LUKA BAKAR (COMBUSTIO) BATASAN :Suatu penyakit yang disebabkan oleh panas, arus listrik atau bahan kimia yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan lebih dalam PATOFISIOLOGI 1. Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terkena suhu tinggi rusak sel darah yang di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi animea. 2. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bula dengan membawa serta elektrolit. Hal ini menyebabkan berkurangnya volume cairan intra vaskuler. Tubuh kehilangan cairan antara ½ % – 1 %, “Blood Volume ” setiap 1 % luka bakar. Kerusakan kult akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebih (insensible water loss meningkat). 3. Bila luka bakar lebih dari 20 % akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khas yaitu : gelisah, pucat dingin berkeringat, nadi kecil, dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urine menurun (kegagalan fungsi ginjal). 4. Pada kebakaran daerah muka dapat terjadi kerusakan mukosa jalan nafas karena gas, asap atau uap panas yang terisa. Gejala yang timbul adalah sesak nafas, takipneu, stridor, suara serak dan berdahak berwarna gelap karena jelaga. Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lain. CO akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga tak mampu mengikat oxygen lagi. Tanda keracunan yang ringan adalah lemas, binggung, pusing, mual dan muntah. Pada keracunan berat terjadi koma. Bila lebih 60 % hemoglobin terikat CO, penderita akan meninggal. 5. Pada luka bakar yang berat terjadi ileus paralitik. Stres dan beban faali yang terjadi pada luka bakar berat dapat menyebabkan tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala yang sama gejala tukak peptic. Kelainan ini dikenal dengan “Tukak Curling” yang dikhawatirkan pada tukak Curling ini adalah pendarahan yang timbul sebagai hematesis melena. 2 FREKWENSI : Di Amerika di laporkan sekitar 2 sampai 3 juta penderita setiap tahunnya dengan jumlah kematian 5 – 6 ribu kematian pertahun, sedangkan di Indonesia belum ada laporan tertulis. Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo Jakarta pada tahun 1998 di laporkan 107 kasus luka bakar yang dirawat, dengan angka kematian 37,38 sedangkan di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya pada tahun 2000 dirawat 106 kasus luka bakar, kematian 26, 41 % PEMERIKSAAN DAN

Dengan demikian kerangka berpikir dalam penanganan penderita tidak dibatasi oleh kotak fase dan tetap harus terintegrasi. Syok karena kehilangan cairan. Pada fase ini dapat terjadi juga gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit akibat cedera termal/panas yang berdampak sistemik. Fase Subakut Fase ini berlangsung setelah fase syok berakhir atau dapat teratasi. Fase Lanjut Fase ini penderita sudah dinyatakan sembuh tetapi tetap dipantau melalui rawat jalan. antara lain : . Keadaan hipermetabolisme. 3. • Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terjadi trauma . Luka yang terjadi dapat menyebabkan beberapa masalah yaitu : a. gangguan pigmentasi. Langkah penatalaksanaan fase sebelumnya akan berimplikasi klinis pada fase selanjutnya. Peneumonia PROGNOSA : ¬ Tergantung derajad luka bakar. b. akan mengalami ancaman dan gangguan airway (jalan napas). 3. Permasalahan dan penanganan pada fase ini akan menjadi bahasan utama dalam makalah ini.DIAGNOSIS o Secara klinis o Laboratorium : Hb. Electrolit dsb KOMPLIKASI 1. deformitas dan timbulnya kontraktur. Problem penutupan luka c. leher dan tangan karena sulit perawatan dan mudah kontraktur. subakut dan fase lanjut. 2. ketiak. Fase ini mulai dari saat kejadian sampai penderita mendapat perawatan di IRD / Unit luka bakar. Sepsis / toksis. PENYEBAB LUKA BAKAR Berdasarkan penyebab luka bakar. Proses inflamasi atau infeksi. seperti penderita trauma lainnya. Namun demikian pembagian fase menjadi tiga tersebuttidaklah berarti terdapat garis pembatas yang tegas diantara ketiga fase ini. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertrofik. Gagal Ginjal mendadak 4. Cedera inhalasi merupakan penyebab kematian utama penderita pada fase akut. Pada fase ini penderita luka bakar. luka bakar dibedakan atas beberapa jenis penyebab. perineum. Adanya syok yang bersifat hipodinamik dapat berlanjut dengan keadaan hiperdinamik yang masih berhubungan akibat problem instabilitas sirkulasi. Hematokrit. ¬ Usia dan kesehatan penderita. FASE LUKA BAKAR Untuk mempermudah penanganan luka bakar maka dalam perjalanan penyakitnya dibedakan dalam 3 fase akut. 3 1. inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. breathing (mekanisme bernafas) dan gangguan circulation (sirkulasi). ¬ Luas permukaan ¬ Daerah yang terkena. Fase akut / fase syok / fase awal. keloid. 2.

• Organ kulit mengalami kerusakan. Luka bakar karena sengatan sinar matahari. kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan lebih pucat sampai . • 3. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan. Luka bakar derajat III Kerusakan meliputi seluruh tebal kulit dan lapisan yang lebih dalam sampai mencapai jaringan subkutan. otot dan tulang. Tidak dijumpai bullae.• • • • • • • • • 1. kelenjar keringat. Luka bakar karena air panas 3. Luka bakar karena tungku panas/udara panas 4 7. kelenjar sebacea tinggal sedikit. Luka bakar derajat I : Kerusakan terbatas pada lapisan epidermis (surperficial). tidak ada lagi sisa elemen epitel. 6. Luka bakar derajat II Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis. Semua ini merupakan benih-benih epitel. kelenjar sebecea masih banyak. • Penyembuhan terjadi lebih lama dan disertai parut hipertrofi. yaitu sebagai berikut: 1. Penyembuhan terjadi secara spontan tanpa pengobatan khusus. 2. tidak dijumpai bullae. • • Dibedakan atas 2 (dua) bagian : A. berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi. Luka bakar karena ledakan bom. Derajat II dalam / deep (IIB) 5 Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa – sisa jaringan epitel tinggal sedikit. Terdapat bullae. Luka bakar karena api 2. sekarang lebih praktis hanya dibagi 3 tingkat/derajat. terasa nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Derajat II dangkal/superficial (IIA) Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dari corium/dermis. Organ – organ kulit seperti folikel rambut. Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari tanpa terbentuk cicatrik. penyebab dan lamanya kontak dengan tubuh penderita. kulit hipermik berupa eritem. Dahulu Dupuytren membagi atas 6 tingkat. DERAJAT KEDALAMAN Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung pada derajat panas sumber. Luka bakar karena listrik. Luka bakar karena bahan kimia 4. • B. petir dan radiasi 5. nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Organ – organ kulit seperti folikel rambut.

terjadi penimbunan cairan massif di jaringan interstisial menyebabkan kondisi hipovolemik. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai esker. Pada anak –anak dipakai modifikasi Rule of Nine menurut Lund and Brower. Luka Bakar Ringan. Pada penanganan perbaikan sirkulasi pada luka bakar dikenal beberapa formula berikut : – Evans Formula – Brooke Formula – Parkland Formula – Modifikasi Formula – Monafo Formula 11 RESUSTASI CAIRAN BAXTER formula Hari Pertama : Dewasa : Ringer Laktat 4 cc x berat badan x % luas luka bakar per 24 jam Anak : Ringer Laktat: Dextran = 17 : 3 2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan faali. Volume cairan intravaskuler mengalami deficit. timbul ketidakmampuan menyelenggaraan proses transportasi oksigen ke jaringan. RL / NaCl = luas combustio ……% X BB/ Kg X 1 cc 2. KRITERIA BERAT RINGANNYA (American Burn Association) 1. Keseimbangan tekanan hidrostatik dan onkotik tergangu sehingga sirkulasi kebagian distal terhambat. menunjukkna perbaikkan prognosis. Beberapa penelitian membuktikan bahwa penatalaksanaan syok dengan metode resusutasi cairan konvensional (menggunakan regimen cairan yang ada) dengan penatalaksanaan syok dalam waktu singkat. ketiganya diketahui memiliki nilai prognostic terhadap angka mortalitas. Kepala dan leher ◊ 9 % Lengan ◊ 18 % Badan Depan ◊ 18 % Badan Belakang ◊ 18 % Tungkai ◊ 36 % Genitalia/perineum ◊ 1 % Total ◊ 100 % 7 Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas telapak tangan penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya. hipotermi dipersingkat dan koagulatif diperkecil kemungkinannya. PENANGANAN SIRKULASI Pada luka bakarberat / mayor terjadi perubahan permeabilitaskapiler yang akan diikuti dengan ekstrapasi cairan (plasma protein dan elektrolit) dari intravaskuler ke jaringan interfisial mengakibatkan terjadinya hipovolemic intra vaskuler dan edema interstisial. Syok yang timbul harus diatasi dalam waktu singkat. Hari kedua Dewasa : ½ hari I Anak : diberi sesuai kebutuhan faali Menurut Evans -◊ Cairan yang dibutuhkan : 1. untuk mencegah kerusakan sel dan organ bertambah parah. – Luka bakar derajat II 3 cm. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi karena ujung – ujung sensorik rusak. Kebutuhan faali : < 1 Tahun : berat badan x 100 cc 1 – 3 Tahun : berat badan x 75 cc 3 – 5 Tahun : berat badan x 50 cc ½ jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama. Pengganti yang hilang . derajat kerusakan jaringan diperkecil (pemantauan kadar asam laktat). yaitu ditekankan pada umur 15 tahun. sebab syok secara nyata bermakna memiliki korelasi dengan angka kematian. Plasma = luas combustio ……% X BB / Kg X 1 cc 3. ½ diberikan 16 jam berikutnya. menyebabkan gangguan perfusi / sel / jaringan / organ.berwarna hitam kering. Keadaan ini dikenal dengan sebutan syok. 6 LUAS LUKA BAKAR Wallace membagi tubuh atas bagian – nagian 9 % atau kelipatan dari 9 terkenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace. Pada luka bakar yang berat dengan perubahan permeabilitas kapiler yang hamper menyeluruh. 5 tahun dan 1 tahun. Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi epitelisasi spontan.

Jadi CO akan memisahkan O2 dari Hb sehingga mengakibatkan hipoksia jaringan. 1. malas bernafas atau adanya wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau tenggorokan. 13 Bilamana ada 3 tanda / gejala diatas sudah cukup dicurigai adanya trauma inhalasi. 4. Termodegradasi menyebabkan terbentuknya gas toksik seperti hydrogen sianida. I. seperti rasa tercekik. 3. Obstruksi jalan napas akan menjadi lebih hebat akibat adanya tracheal bronchitis dan edem. bibir. Efek akut dari bahan kimia ini menimbulkan iritasi dan bronkokonstriksi pada saluran napas. menandakan adanya iritasi mukosa. Monitoring penderita kita dibagi dalam 3 situasi yaitu pada saat di triage. Adanya takipnea atau kelainan pada auskultasi seperti krepitasi atau ronhi. termasuk hidung. Penderita dirawat diruang resusitasi instalasi gawat darurat sampai kondisi stabil. Triage – Intalasi Gawat Darurat A. 6. 2. hydrogen klorida. Riwayat terjebak dalam ruangan tertutup. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi. penderita palpasi. Trauma panas langsung adalah terhirup sesuatu yang sangat panas. Pada kebakaran dalam ruangan tertutup atau bilamana luka bakar mengenai daerah muka / wajah dapat menimbulkan kerusakan mukosa jalan napas akibat gas. produk produk yang tidak sempurna dari bahan yang terbakar seperti bahan jelaga dan bahan khusus yang menyebabkan kerusakan dari mukosa lansung pada percabangan trakheobronkhial. Karbon monoksida (CO) memiliki afinitas yang cukup kuat terhadap pengikatan hemoglobin dengan kemampuan 210 – 240 kali lebih kuat disbanding kemampuan O2. harus dinilai dan dilakukan . Kematian akibat trauma inhalasi terjasi dalam waktu singkat 8 sampai 24 jam pertama pasca operasi. nitrogen oksida. Edema yang terjadi dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan napas karena edema laring. Adanya sesak napas atau hilangnya suara.karena penguapan D5 2000 cc Hari I —◊ 8 jam X ½ —◊ 16 jam X ½ Hari II –◊ ½ hari I Hari ke III —◊ kari ke II 12 PENANGANAN PERNAPASAN Trauma inhalasi merupakan foktor yang secara nyata memiliki kolerasi dengan angka kematian. asap atau uap panas yang terhisap. Kecurigaan adanya trauma inhalasi bila pada penderita luka bakar mengalami hal sebagai berikut. 5. mulut atau tenggorokan. akreolin dan partikel – partikel tersuspensi. Terdapat tanda distress napas. Sputum tercampur arang. Penanganan penderita trauma inhalasi bila tanpa distress pernapasan maka harus dilakukan trakheostomi. Luka bakar perioral. A-B-C : Pada waktu penderita datang ke Rumah sakit. perkusi dan auskultasi adalah prosedur yang harus dilakukan pada perawatan penderita. MONITORING PENDERITA LUKA BAKAR FASE AKUT Monitoring penderita luka bakar harus diikuti secara cermat. 7. Tersedak. Pemeriksaan laboratoris untuk monitoring juga dilakukan untuk mengikuti perkembanagn keadaan penderita. selama resusitasi (0-72 jam pertama)dan pos resustasi. Efek intoksikasi karbon monoksida (CO) mengakibatkan terjadinya hipoksia jaringan. Penurunan kesadaran termasuk confusion. Keracunan asap yang disebabkan oleh termodegradasi material alamiah dan materi yang diproduksi.

Aliran listrik (arus bolak-balik. melalui bagian tubuh yang memiliki resistensi paling rendah (cairan. Luka Bakar dengan trauma Inhalasi 3. MONITORING DALAM FASE RESUSITASI (sampai 72 jam) 1. adanya secret. Pemeriksaan arterial blood gas. Monitoring jantung terutama pada penderita karena trauma listrik. atau dispnae merupakan adannya impending obstruksi. serum elektrolit b. renal function tes h. liver function test g. elektrolit f. alternating current / AC) merupakan energi dalam jumlah besar. VITAL SIGN : Monitoring dan pencatatan tekanan darah. Berat jenis urine. dinilai apakah kasa basah. 5. Penilaian keadaan paru Pemeriksaan kondisi paru perlu diobservasi tiap jam untuk mengetahui adanya perubahan yang terjadi antara lain stridor. Pemeriksaan toraks foto ini. Bila bersih perawatan selanjutnya dilakukan 5 hari kemudian. darah / pembuluh darah). II. Kerusakan jaringan tubuh disebabkan karena beberapa hal berikut : 1. otot/ rabdomiosis. Vital Sign 4. Kerusakan dapat bersifat ekstensif local maupun sistemik (otak/ensellopati. plasma albumin c. sirkulasi yang segera diatasi life saving. Pada orang dewasa jumlah urine 30-50 cc urine/jam. 9. 2. Penilaian gastrointestinal. pH darah. 3. pemeriksaan lain sesuai indikasi 7. Luka Bakar Bahan Kimia 4. jantung/fibrilisasi ventrikel. Hal ini di sebabkan akibat kerusakan system . Berasal dari sumber listrik. Luka Bakar dengan kehamilan 15 Luka Bakar listrik Luka bakar bisa karena voltase rendah atau voltase tinggi. ada cairan berbau atau ada tanda-tanda pus maka kasa perlu diganti. Penderitaluka bakar dapat pula mengalami trauma toraks atau mengalami pneumotoraks. Urine produksi dapat sebagai indikator apakah resusitasi cukup adekuat / tidak. Luka Bakar yang Perlu Perawatan Khusus 1. Adanya darah dan pH kurang dari 5 merupakan tanda adanya Culing Ulcer. dan sebagai berikut). 8. nadi. Loncatan energi yang ditimbulkan oleh udara yang berubah menjadi api. rectal temperature. Bila dilakukan perawatan tertutup. B. Urine produksi dapat diukur dan dicatat tiap jam. Aliran listrik dalam tubuh menyebabkan kerusakan akibat yang ditimbulkan oleh resistensi. Penilaian luka bakarnya. Observasi urine diperiksa warna urine terutama pada penderita luka bakar derajat III atau akibat trauma listrik. myoglobin. Mengukur urine produksi. breathing. C. 3. gagal ginjal. urine sodium e. total protein / albumin i. URINE OUTPUT : Bilamana urine tidak bisa diukur maka dapat dilakukan pemasangan foley kateter. 14 2. Pascatrauma luka bakar jenis dapat normal atau meningkat. bronkhospam. repsirasi. Monitoring gastrointestinal setiap 2-4 jam dengan melakukan auskultasi untuk mengetahui bising usus dan pemeriksaan sekresi lambung. wheezing. hematokrit. hemoglobin terdapat dalam urine menunjukkna adanya kerusakaan yang hebat. Perfusi perifer 6. hemoglobin d. dapat terjadi aritmia ataupun sampai terjadi cardiac arrest. laboratorium a.segera diatasi adakah problem airway. Keadaan ini dapat menunjukkna keadaan hidrasi penderita. Luka Bakar Listrik. Bilamana berat jenis meningkat berhubungan dengan naiknya kadar glukosa urine. Kerusakan jaringan bersifat lambat tapi pasti dan tidak dapat diperkirakan luasnya. 2.

rasa tercekik. B. hidung. Estimasi luas luka bakar / derajat luka bakarnya.0 4. MONITORING POST RESUSITASI (72 jam pascatrauma) Hal hal yang perlu diobservasi setiap harinya secara sistematik dan teliti meliputi observasi klinis dan data pemeriksaan laboratorium yaitu : 1. SECOUNDARY SURVEY 1. 16 3. Bila didapatkan luka bakar. nitrogen dioksida. Monitoring ECG kontinu untuk disritmia. akreolin ◊ iritasi dan bronkokonstriksi saluran napas. Breathing c. Tanda distress napas. 5. Intoksikasi karbon monoksida (CO) Intoksikasi CO ◊ hipoksia jaringan. Keracunan asap yang toksik Akibat termodegradasi material alamiah dan material yang diproduksi ◊ terbentuk gas toksik (beracun). penurunan kesadaran. dapat diberikan cairan 2-4 cc/kg/ luas luka bakar. Sodium bicarbonate dapat ditambahkan pada ringer laktat sampai pH > 6. Cairan – elektrolit 2. 2. Monitor jarang dipergunakan. Disability-Pemeriksaan kesadaran GCS dan periksa pupil e. CARDIAC MONITORING 1. Kondisi potensial infeksi 4. Trauma panas langsung 17 Terhirupnya sesuatu yang panas. Airway – cervical spine. RESUSITASI 1. 1. Gejala • Sesak napas • Takipnea • Stridor • Suara serak • Dahak berwarna gelap (jelaga) Hati – hati kasus trauma inhalasi ◊ mematikan Mekanisme kerusakan saluran napas. b. Sputum tercampur arang 3. seperti jelaga dan bahan khusus menyebabkan kerusakan mukosa langsung pada percabangan trakeobronkial. produk dari bahan yang terbakar. 3. Periksa titik kontak b. misalnya hydrogen sianida. akulasi kapiler) PENANGANAN/SPECIAL MANAGEMENT A. Pada fase awal ◊ . PRIMARY SURVEY a. e. tersedak. ventricular fibrilasi. Luka bakar perioral. Takipea 7. Obstruksi jalan napas akan menjadi lebih hebat akibat trakealbronkitis dan edema. Pemeriksaan neurologist d. asystole dan aritmia diterapi sesuai Advanced Cardiac Live Support. III. Pemeriksaan dari kepala sampai kaki. Peningkatan kadar karboksihemoglobin (COHb) dapat dipakai untuk evaluasi berat / ringannya intoksikasi CO. urine output dipertahankan antara 75-100 cc/jam sampai tampak menjadi jernih. nitrogen klorida. Kalau didapatkan haemocromogen (myoglobin). patah tulang/dilokasi. 4. malas bernapas dan adanya wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau tenggorokan (iritasi mukosa) 6. Riwayat terjebak dalam rumah/ ruangan terbakar 2. Gejala distress napas. Pemeriksaan traumalain. Kalau perlu dipasang endotrakeal intubasi. C. Pakaian dan perhiasan dibuka a. Status nutrisi / gizi Luka bakar dengan trauma inhalasi • Pada kebakaran dalam ruangan tertutup (in door) • Luka bakar mengenai daerah muka / wajah • Dapat merusak mukosa jalan napas • Edema laring ◊ hambatan jalan napas. D.pembuluh darah di sepanjang bagian tubuh yang dialiri listrik (trombosis. mulut atau tenggorokan. Exposure-cegah penderita dari hipotermi. bibir. 2. Sesak atau tidak ada suara. Gas CO memiliki afinitas cukup kuat terhadap pengikatan hemoglobin (210-240 kali lebih kuat di banding dengan O2) CO ◊ memisahkan O2 dari Hb ◊ hipoksia jarinagn. 2. KLINIS Kecurigaan adanya trauma inhalasi bila pada penderita luka bakar terdapat 3 atau lebih dari keadaan berikut : 1. Circulation d. c. 2. Keadaan luka bakarnya 3.

4. Pemantauan gejala dan tanda distress pernapasan. mual 20-40 % (sedang) lekas marah. Pemeriksaan radiologik (foto toraks) . 24 jam sampai 4-5 hari. Pemberian oksigen 2-4 liter / menit 3. Gejala obyektif : frekuensi napas meningkat (30-40 kali / menit). sesak napas. ataksia. Setelah 24 jam kejadian d. Intubasi / pipa endotrakeal. konvulsi atau koma. Selanjutnya sesuai kebutuhan 2. pusing. binggung. 2. pemeriksaan fungsi paru. Pemberian oksigen 2 – 4 liter /menit melalui trakeostomi. Humidifikasi dengan nebulizer. Riwayat kejadian 3. dengan atau tanpa kanul trakeostomi. Bila kadar COHb lebih dari 15 % setelah 3 jam kejadian ◊ bukti kuat terjadi taruama inhalasi. bahkan setelah 3 jam dari kejadian. dirawat di bed observasi 9.kerusakan saluran napas akibat efek toksik yang langsung terhirup Pada fase lanjut ◊ edema paru dengan terjadinya hpoksemia progresif ◊ ARDS 18 Korelasi tingkat keracunan CO / presentase COHb dengan kelainan neurologist Kadar Keracunan CO Kelainan Neurologis 10-20 % (ringan) sakit kepala. Gejala Obyektif : Frekuensi napas meningkat ( > 30 kali / menit). foto toraks 24 jam pasca kejadian. Foto Toraks ◊ biasanya normal pada fase awal 4. 2. Pemantauan gejala dan tanda distress pernapasan A. 8. PaO2 biasanya normal pada fase awal. Gas Darah PaO2 yang rendah (kurang dari 10 kPa pada konsentrasi oksigen 50%. Bronkoskopi Fiberoptic Bila terdapat sputum beraran. sianotik. Penghisapan secret secara berkala. 7. B. Pemeriksaan : 1. edema mukosa. Pembersihan secret saluran pernapasan secara berkala serta bronchial washing. Pemeriksaan radiologik (foto toraks) dikerjakan bila ada masalah pada jalan napas. aktivitas otot pernapasan tambahan. 5. 5. sesak napas (dispnea) B. Gejala Subyektif : gelisah. kadar COHb 35-45 % (berat). pada saat pertama kali (resusitasi) b. 4. tetapi dapat meningkat pada fase lanjut. 5. Diagnosa Trauma Inhalasi : 1. takipnea Pemeriksaan tambahan : 1. Gambaran hasil infitrat paru dijumpai > 24 jam samapi 4-5 hari. kadar COHb pada batas 20-25 %. sianotik. 6. 2. 3. Tes Fungsi paru Scan Paru Xenon ◊ tidak praktis. Pemeriksaan gad darh dan kadr COHb 4. Dilakukan trakeostomi dengan local anestesi. FiO2 = 0. C. 8 jam pertama c. Kecurigaan klinis 2. Pemberian bronkodilator (Ventolin ® inhalasi setiap 6 jam. perubahannilai hasil pemeriksaan analisis gas darah (8jam pertama . perubahan hasil pemeriksaan analisis gas darah 98 jam pertama). 3. Kadar karboksihemoglobin (COHb) Pada trauma inhalasi. Analisa gas darah a. lapangan penglihatan menyempit 40-60 % (berat) Halusinasi. Gejala subyektif : gelisah. stridor. Pelaksanaan di ruang resusitasi gawat darurat Dengan Distres Pernapasan Kasus ini diperlakukan secara khusus Untuk mengatasi masalah distress pernapasan yang dijumpai : 1.5) mencurigakan adanya trauma inhalasi. stridor. Pemberian bronkodilator (Ventolin ® inhalasi) 6. 7. Posisi penderita duduk/etengah duduk. aktivitas otot pernapasan tambahan. adanya bintik – bintik pendarahan dan ulserasi ◊ diagnosa trauma inhalasi. Dikonfirmasi dengan bronkoskopi fiberoptic 5. 19 PENATALAKSANAAN Tanpa Distres Pernapasan : 1. 20 A. Humidifikasi dengan nebulizer.

Untuk penanganan luka bakar perlu perlu diketahui fase luka bakar. Terminasi kehamilan akibat hipotensi. Daftar Pustaka : 1. barium. Perhatikan bila mengenai mata. Alkalis/Basa Hidroksida. Hilangkan ras nyeri 4. Bebaskan pakaian yang terkena 2. asam aksalat. Penatalaksanaan sejak awal harus sebaik – baiknya karena pertolongan pertama kali sangat menentukan perjalanan penyakit ini. 8. 2007 4. efek toksis terhadap ginjal dan liver. Penanganan Luka bakar. litium. Wim De Jong. David S. Luka Bakar dan kehamilan • Hati –hati terhadap komplikasi • Komplikasi pada ibu dan janin • Pada luka 60 % atau lebih menimbulkan terminasi spontan dari kehamilan. Segera dilakukan stabilisasi airway.dikerjakan bila masalah pernapasan telah diatasi. Sutomo Surabaya. Konsultasi dengan spesialis kandungan KOMPLIKASI 1.000 jenis kimia yang beredar. 9. factor fasilitas pelayanan dan faktor cideranya. R Sjamsuhidajat. petroleum. 2006 3. Persalinan premature 3. Perhatikan airway. Volume 4. Indenifikasi bahan penyebab. Rumah Sakit Dr.000 jenis yang berbahaya. Distress napas hipoksia dapat menimbulkan resistensi vaskuler pada uterus. 6. Penanganan Luka Bakar. • Di Amerika Serikat terdapat 500. mengurangiuterus blood flow dan oksigen ke janin menurun. sebagai desinfektan kimia yang dapat menyebabkankerusakana kutaneus. 2. Lama kontak 5. • Dilaporkan 2-6 % kejadian luka bakar karena bahan kimia Klafisikasi Bahan kimia : 1. Airlangga University Press. EGC. Pada penanganan luka bakar seperti penanganan trauma yang lain ditangani secara teliti dan sistematik. 7. Organic Compounds Fenol. Airlangga University Press. asam sulfat. 2006 . Kematian janin intrauterine KESIMPULAN Mengingat kasus luka bakar merupakan suatu cidera berat yang memerlukan penanganan dan penatalaksanaan yang sangat komplek dengan biaya yang cukup tinggi serta angka morbiditas dan mortalitas karena beberapa faktor penderita. derajat 22 kedalaman luka bakar. Penanganan selajutnya sama seperti penanganan luka bakar. Mekanisme trauma 21 Penatalaksanaan : 1. Pedoman Diagnosis dan Terapi. M Sjaifudin Noer. Berat / ringannya trauma tergantung : 1. breathing dan circulation 5. penyebab luka bakar. soda kaustik. Irigasi dengan air yang kontinu 3. Monitoring janin 4. hipoksia serta adanya gangguan cairan dan elektrolit. Luka Bakar Kimia. factor pelayanan petugas. Perdanakusuma. Lab/ Ilmu Bedah. kalium amoniak. Konsentrasi 3. kalsium atau bahan – bahan pembersih dapat menyebabkan liquefaction necrosis dan denaturasi protein. 3. 2. pembersih kamar mandi atau kolam renang dapat menyebabkan kerusakan coagulation necrosis. creosote. Buku Ajar Ilmu Bedah Penerbit Buku Kedokteran. luas luka bakar. kasus ini dirawat pada bed observasi dengan posisi duduk atau setengah duduk. Sekitar 30. bahan 2. Pelaksanaan di ruang resusitasi instalasi gawat darurat. 2006 2. Acids/Asam Asam hidroklorat. Hipoksia dapat terjadi pada ibu dan janin 2. Penatalaksanaan: 1. 3.

Luka bakar derajat tiga. Luka bakar derajat satu. Hipodermis atau jaringan subkutan. organ yang paling menderita saat luka bakar. lapisan kulit tempat bersemayamnya pembuluh darah besar dan sel sel saraf. Bagaimana sih klasifikasi luka bakar? Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan kedalaman lukanya. Luka bakar yang sangat dalam dan mengenai ketiga lapisan kulit. kemerahan dan inflamasi yang lebih parah. kulit juga bertindak sebagai dinding pertahahan tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus dari dunia luar. Kulit pada daerah luka bakar juga akan mati. Karena saraf dan pembuluh darah juga rusak maka luka bakar derajat tiga akan tampak keputihan. Kulit merupakan organ yang sangat penting dalam mengatur keseimbangan cairan dan suhu tubuh. Dermis. Kulit terasa sangat perih atau nyeri saat disentuh. Jika oleh karena suatu sebab kulit mengalami cidera maka fungsi fungsi tersebut akan mengalami gangguan. Lapisan ini memegang peranan penting dalam pengaturan suhu tubuh. Kulit juga tampak melepuh. pembuluh darah. luka bakar mengalami suatu proses yang dinamis artinya bisa saja saat ini luka bakar derajat satu tapi besoknya sudah berkembang menjadi derajat dua. Luka bakar derajat satu hanya mengenai lapisan luar kulit yang menimbulkan peradangan lokal pada daerah tersebut. Sunburn sering dimasukan dalam klasifikasi luka bakar ini. 2. ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu kulit. Luka bakar derajat dua. Jadi. dalamnya luka dan seberapa luas permukaan tubuh yang terimbas. lapisan kulit yang terdiri dari kolagen dan serat elastis. Tetapi secara umum dibagi menjadi 3 lapisan yaitu : 1. tempat bersemayamnya sel sel saraf. Luka bakar mengenai kulit yang lebih dalam dan menimbulkan rasa sakit. kemerahan dan pembengkakan ringan.Sebelum bicara lebih jauh tentang luka bakar. kerusakan yang diakibatkan oleh luka bakar nantinya terggantung pada lokasi luka. Anatomi kulit sangat komplek dan terdiri dari berbagai struktur yang berlapis lapis. Disamping itu. keras dan relatif tidak sakit. Epidermis. Uniknya. . Hal yang sama 3. kelenjar keringat dan folikel rambut. lapisan terluar dari kulit manusia. Peradangan yang terjadi ditandai dengan rasa nyeri.

Luas luka bakar dan lokasi luka pada tubuh diukur dengan prosentase. Pada semua derajat luka bakar. luasnya daerah luka juga penting artinya. jika luka bakar mengenai kedua kaki (18% x 2 = 36%). selangkangan (1%). proses peradangan atau inflamasi dan akumulasi cairan akan terjadi semenjak awal terjadinya luka bakar. • Kepala = 9% • • • • • • • Dada bagian depan = 9% Perut bagian depan = 9% Punggung = 18% Setiap tangan = 9% Setiap telapak tangan = 1% Selangkangan = 1% Setiap kaki = 18% Misal. dada depan dan perut depan maka total luasnya luka bakar adalag 55%.juga dapat terjadi pada luka bakar derajat dua yang dapat berkembang menjadi derajat tiga. Tubuh bagian mana sih yang paling parah bila kena luka bakar? Selain dalamnya luka bakar. Hanya lapisan epidermis kulit yang mampu mengalami proses regenerasi yang baik sementara bila luka bakar mengenai lapisan kulit yg lebih dalam maka akan menyebabkan kecacatan permanen dan jaringan parut yg pasti menganggu fungsi kulit. rusaknya kulit akan menyebabkan tubuh rentan kemasukan kuman. Rule of nines membagi tubuh manusia dewasa dalam beberapa bagian dan setiap bagian dihitung 9%. Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa salah satu fungsi kulit adalah sebagai dinding pelindung terhadap infeksi maka saat luka bakar. Pengukuran ini disebut rule of nines dan pada bayi dan anak anak dilakukan beberapa modifikasi. .

Perhitungan penggantian cairan per infus adalah sebagai berikut. Jika cairan yang hilang tidak segera diganti maka pasien dapat jatuh ke kondisi syok atau renjatan. Jika luka bakar mengenai wajah. hidung. mulut atau leher maka peradangan yang terjadi dapat menganggu kelancaran jalan nafas sehingga menimbulkan masalah pernafasan. Seberapa pentingkah lokasi luka bakar? Lokasi luka bakar pada tubuh sangat penting artinya. Pasien dengan luka bakar dibawah 20% biasanya akan sembuh dengan baik. .Hanya luka bakar derajat dua dan tigalah yang dihitung menggunakan rule of nine. sementara luka bakar derajat satu tidak dimasukan sebab permukaan kulit relatif bagus sehingga fungsi kulit sebagai regulasi cairan dan suhu masih baik. sebaliknya mereka yang mengalami luka bakar lebih dari 50% akan menghadapi resiko kematian yang tinggi. • 4cc/KgBB/% luka bakar = kebutuhan cairan permulaan dalam 24 jam yang setengahnya diberikan pada 8 jam pertama. Semakin luas atau besar prosentase luka bakar maka resiko kematian juga semakin besar. Jika luas luka bakar lebih dari 15 – 20% maka tubuh telah mengalami kehilangan cairan yang cukup signifikan.

4. Cincin. Jika luka bakar dicurigai agak dalam dan berbahaya segeralah ke dokter. 2. Bila perlu.Jika luka bakar melingkar pada dada lalu karena proses luka bakarnya menyebabkan jaringan otot otot dada terhambat gerakannya maka proses pergerakan dada saat bernafas akan terganggu. Jika luka bakar mengenai persendian tangan atau kaki. Pindahkan korban dari daerah kebakaran. jari jemari tangan atau kaki maka dapat terjadi kerusakan pembuluh darah sehingga aliran darah ke bagian ujung organ tersebut akan bermasalah. bila penanganan tidak bagus maka ketika sembuh kecacatan yang terjadi akan menganggu pergerakan sendi tersebut. kaki. Jangan coba coba menyiram atau mengompress korban dengan air dingin sebab sangat berbahaya dan dapat menyebabkan hipotermi. bersihkan daerah luka bakar dengan kasa bersih. Luka bakar pada daerah wajah. tangan dan kaki harus selalu diwaspadai sebagai luka bakar berat meskipun hanya disebabkan oleh terbakar sinar matahari. Apa saja yang harus dilakukan saat menghadapi orang dengan kena luka bakar? Untuk luka bakar luas (derajat dua dan tiga) 1. Jika tersedia. vaksinasi tetanus dapat diberikan. kopi mentega atau yang sejenisnya untuk mengobati • • • • • • • • • luka bakar. Ingat untuk tetap menjaga keselamatan diri sendiri. • Jangan gunakan pasta gigi. Telepon ambulance terdekat untuk memindahkan korban ke rumah sakit terdekat. Saat korban telah berada di daerah aman. Leukemia Si Kanker Darah Tips Memutihkan Kulit Tips Mencegah Kesalahan Medis/Malpraktek Tanya Jawab Tentang Jerawat Cara Mudah Mengurangi Konsumsi Garam Baca Juga . 3. Untuk luka bakar ringan (derajat satu atau derajat dua dengan luas area yang kecil) • Bersihkan luka dengan air hangat suam suam kuku. usahakan korban tetap dalam keadaan nyaman dan jangan banyak bergerak. Bersihkan korban dari semua material yang terbakar dari tubuhnya. Untuk luka bakarnya dapay diolesi salep antibiotika. kalung dan semua benda yang tidak penting sebaiknya disingkirkan. Jika luka bakar melingkar pada tangan.

Posisi terlentang dalam pembiusan 3. Tehnik Operasi debridement 1.Tidak tersedia donor yang cukup untuk menutup permukaan terbuka (raw surface) yang timbul. Definisi Suatu tindakan eksisi pada luka bakar yang bertujuan untuk membuang jaringan nekrosis maupun debris yang menghalangi proses penyembuhan luka dan potensial terjadi/berkembangnya infeksi.Ruang Lingkup Luka bakar c. Hal in terjadi akibat sekresei cairan terus menerus yang dapat diatasi dengan dibersihkan secara hati-hati.Gangguan pada proses pembekuan darah . • Perdarahan. serum elektrolit. merah. Bila perlu dapat dikoreksi dengan eksisi ulang. dan dapat dilakukan tindakan ulangan sesuai kebutuhan. e. Biasanya kista ini dapat pecah sendiri. b. tergantung dari variasi kedalaman eksisi. sehingga merupakan tindakan pemutus rantai respon inflamasi sistemik dan maupun sepsis. Indikasi Operasi Debridement luka bakar diindikasikan pada luka bakar yang dalam misalnya luka bakar deep-dermal dan subdermal. • Stepping pada tepi graft. ditutup tulle dan diatasnya diberi Silver Sulfadiazin (SSD)/ Dermazin/ Burnazin 7. serum albumin. analisa gas darah (untuk penderita luka bakar dengan kecurigaan trauma inhalasi). Hal ini terjadi akibat tertahannya folikel rambut. Diagnosis banding (tidak ada) f. Bebat tebal diseluruh area luka bakar Komplikasi Operasi • Pembentukan kista. tes fungsi hati. kecoklatan.Kondisi fisik yang tidak memungkinkan . Perdarahan dapat dicegah dengan menggunakan torniket dan melakukan .Laboratorium: darah lengkap. Luka bakar yang dalam ini ditandai dengna permukaan yang keputihan. Kista sebaseus ini dapat muncul sekitar 4 minggu postoperasi dan dapat tumbuh hingga diameternya 20mm. namun pada kasus yang cukup berat akan membutuhkan tindakan bedah. Kontraindikasi Operasi .DEBRIDEMENT LUKA BAKAR a. • Titik-titik kehitaman pada kulit.Foto dada . Pemeriksaan Penunjang . kuning atau bahkan kehitaman dan tidak adanya capillary refill ataupun sensibilitas kulit. Keringkan dengan kasa steril 6. • Epithelial bridging. tes fungsi ginjal. d. Hal ini dapat disebabkan oleh sumbatan dari duktus atau kelenjar adneksa. pada pertemuan graft dan kulit normal. kemudian bilas kembali dengan PZ 5. Bilas dengan savlon. Informed consent 2. Beri betadine (kecuali daerah wajah). Kedalaman dari step bervariasi. Cuci luka dengan Normal Saline (PZ) sambil dilakukan nekrotomi & bullektomi hingga bersih (debridement) 4. Tindakan ini dilakukan seawal mungkin.

Perawatan pasca prosedur debridement Balutan awal harus dipertahankan selama 3-7 hari. • Infeksi Mortalitas Tergantung luas dan derajat luka bakar. Ketika melepaskan balutan. lemak dan folikel rambut masih banyak. • Dalam luka bakar o Tingkat I Hanya mengenai epidermis o Tingkat II Dibagi menjadi: A. biasanya penilaian hasil. atasi dengan membuat insisi kecil pada daerah yang paling menonjol dan keluarkan isinya. dalam 24-48 jam pertama pasca bedah dapat dilakukan pergantian balutan. Elemen-elemen epitelial yaitu dinding dari kelenjar keringat.elevasi ekstremitas bersangkutan. arus listrik atau bahan kimia yang mengenai kulit. Superfisial. PERAWATAN LUKA BAKAR a. Karenanya penyembuhan/ epitelialisasi akan mudah dalam 1-2 minggu tanpa terbentuk cicatrix . mukosa dan jaringan-jaringan yang lebih dalam. sekaligus penggantian balutan dapat dikerjakan dalam waktu 5-7 hari pasca bedah. Sebaliknya. Dalam pengelolaan luka bakar perlu diketahui baik luas maupun dalanya luka bakar. Dalam dan Luas Luka Bakar Luka bakar dapat disebabkam oleh panas. Follow-up Bila proses eksudasi tidak berlebihan. basah dan komplikasi lain yang dapat muncul. Makin luas makin tinggi mortalitasnya. terlihat sebagai balutan yang jenuh. dengan eksudasi yang berlebihan. Apabila terdapat hematoma atau seroma pada saat ganti balutan. berbau. mengenai epidermis dan lapisan atas dari corium. kecuali timbul rasa sakit. perlengketan diatasi dengan normal saline untuk mengurangi perlengketan.

Morphin diberikan dalam dosis 0. • Luas Luka Bakar Wallce membagi tubuh atas bagian-bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama Rule of Nine.Luka bakar tingkat I tidak memerlukan pengobatan khusus. Pengelolaan Luka Bakar Prioritas pengelolaan penderita luka bakar secara umum perlu dierhatikan seperti pengelolaan penderita trauma pada umumnya yaitu. Dalam. lalu lukanya dibilas dengan cairan yang mengandungdesinfektan seperti sabun cetrimid 0. Ringer lakatat dan koloid diberikan bersama dalam botol yang sama. Kulit-kulit yang mati dibuang. • Terapi Cairan Orang dewasa dengan luka bakar tingkat II-III 20 % atau lebih sudah ada indikasi untuk pemberian infus karena kemungkinan timbulnya syok.5% (savlon) atau Kalium permanganat. o Tingkat III Mengenai seluhur tebal kulit.B. • Perawatan luka • Perawatan pertama .05 mg/Kg (iv). .Segera setelah terbakar. Sedangkan pada orang tua dan anakanak batasnya 15%. penderita dibersihkan seluruh tubuhnya. penyembuhan lebih lama 3-4 minggu dan disertai pembentukan parut hipertropi. Formula yang dipakai untuk pemberian cairan adalah formula menurut Baxter. suatu estimasi yang kasar. Airway. dinginkan luka dengan air dingin. Luka bakar yang lebih dalam dari kulit seperti sub kutan dan tulang dikelompokanjuga pada tingkat III. kuku-kuku dipotong. yang terbaik dengan temperatur 20oC selama 15 menit . rambutnya dikeramasi. Dalam 8 jam pertama diberikan ½ jumlah total ciran dan dalam 16 jam berikutrnya diberikan ½ jumlah total cairan. Breathing. Formula Baxter terhitung dari saat kejadian maka (orang dewasa): • 8 jam pertama ½ (4cc x KgBB x % luas luka bakar) Ringer Laktat • 16 jam berikutnya ½ (4cc x KgBB x % luas luka bakar) Ringer Laktat ditambah 500-1000cc koloid. bullae dibuka karena kebanyakan cairan di dalamnya akan terinfeksi • Perawatan Definitif . sisa-sisa jaringan epitelial tinggal sedikit. Formula tersebut hanyalah suatu pedoman. • Pengelolaan Nyeri Nyeri yang hebat dapat menyebabkan neurogenik syok yang terjadi pada jam-jam pertama setelah trauma.Luka bakar tingkat II dan III. Modifikasi Formula Baxter untuk anak-anak adalah: • Replacement : 2cc/ KgBB/ % luas luka bakar • Kebutuhan faali : Umur sampai 1 tahun 100cc/ KgBB Umur 1-5 tahun 75cc/ KgBB Umur 5-15 tahun 50cc/ Kg BB________+ Total Cairan Sesuai dengan anjiuran Moncrief maka 17/20 bagian dari total cairan diberikan dalam bentuk larutan Ringer Laktat dan 3/20 bagian diberikan dalam bentuk koloid. Jangan sekalikali fanatik terhadap formula tersebut melainkan selalu dikoreksi melalui tanda-tanda klinis penderita dan laboratorium apakah cairan yang diberikan sudah memadai. tidakada lagi sisa elemen epitelial. dan Circulation. dibersihkan dan diberi analgetika saja.

. .Perawatan Semi terbuka Sama seperti perawatan terbuka tetapi diberikan juga obat-obatan lokal. • Mandi . • Antibiotika Sistemik .Dukungan nutrisi yang baik sangat membantu penyembuhan luka bakar Komplikasi Luka Bakar . ditutup dengan selapis kain steril berlubang-lubang (tulle) yang mengandung vaselin dengan atau tanpa antibiotika lalu dibebat tebal untuk mencegah evaporasi dan melindungi kulit dari trauma dan bakteri.Perawatan tertutup Setelah luka bersih.Syok karena kehilangan cairan . Obat lokal berberntuk krim yang akan melunakkan eschar dan memudahkan perawatan untuk dibersihkan.Skin grafting sangat penting untuk penderita untuk mempercepat penyembuhan. mengurangi kehilangan cairan. baik luka. • Skin Grafting . tetapi bakteri gram negatif seperti pseudomonas sangat invasif dan banyak menimbulkan sepsis. Penyembuhan akan berlangsung dibawah eschar. Sendi-sendi ditempatkan pada posisi full extension.Fase Subakut: infeksi dan sepsis .Gagal jantung karena Myocardial Depressing Factor .Silver sulfadiazin krim 1% diberikan sehari sekali. Silver sulfadiazin bekerja sebagai bakterisida yang efektif terhadap kuman gram positif. dermatom.Fase Akut: syok. darah maupun urine. Generasi ketiga khususnya ceftazidim mempunyai efektifitas besar terhadap pseudomonas.Perawatan Terbuka Eksudat yang keluar dari luka beserta debris akan mengering akan menjadi lapisan eschar.Antibiotika pilihan adalah cephalosporin generasi pertama (cefazolin. Oleh karena itu antibiotika sistemik digunakan bila timbul gejala sepsis. . Karena banyaknya jaringan nekrotik pada luka bakar maka penetrasi antibiotika sistemik ke luka tidaklah meyakinkan. • Nutrisi .Badan penderita setiap 1-2 hari setelah resusitasi selesai harus dibersihkan dari kotoran yang melekat dengan memandikannya.000).Fase Lanjut: parut hipertropik Mortalitas Mortalitas pada luka bakar disebabkan oleh: . Escharotomi pada perawatan terbuka umumnya dikerjakan pada minggu kedua dengan cara eksisi memakai pisau. Penderita dirawat di dalam ruangan isolasi. Setiap eschar yang pecah harus diberikan obat-obatan lokal dan dikontrol bila ada penumpukan pus dibawah eschar maka haru dilakukan pempukaan eschar (escharotomi). gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit . • Obat-obatan lokal .Bakteri yang berada pada luka umumnya gram positif dan hanya berkembang setempat. elektro eksisi atau enzimatik (kolagenase).Gagal ginjal akut . cephapirin dan cephalotin).Sepsis .. Macam antibiotika ditentukan dari kultur dari bagian yang terinfeksi. Luka dibilas dengan cairan yang mengandung desinfektan (savlon 1:30 atau Kalium Permanganat 1:10.

.Komplikasi lain seperti pneumonia Perawatan dan Follow up Rehabilitasi • Peletakan sendi harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kontraktur • Fisioterapi sangat diperlukan untuk mencegah kekakuan .