ARTIKEL

Widyandana & Hikmawati Nurokhmanti , Perbandingan Tingkat Pencapaian Kompetensi Dokter muda di Rumah Sakit

Perbandingan Tingkat Pencapaian Kompetensi Dokter Muda di Rumah Sakit dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia
Widyandana, Hikmawati Nurokhmanti Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Abstract

Background: In year 2006, Indonesia was starting a new model of curriculum called Competency Based Curriculum (CBC) which using a standard competency. Indonesia was developed their own standard of competencies by Indonesian Medical Council (SKDI) that consist of list of competency which should be mastered by graduate. Undergraduate skills training was done in Skills Lab which a student could learn a skills with safe, repeated several times, and controllable. However, the situation are different with clerkhip that usually lack of opportunity and supervision. Therefore, clinical education needs to be evaluated and improved in order to reach competency at the end of the study. Purpose: The aim of this study is to evaluate clinical skills competency at clerkship level based on standard competency of Indonesian Medical Council. Method: Random survey to 180 clerkship students in the 4 clinical departments; Internal Medicine, Pediatrics, Surgery, and ENT department. It explores student perception about their competency based on SKDI, and followed by deep interview was done to 16 students. Result: According to the students, there are many skills in the SKDI that not adequately reached by the students, moreover there are several skills that never been meet during clerkship in the departments. Only few skills in the SKDI that students feel competent to perform. From the interview, students shows that they are agree that those kind of situations should be improved. Using skills lab for clerkship students can help them mastering several skills that rarely get during clerkship. Conclusion: Reaching competency cannot only rely on clerkship education in the hospital. Using laboratory setting as a partner with hospital practice is an alternative solutions for clerkship students reaching their competency on time.

Keyword: clinical education, clinical skills, competency, laboratory Korespondensi: widyandana@yahoo.com drhikma@gmail.com 0274-562139

Pendahuluan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu institusi pendidikan yang selalu melakukan inovasi–inovasi pendidikan untuk memperbaiki kualitas belajar mengajar. Saat ini, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini mengintegrasikan kemampuan kognitif, keterampilan medis, dan aspek emosional praktis sebagai salah satu kunci dari proses belajar. Kombinasi dari pengetahuan, keterampilan dan sikap profesional yang diaplikasikan dalam berbagai aspek inilah yang disebut kompetensi. 1 Dalam kurikulum ini, seorang

Vol. 4 | No. 1 | April 2009 | Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia

13

dan Bagian THT-KL. kompetensi dari sembilan keterampilan SKDI dikuasai oleh 80% lulusan stase Penyakit Dalam dan kompetensi dari 25 keterampilan SKDI lainnya hanya dikuasai oleh kurang dari 80% 14 Vol. pemeriksaan fisik. diperlukan adanya suatu inovasi untuk pendidikan keterampilan medis baik pada S1 maupun pendidikan profesi untuk mengatasi permasalahan tersebut agar mahasiswa kedokteran dapat mencapai standar kompetensi tepat waktu ketika lulus nanti. Selain itu. 2. dan stase THT ada 18 keterampilan yang harus dikuasai. kesadaran atas pelayanan kesehatan yang beretika. Kita tahu memang banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh mahasiswa dalam pendidikan profesi. Bagian Ilmu Penyakit Dalam. dan mengetahui permasalahan serta alternatif solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan profesi dalam pencapaian SKDI. pengumpulan kuesioner memakan waktu yang sangat lama karena terhambat dengan kesibukan dokter muda di Rumah Sakit sehingga pada akhirnya terjangkau 180 kuesioner (84%). yang berasal dari 4 stase Bagian. sehingga permasalahan pasien yang dalam realita sulit dijumpai.Widyandana & Hikmawati Nurokhmanti .8 Oleh karena itu. sikap profesional. 4 | No. Skills Lab memegang peranan penting dalam pendidikan keterampilan medis. stase Bagian Ilmu Kesehatan Anak 13 keterampilan. organisasi dan keterampilan manajerial. 1|April 2009 | Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia . dalam instrumen ini didapatkan daftar keterampilan diagnostik dalam masing-masing stase yang terdiri dari stase Bagian Ilmu Penyakit Dalam ada 35 unit keterampilan. yaitu Bagian Ilmu Bedah. pemikiran kritis dalam memecahkan masalah. keterampilan laboratorium klinis.9 Instrumen disusun oleh tim peneliti berdasarkan SKDI.5 Belajar keterampilan medis di Skills Lab mempunyai banyak keuntungan. sederhana.4 Dalam pencapaian kompetensi tersebut. dalam standar kompetensi juga mencakup keterampilan dalam kegawatdaruratan. Selain itu. Sedangkan wawancara dapat dilakukan pada 16 dokter muda. di Skills Lab suatu keterampilan medis yang jarang dijumpai di klinik dan tidak memungkinkan untuk dilakukan pada pasien dapat dilakukan berkali-kali karena dalam laboratorium kesalahan dapat ditolerir. stase Bagian Ilmu Bedah 71 keterampilan. kurangnya supervisi dari staf pengajar menambah parahnya keadaan. Dari 35 keterampilan tersebut ternyata hanya kompetensi dari satu keterampilan dari SKDI yang dikuasai oleh 90% mahasiswa lulusan stase Ilmu Penyakit Dalam.6 Permasalahan muncul dari data penelitian yang dilakukan oleh Remmen dan Scherpbier (2001)7 yang menyatakan bahwa mahasiswa kurang mendapat-kan kesempatan berlatih pada saat dokter muda untuk mempraktekkan teori dan keterampilan medis yang telah dikuasainya selama pendidikan S1. keterampilan mendiagnosis dan memberikan terapi bagi pasien. Data yang diperoleh dari hasil survey berdasarkan kuesioner menunjukkan bahwa pada stase Ilmu Penyakit Dalam ada 35 (tiga puluh lima) keterampilan yang sesuai dengan standar kompetensi pada stase Ilmu Penyakit Dalam. Perbandingan Tingkat Pencapaian Kompetensi Dokter muda di Rumah Sakit mahasiswa diharapkan mampu mencapai kompetensinya ketika lulus nanti yang sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Dalam laboratorium berlatih keterampilan medis tidak tergantung adanya pasien. serta keterampilan menguasai teknologi informasi. dan segala situasi bisa lebih terkontrol. bisa diperankan oleh pasien simulasi. kerja tim. Ditambah lagi. Analisis data kuantitatif diolah dengan SPSS dan data kualitatif diolah secara kualitatif deskriptif oleh tim peneliti yang terdiri dari 4 orang untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas hasil penelitian. Pemilihan sampel penelitian ini dilakukan dengan cara random sampling. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Masa pendidikan yang singkat dan sulit didapatkannya kasus untuk latihan menjadi sumber permasalahan utama yang dihadapi oleh seorang dokter muda.3 Kompetensi klinis yang harus dicapai antara lain keterampilan komunikasi dalam menggali riwayat penyakit. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencapaian standar kompetensi selama pendidikan profesi. antara lain: di Skills Lab kita bisa mengajarkan keterampilanketerampilan medis apapun secara aman. tindakan prosedural medis.9 Hasil Penelitian Dalam penelitian ini. Metode Penelitian Penelitian Cross sectional ini dilakukan dengan membagikan kuesioner pada 215 mahasiswa dan wawancara kepada 18 dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Widyandana & Hikmawati Nurokhmanti . terkadang ada persaingan dengan mahasiswa perawat maupun kebidanan”. . baik hal tersebut mengenai materi baru maupun materi lama yang diulang kembali. ada juga beberapa dokter muda yang tidak menyetujui karena menganggap bahwa pendidikan profesi harus langsung berlatih dengan pasien. ternyata lama stase juga berpengaruh. Selain itu. apabila hanya untuk mengisi waktu luang. Menurut saya pembelajaran Skills Lab sudah cukup di kampus saja. maka diberikan alternatif solusi dengan menggunakan Skills Lab sebagai sarana berlatih dokter muda untuk tetap dapat mencapai kompetensinya. perlu ada inovasi agar pelatihan dapat sesuai dengan kebutuhan dokter muda. kesempatan menerapkan keterampilan pun semakin terbatas”. ... Vol. .”Lama stase yang tersedia sangat berpengaruh. Karena Skills Lab metodenya sistematis...”Metode pelatihan dapat menggunakan bedside teaching... tidak ada kompetensi dari keterampilan yang dikuasai oleh lebih dari 80% lulusan stase tersebut. setiap stase ada jadwal khusus dokter muda untuk Skills Lab dengan metode bedside teaching.. “Perlu.. Dari keterampilan tersebut. Gak harus dari skills lab.. kompetensi keterampilan “swab tenggorokan” tidak didapatkan oleh semua mahasiswa.2 Hal tersebut secara tidak langsung menggambarkan bahwa lulusan dokter nantinya akan kurang memiliki kemampuan dalam melakukan tindakan medis tersebut. Pada stase THT-KL ditanyakan 18 keterampilan yang sesuai dengan standar kompetensi pada stase THT. 1 | April 2009 | Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia 15 . guna meningkatkan pencapaian kompetensi minimal. kompetensi dari sembilan keterampilan SKDI dikuasai oleh 80% lebih lulusan stase Ilmu Bedah dan kompetensi 43 keterampilan SKDI lainnya dikuasai oleh kurang dari 80% lulusan stase Ilmu Bedah.. Perbandingan Tingkat Pencapaian Kompetensi Dokter muda di Rumah Sakit mahasiswa lulusan stase Ilmu Penyakit Dalam. Dari wawancara dengan dokter muda didapatkan hasil bahwa mahasiswa mendapatkan hambatan untuk pencapaian kompetensi ketika dokter muda karena jumlah pasien yang sedikit dan persaingan dengan mahasiswa lain. Pada stase Ilmu Kesehatan Anak ditanyakan 13 jenis keterampilan yang sesuai dengan standar kompetensi. saya setuju”. tidak boleh sama persis dengan mahasiswa S1.. kompetensi dari 15 keterampilan SKDI dikuasai oleh 90% lulusan stase Ilmu Bedah. Kompetensi dari keterampilan “Politzerization Test” tidak didapatkan oleh semua lulusan dari stase tersebut...” Namun. Pada stase Ilmu Bedah ditanyakan 71 (tujuh puluh satu) jenis keterampilan yang sesuai dengan standar kompentensi pada stase Ilmu Bedah. .”Tidak...... Kompetensi tiga keterampilan SKDI dikuasai oleh lebih dari 90% lulusan stase Ilmu Kesehatan Anak.. Pada stase ini. 4 | No.... didapatkan ternyata masih banyak keterampilan yang belum didapatkan oleh dokter muda. kompetensi dari empat keterampilan SKDI dikuasai oleh semua lulusan stase Ilmu Bedah.. …”Jumlah pasien yang terlalu sedikit dan tidak jarang pasien menolak untuk diperiksa oleh dokter muda” .. “Setuju... Dari 71 (tujuh puluh satu) keterampilan tersebut. sehingga dapat langsung diterapkan kepada pasien”... Akan tetapi.”Materi yang disampaikan pun sebaiknya merupakan aplikasi dengan stase yang bersangkutan dan pada level kompetensi 3 dan 4”. kompetensi dua keterampilan dikuasai oleh lebih dari 80% lulusan stase anak dan kompetensi dari 10 keterampilan dikuasai oleh kurang dari 80% lulusan stase Ilmu Kesehatan Anak. Karena saat di rotasi klinik sudah waktunya menerapkan kepada pasien. . bahkan ada jenis keterampilan yang sama sekali tidak didapatkan oleh semua dokter muda yang lulus dari bagian.. Dengan demikian. Pembahasan Berdasarkan daftar keterampilan medis yang ada dalam SKDI. Melihat permasalahan diatas. Oleh karena itu penerapan latihan keterampilan medis untuk dokter muda. dan pernyataan ini ternyata disetujui oleh mayoritas mahasiswa..”Bersaing dengan dokter muda lain untuk menerapkan. Kurangnya pencapaian kompetensi dokter muda di pendidikan klinik dapat disebabkan oleh karena situasi belajar yang kurang kondusif yakni kurangnya kesempatan mahasiswa untuk berhadapan langsung dan menangani pasien (Schrepbier 2001.. . dalam pencapaian kompetensi dapat dilihat dari hasil wawancara dibawah ini: . “biasanya ada beberapa kasus yang tidak kita temui”. bisa dari bagian tersebut memberi training di luar rotasi klinik. Spencer 2003)... Caranya..

karena mereka menyadari bahwa dengan berlatih di Skills Lab dapat membantu mereka untuk mencapai standar kompetensi. memang perlu diadakan pelatihan tambahan bagi dokter muda yang tujuannya untuk mengatasi kurangnya kesempatan berlatih tersebut. maka sebaiknya kesempatan mahasiswa kedokteran untuk bertemu pasien yang sebenarnya di setting klinis dapat dimulai sejak dini di tingkat S1. kebidanan. Remmen (1999) juga menyatakan bahwa mahasiswa S1 sebaiknya belajar keterampilan medis ini di dalam konteks klinik.5 16 Vol. maupun dengan adanya persaingan antar dokter muda. Mahasiswa menginginkan metoda bed-side teaching yang interaktif antara dokter. dari tingkat S1 hingga tingkat profesi ini. sehingga semua keterampilan dapat dilatihkan dengan baik untuk memenuhi SKDI. atau dapat meng-gunakan pasien simulasi yang dirahasiakan. tentu saja materi dan metode yang diajarkan tidak boleh sama dengan tingkat S1. 4 | No. 5. Dalam hal ini Skills Lab adalah tempat berlatih keterampilan medis yang ideal. dan dapat memberikan intervensi dini jika diperlukan. Namun. terstruktur dengan pasien simulasi. termasuk dengan mahasiswa keperawatan. Jangka waktu dokter muda antara 1.14 Dapat menghubungkan teori yang diajarkan di kampus dengan prakteknya di setting klinis. adanya penolakan dari pasien untuk ditangani oleh dokter muda. memberikan gambaran situasi klinis sejak dini. hal ini dapat dipenuhi di Skills Lab. 1|April 2009 | Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia . beban menjadi bertambah karena dokter muda harus berjuang untuk mendapatkan kasus dari jumlah pasien yang mulai terbatas. Mahasiswa profesi lebih membutuhkan materi yang aplikatif. mahasiswa dan pasien digunakan untuk pelatihan di Skills Lab. Dalam hal ini. Sehingga penting diperhatikan untuk membuat setting Skills Lab sama persis dengan situasi klinik di Rumah Sakit.8 Hal ini bukan suatu hal yang mustahil. karena dapat menyediakan kesempatan sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya untuk mahasiswa berlatih. kasus yang tidak variatif. Diharapkan dengan adanya integrasi Skills Lab dengan setting klinis untuk latihan keterampilan medis yang berkelanjutan. maka sangat sulit untuk mahasiswa kedokteran di tingkat profesi untuk dapat mencapai standar kompetensi tepat pada waktunya. “Early clinical experience” ini ternyata memberikan banyak keuntungan untuk mahasiswa yaitu menambah motivasi belajar. Hambatan-hambatan dalam pendidikan profesi tersebut harus dapat diatasi dengan inovasi yang tepat. lebih advance. diharap-kan mahasiswa memiliki level kompetensi yang sesuai dan homogen ketika selesai masa studi di Fakultas Kedokteran.5 Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar dari dokter muda setuju dengan inovasi ini. di Skills Lab mahasiswa dapat berlatih dengan tenang. 12 Hal ini akan sangat membantu untuk kasus-kasus maupun tindakan medis yang jarang dijumpai.13 Selain itu. dan lain-lain.5 – 2 tahun yang diterapkan di Indonesia ternyata sangat membatasi mereka dalam memperoleh kesempatan dalam mengaplikasikan ilmu yang telah mereka miliki. 15 Semua inovasi tersebut sebenarnya bertujuan untuk lebih mempersiapkan mahasiswa S1 untuk memasuki pendidikan profesi/ dokter muda dan memberikan kesempatan berlatih lebih banyak untuk dapat mencapai standar kompetensinya. sesuai dengan latar belakang keahlian yang diperlukan. Pada akhirnya. dan harus benar-benar dapat diterapkan kepada pasien.8 Mahasiswa merasa waktu yang mereka miliki selama stase sangat kurang. dan persaingan dengan mahasiswa lain.Widyandana & Hikmawati Nurokhmanti . dapat menjembatani gap antara fase pendidikan pre-klinik dengan klinik. 11 Instruktur yang mengajar pun dapat datang dari Rumah Sakit.11 Serta melakukan evaluasi kompetensi mahasiswa yang teratur dan berkelanjutan sehingga dapat mengetahui tingkat perkembangan kompetensi mahasiswa sesegera mungkin. menyadari bahwa keterbatasan waktu dalam pendidikan profesi berpengaruh terhadap kesempatan mahasiswa mendapatkan kesempatan berlatih.7. Perbandingan Tingkat Pencapaian Kompetensi Dokter muda di Rumah Sakit Ini terjadi karena jumlah pasien yang terbatas. aman. Ketika bertugas stase di suatu Rumah Sakit pendidikan. Mahasiswa mengharapkan dapat berlatih langsung terhadap pasien nyata sesuai dengan tingkat pendidikan profesi yang mereka jalani. residen maupun mahasiswa perawat. dan lebih menyiapkan mahasiswa S1 untuk memasuki pendidikan dokter muda. atau membangun Skills Lab di Rumah Sakit pendidikan itu sendiri. 14 Selain itu. karena pasien sebenarnya pun dapat didatangkan ke laboratorium. 16 Semua ini dapat berjalan dengan lancar melalui perencanaan dan pengelolaan yang baik sehingga dapat menguntungkan semua pihak yang terlibat didalamnya.10 Dengan banyaknya permasalahan tersebut di atas. serta saling melengkapi kekurangan pendidikan masing-masing.

16. Van Dalen J. Widyandana.1(40): 119-24. Sehingga terlalu dini jika mengambil kesimpulan kalau standar kompetensi dokter Indonesia belum dicapai oleh lulusan FK UGM. Wallen NE. and Bossaert L. Kramer A. 20:6. Twelve tips for setting up a clinical skills training facility. Boshuizen HPA. Skills laboratory. and diffrences. How to design and evaluate research in education. Skills lab: centre for training of skills. 1999. Available from: URL:http://www. Widyandana. Basic medical education WFME global standards for quality improvement. Dornan T.1:3-18. 326: 591-4. Selanjutnya akan lebih baik jika dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak dan melibatkan supervisor klinik dalam menilai kemampuan kompetensi mahasiswa. 13. Flippo-Berger JF. 8. Remmen R.org Vol. and Ypinazar V. atas bimbingannya dalam menjalankan penelitian ini. van Rossum H. Evaluasi peran pasien simulasi dalam pendidikan keterampilan medis di skills lab Fakultas Kedokteran. Ova Emilia. BMJ 2003. 2003.3: 99-103. Medical Education 2001. 2007. 2009. Scherpbier AJJA. Dorte Guldbrand Nielsen. Scherpbier A. Widyandana. Dan tidak lupa. Teaching and assessing clinical competence: criteria in competence based education. Horrocks M. Widyandana. Ledingham IMcA. 38:1095-102. MMedEd. Denekens J. van der Vleuten C. Harden RM. Semoga penelitian ini dapat berguna bagi kita semua. 2007. Daftar Pustaka 1. PhD. 10.28. Scott W. RS Sardjito. 2003. Perbandingan Tingkat Pencapaian Kompetensi Dokter muda di Rumah Sakit Simpulan Mahasiswa pendidikan profesi/dokter muda mendapatkan masalah untuk mencapai kompetensi sesuai SKDI. Spencer J. Darzi A.Widyandana & Hikmawati Nurokhmanti . 4. Konsil Kedokteran Indonesia. 14. Prince KJAH. terutama untuk kemajuan pendidikan kedokteran di tanah air khususnya mengenai pendidikan keterampilan klinis S1. 15. 1 | April 2009 | Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia 17 . Persepsi mahasiswa terhadap ujian keterampilan medis di skills lab Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Dengan integrasi pendidikan keterampilan medis di Skills Lab dengan setting klinis diharapkan dapat memberikan kesempatan berlatih yang cukup bagi mahasiswa kedokteran mencapai kompetensi tepat pada waktunya. Saran Penelitian ini masih jauh dari sempurna. Medical Teacher 1998. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia. Universitas Gadjah Mada. World Federation of Medical Education (WFME). karena kesempatan berlatih keterampilan medis yang sangat kurang selama stase dokter muda. Bende W. 9. Students opinions about their preparation for clinical practice. 7. simmilarities. 2. Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia 2009. 5. Faculty of Medicine of Gadjah Mada University. Maastricht: Maastricht University. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan pelatihan tambahan selama dokter muda dengan metode pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa profesi. SpOG(K). Derese A. dan Skills Lab FK UGM atas dukungannya dalam pelaksanaan penelitian ini. Standar kompetensi pendidikan dokter. Effectivenes of basic clinical skills training programes: a cross-sectional comparison of four medical schools. 11. 121-8. Copenhagen: WFME Office.med-edonline. Zwistra RP. karena hanya melibatkan jumlah dan sumber sampel yang terbatas. Medical Education 2004. Terimakasih juga kami ucapkan kepada dr. Innovation on skills training program in order to reach maximum clinical competence. Hoogenboom R. New York: McGrawHill. 3. ABC of learning and teaching in medicine: learning and teaching in the clinical environment. van der Vleuten C. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran UGM. Medical Education 2005. 2006. Scherpbier A. et all. Groningen: Boekwerk Publications. 8th edition. Medical Teacher 2006. 12. Spencer J. Claramita M. Ucapan Terimakasih Terimakasih kami ucapkan kepada Bagian Pendidikan Kedokteran FK UGM. Littlewood S. Hermann I.35. 6. Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia 2006. Kneebone R. Skills training in laboratory and clerkship : connection. Margolis SA. Simulation and clinical practice: strengthening the relationship. Fraenkel JR. 39: 704-12. van Royen P. 4 | No. Nurhayati. kami ucapkan terimakasih kepada Belgis dan Tessa yang telah membantu dalam mengumpulkan data penelitian melalui survey dan wawancara. How can experience in clinical and community settings contribute to early medical education? A BEME systematic review.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful