P. 1
PTK-Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivisme Pada Kompetensi Dasar Geometri Di SD Berdasarkan Kurikulum 2006

PTK-Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivisme Pada Kompetensi Dasar Geometri Di SD Berdasarkan Kurikulum 2006

4.38

|Views: 17,616|Likes:
Published by Eka L. Koncara
Read online only... Lebih lanjut ke: ka_koncara@yahoo.co.id
Read online only... Lebih lanjut ke: ka_koncara@yahoo.co.id

More info:

Published by: Eka L. Koncara on Jul 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2015

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional dijelaskan fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional adalah : Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UUD RI, No 20, SISDIKNAS, 2003 : 7) Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup serta menyesuaikan diri dan berhasil dalam kehidupan. Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian siswa, sehingga banyak siswa yang kurang antusias dan semangat mengikuti pelajaran matematika, sehingga hasil belajar matematika biasanya di bawah rata-rata. Masalah lain yang timbul pada pembelajaran

matematika diantaranya masih rendahnya minat belajar matematika siswa, siswa

2

cenderung merasa takut apabila akan belajar matematika, siswa merasa bosan dengan angka-angka yang menakutkan, siswa menganggap pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang kurang menyenangkan atau kurang menarik. Dari permasalah di atas akan banyak menimbulkan dampak yang kurang baik dari siswa diantaranya siswa menjadi malas untuk belajar matematika, siswa merasa tidak termotivasi untuk belajar matematika bahkan ada siswa yang takut untuk belajar matematika sehingga menimbulkan keberhasilan belajar matematika semakin menurun dan cenderung hasil belajar siswa di bawah rata-rata. Keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar mata pelajaran Matematika sangat ditentukan oleh beberapa faktor. Diantaranya dalam pengajaran matematika, penyampaian guru cenderung bersifat monoton, hampir tanpa variasi kreatif, kalau saja siswa ditanya ada saja alasan yang mereka kemukakan seperti matematika sulit, tidak mampu menjawab, takut disuruh guru ke depan dan sebagainya.. Hal ini disebabkan karena guru dalam pembelajarannya di kelas kurang mengaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika. Hasil pembelajaran juga bukan saja tergantung pada situasi pembelajaran, tetapi juga pada pengetahuan dasar yang dimiliki oleh siswa. Banyak sekali upaya yang dilakukan oleh para praktisi pendidikan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar diantaranya menerapkan dan memperkenalkan berbagai metode dan model pembelajaran serta penggunaan alat peraga dalam suatu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.

3

Salah satu model pembelajaran matematika adalah Model pembelajaran konstruktivisme merupakan suatu penjelasan bagaimana peserta didik belajar dan dapat membina pemahaman yang bermakna tentang alam sekeliling mereka. Konstruktivisme merupakan landasan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi peserta didik harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dalam model pembelajaran konstruktivisme siswa dituntut untuk mengkonstruksi pengetahuan matematika mereka secara aktif sedangkan peranan guru sendiri hanya sebagai moderator dan fasilitator. Sebagai moderator artinya guru hanya menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam membuat rancangan proses penelitian, sedangkan guru sebagai fasilitator adalah guru hanya menyediakan atau memberikan kegiatankegiatan yang merangsang keingin tahuan siswa, membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka. Menyediakan sarana dan merangsang siswa berfikir produktif, dan guru harus menyemangati siswa. Berdasarkan kajian-kajian di atas maka dianggap perlu menerapkan model pembelajaran konstruktivisme pada siswa Sekolah Dasar, sehingga dapat menumbuh kembangkan cara berpikir logis, kritis dan sistematis. Pembelajaran tersebut akan diterapkan pada pokok bahasan geometri, sebab pada pokok bahasan tersebut banyak siswa yang mengalami kesulitan dengan pemahamannya. Untuk

4

itu perlu kiranya dilakukan penelitian tindakan kelas dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Konstruktivisme Pada Kompetensi Dasar Geometri di SD Berdasarkan Kurikulum 2006.

B. Rumusan Masalah Yang menjadi pokok permasalah dalam penelitian ini adalah rendahnya minat belajar siswa dalam metematika khususnya pada geometri bangun ruang sehingga menimbulkan kurang oftimalnya hasil belajar siswa yang cenderung di bawah nilai rata-rata. Agar kajian permasalah ini tidak terlampau meluas, kajian ini dibatasi pada keberhasilan penerapan model pembelajaran konstruktivisme pada

kompetensi dasar geometri di SD berdasarkan kurikulum 2006. Sedangkan yang menjadi subjek penelitian adalah siswa Kelas V semester 2 SD Negeri I Gandasoli. Selanjutnya dari rumusan masalah tersebut dapat dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas V di SD Negeri I Gandasoli sebelum menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme? 2. Bagaimana aktivitas dan minat belajar matematika siswa kelas V di SD Negeri I Gandasoli untuk mengembangkan pengetahuannya menggunakan Model Pembelajaran 3. Konstruktivisme ? dengan

Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri I Gandasoli setelah menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme?

5

C. Tujuan Penelitian Ada dua tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu : 1. Tujuan Umum Secara umum tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui keberhasilan penerapan model pembelajaran konstruktivisme pada pokok bahasan geometri di SD berdasarkan kurikulum 2006 terhadap peningkatan minat dan hasil belajar siswa. 2. Tujuan Khusus Sesuai dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan secara khusus yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah : a. Mengidentifikasi hasil belajar matematika siswa Kelas V SDN I Gandasoli pokok bahasan geometri bangun ruang pembelajaran konstruktifisme. b. Mengetahui aktivitas dan minat siswa dalam belajar dengan menggunakan model pembelajaran konstruktivisme. c. Mengidentifikasi hasil belajar matematika siswa kelas V SDN I Gandasoli pada geometri bangun ruang setelah menggunakan model pembelajaran konstruktivisme sebelum menggunakan model

6

D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharafkan dapat bermanfaat untuk : 1. Penulis Untuk dijadikan pengalaman dalam upaya meningkatkan motivasi mengajar di masa yang akan datang. 2. Guru Kelas Untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam mengembangkan kreatifitas mengajar yang lebih berkualitas dan sebagai motivasi untuk meningkatkan profesionalisme guru. 3. Siswa Kelas V SD Negeri I Gandasoli Untuk memotivasi siswa dalam belajar sehingga menjadi siswa yang lebih aktif dan kreatif dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan hasil belajar .

E. Klarifikasi Konsep 1. Model Pembelajaran Konstruktivisme Model Pembelajaran Konstruktivisme lebih memfokuskan pada

kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. bukan kepatuhan siswa dalam merefleksikan atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi Adapun tahap-tahap pembelajaran dalam Model Pembelajaran Konstruktivisme adalah sebagai berikut :

7

a.

Tahap Pertama Guru mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong siswa mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas.

b.

Tahap Kedua Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menyelidiki dan menemukan konsep yang akan dibahas dengan bantuan LKS.

c.

Tahap Ketiga Siswa diberi kesempatan untuk melaporkan hasil diskusi kelompok di depan kelas, kemudian guru memberikan penguatan terhadap konsep hasil temuan siswa.

d.

Tahap Keempat Siswa diberi masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena di lingkungannya yang harus dipecahkan.

2. Hasil Belajar Dalam proses belajar mengajar ada sesuatu yang kita harafkan yang biasa disebut dengan hasil belajar, hasil belajar yang didapat siswa penting sekali untuk diketahui guru agar dapat merancang/mendesain pengajaran secara tepat.. Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur oleh berapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa, di samping diukur dari segi prosesnya. Howard Kingsley (Nana Sudjana,2002 : 45) “membagi tiga macam hasil belajar, yakni : (a) Keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian,

8

(c) sikap dan cita-cita., yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah.” Dan menurut Gagne (Suprayekti , 2003 : 5) “mengklasifikasikan hasil belajar menjadi lima kategori yaitu informasi verbal, kemahiran intelektual, strategi kognitif yang termasuk ranah kognitif, sikap dari ranah afektif dan keterampilan motorik dari ranah psikomotor.” Sedangkan menurut Bloom (Nana Sudjana , 2002 : 46) bahwa :” Tujuan pendidikan yang hendak kita capai digolongkan atau dibedakan (bukan dipisahkan) menjadi tiga bidang, yakni : (a) bidang kognitif, (b) bidang afektif, dan (c) bidang psikomotor. Masing-masing bidang dibagi lagi menjadi bebrapa tingkatan.” Dari konsep-konsep di atas dapat disimpilkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang diperoleh dari hasil interakti siswa dengan lingkungannya yang sengaja direncanakan oleh guru dalam perbuatan

mengajarnya yang dituangkan dalam rencana pembelajaran. Hasil belajar dapat berupa pengetahuan atau perubahan tingkah laku.

9

BAB II KAJIAN TEORITIS

A. Belajar Mengajar 1. a. Pengertian Belajar Mengajar Pengertian Belajar Menurut Bloom,dkk (Suprayekti 2003:4) „belajar secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungan. Proses perubahan perilaku ini tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi ada yang disengaja dan direncanakan dan ada yang dengan sendirinya terjadi karena proses kematangan. Proses yang sengaja direncanakan agar terjadi perubahan perilaku ini disebut proses belajar. Proses ini merupakan suatu aktivitas psikis/mental yang berlangsung dalam interakti aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan yang relatif konstan dan berbekas. Perubahan-perubahan perilaku ini merupakan hasil belajar yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor‟. Crow and Crow (Surya, 1996 : 22), menyatakan bahwa : „Belajar adalah

memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Hal tersebut, meliputi caracara baru untuk melakukan suatu usaha penyesuaian diri terhadap sesuatu yang baru. Belajar menunjukkan adanya tingkah laku yang progresif, dan memberi kemungkinan untuk memuaskan kebutuhan dalam mencapai tujuan. Selanjutnya, menurut Crow and Crow pula bahwa, “belajar dapat bersifat vertikal maupun horizontal.” Menurut H.C. Witherington (Usman, dkk 1993 : 5) mengemukakan bahwa : „Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku di dalam kepribadian yang menyatakan diri

10

sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan keperibadian atau suatu pengertian‟. Pendapat serupa dikemukakan oleh Gagne (Hernawan, dkk 2007 : 62) mengemukakan bahwa „Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku manusia atau kemampuan yang dapat dipelihara yang bukan dari proses pertumbuhan. Hal itu ditunjukkan dari perubahan tingkah laku yang dapat diamati yang terjadi berdasarkan syarat-syarat tertentu yang dapat diamati pula. Belajar disebut juga suatu proses krena secara formal dapat dibandingkan dengan proses organik lainnya sperti pencernaan dan pernapasan‟. Dari definisi-definisi belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada seseorang baik perubahan sikap, kepribadian, kebiasaan-kebiasaan maupun pengetahuan sebagai akibat dari interaksi antara peserta didik dan pendidik atau proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan terlebih dahulu atau berdasarkan kematangan seseorang. b. Pengertian Mengajar Mengajar menurut Jerome S. Brunner (Usman, dkk: 1993 : 5) mengemukakan bahwa : “Mengajar adalah menyajikan ide, problem, atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa.” Sedangkan Sudjana (2002:29) berpendapat bahwa Mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yakni proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses meberikan bimbingan/bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah proses mengatur dan mengorganisir keadaan ruang belajar dalam menyampaikan ide, problem atau

11

pengetahuan sehingga tercipta ruangan belajar yang tidak membosankan siswa sehingga akan menumbuhkan dan mendorong siswa untuk melakukan proses belajar mengajar. Dari konsep-konsep belajar dan mengajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bersifat interaktif dari berbagai komponen untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam perencanaan pembelajaran.

2.

Teori-teori Belajar Matematika

a. Teori Ausubel Ausubel terkenal dengan teori belajar bermaknanya. Ia membedakan antara belajar menemukan dengan belajar menerima. Pada belajar menerima siswa hanya menerima, jadi tinggal menghapalkannya. Sedangkan pada belajar menemukan konsep ditemukan oleh siswa, jadi tidak menerima pelajaran begitu saja. Pada belajar menghapal siswa menghapalkan materi yang sudah diperolehnya. Sedangkan Pada belajar

bermakna, materi yang telah diperoleh itu dikembangkan dengan keadaan lain sehingga belajarnya lebih dimengerti (Suwangsih, 2006:78). Pada saat metode penemuan dianggap sebagai suatu metode mengajar yang baik karena bermakna, dan sebaliknya metode ceramah adalah metode yang merupakan belajar menerima, Ausubel menentang pendapat itu. Ia berpendapat bahwa dengan metode penemuan maupun metode ceramah bisa menjadi belajar menerima atau belajar bermakna tergantung situasinya. Selanjutnya Ausubel mengemukakan bahwa metode ekspositori adalah metode mengajar yang paling baik dan bermakna. Hal ini ia kemukakan berdasarkan penelitiannya.

12

b. Teori Piaget Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar kontruktivisme adalah Teori Perkembangan Mental Piaget . Teori ini biasa disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri–ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Perkembangan mental setiap pribadi anak melewati empat tahap, yaitu : 1). Tahap Sensori Motor (Senspry Motoric Stage) Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisik (Gerakan anggota tubuh) dan sensori (Koordinasi alat indera). Pada mulanya pengalaman itu bersatu dengan dirinya, ini berarti bahwa suatu objek itu ada bila ada pada penglihatannya. Perkembangan selanjutnya ia mulai berusaha untuk mencari objek yang asalnya terlihat kemudian menghilang dari pandangannya, asal perpindahan terlihat. Akhir dari tahap ini ia mulai mencari objek yang hilang bila benda tersebut tidak terlihat perpindahannya. Objek mulai terpisah dari dirinya, bersamaan dengan itu konsep objek dalam struktur kognitif mulai matang. Ia mulai mapun untuk melambungkan objek fisik ke dalam simbol misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan. 2). Tahap Pra Operasional (Pre Operational Stage) Tahap ini adalah tahap persiapan untuk pengorganisasian opersi konkrit. Istilah operasi yang digunakan Piaget di sisni adalah berupa tindakan-tindakan kognitif, seperti mengklasifikasikan sekelompok objek (Classifying), menata letak benda-benda menurut urutan tertentu (Seriation), dan membilang (Counting). Pada tahap ini pemikiran anak

13

lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit dari pada pemikiran logis, sehingga jika ia melihat objek-objek yang kelihatannya berbeda, maka ia mengatakan berbeda pula. 3). Tahap Operasi Konkrit (Concrete Operational Stage) Umumnya nak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit. Kemampuan ini terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengkalasifikasi dan serasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda secara objektif, dan mampu berfikir reversible. Piaget mengidentifikasi adanya enam jenis konsep kekekalan yang berkembang selama anak berada pada tahap operasi konkrit, yaitu : a). Kekekalan banyak (6-7 tahun) b). Kekekalan materi (7-8 tahun) c). Kekekalan panjang (7-8 tahun) d). Kekekalan luas (8-9 tahun) e). Kekekalan berat (9-10 tahun) f). Kekekalan Volum (11-12 tahun) 4). Tahap Opersi Formal (Formal Operation Stage) Pada tahap ini anak mulai mampu berfikir secara abstrak, dia dapat menyusun hipotesis dari hal-hal yang abstrak menjadi real, dan tidak terlalu bergantung pada bendabenda kongkrit. Piaget menekankan bahwa belajar mengajar merupakan suatu proses asimilasi dan akomodasi informasi ke dalam struktur mental. Asimilasi adalah proses terpadunya informasi dan pengalaman baru ke dalam struktur mental. Sedangkan akomodasi adalah hasil perubahan pikiran sebagai suatu akibat adanya informasi dan pengalaman baru. Mereka secara aktif mencoba menerima ide baru itu dalam kaitannya dengan pengalaman dan ide-ide lama yang sudah ada. Suatu istilah umum untuk teori belajar Piaget adalah

14

Construktivism, karena keyakinan bahwa para siswa pasti mengkonstrukti pikiran mereka sendiri dan bukan menjadi penerima informasi yang bersifat pasif. c. Teori Vygotsky Menurut Vygotsky (Suwangsih, 2006:114) dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial. Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky yaitu Zone of Proximal Development ( ZPD) dan Scaffolding. Zone of Proximal Development ( ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah dibawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu. Scaffolding merupakan sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia melakukannya. Scaffolding merupakan bantuan-bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri. d. Teori Bruner Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa belajar matematika berhasil jika proses pengajaran diarahkan kepada konsep-konsep dan struktur-struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan, di samping hubungan yang terkait antara konsep-konsep danstruktur-struktur. Bruner, melalui teorinya itu, mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya duberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat perag). Melalui alat peraga yang ditelitinya itu anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola

15

struktur yang terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya. Keteraturan tersebut kemudian oleh anak dihubungkan dengan keterangn intuitif yang telah melekat pada dirinya. Bruner mengemukakan bahwa dalam proses belajarnya anak melewati 3 tahap, yaitu : 1). Tahap Enaktif 2). Tahap Ikonik Selain itu Bruner mengemukakan 4 dalil yang berhubungan dengan pengajaran matematika yaitu : 1). Dalil penyusunan 2). Dalil notasi 3). Dalil pengontrasan 4). Dalil penyertaan 3. Anak Usia SD dalam Pembelajaran Matematika di SD Suwangsih (2006:15) mengatakan bahwa : Anak usia SD adalah anak yang berada pada usia sekitar 7 sampai 12 tahun. Menurut Piaget anak usia sekitar ini masih berpikir pada tahap operasi konkrit artinya siswa SD belum berpikir secara formal. Ciri-ciri anak-anak pada tahap ini dapat memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit. Sebagaimana kita ketahui, matematika adalah ilmu deduktif, formal, hierarki dan menggunakan bahasa simbol yang memiliki arti yang padat. Karena ada perbedaan karakteristik antara matematika dengan anak usia SD, maka matematika akan sulit dipahami oleh anak SD jika diajarkan tanpa memperhatikan tahap berpikir anak SD. Seorang guru hendaknya mempunyai kemampuan untuk menghubungkan antara dunia anak yang belum dapat berpikir secara deduktif agar dapat mengerti matematika yang bersifat deduktif.

16

Matematika merupakan ilmu dengan objek abstrak dan dengan pengembangan melalui penalaran deduktif telah mampu mengembangkan model-model yang merupakan contoh dari sistem itu yang pada akhirnya telah digunakan untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika juga dapat mengubah pola pikir seseorang menjadi pola pikir yang matematis, sistematis, kritis dan cermat. Tetapi sistem matematika ini tidak sejalan dengan tahap perkembangan mental anak. Faktor lain yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran matematika, selain bahwa tahap perkembangan berpikir siswa SD masih bersifat konkrit adalah adanya keanekaragaman intelegensi siswa SD. Matematika yang dipelajari oleh siswa SD dapat digunakan oleh mereka dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkungannya, untuk membentuk pola pikir yang logis, sistematis, kritis dan cermat yang pada akhirnya dapat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lain. 4. Meningkatkan Minat Belajar Matematika pada Anak Minat belajar merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan proses pembelajaran matematika. Minat yang timbul dari kebutuhan anak merupakan faktor yang penting bagi anak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Oleh karena itu minat belajar anak harus diperhatikan dengan baik. Dengan adanya minat belajar pada anak dapat memudahkan membimbing dan mengarahkan anak untuk belajar matematika. Dengan demikian anak tidak perlu lagi mendapat dorongan dari luar jika belajar yang dilakukannya cukup menarik minatnya. Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran hendaknya berusaha sedapat mungkin untuk membangkitkan minat belajar pada anak. Berbagai cara dapat digunakan untuk membangkitkan minat belajar pada anak, misalnya dengan memperkenalkan kepada anak berbagai kegiatan belajar pada anak, seperti bermain sambil belajar,

17

menggunakan alat peraga, menggunakan bermacam-macam metode pembelajaran, atau dengan mengaitkan pembelajaran matematika dengan dunia anak. Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan minat belajar anak SD dalam belajar matematika (Suwangsih, 2006:16-18) : a. Menyesuaikan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan dunia anak, misalnya dengan memanfaatkan lingkungan sekitar. b. Pembelajaran dilakukan dari hal yang mudah ke yang sukar atau dari konkrit ke abstrak. c. Menggunakan alat peraga d. Pembelajaran sebaiknya dapat membangkitkan aktivitas anak e. Semua kegiatan belajar harus kontras 5. Upaya Meningkatkan Prestasi Anak dalam Pembelajaran Matematika Untuk dapat meningkatkan prestasi anak dalam pembelajaran matematika, salah satu faktor penunjang adalah adanya proses belajar yang efektif (Suwangsih, 2006:18). Kedewasaan manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu merupakan hasil belajar. Perubahan tersebut dapat berupa dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa dan sebagainya. Proses belajar matematika di sekolah maupun dirumah akan berlangsung dengan efektif jika guru dan orang tua mengetahui tugas apa yang harus dilaksanakan dalam proses belajar matematika. Sifat-sifat proses belajar matematika (Suwangsih, 2006:18) antara lain : a. Belajar matematika merupakan suatu interaksi antara anak dengan lingkungan. Dari lingkungannya anak memilih apa yang ia butuhkan dan apa yang dapat ia pergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Menyediakan lingkungan belajar matematika yang kaya dengan stimulus berarti membantu anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya. b. Belajar berarti berbuat Belajar matematika adalah suatu kegiatan, dengan bermain, berbuat, bekerja dengan alat-alat. Dengan berbuat anak menghayati sesuatu dengan seluruh indera dan jiwanya. Konsep-konsep matematika menjadi lebih jelas dan mudah dipahami oleh anak sehingga konsep itu benar-benar tahan lama dalam ingatan anak. c. Belajar matematika berarti mengalami Mengalami berarti menghayati sesuatu aktual penghayatan. Dengan mengalami berulang-ulang perbuatan maka belajar matematika akan menjadi efektif, teknik akan menjadi lancar, konsep makin lama makin jelas dan generalisasi makin mudah

18

disimpulkan. Belajar matematika adalah suatu aktivitas yang bertujuan. Agar tujuan matematika yang dirumuskan tercapai, maka pembelajaran harus menimbulkan aktivitas pada anak sebab dengan aktivitas dapat diperoleh pengalaman baru. Dengan meningkatnya aktivitas anak maka akan semakin meningkat pula pengalaman anak. d. Belajar matematika memerlukan motivasi Anak didik adalah manusia yang memerlukan bantuan dari sekitarnya sehingga dapat berkembang secara harmonis. Anak didik membutuhkan kemampuan untuk berkembang. Dengan memenuhi kebutuhan anak akan merupakan motivasi atau dorongan untuk melakukan suatu kegiatan. Motivasi itu dapat dirangsang dengan cara : Merencanakan kegiatan belajar matematika dengan memperhitungkan kebutuhan minat dan kesanggupan anak didik. Menggunakan perencanaan pembelajaran matematika bersama dengan anak didik. Belajar matematika memerlukan kesiapan anak didik Kesiapan artimya bahwa anak sudah matang dan sudah meguasai apa yang diperlukan. Anak yang belum siap tidak boleh dipaksa belajar matematika karena akan membuat anak malas belajar dan merasa tidak mampu belajar. e. Belajar matematika harus menggunakan daya pikir Berpikir konkrit pada prinsipnya hanya pada jenjang SD dan setelah itu akan beralih ke taraf berpikir abstrak. Hal ini disebabkan matematika merupakan ilmu yang abstrak. Untuk membantu anak berpikir abstrak, harus banyak diberikan pengalamanpengalaman dengan berbagai alat peraga. Pengalaman-pengalaman berpikir akan memberikan kesanggupan kepada anak untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari. f. Belajar matematika memerlukan latihan (drill) Untuk memperoleh keterampilan dalam matematika diperlukan latihan berkali-kali atau terus menerus.

B. 1.

Hakikat Matematika Pengertian Matematika Kata matematika berasal dari perkataan Latin mathematika yang mulanya

diambil dari perkataan Yunani mathematike yang berarti mempelajari. Perkataan itu mempunyai asal kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge, science). Kata mathematike berhubungan pula dengan kata lainnya yang hampir sama, yaitu mathein atau mathenein yang artinya belajar atau berpikir. Jadi, berdasarkan asal katanya, maka perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir (bernalar). Matematika lebih menekankan kegiatan dalam dunia rasio (penalaran), bukan

19

menekankan dari hasil eksperimen atau hasil observasi. Matematika terbentuk karena pikiran-pikiran manusia, yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran Russefendi (Suwangsih, 2006:3) Matematika terbentuk dari pengalaman manusia secara empiris. Kemudian pengalaman itu diproses di dalam dunia rasio, diolah secara analisis dengan penalaran didalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk konsep-konsep matematika agar konsep-konsep matematika yang terbentuk tersebut itu mudah dipahami oleh orang lain dan dapat dimanipulasi secara tepat, maka digunakan bahasa matematika atau notasi matematika yang bernilai global (universal). Konsep matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah dasar terbentuknya matematika. Pada awalnya cabang matematika yang ditemukan adalah Aritmatika atau Berhitung, Aljabar, Geometri setelah itu ditemukan Kalkulus, Statistika, Aljabar Abstrak, Aljabar Linear, Himpunan, Geometri Linear, Analisis Vektor dan sebagainya. Suwangsih (2006:4) mengemukakan beberapa definisi para ahli mengenai matematika, diantaranya sebagai berikut : a. Russefendi (1988:23) Matematika terorganisasi dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisidefinisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil. Apabila dalil-dalil tersebut telah dibuktikan kebenarannya maka dalil-dalil tersebut berlaku secara umum, karena itulah matematika sering disebut ilmu deduktif. b. James dan James (1976) Matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya. c. Jhonson dan Rising dalam Russefendi (1972) Matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logis. Matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi. Matematika adalah pengetahuan struktur yang terorganisasi, sifat-sifat dalam teori-teori dibuat secara deduktif berdasarkan kepada unsur yang tidak didefinisikan, aksioma, sifat atau teori yang telah dibuktikan kebenarannya adalah ilmu tentang keteraturan pola atau ide, dan matematika itu adalah suatu seni, keindahannya terdapat pada keterurutan dan keharmonisannya. d. Reys-dkk (1984)

20

Matematika adalah telaahan tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat. e. Kline (1973) Matematika itu bukan pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. f. Sujono (1988:5) Sujono mengemukakan beberapa pengertian matematika, diantaranya Matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang berhubungan dengan bilangan. Bahkan dia mengartikan matematika sebagai ilmu bantu dalam menginterpretasikan berbagai ide dan kesimpulan.

2. a.

Fungsi dan Tujuan Matematika berdasarkan Kurikulum 2006 Fungsi dan tujuan Matematika Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan nalar melalui

kegiatan, penyelidikan, eksplorasi, dan eksperimen sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dalam model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik dan diagram dalam menjelaskan gagasan. Tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berpikir sistematis, logis, kritis, dan konsisten. Tujuan pembelajaran matematika (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, 2006:24) yaitu : 1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Mengemukakan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. Ruang lingkup

2)

3) 4) b.

21

Mata Pelajaran matematika pada satuan pendidikan di SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut : 1). Bilangan 2). Geometri dan Pengukuran 3). Pengolahan Data C. Model Pembelajaran Konstruktivisme Model Pembelajaran Konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar perolehan pengetahuan diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan diri (self regulation). Dan pada akhir proses belajar, pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya Bell, 1993:24, Driver & Leach, 1993:104(Karli, 2004:3). Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja, sehingga diperlukan perubahan /modifikasi struktur kognitif (Skemata) untuk mencapai keseimbangan. Peristiwa itu akan terjadi berkelanjutan selama siswa menerima pengetahuan baru. Konsep pembelajaran konstruktivis didasarkan kepada kerja akademik para ahli psikologi dan peneliti yang peduli dengan konstruktivisme. Para ahli mengatakan bahwa ketika siswa mencoba menyelesaikan tugas-tugas dikelas, maka pengetahuan matematika dikonstruksi secara aktif Wood, 1990; Cobb, 1992 (Suwangsih, 2006:114). Para ahli konstruktivisme yang lain mengatakan bahwa dari perspektifnya konstruktivis, belajar matematika bukanlah suatu proses „pengepakan‟ pengetahuan secara hati-hati, melainkan hal mengorganisir aktivitas, dimana kegiatan ini diinterpretasikan secara luas termasuk aktivitas dan berpikir konseptual Cobb (Suwangsih, 2006:114). Didefinisikan oleh Cobb (Suwangsih, 2006:114) bahwa belajar matematika merupakan proses dimana siswa secara

22

aktif menkonstruksi pengetahuana matematika. Terjadinya proses modifikasi struktur kognitif dapat dilihat pada diagram di bawah ini:

Gambar 2.1 Skema Perolehan Pengetahuan Hal baru (hasil interaksi dengan lingkungan) Skema Dibandingkan dengan konsep awal Tidak cocok Akomodasi Cocok

Ketidaksembangan

Cocok

Jalan buntu (tidak mengerti)

Keseimbangan

Asimilasi

Alternatif Strategi lain

Mengerti

Skema Perolehan Pengetahuan Stanobridge dalam Sadia, 1996:101(Karli, 2004:3)

Para ahli konstruktivis setuju bahwa belajar matematika melibatkan manipulasi aktif dari pemaknaan bukan bilangan dan rumus-rumus saja. Mereka menolak paham matematika dipelajari dalam satu koleksi yang berpola linear. Setiap tahap dari pembelajaran melibatkan suatu proses penelitian terhadap makna dan penyampaian keterampilan hafalan dengan cara yang tidak ada jaminan bahwa siswa akan menggunakan keterampilan intelegensinya dalam setting matematika.

23

Lebih jauh lagi para ahli konstruktivis merekomendasi untuk menyediakan lingkungan belajar dimana siswa dapat mencapai konsep dasar, keterampilan algoritma, proses heuristik dan kebiasaan bekerjasama dan berefleksi. Dalam kaitannya dengan belajar, Cobb dkk (Suwangsih 2006:115) menguraikan bahwa belajar dipandang sebagai proses aktif dan konstruktif dimana siswa mencoba untuk menyelesaikan masalah yang muncul sebagaimana mereka berpartisipasi aktif dalam latihan matematika dikelas. Confrey (Suwangsih, 2006:115), yang juga banyak bicara dalam konstrukitvisme menawarkan suatu powerfull construction dalam matematika. Dalam mengkonstruksi pengertian matematika melalui pengalaman, ia mengidentifikasi 10 karakteristik dari powerfull construction berpikir siswa. Lebih jauh ia mengatakan bahwa powerfull construction ditandai oleh : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Sebuah struktur dengan ukuran kekonsistenan internal Suatu keterpaduan antar bermacam-macam konsep Suatu kekonvergenan diantara aneka bentuk dan konteks Kemampuan untuk merefleksi dan menjelaskan Sebuah kesinambungan sejarah Terikat kepada bermacam-macam sistem symbol Suatu yang cocok dengan pendapat ahli Suatu yang potensial untuk bertindak sebagai alat untuk konstruksi lebih lanjut Sebagai petunjuk untuk tindakan berikutnya Suatu kemampuan untuk menjustifikasi dan mempertahankan Confrey (Suwangsih, 2006:115). Semua ciri-ciri powerfull construction di atas dapat digunakan secara efektif dalam proses belajar mengajar di kelas. Menurut Confrey (Suwangsih, 2006:115), Siswasiswa matematika seringkali hanya menerapkan satu kriteria evaluasi mereka dari yang mereka konstruksi misalkan dengan bertanya “apakah ini disetujui para ahli ?”atau dalam istilah konstruktivis “apakah itu benar?”. akibatnya pengetahuan matematika menjadi terisolasi dari sisa pengalaman mereka yang dikonstruksi dari aksi mereka di dunia dalam pola yang spontan dan interaktif. Oleh karena itu pandangan siswa tentang „kebenaran‟ ketika mereka belajar matematika perlu mendapat pengawasan ahli dan masyarakat.

24

Dalam kasus ini peranan guru dan peranan siswa lain adalah menjustifikasi berpikir siswa dalam matematika. Salah satu yang mendasar dalam pembelajaran matematika menurut konstruktivis adalah suatu pendekatan dengan sebab tidak terduga sebelumnya dengan suatu keterikatan yang cerdik dalam mempelajari karakter, kejadian, cerita dan implikasinya. Pembelajran berdasarkan konstruktivisme berusaha untuk melihat dan

memperhatikan konsepsi dan persepsi siswa dari kaca mata siswa sendiri. Guru memberi tekanan pada penjelasan tentang pengetahuan tersebut daru kacamata siswa itu sendiri. Guru dalam pembelajaran hanya sebagai moderator dan fasilitator, Suparno, 1997 : 66 (Suwangsih, 2006 : 113) menjabarkan beberapa tugas guru tersebut sebagai berikut: 1. 2. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses pendidikan Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa membantumereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunkasikan ide ilmiah mereka. Menyediakan sarana yang merangsang siswa berfikir produktif. Guru harus menyemangati siswa. Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran siswa jalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan.

3.

Adapun prinsip konstruktivisme Piaget menurut De Vries dan Kohlberg; Suparno, (1977:70) (Suwangsih, 2006 : 114) yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran matematika antara lain : 1. Struktur psikologi harus dikembangkan dahulu sebelum persoalan bilangan dikembangkan dulu. Bila siswa mencobamenalarkan blangan sebelum mereka struktur logika yang cocok dengan persoalannya tidak akan ada jalan. 2. Struktur psikologi (Skemata) harus dikembangkan terlebih dahul;u sebelum simbol formal diajarkan. Simbol adalah bahasa matematis suatu konsep tetapi bukan konsepnya sendiri. 3. Siswa harus mendapatkan kesempatan untuk menemukan (membentuk) relasi matematika sendiri, jangan hanya selalu dihadapkan kepada pemikiran orang dewasa yang sudah jadi. 4. Suasana berfikir harus diciptakan.

25

D. Penerapan Model Konstruktivisme dalam Pembelajaran Geometri di Sekolah Dasar Kelas V Untuk menerapkan model konstruktivisme dalam pembelajaran geometri di Sekolah Dasar Kelas V tidak dapat sekaligus tetapi memerlukan beberapa tahap. Adapun tahap-tahap pembelajaran dalam Model Konstruktivisme tersebut adalah : 1. Tahap Pertama Siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas dengan cara guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang fenomena yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari dengan mengaitkan konsep yang akan dibahas. Siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan, mengilustrasikan pemahamannya tentang konsep itu.

2. Tahap Kedua Siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan penginterpretasian data secara berkelompok dengan bantuan LKS. Kemudian hasil temuan tiap kelompok didiskusikan dengan kelompok lain. Tahap ini akan memenuhi rasa ingin tahu siswa tentang konsep baru yang akan mereka pelajari. 3. Tahap Ketiga Saat siswa memberikan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil temuannya ditambah penguatan yang diberikan guru, maka secara otomatis siswa membangun pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari. 4. Tahap Keempat

26

Guru berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menerapkan pemahaman konseptualnya, baik melalui kegiatan atau pemunculan dan pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena dilingkungannya.

27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar yang erat kaitannya dengan perbaikan pembelajaran, jenis penelitian yang dianggap tepat adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (Action Research Class Room). Menurut Hardjodipuro (Wibawa,2003:7)”Bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu pendekatan untuk

memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktek tersebut, dan agar mau untuk merubahnya.” Penelitian Tindakan merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif yang dilakukan oleh pelaku dalam masyarakat sosial dan betrtujuan untuk memperbaiki pekerjaannya, memahami pekerjaan itu serta situasi di mana pekerjaan itu dilakukan. (Kemmis dan Carr (1986) dalam Kasbolah, 1998: 13). Sedangkan Ebbut

(Kasbolah,1998: 14) mengungkapkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan studi sistematis yang dilakukan dalam upaya memperbaiki praktik-paraktik dalam pendidikan dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi dari tindakan tersebut. Penelitian Tindakan Kelas adalah Penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa meningkat. (Wardhani, dan Wihardit,2007:1.4) Wiriaatmadja (2005:13) mengemukakan bahwa Penelitian Tiindakan Kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengalaman mereka

28

sendiri. Mereka dapat mencoba sesuatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu. Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah salah satu bentuk penelitian yang dilakukan langsung oleh guru sebagai peneliti dalam rangka meningkatkan kinerjanya serta dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa dan hasil belajar yang sesuai dengan tujuan dengan menuangkan gagasan dan ide-ide yang baru sehingga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang merangsang siswa untuk belajar. Ciri-ciri Penelitian Tindakan Kelas menurut Iskandar (2006:3) adalah (1) Perbaikan praktis pembelajaran dari dalam kelas, (2) Usaha kolaboratif antar para praktisi pembelajaran, (3) bersifat reflektif, (4) tidak mengganggu komitmen mengajar, (5) tidak terlalu menyita waktu, (6) metodologinya andal, (7) merupakan masalah guru, (8) konsisten terhadap prosedur etika, (9) permasalahan ada dalam persepektif misi sekolah. Berdasarkan uraian-uraian di atas bahwa salah satu tujuan Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk memperbaiki pembelajaran, yang melibatkan para praktisi pembelajaran yaitu guru, mitra sejawat dan murid. Perbaikan pembelajaran yang

dimaksud dalam kajian ini adalah perbaikan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar kelas V khususnya pada pokok bahasan Bangun Ruang. Adapun model Penelitian Tindakan Kelas dalam penelitian adalah menggunakan Model Spiral. Menurut Kemmis dan Taggart (1998) “Model Spiral yaitu model siklus yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkelanjutan (siklus spiral)”. Artinya semakin lama diharapkan semakin meningkat pencapaiannya. Penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart ini merupakan pengembangan dari konsep dasar dalam berbagai model penelitian tindakan, terutama penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin.

29

Penelitian tindakan model spiral ini merupakan suatu rangkaian lengkap (a spiral of steps) yang terdiri dari empat komponen, yaitu : 1) perencanaan (planning), yaitu rencana tindakan apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan itu dilakukan; 2) tindakan (acting), yaitu pelaksanaan sesuai rencana; 3) pengamatan (observing), yaitu pengamatan yang dilakukan bersamaan dengan tindakan; 4) refleksi (reflecting), yaitu kegiatan mengemukakan implementasi rencana tindakan. Keempat komponen itu dipandang sebagai suatu siklus spiral atau siklus ini berulang terus sampai masalah yang dihadapi dapat dipecahkan. Rangkaian siklus tersebut dapat dilihat pada gambar berikut :

30

Gambar 3.1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas Kemmis dan Taggart Perencanaan Refleksi I SIKLUS I Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi II

SIKLUS II

Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi III

SIKLUS III

Pelaksanaan

Pengamatan

?
Siklus PTK Model Spiral Kemmis dan Taggart (Kasbollah 1998/1999)

31

Tahapan pembelajaran dalam tindakan ini dilakukan dalam tiga siklus. Setiap siklus mengandung unsur perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. 1. Perencanaan Kegiatan perencanaan diawali dengan merencanakan ide penelitian kemudian ditindaklanjuti dengan observasi pelaksanaan proses. Kegiatan ini merupakan kegiatan pendahuluan yang tujuannya untuk mengidentifikasi masalah. Adapun perencanaan awal yang telah dilaksanakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Permohonan izin penelitian di Sekolah Dasar Negeri I Gandasoli Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta kepada Kepala Sekolah. Perizinan ini dapat diperoleh dengan mudah karena peneliti merupakan salah satu pengajar di sekolah tersebut. Kepala Sekolah beserta dewan guru telah menyatakan kesiapannya untuk memberi dukungan dan partisipasinya dalam pelaksanaan penelitian ini. b. Observasi. Kegiatan ini dilakukan untuk mendapat gambaran awal tentang kegiatan belajar mengajar, khususnya pada mata pelajaran matematika di kelas V Sekolah Dasar. c. Melakukan telaah terhadap jadwal pelajaran yang ada, yang menjadwalkan mata pelajaran matematika untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme dalam upaya meningkatan hasil belajar matematika siswa. d. Melakukan telaah terhadap pokok bahasan pada mata pelajaran matematika di kelas V semester I yang akan diajukan sesuai dengan jadwal pelajaran yang berlaku. e. Melakukuan telaah terhadap kurikulum mata pelajaran matematika yang harus disampaikan pada semester I. Dari hasil telaah terhadap tujuan pembelajaran, isi materi dan buku sumber akan ditentukan strategi pembelajaran yang sesuai, dengan

32

harapan dapat digunakan untuk membantu siswa mempelajari materi pada mata pelajaran matematika agar lebih meningkatkan hasil pembelajaran. f. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pertama materi luas permukaan kubus dan balok. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan penelitian dilaksanakan sesuai dengan perencanaan tindakan yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan. Tujuan utama pada tahap ini adalah mengupayakan inovasi dalam proses pembelajaran dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam hal ini Kasihani Kasbollah (1999:72) mengungkapkan bahwa “tindakan yang dilaksanakan harus sejalan dengan laju perkembangan pelaksanaan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di kelas”. Artinya segala aktivitas Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tidak boleh mengganggu kegiatan pembelajaran, dalam arti menghambat atau mengalihkan fokus kegiatan pencapaian tujuan pembelajaran yang sebenarnya. 3. Tahap Observasi Kegiatan observasi atau pengamatan dalam penelitian tindakan kelas dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran lengkap secara obyektif tentang perkembangan proses pembelajaran, dan pengaruh dari tindakan yang dipilih terhadap kondisi kelas dalam bentuk data. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan data berkaitan dengan observasi ini adalah: (1) jenis data yang dihimpun adalah data yang diperlukan dalam rangka implementasi tindakan perbaikan, (2) indikator-indikator yang ditetapkan harus tergambarkan pada perilaku siswa dan guru secara teratur, (3) kesesuaian prosedur pengambilan data, dan (4) pemanfaatan data dalam analisis dan refleksi. (Siklus I) dengan

33

4. Tahap Refleksi Melalui pedoman pengamatan dan alat pengumpul data yang telah dipersiapkan sebelumnya dalam kegiatan tindakan pelaksanaan ini, maka diperoleh temuan data dan informasi-informasi yang selanjutnya direfleksikan. Hasil refleksi ini akan memberikan makna pada proses pembelajaran.

B. Data Penelitian
Data penelitian yang akan dikumpulkan pada kajian ini terdiri dari dua jenis, yaitu : 1. Data Kualitatif Data Kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Data Kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi, atau observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan (transkip). Adapun data kualitatif yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah berupa observasi. Data tersebut akan diolah selama penelitian berlangsung. 2. Data Kuantitatif Data Kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Data ini berupa tes hasil belajar yang diperoleh dari hasil eveluasi setelah selesai pembelajaran dan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

C. Lokasi dan Subjek Penelitian
1. Lokasi Penelitian Lokasi yang dipilih untuk melakukan penelitian ini adalah Sekolah Dasar Negeri I Gandasoli yang beralamat di Kp. Cileutak Rt 04/01 Desa Gandasoli Kecamatan Plered

34

Kabupaten Purwakarta. Ada beberapa alasan mengapa lokasi yang dipilih adalah sekolah tersebut, karena : a. Sekolah tersebut adalah tempat kerja peneliti. b. Adanya dorongan dan motivasi dari rekan-rekan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa khususnya matematika yang dirasa masih kurang. 2. Subyek Penelitian Yang menjadi subyek penelitian adalah siswa dan siswi kelas V semester 2 tahun pelajaran 2008/2009 di SDN I Gandasoli yang terdiri dari 23 orang. Terdiri dari 12 orang laki-laki dan 11 orang perempuan.

D. Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh hasil penelitian yang obyektif, ada beberapa instrumen penilaian yang digunakan yaitu: 1. Observasi Observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap objek penelitian. Pengamatan ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung ketika penelitian sedang berlangsung. Observasi yakni pengamatan kepada tingkah laku pada suatu situasi tertentu. Observasi bisa dalam situasi yang sebenarnya atau observsi langsung dan bisa pula dalam situasi buatan atau observasi tidak langsung. Kedua jenis observasi ini dapat dilaksanakan secara sistematik, yakni dengan menggunakan pedoman observasi dan bisa pula tidak. (Sudjana,2002 : 114) Observasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk mendapatkan data. Jadi observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan,

35

penciuman, pendengaran, perabaan, atau kalau perlu dengan pengecapan. (Hatimah, Susilana, Nuraedi, 2006 : 184) Jadi observasi digunakan untuk mengungkap sikap atau prilaku siswa dalam proses pembelajaran, sikap guru, serta interaksi antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui observasi di dapat gambaran baik secara umum maupun khusus berkenaan dengan aspek-aspek pembelajaran yang dikembangkan. Data hasil observasi yang dilakukan pada setiap siklus diolah kemudian dikategorikan berdasarkan kriteria sebagai berikut : A = Baik Sekali dengan rentang nilai 86 - 100 B = Baik dengan rentang nilai 71 - 85 C = Cukup dengan retang nilai 56 - 70 D = Kurang dengan rentang nilai 41 – 55 E = Kurang Sekali dengan rentang nilai < 40 2. Kuesioner/Angket Kuesioner atau angket adalah metode pengumpulan data, instrumennya disebut sesuai nama metodenya. Bentuk lembaran angket dapat berupa sejumlah pertanyaan tertulis, tujuannya untuk memperoleh informasi dari responden tentang apa yang ia alami dan ketahui. (Hatimah, Susilana, Nuraedi, 2006 : 184) Angket atau kuesioner adalah alat untuk mengumpulkan data yang berupa daftar pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis. (Riyanto,1996 :87) Kuesioner digunakan untuk menjaring data yang valid (absah) dan reliabel (dapat dipercaya) mengenai pendapat konstruktivisme yang diterapkan. siswa tentang implementasi penggunaan model

36

3. Tes Tes adalah serentetan latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, sikap, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. (Riyanto,1996 : 103) Tes hasil belajar digunakan untuk menjaring data peningkatan hasil belajar siswa dalam menguasai materi yang dilakukan melalui evaluasi dari tes awal, tes akhir, dan tes proses yang diambil dari hasil Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam setiap siklus. Pengumpulan data melalui tes hasil belajar adalah untuk mengetahui kondisi hasil pembelajaran siswa. Hasil dari kegiatan tersebut dapat dijadikan acuan dalam tindakan selanjutnya. Data tes hasil belajar berupa skor dari pembelajaran matematika pada pokok bahasan bangun ruang, dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 60. Hal ini didasarkan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang dibuat oleh SD Negeri I Gandasoli yang menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran matematika adalah 60, dengan skor maksimal 100. Artinya bahwa siswa yang memperoleh skor dibawah 60 dinyatakan tidak lulus sebaliknya siswa yang memperoleh skor diatas 60 dinyatakan lulus. Sedangkan penelitian ini sendiri mempunyai target sampai 90 % siswa dinyatakan lulus, dihitung dengan teknik prosentase. Data tersebut dikelompokkan berdasarkan KKM, dengan perhitungan sebagai berikut : X P= Y Keterangan : P = Persentase penilaian X = Banyak siswa yang mendapatkan skor ≤ 60 atau ≥ 60 Y = Banyak siswa seluruhnya x 100%

37

E. Pengolahan dan Analisis Data
Teknik analisis data berlangsung dari awal sampai akhir pelaksanaan program penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah secara kualitatif dan kuantitatif. Data hasil belajar dari setiap siklus tindakan yang dilakukan yang meliputi data hasil observasi, hasil kuesioner dan hasil tes diproses dan disajikan secara bertahap pada bagian pembahasan. Adapun tahapan dalam pengolahan dan menganalisis data dalam penelitian ini adalah : 1. Pengumpulan Data Data yang diperoleh melalui kegiatan observasi, kuesioner atau angket, dan tes dikelompokkan diinterpretasikan. 2. Validasi Data Validasi diartikan sebagai ukuran tingkat kebenaran suatu instrumen. Agar data memiliki validasi yang tinggi, maka peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut : a. Triangulasi Data Triangulasi data adalah mengecek keabsahan (validitas) data dengan dalam kelompok data peneliti. Data-data tersebut kemudian

menginformasikan data yang sama dari sumber yang berbeda untuk memastikan keabsahannya.(Wahyudin,2002 : 83) b. Audit Trail, Yaitu pengecekan keabsahan tamuan penelitian, dan prosedur penelitian yang telah diperiksa dengan mengkonfirmasikan kepada sumber data pertama (guru dan siswa). Kegiatan ini dilakukan guna memperoleh kritik, tanggapan dan masukan, sehingga bisa mempertajam analisis, dan memperoleh validitas yang tinggi. c. Member-check

38

Mengecek kebenaran data temuan penelitian dengan mengkonfirmasikan kepada responden (sumber informasi). Dalam kegiatan ini data atau informasi yang diperoleh tersebut di konfirmasikan dengan guru mitra penelitian, melalui refleksi / diskusi pada tiap siklus sampai akhir keseluruhan pelaksanaan tindakan. Sehingga terjaring data yang lengkap, dan memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.

3. Interpretasi Data
Pada tahap ini, temuan-temuan penelitian diinterpretasikan berdasarkan kerangka teoritik yang dipilih maupun norma-norma praktis yang disetujui atau intuisi guru sendiri, yang menggambarkan pembelajaran yang baik. Dari interpretasi ini diharapkan memperoleh makna yang berarti sebagai bahan untuk kegiatan tindakan-tindakan, atau untuk kepentingan peningkatan kinerja guru dalam proses pembelajaran.

39

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri I Gandasoli yang berlokasi di Kampung Cileutak Rt 05/02 Desa Gandasoli Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta. SD Negeri I Gandasoli memiliki 8 Ruang Kelas, 1 Ruang Kepala Sekolah dan Guru, 7 Ruang kelas, dan 2 MCK yang keadaannya sangat memperihatinkan. Selain itu SD Negeri I Gandasoli juga memiliki sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar. Untuk menunjang KBM SD Negeri I Gandasoli memiliki berbagai macam alat peraga, seperti KIT IPA, Peta, alat-alat olah raga dan lain-lain. 2. Subjek Penelitian Yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas V A SD Negeri I Gandasoli. Dengan jumlah siswa sebanyak 23 orang, yang terdiri dari 13 orang siswa laki-laki dan 10 orang siswa perempuan. Penelitian ini dilakukan pada semester 2 Tahun Ajaran 2008/2009. 3. Karakteristik Siswa Keadaan siswa yang menuntut ilmu di SD Negeri I Gandasoli mayoritas berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang ekonomi menengah. Mata pencaharian sebagian besar orang tua siswa adalah sebagai petani dan

40

pedagang. Jumlah seluruh siswa yang bersekolah di SD Negeri I Gandasoli pada tahun ajaran 2008/2009 adalah 280 orang siswa, yang terbagi ke dalam 8 rombongan belajar mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.1 KEADAAN SISWA SDN I GANDASOLI KECAMATAN PLERED KABUPATEN PURWAKARTA TAHUN AJARAN 2008/2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kelas I II III IV VA VB VI A VI B Jumlah Laki-Laki 23 22 19 8 12 11 14 7 115 Perempuan 28 24 29 25 11 14 13 20 165 Jumlah 51 46 48 33 23 25 27 27 280

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa 52,2 persen siswa berjenis kelamin laki-laki sedangkan sisanya 47,8 persen berjenis kelamin perempuan. Sedangkan jumlah siswa yang menjadi subjek penelitian berjumlah 23 orang dengan jumlah siswa laki-laki 12 orang dan siswa perempuan 11 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

41

Tabel 4.2 KEADAAN SISWA KELAS VA SDN I GANDASOLI BERDASARKAN JENIS KELAMIN No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Nama Siswa Abdul Hamid Abdul Roup Angga Andrianto Angga Saputra Ajid Salikin Acep Andri Cep Ahmad Ruskanda Eka Halimatusadiah Evi Apipah Fajar Suryaman Farid Rifai Gunawan Heri Irawan Hana Nurhasanah Heni Nuraeni Irma Suryani Ikoh Nurohmawati Muhammad Rodialloh Nadia Retna Ayuningsih Endang Kusnadi Nurul Adimah Siti Aisah L P P L P L L L L P P P P L P P Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan L L L L L P Ket.

42

23

Mufti Jumlah 12

P 11

Sedangkan keadaan siswa kelas VA apabila dilihat dari kelompok usia dapat di lihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4.3 KEADAAN SISWA KELAS VA SDN I GANDASOLI BERDASARKAN USIA Usia Jumlah Porsentase Ket 10 Tahun 3 13 11 Tahun 18 78,3 12 Tahun 2 8,7 Jumlah 23 100 Dari tabel di atas dapat disimpulkan rata-rata usia siswa kelas VA adalah

No 1 2 3

11 tahun yaitu sekitar 78,3 % sedangkan sisanya berusia 10 tahun 13 % dan usia 12 tahun sebanyak 2 orang mencapai 8,7%. 4. Karakteristik Guru Jumlah Personil guru, TU dan Penjaga Sekolah yang ada di SD Negeri I Gandasoli sebanyak 14 orang. Yang terdiri dari 1 orang Kepala Sekolah, 8 orang guru kelas dan 3 orang guru mata pelajaran, 1 orang Tata Usaha, dan 1 orang Penjaga Sekolah. Latar belakang pendidikan guru yang mengajar di SD Negeri I Gandasoli terdiri dari lulusan D2 sebanyak 10 orang, lulusan S1 sebanyak 2 orang . Keadaan guru di SD Negeri I Gandasoli dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.4 KEADAAN GURU SDN I GANDASOLI TAHUN AJARAN 2008/2009 No Nama Guru NIP Ijazah Jabatan Mengajar di Kelas Gol

43

1 2 3 4 5 6 No 7 8 9 10 11 12 13 14

Didin Supriadin Inik Suhariah Nurlaela AK Saepudin Ujat Suryana Rosadi Nama Guru Pepi Pramahsari Anin Yunani Pipih Sopiah Lukman Fauzie Lili Damayanti Atien Fauziah Nurhaeni Sunandar

19530401 198109 1 001 19570414 197702 2 003 19611201 198109 2 001 19620930 198204 1 001 19630709 198410 1 001 19660215 199202 1 001

D2 D2 D2 D2 D2 D2 Ijazah

Kepala Sekolah Guru Guru Guru Guru Guru Jabatan Guru Guru Guru PAI Guru Olahraga Guru Guru B. Inggris TU Penjaga

I IV II VI A VI B Mengajar di Kelas VA III I-VI I-VI VB IV-VI -

IV A IV A IV A IV A IV A IV A Gol III C II C II B GTT GTT GTT PTT PTT

NIP
19751208 199803 2 006 19710914 200501 2 007 480 184 373 -

D2 D2 D2 D2 S1 S1 SMEA SMA

5. Deskripsi Awal Pembelajaran Langkah awal yang dilakukan penulis pada penelitian ini adalah melakukan pengamatan terhadap siswa kelas V SDN I Gandasoli yang dijadikan

44

subjek pada penelitian ini. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa ditinjau dari segi prestasi akademik, yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu kategori pandai, sedang dan kurang. Penetapan prestasi akademik siswa tersebut didasarkan pada ranking yang diperoleh siswa di kelas IV semester kedua. Dimana untuk rangking 1sampai dengan ranking 8 dikategorikan sebagai kelompok pandai, ranking 9 sampai dengan ranking 16 dikategorikan sebagai kelompok sedang, dan ranking 17 sampai dengan ranking 23 dikategorikan sebagai kelompok kurang. Tujuan ditetapkannya hal tersebut adalah diperkirakan mempunyai relevansi yang berarti bagi kelancaran dan keberhasilan siswa dalam kegiatan pembelajaran yang akan menjadi bahan kajian dalam penelitian ini. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.5 Keadaan Siswa Kelas VA SDN I Gandasoli Berdasarkan Prestasi Akademik KELOMPOK No 1 2 3 4 5 6 7 NAMA SISWA PANDAI Abdul Hamid Abdul Roup Angga Andrianto Angga Saputra Ajid Salikin Acep Andri Cep Ahmad Ruskanda
     

SEDANG

KURANG

45

8 9 10 11 12 13 14 15 16 No 18 20 21 22 23

Eka Halimatusadiah Evi Apipah Fajar Suryaman Farid Rifai Gunawan Heri Irawan Hana Nurhasanah Heni Nuraeni Irma Suryani NAMA SISWA PANDAI Muhammad Rodialloh Endang Kusnadi Nurul Adimah Siti Aisah Mufti Jumlah 8
      

 

KELOMPOK SEDANG KURANG

 

8

7

6. Analisis dan Refleksi Terhadap Gambaran Awal Pembelajaran Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh penulis terhadap proses pembelajaran matematika yang selama ini dilakukan selalu berpusat pada guru (teacher centered). Siswa hanya mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh guru. Siswa tidak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sehingga membuat hasil belajar matematika siswa pun kurang memuaskan.

46

Pada observasi selanjutnya penulis mengadakan pre test terhadap siswa secara individu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui gambaran awal tentang kemampuan siswa kelas V pada mata pelajaran matematika. Hasilnya akan ditindakanjuti pada kajian yang akan penulis lakukan. Adapun hasil pelaksanaan pree test yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.6 Perolehan Nilai Matematika Pra Siklus

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

NAMA SISWA Abdul Hamid Abdul Roup Angga Andrianto Angga Saputra Ajid Salikin Acep Andri Cep Ahmad Ruskanda Eka Halimatusadiah Evi Apipah Fajar Suryaman Farid Rifai Gunawan

SKOR 20 40 40 20 20 40 40 60 60 60 60 20

PROSENTASE (%) 0 =0 20 = 17 40 = 26 60 = 48 80 = 9 100 = 0

47

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Heri Irawan Hana Nurhasanah Heni Nuraeni Irma Suryani Ikoh Nurohmawati Muhammad Rodialloh Nadia Retna Ayuningsih Endang Kusnadi Nurul Adimah Siti Aisah Mufti JUMLAH RATA-RATA

60 60 40 60 60 60 40 20 80 20 20 1140 49,5

Hasil skor pra siklus di atas dapat dituangkan dalam tabel distribusi frekuensi di bawah ini : Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Nilai Matematika Pra Siklus Nilai NO (x) 1 2 3 4 20 40 60 80 Jumlah (f) 4 6 11 2 23 80 240 660 160 1140 17 26 48 9 100 Frekuensi fx % Atas 4 10 21 23 Bawah 23 19 13 2 Atas 17 43 91 100 Bawah 100 83 57 9 Kumulatif f Kumulatif %

48

Rata-rata

49,5

Diagram 4.1 Perolehan Nilai Matematika Pra Siklus

Dari tabel dan diagram

di atas menunjukkan bahwa siswa yang

mengalami ketuntasan belajar hanya 13 orang siswa atau hanya 56,5 % dan dinyatakan lulus, sedangkan sisanya 43.5 % dinyatakan tidak lulus. Berdasarkan observasi dan refleksi pada tahap ini maka perlu diadakan perbaikan-perbaikan. Hal ini dimaksudkan agar kualitas pembelajaran matematika bisa lebih baik dan hasil belajar matematika siswa bisa lebih memuaskan.

B. Pelaksanaan dan Hasil Penelitian Tindakan Kelas Pelaksanaan penelitian tindakan kelas disesuaikan dengan waktu yang telah dijadwalkan sebelumnya yaitu pada tanggal 25 Mei sampai 6 Juni 2009.

49

Adapun pelaksanaan pembelajarannya disesuaikan dengan jadwal sekolah, sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran sehari-hari. 1. Siklus Pertama a. Perencanaan Tindakan Proses pembelajaran tindakan siklus pertama diawali dengan

melaksanakan segala sesuatu yang telah direncanakan pada tahap perencanaan tindakan yang telah dibuat sebelumnya. Di dalam perencanaan tindakan diawali dengan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang

menentukan luas permukaan kubus dan balok. b. Pelaksanaan Tindakan Siklus pertama dilaksanakan pada hari Senin tanggal 25 Mei 2009. Kegiatan pembelajaran pada tindakan siklus pertama ini diawali dengan

kegiatan apersepsi. Dalam kegiatan apersepsi ini guru mengajukan beberapa pertanyaan yang dapat mendorong siswa mengemukakan pengetahuan awal yang dimilikinya yang ada kaitannya dengan kubus dan balok. Pada kegiatan ini sebagian besar siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan guru, karena materi tentang kubus dan balok memang sudah dipelajari sebelumnya di kelas IV. Kemudian guru membagi siswa ke dalam 6 kelompok. Setelah itu membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada tiap kelompok untuk dikerjakan dengan cara berdiskusi dalam kelompok. Soal-soal yang disajikan dalam LKS diharapkan dapat membantu siswa dalam membangun konsep yang akan dibahas yaitu tentang menentukan luas permukaan kubus dan balok dengan

50

menggunakan gambar kubus bergaris. Tiap kelompok diberikan kebebasan untuk menyelesaikan soal-soal dengan caranya masing-masing. Pada saat kegiatan diskusi kelompok berlangsung guru berjalan berkeliling untuk mengamati aktivitas diskusi kelompok tersebut. Kepada tiap kelompok guru mengajukan beberapa pertanyaan tentang LKS yang sedang dikerjakan. Setelah diskusi kelompok selesai, kemudian guru memberikan kesempatan pada tiap kelompok untuk melaporkan hasil diskusinya di depam kelas dan kelompok lain memberikan komentar terhadap hasil temuan kelompok yang tampil di depan kelas. Kegiatan ini dipimpin oleh guru. Setelah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan membuat kesimpulan terhadap hasil temuan secara bersama-sama. Guru memberi penguatan terhadap hasil temuan tersebut. Pada kegiatan akhir setiap siswa diberi soal-soal evaluasi mencari luas permukaan kubus dan balok dengan menggunakan gambar kubus untuk

memantapkan pengetahuan yang telah dibangun. Kemudian dilakukan pembahasan dan penilaian. Adapun hasil evaluasi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.8 Nilai Matematika Post Test Siklus I No 1 2 3 4 5 Nama Siswa Abdul Hamid Abdul Roup Angga Andrianto Angga Saputra Ajid Salikin Skor 40 40 60 60 40 0=0 20 = 0 40 = 39 60 = 57 80 = 4 Prosentase (%)

51

6 7 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Acep Andri Cep Ahmad Ruskanda Evi Apipah Fajar Suryaman Farid Rifai Gunawan Heri Irawan Hana Nurhasanah Heni Nuraeni Irma Suryani Ikoh Nurohmawati Muhammad Rodialloh Nadia Retna Ayuningsih Endang Kusnadi Nurul Adimah Siti Aisah Mufti JUMLAH RATA-RATA

60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 40 80 40 40 60 40 40 1220 53

100 = 0

Tabel 4.9

52

Distribusi Frekuensi Nilai Matematika Siklus I Nilai NO (x) 1 2 3 4 5 20 40 60 80 100 Jumlah Rata-rata (f) 0 9 13 1 0 23 0 360 780 80 0 1220 53 0 39 57 4 0 100 Frekuensi fx % Atas 0 9 22 23 23 Bawah 23 23 14 1 0 Atas 0 39 96 100 100 Bawah 100 100 61 4 0 Kumulatif f Kumulatif %

Diagram 4.2 Perolehan Nilai Matematika Siklus I

Berdasarkan Tabel 4.6 dan 4.7 dapat dilihat bahwa skor rata-rata kelas Post Test pada tindakan siklus pertama adalah 53. Siswa yang memperoleh skor

53

diatas 60 dan dinyatakan lulus hanya 14 orang siswa atau 61 %. Sedangkan sisanya sebanyak 9 orang siswa atau 39 % memperoleh skor dibawah 60 dan dinyatakan tidak lulus. Ini merupakan bukti bahwa pada siklus pertama, pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Pembelajaran

Konstruktivisme pada sub pokok bahasan menentukan luas permukaan kubus dan balok dengan menggunakan gambar kubus belum berhasil. Sedangkan skor rata-rata kelompok pada siklus pertama ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.10 Nilai Rata-rata Kelompok Siklus I

No 1 2 3 4 5 6

Kelompok A B C D E F Jumlah Rata-rata

Nilai 60 50 50 60 60 50 330 55

Keterangan

Dari tabel 4.8 di atas dapat disimpulkan bahwa dari 6 kelompok, 3 kelompok diantaranya dinyatakan telah berhasil membangun konsep tentang bagaimana cara menentukan luas permukaan kubus dan balok dengan

54

menggunakan kubus gambar kubus berpetak, karena memperoleh skor diatas 60. Dan ada 3 kelompok yang dinyatakan belum berhasil karena hanya memperoleh skor 50. c. Observasi Observasi atau pengamatan dilakukan untuk mengamati dan mengetahui aktivitas siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Terutama pada saat kegiatan diskusi kelompok dan diskusi kelas. Sedangkan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap konsep yang telah dipelajari diadakan evaluasi dengan menggunakan soal-soal evaluasi. d. Analisis dan Refleksi Siklus Pertama Setelah melakukan tindakan siklus pertama pada pembelajaran matematika pada sub pokok bahasan menentukan luas permukaan kubus dan balok dengan menggunakan gambar kubus dengan menggunakan Model

Pembelajaran Konstruktivisme, maka selanjutnya dilakukan analisis dan refleksi hasil kegiatan berdasarkan data dan sejumlah informasi yang diperoleh dari hasil observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Adapun hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut: 1) Pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa Sekolah Dasar belum menunjukkan hasil yang optimal. Hal ini dapat dilihat selama kegiatan pembelajaran berlangsung terutama pada saat diskusi kelas masih ada beberapa kelompok yang tidak mau tampil di depan kelas untuk melaporkan hasil diskusinya karena mereka merasa malu dan takut tampil di

55

depan kelas. Hal ini disebabkan karena sebelumnya mereka tidak terbiasa tampil di depan kelas. 2) Partisipasi dan kerjasama siswa dalam kelompok belum terlihat. Hanya siswa yang pandai saja yang sibuk mengerjakan soal, sedangkan siswa yang memiliki kemampuan kurang hanya diam memperhatikan temannya yang sedang mengerjakan soal. 3) Komunikasi antara siswa dan guru belum berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan siswa belum terbiasa menegemukakan pertanyaan atau pendapatnya kepada guru. 4) Hasil belajar matematika siswa masih belum memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi pada siklus pertama ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dinyatakan tidak lulus. Sebelum membuat perencanaan untuk siklus kedua, terlebih dahulu diadakan refleksi guna meningkatkan segala sesuatu yang dirasakan masih kurang pada pelaksanaan tindakan pertama dan hal-hal yang sudah baik tetap dipertahankan. Perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan antara lain : 1). Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ), 2). Memberikan motivasi kepada siswa agar berani tampil di depan kelas. Sehingga diskusi kelas dapat berjalan dengan lancar, 3). Memberikan penjelasan kepada siswa bahwa dalam kelompok setiap anggota kelompok mempunyai peran dan tanggung jawab yang sama dalam segala hal serta kerjasama dan kekompakkan dalam kelompok juga sangat dibutuhkan, 4).Memperbaiki komunikasi antara guru dan siswa, agar terjadi interaksi yang baik pula. Sehingga dapat memperlancar

56

proses

pembelajaran,

dan

5).Mengoptimalkan

pembelajaran

dengan

menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme, agar hasil belajar siswa dapat meningkat.

2. Siklus Kedua a. Perencanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan siklus kedua diawali dengan melakukan refleksi terhadap hasil yang diperoleh dari tindakan pada siklus pertama melalui analisis terhadap sejumlah data yang telah diperoleh. Berdasarkan hasil kegiatan ini selanjutnya keseluruhan. b. Pelaksanaan Tindakan Proses pembelajaran pada tindakan siklus kedua ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 26 Mei 2009 . Prosedur pelaksanaan pembelajaran pada tindakan siklus kedua ini sama dengan pada tindakan siklus pertama. Yaitu diawali dengan apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang dapat mendorong siswa mengemukakan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Kegiatan dilanjutkan dengan membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Kemudian setiap kelompok diberi Lembar Kerja Siswa (LKS) yang harus diselesaikan dengan cara berdiskusi dalam kelompok. LKS ini berisi soalsoal yang dapat membangun pengetahuan siswa tentang konsep yang akan dipelajari yaitu menentukan rumus luas permukaan kubus dan balok. dilakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran secara

57

Setelah diskusi kelompok selesai, dilanjutkan dengan diskusi kelas dimana setiap kelompok diberi kesempatan untuk tampil di depan kelas untuk melaporkan hasil temuannya pada saat berdiskusi dan kelompok lain memberikan komentar. Kemudian guru bersama siswa membuat kesimpulan dari hasil temuan siswa, dan guru memberi penguatan terhadap hasil temuan siswa tersebut. Untuk memantapkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa guru menyajikan soal-soal eveluasi menentukan luas permukaan kubus dan balok dengan menggunakan rumus dalam lembar evaluasi yang harus dikerjakan oleh setiap siswa. Kemudian dilakukan pembahasan dan penilaian. Adapun hasil post test tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.11 Nilai Matematika Post Test Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Siswa Abdul Hamid Abdul Roup Angga Andrianto Angga Saputra Ajid Salikin Acep Andri Cep Ahmad Ruskanda Eka Halimatusadiah Evi Apipah Fajar Suryaman Skor 60 60 80 40 40 60 60 60 80 80 0=0 20 = 0 40 =13 60 = 48 80 = 26 100 = 9 Prosentase (%)

58

11 12 13 14 15 16 17 No 19 20 21 22 23

Farid Rifai Gunawan Heri Irawan Hana Nurhasanah Heni Nuraeni Irma Suryani Ikoh Nurohmawati Nama Siswa Nadia Retna Ayuningsih Endang Kusnadi Nurul Adimah Siti Aisah Mufti JUMLAH RATA-RATA

100 60 80 80 80 60 60 Skor 60 40 100 40 60 1500 65 Prosentase (%)

Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Nilai Matematika Siklus II

Nilai NO (x) 1 2 3 20 40 60

Frekuensi fx (f) 0 4 11 0 160 660 0 17 48 %

Kumulatif f Atas 0 160 820 Bawah 1500 1500 1340

Kumulatif % Atas 0 17 65 Bawah 100 100 83

59

4 5

80 100 Jumlah Rata-rata

6 2 23

480 200 1500 65

26 9 100

1300 1500

680 200

91 100

35 9

Diagram 4.3 Perolehan Nilai Matematika Siklus II

Berdasarkan data pada tabel nilai post test tindakan siklus kedua terhadap sub pokok bahasan menentukan rumus luas permukaan kubus dan balok , dapat disimpulkan bahwa siswa yang memperoleh skor 60 ke atas dan dinyatakan lulus lebih dari setengah dari seluruh jumlah siswa yaitu sebanyak 19 orang siswa atau

60

83 %. Sedangkan 4 orang siswa atau 17 % dinyatakan belum lulus. Skor rataratakelas pada post test tindakan siklus kedua ini adalah 65. Sedangkan skor rata-rata kelompok siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 4.13 Nilai Rata-rata Kelompok Siklus II

No 1 2 3 No 4 5 6

Kelompok A B C Kelompok D E F Jumlah Rata-rata

Nilai 60 60 60 Nilai 50 70 60 360 60

Keterangan

Keterangan

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa secara kelompok hampir seluruh siswa dinyatakan telah berhasil dalam membangun konsep bagaimana cara menentukan rumus luas permukaan kubus dan balok. c. Observasi Observasi atau pengamatan dilakukan untuk mengamati dan mengetahui aktivitas siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Terutama pada saat kegiatan diskusi kelompok dan diskusi kelas. Sedangkan untuk mengetahui

61

tingkat pemahaman siswa terhadap konsep yang telah dipelajari diadakan evaluasi dengan menggunakan soal-soal evaluasi. d. Analisis dan Refleksi Siklus Kedua Setelah melakukan tindakan siklus kedua pada pembelajaran matematika pada sub pokok bahasan menentukan rumus luas permukaan kubus dan balok dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme, maka selanjutnya dilakukan analisis dan refleksi hasil kegiatan berdasarkan data dan sejumlah informasi yang diperoleh dari hasil observasi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Adapun hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut: 1) Aktivitas siswa pada saat berlangsung diskusi kelompok sudah berjalan dengan baik. Setiap anggota kelompok sudah memberikan kontribusinya untuk kelompok. Mereka saling bekerjasama dan bahu-membahu dalam memecahkan masalah yang ada dalam LKS. 2) Diskusi kelas sudah berjalan dengan baik. Pada siklus kedua ini semua kelompok sudah berani tampil di depan kelas tanpa rasa malu dan takut lagi seperti pada siklus pertama. Mereka sudah mulai terbiasa dengan kegiatan diskusi kelas. 3) Hasil belajar matematika siswa pada siklus kedua ini mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat dari hasil perolehan nilai rata-rata post test siklus kedua lebih baik dibandingkan nilai post test siklus pertama. Sebelum membuat perencanaan untuk siklus ketiga, terlebih dahulu diadakan refleksi guna meningkatkan segala sesuatu yang dirasakan masih

62

kurang pada pelaksanaan tindakan siklus kedua dan hal-hal yang sudah baik tetap dipertahankan. Perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan antara lain : 1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) 2) Membuat soal-soal yang lebih variatif dan mudah dipahami dalam LKS, sehingga dapat lebih membantu siswa dalam membangun konsep yang akan dipelajari. 3) Memotivasi siswa agar menciptakan diskusi kelas yang lebih aktif dan hidup.

3. Siklus Ketiga a. Perencanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan siklus ketiga diawali dengan melakukan refleksi terhadap hasil yang diperoleh dari tindakan pada siklus kedua melalui analisis terhadap sejumlah data yang telah diperoleh. Berdasarkan hasil kegiatan ini selanjutnya keseluruhan. b. Pelaksanaan Tindakan Proses pembelajaran pada tindakan siklus ketiga ini dilaksanakan pada hari Jum‟at tanggal 29 Mei 2009 . Prosedur pelaksanaan pembelajaran pada tindakan siklus ketiga ini sama dengan pada tindakan siklus pertama dan kedua. dilakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran secara

63

Yaitu diawali dengan apersepsi dengan cara guru mengajukan beberapa pertanyaan yang dapat mendorong siswa mengemukakan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Kegiatan dilanjutkan dengan membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Kemudian setiap kelompok diberi Lembar Kerja Siswa (LKS) yang harus diselesaikan dengan cara berdiskusi dalam kelompok. LKS ini berisi soalsoal yang dapat membangun pengetahuan siswa tentang konsep yang akan dipelajari yaitu Menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan perhitungan luas permukaan kubus dan balok. Setelah diskusi kelompok selesai, dilanjutkan dengan diskusi kelas dimana setiap kelompok diberi kesempatan untuk tampil di depan kelas untuk melaporkan hasil temuannya pada saat berdiskusi dan kelompok lain memberikan komentar. Kemudian guru bersama siswa membuat kesimpulan dari hasil temuan siswa, dan guru memberi penguatan terhadap hasil temuan siswa tersebut. Untuk memantapkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa guru menyajikan soal-soal menentukan luas permukaan kubus dan balok dengan menggunakan rumus dalam lembar evaluasi yang harus dikerjakan oleh setiap siswa. Kemudian dilakukan pembahasan dan penilaian. Adapun hasil post test tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.14 Nilai Matematika Post Test Siklus III No Nama Siswa Skor Prosentase

64

(%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 No 22 23 Abdul Hamid Abdul Roup Angga Andrianto Angga Saputra Ajid Salikin Acep Andri Cep Ahmad Ruskanda Eka Halimatusadiah Evi Apipah Fajar Suryaman Farid Rifai Gunawan Heri Irawan Hana Nurhasanah Heni Nuraeni Irma Suryani Ikoh Nurohmawati Muhammad Rodialloh Nadia Retna Ayuningsih Endang Kusnadi Nurul Adimah Nama Siswa Siti Aisah Mufti JUMLAH 60 80 100 60 40 60 60 80 100 100 100 80 100 100 100 80 60 100 80 80 100 Skor 60 60 1840 Prosentase (%) 0=0 20 = 0 40 = 4 60 = 31 80 = 26 100 = 39

65

RATA-RATA

80

Tabel 4.15 Distribusi Frekuensi Nilai Matematika Siklus III Nilai NO (x) 1 2 3 4 5 20 40 60 80 100 Jumlah Rata-rata (f) 0 1 7 6 9 23 0 40 420 460 900 1820 80 0 4 31 26 39 100 Frekuensi fx % Atas 0 40 460 920 1820 Bawah 1820 1820 1780 1360 900 Atas 0 4 35 61 100 Bawah 100 100 96 65 39 Kumulatif f Kumulatif %

Diagram 4.4 Perolehan Nilai Matematika Siklus III

Berdasarkan data pada tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa pada tindakan siklus ketiga ini hampir seluruh siswa yaitu sebanyak 22 orang siswa atau 96 % dinyatakan lulus. Sedangkan sisanya 1 orang siswa atau 4 %

66

dinyatakan tidak lulus. Sementara skor rata-rata kelas mengalami kenaikan yang signifikan yaitu 80. Skor rata-rata kelompok pada tindakan siklus III ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.16 Nilai Rata-rata Kelompok Siklus III

No 1 2 3 4 6 7

Kelompok A B C D E F Jumlah Rata-rata

Nilai 70 80 80 70 70 80 450 75

Keterangan

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh kelompok pada kegiatan diskusi siklus III dinyatakan lulus dengan skor yang baik, dengan skor rata-rata 75. Ini berarti bahwa penggunaan Model Pembelajaran Konstruktivisme yang menekankan kepada pembelajaran secara berkelompok dinyatakan berhasil. c. Observasi dan Analisis Tindakan Siklus Ketiga

67

Setelah melakukan pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa, maka dilakukanlah observasi dan analisis terhadap pelaksanaan kegiatan tindakan tersebut. Hasil analisis tersebut dijelaskan sebagai berikut : 1) Aktivitas siswa selama diskusi kelompok sudah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 2) Hasil belajar siswa pada siklus ketiga ini mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari nilai post test siklus ketiga yang mengalami peningkatan dibanding siklus pertama dan kedua. Hanya 1 orang siswa yang mendapatkan skor dibawah 60.

C. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme

dengan

Informasi yang diperoleh dari hasil observasi pada setiap siklus menunjukkan bahwa selama proses pembelajaran berlangsung siswa mau berdiskusi dengan temannya dalam kelompok, selalu mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Selain itu mereka serius dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap teman dan kelompok lain pada saat pembelajaran berlangsung. Pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme ini juga membuat mereka menjadi lebih berani bertanya dan mengemukakan pendapat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.17 Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran

68

pada setiap Siklus Hasil Yang Dicapai Siklus Siklus Siklus I II III C B B C B B C B B C B B C B B C B B C C C C B B B C B B B B

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Aspek Yang Dinilai Keberanian Keaktifan Menghargai pendapat teman Kerja sama Pemecahan masalah Mengembangkan pendapat dengan baik Kreatif Ketekunan Ketelitian Perhatian

Pra Siklus K C C C C K C C C C

D. Persepsi Siswa Tentang Pembelajaran dengan Menggunakan Model Konstruktivisme Untuk mengetahui persepsi siswa tentang pembelajaran yang telah dilakukan, Setelah kegiatan Penelitian Tindakan Kelas Siklus III selesai, peneliti menyebarkan angket yang berisi 4 pertanyaan. Dari jawaban-jawaban siswa dapat ditarik beberapa kesimpulan, diantaranya : 1. Hampir seluruh siswa menjawab bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode konstruktivisme menyenangkan, yaitu dari 23 siswa yang menjawab Ya sebanyak 20 siswa dan sisanya menjawab Tidak. 2. 16 orang siswa menjawab bahwa dengan menggunakan model

konstruktivisme kegiatan pembelajaran lebih mudah dipahami sedangkan yang lainnya menjawab tidak. 3. Hampir seluruh siswa merasa lebih aktif dalam pembelajaran dengan metode konstruktivisme.

69

4. Seluruh siswa setuju pada pembelajaran berikutnya menggunakan metode konstruktivisme kembali.

E. Hasil Analisis Pelaksanaan Tindakan 1. Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika Sebelum Menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme Hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika sebelum

menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari hasil perolehan skor rata-rata pada pra siklus yang hanya mencapai 49,5. Hasil perolehan nilai ini masih jauh dibawah KKM yang telah ditetapkan yaitu 60. Jumlah siswa yang dinyatakan lulus sebanyak 13 orang siswa atau hanya 56,5 % dari jumlah seluruh siswa yang ada, sedangkan jumlah siswa yang dinyatakan tidak lulus sebanyak 10 orang atau 43,5 %. 2. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme Aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme menunjukkan hasil yang positif pada setiap siklus. Berikut informasi yang diperoleh dari setiap siklus : a. Aktivitas siswa pada saat pembelajaran siklus pertama dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme belum menunjukkan hal yang berarti, semuanya masih berjalan biasa-biasa saja. keaktifan siswa pada saat pembelajaran berlangsung masih kurang. Diskusi kelompok dan diskusi kelas belum berjalan dengan baik. Dalam diskusi kelompok hanya siswa dengan kemampuan pandai saja yang aktif mengerjakan soal-soal dalam LKS,

70

sedangkan pada saat diskusi kelas masih ada kelompok yang belum berani tampil di depan kelas untuk melaporkan hasil diskusinya. b. Pada siklus kedua akitvitas siswa pada saat pembelajaran mulai menunjukkan perubahan. Mereka mulai bersemangat dalam berdiskusi kelompok dan kelas, dan tidak ada lagi kelompok yang tidak mau tampil di depan kelas. Pada siklus kedua ini juga sudah mulai ada interaksi yang baik antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru. c. Aktivitas siswa pada siklus ketiga jauh lebih baik dibanding siklus-siklus sebelumnya. Mereka sangat antusias dalam melakukan pembelajaran, baik pada saat diskusi kelompok maupun diskusi kelas. 3. Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme Hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika Setelah

setelah

menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme dalam penelitian ini cukup memuaskan. Skor evaluasi dari siklus ke siklus mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari skor rata-rata siswa pada setiap siklus. Pada siklus pertama skor rata-rata siswa hanya 53, pada siklus kedua naik menjadi 65, dan pada siklus ketiga perolehan skor rata-rata siswa mengalami peningkatan lagi dibanding siklus kedua menjadi 80. Untuk lebih jelasnya peningkatan hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.18 Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Matematika dengan Menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme

71

Skor Pada No 1 2 3 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Nama Siswa Abdul Hamid Abdul Roup Angga Andrianto Ajid Salikin Acep Andri Cep Ahmad Ruskanda Eka Halimatusadiah Evi Apipah Fajar Suryaman Farid Rifai Gunawan Heri Irawan Hana Nurhasanah Heni Nuraeni Irma Suryani Ikoh Nurohmawati Muhammad Rodialloh Nadia Retna Ayuningsih Endang Kusnadi Nurul Adimah Siti Aisah Mufti JUMLAH RATA-RATA Pra Siklus 20 40 40 20 40 40 60 60 60 60 20 60 60 40 60 60 60 40 20 80 20 20 1140 49,5 Siklus I 40 40 60 40 60 60 40 60 60 60 60 60 60 60 60 40 80 40 40 60 40 40 1220 53 Siklus II 60 60 80 40 60 60 60 80 80 100 60 80 80 80 60 60 60 60 40 100 40 60 1500 65 Siklus III 60 80 100 40 60 60 80 100 100 100 80 100 100 100 80 60 100 80 80 100 60 60 1840 80

72

F. Pembahasan dan Temuan 1. Pembahasan Hasil Penelitian Menurut pengamatan peneliti aktivitas belajar matematika siswa dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan pembelajaran matematika dengan

pembelajaran konvensional yang hanya menekankan pada latihan-latihan soal atau drill and practice. Karena dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme siswa aktif membangun sendiri pengetahuannya. Sebelum menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme proses pembelajaran didominasi oleh guru, setelah menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme siswalah yang banyak mendominasi pembelajaran. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dan moderator dalam proses pembelajaran. Karena siswalah yang membangun sendiri pengetahuan barunya dengan berbekal pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Piaget yang menyatakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Pendapat tersebut diperkuat oleh Ausubel yang menyatakan bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi belajar yaitu apa yang diketahui siswa, guru harus meyakininya dalam mengajar. Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil belajar matematika siswa dalam pembelajaran matematika setelah menggunakan Model Pembelajaran

73

Konstruktivisme mengalami peningkatan dibanding sebelum menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme . Hal ini dapat dilihat dari skor evaluasi yang terus meningkat dari siklus ke siklus. Untuk lebih jelasnya hasil perolehan skor rata-rata hasil belajar siswa tiap siklus dapat dilihat pada grafik berikut ini : Diagram 4.5 Nilai Rata-Rata Tiap Siklus

2. Temuan Salah satu temuan pada penelitian ini bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme dapat

meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Temuan ini diperkuat oleh temuan Deti Rostika (2008). Dalam penelitiannya beliau menemukan bahwa dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme hasil belajar matematika siswa mengalami peningkatan.

74

Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada awal pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme menunjukkan bahwa pada saat dilakukan diskusi kelompok maupun diskusi kelas belum berjalan dengan baik. Kegiatan diskusi masih didominasi oleh siswa yang pandai. Dari hasil penskoran terhadap LKS yang mereka kerjakan, pada umumnya mereka kesulitan mengkomunikasikan jawaban mereka dengan baik. Walaupun secara keseluruhan sebetulnya mereka dapat menyelesaikan soal-soal dalam LKS tersebut. Berdasarkan temuan peneliti dari hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan, pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran

Konstruktivisme perlu mendapat perhatian dan dikembangkan, karena berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa.

75

BAB V KESIMPILAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mulai dari studi pendahuluan sampai berakhirnya penelitian pada siklus III dapat disimpulkan hal-halberikut ini : 1. Pembelajaran geometri bangun ruang sebelum menerapkan model konstruktivisme dari segi hasil masih kurang, baik dari nilai post tes maupun partisifasi siswa dalam pembelajaran. 2. Penerapan model konstruktivisme dalam pembelajaran matematika khususnya geometri bangun ruang telah mampu menumbuhkan aktivitas dan minat siswa dalam pembelajaran, hal ini dapat dilihat pada hasil partisifasi aktivitas siswa selama pembelajaran yang menunjukkan peningkatan yang signifikan pada setiap siklusnya. 3. Pembelajarn geometri dengan menerapkan model pembelajaran konstruktivisme telah menunjukkan hasil yang baik, hal ini terlihat dari nilai rata-rata perolehan tiap siklus. Di mana pada siklus I nilai rata-ratanya 53, kemudian meningkat pada siklus kedua dengan nilai rata-rata 65, dan akhirnya pada siklus III mencapai nilai rata-rata 80. Meskipun pada intinya peningkatan hasil belajar di atas karena adanya pengaruh dari penggunaan model konstruktivisme yang digunakan dalam pembelajaran, namun tentu sajahal ini tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. Dari ketiga kesimpulan yang telah diuraikan di atas, ditarik kesimpulan bahwa penerapan model konstruktivisme pada pembelajaran matematika telah memberikan

76

dampak yang positif, baik hasil yang berupa nilai maupun sktivitas dan minat belajar siswa yang semakin meningkat. B. Rekomendasi Berdasarkan temuan-temuan selam penelitian, peneliti merekomendasikan hal-hal sebagai berikut : 1. Sebaiknya suatu pembelajaran dilakukan dengan tidak mengesampingkan faktorfaktor yang mempengaruhinya. 2. Alangkah baiknya suatu pembelajaran telah disusun secara sistematis dan direncanakan dengan matang melalui suatu rencana pembelajaran serta pelaksanaan dari rencana pembelajaran tersebut. 3. Dalam suatu pembelajaran guru hendaknya mampu mengembangkan motivasi belajar siswa pada awal pembelajaran, dan dalam proses pembelajaran itu sendiri agar siswa tidak merasa bosan dan jenuh apalagi ketakutan.

77

DAFTAR PUSTAKA

Burhanudin, TR. (2007), Pendekata, Metode, dan Teknik Penelitian Pendidikan. UPI Kampus Purwakarta Hamalik, O. (2004), Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo Herman, T. dan Sufyani, P. (2007), Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru. Bandung : Unipersitan Pendidikan Indonesia Karli, H dan Margaretha. (2002), Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi 1. Bandung : Bina Media Informasi Kasbollah, K (1998/1999). Penelitian Tindakan Kelas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta : DIRJEN DIKTI Mulyasa, E. (2004), Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : Remaja Rosdakarya Natawidjaja,R.(1995/1996)Pokok-Pokok Pikiran Mengenai Penelitian Kelas. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Riyanto, Y. (1996), Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya : SIC Sudjana, N. (2002), Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo Suprayekti, (2003), Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta : Departeman Pendidikan Nasional Surya, M. (1996), Psikologi Pendidikan. Bandung : CV. Pembangunan Jaya Suwangsih, E. dan Tiurlina (2006), Model Pembelajaran Matematika. Bandung : UPI Press Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003. (2003), Sistem Pendidikan Nasional. Bandung : Citra Umbara Usman, U. dan Setiawati,L. (1993), Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Rosda Karya

78

Wardani, IGAK dan Wihardit, K. (2008), Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Terbuka Wibawa, B. (2003), Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Departemen Pendidikan. (2006), Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD,MI dan SLB, Departemen Pendidikan.

Tesis Wahyudin, D. (2002), Implementasi Pendidikan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran Pendidikan IPS di SD. Bandung : Program Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia Jurnal Iskandar, S. (2006), Ancangan Alternatif Penelitian bagi Guru Sekolah Dasar. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->