Proses Penyembuhan Fraktur Proses penyembuhan suatu fraktur dimulai sejak terjadi fraktur sebagai usaha tubuh untuk

memperbaiki kerusakan – kerusakan yang dialaminya. Penyembuhan dari fraktur dipengaruhi oleh beberapa faktor lokal dan faktor sistemik, adapun faktor lokal: a. Lokasi fraktur b. Jenis tulang yang mengalami fraktur. c. Reposisi anatomis dan immobilasi yang stabil. d. Adanya kontak antar fragmen. e. Ada tidaknya infeksi. f. Tingkatan dari fraktur. Adapun faktor sistemik adalah : a. Keadaan umum pasien b. Umur c. Malnutrisi d. Penyakit sistemik. Proses penyembuhan fraktur terdiri dari beberapa fase, sebagai berikut : 1. Fase Reaktif a. Fase hematom dan inflamasi b. Pembentukan jaringan granulasi 2. Fase Reparatif a. Fase pembentukan callus b. Pembentukan tulang lamellar 3. Fase Remodelling . Remodellingke bentuk tulang semula Dalam istilah-istilah histologi klasik, penyembuhan fraktur telah dibagi atas penyembuhan fraktur primer dan fraktur sekunder. A. Proses penyembuhan Fraktur Primer Penyembuhan cara ini terjadi internal remodellingyang meliputi upaya langsung oleh korteks untuk membangun kembali dirinya ketikakontinuitas terganggu. Agar fraktur menjadi menyatu, tulang pada salah satu sisi korteks harus menyatu dengan tulang pada sisi lainnya (kontak langsung) untuk membangun kontinuitas mekanis. Tidak ada hubungan dengan pembentukan kalus. Terjadi internal remodelling dari haversian systemdan penyatuan tepi fragmen fraktur dari tulang yang patah Ada 3persyaratanuntuk remodeling Haversian pada tempat fraktur adalah: 1. Pelaksanaan reduksi yang tepat 2. Fiksasi yang stabil 3. Eksistensi suplay darah yang cukup Penggunaan plate kompresi dinamis dalam model osteotomi telah diperlihatkan menyebabkan

sel endotel. Sitokin. B. 1. Terbentuk jaringan ikat fibrous dan tulang rawan (osteoid). dan invasi fibroblastdan osteoblast. Dari periosteum. Penyembuhan sekunder meliputi respon dalam periostium dan jaringan-jaringan lunak eksternal. dapat membuat kondisi mikro yang sesuai untuk : (1) Menstimulasi pembentukan periosteal osteoblastdan osifikasi intra membran pada fraktur. Proses penyembuhan fraktur ini secara garis besar dibedakan atas 5 fase. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukkan potensial elektronegatif. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cidera dan pembentukan hematoma di tempat patah tulang.penyembuhan tulang primer. tampak pertumbuhan melingkar. yakni fase hematom (inflamasi). Namun pada perkembangan selanjutnya hematom bukan hanya disebabkan oleh robekan pembuluh darah tetapi juga berperan faktor-faktor inflamasi yang menimbulkan kondisi pembengkakan lokal. Pada fase ini dimulai pada minggu ke 2 – 3 setelah terjadinya fraktur dan berakhir pada minggu ke 4 – 8. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang. Proses Penyembuhan Fraktur Sekunder. fase proliferasi. fase kalus. Waktu terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi sampai 2 – 3 minggu. membentuk jaringan untuk revaskularisasi. Berkumpulnya darah pada fase hematom awalnya diduga akibat robekan pembuluh darah lokal yang terfokus pada suatu tempat tertentu. dan (3) Menstimulasi kondrosit untuk berdiferensiasi pada kalus lunak dengan osifikasi endokondral yang mengiringinya. osifikasidan remodelling. Fibroblastdan osteoblast(berkembang dari osteosit. (2) Menstimulasi pembelahan sel dan migrasi menuju tempat fraktur. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah terjadi hipoksia dan inflamasi yang menginduksi ekpresi gen dan mempromosikan pembelahan sel dan migrasi menuju tempat fraktur untuk memulai penyembuhan. Fase proliferasi Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi. dan sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. . Remodeling haversian aktif terlihat pada sekitar minggu ke empat fiksasi. Fase Inflamasi: Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. (Kaiser 1996). Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak struktur kalus. terbentuk benangbenang fibrin dalam jendalan darah. Produksi atau pelepasan dari faktor pertumbuhan spesifik. 2.

dan tulang serat matur. Bentuk kalus dan volume dibutuhkanuntuk menghubungkan efek secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Keadaan tulang ini menjadi lebih kuat sehingga osteoklastdapat menembus jaringan debris pada daerah fraktur dan diikuti osteoblastyang akan mengisi celah di antara fragmen dengan tulang yang baru. Medullary callusterbentuk di dalam medullatulang di sekitar daerah fraktur. 4. Salah satu faktor yang paling dominan dari sekian banyak faktor pertumbuhan adalah Transforming Growth Factor-Beta 1 (TGF-B1) yang menunjukkan keterlibatannya dalam pengaturan differensiasi dari osteoblast dan produksi matriks ekstra seluler. Proses cepatnya pembentukan kalus lunak yang kemudian berlanjut sampai fase remodellingadalah masa kritis untuk keberhasilan penyembuhan fraktur. Secara klinis fragmen tulang tidak bisa lagi digerakkan. Pusat dari kalus lunak adalah kartilogenous yang kemudian bersama osteoblast akan berdiferensiasi membentuk suatu jaringan rantai osteosit. . Regulasi dari pembentukan kalus selama masa perbaikan fraktur dimediasi oleh ekspresi dari faktor-faktor pertumbuhan. Kalus eksternal berada paling luar daerah fraktur di bawah periosteum periosteal callus terbentuk di antara periosteum dan tulang yang fraktur.3. Jenis-jenis Kalus Dikenal beberapa jenis kalus sesuai dengan letak kalus tersebut berada terbentuk kalus primer sebagai akibat adanya fraktur terjadi dalam waktu 2 minggu Bridging (soft) callusterjadi bila tepi-tepi tulang yang fraktur tidak bersambung. Sebenarnya tulang rawan ini masih dibagi lagi menjadi tulang lamellardan wovenbone. Proses ini berjalan perlahan-lahan selama beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk menerima beban yang normal. Interfragmentary callusmerupakan kalus yang terbentuk dan mengisi celah fraktur di antara tulang yang fraktur. Medullary (hard) Callus akan melengkapi bridging callussecara perlahan-lahan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrous. Stadium Remodelling. Fase Pembentukan Kalus Merupakan fase lanjutan dari fase hematom dan proliferasi mulai terbentuk jaringan tulang yakni jaringan tulang kondrosit yang mulai tumbuh atau umumnya disebut sebagai jaringan tulang rawan. 5. tulang yang immature(woven bone) diubah menjadi mature (lamellar bone). Faktor lain yaitu: Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) yang berperan penting pada proses angiogenesis selama penyembuhan fraktur. Stadium Konsolidasi Dengan aktifitas osteoklastdan osteoblastyang terus menerus. hal ini menandakan adanya sel tulang serta kemampuan mengantisipasi tekanan mekanis. tulang rawan. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrous.

Rongga medullaakan terbentuk kembali dan diameter tulang kembali pada ukuran semula.Fraktur telah dihubungkan dengan selubung tulang yang kuat dengan bentuk yang berbeda dengan tulang normal. Perbandingan Metode-metode Fiksasi Ketika fiksasi plate dibandingkan dengan fiksasi intramedullary pada anjing-anjing percobaan tampak vaskularisasi yang lebih tinggi dalam osteotomi pada rod intra medullary dibandingkan plate. .Tidak ada perbedaan signifikan dalam porositas tulang pada masing-masing metode fiksasi. Pada keadaan ini tulang telah sembuh secara klinis dan radiologi. terutama pada anak-anak. Akhirnya tulang akan kembali mendekati bentuk semulanya.Akan tetapi perbedaan ini tidak nyata setelah 120 hari. Akan tetapi pada fiksasi plated memperlihatkan nilai-nilai torsional yang lebih tinggi dari pada fiksasi intramedullary pada 90 hari . Dalam waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terjadi proses pembentukan dan penyerapan tulang yang terus menerus lamellayang tebal akan terbentuk pada sisi dengan tekanan yang tinggi.

Data ini memperlihatkan bahwa tulang sembuh melalui mekanisme yang berbeda dalam tipe-tipe fiksasi yang berbeda. .Walaupun metode fiksasi plate menghambat pembentukan periosteal kalus tetapi waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian kekuatan dan kekakuannormal adalah sama untuk kedua metode.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful