You are on page 1of 8

Bab 12.

Kontroversi dalam vaksinasi

Kontroversi dalam Vaksinasi
Ismoedijanto
Tak dapat diragukan bahwa imunisasi telah membawa perubahan yang sangat dramatik di dunia kedokteran. Suatu program kesehatan yang paling efektif dan efisien dalam menurunkan angka kematian dan angka kesakitan. Namun demikian, ternyata masih banyak kontroversi yang berasal dari faktor program imunisasi, vaksin atau resipien yang menerima imunisasi. Pada suatu saat masalah tersebut menjadi sangat intens, pada saat lain menyurut, tergantung pada adanya pemicu yang timbul di masyarakat. Masalahnya makin mencuat, karena imunisasi dilakukan pada anak yang sehat, sehingga bila terjadi reaksi betapapun kecilnya, akan memicu rasa tidak aman pada orang tua. Cara pemberian imunisasi sebenarnya menirukan kejadian sakit karena suatu infeksi secara alamiah, sehingga menimbulkan “infeksi ringan” yang tidak berbahaya, namun cukup menyiapkan respon imun dan kekebalan. Dengan demikian apabila ada paparan penyakit yang sesunggunya anak tidak menjadi sakit. Pada perjalanan sejarah imunisasi, keseimbangan antara imunitas dan reaktogenitas ini sering berubahubah, tergantung pada vaksin ataupun interaksi yang terjadi antara vaksin dan resipiennya. Perubahan keseimbangan ini dapat memicu kontroversi imunisasi, terutama bila skala besaran program menjadi sangat besar, misalnya imunisasi global. Demikian pula dikatakan bahwa sejak semula imunisasi dengan vaksin adalah suatu upaya epidemiologik, bukan hanya upaya klinik atau upaya imunobiologik. Imunisasi harus dipandang sebagai tindakan epidemiologik dan dinilai keberhasilannya dengan parameter epidemiologik, yaitu berapa banyak penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Masalah epidemiologik yang berbeda pada setiap benua bahkan setiap negara, mengakibatkan perbedaan kebutuhan akan imunisasi. Beban penyakit di suatu negara tertentu merupakan acuan utama pada saat kita merencanakan dan memutuskan upaya imunisasi. Selanjutnya berkembang praktek imunisasi yang menekankan pada perlindungan individu, selaras dengan konsep penghargaan pada individu di negara Barat. Kenyataan bahwa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi masih berada di sekitar kita, mengancam kematian dan kecacatan, merupakan alasan menempatkan imunisasi sebagai ujung tombak kesehatan anak. Setiap anak harus mendapat manfaat imunisasi,

1

yang kemudian muncul kembali pada permulaan tahun 2000an. sehingga sulit mencari tandingannya. Untuk beberapa waktu keberhasilan imunisasi mencegah kejadian penyakit dan bahkan mampu menghilangkan penyakit cacar dari bumi. penerima vaksin. Meskipun minimal. Kontroversi dalam vaksinasi sampai ada bukti ilmiah yang menghentikannya. sampai perang Boer dengan demam tifoid. Demikian pula penentang imunisasi cacar di Inggris yang sampai dibawa ke parlemen. Bahkan Katz. yaitu sejak masa Pasteur mengenalkan imunisasi rabies dan anthrax. yang dapat disebbkan oleh beberapa faktor antara lain faktor program imunisasi. Masalah yang kemudian muncul adalah siapa yang berminat untuk membiayai penelitian yang membuktikan adanya efek samping setelah 20-40 tahun pemberian? Kontroversi 2 . Kelemahan ini baru terungkap setelah vaksin digunakan dalam jumlah besar dan waktu yang lama. sejalan dengan berkembangnya teknologi biakan pada sel hidup. Beberapa kontroversi telah timbul dalam masalah vaksinasi. Kembali keseimbangan akan imunitas dan reaktogenitas merupakan pertimbangan yang harus dikaji. bahkan perseteruan juga terjadi saat imunisasi telah menjadi program global. yaitu dengan masih banyaknya orang tua yang menentang program imunisasi melalui media masa. Faktor-faktor yang mempengaruhi program imunisasi Perbedaan pendapat seringkali terjadi di antara para ilmuwan dengan para penentu kebijakan di masa yang lampau dan bahkan sampai saat ini. menyebutnya sebagai the best science can give.Bab 12. melebihi pertimbangan lain seperti pertimbangan keuntungan dan sebagainya. masih ada kelemahan dari metodea imunisasi ini. dan faktor pemicu. 1999. Setelah Perang Dunia II vaksin berkembang sangat pesat. yang semula dianggap tidak etis. Vaksinologi telah menyerap begitu banyak teknologi kedokteran yang terbaik. telah menenangkan para penentang imunisasi. Kasus autisme misalnya berawal dari publikasi dalam majalah Lancet dari Inggris. Dari sejarah kita ketahui adanya pertentangan program imunisasi di masyarakat. Faktor Vaksin Vaksin adalah bahan yang dapat merangsang kekebalan dan dibuat dengan menggunakan teknologi kedokteran yang paling maju. vaksin.

Bahan dalam vaksin. Efikasi vaksin harus lebih besar dari reaktogenisitas vaksin. dan sebagainya. OPV. Formaldehid sisa tidak boleh lebih dari 0. namun perlu informasi ambang kadarnya yang berbahaya. campak. vaksin digolongkan menjadi beberapa jenis (vaksin mati hidup. karena atenuasi atau proses pelemahan yang kurang kuat akan menye-babkan penyakit atau menyimpangnya respon imun penerima. pewarna dan bahan yang ikut dalam proses pembuatan vaksin. Outcome atau komplikasi yang terjadi pada penyakit campak di negara berkembang adalah kejadian pneumonia 1 kasus dari tiap 25 kasus klinik dan ensefalitis 1 kasus setiap 2000 kasus atau 500 kasus setiap 1. antibeku. Waktu paruh tubuh adalah 50 hari. Meskipun bahan ini dalam vaksin selama imunisasi sampai usia 6 bulan (150 mcg) masih lebih rendah dari batas minimal yang direkomendasi kan oleh WHO. Vaksin hidup paling banyak menuai tuduhan. neomisin dan streptomisin untuk mencegah tumbuhnya kuman dalam biakan sel. Paparan merkuri secara menahun bersifat neurotoksik dan nefrotoksik.000. Bahan ini bermanfaat untuk penyimpanan vaksin dosis multipel. dalam tubuh dimetabolisasi menjadi etilmerkuri dan thiosalisilat. dinyatakan pada perbandingan besaran outcome dan besaran reaksi imunisasi. bahan. Bahan-bahan ini dianggap beracun. dan kecenderungan genetik. Efikasi vaksin. gelatin dan glutamat pada vaksin cacar air. Kontroversi dalam vaksinasi berasal dari jenis.004% w/v (Australia Therapeutic Good Administration ). bahan antibeku etilen glikol.000 kasus. Reaksi samping yang terjadi pada suntikan campak • • 3 . Bahan vaksin terutama bahan pengawet. vaksin polisakarida. bahan ini akan dihilangkan dengan risiko harga vaksin akan per dosis meningkat. Bahan merkuri merupakan bahan yang paling digunjingkan merusak otak.Bab 12. Bahan yang ada dalam vaksin lainnya adalah sisa formaldehide. Bahan makanan dan minuman yang dikomsumsi sehari-hari mungkin juga mengandung bahan ini. • Jenis vaksin. tergantung pada kondisi lingkungannya. sehingga biaya imunisasi dapat ditekan. vaksin rekombinan) semuanya dibuat dengan cara yang berbeda dan memberikan “kelemahan” yang berbeda pula. efikasi.6% Hg dari beratnya. BCG dan hepatitis B dosis tunggal dan DTaP dosis tunggal. seperti kasus keracunan merkuri di Minimata. Vaksin yang bebas merkuri adalah MMR.02% w/v (British Pharmacopeia) atau 0. Tiomersal mengandung 49.

Banyak keadaan yang mempengaruhi kinerja vaksin dan terutama berakibat pada rendahnya keberhasilan menggugah respon imun. pembesaran kelenjar pada 5 kasus setiap 100 dosis. anak dengan malnutrisi berat.000 kasus diantara 3. Komplikasi pada rubela yang paling berat adalah adanya sindrom rubela kongenital pada 9 kasus diantara 10 kehamilan bila serangan terjadi pada 10 minggu pertama. kemungkinan terjadinya nyeri sendi. Kontroversi dalam vaksinasi adalah bengkak tempat suntikan. Kecenderungan genetik yang menyimpang pada anak. Data tersebut menunjukkan manfaat lebih besar dari risiko imunisasi Kecenderungan genetik.000 dosis. Hal ini karena penapisan (screening) anak dengan indikasi kontra masih belum dijalankan secara rutin.Bab 12.000. nyeri sendi pada 1 diantara 2 kasus yang sudah remaja.000 kasus. sementara pada imunisasi kemungkinanan ensefalitis terjadi pada 1 kasus diantara 3. 4 . karena metode pemeriksaan yang sederhana dan akurat belum ada. semakin banyak pula populasi yang tercakup dalam imunisasi yang mempunyai kecenderungan genetik. sementara bengkak. pasien HIV. Anak yang mendapat kortikosteroid. demam 1 diantara 10 suntikan. inflamasi otak pada 1 diantara 6000 kasus. Imunisasi polio oral pada anak dengan defisiensi imun akan mengakibatkan pengeluaran virus polio vaksin lebih lama dibanding dengan anak normal. Semakin tinggi cakupan imunisasi. ruam pada 1 anak diantara 100 suntikan dan kemungkinan ensefalitis 1 diantara 1. merupakan contoh anak berisiko.000. Pada sisi lain juga terdapat respon imun yang menyimpang sebagai akibat kecenderungan genetik yang dimiliki bayi. demam mungkin terjadi pada 1 kasus setiap 10 dosis. menurunkan angka cakupan dan akan menaikkan risiko wabah kembali. Reaksi samping atau akibat dari imun respon yang menyimpang ini sering ditimpakan pada kualitas atau kuantitas antigen dalam vaksin atau bahan lain yang ada dalam vaksin. seringkali tidak dapat diselesaikan dengan tuntas. Peningkatan kasus KIPI akan menyebabkan peningkatan sikap anti imunisasi. • Faktor penerima vaksin Resipien yang sedang sakit berat atau yang pertahanan tubuhnya tidak normal besar kemungkinannya akan jadi sakit atau menjadi karier sehat apabila divaksinasi.000.000 dosis. Pada penyakit gondongan komplikasi mungkin terjadi kasus ensefalitis 1 kasus tiap 200 kasus atau 15.

perlu pengamatan lebih lanjut. autoimun. antara lain. • Inflammatory bowel disease (IBD) akibat infeksi persisten bisa terjadi secara alamiah. • Tidak memberikan dukungan hubungan suntikan MMR dengan kejadian regresi. tetapi paradigma imunologi atau biomolekular dan belum memberikan bukti yang sahih. • Pengamatan juga tidak mendapatkan dukungan hubungan temporal antara awitan ASD dan pemberian suntikan MMR. Hubungan yang diyakini ada baru sebatas gagasan hipotetik yang perlu bukti lebih lanjut. seperti adanya kelainan kromosom 7. Banyak bagian dari jigsaw puzzle yang belum terisi. • Juga tidak jelas adanya hubungan biologik yang sahih antara suntikan MMR dan kejadian ASD. Beberapa masalah vaksinasi yang perlu pembahanasan adalah autisme. hipotesis mekanisme imunologik. pada anak dengan kelainan genetik. Kontroversi dalam vaksinasi Faktor pemicu Seringkali suatu masalah menjadi hangat kembali setelah ada pemicu yang hadir. Kebanyakan hipotesis yang diajukan tidak menggunakan paradigma epidemiologik. belum dapat dirangkai menjadi kesimpulan yang sahih. tidak jelas hubungan patogenetik yang berbasis bukti antara suntikan MMR dan kejadian ASD. Berapa proporsi anak yang mempunyai infeksi virus campak yang persisten setelah imunisasi dan berapa proporsi anak yang dengan IBD menjadi autis. Jenis bahan apa saja yang lolos lewat usus dan menyebabkan gangguan perilaku. biologik. opioid excess. • Penelitian epidemiologik menunjukkan tidak jelas ada hubungan antara suntikan MMR dengan autisme. dan virus campak dalam usus. Bukti hasil penelitian baru sepotong-potong yang belum utuh. 5 . belum dapat ditentukan. • Adanya genome virus campak belum disertai bukti bahwa virus itu berasal dari vaksin campak monovalen atau MMR atau virus campak liar. • Penelitian dan pengamatan epidemiologik tidak dapat menyo-kong adanya hubungan sebab-akibat antara ASD (autistic syndrome disorder) dan MMR. Berapa jumlah bahan yang akan menyebabkan kelainan perilaku belum mendapat kesepakatan yang jelas.Bab 12. Banyak hipotesis yang diajukan. Wakefield dan Montgomerry telah mengajukan laporan penelitian yang menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan kejadian autisme pada anak.

Reaksi pasca imunisasi terutama mengarah pada hipersensitivitas. neuritis brakialis). 6 . SSPE. DTP. pneumokokus. dari reaksi anafilaksis.Bab 12. • Autoimun. sehingga terjadi penurunan produksi insulin. rubella) dan IDDM ( insuline dependent diabetic mellitus). MMR. juga terjadi proses autoimun yang menyerang sel pankreas. Kini banyak diajukan hipotesis hubungan antara IDDM dengan vaksin hepatitis B. Selain virus yang menyerang pankreas. Kelainan neurologik yang diduga akibat vaksin terbagi menjadi demyelinating disease (ADEM dan GBS) dan yang non demyelinating disease (ensefalopati. reaksi antibodi dengan antigen jaringan. neuropathy. Semula terdapat bukti bahwa ada hubungan sebab akibat antara infeksi virus ( gondong. dari tipe 1-4. Tertera beberapa tips yang bisa membantu para sejawat mencari jalan keluar kontroversi ini. reaksi Arthus dan delayed type hypersensitivity. Hib. • Diabetes. Kontroversi dalam vaksinasi Beberapa hipotesis yang dikemukakan. Menggugah respon imun yang berlebihan akan menyebab kan beberapa bagian dari komponen imunologik menyerang bagian dari tubuh sendiri. • Reaksi imunologik. yaitu • Reaksi neurologik. Saran dan anjuran Masalah yang dikemukakan di atas telah memicu beberapa perdebatan dan perbedaan pendapat antara pada pakar yang makin membingungkan orangtua.

Howe CJ. Penjelasan harus dilakukan secara proaktif. Menunjukkan empati dan perhatian yang besar. Kontroversi dalam vaksinasi • Penjelasan yang jujur. 2. diberikan kepada setiap orang tua bayi yang akan diimunisasi dengan vaksin tertentu. Shetty P. sehingga keraguan dan kemungkinan ikut hanyut secara emosional pada kelompok penentang imunisasi dapat dibatasi. sebaiknya imunisasi ditunda dulu sampai orang tua yakin akan tindakan yang kita lakukan pada bayinya. Sebaliknya mendengar kan akan membawa hasil yang lebih baik. Immunization 7 . Membekali diri dengan pengetahuan yang cukup perihal pokokpokok dasar imunisasi. Selain membangun komunikasi yang baik antara dokter dan orang tua. McCormick. Kepercayaan pada dokter akan memperkuat penerimaan orangtua pada imunisasi.Bab 12. Stratton KR. Stratton KR. Penjelasan yang jujur dan benar kepada orang tua sangat diperlukan untuk mengimbangi segala informasi penentang imunisasi yang seolah-olah berdasar alasan yang kuat dan disertai dengan riset yang mendalam. orang tua harus diyakinkan bahwa dokter juga sangat memperhatikan dan membantu orang tua dalam upaya membesarkan anak. Bilamana orangtua menunjukkan penolakan atau keraguan. Menghadapi orangtua yang kecewa atau marah dengan kegeraman atas tidak rasionalnya pikiran yang digunakan tidak bermanfaat. Institute of Medicine.Adverse events associated with childhood vaccines: evidence bearing on casuality.. Menghindari pertempuran emosi. • • • Daftar pustaka 1. Immunization Safety review : MeaslesMumps-Rubella Vaccine and Autism . penyunting. National Academy Press: Washington DC. Johnston RB. kesempatan ini akan memancing mereka. Pertempuran emosi akan mengurangi kemampuan analitis dan rasional. Vaccine Safety Committee. Penjelasan mencakup manfaat imunisasi dan kemungkinan adanya reaksi samping. penyunting. Membekali dengan pengetahuan. M. sehingga mampu atau tidak malu-malu menanyakan perihal imunisasi. Termasuk diantaranya pengetahuan tentang sifat tiap vaksin yang kita gunakan.. Membeberkan kelemahan alasan anti-imunisasi saja tidak cukup. Gable A. 1994. meskipun orangtua tidak menanyakannya secara aktif.

Suspicion about the safety of vaccine. HVIID A. 3th ed. mumps. Chen RT. 5. Measles. Hibbs B. Ileal-lymphoid nodular hyperplasia non-specific colitis. 1999. NSW Australia.116 :796-803 7. Black. Kyae JA. A. 3. Peltola H. Wakefield. A.19:1-19 8. Adverse Drug React : 2000. Mumps. Leinikki M dkk. Mumps.15:1-16 . and rubella vaccine: no epidemiological evidence for a causal association. Kane M. darkly. schendel D. 9.351:905-6. A population based study of measles. 2000. Vaccine recommendation challenges and controversies. Challenges and Controversies in immunization safety. Mulholland EK. Clements. and Rubella vaccination and auitism N Engl J Med. B. 10. National Academy Press. Cave S dan Mitchell D : Apa yang orang tua harus tahu tentang vaksinasi pada anak.J. Morris DL. Kramarz P. National Center for immunization Reseach & surveilance of Vaccine. Montgomery SM. Wakefield. Gastroenterology 1999. Vestergaar M. Jakarta. Patja A. 6.353:2026-9. 2001. 11. Wakefield AJ. Institute of Medicine. Taylor. Lancet. 351:1327-8.325:419-21.19:1474-6. Washington DC.C. PT Gramedia Pustaka Utama. et al. Lancet 1998. MacIntyre CR dan Gidding H : Myths and realities : responding to arguments against immunization. 2003. mumps and rubella vaccine-associated inflammatory bowel disease or autism in a 14-year prospective study'. 13.351:637-41. inflammatory bowel diseases and MMR vaccine. Lancet 1998. dkk. rubella vaccine: through a glass. 14. Montgomery SM. N Engl J Med 347. De Stefano F. 8 . A guide to providers. The Lancet 1998. Relation of childhood gastrointestinal disorder to autism: nested case control study using data from the UK general practice Research Database BMJ 2002.Bab 12. (1998) 'No evidence for measles. and pervasive developmental disorder in children. Poiunder RE. 12. Campion EW 2002. Autism and measles.J. Paramyxovirus infection in childhood and subsequent imfalmmatory bowel disease. dkk. Infec Dis Clin of N Am 2001. Melgaard B. Kontroversi dalam vaksinasi Safety Review Committee. Olive JM Autism. Jick H. Lee JW. Madsen KM. 4. Mootrey G.347:1477-82.