P. 1
MADILOG - Tan Malaka

MADILOG - Tan Malaka

4.5

|Views: 1,074|Likes:
Published by BMT-link
MADILOG - Tan Malaka
MADILOG - Tan Malaka

More info:

Published by: BMT-link on Jul 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2012

pdf

text

original

Dalam sejarahnya benda yang terkecil serta kodratnya ialah atom sempai menjadi Alam Raya
sekarang kita sudah saksikan, bagaimana kuasanya undang Dialektika beralasan benda itu.
Sebagai tulang-belulang pada sesuatu badan, begitulah pula undang Dialektika itu membatasi
daerahnya. Dalam daerah inilah bisa dan mesti bekerjanya Logiika. Dalam berjuta-juta tahun,
pada hawa maha panas berkurang-kurang sederajat demi sederajat atom dari hydrogen
bertambah elektron satu demi satu, sampai kesaatnya: ini bukan lagi atom dulu dan belum lagi
baru. Apda saat ini atom tadi, ialah lama dan baru. A = non A Kemudian timbullah atom baru,
dengan begtu terjadilah pembatalan kebatalan.
Demikianlah kita sampai kepada 92 jenis atom yang sudah diketahui pada masa ini.
Menurut hukum “perubahan bilangan menjadi perubahan sifat” sampai kepada sesuatu benda itu
menjadi baru dan lama (A = non A) dan akhirnya tiba dihukum “pembatalan kebatalan” kita
dapatkan 92 element (zat-asli sekarang) yang membentuk jarinya jadi bermacam-macam
molekulen. Yang terakhir ini menurut hukum tadi juga, terutama berhubung dengan tambahnya
carbon, diantara ratusan ribu paduan carbon kita jumpakan tepung, gemung dan putih telur.
Sekarang putih telurlah yang akan kita pakai buat titik melangkah. Pada putih telur ini kita
jumpakan hukum A = non A. Kalau kita bertanya apakah telur ini yang Mati atau yang Hidup,
maka kita bisa jawab dengan ya semata-mata atau t i d a k semata-mata. Logika sudah terlepas
kekuasannya pada titik ini. Kita mesti bernaung dibawah Dialektika. Kita mesti jawab dengan y a
dan t i d a k. Putih telur ialah sesuatu sipang, kedaerah yang Hidup dan kedaerah yang Mati.
Menurut garis besarnya saja dalam sejarahnya putih telur pada panas yang turun dari sederajat
demi sederajat kita mesti sampai kesaat baru itu lama. A itu non A. Akhirnya sesudah yang
Hidup (Biology) pada tingkat eskarang dianggap sebagai satuan (unit) dari yang Hidup. Cel tak
bisa dibagi lagi. Aklau dibagi kita tak mendapatkan yang kita sekarnag namakan yang Hidup
lagi. Kalau seandainya Cel yang dianggap lebih dulu dari pada putih telur, maka lakon tadi
berjalan sebaliknya yakni dari cel ke putih telur. Hal mana yang dulu itu tak penting pada bagian
ini. Yang penting ialah a p a dan b a g a i m a n a berlakunya undang sejarah Yang Hidup itu.
Pada ilmu yang bersangkutang (seperti Biology dsb). dengan Logika dan perkakasnyalah
terserah kewajiban buat menentukan mana yang pertama mana yang kemudian, diantara tiap-tiap
buktinya. Cel pada satu pihak membatalkan benda yang dibelakang sejarahnya ialah putih telur
tadi. Tetapi terhadap pada benda didepan sejarahnya ia bermuka dua. Ia adalah simpang buat dua
arah. Ia adalah A = Non A. Satu arah menuju pertumbuhan. Arah yang lain menuju ke Hewan.
Pada cel pertama sekali didapat benda kedunya “baru dan lama”, tumbuhan dan hewan; A = Non
A.

Terus sejarah berjalan selangkah demi selangkah, sampai ke “pembatalan kebatalan”.
Sekarang kita pasti bisa memisahkan tumbuhan dari hewan. Tumbuhan itu tidak lagi hewan dan
hewan itu tidak lagi tumbuhan, seperti pada satu saat yang lampau.
Tidalah disini akan kita ikuti sejarahnya bermacam-macam tumbuhan yang masih Hidup
diseluruh bumi kita ini saja atau pun yang sudah. Tiadalah kita bisa dan perlu mengikuti
sejarahnya kurang lebih 2.000.000 jenis hewan yang masih hidup di bumi dan yang sudah punah
tetapi ditemui tulang-belulangnya terkubur di daratan dan lautan. Yang akan kita majukan Cuma
undang sejarahnya saja. Undangnya itu tiada lain melainkan undang yang berlaku pada Benda
terkecil, benda yang kita namai mati itu dan yang terbesar ialah Alam Raya: bermula perubahan
bilangan menjadi perubahan sifat, sampai ketingkat pertengahan: A itu sama dengan non A, baru
itu lama, akhirnya berlaku pembatalan kebatalan.
Begitulah dalam garis besar saja pada sejarah Yang Hidup dalam jutaan tahun dari Yang Hidup
bercel satu saja dari pada Amuba yang hidup dalam air tadi lama-kelamaan kita sampai pada ikan
yang emmpunyai banyak cel dan akhirnya pada amfibi: binatang yang hidup di air dan daratan
seperti kodok.
Menurut hukum Dialektika tadi, maka radai (fins) yang kita dapati pada gerundang seperti pada
ikan sudah berganti menjadi kaki pada kodok. Insang pada gerundang, seperti terdapat pada ikan,
ialah teman sealamnya, sudah menjelma menjadi rabu. Didarat, dimana udara lebih
membutuhkan sokongan (tongkat) dari pada didalam air, maka kaki tangan kodok boleh dipakai
sebagai tongkat. Kaki tangan boleh dipakai pula buat bergerak serta jari boelh dipakai buat
memegang dan memeluk. Tata saraf (nervous-system) yang terbawa oleh kemajuan tulang-
belulangnya kaki tangan bisa maju dalam kehidupan pada keadaan baru. Pilihan alam diantara
anggota yang cocok dalam pertarungan seru dan tak habis-habisnya, yang mesti di alami sang
kodok, pertukaran anggota sedikit demi sedikit, dari bapak turun keanak, kecucu-kecicit akhirnya
menimbulkan y a dan b u k a n, kodok. Sampai kita pada hukum pembatalan kebatalan, ke
binatang MENJALAR seperti ular dsb. disini faktor (perkara) baru, yang penting buat yang
hidup umumnya dan manusia terkhususnya, timbul ailah menampakkan dirinya lebih terang:
otak Yang dinamai otak depan itu pada binatang yang menjalar lebih besar dari pada yang
terdapat pada ikan dan kodok. Tiada mengherankan karena keadaan didarat dan pertarungan
didarat adalah bermacam-macam. Perubahan hawa, angin, topan, hujan, panas, sejuk, dsb lebih
berpengaruh pada binatang yang hidup di darat dari pada yang hidup didalam air mencari
makanan buat diri, kawan dan anak didaratan yang penuh dengan musuh dan bencana alam
sendiri, menuntut anggota yang lebih sempurna dari pada ketika hidup dalam air. Alam memilih
anggota yang cocok buat pertaruan seru sengit yang tak putus-putusnya itu dan memusnahkan
anggota yang janggal (Darwinisme). Turunan terus-menerus memajukan anggota yang baik tadi.
Seperti pemeriksa hewan terpelajar dalam tempo yang sedikit saja bisa menyaksikan perubahan
sedikit demi sedikit, demikianlah hewan dalam pertaruan jutaan tahun bisa membutktikan
perubahan bilangan menjadi perubahan sifat. Kita sampai pada mengandung bayi dalam
perutnya, brung yang masih bertelur seperti ular dan akhinrya pada Hewan yang berdarah panas
melahirkan anak hidup-hidup, menyusukan anak itu dan mendidik anak itu sampai bisa beridiri
sendiri menentang musuh didalam dan diluar.
Manusia yang mendidik anaknya dalam sekolah taman anak-anak disekolah Rakyat, Menengah
Pertama dan Tinggi, di Sekolah Tinggi buat Meester, Dokter, Insinyur, dll ... buat kelak meladeni
pertaruan dalam masyarakat sendiri pada satu pihak dan terhadap pada Negara dan Masyarkat
serta Alam Raya pada lain pihak.

Menurut hukum Dialektika tadi juga, akhirnya ibu hewan dan Manusia, memperoleh anggota
terkhusus dalam badannya buat memupuk anaknya dengan darahnya dalam kandungannya.
Binatang dan Manusia mendapatkan otak buat menyelenggarakan semua gerakan dalam dan luar
badannya sebagai Markas Besar menyelenggarakan sesuatu peperangan dengan tipu
muslihatnya. Otak. Inilah benda terakhir yang diperoleh yang Hidup. Benda yang maha sulit,
maka penting dan maha ajaib. Tetapi baik dalam hal susunannya (structuur) ataupun
peranggotaannya (fuction) sejarahnya otak dari otaknya ikan, kodok, ular, burung, hewan dan
manusia, diantara kelas tani saudagar, proletar dan akhirnya (boleh jadi juga?) diantara kelas
intellek, modal, busyauah dan proletar .......... pendeknya sejarah otak, dalam semua jenis hewan
dan golongan manusia itu takluk juga pada Ada t a k a d a dan a d a t a k a d a (thesis,
antithesis, dan synthesis).
hukum pembatalan kebatalan buat mengadakan setimbang, ketetapan tingginya panas dalam
badan sudah kita uraikan lebih dulu. Tak perlu diulang lagi. Sambil lalu sudah dibilang pesawat
memegang ,”setimbangnya” banyak, gula, putih telur, oxygen, hydrogen, dsb dalam badan yang
berdarah panas itu.
Baik juga disini dijelaskan sedikit bagaimana pesawat yang bekerja sendirinya itu (automatic)
dalam bilik kimia (laboratorium) pada badan kita menjalankan kewajibannya. Henerson dan
Hasselbek membuktikan bahwa timbunan (concentration)nya H(ydrogen)-ion itu tiada
tergantung pada setimbangnya adanya kedua zat itu. Bagaimana pesawat dalam badan kita
mengadakan setimbang itu dengan tetap?
Pertama perantaraan resperatry (tata-bernafas). Naiknya banyak H-ion dalam darah kita
menyebabkan naiknya gerakan pusat pernafasan. Hal ini meyebabkan naiknya kehilangan
carbonit-acid (yang mengandung H. itu!) pula. Jadi naiknya tambah menyebabkan naiknya
kurang; naiknya dapat menimbulkan naiknya hilang.
Kedua dengan perantaraan buah punggung (kidneys). Kalau timbunan acid (asam) menjadi
kurang dalam badan kita, maka kecing kita mengeluarkan alkali (asin) berlebih sama dengan
kurangnya asam tadi. Jadi kurang masuknya pada satu pihak disteimbangi dengan lebih
keluarnya pada lain pihak. Hasilnya tetap setimbang.
Semuanya ini terjadi dengan tidak diawasi oleh ahli kimia (laborant), automatc, ajaib, tetapi
tidak gaib sesudah diketahui undang sejarahnya!
Tak bisa dipisahkan dair bendanya dan sejajar jalannya dengan benda tadi, begitulah pula mesti
dianggap, sejarahnya kodrat. Terkandung oleh Yang Mati, kodrat ini berupa cahaya, sinar dan
panas atau tersembunyi ia berupa listirk, gerakan perpaduan dan perpisahan dalam Kimia dan
Gerakan Tolak dan Tarik. Pada tumbuhan kodrat ini bertukar menjadi h i d u p yang bisa
menukar element menjadi zat badannya sendiri; yang bisa bergerak mencari sinar dengan
pucuknya, ditaruh diatas ataupun dibawah pucuk tumbuhan itu: yang bisa mencari air dengan
uratnya baikpun ditaruh dibawah ataupun diatas satu tumbuhan (Ingat satu benih dalam msatu
peralaman). H i d u p itu membentuk dirinya seperti instinct pada hewan, kepandaian yang tiada
dipelajari, melainkan dipusakai dari ibu bapak; yang bisa mencari makanan, mencari obat
diantara benda disekelilingnya, memelihara dan membela anak mati-matian, walaupun sering
Sang Ibu biasanya penakut dan mahluk yang lemah; menghindarkan atau atau melawan musuh
mati-matian; mencari jodoh yang jempol dalam segala-gala ......dsb. akhirnya instinct tadi
berbentuk menjadi a k a l, manusia yang bisa sadar akan dirinya sendiri memperalamkan Alam
Raya terkecil dan terbesar; bisa membentuk paham, teori, idaman dan rancangan dan
menjalankan rencana itu dalam alamnya dengan begitu pada lagi diam, passif, dibentuk alam
melainkan membentuk sipembentuk itu sendiri.

Tidaklah perlu dan tidak pada tempatnya disini dibentangkan buktinya sejarah otak dari yang
berbentuk pada cacing atau ikan sampai pada manusia; yang dibentuk dalam jutaan tahun dalam
keadaan berubah-ubah itu; yang dibentuk dalam iklim pertarungan dan iklim bertolong-tolongan
itu. Pastilah sudah sejarahnya itu berlaku menruut hukum Dialektika sebagai tulang-belulang.
Menurut undang inilah, kodrat yang terdapat pada Yang Mati itu berubah sedikit demi sedikit
menjadi H i d u p pada tumbuhan dan terus menjadi i n s t i n c t pada hewan, dan akhirnya
sejajar dengan badannya dari otak kecil sekali pada hewan rendah menjadi otak terbesar pada
manusia menempuh undang Dialektika juga achomadia sampai pada akal kita manusia.
Syahdan a k a l inipun baru menempuh sejarah terkira. Tingginya akal bakal melambung tak
bisa diukur, karena semua ukuran kita sekarang ialah barang yang tetap, barang yang ditetapkan
(note: Laurentz, Relativity of measurements). Tetapi a k a l itu maju menurut undang gerakan,
undang pertentangan dan berseluk-beluk dengan sejarahnya terus-menerus.
Sejarah Alam Raya ialah sejarah terus-menerus, keterus-menerusnya satu sejarah, otak dan akal
sebagai bagian dari benda dan kodratnya Alam Raya, mempunyai sejarah yang terus-menerus
pula.
Tetapi sejarahnya hidup pada tumbuhan sampai ke instinct pada hewan dan terus ke akal pada
manusia sejajar dengan sejarah cel tumbuhan, bendanya hewan, sampai akhirnya pada cel
anggota manusia, takluk pada undang Dialektika. Dalam badan yang ditulang-belulangi oleh
Dialektika yang beralasan Benda inilah berlaku terus-menerus pula Logika yang berbentuk pada
bermacam-macam ilmu buat mempelajari yang hidup Ilmu Tumbuhan, Ilmu Binatang, Ilmu
Kuman dsb. karena manusia itu satu “hewan dalam masyarakat” yang tiada pula bisa dipisahkan
dengan masyarakatnya, maka ilmu yang timbul buat mempelajari manusia juga tiadalah ilmu
semata-mata mempelajari Badan dan peranggotaan (physiologie) dan Jiwanya (psychologie),
Ilmu Tumbuh, dari bayi sampai balig (embryologie) dsb saja tetapi juga Ilmu Masyarakat dengan
cabang-cabangnya Ekonomi, Politik dll.

Puluhan ribuan peralaman yang diadakan oleh para ahli buat menentukan sifat dna gerak-
geriknya tumbuhan. Puluh ribuan pula peralaman buat menentukan sifat Badan dan insticntnya
hewan. Bertimbun-timbun pula peralaman buat menentukan sifat dan gerakannya otak manusia.
Masing-masing cabangnya Ilmu Hidup terutama pada satu abad dibelakang ini sudah mencapai
puncak yang tinggi, lebih tinggi dari puncak yang dicapai seluruh manusia pada 500.000 tahun
dibelakang ini.
Tetapi bagaimana juga majunya semua peralaman dan undang yang didapat oleh bermacam-
macam cabangnya Ilmu yang Hidup itu, tiadalah dia bisa melupakan daerah tempatnya bekerja.
Luas dan sifat arahnya bekerja itu dibatasi, ditulang-belulangi dan dengan beitu ditentukan oleh
Dialektika Materialisme. Para ahli tak sekejappun bisa melupakan pertentangan gerakan,
perkenaan dan tempo.
Melupakan Daialektika yang berdasarkan Materialisme, bisa melantingkan para ahli ke Alam
Mistika atau kealam Mekanisme. Dari susunan cel sampai kesusunan Badan Manusia, dari
instict sampai keakal, semua benda dan tunduk pada hukum Dialektika. Tetapi Dialektika ini
takluk pula pada Materialisme, kebendaan. Bukan Materialisme yang takluk pada Dialektika.
Dialektika itu bisa lahir lebih dahulu dalam otak manusia yang paling cerdas. Tetapi Dialektika
semacam itu mesti cocok dengan Dialektikanya Benda, yakni hukum gerakannya Benda. Kalau
besok atau lusa tiada didapati kecocokan itu, maka Dialektika semacam itu berarti Dialektika
kosong, Dialektika impian, yakni impiannya seorang ahli Dialektika.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->