KARSINOMA NASOFARING

Pembimbing : Dr. Yuswandi Affandi Sp.THT-KL Dr. Ivan Djajalaga, M.Kes, Sp.THT-KL Penyusun : Mega Permata Pandu Abdul Syakur Adelin litan Adrian Ridski Harsono Ari Suganda Felyana Gunawan Yoelius Wijaya Vitta Kusuma Wijaya Nazlia Binti Razali

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 2011

1

KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas berkat rahmatnyalah penulis dapat menyelesaikan MakalahKarsinomaNasofaring ini. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok di RSUD Karawang. Makalah ini memuat tentang KARSINOMA NASOFARING yang sangat berbahaya bagi kesehatan seseorang. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dokter pembimbing di bidang THT yaitu dr. Yuswandi Affandi, SpTHT dan dr. Ivan Djajalaga M.Kes.Sp.THT yang telah membimbing kami dalam kepaniteraan klinik THT ini dan rekan-rekan koas yang ikut membantu memberikan semangat dan dukungan moril . Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi penulis dan pembaca.

Karawang, 20 September 2011

Penulis

2

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I BAB II Karsinoma nasofaring Anatomi dan histologi Anatomi Histologi BAB III Karsinoma Nasofaring Definisi Epidemiologi dan Etiologi Patofisiologi Manifestasi klinis Diagnosis Diagnosis Banding Penatalaksanaan BAB IV Daftar Pustaka 1 2 4 5 5 7 8 8 8 11 13 14 17 18 21 3 .

tumor getah bening.2% kasus per 100.000 pria dan 11. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%).000 penduduk atau diperkirakan 7000 – 8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia. tonsil. maka prognosis dari pasien dengan karsinoma nasofaring semakin buruk. Insiden yang paling tinggi adalah pada ras mongoloid di asia dan china selatan. 4 . deteksi dini. Penanggulangan karsinoma nasofaring sampai saat ini masih merupakan suatu problem.46%) penderita karsinoma nasofaring berdasarkan data patologi yang diperoleh di laboratorium patologi anatomi FK UNAIR Surabaya (1973-1976) diantara 8463 kasus keganasan diseluruh tubuh. laring (16%). yaitu dengan ditemukannya metastasis pada leher sebagai gejala pertama.000 wanita. tumor payudara. Di hongkong. hal ini dikarenakan etiologi yang masih belum pasti. dan tumor kulit. dan tidak mudah untuk diperiksa oleh mereka yang bukan ahli sehingga diagnosis sering terlambat.5% kasus per 100. gejala dini yang tidak khas serta letak nasofaring yang tersembunyi.7 per 100. Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8. dan tumor ganas rongga mulut.Survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan padatahun 1980 secara “pathology based” mendapatkan angka prevalensi karsinoma nasofaring 4. terapi dan rehabilitasi dari karsinoma nasofaring. insidennya 28. Karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besar tumor ganas dengan frekuensi tertinggi diantara tumor lainnya seperti tumor ganas serviks uteri. Semakin terlambat kita melakukan diagnosis. Maka dari itu diharapkan dokter dapat melakukan pencegahan. hipofiring dalam presentase rendah.BAB I KARSINOMA NASOFARING Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang terjadi pada daerah nasofaring dan merupakan tumor ganas yang paling banyak dijumpai diantara tumor ganas THT di Indonesia. sedangkan di Indonesia maupun di asia tenggara.

Anterior : koana / nares posterior. Ke arah posterosuperior dari torus tubarius terdapat fossa Rosenmuller yang merupakan lokasi tersering karsinoma nasofaring.Superior : basis crania. sehingga penyebaran tumor ke lateral akan menyebabkan sumbatan orifisium tuba eustakius dan akan mengganggu pendengaran.Lateral : fossa Rosenmulleri kanan dan kiri (dibentuk os maxillaris & sphenoidalis) Dorsal dari torus tubarius didapati cekungan yang disebut “fossa Rosenmulleri ”. oleh os vomer dibagi atas choane kanan dan kiri . belakang dan lateral yang secara anatomi termasuk bagian faring.Mukosa lanjutan dari mukosa atas . fasia pre vertebralis dan otot-otot dinding faring. Di nasofaring terdapat banyak saluran getah bening yang terutama mengalir ke lateral bermuara di kelenjar retrofaring Krause (kelenjar Rouviere). Hal ini disebabkan karena adanya jaringan adenoid. dimana pada usia muda dinding postero-superior nasofaring umumnya tidak rata. Nasofaring merupakan bagian nasal dari faring yang terletak posterior dari kavum nasi.1. Yang disebut kanker nasofaring adalah kanker yang terjadi di selaput lendir daerah ini.Fascia space = rongga yang berisi jaringan longgar .Inferior : dinding atas palatum molle . Ke anterior berhubungan dengan rongga hidung melalui koana dan tepi belakang septum nasi.BAB II ANATOMI DAN HISTOLOGI II. sedangkan bagian belakang nasofaring berbatasan dengan ruang retrofaring. sehingga sumbatan hidung merupakan gangguan yang sering timbul.Posterior : setinggi columna vertebralis C1-2 . Pada atap nasofaring sering terlihat lipatan-lipatan mukosa yang dibentuk oleh jaringan lunak sub mukosa. tepatnya 5 . Anatomi Nasofaring merupakan suatu rongga dengan dinding kaku di atas. (1) (2) (3) Batas : . diliputi oleh mukosa dan fascia (os occipital & sphenoid) . Ke arah posterior dinding nasofaring melengkung ke superoanterior dan terletak di bawah os sfenoid. Pada dinding lateral nasofaring terdapat orifisium tuba eustakius dimana orifisium ini dibatasi superior dan posterior oleh torus tubarius.

Pada bagian belakang atas muara tuba eustachius terdapat penonjolan tulang yang disebut torus tubarius dan dibelakangnya terdapat suatu lekukan dari fossa Rosenmuller dan tepat diujung atas posteriornya terletak foramen laserum. lipatan di belakang torus tubarius. • • Plica salpingopalatina. lipatan di depan torus tubarius Plica salpingopharingea. • Recessus Pharingeus disebut juga fossa rossenmuller. Nasofaring berbentuk kerucut dan selalu terbuka pada waktu respirasi karenadindingn ya dari tulang. Struktur penting yang ada di Nasofaring : • • Ostium Faringeum tuba auditiva muara dari tuba auditiva Torus tubarius.pada cekungan Rosenmuelleri dan tempat bermuaranya saluran Eustachii yang menghubungkan liang telinga tengah dengan ruang faring (3) Pada dinding lateral nasofaring lebih kurang 1. kecuali dasarnya yang dibentuk oleh palatum molle. Merupakan tempat predileksiKarsinoma Nasofaring. penonjolan di atas ostium faringeum tuba auditiva yang disebabkankarena cartilago tuba auditiva • Torus levatorius. muntah.5 inci dari bagian belakang konka nasal inferior terdapat muara tuba eustachius. Dinding lateral nasofaring merupakan bagian terpenting. Nasofaring akan tertutup bila paltum molle melekat ke dinding posterior pada waktu menelan. foramen jugularis. mengucapkan kata-kata tertentu. 6 .dibentuk oleh laminafaringob asilaris karotis dari dan fasia faringeal dan otot konstriktor faring superior. merupakan penonjolandari musculus salphingopharingeus yang berfungsi untuk membuka ostium faringeumtuba auditiva terutama ketika menguap atau menelan. penonjolan di bawah ostium faringeum tuba auditiva yangdisebabka n karena musculus levator veli palatini. Struktur ini penting diketahui karena merupakan tempat penyebaran tumor ke intrakranial. kanalis kanalis hipoglossus. Fasia ini mengandung jaringan fibrokartilago yang menutupi foramen ovale. Pada daerah fossa ini sering terjadi pertumbuhan jaringan limfe yang menyempitkan muara tuba eustachius sehingga mengganggu ventilasi udara telinga tengah.

terletak di bagian superior nasopharynx.• Tonsila pharingea. terdapat pada recessus pharingeus. 7 . Histologi Mukosa nasofaring dilapisi oleh epitel bersilia repiratory type . • • Tonsila tuba.2. Disebut adenoid jika ada pembesaran. Isthmus pharingeus merupakan suatu penyempitan di antara nasopharing danorophari ng karena musculus sphincterpalatopharing • Musculus constrictor pharingeus dengan origo yang bernama raffae pharingei Fungsi nasofaring : • • • • Sebagai jalan udara pada respirasi Jalan udara ke tuba eustachii Resonator Sebagai drainage sinus paranasal kavum timpani dan hidung Gambar 2. Sedangkan jika ada inflammasi disebut adenoiditis. Setelah 10tahun kehidupan.1 Anatomi Faring II. epitel secara lambat laun bertransformasi menjadi epitel nonkeratinizing squamous.

Epidemiologi dan Etiologi Angka kejadian Kanker Nasofaring (KNF) di Indonesia cukup tinggi. Nasopharyngeal carcinoma merupakan tumor ganas yang timbul pada epithelial pelapis ruangan dibelakang hidung (nasofaring) dan ditemukan dengan frekuensi tinggi diCina bagian selatan. ras.000 penduduk atau diperkirakan 7000 – 8000 kasus per tahun di seluruh Indonesia (Survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 1980 secara“pathology based”).1.KNF mempunyai gambaran epidemiologi yg unik.46%) penderita KNF berdasarkan data patologi yang diperoleh di Laboratorium Patologi anatomi FK Unair Surabaya(1973 – 1976) diantara 8463 kasus keganasan di Seluruh tubuh. Dalam pengamatan dari pengunjung poliklinik tumor THT RSCM. serta agregasi family. RS. dan dari investigasi dalam empat dekade terakhir telah ditemukan banyak temuan penting di semua aspek. Dalam symposium kanker nasofaring yg diadakan di Singapura tahun 1964. yakni 4. Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8.2.kecuali pada beberapa area (transition zone). Denpasar 15 kasus.KNF mempunyai daerah distribusi endemic yang tidak seimbang antara 8 .tetapi tidak sebanyak yang terdapat pada rongga hidung. Di Bagian THT Semarang mendapatkan 127 kasus KNF dari tahun 2000 – 2002. Definisi Karsinoma adalah pertumbuhan baru yang ganas terdiri dari sel-sel epithelial yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastasis. pasien karsinoma nasofaring dari ras Cina relative sedikit lebih banyak dari suku bangsa lainya. Di RSCM Jakarta ditemukan lebih dari 100 kasus setahun. dan di Padang dan Bukit tinggi (1977-1979). Kelenjar seromucinous dapat juga dijumpai. dalam daerah yg jelas. Epitel permukaan dan kripta sering diinfiltrasi dengan sel radang limfosit dan terkadang merusak epitel membentuk reticulated pattern.(5) III. BAB III KARSINOMA NASOFARING III. Hasan Sadikin Bandung rata-rata 60 kasus. Stroma kaya akan jaringan limfoid danterkadang dijumpai jaringan limfoid yang reaktif. Ujung Pandang 25 kasus. Mukosamengalami invaginasi membentuk kripta.7kasus/tahun/100.

Thailand. Untuk diketahui bahwa penduduk di provinsi Guang Dong ini hampir setiap hari mengkonsumsi ikan yang 9 . Sekalipun termasuk ras Mongoloid. sehingga kekerapan cukup tinggi pada penduduk Cina bagian selatan. insiden KNF lebih rendah dari 1/10 di semua area. kulit hitam dan Hispanics. tetapi karena pola makan dan pola hidup selama di perantauan berubah maka faktor yang selama ini dianggap sebagai pemicu tidak ada lagi maka kanker ini pun tidak tumbuh. dan insidentertinggi di provinsi Guangdong pada laki-laki mencapai 2050/100000 penduduk. Tetapi. Berbagai studi epidemiologi mengenai angka kejadian ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal.000 kasus baru KNF diseluruh dunia. Salah satunya yang menarik adalah penelitian mengenai angka kejadian Kanker Nasofaring (KNF) pada para migran dari daratanTiongkok yang telah bermukim secara turun temurun di China town (pecinan) di San Fransisco Amerika Serikat. apabila orang Tionghoa migran ini dibandingkan dengan para kerabatnya yang masih tinggal di daratan Tiongkok maka terdapat penurunan yang bermakna dalam hal terjadinya Kanker Nasofaring (KNF) pada kelompok migran tersebut. Terdapat perbedaan yang bermakna dalam terjadinya Kanker Nasofaring (KNF) antara para migran dari daratan Tiongkok ini dengan penduduk di sekitarnya yang terdiri atas orang kulit putih (Caucasians). Eskimo di Artik dan penduduk di Afrika utara dan timur tengah.maupun yang tersebar dalam 5 benua. pada daerah dengan insiden tinggi. Ditemukan pula cukup banyak kasus pada penduduk local dari Asia Tenggara. KNF meningkat setelah umur 30 tahun. Jadi kesimpulan yang dapat ditarik adalah. Insiden tertinggi terpusat pada di Cina bagian selatan (termasuk Hongkong). pekerjaan dan lain-lain.Tumor ini lebih sering ditemukan pad pria dibanding wanita dengan rasio 2-3:1 dan apa sebabnya belum dapat diungkapkan dengan pasti. kebiasaan hidup.berbagai Negara. Hongkong. mungkin ada hubungannya dengan factor genetic. dan sekitar 50. Pada daerah dengan insiden rendah insiden KNF meningkat sesuai dengan meningkatnya umur. Jepang dan Tiongkok sebelah utara tidak banyak yang dijumpai mengidap penyakit ini. Distribusi umur pasien dengan KNF berbeda-beda pada daerah dengan insiden yg bervariasi. Ras mongoloid merupakan factor dominan timbulnya KNF. Singapura.000 kasus meninggal dengan jumlah penduduk Cina sekitar 40%. di mana kelompok Tionghoa menunjukkan angka kejadian yang lebih tinggi. bahwa kelompok migran masih mengandung gen yang ‘memudahkan’ untuk terjadinya Kanker Nasofaring (KNF).Berdasarkan data IARC (International Agency for Research on Cancer) tahun 2002 ditemukan sekitar 80.dan Indonesia. Puncaknya pada umur 40-59 tahun dan menurun setelahnya. Sebaliknya. Malaysia. bangsa Korea. Vietnam.

Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid.000) dan terakhir adalah keturunan Hindustan (0. Kanker Nasofaring (KNF) jarang dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih dikaitkan denganvirus Epstein Barr. sebagai makanan pengganti susu ibu adalah nasi yang dicampur ikan asin ini.Jadi adanya virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan.5/100. debukayu serta asap kayu bakar. Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV). Persentase terbesar yang dikenai adalah masyarakat keturunan Tionghoa (18.Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain. Bukti epidemiologik lain adalah angka kejadian kanker ini di Singapura. bahkan konon kabarnya seorang bayi yang baru selesai disapih. ditemukan juga bahwa menurunnya angka kematian KNF di Amerika utara dan Hongkong merupakan hasil dari mengurangi frekuensi merokok. predisposisi genetik dan pola makan tertentu.000). satu keluarga dengan 49 anggota dari dua generasi didapatkan 9 pasien KNF dan 1 menderita tumor ganas payudara. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan alami(Chinese herbal medicine=CHB). pada hampir semua kasus KNF telah mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut.(6) Tentang factor genetic telah banyak ditemukan kasus herediter atau familier dari pasien KNF dengan keganasan pada organ tubuh lain. Secara umum didapatkan 10% dari pasien karsinoma nasofaring menderita keganasan organ lain. Seperti pada TPA ( TetradecanoylyphorbolAcetate) yaitu substansi yang ada di alam dan tumbuhan jika 10 .5/100. Di dalam ikan yangdiawetkan dijumpai substansi yang bernama nitrosamine yang terbukti bersifat karsinogen bagi hewan percobaan.diawetkan(diasap. seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV. Meskipun demikan tetap ada peneliti yg mencoba menghubungkannya dengan merokok . capsid antigen dan early antigen. infeksi EBV dan penggunaan CHB. Pada 1966. secara umum resiko terhadap KNF pada perokok 2-6 kali dibandingkan dengan bukan perokok. disusul oleh keturunan Melayu(6. Kenaikan titer ini sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Suatu contoh terkenal di Cina selatan. Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang erat antara terjadinya KNF.000 penduduk). diasin). Beberapa tanaman dan bahan CHB dapat menginduksi aktivasi dari virus EBV yg laten.5/100. Namun virus ini juga acapkali dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit.

Lokasi yang paling sering menjadi awal terbentuknya karsinoma nasofaring adalah pada Fossa Rosenmuller.3. 2. Bentuk eksofitik Bentuk eksofitik biasanya tumbuh pada satu sisi nasofaring. Gambaran histopatologik bentuk ini biasanya karsinoma tanpa diferensiasi. namun kadang-kadang dijumpai ulserasi kecil. Penyebaran ke atas 11 . Penyebaran ke jaringan dan kelenjar limfa sekitarnya kemudian terjadi perlahan. Tumor jenis ini biasanyatumbuh dari atap nasofaring dan dapat mengisi seluruh rongga nasofaring. Tumor jenis ini berbentuk seperti buah angguratau polipoid jarang. Patofisiologi Karsinoma Nasofaring merupakan munculnya keganasan berupa tumor yang berasal dari sel-sel epitel yang menutupi permukaan nasofaring. seperti layaknya metastasis karsinoma lainnya. Bentuk ulseratif Bentuk ini paling sering terdapat pada dinding posterior dan di daerah sekitar fosarosenmulleri. 3. Gambaran histopatologik bentuk ini adalah karsinoma sel skuamosa deengan diferensiasi baik. Gambaran histopatologik berupa limfasarkoma III. Tumor ini dapat mendorong palatum mole ke bawah dan tumbuh kearah koana dan masuk ke dalam rongga hidung.dikombinasi dengan N-Butyrate yangmerupkan produk dari bakteri anaerob yang ditemukan di nasofaring dapat menginduksi sintesisantigen EBV di tikus. kadang-kadang bertangkai dan prmukaannya licin. Lesi ini biasanya lebih kecil disertai dengan jaringan yang nekrotik dan sangat mudah mengadakan infiltrasi ke jaringan sekitarnya. Tumbunya tumor akan dimulai pada salah satu dinding nasofaring yang kemudian akan menginfiltrasi kelenjar dan jaringan sekitarnya. Secara mikroskopis karsinoma nasofaring dapat dibedakan menjadi 3 bentuk yaitu : 1. Juga dapat ditemukan pada dinding lateral didepan tuba eustachius dan pada bagian atap nasofaring. dijumpaiadanya ulserasi. Bentuk noduler/lubuler/proliferative Bentuk noduler atau lobuler sangat sering dijumpai pada daerah sekitar muara tubaeustachius. Penyebaran karsinoma nasofaring dapat berupa : 1. tidak dijumpai adanyaulserasi. meningkatnya transformasi cell-mediated immunity dari EBV danmempromosikan pembentukan KNF (genesis).

Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus. Benjolan ini dirasakan tanpa nyeri karena itu hal ini sering diabaikan oleh pasien. Kumpulan gejala yang terjadi akibat rusaknya saraf kranialis anterior akibat metastasis tumor ini disebut Sindrom Petrosfenoid. Nervus VII dan VIII jarang mengalami gangguan akibat tumor karena letaknya yangtinggi dalam system anatomi tubuh. Yang terkena adalah grup posterior dari saraf otak yaitu N. dll) di mana di dalamnya terdapat nervus kranialis IX-XII. Di dalam kelenjar ini sel tersebut tumbuh dan berkembang biak sehingga kelenjar menjadi besar dan tampak sebagai benjolan pada leher bagian samping. Gejala yang timbul umumnya anatar lain : • • • • Trismus Horner Syndrome (akibat kelumpuhan nervus simpatikus servikalis) Afonia akibat paralisis pita suara Gangguan menelan 3.Tumormeluas ke intracranial menjalar sepanjang fossa medialis. Keadaan ini biasanya didapatkan pada stadium yang lebih lanjut. XII disebut sindroma retroparotidean atau disebut juga sindrom Jackson. IX – N. disebut penjalaran Petrosfenoid. I – N VI). kemudian ke sinus kavernosus dan fossa kranii anterior mengenai saraf-saraf kranialis anterior (N. XII beserta nervus simpatikus servikalis. biasanya melalui foramen laseum. 2. menembus dan mengenai otot dibawahnya. Yang paling sering terjadi adalah diplopia dan neuralgia trigeminal. Penyebaran ke belakang Tumor meluas ke belakang secara ekstrakranial menembus fascia pharyngobasilaris yaitu sepanjang fossa posterior (termasuk di dalamnya foramen spinosum. Kelenjar menjadi melekat kepada otot dan sulit untuk digerakkan. Biasanya penyebaran ke kelenjar getah benang diawali pada noduslimfatik yang terkenal di lateral retropharyngeal yaitu Nodus Rouvier. penyebaran ke kelanjar getah bening sangat mudah terjadi akibat banyaknya cabang kelenjar betah bening pada lapisan submukosa faring. Pada karsinoma nasofaring. Penyebaran ke kelenjar getah bening Penyebaran ke kelenjar getah bening merupakan salah satu penyebab utama sulitnya menghentikan proses metastasis suatu karsinoma. VII – N. Limfadenopati servikalis merupakan gejala utama yang membawa pasien datang ke dokter. 12 . Kumpulan gejala akibat kerusakan pada N. disebut penjalaran retroparotidian. foramen ovale.

VI sehingga apabila tumor membesar akan menekan saraf-saraf tersebut dan mengakibatkan ophtalmoplegi • Gejala benjolan di leher Metastasis ke kelenjar getah bening akan menimbulkan gejala benjolan di leher 13 . III. Yang sering ialah tulang. encer atau kental dan berbau. Gejala akibat metastase jauh Sel-sel kanker dapat ikut bermetastase bersama getah bening atau darah. yaitu gejala stadium dini dan gejala stadium lanjut(4) a) Gejala stadium dini • Gejala Hidung o Pilek lama yang tidak sembuh o Epistaksi biasanya berulang.4. Hal ini merupakan stadium akhir dan prognosis sangat buruk. b) Gejala stadium lanjut • Gejala mata dan saraf Ophtalmophlegi. • Gejala Telinga o Gangguan pada telinga merupakan gejala yang timbul karena tumor primer muncul dekat muara tuba Eustachius (fosa Rosenmuller). Gangguan daoat berupa tinitus. mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. IV. hati dan paru.4. sehingga berwarna merah muda o Sekret hidung dapat seperti nanah. Manifestasi klinis Gejala Karsinoma nasofaring dapat dibagi dua berdasarkan stadiumnya. jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur dengan secret hidung. Hal ini dikarenakan lokasi tumor primer dekat dengan foramen laserum yang merupakan lubang keluarnya nervus III. rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia).

Gejala ini berupa : o Sakit kepala yang terus menerus. Sternocleidomastoideus o M.8% dengan titer berkisar antara 10 sampai 1280 dengan terbanyak titer 160. o Sensitibilitas derah pipi dan hidung berkurang. Biopsi melalui hidung dilakukan 14 . Diagnosis Persoalan diagnostic sudah dapat dipecahkan dengan pemeriksaan CT-Scan daerah kepala dan leher. trapezeus III. Biopsi dapat dilakukan dengan 2 cara. sehingga pada tumor primer yang tersembunyi pun tidak akan terlalu sulit ditemukan. IX. Titer yang didapat berkisar antara 80 sampai 1280 dan terbanyak pada titer 160.5. N. N. yaitu dari hidung atau dari mulut.5% dan spesifisitas 91. X. Tjoko Setiyo dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta mendapatkan dari 41 pasien karsinoma nasofaring stadium lanjut (stadium III dan IV) sensitivitas IgA VCA adalah 97. rasa sakit ini merupakan metastase secarahematogen. Dengan tanda-tanda kelumpuhan pada: o Lidah o Palatum o Faring atau laring o M. XII. IgA anti EA sensitivitasnya 100% tetapi spesifisitasnya hanya 30.• Gejala Kranial Gejala kranial terjadi bila tumor sudah meluas ke otak dan dirasakan pada penderita. Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan biopsy nasofaring.0%. sehingga pemeriksaan ini hanya digunakan untuk menentukan prognosis pengobatan. Pemeriksaan Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk infeksi virus E-B telah menunjukkan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma nasofaring. XI. N. o Kesukaran pada waktu menelan o Afoni o Sindrom Jugular Jackson atau sindroma reptroparotidean mengenai N.

Stadium(7) Untuk stadium dipakai sistem tnm menurut uicc (2002) T = tumor primer T0 .tidak tampak tumor T1 . Bila dengan cara ini masih belum didapatkan hasil yang memuaskan maka dilakukan pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis. Biopsi tumor nasofaring umumnya dilakukan dengan analgesia topical dengan Xylocain 10%. Histopatologi Telah disetujui oleh WHO bahwa hanya ada 3 bentuk karsinoma (epidermoid) pada nasofaring yaitu karsinoma sel skuamosa (berkeratinasi). sehingga palatum mole tertarik ke atas. Semua yang kita kenal selama ini dengan limfoepitelioma. Pada penelitian di Malaysia oleh Prathap dkk sering didapat kombinasi dari ketiga jenis karsinoma seperti karsinoma sel skuamosa dan karsinoma tidak berkeratinasi. karsinoma tidak berkertinasi dan karsinoma berdiferensiasi. Biopsy melalui mulut dangan memakai bantuan kateter nelaton yang diimasukkan melalui hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik keluar dan diklem bersama-sama ujung kateter yang di hidung. sel transisional.tumor terbatas di nasofaring 15 . karsinoma sel skuamosa dan karsinoma tidak berdiferensiasi. sel spindle. sel clear. massa tumor akan lebih jelas terlihat. Kemudian dengan kaca laring dilihat daerah nasofaring.tanpa melihat jelas tumornya (blind biopsy). Demikian juga dengan kateter dari hidung di sebelahnya. Cunam biopsi dimasukkan melalui rongga hidung menyelusuri konka media ke nasofaring kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsi. Biopsi dilakukan dengan melihat tumor melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang dimasukkan melalui mulut. karsinoma tidak berkeratinasi dan karsinoma tidak berdiferensiasi atau karsinoma sel skuamosa dan tidak berkeratinasi serta karsinoma tidak berdiferensiasi. anaplastik dan lain-lain dimasukkan dalam kelompok tidak berdiferensiasi.

hipofaring orbita atau ruang mastikator Catatan:* perluasan parafaring menunjukan infiltrasi tumor ke arah postero-lateral melebihi fasia faringo-basilar N .perluasan tumor ke orofaring dan / atau rongga hidung tanpa perluasan ke parafaring * T2b .tumor menginvasi struktur tulang dan/ atau sinus paranasal T4 .tidak ada pembesaran N1 . dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6cm. dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6cm di atas fossa klavikula N3 .metasatsis kelenjar getah bening bilateral dengan ukuran lebih besar dari 6cm atau terletak di dalam fossa supraklavikula N3a .pembesaran kelenjar getah bening regional Nx .T2 .metastatis jauh 16 . di atas fossa klavikula N2 .tumor meluas ke jaringan lunak T2a . fossa infratemporal.pembesran kelenjar getah bening tidak dapat dinilai N0 .metastasi kelenjar getah bening bilateral.di sertai perluasan ke parafaring T3 .di dalam fossa supraklavikula Catatan : kelenjar yang terletak di daerah midline di anggap sebagai kelenjar ipsilateral M .ukuran lebih dari 6cm N3b .tumor dengan perluasan intrakranial dan/ atau terdapat keterlibatan saraf kranial.metastasi kelenjar getah bening unilateral.

tidak ada metastasis jauh M1. Tumor ini kaya akan pembuluh darah dan biasanya tidak infiltratif. Angiofibroma juvenilis Biasanya dietemui pada usia relatif muda dengan gejala-gejala menyerupai karsinoma nasofaring. walaupun jarang menimbulkan 17 . Pada foto polos akan didapat suatu massa pada atap nasofaring yang berbatas tegas. Diagnosis Banding 1.MX . jarang pada orang dewasa.metastasis jauh tidak dapat dinilai M0 .N1 N2 N2 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 T2a.N1. Pada foto polos akan terlihat suatu massa jaringan lunak pada atap nasofaring umumnya berbatas tegas dan umumnya simetris serta struktur-struktur sekitarnya tak tampak tanda-tanda infiltrasi seperti tampak pada karsinoma. Proses dapat meluas seperti pada penyebaran karsinoma.T2b N2 N0.terdapat metastasis jauh Stadium 0 Stadium I Stadium IIa Stadium IIb T1s T1 T2a T1 T2a T2b Stadium III T1 T3 Stadium Iva T4 N0 N0 N0 N1 N1 N0.N2 M0 Stadium IV b Semua T N3 Stadium IV c semua T semua N M1 III.6. Hiperplasia Adenoid Biasanya terdapat pada anak-anak. Pada anak-anak hiperplasia ini terjadi karena infeksi berulang. 2.

3. Kadang-kadang sulit pula membedakan angiofibroma juvenilis dengan polip hidung pada foto polos. Chordoma Walaupun tanda utama chordoma adalah destruksi tulang. Karena tumor ini kaya akan vaskular maka arteriografi carotis eksterna sangat diperlukan sebab gambarnya sangat karakteristik. 4. Menigioma basis kranii 18 . 5. 6. CT dapat membantu melihat apakah ada pembesaran kelenjar servikal bagian atas karena chordoma umumnya tidak memperlihatkan kelainan pada kelenjar tersebut sedangkan karsinoma nasofaring sering bermetastasis ke kelenjar getah bening daerah clivus. pendesakan ruang parafaring ke arah medial dapat membantu membedakan kelompok tumor ini dengan karsinoma nasofaring. Tumor sinus sphenoidalis Tumor ganas primer sinus sphenoidalis adalah sangat jarang dan biasanya tumor sudah sampai stadium agak lanjut waktu pasien datang untuk pemeriksaan pertama. Tumor kelenjar parotis Tumor kelenjar parotis terutama yang berasal dari lobus yang terletak agak dalam mengenai ruang parafaring dan menonjol ke arah lumen nasofaring. tetapi mengingat karsinoma nasofaring pun sering menimbulkan destruksi tulang. Pada sebagaian besar kasus terlihat pendesakan ruang parafaring ke arah medial yang tampak pada pemeriksaan CT scan. Secara CT Scan. Neurofibroma Kelompok tumor ini sering timbul pada ruang faring lateral sehingga menyerupai keganasan didnding lateral nasofaring. dapat dilihat kalsifikasi atau destruksi terutama di daerah clivus.destruksi tulang melainkan hanya erosi saja karena penekanan tumor. Biasanya ada pelengkungan ke arah depan dari dinding belakang sinus maksilaris yang dikenal sebagai antral sign. maka sering timbul kesulitan untuk membedakannya. Dengan foto polos. 7.

bleomycin dan 5-flurouracil sedang dikembangkan di departemen tht fkui dengan hasil sementara yang cukup memuaskan. Gambaran CT scan meningioma cukup karakteristik yaitu sedikit hiperdense sebelum penyuntikan zat kontras dan akan menjadi sangat hiperdense setelah pemberian zat kontras intravena. III. yaitu : • Stadium I : Radioterapi • Stadium II dan III : Kemoradiasi • Stadium IV dengan kurang dari 6cm : Kemoradiasi • Stadium IV dengan n lebih dari 6cm : Kemoterapi dosis penuh dilanjutkan kemoradiasi Terapi Radioterapi masih merupakan pengobatn utama dan di tekankan pada pengunaan mega voltage dan pengaturan dengan komputer. sedangkan kemoterapi masih terbaik sebagai terapi adjuvan ( tambahan). Pengobatan pembedahan diseksi leher radikal di lakukan terhadap benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran ( residu) atau timbul kembali setelah penyinaran 19 . vaksin dan anti virus semua pengobatan tambahan ini msih dalam pengembangan. Penatalaksaan Penatalaksaanaan karsinoma nasofaring dilakukan tergantung dari stadiumnya. Kombinasi kemo-radioterapi dengan mitomycin C dan 5-flurouracil oral setiap hari sebelum di berikan radiasi yang bersifat radiosensitiser memperlihatkan hasil yang memberi harapan akan memberikan harapan akan kesembuhan total pasien kasrsinoma nasofaring. yang terbaik sampai saat ini adalah kombinasi dengan cis-platinum sebagai inti. Pemberian adjuvan kemoterapi cis.platium. interferron. seroterapi.Walaupun tumor ini agak jarang tetapi gambarnya kadang-kadang menyerupai karsinoma nasofaring dengan tanda-tanda sklerotik pada daerah basis kranii.7. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa disseksi leher. faktor transfer. Pemeriksaan arteriografi juga sangat membantu diagnosis tumor ini. pemberian tetrasiklin. Berbagai macam kombinasi di kembangkan. kemoterapi.

otak. hati. serta tidak di temukan metastasis jauh. Follow up Tidak seperti keganasan kepala leher yang lainya. Perawatan paliatif Perhatian pertama harus diberikan pada pasien dengan pengobatan radiasi. Gangguan lain adalah mukositis rongga mulut karena jamur. Kekambuhan tersering terjadi kurang dari 5 tahun. Radiasi sangat efektif untuk mengurangi nyeri akibat metastasis tulang. sakit kepala. Mulut rasa kering disebabkan oleh kerusakan kelenjar liur mayor maupun minor sewaktu penyinaran. Operasi tumor induk sisa ( residu) atau kambuh (residif) diindikasikan .selesai. Kesulitan yang timbul pada perawatan pasien pasca pengobatan lengkap dimana tumor tetap ada (residu) atau kambuh kembali (residif). Pada kedua keadaan tersebut di atas tidak banyak tindakan medis yang dapat diberikan selain pengobatan simtomatis untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. kehilangan nafsu makan dan kadang-kadang muntah atau rasa mual. knf mempunyai resiko terjadnya rekurensi. Pencegahan 20 . Perawatan paliatif di indikasikan langsung terhadap pengurangan rasa nyeri. tetapi dengansyarat tumor induknya sudah hilang yang di buktikan dengan pemeriksaan radiologik dan serologik. mengontrol gejala. Sehingga pasien KNF perlu di follow up setidaknya 10 tahun setelah terapi. perdarahan dari hidung dan nasofaring yang tidak dapat dihentikan dan terganggunya fungsi alat-alat vital akibat metastasis tumor. tetapi sering timbul komplikasi yang berat akibat operasi. rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran. membawa makanan kemana pun pergi dan mencoba memakan dan mengunyah bahan yang rasa asam sehingga merangsang keluarnya air liur. dan follow up jangka panjang diperlukan. dan memperpanjang usia. Tidak banyak yang dapat dilakukan selain menasihatkan pasien untuk makan dengan banyak kuah. Pasien akhirnya meninggal akibat keadaan umum yang buruk. paru. Dapat pula timbul metastasis jauh pasca pengobatan seperti ke tulang. 5-15% kekambuhan sering kali terjadi antara 5-10 tahun.

21 . Dalam: Arif. hal 135. dan fisiologi rongga mulut faring. Jakarta: Erlangga. mengubah cara memasak makanan untuk mencegah akibat yang timbul dari berbagi bahan yang berbahaya. 2001.Kuspuji. Liston SL. editors. DAFTAR PUSTAKA 1. 3. Nasofaring. penyuluhan mengenai linhkungan hidpu yang tidak sehat. Dalam: Adams. Faiz O dan Moffat D. dan Higler. Mansjoer A. Melakukan test serologi ig A . Karsinoma Nasofaring. Embriologi. esophagus dan leher. Menerangkan akan kebiasaan hidup yang salah . meningkatkan keadaan sosial ekonomi. 263-71.dan Wiwiek. Boies. dan berbagai hal yang berkaitgan dengan kemungkinan faktor penyebab. Kapita selekta kedokteran Edisi III.anti VCA dan igA – anti EA secara masal di massa yang akan datang bermanfaat dalam menemukan karsinoma nasofaring secara lebih dini. 110-11 2.Wahyu. Memindahkan penduduk di daerah resiko ke tempat lainnya.Rakhmi. editors. 1997. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran. 2004. anatomi. Jakarta: Media Aesculapius. Boies: Buku ajar penyakit THT Edisi VI.Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan resiko tinggi. hal. Dalam: At a glance anatomi. hal.

5.com/article/98165-overview .medscape. Edisi III. 2006. Stages of nasopharyngeal cancer. http://emedicine. Diakses .cancer . Restuti RD. Ear. London: Churchill Livingstone.4. Jam 19. S. Dhillon R. 7. Nasopharyngeal Cancer. Jakarta: 2004. 6. Paulino AC.gov/cancertopics/pdq/stages/nasopharyngeal/patient/page2 22 . East C. Iskandar N. Bashiruddin J. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Diunduh dari . 20 September. Hal 183. Soepardi EA.. Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Diakses dari: http://www. Hal 108. Edisi ke Enam. Nose and throat and Head and Neck surgery.00. A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful