RENNY HARTANTI

405080033 Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

DEFINISI
• Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan bendabenda yang menghasilkan panas (api,cairan panas, listrik, dll) atau zat-zat yang bersifat membakar (asam kuat, basa kuat).

EPIDEMIOLOGI
• USA: 2 juta org menderita luka bakar, 100.000 yg dirawat di RS • pd org dewasa muda: 20 – 29 tahun (puncak insiden) • Pd anak: 9 tahun atau kurang • Jarang pd 80 tahun ke atas • <3 tahun: kecelakaan jatuh pada kepala • 3 – 14 tahun: nyala api yg membakar baju • 15 – 60 tahun: kecelakaan industri • >60 tahun: kebakaran di rmh akibat rokok atau yg berhub dgn lupa mental

Penyebab Luka Bakar • Paparan suhu tinggi (api. . air panas) • Listrik • Petir • Zat kimia (asam atau basa kuat) • Radiasi • Suhu yang sangat rendah (frost bite).

Klasifikasi luka bakar • Berdasarkan penyebab: – – – – – Luka bakar karena api Luka bakar karena air panas Luka bakar karena bahan kimia (asam kuat dan basa kuat) Luka bakar karena radiasi Luka bakar karena listrik dan petir • Berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan: – Luka bakar derajat I (first degree) – Luka bakar derajat II (second degree) – Luka bakar derajat III (third degree) .

• Berdasarkan berat ringannya luka bakar: a) Luka bakar ringan • • • • • • • • Luka bakar derajat I dan II dengan luas <15% pada orang dewasa Luka bakar derajat I dan II dengan luas <10% pada anak-anak Luka bakar derajat III dengan luas < 2% Penderita cukup berobat jalan Luka bakar derajat II dengan luas 15-25% pada orang dewasa Luka bakar derajat II dengan luas 10-20% pada anak-anak Luka bakar derajat III dengan luas <10% Penderita sebaiknya dirawat b) Luka bakar sedang .

kaki. wajah. persendiaan sekitar ketiak Semua penderita dengan inhalasi. mata. genitalia. telinga. luka bakar resiko tinggi Penderita harus dirawat . luka bakar dengan komplikasi trauma berat.c) Luka bakar derajat berat • • • • • • Luka bakar derajat II dengan luas >25% pada orang dewasa Luka bakar derajat II dengan luas >20% pada anak-anak Luka bakar derajat III dengan luas >10% Luka bakar yang mengenai tangan.

hitam. atau coklat (-) Leathery (+) Normal Utuh Utuh Sebagian utuh Rusak 5-7 hari tanpa jar parut 10-14 hari +/.jar parut 25-60 hari + jar parut tebal # .DERAJAT KEDALAM LB PEMBEDA Derajat 1 (10) Derajat 2 (20)/ Partial Thickness Burn Epidermis-1/3 dermis Derajat 2 (20)/ Superficial Partial Thickness Bunr) Hampir seluruh dermis Derajat 3 (30)/ Deep Partial Thickness Burn Epidermis-dermislapisan yg > dalam (tulang & otot LOKASI Epidermis DERMALEPIDERMAL JUNCTION WARNA atau PENAMPAKAN NYERI TEKSTUR APENDISES KULIT (folikel rambut. kel keringat. kel sebacea) DURASI & EFEK SEMBUH Utuh Rusak Rusak Rusak Merah Merah-kadang pucat-edematous & eksudatif. lepuh (+) Edema (bula) • Pink – putih • Putih kekuningan (eskar tipis) (+) Tebal Pucat atau > putih OK eskar.

Keadaan Gawat darurat • Syok hipovolemik • Trauma inhalasi • Luka bakar derajat berat .

Luka Bakar yang Perlu Perawatan Khusus • • • • Luka Bakar Listrik. Luka Bakar dengan trauma Inhalasi Luka Bakar Bahan Kimia Luka Bakar dengan kehamilan .

– Kerusakan jaringan bersifat lambat tapi pasti dan tidak dapat diperkirakan luasnya. alternating current / AC)  energi dalam jumlah besar  melalui bagian tubuh yang memiliki resistensi paling rendah (cairan.Luka Bakar listrik • Luka bakar bisa karena voltase rendah atau voltase tinggi. dan sebagai berikut). gagal ginjal. Hal ini di sebabkan akibat kerusakan system pembuluh darah di sepanjang bagian tubuh yang dialiri listrik (trombosis. darah / pembuluh darah)  kerusakan oleh resistensi local maupun sistemik (otak/ensellopati. • Kerusakan jaringan tubuh disebabkan karena beberapa hal berikut : – Aliran listrik (arus bolak-balik. akulasi kapiler) . jantung/fibrilisasi ventrikel. – Loncatan energi yang ditimbulkan oleh udara yang berubah menjadi api. otot/ rabdomiosis.

PENANGANAN/SPECIAL MANAGEMENT • PRIMARY SURVEY – Airway – cervical spine. – Breathing – Circulation – Disability-Pemeriksaan kesadaran GCS dan periksa pupil – Exposure-cegah penderita dari hipotermi .

patah tulang/dilokasi. – Kalau perlu dipasang endotrakeal intubasi .• SECONDARY SURVEY – Pemeriksaan dari kepala sampai kaki. – Pakaian dan perhiasan dibuka – Periksa titik kontak – Estimasi luas luka bakar / derajat luka bakarnya. – Pemeriksaan neurologist – Pemeriksaan trauma lain.

0 – Monitor jarang dipergunakan .• RESUSITASI – Bila didapatkan luka bakar. – Kalau didapatkan haemocromogen (myoglobin). urine output dipertahankan antara 75-100 cc/jam sampai tampak menjadi jernih. – Sodium bicarbonate dapat ditambahkan pada ringer laktat sampai pH > 6. dapat diberikan cairan 2-4 cc/kg/ luas luka bakar.

– ventricular fibrilasi.• CARDIAC MONITORING – Monitoring ECG kontinu untuk disritmia. asystole dan aritmia diterapi sesuai Advanced Cardiac Live Support • MONITORING POST RESUSITASI (72 jam pascatrauma) – Hal hal yang perlu diobservasi setiap harinya secara sistematik dan teliti meliputi observasi klinis dan data pemeriksaan laboratorium yaitu : • • • • Cairan – elektrolit Keadaan luka bakarnya Kondisi potensial infeksi Status nutrisi / gizi .

.Luka bakar dengan trauma inhalasi • Pada kebakaran dalam ruangan tertutup (in door) • Luka bakar mengenai daerah muka / wajah • Dapat merusak mukosa jalan napas • Edema laring hambatan jalan napas.

Gejala • • • • • Sesak napas Takipnea Stridor Suara serak Dahak berwarna gelap (jelaga) Hati – hati kasus trauma inhalasi mematikan .

nitrogen dioksida. akreolin  iritasi dan bronkokonstriksi saluran napas.  Trauma panas langsung  Terhirupnya sesuatu yang panas  kerusakan mukosa langsung pada percabangan trakeobronkial  Keracunan asap yang toksik  Akibat termodegradasi material alamiah dan material yang diproduksi terbentuk gas toksik (beracun). misalnya hydrogen sianida.Mekanisme kerusakan saluran napas. 2 2 .  Intoksikasi karbon monoksida (CO)  Intoksikasi CO  hipoksia jaringan. nitrogen klorida.  Gas CO memiliki afinitas cukup kuat terhadap pengikatan hemoglobin (210-240 kali lebih kuat di banding dengan O )  CO  memisahkan O dari Hb  hipoksia jarinagn. Obstruksi jalan napas akan menjadi lebih hebat akibat trakealbronkitis dan edema.  Peningkatan kadar karboksihemoglobin (COHb) dapat dipakai untuk evaluasi berat / ringannyaintoksikasi CO.

mulut atau tenggorokan. hidung.KLINIS Kecurigaan adanya trauma inhalasi bila pada penderita luka bakar terdapat 3 atau lebih dari keadaan berikut : Riwayat terjebak dalam rumah/ ruangan terbakar Sputum tercampur arang Luka bakar perioral. bibir. tersedak. malas bernapas dan adanya wheezing atau rasa tidak nyaman pada mata atau tenggorokan (iritasi mukosa) Gejala distress napas. Tanda distress napas. Takipnea Sesak atau tidak ada suara. . penurunan kesadaran. rasa tercekik.

• Pada fase awal  kerusakan saluran napas akibat efek toksik yang langsung terhirup • Pada fase lanjut  edema paru dengan terjadinya hpoksemia progresif  ARDS (acute respiratory distress syndrome) .

.

 Gas Darah  PaO2 yang rendah (kurang dari 10 kPa pada konsentrasi oksigen 50%.Pemeriksaan tambahan  Kadar karboksihemoglobin (COHb)  Pada trauma inhalasi. Bila kadar COHb lebih dari 15 % setelah 3 jam kejadian  bukti kuat terjadi trauma inhalasi. FiO2 = 0.  Foto Toraks  biasanya normal pada fase awal  Bronkoskopi Fiberoptic  Bila terdapat edema mukosa. tetapi dapat meningkat pada fase lanjut. kadar COHb pada batas 20-25 %.  PaO2 biasanya normal pada fase awal. adanya bintik – bintik pendarahan dan ulserasi  diagnosa trauma inhalasi. kadar COHb 35-45 % (berat).  Tes Fungsi paru  Scan Paru Xenon tidak praktis. bahkan setelah 3 jam dari kejadian.5) mencurigakan adanya trauma inhalasi. .

.

Diagnosa Trauma Inhalasi • • • • • Kecurigaan klinis Riwayat kejadian Pemeriksaan gas darah dan kadar COHb Dikonfirmasi dengan bronkoskopi fiberoptic pemeriksaan fungsi paru .

– Humidifikasi dengan nebulizer. – Pemberian bronkodilator (Ventolin inhalasi) ® . – Pemberian oksigen 2-4 liter / menit – Penghisapan secret secara berkala.PENATALAKSANAAN • Tanpa Distres Pernapasan – Intubasi / pipa endotrakeal.

perubahannilai hasil pemeriksaan analisis gas darah (8jam pertama . sesak napas.  Gejala Obyektif : Frekuensi napas meningkat ( > 30 kali / menit). stridor.  Posisi penderita duduk/etengah duduk. Pemantauan gejala dan tanda distress pernapasan  Gejala Subyektif : gelisah. sianotik. aktivitas otot pernapasan tambahan. 24 jam sampai 45 hari  Pemeriksaan :  Analisa gas darah  pada saat pertama kali (resusitasii) 8 jam pertama  Setelah 24 jam kejadian selanjutnya sesuai kebutuhan  foto toraks 24 jam pasca kejadian  Pemeriksaan radiologik (foto toraks) dikerjakan bila ada masalah pada jalan napas. dirawat di bed observasi  Pelaksanaan di ruang resusitasi gawat darurat .

– Pembersihan secret saluran pernapasan secara berkala serta bronchial washing. – Humidifikasi dengan nebulizer.4 liter /menit melalui trakeostomi.• Dengan Distres Pernapasan – Dilakukan trakeostomi dengan local anestesi. – Pemberian oksigen 2 . . – Pemberian bronkodilator (Ventolin ® inhalasi setiap 6 jam. dengan atau tanpa kanul trakeostomi.

Gambaran hasil infitrat paru dijumpai > 24 jam samapi 4-5 hari. sesak napas (dispnea) • Gejala obyektif : frekuensi napas meningkat (30-40 kali / menit). aktivitas otot pernapasan tambahan. perubahan hasil pemeriksaan analisis gas darah 98 jam pertama). – Pelaksanaan di ruang resusitasi instalasi gawat darurat . sianotik. – kasus ini dirawat pada bed observasi dengan posisi duduk atau setengah duduk.– Pemantauan gejala dan tanda distress pernapasan • Gejala subyektif : gelisah. – Pemeriksaan radiologik (foto toraks) dikerjakan bila masalah pernapasan telah diatasi. stridor.

• Dilaporkan 2-6 % kejadian luka bakar karena bahan kimia .000 jenis kimia yang beredar. Sekitar 30.Luka Bakar Kimia • Di Amerika Serikat terdapat 500.000 jenis yang berbahaya.

barium. kalium amoniak. kalsium atau bahan –bahan pembersih dapat menyebabkan liquefaction necrosis dan denaturasi protein. pembersih kamar mandi atau kolam renang dapat menyebabkan kerusakan coagulation necrosis. asam aksalat. asam sulfat. creosote. efek toksis terhadap ginjal dan liver. . • Acids/Asam – Asam hidroklorat. litium. sebagai desinfektan kimia yang dapat menyebabkankerusakana kutaneus. petroleum. • Organic Compounds – Fenol.Klafisikasi Bahan kimia • Alkalis/Basa – Hidroksida. soda kaustik.

Berat / ringannya trauma tergantung • • • • • bahan Konsentrasi Volume Lama kontak Mekanisme trauma .

Penatalaksanaan • • • • • • • Bebaskan pakaian yang terkena Irigasi dengan air yang kontinu Hilangkan ras nyeri Perhatikan airway. Penanganan selajutnya sama seperti penanganan luka bakar. Perhatikan bila mengenai mata. breathing dan circulation Indenifikasi bahan penyebab. .

Luka Bakar dan kehamilan • Hati –hati terhadap komplikasi • Komplikasi pada ibu dan janin • Pada luka 60 % atau lebih menimbulkan terminasi spontan dari kehamilan .

mengurangi uterus blood flow dan oksigen ke janin menurun.Penatalaksanaan • Segera dilakukan stabilisasi airway. Hipoksia dapat terjadi pada ibu dan janin • Distress napas hipoksia dapat menimbulkan resistensi vaskuler pada uterus. • Monitoring janin • Konsultasi dengan spesialis kandungan .

pneumonia Gagal ginjal akut Dehidrasi  hemokonsentrasi  gangguan vaskularisasi glomerulus  ischemic ginjal irreversible • Kerusakan tubulus ginjal ok penumpukan myoglobin ( necrosis otot masive)dan pigmen hemoglobin ( hemolisis eritrocyte ) 1.Sebab kematian pada luka bakar Syok  hipovolemik ( gangguan cairan tubuh )  Neurogenik Kegagalan saluran pernapasan menghisap udara panas  oedema larynx. • 3. 2. sepsis. 4.laringospasme  asphyxia Keracunan CO Ulcus curling Infeksi  Pseudomonas. 6. 5. • .

Indikasi Rawat Inap Pada Luka Bakar • Penderita syok atau terancam syok – Anak: luas luka >10% – Dewasa: luas luka >15% • Letak luka memungkinan penderita terancam cacat berat – Wajah. mata – Tangan dan kaki – Perineum • Terancam udem laring – Terhirup asap atau udara hangat .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful