Anomali Laring Kongenital

Sidrah M. Ahmad, BS, Ahmed M.S. Soliman, MD Otolaryngol Clin N Am40 (2007) 177–191 Anomali laring kongenital relatif jarang dijumpai. Namun, fenomena tersebut dapat terjadi dan bisa mengakibatkan ancaman jiwa karena masalah respirasi yang ditimbulkannya terutama pada periode awal kelahiran. Masalah terkait dengan fonasi (pembentukan suara) dan refleks menelan dapat menghambat perkembangan bayi. Stridor merupakan tanda yang paling umum pada obstruksi laring1. Sumber obstruksi dapat diperkirakan berdasarkan karakteristik stridor yang muncul. Obstruksi supraglotis atau glotis biasanya mengakibatkan stridor inspirasi. Stridor bifasik menandakan sebuah penyempitan antara glotis dan trakhea ekstratoraks. Aliran udara yang turbulen (tidak teratur) di bagian distal trakhea atau bronkus utama dapat menimbulkan stridor ekspirasi. Embriologi Sebagian besar pemahaman tentang perkembangan embriologi laring, berasal dari hasil tulisan Tucker dan koleganya2, Zaw-Tun3 serta Hollinger dan koleganya4. Berdasarkan sistem stadium Carnegie, perkembangan laring dibagi kedalam 2 periode5,6. Periode embrio terdiri atas 8 minggu pertama perkembangan intrauterus. Laring pertama kali tampak sekitar hari ke 25-28 kehamilan sebagai suatu penebalan epitel sepanjang bagian ventral dari foregut, disebut sebagai primordium respirasi. Seiring dengan perkembangan primordium respirasi, divertikulum respirasi, sebuat kantung luar dari luman foregut tumbuh ke dalamnya. Divertikulum respirasi berkembang pada area yang disebut ‘lantai primitif faring’ setinggi letak glotis orang dewasa. Lantai faring dan lantai faring primitif dipisahkan oleh laringofaring primitif yang berkembang menjadi supraglotis orang dewasa. Seiring dengan berjalannya waktu, divertikulum respirasi meluas ke arah inferior dan dipisahkan dari jantung dan hati yang sedang berkembang oleh septum transversal, dan dipisahkan dengan esofagus oleh septum trakheoesofagus. Septum trakheoesofagus tumbuh dari arah kaudal ke kranial. Jika pertumbuhan ke arah kranial terhambat, maka akan terbentuk celah trakheoesofagus atau fistula trakheoesofagus. Perkembangan abnormal dari divertikulum respirasi sendiri, dapat menyebabkan agenesis trakhea, stenosis trakhea atau cincin trakhea komplit. 1

Menjelang akhir kehamilan. kartilago cricoid berubah dari pertumbuhan interstisiil menjadi perikondrium. yang berkembang menjadi nodul interaritenoid dan glotis posterior. proses pembentukan vokal berasal dari aritenoid. Stenosis laring Jenis-Jenis Anomali Laring 1. Lamina epitel kemudian mengalami rekanalisasi sehingga sekum laring dan duktus faringogotis akan bersatu. Kelainan tersebut menghasilkan 2 . Kegagalan rekanalisasi akan menyebabkan stenosis laring atau laryngeal web (Gambar 1). dan kartilago epiglotis yang matur berubah menjadi sebuah struktur fibrokartilago7. Laringomalasia Laringomalasia merupakan penyebab utama stridor pada bayi dan bertanggungjawab atas 60%-75% anomali laring kongenital (Gambar 2)8-11. Laringomalasia pertama kali dijelaskan oleh Jackson dan Jackson pada tahun 1942 sebagai suatu kelainan dimana jaringan supragotis kolaps ke dalam glotis saat inspirasi12. Gambar 1. Duktus faringoglotis terletak di sebelah dorsal dari lamina epitel. Periode fetus berakhir dalam 32 minggu. Selama periode fetus.Obliterasi dari lumen ventral dari laringofaring primitif akan digantikan oleh munculnya lamina epitel. Sekum laring terletak di sebelah anterior dari lamina epitel yang akan menjadi vestibulum laring. sel goblet dan kelenjar submukosa berkembang.

13. pemisahan lipatan aryepiglotis atau epiglotipeksi9-11. Laringomalasia tipe 1 diterapi dengan melakukan supraglotiplasti. Dalam kasus tersebut.16. Supraglotiplasti endoskopi dengan microdebrider laring akan menghasilkan tekanan negatif yang berhubungan dengan inspirasi yang disimulasikan oleh suction. Pemisahan lipatan aryepiglotis dapat dilakukan dengan memakai gunting mikrolaring atau dengan laser karbondioksida. 3 . dimana epiglotis dilekatkan pada basis lidah. Supraglotiplasti memakai laser karbondioksida menghasilkan eksisi yang teliti dari jaringan sisa dengan perdarahan yang minimal 11. Laringomalasia tipe 3 dapat diterapi secara efektif dengan metode epiglotipleksi. atau laringomalasia yang justru menyebabkan penyakit refluks gastroesofagus dengan menginduksi tekanan negatif intrapleura yang tinggi dan oleh karenanya mencegah sfingter esofagus bawah berfungsi dengan baik. Penyakit refluks gastroesofagus diduga berhubungan dengan laringomalasia8. tipe 2. Diklasifikasikan ke dalam tipe 1.14. Dalam kasus laringomalasia yang berat. mukosa supraglotis prolaps. tipe 3 menunjukkan adanya pergeseran ke arah posterior dari epiglotis. hipertensi pulmonal atau kegagalan untuk berkembang. laringomalasia tipe 2 ditandai dengan pemendekan lipatan aryepiglotis. Prosedur tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan bedah mikro.13.stridor inspirasi bernada tinggi selama 2 minggu pertama kehidupan ekstrauterus dan secara spontan sembuh menjelang usia 12-24 bulan8-11. Tidak jelas apakah penyakit refluks gastroesofagus yang menyebabkan laringomalasia dengan menginduksi edema difus laring. intervensi bedah dianjurkan.18. Tidak semua kasus dapat diklasifikasikan dengan mudah ke dalam kategori tunggal. Pada laringomalasia tipe 1. kombinasi dari pilihan terapi bedah dapat dipertimbangkan.10. Biasanya dilakukan eksisi pada tepi lipatan aryepiglotis. laser karbondioksida atau microdebrider laring10-11. dimana sisa mukosa epiglotis. oleh karena itu. termasuk supraglotiplasti. lipatan aryepiglotis atau mukosa aritenoid dieksisi8. sehingga mengoreksi pergeseran posterior dari epiglotis11. oleh karena itu dokter bedah akan memiliki lapang pandang yang lebih baik dan dapat melakukan eksisi jaringan sisa dengan tepat6. seorang anak akan menderita akibat kejadian apneu. namun Loke dan koleganya17 menunjukkan bahwa insisi sederhana dengan memisahkan lipatan aryepiglotis sudah cukup untuk mengatasi obstruksi jalan nafas. Laringomalasia tipe 2 diterapi dengan insisi pada lipatan aryepiglotis untuk menghasilkan ekspansi jalan nafas11. tipe 3 berdasarkan pola kekolapsan supraglotis8-10.15. Laringomalasia didiagnosa dengan memakai endoskopi yang dilengkai fiber optik fleksibel8.

Dalam kedua kasus terseut. hidrocephalus. cerebral plasy dan Arnold-Chiari malformation(ACM). enchephalocele. spina bifida. Gangguan sistem saraf pusat yang berhubungan dengan imobilitas plika vokalis biasanya akibat adanya disgenesis batang otak atau serebri. lebih jarang. Gambar 2. leukodistrofi. akan lebih baik jika terapi pasien laringomalasia yang menderita akibat penyakit refluks gastroesofagus didasarkan pada ukuran antirefluks.19.20. sedangkan tipe yang lain biasanya disertai dengan sedikit toleransi pada jalan nafas. kesulitan minum. Beberapa neonatus dengan imobilitas plika vokalis bilateral membutuhkan intubasi saat lahir karena distress pernafasan berat.20. namun kelainan dapat merupakan akibat trauma lahir. meningomyelocele. Gangguan sistem saraf pusat dan tepi dapat mengakibatkan imobilitas plika vokalis unilateral atau bilateral15. Gangguan sistem saraf tepi yang berkaitan dengan imobilitas plika vokalis biaanya akibat adanya myasthenia gravis. Laringomalasia kombinasi 2. dan aspirasi8. yang bertanggungjawab atas 10%-20% dari semua anomali laring kongenital8. anomali sistem saraf pusat atau tepi dan anomali kardiovaskular20. biasanya dengan gejala stridor bifasik dan tangisan yang tertahan20. Imobilitas plika vokalis bilateral. Imobilitas plika vokalis unilateral biasanya terjadi dengan gejala tangisan yang lemah dan berisik. Kebanyakan kasus imobilitas plika vokalis bersifat idiopatik.20. Imobilitas plika vokalis kongenital Kelainan laring kongenital paling umum ke-2 yaitu gangguan pergerakan plika vokalis. ACM biasanya akan menyebabkan imobilitas plika vokalis bilateral20. fascioscapulohumeral 4 .

Efek medialisasi laringoplasti pada perkembangan laring belum diketahui20+. terapi bersifat onservatif. Manaligod dan kolega22 mengidentifikasi kromosom 6q16 sebagai lokus yang bertanggungjawab atas imobilitas plika vokalis bilateral herediter. Injeksi medialisasi pada plika vokalis yang paralisis dengan memakai spons gelatin absorbable (Gelfoam) atau kolagen juga efektif dalam mengurangi aspirasi pada anak usia lebih tua medialisasi 1. Untuk kasus tersebut. arcus aorta ganda. USG maupun MRI untuk menegakkan patologi pada batang otak.20. Tetralogy of Fallot.20. kardiomegali. Endoskopi penting untuk mengevaluasi jalan nafas dan pergerakan plika vokalis15.23. Anomali kardiovaskular yang berhubungan dengan imobilitas plika vokalis yaitu ventrikular septal defek. Imobilitas plika vokalis bilateral herediter. meskipun penyembuhan yang berhasil didokumentasikan yaitu 11 tahun kemudian dari kehidupan awal 1. Dalam kebanyakan kaus. maka penyebab utamanya harus diterapi terlebih dulu15.24. trakheotomi mungkin dibutuhkan hingga penyembuhan spontan dari pergerakan plika vokalis terjadi8. dan paten duktus arteriosus15.23 . Tes tambahan termasuk video esofagografi dengan kontras untuk menilai fungsi menelan. Pada tahun 1978. 5 .20. Mace dan kolega21 mengusulkan pewarisan gen autosom dominan dalam beberapa kasus imobilitas plika vokalis bilateral.23 .20. medialisasi plika vokalis parese dapat memperburuk jalan nafas. Namun belum ada kasus genetik yang berhasil diidentifikasiuntuk kasus imobilitas plika vokalis unilateral20.24. Ortner syndrome.20. Kombinasi laringoskopi fleksibel dengan bronkhoskopi kaku dibawah pengaruh anestesi telah diusulkan15. Pada kasus dengan toleransi jalan nafas yang signifikan.20.20. Tiroplasti tipe I memberikan alternatif disamping injeksi . dan elektromiografi laring untuk membantu membedakan antara fiksasi plika vokalis dengan paralisis plika vokalis15. Pada pasien dengan imobilitas plika vokalis unilateral dan resiko terjadi aspirasi.20. imobilitas plika vokalis kongenital idiopatik sembuh secara spontan dalam 6-12 bulan pertama kehidupan.25. maka dapat dipasang nasogastric tube atau gastrotomi untuk memastikan intake nutrisi yang cukup19. Bayi dengan kerusakan pergerakan plika vokalis bilateral sebaiknya menjalani foto kranial baik dengan CT-scan. telah berhasil diidentifikasi20. Sedangkan pemeriksaan fisik yang teliti pada leher dan foto thoraks diperlukan untuk menegakkan patologi di daerah mediastinum. Pada bayi dan anak-anak. Pada evaluasi yang lengkap. Banyak kontrovesi mengenai penggunaan prosedur tersebut pada pediatrik. dan spinal muskular atrofi. Pada pasien yang mengalami imobilitas plika vokalis akibat sekunder gangguan medis lain. Pada tahun 2001. vascular rings.myopati. arytenoid sebaiknya dipalpasi untuk menentukan mobilitas dari sendi cricoaryteoid20.20 1.23.

Hal tersebut dapat menjadi pilihan pada anak-anak dengan toleransi jalan nafas yang signifikan dan dengan kemungkinan kecil kembalinya fungsi plika vokalis yang cukup. Kista yang melekat pada laring dan terdiri dari elemen endodermal diklasifikasikan sebagai tipe 1 dan dapat dieksisi dengan endoskopi secara komplit. Friedman dan kolega26 telah menunjukkan penggunaan laser akrbondioksida untuk melakukan kordektomi parsial transver posterior dimana bagian plika vokalis posterior diangkat setelah mengeluarkan ligamentum vokalis dan muskulus vokalis dari kartilago arytenoid. Pada tahun 1997. DeSanto dan koleganya30 mengelompokkan kista laring ke dalam bentuk sakular. dan disfagia27-29. penulis memakai sistem klasifikasi DeSanto.Pada pasien dengan imobilitas plika vokalis bilateral. serak. sebagaimana terlihat dalam duplikasi laringotrakheal atau divertikulum. Dalam jurnal ini. Kista subkelompok 2a berasal secara embriologis dari elemen endodermis. Akhir-akhir ini. sedangakan kista subkelompok 2b berasal baik dari elemen endodermal dan mesodermal. duktal atau kista foramina kartilago tiroid. klasifikasi berdasarkan pada luasnya kista dan asal dari jaringan embriologis.26. Kista laring Kista laring muncul dengan derajat obstruksi jalan nafas yang bervariasi. kista laring diklasifikasikan ke dalam kelompok kongenital. 3. retensi atau inklusi. Dalam sistem tersebut. pilihan terapi meliputi lateralisasi plik vokalis.8. Forte dan koleganya28 mengusulkan sebuah sistem klasifikasi baru untuk kista laring kongenital sebagai usaha dalam menuntun terapi yang berdasarkan klasifikasi. 6 . Kista tipe 2 dikelompokkan lagi kedalam subkelompok 2a dan 2b. Laser karbondioksida telah digunakan dengan sukses untuk prosedur tersebut pada populasi orang dewasa selama bertahuntahun. arytenoidektomi melalui pendekatan endoskopi atau eksternal serta ekspansi kartilago cricoid melalui pemisahan cricoid antreior dengan penempatan graft1. Arens dan kolega31 menciptakan sebuah sistem klasifikasi baru dimana lokasi dari kista dan histomorfologinya dipertimbangkan. Dalam sistem klasifikasi tersebut. kordektomi parsial. Kista dengan perluasan ekstralaring diklasifikasikan sebagai tipe 2 dan untuk eksisi komplitnya memerlukan pendekatan dengan bedah terbuka.

Namun. Marsupialisasi merupakan pilihan terapi untuk kista sakular yang berukuran kecil. Kista sakular berasal dari obstruksi orificium/lubang daru sakula laring di dalam ventrikulus. Kista sakular Sakula merupakan kantung membranosa yang terletak diantara plika ventrikularis dan permukaan dalam kartilago tiroid32.25. yang mengakibatkan retensi mukus pada sakula (Gambar 3)28. pada kasus kista kambuhan atau yang berukuran besar. endoskopi merupakan gold standard untuk penegakan diagnosis23.33. namun drainase kista hanya merupakan terapi sementara23. yang muncul dari belakang plika aryepiglotis pada kista lateral. endoskopi atau eksisi bedah terbuka dibutuhkan untuk mengangkat jaringan secara komplit5. Gambar 3. Kista sakular 7 . pada kista yang letaknya anterior8.33. Aspirasi jarum mungkin bermanfaat untuk mendiagnosa lesi. Permukaan membran mukosa sakulayang normal tertutup. Kompresi sakula oleh muskulus di sekitarnya akan menghasilkan sekresi mukus untuk melubrikasi permukaan plika vokalis. Evaluasi endoskopi mengungkap adanya lesi kistik yang mengandung cairan mukoid tebal. Meskipun kista sakula dapat diidentifikasi dengan radiografi.a. atau dari ventrikulus dan masuk ke dalam lumen laring. dengan bagian terbuka yang bermuara ke dalam 60 atau 70 glandula pada mukosa.

29. namun sering menyebabkan kekambuhan. limfangioma atau hemangioma1. kista duktus tyroglosus juga bisa muncul di daerah valekula dan mengakibatkan obstruksi jalan nafas1. Gambar 4. Kista tersebut dilapisi epitel pseudostratifikasi bersilia atau epitel skuamous. episode sianosis dan kegagalan pertumbuhan.) muncul dengan keluhan stridor dalam beberapa minggu pertama kehidupan1. Scan tyroid radionukleotida mungkin dapat membantu untuk melokalisasi fungsi jaringan tyroid. Aspirasi kista bermanfaat dalam mengamankan jalan nafas. Diantara banyak teori mengenai patogenesis kista valekular. Kista valekular c. Stromanya 8 . Gejala yang lain meliputi batuk. Kista duktus tyroglosus Meskipun kista ini didapatkan umumnya di daerah leher. teratoma. Sekresi mukosa dari kelenjar di sekeliling kista menyebabkan ukuran kista bertambah besar. Kista valekular Kebanyakan neonatus dengan kista valekular (Gambar 4. kondisi yang paling mungkin yaitu akibat obstruksi kelenjar mukosa yang terletak di dasar lidah29. endoskopi penting untuk mendiagnosis secara akurat kista valekular dan menyingkirkan lesi valekular lain seperti kista dermoid.29. Terapi definitif dari kista valekular meliputi eksisi endoskopi atau marsupialisasi1.b. Evaluasi endoskopi mengungkap sebuah masa lokal yang halus dalam ruang valekular. kesulitan makan. tyroid lingual. Namun. CT scan dapat bermanfaat untuk menunjukkan lokasi dan perluasan kista29.

dilatasi jalan nafas di bagian distal dari segmen yang mengalami obstruksi. biasanya akibat kegagalan laring dan trakhea mengalamai rekanalisasi selama embriogenesis5. Jika terdapat komponen eksternal. Evaluasi endoskopi penting untuk menyingkirkan lesi laring lainnya. yaitu pembesaran paru hiperekogenik.34. Sakulus yang beridilatasi dapat membesar dan meluas ke dalam leher lewat membrana tyroid. Laryngocele Laryngocele merupakan akibat dilatasi abnormal sakulus laring223.37. laryngocele berhubungan dengan lumen laring23. 4. Trakheotomi darurat diperlukan segera setelah lahir untuk mengamankan jalan nafas. Atresia Laring Atresia laring merupakan kondisi yang jarang dijumpai. Kista duktus dapat Kista yang berasal dari obstruksi kelenjar submukosa-mukosal disebut dengan istilah kista duktus1. pendataran diafragma.28. terapinya dengan melakukan marsupialisasi atau eksisi lesi secara komplit. Laryngocele dipenuhi oleh udara sehingga sakulus membesar ke arah lumen laryng mengakibatkan obstruksi jalan nafas dan tangisan yang lemah. paru-paru yang dipenuhi air. Diagnosis pre natal dari CHAOS memungkinkan penggunaan prosedur ex utero intrapartum treatment (EXIT) untuk mengevaluasi dan mengamankan jalan nafas saat lahir36. seperti kista duplikasi laring. choristoma. e. Foto radiografi dapat mengungkapkan sebuah kantong berisi udara pada plika aryepiglotis atau di leher bagian luar. Pada prosedur tersebut. pendekatan dengan bedah terbuka diperlukan untuk mengangkat lesi secara komplit35.34. USG Doppler bermanfaat untuk melokalisasi derajat obstruksi dengan mendeteksi hilangnya aliran udara pada trakhea selama pernafasan fetus. Tidak seperti kista sakular.mengandung kelenjar mukosa dan folikel tyroid. hidrops fetalis dan polihidramnion3638 . Atresia laring dapat didiagnosa selama masa pre natal berdasarkan USG. Atresia laring dan stenosis a. Identifikasi folikel tyroid membantu membedakan antara kista duktus tyroglosus dari kista valekular. Gejala yang timbul khas saat lahir yaitu distress pernafasan berat.35. dan teratoma yang memiliki penampakan mirip27. hamartoma. plasenta dipertahankan setelah kelahiran sampai jalan 9 .29.35. Marsupialisasi endoskopi cukup untuk mengontrol sebagian besar laryngocele23. d. Seperti jenis kista yang lain. dengan mengidentifikasi tanda kongenital yang disebut dengan high airway obstruction syndrome (CHAOS).

telinga letak-rendah5. Anak-anak dengan sindrom Down memiliki kemungkinan yang besar untuk mengalami penyempitan saluran nafas kongenital5. rekonstruksi laringotrakheal dilakukan pada tahap usia selanjutnya5. Pada neonatus dengan kelainan fistel trakheoesofagus. Sering kali. atresia esofagus. kartilago cricoidea berbentuk elips. Gejala-gejala yang muncul bervariasi dari dispnea ringan sampai obstruksi jalan nafas yang berat5. Pada umumnya. b. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa bayi baru lahir dengan usia kehamilan cukup diakatakan mengalami penyempitan lumen jika diameter lumen laring < 4 mm dan pada bayi prematur 3 mm5. Stenosis subglotis kongenital Seseorang didiagnosis stenosis subglotis kongenital jika terdapat penyempitan lumen laring pada regio cricoidea.5 mm 1. 8 . Pada kasus-kasus yang ringan. ginjal tapalkuda. diameter transversal sebanding dengan diameter anteroposterior1. 23 . Umumnya. beberapa ahli berpendapat stenosis subglotis adalah jika diameter lumen laring pada bayi baru lahir < 3. Gejala yang khas pada anak-anak adalah adanya batuk yang disertai sesak nafas yang bersifat berulang atau persisten. Stenosis kartilaginosa terbagi menjadi tiga tipe. Hal ini menyebabkan terjadinya hipoplasi kelenjar submukosa dengan jaringan ikat fibrosa yang berlebihan. defek ekstremitas kaki. Menurut Holinger. yaitu tipe membranosa dan tipe kartilaginosa5. Stridor yang muncul cenderung bersifat bifasik atau dapat juga stridor inspiratoir. tetapi biasanya bila dilakukan anestesi dengan intubasi mengalami kesulitan. Normalnya. Stenosis membranosa paling sering terjadi dan bersifat paling ringan. dan pada anamnesis tidak didapatkan riwayat intubasi atau trauma pasca pembedahan. Stenosis subglotis kongenital dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe.nafas berhasil diamankan. encephalocele. stenosis subglotis kongenital adalah malformasi kartilago cricoidea39. yaitu bentuk kartilago cricoidea abnormal dengan sekat-sekat pada sisi lateral. manifestasi gejala hanya muncul saat terdapat infeksi saluran pernafasan. 6.37. yaitu saat terdapat edema dan sekret yang kental pada jalan nafas. anak-anak ini tidak menunjukkan gejala. dimana diameter transversal lebih kecil dibanding diameter anteriposterior40. bentuk elips.6. dapat dilakukan pengamanan jalan nafas sementara menggunakan intubasi esofagus. Akan tetapi. Anomali yang terkait diantaranya yaitu fistel trakheoesofagus. Pada stenosis subglotis. atau bentuk kartilago cricoidea normal tetapi diameter yang lebih kecil dari ukuran normal. abnormalitas traktus urinarius. diagnosis stenosis subglotis kongenital dapat ditegakkan pada beberapa bulan awal kehidupan. 10 .

50. kartilaginosa1. yaitu dua cincin trakea yang pertama dan kaudal kartilago tiroid pada garis tengah. 5. Angka kejadiannya sebesar 1. 51 . Untuk beberapa kasus yang berat. kartilago aurikula. Kurang dari 50% anak-anak membutuhkan trakeostomi dan sebagian besar dapat membaik dengan tindakan dekanulisasi saluran pernafasan5. Kesuksesan teknik ini pada bayi dengan stenosis subglotis berkisar atara 58%-100% dengan komplikasi minimal. tetapi berpotensi fatal47. teknik ACS merupakan suatu alternatif trakeostomi42. termasuk peningkatan risiko terjadinya infeksi. 47. 5. Gejala yang muncul mungkin mirip dengan stenosis subglotis. stenosis derajat I memerlukan observasi dan pendekatan yang tepat1. Pilihan tindakan pembedahan lainnya seperti dekompresi laringotrakeal anterior atau rekonstruksi. Pada sebagian besar kasus. Perbandingan wanita dan pria 2:1 41. 48. Pada tahun 1991. Stenosis subglotis kongenital tidak lagi terlalu dipermasalahkan ketika laring mengalami perkembangan. dan adanya retardasi perkembangan bicara dan bahasa1. Foto servikal anterior-posterior dapat menunjukkan . Teknik ini melibatkan kartilago cricoidea. Oleh karena itu. yaitu batuk 11 . Endotracheal tube yang menunjukkan kebocoran tekanan <30 cmH20. pemasangan endotracheal tube. intervensi pembedahan mungkin dibutuhkan 1. Hemangioma subglotis kongenital jarang ditemukan. Foto polos kurang bermanfaat untuk menilai subglotis8. 43 5. memberikan hasil yang lebih efektif.5% dari berbagai abnormalitas laring kongenital. 23. tulang hioid. adanya hambatan dalam dekanulisasi. dianggap sebagai ukuran endotracheal tube seseorang. Tindakan ini dianjurkan untuk mencegah komplikasi trakeostomi. 8. 41 . dan kartilago alar tiroid. Hemangioma Subglotis Hemangioma merupakan lesi vaskuler kongenital yang berkembang secara cepat pada bulan-bulan pertama kelahiran2. penyempitan pada subglotis8. Ukurannya stabil antara usia 12 dan18 bulan. Menurut Cotton dan Seid. gejala-gejala yang muncul dapat hilang dalam beberapa tahun5. 5. Penentuan ini menggunakan endotracheal tube yang dipasang secara berurutan. 23. Sejak saat itu. 8. Ukuran endotracheal tube dan umur dibandingkan dengan suatu ketetapan sistem yang nantinya akan menunjukkan derajat stenosis. Hemangioma pada usia ≥ 5 tahun menjadi suatu penyakit yang rumit. Tindakan pembedahan dilatasi dan laser endoskopi tidak efektif. digunakan untuk memperluas subglotis yang mengalami penyempitan44-46.Derajat stenosis subglotis ditentukan oleh sistem Myer-Cotton1. Richardson dkk. 25 23 . terutama pada stenosis mendemonstrasikan bahwa penggunaa graft kartilago tulang iga bersama dengan ACS.

berulang dan stridor bifasik8. 52. 12 . tindakan trakeostomi dapat dihindari dengan tujuan mencegah komplikasi yang dapat terjadi52. yang dikelilingi oleh jaringan ikat atau retikuler.. Dahulu hanya dilakukan observasi dan beberapa pendekatan dengan atau tanpa trakeostomi49. 52. Kira-kira pada 50% bayi terdapat hemangioma kutaneus8. disfagia. Dengan kemajuan terapi untuk mengurangi ukuran lesi. dimana lokasi tersering pada subglogis posterolateral47. Endoskopi rigid dapat menunjukkan gambaran merah sampai biru. Foto polos leher mungkin menunjukkan penyempitan subglotis yang asimetris52. sianosis. kompresibel. hoarseness. pemeriksaan fisik. 50. dan kegagalan pertumbuhan8. Gejala-gejala lainnya meliputi barking cough. dan khususnya gambaran endoskopi. ablasi dengan laser41. Trakeostomi bertujuan mengamankan jalan nafas sampai hemangioma mengalami regresi. 37 . Gambar 5. 50. hemangioma berisiko mudah berdarah. Secara histologi. Hemangioma Subglotis Adanya kemungkinan terjadinya hemagioma dinilai berdasarkan riwayat penyakit. terapi interferon alfa-2A. Endoskopi yang fleksibel dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis dan menyingkirkan abnormalitas laring lainnya. lesi yang bersifat melekat. pembedahan reseksi. penggunaan kortikosteroid sistemik atau intralesi. Terdapat banyak pilihan terapi hemangioma subglotis. 53. skleroterapi. cryoterapi. 4. hemoptisis. Secara mikroskopis. Pilihan terapi lainnya meliputi radioterapi. hemangioma tersusun atas pembuluh darah kapiler vena yang kecil dan berdinding tipis yang dilapisi oleh selapis selsel endotel yang pipih atau yang membengkak.

Saat ini. 51. Kemajuan pada laringotrakeoplasti dapat dilakukan pada operasi reseksi sebagai prosedur tunggak dengan masa waktu intubasi endotrakeal yang singkat atau sebagai prosedur yang dilanjutkan dengan tindakan dekanulisasi setelah subglotis pulih sempurna8. terapi ini tidak digunakan lagi sejak akhir tahun 1970-an47. Terapi ini efektif untuk lesi yang berukuran kecil57. memerlukan terapi berulang kali47. Evans dan Todd59 melakukan operasi eksisi hemangioma yang dilanjutkan dengan laringotrakeoplasti. 53 57 . ulserasi. Terapi ini menunjukkan hasil yang baik tetapi karena berisiko membahayakan mukosa saluran pernafasan. Pada tahun 1974.Radioterapi. Radioterapi pertama kali diperkenalkan oleh New dan Clark tahun 199154. Cryoterapi pertama kali digunakan oleh Scechter dan Biller pada tahun 1972. 48. 47 . Beberapa pasien membutuhkan trakeotomi dan tindakan stenting post operasi. imunodefisisensi. terapi ini direkomendasikan untuk lesi-lesi tertentu yang mengancam jalan nafas. Injeksi steroid intralesi memililiki respon terapi sama seperti kortikosteroid sistemik tanpa efek samping. 13 . kerusakan saraf. Pada tahun 1994. terapi ini idak digunakan lagi karena berisiko terjadinya diplegia spastik47. Operasi reseksi pertama kali dilakukan oleh Sharp pada tahun 194958. Akan tetapi terapi jangka panjang dapat menyebabkan sindrom Cushing. Akan tetapi. Penggunaan kortikosteroid sistemik terbukti efektif pada 25% kasus57. Pada terapi ini harus dilakukan penurunan dosis secara per tahap untuk mencegah terjadinya rebound growth47. dan kelemahan kardiovaskuler48. 50. tetapi . hipertensi. dan hemangioma yang meluas sampai ekstra laring41. 53. dan retardasi pertumbuhan41. Tingkat kerusakan jaringan dengan terapi ini tidak dapat diprediksi dan dapat menyebabkan stenosis subglotis47. 56 melaporkan pengobatan hemangioma subglotis yang berhasil pada delapan pasien menggunakan interferon alfa-2A. hemangioma yang menyebabkan obstruksi saat fase proliferasi. dengan respon yang hanya bersifat sementara. 57 Penurunan laju proliferasi. Ohlms dkk. 57. perubahan warna dapat terjadi dalam beberapa hari atau beberapa . Skleroterapi dinilai tidak efektif sebagai pengobatan dan dapat menimbulkan komplikasi seperti hemoglobinuria. Saat ini. hemangioma subglotis bilateral. termasuk hemangioma yang berukuran besar. cryoterapi. . dan skleroterai sudah tidak digunakan lagi karena efek sampingnya41. penelitian terfokus untuk meningkatkan agen-agen skleroterapi dan menemukan metode pengobatan yang lebih efektif dengan efek samping minimal. minggu47. penurunan konsistensi tumor. Oleh karena itu terapi ini tidak menjadi pilihan terapi lagi.

Penggunaan laser potassium-titanyl-phosphate (KTP) juga menunjukkan hasil terapi 50 yang bermanfaat47. laser ini dapat ditransmisikan melalui fiberskopi . Laser KTP melakukan penetrasi ke jaringan secara signifikan dan dapat menyebabkan perubahan suhu yang membahayakan kartilago cricoidea dan trakea47. 50 . 51 51 . mulai dari dekanulisasi lebih awal dan tingkat komplikasi yang rendah sampai efektivitas terapi yang minimal dengan tingkat komplikasi yang tinggi47. Tidak seperti laser CO2. Terapi ini menunjukkan hasil yang bervariasi. 14 . 43. . 47. Mendemonstrasikan efektivitas penggunaan ablasi laser CO2 dengan satu atau dua aplikasi pada 11 pasien.Tindakan ablasi laser CO2 pertama kali dilakukan oleh Simpson dkk pada tahun 197960. Pada tahun 1980. 50. yang fleksibel50. Madgy dkk. Healy dkk. Laser KTP dengan panjang gelombang 532 nm diserap oleh hemoglobin. Komplikasi yang dimaksud termasuk adanya jaringan parut dan stenosis subglotis yang signifikan 41.39 melaporkan bahwa satu dari enam pasien yang diterapi ablasi dengan laser KTP mengalami stenosis subgloti derajat I.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful