You are on page 1of 2

Hills Criteria Causation menguraikan kondisi minimal yang diperlukan untuk membangun hubungan sebab akibat antara dua

faktor. Kriteria tersebut awalnya disampaikan oleh Austin Bradford Hill (1897-1991), seorang ahli statistik medis Inggris, yaitu :

1.

Hubungan Temporal (Temporal Relationship)

Paparan selalu mendahului hasilnya. Jika faktor "A" adalah diyakini menyebabkan penyakit, maka jelas bahwa faktor "A" tentu harus selalu mendahului terjadinya penyakit. Kriteria ini meniadakan validitas dari semua penjelasan fungsional yang digunakan dalam ilmu sosial.

2.

Kekhususan (Specifity)

Ketika ditemukan kekhususan antara dua faktor yang berhubungan, maka akan menyediakan dukungan tambahan untuk hubungan sebab akibat. Namun, tidak adanya kekhususan sama sekali tidak meniadakan hubungan kausal. Karena hasil (apakah itu penyebaran penyakit, kejadian perilaku sosial tertentu manusia atau perubahan suhu global) yang cenderung memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi mereka, sangat mungkin bahwa kita akan menemukan satu per satu penyebab pengaruh hubungan antara dua fenomena. Hubungan sebab akibat itu sangat banyak. Oleh karena itu, perlu untuk menguji hubungan sebab akibat tertentu dalam cara pandang sistematik yang lebih besar.

3.

Hubungan Dosis-Respon (Dose-Respon Relationship)

Peningkatan jumlah paparan meningkatkan risiko. Jika hubungan dosis-respon muncul, maka akan menjadi bukti kuat untuk menjadi hubungan sebab akibat. Contoh: hubungan antara pertumbuhan penduduk dan intensifikasi pertanian. Jika pertumbuhan penduduk merupakan penyebab intensifikasi pertanian, maka peningkatan jumlah penduduk dalam suatu daerah tertentu harus menghasilkan peningkatan yang sepadan dalam jumlah energi dan sumber daya yang diinvestasikan dalam produksi pertanian. Sebaliknya, bila penurunan populasi terjadi, kita harus melihat pengurangan sepadan dalam investasi energi dan sumber daya per hektar.

4.

Ketetapan (Consistency)

Asosiasi (hubungan) ini menjadi konsisten (tetap) ketika hasilnya direplikasi dalam studi di setting yang berbeda dan menggunakan metode yang berbeda. Artinya, jika sebuah hubungan menjadi sebab akibat, maka kita akan mengharapkan untuk menemukannya secara konsisten (tetap) dalam studi yang berbeda dan dalam populasi yang berbeda. Inilah sebabnya mengapa percobaan harus banyak dilakukan terlebih dahulu, sebelum laporan yang berarti dibuat tentang hubungan sebab akibat antara dua faktor. Sebagai contoh, diperlukan ribuan penelitian yang sangat teknis dari hubungan antara merokok dan kanker sebelum kesimpulan yang pasti bisa dibuat bahwa merokok meningkatkan risiko (tetapi tidak menyebabkan) kanker.

6. 7. Kesesuaian (Coherence) Hubungan ini harus sesuai dengan teori dan pengetahuan yang ada. Semakin kuat asosiasi. Sebagai contoh. Dengan kata lain. Kekuatan (Strenght) Hal ini didefinisikan oleh ukuran dasar yang diukur dengan tes statistik yang sesuai. 9. saling berhubungan dan dibutuhkan dasar-dasar teoritikal dari masing-masing faktor tersebut. Masuk Akal (Plausability) Hubungan antara dua faktor harus dapat dipahami. . semakin tinggi hubungan hipertensi dengan diet sodium. 8. semakin kuat hubungan antara sodium dan hipertensi. Eksperimen (Experiment) Kondisi ini dapat diubah (dicegah atau diperbaiki) oleh eksperimental yang sesuai dengan faktorfaktor yang berhubungan. perlu untuk mengevaluasi pernyataan-pernyataan hubungan sebab akibat yang secara langsung dalam suatu bidang tertentu dan dalam bidang terkait. semakin besar kemungkinan bahwa hubungan dari "A" ke "B" adalah kausal. Sebagai contoh adanya perluasan wilayah di suatu populasi dan insiden adanya perang suku akan cocok dengan teori ekologi konflik yang berhubungan dengan pengusaan wilayah dan sumber daya alam. Pertimbangan Untuk Mencari Penjelasan Alternatif (Consideration of Alternates Explanation) Selalu perlu untuk mempertimbangkan beberapa hipotesis sebelum membuat kesimpulan tentang hubungan sebab akibat antara dua item dalam penyelidikan.5.