin juga didistribusikan luas di dalam tubuh dan pengikatannya oleh protein plasma hanya 20%. Ampicillin yang masuk ke dalam empedu mengalami sirkulasi enterohepatik, tetapi yang diekskresikan bersama tinja jumlahnya cukup tinggi. Penetrasi ke CSS dapat mencapai kadar yang efektif pada keadaan peradangan meningen. Pada bronchitis atau pneumonia, ampicillin di sekresi ke dalam sputum

Syok anafilaksis merupakan reaksi paling serius yang terjadi pada pemberian secara parenteral. Pada penderita yang diobati dengan Ampisilin. kebingungan. masalah hati dan penyakit kuning. Flora usus yang normal dapat pulih kembali 3 . 3) Indikasi Infeksi pada rongga mulut dan rahang. Gangguan pada saluran pencernaan seperti glossitis. pusing. dan hilangnya nafsu makan. perubahan warna gigi pada anak-anak. eritema multiform. periodontal.9 jam. Kadang-kadang disertai gelisah. diare. seperti urtikaria.5 hari setelah pengobatan dihentikan.sekitar 10% kadar serum. stomatitis. pemberian ampicillin menghasilkan kadar darah yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama dalam darah. infeksi . mual. pemberian secara oral dapat disertai diare ringan yang bersifat sementara disebabkan gangguan keseimbangan flora usus. fungal infeksi. ruam. Pada bayi prematur dan neonatus. muntah. secara parsial di metabolisme di hepar. Ampicillin mempunyai t½ 1 – 1. 4) Kontraindikasi Kontraindikasi dari ampicillin adalah hipersensitif terhadap penisilina. termasuk semua jenis penisilin dapat timbul reaksi hipersensitif. abses gingival dll. misalnya infeksi periapikal. abses dentogen. kejang. dan di ekskresikan terutama melalui urine. kolitis pseudomembran. 5) Efek Samping Pada beberapa penderita. disingkirkan melalui hemodialisis. enterokolitis. Bila diberikan sesaat sebelum persalinan. Umumnya pengobatan tidak perlu dihentikan. colitis. dalam satu jam kadar darah fetus menyamai kadar darah ibunya.

m. diberikan secara i.200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 .4 jam. kulit dan jaringan kulit: 250 . diberikan dalam dosis terbagi setiap 6 jam.  Septikemia dan bakterial meningitis : 100 .  Bayi berusia 1 minggu atau kurang : 25 mg/kg BB secara i. setiap 8 .500 mg setiap 6 jam.  Septikemia dan bakterial meningitis : 150 . o Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : 50 . saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam.6) Dosis Obat Untuk pemakaian oral dianjurkan diberikan ½ sampai 1 jam sebelum makan.500 mg setiap 6 jam.  Infeksi saluran pencernaan.v. Terapi oral • Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg : o 250 .100 mg/kg BB sehari.v.100 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam. kulit dan jaringan kulit : 25 . Terapi parenteral • Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg :  Infeksi saluran pernafasan.v.4 jam. diberikan secara i.m. . saluran kemih dan kelamin : 50 . • Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang :  Infeksi saluran pernafasan. selama 3 hari selanjutnya secara i./i. o Pada infeksi yang berat dianjurkan diberikan dosis yang lebih tinggi.12 jam.200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 .  Infeksi saluran pencernaan.

namun klinis penting dari interaksi ini tidak didokumentasikan dengan baik. atau tetracyclines dapat mengganggu bactericidal efek penicillins.m. 250 mg/5 ml Tablet : 250 mg Capsul : 250 dan 500 mg. khususnya di hyperuricemic pasien yang mungkin terjadi. Serbuk injeksi : 500 mg/vial. setiap 6 . 7) Bentuk sediaan Obat • • • • Sirup : 125 mg/5 ml. sehingga berikan ampicillin 3 jam sebelum chloramphenicol h) Atenolol : menurunkan konsentrasi atenolol serum AMOXICILIN .v. d) Tet e) f) Metrotrexat Antibiotik makrolid : menghambat aktivitas antibakterial ampicillin.8 jam. 1gram/vial 8) Interaksi Obat a) Allopurinol: Peningkatan kemungkinan ruam kulit. c) Oral kontrasepsi: menurunkan efikasi konsentrasi oral sehingga menjadi kurang efektif dan peningkatan terobosan pendarahan mungkin terjadi. erythromycins. sulfonamides. sehingga berikan ampicillin 3 jam sebelum makrolid g) Chloramphenicol : menghambat aktivitas antibakterial. Ini telah ditunjukkan dalam melihat. b) Antibiotik Bacteriostatic: Chloramphenicol. Bayi berusia lebih dari 1 minggu : 25 mg/kg BB secara i./i.

infeksi periodontal.Amoxicillin adalah salah satu aminopenicillin (semisintetik penicilin untuk gram negatif. 4) Efek samping . 1) Farmakodinamik Derivat penicillin yang menginhibisi sintesis dinding sel bakteri. abses gingival dll. Pada percobaan in vitro amoxicillin lebih aktif melawan enterococci dan Salmonella tetapi kurang aktif dibandingkan ampicillin melawan Shigella dan Enterobacter. dan yang hipersensitif pada golongan penisilin. amoxicillin digolongkan kedalam aminopenicillin. T ½ 1-1. Berdasarkan spektrum dari aktivitasnya. misalnya infeksi periapikal.3 jam 3) Indikasi Infeksi serta peradangan pada rongga mulut dan rahang.92% dosis oral tunggal dari obat diserap oleh GI track.2 jam setelah pemberian oral kapsul amoxicilli • • • Distribusi: amoxicilin berikatan dengan protein 20% Metabolieme: sebagian di hepar Ekskresi: amoxicilin dieksresi melalui urine.5 lebih tinggi dibandingkan ampicillin. dan 74 . pencapaian puncak konsentrasi serum dari amoxicillin umumnya 2 2. abses dentogen. Amoxicillin umumnya mempunyai spektrum dengan tingkat aktifitas yang sama dengan golongan penisilin yang lain. Amoxicillin mencapai puncak konsentrasi serum biasanya dalam 1 . terutama yang telah resisten terhadap penisilinase) yang strukturnya sangat berhubungan dengan ampicillin. 2) Farmakokinetik • Absorbsi: Amoxicillin umumnya stabil dalam kondisi lambung yang asam.

250 mg/5 ml sirop kering. Kadar obat aktif dalam cairan . 250 mg/kapsul. amoxipen.9 μg/ml dalam waktu 4 jam. nyeri pada tempat injeksi i. amoxan. efek terbesar eritromisin terhadap kokus gram positif. kaptab 500 mg/kaptab. amoksisilin. abamox. Nama dagang. kandidiasis oral atau vagina 5) Sediaan dan nama dagang Sediaan.m. 2) Farmakokinetik Basa eritromisin diserap baik oleh usus kecil bagian atas. amobiotik. tromboplebitis pada pemberian iv. amosine. bimoxyl. Pyogenes dan Str. seperti Str. kapsul. basa eritromisin diberi selaput yang tahan asam atau digunakan dalam bentuk ester stearat atau etilsuksinat. dan bersifat bakteriostatik atau bakterisid tergantung dari jenis kuman dan kadarnya. aktifitasnya hilang oleh cairan lambung dan absorpsi diperlambat oleh adanya makanan dalam lambung. Dengan dosis oral 500 mg eritromisin basa dapat dicapai kadar puncak 0. Untuk mencegah pengrusakan oleh asam lambung. urtikaria. sirup kering 125 mg/5 ml sirop kering.Paling sering diare dan rash. amoxipen. In vitro. abdimox. Aureus hanya sebagian yang peka terhadap obat ini. 1g/vial. S. Viridans mempunyai kepekaan yang bervariasi terhadap eritromisin. ERITROMISIN 1) Farmakodinamik Golongan makrolid menghambat sintesis protein kuman dengan jalan berikatan secara reversibel dengan ribosom subunit 50S.3-1. Spektrum antimikroba. Eritromisin mengalami pemekatan dalam jaringan hati. alphamox. serbuk injeksi. Hanya 2-5% eritromisin yang diekskresi dalam bentuk aktif melalui urin.

Kelainan ini biasanya menghilang dalam beberapa hari setelah terapi dihentikan. Hepatitis kolestatik adalah reaksi kepekaan yang terutama ditimbulkan oleh eritromisin estolat (sekarang tidak dipasarkan lagi di Indonesia). Obat ini dieksresi terutama melalui hati. Eritromisin berdifusi dengan baik kejaringan tubuh kecuali otak dan cairan cerebrospinal. Eritromisin oral (terutama dalam dosis besar) sering . Kemudian timbul ikterus. Reaksi alergi mungkin timbul dalam bentuk demam. transaminase plasma dan kadar bilirubin meninggi. kolesistogram tidak menunjukkan kelainan. Dialisis peritoneal dan hemodialisis tidak dapat mengeluarkan eritomisin dalam tubuh. pulpitis 4) Efek samping Efek samping yang berat akibat pemakaian eritromisin dan turunannya jarang terjadi. leukositosis dan eosinofilia. Reaksi ini timbul pada hari ke 10-20 setelah dimulainya terapi. 3) Indikasi: Gangren pulpa. demam. kadar eritromisin dalam sirkulasi fetus adalah 5-20% dari kadar obat dalam sirkulasi darah ibu.6 jam. Pada ibu hamil. Pada wanita hamil pemberian eritromisin stearat dapat meningkatkan aktifiatas serum aspartat aminotransferase (AST) yang akan kembali ke nilai normal walaupun terapi diteruskan. Gejala klinis dan patologis sangat mirip dengan gangguan yang ditimbulkan oleh klorpromazin. Gejalanya berupa nyeri perut yang menyerupai nyeri pada kolesistitis akut. Efek samping ini dijumpai pula pada penggunaan eritromisin etilsuksinat tetapi jarang sekali terjadi. Kadarnya dalam jaringan prostat hanya sekitar 40% dari kadar yang tercapai dalam darah. Masa paruh eliminasi eritromisin adalah sekitar 1. mual dan muntah. Dalam keadaan insufisiensi ginjal tidak diperlukan modifikasi dosis. eosinofilia dan eksantem yang cepat hilang bila terapi dihentikan.empedu dapat melebihi 100 x kadar yang tercapai dalam darah.

muntah. Dosis dapat mg dan 500 mg dibagi dalam 4 ditingkatkan 2x dosis lipat pada infeksi berat Anak: 30-50 mg/kg Obat diberikan berat badan sehari sebelum makan dibagi dalam 4 dosis Kapsul 250 mg dan Dewasa: 250-500 Idem 500 mg mg tiap 6 jam atau Suspensi oral 500 mg tiap 12 jam mengandung 250 Anak: 30-50 mg/kg mg/5 ml berat badan sehari dibagi dalam beberapa dosis Tablet kunyah 200 Dewasa:400-800 Obat tidak perlu mg mg tiap 6 jam atau diberikan sebelum Suspensi oral 800 mg tiap 12 makan mengandung 200 jam.v. dan nyeri epigastrium. Suntikan i. Pemberian 1 gr dengan infus i.v sering disusul oleh timbulnya tromboflebitis.menimbulkan iritasi saluran cerna seperti mual. 5) Dosis dan bentuk sediaan obat Preparat Eritromisin Posologi/cara Keterangan pemakaian Kapsul/tablet 250 Dewasa 1-2 g/hari.m lebih dari 100 mg menimbulkan sakit yang sangat hebat. mg/5 ml dalam Anak: 30-50 mg/kg botol 60 ml berat badan sehari Tetes oral dibagi dalam mengandung 100 beberapa dosis mg/2.5 ml dalam botol 30 ml Kemasan Eritromisin stearat Eritromisin etilsuksinat 6) Interaksi Obat . Ketulian sementara dapat terjadi bila eritromisin diberikan dalam dosis tinggi secara i.

. Hal itu mencegah perpanjangan rantai peptide yang sedang tumbuh dan berakibat terhentinya sintesis protein. Terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotic ke dalam ribosom bakteri Gramnegatif. warfarin dan teofilin. kortikosteroid. kedua melalui system transport aktif. mikoplasma.Eritromisin dilaporkan meningkatkan toksisitas karbamazepin. Mg 2+ . • Spectrum antimikroba: tetrasiklin merupakan spectrum antibaktri luas yang meliputi Gram-positif dan Gram-negatif. Absorpsi ini sebagian besar berlangsung di usus halus bagian atas. riketsia. Berbagai faktor dapat menghambat penyerapan tetrasiklin seperti adanya makanan dalam lambung. pH tinggi. klamidia. pembentukan kelat (kompleks tetrasiklin dengan zat lain yang sukar diserap seperti kation Ca. 2) Farmakokinetik • Absorbsi Kira-kira 30-80% tetrasiklin diserap lewat saluran cerna. juga aktif terhadap spiroket. dan protozoa tertentu. A1 3+ . Fe 21 . TETRASIKLIN 1) Farmakodinamik • Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya. pertama secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik. aerob dan anaerob. legionela. Tetrasiklin fosfat kompleks tidak terbukti lebih baik absorpsinya dari sediaan tetrasiklin biasa. Selain itu. yang terdapat dalam susu dan antasid). digoksin. Hanya mikroba yang cepat membelah yang dipengaruhi obat ini. Setelah masuk antibiotic berikatan secara reversible dengan ribosom 30S dan memcegah ikatan tRNA-aminoasil pada kompleks mRNA-ribosom. Oleh sebab itu sebaiknya tetrasiklin diberikan sebelum atau 2 jam setelah makan. siklosporin. • Efek antimikroba: golongan tetrasiklin termasuk antibiotic yang terutama bersifat bakteriostatik.

Obat yang tidak diserap diekskresi melalui tinja. • Absorpsi tetrasiklin tidak lengkap dengan waktu paruh 6-12 jam. . iare seringkali timbul akibat iritasi. Demam dan eosinofilia dapat pula terjadi pada waktu terapi berlangsung.5 µg/mL. Iritasi lambung paling sering terjadi pada pemberian tetrasiklin per oral. Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian golongan tetrasiklin ialah erupsi mobiliformis. Obat golongan ini ditimbun dalam sistem retikuloendotelial di hati. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali kadar serum. • Metabolisme Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di hati. 3) Indikasi. Reaksi toksik dan iritatif. Pemberian oral 250 mg tetrasiklin tiap 6 jam menghasilkan kadar sekitar 2. pencegahan pra dan pasca bedah dental • Efek samping dan kontraindikasi Reaksi kepekaan. urtikaria dan dermatitis eksfoliatif. Penetrasi ke cairan tubuh lain dan jaringan tubuh cukup baik. Dalam cairan serebrospinal (CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 10-20% kadar dalam serum. efek samping • Indikasi: Infeksi gingival akau: Acute necritizing ulcerative gingivitis. Bila terjadi obstruksi pads saluran empedu atau gangguan faal hati obat ini akan mengalami akumulasi dalam darah. Reaksi yang lebih hebat ialah edema angioneurotik dan reaksi anafilaksis. Pada pemberian per oral kira-kira 20-55% golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin. Manifestasi reaksi iritatif yang lain ialah terjadinya tromboflebitis pada pemberian IV dan rasa nyeri setempat bila golongan tetrasiklin disuntikkan IM tanpa anestetik lokal. limpa dan sumsum tulang. serta di dentin dan email gigi yang belum bererupsi. Sensitisasi silang antara berbagai derivat tetrasiklin sering terjadi.• Distribusi Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang bervariasi.0-2. Golongan tetrasiklin menembus sawar plasenta. Sebagian besar obat yang diekskresi ke dalam lumen usus ini meng alami sirkulasi enterohepatik. maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah terapi dihentikan. kontraindikasi. dan terdapat dalam air susu ibu dalam kadar yang relatif tinggi. Ekskresi Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin berdasarkan filtrasi glomerulus.

limfosit atipik. Pertumbuhan tulang akan terhambat sementara pada fetus dan anak. Wanita hamil atau masa nifas dengan pielonefritis atau gangguan fungsi ginjal lain cenderung menderita kerusakan hati akibat pemberian golongan tetrasiklin. perubahan warna permanen dan kecenderungan terjadinya karies. Di duga hal ini disebabkan oleh terbentuknya kelat kalsium. Perubahan warna bervariasi dari kuning coklat sampai kelabu tua. karena itu dikontraindikasikan pads gagal ginjal. Golongan tetrasiklin memperlambat koagulasi darah dan memperkuat efek antikoagulan kumarin. tetapi mungkin juga karena obat-obat ini mempengaruhi sifat fisikokimia lipoprotein plasma. Timbulnya ke lainan ini lebih ditentukan oleh jumlah daripada lamanya penggunaan tetrasiklin. Bahaya ini terutama terjadi mulai pertengahan masa hamil sampai dan sering berlanjut sampai umur 7 tahun atau lebih. tetrasiklin dapat menimbulkan disgenesis. Golongan tetrasiklin bersifat kumulatif dalam tubuh.Terapi dalam waktu lama dapat menimbulkan kelainan darah tepi seperti leukositosis. 4) Interaksi obat • Bila tetrasiklin diberikan dengan metoksifluran maka dapat menyebabkan . Karena itu tetrasiklin termasuk tigesiklin jangan digunakan mulai pertengahan kedua kehamilan. Hepatotoksisitas dapat terjadi pada pemberian golongan tetrasiklin dosis tinggi (lebih dari 2 gram sehari) dan paling sering terjadi setelah pemberian parenteral. granulasi toksik pads granulosit dan trombositopenia. Efek samping yang paling sering timbul biasanya berupa azotemia. hiperfosfaternia dan penurunan berat badan. Pada gigi susu maupun gigi tetap. masa menyusui dan anak sampai berumur 8 tahun. Tetrasiklin terikat sebagai kompleks Pada jaringan tulang yang sedang tumbuh. Karena itu tetrasiklin jangan diberikan pads wanita hamil kecuali bila tidak ada terapi pilihan lain.

• Pemantauan waktu protrombin diperlukan bila obat ini harus diberikan bersama dengan warfarin. Str. • Karbamazepin. Terutam akatif terhadap kuman gram positif. aureus dan streptokokus termasuk Str. Pyogenes. 5) Sediaan dan dosis obat CEFADROXIL 1) Farmakodinamik Cefalosforin termasuk antibiotik betalactam yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel bakteri. fenitoin.nefrotoksisitas. Viridans dan Str. Bila dikombinasikan dengan penisilin maka aktivitas antimikrobanya dihambat. Golongan ini efektif terhadap sebagian besar S. Pneumoniae 2) Farmakokinetik . barbiturat dan alkoholisme kronik menginduksi enzim pemetabolisme doksisiklin sehingga waktu paruhnya dapat me mendek sampai 50%. Sifat anti bakterinya bakterisid.

hipersensitif penicillin. urtikaria. jarang menimbulkan rash. anemia hemolitik dan mungkin kanker kandung kemih. Anak 30 mg/kg/hari dibagi 2 dosis.• Absorbsi: cefadroksil diberikan secara oral dan diabsorbsi baik di GIT.2-1. Ekskresi dalam bentuk utuh melalui ginjal. Kapsul 250 mg. reaksi alergi. kandidiasis oral atau vagina 4) Sediaan dan dosis obat Tablet 500 mg (Ancefa). Kaplet film coated 500 mg (Kelfex). Efek antipiretik ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. abses dentogen. Fenazetin tidak digunakan lagi dalam pengobatan karena penggunaannya dikaitkan dengan terjadinya analgesik nefropati. Kapsul tablet 1 gr (Duricef).500 mg (Cefadroxil). T ½ 1. Kontraindikasi: Gagal ginjal. infeksi periodontal. misalnya infeksi periapikal. kontraindikasi.5 jam 3) Indikasi. dengan proses Indikasi: Infeksi serta pada rongga mulut dan rahang. kehamilan dan laktasi Efek samping: Diare ringan. 250 mg (Cefat). pruritus. GOLONGAN ANALGETIK-ANTIPIRETIK PARASETAMOL Asetaminofen (parasetamol) merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang sama dan telah digunakan sejak tahun 1893. Distribusi: cefadroksil berikatan dengan protein plasma sekitar sekresi tubuli. Maksimal 2 gr/hari II. Dry sirup 125 mg. efek samping • • • distribusi luas. Asetaminofen di Indonesia . 15-20%. abses gingival dll. Dosis Dewasa 1-2 gr/hari dosis tunggal atau dalam 2 dosis.

1. Farmakokinetik Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. . dan tersedia sebagai obat bebas. 3. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan mass paruh plasma antara 13 jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh. 2. demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa. gangrene pulpa dan lain-lain. Efek iritasi. 25% parasetamol terikat protein plasma. Obat ini diekskresi melalui ginjal.lebih dikenal dengan nama parasetamol. Sebagian asetaminofen (80%) dikonjugasi dengan asam glukuronat dan sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat. Metabolik hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit. oleh karena itu parasetamol tidak digunakan sebagai antireumatik. setelah pemasangan kawat gigi. sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi. Selain itu obat ini juga dapat mengalami hidroksilasi. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah. Farmakodinamik Efek analgesik parasetamol yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada obat ini. Dan sebagai terapi simptomatik pada keadaan infeksi seperti abses gigi. Indikasi Sebagai analgesik terutama setelah pencabutan gigi. Menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang berdasarkan efek sentral. Tetapi perlu diperhatikan pemakai maupun dokter bahwa efek anti-inflamasi parasetamol hampir tidak ada. Obat ini dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Dalam plasma. gingivitis. Efek anti-inflamasinya sangat lemah.

Untuk anak 1-6 tahun: 60-120 mg/kali dan bayi di bawah 1 tahun : 60 mg/kali. Nekrosis tubuli renalis serta koma hipoglikemik dapat juga terjadi. Sediaan dan dosis Parasetamol tersedia sebagai obat tunggal. Sebagian besar dari AINS berikatan protein tinggi (≥ 98%). berbentuk tablet 500 mg atau sirup yang mengandung 120 mg/5 mL. beberapa oleh mekanisme fase I dan fase II dan lainnya oleh glukorinidasi langsung (fase II). pada keduanya diberikan maksimum 6 kali sehari. Efek Samping Reaksi alergi jarang terjadi. Dosis parasetamol untuk dewasa 300 mg-1 g per kali. biasanya dengan albumin. dalam bentuk tablet maupun cairan. Hepatotoksisitas dapat terjadi pada pemberian dosis tunggal 10-15 gram (200-250 mg/kgBB) parasetamol. dengan maksimum 2 g/hari. Farmakokinetika Sebagian besar dari obat-obat diserap dengan baik. Selain itu parasetamol terdapat sebagai sediaan kombinasi tetap. untuk anak 6-12 tahun : 150-300 mg/kali.4. dengan maksimum 4 g per hari. Manifestasinya berupa eritema atau urtikaria dan gejaia yang letbih berat berupa demam dan lesi pada mukosa. Metabolisme dari sebagian besar berlangsung . 5. Sebagian besar dari AINS dimetabolisme. Terjadi akibat dosis toksik yang paling serius ialah nekrosis hati. III. dan makanan tidak mempengaruhi bioavaibilitas mereka secara substansial. Toksisitas akut. ANALGESIK ANTIINFLAMASI NONSTEROID Farmakodinamika Aktivitas antiinflamasi dari AINS tertutama diperantarai melalui hambatan biosintesis prostaglandin.

Efek Samping Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia. secara nonselektif menurunkan pembentukan bervariasi pada sintesa Lipooksigenase. Anemia hemolitik pernah dilaporkan. Sekalipun ekskresi ginjal adalah rute yang paling prnting untuk eliminasi terakhir. sebagai anti-inflamasi. Pada orang usia lanjut efek samping diare hebat lebih sering dilaporkan. Efek samping lain yang berdasarkan hipersensitivitas ialah eritema kulit dan bronkokonstriksi. diare 4) sampai diare berdarah dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung. efek 2) Farmakokinetik • Absorbsi: mellaui oral. i katan dengan protein yaitu >90 % • Metabolisme: di liver • Ekskresi: melalui urin (sebagai metabolit). hampir semuanya melalui berbagai tingkat ekskresi empedu dan penyerapan kembali (sirkulasi enterohepatis). kadar puncak 2-4 jam • Distribusi: asam mefenamat terikat sangat kuat pada protein plasma. . T ½ 2-4 jam 3) Indikasi Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. prostaglandin dan tromboksan A2.sebagian besar melalui enzim P450 kelompok CYP3A dan CYP2C dalam hati. Obat-obat yang sering digunakan yaitu: ASAM MEFENAMAT 1) Farmakodinamik Inhibisi Siklooksigenase reversibel (inhibisi sintesis prostaglandin).

Dosis asam mefenamat adalah 2-3 kali 250-500 mg sehari. Metabolit utama merupakan hasil hidroksilasi dan karboksilasi. Tidak dieksresi ke ASI 3) Indikasi: . secara nonselektif menurunkan pembentukan prostaglandin dan tromboksan A2. 2) Farmakokinetik • Absorbsi: absorpsi ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksi mum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. aktivitas analgetik. IBUPROFEN 1) Farmakodinamik Inhibisi Siklooksigenase reversibel (inhibisi sintesis prostaglandin).5) Dosis Sedian asam mefenamat yaitu tablet 500 mg. antiinflamasi. Ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap. antipiretik. • Distribusi: 90% ibuprofen terikat dalam protein plasma • Metabolisme: hepar metabolit inaktif dalam 24 jam • Ekskresi: Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam. efek bervariasi pada sintesa lipooksigenase dan produksi leukotrien. kapsul 250 mg. Kirakira 90% dari dosis yang diabsorpsi akan dieks kresi melalui urin sebagai metabolit atau konjugatnya. Karena efek toksiknya tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak di bawah 14 tahun dan wanita hamil. menghambat agregasi platelet. dan pem berian tidak melebihi 7 hari.

insomnia.maksimal 1600 mg/hari. 400 mg. hepatitis kolestasis. keram. edema perifer. bingung. perdarahan GI. GOLONGAN ANTIFUNGAL Obat-obat antifungal diklasifikasikan menjadi beberapa golongan yaitu: (Tripathi M. Hamycin. disritmia. Polyenes : amfotericin B. mual. Maksimal 3200 mg/hari. Itrakonazole . konstipasi. purpura. hipertensi. takikardi GI: anoreksia. tremor Cardiovaskuler : CHF. Children’s motrin: syr 100 mg/5mlx60 ml Dosis: antiinflamasi dewasa 3-4x400-800 mg. lemah. Imidazole (topical): clotrimazol. IV. ruam. Anak 20 mg/kgBB/ hari (<1600 mg/hari analgetik. Nystatin. Analgetik 34x200-400 mg. depresi. muntah Azotemia. Nalamycin 2. mulut kering. Heterocyclicbenzofuran : griseofulvin 3. hematuri. oliguria Kulit: pruritus. miconazol (sistemik) : ketokonazole b. diare. nefrotoksisitas.D 2001) 1. >1600 mg/hr inti inflamasi). Econazol. jaundice. berkeringat 5) Dosis dan sediaan: Sedian ibuprofen : generik: tablet 200 mg.Sebagai antiinflamasi dan analgetik 4) Efek samping: • • • • • CNS: ansietas. Azoles a. Triazoles (sistemik) : Flukonazole. mengantuk.

nystatin.mekanisme kerja obat ini dengan cara merusak membran sel yaitu terjadi perubahan permeabilitas membran sel. sehingga terjadi perubahan permeabilitas membran sel. Amfoterisin B dihasilkan oleh Streptomyces nodusum.Dari beberapa golongan antijamur tersebut diatas. lanosterol 14 demethylase sehingga terjadi kerusakan sintesa ergosterol dan selanjutnya terjadi ketidak normalan membran sel. Mekanisme kerjanya dengan cara menghambat cytochrome P450 sel jamur. Sediaan berupa lozenges (10 ml ) dapat digunakan sebanyak 4 kali /hari. (Greenberg. itrakonazole dan flukonazole. Sediaan berupa suspensi oral 100. mekanisme kerja sama dengan miconazole. sakit kepala.. selama 3 hari.Efek sampingnya berupa mual / muntah. Efek samping terhadap ginjal seringkali menimbulkan nefrositik.dosis 200mg/hari. Miconazole mekanisme kerjanya dengan cara menghambat enzim cytochrome P 450 sel jamur.selama 2 minggu. miconazole. bentuk sediaannya berupa troche 10 mg. ditaruh diatas lidah kemudian dikumurkan dahulu sebelum ditelan. mekanisme kerja obat ini yaitu dengan cara merusak membran sel jamur. ketokonazole. Obat ini dimetabolisme di hepar. sehari 3 – 4 kali. (Mc cullough. yang efektif untuk kasuskasus pada rongga mulut.000 U / 5ml dan bentuk cream 100. efektif untuk pengobatan kandidiasis penderita immunocompromised. 2003) . clotrimazole.000 U/g. 2005). Clotrimazole. Sediaan dalam bentuk tablet 200mg Dosis satu kali /hari dikonsumsi pada waktu makan. Itrakonazole. digunakan untuk kasus denture stomatitis. Sediaan dalam bentuk gel oral (20 mg/ml).parestesia dan rontok. Sediaan dalam bentuk tablet . digunakan 4 kali /hari setengah sendok makan.bentuk suspensi (100-200 mg) / hari. sering digunakan antara lain amfotericine B. Ketokonazole (ktz) adalah antijamur broad spectrum. Nystatin dihasilkan oleh streptomyces noursei.

sehingga terjadi perubahan membran sel . Special Precautions Renal and hepatic impairment. Adverse Drug Reactions Topical: Local irritation. tinnitus. Continue for 48 hr after lesions have cleared. sakit di bagian perut (abdomen). Kontra indikasi pada wanita hamil dan menyusui. vomiting. Sediaan dalam bentuk capsul 50. sakit kepala.Efek samping obat berupa gatal-gatal. Flukonazole.sakit di bagian perut. diarrhoea. Contraindications Hypersensitivity. AMPHOTERICIN B Indication & Dosage Oral: Oral candidiasis Adult: Using conventional amphotericin B: 1 ml of a 100 mg/ml oral suspension 4 times daily retained in the mouth for a few minutes before swallowing or 10 mg loz dissolved in the mouth 4 times daily. 150mg dam 200mg Single dose dan intra vena. convulsions. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan.100mg. anorexia.mg.eritme pada kulit. Efek samping mual. malaise. do not give to patients receiving antineoplastics. lactation. nausea. monitor renal and liver function changes. chills. sakit kepala. Mekanisme kerjanya dengan cara mempengaruhi Cytochrome P 450 sel jamur.pusing.dan hypokalemi. pregnancy. IV infusion: Fever. hearing . pruritus and skin rash. increased to 8 loz daily if necessary or 100-200 mg tab/suspension 4 times daily. dapat digunakan pada seluruh penderita kandidiasis termasuk pada penderita immunosupresiv. vertigo.

H. hypertension. Pregnancy Category (US FDA): Category B Mechanism of Action Amphotericin B is a polyene antifungal antibiotic which alters cell membrane permeability by binding to ergosterol. immitis. 24 hr (elimination half-life). Candida spp. Antagonises effects of azole antifungals. B. Basidiobolus spp. brasiliensis. C. pain at Inj site.loss. cardiac arrhythmias. Potentially Fatal: Potentiates K loss by corticosteroids. Drug induced renal toxicity enhanced in presence of other nephrotoxic medications. It is active against Absidia spp. dermatitidis. P. Rodotorula spp. Avoid diuretics. Rhizopus spp. disturbances in renal function and renal toxicity. NYSTATIN Indication & Dosage Oral . Mucor spp. not removed by dialysis. Excretion: Via urine (small amounts). phloebitis. thus causing leakage of cell components and subsequent cell death. Potentially Fatal: Anaphylactic reaction. hypotension. Absorption: Little or no absorption from the GI tract (oral). Drug Interactions Increased toxicity with flucytosine. C. Enhances digitalis toxicity and neuromuscular blocker effects. Aspergillus spp. schenckii. leucoencephalopathy. and S. peripheral neuropathy. Overdosage can result in cardio-respiratory arrest. Distribution: Distributed widely. neoformans. CSF (small quantities). Conidobolus spp. capsulatum. may be increased to 15 days in long-term treatment.

Special Precautions Pregnancy.000 units daily in divided doses. Adverse Drug Reactions Diarrhoea.000 units as lozenges or 400. Special Populations: Higher doses may be required in immunocompromised patients. Avoid food and drink for 1 hr after dose. Continue for 48 hr after lesions have healed. nausea and vomiting. . Oral Prophylaxis of intestinal candidiasis Adult: 1. Contraindications Hypersensitivity. diaphragms. Keep in contact with affected area for as long as possible. Keep in contact with affected area for as long as possible. 100.000 units 4 times daily (US recommendation 200.000 units as oral suspension 4 times daily). additional contraceptive measures should be taken.000-600.000-400.000 units as oral suspension 4 times daily). Child: As oral suspension: 100. Child: Infants. Topical application: Irritation.000 units 4 times daily.000. 100.g. as oral suspension: 100. Avoid food and drink for 1 hr after dose.Intestinal or oropharyngeal candidiasis Adult: 500.000.000 units 4 times daily (US recommendation 200. lactation.000 units daily. condoms).000-600.000 units as lozenges or 400.000 units 3-4 times daily. GI distress. Child: >1 mth: As pastilles or oral suspension.000-400.000 or 1. Administration May be taken with or without food. Oral Oral candidiasis Adult: As pastilles or oral suspension. vaginal pessaries/cream: May damage latex contraceptives (e. Continue for 48 hr after lesions have healed.

Continue treatment until 48 hr after lesions have healed. Porphyria. a polyene antifungal. binds to ergosterol in the fungal cell membrane. Retain near oral lesions before swallowing. apply directly onto the lesions 4 times a day for 5-7 days. Pregnancy Category (US FDA) ROUTE(S) : Mouth/Throat / PO / Topical  Category C Mechanism of Action Nystatin. Retain near oral lesions before swallowing. hepatic impairment (oral gel).5 ml bid. 2-6 yr: 5 ml bid. Continue treatment until 48 hr after lesions have healed. For treatment of oral lesions. This binding affects the cell wall permeability allowing leakage of cellular contents MICONAZOLE Indication & Dosage Mouth/Throat Intestinal or oropharyngeal candidiasis Adult: As oral gel containing 20 mg/g (24 mg/ml): 5-10 ml after food 4 times a day. Continue treatment until 48 hr after lesions have healed.Food Interaction Oral suspension/drops: Reduced efficacy if food/drink taken within 1 hr of drug admin. Special Precautions . Child: As oral gel containing 20 mg/g: 1 mth-2 y: 2. >6 yr: 5 ml 4 times a day. Contraindications Hypersensitivity.

rash. anorexia and flushing. contact dermatitis. hepatitis. Potentially Fatal: Potentiates anticoagulant effect of warfarin. diarrhoea. converted to inactive metabolites. pimozide. Absorption: Incomplete from the GI tract (oral). sildenafil. Excretion: 10-20% of an oral dose will be excreted in urine (as metabolites). ciclosporin. vomiting. Povidone Iodine . drowsiness. Pregnancy Category (US FDA)  Category C Mechanism of Action Miconazole inhibits ergosterol biosynthesis thus damaging fungal cell wall membrane and increases its permeability. Metabolism: Hepatic. Potentially Fatal: IV: Anaphylactic reaction and cardiac arrest. Pregnancy and lactation. 24 hr (terminal). febrile reactions. Elimination half-life: 40 minutes (initial). astemizole or terfenadine.g. allowing leakage of nutrients. minimal (topical). Drug Interactions Increased toxicity reported with carbamazepine. V. tacrolimus.For external use only. Adverse Drug Reactions Nausea. interact with a large number of drugs e. discontinue if sensitization or irritation occurs. HIV protease inhibitors. statins. therefore. 50% of an oral dose is excreted as unchanged drug in the faeces. GOLONGAN ANTI SEPTIK 1. quinidine. Local irritation and sensitisation. Miconazole acts as an inhibitor of CYP3A4 and CYP2D6 and may. 126 minutes (secondary). Increased risk of cardiotoxicity with cisapride.

viruses. if the drug is needed in a life-threatening situation or for a serious disease for which safer drugs cannot be used or are ineffective). Premature neonates or neonates weighing <1.5 kg. Adverse Drug Reactions Local irritation and sensitivity (rare). fungi. but the benefits from use in pregnant women may be acceptable despite the risk (e.g. Absorption: Minimal systemic absorption (topical). Mechanism of Action Povidone-iodine is an iodophore with a powerful broad-spectrum germicidal activity against a wide range of bacteria. protozoa and spores. Child: >6 yr: Same as adult dose. prolonged use in patients with thyroid disorders.  Oral candidiasis Adult: Rinse mouth with 1% mouthwash solution. Pregnancy Category (US FDA) Category D: There is positive evidence of human foetal risk. Rapid. Application to large areas of denuded skin may produce systemic effects due to iodine absorption.1% undiluted or diluted solution with an equal amount of warm water solution for 30 sec qid continued for 14 days. serum concentrations of total iodine and inorganic iodide are increased significantly (vaginal) . Special Precautions Avoid contact with eyes.Indication & Dosage  Oral hygiene Adult: Rinse mouth with 10 mL of a 0. Contraindications Hypersensitivity..

Sodium Hyaluronate Contents Indications Dosage Adverse Reactions MIMS Class Drug Hyaluronic acid Prevention of mouth ulcer. Gargle 10 mL for 1-2 min twice daily. Hypersensitivity. Neo Iodine gargle/mouthwash®. Mouth/Throat Preparations Form/ sediaan Packing Photo . gingivitis & plaque accumulation. Molexdine mouthwash®.Sediaan: Betadine gargle/mouthwash®. Povidone iodine 2.

Triamcinolone Indication & Dosage Mouth ulceration Adult: A small amount (about 0. Administration Should be taken with food. Apply 2 or 3 times daily. preferably after meals.025 % x 80 mL x 1's (Rp6000) Sanorine 0.025 % x 200 mL x 1's (Rp12000) Sanorine 0.Sanorine mouthwash Sanorine 0. Re-evaluate if recovery does not occur after 7 days of treatment. Contraindications .6 cm) of the 0.1 % x 80 mL x 1's (Rp9000) Sanorine 0.1% paste is pressed onto the lesion without rubbing until a thin film develops.1 % x 200 mL x 1's (Rp17500) LOCAL CORTICOSTEROID PREPARATIONS 1.

Increased risk of hyperkalaemia with amphotericin B. renal and liver impairment. hyperglycaemia. rifampicin.Untreated Special Precautions systemic fungal. hypersensitivity. cirrhosis. Drug Interactions Lowering of plasma salicylates levels. hypertension. psychosis. Adverse Drug Reactions HPA axis supression. Potentially Fatal: Acute adrenal insufficiency may be precipitated by infection or trauma in patients on long-term corticosteroid therapy or rapid withdrawal. glaucoma. glaucoma. potassium-depleting diuretics. Infections may develop if given with live vaccines. Antagonised blood glucose-lowering effects of the antidiabetics. theophylline. peptic ulceration. heart failure. GI upsets. hypothyroidism. intracranial hypertension. increased appetite. viral or parasitic infection. Increased risk of GI bleeding and ulceration with NSAIDs. broken skin or under occlusive dressing. bacterial. phenytoin. Peptic ulceration. barbiturate. βblockers. carbamazepine. growth retardation in children. behavioural changes. Pregnancy Category (US FDA) ROUTE(S) : Topical / Dental / Inhalation / Intra-articular / Intralesional / IM / Nasal . fractures. recent MI. osteoporosis. increased fragility of skin. osteoporosis. Cushing's syndrome. Topical: Systemic absorption if applied to large areas. delayed tissue healing. Increased clearance of the triamcinolone with ciclosporin. thromboembolic disorders. β agonists. Neonates (Parenteral) Diabetes.

Absorption: Absorbed systemically (topical). Storage Intra-articular: Store between 20-25°C (68–77°F). Distribution: Crosses the placenta. Intramuscular: Store between 20-25°C (68–77°F). Ketricin® [oint]. Drugs should be given only if the potential benefit justifies the potential risk to the foetus. Mechanism of Action Triamcinolone has mainly glucocorticoid activity. Sediaan: Kenalog in Orabase® [oint]. It suppresses the migration of polymorphonuclear leukocytes and reduces capillary permeability thereby decreasing inflammation. Topical/Cutaneous: Store between 15-30°C.Category C: Either studies in animals have revealed adverse effects on the foetus (teratogenic or embryocidal or other) and there are no controlled studies in women or studies in women and animals are not available. Intradermal: Store between 20-25°C (68–77°F). triamcinolone . Protein-binding: Plasma albumin (much smaller extent than hydrocortisone). Excretion: Elimination half-life: 2-5 hr (plasma).

Sanjaya H. Jakarta: Balai Penerbit FKUI 3. Edisi V. dkk. 2001. MIMS Indonesia 2008. Farmakologi Dasar dan Klinik. 2. dkk (Eds). 2008. Gunawan S.DAFTAR PUSTAKA 1. Katzung B.G. 2009. . Farmakologi dan Terapi. dkk.ISFI Penerbitan.G. 2009. Diterjemahkan oleh Dripa Sjabana. ISO Farmakoterapi. Jakarta: CMP Medica Asia Pte Ltd 4. Elin Y. Jakarta: PT. Jakarta: Penerbit Salemba Medika. Sukandar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful