BAB 4

BEBERAPA CONTOH PRAKTIK PEMETARENCANAAN

4.1. PENDAHULUAN
Seperti diungkapkan oleh Schaller (1999) dan setidaknya dari indikasi dokumen yang dapat diakses secara elektronik dewasa ini, nampaknya upaya dan dokumen tentang penerapan empiris pem etarencanaan secara kuantitatif jauh “lebih banyak” dengan yang membahas sisi “konsep/teori.” Karena itu contoh-contoh praktik pemetarencanaan sebenarnya tersedia relatif banyak, kecuali yang bersifat spesifik perusahaan dan/atau dibatasi bagi anggota komunitas tertentu. Bagian ini menyampaikan beberapa contoh selektif untuk memberikan gambaran aplikasi empiris pemetarencanaan dan prakarsa nasional yang memang masih pada tahap awal.

4.2. BEBERAPA PRAKTIK DI NEGARA MAJU
A. Contoh Pemetarencanaan Kolaboratif (Industri)

Berikut adalah beberapa contoh selektif pemetarencanaan yang dilaksanakan dalam bentuk kolaborasi antar pelaku (swasta, pemerintah, lembaga litbang, perguruan tinggi, dan/atau pihak lain). 1. Contoh Semiconductor Industry Association (SIA)

Salah satu contoh “klasik” petarencana yang banyak dibahas dalam literatur adalah SIA (Semiconductor Industry Association). Dalam hal ini misalnya bahwa fokus produk dari petarencana adalah semiconductor yang dapat digunakan dalam beragam produk (seperti memory, produk konsumen, komputer) yang masing-masing akan mempunyai kebutuhan/

33

persyaratan berbeda. Walaupun begitu, teknologi manufaktur semiconductor pada dasarnya merupakan bidang umum di mana para pelaku industri beroperasi. Mereka bersaing dalam desain semiconductor dan dalam produk-produk yang menggunakannya, bukan pada teknologi manufaktur yang mendasarinya. Selain itu, suatu prakarsa “NEMI” (National Electronics Manufacturing Initiative) juga dikembangkan. Jika Pemetarencanaan Teknologi Semiconductor SIA menelaah isu yang terkait dengan kebutuhan/persyaratan (requirements) manufaktur semiconductor, Pemetarencanaan Teknologi NEMI berfokus pada kebutuhan bersama untuk produk yang terkait dengan jaringan informasi seperti misalnya NII (National Information Infrastructure). Kedua pemetarencanaan ini memungkinkan industri untuk mengembangkan teknologi-teknologi kunci yang mendasari secara kolaboratif, yang tentunya diharapkan menghindari/mengurangi terjadinya pembiayaan litbang yang bersifat “duplikasi” dan kekurangan pembiayaan atau mengabaikan teknologi penting lainnya. Persyaratan/kebutuhan sistem yang penting (critical system requirements) antara lain meliputi ukuran yang lebih kecil (yaitu ukuran fitur), biaya yang lebih murah, dan power dissipation. Sebagai contoh ditargetkan bahwa dalam kurun 1992 – 2007 terjadi penurunan dalam perubahan 3 tahunan, dari ukuran 0,5 menjadi 0,1 mikron. Selanjutnya petarencana mengidentifikasi 11 bidang teknis (seperti chip design and test, lithography, dan manufacturing systems). Dengan menggunakan critical system requirements tersebut sebagai kerangka kerja keseluruhan, dibentuklah tim untuk setiap bidang teknis, dan petarencana teknologi pun disusun untuk setiap bidang. Setiap tim mengembangkan sehimpunan pendorong teknologi (technology drivers) yang bersifat spesifik bagi setiap bidang, yang diturunkan dari dan terkait dengan salah satu atau lebih critical system requirements. Sebagai contoh misalnya pendorong teknologi dalam bidang lithography yang terkait dengan ukuran fitur meliputi overlay, resolusi dan ukuran alat. Bidang lithography kemudian dibagi atas exposure technology; mask writing, inspeksi, perbaikan (repair), pemrosesan, dan metrologi; serta resist, track, dan metrologi. Untuk setiap bidang teknologi (misalnya lithography) dan/atau sub bidang (misalnya exposure technology), petarencana mengidentifikasi alternatif teknologi seperti x-ray, e-beam, dan ion projection. Kinerja pendorong teknologi selanjutnya diproyeksikan untuk setiap alternatif teknologi untuk beragam titik/periode waktu. Berdasarkan proyeksi tersebut beserta dampaknya pada sasaran-sasaran critical system requirements, maka direkomendasikanlah sejumlah alternatif. Laporan petarencana teknologi yang lengkap disiapkan untuk aktivitas tindak lanjut. Lokakarya diselenggarakan untuk melakukan kritik dan memvalidasi petarencana. Petarencana selanjutnya digunakan oleh Sematech untuk mengevaluasi dan menyusun prioritas dari proyekproyek potensial. Dokumen ini telah mengalami beberapa peninjauan dan revisi dan berbeda dari versi awalnya.

34

PEMETARENCANAAN (ROADMAPPING): KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB 4 BEBERAPA CONTOH PRAKTIK PEMETARENCANAAN

2.

Contoh Integrated Manufacturing Technologies Roadmapping (IMTR)

IMTR (Integrated Manufacturing Technologies Roadmapping) merupakan suatu prakarsa pengembangan serangkaian petarencana teknologi (disebut “IMTI”/Integrated Manufacturing Technology Initiative) yang menangani kebutuhan-kebutuhan manufaktur yang penting dari pemerintah dan industri di Amerika Serikat. Perkembangan/perjalanan upaya di bidang ini dari waktu ke waktu secara singkat adalah seperti ditunjukkan pada Gambar 4.1. Bidang kebutuhan yang penting yang ditelaah dalam IMTR meliputi (Caswell, 2002):      Teknologi Informasi untuk Manufaktur (Information Technologies for Manufacturing); Pemodelan dan Simulasi (Modelling and Simulation); Proses dan Peralatan Manufaktur (Manufacturing Process and Equipment); Integrasi Perusahaan (Enterprise Integration); dan Rencana Gabungan (Combined Plan).

FCCSET AMT Program

NSTC CCIT Subcommittee on Mfg. Infrastructure 1st Mfg. Infra. Workshop 2nd Mfg. Infra. Workshop 1996 1997 Integrated Manufacturing Technology Roadmapping 1998 4th Nat’l Conf.(NIST) 1999

FCCSET CIT Working Group 1991 1992

FCCSET AMT Interagency Budget Initiative

1993

1994

1995

NSF Advanced Intelligent Manufacturing Initiative

Interagency TRP TEAM Program

3rd Nat’l Conf.(NIST) AF/NSF MOTI Project 2nd Nat’l Conf. (NIST) NGM Project

NGM Rollout NSTC/MI Report

ARPA/NSF Agile Mfg. Initiative 1st Nat’l Conf. (NIST)

Joint ACIMS Project

Sumber : Caswell (2002).

Gambar 4.1 Perjalanan Sejarah Upaya Antar Lembaga – IMTR.

35

Proses pemetarencanaan IMTR melibatkan lebih dari 400 partisipan dari 150 perusahaan. Kerangka tahapan, proses pelaksanaan dan keluaran (deliverables) IMTR adalah seperti ditunjukkan pada Gambar 4.2 – 4.4.
Model Fungsional & Kerangka Pengkajian Survey Berbasis Internet Kebutuhan & Prioritas Teknologi Feedback Berbasis Internet
Workshop

Petarencana yang Ada dan Hasil NGM (Next Generation Manufacturing)

Review Eksternal

Petarencana IMTR

Peninjauan (Review) & Pemutakhiran Program
Sumber : Caswell (2002).

Gambar 4.2 Kerangka Proses Pemetarencanaan IMTR.

Visi Perusahaan Kompetitif Masa Depan

Database Iptek

Rencana Implementasi Program

Sumber : Caswell (2002).

Gambar 4.3 Ilustrasi Pelaksanaan Pemetarencanaan IMTR.

36

PEMETARENCANAAN (ROADMAPPING): KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB 4 BEBERAPA CONTOH PRAKTIK PEMETARENCANAAN

Model Fungsional

Pengkajian Keadaan Sekarang & Visi Masa Depan Baseline keadaan saat kini dan kemana akan menuju.

Menjabarkan bidang teknologi ke dalam fungsi-fungsi logis dari perusahaan manufaktur “generik” Tujuan, Kebutuhan dan Tugas “Nugget” Roadmaps Rencana Milestones

Menentukan keadaan masa depan yang diinginkan, kapabilitas yang diperlukan untuk mencapainya, dan litbang untuk mencapai setiap kapabilitas.

Sumber : Caswell (2002).

Mengidentifikasi “10 teratas” kapabilitas yang akan dikembangkan dan mengkaitkan teknologiteknologi yang berperan dari seluruh (empat) petarencana IMTR.

Menentukan kerangka waktu untuk mencapai tujuan, kebutuhan, dan tugas; dasar bagi rencana litbang detail.

Gambar 4.4 Format Deliverables Pemetarencanaan IMTR.

3.

Management of Accelerated Technology Insertion (MATI)

“Management of Accelerated Technology Insertion” (MATI), merupakan konsorsium yang pada 1997 dibentuk oleh lima perusahaan Amerika Serikat yang tujuan jangka panjangnya adalah memperbaiki efisiensi dan efektivitas perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dengan menciptakan dan meningkatkan basis kompetensi manajemen teknologi. Beberapa anggota Konsorsium meliputi: Baxter, Coca Cola, Ford, IBD Inc., Kellogg, Kraft, Lucent, McDonald’s, Motorola, Redex, Roche, Rockwell, Rohm and Haas, Siemens-Westinghouse, United Technologies dan USG. Di antara kegiatannya adalah pembentukan gugus tugas (kelompok kerja) yang secara singkat antara lain adalah meliputi berikut: 1. Pemetarencanaan/Roadmapping (Anggota: Coca Cola, Ford, Kellogg, Lucent, McDonalds, Motorola, Roche, Rohm and Haas, USG, United Technologies, USG). Agenda: Menyusun suatu Panduan Pemetarencanaan.

37

2.

Technology Sourcing (Anggota: Baxter, Kraft, Kellogg, Redex, Rockwell). Agenda: Pengambilan keputusan pengembangan teknologi secara internal atau eksternal, bagaimana berurusan dengan isu kekayaan intelektual, bagaimana mengidentifikasi kebutuhan dan sumber teknologi, secara domestik maupun global, benchmark praktik terbaik dan mengenali kesenjangan teknologi, serta pengembangan pemahaman keahlian dalam bidang di luar kelompok. Inovasi-Produk-Teknologi dan Strategi; Manajemen Portfolio/Technology-productinnovation & Strategy; Portfolio Management (Anggota: Coca Cola, Lucent, Motorola, Roche, Rohm and Haas, SWPC, United Technologies). Agenda: Mengembangkan sub modul “Strategi Teknologi” dalam MOAD, dan menentukan praktik "termaju" (state of the art) dari manajemen portfolio. Alih Teknologi/Technology Transfer (Anggota: Baxter, Ford, Kraft, Motorola, Roche, Rockwell, Siemens-Westinghouse). Agenda: akuisisi dan alih (transfer) pengetahuan dan teknologi yang bersifat perusahaan-perusahaan, dalam perusahaan, litbang-manufaktur dan lintas lini produk. Fokus utamanya adalah pada proses transfer dan pada pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman dan studi perusahaan. Standar Teknologi Antar Organisasi/Inter-Organizational Technology Standards (Pemimpin: Rockwell). Agenda: topik yang bersifat lintas kelompok kerja. Isu Dalam Organisasi/Intra-organizational Issues (Anggota: Kellogg, Lucent, McDonald’s, Motorola, Roche). Agenda: Pembahasan isu-isu internal organisasi dalam teknologi yang memungkinkan studi pendalaman. Pemetarencanaan Bioteknologi/Biotechnology Roadmapping (Anggota: Kellogg, Kraft, Motorola, McDonald’s, Northwestern Biotech Center, Redex, Roche). Agenda: Pengembangan dan penerapan petarencana industri dalam beragam bidang ilmu kehidupan yang sejauh ini terabaikan. Perhatian terutama diberikan pada perubahan pertambahan nilai, hambatan dan pola perubahan bidang yang ditemui dalam berbagai sektor industri.

3.

4.

5. 6.

7.

4.

Technology Roadmapping Catalysis - Belanda

Kementerian Ekonomi Belanda memprakarsai Technology Roadmapping Catalysis. Sasarannya adalah mengembangkan suatu visi masa depan katalisis, menentukan sasaran yang jelas bagi proyek-proyek litbang katalisis, memperbaiki kerjasama dan litbang bersama di Belanda. Technology Roadmapping Catalysis dimaksudkan untuk memberikan suatu pedoman bagi program-program litbang bersama industri dan perguruan tinggi sehingga memperkuat jaringan Katalisis Belanda dan posisinya secara internasional. PricewaterhouseCoopers dalam hal ini memfasilitasi proses pemetarencanaan teknologinya. Seperti format petarencana pada umumnya, dalam struktur petarencana yang dikembangkan, segmentasi vertikalnya dibagi atas:

38

PEMETARENCANAAN (ROADMAPPING): KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB 4 BEBERAPA CONTOH PRAKTIK PEMETARENCANAAN

  

Tingkat Bisnis (Business Level): mencerminkan kebutuhan-kebutuhan bisnis dan aplikasi pasar (market applications). Tingkat Produk/Proses (Product/Process Level): menggambarkan deskripsi fungsional dari produk dan/atau proses yang memenuhi kebutuhan pada tingkat bisnis. Tingkat Teknologi (Technology Level): menjelaskan teknologi/sains dalam spesifikasi detail yang diperlukan untuk menghasilkan persyaratan fungsional pada tingkat produk/proses. Tingkat Proyek (Project Level): pada tingkat ini proyek-proyek litbang masing-masing (individual) dan proyek litbang bersama ditentukan yang dapat dipantau dengan alat manajemen proyek umumnya.

Beragam prakarsa pemetarencanaan telah dan sedang berkembang di berbagai negara. Kanada misalnya melalui Industry Canada tengah terus mengembangkan pemetarencanaan, antara lain meliputi: Aircraft Design, Manufacturing and Repair & Overhaul, Aluminum, Electrical Power, Forest Operations, Geomatics, Lumber and Value-Added Wood Products, Metal Casting, Medical Imaging, Wood-Based Panel Products, Biopharmaceuticals, Bioresourcesbased Technology Cluster, Intelligent Buildings, Marine and Ocean Industry, dan Photonics. B. Contoh Pemetarencanaan Individual (Perusahaan/Korporasi)

Perusahaan yang telah dan sedang mengembangkan petarencana terus bertambah dan semakin beragam di berbagai bidang industri. Beberapa perusahaan yang telah dikenal luas mengembangkannya antara lain adalah Motorola, Honeywell, Lucent Technologies, Philips Electronics. Beberapa lembaga (seperti perguruan tinggi) dan/atau perusahaan merupakan konsultan dalam pemetarencanaan, seperti misalnya “Center for Technology Management (CTM) – the University of Cambridge, The Albright Strategy Group, Arthur D. Little, The Learning Trust, PricewaterhouseCoopers.” Tabel 4.1 adalah ilustrasi contoh kasus aplikasi yang dilakukan oleh CTM. Tujuan spesifik pemetarencanaan di perusahaan dapat berbeda satu dari lainnya. Beberapa contoh adalah sebagai berikut (lihat Farrukh, 2003):  Philips:    Menciptakan fokus yang tepat agar berhasil dalam mengenalkan produk-produk baru; Memperbaiki keterkaitan dengan pasar; Memetakan suatu visi masa depan agar dipahami oleh setiap orang dalam organisasi.

39

Tabel 4. 1 Beberapa Kasus dengan Metode ‘Fast-Start.’
Sektor/Produk Maksud             Product planning Integration of R&D into business; business planning Product planning Product planning New product development process Business reconfiguration Service development & planning Business opportunities of new technology Capital investment planning and technology insertion Research programme planning New product opportunity; business reconfiguration Defining the national research agenda for the sector

           

Industrial coding (x2) Postal services (x10) Security / access systems Labelling software Surface coatings Medical packaging (x2) Automotive sub-systems Power transmission Railway infrastructure (x2) National infrastructure Building controls Automotive

Sumber: Phaal (2001).

Lucas:   Menyediakan perencanaan proyek terpadu bagi sistem rekayasa; Memasok masukan-masukan teknologi yang tepat bagi proses penganggaran.

ABB:  Menginformasikan proses evaluasi teknologi bisnis.

Post Office Research Group:    Mengkomunikasikan rencana riset kepada para sponsor bisnis; Membantu fokus dan penentuan prioritas aktivitas riset; Mengidentifikasi kapan pengetahuan pakar akan dibutuhkan di masa mendatang.

Sementara itu Honeywell menggunakan pemetarencanaan dengan tujuan sebagai berikut (Sherbert, 2002 dan Whalen, 2002):     Memastikan kesiapan produk dan teknologi; Memberikan perhatian khusus dan mengatasi berbagai kesenjangan; Mengembangkan kesesuaian antar fungsi untuk memaksimumkan efisiensi sumber daya; Mengidentifikasi dan memaksimumkan berbagai peluang bagi penggunaan ulang (sebagai platform)

40

PEMETARENCANAAN (ROADMAPPING): KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB 4 BEBERAPA CONTOH PRAKTIK PEMETARENCANAAN

 

Mengidentifikasi peluang-peluang lintas organisasi; Untuk komunikasi strategi dan sebagai bentuk akuntabilitas.

Beberapa contoh praktik pemetarencanaan generik pada tingkat perusahaan dibahas dalam bab-bab berikut.

4.3. BEBERAPA PRAKARSA INTERNASIONAL DAN NASIONAL
Walaupun masih terbatas, prakarsa pemetarencanaan berskala internasional kini telah dilakukan. Yang sejauh ini berkembang adalah ITRS (The International Technology Roadmap for Semiconductors) yang telah dilaksanakan pada tahun 1999 dan 2001. Inisiasi keterkaitan internasional juga tengah dimulai dari MATI (antara lain di University of Cambridge - Inggris). Patut diakui, prakarsa nasional pemetarencanaan sejauh ini juga baru pada masa-masa awal dan masih sangat terbatas. Yang sejauh ini tercatat, upaya pemetarencanaan baru dilakukan oleh Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) dan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang dikoordinasikannya seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Melalui Program Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) yang mulai diluncurkan tahun 2000, KRT mensyaratkan pengembangan technology roadmap bagi pihak pengelola program (dalam hal ini adalah lembaga litbang atau perguruan tinggi). Sejauh ini ada 6 (enam) tema/topik program seperti ditunjukkan pada Tabel. 4.2. Tabel 4.2 Program RUSNAS – KRT.
Topik 1. Teknologi Informatika dan Mikroelektronika (TIMe) Buah Unggulan Tropis Ikan Kerapu Pengelola Pusat Penelitian Antar Universitas Mikroelektronika-ITB (PPAU Mikroelektronika)-Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) - ITB Pusat Kajian Buah-buahan Tropika (PKBT) - Lembaga Penelitian IPB Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Budidaya Pertanian (P3TBP) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Lembaga Penelitian IPB bekerjasama dengan Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) Pusat Pangan dan Gizi - Lembaga Penelitian IPB Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Material (P3TM) - BPPT

2. 3.

4. 5. 6.

Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit Diversifikasi Pangan Pokok Pengembangan Engine Aluminium Paduan

Catatan: Program No. 4 – 6 baru dimulai tahun 2002.

41

Dalam rancangannya, Program RUSNAS dikembangkan dengan pertimbangan sebagai berikut (faktor pendorong): 1. 2. Banyak sektor produksi yang strategis kurang dapat berkembang karena lemahnya penguasaan berbagai bidang teknologi yang terkait. Di pihak lain bidang-bidang teknologi yang terkait dengan suatu sektor produksi yang strategis juga mengalami kemajuan-kemajuan yang semakin cepat, sehingga tanpa usaha yang ekstensif dan berjangka panjang untuk menguasai kemajuan teknologiteknologi tersebut perkembangan sektor produksi itu akan semakin tertinggal. Oleh karena itu diperlukan usaha yang secara komprehensif memetakan technology roadmap yang terkait dengan perkembangan suatu sektor produksi yang strategis, menumbuhkan penguasaannya, serta mendorong pemanfaatannya secara nyata ke dalam kegiatan produksi.

3.

Berdasarkan informasi dari Gugus Tugas Rusnas, Kedeputian Pengembangan Sipteknas – KRT, Program RUSNAS dikembangkan oleh KRT untuk memfasilitasi usaha tersebut. Walapun program RUSNAS mengandung suatu kegiatan penelitian dan pengembangan, tetapi program ini sangat terkait dengan penguatan mata rantai dukungan teknologi (technology supply chain). Di pihak lain program ini diharuskan berorientasi pada kegiatan produksi yang spesifik. Dengan demikian, teknologi yang akan dikuasai dan dikembangkan serta dipetakan dalam technology roadmap harus memiliki hubungan yang kuat dengan teknologi produk dan proses produksi yang berkaitan dengan sektor produksi yang dituju. Program RUSNAS dirancang sebagai suatu instrumen kebijakan KRT yang bertujuan untuk: 1. Mengorientasikan kemampuan yang telah terakumulasi di lembaga penelitian dan perguruan tinggi, untuk mendorong penguasaan sejumlah technology roadmap yang diperlukan untuk mendukung perkembangan sektor produksi yang strategis. Membangun jaringan kerja sama antara sejumlah industri, lembaga penelitian, dan perguruan tinggi agar dapat secara bersama-sama membentuk kemampuan mengembangkan teknologi produk dan proses produksi yang diperlukan, serta menumbuhkan kapasitas inovasi sejalan dengan kemajuan teknologi (state of the art technologies). Mendorong perkembangan klaster industri yang terkait, termasuk penguatan peran serta usaha kecil menengah yang berbasis teknologi.

2.

3.

Sejauh ini memang elemen penting yang diharapkan tumbuh berkembang dalam program ini yaitu “keterkaitan” (linkage) antara “rantai pasokan pengetahuan dan teknologi” (knowledge and technology supply chain) dengan rantai produksi (production chain) masih “lemah.” Hampir seluruh petarencana yang dihasilkan sejauh ini pada dasarnya merupakan petarencana dari perspektif “pengelola” program (dalam hal ini perguruan tinggi a tau lembaga litbang). 42
PEMETARENCANAAN (ROADMAPPING): KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB 4 BEBERAPA CONTOH PRAKTIK PEMETARENCANAAN

Sementara itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga tengah mengembangkan petarencana teknologi bidang-bidang industri (ekonomi) yang terkait dengan lingkup tugas unit-unit yang ada. Sejauh ini terdapat 11 (sebelas) bidang teknologi ditambah 1 (satu) bidang kebijakan teknologi yang menjadi fokus, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Bidang Teknologi Informasi, Komunikasi dan Kendali; Bidang Bioteknologi dan Farmasi; Bidang Teknologi Energi; Bidang Teknologi Lingkungan; Bidang Teknologi Material; Bidang Teknologi Industri Hankam; Bidang Teknologi Sumber Daya Alam dan Mineral; Bidang Teknologi Transportasi; Bidang Agroteknologi; Bidang Teknologi Rancang Bangun; Bidang Teknologi Kelautan dan Kedirgantaraan.

4.4. BEBERAPA SUMBER RUJUKAN
Prakarsa pemetarencanaan teknologi di negara-negara maju dalam lima tahun belakangan ini berkembang cukup pesat. Pemerintah Amerika Serikat, Kanada, dan Australia adalah di antara negara yang paling gencar mempromosikan upaya pemetarencanaan teknologi di kalangan industri. Dokumentasi hasil kajian, prakarsa-prakarsa, kemajuan (progress) yang dicapai atau pandangan yang terkait dengan pemetarencanaan kini cepat berkembang dan tentu merupakan sumber pengetahuan yang penting. Beberapa sumber rujukan penting dapat dilihat pada Daftar Pustaka. Selain itu, beberapa sumber rujukan (referensi) pemetarencanaan kini juga semakin banyak dipublikasikan melalui media elektronik (internet).

43

44

PEMETARENCANAAN (ROADMAPPING): KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful