You are on page 1of 10

BUDIDAYA SAPI BIBIT

Kebutuhan sapi bakalan untuk kereman di kabupaten Magetan masih belum
tercukupi. Hal ini terbukti dari tingginya jumlah sapi bakalan yang didatangkan dari
pasar hewan Ngawi, Tuban, Bojonegoro, Ponorogo, Nganjuk, Trenggalek dan
Tulunggagung. Hal ini memberikan gambaran bahwa ketersediaan sapi bakalan di
kabupaten Magetan masih sangat kurang yang berakibat langsung pada harga sapi
bakalan dari kabupaten-kabupaten tersebut diatas.
Untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan saapi bakalan dari
kabupaten lain tersebut, perlu dikembangkan usaha pembibitan sapi potong yang
berkualitas untuk membantu meningkatkan jumalah populasi sapi potong sehingga
dapat membantu pemenuhan kebutuhannya . selain itu dari sisi ekjonomi akan
mampu merangsang peeternakuntuk meningkatkan jumalah kepemilikan ternak sapi
potongnya sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatnya.
Tujuan utama budidaya sapi potong bibit adalah meningkatkan produksi,
terutama anak. Tujuan kedua adalah daging sebagai hasil pengembangannya, dan
tujuan ketiga sapi potong tersebut mempunyai fertilitas yang tinggi dengan masa
hidup produktif yang panjang. Dalam mencapai tujuan tersebut perlu adanya
penerapan Sapta Usaha Sapi Potong Bibit yang terdiri dari :
1. Penggunaan bibit yang baik
2. Pemberian pakan yang baik
3. Pengendalian penyakit
4. Perkandangan
5. Penerapan teknik reproduksi
6. Penengana pasca panen dan pemasaran
7. Menejemen usaha

A. Penggunaan Bibit yang Baik
o Syarat bibit yang baik adalah :
Sapi harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti: cacat mata,
pincang, lumpuh kaki dan kuku abnormal serta tidak mempunyai
kelainan tulang punggung juga cacat tubuh lain.
Semua sapi bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi,
abnormalitas ambing serta tidak menunujukkan gejala kemandulan.
Normal tidak cacat keturunan (kelainan genetik), mata cerah bulu halus
dan mengkilat.
Bentuk fisik sapi bibit: Kepala pendek, bagian leher tebal, bentuk badan
kompak dan persegi panjang, bentuk dada dalam, bentuk pinggang dan

1
tulang kemudi lebar, posisi kaki tegak, kondisi badan sedang (tidak
gemuk dan tidak kurus)
o Jenis-jenis sapi Eropa yang diminati peternak sebagai induk untuk
mendapatkan keturunan (F1)
Charolais
Hereford
Shorthorn
Simmental
Friesian holstein
Limousin

Pemberian Pakan yang Baik
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan sari bibit ini adalah :
Kebutuhan bahan kering (BK) sapi adalah sebanyak 2,5 – 3 % dari berat
badan
Kebutuhan hijauan segar untuk hidup pokok sebanyak 10% dari bobot
badan dan kebutuhan konsentrat 1 – 1,5% dari berat badan
Kandungan protein kasar pakan 7 %, kadar TDN 61 %, serat kasar 18 %,
calcium 0,21 %, phosphor 0,21 % dan kadar vitamin A 2800 IU/Kg BK

B. Pengendalian Penyakit
Untuk mendapatkan produktivitas ternak yang optimal sebaiknya dilakukan
pengawasan dan pengendalian penyakit secara ketat. Pengawasan yang dimaksud
adalah dengan mengadakan pencegahan terhadap penyakit, misalnya dengan
menjaga sanitasi, higiene lingkungan dan vaksinasi. Bila ada ternak yang sakit harus
segera dilaporkan kepada petugas kesehatan hewan untuk mendapatkan pengobatan.
Hal ini termasuk pula pengobatan terhadap kelainan fungsi reproduksi.
Obat-obatan tradisional untuk meningkatkan kesehatan hewan
Beberapa obat tradisional yang telah diketaahui khasiatnya antara lain :
 Temu ireng ; untuk pencegahan endoparasit
 Kunyit ; untuk penirin panas
 Temu lawak ; untuk pencegahan gangguan dan pengobatan fungsi hati
 Kecap dan garam untuk meningkatkan nafsu makan sapi

D. Perkandangan
Kandang merupakan tempat tinggal ternak ynag dibuat untuk memberikan
perlindungan dan kenyamanan pada ternak, serta untuk memudahkan penanganan.

2
Kandang berfungsi uytnuk melindungi ternak ternak dari gangguan luar dan
mengurangi faktor yang dapat bertindak sebagai penyebabg timbulnya penyakit.
Untuk membuat kandang yang ideal perlu diperhatikan hal-hal seperti berikut :
1. Letak kandang
 Terpisah dengan bagian perumahan (tempat tinggal manusia)
 Tidak dekat dengan sumber air, terutama tempat penampungan
kotorannya
2. Ukuran kandang
 dibuat sesuai dengan rencana jumlah ternak yang akan dipelihara
 luas ruangan yang dibutuhkan untuk tiap ekornya adalah dewasa
(1,5x2m2), anak (1,5x1m2)
3. Bahan Kandang
 Kuat dan murah
 Lantai dibuat lebih tinggi dari pada lingkungan sekitarnya dan diperkeras
(Disemen)
 Lantai dibuat rata (tidak bergelombang) dan miring dengan kemiringan
ringan (1-2%)
 Lantai yang kemiringan tinggi atau bergelombang sangat berbehaya
untuk sapi bunting
 Atap dari bahan genting atau asbes
 Dinding dari bahan tembok atau gedek

E. Penerapan Teknik Reproduksi
Kegiatan Inseminasi Buatan dilakukan sebagai upaya untuk :
1. Peningkatan produktivitas ternak
2. peningkatan populasi/meningkatkan angka kelahiran
3. Peningkatan mutu genetika ternak
4. Memperluas lapangan kerja
Keberhasilan IB sangat tergantung pada 4 faktor yaitu :
- Petugas inseminator
- Peternak dalam mendeteksi dan melaporkan birahi ternaknya
- Status fisiologis ternak yang birahi
- Semen beku yang berkualitas baik

3
Bagan waktu yang tepat untuk melaksanakan inseminasi buatan
Terlalu cepat Baik Terbaik Baik
Terlambat
Jam 0 6 9 18 24 29

Sebelum Birahi (18 jam) Sesudah birahi (10jam)
Umur ovum
Birahi 6-10 jam
6-10 jam
Anjuran penentuan perkawinan yang tepat adalah :
1. Bila tampak estrus pada pagi hari, maka perkawinan IB dilakukan paling lambat
sore harinya. Bila tampak estrus pada sore hari, maka perkawinan dilakukan
paling lambat ± jam 10.00 pagi keesokan harinya. Perkiraan terjadinya ovulasi
adalah kurang dari 18 jam.
2. pekawinan kembali setelah elahirkan sebaiknya dilakukan 60 hari setelah
melahirkan.
Tanda-tanda sapi estrus adalah sebagai berikut :
- menjelang estrus mencium-cium atau menaiki sapi lain
- Vulva (alat kelamin luar) merah, bengkak, hangat (3 A –abang-abuh-anget) dan
memgeluarka lendir
- Saat estrus : gelisah, nafsu makan menurun, menaiki sapi lain dan pupil mata
terbuka
- Siklus estrus pada sapi 21 hari (18-24 hari) denga lama siklus estrus 12-28 jam
(±18 jam)

F. Penanganan Pasca Panen dan Pemasaran
Nilai jual sapi potong sangat subyektif karena masih dipengaruhi oleh :
1. Penjualan ternak karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi. Sehingga harga jatuh
tanpa melihat kondisi ternaknya.
2. Masih lemahnya sistem pemasaran sehingga tungkat pendapatan peternak sapi
potong rendah

G. Manajemen Usaha
Peningkatan nilai tambah dari teknologi budidaya sapi potong bibit adalah :
Pola pemeliharaan yang lebih efisien
Percepatan perkawinan
Pada sapi induk bisa didapatkan percepatan perkewinan kembali setelah
beranak lebih awal 3-4 bulan, karena pedet disapi pada umur 3 bulan.

4
H. Pencegahan Penyakit

1. BRUCELLOSIS ABARTUS BANG ( penyakit keguguran menular; penyakit
keluron)
Penyebab :
kuman brucella abortus

Masa Inkubasi:
tidak tentu, dapat berminggu-minggu sampai berbulan-bulan (23 hari – 230
hari).

Penularan :
kuman penyakit ini dapat masuk kedalam badan bersama-sama makanan dan
minuman. kadang-kadang dapat juga terjadi penularan melalui sapi pemacek pada
waktu perkawinan.

Gejala Spesifik:
adanya radang dari alat kelamin, terjadinya keguguran dan kemungkinan
terjadinya sterilitas.

Gejala Umum :
- keguguran biasanya terjadi pada pertengahan masa bunting
- terjadi mastitis
- pembengkakan pada siku dan lutut kaki
- penurunan produksi susu
- bila terjadi keguguran maka pedet yang dilahirkan sangat lemah
- sering terjadi retensio secundinarium, yaitu keluarnya plasenta setelah
melahirkan tapi hanya sebagian saja; hal inilah yang mengakibatkan sterilitas.

Pencegahan Dan Pengobatan :
tindakan higienis :
- memisahkan sapi yang sakit dari sapi yang sehat
- bila diduga adanya brucellosis, cegah kontak langsung melalui alat makanan,
minuman dan padang rumput atau hewan-hewan sehat dari hewan tersangka
sakit.
- foetus harus ditanam atau dibakar
- pemeriksaan terhadap hewan yang baru datang atau baru dibeli
- adakan pemeriksaan kesehatan ternak secara teratur

5
- air susu sapi yang menderita penyakit ini tidak boleh diminum manusia, setelah
dimasak dapat diberikan kepada pedet.
vaksinasi :
- vaksinasi menggunakan vaksin “strain 19” (strain buch) terutama pada sapi muda
umur 4 – 6 bulan. untuk sapi kurang dari 4 bulan belum boleh divaksin
pengobatan :
belum diketahui suatu cara pengobatan yang efektif terhadap penyakit ini.

2. BLOAT (kembung perut)

Penyebab :
gangguan pencernaan karena gas didalam perut tidak bisa keluar. penyakit ini
terjadi karena :
- karena proses fermentasi yang terlalu cepat sehingga membentuk timbunan gas
yang cukup banyak dalam perut.
- terjadi karena sapi yang lapar makan makanan jenis leguminose yang masih
basah akibat embun pagi atau air hujan
- pergantian jenis makanan tertentu yang dapat menghalangi aktivitas rumen secara
wajar sehingga gas yang dihasilkan menekan pernafasan menyebabkan hewan
mati lemas.

Gejala :
- lambung pada sisi kiri bagian atas membesar dan menjadi sangat kencang
sehingga berbunyi apabila dipukul dengan jari
- pernafasan berat dan kontraksi rumen kuat sehingga sapi sring terhuyung-huyung
dan sebentar sapi berbaring dan berdiri

Pencegahan Dan Pengobatan :
- jangan membiarkan sapi yang sedang tumbuh lapar dan langsung diberi makanan
leguminose yang masih basah. perbandingan yang paling baik untuk pakan
adalah 50 % leguminose dan 50 % rumput.
- memberikan jerani kering terlebih dahulu kepada hewan lapar karena jerami akan
dapat mempertahankan kontraksi refleksi rumen secara normal.
- jika sapi menderita bloat, gas harus segera dikeluarkan dengan cara memasukkan
pipa melalui mulut atau dengan menggunakan trocar atau canula.
- pengobatan yang dilakukan dengan memberikan antibiotik guna membasmi
bakteri yang menghasilkan gas.

6
3. ANTRAX (radang limpa)
Penyebab :
bacillus anthracis

Masa Inkubasi :
1 – 2 minggu

Penularan :
melalui makanan, minuman, pernafasan serta kulit. sumber penularan dan
penyebaran penyakit dapat berupa tanah yang sudah tercemar, air, tanaman yang
tumbuh diatasnya, binatang kecil yang menggigit dan meghisap darah. kuman ini
dapat membentuk spora sehingga dapat tetap hidup bertahun-tahun didalam tanah.

Gejala Spesifik:
adanya demam yang akut dan terjadi pembesaran limpa. pada sapi yang telah
mati dari mulut, hidung keluar darah dan dari anus keluar kotoran yang berwarna
hitam.

Gejala Umum :
- suhu tubuh tinggi
- pernafasan dan denyut jantung menjadi cepat.
- produksi air susu berhenti sama sekali
- sapi sulit buang kotoran tetapi diikuto diarhea yang berdarah

Pencegahan Dan Pengobatan :
- vaksinasi pada sapi dengan meggunakan vaksin max sterne. kekebalan timbul
setelah 10 – 14 hari dengan dosis 1 cc.
- menggunakan anti antrax serum untuk dosis pencegahan 50 – 100 cc dan dosis
100 – 200 cc untuk penyembuhan.
- suntikan antibiotik
a. oxytetracicline : pada tingkat penularan diberikan 2 gr, selanjutnya 1 gr tiap
hari sampai sembuh.
b. procain penicillin g. dosis 6000 – 10000 µgr/kg berat badan.

7
4. APTHAE EPIZOOTICA (penyakit mulut dan kuku)

Penyebab :
Virus

Masa Inkubasi :
3 – 6 hari

Gejala Spesifik :
luka atau lepuh pada selapu lendir mulut, kuku dan celah-celah kuku

Gejala Umum :
- demam pada sapi muda sampai suhu 40 – 41 oc selama 2 hari. pada hewan tua
tidak begitu tampak
- pada selaput lendir mulut terjadi lepuh atau bengkak yang berisi cairan jernih.
lama-lama cairan tersebut menjadi keruh keputih-putihan akhirnya pecah dan
menjadi luka.
- hewan tidak mau makan dan dari mulut keluar air liur dengan konsistensi yang
sedikit kental.
- tajuk kuku dan bola kuku bengkak merah dan terasa sakit sehingga hewan
pincang.

Pencegahan Dan Pengobatan :
tindakan higienis :
- usahakan agar hewan sehat tidak kontak dengan hewan penderita atau hewan-
hewan yang baru sembuh dan benda-benda yang tercemar.
- hewan yang baru datang perlu dikarantina paling sedikit selama 2 minggu.
- benda yang digunakan pada sapi yang sakit segera didesinfektan.
- sapi yang telah sakit parah supaya dibunh dan dibakar.
- air susu dari sapi yang sakit bisa diminum asal dimasak dulu.
vaksinasi :
- kekebalan akan timbul 2 minggu setelah divaksin dan lamanya kekebalan 6
bulan.
pengobatan :
merendam kuku pada larutan formalin dan larutan natrium karbinat 4 % sedang
luka pada mulut dapat dibersihkan dengan larutan aluminium sulfat 5 %. untuk
mencegat infeksi sekunder diberikan obat antibiotik.

8
5. TUBERCULLOSIS (tbc)

Penyebab :
microbacterium tuberculose

Sifat – Sifat :
- kuman tbc tahan terhadap kering
- dalam air bisa hidup lebih lama.
- dalam air susu dapat hidup 9 – 10 hari dan akhirnya mati karena terbentuknya
asam susu
- sinar matahari dapat mematikannya dalam beberapa menit saja.

Masa Inkubasi :
bisa berminggu-minggu sampai berbulan-bulan

Penularan :
umumnya infeksi terjadi melalui pernafasan tapi kadang-kadang juga melalui
pencernaan.

Gejala Spesifik:
ditandai dengan pembentukan bungkul-bungkul (teberkel) pada alat-alat dimana
kuman tersebut berkembang.

Gejala Umum :
- nafsu makan turun sehingga hewan menjadi kurus
- bulu kusam, kering dan tidak megkilat.
- perlekatan kulit dengan tubuh tampak kendor
- sapi sukar bernafas dn batuk-batuk
- bila kuman tbc menyerang alat kelamin dapat menyebabkan sterilitas; bila
menyerang susunan syaraf menyebabkan kelumpuhan dan bila menyerang alat
pencernaan menjadi diarhea.

Pencegahan Dan Pengobatan :
- melakukan tes tuberculinasi secara teratur setiap tahun.
- sapi yang positif segera diisolir dari sapi yang sehat
- dapat diberikan antibiatik pada tingkat awal dan apabila sudah parah sapi tersebut
lebih baik dimusnahkan.

9
10