You are on page 1of 10

Pada tahun 1977seorang mikrobiolog bernama CarlWoese dan peneliti lain dari University of Illinois menemukan suatu kelompok

bakteri yang memiliki ciri unik dan berbeda dari anggota kingdom Monera lainnya. Kelompok tersebut dinamakan Archaebacteria. Archaebacteria lebih mendekati makhluk hidup Eukariota dibandingkan bakteri lain yang merupakan Prokariota. Hal itu menyebabkan terciptanya sistem klasifikasi 6 kingdom pemisah kingdom Archaebacteria dari anggota kingdom Monera lain yang kemudaian disebut Eubacteria. Namun hingga sekarang yang diakui sebagai sistem klasifikasi standar adalah sistem lima kingdom yang ditemukan oleh Whittaker. Makhluk hidup di kingdom Archaebacteria tidak jauh berbeda dengan yang ada di kingdom Eubacteria karena mereka dulunya satu kingdom. Namun Archaebacteria umumnya tahan di lingkungan yang lebih ekstrem.

Archaebacteria merupakan kelompok bakteri yang menghasilkan gas metan dari sumber karbon yang sederhana, uniseluler, mikroskopik, dinding sel bukan peptidoglikon, dan secara biokimia berbeda dengan Eubacteria. Selain itu, sifat Archaebacteria yang lain adalah bersifat anaerob, dapat hidup di sampah, tempat-tempat kotor, saluran pencernaan manusia atau hewan, halofil ekstrem, lingkungan bergaram, serta termoplastik pada suhu panas dan lingkungan asam. Archaebacteria dianggap sebagai nenek moyang dari bakteri yang ada sekarang ini. Archaebacteria mencakup makhluk hidup autotrof dan heterotrof. Archaebacteria terbagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut. a. Bakteri metanogen. b. Halobakterium. Genus Halobacterium dan Halococcus mencakup bakteri yang halofil ekstrem, bersifat aerob, dan heterotrof. Bakteri genus ini banyak ditemukan di tambak garam laut. Pada saat terjadi penggandaan sel dari halobakterium yang mengandung karotenoid, air akan berwarna merah intensif. Selain itu, Halobakterium dan Halococcus dapat tumbuh optimum pada larutan NaCl, 3,5 sampai 5 molar, serta mampu memanfaatkan energi cahaya untuk metabolisme tubuhnya. c. Bakteri termo-asidofil. Dalam kelompok ini, terhimpun Archaebacteri yang bersifat nonmetanogen yang berbeda-beda. Di dalamnya juga terdapat wakil autotrof dan heterotrof, asidofil ekstrem, neurofil, serta aerob dan anaerob.

-Bakteri Metanogen -Bakteri Halofil -Bakteri Termofil

Kelompok Archaebacteria ini dinamakan metanogen karena metabolismenya membentuk gas metana (CH) dengan cara mereduksi karbon dioksida (CO). Metanogen hidup di lumpur, rawa, dan tempat-tempat yang kekurangan oksigen. Di habitatnya, metanogen memperoleh makanan dengan membusukkan sisa-sisa tumbuhan yang mati lalu menghasilkan gas metana. Bakteri metanogen dapat bertahan hidup pada suhu tinggi karena struktur DNA, protein, dan membran selnya telah beradaptasi.

Bakteri yang satu ini memiliki arti bahasa yunaninya, Halo=garam philos=pecinta. Archaebakteria ini hidup pada lingkungan berkadar garam tinggi, seperti danau air asin atau di Laut Mati. Halofil bersifat heterotrof (Konsumer). Hallofil melakukan respirasi aerobik untuk menghasilkan energi. Seperti bakteri Halobacterium

Termoasidofilik hidup di tempat yang bersuhu tinggi dan bersifat asam. Archaebacteria ini hidup dengan mengoksidasi sulfur. Termofil ekstrem umumnya hidup di lubang vulkanis, kawah vulkanis, dan mata air bersulfur.
Yang harus disediakan ilmuan yang ingin memelihara Archaebacteria yang berasal dari sumber air panas maksudnya termofil ekstrem? Syarat bakteri termofil ekstrem ini dapat hidup adalah suhu 45-110C dan pH 1-2

karena archaebacteeria mempunyai peptidoglikan, yaitu suatu lapisan yang membentuk membran sel yang kuat terhadap ling. ekstrim seperti panas, ling banyak garam dan banyak metana.

Susunan tubuh sangat sederhana, dinding sel tidak tersusun atas peptidoglikan. habitat pada lingkungan ekstrim yang tidak semua organisme mampu hidup di san. terdiri atas satu sel yang hidup berkoloni atau berupa filamen berukuran kecil.