Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto

1

KAIDAH DASAR MORAL DAN TEORI ETIKA DALAM MEMBINGKAI TANGGUNGJAWAB PROFESI KEDOKTERAN
Agus Purwadianto Pendahuluan Etika merupakan bagian filsafat yang meliputi hidup baik, menjadi orang yang baik, berbuat baik dan menginginkan hal baik dalam hidup.1 Etika, sebagaimana metoda filsafat, mengandung permusyawaratan dan argumen eksplisit untuk membenarkan tindakan tertentu (etika praktis). Juga membahas asas-asas yang mengatur karakter manusia ideal atau kode etik profesi tertentu (etika normatif).2 Etika adalah pedoman berbuat sesuatu dengan alasan tertentu. Alasan tersebut sesuai dengan nilai tertentu dan pembenarannya. Etika penting karena masyarakat selalu berubah, sehingga kita harus dapat memilih dan menyadari kemajemukan (norma) yang ada (filsafat praksiologik). Jadi etika juga adalah alasan untuk memilih nilai yang benar ditengah belantara norma (filsafat moral). 3 Perbedaan etika dengan moralitas, bahwa moralitas adalah pandangan tentang kebaikan/kebenaran dalam masyarakat. Suatu hukum dasar dari masyarakat yang paling hakiki dan amat kuat. 4 Juga suatu perbuatan benar atas dasar suatu prinsip (maxim). Ia merujuk pada perilaku yang sesuai dengan "kebiasaan atau perjanjian rakyat yang telah diterima", sesuai nilai dan pandangan hidup sejak masa kanak-kanak, tanpa permusyawaratan.5 Ciri khusus moralitas : 1. Norma sangat penting (prinsipiil, kekuatannya "lebih bernilai" mengatasi segala pertimbangan). Esensiil bagi kebahagiaan masyarakat. Esensiil bagi tradisi budaya.
Makalah Penyegaran Etika Kedokteran, FKUI dalam rangka Modul EPC II, Jakarta, 18 Februari 2003. Penulis adalah Ketua PDFI Pusat, Sekretaris MKEK Pusat IDI, Ketua Bagian

1 2

Robert C. Solomon. Etika, Suatu Pengantar. Erlangga. Jakarta, 1984. hal 2 Webster's New Dictionary of Synonyms. Springfield, MA : Merriam-Webster, 1984, p. 547. 3 Bandingkan batasan etika (Ki Hajar Dewantoro, 1962) : “ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan perbuatan”. 4 Robert C. Solomon, loc.cit. hal 7. 5 Webster's New Dictionary, loc.cit.

Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003

8 Termasuk disini adalah didebat dan didukung sehingga terjadi pengurangan. Etika merupakan pemikiran atau refleksi atas moralitas. Ia dimunculkan oleh para filsuf dan berlaku universal karena tak memandang masyarakat tertentu saja. penentu hirarki nilai yang tepat dan terpertanggungjawabkan. Tatabahasa perintahnya universal. “Do unto others as you would have them do unto you ” atau "Apa yang menyakitkan bagi kamu. Norma yang ada pada agama samawi. 1989. 4. Buddha. Isi etika juga merupakan pengecualian yang baik terhadap prinsip-prinsip yang baik. Dalam etika isinya adalah alasan yang deskriptif ("is") bercampur preskriptif ("ought"). Memberi perhatian pada orang lain (altruisme). Kejawen. perhatian berdasar maksud baik terhadap orang lain dan tindakan penghasil kebaikan orang lain. Juga merupakan penentuan pemenang nilai-nilai yang saling bersaing. Veatch. kasih/simpati. kapan saja. Disini belum ada "kewajiban". 3. bukan buruk atau zalim. Normal rasional (ada alasan masuk akal) dan obyektif (kebenarannya melingkupi seluruh masyarakat). ia tidak etis. Menyangkut (kebahagiaan) orang lain (misal : Golden Rule 7). Terjadi. Sekjen Jaringan Bioetika & Humaniora Kedokteran Indonesia. merupakan kebijakan akhir. penambahn atau repetisi. Robert M. 6 7 Misalnya jangan membunuh. prinsipnya benar. tidak memihak. 2. sesuai perintah Allah (etika teonom). Norma yang ada pada "kepercayaan" dan atau "agama kuno" seperti Hindu. Contoh moralitas : a. Ia adalah refleksi 8 filosofis yang sesungguhnya. norma agama non-samawi. hal. Kong Hu Cu. maka semua orang mempunyai moralitas. dapat dibenarkan. Itu sama dengan etis. Orang harus berbuat baik dan adil. oleh pelaku otonom. Dasarnya adalah penalaran. harus terjadi dan dapat diaplikasikan secara universal. ia tidak bermoral.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 2 Ilmu Kedokteran Forensik & Medikolegal FKUI/RSCM. Karena tanpa permusyawaratan. siapa saja”). selanjutnya disingkat ME. Medical Ethics. Isinya antara lain ajaran agar manusia menjadi bijaksana atau mengerti (etika kebijaksanaan). Hukum universal (berlaku prinsip "dimana saja. harapan timbal balik. Dengan demikian tidak semua orang beretika. 34. Jones & Bartlett Publ. Bila meracuni pasiennya. Disini sudah ada unsur kewajiban (menuruti perintah tersebut). Dokter melanggar janji datang tepat waktu. Hukum Talmud orang Ibrani. jangan lakukan terhadap sesamamu". Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 .6 Mengikat (ada katakata : "harus"). Boston. b.

baik fungsi positif atau negatif.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 3 Bioetika. Abel) adalah studi interdisipliner tentang problem yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran.  Moral : mengharuskan manusia melakukan/merujuk sesuatu tindakan konkrit pada suatu norma konkrit. Norma = prinsip dasar :  Proposisi (“dalil”) pemindah nilai ke tingkat kehidupan konkrit. Etika kebijaksanaan : a. kini dan masa mendatang. b. 2. Bioetika (F. Bioetika merupakan pandangan lebih luas dari etika kedokteran karena begitu saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungan hidup. Dasar Keadilan : contoh John Rawls b. termasuk dampaknya terhadap masyarakat luas serta sistem nilainya.  Ungkapan teknis pengalaman etis manusia  Generalisasi relevan tentang apa yang secara normal relevan. Ditinjau dari segi metodologisnya : 1. Bioetika merupakan ”genus”. pada skala mikro maupun makro. Ditinjau dari segi inti : 1. misal : kesehatan. Dasar agama : moralitas agama samawi (etika teonom) b. keadilan yakni kesediaan menghargai hak orang lain. sedangkan etika kedokteran merupakan ”spesies”. Nilai :  Pra-moral : tidak/belum merujuk pada suatu norma konkrit perilaku manusia. Dasar agama/kepercayaan : moralitas agama non-samawi. Unsur etika 1. Dasar Komunikasional : contoh Juergen Habermas Ditinjau dari segi subyek pelaksananya : Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . Dasar filsafat : Immanuel Kant (etika otonom). integritas fisik. kehidupan. 2. Pembagian teori etika. Etika Substantif Dasarnya etika kebijaksanaan atau etika kewajiban. Etika Prosedural : a. Etika kewajiban : a. 2. Dasar filsafat : etika kebahagian (Yunani). seksualitas. misal : kesetiaan yakni utk menepati janji.

2. 99. hal 84. A. New York. 4. Teori hidup baik (bermakna) Teori ini mendasari nilai-nilai kenapa manusia berbuat sesuatu yang dipandang etis. Frans von Magnis. Winslade. Jakarta. Misalnya etika kebijaksanaan. 2. Bisa dilihat konteksnya. hal.J. Rela menyatukan diri dengan (hukum) alam sebagai sunatullah (Stoa). (2002). Kejawen) atau Cinta kepada Tuhan (Agustinus)12 Kebahagiaan (eudemonia – bagian dari egoisme etis)13 Kebajikan/keutamaan (virtue) Aristoteles14 Hindari perasaan sakit (Epikurus). sementara manusia tidak. M. 3. ibid. sufisme Islam.. sikap dasar hati nurani ketika bersikap-tindak-perilaku-konkrit). Etika maksim (prinsip subyektif bertindak. 11 Bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau mencapai jumlah nikmat terbesar atau sedapat-dapatnya menghindari segala macam rasa sakit.R. tidak semata-mata mencari nikmat karena itu juga terjadi pada hewan. Hidup baik dapat menurut pasien (masuk dalam “patients preferences” dan “quality of life” 9) namun dalam hal ini ditujukan pada diri dokter sebagai mahluk otentik yang eksis dalam dirinya di tengah perubahan cepat masyarakat dan ilmu-pengetahuanteknologi kedokteran di dunia (relevan mendasari “contextual features”)10. hal. Mencapai rasa nikmat (hedonisme egois – bagian dari egoisme etis)11 Cinta menyatu ke Illahi (Plato. 15 Mengikuti hokum alam seperti hewan/tumbuh2an. 5. EU. 1984 (selanjutnya disingkat EU).moralitas. 10 Jonsen dkk. dapat memperlihatkan watak seseorang dan dapat membedakan antara legalitas dan moralitas. sehingga semua perintah Tuhan tidak perlu diuji lagi kemasuk-akalannya. A Practical Approach to Ethical Decisions in Clinical Medicine. Etika Umum.15 Lihat sistematika pembahasan etik klinik menurut Jonsen dkk. 6. Etika norma-norma Dasarnya ialah peraturan-peraturan (hukum) sehingga tak bisa membedakan legalitas . Teori teonom murni ini kadang-kadang menimbulkan irasionalisme. dengan menekan semua tindakan biadab yang khas manusia.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 4 1. 9 Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . Kanisius. 82 12 Hanya Allah Swt yang bebas berkehendak. keterarahan pada maksim tertentu yang merangkai dalam satu jalinan makna (seperti tanggungjawab). Clinical Ethics. Siegler. 14 Tekad untuk mengembangakn semua bakat manusia mencapai kesempurnaan dengan condong berbuat baik. 13 Setiap tindakan ditujukan utnuk mencapai kebahagiaan sebagai tujuan primer pada diri tujuan itu sendiri (bukan sekunder mencapai tujuan lain). Lihat Jonsen. EU. Hidup baik atau bermakna bila terdapat : 1. McGrawHill. W.

kasih sayang. hal 260. 263 – 265. Childress. hal. kewajiban atau tugas untuk menyebarkan kebaikan. menghormati pasien. Dokter berlaku profesional. meningkatkan minat yg benar dari seseorang. Kelemahannya ialah egoisme etis (subyektif). EU.5% 19 Bermoral bila tindakan baik ditujukan pada pihak khusus “yang kita kenal” : pasien. seperti anak. peduli pada kesejahteraan pasien. PBE. anak-anak. Oxford University Press. Kodrat manusia sama sekali tidak terimbas keduniawian karena tujuan akhir manusia adalah berada di sisi Tuhan. Utilitarianisme memperluas beneficence menjadi : boleh pandang bulu (impartial obedience) asal bermanfaat atau boleh menghukum bila seseorang melanggar aturan. Harus dibedakan dengan benevolence (character trait or virtue of being dispose to act …). Tom L. hal. Oxford. Principles of Biomedical Ethics. but being (Erich Fromm). asal seimbang dengan keuntungan (konteks mahluk social). 21 Istilah beneficence lainya : bermurah hati. merupakan etika normative. gangguan jiwa. Kebebasan/otonomi subyek sebagai sumber moralitas (Kant) 10. Not having. PBE hal. Beauchamp & James F. 263. Misal memilihkan keputusan terbaik pada pasien yang tidak otonom ( kurang mampu memutuskan bagi dirinya). dedikatif memperthankan kompetensi pengetahuan dan ketrampilan teknisnya. temanteman. Mengikuti hukum kodrat (cinta kepada Tuhan plus keutamaan Aquinas)16 8. khususnya secara psikologis. Beda dengan utility : boleh ada kerugian. bersikap jujur dan luhur pribadi (integrity). Hal ini menimbulkan kewajiban “mutlak” profesi. Contoh : zakat 2. o menyelamatkan orang dari bahaya. • Mengutamakan kepentingan pasien20 • Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah sakit/pihak lain21 16 Mencapai kodrat yakni mengembang-sempurnakan semua kemampuan manusia sekaligus bahagia dan memenuhi kehendak Tuhan. dan mencegah atau mengatasi keburukan. Dasar utama dari altruisme (pengorbanan diri demi melindungi. Beneficence > luas daripada non-maleficence karena mencakup prevensi penyebab kerugian dan penghilangan kondisi perugi pasien. Pandangan dunia/lebenswelt (Habermas) Kaidah dasar Moral : 1.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 5 7. • Specific beneficence19 : o menolong orang cacat. 9. 1994 (selanjutnya disingkat PBE). gawat). menyelamatkan pasien) dan “roh” profesionalisme (“janji” atau wajib menyejahterakan pasien dan membuat diri terpercaya. Jadi tindakan positif. Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . 17 “Refers an action done for the benefits of others. Positive beneficence mempersyaratkan indicator tunggal : keuntungan pasien (mahluk individu). o menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain. 20 Setiap tindakan ditujukan demi memajukan kepentingan penting dan sah pasien. 100 – 101. 18 Berbuat baik kepada siapapun – termasuk “yang tidak kita kenal” (impartially). Tindakan berbuat baik (beneficence)17 • General beneficence18 : o melindungi & mempertahankan hak yang lain o mencegah terjadi kerugian pada yang lain.

Mencegah perlakuan buruk pada orang lain. euthanasia. hal 102 – 103. isinya larangan. • Norma tunggal.Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal). Banyak berguna untuk penelitian teknik/obat baru. Tidak melakukan malpraktek etik baik sengaja ataupun tidak. PBE. seperti dokter tak mempertahakan kemampuan ekspertisnya atau menganggap pasien sebagai komoditi. memberikan dasar alasan “perilaku melarang” tertentu.Dokter tidak boleh inkompeten dalam ketrampilan teknis medis dan komunikasi.28 3. hal. hal. jangan menahan (membuat inkapasitas). seperti : • Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien26 • Minimalisasi akibat buruk27 • Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal : . dll. jangan menghalangi nikmat untuk hidupnya. atau pengobatan luar biasa (tidak menawarkan harapan layak dari nikmat/keuntungan) yakni pengobatan yang tak bias diperoleh atau digunakan tanpa pengeluaran amat banyak. hal. nyeri berlebihan. bunuh diri dibantu dokter. dipatuhi secara imparsial (tanpa pandang bulu). 26 Kewajiban nonmaleficence : “One ought not to inflict evil or harm”. pada kasus anak-anak. selain prevent evil/harm dan remove evil/harm. EU. sengaja malpraktek etis. Terhadap pasien : jangan membunuh.Tindakan nomaleficence antara lain menghentikan pengobatan yang sia-sia/. EU. 28 Misalnya 10 perintah Tuhan yang sebenarnya sifatnya larangan berbuat jahat/membuat derita orang lain seperti “Jangan membunuh”. 194. 108. Lihat kriteria proporsionalitas atau asas ganda. 27 Tidak menambah kerentanan pasien dalam hal dependensi.(misal akalnya belum/tidak berfungsi baik. Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . jompo. orang gawat/tidak sadar. yang dengan ‘ada”nya saja patut dihormati dengan sikap baik. Tidak merugikan atau nonmaleficence /primum non nocere25 • Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien. PBE. Juga membiarkan mati (letting die). minimnya inisiatif. jangan menyebabkan nyeri atau menderita. Apapun situasinya (dalam etika situasi ketika menghadapi kasus individual konkrit yang sering tidak menjamin keberlakuan etika umum-abstrak yang memakai kaidah deontologi peraturan).Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut . dll). PBE. diupayakan memunculkan akibat baik. atau ketidaknyamanan lainnya. hal 192. Sejalan dengan kewajiban beneficence : “one ought to do or promote good”. Dasar hubungan dokter-pasien sebagai fiduciary relationship akibat keterbatasan diri pasien.Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif . hilangnya persistensi dan turunnya kapasitas mentalnya. pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya” (apalagi ada yg hidup). apapun bentuknya (hal ini pada akhirnya dikenal sebagai utilitarianisme). 23 Prinsip utilitarian.Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting . jangan mengawali menyerang. 24 Pasien sebagaimana flora dan fauna serta benda (alam keseluruhan non manusia) merupakan suatu being (ada).Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 6 • • Maksimalisasi akibat baik22 (termasuk jumlahnya > akibat23 buruk) Menjamin nilai pokok : “apa saja yang ada.24 2. 190. Keadilan 22 Dasarnya adalah uraian William Frankena. 25 Berupa indicator tunggal : menghilangkan derita dengan aturan : larangan untuk berbuat sesuatu.

Distributif (membagi sumber) : kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama 35.29 Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness)30 yakni : a. Ian Kerriidge.105. Contoh : triage dalam kegawatan. 31 Keadilan = tidak menuntut semua orang sama-sama bahagia. 2003. kesetaraan (equality. yang lain menjadi syaratnya).Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 7 • •  • Treat similar cases in a similar way = justice within morality. Keadilan bukan atas dasar selera (favouritism) atau diskriminasi. dengan cara rata/merata. dimana orang yang gawat karena kebutuhannya untuk diselamatkan nyawanya atau dihindarkan cacatnya. namun menciptakan syarat-syarat (situasikondisi) agar orang lain dapat bahagia. EU. 106 – 107. Ethics and Law for the Health Professions. beda dengan beneficence yang berlaku terhadap apa saja (termasuk hewan. hal. the just person is one who treats all person as equal). Ketidakadilan hanya dibenarkan bila berdasarkan beneficence atau jangka panjang secara utilitarian menghasilkan keadilan yang lebih besar. tanpa tekanan apapun. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima) 34 b. diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien). bukan mesin biologis atau suatu shell berisi penuh artificial intelligent. • Setiap orang sesuai kontribusinya • Setiap orang sesuai jasanya 29 Ketidakadilan = memperlakukan berbeda (satu baik. Berakal budi artinya otonom. EU. 33 Keadilan hanya berlaku bagi manusia sebagai mahluk berakal budi (bermartabat). Disini jelas tidak adanya penyamarataan buta. 77. toh ditolong lebih dahulu (tidak urut nomor/sesuai kaidah fairness semata-mata. accessibility to health care. Australia. 34 Kebutuhan penerima dianggap petunjuk imparsial. tumbuh-tumbuhan dan benda). hal. satu buruk) pada orang dengan situasi-kondisi yang mirip sama. 104 . berkehendak bebas secara sadar. 36 PBE. walau datangnya belakangan. 35 Mempertimbangkan cost – benefit ratio pengobatan = membagikan yang-baik dan yang-buruk = berlaku adil. Keadilan = kewajiban prima facie untuk memberi perlakuan sama terhadap orang lain. Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . Contoh : syarat penghentian alat Bantu napas/jantung untuk mencegah futility (kesia-siaan medik) 32 Manusia satu-satunya mahluk berakal budi. khususnya dengan memperhatikan kemampuan dan kebutuhan orang lain tersebut dalam mencapai harkat kebahagiaan dirinya. secara material kepada36 : • Setiap orang andil yang sama • Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya • Setiap orang sesuai upayanya. khususnya : yang-hak dan yang-baik33 Jenis keadilan : a. Menuntut pengorbanan relatif sama. Social Science Press. Michael Lowe & Hohn McPhee. Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya)31 b. sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani. karena ini menjadi penyamarataan buta). Keadilan dan beneficence merupakan dua sejoli yang saling komplementer dan saling membatasi dalam fungsinya (bila satu muncul. Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (bermartabat)32. hal 330. Aspek fairness ialah penyama-rataan. 30 John Locke menyebut the just society sebagai jaminan bahwa tak ada individu dibawahkan dan terpuruk (subordination or subjection). hal.

jelas tidak adil. PBE . pemanfaatan medik. McGraw-Hill. hal 324 Contoh : menetapkan alokasi anggaran kesehatan dengan prioritas tertentu seperti QALY (quality adjusted life-years). asal muasal kebangsaan. seleksi final pasien. • pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum. Siegler.R. A.. mekanisme impersonal kesempatan dan antri. IQ. hal. hal 327. melalui hokum perdata). factor konstituen. Lihar Robert Nozick. 336 – 337. 43 Kepustakaan lain menyebut kaidah ini lebih luas sebagai “preferences of patients” yang melihat pasien sebagai sosok manusia otentik dengan rasionalitas tertentu Lihat Jonsen. pemindahan dan pembayaran ganti rugi). kemanfaatan social dll). 340 – 341. “Kepada setiap orang sesuai dengan jenis kelaminnya ……”.38 • Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social – ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil substantif/materiil). Kepemilikan utama primer seperti jender. 41 Adalah rasional dan dipilih oleh siapapun. Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan 37 kemakmuran dan kesejahteraan bersama : • Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi social dan memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien.39 • Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas tertentu40 • Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan criteria material kebutuhan dan kesamaan). Kesamaan fair terhadap peluang sehat namun mengatasi ketidaksamaan genetis/kodrati. prospek sukses. Implikasi teori John Rawls. ras.41 d. New York. PBE. M. 39 Pokok utama adalah kebebasan memilih (individual) dan privatisasi (kepemilikan) melalui jaminan berlangsungnya prosedur adil (dalam pemerolehan. status social tak bias menjadi factor alas an pembagi. berdasarkan usia. Contoh lain : penetapan perlakuan pasien pada kelangkaan sumber-sumber (meliputi tahap-tahap standar substansi dan aturan prosedural. Otonomi (self-determination)43 Melatarbelakangi teori pendukung keadilan distributive. keturunan.J. PBE. pluralitas dan solidaritas (kebajikan kepedulian individual bersama moralitas sosial). Winslade. A Practical Approach to Ethical Decisions in Clinical Medicine. PBE .Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 8 • Setiap orang sesuai bursa pasar bebas c. (2002).42 4. Misal alokasi dana puskesmas lebih besar untuk menyehatkan masyarakat miskin/paling tertinggal supaya sama peluang sehatnya dengan masyarakat kaya = adil. bahwa adil = prinsip memaksimalkan batas (plafon) minimum nikmat primer demi menjamin kepentingan vital pada situasi yang memburuk. 42 Criminal justice (penjatuhan sanksi pidana bagi terpidana) dan rectificatory justice (pemberian kompensasi pelanggaran transaksi/kontrak. skrining awal resipien potensial. 40 Mementingkan nilai dan standar tradisional “yang-baik” masyarakat. Clinical Ethics. Hukum (umum) : • Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hak-hak kepada yang berhak. dll. 37 38 Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . W.

jangan resusitasi (do not resusitate) 47 Prinsip ini oleh Engelhardt dianggap lebih didahulukan dibandingkan sikap berbuat baik. Medical Ethics. memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan. membenarkan. implied consent pada gawat darurat. penggunaan teknologi baru. paksaan atau campurtangan pihak luar (heteronomi). bila ditanya. suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia. waiver (menyerahkan hak ke dokter). letting die. kompetensi (termasuk untuk kepentingan peradilan). negosiasi rencana terapi timbal balik.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 9 • • • • • • Pandangan Kant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak. membiarkan pasien demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat). Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . ada nilai dasar moral utama yakni : ketuhanan (tidak diakui/dieksplisitkan bagi penganut pandangan sekuler) • • • 44 45 Dasar dan sekaligus tujuan seluruh etika (bagi pandangan teologis/non-sekuler) Menempatkan EK sebagai tuntutan (postulat) kodrat. Menuju nilai kebenaran kedokteran yakni pengakuan : Ciri khusus ialah kesukarelaan. 48 Beberapa pengertian : persetujuan terhadap anjuran dokter. kekuasaan menolak intervensi. dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-bayang (foreseen effects). Pada etika teonom. yakni kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan kemampuan melaksanakannya). 46 Pembuatan testamen/wasiat : jangan coba resusitasi (DNAR). terpaut dalam diskusi dengan pasien. memilih keputusan berlawanan dengan kepentingan terbaiknya. therapeutic privilege (menahan informasi demi mencegah perburukan pasien). mempersilahkan pasien memutuskan. hormatilah hak privasi liyan. Ciri khusus ialah memahami perspektif pasien. lindungi informasi konfidensial. bantulah membuat keputusan penting. Perkecualian : dibawah pengampuan. hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi. membela.45 Menghendaki. kekuasaan memilih diantara alternatif-alternatif dan saling andil dalam pembuatan keputusan (shared decision making). Robert Veatch. Erat terkait dengan doktrin informed-consent 48.44 Pandangan J. tidak mau memutuskan. tanpa paksaan atau manipulasi. hal 37. Melanggar EK = memperkosa kodrat manusia. Penolakan informed consent pada : pasien tidak memahami informasi. mencoba mempersuasi pasien. Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu. yang mewajibkan adanya perintah Tuhan. menyetujui. mintalah consent untuk intervensi diri pasien.46 Didewa-dewakan di Anglo-American yang individualismenya tinggi47. Kaidah ikutannya ialah : Tell the truth. menolong ia bermusyawarah. mendukung.

7. A Guide for Clinicians. Antinomianisme (prinsip moral tidak tergantung pada hukum/nilai utama lainnya) Keberlakuan etika kedokteran sebagai norma : 49 50 Beauchamp & Childress (1994). 1995. Adanya keabadian jiwa Selain 4 prinsip atau kaidah dasar moral tersebut. Principles of Medical Ethics. Prima facie (prinsip harus dipatuhi. Menghormati kontrak (perjanjian) 6. Misal : mencegah penyesatan terhadap pasien 51 Selain melindungi hal-hal yang bersifat pribadi yang unik/otentik dari pasien. b. tidak bergosip. 52 Menghormati privasi pasien. 20 Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . juga lebih mengutamakan/memenangkan pasien dalam menjaga rahasianya atau ketika berkonflik akan membuka informasi dirinya kepada pihak lain. Ciri lain : menyembunyikan identitas pada presentasi kasus. membuka sebagian rahasia kepada orang yang peduli seperti anggota keluarga. Privacy (dari otonomi dan beneficence)51 4. Adanya kebebasan kehendak c. namun dapat saling bertukar sehingga dapat pula merupakan suatu kesinambungan (tidak tegar). Relatif 5.. dikenal prinsip "turunan"nya49 dengan nilai-nilai seperti : 1. sahabat/kerabat. Derivat otonomi. dll. Menghindari membunuh Derajat ketegaran kaidah dasar moral KDM dapat merupakan suatu hal tersendiri (disebut tegar). hal. Baltimore. Kesetiaan (fidelity) : keep promise 3. membiarkan informasi peka pada catatan medik. Adanya Tuhan : perintah menjalankan EK adalah “perintah Tuhan” /habbluminnallah. pers. Konfidensialitas. Ketegaran tersebut bergantung pada : 1. Absolut 3.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 10 a. dll 53 Bernard Lo. Legalisme (prinsip moral tergantung pada hukum/nilai utama lainnya) 2. Ketulusan (honesty) : tidak menyesatkan informasi kepada pasien atau pihak ketiga seperti perusahaan asuransi.52 5. membuka demi pihak ketiga. pemerintah. namun dapat bertukar sejauh ada kepentingannya seperti prinsip lain yang lebih kuat atau ada alasan kuat untuk pengecualiannya53) 4. peringatan kepada partner (kewajiban atau harus minta ijin terlebih dahulu). Berani berkata benar/kejujuran (veracity) : truth telling50 2. Resolving Ethical Dilemmas. Williams & Wilkins.

tidak mampu memecahkan dilema etis. • akibat baik tak boleh diperoleh dari sebab yang buruk/jahat (akibat buruk tak boleh menjadi sarana mencapai efek baik). • dasar : pengalaman (efektif – efisien). dokter akan merasa “lega/plong” dan terbebas dari beban apapun). suamiku perlu berkarir. Contoh : Anakku perlu sekolah. yakni : • akibat buruk tersebut tidak diinginkan (bukan maksud / tujuan yang pokok). o bila buruk : haram. Namun memerlukan sederet alasan tertentu. karena dengan sendirinya yang buruk dikehendaki secara langsung demi 54 55 (telos /Y= tujuan) Contoh : tujuan menyelamatkan nyawa ibu hamil gawat dengan melakukan terminasi kehamilan janinnya. bukan pada akibat tindakan. bolehkah melanggar EK (“pasien diobyekin”)? Jawaban : “Azas Akibat Rangkap / Prinsip Ganda” sebagai patokan yang tak boleh dilanggar. 58 Tradisi etika kewajiban Kantian. tidak luwes dalam perkembangan jaman. 2. pemicu “tujuan menghalalkan cara”. Bandingkan dengan istilah Driyarkara : “ikatan yang membebaskan” (kewajiban tadi bila dikerjakan.55 o bila akibat baik : wajib.58 • Kelemahan : pemicu fanatisme buta.57 • Dasar : kewajiban/keharusan mutlak/absolut atau “kewajiban demi kewajiban”. tidak berketegasan. 56 (deon /Y = yang diwajibkan) 57 Contoh : dokter harus menghormati manusia sejak saat pembuahan. • Kelemahan : menghilangkan dasar pembawa kepastian etis. • hendak dicapai tujuan kedokteran tertentu namun tetap dalam bingkai “mempertahankan martabat kemanusiaan” (bukan tujuan asal-asalan). Sementara mencapai “fitrah” tadi. Tidak bersyarat (kategoris) = deontologis 56 • Tidak bergantung pada tujuan tertentu • Betul tidaknya tindakan bergantung pada perbuatan/cara bertindak itu sendiri. • perbuatan itu sendiri secara intrinsik tak boleh bersifat buruk/jahat (karena berbuat buruk manapun tak pernah ditolerir). Hal ini berguna untuk etika teleologis. istriku perlu bersolek. Bersyarat (hipotetis) = teleologis54 • betul tidaknya tindakan bergantung pada akibat-akibatnya.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 11 1. Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . Doktrin Efek Ganda Efek buruk terkadang secara moral dapat diterima ketika akan memunculkan efek baik. Semua perlu duit.

Pernyataan moral adalah obyek etika yang berisi evaluasi kesesuaian norma tadi dengan norma moral. Tujuan baik tidak membenarkan cara-cara (sarana) jahat. Alasan kuat (proporsional) bahwa akibat baiknya lebih kuat/penting daripada akibat buruk (harus melewati permenungan lebih dulu) bila tak ada cara lain yang lebih tepat. hal 15. Etika Umum. Kriteria Proporsionalias Richard Mc Cormik (proporsional tak sama dengan aritmetika) : • Nilai berperanan minimal sama penting dengan nilai yang telah dikorbankan. suara hati dokter dapat berubah menjadi tanggungjawab. Melalui “jembatan” rasionalitas (kemasuk-akalan). Kanisius. EU. • Cara mencapai nilai termaksud tidak boleh merusak nilai awal di kemudian hari. • Tak ada cara yang kurang/tidak merugikan untuk mencapai efek baik dimaksud.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 12 • ke yang baik. Demikian pula ketika suara hati dokter tadi menilai perilaku 59 60 Frans Magnis Suseno. hal 22 – 24. Manfaat > mudharatnya. Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . disitu otomatis melekat tanggungjawab dari dokter tersebut. ketika suara hati dokter mempertimbangkan suatu pernyataan moral (atas dasar kenyataan obyektif yang disuarakan dalam hati/internalisasi sebagai omongan “saya” atau “orang pertama”) tertentu60 dengan memutuskan secara benar (= bertindak etis) atau keliru (= ada kemungkinan bertindak tidak etis. Pernyataan moral umumnya berisi pernyataan kewajiban. Jakarta. tergantung situasinya). Kesadaran moral dan tanggungjawab Kesadaran moral atau kesadaran akan kewajiban mutlak dan tanpa syarat adalah suara hati (insan kamil) yang muncul/tampak atau menyatakan diri secara unik/khas dokter sebagai orang per orang. Unsur kesadaran moral dokter adalah sebagai berikut 59: • Kewajiban mutlak yang membebani dokter • Pelaksanaan kewajiban mengikat setiap dokter • Kewajiban tersebut masuk akal dan layak disetujui • Mengambil keputusan melaksanakan kewajiban tadi atau tidak adalah tanggung jawab dokter tersebut • Dokter tadi sekaligus kemudian menentukan nilai dirinya sendiri Struktur kesadaran moral dokter ialah : • Kewajiban moral bersifat mutlak • Rasionalitas • Tanggungjawab subyektif dokter tersebut Dengan demikian.

Sifat EK : 1. Hukum kedokteran yang bertentangan dengan etika akan kehilangan nilai-nilai hukumnya (“cacat moral”). 15.. Bisa menaati atau masa bodoh. menyesal. • Untuk menjawab masalah yang dihadapi (bukan etika apriori). Tradisi Hippocrates yang ribuan tahun silam merupakan sumber hukum kedokteran. cocok atau tidak dengan nilai-nilai yang dianutnya (termasuk nilai umum profesi). 62 Etika sebagai hokum alam/kodrat merupakan “ puncak segitiga” tatanan hokum (Hans Kelsen). Pandangan etikolegal memberi legitimasi dokter berhak membahas hokum kedokteran kontemporer.61 Norma dalam etika kedokteran (EK) : • Merupakan norma moral yang hirarkinya lebih tinggi dari norma hukum dan norma sopan santun (pergaulan)62 • Fakta fundamental hidup bersusila : Etika mewajibkan dokter secara mutlak. yang-baik & yang-buruk tadi 61 Penilaian perilaku manusia tertentu sebagai baik-buruk masuk dalam obyek etika sebagai penilaian moral. Etika profesi (biasa): • bagian etika sosial tentang kewajiban & tanggungjawab profesi • bagian etika khusus yang mempertanyakan nilai-nilai. misal hak kebebasan untuk menyimpan rahasia pasien/rahasia jabatan (verschoningsrecht) • Hanya bisa dirumuskan berdasarkan pengetahuan & pengalaman profesi kedokteran. zelfoplegging) 4. jahat-suci.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 13 (professional conduct/misconduct) sejawat lainnya sebagai baik-buruk. umum. Jadi dokter tetap bebas. normanorma/kewajiban-kewajiban dan keutamaan-keutamaan moral • Sebagian isinya dilindungi hukum. tidak tenang. pantas-layak ditegur. karena telah berabad-abad. Etika individual (kewajiban terhadap diri sendiri = selfimposed. Etika normatif (mengacu ke deontologis. Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . EU. 3. Etika khusus (tidak sepenuhnya sama dengan etika umum) 2. Etika sosial (kewajiban terhadap manusia lain / pasien). bertanggungjawab-biadab. namun sekaligus tidak memaksa. karena merupakan sumber material hokum. hal . kewajiban ke arah norma-norma yang seringkali mendasar dan mengandung 4 sisi kewajiban = gesinnung yakni diri sendiri. dll sebagai penilaian moral tertentu. Bila melanggar : insan kamil (kesadaran moral = suara hati)nya akan menegur sehingga timbul rasa bersalah. teman sejawat dan pasien/klien & masyarakat khusus lainnya) 5.

Tanggungjawab etis yang merupakan suara hati seorang dokter akan mempertahankan perilaku etis seluruh anggota profesi agar korps dokter ke depan tetap merupakan profesi mulia dengan setiap anggotanya masing-masing memiliki kesucian hati nurani. Kesimpulan : Bioetika kedokteran merupakan salah satu etika khusus dan etika sosial dalam kedokteran yang memenuhi kaidah praksiologik (praktis) dan filsafat moral (normatif) yang berfungsi sebagai pedoman (das sollen) maupun sikap kritis reflektif (das sein). & Childress. yang bersumber pada 4 kaidah dasar moral beserta kaidah turunannya. termasuk mahasiswa kedokteran.. • Ada idealisme : tekad untuk mempertahankan cita-cita luhur/etos profesi = l’esprit de corpse pour officium nobile 7. Pemahaman awal kaidah dasar moral akan menimbulkan kesadaran moral. Ruang lingkup kesadaran etis : prihatin terhadap krisis moral akibat pengaruh teknologisasi dan komersialisasi dunia kedokteran.F (1994). yang dengan mekanisme pendidikan dalam rangka saling mengingatkan terus menerus dan mencegah penyimpangan (amar ma’ruf – nahi mungkar) antar anggota profesi pada akhirnya akan menumbuhkan tangungjawab etis sesuai dengan moralitas profesi kedokteran.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 14 dituangkan dalam kode etik (sebagai kumpulan norma atau moralitas profesi) • Isi : 2 norma pokok : • sikap bertanggungjawab atas hasil pekerjaan dan dampak praktek profesi bagi orang lain. yang dengan latihan dan paparan terhadap kasuskasus kedokteran yang sebelumnya dan berkembang di masa mendatang diharapkan akan membekali kemampuan reflektif-analitik dokter. J.L. of Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . Oxford. Oxford University Press. Kaidah dasar moral bersama dengan teori etika dan sistematika etika yang memuat nilai-nilai dasar etika merupakan landasan etika profesi luhur kedokteran. Principles Biomedical Ethics. Kepustakaan : 1. • bersikap adil dan menghormati Hak Asasi Manusia (HAM). 6. T. Etika profesi luhur/mulia : Isi : 2 norma etika profesi biasa ditambah dengan : • Bebas pamrih (kepentingan pribadi dokter < kepentingan pasien) = altruisme. Beauchamp.

M. (1995). W. Kanisius. . (1984). 6. F. Jakarta. Baltimore. von Magnis. Lo. Williams & Wilkins. Suseno. Resolving Ethical Dilemmas. Etika Umum. F.M.M (1984). (1984). Clinical Ethics. 8. Solomon. A Guide for Clinicians. New York. (1989) Medical Ethics. 4. Webster's New Dictionary of Synonyms. Robert Veatch. A Practical Approach to Ethical Decisions in Clinical Medicine. Jakarta. B.. Suatu Pengantar. Etika. MA : Merriam-Webster. (2002). 7. Mimeograf Kuliah Etika. Robert C. 3. A. Siegler.R. Boston. Springfield. Jonsen. Winslade. Erlangga. 2000. 5. Bahan ajar tutor/pengajar etika kedokteran FKUI 2003 . Program Pascasarjana Filsafat UI.J.Kaidah Dasar Moral – Agus Purwadianto 15 2. McGraw-Hill. Jones & Bartlett Publisher.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful